Kita membaca Daniel 10:1-3. Sebagaimana sudah kita bahas dalam khotbah sebelumnya, konteks penanggalan merupakan hal yang penting; di sini dikatakan ‘tahun ketiga pemerintahan Kores’, apa signifikansinya?
Tahun pertama pemerintahan Kores adalah momen dikeluarkannya Dekrit Kores yang memperbolehkan bangsa Yahudi pulang ke tanah perjanjian. Setelah 70 tahun pembuangan, mereka akhirnya kembali ke Yerusalem oleh sebab dekrit Raja Kores ini. Namun seperti yang sudah diberitahukan dalam penglihatan sebelumnya (Daniel 9), 70 tahun ini ternyata cuma periode pertama dari 7×70 tahun yang dibutuhkan untuk memulihkan umat Allah, maka kepulangan ini tidak otomatis berarti pemulihan.
Kita baca dalam kitab Ezra 3, kloter pertama orang-orang Yahudi yang pulang di bawah kepemimpinan Zerubabel (tidak semuanya pulang, dan Daniel bukan termasuk yang pulang), menemukan bahwa hidup di Yerusalem tidaklah segampang dan selimpah yang mereka pikir. Mereka pulang dan membangun kembali mezbah Bait Allah yang telah diruntuhkan; dan baru mezbahnya pun, sudah banyak sekali perlawanan dari bangsa-bangsa tetangga, kiri kanan, depan belakang. Ini bukan satu-satunya kesulitan, karena selain perlawanan dari luar, juga ada yang dari dalam, yaitu mereka sulit sekali menyambung hidup, tidak gampang memenuhi kebutuhan dasar di Yerusalem yang sudah berpuluh-puluh tahun menjadi puing-puing. Tekanan dari luar dan dalam ini akhirnya menyebabkan orang-orang Yahudi yang pulang itu menghentikan pekerjaan pembangunan Bait Allah. Pembangunan ini mangkrak sampai 15 tahun, sebelum akhirnya dilanjutkan pada zaman nabi-nabi seperti Hagai dan Zakharia. Jadi, tahun ketiga pemerintahan Kores basically merupakan momen yang seperti apa?
Saudara bisa bayangkan atmosfer di antara orang-orang Yahudi pada tahun ketiga pemerintahan Kores, ini adalah masa mereka putus asa, masa di mana mereka kecil hati, baik yang sudah pulang ke Yerusalem maupun yang masih bertahan di Babilonia seperti Daniel. Itu sebabnya Daniel berkabung, berpuasa, bahkan tidak pakai lotion (minyak), yang merupakan kebutuhan dasar di daerah Timur Tengah yang panas dan kering. Jadi inilah alasannya Daniel sampai berkabung, bahwa euforia yang menyertai kepulangan awal serta pendirian mezbah pada tahun pertama itu, sekarang pada tahun ketiga sudah pudar. Honeymoon period is over. Dan, sekarang tantangannya adalah: bagaimana bisa bertahan setia kepada Tuhan secara long term di tengah berbagai kesulitan.
Tahun ketiga pemerintahan Kores bagi orang-orang Yahudi ini, mungkin analoginya dalam hidup kita seperti tahun ketiga pernikahan kita. Saudara tahu, orang kalau menikah, yang penting adalah bertahan kira-kira lima tahun pertama, karena angka perceraian paling tinggi dalam lima tahun pertama. Kalau sepasang suami istri berjanji mau bertahan paling tidak 5-7 tahun pertama, begitu lewat lima tahun pertama itu maka angka perceraian turun drastis. Inilah kira-kira yang dirasakan dalam tahun ketiga pemerintahan Kores.
Banyak analogi lainnya. Kita mungkin ingat tahun ketiga kita jadi orang Kreisten. Beberapa dari kita mungkin masih ingat tahun-tahun pertama kita bertobat, menerima Tuhan Yesus, tahun-tahun yang sepertinya ketaatan kepada Tuhan merupakan sesuatu yang lebih mudah dan lebih exciting juga. Pada waktu itu segala sesuatu yang kita terima, kita tidak komplain, kita begitu limpah menerima semua itu. Namun pada tahun ketiga, lain ‘kan. Kita mungkin sudah mengalami kehidupan yang kering. Sudah ada banyak kesulitan, tantangan. Ada banyak tekanan, baik yang dari dalam, yaitu kita musti memikirkan urusan uang, kantor; ataupun dari luar, kita mungkin ditekan kebutuhan ini dan itu. Lalu, sukacita yang dulu mewarnai kehidupan kita bersama dengan Tuhan, kayak cuma kenangan.
Analogi yang lain, tahun ketiga kita mendirikan Gereja. MRII Harapan Indah sekarang sudah 8 tahun, dan sudah stabil di angka 70-100 orang. Namun waktu tahun ketiga, waktu kami masih terus-menerus setiap Minggu harus berkhotbah di sana dan belum ada hamba Tuhan sebagaimana sekarang ada Pak Ruben, jemaat yang datang lebih sedikit dibandingkan penatalayannya. Ada pendeta yang khotbah, song leader, liturgis, pianis, tambah 1-2 orang lagi dari GRII Kelapa Gading, sedangkan jemaatnya cuma 3 orang. Itulah tahun ketiga.
Saudara, kitab Daniel jadi memeang relevan bagi kita. Pertanyaannya, apa yang firman Tuhan di pasal ini bawa kepada kita dalam momen seperti ini, yang akan menolong kita untuk bertahan setia sebagai umat Allah? Ini bukan bertahan setia karena punya masa depan yang cerah, melainan justru bertahan setia dalam keadaan yang mangkrak. Itu sebabnya ada warna adven, warna penantian, dalam pasal-pasal terakhir kitab Daniel ini.
Pasal 10, 11, 12 merupakan satu penglihatan yang sama; dan isi dari penglihatannya sendiri baru akan muncul di pasal 11, diakhiri di pasal 12. Dengan demikian, apapun yang akan menguatkan Daniel serta umat Allah untuk bertahan setia, secara terutama baru akan kita temukan pada pasal 11 dan 12. Meski demikian, pasal 10 amat penting untuk kita bahas; bahkan dalam bagian pembukaannya, kita melihat sesuatu dibukakan kepada Daniel. Apakah itu?
Saudara, kalau orang sedang dalam kesulitan lalu kita rasa mereka perlu dihibur, biasanya kita menghibur dengan cara apa? Kita menghibur misalnya dengan mengingatkan untuk count your blessings, bahwa dalam hal-hal yang sulit itu masih ada hal-hal yang baik dalam hidupmu, kamu masih punya rumah, kamu masih sehat, kamu masih bisa makan, dsb. Although cara menghibur ini agak bahaya, karena kalau besoknya hal-hal seperti itu pun ikutan hilang, maka penghiburannya jadi senjata makan tuan; itu sebabnya harus hati-hati. Dan, mungkin itu sebabnya pasal 10 ini tidak menghibur Daniel dengan cara-cara seperti itu.
Dalam pasal 10, Daniel yang berpuasa selama tiga minggu itu melihat seorang figur malaikat Tuhan (ayat 5-6). Perhatikan bagaimana figur ini dihadirkan, ini figur yang bukan cuma indah tapi juga mengerikan: Aku mengangkat mukaku dan melihat, tampaklah seorang yang berpakaian linen dan berikat pinggang emas dari Ufas. Tubuhnya seperti permata Tarsis dan wajahnya seperti cahaya kilat. Matanya seperti suluh yang menyala-nyala, lengan dan kakinya seperti kilau tembaga yang digosok mengkilap, dan suara ucapannya seperti suara gemuruh. Saudara tahu efek yang terjadi ketika Daniel melihat hal seperti ini? Dia bukan kesenengan sebagaimana banyak orang hari ini yang suka cari-cari penglihatan; di ayat 8 dikatakan kekuatannya hilang, mukanya pucat pasi. Lalu waktu dia mendengar suara ucapan yang seperti gemuruh (ayat 9), dia jatuh pingsan tertelungkup dengan mukanya ke tanah. Kalau Saudara mundur sedikit ke ayat 7, Daniel ternyata sedang bersama beberapa orang lain, tetapi mereka tidak melihat yang Daniel lihat, namun mereka merasakan suatu ketakutan yang besar, mereka sadar ada sesuatu yang terjadi meskipun mereka tidak bisa melihatnya, lalu mereka kabur terbirit-birit meninggalkan Daniel seorang diri. Daniel sudah lemas, tidak ada kekuatan, habis puasa, jatuh pingsan, dan ditinggal pula –kira-kira seperti itu. Lanjutannya pun tidak lebih baik. Daniel, setelah disentuh malaikat itu, dia bisa bangun, tapi dikatakan di ayat 10 dia bangun dengan cuma bertumpu di atas lutut dan tangannya; dari yang tadinya rebah, sekarang cuma bisa seperti binatang bertumpu di lutut dan tangannya. Di ayat 11, setelah diajak bicara, Daniel baru bisa berdiri kembali, itu pun berdiri dengan gemetar. Lalu malaikat itu berbicara kepada dia; dan apa yang terjadi berikutnya? Ayat 15, Daniel jatuh lagi dengan mukanya ke tanah. Dia ayat 17, dia mengatakan dirinya sampai tidak ada kekuatan, bahkan tidak ada napas. Baru kemudian di ayat 19 dikatakan dia diberi kekuatan lagi untuk mendengar malaikat tersebut.
Saudara, inilah cara Tuhan datang merespons perkabungannya Daniel. Orang yang sedang dalam masa sulit, berkabung, berpuasa, malah dibikin tambah drop. Diangkat sedikit, dibikin drop lagi. Namun waktu kita melihat isi berita yang menyebabkan Daniel jatuh lagi, ini lebih interesting, atau tepatnya lebih shocking. Perhatikan, figur malaikat yang luar biasa keren sebagaimana dihadirkan di ayat 5-6 itu, apa yang dikatakannya di ayat 12? Lalu katanya kepadaku, “Janganlah takut, Daniel, sebab sejak hari pertama engkau berniat untuk mendapat pengertian dan untuk merendahkan dirimu di hadapan Allahmu, perkataanmu telah didengar. Aku datang karena perkataanmu itu.” Jadi, sejak 3 minggu yang lalu Daniel sudah didengar, dan malaikat itu sudah diutus 3 minggu yang lalu. Tapi apa yang terjadi, kenapa baru datang sekarang? Ayat 13: “Pemimpin kerajaan orang Persia berdiri menentang aku selama dua puluh satu hari (3 minggu). Kemudian Mikhael, seorang dari para pemimpin terkemuka, datang menolong aku, dan aku meninggalkan dia di sana berhadapan dengan raja-raja orang Persia.” Jadi figur malaikat ini tertunda kedatangannya.
Figur malaikat ini sudah diutus sejak 3 minggu sebelumnya, yaitu waktu Daniel memulai perkabungan dan doanya, sama seperti di pasal 9 waktu Daniel mulai berdoa, Allah langsung merespons. Tetapi kali ini tertunda; kenapa? Karena malaikat ini tertahan oleh “pemimpin kerajaan Persia” (a prince of Persian). Kita tidak akan memakai banyak waktu membahas hal ini, terlalu jelimet, dan ujungnya cukup konsensus dari banyak sarjana Alkitab bahwa ini mengacu bukan pada tokoh manusia melainkan pada sebuah kuasa spiritual (bisa pakai istilah ‘malaikat gelap’), yang ada di belakang kerajaan-kerajaan dunia, dalam hal ini malaikat gelap yang ada di belakang kerajaan Media-Persia yang menentang kehendak Allah. Berhubung malaikat yang diutus kepada Daniel ini tentu tidak mahakuasa sebagaimana Allah mahakuasa, dia menemukan adanya perlawanan dari malaikat gelap, dan itu sebabnya tertahan sampai 21 hari di sana, sampai kemudian datang malaikat lain yang lebih berkuasa (biasa disebut archangel, malaikat yang lebih tinggi levelnya) menolong dia, lalu setelah itu dia bisa menyelesaikan perjalanannya sampai ke Daniel.
Whattt???!!! Inilah kitab Daniel, selalu ada momen kayak begini. Dan kita harus berhenti di sini, karena sepanjang zaman di antara orang-orang Kristen yang membaca bagian ini, selalu ada godaan untuk maju lebih jauh daripada yang tertulis, kita ingin segudang pertanyaan-pertanyaan, keingintahuan kita, dijawab, lalu masuk ke dalam spekulas-spekulasi yang tidak berguna. Saya tidak akan melayani yang seperti itu, karena pembahasan kita sebagaimana sejak awal saya katakan, bukanlah pada detail-detail pritilannya yang ujungnya cuma buat mengisi keingintahuan kita tok, saya ingin fokus kita diarahkan kepada gambaran besarnya.
Apa yang mau dinyatakan di sini? Ini simply suatu penyibakan, bahwa di belakang konflik-konflik yang terlihat di dunia ini antara umat Allah dan kerajaan-kerajaan dunia, secara paralel juga sedang terjadi konflik dalam dunia yang tidak kelihatan, suatu spiritual warfare. Hal ini dibukakan bagi Daniel, kenapa? Karena mau menjelaskan alasan bisa terjadinya penundaan dalam digenapinya janji-janji Tuhan, yaitu karena memang ada figur-figur yang melawan Tuhan; dan mereka ini bukan cuma raja-raja dunia dengan kuasanya, tapi juga kuasa-kuasa spiritual di balik mereka. Dalam kasus pasal 10 ini, siapa pun pemimpin kerajaan Persia ini, dia adalah lawan yang cukup kuat untuk bisa menahan utusan Allah sendiri selama 3 minggu. Namun Saudara juga melihat sisi yang lain, bahwa sekuat-kuatnya malaikat gelap Persia ini –siapa pun dia– efeknya cuma penundaan, tidak pernah pembatalan. Begitu malaikat Mikhael datang untuk menolong, malaikat yang bicara kepada Daniel ini bisa menyelesaikan perjalanannya, bisa membawa kabar kepada Daniel.
Dari pembukaan ini, berarti ada dua sisi yang kita perlu ambil bersama-sama, jangan dipertentangkan satu dengan yang lain, perlu kita pegang dua-duanya bersamaan. Yang pertama, kata-kata malaikat kepada Daniel ini membukakan kita untuk menyadari bahwa ada konflik yang terjadi dalam dunia yang tidak kelihatan. Dan, ini membukakan Daniel untuk menyadari bahwa kesulitan yang dihadapi umat Allah dalam membangun kembali Yerusalem, ternyata lebih dalam, lebih jauh, skalanya lebih besar, dibandingkan yang Daniel sadari selama ini. Ini berarti umat Allah selama ini bukan cuma menghadapi permusuhan dan perlawanan manusia saja, tapi juga permusuhan dan perlawanan dari makhluk-makhluk rohani yang berkuasa cukup besar, dalam level dunia yang tidak kelihatan. Inilah yang jadi salah satu sebab proses pembangunan kembali Yerusalem makan waktu yang lebih lama.
Mendengar hal ini, kita mungkin kaget, karena kita juga tidak terbiasa membahas dimensi Alkitab yang kayak begini, namun ini sesungguhnya konsep yang cukup wajar dalam masyarakat Yahudi, bahwa ketegangan dan pertempuran dalam level dunia yang kelihatan sebenarnya merupakan manifestasi dari pertempuran antara kuasa gelap dengan bala tentara Allah Yahweh, bahwa apa yang dialami oleh umat Tuhan dalam dunia yang kelihatan sesungguhnya ada paralelnya yang berjalan bersamaan dalam dunia yang tidak kelihatan. Ini konsep yang semua orang pada waktu itu terima (itu sebabnya ketika Yehuda kalah oleh Babilonia, banyak orang Yahudi beranggapan Allah Yahweh kalah dalam peperangan melawan dewa Marduk, Bel, dll.), bahwa apa yang terjadi di panggung dunia yang kelihatan, simply adalah refleksi dari apa yang terjadi dalam panggung dunia yang tidak kelihatan. Jadi dalam bagian ini Daniel –dan kita, melalui Daniel– sedang dibukakan akan suatu skala realitas yang lebih dalam dari yang kita sangka. Kita perlu menyadari, bahwa di dalam Alkitab, akar dari banyak permasalahan dalam dunia ini ujungnya tidak cuma berhenti pada urusan manusianya. Permasalahannya tidak cuma simply urusan gara–gara suamiku ini, atau istriku ini yang ‘gak ada common sense-nya. Problemnya tidak berhenti pada urusan gara-gara si anak remaja ini, yang memberontak dan bikin hidup orangtuanya jungkir balik. Permasalahannya bahkan bukan sekadar dalam level dosa-dosa kita atau habit-habit jelek yang kita punya. Di balik semua itu, Alkitab tahu ada realitas pertempuran dunia yang tidak kelihatan, di mana umat Allah sesungguhnya sedang bertempur melawan kuasa-kuasa gelap yang begitu powerful. Ini bukan cuma kacamata dalam Perjanjian Lama, ini juga belanjut dalam Perjanjian Baru. Saudara membaca dalam Surat Efesus, Paulus mengatakan, “Perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara” (Efesus 6:12).
Kalau masih belum cukup shocking, masih dalam poin yang sama, ternyata pertempuran dalam level dunia rohani ini tidak akan selesai dalam waktu dekat. Pasal 10:20 – 11:1, perkataan kedua dari malaikat tersebut mengatakan: “Tahukah engkau mengapa aku datang kepadamu? Sebentar lagi aku kembali untuk berperang melawan pemimpin Persia, dan sesudah aku selesai dengan dia, pemimpin orang Yunani akan datang. Namun, aku akan memberitahukan kepadamu apa yang tercantum dalam Kitab Kebenaran. Tidak ada satu pun yang berpihak kepadaku melawan mereka, kecuali Mikhael, pemimpinmu itu. Aku pun dahulu, pada tahun pertama pemerintahan Darius, orang Media itu, mendampinginya untuk menguatkan dan melindunginya.” Saudara lihat, dalam bagian ini malaikat membukakan kepada Daniel: Daniel, setelah aku selesai menyampaikan berita ini kepadamu, sesungguhnya aku akan kembali join pertempuran spiritual itu, bertempur melawan malaikat gelapnya Persia, dan engkau harus tahu bahwa setelah malaikat Persia itu kalah, akan datang malaikat dari orang Yunani. Dalam hal ini, Saudara tahu Yunani memang negara adikuasa yang berikutnya, yang akan datang setelah Media-Persia. Bukan cuma mengenai yang ke depan, malaikat tadi mengatakan ‘dari dulu kami sudah berperang seperti ini; paling tidak sejak tahun pertama Darius kami sudah berperang, kami sudah melindungi dia, kami sudah menguatkan dia’. Saudara lihat, ini pertempuran yang sudah dari dulu, dan tetap akan terus berjalan. Kita tahu setelah kerajaan Yunani di bawah Alexander the Great pudar, tidak berarti pertempurannya selesai.
Sepanjang sejarah kita tahu kuasa gelap tidak berhenti bertempur melawan umat Allah. Sepanjang sejarah kita tahu Gereja Tuhan akan mengalami nasib seperti Daniel. Mereka akan senantiasa kehilangan kekuatan, mereka jatuh tertelungkup, mereka ditinggalkan oleh orang-orang di sekitar mereka. Namun poin yang kedua, poin yang satu paket harus kita terima bersamaan, adalah bahwa meskipun skala pertempuran/konflik ini melampaui yang kita selama ini sadari, bahkan melampaui yang kita bisa mengerti, pada akhirnya Gereja Tuhan tidak akan pernah hancur, umat Allah tidak akan pernah binasa, karena Allah umat tersebut terus memberikan sokongan, kasih karunia yang cukup, melalui pelayanan malaikat-malaikat-Nya. Malaikat-malaikat ini telah –dan akan terus– berperang di pihak kita. Itu sebabnya di Perjanjian Baru juga muncul gambaran yang sama. Misalnya Petrus dalam 2 Petrus 3:8-10 pada dasarnya mengatakan, “Hai orang-orang Gereja, meskipun kamu merasa janji-janji Tuhan sering kali rasanya lambat banget digenapinya, tertunda, kamu harus tahu ujungnya, yaitu janji-janji Tuhan pasti digenapi, bisa lambat digenapinya tapi pasti tergenapi.”
Saudara lihat dua poin ini. Di satu sisi, pertempurannya lebih besar dan lebih luas daripada yang kita kira, bukan cuma dalam dunia yang kelihatan, tapi juga ada paralel pertempuran dalam dunia yang tidak kelihatan; dan level kuasa yang beregerak serta berpengaruh dalam dunia yang tak kelihatan ini tidak main-main, bahkan malaikat-malaikat Allah pun bisa tertunda dan tertantang oleh kuasa-kuasa ini. Namun di sisi lain, ada poin yang kedua yang harus dipegang bersamaan, yaitu ujungnya hal paling banter yang bisa dilakukan oleh kuasa-kuasa tersebut hanyalah penundaan, bukan pembatalan. Rencana Tuhan itu kekal, in the end apa yang sudah Allah tetapkan akan tetap terjadi. Janji Tuhan bisa seperti terlambat, namun in the end pasti tergenapi. Itu kira-kira yang kita lihat dibukakan dalam pasal 10 ini.
Lalu apa tujuannya dibukakan seperti ini? Apa poinnya hal ini diungkapkan kepada Daniel, dan dengan demikian juga kepada kita? Dalam hal ini Saudara bisa lanjutkan kutipan dari kalimat Paulus tadi. Setelah Paulus dalam Efesus 6 mengafirmasi bahwa pertempuran kita tidak cuma dalam level yang kelihatan, tidak cuma dalam skala fisik dunia yang terlihat, melainkan sesungguhnya pertempuran dengan apa yang ada di langit, dengan penguasa angkasa, roh-roh gelap, maka apa yang Paulus kemudian rekomendasikan? Kalau kita lanjutkan Efesus 6:13 dst., dikatakan: Sebab itu ambillah seluruh perlengkapan senjata Allah, … berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran, berbaju-zirahkan keadilan, kakimu berkasutkan kerelaan untuk memberitakan Injil damai sejahtera; dalam segala keadaan pergunakanlah perisai iman, sebab dengan perisai itu kamu akan dapat memadamkan semua panah api dari si jahat, dan terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah. Kita tidak bakal bahas ini satu per satu artinya apa, saya tidak tertarik dengan printilan seperti itu, namun di sini Paulus memberikan apa sebagai rekomendasinya ketika kita menyadari ada sakala pertempuran rohani? Paulus pada dasarnya memberikan kita sebuah dress code.
Saudara pernah mimpi buruk? Menariknya, salah satu stereotype mimpi buruk yang cukup universal dialami umat manusia konon adalah mimpi kita datang ke suatu acara dengan dress code yang salah. Versi mimpi buruknya begini: misalnya Saudara bermimpi balik ke masa SMA, Saudara datang ke sekolah pada hari itu, dan Saudara cuma pakai celana dalam. Horor ‘kan! Kira-kira seperti itu mimpi buruknya. Tentu hal ini ada paralel juga dengan pengalaman kita sehari-hari, kita malu kalau datang ke suatu acara dan kita salah dress code. Semua orang pakai jins dan kaos, sedangkan kita pakai baju formal lengkap dengan dasi, pasti kita diejek-ejek semalam-malaman. Kalau terbalik pun horor, semua orang pakai pakaian lengkap, sementara kita kira itu event casual, jadi kita cuma pakai kaos. Saya sendiri pernah mengalami. Rapat-rapat dengan mengumpulkan gembala sidang se-Jabodetabek tidak gampang, maka rapat-rapat seperti ini biasanya diadakan pakai Zoom, dan mulainya baru jam 8-9 malam berhubung sebegitu susahnya mengumpulkan semua orang. Karena rapatnya begitu malam, dan pakai Zoom, kita sudah tahu semua orang bakal tidak ada yang pakai kemeja dsb., semua pakai kaos, dsb.; dan tidak masalah, karena memang sudah malam banget. Jadi saya sudah terbiasa kalau rapat Zoom malam-malam pakai kaos saja, tapi saya lalu terbawa kebiasaan ini waktu nge-Zoom malam-malam untuk sidang ujian skripsi mahasiswa bimbingan saya, dan waktu saya buka Zoom, saya baru sadar, Oh, no, semua orang pakai baju lengkap, formal, sementara saya pakai kaos sendirian!
Saudara, problem underdressed atau overdressed seperti ini kira-kira terjadinya kenapa? Karena kita salah ekspektasi. Kita salah ekspektasi ‘ini acara apa’. Kalau Saudara diundang datang ke konser, Saudara harus tanya, ini konser apa, karena tidak semua konser sama, ada konser Beethoven dan ada konser Blackpink, dan tentunya keduanya itu pakai dress code yang berbeda. Sama halnya dengan banyak orang Kristen dalam hidup ini, mereka mengarungi hidup sebagai umat Allah sering kali dengan ekspektasi yang salah terhadap hidup ini, dan menyebabkan mereka salah dress code, merekasalah berpakaian. Omong-omong, ini bukan urusan baju apa yang kita pakai datang ke Kebaktian di gereja, ini urusan baju apa yang kita pakai dalam menghadapi hidup ini. Kalau mau jujur, banyak dari kita mengarungi hidup ini dengan ekspektasi hidup ini piknik, maka kita berpakaian ringan, kita cuma pakai sandal jepit, baju-baju yang tipis. Kita expect cuaca cerah. Kita expect having fun. Kita tidak expect awan gelap datang dan hujan badai turun. Kita tidak expect ada paku di jalanan yang dengan mudah menembus sandal jepit tersebut. Jadi ketika hal-hal ini terjadi dalam hidup kita, apa reaksi pertama kita? Kita ngomel. Kita komplain. Kita mengatakan, “Harusnya hidupku tidak sesusah ini!”
Saudara ingat sebagaimana pernah kita bahas dalam masa Ordinary Time tahun lalu, banyak permasalahan hidup yang kita rasa paling berat justru adalah permasalahan-permasalahan yang ordinary. Hari itu anak-anak bangun dengan bete, biasanya tidak begini, pada ‘gak mau bangun, pada ngamuk-ngamuk, lalu ada urusan baju hilanglah, tidak mau makanlah, lalu waktu disuapi tangannya tersenggol kecaplah, kecap tumpah kena baju seragam sehingga musti ganti lagi, tas sekolah juga tidak tahu di mana, dan di tengah-tengah semua kesibukan itu, tiba-tiba anjing kita muntah, dst. Kacau banget! Setelah semuanya kita bereskan, kita masuk mobil dan mau berangkat antar mereka ke sekolah, yang terjadi adalah mobil kita tidak mau di-start, atau bannya kempes, dsb. Saya mau tanya, waktu kita menghadapi situasi seperti ini, apa yang jadi respons kita, pikiran pertama kita? Tentu kita akan mengatakan, “Koq, bisa begini, sih?? Koq, hidup begitu susah??” Ini membongkar ekspektas-ekspektasi yang selama ini kita pegang, dan mungkin kita tidak sadar. Sebenarnya dari mana sih teori bahwa hidup seharusnya gampang? Dari mana ekspektasi itu?
Saudara lihat sekarang, sebabnya Daniel pasal 10 ini perlu ada. Tujuan bagian ini bukan untuk merangsang curiosity-mu masing-masing akan pengetahuan mengenai kuasa-kuasa spiritual, demonologi, atau apapun. Tujuan pertempuran dimensi yang tidak kelihatan itu dibukakan, adalah untuk menolong Daniel –kita– menyadari bahwa hidup memang sulit, maka kita perlu dress code yang baru dalam menghadapi hidup ini. Itulah yang Paulus berikan tadi, bahwa pertempuran yang terjadi di atas dunia ini tidak cuma pertempuran kita sendiri tok. Namun good news-nya, poin kedua-nya, adalah: jika pertempuran yang kita hadapi ini bukan pertempuran kita sendiri tok, maka dalam menghadapi pertempuran-pertempuran ini kita juga tidak sendirian tok.
Saudara, ini sebabnya salah satu aplikasi dalam bagian ini adalah perlunya kita coba mengerti cara kerja kuasa gelap, cara kerja setan. Kalau kita menyadari hidup ini tidak segampang itu, kalau kita mau berdiri teguh terhadap kuasa gelap ini, kita perlu mengerti cara kerja kuasa gelap, karena kita sering kali hidup dengan lensa yang tidak menyadari hal ini. Seorang bekas wakil perdana menteri Inggris (saya lupa namanya) pernah diwawancara, kenapa dia ingin jadi prime minister. Awalnya dia cuma mau jadi Ketua RT karena dia melihat ada hal-hal yang tidak beres dalam masyarakat, yang dia rasa bisa bereskan kalau jadi Ketua RT. Dia lalu jadi Ketua RT. Tetapi waktu menjadi Ketua RT, dia baru menyadari ternyata masalahnya tidak segampang itu; dia rasa perlu jadi anggota DPR untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Dia lalu kampanye untuk jadi anggota DPR, dan akhirmya jadi anggota DPR. Waktu menjadi anggota DPR, dia sadar masalahnya ternyata tidak selesai sampai di situ, dia rasa perlu jadi menteri untuk bisa menyelesaikan masalah ini. Dia coba lagi, dia akhirnya berhasil jadi Menteri, dan tetap saja tidak bisa menyelesaikan masalah tersebut. Dia akhirnya merasa satu-satunya cara untuk membereskan masalah dalam masyarakat adalah dengan jadi Perdana Menteri. Dia akhirnya berhasil jadi Wakil Perdana Menteri, dia masuk ke lingkaran Perdana Menteri, dia ngantor bersama-sama di situ, dan pada akhirnya menyadari bahwa di kantor Perdana Menteri pun tidak benar-benar ada kuasa yang sejati, orang-orang di kantor Perdana Menteri itu lebih banyak ditarik mengikuti arus, dibandingkan menentukan arus. Dia akhirnya bingung, jadi siapa yang pegang kuasa atas dunia ini??
Saudara, ini satu hal yang tidak bisa kita hindari. Inilah yang sedang dibukakan dalam bagian kitab Daniel ini. Kalau kita mau menyadari bahwa hidup ini memang tidak gampang karena ada dimensi yang tidak kelihatan itu, ada konflik dalam dimensi yang tidak kelihatan itu, kita perlu mengerti cara kerja mereka. Saudara pasti sudah pernah dengar, setan punya dua strategi utama yang kita perlu sadari. Konon ini strategi dari jenis-jenis kadal tertentu di Afrika atau Amerika Latin, strategi yang pertama yaitu kalau menghadapi musuh, mereka menarik napas banyak-banyak, mengisi kantong di badan mereka sehingga badannya menggelembung besar dan mereka kelihatan lebih besar daripada ukuran sebenarnya, dengan harapan musuhnya kabur. Kalau strategi ini tidak berhasil, kadal-kadal ini akan pakai strategi kedua, mereka buang semua napas tadi, mereka mengempiskan diri, membalik diri telentang, dan pura-pura mati. Inilah basically dua strategi yang perlu kita sadari dalam menghadapi kuasa gelap.
Strategi yang pertama, setan berusaha membuat orang Kristen melihat setan di segala tempat. Setan berusaha meyakinkan kita bahwa dia sangat berkuasa, dia bercokol di mana-mana, maka segala usaha untuk melawan kuasa ini ujungnya akan sia-sia. Kita mungkin pikir ini strategi yang terjadinya di tempat-tempat seperti negara-negara berkembang, front line missionary misalnya, yang sering kali kita dengar ada demonstrasi-demonstrasi kuasa gelap, dsb., tetapi sesungguhnya ini juga terjadi di negara-negara maju. Ini adalah mode di mana godaan setan datang dalam bentuk kuasa yang terlalu besar rasanya, yang kita tidak bisa melakukan apa-apa. Misalnya, godaan yang mengatakan, “Sudahlah, kamu ‘gak bisa apa-apa melawan nafsu-nafsu ini, kamu ‘gak bisa melawan orientasi seksual seperti ini, karena kamu memang sudah dari sononya kayak begitu, kamu sudah lahir seperti itu, DNA-mu sudah begitu, genetikamu sudah begitu”, dst., dst. Ini strategi yang pertama, menghadirkan diri sebagai sesuatu yang tidak bisa dilawan, sesuatu yang terlalu besar.
Satu bentuk lagi dari strategi yang pertama adalah kecenderungan di berbagai Gereja atau orang-orang Kristen, yang ketika melihat apa pun yang negatif, langsung mempersalahkan hal tersebut sebagai pengaruh kuasa gelap. Misalnya orang yang kecanduan langsung dibilang kerasukan roh candu, orang yang kepahitan langsung dibilang roh kepahitan, orang yang malas langsung dibilang roh kemalasan, dan semua harus ditengking dulu baru beres. Atau juga keyakinan akan adanya roh-roh teritorial, “O, rumah ini (atau tempat ini) ada roh-roh tertentu yang menghalangi pekerjaan Allah!” Itu sebabnya solusi terhadap mode-mode seperti ini adalah berdoa terhadap roh-roh tersebut; mereka mengatakan, “Lihat, Daniel 10 ‘kan juga ngomong mengenai itu, malaikat itu menghadapi malaikat teritori Persia-lah, menghadapi malaikat teritori Yunani-lah, dsb..”
Problem dari kacamata yang kayak begini bukan bahwa realitasnya salah; dari tadi kita sudah katakan bahwa gambaran realitas seperti inilah yang kitab Daniel bukakan bagi kita, bahwa kegelapan yang ada dalam masyarakat dan dunia hari ini memang tidak bisa dijelaskan hanya sebagai sesuatu yang kelihatan, ada something else di situ, ada realitas spiritual yang melampaui apa yang kita bisa lihat, dan tentu saja itu sebabnya kita perlu berdoa kepada Tuhan agar Tuhan membungkam kuasa-kuasa tersebut. Itu jelas. Tetapi problem dari pendekatan yang pertama ini adalah bahwa sering kali orang Kristen gift to much credit kepada setan, mengatributkan terlalu banyak kepada setan.
Dalam bagian yang kita baca ini, setelah malaikat membukakan kepada Daniel mengenai urusan malaikat Persia atau malaikat Yunani, atau apapun, satu hal yang penting Saudara perhatikan adalah: malaikat itu tidak pernah menyuruh Daniel berdoa terhadap malaikat-malaikat jahat tersebut; kesannya malah mengatakan, “Itu bagiannya kami, bukan bagian kamu.” Respons yang tepat terhadap realitas ini adalah justru mengalihkan pandangan kita kepada kuasa Allah, bukan kuasa setan, merayakan kasih karunia Allah bagi kita bahwa apapun yang terjadi itu cuma akan menunda tok, dan tidak pernah membatalkan. Itulah alasannya malaikat tadi bisa mengatakan kepada Daniel ‘damai sejahtera bagimu, kuatkanlah hatimu’. Inilah yang menjadi rekomedasi Paulus kepada jemaat Efesus tadi. Jadi apa solusinya ketika kita menyadari ada pertempuran dalam skala rohani seperti ini? “Be strong! Be strong in the Lord,” kata Paulus, “Put on the full armour of God.” Arahnya kepada Tuhan, bukan ke setan. Tujuan akhirnya apa? Efesus 6:13, “Supaya kamu dapat berdiri teguh.” Kekuatan Allah bagi kita adalah untuk kita bisa berdiri teguh; dan itu berarti tidak ada satu pun godaan yang kita tidak bisa lawan.
Tidak ada godaan yang kita tidak dapat kekuatan untuk bisa lawan, bahkan waktu hal tersebut terlihat seperti sesuatu yang genetika-lah, dari sononya-lah; kenapa? Karena kita beriman bahwa pekerjaan Allah bagi kita tidak kurang dari penciptaan ciptaan baru. Jadi, mau dibilang Saudara genetiknya dari sononya kayak begitu pun doesn’t matter, kekuatan dari Allah itu menciptakanmu secara baru. Namun di sisi lain, benar bahwa kekuatan ini cukup, tapi kekuatan ini hanya cukup untuk engkau berdiri teguh, bukan untuk engkau pergi menggebuk setan sampai mampus, karena itu bagian Tuhan, bukan bagianmu.
Demikian strategi setan yang pertama, menggelembungkan diri; dan kita perlu menyadari hal itu. Strategi setan yang kedua adalah kebalikannya, yaitu pura-pura mati. Kalau yang pertama tadi setan menghadirkan dirinya di balik kaca pembesar, yang kedua adalah setan kabur dari pandangan mata kita sama sekali. Ini cara kerja yang paling convenient, setan bisa melakukan pekerjaannya tanpa ketahuan. Orang-orang tidak peduli atau tidak percaya eksistensi roh-roh jahat dalam mode seperti ini, maka godaannya bukan sesuatu yang sedemikian besar yang tidak bisa dilawan, melainkan sebuah rayuan, seduction, janji akan kenikmatan/keindahan, yang ujungnya perangkap. Saudara ingat film kartun, tikus-tikus yang datang ke perangkap, perangkapnya ada keju, dan kejunya pun seperti ada sinar-sinarnya, sangat memikat. Seperti itulah gambarannya. Tidak heran setan dikatakan bukan cuma menghadirkan dirinya sebagai singa yang mengaum-aum, tapi juga figur yang menyamar sebagai malaikat terang.
Saudara, ini hal yang riil. Paling gampangnya mengenai penggunaan musik-musik kontemporer di gereja, apa argumentasinya? Argumentasinya bukan mengatakan, “O, ini musik bagus,” dsb.; argumentasinya adalah mengatakan, “Bagaimana mungkin ini salah di hadapan Tuhan, kalau ini rasanya begitu pas di hati. Aku bisa begitu nikmat dan menghayati cinta Tuhan bagiku ketika menyanyikan lagu-lagu seperti ini, “dsb. Saudara lihat, argumentasinya adalah ‘bagaimana mungkin ini dosa kalau rasanya begitu pas’. Demikian juga waktu orang berhubungan seks di luar nikah, “Bagaimana mungkin ini dosa, rasanya begitu pas … .”
Itu sebabnya ketika kita tidak mengenali strategi setan yang seperti ini, kita juga tidak akan melihat kebutuhan untuk mengenakan perlengkapan senjata Allah. Perlengkapan senjata Allah itu berat, bikin kita jadi tidak mudah bergerak, maka kalau bisa tidak usah pakai, kita prefer tidak pakai ‘kan –sampai kita sadar bahwa kita perlu itu. Kalau kita tidak sadar kita perlu mengenakan perlengkapan senjata Allah itu, setan menemukan kita tidak siap, dan sangat mudah dikalahkan.
Solusi dari kedua strategi setan ini adalah yang Daniel lihat di pasal 10 ini. Di satu sisi, kita perlu sadar realitas kuasa gelap, be aware bahwa ada konflik/peperangan surgawi, dan tidak cuma duniawi; namun di sisi lain, ingat bahwa kamu tidak berjuang sendirian dalam hal ini. Mikhael dan malaikat-malaikat lain di bawah Allah, telah bertempur bagi umat Allah sejak awal, dan akan terus ke depan. Kamu tidak sendirian.
Yang terakhir, bagian kita dalam hal ini apa? Apakah ini berarti kita sebagai umat Allah jadi cuma kayak pemeran-pemeran sampingan dalam film-film superhero, yang sementara superhero-nya berantem, kita cuma jadi orang-orang biasa itu yang hanya bisa lari panik ke sana kemari menghindari gedung runtuh karena pertempuran, dsb.?? Level power malaikat itu jauh di atas kita, jadi kita ada bagian apa?? Saya suka kesal banget waktu nonton film Transformer atau semacamnya, karena saya inginnya melihat robot dan robot gebuk-gebukan, tapi di antara robot-robot besar yang lagi berantem itu, selalu saja ada manusia-manusia rempeyek yang lari-lari di tengah-tengah mereka minta dibikin gepeng. Dan, seperti itulah sering kali kita melihat umat Allah, ‘gak ada efeknya, sementara pertempuran tersebut jauh melampaui kita. Memang itu mungkin salah satu konklusi yang kita tarik, di satu sisi kita lemah, itu jelas, tetapi umat Allah bukan seperti manusia-manusia rempeyek dalam film tadi, umat Allah punya peran dalam peperangan kosmik seperti ini. Saudara pada dasarnya sudah mendengar hal ini dalam pembahasan pasal 9, dan kembali ditekankan dalam pasal 10, yaitu apa yang menyebabkan malaikat Tuhan diutus kepada Daniel? Apa yang menyebabkan malaikat Persia sampai mencegat malaikatnya Daniel, sampai kemudian Mikhael harus turun tangan? Ini konflik kosmik ‘kan, lalu apa yang mencetuskan pertempuran-pertempuran ini pada awalnya? Yaitu Daniel di awal kisah ini berkabung; dan berkabung dalam budaya Yahudi selalu dilihat dalam subset DOA. Daniel berdoa, berkabung, berpuasa, itulah yang mencetuskan peperangan dalam skala rohani ini.
Ironisnya, ini adalah hal-hal yang sering kali kita sebagai Gereja anggap remeh. Itu sebabnya dalam sebuah gereja kalau ada 10% saja dari jumlah jemaat yang datang Persekutuan Doa pagi, kita sudah bangga banget, karena sedemikianlah kita meremehkan doa, puasa, ratapan di hadapan Tuhan. Tetapi di dalam kitab Daniel, doa Daniel ini sudah kedua kalinya menjadi pemicu datangnya malaikat Tuhan kepada Daniel. Doa Daniel dalam kitab ini in some sense menggerakkan langit dan bumi. Umat Allah lemah, kita tahu itu, namun ketika mereka berlutut dalam doa, mereka sedang terlibat dan memegang peran dalam pertempuran skala rohani dunia yang tidak kelihatan, dengan efek yang malampaui apa yang kita sadari. Itulah yang terjadi ketika kita berdoa. Kalau Saudara tidak percaya, lihatlah yang dikatakan Paulus dalam Efesus 6. Pertama dia mengatakan ‘ini realitasnya, peperangan rohani’, lalu ‘kita perlu mengenakan senjata Allah’, dan kemudian dia mengakhiri semua itu dengan apa? “Jadi berdirilah tegap, berikatpinggangkan kebenaran, berbajuzirahkan keadilan, erkasutkan kerelaan memberitakan Injil damai sejahtera, pergunakanlah perisai iman, terimalah ketopong keselamatan dan pedang Roh, yaitu firman Allah,” lalu ayat 18, “… dalam segala doa dan permohonan. Berdoalah setiap waktu di dalam Roh dan berjaga-jagalah di dalam doamu itu dengan permohonan yang tak putus-putusnya untuk segala orang kudus, termasuk aku.”
Saudara, mungkin inilah sebabnya selama ini kita meremehkan doa, yaitu karena kita tidak sadar bahwa pertempuran yang kita hadapi itu ada dalam dunia yang tidak kelihatan, bukan cuma yang kelihatan. Kita masih pikir hidup ini cuma piknik. Kita masih saja merasa fine pakai kaos kutang dan sandal jepit, karena sepanjang mata manusia kita yang terbatas ini bisa melihat, cuaca cerah koq!
Omong-omong, kita sudah banyak bicara mengenai doa, jadi saya tidak akan fokus ke sana. Saya ingin secara spesifik fokus pada doa dalam subset perkabungan dan puasa yang menyertai doa Daniel, sebagai aplikasi khotbah hari ini. Periode perkabungan Daniel ini pertama-tama melibatkan puasa dari makanan-makanan yang sedap. Ini menarik, dia bukan tidak makan sama sekali, tapi dia menghindari daging, anggur, dan juga lotion (minyak). Satu detail yang mungkin terlewat, namun jelas bagi orang Yahudi, bahwa puasa ini berlanjut sampai tanggal 24 bulan yang pertama (ayat 2). Ini signifikan, karena bulan pertama orang Yahudi, khususnya tanggal 14 adalah hari raya Paskah, sementara Daniel berpuasa melewati hari itu, sampai tanggal 24, artinya Daniel berpuasa dan berkabung melewati periode Paskah yang adalah hari raya terbesar orang Yahudi pada waktu itu. Ini seperti kalau Saudara dalam masa Natal lalu menorehkan abu di jidat sebagaimana Rabu Abu. Sekarang jadi jelas kenapa Daniel berkabung sampai seperti ini, yaitu Daniel sedang mengadopsi kira-kira keadaan hidup orang Yahudi yang pulang ke Yerusalem, yang menderita di sana, yang tidak bisa minum anggur maupun makan daging, tidak bisa makan yang sedap-sedap, bahkan tidak punya rumah untuk melindungi diri dari cuaca karena di situ timbunan puing, maka Daniel juga tidak pakai lotion untuk melindungi kulitnya dari cuaca, sama seperti orang-orang itu. Dan juga, mereka yang di Yerusalem itu pun mungkin tidak bisa merayakan Paskah karena tekanan bangsa-bangsa sekitar –maka Daniel juga kayaknya tidak.
Kita sering kali meremehkan doa puasa dan perkabungan, karena kita pikir ujungnya cuma urusan diri tok, menguji ketahanan diri, dst. Tetapi tidak demikian, tujuan puasa umat Allah selalu ke luar, bukan ke dalam. Gereja-mula-mula waktu berpuasa, salah satunya puasa garam, karena garam mahal, maka uang yang biasanya dipakai untuk beli garam jadi bisa dibelikan sesuatu yang lain bagi orang miskin. Gereja-mula-mula tidak pernah melihat puasa sebagai sesuatu yang mengurangi, yang ke dalam, melainkan selalu menambah, dan ke luar. Sama halnya dengan Daniel. Daniel dalam perkabungan dan puasa ini sesungguhnya sedang melakukan lambang solidaritas dengan umat Allah di Yerusalem.
Omong-omong, Daniel tidak ikut pulang karena satu dan lain hal, kita tidak tahu kenapa. Bisa jadi simply karena Daniel merasa panggilan dan tugasnya untuk melayani Tuhan adalah di kerajaan-kerajaan sekuler, bukan kembali ke tanah perjanjian. Ini fine, tidak masalah. Tim Keller, waktu bicara mengenai generosity, mengenai kita harus menyadari uang yang kita punya bukanlah milik kita, kita perlu memberi kepada orang lain, kita perlu melihat diri kita sebagai trust fund manager yang diberikan dana oleh Tuhan untuk kita salurkan, lalu ada yang bertanya, “Apakah itu berarti kita jangan cari rumah di tempat-tempat bagus, yang tanahnya mahal, tempat-tempat orang kaya; kita jadinya beli rumah yang gubuk sajalah, apartemen pun yang 2×3 meter sajalah, tidak usah gede-gede, karena uang kita untuk diberikan kepada orang lain?” Tim Keller menjawab begini: “Kalau kamu memang punya kemampuan finansial untuk tinggal di tempat-tempat mahal seperti itu, silakan tinggal di sana, tidak ada masalah.” Kenapa bisa begitu? “Karena kita butuh saksi-saksi Tuhan di tempat-tempat yang kaya, tidak cuma di tempat-tempat yang miskin.”
Saudara sekarang bisa melihat bahwa Daniel punya panggilan yang lain, itu sebabnya mungkin dia tidak pergi. Tetapi, meskipun ada jarak yang jauh, Daniel tetap melihat penderitaan umat Allah sebagai penderitaannya juga. Ini bukan baru terjadi sekarang, Daniel memang karakternya seperti itu, sebagaimana doanya di pasal 9 dia mengatakan ‘dosa kami, kami yang berdosa’. Dalam Perjanjian Baru, inilah yang Paulus resepkan untuk jadi sebuah antidot dari perpecahan jemaat. Dalam 1 Korintus 12 Paulus mengatakan, “Jika satu anggota menderita, semua anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita.” Ini antidot-nya perpecahan, yaitu solidaritas. Ini salah satu tugas dan fungsi Gereja yang kita sering kali kurang peka, yaitu kita dipanggil untuk memupuk suatu kepekaan, kesadaran, akan keadaan hidup umat-umat Allah di tempat-tempat lain; aware dengan apa yang terjadi di luar tembok-tembok gereja kita. Inilah yang Daniel sedang lakukan; dan ini sangat berkuasa. Ini adalah caranya surga dan bumi bergerak.
Cara kita melakukan hal ini bisa banyak macam. Ada gereja-gereja yang berusaha share beban misionaristis di daerah-daerah tertentu dalam doa syafaat yang setiap minggu berbeda. Yang kita lakukan di gereja ini, misalnya dengan mengunjungi langsung tempat-tempat itu dalam KKR Regional. Waktu kita pergi ke KKR Regional, saya perhatikan pembicaraan-pembicaraan kita di sana dan juga setelah pulang, otomatis memperbincangkan keadaan orang-orang di sana. Kita ditarik ke luar, membicarakan dan memperhatikan apa kekurangan-kekurangan mereka dan apa yang kita bisa lakukan untuk mengisi kebutuhan-kebutuhan tersebut. Itu terjadi secara otomatis, kita tidak melakukannya secara sadar. Namun memang inilah latihannya, ketika Gereja mulai ditarik ke luar dari self-centeredness untuk merasakan perasaan orang lain –solidaritas. Itulah yang terjadi secara keseluruhan; dan kita juga punya tanggung jawab untuk melakukannya secara individual. Solidaritas sangat dibutuhkan. Kita perlu solider kepada orang lain.
Cerita terakhir untuk menutup khotbah hari ini, mengenai seorang rekan hamba Tuhan yang sudah mengundurkan diri dari GRII, anggaplah namanya A. Dia pergi ke Bali untuk melayani orang-orang Sumba yang merantau ke Bali (dia sendiri asli Sumba). Dari nol dia membangun persekutuan di sana, berusaha cari jiwa sendiri, berusaha cari tempat untuk mereka bersekutu dan belajar firman Tuhan, dengan segala kesulitannya. Awalnya sudah dapat tempat yang cocok dan harganya pas, tiba-tiba ketika tuan tanahnya tahu ini untuk persekutuan orang Sumba, langsung di-cancel karena reputasi orang Sumba sangat jelek (teman saya pun mengaku hal ini). Pernah juga mendapat tempat lain, tapi kemudian atapnya runtuh, dsb. Begitu sulit. Lalu juga terkena banjir besar di Bali belum lama ini sebagaimana kita tahu. Bisa dibilang ini pelayanan yang bukan jatuh bangun tapi jatuh doang. Hal ini sudah berjalan beberapa tahun. Lalu kemarin saya didatangi seorang hamba Tuhan yang lain, anggaplah namanya B, masih di GRII. B mengatakan, “Lu ingat kan si A. Menurut Lu bagaimana kalau kita ajak dia balik ke GRII, kira-kira berapa persen kemungkinannya dia mau?” Saya jawab, “Cuma 2%-lah.” Si B ini kaget, dia rasa bisa 15-20%, karena dia merasa A ini salah langkah keluar dari GRII, dan sekarang pelayanannya mandek, dsb. Saya lalu menjawab, bahwa saya memang tahu pelayanan A susah, tapi saya tidak pernah menagkap kesan dia merasa pelayanannya ini salah; justru ini pelayanan yang susah dan dia merasa panggilannya ditemukan di sana, kita jadi cukup yakin itu benar, seandainya dia ke sana dan segala sesuatu oke, kita malah curiga. B tetap tidak sependapat. B ini pernah keluar dari GRII lalu kerja di pekerjaan sekuler dan dapat banyak uang, tapi dia merasa ada sesuatu yang kosong, maka dia kembali ke GRII jadi hamba Tuhan lagi. Jadi saya lalu mengatakan, “Jangan-jangan Lu proyeksikan perasaan Lu kepada A; tapi dia kayaknya ‘gak kayak Lu.” B masih tidak terima. Akhirnya saya tanya, “Gampangnya begini, kenapa sih kalau tidak ada growth, tidak sukses, berarti bukan Kerajaan Tuhan?”
Kita baru saja membahas kitab Daniel. Ada gambaran kerajaan-kerajaan dunia yang adalah emas, perak, tembaga, besi, bernilai tinggi di mata dunia, berguna tinggi di mata dunia, sementara Kerajaan Allah batu. Kerajaan-kerajaan dunia itu ada zaman keemasan, golden age, iron age, sementara Kerajaan Allah stone age. Inilah gambaran kitab Daniel mengenai Kerajaan Allah. Jadi saya tidak pernah merasa A ingin balik, saya tidak pernah merasa A merasa pelayanan tersebut salah meskipun susah; dan kalau pun sampai dia mengatakan, “Kayaknya ini salah, karena susah,” maka yang perlu kita katakan kepada dia adalah, “Lihat di Alkitab, Kerajaan Allah –pekerjaan Allah– itu seperti batu, bukan seperti emas atau besi,” dan mengatakan kepada B, “Kamu dan saya ini yang mungkin musti pindah ke dia, bukan dia pindah ke kita, kita ini kerajaan emas, kita ini kerajaan besi, mungkin kita ini bukan Kerajaan Allah, lho.” Mungkin kita ini yang sebegitu stresnya kalau tidak ada pertumbuhan dsb., dan langsung komplain ‘kenapa hidup sesusah ini??!’ Hal yang terbaik untuk kita katakan kepada A adalah: “Bertahanlah dan kuatkanlah hatimu, karena apa yang kau lakukan di sana sepertinya lebih mirip dengan gambaran pekerjaan Allah, gambaran Kerajaan Allah, dibandingkan kami.”
Setelah percakapan tersebut, saya sempat mengobrol dengan A mengenai percakapan dengan B, dsb., karena terus terang saya was-was jangan-jangan dia juga sebenarnya ragu-ragu. A lalu menjawab saya, “Jeth, thank you banget, engkau telah mengungkapkan secara sangat akurat perasaan hatiku, percakapan ini sangat menguatkan buat saya.” Di situ saya baru sadar sukacita dari memberi, karena orang Kristen dipanggil untuk memberi. Waktu kita bisa dipakai Tuhan seperti ini, menguatkan orang lain, solider dengan orang lain, sukacitanya keterlaluan. Di sisi lain, saya baru sadar betapa jarang saya melakukan hal ini, betapa jarang saya bersolider dengan orang lain, merasakan hati mereka, menguatkan mereka.
Saudara, berapa banyak orang di luar sana membutuhkan penguatan melalui solidaritas seperti ini? Berapa banyak orang di luar sana berjuang sendirian, berjuang oleh karena mereka tahu yang mereka lakukan benar, meskipun sulit, meskipun lemah, msekipun mereka ditinggalkan oleh orang-orang sekitarnya? Bukan cuma oleh orang-orang non-Kristen, tapi bahkan oleh sesama orang Kristen yang suka mengkritik, mengatakan, “Kamu banyak kesulitan, kamu susah cari jiwa, ini tidak berkembang, jadi kayaknya ini bukan kehendak Tuhan, deh.” Berapa banyak orang-orang seperti itu di luar sana yang butuh kekuatan dari kita? Dan, tahukah Saudara caranya kita belajar melatih kepekaan seperti ini? Dengan berdoa meratap, belajar berkabung dan berpuasa bagi keadaan orang-orang ini –berpuasa sebagaimana mereka berpuasa. Ini poinnya berpuasa. Puasa adalah dengan rela hati menyerahkan sebagian kenikmatan dan kelimpahan yang kita punya, demi kita bisa merasakan dan solider dengan umat Allah di tempat-tempat lain yang tidak pernah merasakan dan tidak pernah ada prospek bisa menikmati hal-hal tersebut.
Saudara, bukankah itu yang ultimately kita rayakan dalam Natal? Yang kita rayakan dalam Natal adalah Allah yang berpuasa. Allah yang menahan dari diri-Nya hal-hal yang memang hak-Nya, demi mengadopsi dan mengambil kondisi hidup orang-orang yang dikasihi-Nya, menjelma menjadi manusia, mengambil rupa seprang Hamba. Perkabungan dan doa puasa bukan cuma berakibat kita bisa jadi lebih solider dengan mereka, tapi juga membentuk kita jadi orang-orang yang berdiri teguh ketika kita tergoda untuk komplain, ngomel, terhadap situas-situasi hidup kita. Berpuasa mengingatkan kita untuk senantiasa bersyukur akan kasih karunia Tuhan pada hari ini, bahwa apa pun yang jadi perasaanmu, kasih karunia Tuhan itu cukup bagimu.
Yang terakhir, puasa mengingatkan kepada kita this world is not my home. Bumi is our home, tapi this world is not my home. Kita masih menantikan kota yang akan datang, yang arsiteknya dalah Tuhan sendiri. Kita sementara ini lebih siap menghadapi realitas hidup yang memang susah, karena kita tahu life isn’t a picnic.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading