Hari ini sebagai orang Kristen, khususnya dalam tradisi Injili, kalau Saudara membandingkan dua hari raya besar, Jumat Agung dan Paskah, mana yang terasa lebih penting? Kita mungkin merasa Jumat Agung lebih besar, lebih penting, lebih perlu. Secara pengertian teologis, kita lebih banyak diajarkan mengenai kematian Yesus juga dibandingkan kebangkitan-Nya. Secara liturgical pun Jumat Agung dalam sinode kita dirayakan secara gabungan besar-besaran, sementara Paskah diserahkan ke cabang masing-masing. Dalam literatur dan dalam film-film, kita juga melihat yang laku adalah film bagian Jumat Agungnya,The Passion of the Christ, bukan bagian Paskahnya.
Namun kalau Saudara kembali ke Kalender Gereja, Saudara akan menemukan gambaran yang sangat berbeda. Tentu saja Jumat Agung penting dalam Kalender Gereja, tidak ada niat sama sekali untuk mengecilkan volume Jumat Agung, tetapi dalam Kalender Gereja Jumat Agung itu hanya satu hari, sementara Paskah dipersiapkan 40 hari yaitu masa Lent atau masa Prapaskah (bukan masa Pra-Jumat Agung). Setelah Lent, Paskah juga bukan cuma dirayakan satu hari melainkan 50 hari, sejak hari Paskahnya sendiri sampai Hari Raya Pentakosta. Dalam tradisi Kalender Gereja, selama 50 hari itu Gereja merayakan, mengingat, mempertimbangkan, dan memikirkan ulang apa itu Paskah. Sekali lagi, volume speaker Jumat Agung sama sekali tidak kecil dalam Kalender Gereja, tetapi volume speaker Paskah, kita bisa argue bahwa itu jauh lebih kencang dibandingkan yang selama ini kita terbiasa. Kenapa demikian? Karena ini adalah gambaran yang lebih fit dengan Alkitab.
Kita membaca di Alkitab, misalnya Paulus mengatakan, bahwa iman kita sia-sia jikalau Kristus tidak dibangkitkan. Jelas ini mengandung arti bahwa Dia mati juga, tetapi kalau Saudara mau tanya apa keunikan Kristus, sesungguhnya yang unik bukanlah bagaimana Dia mati. Yesus bukan orang pertama yang disalibkan, bahkan Dia bukan orang terakhir yang disalibkan. Ribuan orang sebelum Yesus sudah menderita nasib itu. Salib bahkan bukan ide orisinal Romawi, ini adalah cara eksekusi yang sudah digunakan untuk menyalibkan 800 orang Yahudi pada 88 tahun sebelum kelahiran Yesus. Maju sedikit lagi, 71 tahun sebelum Yesus, orang Romawi pernah menyalibkan 6000 pemberontak dari Jalan Capua menuju Roma. Dan, 7 tahun setelah Yesus lahir, 2000 orang Yahudi disalibkan di Yerusalem. Lalu 70 tahun setelah Yesus lahir, kira-kira 40 tahun setelah kenaikan-Nya, ketika Yerusalem dihancurkan oleh Romawi, 500 orang Yahudi disalibkan oleh tentara Romawi setiap hari selama beberapa bulan. Jadi, make sense bahwa mati disalib bukanlah keunikan Yesus kalau dilihat dari cara matinya; kita bisa argue bahwa kematian Yesus di atas kayu salib, sebaliknya justru mengungkapkan solidaritas-Nya dengan penderitaan umat manusia. Ini poin yang sudah berkali-kali kita tekankan sepanjang pembahasan Injil Matius; kenapa Ia perlu dibaptis, kenapa Ia perlu dicobai, adalah karena Ia datang bukan untuk menjadi beda, Ia datang untuk menjadi sama. Dia datang untuk diperhitungkan di tengah-tengah kita, di tengah-tengah para pemberontak. Dalam sense ini, tentunya Ia unik, wow banget, Ia memang Anak Allah yang keren abis, Anak Allah yang unik, karena Dia rela menjadi manusia semanusia mungkin. Namun hal ini dilakukan-Nya justru dengan cara mengambil kematian yang tidaklah unik pada zaman itu, yaitu salib. Itu poin saya. Itu sebabnya yang truly unik dalam hidup Yesus bukanlah salibnya.Yang sungguh-sungguh unik adalah bahwa kematian itu, yang adalah nasib universal manusia berdosa, Ia mengambilnya dengan sukarela. Yang unik pada kehidupan Yesus adalah bahwa nasib itu bukan akhir ceritanya.
Demikianlah Saudara lihat kenapa Paskah itu penting. Inilah yang mau kita explore dalam minggu-minggu Paskah ini. Sekali lagi, sebagaimana tahun-tahun lalu, kita tidak cuma merayakan Paskah 1 Minggu tok tetapi selama 50 hari. Dan harapannya, setelah beberapa tahun kita mengikuti pola Kalender Gereja ini, Saudara bukan cuma tahu di otakmu bahwa Paskah penting, tetapi Saudara tahu secara mendarah daging karena engkau menyerapnya bukan cuma lewat pemahaman, engkau menyerapnya melalui tubuhmu dan kebiasaanmu merayakan dan mengingat Paskah. Jadi dalam minggu-minggu ke depan dua tema utama yang akan kita explore terus-menerus yaitu: pertama, bahwa Paskah itu terjadi; kedua, apa maknanya.
Hari ini saya ingin fokus pada yang pertama saja, bahwa Paskah itu terjadi. Kita akan melihatnya dari Matius 28:1-20. Saudara perhatikan, cara Matius dan para penulis Injil lain menceritakan kebangkitan Yesus adalah melalui yang dinamakan sebagai catatan saksi mata. Saudara tidak membaca di sini cerita seorang narator yang maha tahu, Saudara tidak membaca cerita yang menarasikan sesuatu yang tidak ada orang yang menyaksikan, misalnya detik-detik pertama detak jantung Yesus berdetak lagi, lalu mata-Nya terbuka, dsb. Saudara tidak membaca itu sama sekali. Ceritanya kita dapatkan dari sudut pandang para wanita yang datang ke kubur Yesus pagi-pagi. Ini catatan saksi mata. Matius menyajikan sebatas apa yang para wanita ini lihat; itu saja. Dan ini problem bagi banyak orang, karena ini langsung menjadi tempat keragu-raguan kita lompat, lalu kita mengatakan dalam hati, kalau catatan saksi mata kayak begini, jadinya bukan yang kita bisa sebut sebagai bukti objektif dong; ini ‘kan kesaksian orang, bagaimana bisa jadi dasar iman kita bahwa Yesus benar-benar bangkit dari kematian??
Saudara, inilah hal pertama yang saya ingin ajak kita untuk pikir ulang, bahwa sebenarnya dalam arena pengadilan maupun dalam arena konteks kehidupan sehar-hari, kita melakukan persis kebalikannya. Ketika Saudara dan saya ingin tahu kebenaran dari sesuatu, kita akan menempatkan bobot yang sangat utama, bahkan paling utama, pada apa? Pada foto? Pada video? Bukan, melainkan pada kesaksian para saksi mata. Coba bayangkan Saudara lagi ingin datang ke sebuah restoran, dan sebelumnya Saudara ingin tahu dulu dong kualitas restorannya kayak apa, maka apa yang Saudara lakukan? Saudara akan buka app, karena banyak app yang isinya rekomendasi restoran. Atau paling gampang Saudara buka Google Maps, tap restoran tersebut, dan lihat review-nya. Saudara baca review-review orang yang sudah pernah ke situ mengenai pengalaman-pengalaman mereka –yang tentunya subjektif ‘kan. Kenapa kita melakukan ini? Bukankah karena ternyata ini penting bagi Saudara? Waktu Saudara ingin tahu kualitas sebuah restoran, Saudara tidak cuma puas dengan melihat foto-fotonya. Saudara tidak simply percaya berhubung ada bukti-bukti visual, foto-foto yang memperlihatkan apa menunya, makanannya seperti apa, kebersihan restoran seperti apa, dsb., apalagi zaman sekarang yang semua hal visual bisa di-edit, bahkan even worse bisa di-generate oleh AI. Saudara ternyata tidak sebegitu gampangnya percaya terhadap bukti-bukti visual, Saudara kepinginnya membaca tulisan orang-orang mengenai restoran tersebut. Saudara ingin tahu dari sudut pandang mereka. Saudara ingin baca tulisan orang-orang mengenai restoran itu –catatan saksi-saksi mata dan saksi-saksi lidah—mengenai rasa cukiok-nya kayak apa, stafnya sopan atau kasar, menunggu makanannya seberapa lama, dsb. Dan, yang paling penting adalah kalau Saudara bukan cuma bisa baca dari internet saja tetapi tahu dari orang yang Saudara kenal, yang pernah datang ke restoran itu. Kata-kata orang seperti itu akan Saudara pegang sebagai sesuatu yang sangat penting. Bisa jadi ini adalah piece of evidence yang paling penting yang menentukan Saudara akan datang atau tidak ke restoran itu. Kenapa demikian? Karena kita sesungguhnya sangat percaya kepada para saksi mata, demikianlah dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks pengadilan juga sama. Di Indonesia kita memang tidak ada tugas untuk dipanggil sebagai juri dalam pengadilan, sedangkan di negara-negara Barat secara umum para warganegara satu atau dua kali sepanjang hidupnya bertugas jadi juri dalam sebuah pengadilan. Kalau Saudara membaca cerita orang-orang ini, Saudara mendapati pola yang sama. Sebagai juri dalam sebuah pengadilan, Saudara akan disuguhi berbagai bukti yang mungkin bisa kita kategorikan bukti-bukti objektif. Misalnya foto, video –bukti-bukti forensik. Mereka akan mendengar pendapat para pakar bidang hukum, bidang medis, dsb. Tetapi tahukah Saudara apa yang selalu mendapat tempat utama dalam perundingan para juri ini? Apa yang selalu jadi bukti paling berbobot yang jadi kunci dalam penentuan keputusan kasus tersebut? Bukti apa yang jadi fokus perundingan, yang jadi fokus debat paling sengit? Kesaksian para saksi mata, orang-orang yang berada di TKP. Itulah yang sangat penting. Misalnya, ketika terdengar letusan pistol malam itu, si wanita yang duduk di seberang tempat terjadinya pembunuhan itu melihat apa, mendengar apa? Lalu korban yang kena peluru nyasar namun tidak mati, apa yang dia alami, siapa yang dia lihat? Apakah cerita mereka semua sinkron satu sama lain? Apakah cerita mereka menunjuk kepada tertuduh yang sama? Dan seterusnya. Inilah yang jadi fokus diskusi para juri. Inilah yang paling mendapat perhatian dan pertimbangan, yaitu apa yang orang-orang tersebut katakan terjadi dari sudut pandang mereka masing-masing. Kenapa demikian? Sekali lagi, karena kita percaya kesaksian para saksi mata.
Demikian juga halnya dengan kebangkitan Yesus. Ini sebabnya Matius dan para peginjil lain tidak memberitahumu sudut pandang Ilahi yang menceritakan peristiwa yang terjadi ketika tidak ada seorang pun yang bisa lihat. Justru di sini Saudara disuguhi sudut pandang manusia, dalam keterbatasan mereka, mengenai apa yang mereka lihat. Inilah yang ternyata bagi kita paling penting. Hal ini membongkar banyak asumsi kita. Kita selalu pikir seandainya saja kita bisa mendapatkan rekaman video CCTV 1, CCTV 2, dari angle sini dan angle situ di dalam kubur Yesus, video yang tidak dicemari opini subjektifitas manusia, maka seluruh dunia pasti percaya; kenapa Tuhan harus pakai para manusia untuk mengabarkan kebenaran kebangkitan-Nya sih?? Tetapi coba pikir lagi, Saudara. Jangankan zaman sekarang di mana waktu melihat video, kita semakin curiga karena sudah banyak banget deepfake, pada zaman sebelum internet pun ternyata hal yang paling penting dalam konteks pengadilan adalah catatan para saksi mata. Jadi, apa yang mungkin kita pikir sebagai kebodohan, bahwa kisah kebangkitan Yesus yang katanya sangat penting itu diceritakannya koq cuma dari sudut pandang manusia, tenyata ‘gak bodoh-bodoh banget.
Ini lebih menarik lagi ketika Saudara memperhatikan siapa yang jadi tokoh saksi utamanya dalam bagian ini, yaitu para wanita. Ayat 1, Setelah hari Sabat lewat, menyingsinglah fajar, pergilah Maria Magdalena dan satu Maria yang lain menengok kubur Yesus. Bagian inilah yang membuat seorang sarjana Perjanjian Baru mengatakan bahwa inilah sebabnya kita bisa percaya dokumen Matius, karena kalau Saudara mau bikin fake news mengenai kebangkitan Yesus pada abad pertama, Saudara tidak akan memilih dua orang ini sebagai saksi matamu, apalagi saksi mata pertama. Kenapa? Karena mereka wanita.
Dalam dunia abad pertama, baik dalam konteks Romawi maupun Yahudi, saksi mata wanita bukanlah saksi mata yang bisa dipercaya. Kesaksian mereka tidak valid bagi setting pengadilan zaman itu, karena pada zaman itu wanita tidak dianggap serius, sehingga kalau Saudara ingin memanggil saksi palsu, Saudara tidak akan pilih wanita.
Tidak berhenti di sini, Saudara perhatikan salah satu wanita ini diidentifikasikan sebagai Maria Magdalena; dan dari kesaksian Markus maupun Lukas, Maria Magdalena adalah orang yang Tuhan Yesus sembuhkan dari kerasukan setan, bahkan Lukas mendetailkan ia tadinya dirasuki tujuh roh jahat. Dalam hal ini, bahkan kalau Saudara mau ambil perspektif modern bahwa itu bukan kerasukan setan tetapi semacam gangguan mental saja, apakah Saudara akan memanggil orang seperti itu jadi saksi pertamamu kalau engkau mau bikin hoax mengenai kebangkitan Yesus?? Dalam zaman penuh hoax seperti hari ini, kita lama-lama tahu bahwa ciri khas hoax adalah selalu super meyakinkan, hoax tidak pernah memberi ruang untuk engkau ragu-ragu. Ketika Saudara membaca sesuatu yang too good to be true, maka kita merasa itu hoax; hoax kelihatan sebagai hoax justru karena hoax itu sangat meyakinkan. Jadi, kenapa Matius malah memanggil orang yang rekam jejaknya tanda tanya, orang yang Saudara tidak akan mau percaya begitu saja omongannya, satu-satunya alasan yang kita bisa pikir adalah karena memang itulah realitasnya.
Omong-omong, itu memang fit juga dengan modus operandi Yesus yang memilih untuk menyatakan diri-Nya kepada para wanita, bahwa Yesus memang senangnya berkerja lewat apa yang lemah dan tidak dipandang oleh dunia, apa yang pinggiran. Saudara ingat, bagian ini adalah pasal terakhir kitab Matius; dan di halaman-halaman pertama kitab ini, Matius point out bahwa para nabi menubuatkan Yesus akan disebut orang Nazaret. Kita pernah bahas ini, nazaret, netzer, artinya dahan, ranting, pinggiran; dahan itu di ujung, pinggiran, bukan di tengah. Kenapa begitu? Karena Yesus memang sedang menempatkan diri di pinggiran. Jadi tidak heran juga yang dipanggil jadi saksi-saksi pertama kebangkitanNya bukan para batang atau akar –cowok-cowok zaman itu. Para cowok zaman itu semua melarikan diri. Lalu siapa yang bertahan menemani Yesus di kaki salib? Siapa yang bertahan merempah-rempahi tubuh-Nya ketika Ia dikubur? Siapa yang pagi-pagi pergi ke kuburan-Nya? Para ranting, para dahan –para wanita.
Lanjut lagi ceritanya. Di ayat 2 dst., dikatakan terjadi gempa bumi yang besar, malaikat Tuhan turun dari langit. Malaikat secara hurufiah artinya utusan; dan perhatikan di sini malaikat ini memang cuma utusan. Turunnya utusan ini merupakan peristiwa supernatural, gempa bumi. Batu besar yang menutupi gua tersebut batu yang super gede seperti bongkahan besar dalam film Indiana Jones, yang kalau menggelinding ke arahmu, tamatlah riwayatmu. Ini batu yang super gede, yang butuh beberapa Ade Rai untuk bisa menggesernya. Kenapa perlu batu seperti itu, karena memang fungsinya jadi semacam kunci supaya kuburan itu tidak diganggu binatang liar atau perampok. Dan, batu ini digeser begitu saja oleh si malaikat, yang pakaiannya putih bagaikan salju, wajahnya seperti kilat, dan membuat para penjaga kubur klepek-klepek melihatnya. Namun perhatikan di sini, malaikat tersebut membuka kubur untuk apa? Ini tentu peristiwa supernatural yang amazing, tetapi ini cuma hadir untuk mengungkapkan peristiwa supernatural lain yang lebih penting, yaitu bahwa ketika pintu batunya dibuka, Yesus sudah tidak ada di sana! Itu sebabnya malaikat cuma utusan, cuma kurir, dan se-amazing-amazing-nya dia, kuasanya menggulingkan batu itu cuma hadir demi mengungkapkan kuasa yang melampauinya, kuasa Allah untuk membangkitkan Yesus dari kematian. Begitu pintu itu dibuka, tubuh-Nya sudah tidak ada, sudah bangkit sebelum pintu itu dibuka. Saudara lihat, malaikat ini bukan sedang membuka jalan kepada Yesus, “Ayo lari, Sus! Sudah terbuka nih pintunya. “ Bukan itu. Malaikat ini hanya mengungkap bahwa Yesus telah bangkit. Ia sudah menembus melalui maut, Ia sudah bangkit.
Lalu malaikat ini mengabarkan kepada para wanita tersebut, ”Nah, cepat beritahukan kepada murid-murid-Nya kabar ini: Yesus sudah pergi duluan ke Galilea, Yesus akan menemui kamu di Galilea,” (mereka ketika itu sedang di Yerusalem).
Para wanita itu lalu lari dari kubur, mau menemui murid-murid di Galilea. Namun baru setengah jalan, mereka bertemu sendiri dengan Yesus –atau lebih tepatmya Yesus menemui mereka. Yesus berkata, “Salam bagimu.” Ini terdengar sangat formal, ya, namun sebenarnya daam bahasa aslinya simply berarti, “Hai.. .” Para wanita itu tidak tahu harus ngapain, mereka menyentuh kaki-Nya, sujud menyembah Dia. Jadi mereka mendengar Yesus –ada audio– mereka melihat Dia –ada visual– dan mereka menyentuh Dia –ada sentuhan. Tiga dimensi. Tujuan Matius menulis seperti ini mau menunjukkan bahwa ini catatan saksi mata, bukan mitos. Bukan kayak misalnya orang mengatakan, “Oh, aku bertemu Yesus pagi-pagi waktu ngopi” –gambaran sentimental baper dalam hati. Ini adalah catatan saksi mata, Saudara.
Yesus lalu mengulangi yang malaikat tadi katakan, “Nanti kita ketemuan di Galilea, beritahu para murid yang lain.” Ini berarti Yesus mengutus dua wanita ini menjadi komunikator pertama kabar kebangkitan-Nya. Boleh dibilang dua wanita yang seumur hidup mereka tidak pernah –dan tidak akan pernah—dipercaya kesaksiannya dalam pengadilan, Yesus percayakan mereka dengan kabar pertama bahwa Ia telah bangkit, bahwa Ia akan menjadikan segala sesuatu baru. Saudara tidak akan kebayang kayak apa raut wajah murid-murid ketika para wanita ini benar-benar sampai kepada mereka untuk mengatakan, “Ayo! Kita temui Dia di Galilea,” karena ketika Yesus disalibkan, mereka ini semua kabur. Betapa mereka ketakutan, mereka patah arang, lalu tiba-tiba dua wanita ini datang dan mengatakan, “Yesus bangkit! Kalau kamu mau bertemu Dia, kamu harus jalan kaki 150 km di padang belantara ke Galilea.” Namun apa yang bisa mereka lakukan setelah mendengar kabar seprti ini? Mereka harus pergi.
Mereka pun pergi ke Galilea. Di situ Yesus menampakkan diri-Nya kepada mereka. Perhatikan di sini, ada satu hal menarik di ayat 16 ketika dikatakan kesebelas murid itu berangkat ke Galilea, ke bukit yang telah ditunjukkan Yesus; dikatakan: Ketika melihat Dia, mereka menyembah-Nya, tetapi beberapa orang ragu-ragu. Jadi ada hal yag bisa kita pelajari di sini, bahwa ini penghiburan sekaligus teguran.
Yang pertama, jika engkau pernah merasakan keragu-raguan dalam imanmu –sebagaimana Flannery Connor pernah mengatakan ribuan anak Tuhan merasakan keraguan dalam hati mereka–meragukan apakah Injil sungguh benar atau tidak, apakah Yesus benar-benar bangkit atau tidak, maka Saudara harus tahu satu hal: Alkitab mencatat, para murid pun merasakan demikian. Jadi engkau tidak sendirian, Saudara. Ada ruang untuk keragu-raguan seperti ini dalam perjalanan kita sebagai murid Yesus, karena mjurid-murid-Nya sendiri, yang sudah bersama Dia tiga tahun lamanya, yang sudah mengalami sendiri pengajaran-Nya, tanda-tanda-Nya, kehadiran-Nya, probadi-Nya, dan sekarang melihat sendiri kebangkitan-Nya, itu pun masih saja bergumul dengan keragu-raguan.
Di sisi lain, selain penghiburan juga ada teguran, yaitu bahwa kita juga selama ini pikir, kalau saja Yesus muncul jelas secara fisik di depan kita dengan segala kemuliaan-Nya, kita pasti percaya dan tidak akan mundur lagi dari kepercayaan kita sampai mati. Namun sekarang realitas yang benar terungkap, banyak dari kita berpikir bahwa problem kita adalah karena peristiwa kebangkitan Yesus sudah terlalu jauh dari kita, sudah 2000 tahun, sedangkan kalau kita sendiri yang lari ke kubur kosong itu, pasti lebih gampang untuk percaya semua hal tersebut –dan kenyataannya tidak. Bahkan bagi saksi-saksi pertamanya, hal ini tidak pernah gampang. Mereka melihat kubur yang kosong dengan mata mereka sendiri, namun ini tidak membuat semua keragu-raguan sirna.
Kalau Saudara perhatikan perasaan para wanita yang diungkapkan Matius di ayat 8, mereka bukan cuma memiliki satu emosi saja melainkan bercampur antara dua emosi. Ayat 8: Mereka pergi dengan perasaan takut dan sukacita. Takut dan sukacita, ini perasaan yang tidak pernah simpel ‘kan; bahkan bagi mereka tadi juga tidak pernah simpel. Kalau Saudara pikir-pikir lagi, kapan kita pernah merasakan seperti itu, perasaan takut dan sukacita pada saat yang bersamaan? Saya cuma terpikir satu peristiwa yang saya rasa juga terjadi bagi banyak orang, yaitu ketka anak pertamamu lahir. Waktu engkau pertama kali memegang dia, yang begitu rapuh dan kecil, engkau merasa begitu takut, tetapi juga bersukacita, karena ada realitas kehidupan yang baru di situ. Jadi toh tidak pernah simpel, Saudara.
Ini berarti apa? Yaitu kita sering kali berasumsi bahwa kita butuh mukjizat, berhubung mukjizat akan membuat instan proses pemurudan kita di hadapan Tuhan, tidak perlu lagi percaya-percaya, beriman-beriman, karena langsung mengalami dan melihat. Namun seperti yang Saudara baca di sini, mengalami mukjizat terbesar yang pernah terjadi sepanjang sejarah, sesungguhnya malah membuatmu membutuhkan waktu untuk memproses semua itu. Mukjizat ini malah menyebabkan para murid perlu waktu untuk percaya. Dan, mungkin itulah sebabnya Paskah dalam Kalender Gereja tidak dirayakan satu hari tetapi 50 hari. Kita perlu waktu, Saudara, untuk memproses keindahan dari mukjizat kebangkitan ini.
Saudara lihat, Kekristenan itu indah karena Kekrstenan tidak pernah mengambil jalan gampangan, pokoknya begini, pokoknya begitu, pokoknya percaya saja. Ada sesuatu yang very beautiful bahwa murid-murid terdekat Yesus pun, Alkitab mencatat mereka juga ragu dan mereka juga butuh waktu. Meski demikian, yang lebih amazing dan beautiful dari catatan saksi mata ini, adalah bahwa yang Yesus lakukan berikutnya bukanlah menghardik mereka, bukan mengusir orang-orang yang ragu seperti ini.
Ketika kita membaca ayat-ayat selanjutnya, ayat 18-20, kita selalu terdistraksi dengan Amanat Agung ‘kan, bahwa Yesus mendekati mereka dan berkata, “Kepada-Ku telah diberikan segala kuasa. pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku, baptislah mereka, ajarlah mereka, … ,” dst. Namun perhatikan di ayat 18 itu, tiga kata pertamanya apa? Yaitu: Yesus mendekati mereka. Saudara lihat, Yesus mendekati mereka, Yesus tidak mendorong mereka pergi. Dalam Injil yang lain Yesus bahkan melakukan lebih daripada ini, Yesus mengundang orang yang ragu tersebut untuk melihat sendiri, mencucukkan jarinya ke bekas paku-Nya serta ke luka bekas tombak di tubuh-Nya. Yesus merangkul mereka yang ragu ini; dan, itulah yang Ia lakukan kepada kita hari ini. Ia menampakkan diri-Nya kepada para wanita yang tidak diakui masyarakat. Ia menampakkan dan mendekatkan diri-Nya kepada para murid yang patah arang, yang lari tunggang-langgang selagi Ia disalibkan.
Setelah itu, Saudara baca di bagian lain, dalam surat Paulus, bahwa Dia masih menunjukkan diri-Nya kepada Kefas, kepada Paulus, dan kepada 500 murid yang lain. Dan, masih banyak dari antara mereka yang masih hidup saat surat tersebut ditulis Paulus, ini berarti para saksi mata itu semua bisa dicek. Saudara, sangat mudah untuk bikin hoax ketika tidak ada saksi mata. Tetapi kalau Saudara mau bikin hoax untuk peristiwa yang masih banyak saksi matanya, misalnya saya mau mengatakan, “Acara Jumat Agung di Indonesia Arena kemarin itu 10 jam tidak selesai-selesai!”, maka akan ada 10 ribu saksi mata yang akan langsung menentang saya karena mereka semua kayaknya masih hidup hari ini ‘kan.
Jadi, inilah catatan saksi mata kebangkitan Yesus Kristus; dan itulah sebabnya ini bukan catatan mitos khayalan orang kuno yang fantastis dan percaya takhayul. Saudara bisa, dan perlu, bergumul dengan catatan ini –sebagaimana engkau perlu bergumul dengan kesaksian saksi mata dalam pengadilan mana pun. Ini sesuatu yang kau bisa gumuli, ini sesuatu yang kau tidak bisa buang begitu saja, hanyak karena ini opini manusia. Iman kita bahwa Yesus bangkit bukanlah iman yang kosong. Injil yang kita punya hari ini bukanlah sekadar opini tok.
Terpujilah Tuhan oleh karena itu. Terpujilah Tuhan juga bahkan seandainya hari ini kita masih ada keragu-raguan dalam hati kita, karena Tuhan tersebut tidak mengusir kita pergi, Tuhan tersebut merespons orang-orang seperti ini justru dengan datang medekat. Itu sebabnya kita akan terus membicarakan urusan Paskah ini selama 50 hari ke depan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading