Kata terakhir yang kita lihat dalam pasal 19:40 yaitu perkumpulan/kumpulan; dan dalam pasal 20 ini kita menjumpai beberapa kali istilah yang sama, perkumpulan/kumpulan, atau ekklesia dalam bahasa Yunaninya, yang kemudian kita terjemahkan jadi jemaat atau Gereja. Jemaat, Gereja, kumpulan, gerombolan, adalah istilah yang sama, kita semua di tempat ini sedang berkumpul, berkerumun, bergerombol.
Sebuah kumpulan/jemaat/ekklesia bisa dikumpulkan oleh berbagai macam sebab, motif, dorongan. Kita melihat dalam pasal 19 ekklesia yang dikumpulkan oleh Demetrius, perkumpulan yang kacau-balau itu, yang pada akhirnya membubarkan diri setelah seorang pemimpin (mungkin walikota atau ketua balai kota) menyadarkan mereka bahwa tidak ada justifikasi yang menguntungkan bagi perkumpulan ini. Kemudian mereka membubarkan diri karena menyadari perkumpulan mereka itu tidak jelas tujuannya. Mereka berkumpul karena tidak puas, mereka berkumpul karena takut, mereka berkumpul karena merasa dirugikan. Oleh siapa? Oleh Paulus. Paulus ini orang asing, antek-antek asing yang mengganggu bisnis mereka, membuat bisnis suvenir kuil yang Demetrius bikin dari perak itu, menjadi sepi, karena Paulus bilang itu omong kosong, padahal mereka menghargai suvenir-suvenir itu, juga buku-buku, jimat-jimat penyembahan Artemis dengan harga yang begitu mahal. Mereka merasa dirugikan, merasa terancam, merasa takut, maka mereka berkumpul. Itu perkumpulan yang dikumpulkan oleh ketakutan, oleh keegoisan, oleh kepentingan masing-masing. Itu sejenis gereja juga, sejenis ekklesia juga.
Ironisnya, kita juga melihat pada zaman kita ini gereja-gereja tertentu yang dikumpulkan oleh ketakutan, oleh keegoisan, oleh keserakahan. Kita melihat beberapa waktu lalu ada perkumpulan orang-orang Kristen tertentu di negara tertentu, yang menumpangkan tangan kepada presiden tertentu supaya presiden itu memimpin mereka ke dalam suatu usaha yang dianggap bisa menghantarkan kehendak Tuhan di bumi seperti di surga; tetapi apa yang mendorong mereka? Kemungkinan besar adalah ketakutan. Ketakutan akan ancaman dari pihak-pihak asing yang mereka anggap mengancam kepentingan mereka, ancaman terhadap apa yang mereka anggap sebagai Kekristenan yang benar, ancaman-ancaman yang menimbulkan ketakutan dan mendorong mereka berkumpul –dan mereka memakai istilah yang sama, yaitu Gereja, perkumpulan, ekklesia, karena memang istilah Gereja, jemaat, ekklesia adalah istilah yang netral saja, artinya sekadar orang yang berkumpul. Namun pertanyaan yang mendasar adalah: berkumpul untuk apa, berkumpul dengan didorong oleh apa, berkumpul atas dasar apa, apa yang mengumpulkan mereka. Dan, jawabannya adalah: mungkin ekklesia tertentu dikumpulkan oleh daya-daya dan gaya-gaya yang sama dengan yang mengumpulkan Demetrius dan tukang-tukan peraknya, yaitu dikumpulkan oleh ketakutan, dikumpulkan oleh kerakusan, dikumpulkan oleh perasaan terancam, dikumpulkan oleh kepentingan pribadi –gereja kepentingan pribadi, ekklesia egoistis.
Ekklesia egoistis inilah yang mengusir Paulus, karena Paulus dianggap orang asing, dianggap ancaman, dianggap sumber segala masalah mereka. Padahal, mungkin saja bisnis mereka memang sudah seret sejak awal, tetapi gara-gara ada Paulus maka mereka langsung mendapatkan kambing hitam yang cocok, mereka menuding Paulus, mereka ingin mengusir Paulus dan kawan-kawannya dari kota Efesus. Namun Paulus ketika itu sedang tidak ada di tempat, maka dia tidak diseret ke gedung pertemuan tempat mereka berteriak-teriak tanpa ada kejelasan dan akhirnya membubarkan diri.
Selanjutnya di pasal 20 ini kita melihat setelah keributan itu reda, Paulus memanggil murid-muirid, menguatkan mereka, kemudian dia meninggalkan Efesus. Paulus meninggalkan Efesus bukan karena takut mati, melainkan karena dia tidak ingin menyulitkan kehidupan jemaat yang masih rentan itu, masih muda, baru tiga tahun berdiri, karena kalau dia stay di sana, keributan makin besar dan menjadi tidak mungkin ada orang Kristen bisa tinggal di sana. Itu sebabnya dia memilih untuk pergi. Lagi pula, masih banyak wilayah yang belum mendengar Injil. Jadi dia minta diri dan berangkat ke Makedonia, daerah orang Yunani yang lain.
Paulus kemudian menjelajahi daerah itu. Dalam hal ini, seorang penafsir mengatakan perjalanan Paulus berkeliling dari kota ke kota, dari tempat ke tempat, di wilayah Makedonia itu, kalau ditotal kira-kira bisa 2000 km (kira-kira sama seperti dari Ujung Kulon ke Banyuwangi lalu balik lagi ke Ujung Kulon). Paulus berjalan kaki keliling daerah-daerah itu, dan dia tinggal di tanah itu selama tiga bulan.
Di situ pun orang-orang Yahudi mencium kehadirannya dan mengejar dia, dalam rupa –sekali lagi– perkumpulan/gerombolan/jemaat/ ekklesia. Tetapi ekklesia di sini pakai istilah yang lebih jujur, yaitu persekongkolan –ada konspirasi untuk membunuh Paulus. Jadi, ekklesia yang diikat oleh rasa takut, oleh rasa rakus, oleh kepentingan sendiri, bisa menjelma jadi sesuatu yang jahat, demonik, yaitu menjadi persekongkolan yang penuh semangat membunuh (murderous conspiration). Inilah yang menguber Paulus sampai ke sana. Mereka merencanakan untuk membunuh Paulus di atas sebuah kapal yang berlayar ke Siria. Itu sebabnya Paulus menolak naik kapal, dia memilih jalan kaki, sementara murid-murid yang lain naik kapal untuk menghemat tenaga dan waktu. Paulus berjalan kaki karena dia menghindari pembunuhan. Apakah Paulus takut mati? Tentu tidak, karena kalau mati, ya dia bertemu Yesus. Dia melakukan itu bukan karena takut mati; Lukas mencatat nantinya dalam pidato Paulus kepada para penatua di Efesus, menjadi jelas bahwa Paulus melakukan itu karena dia merasa belum waktunya meninggalkan dunia ini, sebab memang belum genap kehendak Tuhan dituntaskan, dia belum mencapai garis akhirnya.
Sampai di sini kita melihat ada dua konspirasi, dua persekongkolan/ekklesia yang sama-sama jahat, yang berseberangan dengan Injil. Ekklesia yang pertama adalah orang-orang Yunani, seperti Demetrius. Ekklesia yang kedua adalah orang-orang Yahudi yang tidak disebutkan namanya di sini, yang menentang Paulus. Ekklesia orang-orang Yunani, seperti Demetrius, sifatnya lokal saja, mereka menyerang Paulus, menyerang orang-orang Kristen, karena hajat hidupnya terganggu, namun kalau Paulus pergi dari kota mereka, ya sudah, mereka tidak mengubernya. Kepentingan mereka sekadar bisnisnya, cuan-nya; mereka mengusahakan supaya cuan tidak terganggu, itu saja, tidak sampai ingin memburu dan melenyapkan Paulus dari dunia ini. Ironisnya, yang bermaksud sampai ke sana justru orang-orang yang lebih dekat dengan Tuhan, orang-orang Yahudi, orang-orang yang sudah tutun-temurun mewarisi Firman Tuhan, kitab suci Perjanjian Lama. Mereka menganggap Paulus harus dilenyapkan dari bumi ini. Motifnya bukan ekonomi, bukan karena hajat hidup mereka terganggu; motifnya keagamaan. Di sini kita bisa melihat bagaimana perkumpulan agama bisa lebih jahat daripada perkumpulan ekonomi yang egois secara dangkal.
Paulus kemudian melanjutkan perjalanan sampai tiba di sebuah kota bernama Troas. Troas ini nama panjangnya Alexandria Troas, didirikan oleh Aleksander sebagaimana nama depannya, dan berada dekat reruntuhan kota Troy, kota kuno yang menjadi pusat pertempuran Troya (mungkin Saudara pernah mendengar istilah kuda Troya, ini terkenal dalam kisah pertempuran Troy yang memperebutkan Helen of Troy; Helen ini mungkin ada hubungannya dengan Helenisme nantinya). Kota Troas ini menjadi tempat Paulus singgah. Dia selama beberapa hari tinggal di sana, berkumpul, memecah-mecahkan roti, mengajar saudara-saudara di situ.
Di kota Troas ini kemudian terjadi sebuah peristiwa yang dicatat Lukas, yaitu Paulus “membangkitkan” Eutikhus yang sudah mati. Namun ini agak ambigu karena kalau kita baca bahasa yang dipakai dalam pencatatan Lukas, ada dua hal yang conflicting di sini, agak ambigu apakah Paulus memang membangkitkan Eutikhus atau Eutikhus memang tidak mati dan hanya sekadar disangka mati. Mari kita melihatnya.
Dalam ayat 9 dikatakan: seorang pemuda bernama Eutikhus duduk di jendela; karena Paulus lama berbicara, pemuda itu tidak bisa menahan kantuk, akhirnya tertidur, dan jatuh dari tingkat tiga ke bawah. Kalau orang jatuh dari tingkat tiga, kemungkinan mati, tetapi kemungkinan juga tidak mati, karena cuma tingkat tiga, tergantung kena apanya. Kalau dari tingkat 30, tentu hampir pasti mati, sedangkan ini dari tingkat tiga, jadi bisa mati dan bisa tidak. Kalau mati, kita tidak heran; kalau tidak mati, kita maklum juga. Jadi di sini ambigu. Namun di sini dikatakan oleh Lukas: Ketika ia diangkat orang, ia sudah meninggal.
Lalu ketika Paulus melihat itu, catatan Lukas mengatakan Paulus kemudian turun ke bawah. Jadi pemuda itu mungkin diangkat dari tanah, misalnya ke teras rumah, tetapi masih di lantai satu atau lantai dua, lalu Paulus turun dari lantai tiga. Kemudian dia merebahkan diri ke atas pemuda itu. Di sini mungkin saja Lukas ingin mengindikasikan alusi pada kisah Elia (1 Raj. 12) dan Elisa (2 Raj. 4), karena gesturnya mirip, ketika Elia maupun Elisa membangkitkan seorang muda, anak janda tempat mereka tinggal yang mati, lalu Elia/Elisa merebahkan diri di atas anak itu, dan anak itu hidup. Tetapi, kalau dalam cerita Elia/Elisa dipastikan anak itu memang sudah mati, dan Elia/Elisa tahu anak itu sudah mati, dan Elia/Elisa berdoa minta kepada Tuhan, doanya dicatat, prosedurnya ditulis, dan akhirnya anak itu bangkit, hidup lagi. Sedangkan dalam cerita tentang Eutikhus ini, bahasanya Paulus tidak mengindikasikan anak muda ini bangkit; bahasanya Paulus adalah: “Jangan khawatir, dia masih hidup.” Bahkan Paulus tidak mengatakan jangan khawatir dia hanya tidur saja atau jangan khawatir dia hanya pingsan saja; Paulus mengatakan, “Jangan khawatir, dia masih hidup”; atau dalam terjemahan yang lain, “Jangan khawatir, dia masih ada napasnya”, dengan kata lain masih ada hidupnya. Jadi ketika kemudian Paulus berbaring merebahkan diri di atas pemuda itu lalu memeluk dia, ini indikasi apa sebenarnya? Apakah ini indikasi Paulus sedang melakukan prosedur seperti Elia dan Elisa untuk membangkitkan orang yang sudah mati, ataukah sekadar prosedur Paulus mendengarkan napasanya dengan lebih dekat? Dalam hal ini Lukas tidak terlalu jelas, bisa jadi keduanya. Namun saya mengambil pilihan tafsir bahwa di sini memang orang-orang yang mengangkat Eutikhus mengira dia sudah mati, tetapi Paulus mendapati dia masih hidup. Apakah dia masih hidup karena Paulus berdoa? Di sini tidak dicatat Paulus berdoa. Jadi saya kira, Paulus mendapati pemuda itu memang masih hidup. Selanjutnya peristiwa ini tidak digembar-gemborkan, tidak dilanjut-lanjutkan dengan gestur berikutnya. Yang dicatat di sini, berikutnya Paulus just melanjutkan PA-nya dia yang sudah panjang itu.
Dalam cerita ini, mereka dikatakan berkumpul untuk makan, dan itu biasanya makan malam, lalu setelah itu dilanjutkan PA, mungkin sampai jam 12 malam, sampai kemudian terjadi peristiwa tadi, lalu Paulus kembali melanjutkan PA lagi sampai pagi. Mereka break sebentar, makan-makan, dan tidak dibahas lagi soal Eutikhus, koq bisa hidup, dsb., karena rupanya itu bukan sesuatu yang terlalu penting. Jadi, bahwa itu satu hal yang luar biasa, ajaib, miraculous, mungkin karena kacamata kita saja yang lebih menghargai hal-hal yang jarang terjadi, yang luar biasa, daripada hal-hal yang memang penting. Dan, yang memang penting bagi Paulus bukanlah bahwa orang itu mati –biasanya orang mati tidak hidup lagi—melainkan bahwa besok dia harus pergi, sementara PA-nya, pembahasan firman Tuhannya, belum tuntas, maka Paulus ingin menuntaskan itu, maka dia tidak bahas lagi orang itu mati koq bisa hidup lagi, lalu konsekuensinya apa, dsb., just orangnya masih hidup, tenang saja, dan lanjut bahas PA setelah mengisi perut karena lapar.
Besoknya, mereka berangkat naik kapal ke Asos, namun Paulus mengambil jalan darat untuk menghindari persekongkolan jahat, konspirasi, yang ingin membunuh Paulus. Lukas di sini mencatat agak detail mereka berlayar ke mana saja sementara Paulus mengambil jalan darat. Akhirnya mereka sebetulnya bisa singgah lagi di Efesus tetapi tidak masuk ke kota, bukan karena Paulus takut ada orang yang masih ingin membunuh dia, melainkan karena ingin menghemat waktu, sepertinya ia ingin sampai ke Yerusalem ketika perayaan Pentakosta. Alasannya apa, Lukas tidak menjelaskan, mungkin Paulus ada suatu janji kepada Tuhan, atau dia ingin menghadiri perayaan tersebut karena bakal ada orang banyak dan dia bisa mengabarkan Injil di sana. Jadi Paulus ingin mengejar timing, maka dia tidak masuk ke Efesus, bukan karena dia menghindari pembunuhan.
Dari Miletus, Paulus mengirim pesan ke Efesus untuk para tua-tua jemaat yang memangku kewajiban memelihara jemaat di Efesus, untuk datang ke Efesus, sepertinya karena perpisahan di pasal 20:1 terlalu cepat, kata-kata perpisahannya belum selesai. Mereka kemudian datang ke Miletus, dan mendengarkan Paulus berpidato. Apa isi pidatonya? Paulus pada dasarnya mengatakan: sejak pertama aku datang melayani kamu di Asia ini, aku datang dengan banyak mencucurkan air mata (nantinya dia beberapa kali mengulang hal ini), dan aku mengalami banyak pencobaan pembunuhan dari orang Yahudi, ada persekongkolan yang mengincar nyawaku. Dia mengatakan, “Aku menasehati kamu dengan menangis, … aku mau dibunuh, … aku tidak melalaikan pengajaran, … aku bersaksi kepada orang Yahudi dan orang Yunani.”
Kenapa ya, Paulus mengatakan soal itu? Apakah Paulus sedang menyombongkan CV-nya, gue bukan orang yang malas loh, gua bukan orang payah yang kagak laku loh, gue itu orang yang banyak dibutuhkan, kerja keras, banyak berkorban; apakah Paulus ingin menyombongkan itu? Saya kira tidak. Paulus bukan orang minder yang menyombongkan curriculum vitae-nya, Paulus pada dasarnya ingin mengatakan bahwa dia bukan mengumpulkan jemaat demi kepentingan dirinya sendiri, dia juga bukan sedang bikin perkumpulan yang egoistical, dia bukan mendirikan perkumpulan yang mencari kepentingan sendiri.
Sampai di sini, kita bisa kontraskan dengan perkumpulan yang lain. Perkumpulannya Demetrius dan perkumpulan orang-orang Yahudi yang menolak Injil adalah perkumpulan-perkumpulan yang basically dikumpulkan dan berkumpul karena kepentingan diri sendiri. Orang takut kumpul bersama orang takut, orang yang cuan-nya kurang berkumpul bersama orang yang cuan-nya kurang, orang yang punya musuh bersama seperti Paulus, kumpul sama-sama untuk melenyapkan Paulus dengan lebih efektif. Baik Demetrius maupun orang-orang Yahudi adalah perkumpulan yang egoistical, yaitu mereka punya ancaman yang sama yang mereka ingin singkirkan, mereka punya keinginan yang sama yang ingin mereka wujudkan, maka mereka kumpul. Tetapi, kalau faktor bersama itu sudah tidak ada, apakah masih ngumpul? Kumpul bersama memaksimalkan cuan, tetapi kalau cuan tidak jadi maksimal karena ngumpul bersama, apakah masih ngumpul? Tentu saja tidak. Kongsi hanya untuk cuan-nya maksimal, sedangkan kalau sudah tidak ada cuan yang maksimal dengan kongsi itu, ya, kongsinya pecah, dan tidak apa-apa, dalam bisnis itu normal saja, no hard feeling, hubungan antar manusia tetap terjaga baik, kongsi pecah itu soal lain. Tetapi, itu bukan satu-satunya cara berkumpul dalam hidup ini, ada cara berkumpul yang lain; dan Paulus sedang memperkenalkan cara berkumpul yang lain itu, yang namanya Gereja.
Gereja itu ekklesia juga, tetapi ini perkumpulan yang spiritnya beda banget. Kenapa? Pertama, karena ini ngumpul bukan untuk mendapat, bukan untuk cuan. Yang kedua, ini ngumpul bukan untuk meminimalkan ancaman atau untuk menetralisasi musuh. Kumpul-kumpul untuk meminimalkan ancaman, untuk menetralisasi musuh, ini namanya pakta pertahanan –seperti Pakta Pertahanan Warsawa pada zaman perang dingin, atau NATO. Itu ngumpul karena ada musuh bersama, ngumpul supaya musuh bersama bisa dihadapi dengan lebih efektif. Bagus juga, seperti juga kongsi untuk memaksimalkan cuan tadi bagus juga, ada tempatnya; tetapi bukan hanya itu. Jadi, ini kumpul-kumpul yang bukan hanya kumpul-kumpul karena egois. Kata kuncinya: hanya. Kalau kumpul-kumpul hanya untuk kepentingan egois, artinya hanya karena memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan ancaman, maka kumpul-kumpul itu tidak langgeng.
“Lho, ‘kan tidak langgeng juga tidak apa-apa, Pak??” Ya, tidak apa-apa, tetapi dalam hidup ini manusia dirancang Tuhan untuk kumpul-kumpul yang lebih langgeng, maka kalau isinya kumpul-kumpulmu isinya hanya egoistical motif, kayak memaksimalkan keuntungan dan meminimalkan ancaman, maka dalam hidupmu ada yang hilang. Kenapa? Karena dalam hidupmu itu kamu tidak mencapai apa yang Tuhan sebut sebagai the chief end of man, yaitu memuliakan Tuhan dan menikmati Tuhan selamanya, yang isinya di antaranya adalah menghidupi kemanusiaan kamu. Apa itu kemanusiaan? Kemanusiaan bagi orang percaya adalah ini: diciptakan di dalam gambar rupa Allah. Diciptakan dalam gambar rupa Allah itu artinya apa? Diciptakan sebagai makhluk persekutuan, sebab Allah kita adalah Allah persekutuan.
Diciptakan dalam gambar rupa Allah, nantinya kita tahu dari kacamata Surat Kolose, Paulus mengatakan gambar rupa Allah itu adalah Yesus; Anda dan saya ini –dalam satu cara menjelaskan yang saya kira lebih bagus, lebih presisi– bukan gambar dan rupa Allah, Anda dan saya ini diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Dalam Kejadian 1:26-27, kita ini diciptakan dalam gambar dan rupa Allah; lalu gambar dan rupa Allah itu sendiri siapa? Paulus mengatakan, itu adalah Yesus. Jadi kita diciptakan dalam Yesus.
Apa artinya diciptakan dalam Yesus? Artinya kita diciptakan di dalam Yang dikasihi oleh Allah, karena Yesus adalah beloved –sebagaimana Agustiinus katakan—dan Allah Bapa adalah the lover, love himself. Allah Trinitas adalah kasih itu sendiri. Allah Bapa adalah yang mengasihi, Yesus adalah yang dikasihi, Roh Kudus adalah kasih yang mengalir di antara Allah Bapa dan Yesus. Dengan demikian, manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, artinya manusia yang diciptakan dalam kasih, untuk kasih, dan diberi makan oleh kasih itu. Artinya, kamu tidak menghidupi kemanusiaan kamu sepenuh-penuhnya kalau kamu menceraikan diri dari relasionalitas ini, karena relasionalitas ini adalah dari mana kita berasal, untuk apa kita ada, dan ke mana kita pergi.
Dari mana kita berasal? Sebab Tuhan itu adalah kasih, menciptakan dunia ini yang bukan diri-Nya sebagai perwujudan dari kasih itu, karena kasih adalah menginginkan, mengusahakan, memaksudkan yang baik bagi yang bukan dirinya. Itulah kasih. Yang bukan diri Allah yang tidak berhingga itu apa? Ciptaan. Tindakan mencipta berarti meng-ada-kan yang sebelumnya tidak ada. Jadi yang sebelumnya tidak ada, itu apa? Ciptaan ini. Lalu yang sebelumnya ada, itu apa? Tuhan.
Tuhan meng-ada-kan sesuatu yang bukan diri-Nya. Koq, bisa begitu? Apakah karena Dia kesepian? Bukan, melainkan karena Dia kasih. Karena Dia kasih, Dia melakukan sesuatu untuk yang bukan diri-Nya; ciptaan ini mengalir keluar dari Allah sebagai perwujudan dari kasih itu sendiri, perwujudan dari hakikat Allah –yang adalah kasih. The overflowing of His love adalah creation, Anda dan saya. Dengan demikian, kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah artinya kita diciptakan untuk menghidupi hakikat itu, yaitu hakikat kasih tadi. Kita ini makhluk yang diciptakan karena cinta, oleh cinta, dan untuk cinta, maka relasionalitas adalah hakikat kita sebagai manusia yang diciptakan di dalam gambar dan rupa Allah, yaitu diciptakan dalam Yesus; artinya perkumpulan kita adalah perkumpulan yang akan menyatakan apakah kita menghidupi hakikat kemanusiaan kita atau tidak.
Kalau kita hidup bagi diri kita sendiri, kalau kita hidup dalam perkumpulan yang orang-orangnya berkumpul juga untuk kepentingan diri mereka masing-masing, maka kita akan terasah, sebagaimana Aristotle katakan polis/ perkumpulan/another–ekklesia itu akan membentuk kita, bukan hanya kita membentuk kota tetapi juga kota membentuk kita. Dalam analisa Aristotle, politik itu bukan sekadar kumpulan orang-orang gila kuasa, orang-orang haus kekuasaan, orang-orang yang ingin namanya dikenang sejarah, yang berkumpul, bersiasat, dsb.; Aristotle tidak memikirkan seperti itu mengenai politik, melainkan dia mengatakan bahwa politik itu memungkinkan manusia hidup semanusia-manusianya, memungkinkan manusia untuk menjadi makhluk yang punya virtue, punya keutamaan. Keutamaan itu apa saja sih? Bagi orang-orang Yunani Romawi, ada empat yang terutama. Pertama adalah bijaksana (prudentia), kedua adalah keadilan (iustitia), ketiga adalah keberanian (fortitudo), keempat adalah pengendalian diri (temperantia). Keempat hal ini terasah ketika kita kumpul-kumpul; keempat hal ini terasah dalam ekklesia, atau dalam polis kalau dalam istilahnya Aristotle.
Kumpulan kita selama ini dalam dunia ini adalah kumpulan apa? Kumpulan tersebut selalu adalah kumpulan yang mencari kepentingannya sendiri. Coba saja pikir dengan jujur, koalisi-koalisi dalam politik, kongsi-kongsi dalam dagang, bahkan keluarga-keluarga/familias-familias yang mengikat diri secara sukarela dalam pernikahan, bahkan persahabatan, sebenarnya kenapa kamu kumpul dan kenapa kamu pisah? Seringkali bukankah karena ini: karena ada maunya saya. Kalau maunya saya ketemu sama maunya kamu, let’s make a deal; saya maksimalkan kepentingan saya, kamu maksimalkan kepentingan kamu, that’s the art to make a deal dalam dunia ini –memaksimalkan kepentingan diri sendiri– saya happy, kamu happy, everybody happy, apa salahnya. Ya, memang ada tempatnya, tetapi bukan itu semuanya. Kalau kamu melakukan itu semua dan merasa hidupmu koq masih ada yang kurang, sebetulnya yang kurang adalah ini: karena kamu tidak diciptakan untuk itu, kamu diciptakan untuk yang lebih tinggi, yang lebih mulia, yang lebih indah, yang lebih benar, yang lebih mengenyangkan hatimu. Yaitu apa? Ekklesia yang diwarnai dengan mengorbankan diri, memberi diri.
Itu sebabnya Paulus memulai dari yang paling kecil, familias/keluarga. Keluarga Allah bukanlah keluarga yang diikat karena kamu punya tanah dan saya punya keturunan (trah) bangsawan yang tinggi tetapi sudah tidak ada tanah, kamu punya keahlian dan saya punya kewarganegaraan, yuk kita join bikin familias, kita kawin, kamu untung dan saya untung, bersama maka cuan kita makin bertambah. Bukan itu. Paulus dengan berani berjalan di dalam jalan Yesus, di mana perkumpulan itu bukan perkumpulan yang memaksimalkan kepentingan masing-masing melainkan perkumpulan yang memaksudkan supaya aku ada demi kamu; dengan kata lain, dikumpulkan oleh cinta.
Cinta itu bukan saya punya hasrat dan saya ingin bersatu dengan yang saya hasrati. Yang seperti itu adalah cinta dalam pengertian eros-nya Plato, yang in a way ada tempatnya juga. Tetapi yang kita saksikan di dalam Yesus bukan terutama hal itu, melainkan: aku sudah dicintai oleh Tuhan, aku melihat ada yang bisa aku memberi diri bagi kebaikan dia, dan aku melakukannya. Yesus dicintai oleh Bapa, yang begitu mencintai dunia ini dan tidak menginginkan dunia ini binasa, maka Yesus memberi diri untuk cinta-Nya kepada Bapa itu, yang mencintai dunia ini, sehingga dunia ini tidak perlu binasa (walaupun bukan berarti tidak ada yang binasa; bisa jadi ada yang binasa, karena mereka terus-menerus menolak Tuhan), bisa ada jalan untuk mereka selamat. Itulah yang namanya cinta, impuls yang berbeda dari egoistical impulse, berbeda dari narsisme, berbeda dari mencari kepentingan diri sendiri.
Dengan demikian, familias yang dikumpulkan karena ini, bukan hanya dalam aliran darah yang sama, sebagaimana kita lihat familias Kristen meliputi orang-orang yang asing, yang warna kulitnya berbeda, status sosialnya berbeda, bahkan agamanya berbeda (agama yang menyembah ilah-ilah Yunani dan agama yang penyembahannya di Bait Suci Yerusalem), mereka bisa duduk semeja di dalam Yesus, dalam keluarga yang dibentuk oleh Yesus, dalam Ekklesia yang dibentuk oleh Yesus, yang disatukan oleh cinta dan bukan oleh ketakutan, yang disatukan oleh pengharapan dan bukan oleh keegoisan serta kerakusan. Di meja itu muncul ekklesia yang berbeda, ekklesia yang tidak seperti ekklesia-nya Demetrus atau ekklesia-nya orang-orang Yahudi yang berkomplot untuk membunuh Paulus, melainkan ekklesia yang melahirkan kehidupan. Ekklesia apa? Ekklesia Yesus, perkumpulan Yesus, perkumpulan pencinta Yesus.
Perkumpulan pencinta Yesus inilah yang kemudian masa depannya dititipkan Paulus kepada para penatua tadi. Tidak heran dari awal dalam pidatonya kepada para penatua itu, Paulus mengangkat: “Aku ini sejak awal, dengan segala kerendahan hati, dalam segala kesederhanaan, melayani Tuhan di tengah-tengah kamu, mencucurkan air mata”; dengan kata lain, aku melakukannya bukan untuk kepentinganku sendiri, aku melakukannya bukan karena aku senang. Selanjutnya: “Dan begitu banyak pertentangan di antara orang Yahudi, tetapi aku tidak lalai memberitakan apa yang berguna bagi kamu, baik dalam perkumpulan di tempat umum maupun perkumpulan di rumah-rumah”; maksudnya baik dalam public lecture yang dihadiri banyak orang dari berbagai kalangan maupun dalam KTB, di mana yang menghadiri cuma yang berminat, serti misalnya Dionysius Areopagite, dst.
Berikutnya: “Dan sekarang sebagai tawanan Roh aku akan pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi; dan kemungkinan besar aku tidak akan lihat mukamu lagi,” demikian kata Paulus, yang bikin mereka jadi makin menangis. Ini artinya apa? Artinya Paulus mengatakan kepergiannya ke Yerusalem itu one way ticket, sesampainya di Yerusalem mungkin dia akan mati seperti Yesus. Ini logis banget karena Paulus sejak beberapa tahun sebelumnya sudah diincar oleh orang-orang Yahudi untuk dibunuh, ke mana pun dia pergi, ada agen Mossad membuntuti mau mengincar nyawanya; nah, sekarang tujuan berikutnya adalah Yerusalem, pada hari Pentakosta, jadi kira-kira apa yang di-expect Paulus? Ya, dia expect bakal matilah, sesimpel itu, seperti Yesus. Namun nantinya kita melihat dalam narasi Lukas, Paulus ternyata tidak mati, dia survive dalam episode Yerusalem itu, tetapi pada momen ini dia tidak tahu.
Di ayat 22, Paulus memakai istilah: “Sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota”. Istilah ‘yang dinyatakan Roh Kudus’ ini, kamu pahami secara bagaimana? Roh Kudus menyatakan, itu bagaimana sih? “O, itu lho, Pak, kalau saya lagi baca Alkitab ‘gak ngerti-ngerti, tiba-tiba Roh Kudus menyatakan, cliingg… jadi ngerti.” Ya, benar juga sih, tetapi tidak cuma itu. Kalau dalam kasusmu, itu seperti Roh menyuntikkan cahaya dari luar lalu kamu menjadi terang mengenai apa yang selama ini sudah ada di dalam kamu, mengenai data-data itu, dan kamu jadi mengerti. Tetapi dalam pemakaian istilah Paulus di bagian ini, ‘dinyatakan Roh dari kota-ke kota, sementara aku menjadi tawanan Roh itu’, apa maksudnya? Maksudnya adalah pengalaman Paulus. Sesimpel itu saja; bahwa yang dinyatakan Roh dari kota ke kota, yang menunggu dia adalah penjara dan sengsara, itu simply pengalaman Paulus ‘kan. Bagaimana Paulus mengetahui dia ada dalam penjara, bagaimana Paulus mengetahui dia mengalami kesengsaraan dari pihak-pihak yang menentang Injil? Ya, dari mengalami. Sesimpel itu. Bukan dari misalnya dia berdoa, “Tuhan, nyatakanlah,” lalu ternyata kesengsaraan. Tidak begitu; melainkan simply dia masuk ke dalam kesengsaraan. Artinya, kalimat ‘yang dinyatakan Roh’ tidak perlu kita artikan bahwa selalu merupakan penyuntikan ide yang misterius ke dalam kepala kita. Tidak selalu begitu. Jadi, Roh Kudus menyatakan kepada kita, itu tidak harus sesuatu yang esoteris, yang rahasia, yang misterius, dan tiba-tiba saya sadar.
Saya beri contoh dari konteks lain, Roh Kudus menyatakan itu bisa sesimpel misalnya kamu menggumulkan mau masuk sekolah teologi, meninggalkan pekerjaan yang sudah bagus, dsb. Kamu kemudian mendaftar sekolah teologi, lalu ada ujian. Di antaranya ujian bahasa Inggris; lalu TOEFL kamu 250, rendah banget, jadi kayaknya bisa susah masuk. Lalu ujian pengetahuan umum, nilai kamu 3 dari 30, jelek banget. Ujian pengetahuan Alkitab nilainya 2 dari 40, waduh, jeleknya luar biasa. Lalu misalkan diperbolehkan ikut pelajaran enam bulan dulu, dan semua pelajaran kamu tidak mengerti. Jadi kira-kira Roh Kudus menyatakan apa di sini? “O, tetapi Roh Kudus menyatakan dalam hati saya untuk sabar, harus stay, sampai 100 tahun lagi baru bisa ngerti.” Ya, tidaklah. Yang terjadi itu namanya Roh Kudus menyatakan bahwa Tuhan tidak memanggil, Tuhan tidak memperlengkapi. Buktinya sudah diberi kesempatan percobaan 6 bulan mengikuti sekolah teologi dan memang tidak bisa mengikuti. Lagi pula, yang mengatakan itu tidak cuma satu dua orang, banyak dosen mengatakan begitu, juga sudah diusahakan dengan berbagai cara, sudah dibimbing, dan memang tidak bisa. Itulah namanya Roh menyatakan. Jadi, Roh menyatakan itu bukan cuma mengatakan kepada yang bersangkutan saja; Roh menyatakan merupakan sebuah aktivitas dan fenomena sosial, atau fenomena historis –sebagaimana Hegel katakan. Pekerjaan Roh itu fenomena historis. Sesimpel itu.
Roh menyatakan, bagi Paulus di sini memang dia dari kota ke kota tidak cuma mendapatkan penerimaan dan penerimaan, melainkan kadang-kadang juga penerimaan dan banyak penolakan. Tentu ada yang menerima, bukan tidak ada, tetapi banyak yang menolak juga. Yang menolak itu menginginkan Paulus pergi atau mati, maka hasilnya kesengsaraan. Ini bukan Paulus yang cari, ini kalau perlu dia hindari, tetapi kalau perlu juga dia stay.
Akhirnya Paulus bilang, “Aku tidak menghiraukan nyawaku, asal bisa menyelesaikan garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang kuterima dari Tuhan.” Menyelesaikan garis akhir, itu apa? Dalam hal ini, bagi Paulus adalah pergi ke Yerusalem, pada hari Pentakosta, barangkali untuk dalam musim Pentakosta itu menyatakan Injil Tuhan kepada orang banyak yang mungkin belum ada kesempatan mendengar berita Injil dari Paulus. Jadi Paulus akan pergi ke Yerusalem; itu saja.
Dan, dia mengatakan, “Yah, kamu tidak akan melihat mukaku lagi.” Selanjutnya dia mengatakan, “Kalau begitu, jaga dirimu, ya, ‘kan kita ‘gak bakal ketemu lagi. Jaga dirimu, jaga kawanan ini. Kamulah yang ditetapkan Roh Kudus menjadi pengawas.“ Lho, koq tahu? Tahunya dari: bahwa mereka mau, mereka juga diterima oleh jemaat, mereka yang juga memang efektif menggembalakan jemaat, mereka dihormati dalam kumpulan itu. Dari situlah tahunya. Jadi, penetapan Roh juga bukan sesuatu yang kayak misterius seperti main jelangkung, Roh Kudus menetapkan siapa jadi penatua di GRII Kelapa Gading, lalu jelangkungnya diputar-putar, lalu ternyata Pak Slamet –bukan begitu. Penetapan Roh Kudus ini sesuatu yang natural, sesuatu yang melibatkan penilaian banyak orang percaya. Demikianlah dalam bagian ini beberapa orang ditetapkan sebagai pengawas jemaat.
Kemudian Paulus mengatakan, “Tetapi nanti setelah aku pergi (mati) akan datang serigala-serigala ganas.” Ini gambaran orang-orang yang mencari kepentingan pribadi, orang-orang yang tidak menyayangkan jemaat melainkan ingin memanfaatkan mereka, orang-orang yang ingin mengambil untung. “Dan, diantara kamu sendiri akan muncul orang-orang kayak begitu, seperti Yudas. Itu realitas dari pelayanan; bagian kamu adalah menjaga kawanan ini, “ demikian Paulus katakan.
Selanjutnya: “Dan, ingatlah bahwa aku selama tiga tahun siang malam tanpa henti menasehati kamu dengan mencucurkan air mata.” Menasehati di sini maksudnya practical theology, teologi yang didaratkan kepada praktik; dengan mencucuran air mata, maksudnya bukan setiap kali konseling Paulus nangis-nangis; kemungkinan besar maksudnya bahwa menasehati kamu itu tidak gampang, aku juga tidak hobi, itu sesuatu yang menyakitkan, menyakitkan kamu dan menyakitkan aku karena harus mengatakan sesuatu yang benar, jujur, yang menusuk, yang kadang-kadang aku juga tidak suka dan kamu tidak suka, tetapi perlu supaya kita terbentuk menjadi community of truth (istilah yang dipakai David Brooks) yaitu komunitas yang meninggikan kebenaran, bukan cuan, bukan ‘aku feel good, kamu feel good’ atau ‘aku feel good, kamu feel bad’, bukan kekuasaan ‘aku berkuasa, kamu saya kuasai’, melainkan kebenaran. Itu sebabnya kadang-kadang perlu mencucurkan air mata.
“Aku melakukannya dengan setia,“ kata Paulus. Ini bukan Paulus pamer CV lagi, dia just mau mengatakan perkumpulan ini perkumpulan yang naturnya seperti apa. Ini bukan perkumpulan yang naturnya I’m okay, you’re okay, I’m happy, you’re happy, everybody happy. Bukan saya punya hasrat apa, kamu punya hasrat apa, yuk kita wujudkan, kita kerja sama. Bukan begitu, melainkan yang dikedepankan adalah kasih, kebaikan, kebenaran, keadilan; dan kita melakukannya dengan berani, dengan pengendalian diri, dengan hikmat. Begitu kira-kira.
“Dan, aku akan mati,” pada dasarnya Paulus mengatakan ini meski ngomongnya agak halus, “Kamu tidak akan melihat mukaku lagi,” –dia pikir dia akan mati, namun ternyata tidak– “Jadi aku titipkan jemaat ini, ya, aku mau pergi ke Yerusalem lalu mati seperti Yesus; aku titipkan kamu, kamu sekarang yang bertugas.” Mereka nangis-nangis, peluk-peluk Paulus, mencium dia, dsb., lalu mengantar dia ke kapal. Namun ternyata Tuhan berkehendak lain, Paulus tidak mati, masih lama lagi dia baru mati.
Sampai di sini pembahasan kita; pada intinya apa kesimpulannya? Pada pasal 19 dan 20 ini Lukas menceritakan kepada kita ada dua macam ekklesia. Pertama, ekklesia yang mencari yang mencari kepentingan sendiri. Inilah jalan dunia ini, yaitu kalau kamu diuntungkan dan saya diuntungkan, yuk kita kerja sama, tetapi kalau kamu tersinggung atau saya tersinggung, ya kita bubar saja. Itulah ekklesia dari dunia ini, kalau sudah ‘gak happy, sudah ‘gak asyik, ya, kita pisah saja. Tetapi ekklesia Yesus beda sekali. Ekklesia Yesus mengedepankan kebenaran, mengedepankanTuhan, mengedepankan Injil, kebaikan; dan kebaikannya bukan kebaikan yang saya rasakan, yang untuk saya, melainkan yang untuk kamu. Dan, itu menghasilkan apa? Menghasilkan suatu perjuangan yang kadang-kadang mencucurkan air mata, kadang-kadang darah, sudah pasti keringat. Namun hasilnya adalah kemanusiaan kita yang lebih penuh, lebih utuh, lebih terwujud; kamu bisa lebih kenal dirimu melalui orang lain, orang lain lebih kenal dirinya lewat kamu, dan seterusnya –lewat persekutuan. Tetapi persekutuan seperti ini, time to time akan berseberangan dengan kepentingan pribadi masing-masing.
Dunia ini hanya mengenal perkumpulan yang dikumpulkan oleh kepentingan pribadi masing-masing, baik secara positif (kerakusan, hasrat), ataupun secara negatif (ketakutan, kecemasan) –ngumpul karena cemas, ngumpul karena takut. Tetapi di dalam Yesus kita mengenal perkumpulan, atau ekklesia, yang sangat berbeda, yaitu dikumpulkan oleh cinta. Karena saya dicintai Yesus, karena Yesus dicintai Bapa, karena Bapa mencintai Yesus, karena Yesus mencintai saya, maka mari kita berkumpul, maka saya menasehati kamu, kamu menasehati saya; maka saya mengutarakan pendapat saya, kamu mengutarakan pedapatmu; maka saya berkorban buat kamu, kamu berkorban buat saya, kita berkorban buat mereka, dst. –karena Tuhan sudah mengasihi kita, karena Yesus dikasihi oleh Bapa. Jadi sangat berbeda, saya kira, berhubung yang mendorong bukan kerakusan atau ketakutan, yang mendorong adalah ucapan syukur, yang mendorong adalah cinta.
Ini adalah sesuatu yang dimulai oleh Yesus, sampai kesudahannya, sampai suatu hari kita melihat wajah-Nya kembali, dan kita meneruskan hidup kita di dalam langit dan bumi yang tidak ada kesudahannya. Namun sampai pada saat itu, kita hadir dalam dunia ini menjadi saksi akan datangnya Kerajaan itu, saksi dari menangnya cinta atas kerakusan, menangnya pengharapan atas ketakutan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading