Hari ini memasuki Masa Adven minggu ke-3; dan kita akan menghabiskan pembahasan kitab Daniel. Ini bukan ideal, karena masa Adven punya teks-teksnya sendiri. Meski demikian, ini bukan satu hal yang sembarangan, kitab Daniel sangat pas untuk perenungan masa Adven, khususnya pasal-pasal terakhirnya.
Enam pasal pertama kitab Daniel adalah bagian stories, bagian yang kita familier, kisah-kisah tentang mimpi Nebukadnezar, perapian, gua singa. Enam pasal berikutnya adalah bagian visions, di mana Daniel berubah peran dari seorang penafsir mimpi/penglihatan menjadi orang yang bermimpi dan mendapat penglihatan. Total ada empat visions di bagian ini, yang terakhir yaitu pasal 10, 11, 12. Ini visions yang paling panjang dan paling sulit. Pasal 10 yang sudah kita bahas barulah semacam introduksinya, belum masuk ke isi visions-nya sendiri. Pasal 10 membukakan seberapa besar perjuangan yang terjadi di latar belakang, dalam dunia yang tidak kelihatan, untuk visions tersebut bisa sampai kepada Daniel.
Sekarang kita masuk ke isi visions-nya di pasal 11, dan akhir dari visions tersebut di pasal 12. Satu warning, pasal 11-12 ini bagian yang sulit. Seorang sarjana Perjanjian Lama yang sangat berpengaruh dalam dunia biblika penafsiran abad 20, Herbert Leupold, sampai mengatakan bahwa pasal 11-12 ini sebaiknya dibahas di kelas bible study saja, karena dia tidak melihat ada cara untuk membuat pasal-pasal ini jadi khotbah Minggu. Ini karena pasal 11 penuh dengan nubuat sana sini, mengenai raja ini dan itu, pertempuran mereka, skandal-skandal mereka di sini-sana; dan itu baru tahap pertamanya, karena kita akan melihat empat tahap dalam nubuatan ini. Tidak heran Leupold angkat tangan, tidak bisa membahas bagian ini sebagai khotbah.
Kalau seorang Leupold saja tidak sanggup, lalu kenapa Pendeta Jethro berani amat?? Ada beberapa faktor. Pertama-tama karena dalam tradisi Leupold sendiri, khotbah-khotbahnya memang lebih singkat, cuma 20-30 menit. Alasannya kita akan tetap membahas bagian ini, karena ini bagian dari Alkitab; dan di sini kita senantiasa diingatkan bahwa prioritas tertinggi kita adalah membahas Firman Allah, titik. Bukan membahas Firman yang gampang, bukan membahas Firman yang mudah dicerna, bukan membahas Firman yang sesuai kehendak hati, bukan membahas Firman yang convenient, tetapi membahas Firman Tuhan, titik.
Saudara ingat ilustrasi yang pernah saya berikan, mengenai sepasang pria dan wanita yang sedang bergumul mau menikah. Mereka pasangan yang realistis, bukan pasangan yang menikah karena mabuk cinta. Mereka dari awal takut menikah karena tahu ada kemungkinan yang besar bahwa mereka tidak cocok secara personality, mereka orang yang berbeda, mereka punya kebutuhan emosional yang berbeda. Mereka sangat takut kalau menikah lalu ujungnya hanya berakhir dalam perceraian. Namun akhirnya si pria mengambil tangan si wanita, dan mengatakan, “Aku memang takut semua itu terjadi, tetapi aku akhirnya sadar ada satu hal yang aku lebih takut daripada semua itu, yaitu aku takut mengalami hidup ini, jatuh bangunnya, suka dukanya, bukan bersama kamu.” Ini adalah momen yang kita bisa bertanya ‘seperti itukah komitmen kita kepada Tuhan’, bahwa komitmennya adalah kepada Tuhan-nya, titik, di atas segala sesuatu yang lain?
Saudara, takut tidak nyaman itu wajar, takut hidup susah itu wajar. Takut dengar khotbah susah, itu juga wajar. Namun di atas semua itu kita punya satu takut yang ultimat, yaitu takut terpisah dari Tuhan. Bagi kita, lebih baik hidup susah bersama Tuhan, dibandingkan hidup nyaman tanpa Tuhan. Sebabnya kita bisa punya komitmen seperti ini, adalah karena Tuhan-nya sendiri juga kayak begitu. Dia prefer turun ke dunia, naik ke atas kayu salib, dan Dia melakukannya bukan sekadar untuk bayar lunas hutang dosa kita lalu cepat-cepat kabur; seperti kata Paulus, Dia datang untuk menyatukan diri-Nya dengan kita. Itu sebabnya kita, Gereja, disebut sebagai mempelai-Nya. Dia bersatu dengan kita dalam kematian, supaya kita boleh disatukan dengan-Nya dalam kebangkitan-Nya. Itulah Tuhan yang merasa lebih baik hidup susah bersama dengan kita, dibandingkan hidup nyaman tanpa kita. Jadi, dibandingkan hal seperti ini, apalah artinya khotbah susah yang kita akan dengarkan satu jam saja. Kita akan membahas pasal 11 dalam tiga tahap/fase, lalu diakhiri dengan pasal 12.
Yang pertama, kita membaca ayat 2-4 untuk melihat kira-kira seperti apa harusnya membaca bagian ini. Ayat 2-4: “Oleh sebab itu, aku akan memberitahukan kepadamu kebenaran. Sesungguhnya, tiga raja lagi akan muncul di negeri Persia, dan yang keempat akan mendapat kekayaan lebih besar daripada mereka semua. Ketika ia telah menjadi kuat karena kekayaannya, ia akan menghasut semuanya untuk melawan kerajaan Yunani. Kemudian seorang raja yang gagah perkasa akan muncul dan memerintah dengan kekuasaan yang besar serta berbuat sekehendak hatinya. Tetapi, baru saja ia muncul, kerajaannya akan pecah dan terbagi menurut keempat mata angin dari langit, namun bukan kepada keturunannya, dan tanpa kekuasaan seperti yang dimilikinya. Sebab, kerajaannya akan runtuh dan menjadi milik orang-orang yang lain.”
Saudara bisa lihat dari kalimatnya bahwa ini melanjutkan pasal 10; pasal 10 introduksinya, dan di pasal 11 kita baru membaca bahwa inilah yang malaikat Gabriel (atau siapapun itu) sampai susah payah datang kepada Daniel untuk memberitahukan. Yang menarik, dalam penglihatan terakhir ini wahyu yang dibukakan kepada Daniel tidak lagi menggunakan simbolisme-simbolisme, seperti binatang-binatang buas, domba, kambing jantan, dsb. dengan bahasa-bahasa yang fantastis. Dalam bagian ini ada identifikasi yang jelas, yaitu raja-raja Persia, raja-raja Yunani, dst. Jadi penglihatan terakhir ini boleh dibilang lebih jelas dibandingkan misalnya gambaran di pasal 7 (empat binatang buas), atau di pasal 8 (kambing jantan dan domba jantan). Dari empat penglihatan ini, semakin ke belakang semakin detail dan semakin jelas. Dengan demikian bukan hal yang sulit untuk melihat siapa persisnya tokoh-tokoh sejarah yang dimaksud dalam nubuat ini, bahwa ini praktis mengenai zaman yang kita sebut zaman intertestamental, zaman di antara akhir Perjanjian Lama sampai sebelum Perjanjian Baru.
Saudara bisa melihat hal tersebut misalnya di ayat 2, ada tiga raja lagi setelah Kores, lalu raja yang keempat lebih besar dan raja ini mulai cari gara-gara dengan kerajaan Yunani. Kita tahu dari sejarah dunia bahwa hal tersbeut memang benar. Kalau Saudara tahu sejarah dunia, atau pernah nonton film 300, itu adalah kisah ketika raja Persia yang keempat ini, Xerxes, mulai menyerang Yunani. Dialah yang cari ribut dengan Yunani, dan dia kalah dalam pertempuran Salamis tahun 480 SM. Ini dapat Saudara lihat di pasal 11 dengan jelas; dikatakan di ayat 3, muncul seorang raja yang gagah perkasa, kuasanya besar. Kita bisa mengatakan ini Aleksander Agung, karena di ayat 4 dikatakan baru saja ia muncul, kerajaannya pecah, dibagi-bagi menurut empat arah mata angin bukan kepada keturunannya. Hal ini merujuk kepada Aleksander Agung yang kita tahu mati muda, tidak punya anak, maka kerajaannya dibagi empat menurut arah mata angin kepada empat jendralnya.
Selanjutnya kita melihat tokoh yang baru lagi. Di ayat 5 ada raja dari negeri Selatan, di ayat 6 ada raja dari negeri Utara. Ini zooming-in lebih jelas lagi. Kalau tadi dikatakan ada kerajaan Aleksander Agung yang terpecah jadi empat, ini zooming ke dua dari kerajaan tersebut. Kerajaan Utara (utara dari Palestina) adalah dinasti Seleucid (Seleukia) di Syria atau Aram, daerah utara dari Palestina. Kerajaan Selatan (selatan dari Palestina) adalah dinasti Ptolemaik di Mesir. Keduanya adalah orang Yunani, yang memerintah di Syria dan di Mesir.
Ayat 5-20 ini adalah tahap pertama, menceritakan back and forth dinasti Utara dan dinasti Selatan. Pertanyaannya, kenapa pertempuran dua kerajaan ini yang jadi perhatian sebanyak 15 ayat, sementara kerajaan Aleksander Agung yang biasanya jadi sorotan malah lewat begitu saja cuma dua ayat tok? Ini karena daerah Israel (Palestina) menjadi bulan-bulanan di tengah-tengah pertikaian antara kerajaan Utara dan kerajaan Selatan ini, persimpangan tempat mereka bertempur; sedangkan kerajaan Aleksander Agung sepak terjangnya tidak terlalu banyak berpengaruh terhadap hajat hidup orang Yahudi di Palestina pada waktu itu. Dalam hal ini Saudara perhatikan satu hal, nubuatan ini bukanlah laporan komprehensif sejarah dunia pada waktu itu, ini nubuatan yang ada fokusnya, zooming-in terhadap hal yang secara langsung berdampak terhadap situasi kondisi umat Allah di Palestina pada waktu itu, setelah mereka kembali dari pembuangan. Ini hal yang kita perlu perhatikan dari awal.
Selanjutnya, yang menarik adalah bahwa keakuratan nubuat ini juga tidak dipertanyakan. Di ayat 2-5 Saudara lihat bahwa apa yang diberitahukan di sini, dengan akurat bisa kita verifikasi hari ini dari sumber-sumber sejarah yang lain. Kita bisa melihat dari tabel berikut ini mengenai apa yang terjadi dalam pencatatan buku-buku sejarah, yang kita lihat mengikuti cerita raja kerajaan Utara dan Selatan yang bertempur silih berganti, yang Saudara bisa runut dalam 20 ayat pertama Daniel 11.

Kita bisa bandingkan seberapa akuratnya yang dikatakan di sini dengan yang dikatakan dalam sejarah dunia, namun kita tidak akan melakukannya karena tidak ada waktu, lagipula keakuratan bagian ini tidak pernah jadi pertanyaan. In fact, bagian ini saking akuratnya, sampai-sampai orang-orang liberal yang tidak percaya nubuat, yang tidak percaya Alkitab adalah firman Tuhan, akhirnya mengatakan ini nubuat palsu –untuk menjelaskan keakuratan tersebut. Istilah kerennya adalah vaticinia ex eventu, nubuat yang sebenarnya adalah catatan sejarah yang ditulisnya setelah semua periode tersebut selesai, dan dituliskan dalam gaya bahasa nubuat. Jadi dugaan mereka bahwa orang yang menuliskan kitab Daniel bukanlah orang pada zaman Daniel, melainkan jauh setelahnya; dia sudah melihat semua ini terjadi, dia sudah melihat sejarahnya, lalu dia menuliskannya, tetapi dia menuliskan sejarah tersebut sebagai nubuat. Itulah cara orang-orang liberal menjelaskan tentang keakuratan nubuat ini. Kita akan coba jawab hal ini tapi tidak sekarang. Poinnya, ini bagian nubuat kitab Daniel yang cukup jelas dan paling nyambung dengan data sejarah dari sumber-sumber lain, sampai-sampai keakuratannya tidak dipertanyakan, sampai-sampai orang yang mau melawan Alkitab tidak mengatakan, “Ini detailnya ada yang salah”, dsb., tapi mengatakan, “Ini ditulis setelah selesai semuanya, maka bisa begitu akurat.”
Pertanyaan yang lebih perlu kita tanyakan bukanlah urusan keakuratannya, melainkan apa makna yang umat Allah perlu tarik dari semua ini? Dan sepertinya, maknanya bukan simply agar umat Allah jadi tahu tokoh mana dalam nubuat ini fit dengan tokoh sejarah yang mana. Jelas bukan itu poinnya, karena orang yang sudah mengakui keakuratan bagian ini pun tidak tentu bisa beriman kepada Tuhan, tidak menjadikan mereka mau percaya bahwa Alkitab adalah firman Tuhan, malah menjadikan mereka semakin berdalih dan mengeluarkan penjelasan-penjelasan untuk mempertahankan bahwa ini bukan nubuat, dsb. Jadi, kayaknya bukan poinnya untuk kita mengetahui bahwa ini akurat –setidaknya bukan cuma itu tok.
Kedua, kayaknya juga bukan poinnya kita main peta-petaan seperti itu, karena pembaca Daniel sendiri pada zamannya tidak punya sumber-sumber sebagaimana kita punya hari ini. Kita ini orang-orang modern yang sudah lewat jauh dari masa tersebut. Kita sudah studi sejarah ratusan tahun sehingga bisa kilas balik ke belakang dan melihat secara cukup komprehensif bahwa sejarah dunia memang persis sama dengan yang dituliskan di Alkitab; sedangkan audience utamanya Daniel, orang-orang pada zamannya, belum mengalami semua itu. Mereka belum bisa melihat nubuat ini ternyata begitu akurat. Dan kalau kita mau argue, kita bisa saja include orang-orang yang hidup pada periode tersebut dan sedang mengalami zaman tersebut, bahwa mereka bisa mulai melihat nubuat Daniel begitu akurat dengan yang mereka lihat dalam situasi hidup mereka, tetapi 20 ayat tadi persisnya membahas kira-kira 350 tahun! Jadi, meskipun ada sebagian orang yang bisa melihat sebagian nubuat tersebut pas banget dengan yang terjadi pada zaman mereka, itu cuma sangat sedikit sekali dibandingkan orang-orang yang hidup dalam zaman selama periode 350 tahun ini. Lagipula, ini baru nubuatan tahap pertama, masih ada bagian-bagian berikutnya yang masuk ke zaman setelahnya lagi. Rentang waktu ini sangat panjang; antara Daniel sampai Yesus Kristus kira-kira 600 tahun.
Ini membuat kita menyadari satu hal, walaupun ini nubuat yang mencengangkan dan kita bisa bikin pemetaannya secara akurat dengan sejarah dunia, itu bukan poin utamanya, paling banter cuma poin pendukung bagi poin utamanya. Lalu poin utamanya apa, itulah yang perlu kita tanyakan. Dan, jawabannya datang dengan kita menyadari bahwa nubuat ini merupakan catatan yang selektif, punya fokus, bukan komprehensif. Saudara pikir saja, periode 350 tahun disingkat jadi 20 ayat, itu berarti buanyaakk sekali yang dibuang, itu berarti dari 20 ayat ini punya fokus yang sangat setajam laser. Apa fokusnya? Paling gampang Saudara bisa melihat fokus yang cukup jelas lewat hal yang diulang terus-menerus dalam ayat-ayat ini.
Saya akan spoiler langsung dari awal mengenai tema pengulangan yang jadi fokus penting dalam bagian ini, yaitu tema kitab Pengkhotbah, kesia-siaan. Atau, seperti Mazmur 2 katakan, “Kenapa sih kerajaan-kerajaan dunia rusuh, mereka mereka-rekakan perkara yang sia-sia” –kesia-siaan. Kita akan melihatnya secara cepat dalam ayat-ayat berikut ini.
Ayat 4, tentang Aleksander Agung, dikatakan baru saja ia muncul, kerajaannya pecah dan terbagi-bagi, runtuh jadi milik orang lain. Ayat 6b, tentang seorang putri (kemungkinan ini tokoh bernama Berenice dalam sejarah), dikatakan putri itu tidak berhasil keturunannya tidak dapat bertahan. Ayat 9, raja ini akan memasuki kerajaan raja negeri Selatan, tetapi kemudian pulang ke negerinya sendiri. Ini adalah Seleucus II yang invasi ke Mesir namun gagal dan ia harus pulang kampung. Saudara mulai menangkap polanya?
Ayat 11, ia mengerahkan sejumlah tentara besar, dan tentara besar itu akan jatuh ke tangan musuhnya. Ini adalah Antiochus III menurut catatan sejarawan Polibios. Antiochus III ini menyerang kerajaan Selatan dengan 62.000 tentara infantri, 6.000 tentara berkuda, 102 gajah perang, namun semua tentara ini malah jatuh ke tangan musuhnya, Ptolemy IV. Ayat 12, walaupun ia telah menewaskan berlaksa-laksa orang, ia tidak akan mempunyai kekuatan. Ini adalah Ptolemy IV, yang setelah menang lalu dia hidup berfoya-foya, menurut catatan sejarah, dan akhirnya dia kehilangan kuasa.
Ayat 14, orang-orang yang lalim dari bangsamu akan membesarkan diri, sehingga penglihatan itu menjadi kenyataan, tetapi mereka akan tergelincir. Ayat 17, seorang puterinya diberikannya kepadanya untuk menghancurkan kerajaan itu, tetapi maksudnya itu tidak akan berhasil dan tidak akan menguntungkannya. Ayat 18, ia akan memalingkan mukanya ke tanah-tanah pesisir dan banyak yang direbutnya; tetapi seorang panglima akan menghentikan penghinaannya itu, bahkan akan mengembalikan penghinaan itu kepadanya. Ayat 19, sesudah itu ia akan memalingkan mukanya ke kota-kota benteng di negerinya sendiri; tetapi ia akan tergelincir dan jatuh dan tidak akan ditemukan lagi. Ayat 20, Menggantikan dia akan muncul seorang yang menyuruh seorang pemungut pajak menjalani bagian yang terindah dari kerajaan itu, tetapi beberapa hari kemudian ia akan dibinasakan, bukan oleh kemarahan atau oleh peperangan. Saudara sudah menangkap polanya?
Saudara lihat, yang jadi poin dari nubuat ini tidak cuma data sejarah, meskipun Saudara bisa verifikasi kalau mau. Yang jadi poin di sini, bahwa nubuat ini sedang membaca sejarah, dan mengeluarkan dari dalamnya nuansa kesia-siaan. Seperti kata Shakespeare, ini much ado about nothing. Ini bisa kita baca dalam dua cara. Di satu sisi Saudara bisa membaca narasi ini exactly adalah berita, yang kalau kita sebagai umat Allah membacanya, mungkin membuat kita ketakutan, cemas, panik. Ini berita-berita mengenai perang, desas-desus peperangan, satu lagi raja ini bangkit, satu lagi raja itu berkuasa, menginjak-injak orang, entah lewat militer atau lewat kelicikan; inilah berita yang bikin kita panik. Tetapi, di sisi lain narasinya adalah bahwa semua ini ujungnya digambarkan hanya sebagai pasang air laut yang datang hanya untuk pergi, naik hanya untuk turun. Dan, walaupun itu semua terjadi terus-menerus, pada akhirnya tidak ada hasilnya, nihil. Kuasa duniawi berayun ke kiri ke kanan silih berganti, tetapi tidak pernah menetap secara permanen. Dengan demikian tujuan nubuat Daniel 11 ini menunjukkan kepada kita bahwa dunia yang telah jatuh, kerjanya menjaring angin.
Yang menarik lagi, kalau kita nyontek ke nabi yang lain, Habakuk misalnya, dia menggemakan tema yang sama, bahkan lebih jelas. Habakuk 2:13, “Sesungguhnya, bukankah dari TUHAN semesta alam asalnya, bahwa bangsa-bangsa bersusah-susah untuk api dan suku-suku bangsa berlelah untuk yang sia-sia?” Bukankah dari Tuhan semesta alam asalnya bahwa bangsa-bangsa ini rusuh satu dengan yang lain, mengerjakan hal yang sia-sia?? Saudara bisa menangkap makna dari bagian ini? Ini bukan bagian yang diberikan untuk membuat hidup kita tambah susah. Waktu Pendeta Eko khotbah membahas kitab Daniel, dia mengatakan kitab Daniel sesungguhnya sangat encouraging. Kita bisa meng-amin-kan ini waktu membaca bagian stories-nya, dan sekarang kita juga bisa meng-amin-kan waktu membaca bagian visions-nya. Betapa ini satu berita yang sangat encouraging, bahkan menghibur bagi umat Allah; dan bukan cuma umat Allah dalam periode 350 tahun itu tapi juga bagi umat Allah sepanjang zaman, karena yang diberikan di sini bukan sekadar data sejarah tertentu, melainkan kacamata untuk membaca sejarah dengan cara tertentu.
Saudara, betapa sering umat Allah sepanjang zaman menemukan diri mereka terjepit, minoritas, di antara gerigi kerajaan-kerajaan dunia, dan kita merasa cuma jadi wasit rempeyek di tengah-tengah petinju-petinju kelas berat. Tetapi, yang teks ini bukakan, bahwa Allah adalah Allah yang berkuasa di atas semua itu; dan bahwa penghakiman-Nya atas kerajaan-kerajaan ini bukan cuma nanti, bukan cuma di akhir zaman ketika domba-domba dipisahkan dari kambing-kambing. Yang terjadi bukanlah kerajaan-kerajaan dibiarkan merajalela seleluasa mereka lalu nanti baru dibereskan di akhir zaman. Tidak seperti itu. Bahkan sekarang ini, di dalam sejarah –bukan cuma di akhir Sejarah–Allah sedang bekerja. Allah sedang memberikan kesia-siaan sebagai upah bagi kerajaan-kerajaan dunia yang meninggikan diri mereka dan menaikkan diri di atas orang-orang lain, sehingga rencana-rencana mereka pada akhirnya selalu berujung pada kegagalan, kefrustrasian, dan kehancuran. Inilah poinnya.
Teks ini tidak menjamin sih bahwa Allah akan selalu bekerja seperti ini atau bekerja melalui apa yang kita bisa lihat, namun teks ini, dengan contoh-contohnya yang diulang terus-menerus, membuat kita menyadari inilah kecenderungan yang Tuhan pakai dalam berhadapan dengan kerajaan-kerajaan dunia. Mungkin lebih sering daripada yang kita sangka, Dia bukan cuma menghakimi kerusuhan bangsa-bangsa, tapi juga menghakimi melalui rusuhnya bangsa-bangsa itu. Demikian tahap yang pertama, yang kita bisa lihat polanya dengan jelas.
Tahap kedua, ayat 21-35. Di sini kita bertemu dengan seorang penguasa lain. Tokoh ini tidak pernah disebutkan sebagai raja, dia hanya disebut sebagai ‘orang yang hina’ (ayat 21). Ini adalah tokoh baru bernama Antiokhus Epifanes IV. Dia sebenarnya tidak berhak jadi raja. Dia licik berhubung dia naik takhta sebagai perwakilan dari keponakannya yang harusnya jadi raja tapi masih di bawah umur, namun lima tahun kemudian keponakannya itu mati secara misterius.
Kalau Saudara lihat bagian sebelumnya ada 20 ayat membahas entah berapa raja yang silih berganti, dalam tahap kedua ini 15 ayat hanya fokus pada satu figur saja. Jadi 355 tahun hanya ditulis dalam 19 ayat, dan di bagian ini 15 ayat cuma untuk 12 tahun (175-163 SM) masa berkuasa Antiokhus Epifanes IV. Kenapa nubuat ini makin zooming-in, berfokus begitu intens pada Antiokhus Epifanes IV? Ini karena Antiokhus pada dasarnya figur yang jadi bahaya begitu besar terhadap komunitas Yahudi di Palestina (sekali lagi, tulisan ini selektif, berfokus sangat jelas pada nasib umat Allah). Saudara bisa baca hal ini di ayat 29-30: Pada waktu yang ditetapkan ia akan memasuki lagi negeri Selatan, tetapi kali ini tidak akan sama dengan yang pertama. Sebab, kapal-kapal orang Kitim akan datang melawan dia sehingga hilanglah keberaniannya. Ia lalu pulang dengan dendam terhadap Perjanjian Kudus, dan bertindak. Ia akan pulang dan menunjukkan perhatiannya kepada mereka yang meninggalkan Perjanjian Kudus.
Perhatikan, dikatakan ‘ia memasuki lagi negeri Selatan’, ini kerajaan Utara (Seleucid) yang berusaha invasi ke Mesir; ‘tetapi, kali ini lain, karena ada kapal-kapal orang Kitim’, ini merujuk pada orang Romawi. Jadi pada waktu itu kerajaan Romawi sudah mulai berdiri. Orang-orang Romawi pada zaman itu, zaman di mana kerajaan Romawi masih begitu kuat dan agung, adalah Romawi yang stoik, bukan Romawi yang satanic seperti zaman Nero dsb. Antiokhus pada masa kecilnya pernah tinggal bersama orang Romawi, jadi sandera politik orang Romawi, maka dia mengenal sifat orang-orang Romawi yang sangat stoik. Mereka itu orang-orang pemimpin, mereka mempraktikkan self-control dalam stoicism, tidak foya-foya, tidak minum-minum, karena mereka tahu tanggung jawabnya adalah memimpin orang. Jendral Romawi pada zaman itu kalau pulang perang dan menang, mereka tidak diberi hadiah uang atau kemuliaan atau jabatan, mereka cuma diberikan rangkaian bunga di kepala. Itu saja. Tradisinya, mereka lalu diarak di kota dengan kereta yang ditarik empat kuda, tetapi selagi mereka dielu-elukan rakyat, di belakang mereka ada seorang budak yang mengikuti dan mengucapkan kalimat yang sama terus-menerus, “Memento mori!” artinya ‘ingat, kamu cuma manusia, kamu itu fana’.
Itulah jendral Romawi; dan salah satunya yang terkenal serta menjadi ideal adalah Jendral Cincinnatus. Dia seorang petani yang dipanggil Senat Roma untuk memimpin tentara Romawi berperang. Dia patuh, dan pergi. Setelah menang, dia pulang dan kembali bertani. Dia tidak ambil kesempatan dengan modal politik karena menang perang lalu ambil posisi serta kekuasaan, dsb., dia pulang dan kembali bertani. Lalu waktu Senat Romawi memanggil dia lagi untuk berperang, dia taat, dia pergi lagi. Setelah selesai, dia pulang dan bertani lagi. Itulah Cincinnatus. Di Amerika ada kota bernama Cincinnati, yang mengambil namanya dari Cincinnatus, karena pada awalnya jendral-jendral perang Amerika banyak membaca dan mengambil ideal dari Romawi stoik ini. Salah satu yang paling terkenal adalah George Washington. Waktu George Washington memimpin tentara Amerika berperang melawan Inggris, setelah selesai perang dia pulang. Sampai kemudian Senat Amerika memanggil dia untuk jadi presiden, dan dia taat. Setelah dua kali jabatan, dia mengundurkan diri dan pulang untuk bertani lagi.
Kembali ke Antiokhus. Antiokhus dalam masa kecilnya hidup bersama orang Romawi sebagai sandera politik, dia tahu seberapa agung karakter orang Romawi. Setelah besar dan berkuasa, dia pergi menyerang Mesir. Orang Romawi tidak senang, karena sebagai orang stoik, orang-orang Romawi melihat dirinya sebagai penjaga kedamaian, maka mereka mengirim salah satu jendralnya kepada Antiokhus, dan mengatakan, “Antiokhus, hentikan invasimu. Kamu mengacaukan dunia. Situasi politik tidak jadi bagus. Kamu harus berhenti, pulang ke tempatmu. Kalau tidak mau pulang, kamu akan dianggap musuh oleh Senat Romawi.” Antiokhus berusaha mengelak, dia mengatakan, “Coba beri saya waktu untuk bicarakan dulu dengan penasihat-penasihat saya.” Jendral Romawi itu lalu mengambil kapur, menggambar lingkaran mengelilingi kaki tempat Antiokhus berdiri dan mengatakan, “Silakan pakai waktu. Jangan coba-coba keluar dari lingkaran itu sampai engkau meberikan jawabannya kepada saya.” Intimidasinya lumayan, ya. Antiokhus langsung ciut, hatinya kecut, dan sebagaimana Saudara baca di bagian ini dia kehilangan keberaniannya lalu pulang. Namun dia pulang dengan dendam. Dia telah dipermalukan oleh Romawi, maka dia melampiaskan kemarahan ini kepada kelompok orang pertama yang dia temui dalam arah pulang dari Mesir ke Syria. Yaitu siapa? Palestina, orang-orang Israel, umat Tuhan.
Apa yang dia lakukan? Dia melakukan pembersihan Yudaisme secara total. Dia mengganti imam besar Israel dengan orangnya sendiri yang bukan keturunan Harun, yang berjanji bisa memberikan uang ekstra dari perbendaharaan Bait Allah. Dia menetapkan hukuman mati bagi orang-orang yang menyunatkan anaknya, yang membawa persembahan kepada Yahweh. Orang yang menjaga Sabat, dihukum mati juga. Orang yang kedapatan membaca gulungan kitab Taurat juga dihukum mati. Di ayat 31, dia menajiskan tempat kudus, mendirikan Kekejian yang Membinasakan (Abomination of Desolation); ini sepertinya merujuk pada saat Antiokhus mempersembahkan babi di atas mezbah Bait Allah. Masih banyak lagi kekejian yang dia lakukan.
Saudara bisa lihat sebabnya perlu fokus yang besar terhadap tokoh ini, karena ini adalah masa kesusahan besar yang paling intens dalam sejarah Israel, sehingga umat Allah perlu tahu ini in advance. Bukan untuk mereka bisa imun terhadap Antiokhus, melainkan untuk mereka bisa dikuatkan menghadapi masa yang sedemikian gelap. Namun sekali lagi, dalam hal ini bukan cuma kita mendapatkan message bahwa akan ada banyak kesusahan, tetap ada sisi yang sebaliknya juga. Ada pola yang sama seperti bagian yang pertama.
Perhatikan ayat 24: Tanpa diduga ia memasuki daerah-daerah yang paling subur dari negeri itu, dan melakukan apa yang belum pernah dilakukan … . Ia akan menghamburkan rampasan, jarahan, dan harta di antara orang-orangnya, juga membuat siasat di tempat-tempat yang berbenteng, tetapi hanya untuk sementara waktu. Ada waktu-nya, appointed time, set time. Ayat 27: Kedua raja itu bermaksud jahat, dan ketika mereka duduk bersama di satu meja, mereka akan saling membohongi. Tetapi, hal itu tidak akan berhasil, sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang ditetapkan (appointed time). Ayat 29: Pada waktu yang ditetapkan ia akan memasuki lagi negeri Selatan, tetapi kali tidak akan sama dengan waktu yang pertama (kata ‘waktu’ di sini hilang dalam terjemahan bahasa Indonesia). Ayat 35: Sebagian dari orang-orang bijaksana itu akan jatuh, supaya dengan demikian diadakan diuji, dimurnikan, dan disucikan sampai akhir zaman. Sebab akhir zaman itu belum mencapai waktu yang telah ditetapkan. Saudara lihat ‘appointed time’ ini berkali-kali dalam bagian ini. Omong-omong, ‘akhir zaman’ di ayat 35 itu menurut para sejarawan alkitab bukan akhir zaman dunia melainkan akhir dari era Antiokhus ini.
Jadi, memang ada refrein yang memperlihatkan bagian-bagian ini memberitakan suatu cerita keadaan dunia yang kacau dan tambah kacau, tetapi ternyata dalam zaman yang sangat kacau ini, semuanya itu merupakan waktu yang telah ditetapkan. Antiokhus IV sebagaimana raja-raja Utara dan Selatan sebelumnya, kelihatannya menghempas sana-sini seperti kambing jantan dan domba jantan yang dikendalikan oleh insting dan bukan logika, tetapi secara misterius samua ini ada di bawah penentuan Tuhan, di bawah ketetapan waktu Tuhan, tidak pernah melebihi dan tidak akan melampauinya. Ini message-nya.
Di Melbourne, kalau Saudara sewa truk buat camping atau pindahan, biasanya ada yang namanya speed governor atau speed limiter. Ini beda dari cruise control yang Saudara tentukan sendiri, yang kalau Saudara injak gas melebihinya maka cruise control-nya mati dan mobil Saudara bisa akselerasi, sedangkan speed governor atau speed limiter benar-benar menghalangi mesinmu melewati batas kecepatan tertentu. Jadi kalau Saudara naik truk seperti itu dan sedang antri di belakang truk yang lain, lalu karena jalurnya kosong Saudara mau melewati dia, Saudara mulai nge-gas ambil ancang-ancang, tapi begitu sampai di samping dia ternyata sampailah batas kecepatannya, maka mesinnya langsung tidak bisa lebih cepat lagi, Saudara jadi jejeran dengan truk itu sepanjang jalan dan akhirnya musti mengalah, mundur lagi. Tidak bisa melampaui itu. Begitulah basically yang kita lihat di bagian ini, Antiokhus IV sesungguhnya cuma bisa berfungsi di bawah limiter, di bawah waktu yang Tuhan tetapkan. Di dalam masa kekacauan pun, itu ternyata punya Tuhan sebagai pemegang kendalinya.
Tahap yang ketiga, ayat 36-45. Ini bagian terakhir dari pasal 11, yang beralih kepada figur lain lagi, seorang raja yang lebih parah lagi dibandingkan Antiokhus Epifanes IV.
Omong-omong, transisi dari ayat 35 ke bagian ini tidak terlalu jelas, sehingga banyak orang mengatakan ini kayaknya masih bicara tentang Antiokhus. Selain itu, memang seperti ada paralel antara bagian sebelumnya dan bagian ini. Tetapi, perhatikan satu hal, Antiokhus tidak pernah disebut sebagai raja, dia disebut ‘orang hina’ sementara figur di ayat 36 ini disebut raja, jadi kayaknya ini bukan Antiokhus. Ayat 36-37 menceritakan kerohanian raja ini, dia tidak mau menyembah dewa mana pun, dia mengangkat dirinya sebagai dewa; dan ini bukan Antiokhus karena nama Antiokhus Epifanes artinya melampaui dewa (dewa yang tertinggi) tapi dia masih menyembah Zeus, sedangkan raja yang ini tidak. Ayat 40-44 adalah sepak terjang militer raja ini, dia sampai menguasai Mesir dan Libia, sedangkan Antiokhus tidak pernah menguasai sampai sejauh itu. Ayat 45 tentang akhir hidupnya dikatakan ‘ia akan mendirikan kemah kebesarannya di antara laut dan Gunung Permai’, berarti ini daerah tanah perjanjian (Israel), dan mati di situ, sedangkan Antiokhus tidak mati di Israel, kemungkinan besar di Persia. Jadi, detail-detail dalam tahap ketiga ini tidak cocok dengan diri Antiokhus.
Tadi kita menyebutkan ada orang-orang liberal yang mengatakan semua ini bukan nubuat asli, cuma catatan sejarah yang ditulis seakan-akan nubuat, demikian dalih mereka sebagai sebabnya bagian ini bisa begitu akurat. Kalau begitu, mereka mengatakan bagian ini ditulisnya kapan? Bukan pada zaman Daniel tapi pada zaman Antiokhus Epifanes IV. Pada titik ini sudah 450 tahun setelah Daniel, kira-kira 150 tahun sebelum Kristus. Kenapa mereka menaruh penulis kitab Daniel di masa Antiokhus? Karena dalam tahap pertama dan kedua yang kita sudah lihat itu prediksi-prediksinya sangat akurat (maka mereka mengatakan pasti si penulis berdiri di titik ini dan melihat ke belakang), sedangkan setelah ayat 36-45 datanya sama sekali tidak fit dengan Antiokhus, dengan sepak terjang dan kematiannya. Dengan demikian, teori mereka adalah: penulis kitab Daniel memberikan sejarah sampai dengan Antiokhus Epifanes IV, karena memang penulisnya hidup pada zaman itu; lalu setelah itu, si penulis berusaha membuat prediksi beneran mengenai Antiokhus Epifanes IV, tapi gagal, karena memang tidak ada nubuat asli, maka ‘gak nyambung sama sekali. Inilah yang orang-orang liberal katakan. Menurut mereka, inilah buktinya tidak ada nubuat asli, si penulis berusaha membuat nubuat tapi prediksinya ternyata gagal total. Penjelasan yang menarik dan kayak masuk akal, tapi sebenarnya juga penjelasan yang gagal total. Alasannya simpel, kalau benar ayat 36-45 ini prediksi yang gagal total, kalau benar ayat 36-45 ini bicara mengenai hidup Antiokhus, yang orang-orang Israel sezaman itu lalu bisa lihat ternyata melenceng jauh dari prediksinya, kenapa orang-orang Israel masih tetap mengambil kitab Daniel sebagai bagian dari kanon Perjanjian Lama?? Saudara tentu mengerti maksudnya.
Kitab Daniel itu ditinggikan sampai pada zaman Yesus Kristus. Bukan saja Tuhan Yesus mengutip banyak dari kitab Daniel, tulisan-tulisan orang Yahudi pada sekitar zaman tersebut juga sangat menganggap tinggi kitab Daniel. Jadi penjelasan orang-orang liberal tadi gagal total. Itu sebabnya penafsir-penafsir Alkitab yang konservatif mengambil deskripsi ayat 36-45 ini dengan mengacu pada raja yang lain, bukan Antiokhus Epifanes IV. Siapa raja ini? Kita tidak tahu secara pasti, dan tidak semua orang setuju, namun kemungkinan ini mengacu pada Raja Herodes Agung. Ini membawa kita sampai ke zaman persis sebelum Yesus lahir, atau persis ketika Dia lahir.
Kenapa orang-orang konservatif melihatnya demikian? Karena di ayat 44 dikatakan: berita dari timur dan dari utara akan mengejutkan hatinya, sehingga ia akan keluar dengan kemarahan besar untuk memusnahkan dan membinasakan banyak orang. Berita dari timur mengingatkan pada kitab Lukas mengenai orang-orang manus dari Timur yang mengabarkan kelahiran Raja Israel di Betlehem. Kita ingat reaksi Herodes, dia sangat kaget dengan berita ini, lalu membantai bayi-bayi berumur dua tahun ke bawah (The Massacre of the Innocents), seperti yang dikatakan di sini ‘dengan kemarahan besar untuk memusnahkan dan membinasakan banyak orang’. Jadi ada dugaan raja itu adalah Herodes. Namun sekali lagi, Saudara lihat pola yng sama di sini. Di satu sisi, siapa pun raja ini, dia adalah raja yang bengis, yang kacau, yang bisa dibilang lebih parah daripada Antiokhus Epifanes IV, tapi akhirnya adalah di ayat 45: Ia akan mendirikan kemah kebesarannya …, tetapi ia akan menemui ajalnya dan tidak ada seorang pun yang menolongnya. Kembali pola tadi berlanjut.
Kita masuk ke pasal 12, melihat bagaimana nubuat ini diakhiri. Ayat 1: Pada waktu itu juga akan muncul Mikhael, pemimpin besar yang akan mendampingi anak-anak bangsamu. Akan ada waktu kesesakan yang besar, suatu yang belum pernah terjadi sejak ada bangsa-bangsa sampai pada waktu itu. Di bagian ini kita tidak akan bahas secara detail, tapi Saudara bsia menangkap polanya. Yang pertama, dari tiga fase tadi dan sekarang fase yang keempat, makin ke belakang yang tadinya kita poikir sudah cukup ancur, ternyata masih ada yang lebih ancur lagi.
Di pasal 12 ini kita menemukan klimaks dari nubuat ini, bahwa inilah momen yang terakhir, momen tahap keempat, ketika Mikahel, malaikat umat Allah itu, muncul. Tetapi lihat, apa efek yang terjadi? Setelah Mikhael hadir, situasi tambah parah, akan ada kesesakan besar yang belum pernah terjadi sebelumnya! Artinya, tiga tahap yang tadi belum ada apa-apanya dibandingkan sekarang yang lebih parah lagi. Momen ketika Allah mulai mengerahkan malaikat-Nya, mulai menjalankan keselamatan final-Nya, adalah momen yang justru terjadi kesesakan besar yang belum pernah muncul sebelumnya. Kacau, ya. Tetapi inilah polanya, sama.
Sampai kapan ini terjadi? Ayat 6: Lalu salah seorang bertanya kepada yang berpakaian linen dan ada di sebelah atas air sungai itu: “Kapankah hal-hal ajaib ini akan berakhir?” Lalu orang itu menjawab, ayat 7: “Satu masa dan dua masa dan setengah masa. Setelah berakhir kuasa perusak bangsa yang kudus itu, semua hal ini akan digenapi!” Di sini semua orang akan menghela napas lega, perusak bangsa kudus itu akan diberesin, setelah itu semuanya akan selesa. Tetapi Saudara, I’m sorry, ini salah terjemahan. Ayat aslinya persis kebalikannya. Alkitab TB1 dan TB 2 sama-sama salah terjemahan; yang dikatakan sebenarnya di sini bukan ‘setelah kuasa perusak bangsa kudus itu berakhir’ melainkan ‘setelah kuasa bangsa yang kudus itu rusak’. Saudara silakan cek bahasa aslinya, ESV, NASB, NIV, semuanya mengatakan yang sama, yaitu ‘until the power of the holy people has been finally broken’. Ini begitu counter intuitif. Saudara bisa mengerti kenapa orang bisa salah terjemahan, karena ekspektasi kita adalah akhir zaman itu tiba ketika kuasa perusak orang kudus dipatahkan, dong. Harusnya kayak begitu ‘kan, kenapa malah terbalik?? Kenapa malah akhir zaman tiba ketika kuasa orang-orang kudus Allah itu yang rusak?? Aneh, ‘kan. Tetapi sekali lagi, polanya masih sama; ini zaman di mana kesusahan besar, kerusakan besar itu, makin tiba, sampai-sampai kuasa dari God’s holy people itu broken.
Kita lanjutkan dulu. Di ayat 8 Daniel sendiri bertanya, “Tuanku, apakah akhir segala hal ini?” Lalu di ayat 11 dijawab: Sejak kurban sehari-hari dihentikan dan berhala “Kekejian yang Membinasakan” itu ditegakkan, ada seribu dua ratus dan sembilan puluh hari. Apa maksudnya 1290 hari itu? Penjelasan yang paling bagus yang bisa kita dapatkan adalah 1290=3×430, dan 430 adalah jumlah tahun Israel diperbudak di bawah Mesir. Jadi 1290 hari sepertinya simbolisme, bahwa yang trerjadi di sini sebegitu parah sampai kesesakan besar ini digambarkan sebagai tiga kali lipat lebih parah daripada perbudakan yang Israel alami di bawah Firaun. Meski demikian, perhatikan sebagai bagian dari jawabannya, bahwa ini adalah masa di mana banyak orang akan disucikan, dimurnikan, diuji (ayat 10). Jadi, tahap yang keempat ini adalah keadaan yang klimaks ancur, namun juga adalah klimaks dari rencana keselamatan Tuhan (hadirnya Mikhael); dan ini juga bagian dari proses pemurnian yang Tuhan berikan bagi umat-Nya. Dua-duanya pada saat yang sama. Saudara lihat, polanya sama. Tahap pertama, kedua, ketiga, dan keempat semuanya sama. Keadaan makin lama makin ancur, makin ancur, dan makin ancur, tetapi di balik itu ada tangan Tuhan somehow.
Message apa yang mau diberitakan lewat gambaran-gambaran ini? Kita bisa melihat dengan sangat jelas, bagi orang-orang Yahudi yang sedang dihempas kiri kanan depan belakang oleh raja-raja tersebut, sadarilah bahwa tidak pernah ada dasar untuk kita expect hidup sebagai umat Allah itu selalu baik-baik, selalu naik ke atas. Tuhan Yesus sendiri memperingatkan murid-murid-Nya di Mat. 24:6, “Kamu, murid-murid-Ku, akan mendengar kabar deru perang, bangsa akan bangkit melawan bangsa, kerajaan melawan kerajaan. Akan ada kelaparan dan gempa bumi di berbagai tempat.” Sadarilah ini. Ini realitas kita sebagai umat Tuhan. Hidup kita tidak gampang. Tetapi di sisi lain, pada saat yang sama, dalam momen yang sama, melalui momen kesesakan yang besar ini, Tuhan Yesus mengatakan, “Akan tetapi semuanya itu barulah permulaan penderitaan menjelang zaman baru.” Inilah pola yang kitab Daniel tekankan kepada kita.
Sesungguhnya sering kali di dalam Alkitab, momen Allah memulai suatu tindakan penyelamatan adalah momen di mana segala sesuatu jadi tambah parah. Mikhael muncul, kesesakan besar malah muncul. Ini bukan hal yang baru. Ketika Musa datang ke Firaun, momen pertama rescue Allah terhadap umat-Nya mulai dijalankan, dampaknya adalah Firaun mempersulit hidup orang Israel, kuota pekerjaan mereka ditambah, jerami mereka dikurangi. Pada zaman Simson dibangkitkan Tuhan (kitab Hakim-hakim), itu adalah momen orang Israel di bawah orang Filistin tetapi mereka tidak lagi berteriak kepada Tuhan, maka Tuhan membangkitkan Simson untuk cari gara-gara dengan Filistin. Ironisnya, orang Israel marah kepada Simson karena ulahnya itu membuat hidup mereka malah tambah susah.
Saudara, ini hal yang kita perlu dengar hari ini, karena umat Allah di dalam Gereja sering kali berespons terhadap perubahan dalam hidup ini dengan langsung berusaha menilai/berspekulasi ini sesuai atau tidak dengan kehendak Tuhan berdasarkan –apa lagi kalau bukan– ‘situasi tambah baik atau tambah jelek, Pak?’
Tiga tahun lalu Gereja GRII Kelapa Gading ganti gembala dari Pdt. Billy Kristanto kepada Pdt. Jethro Rachmadi. Lalu Saudara hari ini mengatakan, “Puji syukur kepada Tuhan bahwa Pdt. Jethro yang jadi gembala”, kenapa? “karena angka yang datang kebaktian naik; jadi ini keputusan tepat!” Saudara, saya tidak pernah bersyukur karena hal itu. Bedanya apa kita dengan teologi sukses kalau bersyukur seperti itu?? Saya justru sangat ngeri waktu perpindahan ini terjadi, lalu angkanya naik di bawah saya, lalu orang-orang merasa nyaman karena angkanya naik, karena jadinya kita tidak pernah belajar merelatifkan cara pandang kita. Kita malah merasa semakin diteguhkan untuk ‘saya menilai berdasarkan situasi’, ‘saya bisa menilai yang benar atau tidak benar menurut mata manusia’, ganti pendeta, naik angkanya, berarti oke. Itu teologi sukses, Saudara, bukan Alkitab. Jadi apa lawan dari teologi sukses? Teologi salib.
Apa itu teologi salib? Yaitu situasi tambah buruk, bahkan mencapai rock bottom, tetapi justru Tuhan bekerja di situ. Itulah message kitab Daniel. Yang sedang diberitakan di sini adalah sesuatu yang mendobrak kacamata kita. Daniel tidak memberikan kita iming-iming omongan manis. Daniel memberikan kita realitas dosis tinggi –yang sudah kita alami dari pasal-pasal sebelumnya– bahwa keadaan akan tambah rusak, tambah parah, bahkan melampaui apa yang ada sebelumnya, dan ketika Tuhan melancarkan rescue-Nya, malah bikin tambah parah lagi. Sampai kapan? Sampai kuasa orang-orang kudus akhirnya dipatahkan, sampai final, sampai habis semuanya, itulah momen yang justru Tuhan bekerja. Kenapa? Karena bijaksana Tuhan bukanlah bijaksana dunia; dan dalam bijaksana Tuhan, kita sering kali disembuhkan dari kerusakan kita justru melalui kesesakan dan kesusahan besar seperti ini.
Saudara lihat hal ini sejak awal pembahasan pasal 11; gambarannya adalah kesusahan besar, dan pada saat yang sama, paradoxically kesusahan-kesusahan ini tidak pernah melampaui penetapan Tuhan, limit Tuhan, bahkan merupakan bagian dari cara Tuhan menghakimi kerajaan-kerajaan tersebut, bagian dari pemurnian Tuhan bagi umat-Nya. Itu sebabnya pengharapan besar umat Allah zaman itu dihadirkan dalam bentuk sebagaimana ayat 1b-3 pasal 12, di mana Mikahel muncul, sesesakan besar muncul, dan di sinilah kita menemukan kunci pengharapan umat Allah: Tetapi, pada waktu itu bangsamu, setiap orang yang namanya tertulis dalam Kitab itu, akan terluput. Banyak dari antara orang-orang yang telah tidur dalam debu tanah (mati), akan bangun; sebagian untuk mendapat hidup yang kekal, sebagian lagi untuk mengalami kehinaan dan kengerian yang kekal. Orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan orang-orang yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang untuk selama-lamanya. Ini gambaran kebangkitan yang paling jelas dalam Perjanjian Lama.
Apa itu kebangkitan? Kebangkitan adalah teologi salib. Orang tidak bisa bangkit kalau dia tidak mati terlebih dulu. Kebangkitan mengasumsikan maut. Minggu Paskah mengasumsikan Jumat Agung dulu. Sadarkah Saudara, itulah pengharapan Kristiani? Pengharapan Kristiani sudah pasti bukan turun ke bawah terjun bebas doang, tetapi juga bukan naik ke atas tok. Pengharapan Kristiani itu naik ke atas karena turun ke bawah. Turun ke bawah maka naik ke atas. Barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya, tapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Allah, ia akan mendapatkannya.
Kalau kita menyadari inilah dua garis pengharapan kita –turun ke bawah, naik ke atas– menyadari inilah gambaran yang dihadirkan dalam vision terakhir kitab Daniel, kita baru sadar ini bukan baru muncul di pasal 11-12 tapi muncul dalam seluruh cerita kitab Daniel sejak awal. Kita seperti nonton film yang ending-nya plot twist, lalu kita mulai nonton lagi dari awal dan pick up hal-hal yang tadinya kita tidak sadar. Kitab Daniel dalam bagian stories polanya adalah kesusahan, penurunan, tapi juga kenaikan. Pasal 1: Yerusalem diserang, orang Yehuda dibuang, perkakas rumah Tuhan dirampas, hanya untuk lewat itulah Daniel dan kawan-kawannya diangkat, mulai dikerahkan, mulai berfungsi sebagai umat Allah –justru melalui kuasa orang-orang kudus dipatahkan. Pasal 2: Daniel dan orang-orang bijak seluruh Babilonia mau dimatikan, ini kesusahan besar, ancaman maut, namun kemudian Daniel menafsirkan mimpi Nebukadnezar, dan diangkat lagi –keusahan, pengangkatan. Pasal 3: perapian menyala-nyala, namun Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dibangkitkan dari dalam perapian; mereka bukan dilepaskan, mereka dibangkitkan dari dalam perapian. “Tidak ada Allah lain yang menyelamatkan dengan cara seperti ini,” demikian kata Nebukadnezar. Pasal 4: Nebukadnezar sendiri mengalami hal ini, dia meninggikan diri di hadapan Tuhan dan dia direndahkan, namun melalui perendahan itu, melalui dia jadi binatang, dia sadar dan menjadi manusia di hadapan Tuhan, dia diangkat kembali menjadi raja. Pasal 6: gua singa, jelas banget turun-naik, turun-naik. Ini bukan kebetulan.
Inilah sesungguhnya poin dari seluruh kitab Daniel, umat Allah yang setia pasti mengalami kesusahan besar. Jangan pernah menipu diri dengan kebohongan bahwa jadi Kristen berarti hidupmu akan jadi lebih baik. Di mana engkau pernah dijanjikan seperti itu?? Janji Allah bagi umat-Nya adalah: Dia bukan melepaskan kita dari semua ini, tetapi Dia akan menyelamatkan kita melaluinya; bukan dari perapian, melainkan melalui perapian. Dan, sudah pasti kita sadar akhirnya pola ini mengarah kepada siapa? ‘Sampai pada kuasa orang kudus itu dipatahkan, semuanya akan selesai’; ultimately kita tahu siapa Dia yang sungguh kudus, murni di hadapan Tuhan tanpa cela. Dia akan dipatahkan di atas kayu salib bagi kita, tetapi justru melalui itulah kita melihat kuasa kebangkitan-Nya, kuasa yang tidak mungkin dilihat tanpa kematian-Nya. Itulah bijaksana Allah. Kalau engkau percaya keselamatan Allah melalui Yesus Kristus itu datang melalui maut, kenapa sebegitu herannya bahwa hidup umat Allah, Tubuh Kristus, juga akan melalui pola yang sama??
Omong-omong, ini bukan janji bagi semua orang, ada pasal 5 yang tadi saya skip. Pasal 5 adalah raja yang direndahkan tetapi tidak bangkit lagi. Ada belsyazar-belsyazar, ada Antiokhus Epifanes. Ada pasal 12 ini, bahwa ada yang dibangkitkan untuk hidup kekal, ada yang dibangkitkan untuk kehinaan dan kengerian kekal, karena ada orang-orang yang memilih patung emas, perak, besi, dibandingkan batu-batu Kerajaan Allah. Ada yang prefer kekuatan binatang-binatang buas dibandingkan Anak Manusia yang datang dengan awan surgawi. Ada yang menyembah berhala dibandingkan menyembah Allah yang asli. Hidup mereka seperti di atas, seperti berkuasa, tapi ujungnya kesia-siaan. Bagi umat Allah sebaliknya, terlihat seperti di bawah, diinjak-injak, marjinal, minoritas, perapian, gua singa, tapi in the end bersinar bagaikan bintang. Pertanyaannya, kita yang mana?
Terakhir, khotbah ini mau kita sambung dengan masa Adven, masa yang mengajak kita untuk belajar menanti, menyadari panggilan kita adalah panggilan menanti. Dalam kitab Daniel saya rasa kita menemukan gambaran penantian Kristiani. Menanti adalah sikap di mana dua hal dalam kitab Daniel tadi disatukan. Menanti itu punya kesusahan besar, perjuangan besar, namun disertai keyakinan dan pengharapan yang pasti. Kita sering kali tidak pikir seperti ini, kita pikirnya salah satu. Kita pikir kalau saya menanti, berjuang sungguh-sungguh, itu karena ending-nya belum pasti, maka harus berjuang; atau kalau ending-nya pasti dan yakin, ya sudah, ngapain berjuang. Tetapi bukan seperti itu, penantian umat Kristiani seperti yang kita lihat di bagian ini adalah dua-duanya pada saat yang sama.
Ada ilustrasi terakhir untuk menutup khotbah hari ini, dan menutup seluruh rangkaian pembahasan kitab Daniel. Saya punya dua “manusia purba” di rumah, Niko dan Erik, dua-duanya cowok dan lucu-lucu, kami sangat bersyukur diberikan mereka oleh Tuhan. Namun Saudara tahulah kayak apa kehidupan orangtua dengan anak-anak kecil, tiap hari menghadapi mereka blingsatan, lari sana-sini, tantrum, main sama-sama tapi juga berantem sama-sama, dst. Di rumah kami, anak-anak itu dijadwalkan tidur jam 8 malam. Rutinitas seperrti ini perlu karena anak-anak kecil perlu keteraturan; kalau dibiarkan tanpa rutinitas, mereka akan semakin jadi manusia purba. Tetapi, menjalankan rutinitas/liturgi seperti ini bukanlah kayak sekali kita jentikkan jari maka mereka langsung jatuh tertidur. Ada perjuangan besar untuk mereka bisa sampai tidur. Jadi kalau mau mereka tidur jam 8, paling tidak jam 6.30 sudah mulai perjuangannya, yaitu sejak makan malam; dan mulai sejak makan malam sampai mereka tertidur, pertempuran demi pertempuran terjadi. Dimulai dengan pertempuran sayur-mayur, berjuang memasukkan brokoli, jagung, bayam, dsb. ke mulut mereka. Dilanjutkan dengan pertempuran mandi. Yang satu bilang, “Koko mandi duluan,” yang satu lagi bilang, “Dede mandi duluan.” Tapi begitu sudah masuk bak mandi, tidak mau keluar. Selesai mandi, pertempuran pakai baju, karena anak-anak suka sekali lari-lari tanpa baju. PIlih baju pun tidak segampang itu, mau yang merah, mau yang biru, dsb. Lanjut lagi pertempuran ngemil, mau yang ini, ‘gak mau yang itu, dst. Lanjut lagi pertempuran gosok gigi. Setelah itu barulah naik ke kamar, tapi juga tidak langsung bisa matikan lampu, karena mereka ngamuk-ngamuk. Harus main naik bus dulu sama papa, belok kiri, belok kanan, nanjak, turun, lalu main terowongan pakai karpet. Lanjut lagi pertempuran buku cerita, lalu masih harus berdoa, baru matikan lampu. Sudah matikan lampu, masih cari bonekanya-lah, cari botol airnya-lah, dsb. Sudah mulai tenang, si koko striptease, buka semua bajunya, si dede manjat-manjat ke sana kemari, ‘gak mau bobo. Dan, waktu akhirnya mereka tertidur, kami belum tidur, kami turun lagi, masih banyak pekerjaan yang harus dibereskan. Setiap hari kayak begini.
Saudara pasti mengalami juga. Pertempurannya banyak, effort-nya gede, tapi menariknya tidak pernah ada keraguan sedikit pun akan hasil akhirnya, bahwa anak-anak ini bakal tidur. Banyak ketidakpastian dalam hhidup suatu keluarga, tetapi soal anak-anak tidur itu bukan salah satunya; anak-anak tidur malam itu adalah sesuatu yang pasti, yakin akan terjadi. Meski pasti dan yakin akan terjadi, ini bukan berarti tidak ada perjuangannya; bahkan kita berjuang karena kita yakin akan ada hasil akhirnya. Itu namanya hidup yang menanti.
Apakah ini kacamatamu terhadap hidup ini? Apakah kacamatamu hanya salah satu, kesusahan tanpa pengharapan, atau pengharapan tanpa kesusahan? Hari ini mari kita belajar melihat inilah panggilan sebagai umat Allah, karena Allah kita sudah terlebih dulu menjalankannya bagi kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading