Kitab Hakim-hakim kalau diurutkan secara kronologis, peristiwa terakhir sebelum masuk ke era nabi Samuel adalah kisah Simson. Tapi kitab ini tidak berakhir dengan Simson; lima pasal terakhir berikutnya adalah bagian yang paling gelap dalam Alkitab, bagian-bagian yang kata Dr. Richard Pratt jangan pernah dibahas di Sekolah Minggu karena ada cerita mutilasi dsb. Ini bagian yang orang Kristen seumur hidup hampir tidak pernah mendengar khotbah tentangnya atau mempelajarinya, saking gelapnya. Ini bagian-bagian yang pastinya tidak masuk ke dalam buku-buku renungan devosional karena begitu mengerikan, bagian yang Tuhan hampir-hampir tidak muncul sama sekali.
Setelah kisah Simson ada 5 pasal yang gelap, yang difokuskan pada 2 kisah besar. Dua kisah penutup ini tidak sembarangan ditaruh, karena sebagaimana pembahasan kita di awal, kitab Hakim-hakim ini kitab yang isinya sangat kacau tapi strukturnya sangat rapi. Di tengah-tengah ada cerita mengenai 12 hakim –angka yang tidak sembarangan– dan 7 tokoh di antaranya mendapat spot light –lagi-lagi angka yang tidak sembarangan. Ketujuh hakim tersebut ada paralelnya masing-masing; Otniel kontras dengan Simson, Ehud kontras dengan Yefta, Debora kontras dengan Abimelekh, dan Gideon kontras dengan dirinya sendiri. Selain simetri di tengah tersebut, juga ada bingkainya, yaitu 2 kisah pembukaan dan 2 kisah penutup —double intro dan double conclusion. Dua kisah pembukanya bicara mengenai kegagalan Israel dalam dua hal, dalam perang dan dalam kerohanian; dua kisah penutup (yang akan kita bahas) juga bicara tentang kegagalan Israel dalam dua hal yang sama, mulai dari kegagalan kerohanian, lalu berikutnya dalam peperangan.
Tapi sebagaimana selalu ketika Alkitab menghadirkan dua paralel, sering kali tujuannya juga untuk membuat kita menyadari perbedaannya. Dalam dua kisah pembuka, kegagalan bangsa Israel adalah dalam perang dengan bangsa lain, menyembah dewa-dewi bangsa lain; sedangkan dalam dua kisah penutup, kegegalan rohani Israel dalam menyembah Yahweh –yang juga gagal– dan dalam perang saudara. Jadi yang satu urusannya dengan foreign, yang belakangan urusannya domestik. Beda yang lain lagi, dalam dua kisah pertama, meskipun bicara tentang kegagalan, tapi Tuhan sangat intens hadir di tengah-tengah Israel, Tuhan senantiasa berdialog dengan Israel; bangsa Israel tanya, “Siapa yang harus maju?” Tuhan menjawab, “Yehuda dulu”, dsb. –terus-menerus ada dialog– dan Tuhan juga mengirimkan malaikatnya untuk bicara langsung kepada bangsa Israel ketika Israel gagal, dst. Tetapi dalam dua kisah yang terakhir, Tuhan –meskipun mungkin sering disebut-sebut– hampir-hampir tidak muncul dalam 5 pasalnya. Kenapa? Karena dalam 5 pasal terakhir ini ada fokus yang lain.
Dalam kisah Simson, Saudara menemukan berkali-kali bahwa seberapa pun aneh dan kacaunya kejadian dalam bangsa Israel yang terlihat di permukaan, ujungnya diperlihatkan ada Tuhan yang mengatur di balik layar. Kita selalu dapat semacam bocoran behind the scenes, tangan Sang Sutradara; kita dapat pandangan bird eye view, pandangan dari Atas, fokusnya adalah apa yang Tuhan lakukan. Ini sebabnya dalam kisah-kisah para hakim tersebut dosa Israel tidak terlalu dibicarakan, hanya disebut misalnya ‘orang Israel kembali melakukan apa yang jahat di mata Tuhan’, tapi detailnya tidak dibahas. Sekarang di bagian penutup ini kita melihat perspektif yang lain; kita bukan disuguhkan bird eye view melainkan ground level view, melihat langsung dari lapangan seperti apa situasinya. Dengan kata lain, dalam bagian-bagian sebelumnya Saudara diceritakan bagaimana Tuhan menyelamatkan Israel, tapi dalam dua kisah yang terakhir Saudara diperlihatkan mengenai Tuhan menyelamatkan Israel dari situasi macam apa. Itu fokus penceritaan dua kisah terakhir ini, maka tidak heran Tuhan tidak muncul di bagian ini, tidak heran ini bagian-bagian yang sangat gelap, karena inilah kisah-kisah yang mengekspos seperti apa kerohanian Israel pada zaman tersebut.
Hari ini kita mulai dengan kisah yang pertama, pasal 17-18. Kisah ini bertujuan mengekspos seperti apa keagamaan orang Israel pada zaman itu. Ada satu tema yang menyambung di sini, yaitu bahwa ini kisah yang sangat agamis, penuh dengan keagamaan, penuh dengan orang-orang yang berusaha melakukan apa yang benar —di mata mereka sendiri masing-masing. Itulah problemnya. Kisah ini ada 3 bagian besar, setiap bagiannya membuka adegan baru dan membawa masuk karakter baru. Awalnya seperti tidak berhubungan, tapi semuanya sambung-menyambung pada akhirnya. Yang pertama, tokoh Mikha dari Efraim; yang kedua, tokoh Yonatan, seorang Lewi dari Betlehem; yang ketiga tokoh suku Dan.
Adegan Pertama, Pasal 17:1-6
Ayat 6, ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’; (ayat 6 jadi semacam refrain, yang dalam 5 pasal terakhir ini akan diulang 4 kali).
Dalam satu ayat saja, ayat 2, kita diberitahu situasi apa yang memulai kisah ini: ibu Mikha menabung perak 1.100 syikal, lalu perak ini dicuri, dan karena itu ibu Mikha memanggil kutuk turun atas pencurinya yang dia tidak tahu siapa, tapi ternyata pencurinya adalah anaknya sendiri, Mikha; Mikha mendengar kutuk ibunya, dia takut, maka dia mengaku dan mengembalikannya. Reaksi ibu Mikha adalah lega, mengampuni anaknya, dan langsung memanggil berkat dari TUHAN turun ke anaknya itu. Sampai di sini, apa yang Saudara lihat? Wah, ini keluarga yang bahagia, keluarga yang begitu rohani, lihat saja ibu Mikha memanggil nama Yahweh (TUHAN), bukan sekadar Elohim; memang umat Tuhan yang sejati harus kayak begini, ada pengampunan, ada pertobatan, dalam kehidupannya nama TUHAN siap keluar dari mulut mereka –meskipun yah, memang ada tanda tanya. Misalnya, kenapa dalam umat yang senantiasa menyebut nama TUHAN, bisa ada anak merampok mamanya sendiri?? Dan, anak ini bertobat bukan karena menyesal tapi karena dia ketakutan kena kutuk. Juga, kenapa sang mama langsung mengampuni begitu saja, dan tidak ada disiplin bagi anaknya?? Tapi masa bodohlah, yang penting nama TUHAN sudah disebut, yang jahat sudah bertobat, yang hilang sudah dikembalikan –segala sesuatu beres adanya.
Ceritanya berlanjut dengan ibu Mikha maju satu langkah lebih jauh, dia tidak menerima kembali perak tersebut, dia mengatakan, “Aku mau menguduskannya bagi TUHAN –aku mau mempersembahkan kepada TUHAN, aku mau memisahkan ini bagi TUHAN, TUHAN yang mengembalikan maka biarlah TUHAN yang dimuliakan” —wah, lebih rohani lagi, proper banget. Tapi agak aneh juga, kenapa ibunya mengatakan mau menguduskan uang ini, namun dari 1.100 syikal yang disisihkan hanya 200 keping. Lebih aneh lagi, uang yang dikuduskan bagi Yahweh ini digunakan untuk membuat patung berhala! Saudara perhatikan, semua ini diceritakan sang narator tanpa komentar. Pertama-tama karena sang narator yakin pembacanya bisa melihat betapa ini pelanggaran terang-terangan terhadap Hukum ke-2; tapi mungkin juga karena sang penulis mau memberi kesan bahwa sang mama sendiri tidak bisa melihat keanehan tersebut. Omong-omong, nama Mikha artinya adalah ‘Yahweh yang tidak ada tandingannya’; dengan demikian sang penulis mengajak kita untuk melihat betapa di rumah orang yang bernama Yahweh si tanpa tandingan, ada patungnya Yahweh. Lucu ya.
Selanjutnya, ternyata bukan cuma patungnya yang ada di rumah Mikha tapi juga kuilnya. Sekilas kita mungkin mengatakan, “Wow! rohani sekali”, meskipun kita tahu sepertinya Tuhan mengharuskan Israel hanya menyembah di satu spot tertentu yang dikhususkan/dikuduskan, yang belakangan adalah di Yerusalem tapi saat itu di Silo. Tapi, ya sudahlah, tidak usah pusing-pusing amat, ini ‘kan seperti kalau kita datang ke rumah orang kaya yang rumahnya begitu megah; tapi bukan cuma rumahnya yang dia bangun dengan megah, dia juga bangun kapel di taman belakangnya! Betapa rohaninya orang ini. Dan orang ini mungkin juga ngapain ke gereja lagi karena ‘sudah saya pindahkan gereja ke rumah saya’. Luar biasa! Kita tepuk tangan melihat orang kayak begini.
Di dalam kuil tersebut juga ada sebuah efod seperti punya Harun. Wow! Luar biasa, ada replikanya; atau jangan-jangan memang barang asli, atau paling tidak seperti bikinan Gideon. Ada juga terafim di situ (terafim adalah patung-patung/berhala-berhala kecil, biasa ditaruh di rumah-rumah, seperti punya Rahel dulu). Lalu kita berpikir, kalau efod masih ada hubungannya dengan Yahweh, tapi kalau terafim?? Ah, masa bodohlah, yang penting kuilnya juga ada imam, lho; cuma sepertiinya karena tidak ada orang Lewi yang available pada waktu itu, jadinya Mikha menahbiskan salah satu anaknya sendiri untuk jadi imam di kuil rumahnya itu. Ya, sudah, tidak apa-apa ‘kan, better than nothing, karena toh seperti kata narator, pada waktu itu tidak ada raja di Israel, jadi penting bagi setiap orang di Israel untuk melakukan apa yang benar di mata mereka. Kuil harus ada imamnya, ‘kan?? Jadi sudah benar dong, ya sudahlah; itu tindakan yang proper!
Saudara lihat penggambaran tersebut, itulah keagamaan Israel pada zaman itu. Problemnya bukan cuma terjadi ketika Israel menyembah dewa-dewi asing, ketika mereka menyembah Yahweh pun ada begitu banyak problem karena ini agama yang Yahwis tapi menurut keinginan dan selera masing-masing.
Adegan Kedua, Pasal 17:7-13, 18:1a
Pasal 18:1a, ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel … ‘.
Adegan yang kedua memperlihatkan tokoh seorang Lewi dari Betlehem. Belakangan, di akhir pasal 18 kita diberitahu nama tokoh ini Yonatan, tapi ada alasan namanya baru diberitahukan belakangan karena untuk saat ini yang penting bukan namanya tapi dia ini apa. Dia adalah seorang Lewi yang ditempatkan di suku Yehuda (orang Lewi memang tidak punya tanah, mereka disebar berdasarkan keluarga-keluarga, dimasukkan ke suku-suku untuk melayani kebutuhan di tempat suku-suku tersebut, lalu setiap tahun –atau setiap bulan– keluarga-keluarga imam ini akan bergantian melayani rumah Tuhan yang di pusat, di Silo ataupun Yerusalem). Tapi orang Lewi ini telah meninggalkan tempatnya, pergi cari kerja di tempat lain –seperti penginjil freelancer. Dia sampai ke tempat Mikha, mungkin hanya ingin singgah, tapi kebetulan Mikha memang sedang mencari orang. Jadi, seperti gayung bersambut, Mikha yang merasa segala sesuatu perlu proper secara keagamaan, menawarkan kerja kepada orang Lewi ini. Kuil di rumahku itu perlu imam, jadi aku melakukan apa yang aku pandang baik; yah, ada memang anakku sendiri untuk jadi imam, tapi koq, kalau imam dari Efraim kedengarannya kurang proper. Sekarang kebetulan ada pendatang baru, orang Lewi, jadi ini pasti tangan TUHAN. Maka dia mengatakan di ayat 13, “Sekarang aku tahu, TUHAN itu baik kepadaku, karena aku butuh imam Lewi, dan TUHAN menyediakannya”. Imam yang pertama sih okelah, anakku sendiri, buat tambalan, tapi yang ini lulusan STT asli, barang asli yang ada sertifikat, pas juga dia perlu tempat, perlu kerja, perlu gaji tetap, perlu makanan dan pakaian, sementara saya perlu kepastian bahwa Tuhan itu baik sama saya. Nah, kalau ada orang Lewi jadi imam di kuil di rumah saya, jadi lebih pasti rasanya! Berikutnya, kembali sang narator mengatakan, “Pada waktu itu tidak ada raja di antara orang Israel …”.
Adegan Ketiga, Pasal 18
Selanjutnya kita beralih ke adegan ke-3, mengenai suku Dan. Suku Dan juga sedang mencari tempat yang permanen bagi mereka; dan untuk ketiga kalinya Saudara akan melihat betapa segala sesuatu dalam kisah ini dijalankan dengan begitu proper dan benar –di mata mereka. Tapi dalam adegan ke-3 ini urusan proper/tidak proper lebih halus penyampaiannya; untuk itu kita perlu melihat secara lompat-lompat dalam bagian ini.
Ayat 1: Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel dan pada zaman itu suku Dan sedang mencari milik pusaka untuk menetap, sebab sampai hari itu mereka belum juga mendapat bagian milik pusaka di tengah-tengah suku-suku Israel. Mengapa suku Dan seperti ini? Kalau kita mundur ke bagian awal kitab ini, kita ingat kitab Hakim-hakim pasal 1 berakhir dengan ada 12 suku Israel yang disuruh menaklukkan tanah Kanaan, yang kemudian hasilnya berlainan satu dengan yang lain dalam hal kesuksesan. Ada suku Yehuda yang sangat sukses, ada suku-suku lain yang cukup sukses, ada yang tidak terlalu sukses. Tapi pastinya yang paling bontot jeblok adalah suku Dan, karena suku Dan bukan cuma gagal menghalau Kanaan, tapi justru merekalah yang dihalau pergi oleh bangsa Kanaan dari tanah pusaka yang harusnya jadi milik mereka. Di akhir pasal 1 dikatakan mereka ini kemudian menetap secara nomadic di daerah-daerah perbukitan, jadi suku yang homeless.Suku Dan ini mungkin jadi penasaran, bagaimana bisa kita sendiri doang yang tidak dapat tanah?? tidak bisa begini, ini ‘gak benar, ‘gak proper; kita harus cari lagi tempat bagi kita! Dengan demikian pasal 18 adalah perjalanan suku Dan mencari tempat. Ada 2 kali perjalanan: yang pertama, cerita perjalanan 5 orang mata-mata suku Dan; yang kedua, perjalanan 600 tentara suku Dan untuk merebut tempat bagi mereka. Jadi adegan ketiga ini ada 2 bagian besar tersebut, dan di bagian tengahnya ada satu break yang menarik, yaitu baik si mata-mata maupun 600 tentara, keduanya sampai di tempatnya Mikha. Tapi supaya lebih jelas, kita potong bagian tengahnya itu dulu, kita akan melihat bagian awal dan bagian akhir dari perjalanan ini, perjalanan mata-mata dan perjalanan tentara suku Dan.
Ayat 2: Sebab itu bani Dan menyuruh dari kaumnya lima orang dari seluruh jumlah mereka, semuanya orang-orang yang gagah perkasa, … “Pergilah menyelidiki negeri itu.” Di sini kita merasa koq kedengarannya familier; mirip banget waktu dulu Musa pernah disuruh Tuhan sebelum masuk tanah perjanjian, untuk kirim orang dulu memata-matai negeri itu. Wah, jadi suku Dan ini hebat, proper! Mereka tidak langsung cari tempat dan ramai-ramai semua orang datang ke situ, mereka kirim mata-mata dulu.
Ayat 7: Sesudah itu pergilah kelima orang itu, lalu sampailah mereka ke Lais. … Orang-orang itu tidak kekurangan apa pun yang ada di muka bumi, malah kaya harta. Mereka tinggal jauh dari orang Sidon dan tidak bergaul dengan siapa pun juga. Persis seperti dua belas mata-mata Musa waktu itu menemukan negeri Kanaan yang mengalir susu dan madunya, sekarang mereka juga menemukan negeri yang makmur, tempat yang tidak kekurangan, yang kaya. Wah, mantap ini, mirip banget, polanya makin proper!
Ayat 8-10: Setelah mereka kembali kepada saudara-saudara sesukunya di Zora dan Esytaol, … “Bersiaplah, marilah kita maju menyerang mereka, sebab kami telah melihat negeri itu, dan memang sangat baik. Masakan kamu tinggal diam! Janganlah bermalas-malas untuk pergi memasuki dan menduduki negeri itu. … Sesungguhnya, Allah telah menyerahkannya ke dalam tanganmu; itulah tempat yang tidak kekurangan apa pun yang ada di muka bumi.” Saudara lihat, gaungnya makin kencang, karena waktu lima mata-mata tersebut kembali ke daerah suku Dan, mereka melaporkan bahwa daerah itu begitu baik; dan di zaman Musa juga sama, 12 mata-mata mengatakan, “O, daerah itu luar biasa! Lihat anggur yang kami cabut ini besar-besar banget buahnya!” Tapi kemudian pada zaman Musa ada 10 orang brengsek yang ketakutan berperang, “Negerinya memang bagus sih, tapi amit-amit, kita kalau ke sana pasti kalah, karena orang-orang di sana badannya raksasa!” Dan ketika itu hanya Kaleb dan Yosua yang mengatakan, “Jangan ragu! Ayo berani perang, Tuhan telah menyerahkan mereka ke dalam tanganmu!” Sekarang dalam kisah suku Dan, ketika 5 mata-mata kembali, tidak seorang pun dari mereka yang penakut, semuanya berkata-kata sebagaimana Kaleb dulu berkata-kata, sangat proper, “Ayo, jangan malas! Masakan kamu tinggal diam, ayo kita pergi, masuk ke negeri itu, sesungguhnya Allah telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita!” —proper.
Ayat 11-12: Lalu berangkatlah dari sana, dari Zora dan Esytaol, enam ratus orang dari kaum suku Dan, diperlengkapi dengan senjata. …letaknya di sebelah barat Kiryat-Yearim. Ini perjalanan yang kedua, ekspedisi militer 600 tentara suku Dan untuk merebut kota Lais bagi mereka.
Ayat 27: Lalu bani Dan, dengan membawa barang-barang yang dibuat Mikha, juga imamnya, mendatangi Lais, yakni rakyat yang hidup dengan aman dan tenteram. Mereka memukul orang-orang itu dengan mata pedang dan kotanya dibakar. Kita lompat ke ending dari perjalanan ekspedisi militer 600 tentara suku Dan. Intinya, mereka maju, mereka merebut kota itu, mereka mendudukinya sebagai milik pusaka mereka. Kita melihat ini sesuatu yang proper. Benar nih, sesuai dengan misi awal suku-suku Israel ‘kan, untuk maju, berani, perang, merebut dan menduduki kota itu menjadi milik pusakanya. Bahkan bukan cuma hasilnya yang proper, tapi prosedur-prosedurnya sampai di sini semuanya ditaati seperti yang ada dalam tradisi, mereka mengirim mata-mata seperti zaman Musa, mereka berespons seperti Kaleb dan Yosua di zaman Musa, mereka pergi menaklukkan daerah Kanaan seperti suruhan Musa, jadi segala sesuatu proper secara keagamaan.
Saudara lihat, inilah dua perjalanan suku Dan. Perjalanan pertama adalah mata-mata, lalu perjalanan kedua yaitu ekspedisi militer; dan keduanya, di awal dan di akhir melakukan segala sesuatunya dengan beres. Proper! Sekarang kita mau melihat bagian yang tadi kita lewati. Di tengah-tengah dua perjalanan ini, baik mata-mata maupun tentaranya, keduanya sempat mampir ke rumah Mikha; dan apa yang terjadi di sana? Sekarang kita mundur ke ayat ayat tersebut.
Ayat 2-6: … Ketika orang-orang itu sampai ke pegunungan Efraim di rumah Mikha, bermalamlah mereka di sana. … Kata imam itu kepada mereka: “Pergilah dengan selamat! Perjalanan yang kamu tempuh itu dipandang baik oleh TUHAN.” Kelima mata-mata ini, di tengah-tengah perjalanannya bertemu dengan imamnya Mikha, Yonatan, si orang Lewi itu, maka mereka bilang, “Tolong tanyakan kepada Tuhan, apakah tanda-tandanya perjalanan kami ini akan berhasil, proper atau tidak?” Lalu Yonatan, sang imam, mengatakan, “O, baik, mantap! Perjalananmu ini dipandang baik oleh Tuhan” Apa dasarnya dia mengatakan ini? Ada dasarnya. Dasarnya adalah bahwa proyek mereka ini mencentang (ü) boks-boks dari semua pola dan prosedur yang sudah diberikan dalam cerita-cerita sebelumnya. Pertama adalah ketika Musa mengirimkan mata-mata, dan yang kedua ketika bangsa Israel merebut tanah Kanaan. Inilah seperti orang-orang yang ingin dapat kepastian dari pendeta, yang bertanyanya model kayak begini: ‘benar ‘kan yang kami lakukan ini?’, ‘kayak begini ‘kan ya, Pak?’ –ingin dapat cap approval dari pendeta lalu rasa lega.
Ayat 13-21: Dari sana mereka (para tentara) bergerak terus ke pegunungan Efraim dan sampai di rumah Mikha. … Maka gembiralah hati imam itu, diambilnyalah efod, terafim dan patung pahatan itu, lalu masuk ke tengah-tengah orang banyak. Kemudian berbaliklah mereka dan pergi, dengan anak-anak, ternak dan barang-barang yang berharga ditempatkan di depan mereka. Sekarang kita melihat persinggahan di tempat Mikha ini dalam perjalanan yang kedua, yaitu perjalanan 600 tentara. Di bagian ini, kalau Saudara merasa kasihan pada Mikha yang kena rampok, Saudara jangan lupa cerita ini dimulai dengan Mikha sendiri merampok mamanya; dan perak yang dia curi itu 5 kali lipat harga patung yang sekarang dirampok. Juga tidak heran akan apa yang dilakukan si orang Lewi ini; awalnya dia protes, “kalian ngapain ini??” tapi begitu diberikan tawaran yang lebih baik, dia senang, benar juga, ya, ngapain gua jadi pendeta di cabang kecil kalau gua bisa jadi gempala sidang gereja besar dengan 600 orang jemaat! Ini sukses besar, tadinya saya cuma pengembara, tidak ada tujuan, tidak ada tempat, lalu naik level sedikit jadi imam dari satu orang kaya; dan sekarang ini kesempatan jenjang karier berikutnya, jadi gembala sidang gereja besar. Wow! Okelah, ikut. Lalu diceritakan bukan cuma orang-orang itu yang mengambil patung, imam ini sendiri pun ikut mengambil lalu pergi bersama-sama mereka.
Ayat 22-26: Ketika mereka telah jauh dari rumah Mikha, dikerahkanlah orang-orang dari rumah-rumah yang di dekat rumah Mikha dan orang-orang itu mengejar bani Dan itu. … Lalu jawabnya: “Allahku yang kubuat serta imam juga kamu ambil, lalu kamu pergi. Apakah lagi yang masih tinggal padaku?” … Lalu bani Dan melanjutkan perjalanannya, dan Mikha, setelah dilihatnya mereka itu lebih kuat dari padanya, berpalinglah ia pulang ke rumahnya. Diceritakan bahwa Mikha beserta tetangga-tetangganya menyusul suku Dan yang merampoknya, dan mereka siap tempur, mereka mengerahkan orang. Kenapa Mikha melakukan ini? Karena dia telah dirampok; dia mengatakan, “Apakah lagi yang masih tinggal padaku?” Inilah ironinya penyembahan berhala. Dia telah membangun hidup keagamaannya pelan-pelan, mulai dari memiliki kuil, patung, efod, terafim, lalu imam –dan imamnya pun sudah upgrade jadi imam Lewi –artinya inilah tempat dia mengharapkan berkat Tuhan, tapi semua akhirnya hilang dan tidak bisa diambil lagi, karena yang mengambil terlalu kuat. Jadi dia pulang ke rumahnya. Ini gambaran yang sangat powerful yang membuat kita ingat, bahwa apapun yang Saudara jadikan dewa dalam hidup ini, kalau itu bukan Tuhan, maka Saudara akan menemukan jalan menuju keinginan hatimu itu —entah itu uang, relasi, kuasa, dsb.—akan diblokir oleh orang lain yang terlalu kuat. Kalau Saudara menjadikan karier sebagai dewamu, maka Saudara akan diblokir suatu hari; ada saja orang lain yang terlalu kuat, yang terlalu mampu, jauh di atas Saudara, sehingga dia yang dapat promosi sementara Saudara tidak. Atau, ada saja orang yang mungkin lebih tidak mampu tapi lebih banyak koneksi, sehingga dia dapat promosi sementara Saudara tidak. Bahkan bisa ada orang yang hanya lebih hoki daripada Saudara, sehingga dia dapat promosi sementara Saudara tidak. Atau misalnya Saudara menjadikan wajahmu/kecantikanmu sebagai dewa, Saudara akan diblokir oleh waktu yang terlalu kuat. Waktu, itu terlalu kuat bagi mereka yang mengharapkan bisa cantik selama-lamanya, terlalu kuat untuk kita bisa mempertahankan kecantikan kemudaan kita; dan kalau pun kita coba meminimalkan dengan botoks dsb., jangan lupa, ujungnya kematian akan membuang semua ilah palsu yang dari padanya kita mengharapkan berkat.
Di bagian cerita ini, satu hal yang positif adalah Mikha menyadari kehampaan berhalanya sebelum terlambat –meski kita tidak tahu ujung ceritanya. Ini mengingatkan kepada kita bahwa semua orang sedang menyembah dan melayani sesuatu. Pertanyaannya, siapa dan apa yang Saudara jadikan sebagai tempat Saudara mencari tujuan hidup, berkat hidup, arti hidup; apakah benda yang kalau itu diambil darimu, engkau akan mengatakan, “Saya tidak punya apa-apa lagi.. ke mana saya akan pergi.. tidak ada apa-apa lagi”? Ini juga mengingatkan kita, bahwa sering kali kita baru bisa menyadari berkat seperti apa yang kita milki dalam Yesus Kristus, ketika memang hanya Yesus Kristuslah yang tersisa, you don’t realize Jesus is all you need, until Jesus is all you have. Petrus pun pernah mengalami ini; dia pernah mengatakan satu kalimat yang harusnya jadi kalimat kita juga, “Ke mana lagi kami akan pergi, Tuhan? Pada-Mu ada perkataan hidup kekal”.
Ayat 27-28: Lalu bani Dan, … mendatangi Lais, yakni rakyat yang hidup dengan aman dan tenteram. Mereka memukul orang-orang itu dengan mata pedang dan kotanya dibakar… Kemudian bani Dan membangun kota itu kembali dan diam di sana. Inilah suku Dan, suku preman, suku tukang bully; apa yang mereka telah lakukan kepada Mikha hanyalah antisipasi dari kekejaman mereka terhadap kota Lais yang begitu peaceful, lalu berakhir dengan mereka mendapatkan tanah pusaka. Mereka bahkan sekaligus mendapatkan imam dengan segala sampah-sampah rohani yang datang sepaket dengan si imam, baik itu efod KW, terafim dsb. —segala sesuatu proper. Lalu apa catatan terakhir mengenai mereka?
Ayat 30-31: Bani Dan menegakkan bagi mereka sendiri patung pahatan itu, lalu Yonatan bin Gersom bin Musa bersama-sama dengan anak-anaknya menjadi imam bagi suku Dan, sampai penduduk negeri itu diangkut sebagai orang buangan. Demikianlah mereka menempatkan bagi mereka sendiri patung pahatan yang telah dibuat Mikha itu, dan patung itu ada di sana selama rumah Allah ada di Silo. Saudara lihat, ini cerita sukses. Semua prosedur ditaati, semua polanya dijalankan, dan mereka mendapatkan kesuksesan; bahkan kesuksesan itu bertahan lama karena sejak zaman hakim-hakim sampai pembuangan, mereka tetap berada di kota yang mereka rebut itu. Tapi mungkin yang paling mengagetkan adalah bahwa cerita ini ditutup dengan membuka identitas si orang Lewi. Siapakah dia? Namanya baru diberi tahu belakangan, yaitu Yonatan bin Gersom bin Musa, artinya imam gila ini ternyata tidak lain dari keturunan Musa sendiri. Inilah cerita yang begitu gelap, begitu hancur.
Inilah cerita yang membuat kita bertanya-tanya, apa perlunya bagian yang seperti ini di Alkitab?? Kenapa kisah ini ada di Alkitab? Untuk apa ada kisah ini? Apa poinnya kita belajar kisah ini? Saudara, kisah ini menyatakan kepada kita satu hal yang sangat berharga mengenai apa yang jadi problem utama bangsa Israel, yaitu bukan bahwa mereka mengejar apa yang salah, melainkan mereka mengejar apa yang benar tapi benar di mata mereka sendiri. Setiap tokoh di cerita ini mengikuti mati-matian semua peraturan keagamaan kulit luar, sementara pada saat yang sama melupakan esensi dari peraturan-peraturan tersebut, bahwa penyembahan kepada Tuhan adalah berpusat pada apa yang Tuhan pandang sebagai baik, apa yang Tuhan pandang sebagai benar, bukan apa yang manusia lihat.
Mikha, dibongkar seluruh tujuan keagamaannya, waktu dia mengatakan, “Sekarang aku tahu Tuhan akan berbuat baik kepada-ku”; seluruh keagamaannya, tujuannya adalah supaya saya bisa dapat akses kepada Tuhan, sehingga Tuhan memberikan kepada saya, apa yang saya mau. Melihat ini, Saudara bisa jadi mengatakan, “Iya, memang hancur banget”, tapi coba sekarang Saudara balik, jikalau yang seperti ini adalah keagamaan yang ngawur, maka dalam Kekristenan tujuan dari iman yang sejati berarti memberikan Tuhan akses kepada hati-mu, sehingga Dia bisa membuat-mu memberikan kepada Dia apa yang Dia mau. Saudara bisa menertawakan Mikha, tapi apakah yang sebaliknya Saudara jalankan atau tidak, yaitu membuka hatimu sehingga engkau melakukan apa yang Tuhan suruh, apa yang Tuhan mau, melayani kehendak Tuhan. Tujuan agama adalah membuat Tuhan melayani kita –dan kita bilang ‘gak boleh kayak dong yang kayak begitu — sedangkan tujuan iman Injil yang sejati adalah membuat hati kita melayani-Nya. Di sini kita baru sadar, kita tidak beda dengan Mikha.
Suku Dan juga melakukan segala sesuatu secara proper, tapi kenapa mereka sampai tidak punya tempat di awalnya? Sekali lagi, karena mereka tidak taat, mereka tidak berhasil masuk ke tanah mereka, dan akhirnya terpaksa hidup semi-nomadic di perbukitan. Satu hal menarik, kita buka Wahyu 7:5-8; bagian ini bicara mengenai daftar suku-suku Israel yang akan dimuliakan di akhir zaman, di langit dan bumi yang baru. Siapa yang hilang dari daftar ini? Suku Dan! Jadi hal ini bahkan sampai masuk ke kitab Wahyu, bahwa suku Dan benar-benar suku yang paling bontot, hingga di akhir zaman pun mereka di-exclude dari daftar suku-suku Israel. Kenapa? Problem mereka sama dengan Mikha, mereka melakukan segala sesuatu by the book, tapi ujungnya tujuannya adalah ‘dari mereka, dan untuk melayani diri mereka’.
Perhatikan waktu mereka mau merebut kota Lais, alasannya adalah karena ini kota yang gampang direbut, kota yang orang-orangnya tenteram, dan punya banyak harta; lagipula kotanya terisolir, mereka tidak bergaul dengan siapa pun. Jadi ini sasaran empuk, tidak punya back-up. Suku Dan mau merebut Lais bukan karena Tuhan memperkuat mereka, tapi karena mereka yakin bisa merebut Lais atas dasar kekuatan mereka sendiri, hanya polanya saja yang menurut mereka ikut Tuhan. Saudara perhatikan bedanya dengan penaklukan Kanaan oleh Yosua. Waktu Yosua memimpin bangsa Israel masuk ke tanah Kanaan, Tuhan berkata kepada bangsa Israel, “Hai, bangsa Israel, kamu jangan pikir Aku memilih kamu karena kamu kuat. Kamu tidak kuat sama sekali; dari 7 suku yang ada di Kanaan, kamu itu yang paling kecil! Tapi Aku memilih engkau, Aku mengikat perjanjian dengan engkau; jadi kalau kamu menang melawan mereka, itu adalah karena Aku, bukan karena kamu”. Tapi lihat, dalam suku Dan lain sekali polanya. Mereka sendiri yang menentukan bagi mereka bahwa Tuhan telah menyerahkan kota Lais ke dalam tangan mereka; dari mana dasarnya?? Waktu Kaleb dan Yosua meneriakkan kalimat ‘Allah telah menyerahkan mereka ke dalam tangan kita’, itu adalah karena Kanaan memang tanah perjanjian yang Tuhan berkali-kali bicara sebagai bagian mereka, yang sudah dijanjikan dari sejak Abraham; sedangkan siapa yang pernah menjanjikan Lais bagi orang Israel?? Tidak pernah ada. Lais adalah tempat yang letaknya di luar batas tanah perjanjian. Dan, sementara mereka sampai di tempat Mikha, mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, mereka mengambil semua harta dan imamnya sekalian.
Tidak berakhir di sini, karena Dan tidak berhenti jadi tempat penyembahan palsu. Dalam zaman Raja-raja, ketika kerajaan Israel pecah jadi kerajaan Selatan dan kerajaan Utara, demi menghalangi orang-orangnya pindah ke Selatan (tempat Yerusalem ada), maka kerajaan Utara mendirikan dua kota sebagai pusat penyembahan alternatif, yang satu di ujung bawah, Barsyeba, dan yang satu lagi di ujung atas, kota Dan. Jadi, kalimat yang mengatakan mereka sukses sampai pada zaman pembuangan di bagian ini, sebenarnya bukanlah kalimat tentang kesuksesan melainkan kalimat condemnation, bahwa kesuksesan mereka ada batasnya, ada akhirnya, tidak bertahan selama-lamanya. Sebagaimana mereka merampok tanah itu dari orang lain, suatu hari Tuhan akan mengambil tanah itu dari mereka.
Namun yang paling parah adalah si imam. Ini imam yang hanya termotivasi dengan kemajuan kariernya, dan ujungnya dia hanya melayani diri, karena dia hanya melayani orang yang bisa bayar dia; dan khotbahnya pun hanya memberikan apa yang orang mau dengar. “Beritahu kami tanda-tandanya apakah perjalanan ini berhasil atau tidak, sesuai dengan kehendak Tuhan atau tidak”, maka dia mengatakan, “Pergilah dengan damai, Tuhan besertamu”, dan orang akan bilang, “Oh, terima kasih Pak Pendeta, sudah stempel; terima kasih”. Orang ini, dalam perspektifnya dia menganggap dirinya mencapai langit, tadinya mengembara, lalu jadi imam kecil, dan sekarang jadi imam seluruh suku; tapi lihat, tiap langkah kenaikan kariernya sesungguhnya menjauhkan dia dari Tuhan. Dia mulai sebagai seorang Lewi yang malayani suku Yehhuda, suku yang terutama, di kota Betlehem, kota yang pada dasarnya pusat dari rencana Tuhan bagi umat-Nya berkali-kali sepanjang sejarah Israel. Lalu dia pindah, pertamanya ke Efraim, daerah kerajaan Utara, bekerja di kuil palsu. Lalu dia pindah lagi, dan berakhir di Lais, kota yang di luar area tanah perjanjian, bekerja bagi suku paling bontot yang tidak akan mencapai langit dan bumi yang baru. Menarik ya, penulis kitab Hakim-hakim ini memperlihatkan kepada kita. Problemnya bukanlah tentang ada jalan yang benar dan ada jalan yang salah, tetapi bahwa ada jalan yang benar menurut pandangan manusia dan jalan yang benar menurut pandangan Tuhan. “Dua-duanya benar”, Saudara bisa melihatnya, tergantung mau lihat dari mana.
Terakhir, yang paling menyedikan ternyata imam ini keturunan dari Musa sendiri. Itu sebabnya ada ungkapan dalam Kekristenan “Tuhan tidak punya cucu”, dalam arti tidak ada orang yang bertemu Tuhan hanya karena dia berada dalam garis keturunan yang tepat. Tidak ada orang yang bertemu Tuhan hanya karena dia berasal dari keluarga pendeta. Tidak ada orang yang bertemu Tuhan hanya karena dia berasal dari denominasi yang baik. D.A. Carson pernah mengatakan, “Generasi pertama mengenal Injil, generasi kedua mengasumsikan Injil, generasi ketiga melupakan Injil”; dan contoh yang sangat jelas akan hal ini di Alkitab, Saudara temukan di bagian ini.
Kembali ke pertanyaan kita di awal, untuk apa kita diberikan kisah ini? Bukan untuk kita jadi hakim atas ketiganya itu, tapi untuk melihat pantulan diri kita dalam mereka, untuk kita refleksi. Untuk kita menyadari bahwa bahaya yang riil bagi umat Tuhan bukanlah bahwa umat Tuhan itu sama dengan dunia mengejar hal-hal yang salah; menjadi umat Tuhan ada bahaya yang unik, yaitu sebagai umat Tuhan, Saudara cenderung mengejar hal-hal yang benar di matamu, di mata kita. Bahayanya kita sebagai umat Tuhan adalah kita pikir kita sedang menjalankan apa yang benar, padahal itu kebenaran hasil bentukan kita, hasil konstruksi kita sendiri –seperti Mikha, Yonatan, dan suku Dan. Pentingnya kisah ini adalah untuk kita mengenali kapasitas umat Tuhan, yaitu bukan cuma untuk melakukan kesalahan, tapi juga untuk memalsukan kebenaran, untuk mengira benar akan apa yang Saudara dan saya sebut dengan kebenaran namun ternyata itu cuma kebenaran di mata kita tok.
Satu contoh, yaitu yang saya sering temukan dalam pasangan-pasangan muda yang hendak menikah, tapi saya rasa ini gambaran Gereja secara umum. Dalam pembimbingan pasangan yang hendak menikah, hampir selalu ada kecenderungan pasangan yang minta pernikahannya custom made, unik. Ya, iyalah, siapa sih yang mau pernikahannya sama dengan pernikahan orang lain, maunya ‘kan yang unik, lain sendiri, khas. Dan ujungnya, mengekspresikan diri, sesuatu yang kita bentuk dengan tangan kita, sesuatu yang kita pandang baik di mata kita. Itu sebabnya orang-orang yang menikah di gereja sering kali inginnya lagu-lagu yang sesuai dengan mereka. “Gereja Reformed ini lagu-lagunya ‘gak seru, ya, Pak; boleh ‘gak saya pakai lagu sendiri?” Jawabannya tentu tidak boleh. “Pak, itu janji pernikahannya kurang cocok ya, kata-katanya terlalu kuno, ‘apakah kamu menerima sebagai istrimu satu-satunya dan sah’, kayak kalimat orang tua, jadi kurang bisa menjiwai, Pak; saya ingin cari kalimatnya saya, kepada istri saya, yang mengungkapkan cintanya saya kepada dia”. Saudara, apa pada dasarnya yang Saudara terima waktu menikah di Gereja? Saudara harus sadar, ini bukan cuma tempatnya doang; waktu Saudara menikah di Gereja, Saudara sesungguhnya mendapat anugerah untuk bisa menikah sesuai dengan aturannya Gereja, dan bukan aturanmu sendiri. Bahwa kesempatan untuk menikah di Gereja adalah kesempatan untuk menikah dalam suatu acara yang bukan menurut apa yang benar di matamu. Itulah berkatnya menikah di gereja.
Waktu sepasang mempelai menikah di Gereja, bahkan sebelum mereka masuk, lagu prosesinya tidak sembarangan. Lagu untuk bride berbeda dengan lagu untuk groom. Lagu untuk yang wanita biasanya bersifat merayakan, celebrative –dan orang tidak bisa mengatakan, “Saya maunya lagu yang mellow, Pak, karena saya cewek yang sifatnya pemalu.” Sementara untuk yang laki-laki, lagunya lembut, pastoral, lagu penggembalaan –dan tidak bisa orang bilang, “Kurang macho ya, ‘gak mengungkapkan saya; saya ini orang yang ke gym tiap hari”, dsb. Mengapa demikian? Karena waktu Saudara masuk saja, lagu yang dipakai tidak pernah hanya untuk mengekspresikan dirimu atau jiwamu, lagu itu sedang melambangkan Kristus dan jemaat, yang adalah background dari semua pernikahan. Kristus adalah gembala jemaat, maka pengantin laki-laki masuk dengan lagu pastoral; jemaat adalah pengantin wanita Kristus, dan dikatakan Kristus mendandaninya dengan tanpa cacat cela, dengan kain yang paling putih, dan karena itu maka dirayakan. Waktu Saudara menikah di Gereja, Saudara sedang dimasukkan ke dalam suatu tradisi yang lebih besar daripada dirimu. Itu tujuannya menikah di Gereja. Menikah di gereja tidak pernah untuk mengekspresikan dirimu, acara pernikahanmu di gereja bukan mengenai engkau; karena inilah esensi dari Kekristenan yang sejati, yaitu bukan apa yang engkau (manusia) anggap baik melainkan apa yang Tuhan anggap baik. Bukan mengenai engkau menggunakan keagamaan untuk mendapatkan apa yang engkau mau, melainkan bahwa engkau diubah oleh Tuhan sehingga engkau memberikan kepada Tuhan, apa yang Dia mau. Engkau diubah menjadi suami yang seperti Tuhan, engkau diubah menjadi istri yang seperti sebagaimana Tuhan mau. Seperti itulah fungsinya kebaktian pernikahan di gereja.
Mengenai janji nikah, kenapa tidak boleh diubah-ubah? Coba Saudara pikir, seandainya janji tersebut Saudara bikin sendiri, lalu suatu hari ada keretakan dalam pernikahanmu, suatu hari Saudara mengalami kesulitan dalam pernikahan, maka Saudara akan berpikir ‘pernikahan ini dasarnya cuma saya dengan dia ‘kan, janjinya saya yang bikin, lagunya saya yang pilih, acaranya semua berdasarkan saya, pendetanya juga saya yang pilih yang cocok sama saya, gedung gerejanya saya yang pilih, dekorasinya saya yang pilih, jadi ketika akhirnya saya sudah tidak merasa pernikahan ini mendukung saya, dan dia juga juga sudah tidak merasa demikian, ya sudah, dong, urusan selesai! pernikahan ini cuma persetujuan antara dia dan saya; ini pernikahan yang kami bentuk sendiri, maka ketika kami memutuskan tidak perlu jalan lagi, ya sudah, urusan selesai’. Tapi kalau Saudara menikah di Gereja dan janjimu itu adalah janji yang dibikin oleh Gereja, janji yang bukan berdasarkan keinginan hatimu –karena itu engkau harus menghafal– poinnya adalah waktu Saudara menikah berarti Saudara sedang menggabungkan dirimu ke sesuatu yang lebih besar daripada dirimu; dan itulah yang menjadikan ada harapan pernikahanmu terus berlangsung. Karena apa? Karena yang Saudara emban sebagai misi dalam pernikahan bukanlah hasil pikiranmu sendiri, melainkan misi yang diberikan kepada engkau.
Satu hal, apa beda pernikahan Katolik dengan pernikahan Kristen? Pernikahan Katolik dianggap sebagai sakramen, sementara Luther dan Calvin menolak hal ini. Alasannya, karena sakramen adalah urusan Saudara dengan Tuhan, sedangkan pernikahan bukan terutama mengenai janji pasangan kepada Tuhan –menurut Luither dan Calvin. Saudara kaget? Ini bukan karena Luther dan Calvin merendahkan pernikahan, tapi karena mereka sedang mengangkat Gereja. Bagi Luther dan Calvin, pernikahan terutama adalah janji pertanggungjawaban pasangan kepada masyarakat –umat Tuhan/Gereja. Itu sebabnya dalam pernikahan Reformed sebelum mulai acaranya, Diaken datang dan mengumumkan, “Pasangan ini telah mengikuti pembinaan pranikah (kelas) sekian kali pertemuan, telah mengikuti konseling pranikah (privat) dengan hamba Tuhan sekian kali pertemuan, dan selama ini tidak ada keberatan/masukan yang sah yang kami terima dari jemaat”. Ini bentuk pertanggungjawaban kepada jemaat. Lalu kenapa ada saksi, kenapa perlu ada orang-orang yang datang? Karena sang pasangan sebenarnya sedang berjanji di hadapan Tuhan untuk saling mencintai, saling menguduskan diri, supaya mereka bisa menjadi bagian dari sesuatu yang membangun dan membawa kebaikan bagi masyarakat. Itulah dampak janjinya. Waktu Saudara menikah di Gereja, Saudara bukan sedang mengekspresikan cintamu tok, tapi sedang berjanji kepada jemaat, mengikat janji dengan masyarakat, bahwa Saudara akan menjadi keluarga yang bertanggung jawab. Itu salah satu hal yang Luther dan Calvin katakan, yang kita hari ini sudah lupa. Jadi, ketika ada keretakan muncul dalam misi pernikahan ini, Saudara tahu misi pernikahan ini bukan berasal darimu, ini suatu mandat, tanggung jawab, yang Saudara serta orang yang engkau nikahi perlu menjalankan bersama-sama. Ini suatu misi yang diberikan, bukan suatu keinginan pribadi; oleh karena itu, keinginan pribadi saya sekunder.
Saya harap, dari sini Saudara bisa melihat bahwa apa yang selama ini kita anggap sebagai pembatasan, itu justru berkat Tuhan, itu justru good news dari Tuhan. Kalau segala sesuatu adalah bentukan dirimu, termasuk keagamaanmu —seperti Mikha, suku Dan, dan orang Lewi ini— maka ujungnya akan luntur. Ujungnya tidak akan memberkatimu, tidak akan memberi kekuatan bagimu, karena untuk engkau bisa bertahan dalam semua ini, engkau perlu sesuatu yang dari luar, sesuatu yang lebih kuat daripadamu, sesuatu yang bukan cuma benar di matamu saja. Inilah berkat Tuhan dalam Gereja yang kita tidak pernah syukuri.
Waktu Saudara masuk ke dalam Gereja, apa yang Saudara temukan? Saudara bentur. Tapi kalau Saudara bentur di Gereja, puji Tuhan, karena itu berarti waktu Saudara bentur dengan orang lain yang juga punya Roh Kudus, Saudara sedang ditantang bahwa yang engkau lihat benar itu adalah benar di matamu tok atau di mata semua orang yang punya Roh Kudus. Itu sebabnya di dalam Gereja, di mana Saudara senantiasa menghadapi tembok-tembok, dipanggil melayani di tempat-tempat yang Saudara tidak suka, dipanggil melayani dengan keahlian-keahlian yang Saudara harus belajar dari nol, ditempatkan bersama orang-orang yang menyebalkan, ditempatkan dalam waktu-waktu yang tidak cocok dengan waktumu, bisakah Saudara mulai melihat itu sebagai good news, karena itu bukan hasil bentukanmu? Dengan demikian, waktu Saudara melayani seperti itu, Saudara tahu satu hal, ‘saya bukan melayani karena ini benar dalam pandangan mata saya, tapi ini riil’. Ini sebabnya taraf kerohanian seseorang tidak ditentukan dengan seberapa banyak dia saat teduh pribadi; saat teduh dan doa pribadi, silakan Saudara jalankan, tapi apakah Saudara menolak mengikatkan dirimu dalam persekutuan yang menuntut tanggung jawab di dalam gereja? Apakah Saudara hanya datang ke acara-acara yang Saudara suka? Apakah Saudara menolak ikut NRETC, BCN, NREC? Apakah Saudara menolak ketika gereja ini diminta ikut gabungan di pusat? Saudara perlu tanya lagi pada dirimu, karena semua dari kita mengejar apa yang benar; tapi benar di mata siapa?
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading