Kita sedang dalam masa Epifania, minggu-minggu setelah Natal. Kita tidak puas hanya merayakan kedatangan Kristus, kita mau mengenal-Nya, maka minggu-minggu Epifania membahas bagian-bagian Injil setelah kelahiran Yesus sampai transifugurasi-Nya. Ini bagian-bagian yang membukakan kepada kita kemuliaan Yesus, mengenai seperti apa kemuliaan Yesus, identitas Yesus, keunikan-Nya, brand identity-Nya.
Tahun ini tahun Matius; sekarang kita melanjutkan ke pasal 4. Matius 4 dimulai dengan kisah Yesus dicobai. Sebagaimana dalam semua Injil Sinoptik, Yesus setelah dibaptis langsung dicobai (namun bagian tersebut tidak termasuk bagian Epifania, nanti akan kita bahas dalam masa Lent). Teks Epifania minggu ini mengambil bagian setelahnya, yaitu Mat. 4:11-22. Ini catatan mengenai Yesus memanggil murid-murid-Nya.
Kita akan coba lihat beberapa hal dari bagian ini: bagaimana panggilan Yesus itu unik, bagaimana panggilan Yesus itu radikal, dan bagaimana panggilan Yesus itu merupakan sebuah proses. Namun dalam semuanya itu kita terutama tidak mau melihat apa makna panggilan kita sebagai murid Yesus, pertanyaannya utamanya adalah: apa kemuliaan Yesus yang kita bisa lihat dari semua sifat panggilan-Nya yang seperti ini. Itulah pertanyaan Epifania.
Pertama: Keunikan dari Panggilan Yesus
Keunikan pertama dari panggilan Yesus adalah yang diberitakan dalam semua Injil Sinoptik, bahwa Yesuslah yang memanggil murid-murid-Nya, bukan murid-murid-Nya yang memanggil Dia.
Hal ini lebih unik daripada yang kita kira, karena dalam tradisi Yahudi, seorang rabi Yahudi tidak pergi ke sana kemari cari murid. Seorang rabi tidak memilih muridnya, seorang rabi harusnya dipilih oleh murid-muridnya. Untuk hari ini pun hal tersebut masuk akal, karena kalau seorang guru yang mencari murid, kita langsung curiga ini guru sebenarnya bisa mengajar atau tidak sih?? Kita jauh lebih mudah percaya pada guru yang ke mana-mana selalu dicari oleh murid-murid. Itu sebabnya stiker-stiker yang beredar di WA tulisannya ‘angkat aku jadi muridmu’, tidak ada yang ‘angkat aku jadi gurumu’, itu konyol.
Di sini in some sense Saudara melihat bahwa yang Yesus lakukan itu memalukan. Ini mirip seperti yang dilakukan si Bapak dalam cerita Anak yang Hilang, bukannya menunggu anaknya datang bersimpuh di depannya memohon-mohon ampun, malah dia menggulung jubahnya dan berlari-lari menjemput anaknya dari jauh. Inilah Allah kita, Saudara. Inilah pesan dari bagian yang kita baca, keunikan Yesus yang pertama, yaitu kenapa harus Dia yang memanggil kita, adalah karena kita tidak bisa mendapatkan relasi dengan Yesus kecuali Ia memanggil kita duluan.
Dalam keunikan yang pertama ini pun, kisah tersebut mengungkapkan kerendahan hati Yesus, sama seperti kisah Baptisan sebelumnya. Waktu Yesus turun ke dunia, Dia tidak tanggung-tanggung, Dia benar-benar turun ke levelnya kita. Dia turun untuk mempersatukan diri-Nya dengan kita. Itulah keunikan yang pertama.
Keunikan yang kedua dari panggilan ini kita lihat lewat catatan yang unik hanya ada dalam Matius, tidak ada dalam Injil Sinoptik yang lain, yaitu Matius menempelkan kisah panggilan ini dengan deklarasi Yesus akan Injil Kerajaan Allah. Ayat 12 dikatakan Yesus menyingkir ke Galilea setelah Yohanes Pembaptis ditangkap. Menyingkir ini pakai bahasa yang sama dengan yang dipakai ketika Yusuf dan Maria kabur ke Mesir karena Herodes. Kita tahu tindakan Yesus ini bukan tindakan kepengecutan, karena di Galilea Yesus malah mulai memproklamasikan kalimat yang sebelumnya diproklamasikan oleh Yohanes Pembaptis (ayat 17): “Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah dekat.” Ada orang bicara kalimat ini lalu ditangkap, sekarang Yesus malah bicara exactly hal yang sama, jadi kita tahu ini bukan kepengecutan, ini juga bukan tema khotbah yang sesekali tok, ini adalah message utama pengajaran Yesus selama hidup-Nya, yaitu mengenai Kerajaan Surga. Dalam seluruh Injil Matius, 32 kali ini diucapkan sementara jumlah pasalnya cuma 28, artinya dalam satu pasal Yesus mengatakan ini lebih dari satu kali.
Hal berikutnya yang Matius catat, setelah Yesus mendeklarasikan Injil Kerajaan Surga ini, Yesus lalu memanggil murid-murid-Nya. Matius juga memasukkan komentar unik yang kita tidak lihat di Injil lain, bahwa lewat semua hal inilah genap firman dari Nabi Yesaya (ayat 15-16): “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah seberang sungai Yordan, Galilea, wilayah bangsa-bangsa lain, bangsa yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Di sini kita perlu bertanya kenapa Matius menaruh bagian ini, apa nyambung-nya, kenapa ini jadi background yang Matius ingin kita lihat dalam cerita pemanggilan murid-murid Yesus, dan dengan demikian apa yang sebenarnya dipanggil dari kita ketika kita menjadi murid-murid-Nya?
Waktu menyelidiki hal ini, kita akan coba memutar jauh lebih dulu, kita mau mempertanyakan apa sih sebenarnya yang orang-orang Yahudi di Palestina dalam abad pertama itu mendengar, ketika Yesus mengatakan Kerajaan Surga sudah dekat.Dalam hal ini kita harus sadar bahwa pengertian antara kita dengan zaman mereka ada banyak salah kaprahnya. Misalnya berita Kerajaan Surga sudah dekat, banyak orang Kristen masih salah kaprah dengan mengira kita yang akan mendekat ke Kerajaan Surga, bahwa suatu hari kita akan naik ke surga. Namun ternyata Alkitab mengatakan persis kebalikannya, surgalah yang sesungguhnya mendekat kepada kita; bukan kita yang naik ke surga, surgalah yang turun ke bumi. Pengharapan Alkitab bukanlah bahwa kita akan meninggalkan bumi ini pindah ke surga, pengharapan Alkitab persis sebaliknya, surga turun ke bumi, sehingga kehendak Allah terjadi di bumi seperti di surga –langit dan bumi yang baru. Jadi kita perlu tanya dengan serius, apa makna sebenarnya ketika Yesus mengatakan Kerajaan Surga sudah dekat, jangan-jangan kita salah kaprah juga. Orang-orang dalam zaman tersebut sangat peka akan arti kalimat ini, mereka tahu message ini artinya tidak kurang dari sebuah panggilan revolusi, karena ini tidak sekadar urusan surga, ini urusan kerajaan surga.
Sekarang kita coba memutar paling jauh, kapan pertama kali ada bahasa kerajaan di dalam Alkitab? Yaitu dari halaman-halaman pertama. Segala sesuatu yang ada di Alkitab, itu sudah ada sejak halaman-halaman pertama, demikian salah satu keindahan Alkitab. Dalam halaman-halaman pertama Alkitab, Allah digambarkan sebagai seniman agung yang menciptakan alam semesta yang penuh dengan keteraturan dan keindahan. Allah menciptakan taman dari tanah yang kering. Lalu Allah menempatkan manusia-manusia, yang dikatakan sebagai gambar dan rupa-Nya, untuk memantulkan cara kerja-Nya, yaitu cara kuasa-Nya bekerja di atas alam ciptaan ini. Jadi kalimat berkat-Nya kepada manusia-manusia ini adalah Aku mendeklarasikan kalian sebagai para penguasa, “Berkuasalah atas burung-burung, ikan-ikan, segala makhluk hidup,” dst.
Kita hari ini sedikit anti dengan istilah kuasa, setidaknya kalau kuasanya bukan di tangan kita. Namun kuasa dalam Alkitab perlu kita baca secara beda, ini seperti kuasa seorang manajer. Seorang manajer kedai kopi jelas berkuasa atas kedai kopinya, namun ini bukan kuasa yang semena-mena, ini kuasa yang arahnya jelas, kuasa untuk mendatangkan keteraturan, harmoni, keindahan, kuasa untuk menghasilkan aroma kopi dan bukan bau busuk. Itulah makna kuasa dalam Kerajaan Allah. Manusia ditempatkan sebagai raja-raja dan ratu-ratu atas ciptaan ini, mewakili kuasa Allah dan bagaimana Allah berkuasa.
Kita tahu selanjutnya yang terjadi adalah manusia-manusia ini memberontak, tidak mau mempercayakan diri mereka kepada Tuhan, tidak mau mempercayakan diri pada definisinya Tuhan mengenai apa yang baik dan apa yang jahat. Mereka mau mendefinisikannya sendiri bagi mereka. Mereka bukannya berkuasa mewakili Tuhan, tetapi malah mengambil alih kemudi secara paksa. Mereka pada dasarnya menciptakan/mendirikan yang Alkitab katakan sebagai kerajaan alternatif, yang sering kali disebut kerajaan dunia. Paulus dalam kalimatnya di Roma 5, bahasanya adalah bahwa sejak Adam, maut berkuasa.
Lalu apa respons Tuhan? Tuhan membentuk sebuah umat. Dari manusia-manusia pemberontak itu, Tuhan mengambil sekelompok manusia, dan mengatakan, “Aku akan membebaskan mereka. Aku akan menjadikan mereka umat-Ku, dan Aku akan menjadi Raja atas mereka.” Ini kisah Keluaran; tokoh bad guy-nya seorang raja lalim, Firaun. Raja yang berkuasa bukan dengan mendatangkan keindahan dan keteraturan, melainkan mendatangkan maut –maut yang berkuasa. Dia membunuhi bayi-bayi, memperbudak orang-orang dewasa. Allah datang dan mengatakan, “Tidak bisa kamu menjalankan kerajaan kayak begini, ini bukan caranya berkuasa.” Firaun mengatakan, “Kamu siapa? Allah Yahweh aku tidak kenal, bodo amat!” Allah Yahweh pun memperkenalkan diri-Nya kepada Firaun, lewat sepuluh tulah Ia melepaskan Israel dari cenegkeraman Firaun. Firaun mengejar mereka sampai ke tepi Laut Teberau, Allah membawa umat-Nya melewati air laut tersebut dan menenggelamkan Firaun beserta kereta-keretanya di dasar laut itu. Kenapa harus menceritakan semua ini? Karena interestingly dalam nyanyian pujian Israel persis setelah momen ini (Kel. 15) adalah pertama kalinya di Alkitab Allah Yahweh disebut sebagai Raja. Mereka bernyanyi, “Tuhan itu kekuatanku, Tuhan itu mazmurku, Tuhan itu pahlawan perang,” dan ditutup dengan kalimat, “Tuhan memerintah kekal selama-lamanya” –bahasa kerajaan.
Lanjutannya, umat yang telah dibebaskan ini diundang untuk hidup di bawah kuasa-Nya –di bawah manajemen-Nya– di dalam Kerajaan-Nya. Inilah yang kita lihat dalam kisah Gunung Sinai ketika Taurat Tuhan diturunkan. Lanjut lagi, fast forward kisahnya jadi tambah complicated, Israel memberontak kembali. Mereka serta raja-rajanya berkali-kali menolak manajemen Tuhan, menjadi seperti firaun-firaun yang baru. Akhirnya Allah menyerahkan umat-Nya ini, dibuang, oleh tangan Asyur dan Babel. Jadi yang tadinya diambil dari perbudakan, sekarang kembali masuk ke perbudakan bangsa-bangsa lain. Namun di tengah-tengah semua ini, nabi-nabi Israel –Yeremia, Yehezkiel, Yesaya (yang dikutip Matius tadi)– terus menggaungkan satu pengharapan, bahwa suatu hari nanti Allah akan kembali datang kepada dunia ini, Allah akan menjadi Raja atas mereka, Ia akan melakukan sesuatu yang membuat Kerajaan-Nya bisa datang ke dunia ini dan akhirnya umat-Nya sungguh-sungguh hidup taat di bawah manajemen-Nya.
Perhatikan, salah satu nubuatan akan hal ini adalah yang dikutip Matius tadi; Yesaya mengatakan: “Tanah Zebulon dan tanah Naftali, jalan ke laut, daerah yang sono, seberang sungai Yordan, Galilea, wilayahnya bangsa-bangsa lain itu, tetapi mereka yang diam dalam kegelapan, telah melihat Terang yang besar dan bagi mereka yang diam di negeri yang dinaungi maut, telah terbit Terang.” Ini signifikan karena suku Zebulon dan suku Naftali adalah dua dari 12 suku Israel yang ketika di kemudian hari Asyur dan Babel datang, daerah Zebulon dan Naftali inilah yang pertama kali kena hajar –yang pertama kali kena kegelapan. Jadi bisa dimengerti, adalah sangat powerful ketika Yesaya mendeklarasikan bahwa nanti, ketika Allah datang untuk kembali bertakhta atas umat-Nya, daerah-daerah itu juga yang akan jadi tempat pertama yang jatuh ke tangan Kerajaan Surga. Bukan cuma tempat yang pertama jatuh ke tangan kerajaan Asyur, tetapi juga yang pertama jatuh ke tangan Kerajaan Surga. Dan, daerah itulah yang dalam Perjanjian Baru kita kenal dengan nama Galilea. Di tanah itulah Yesus pertama kali meneriakkan message utama-Nya, “Bertobatlah, Kerajaan Surga sudah dekat.”
Berikutnya apa yang terjadi? Setelah Yesus mendeklarasikan kalimat ini, Dia membentuk sebuah umat yang baru. Dia memanggil sekelompok orang menjadi murid-murid-Nya, 12 orang mewakili 12 suku Israel. Dan, kalau Saudara menengok ke pasal berikutnya, yang terjadi di situ adalah Yesus memberikan Khotbah di Bukit (pasal 5-7). Kalau Saudara punya Alkitab edisi Red Letter Bible, pasal 5-7 itu hurufnya merah semua karena inilah pengajaran Yesus mengenai cara hidup dalam Kerajaan Surga, manajemen Kerajaan Surga, etika Kerajaan Surga, Taurat yang baru.
Semua ini tidak kebetulan, kisah-kisah ini tidak dirangkai sembarangan, poin Matius lewat semua ini adalah membingkai Yesus itu datang sebagai siapa, apa kemuliaan-Nya. Dia bukan cuma seorang rabi/pengajar –kalau Dia rabi/pengajar, ini rabi yang aneh banget karena seorang rabi tidak ke mana-mana cari murid– melainkan bahwa Ia datang untuk membentuk umat yang baru, yang hidup dalam manajeman baru. Hal ini jelas banget signifikansinya bagi orang-orang Yahudi abad pertama, mereka tahu ini artinya tidak kurang dari Yesus datang sebagai seorang Raja. Itulah bingkainya, keunikannya. Sekarang kita baru bisa mengerti dengan tepat apa artinya dipanggil menjadi murid Yesus, kalau kita mengertinya dalam kerangka Kerajaan Surga ini, karena lihatlah apa yang kita baca dalam bagian selanjutnya.
Kedua: Panggilan Yesus Itu Radikal
Yesus menyusur Danau Galilea, Dia memanggil empat murid pertama-Nya, Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes. Perhatikan, mereka berempat ini diceritakan kisahnya berdua-berdua. Kisah yang pertama, ayat 18-20, ketika Petrus dan Andreas dipanggil, mereka ngapain? Mereka ini nelayan, lalu mereka meninggalkan jala mereka. Mereka meninggalkan pekerjaan mereka, karier mereka. Yang kedua, Yakobus dan Yohanes, anak-anak Zebedeus (ayat 21-22). Kenapa Zebedeus disebut? Karena waktu dipanggil mengikut Yesus, mereka meninggalkan bukan cuma perahu (mereka juga nelayan), tetapi juga Zebedeus. Mereka meninggalkan ayah mereka. Jadi, mereka meninggalkan karier mereka demi Yesus, mereka juga meninggalkan orangtua mereka demi Yesus. Yang mana yang lebih nendang buat Saudara, silakan pilih.
Omong-omong, kita tahu dari catatan injil yang lain bahwa bukan berarti setelah ini mereka tidak pernah lagi pergi melaut menangkap ikan, dan kita cukup yakin ini juga bukan berarti mereka –khususnya Yakobus dan Yohanes– putus hubungan dengan Zebedeus. Tetapi kenapa dua contoh ini yang diangkat dalam pemanggilan murid-murid Yesus? Begini, ini tergantung Saudara datang dari budaya seperti apa. Kalau Saudara orang yang datang dari budaya individualitis, maka mengucapkan goodbye kepada orangtuamu bukanlah sesuatu yang gimana-gimana banget, itu mungkin sesuatu yang bahkan di-expect. Dalam culture Barat, anak-anak kalau sampai lewat umur tertentu masih tinggal di rumah orangtuanya, bisa jadi disuruh bayar sewa; mereka di-expect untuk keluar, menghidupi hidup mereka sendiri, jadi orang yang mandiri. Jadi dalam culture seperti ini, saying goodbye kepada orangtua bukanlah sesuatu yang gimana-gimana banget, sedangkan saying goodbye terhadap karier demi Yesus, itu drastis, karena dalam culture di mana orang tidak mencari identitasnya dari keluarga/orangtua dan relasi, mereka biasanya mencarinya dari karier. Sebaliknya, dalam budaya-budaya yang lebih tradisional dan komunal, karier bukanlah sesuatu yang paling penting, yang prioritas biasanya keluarga, orangtua, ayah dan ibu, karena itu adalah tempat kita mendapatkan identitas kita.
“Aku harus jadi prioritas di atas kariermu,” ini kalimat yang menusuk kepada budaya yang individualistis. Sedangkan kepada budaya yang satunya, Yesus mengatakan, “Aku harus menjadi prioritas di atas keluargamu,” ini kalimat yang menusuk sekali bagi budaya yang tradisional. Jadi Matius memperlihatkan bagaimana Yesus menggebrak kiri dan kanan, barat dan timur, individualistis dan komunal. Ketika kita menjadi murid-murid-Nya, yang harus jadi hasrat utama dalam hidup kita hanyalah Yesus, mengenal Dia, menjadi lebih mirip dengan Dia, menyukakan hati-Nya, melayani-Nya; segala sesuatu yang lain itu datang setelah Yesus.
Sekali lagi, ini baru masuk akal ketika Saudara sadar konteks kerajaan yang menyertai panggilan Yesus. Ini tidak main-main, ini tidak opsional, karena menurut Alkitab asal-muasal dari segala hal yang membuat hidup hari ini tidak manusiawai adalah karena manusia memilih menciptakan kerajaan tandingan. Itu sebabnya panggilan Yesus tidak kurang dari menuntut diruntuhkannya kerajaan-kerajaan tandingan tersebut, dan dikembalikannya kita menjadi umat-Nya yang hidup di atas manajemen-Nya, dengan Dia sebagai Rajanya. Titik. Tidak ada hal lain yang bisa dan boleh mendekati posisi-Nya dalam hidup kita.
Mendengar ini, banyak dari kita mungkin mulai ada perasaan tidak enak di dalam hati, karena sebagai orang modern membaca/mendengar seperti ini, hati kita langsung dihantui oleh bayang-bayang. Bayang-bayang apa? Begini, hari ini ketika seseorang memilih mau datang ke gereja mana, mau masuk ke Kekristenan yang kayak apa, salah satu yang jadi pertimbangan paling tinggi biasanya apa? Mungkin Saudara pikir pertimbangannya adalah urusan aku disapa atau tidak waktu masuk, khotbahnya bagus atau tidak, musiknya bagaimana. Tetapi sebenarnya tidak. Memang itu hal-hal yang lumrah ditanyakan, tetapi kalau pun misalnya kita masuk ke suatu gereja dan menemukan pengurus-pengurusnya dingin, atau pengkhotbahnya ngalor-ngidul, atau musiknya bikin mabok atau sebaliknya bikin ngantuk, paling tidak kita bisa tahan sampai kebaktian selesai, kita tidak bakal kabur secepat kilat. Namun ada satu hal yang membuat kita bisa langsung walk out secepat kilat ketika kita masuk ke sebuah kebaktian lalu mendeteksi bahwa gereja ini, atau pengkhotbah ini, ada bau-bau fanatik ekstrim. Kita merasa ini bahaya, harus cepat-cepat kabur.
Kita jadi demikian, bukan tanpa alasan yang valid. Kenapa orang takut dengan fanatisme? Karena kita melihat betapa banyak kekerasan dan abuse yang dilakukan oleh orang-orang yang justru sangat beragama, yang memegang kuat keyakinan mereka. Kita mungkin pernah dengar atau kenal secara personal orang-orang yang sangat religius tetapi juga sangat penuh penghakiman, sangat self-righteous, dari mulutnya senantiasa keluar hal-hal yang sangat sepihak, sempit, bahkan abusif. Lalu kita, orang modern, seringkali melihat apa solusi terhadap fanatisme seperti ini? Kita –atau mereka– melihat Kekristenan sebagai sebuah spektrum atau garis bilangan. Sisi sebelah sini adalah orang-orang munafik, yang ngomong tok bahwa mereka Kristen, tetapi tidak menghidupi kehidupan Kristen. Ini jelek; semua setuju demikian. Lalu di sisi ekstrim yang sebelah sana adalah orang-orang fanatik, orang-orang yang persis kebalikannya, orang-orang yang Kristen buangettt, mereka terlalu percaya, terlalu yakin, terlalu menghidupi Kekristenan. Jadi di sisi yang sini orang-orang munafik, di sisi sana orang-orang fanatik; dan dua-duanya jelek, maka solusinya banyak dari kita mengatakan, “Marilah kita di tengah-tengah saja, jalan tengah gitu loh, via media, keseimbangan. Kekristenan itu diminumnya pakai air, jangan ditelan mentah-mentah. Tentunya kita tidak mau jadi orang munafik, tapi jangan sampai jadi orang fanatik. Di tengah-tengah sini, itu yang perfect.”
Bukankah banyak dari kita sadar atau tidak sadar berpikir seperti itu? Tetapi apakah itu yang kita lihat Yesus katakan di sini? Yesus mengatakan ‘moderation in all thing, via media, keseimbangan, bring balance to the Force’? Tidak. Di tempat lain ketika Yesus bicara mengenai menjadi murid-murid-Nya, misalnya dalam Lukas 14, Dia mengatakan, “Jikalau seseorang datang kepada-Ku dan ia tidak membenci ayahnya, ibunya, istrinya, anak-anaknya, saudara-saudaranya laki-laki atau perempuan, bahkan nyawanya sendiri, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.” Omong-omong, Yesus yang sama juga mengatakan kita harus mengasihi sesama kita, bahkan musuh kita. Jadi sudah pasti di sini Yesus bukan mengatakan bahwa kita harus membenci orangtua kita, istri kita, dst.; ini adalah gaya bahasa idiomatik yang memang ada dalam cara para rabi mengajar pada waktu itu. Ini bukan maksudnya membenci tok, melainkan membenci in comparison, membenci dalam perbandingan, bahwa saking Saudara berfokus dan mengasihi sesuatu, sampai-sampai kasihmu kepada hal-hal yang lain kelihatan seperti benci. Meski demikian, poinnya sama, ini panggilan yang radikal, drastis. Yesus mengatakan ‘siapa pun yang mau datang kepada-Ku’, berarti tidak ada standar yang beda-beda, tidak ada ‘orang yang maau masuk STT jadi pendeta atau vikaris itu serdadu garis pertama yang harus seperti itu, sedangkan yang lain tidak usah’, ini maksudnya semua.
In fact satu hal yang saya baru dapati, dalam Gereja-mula-mula menurut catatan Bapa-bapa Gereja, orang yang mau masuk jadi anggota gereja pada abad-abad pertama, yang mau dibaptis, katekisasinya 3 tahun (jadi Saudara yang katekisasinya 6 bulan di sini, jangan komplain, kalau mau komplain justru bahwa katekisasi kita kurang panjang), sementara kalau orang ditahbiskan jadi pendeta (penilik jemaat pada zaman itu), itu cuma perlu tumpang tangan dan urusan selesai. Ini biblikal. Saudara cek di Alkitab, yang lebih ditekankan adalah proses pembaptisan atau pentahbisan? Hari ini terbalik, ya. Orang yang mau dibaptis, gereja buka pintu lebar-lebar, silakan, tidak perlu katekisasi pun kadang-kadang bisa, sebisa mungkin diberi consideration-lah, orangnya ini masih muda sekali atau sudah tua sekali, dsb. Tetapi kalau orang zaman sekarang mau jadi pendeta, pendidikan intensif paling sedikit 3 tahun. Terbalik sama sekali. Itu sebabnya hari ini gereja kita timpang. Kita ada kelas yang namanya kelas jemaat awam, yang somehow tidak boleh dituntut sama seperti pendeta, sementara para pendeta dan vikaris boleh dituntut lebih daripada mereka. Ini karena hubungan antara pembaptisan dan pentahbisan yang terbalik. Saudara coba bayangkan Gereja yang urutan prioritasnya beres, itu Gereja yang powerful, karena jemaatnya sadar baptisan mereka adalah pengutusan mereka menjadi hamba Tuhan. Ini intermezzo sedikit.
Kembali ke bagian tadi, Yesus mengatakan, “Semua yang datang mengikut Aku harus mengasihi Aku; dan saking mengasihi Aku sampai semua hal yang lain kelihatan sepertibenci in comparison.” Di sini pada dasarnya Yesus sedang mengatakan bahwa menjadi murid-Nya berarti Aku tidak boleh menjadi alatmu, Aku tidak boleh menjadi saranamu bagi hal apa pun yang lain. Kalau kamu mau taat kepada Yesus, maka kamu harus mengatakan, “Taat kepada Yesus, titik.” Tidak bisa mengatakan, “Aku mau taat kepada-Mu, Tuhan, jika …, kalau …, asalkan karierku jadi lebih oke, asalkan kesehatanku terjaga, keluargaku harmonis, … ,” dst. karena kalau Saudara mengatakan seperti itu, cepat atau lambat Saudara akan mengatakan, “Koq, ‘gak beres, ya. Koq, karierku mandek, ya. Koq, kesehatanku rusak, ya. Koq, keluargaku tegang terus, ya. Apa gunanya ikut Yesus kalau kayak begini??” Atau mungkin versi yang lebih rohani, “Kalau Tuhan sungguh bertakhta dalam hidupku, koq aku ‘gak merasakan tangan-Nya memberkatiku??”
Saudara perhatikan, Yesus sudah melawan hal ini dari awal, tidak ada font kecil belakangan dalam urusan dengan Tuhan Yesus. ‘Kalau kamu mengatakan mau ikut Aku jika …, maka apa yang ada setelah ‘jika …’ itu, itulah yang sesungguhnya rajamu, tujuanmu; dan Aku cuma sarana untuk mendapatkan hal itu. No way. Aku tidak mau diperalat. Jika engkau mau mengikut Aku, engkau harus menjadikan Aku tujuanmu.’ Jadi, Saudara jangan datang kepada Yesus karena Dia relevan bagi hidupmu. Jangan datang kepada Yesus karena Dia menjadikan hidupmu jadi lebih baik. Jangan datang kepada Yesus karena Dia menjadikan dirimu jadi lebih beres. Tentunya Dia relevan bagi hidupmu, tentu saja Yesus akan menjadikan hidupmu lebih beres –meski beres menurut definisinya Dia dan bukan definisi kita– tentu saja Yesus akan membawa sukacita ke dalam hidup kita, namun Yesus mengatakan, kita tidak akan bisa mendapatkan semua itu jikalau kita datang kepada-Nya demi semua itu. Saudara datang kepada Yesus demi kebahagiaan, Saudara tidak akan bahagia. Saudara datang kepada Yesus demi sukacita, engkau tidak akan sukacita. Saudara datang kepada Yesus demi pengertian, engkau akan salah mengerti. Datanglah kepada-Nya karena Ia Rajamu. Datanglah kepada-Nya karena Ia penguasa yang sejati, karena Ia manajer yang sejati, karena Ia tujuan hidup yang sejati, jalan yang sejati, goal yang sejati.
“Oke, Pak, saya kira-kira mengerti, tapi inilah exactly problemnya, ini semacam keyakinan religius yang akan menghasilkan orang-orang yang fanatik!” Tidak, Saudara. Karena perhatikan –kembali ke poin yang pertama– Injil Kerajaan Surga bukanlah karena kita mencari melainkan karena Allah yang mencari, bukan karena kita memanggil melainkan karena Allah yang memanggil. Ingatlah bedanya antara Injil versus jalan agama.
Jalan agama berarti Saudara punya koneksi dengan Tuhan karena engkau hidupnya baik, karena engkau mempercayai hal-hal yang tepat dan benar. Kalau Saudara hidup seperti itu, maka Saudara pasti merasa superior di atas orang-orang yang hidupnya tidak beres, di atas orang-orang yang percaya hal-hal yang tidak beres. Sedangkan jika engkau percaya Injil, bahwa engkau diselamatkan oleh karena anugerah semata-mata, engkau mengikut Yesus oleh karena dipanggil/dicari semata-mata, maka ketika engkau bertemu dengan orang yang memeluk keyakinan berbeda, asumsimu akan beda. Asumsinya justru sebaliknya, engkau akan mengatakan, “Jangan-jangan orang-orang ini adalah orang-orang yang lebih baik daripada aku.” Kenapa? Karena engkau menyadari bahwa engkau tidak diselamatkan oleh karena perbuatanmu, oleh karena keyakinanmu beres; engkau diselamatkan karena engkau dicari, dipanggil, bukan mencari dan memanggil. Bahkan lebih daripada itu, engkau bisa melayani orang-orang yang berbeda itu karena Allah telah terlebih dulu melayanimu dengan mati di atas kayu salib bagimu ketika pengertianmu masih begitu kacau, ketika tindakan dan tingkah laku hidupmu masih begitu tidak beres. Jadi di dalam Injil bagaimana mungkin engkau bisa jadi orang yang merasa diri superior??
Kembali ke gambaran garis bilangan tadi, kita jadi menyadari gambaran kita tadi bahwa yang ujung sini munafik dan ujung sana fanatik, itu salah. Memang benar yang ujung sebelah sini munafik, tetapi fanatik tidak di ujung sebelah sana. Orang-orang fanatik itu bukan orang-orang yang terlalu jauh mengikut Yesus, terlalu ekstrim berkomitmen bagi Yesus; mereka justru orang-orang yang di tengah-tengah! Mereka kurang jauh mengikut Yesus, mereka masih terlalu dangkal komitmennya dan pengertiannya, maka mereka menjadi orang-orang yang fanatik. Koq, bisa? Saudara, berpikirnya begini, orang-orang fanatik tadi itu bisa seperti Yesus atau tidak? Bisa. Bisa, dalam arti berani menjungkirbalikkan meja-meja penukar uang, mengusir tukang-tukang berjualan dari Bait Suci. Jadi memang ada benarnya. Tetapi, mereka tidak sefanatik Yesus dalam urusan yang lain. Mereka tidak sefanatik Yesus dalam hal menjadi humble sebagaimana Yesus itu humble, untuk merangkul sebagaimana Yesus merangkul para pelacur dan pemungut cukai. Mereka mirip Yesus cuma setengah jalan. Kenapa? Karena mereka belum mencerna Injil sepenuhnya, cuma setengah jalan. Mereka belum sepenuhnya melihat Injil yang hanya anugerah semata-mata.
Jadi kalau engkau melihat orang fanatik, atau mendeteksi ada kecenderungan fanatisme dalam dirimu, ini bukan karena engkau terlalu jauh mengikut Yesus, melainkan justru engkau belum cukup jauh mengikuti-Nya. Orang-orang seperti ini tidak sepenuhnya mengikut Yesus, tidak sepenuhnya seperti Dia. Mereka hanya mengikuti sebagian, menjalani sebagian. Mereka setengah jalan. Demikian sebaliknya juga, jika engkau ekstrim mengikut Yesus, fanatik mengikut Dia, penuh mengikut Dia, mengerti diri-Nya dan anurgerah-Nya dan panggilan-Nya, engkau justru tidak akan kelihatan ekstrimis di mata siapa pun. Engkau akan terlihat seperti Yesus. Kalau Saudara ekstrim dengan Yesus, hasilnya adalah kerendahan hati yang ekstrim –seperti Yesus. Kalau engkau setengah jalan dengan Yesus, engkau malah bisa menjadi orang ekstrimis.
Ketiga: Panggilan Yesus Merupakan Sebuah Proses
Kita sudah melihat panggilan Yesus unik dan juga radikal, namun yang ketiga, panggilan menjadi murid Yesus juga bersifat proses. Ini kita lihat jelas dari ayat 19: Yesus berkata kepada mereka: “Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.”
Saudara perhatikan, di sini ada istilah yang sering kali kita katakan tetapi kita skip, yaitu akan. Dalam bahasa Yunaninya ini lebih jelas tense-nya –saya tidak akan jelaskan urusan gramatika di sini—simply maksudnya adalah: I will make you become fishers of men. Jadi di sini ‘akan’-nya dua kali, yaitu ‘Aku akan membuatmu mulai menjadi penjala-penjala manusia’. Saudara bisa menangkap nuansa prosesnya dengan lebih jelas? Inilah namanya menjadi murid Yesus, tidak langsung jadi, ada prosesnya. Dan, mungkin reaksi kita langsung bernafas lega karena ternyata ini proses, maka kita lepas dari tuntutan kesempurnaan, dsb. Tentu saja ada bagian itu, Saudara, namun implikasinya lebih daripada itu. Akan lebih jelas kalau kita coba membicarakan apa sih namanya menjadi penjala manusia —and again, Saudara harus mengerti konteksnya.
Saudara, laut pada zaman itu nuansanya bukan tempat wisata sebagaimana bagi kita hari ini, nuansanya lebih mirip kosakata kita yang lain, dan juga kalimat yang kadang-kadang kita gunakan waktu mengatakan, “Lu ke laut aja deh”, maksudnya mampus aja Lu. Kira-kira seperti itu. Laut itu tempat kematian, tempat kekacauan, tempat kegelapan. Bangsa Ibrani tidak pernah jadi bangsa maritim, bukan tipe bangsa pelaut, maka dalam imajinasi mereka laut adalah gambaran yang inhospitable bagi manusia, melambangkan kegelapan, melambangkan kuasa maut. Jadi bukan kebetulan Matius mengutip Yesaya tadi. Coba Saudara bayangkan apa yang terjadi ketika Kerajaan Surga mulai datang di tanah Zebulon dan Naftali? Yaitu bangsa yang hidupnya dalam gelap, yang dinaungi oleh maut, telah melihat Terang; ini seperti mengatakan ‘bangsa yang tenggelam di dalam laut (maut dan gelap), dijala keluar’.
Perhatikan, apa yang membuat dunia pada hari ini menjadi lautan, menjadi gelap, tempat maut berkuasa? Karena manusia telah menciptakan kerajaan-kerajaan tandingan, kerajaan self-centeredness, kerajaan me, me, and me. Itulah yang menghancurkan kita, baik secara psikis maupun sosial. Itu sebabnya yang Yesus katakan di sini tidak sembarangan, Dia mengatakan, “Aku akan menjadikan kamu penjala manusia”, artinya kamu akan dijadikan orang-orang yang tahu caranya untuk menarik/mengankat manusia dari kerajaan kegelapan kepada Kerajaan Terang. Itu maknanya. Konkretnya seperti apa?
Saudara pernahkah mengobrol atau dekat-dekat dengan seseorang yang begitu utuh, begitu penuh, begitu solid, begitu limpah, sehingga waktu bicara dengan dia, yang Saudara notice adalah betapa orang ini berfokus padamu dan bukan pada dirinya sendiri? Waktu mengobrol dengan orang, biasanya yang kita temukan sehari-hari misalnya kita mengatakan, “Anak gue begini-begini,” lalu teman bicara kita mengatakan, “Anak gue begini-begini juga.” Kita mengatakan, “Gue lagi nonton TV series ini,” lalu dia mengatakan, “Gue nonton TV series yang itu.” Ini pengalaman kita sehari-hari. Bukan cuma kita melihat orang yang seperti itu, kita sendiri juga sering kali memperlakukan orang lain seperti itu. Kita cuma bisa saling mengatakan soal me, me, and me. Tetapi pernah ‘kan Saudara mengobrol dengan seseorang, dan waktu Saudara bercerita kepadanya, dia diam, dia mendengarkan dengan seksama. Saudara tahu ini, Saudara bisa lihat dari air mukanya. Lalu waktu tiba giliran dia bicara, dia tidak nyerocos, dia mengambil dan mengingat hal-hal yang tadi Saudara curhat 30 menit itu. Dan dia bukan cuma ingat dan me-refer yang 5 menit terakhir doang, dia bahkan ingat awalnya tadi kita mengatakan apa, yang kadang-kadang kita sendiri cuma nyerocos dan sudah lupa tadi mengatakan itu. Dia ingat, dia catat di otaknya. Yang kita katakan di tengah, dia juga ingat. Begitu juga yang kita katakan di belakang. Semua itu lalu dia olah dan rangkaikan lalu kembalikan kepada kita dengan cara yang membuat kita terkesima, ‘koq orang ini sebegitu fokusnya pada cerita saya, koq orang ini lebih kenal saya dibandingkan diri saya sendiri??’ Waktu Saudara bicara dengan orang seperti ini, Saudara merasakan mereka tidak memperalatmu, mereka tidak menggunakan waktunya denganmu untuk melayani agendanya sendiri. Mereka simply sedang melayani-mu. Mereka sedang memakai otaknya, hatinya, bijaksananya, untuk kebaikan-mu. Kalau Saudara pernah mengalami yang seperti ini, Saudara tahu ini rasanya seperti diangkat keluar dari kegelapan. Rasanya seperti Saudara pindah keluar dari dunia anjing makan anjing, keluar dari tempat yang semua orang masing-masing berjuang bagi dirinya sendiri, dunia di mana kita harus selalu menengok kiri kanan depan belakang karena tidak tahu kapan bisa ditusuk.
Berbicara dengan orang seperti tadi, engkau merasa diangkat keluar dari kegelapan. Itulah seorang penjala manusia. Seorang yang sudah begitu jauh dalam perjalanan disembuhkan dari self-centeredness, sehingga mereka bisa berbalik dan mulai menarik orang keluar kepada Terang. Terang Kerajaan Allah. Terang melayani Tuhan dan bukan melayani diri. Poinnya, bagaimana mencapai jadi orang seperti itu? Saudara tahu untuk bisa sampai ke sana, butuh waktu yang lama. Itu perjalanan yang panjang. Namun ini kuncinya, bagaimana caranya orang dalam perjalanan hidupnya bisa sampai ke level seperti itu? Perjalanan ini sering kali adalah perjalanan yang tidak sesuai ekspektasimu atau harapanmu. Kenapa seseorang bisa dibentuk menjadi orang yang begitu peduli dengan orang lain, terkadang karena orang itulah yang sendirinya pernah mengalami rasanya tidak dipedulikan, mereka itulah yang pernah mengalami rasanya dikhianati dan diekspolitasi. Kita biasanya berpikirnya terbalik, kita pikir orang yang banyak trauma dikhianti orang lain akan malah mengerut, jadi orang yang makin self-centered, makin susah percaya pada orang lain.
Brad Edwards (bukunya sedang dibahas dalam PA), dalam salah satu ceritanya mengatakan, di gerejanya ada sesuatu yang aneh, orang-orang yang justru pernah mengalami abuse —abuse secara spiritual, abuse di gereja– dan malah di gereja menjadi orang-orang yang lebih terbuka, lebih mau menyapa orang-orang baru, lebih siap membuka diri untuk be vulnerable. Sebaliknya, orang-orang yang selalu curigaan, yang susah membuka diri, yang takut sekali di-abuse, waktu ditanya kenapa begitu, ada yang menjawab, “Saya pernah trauma!” Lalu waktu diselidiki trauma apa, ternyata cuma ketika remaja mengalami situasi tidak enak saja, dan itu sih bukan trauma, sedangkan orang yang di-abuse memang trauma.
Zaman sekarang, apalagi anak-anak muda, seringkali mengambil bahasa-bahasa terapi yang serius hanya untuk membahasakan kejadian-kejadian yang remeh. Saya bukan bilang tidak ada korban yang beneran di dunia ini, tetapi kalau Saudara mau tahu yang mana korban yang sejati, justru caranya dengan menghindari bahasa-bahasa terapi seperti itu untuk hal-hal yang remeh. Kalau Saudara memakai bahasa-bahasa terapi seperti itu untuk hal-hal yang remeh, Saudara malah membuat orang jadi tidak bisa membedakan lagi siapa yang beneran korban dan siapa yang cuma main-main jadi korban.
Kembali lagi ke cerita Edwards. Jadi di satu sisi Edwards bingung, koq bisa yang senantiasa takut pada abuse malah orang-orang yang tidak mengalami abuse, sedangkan yang mengalami abuse beneran malah ada kemungkinan menjadi orang-orang yang lebih terbuka, lebih siap melindungi orang lain dari abuse. Ini sebenarnya tidak terlalu mengherankan juga karena Saudara pasti pernah ada pengalaman ini dalam hidupmu. Saudara lihat orang-orang yang paling peduli dengan kesusahan orang lain, biasanya adalah orang-orang yang memang pernah susah. Sedangkan orang-orang yang paling takut dengan kesusahan, biasanya adalah orang-orang yang hidupnya relatif tidak pernah susah. Kembali ke poin kita, kalau pemuridan adalah sebuah journey, proses, maka Saudara harus tahu implikasinya, bahwa prosesnya sering kali tidak dalam kendalimu atau sesuai bayanganmu.
Salah satu keindahan dari punya anak, Saudara merasa ada sesuatu yang unlock dalam hidupmu begitu engkau punya anak, engkau merasa seperti ‘koq saya ‘gak tahu ada hal seperti ini dalam hidup saya’. Itu sebabnya banyak orang yang waktu ditanya bagaimana rasanya punya anak oleh orang yang belum punya anak, mereka tidak tahu bagaimana menjelaskannya, mereka cuma bilang, “Sudahlah, nanti kalau Lu punya anak, Lu baru tahu deh rasanya.” Coba saja Saudara suruh anakmu yang baru 6-7 tahun menulis artikel ‘bagaimana rasanya jatuh cinta dan punya anak’, waktu Saudara baca hasilnya, itu seperti anak 3 tahun menggambar bus, ada sih rodanya, ada sih jendelanya, tetapi jauh banget dari aslinya. Jadi, kalau pemuridan adalah sebuah perjalanan –perjalanan yang jauh–maka di awal perjalanan tersebut kita ini seperti anak 6 tahun membayangkan apa rasanya punya anak. Inilah artinya menjadi seorang murid, yang dalam proses, yang tidak langsung jadi. Menjadi seorang murid yang bisa menerima bahwa kemungkinan besar ekspektasi kita jauh sekali dari realitasnya.
Ketika murid-murid Yesus menerima panggilan ini, mereka semangat banget, mereka tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Mereka mungkin –bukan mungkin tapi sudah pasti– ekspektasinya jauh banget dari realitas. Ini tentu jelas dalam hal harga yang harus mereka bayar. Mereka mungkin ekspektasinya akan semakin kuat dan semakin kuat dan semakin kuat setiap hari –ini bayangan banyak orang Kristen– tetapi kenyataannya beberapa bulan kemudian mereka akan terpukul dan terpencar-pencar seperti domba yang berserakan, mereka akan gagal paham berkali-kali, mereka akan bahkan mengkhianati Yesus sendiri. Bahkan murid-murid dalam bagian ini Petrus, Andreas, Yakobus, dan Yohanes, apakah Petrus dan Andreas pernah sadar bahwa mereka akan menemui nasib mati disalib seperti Tuhan mereka? Yakobus pasti tidak membayangkan dalam beberapa tahun ke depan dia akan mati dibunuh atas perintah Herodes (Yakobus ini rasul pertama yang mati martir). Jadi inilah ekpektasi dan realitas.
Namun ekspektasi dan realitas ini tidak cuma harga yang harus dibayar tetapi juga berlaku dalam hal sebaliknya, sebesar apa kemuliaan yang akan mereka terima. Somehow melalui gagal paham mereka, melalui kegagalan-kegagalan mereka, bahkan pengkhianatan mereka, itulah yang Tuhan malah akhirnya pakai untuk meneguhkan mereka menjadi sokoguru-sokoguru Gereja. Tiga negara besar hari ini –Yunani, Skotlandia, Rusia– menyebut nama Andreas sebagai patron saint mereka.
Ada ilustrasi yang bagus untuk hari ini dari buku anak-anak. Salah satu buku yang terkenal yang direkomendasi banyak pihak, sudah 150 tahun dan tidak pernah lepas cetak, adalah buku dari George MacDonald, The Princess and the Goblin. Ceritanya mengenai seorang gadis bernama Irene, berumur 8 tahun. Irene tinggal dalam rumah yang besar. Dia suka mengeksplor rumah besar ini, lalu menemukan di gudang atas ada tokoh fairy grandmother, semacam being supernatural yang menampakkan diri sebagai seorang nenek baik hati. Dia suka mengobrol dengan Irene, mengajarkan banyak wisdom.
Suatu hari Nenek Peri ini memberikan Irene sebuah cincin dengan benang, benangnya tidak kelihatan, sangat tipis. Dia mengatakan, “Kamu tidak bisa melihat namun bisa merasakan.” Irene memegang, dan benar dia bisa merasakan. Lanjutnya, “Ujung benang ini adalah bola benang besar, ada di tanganku, sementara ujung satunya benang di cincin ini. Jadi kalau suatu hari kamu menemukan dirimu dalam situasi berbahaya, ingat, lepaskan cincin ini, taruh di bawah bantal, lalu kamu ikuti benangnya ke mana pun benang itu pergi, karena ujungnya …, “ Irene langsung mengatakan, “Ujungnya aku akan bertemu dengan engkau, dan aku akan jadi aman!” “Ya, benar. Tetapi kamu harus mengikuti, apa pun yang terjadi. Jangan menyimpang ke kiri, jangan menyimpang ke kanan. Dan, jangan khawatir kalau benangnya seakan membawamu memutar jauh. Kamu harus ikuti benang ini.”
Lalu suatu hari goblin-goblin mulai masuk ke rumah itu. Irene sadar ini bahaya dan dia harus kabur. Dia ingat instruksi Nenek Peri, maka dia melepas cincin itu dan taruh di balik bantal, lalu mengikuti benangnya. Benang itu membawanya keluar rumah. Irene berpikir, “Wah, benang ini benar-benar menyelamatkanku, aku jadi tidak tertangkap goblin-goblin, mereka tidak tahu aku keluar.” Dia mengikuti terus benangnya, tetapi koq arahnya makin lama makin gelap dan menuju sebuah gua?? “Ini ‘kan gua goblin-goblin itu, kenapa benang malah membawaku ke sana??” Namun Irene terus mengingat instruksi tadi, maka dia terus mengikuti benangnya, masuk terus ke dalam gua yang makin lama makin gelap dan makin dingin. Akhirnya benang ini mengarah ke sebuah tembok batu. Bagaimana mungkin bisa lewat?? Irene bingung harus ngapain. Kalau dia coba berbalik, benangnya hilang. Benang itu cuma bisa dipilin maju, tidak bisa mundur. Irene bingung. Dia duduk terjerembab, menangis, tidak tahu harus ngapain.
Akhirnya dia mengumpulkan keberanian, menghapus air matanya, dan bertekad terus mengikuti benangnya. Dia membongkar batu-batu tembok itu satu per satu, mengorek semuanya. Begitu selesai, dia coba masuk, dan ternyata di balik itu ada seorang anak, temannya, bernama Curdie. Curdie rupanya telah ditangkap oleh para goblin. Curdie begitu kaget melihatnya, “Koq kamu bisa menemukan aku di sini? Koq kamu bisa tahu aku ditangkap oleh mereka?? Aku pikir sudah tidak ada harapan.” Irene mengatakan, “Aku juga tidak tahu. Ini semua gara-gara benang yang diberikan Nenek Peri.” Mereka lalu bertekad untuk kabur. Curdie bilang, “Ayo, kita kabur, kembali naik ke luar gua ini.” Tetapi Irene menjawab, “Tidak bisa, karena aku harus mengikuti benang ini. benang ini tidak mengarah ke sana, mengarahnya lebih dalam masuk ke gua ini.” Curdie membalas, “Tidak bisa. Aku sudah coba ke sana dan itu adalah tempat aku terpenjara tadi, jadi kita harus keluar ke arah sebaliknya.” Irene tetap tidak mau, “Ingat, kalau bukan karena benang ini, aku tidak akan menemukanmu. Jadi kita harus mengikuti benang ini.” Mereka pun mengikuti benangnya. Kalau Saudara mau tahu cerita selanjutnya, silakan beli bukunya.
Saudara sekarang mengerti ini buku yang baik untuk anak-anak. Belakangan MacDonald menulis sebuah artikel, di situ dia menulis bahwa kunci untuk sebuah pertumbuhan dan kehidupan, bukanlah dengan menjadi orang-orang yang ‘saya mengalami begini, maka saya harus berstrategi yang baru, ganti arah haluan hidup saya’. Bukan itu, menurut MacDonald, kunci untuk sebuah pertumbuhan dan kehidupan, sering kali bukanlah dengan membuat plan yang baru, melainkan bertahan di dalam jalan yang sejak awal memang adalah panggilan kita. Kadang-kadang orang Kristen begitu ada kesulitan dalam hidup, langsung bertanya, “Apa kehendak Tuhan sekarang? Apa panggilan yang belum aku jalankan? Mungkin aku harus meninggalkan yang ini dan ambil yang baru?” Dan, sering kali waktu mencari-cari panggilan seperti ini, mereka lupa panggilan yang ada di dapan mata. Ada suami-suami yang lupa panggilan mereka menjadi suami, ada istri-istri yang lupa panggilan mereka menjadi seorang ibu, ada anak-anak yang lupa panggilan mereka adalah seorang anak, yang sudah ada sejak awal, lalu mereka pikir harus mengubah something. MacDonald mengatakan, “Tidak. You will always die, as long as you refuse to die.” Kamu akan selalu mati, selama kamu menolak untuk mati –mati terhadap diri. Ini mirip banget dengan perkataan Yesus, “Barangsiapa berusaha menyelamatkan nyawanya, akan kehilangan nyawanya. Barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, akan mendapatkannya.”
Saudara, Yohanes Pembaptis mengikuti benang ini, dan benang ini pada akhirnya mengarahkan dia masuk penjara (ayat 14), dan kita tahu belakangan akan mengarahkan dia ke atas meja algojo. Bisakah kita mengikuti benang ini? Apa dan dari mana kekuatan untuk mengikuti benang ini? Satu hal yang simpel kalau Saudara mau tahu kekuatannya, yaitu Saudara perlu melihat Kristus telah menjalaninya lebih dulu sebelum Dia memanggil kita untuk melakukan ini.
Waktu engkau melihat Ia memanggil Yakobus dan Yohanes untuk meninggalkan perahu dan ayah mereka, itu adalah momen di mana Yesus Kristus telah lebih dulu meninggalkan Bapa-Nya di surga. Dan belakangan, Saudara tahu Yesus akan benar-benar terputus dari relasi kekal yang terjalin begitu sempurna dari awal dengan Bapa-Nya, di atas kayu salib, satu-satunya momen di mana Ia memanggil Allah bukan dengan sebutan ‘Bapa’ melainkan dengan sebutan ‘Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?’ Semua komentator setuju bahwa pengalaman Yesus di atas kayu salib inilah pengalaman neraka. Jadi, sebelum Yesus memanggilmu untuk menjalani benang ini, Dia adalah Allah yang terlebih dulu telah menjalaninya. Dan, benang yang Ia jalani, membawa Dia sampai ke neraka, sehingga waktu kita hari ini menjalani benang-benang kita, itu tidak akan menjadikan kita masuk neraka, itu akan mendatangkan Kerajaan Surga ke bumi ini, ke pangkuan Bapa kita. Itu sebabnya kita bisa trust Guru yang satu ini, Raja yang satu ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading