Kita mulai satu seri yang baru, yaitu Seri Eksposisi Kitab Hakim-hakim.
Hari ini kita belum masuk ke pembahasan pasal pertamanya; khotbah hari ini akan jadi semacam pengantar/introduksi kitab ini. Dalam pengantar ini, kita mau menanyakan pertanyaan yang mendasar yang setiap kali kita perlu tanyakan waktu memulai pembahasan suatu kitab, yaitu: mengapa kita perlu membahas kitab Hakim-hakim ini? Jawaban yang jelas, tentu saja karena ini salah satu kitab yang ada di Alkitab –dan ini sudah cukup untuk jadi alasan. Tapi kalau kita gali lebih dalam pertanyaan ini, sebenarnya jawabannya bisa ditemukan di ayat terakhir kitab ini, yang adalah kesimpulan kitab ini, dan kita akan membukanya untuk memulai pembahasan kita. Hakim-hakim 21:25, ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri.’
Periode kitab Hakim-hakim adalah sekitar tahun 1200-an SM. Ini adalah kisah bangsa Israel dalam periode setelah Musa dan Yosua, tapi sebelum periode raja-raja pertama dalam bangsa tersebut; dengan demikian gap antara kita dengan kitab ini kira-kira 3000 tahun (3 milenium). Meski demikian, kesimpulan di ayat terakhir tadi membuat kita sadar bahwa meskipun ada jarak geografis yang sangat jauh, dan juga jarak waktu yang lebih jauh lagi, ternyata zaman kita hari ini mirip dengan zaman Hakim-hakim. Kalimat ‘setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’ dengan mudah bisa kita pakai untuk mendeskripsikan zaman ini juga. Baik zaman kita maupun zaman Hakim-hakim, spiritualitasnya pada dasarnya spiritualitas yang sangat pluralistis; bahkan kita bisa mengatakan spiritualitas yang anarkis, yang setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya masing-masing.
Masyarakat yang tinggal di daerah Kanaan pada waktu itu adalah campuran dari bangsa Israel yang baru saja menempati tanah tersebut dengan bangsa-bangsa lain yang tidak berhasil mereka usir. Itu sebabnya sedikit banyak mereka hidup berdampingan. Ini adalah zaman ketika dalam hidup sehari-harinya, bangsa Israel senantiasa diperhadapkan pada pilihan, antara mengikuti Allah Yahweh sebagai Tuhan mereka atau mengikuti dewa-dewi bangsa Kanaan. Ini adalah periode transisi, ketika bangsa yang baru ini –baru keluar dari Mesir dan baru masuk ke tanah perjanjian– dengan segala hukum-hukum dan idealisme mereka yang tinggi, sekarang mulai masuk ke dunia nyata, dunia yang didominasi oleh budaya dan agama-agama yang lain, yaitu Kanaan. Ini mirip dengan zaman kita. Hari ini kita juga hidup dan bekerja di tengah-tengah bermacam-macam “dewa-dewi”; tidak usah Saudara pikir tentang tuhan-nya agama-agama lain, tapi misalnya “dewa-dewi” kemakmuran, “dewa-dewi” selebriti, “dewa-dewi” kenikmatan, “dewa-dewi” ideologi, pencapaian, seks, gadget, dan lain-lain. Kita juga senantiasa harus memilih antara mengikuti “dewa-dewi” itu, atau melihat kepada Allah Alkitab. Kita juga seringkali bingung caranya menerapkan idealisme yang ada di Alkitab pada realita sehari-hari yang begitu rusak. Jadi, kitab Hakim-hakim ini relevan sekali buat kita; dan inilah salah satu alasannya kita bisa belajar banyak melalui kitab ini.
Namun, ketika kita melanjutkan penggaliannya, kita menemukan ada satu hal yang sulit; memang benar kisah ini adalah kisah orang Israel menghadapi situasi-situasi yang mirip dengan situasi kita hari ini, tapi kalau diperhatikan lebih lanjut, sebenarnya kisah dalam Hakim-hakim ini adalah kisah orang Israel gagal dalam hal itu. Mereka senantiasa berbelok dari ‘mengasihi Allahnya dan menaati Allahnya’, kepada sikap ‘berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’. Itu sebabnya kitab Hakim-hakim bisa dideskripsikan sebagai kitab tentang orang-orang fasik yang melakukan kefasikan. Ini adalah kisah mengenai karakter-karakter yang mengundang tanda tanya, bahkan penuh kebobrokan. Semakin berlanjut kisahnya, tokoh-tokoh “pahlawan” dalam kisah ini makin ngawur dan makin gagal. Dari satu hakim ke hakim berikutnya dan berikutnya, tindakan-tindakan mereka makin aneh, makin mengundang tanda tanya, dan dampak positif yang mereka bawa bagi bangsa Israel semakin menipis.
Gideon, yang mungkin selama ini kita pikir pahlawan, ternyata dalam kisahnya mengenai guntingan bulu domba, sama sekali tidak menyajikan karakter Gideon sebagai orang yang mencari kehendak Tuhan dengan jujur, sebaliknya ternyata dia seorang penakut dan peragu. Dan bahkan dalam kisah Gideon ini kita melihat ironinya lebih besar daripada itu; tidak seperti kisah Yosua, yang setelah dia mati baru generasi selanjutnya meninggalkan Tuhan, dalam kisah Gideon, bahkan sebelum dia mati orang Israel sudah kembali ke penyembahan berhala, dan berhala yang disembah itu adalah berhala yang dibuat oleh tangan Gideon sendiri. Mungkin Saudara tidak tahu kisah ini karena hampir tidak pernah dibahas di gereja; Gereja seringkali secara selektif menyensor bagian-bagian seperti ini karena tidak tahu mau diapain. Dan, kitab Hakim-hakim penuh dengan kisah-kisah seperti ini.
Kitab Hakim-hakim sebenarnya salah satu kitab yang paling suram dan gelap di Alkitab. Waktu membahas kitab Ester, dari awal kita melihat mereka begitu sekuler, mereka pakai nama-nama dewa-dewi bangsa Babel dan Persia, seperti Ishtar dan Marduk, tapi belakangan ceritanya happy ending, mereka kembali menjadi umat Tuhan; sedangkan dalam kitab Hakim-hakim polanya terbalik, yang di awal masih lumayan oke, lalu makin-lama makin hancur, dan berakhir sebagaimana yang tadi kita baca, semua orang berbuat apa yang baik menurut pandangan mereka sendiri. Itu sebabnya membaca kitab seperti ini, kita jadi bertanya, ngapain kita mempelajari kitab seperti ini, mengapa kitab seperti ini bisa ada di dalam Alkitab? Jawabannya sangat penting: karena isi kitab ini adalah Injil. Isi kitab ini, tidak kurang adalah Injil itu sendiri.
Kitab Hakim-hakim sangat penting karena kitab ini menunjukkan kepada kita, bahwa Alkitab adalah kisah Injil, bukan kitab kebajikan. Alkitab bukan kumpulan kisah-kisah inspirasional. Tidak seperti kitab suci agama lain, Alkitab bukanlah terutama mengenai teladan-teladan moral yang harus kita teladani. Alkitab adalah mengenai Allah yang berbelaskasihan dan panjang sabar, yang senantiasa membawa anugerah-Nya kepada orang-orang yang tidak pantas, orang-orang fasik yang selalu melawan dan memberontak terhadap Dia; dan ini apalagi kalau bukan Injil. Kitab Hakim-hakim bukanlah kitab yang isinya sekumpulan kisah mengenai manusia-manusia hebat yang patut ditiru teladannya, tapi mengenai Allah yang membawa anugerah-Nya kepada orang-orang yang tidak patut menerimanya, yang tidak mencari anugerah tersebut, bahkan tidak menghargai anugerah tersebut meskipun mereka telah menerimanya. Itu sebabnya sebelum masuk ke pembahasan kitab ini, kita perlu menyadari bahwa hanya ada satu ‘hero’ dalam kitab Hakim-hakim, dan itu bukan Debora atau Barak, bukan Gideon, bukan Simson, ‘hero’-nya selalu adalah Allah.
Kitab ini bukanlah tentang para teladan iman; salah satu hal yang akan kita lihat terus-menerus, dalam kisah-kisahnya yang makin lama makin rusak ini, yang dibutuhkan bukanlah terutama para teladan iman melainkan juruselamat –karena kisahnya makin lama makin hancur. Salah satu poin yang ditekankan berulangkali dalam kitab ini adalah bahwa kita ini butuh kebangunan rohani yang terus-menerus. Dalam kitab ini ada suatu siklus yang terus bergulir antara kemerosotan rohani (spiritual decline) dan kemudian kebangunan rohani (spiritual revival). Jelas ditunjukkan bahwa kemerosotan terjadi ketika Israel berada di bawah pemimpin yang salah; ketika mereka ditindas di bawah pemimpin yang salah, atau para hakim yang baik sudah meninggal, mereka mulai merosot rohaninya, maka mereka perlu pemimpin yang benar, dan kemudian Tuhan membangkitkan pemimpin yang benar, para hakim-hakim itu. Begitu hakim-hakim ini dibangkitkan oleh Tuhan maka mulai ada kebangunan rohani. Di sini kita mungkin pikir, jadi memang itulah yang dibutuhkan, pemimpin-pemimpin yang beres itu, teladan- teladan iman yang beres. Ini tentu bukan sepenuhnya salah, tapi yang kitab Hakim-hakim tunjukkan adalah bahwa siklus ‘kemerosotan-kebangunan’ ini sebenarnya makin lama makin lemah kebangunannya, orang Israel juga makin ke belakang makin parah merosotnya, hakim-hakimnya sendiri pun makin lama makin hancur.
Saudara bisa kontraskan kisah Hakim-hakim dengan kisah Para Rasul; keduanya pada dasarnya bicara tentang kebangunan (revival), tapi polanya sama sekali terbalik kalau dibandingkan satu dengan yang lainnya. Kitab Hakim-hakim polanya ‘merosot-bangun, merosot-bangun, merosot-bangun’, tapi merosotnya makin lama makin jauh dan bangunnya makin lama makin sedikit. Kitab Kisah Para Rasul, polanya terbalik; memang ada kemerosotan, tapi yang terjadi berikutnya Tuhan membangunkan lebih tinggi, selanjutnya bisa merosot lagi tapi merosotnya makin sedikit dan kebangunannya makin tinggi, atau kalau merosotnya lebih jauh pun kebangunannya lebih tinggi lagi. Dalam kitab ini, ada orang-orang seperti Paulus yang menghancurkan Gereja, tapi di pasal-pasal berikutnya Tuhan malah mengambil Paulus menjadi orang yang mengabarkan Injil lebih dari orang-orang lain. Ini terbalik dari kitab Hakim-hakim.
Dalam kitab Hakim-hakim, makin lama makin hancur, makin hancur, makin hancur. Mengapa bisa seperti itu? Memang benar perlu keberadaan pemimpin-pemimpin manusia; dan dalam kitab Hakim-hakim, hal tersebut memang dihadirkan sebagai salah satu problemnya. Tapi, kehadiran pemimpin-pemimpin manusia ini bukan dihadirkan dihadirkan sebagai solusi yang sejati, bahkan dalam kitab ini. Alasannya orang Israel terus-menerus berlaku menurut apa yang baik di mata mereka sebagaimana berkali-kali dikatakan, adalah karena tidak ada raja, tidak ada raja, tidak ada raja —maka butuh raja.
Namun di sisi lain, melalui kualitas kebangunan yang makin lama makin menurun dalam tiap siklusnya, melalui evil yang makin lama makin bertambah, kitab ini mulai meraba-raba, menunjuk kepada sesuatu yang melampaui kitab ini sendiri, bahwa ada kebutuhan akan sesuatu yang lebih dari sekadar pemimpin manusia, ada kebutuhan yang lebih dari sekadar para hakim, ada kebutuhan akan bukan hanya teladan-teladan manusia melainkan seorang Juruselamat yang ilahi. Inilah sebabnya kitab ini juga adalah kitab Injil; karena para hakim-hakim itu sendiri mengajak kita untuk memandang kepada seseorang –mengantisipasi kehadiran seseorang– yang akan melampaui para hakim-hakim tersebut. Dalam kisah Otniel, kita melihat Allah menyelamatkan melalui seluruh suku Israel; dalam kisah Debora, Allah menyelamatkan melalui hanya enam suku Israel; dalam kisah Gideon, Allah menyelamatkan hanya melalui 300 orang; dalam kisah Simson, kita melihat Allah menyelamatkan hanya melalui satu orang. Kalau demikian, ini mengarah ke siapa? Jadi, alasannya kita mau membahas kitab yang penuh kebejatan dan kefasikan ini, salah satu kitab yang paling gelap dalam Alkitab ini, adalah karena inilah Injil Tuhan; dan dengan membahas kitab ini, kita sekali lagi diingatkan dan lebih mengerti apa itu Injil.
Hal kedua yang ingin saya bicarakan sebagai introduksi, adalah mengenai suatu ganjalan atau batu sandungan yang mungkin mengganggu kita dalam pembahasan kitab ini, yaitu isu ‘perang suci’ (holy war),perintah Tuhan kepada Israel untuk mengusir keluar penduduk Kanaan dari tanah Kanaan. Ini satu hal yang sudah dimulai dari kitab Yosua, dan memang lebih diucapkan di dalam kitab tersebut, namun banyak hal yang terjadi dalam kitab Hakim-hakim dilatarbelakangi oleh perintah Allah ini. Dan sesungguhnya, penyebab segala kefasikan serta semua kemerosotan rohani yang terjadi di dalam kitab ini, adalah karena kegagalan bangsa Israel memurnikan Kanaan dari kehadiran bangsa-bangsa lain. (Hal ini sudah pernah kita bahas di dalam PA, seri “Genocidal God”, dan dalam khotbah ini kita tidak akan mengulang jawaban di dalam PA tersebut, yang sudah kita bahas dari berbagai perspektif; dalam khotbah ini hanya akan diberikan jawaban standar dari perspektif Reformed. Ini bukan jawaban untuk Saudara pakai menjawab keberatan orang yang tidak percaya Alkitab sebagai firman Tuhan; ini jawaban untuk saudara-saudara yang ada di gereja ini, yang percaya Alkitab sebagai firman Tuhan, yang sudah percaya dan memegang pengakuan iman yang sama).
Tujuan saya membahas ‘holy war’ ini bukan terutama karena permasalahan ini sendiri, tetapi karena lewat mendiskusikannya, kita bisa sedikit belajar mengenai natur Firman Tuhan dan kacamata apa yang lebih tepat yang bisa kita pakai untuk membacanya. Dengan kata lain, alasan saya membicarakan masalah ini bukanlah karena masalah itu sendiri, tapi karena akan mengantar kita untuk lebih tepat menerima pembahasan-pembahasan selanjutnya. Isunya adalah: pembaca modern hari ini merasa hal-hal yang kita temukan dalam kitab Yosua dan Hakim-hakim –bahkan mungkin Perjanjian Lama secara umum– sebagai satu hal yang problematik, yaitu mengenai perintah Tuhan kepada Israel untuk mengusir habis bangsa Kanaan dari rumah mereka sendiri, dari tanah air tempat mereka lahir, dengan cara kekerasan.
Kita tahu, dalam dunia yang tidak sempurna ini kadang-kadang mau tidak mau kekerasan harus terjadi, tapi tentu saja kita membatasinya dalam kasus perang, okelah mengangkat senjata ketika kamu mempertahankan negerimu, ketika kamu yang diserang. Tapi kalau hari ini orang berperang untuk mengambil tanah orang lain, tentu saja tidak bisa diterima. Saudara lihat berita belakangan ini mengenai Rusia dan Ukraina; dan sekilas pandang, yang Tuhan perintahkan dalam Hakim-hakim adalah untuk melakukan seperti yang Putin lakukan terhadap Ukraina. Ini membuat kita bertanya-tanya, apakah kitab Hakim-hakim memberikan kepada orang Kristen semacam mandat untuk juga melakukan perang suci seperti itu? Jika Tuhan memperbolehkan bangsa Israel merebut tanah Kanaan ‘dalam nama Tuhan’, jika Tuhan sendiri memerintahkan ini sebagai suatu tindakan yang righteous di hadapan Tuhan, maka bagaimana mungkin kita hari ini mengritik orang-orang yang mengklaim bahwa mereka berperang atas nama Allah melawan orang-orang kafir dengan menggunakan kekerasan?
Kita akan membahas lebih dulu, mengenai yang bukan jawabannya, yang adalah solusi palsu. Salah satu solusi yang sering ditawarkan dalam meresponi isu-isu kekerasan dalam Perjanjian Lama adalah: Perjanjian Lama memang bentuk kerohanian yang masih primitif –atau lebih primitif–sehingga tidak heran di dalamnya mengandung hal-hal yang biadab (barbaric), perintah-perintah yang kita tidak bisa terima lagi hari ini. Saudara, ini solusi yang palsu, solusi yang tidak menyelesaikan problemnya, solusi yang sendirinya problematik. Mengapa?
Kita bisa memikirkannya seperti ini: kita mulai dengan bertanya, kenapa kita merasa penaklukan Kanaan itu problematik, apa dasar pijakan kita yang membuat kita mengklaim ini problematik? Mungkin kita menjawab, karena dalam Perjanjian Lama sendiri ada Sepuluh Perintah, dan dua perintah di dalamnya adalah “jangan membunuh” (hukum ke-6) dan “jangan mencuri” (hukum ke-8), sehingga kita problematik terhadap tindakan orang Israel yang membunuhi orang Kanaan serta mencuri tanah air mereka; bagaimana bisa mereka disuruh seperti itu?? Kemudian salah satu solusi yang seringkali orang dunia berikan adalah: ‘bagian-bagian seperti itu memang bentuk kerohanian primitif pada waktu itu, jadi kita tidak usah terima’. Oke, anggaplah kita tidak terima bagian-bagian seperti itu, dan dasar keberatan kita ada pada Sepuluh Hukum; tapi Sepuluh Hukum itu ada di mana? Di Perjanjian Lama. Jadi, ketika kita menolak sebagian Perjanjian Lama sebagai Firman Tuhan yang otoritatif karena barbaric dan ketinggalan zaman, lalu apa dasarnya kita menerima bagian Perjanjian Lama yang lain, yaitu Sepuluh Hukum, sebagai bagian yang otoritatif dan benar-benar Firman Tuhan? Tentunya jadi sangat aneh kalau Saudara mengerti logikanya; “O, saya suka dengan Keluaran 20, perintah ‘jangan membunuh’, ‘jangan mencuri’, ‘jangan berzinah’ dst., tapi saya tidak suka dengan Hakim-hakim pasal 1”.
Saudara, jika kita mengatakan ada sebagian Perjanjian Lama yang bukan Firman Tuhan, atau kurang otoritatif sebagai Firman Tuhan, maka atas dasar apa kita mengatakan bahwa pasal-pasal yang lain adalah firman Tuhan atau otoritatif sebagai Firman Tuhan? Ini problemnya. Kalau kita menyangkal otoritas Perjanjian Lama demi menyelesaikan problem genosida dan perang suci, itu jadi mirip seperti di rumah ada tikus lalu solusinya dengan kita membakar seluruh rumah sampai hancur demi membunuh si tikus. Problem dari solusi yang seperti ini adalah: jika Perjanjian Lama bukan Firman Tuhan, atau kurang otoritatif sebagai Firman Tuhan, maka kita harus menemukan basis yang lain untuk menentukan apa yang benar dan apa yang salah; dan, siapa yang berhak menyajikan satu standar seperti itu?? Siapa yang berhak menyajikan satu standar yang lebih otoritatif daripada Firman Tuhan/Alkitab??
Sekali lagi, saya membahas tentang perang suci ini bukan karena isunya sendiri, tapi karena ini satu bagian yang mengintroduksi, membuat kita mengingat kembali bagaimana sikap kita terhadap Alkitab. Kita tidak bisa memilih-milih ketika datang kepada Alkitab; kita harus menerima semuanya atau membuang semuanya. “O, ya, sudah, kalau begitu buang saja semuanya” –ini lebih celaka lagi. Saudara di sini tidak ada opsi untuk membuang semuanya, karena kalau misalnya Saudara membuang Perjanjian Lama, pertanyaannya: atas dasar apa kita mengatakan bahwa penaklukan tersebut salah? Kalau kita membuang perintah ke-6 dan ke-8 tadi, lalu apa salahnya dengan sedikit imperialisme?? Saudara lihat dilemanya di sini. Jadi ini bukan solusi. Ini solusi palsu, solusi yang tidak menyelesaikan masalah, solusi yang malah mendatangkan masalah lebih besar.
Jean-Paul Sartre sudah pernah menjelaskan dilema manusia modern ini. Manusia modern ingin otonom, ingin lepas dari segala kekangan, tidak mau takluk di bawah otoritas agama, dsb. “Oke, silakan”, kata Sartre, tapi jangan lupa, momen ketika kamu menyatakan dirimu bebas untuk menentukan sendiri segala sesuatu bagi hidupmu, momen ketika kamu menjadi ‘aturan’ bagi segala sesuatu dalam hidupmu, maka itu adalah juga momennya kamu tidak boleh lagi menentukan bagi orang lain apa yang mereka boleh atau tidak boleh lakukan. Kasus ekstrimnya, kalau kamu diperkosa orang lain, jangan komplain, karena atas dasar apa kamu melarang dia memperkosamu. Kamu sendiri tidak mau ada dasar yang mengikatmu, kamu sendiri tidak mau takluk di bawah otoritas apapun selain dari yang kamu anggap benar atau yang kamu anggap tidak benar, kamu maunya jadi raja, kamu maunya otonom menentukan sendiri apa yang baik dan benar, kamu tidak mau takluk di bawah apapun yang kamu tidak setuju, boleh saja, tapi orang lain juga harus boleh bebas menentukan bagi mereka apa yang mereka mau, apa yang mereka anggap oke atau tidak oke. Dan, kalau yang mereka anggap oke adalah menyiksamu, menindasmu, lalu membunuhmu, kamu bisa bilang apa??
Saudara, jadi problem kita yang riil bukanlah Alkitab itu sendiri, karena kalau kita menemukan ada kekerasan di Alkitab lalu kita mau komplain atas kekerasan tersebut dengan cara membuang Alkitab, maka sebenarnya Saudara bahkan tidak punya dasar untuk komplain terhadap kekerasan itu sendiri. C.S. Lewis pernah mengatakan, dia pada awalnya tidak mau menerima Kekristenan karena urusan ‘problem of evil’, mengapa Tuhan mengizinkan kejahatan dan kekerasan di dunia ini kalau Dia mahabaik dan mahakuasa—problem klasik. C.S. Lewis tidak terima kalau Tuhan yang mahabaik dan mahakuasa, bisa mengizinkan kejahatan dan kekerasan di dunia ini. Tapi belakangan dia sadar satu hal, ‘kalau saya tidak percaya Tuhan yang mahabaik dan mahakuasa, atas dasar apa saya bisa mengecam kejahatan dan kekerasan?? Kalau saya tidak percaya bahwa ada standar di atas segala standar akan apa artinya kebaikan atau kejahatan, bagaimana mungkin saya hari ini punya dasar untuk komplain atau mengklaim yang ini baik, yang itu tidak baik?? Atas dasar apa saya bisa mengklaim satu hal yang se-universal itu??’
Itulah solusi yang pertama, solusi yang palsu; dan saya cukup yakin kita di sini tidak ada yang akan membuang Perjanjian Lama. Tapi adalah cukup baik untuk kita mengulangi kembali sikap ini di hadapan Tuhan, bahwa ketika kita datang kepada Alkitab, kita jadi sadar tidak boleh sembarangan pilih-pilih. Kita tidak bisa datang kepada Alkitab, lalu, ‘koq, kayak begini? koq, kayak begitu?’ Kita tidak ada hak untuk itu. Saudara hanya bisa terima semuanya atau buang semuanya. Tapi jangan lupa, kalau Saudara buang semuanya, maka Saudara tidak akan bisa mengklaim apa-apa atas dunia ini, tidak ada hal-hal yang Saudara bisa katakan ‘yang ini benar’ atau ‘yang itu salah’.
Solusi palsu tadi ada sedikit gunanya, yaitu mempertajam apa yang sesungguhnya jadi problem bagi kita hari ini; problem kita adalah: mengapa dalam kitab Yosua dan Hakim-hakim, Allah memperbolehkan orang Israel melakukan sesuatu yang Dia larang di semua bagian Alkitab lainnya.
Di semua bagian lain dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kalau Saudara membunuh orang yang tidak menyerangmu dan merampas tanah mereka, Alkitab selalu menyatakan ini pembunuhan dan pencurian, dan hal ini selalu dilarang. Jadi, yang kita mau tanya dalam hal ini bukan ‘koq, ada kontradiksi’ melainkan ‘mengapa di kitab Yosua dan Hakim-hakim bisa ada perkecualian’. Sekali lagi, kalau Saudara bilang ini kontradiksi, lalu mau pilih salah satu dan membuang lainnya, itu tidak bisa, itu solusi palsu, dan Saudara tidak bisa ke mana-mana dengan solusi palsu seperti itu. Tapi sekarang kita mau tanya pertanyaan yang lebih baik; kita mau menerima semuanya, lalu pertanyaannya ‘kenapa bisa ada perbedaan/ perkecualian/eksepsi di bagian ini’. Kalau kita bisa menjawabnya, di satu sisi kita jadi tetap menjaga otoritas seluruh Alkitab, di sisi lain juga tetap menjawab alasannya bagian ini bukan mandat bagi kita pada hari ini untuk melakukan hal yang sama.
Salah satu jalan untuk menjawab permasalahan ini, adalah dengan menyadari apa yang jadi eksepsi dalam hal ini, apa yang membedakan misi Israel menduduki tanah Kanaan dibandingkan dengan konflik-konflik militaer lainnya. Paling sedikit ada 3 hal; pertama, yang pasti ini bukanlah sebuah genosida, bukan suatu ethnic cleansing, bukan perang yang dilancarkan atas dasar ras. Kita mengetahuinya dari kisah ketika perang terhadap Kanaan yang pertama dimulai. Mata-mata suruhan Yosua ditolong oleh Rahab, penduduk Yerikho. Rahab ini bukan saja orang Kanaan, tapi juga pelacur, sehingga kalau mau dianggap ‘orang luar’ maka dia double outsider, ras dan juga moral. Tapi kemudian dikatakan, karena Rahab percaya kepada Yahweh, Allah orang Israel, maka dia diundang masuk sebagai bagian dari umat Israel dan diperbolehkan tinggal di sana. Selanjutnya dalam kitab Hakim-hakim kita melihat lebih jelas, bahwa agenda misi pengusiran bangsa-bangsa Kanaan ini bukan terutama urusan ras. Misalnya, dalam Hakim-hakim 2, misinya adalah merobohkan mezbah-mezbah berhala Kanaan. Tentu kita bukan mengatakan tidak terjadi pembunuhan atau kekerasan, tapi bahwa ini adalah perang yang bukan berdasarkan etnisitas atau rasisme.
Yang kedua, perang ini bukanlah perang atas dasar agenda ekspansi imperialistis. Kita ingat ada satu warna khusus dalam perang-perang orang Israel –yang bahkan sampai muncul di kitab Ester–bahwa ketika Israel berperang atas nama Allah, mereka tidak diizinkan merampas harta musuhnya bagi diri sendiri ataupun memperbudak. Misinya adalah penduduk Kanaan dikalahkan dan diusir. Itu saja. Misalnya dalam kisah di Yosua 7, ketika seorang Israel bernama Akhan mengambil rampasan atas Yerikho bagi dirinya sendiri, yang terjadi adalah: perintah Tuhan untuk dilakukan terhadap orang Kanaan, yaitu menumpas habis mereka, sekarang ditimpakan kepada Akhan; Akhan beserta istri dan anak-anaknya dimatikan di hadapan Tuhan. Jadi hal yang sebenarnya normal dalam semua konflik militer pada waktu itu –merampas, memperbudak, menjarah– dilarang dalam perang Israel. Mengapa? Karena ini satu tanda bahwa misinya bukanlah supaya Israel lewat kekerasan bisa jadi makmur dan berkuasa, tapi hanya untuk menciptakan suatu area tempat Israel bisa melayani Tuhan dengan murni.
Saudara juga perhatikan, ketika genosida terjadi dalam dunia modern, biasanya itu dilancarkan karena pihak yang membunuh menganggap diri mereka lebih murni, lebih tinggi, lebih mulia, dibandingkan kaum yang mereka bunuh; bisa dibilang superiority complex, chauvinism, dsb. Tapi di dalam Alkitab, alasan pengusiran habis ini, adalah justru karena di mata Tuhan bangsa Israel begitu lemah secara spiritual; kalau mereka tinggal bersama-sama bangsa lain, mereka tidak akan kuat menghadapi pengaruh dan godaan dewa-dewi bangsa tersebut. Alasan pengusiran ini bukanlah suatu klaim superioritas dan kemuliaan bangsa Israel; alasan pengusiran ini justru adalah sebuah kesaksian betapa mereka begitu lemah. Sekali lagi, kita bukan menyangkai terjadinya pembunuhan dan kekerasan di sini, tapi paling tidak kita melihat bahwa ini bukan perang atas dasar agenda imperialistis.
Yang ketiga, perang ini dijalankan sebagai penghakiman Tuhan. Kita tentu sudah tahu bahwa Kanaan adalah tempat penyembahan berhala yang begitu keji. Salah satu contohnya, dalam agama-agama Baal di daerah-daerah Kanaan, ritual ibadahnya berupa berhubungan seks, karena di situ mereka sedang mau menggerakkan para dewa untuk melakukan hal yang sama. Mereka menganggap waktu terjadi hujan, itu adalah hasil dewa-dewi yang sedang berhubungan seks. Berhubungan seks ini adalah simbol kesuburan (berhubungan seks berkaitan dengan menghasilkan anak), maka kalau mereka ingin kesuburan, cuaca yang baik agar pertanian berhasil, dsb., mereka akan melambangkannya sebagai dewa-dewi yang berhubungan seks sehingga bisa ada kehidupan di bumi; oleh karena itu, dalam ibadahnya mereka juga melakukan hal yang sama. Ini satu contoh sederhana, untuk kita menyadari bahwa perang ini adalah demi menjalankan penghakiman Tuhan.
Lebih daripada itu, perang ini dijalankan sebagai penghakiman Tuhan melalui wahyu yang langsung (direct). Perintah untuk melakukan perang ini, datang langsung kepada Yosua, melalui Yosua; sementara di dalam Hakim-hakim 1, perintah untuk mengusir habis orang Kanaan, datang melalui orang Israel yang dikatakan ‘bertanya kepada Tuhan’ (inquire of the Lord), meskipun Yosua sudah tidak ada. Mereka inquire of the Lord, yang dalam bahasa Perjanjian Lama biasanya itu berarti melalui efod para imam. Tuhan berkali-kali memberikan instruksi yang spesifik dan verbal kepada Israel untuk mengusir bangsa-bangsa Kanaan ini, maka standar perintah perang ini adalah setinggi itu. Kita tidak bisa menggunakan perang-perang seperti ini sebagai dasar untuk kita hari ini melakukan perang suci, karena tidak cukup dengan mengatakan, “O, kita sudah berdoa baik-baik, sudah pikir baik-baik, sudah diskusi baik-baik, dan kita merasa Tuhan menyuruh kita melanggar perintah ke-6 dan ke-8”. Tidak bisa demikian. Standarnya tidak serendah itu, standarnya sangat tinggi, standarnya adalah wahyu yang bersifat langsung dari Tuhan.
Itulah ketiga alasannya; bukan atas dasar ras, bukan demi agenda imperialistis, dan perintahnya sangat spesifik datang dari Tuhan secara langsung. Sampai di sini Saudara mungkin menerima bahwa perangnya memang berbeda, ada perkecualian, ada kasus yang eksepsional dalam bagian-bagian ini; tapi mungkin Saudara bertanya,“Tapi ini tetap perang, Pak! Ini tetap kekerasan, dan tetap ada orang yang mati, mengapa Tuhan memerintahkan ini?”
Untuk menjawab hal tersebut, seorang teolog Reformed bernama Meredith Kline, menggunakan istilah “the intrusion ethic”. Apa maksud istilah ini? Mengikuti Calvin, Kline mengatakan, kita percaya bahwa Allah tentu tahu dan menguasai masa depan, Allah berdaulat atas segala zaman. Hanya Allah sendiri yang punya pengetahuan sepanjang zaman, dan Dia berhak untuk menentukan siapa yang akan dibinasakan pada akhir zaman, ketika Anak Allah datang kembali mengumpulkan orang-orang, yang masih hidup maupun yang sudah mati. Dengan demikian menurut Kline, Allah berhak membawa maju penghakiman tersebut dan tidak harus menunggu sampai momen terakhir untuk melakukannya. Inilah yang dimaksud ‘intrusion’; dalam arti Allah berhak mendatangkan penghakiman akhir zaman itu maju ke masa yang sekarang. Saudara bisa saja mengatakan “curang!”, tapi keberatan seperti ini tidak masuk dalam kerangka teologi Reformed. Mengapa? Menurut Kline, karena sebenarnya yang Tuhan bawa maju ke zaman sekarang bukan cuma penghakiman saja, tapi juga anugerah. Misalnya begini: kita percaya bahwa umat Tuhan di Perjanjian Lama meskipun mereka belum mengenal Yesus Kristus, mereka tetap adalah orang-orang yang diselamatkan melalui iman, alasannya karena Tuhan dalam anugerah-Nya berhak memajukan anugerah tersebut bagi orang-orang yang memang dipilih-Nya sejak awal. Dalam hal ini Kline hanya mengaplikasikan, bahwa ini bukan hanya dalam hal anugerah tapi juga penghakiman. Itu sebabnya kalau kita bisa terima Tuhan memajukan anugerah-Nya dalam Yesus Kristus, bagi orang-orang di Perjanjian Lama, mengapa kita lalu sebegitu sulitnya terima bahwa Tuhan juga berhak memajukan penghakiman bagi orang-orang yang Dia tetapkan untuk binasa. (Sekali lagi, saya mengatakan ini sebagai disclaimer, bahwa jawaban ini tidak bisa Saudara pakai untuk menjawab orang ateis, ini bukan bahan yang Saudara bisa ambil untuk bahan penginjilanmu; jawaban seperti ini hanya berhasil bagi orang-orang yang percaya Alkitab sebagai Firman Tuhan, ini jawaban teologi reformed bagi orang-orang yang memang percaya Alkitab adalah Firman Tuhan).
Lewat semua ini, kita jadi menyadari bahwa perintah-perintah Tuhan dalam kitab Yosua maupun Hakim-hakim bukanlah mandat yang umum bagi semua umat Tuhan hari ini untuk meniru, meneladani, mengimitasi mereka dalam memerangi orang-orang “kafir” di zaman kita masing-masing. Ini adalah perintah yang eksepsional, bukan perintah yang general. Bahkan semua yang terjadi dalam setiap periode di Alkitab, memang tidak pernah dimaksudkan untuk kita imitasi begitu saja. Dan sekali lagi, inilah sebabnya saya pakai pembahasan ini sebagai introduksi, karena ini akan mengingatkan kita, bagaimana kita bersikap di hadapan Alkitab.
Di hadapan Alkitab, kita perlu bersabar, kita perlu belajar, kita perlu memperdalam. Saudara tidak bisa ambil begitu saja apa yang ada di dalam Alkitab, karena Saudara pastinya akan menemui begitu banyak kesalahan. Misalnya, kalau Saudara mencoba menjalankan gereja hari ini persis seperti gereja zaman Kisah Para Rasul, Saudara akan menemui begitu banyak problem. Saudara bahkan lihat dalam Surat Efesus atau Surat Timotius, Paulus memberikan prinsip-prinsip mengenai bagaimana gereja harus dijalankan, tapi Saudara tidak menemukan ‘gereja mula-mula’ melakukan prinsip-prinsip ini. Bukan karena ‘gereja mula-mula’ ngawur, tapi karena tujuan kitab Kisah Para Rasul bukan untuk jadi buku manual tentang bagaimana gereja harusnya beroperasi. Banyak kisah sejarah Israel ataupun Gereja di dalam Alkitab, yang semata bersifat deskriptif, tentang perintah Tuhan pada waktu itu, apa yang Gereja lakukan pada waktu itu; dan tidak tentu preskriptif, tidak tentu untuk kita ambil menjadi prinsip hari ini. Contoh paling jelas, dalam Kisah Para Rasul ada catatan mengenai Paulus yang berlayar dari Yerusalem ke Roma dan karam kapal di Malta. Tentunya semua orang juga tahu bahwa keberadaan kisah ini bukan diberikan sebagai teladan bahwa kalau orang Israel mau liburan ke Italia tidak boleh naik pesawat tapi harus naik kapal laut dan harus karam kapal dulu di Malta. Kalau seperti itu, konyol. Atau dalam pembahasan Pendeta Billy mengenai Kidung Agung, Saudara diajak menyelami kebenaran Firman Tuhan melalui puisi, dan tidak melulu membaca Alkitab sebagai buku doktrin.
Alkitab itu luas, limpah; dan kita tidak boleh mengunci Alkitab hanya dalam satu mode, ‘pokoknya kalau Alkitab ngomong begini pasti untuk jadi teladan’. Inilah sebabnya kita melakukan khotbah eksposisi. Khotbah eksposisi itu terutama isinya adalah menjelaskan konteks dari kisah-kisah dalam Alkitab itu. Menjelaskan konteks zamannya, sehingga kita bisa membaca Alkitab dengan baik. Menjelaskan konteks cara baca tertentu dari kitab tertentu, seperti dalam pembahasan kitab Kidung Agung, membacanya dengan konteks gaya bahasa puitis, bukan melulu doktrinal Kita perlu melakukan ini karena semua konteks-konteks tersebut harus dipelajari, harus dimengerti, harus dihargai, sebelum kita diperbolehkan mengendus sedikit saja konklusi atau aplikasi bagi kita. Orang sering mengatakan, “yang penting bukan apa yang lu ngomong; lu bisa ngomong hal yang benar tapi orang tetap ‘gak bisa terima, karena cara lu ‘gak bener”. Demikian juga dengan Alkitab. Saudara perlu peka bukan cuma dengan apa yang Alkitab bicarakan, tapi juga bagaimana Alkitab membicarakannya, bagaimana Alkitab menyajikannya, dalam konteks apa, dalam gaya bahasa seperti apa. Tidak kurang dari inilah, yang namanya ‘kembali ke Alkitab’. Inilah sebabnya kita meng-eksposisi kitab, supaya Saudara ikut masuk ke dapur, dan bukan cuma tahunya makan. Sayangnya orang Kristen hari ini setiap kali datang ke Alkitab, langsung maunya aplikasi. “Sudahlah, saya tidak perlu tahu semua itu, kasih tahu saja saya harus ngapain”, itu bukan orang Kristen, itu bukan orang yang cinta Firman Tuhan. Itu orang yang cari bantuan untuk hidup; dan itu orang yang egois sekali. Kita tidak dipanggil untuk seperti itu.
Saya memberikan introduksi seperti ini bukan ujungnya soal isu ‘holy war’ dan sebagainya, tapi karena ini isu yang bagus untuk kita mengingat, sebetulnya bagaimana sikap kita waktu datang kepada Alkitab. Saudara perlu mengerti dan peka bagaimana Alkitab menyajikan semua ini, seperti apa konteksnya, gaya bahasanya, latar belakangnya, sejarahnya, sebelum mengendus sedikit aplikasi buat hidup Saudara. Mengapa? Karena kalau Saudara melewatkan semua itu, Saudara akan dapat konklusi yang salah, aplikasi yang salah. Saudara akan beranggapan perang suci dalam Perjanjian Lama adalah mandat umum bagi orang Kristen untuk membunuh orang-orang yang dianggap kafir dan melawan Tuhan. Seperti inilah ujung pangkal dari banyak sekali kesalahan menafsir Alkitab. Ini seperti mentalitas anak SD yang mau dapat nilai bagus tapi tidak mau mengerjakan PR, bagaimana mungkin??
Kembali ke isu kita. Solusi dari problem mengenai kitab Yosua dan Hakim-hakim jadinya bukan dengan menyangkal atau mengurangi teks Alkitab dalam bagian-bagian tertentu. Solusinya justru dengan menerima keseluruhan Alkitab, dan hanya Alkitab, sebagai Firman Tuhan yang berotoritas secara utuh. Justru ketika menolak hal ini, maka inilah yang membawa Saudara melakukan kekerasan atas nama agama. Kalau Saudara tidak percaya Alkitab sebagai Firman Tuhan sama sekali, tidak ada yang bisa menghalangi Saudara melakukan perang suci, tidak ada yang mengontrol Saudara, Saudara akan pokoknya ngotot bahwa hatimu atau keyakinanmu atau budayamu memanggilmu untuk menyerang dan menindas orang lain. Di sisi lain, kalau Saudara percaya bahwa kita masih bisa menerima wahyu yang langsung dari Tuhan, yang melampaui Alkitab, seperti Musa atau Yosua menerima wahyu-wahyu langsung tersebut, maka sama juga, tidak ada yang bisa menghalangi Saudara melakukan perang suci, Saudara akan pokoknya ngotot bahwa Tuhan memanggilmu untuk menyerang orang atau kelompok tertentu karena mereka anak setan. Tapi lihat, ketika kita mengambil sikap yang rendah hati di hadapan Alkitab, sikap iman ortodoks ini, yaitu mengambil Alkitab –dan hanya Alkitab– sebagai Firman Tuhan dalam keseluruhannya, serta tunduk bukan hanya pada isinya tapi juga dalam bagaimana Alkitab menyatakan kebenarannya, dengan tidak mengurangi maupun menambah, maka dalam mode seperti ini Saudara jelas sekali ada batasan dan kontrol terhadap cara Saudara menggunakan kuasa politik, kuasa militer, dsb.
Sekali lagi, kita membahas hal ini karena inilah pintu masuk untuk mengingatkan kita akan sikap yang tepat di hadapan Alkitab. Sangat mudah orang-orang modern terganggu dengan hal-hal yang dibaca di Alkitab; dan dalam pembahasan Hakim-hakim nanti kita akan bertemu dengan tokoh-tokoh yang mungkin selama ini kita sangka pahlawan tapi ternyata hidupnya penuh dengan kefasikan –yang tadinya kita tidak sadari. Dalam pembahasan nanti kita akan melihat bagaimana Tuhan senantiasa menggunakan segala jenis orang demi tujuan-Nya, dalam segala keterbatasan mereka, dalam segala kerusakan mereka, dan bahkan melalui kefasikan mereka. Dengan kata lain, kitab Hakim-hakim menceritakan kepada kita, Allah yang memang tangan-Nya tidak bersih. Bisa dibilang, Allah kita memang Allah yang tangan-Nya kotor. Tapi tahukah Saudara, ini justru adalah kabar baiknya. Ini Injilmya; karena makna kalimat ‘Allah kita memang Allah yang tangan-Nya tidak bersih’ berarti Allah kita adalah Allah yang justru rela terlibat erat dalam proses manusia yang berantakan ini dan banyak error-nya ini. Dari awal sebelum kejatuhan pun kita sudah melihat bahwa Allah kita bukan cuma mencipta dengan cara berfirman tok, dengan cara yang trensenden tok; gambaran yang diberikan dalam kitab Kejadian, Dia adalah Allah yang juga mencipta dengan membentuk manusia menngunakan tangan-Nya dari debu tanah. Allah yang rela menyentuh debu tanah dengan tangan-Nya, itulah gambarannya.
Saudara hari ini menginginkan Allah yang seperti itu atau tidak? Atau mungkin Saudara menginginkan Allah yang steril, Allah yang bersiiiihhhh…, Allah yang cuma terlibat dalam dunia ini sebagai disinfektan, Allah yang bekerjanya melalui segala yang indah tok, yang sempurna tok, yang bersih tok, yang damai tok? Kita tidak sadar, seandainya Allah sungguh-sungguh steril seperti itu, maka pilihannya antara Allah tidak usah terlibat sama sekali di dunia ini, atau sekalian Dia datang dan yang terjadi adalah –karena Dia disinfektan yang sempurna– yang habis bukan cuma virus Covid tapi semua dari kita juga habis. Itu sebabnya kita harusnya bersyukur bahwa Allah kita rela bekerja dengan tangan yang kotor, dengan mengotori tangan-Nya.
Ada satu cerita dari seorang komentator yang membahas bagian ini, John Goldingay, tentang temannya yang menceritakan ada perpecahan di gerejanya. Dalam perpecahan itu, majelis memecat pendetanya, lalu pendeta tersebut pergi dan mendirikan gerja baru di seberang jalan, separuh jemaat dan para staf ikut pindah ke sana. Teman ini curiga, sepertinya majelis berlaku tidak fair terhadap pendeta tersebut, tapi di sisi lain tindakan-tindakan pendeta itu juga banyak yang menimbulkan tanda tanya. Dalam hal ini, si teman jadi bergumul, apakah akan terus melayani di gerejanya atau harus berhenti dan pindah, atau bagaimana. Lalu John Goldingaycuma bertanya kepada teman ini, ‘menurut kamu, Tuhan telah meninggalkan gereja itu atau tidak’ –pertanyaan retoris. John Goldingay mau mengajar dia untuk menyadari, bahwa sepertinya Tuhan, modus operandi-nya tidak seperti itu. Tuhan kita bukan Tuhan yang sedikit-sedikit langsung pergi, langsung pindah. Yang kita lihat di dalam Alkitab, Tuhan kita tidak pernah digambarkan sebagai Tuhan yang baru mau terlibat dengan umat-Nya/Gereja-Nya kalau Gereja tersebut melakukan segala sesuatunya dengan tepat. Seandainya Tuhan kita seperti itu, sepertinya Tuhan tidak akan pernah terlibat di dalam dunia ini, di dalam Gereja-Nya. Dan inipun adalah Injil; kita perlu diingatkan akan transisi yang seperti ini di dalam Injil. Inilah juga yang akan kita lihat terus dalam pembahasan-pembahasan kitab Hakim-hakim ke depan nanti.
Saudara doakan, kiranya Tuhan boleh hadir dan senantiasa memberkati eksposisi, penggalian, dan perenungan kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading