Seperti biasa, kita mulai dengan melihat keunikan dari pasal ini, yang menjadi pintu masuk untuk kita menangkap maknanya. Beberapa keunikan dari bentuknya, yaitu adanya semacam progress cerita yang membawa kita makin lama makin mengenal Nebukadnezar. Di pasal 1 Nebukadnezar praktis cuma latar belakang kisahnya. Di pasal 2 kita mulai berkenalan dengan dia, namun dia hadir sebagai tokoh pendukung. Di pasal 3 kita melihat dia sebagai tokoh utama, sedangkan di pasal 4 ini kita menemukan satu pasal yang ditulis seakan-akan dari tangan Nebukadnezar sendiri. Saudara menemukan di pasal ini kata-kata seperti ‘aku, Nebukadnezar’, ‘aku berkenan’, ‘akal budiku kembali kepadaku’, dst.
Sebelum masuk lebih lanjut, saya ingin mention secara singkat sesuatu yang mungkin mengganjal beberapa orang. Saya address ini di awal bukan karena penting tapi justru tidak penting, dan saya tidak mau hal ini men-distract kita, yaitu waktu kita melihat bagian ini seakan tulisan dari Nebukadnezar, kita mungkin mempertanyakan apakah ini benar-benar tulisannya dia, apakah bisa seorang raja asing sampai menulis satu pasal di Alkitab, atau ini cuma dongeng tok? Salah satu yang bisa menyebabkan keraguan ini adalah karena tidak ada kesaksian lain di luar Alkitab yang merekam periode kegilaan Nebukadnezar. Dalam hal ini saya merespons singkat saja.
Yang pertama, kita harus tahu bahwa kita tidak punya biografi lengkap Nebukadnezar yang membahas seluruh hidupnya secara detail namun kita tidak menemukan catatan Daniel 4 di dalamnya. Teks kuno hasil galian arkeologi yang mencatat sejarah raja-raja Babilonia, mencatat tentang Nebukadnezar hanya belasan tahun pertama pemerintahannya, sedangkan dia memerintah selama 43 tahun –jadi sangat sedikit yang dicatat– dan setelah itu langsung skip ke raja berikutnya, Nabopolassar. Jadi dalam hal ini bolongnya banyak, maka kalau Saudara tahu hanya ini yang kita punya di luar Alkitab, berarti dalam catatan ini memang tidak ditemukan peristiwa Daniel 4; dan bukan berarti peristiwa itu tidak terjadi, karena memang banyak hal yang tidak dicatat dalam sejarah raja-raja Babilonia tersebut. Ada satu dokumen lain dari gulungan-gulungan kitab di Gua Qumran (Dead Sea Scrolls) yang diberi judul “Doa Nabonidus”, yang isinya mirip dengan Daniel 4, meski banyak bedanya juga. Namun dalam hal ini konsensus para pakar mengatakan bahwa teks doa Nabonidus ini sepertinya ditulis setelah kitab Daniel, bukan sebelumnya, dengan demikian bukan merupakan sumbernya.
Bagaimana kita merespons hal ini, bahwa di luar Alkitab basically tidak ada catatan yang mendukung peristiwa Daniel 4? Dalam hal ini, Saudara perlu tahu bahwa sehubungan interaksi antara Alkitab dan arkeologi, pernah terjadi momen di mana dunia arkeologi menyangsikan/meragukan bangsa Het (yang banyak muncul di Alkitab), karena tidak ada pendukung arkeologisnya, namun belakangan dalam situs-situs galian berikutnya ditemukan bukti-bukti bahwa memang pernah ada bangsa Het sebagaimana dideskripsikan di Alkitab. Ini menunjukkan kepada kita bahaya dari terlalu cepatnya menghakimi Alkitab berdasarkan penggaris lain, seperti sains dan arkeologi, bukan karena kita anti sains dan arkeologi melainkan karena sains dan arkeologi terus berkembang. Kita tidak bisa menghakimi Alkitab berdasarkan sains dan arkeologi hari ini, karena kita tidak tahu apa yang bakal ditemukan arkeologi dalam penggalian situs yang berikutnya. Sama halnya dengan sains; dulu fisika itu fisika Newtonian, lalu bergerak ke Einsteinian, dan sekarang berlanjut ke fisika quantum. Teori-teori yang diterima hari ini, mungkin sekali akan ditinggalkan dalam dua atau tiga generasi ke depan, karena memang itulah natur dari sains. Sains selalu berkembang. Bahaya kalau kita menghakimi Alkitab berdasarkan standar yang sebenarnya masih akan terus berkembang. Itulah satu kesalahan berpikir yang kerap terjadi; dan saya harap kita tidak melakukannya.
Dalam kasus peristiwa Daniel 4, kita memang hanya punya kesaksian Alkitab sebagai satu-satunya sumber; dan ini harusnya tidak jadi masalah, karena arkeologi masih berkembang terus, suatu hari mungkin saja ada bukti pendukungnya. Tapi kalaupun tidak ada, tidak terlalu harus jadi masalah karena kita memang percaya Alkitab sebagai firman Tuhan, bukan karena Alkitab bisa dibuktikan sebagai firman Tuhan berdasarkan penggaris-penggaris yang lain. Dengan kita percaya Alkitab sebagai firman Tuhan, justru harusnya berarti Alkitab yang jadi penggarisnya.
Ada hal lain yang lebih penting yang akan jadi fokus pembahasan kita, yaitu keunikan yang kedua dari pasal 4 ini. Sementara pasal-pasal sebelumnya bermula dengan suatu ancaman dari Nebukadnezar lalu berakhir dengan puji-pujian Nebukadnezar, yang memuji Allahnya Daniel, memuji Allahnya Sadrakh-Mesakh-Abednego, pasal 4 ini unik karena tidak dimulai dengan ancaman, tapi bermula dan berakhir dengan pujian. Pasal ini in some sense memakai bentuk sebuah kesaksian. Kalau Saudara mendengar kesaksian, Saudara tidak tegang menanti kesimpulannya, Saudara tahu kesimpulannya akan memuliakan Tuhan karena memulainya pun biasanya dengan memuliakan Tuhan. Misalnya dalam kesaksian KKR Regional, mulainya dengan: “Kita bersyukur karena Tuhan mengizinkan kita … “, dan berakhirnya pun demikian. Dalam kesaksian, yang jadi tanda tanya bukanlah ‘siapa yang dimuliakan’, melainkan ‘apa yang terjadi sehingga orang memuliakan Tuhan’. Inilah yang menarik.
Ceritanya di sini adalah Nebukadnezar dalam puncak kejayaannya –dan ini suatu puncak yang paling maksimum seorang manusia bisa miliki, yang mungkin hanya belasan orang sepanjang sejarah manusia–Nebukadnezar lalu runtuh, hidupnya hancur berantakan, dia jadi seperti binatang; dan, dia bersyukurkarenanya.Dia memuji Tuhan karena Tuhan melakukan hal ini. Dia memuji di awal dan di akhir; dia membingkai peristiwa keruntuhan dirinya itu dengan doksologi. Ini keunikannya. Jadi basically Nebukadnezar sedang mengatakan kepada kita: ada kanker rohani dalam hidupku yang begitu bahaya, begitu busuk, begitu mematikan —perhaps begitu tersembunyi– sehingga Tuhan datang mengobati aku; tapi cara Tuhan mengobati aku ekstrim banget side effect-nya, dan in the end it’s still worth it. Itulah pada dasarnya kalimat pembuka dan penutup dari kisah ini.
Fokus pembahasan kita hari ini: jadi, apakah benda yang begitu kankeristis itu? Kita menemukan ini adalah mengenai pride, kesombongan. Itu sebabnya bagi saya urusan historisitas tulisan Nebukadnezar tidak terlalu penting. karena sebagaimana pasal-pasal sebelumnya, kitab Daniel ini bukan ultimately mengenai Daniel-nya, bukan ultimately mengenai Nebukadnezar-nya. Poin dari kisah-kisahnya waktu membahas tentang kerajaan-kerajaan dunia, bukanlah sekadar membahas kerajaan Babilonia historis yang pernah ada itu, melainkan sedang mengungkap –melalui Babilonia– suatu pola mengenai kerajaan-kerajaan manusia, yang tidak cuma berlaku pada satu masa tertentu doang, melainkan kita bisa lihat terus sampai pada hari ini. Demikian juga pasal 4 ini, kita bukan diajak melihat kesombongannya Nebukadnezar demi melihat Nebukadnezar tok, melainkan lewat kesombongan Nebukadnezar, kita diajak untuk mengenali pola kesombongan yang ada dalam hati manusia sampai hari ini, termasuk Saudara dan saya. Itu poin kisahnya yang penting, yang akan jadi pembahasan kita.
Di sisi lain, dari awal kita melihat kitab Daniel bicara tema mengenai Allah yang berdaulat meskipun kelihatannya tidak seperti itu. Pasal 1 bicara mengenai Allah yang berdaulat meskipun kerajaan Yehuda runtuh. Pasal 2 bicara mengenai Allah yang berdaulat meskipun kerajaan dunia sepertinya permanen. Pasal 3 bicara mengenai Allah yang berdaulat meskipun umat Allah dilempar ke perapian. Dan, pasal 4 sekarang bicara mengenai Allah yang berdaulat atas hidup Nebukadnezar secara pribadi, dan juga atas hidupku dan hidupmu. Ini yang juga akan kita bahas.
Hal pertama, mengenai kapan peristiwa ini terjadi. Di ayat 4 dan 5 dikatakan: Aku, Nebukadnezar, diam dalam rumahku dengan tenang dan berkelimpahan dalam istanaku. Lalu aku mendapat mimpi yang mengejutkan aku; khayalanku di tempat tidurku serta penglihatan-penglihatan yang kulihat menggelisahkan aku. Jadi, kapan terjadinya? Ini adalah momen ketika Nebukadnezar sedang tenang dan berkelimpahan, lalu datanglah mimpi yang menakutkan itu. Mimpinya beda dengan mimpi di pasal 2, meski ada kemiripannya, yaitu ada sesuatu yang besar dan tinggi, mewakili Nebukadnezar dengan segala kejayaannya, yang suatu hari hancur dan runtuh. Dalam pasal ini, sesuatunya adalah sebuah pohon, cosmic tree, yang sangat luas cakupannya, meliputi seluruh dunia, megah, amazing, namun kemudian datang suara dari surga yang mengatakan untuk tebang pohon itu, meskipun akarnya tidak dicabut, dan tetap mendapatkan embun dari langit. Dalam mimpi tersebut dikatakan apa tujuan hal ini, yaitu supaya orang tahu bahwa yang berdaulat di atas dunia ini bukanlah raja manusia melainkan Allah yang mengatasi semua itu.
Selanjutnya Nebukadnezar menyuruh orang-orang bijaksana dari kerajaannya berkumpul untuk menafsirkan mimpi ini, namun mereka tidak dapat. Ini satu hal yang aneh, karena sebetulnya arti mimpi ini sudah cukup jelas. Alasannya mereka tidak dapat, menjadi jelas ketika berikutnya Daniel dipanggil untuk menafsir, Daniel sadar akan artinya, dan Daniel menjadi gelisah. Di sini kita kembali melihat etika Daniel yang sudah kita lihat di pasal-pasal sebelumnya, yaitu Daniel begitu care, kepedulian, simpati yang genuine kepada Nebukadnezar, raja asing yang tidak menyembah Tuhan ini. Di satu sisi Daniel tidak mau mimpi tersebut menjadi realitas bagi Nebukadnezar; Daniel memulai penafsirannya dengan mengatakan, “Biarlah mimpi ini bagi musuh-musuh dan seteru-seterumu, ya, Raja, jangan buat kamu, deh”. Namun di sisi lain dia cukup peduli untuk menyampaikan artinya bagi Nebukadnezar; dia mengatakan, “Engkaulah pohon itu, engkau akan direndahkan”. Daniel demikian berani. Ini menarik, karena kita jadi sadar bahwa sebabnya orang-orang bijaksana seluruh Babilonia “tidak dapat” menafsirkan mimpi itu, kayaknya bukanlah karena mereka tidak mampu (kita sudah lihat artinya sangat jelas), tapi siapa sih yang berani mengatakan kepada raja arti mimpi yang senegatif itu. Jadi sepertinya mereka bukan tidak mampu, melainkan cari aman, karena mereka sesungguhnya tidak care pada Nebukadnezar, sedangkan Daniel berani. Perhatikan, Daniel tidak serta-merta memberikan tafsirannya dengan nada menghakimi atau mengutuk, melainkan dengan suatu sikap yang punya genuine care. Saya mengatakan ini dari awal untuk kita menemukan di sini satu contoh lanjutan dari khotbah minggu lalu, bagaimana orang Kristen dipanggil untuk hidup sebagai kaum buangan di tengah-tengah suatu bangsa dan pemerintah yang tidak mengenal Tuhan, bukan simply dengan sikap toleransi melainkan sesuatu yang melampaui itu, yaitu dengan kasih. Daniel menegur atas dasar kasih, karena menegur hal kayak begini, mendatangkan resiko yang tidak kecil atas dirinya. Inilah yang orang-orang bijaksana lain dalam kerajaan tersebut tidak rela lakukan.
Saudara, dalam Hari Kemerdekaan RI ke-80 hari ini, kita tidak ada acara khusus di gereja, tapi seri khotbah Daniel ini sangat baik secara keseluruhan untuk membentuk kita jadi warganegara Indonesia yang baik, justru karena kita warganegara Kerajaan Surga. Saudara harus ingat hal ini. Menjadi warganegara Kerajaan Surga, tidak pernah berarti Saudara menjadi warganegara yang jelek. Ini apologetika dari berbagai orang dalam sejarah. Waktu mereka mengatakan ‘berikan kami kebebasan untuk menyembah Yesus Kristus’, alasannya adalah ‘karena dengan kami menyembah Yesus Kreistus sebagai Raja kami, kami justru akan jadi warganegara kalian yang lebih baik’. “Kami akan bisa melayani Romawi dengan lebih baik ketika kami dibiarkan untuk menyembah Yesus Kristus sebagai Kurios”, itulah apologetikanya orang Kristen, apologetika yang sangat lain.
Demikianlah Daniel menafsirkan mimpi itu bagi Nebukadnezar: “Engkaulah pohon itu; Allah akan datang merendahkanmu, jadi bertobatlah, berubahlah, berlaku adilah, berbelaskasihanlah kepada mereka yang tertindas, rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan mungkin semua ini tidak perlu terjadi”. Teksnya kemudian memberitahu kita ada rentang waktu 12 bulan. Kita tidak tahu kenapa ada delay ini. Mungkin karena Nebukadnezar sempat takut maka ia menahan diri dari kejahatan; atau bisa juga dia tetap tidak berubah, dan Tuhan simply menunggu waktu yang tepat untuk menjatuhkan penghakiman. Demikian kira-kira ceritanya sejauh ini. Sebelum kita lanjutkan, apa yang kita lihat di sini mengenai pride (kesombongan)?
Satu hal menarik, kenapa pasal ini menggunakan Nebukadnezar bukan lagi hanya sebagai tokoh utama, tapi sebagai tokoh sudut pandang? Kenapa kita ditarik untuk membaca kitab ini dengan menempatkan diri kita dalam sepatunya Nebukadnezar, sebagai ‘aku, Nebukadnezar’, sedangkan Nebukadnezar ‘kan jaraknya jauh banget dari kita? Saudara perhatikan, kapan Nebukadnezar menderita mimpi yang mengganggu ini? Yaitu ketika dia sedang sukses besar, dia sedang dalam puncak kekuasaannya, dia hidup secara berkelimpahan dan tenang (tenang di sini bisa diartikan content) –dan siapa sih dari kita yang kayak begitu?? Kita begitu jauh dari itu; bukan saja kita tidak sesukses itu, kita juga mungkin tidak berkelimpahan, dan kita tidak merasa tenang dalam hidup kita, dan kita actually bukan raja. Tapi kenapa kita diajak untuk melihat diri kita dalam Nebukadnezar?? Saudara, justru itulah amazing-nya. Tujuannya pakai contoh Nebukadnezar, raja yang sukses besar seperti ini (atau dalam kitab Ester pakai contoh raja Ahasyweros), bukanlah untuk membuat jarak antara kita dengan mereka, melainkan justru untuk mengungkap satu hal yang kita tidak lihat, yaitu bahwa orang-orang yang hidup sukses besar, berkelimpahan, dan tenang seperti ini, bahkan tidak bisa tidur, tidurnya terganggu; dan itu berarti hidup mereka ada sesuatu yang never enough, ada sesuatu yang tetap hilang, kurang.
Nebukadnezar merupakan satu dari belasan orang doang yang bisa merasakan puncak dari segala kelimpahan; dan apa yang sedang diperlihatkan kepada kita di sini? Apakah mereka bisa even tidur tenang? Tidak bisa. Ini bukan cuma Nebukadnezar, ini basically nebukadnezar-nebukadnezar dalam dunia ini. Saudara coba baca biografi orang-orang sukses yang diusung dunia. Saudara mungkin pikir isinya success stories, tapi tidak tentu. Saudara biasanya menemukan dalam biografi-biografi tersebut, justru penulisnya mengungkap hal-hal yang tidak terduga. Misalnya tentang Steve Jobs, penulis biografinya sendiri mengatakan bahwa Steve Jobs agak psikotik. Salah satu yang kita lihat dalam hidup Steve Jobs adalah produknya (iPhone, iPad) begitu minimalis, sederhana tapi keren, dan rumahnya pun begitu rapi, minimalis, tidak ada berantakannya. Namun penulis biografinya mengungkap satu hal menarik, bahwa sebabnya rumah Steve Jobs begitu rapi dan tidak ada clutter-nya, adalah karena tidak ada orang di rumah itu, karena Steve Jobs begitu terasing dari segala sesuatu, termasuk istrinya dan anaknya. No clutter in his house, because no body in his life.
Saudara, inilah orang-orang super sukses, nebukadnezar-nebukadnezar dalam dunia ini; dan kenapa mereka dihadirkan untuk jadi pelajaran bagi kita, adalah karena mereka telah belajar hal yang kita semua masih menyangkal. Kita masih menyangkal bahwa hati/jiwa manusia menginginkan sesuatu yang sangat besar sehingga kita bisa menuangkan ke dalamnya segala sesuatu –kuasa, harta– and yet tetap tidak pernah bisa puas, tetap ada sesuatu yang hilang. Orang-orang seperti mereka itu sudah mengerti hal ini karena mereka sudah sampai ke puncak, sudah tidak bisa naik lagi, sedangkan kita belum, maka kita masih menipu diri, kita masih pikir ‘O, ini karena saya belum sampai atas’, ‘O, ini karena saya belum dapat itu’, ‘Kalau saja saya punya ini, kalau saja saya punya itu, maka …’. Saudara lihat, sebabnya Nebukadnezar dihadirkan sebagai tokoh sudut pandang karena inilah orang yang sudah sampai di atas, dan mereka tidak bisa tidur, mereka sudah tahu apa yang kita masih sangkal, bahwa hati kita mendambakan sesuatu yang seluruh dunia pun tidak sanggup berikan. Itu hal yang pertama.
Hal yang kedua, Saudara mulai menangkap sekarang kenapa Nebukadnezar bisa membingkai semua kejadian ini dengan ucapan syukur, kenapa dia bisa memuji Tuhan atas keruntuhan yang dia terima? Bagian good news-nya adalah bahwa ketika Tuhan memberikan mimpi-mimpi yang mengejutkan dan menggelisahkan kepadamu, mengirimkan daniel-daniel untuk menegurmu, itu adalah bentuk belas kasihan dari Tuhan. Lewat hal ini, Tuhan sedang mau memberitahumu bahwa engkau sebenarnya tidak pegang kendali, membangunkanmu dari kelimpahan palsu dan ketenangan palsu itu. Maybe seorang daniel membawamu ke gereja hari ini; dan harapan saya, Saudara bisa mengenali hal ini sebagai belas kasihan Tuhan kepadamu, dan bukan sebagai orang-orang menyebalkan yang annoying dan tidak pernah bisa diam itu.
Nebukadnezar tentu saja tidak menyadari hal ini, maka setelah dua belas bulan, selagi dia berjalan-jalan di teras istananya (ada bau-bau kejatuhan Daud di bagian ini), dia memandang ke seluruh kerajaannya lalu mengatakan di ayat 30: “Bukankah itu Babel yang besar itu, yang dengan kekuatan kuasaku dan untuk kemuliaan kebesaranku telah kubangun menjadi kota kerajaan?” Di sini kita masuk ke poin berikutnya; bagian ini membukakan kepada kita jantung hati atau esensi dari pride. Dalam poin ini saya sangat berutang kepada C.S. Lewis dan Tim Keller, bahwa pride itu pada dasarnya ada dua komponen utama yang tidak boleh dipisahkan (dan kita biasanya hanya tahu satu komponen).
Yang pertama, komponen yang kita familier; dalam hal ini Nebukadnezar mengatakan ‘bukankah aku yang membuat semua ini’. Ini komponen utama dari pride, ‘aku berjasa’, ‘ini semua jasaku’. Ketika seseorang melihat ke dalam hidupnya, khususnya hal-hal yang baik, dan mengatakan, “Ini semua hasil jerih payahku”, ini basically kesombongan, pride. Ini satu hal yang kita semua sudah mengerti dan tahu; atau bisa jadi belum juga, maka kita mengatakan, “Pak Jethro, ‘kan memang benar itu hasil karyanya dia toh, ‘kan bukan sombong kalau memang benar??”
Nebukadnezar memang pemimpin militer. Dia bisa menaklukkan semua itu bukan sekadar karena dia jenius dalam strategi, dia sesungguhnya turun tangan sendiri dalam peperangan. Ini zamannya raja-raja memimpin dari depan, bukan seperti jendral-jendral modern yang cuma duduk di control room somewhere di depan layar lalu tinggal pencet tombol; Nebukadnezar ikut masuk di kereta kuda dan ikut berperang. Nebukadnezar juga seorang pemimpin politik yang hebat. Policy asimilasi di negara Babilonia berbeda dari negara Asyur yang asimilasinya main paksa, dijadikan budak, pakai kekerasan, kawin campur paksa, dst., sedangkan Babilonia beda, Saudara tahu dari pasal 1 orang-orang itu dibawa dan dimenangkan lewat budaya Babilonia, dimenangkan lewat ekonomi Babilonia. Nebukadnezar juga raja yang terkenal sebagai builder, dia raja yang membangun infrastruktur, dia bukan raja yang kerjanya cuma menimbun harta, maka waktu dia mengatakan, “Aku membangun semua ini”, itu sesungguhnya menang benar. Jadi bukan sombong dong kalau memang benar?? Ya, tidak sombong kalau memang benar; tapi problemnya, di mata Alkitab itu tidak benar. Waktu kita mengatakan diri kita berjasa di hadapan Tuhan, ini simply sebuah plagiarisme –plagiarisme dalam skala kosmis.
Tapi ‘kan benar yang mengerjakan semua itu Nebukadnezar?? Dalam hal ini saya akan pakai contoh pendidikan. Waktu Saudara sekolah, Saudara yang berusaha, yang harus belajar, mencatat, berpikir, ujian, dsb., namun istilah yang digunakan adalah ‘Saudara di-didik’, bukan ‘Saudara men-didik’. Kenapa? Karena ini anugerah, kita tidak ada jasanya waktu sekolah, kita tidak barjasa dalam pendidikan yang kita terima, itu adalah pendidikan yang kita terima, jasanya ada pada guru-guru kita, pada orangtua kita, pada negara yang cukup stabil supaya kita bisa dididik, dst. Ingat, “Injil meniadakan jasa, dan bukan meniadakan usaha”; omong-omong, ini kalimatnya Pendeta Agus Marjanto, dan apa yang terjadi kalau saya mengatakan ini kalimatnya saya?? Lalu bagaimana kalau saya berdalih, “Tapi saya yang usaha, keluar nafas mengatakan kalimat ini kepadamu; dan kamu tidak akan tahu kalimat ini kalau bukan saya yang ngomong” ? Tetap tidak bisa. Saudara marah kalau saya melakukan plagiarisme seperti itu karena menurut Saudara, saya sedang merampok kepemilikan dari sang sumber; sang sumber itulah yang memiliki karya tersebut.
Hari ini kita mengatakan, “Aku berusaha koq, dalam hidupku. Hidupku bisa sampai sekarang ini karena hasil usahaku!” Ya, benar, saya tidak menyangkal itu. Tapi ini jasa siapa? Seberapa dari yang engkau miliki hari ini, benar-benar karyamu sendiri?? Kita familier dengan istilah privilege. Saudara tidak memilih gender-mu, sukumu, abad engkau dilahirkan, tapi hal itu lumayan berdampak ‘kan. Kalau Saudara dilahirkannya misalnya pada abad 9 di Inggris, ketika tentara Viking menyerbu Inggris, mengambil orang-orang Inggris jadi budak mereka, kira-kira apa gunanya semua usaha tanganmu dan kerja kerasmu?? Dan, hasil kerjamu itu sendiri, dari mana kalau bukan dari pikiranmu, dari tubuhmu, dari jiwamu, dari kemampuanmu, dari talentamu, dari koneksi-koneksimu, yang diberikan oleh siapa kalau bukan Tuhan, dan Tuhan saja?? Itu sebabnya Paulus mengatakan di 1 Korintus 4: “Jangan ada di antara kamu yang menyombongkan diri … Sebab siapakah yang menganggap engkau begitu penting? Dan apakah yang engkau punyai, yang tidak engkau terima? Dan jika engkau memang menerimanya, mengapakah engkau memegahkan diri, seolah-olah engkau tidak menerimanya?”
Demikianlah komponen yang pertama dalam pride, kita mengira kita berusaha maka kita berjasa; dan ini sesuatu yang kita perlu dibongkar. Namun ada komponen yang kedua, yang lebih penting, dan saya rasa sering kali kita tidak tahu, yaitu bukan cuma kita pikir kita berjasa, tapi juga kita pikir kita berjasa maka kita rasa berhak. Ini lebih krusial; dan mungkin ini juga yang kita bisa identifikasi dalam hati kita masing-masing, karena banyak dari kita tidak mengatakan ‘saya berjasa’, tapi banyak dari kita sedang mengatakan ‘saya berhak’. Maksudnya apa?
Pride mengira bahwa kita berhak mendapatkan lebih dari yang kita punya hari ini. Pride merasa kita dihutangi oleh kehidupan. Ada satu buku best seller berjudul “Why Bad Things Happen to Good People?” Dari judulnya saja Saudara sudah tahu kenapa buku ini begitu laku, kenapa banyak orang ingin membaca buku ini. Karena kita senantiasa merasa seperti itu ‘kan. Karena kita merasa hidup ini memberi kepadaku kurang dari yang patut kudapatkan. Ada sense terhutangi, harusnya hidupku lebih baik dari yang sekarang ini. Apa contoh yang bagus dalam hal ini? Mungkin perbaikan jalan di depan gereja kita. Kita datang ke gereja dan merasa harusnya ‘gak kayak begini, harusnya saya bisa parkir dengan enak. Tidak demikian, Saudara, jalan tersebut actually sebuah anugerah, sebuah pemberian.
Contoh yang lain, jemaat curcol ada pengkhotbah yang berkhotbah kelamaan. Omong-omong, bukan berarti dari sisi pengkhotbah tidak ada yang harus berubah, karena pengkhotbahnya sendiri merasa koq waktu itu memang kepanjangan, jadi bukan itu poin penekanannya; yang saya ingin note di sini, waktu kita merasa suatu khotbah kepanjangan, bukankah berarti ada something dalam hati kita yang merasa berhak dapat khotbah yang lebih –lebih baik, lebih jelas, lebih seru, lebih tepat waktu menurut waktumu. Disclaimer lagi, bukan berarti saya bisa mengendalikan diri lebih baik daripada engkau; actually saya ini belajar khotbah, jadi mungkin kalau saya mendengar khotbah yang Saudara dengar, saya bisa jadi lebih ‘gak sabaran (sama juga bahwa saya ini belajar musik, jadi ada musik-musik tertentu yang mungkin Saudara bisa puas, tapi kalau saya dengar, saya akan mengatakan sampah –karena saya belajar musik). Dalam hal ini saya pun ada perasaan seperti itu, perasaan terhutangi bahwa harusnya saya berhak dapat lebih. Kenapa?? Coba kita buktikan apa hak kita untuk mendapatkan hal ini, ada dasar apa kita harusnya mendapatkan yang lebih baik daripada yang kita terima hari ini?? Tapi itulah perasaan kita; dan ini berlaku dalam hidup kita, baik dalam momen-momen kita di atas, maupun momen-momen kita di bawah.
Waktu kita dalam momen-momen di atas, kita mengatakan, “Ya, oke dong saya mendapatkan lebih daripada orang lain, karena saya memang kerja keras, ada something yang saya lakukan lebih daripada orang lain. Kamu sih tidak melakukan keputusan yang baik, sedangkan saya melakukan keputusan yang baik, maka saya mendapatkan hal ini”. Jadi waktu kita di atas, kita mengatakan ‘saya merasa terhutangi, itu fair-fair saja’; lalu waktu kita di bawah, hidup kita lagi susah, rencana-rencana yang kita buat banyak yang tidak berhasil, kita mudah sekali mengatakan ‘tidak adil’. “Hidup tidak adil! Kenapa dia bisa begitu dan saya tidak, kenapa dia suaminya begitu baik, kenapa dia istrinya begitu cantik; kenapa saya seperti ini??” Kenapa Saudara, engkau deserve better? Kenapa engkau merasa terhutangi oleh hidup ini? Apa dasarnya?? Dasarnya cuma satu: pride.
Kalau kita melihat pride cuma urusan merasa berjasa, banyak dari kita mungkin tidak bisa mengidentifikasi diri di situ. Tapi pride tidak cuma merasa berjasa, pride juga merasa berhak, merasa terhutangi oleh kehidupan. Dan, kalau kita jujur, kita bisa melihat hal ini dalam hidup kita semua. Itu sebabnya di sini kita bukan cuma belajar mengenai pride, kita juga belajar mengenai humility. Apa itu kerendahan hati? Pride mengklaim diri sebagai sumber dari sesuatu yang hanyalah pemberian; kerendahan hati berarti sebaliknya, melihat dan menerima segala sesuatu sebagai pemberian.
Tadi kita mengatakan: pride mengklaim diri sebagai sumber dari apa yang hanya pemberian; humility melihat segala sesuatu memang cuma pemberian. Kalau begini, bukannya humility artinya jadi orang yang low self-esteem, yang mengatakan segala sesuatu cuma pemberian, aku ‘gak patut mendapat semua ini, siapakah aku ini, orang yang gagal, bodoh, ‘gak ada artinya…, dst.? Tidak, Saudara, yang seperti itu adalah false humility; dan itu berbeda dari humility. Humility berarti sadar tidak patut, tapi menerima –menerima segala sesuatu sebagai anugerah; sedangkan false humility artinya sadar tidak patut, maka tidak sudi juga untuk menerima. ‘Saya ini siapa, saya ‘gak patut mendapatkan ini, saya orang busuk, jelek, saya ‘gak mau teman, saya ‘gak mau kesukacitaan, saya ‘gak mau semua itu –karena saya ‘gak sudi menerima semua itu’ –dan ini berarti hanya mau menerima ketika merasa diri berhak. Ini sama saja dengan mengatakan, “Harusnya aku bisa berjasa, harusnya aku bisa membeli semua ini, harusnya aku bisa lebih dari sekarang”, dan ini berarti merasa terhutangi juga ujungnya. Jadi false humility hanyalah cerminan dari pride. Humility (kerendahan hati) yang riil mengatakan: segala sesuatu tidak patut aku terima, karena kalau aku diberikan yang patut, hancurlah aku; tetapi aku mendapatkan yang lebih.
Ini sebabnya kerendahan hati sangat erat hubungannya dengan sukacita (joy), karena Saudara hanya bisa merasakan joy ketika Saudara terkejut, surprised, berhubung mendapatkan sesuatu yang lebih banyak daripada yang Saudara pikir patut dapatkan. Pemberian menghasilkan joy seperti ini; sementara orang yang prideful, baik dalam sisi pride maupun sisi yang false humility, hidupnya tidak ada joy.
Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya: konsekuensi dari pride. Dalam bagian ini, konsekuensi dari pride adalah Nebukadnezar dihukum jadi binatang. Persisnya penyakit jiwa apa yang dia derita, kita tidak terlalu tertarik; yang menarik adalah simbolismenya. Seorang teolog bernama Fewell mengatakan seperti ini: “Seseorang yang menaruh dirinya di tempat Allah (sombong), harus dijadikan binatang, untuk mengerti bahwa dia hanya manusia”. Ini menarik. Saudara jadi melihat bahwa waktu Allah menjadikan Nebukadnezar binatang, Dia bukan simply sedang melampiaskan kekesalan-Nya. Ini adalah termasuk the good news, bagian yang Nebukadnezar memuji dan mengucap syukur. Ini bukan Allah sedang mengatakan, “Eh, lu berani-beraninya ambil porsi-Ku, plagiarisme, Gue tuntut lu”, dst.; bukan seperti itu.
Yang namanya hukuman (disiplin), selalu berhubungan dan mencerminkan konsekuensi natural dari kesalahannya; berbeda dari denda. Misalnya Saudara menghukum anakmu karena berbohong, Saudara mengatakan: “Seminggu ke depan kamu disetrap di rumah, tidak boleh keluar, tidak boleh main sama teman-temanmu. Kenapa? Karena kalau kamu jadi seorang pembohong, cepat atau lambat kamu akan dipenjara. Kalau kamu jadi seorang pembohong, cepat atau lambat kamu akan kehilangan teman-temanmu. Kalau kamu jadi seorang pembohong, cepat atau lambat orang tidak akan percaya omonganmu. Jadi sebabnya Papa suruh kamu di rumah, karena kamu sedang dipenjara di rumah, kamu tidak boleh main dengan teman-temanmu, kami tidak bisa percaya omonganmu”. Ada hubungannya antara disiplin dengan konsekuensi yang riil waktu menghukum anak, tujuan hukumannya bukan untuk melampiaskan kekesalan melainkan untuk memberitahu kepada anak ini, apa yang salah dan bagaimana caranya untuk berubah. Saudara lihat, lewat hukuman seperti ini, simbolisme tadi mengatakan kepada kita bukan cuma tentang apa itu pride, tapi juga bahwa pride menjadikanmu binatang –dan itu sebabnya hukumannya adalah menjadi binatang.
Ada dua hal di sini. Yang pertama, Saudara menjadi binatang berarti Saudara tidak mampu untuk merasakan perasan orang lain, bersimpati, berempati. Dulu ada film berjudul “Deus ex Machina”, bercerita mengenai seorang ilmuwan sinting yang berusaha menciptakan robot yang sedemikian rupa sampai tidak bisa dibedakan dengan manusia beneran. Robot tersebut dari sisi luar sudah sama seperti manusia, tapi dia merasa masih ada something yang perlu untuk membuktikan robot ini benar-benar tidak bisa dibedakan dengan manusia. Pada akhirnya, yang terjadi adalah robot ini berhasil memperdaya/memperalat manusia lain, membuat manusia lain berpikir si robot benar-benar punya perasaan seperti manusia; dan setelah manusia itu diperdaya, sudah ditangkap, dsb., si robot keluar meninggalkan manusia itu dan pergi ke masyarakat luas. Itu kira-kira ending filmnya. Ini menarik, karena sepertinya message dari filmnya adalah: si ilmuwan sinting terus-menerus mempertanyakan dan mencari ‘apa yang menjadikan manusia jadi manusia, apa substansi dan esensi manusia’, dan dia ingin robotnya punya hal itu. Dan akhirnya yang jadi jawaban dalam film itu, yang menjadikan manusia jadi manusia, yang menjadikan robotnya jadi manusia dan tidak bisa dibedakan dari manusia, adalah ketika robot itu memperalat dan memperdaya manusia. Itulah esensi jadi manusia dalm film tersebut, such a negative view of human being. Itulah bagaimana dunia melihat manusia, bahwa manusia jadi manusia ketika bisa memperdaya dan memperalat orang lain, ‘kepalamu demi diriku, badanmu demi diriku, lutumu demi diriku’, itulah manusia. Ini sama sekali bukan jawaban Alkitab.
Apa jawaban Alkitab mengenai ‘apakah manusia’? Apa yang menjadikan manusia itu manusiawi? Ketika apa manusia paling manusiawi? Waktu nonton film tadi, saya terpikir harusnya ending filmnya yang membuat kita benar-benar menyadari inilah manusia, adalah si robot mengorbankan dirinya bagi manusia. Kalau itu terjadi, benar-benar manusiawi sekali robot ini –dan itu pada dasarnya jawaban Alkitab. Kita ini paling manusiawi adalah ketika kita bisa merasakan perasaan orang lain, menempatkan orang lain lebih utama daripada diri kita –pengorbanan. Itulah yang namanya menjadi manusia.
Pride tidak bisa melakukan hal ini, karena waktu Saudara bersimpati/berempati kepada orang lain, itu berarti Saudara mengatakan ‘aku mau cari orang yang bersukacita dan ikut bersukacita dengannya; aku mau cari orang yang menangis dan ikut menangis dengannya’. Itu pengorbanan diri dalam level standar. Sedangkan kalau Saudara orang yang sombong, ketika masuk di suatu tempat, Saudara tidak akan bertanya ‘yang mana yang aku bisa ikut bersukacita dengan-nya, yang mana yang aku bisa ikut menangis dengan-nya’, melainkan ‘mana orang yang bisa bersimpati dengan-ku, mana orang yang bisa merasakan perasaan-ku, mana orang yang mau bersukacita dengan sukacita-ku, mana orang yang mau menangis bersama-ku’. Ini karena pride adalah merasa berhak, merasa terhutangi, ‘aku patut dapat yang lebih’. Itu sebabnya jadi orang yang prideful adalah jadi binatang, karena binatang tidak bisa berempati, tidak bisa bersimpati. Saudara yang pencinta binatang, waktu pulang rumah dengan penat lalu anjing atau kucingmu datang mendekat dan menggosok-gosokkan kepalamu di dadamu, Saudara merasa dia mengerti perasaanmu, tapi belakangan Saudara baru sadar belum beri dia makan, dia lagi minta makan. Demikian hal yang pertama.
Yang kedua, pride membuat bukan saja tidak bisa bersimpati dengan orang lain, pride membuat Saudara tidak bisa bersukacita. Binatang tidak bisa bersukacita.
Kemarin waktu bersepeda bersama anak saya, saya melihat di seberang jalan ada sesuatu yang kayak lompat-lompat di tempat, dan ternyata itu kucing yang seperti kejang/epilepsi, menghentak-hentakkan badannya di aspal karena rupanya dia habis terlindas mobil di bagian kepalanya; yang horor, dalam keadaan seperti itu dia cuma bisa menghentak-hentakkan badannya. Itulah binatang. Binatang bisa bahagia, tapi binatang tidak bisa bersukacita. Saudara tentu tahu bedanya bahagia dan sukacita. Bahagia tergantung situasi; situasi sedang di atas maka kita berbahagia, situasi sedang di bawah maka kita tidak bisa berbahagia. Sukacita berbeda, tidak tergantung situasi. Dalam keadaan di atas, kita bisa bersukacita, tapi kita juga bisa bersukacita dalam penderitaan, dalam tragedi, bahkan dalam kedukaan. Itulah sukacita manusia; binatang tidak bisa melakukan ini. Saudara tidak mungkin melihat ada kucing kepalanya bolong lalu duduk dengan diam dan bersukacita dalam penderitaannya.
Pride akan menyedot sukacita habis dari hidupmu. Kenapa demikian? Karena waktu mendapatkan hal yang baik, Saudara bukan mengatakan, “Wow! Saya bisa dapat seperti ini, ‘gak terduga!!” Saudara akan mengatakan, “Akhirnya …! Kenapa tidak dari dulu seperti ini, harusnya sudah sejak lima tahun lalu!” Itulah pride, karena Saudara merasa patut mendapatkan lebih daripada yang engkau terima. Tidak ada joy di situ. Sedangkan dalam momen yang di bawah, Saudara akan mengatakan, “Ini tidak adil”. Saudara tidak mungkin bersukacita. Jadi tidak heran Nebukadnezar menjadi binatang.
Terakhir, apa jalan keluarnya? Jalan keluarnya simpel, bukan dari Nebukadnezar sendiri, bukan dari diri kita sendiri; kalau ada kesembuhan dari pride, ini kesembuhan yang harus datang dari luar, dari Allah. Kenapa tidak bisa dari diri sendiri? Karena problem pride adalah self-centeredness, self-absorption; dan Saudara tidak bisa keluar dari itu dengan berfokus pada self. Saudara tidak bisa mengatakan kepada dirimu yang sombong yang mengatakan ‘saya ingin lebih’, dengan mengatakan pada dirimu ‘saya tidak boleh merasa lebih’, semuanya ‘saya’. Tidak bisa demikian, itu impossible.
Saya pernah mengalami ini waktu belajar khotbah. Pertama kali saya khotbah rutin adalah waktu pelayanan Remaja di GRII Pusat di bawah bimbingan Pendeta Ivan Kristiono. Waktu pertama kali saya khotbah, dengan Pendeta Ivan duduk di sana, Saudara tentu bisa bayangkan dalam kondisi seperti itu kita tidak lagi memikirkan audiens, boro-boro memikirkan Tuhan, kita mikirin diri sendiri. Kita menyiapkan bahan mati-matian, berlatih, berusaha supaya tidak sesat, dan segala macam, tapi bukan buat orang lain melainkan buat diri. Lalu selagi berkhotbah, sesekali saya melihat ke Pak Ivan. Pak Ivan kelihatan duduk memperhatikan, berarti aman. Beberapa kali seperti itu. Tapi di tengah-tengah khotbah, ketika saya sudah mulai confident, dan saya kembali melihat ke Pak Ivan, saya lihat dia mulai geleng-geleng kepala. Saya langsung merasa ‘mati gua, kalimat sesat apa yang keluar’, dan buyarlah semua yang sudah saya siapkan. Setelah selesai, Pendeta Ivan mengatakan kepada saya, “Lu kenapa tadi, Thro? Di awal khotbahnya sudah bagus, ada poinnya, jelas, tapi di tengah-tengah kamu hancur”. Saya lalu jawab, “Ya, karena Pak Ivan; tadi saya lihat Pak Ivan geleng-geleng kepala. Apa yang saya katakan salah, Pak? Saya ingin tahu juga kalau ada yang sesat”. Pak Ivan menyangkal bahwa dia geleng-geleng kepala, namun akhirnya dia baru sadar, dan dia mengatakan, “Ya, ampun, saya ‘kan lehernya ‘gak enak, jadi saya suka geleng-geleng kayak begini.. “.
Sekarang coba bayangkan Saudara mahasiswa Teologi yang sedang latihan khotbah lalu diberitahu begini: “Harusnya tidak perlu begitu, kamu sudah menyiapkan bahan, ya sudah, jalankan saja. Kenapa sebegitu terganggunya dengan pendapat orang lain? Kenapa harus sebegitu pedulinya kalau kamu dianggap positif atau negatif atau apapun? Lain kali tidak usah begitu”. Jika demikian, next time waktu mau khotbah, Saudara akan mengatakan pada dirimu ‘saya tidak perlu seperti itu, saya tidak perlu seperti itu, saya tidak perlu memikirkan diri sendiri, saya …’; dan bagaimana caranya?? Tidak bisa ‘kan. Semakin Saudara memikirkan itu, semakin Saudara memikirkan diri sendiri. Jadi kalau problemnya self-absorption –dan kita sering kali sebal dengan ini, bisa malam-malam terbangun dan ingat kejadian bodoh yang kita lakukan dan kita tidak bisa melepaskan diri dari itu– bagaimana caranya kita bisa diubah? Tidak ada caranya dari dirimu. Hal ini tidak bisa selesai dengan kekuatan kehendak manusia.Inilah sebabnya Nebukadnezar mengucap syukur kepada Tuhan; Saudara harus membiarkan Tuhan meruntuhkanmu.
Sekarang Saudara sadar kenapa Nebukadnezar bisa mengucap syukur? Karena hal yang Saudara dan saya lihat sebagai side effect yang ekstrim dari pengobatan Tuhan itu, sesungguhnya adalah obatnya. Kalau ada orang yang khotbah kepanjangan di mimbar ini, bisakah Saudara melihat itu sebagai daniel yang diutus dari Tuhan, sebagai mimpi yang menggelisahkan, untuk membuat Saudara menyadari dirimu tidak pegang kendali dalam hidup ini. Bisakah Saudara melihat ini? Itu obatnya.
Itu sebabnya belakangan Nebukadnezar mengatakan dua hal. Ayat 35 dia mengatakan: “Semua penduduk bumi dianggap remeh; Ia berbuat menurut kehendak-Nya terhadap bala tentara langit dan penduduk bumi; dan tidak ada seorang pun yang dapat menolak tangan-Nya dengan berkata kepada-Nya: “Apa yang Kaubuat?” Itulah obatnya; obatnya adalah dengan kita diruntuhkan. Jadi ketika hal-hal seperti ini terjadi, itulah obatnya.
Namun tentu saja obatnya bukan cuma itu, karena kalau cuma itu maka kita akan terpuruk, mengingat kerapuhan hidup kita, dan hanya akan menjadi orang yang nihilistik, membuat kita jadi orang yang mungkin jadi tambah keras dan bukan tambah lembut. Itu sebabnya ada hal yang kedua, yaitu di ayat 36 Nebukadnezar mengatakan: “Pada waktu akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku. Para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku dikembalikan kepada kerajaanku, bahkan kemuliaan yang lebih besar dari dahulu diberikan kepadaku.” Saudara lihat ada yang berubah di sini. Yang berubah adalah Nebukadnezar mulai mengenali bahwa hal-hal yang tadinya dia pikir adalah haknya, sekarang dia tahu itu pemberian. Dia mengatakan ‘akal budiku kembali kepadaku, kembalilah juga kepadaku kebesaran dan kemuliaanku untuk kemasyhuran kerajaanku; para menteriku dan para pembesarku menjemput aku lagi; aku di-kembalikan kepada kerajaanku, kemuliaan yang lebih besar dari dahulu di-berikan kepadaku’.
Saudara, kenapa obatnya tidak cuma menunjukkan kepada kita kerapuhan kita? Karena Allah bukan cuma menebang pohon besar ini, Allah tidak mencabut akarnya. Dalam deskripsi mimpinya, dikatakan tunggul pohon tersebut lalu diikat oleh rantai besi, ini maksudnya bukan seperti dipenjara, melainkan dilindungi, dipagari; dan Tuhan memberikan kepada pohon ini embun dari surga. Kenapa Tuhan bisa melakukan ini kepada kita? Apa efeknya ketika hal ini terjadi dalam hidup kita? Nebukadnezar tidak tahu. Namun impossible untuk melihat kisah Nebukadnezar ini dan gagal melihat bayang-bayang mengenai Yesus Kristus, karena Nebukadnezar adalah manusia yang memuliakan dirinya seakan-akan dia Allah, sedangkan Filipi 2 mengatakan: “Yesus Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia.” Saudara tahu apa yang terjadi di sini? Kenapa kita bisa disembuhkan, kenapa Tuhan memberikan kesembuhan kepada kita? Bukan cuma karena kita diruntuhkan, diberikan mimpi-mimpi, dan daniel-daniel yang memberitahu kita bahwa hidup ini tidak dalam kendali kita, tapi juga karena di dalam kesombongan kita mau menjadi lebih daripada manusia, kita bertindak seakan-akan kita Tuhan, namun Tuhan yang sejati malah menjadi manusia demi Saudara dan saya. Itulah Injil yang menyembuhkan, dan tidak cuma meruntuhkan.
Waktu melihat dunia ini, Saudara sekarang punya dua pilihan. Kalau Saudara mengambil jalan ‘pride’, berarti Saudara melihat segala sesuatu adalah hasil dari karyamu, dan yah, engkau cuma accident, engkau bukan ciptaan Tuhan, Tuhan tidak berhak atas apa-apa dalam hidupmu, engkau self-made, maka engkau bebas, engkau bisa menghidupi hidup ini sesuai maumu –tapi ujungnya engkau cuma accident, kecelakaan, hasil dari molekul-molekul yang bertabrakan satu dengan yang lain. Itu saja. Ada jalan yang lain, jalan yang mengatakan tidak atas hal tersebut; bahwa Allah mengatakan ‘Aku menciptakanmu, Aku sumbermu, maka Aku pegang kontrol atas hidupmu, jangan pernah pikir engkau pegang kontrol atas hidupmu sendiri’. Tidak enak, ya. Tapi, itu berarti engkau bukan kecelakaan, engkau adalah karya sendi. Dan Saudara tahu apa perasaan seorang seniman terhadap karya seninya? Seorang seniman mengasihi karya seninya. Seorang seniman memeras keringat demi karya seninya. Seorang seniman mencurahkan darah demi karya seninya. Itulah bagaimana Allah memandang Saudara dan saya; dan itulah yang membuat kita bisa menerima penderitaan dalam hidup ini sebagai sesuatu yang datang dari tangan Bapa, sebagai suatu anugerah, sebagai hal yang kita bisa ucapkan syukur. Saudara mau yang mana?
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading