Sebagai orang dalam tradisi Injili, tentu kita merayakan Paskah. Kita pasti ingat masa-masa gereja kita mengadakan berbagai perayaan dan aktifitas untuk hari Paskah. Seumur-umur menjadi orang Kristen, Paskah pasti kita rayakan, namun kita merayakan Paskah sebagai suatu hari yang spesial, bukan sebagai suatu musim yang spesial. Ini masuk akal buat kita –bahwa Paskah itu hari— karena kebangkitan Yesus terjadi satu kali, dalam satu momen, pada satu hari Paskah tersebut. Tetapi dalam Kalender Gereja, Paskah bukanlah cuma satu hari saja, Paskah adalah satu musim penuh, sama seperti musim Adven, musim Epifania, musim Lent –dan sekarang musim Paskah, musim terakhir sebelum masuk Ordinary Time. Ini bukan sekadar konstruksi manusia; dasar Alkitabnya sangat jelas Paskah adalah sebuah musim karena setelah Yesus bangkit, Dia menampakkan diri-Nya yang bangkit itu kepada murid-murid-Nya selama satu periode, 40 hari, sambil mengajarkan mereka tentang Kerajaan Allah. Pada hari ke-40 Dia naik ke surga, dan 10 hari kemudian Roh Kudus dicurahkan kepada umat Allah.
Inilah sebabnya dalam Gereja-mula-mula, Easter (Paskah) berkembang menjadi Eastertide (Musim Paskah), yang merupakan tujuh minggu (50 hari) perayaan, termasuk di dalamnya Hari Kenaikan Kristus, lalu Hari Raya Pentakosta menandakan akhir musim Paskah tersebut. Bahkan pengaruh Paskah sesungguhnya lebih dari sekadar satu musim, karena Paskah-lah yang membuat hari Minggu menjadi hari kebaktiannya umat Allah sepanjang tahun dan sepanjang umurnya, karena Minggu merupakan Minggu Paskah.
Dalam mempersiapkan bahan untuk Musim Paskah ini, satu pertanyaan yang selalu muncul dalam kepala saya adalah: sebenarnya makna utama Paskah itu apa sih. Itulah yang kita cari waktu mempelajari dari buku-buku, mempertanyakan Paskah itu mengubah apa, apa yang hari ini tidak ada seandainya Paskah tidak pernah terjadi. Namun yang menarik, jawaban yang keluar dari semua buku yang saya baca, semua penulisnya mengatakan hal yang sama, yaitu: Paskah itu mengubah segala sesuatu. Ini jawaban yang nyebelin, bikin frustrasi, karena ketika kita ingin mempelajari keunikan sesuatu maka kita mengharapkan jawaban yang spesifik. Kalau mengenai kematian Kristus, itu jelas perubahannya, bahwa tanpa salib, engkau tidak ditebus. Sedangkan mengenai Paskah, tidak ada jawaban singkat seperti itu; jawabannya adalah Paskah changes everything –jawaban yang bikin saya frustrasi, tetapi ini jawaban yang benar. Paskah itulah yang mengubah hari pertemuan umat Allah dari Sabtu ke Minggu. Paskah itulah yang mengubah salib dari cerita horor tragis menjadi kisah kemenangan. Paskah itulah yang meletuskan Kekristenan, dari statusnya yang sekadar cabang Yudaisme menjadi sebuah agama global. Paskah itu saking besarnya, pengaruhnya tidak bisa dikunci atau direduksi ke dalam satu hal saja. Ada yang mengatakan dalam salah satu buku, Paskah adalah seperti bottleneck-nya jam pasir, di mana segala cerita dalam Alkitab mengalir ke dalam Paskah dan keluar dari Paskah.
Namun kita menemukan hal yang terbalik dalam tradisi kita hari ini, kita lebih sering membicarakan peristiwa Jumat Agung misalnya, dibandingkan Paskah. Ketika kita menginjili orang lain atau bahkan ketika kita coba me-review apa itu Injil dalam kepala kita, mungkin dalam formulasi yang keluar tersebut kita skip urusan Paskah. Kita mengatakan bahwa kita diselamatkan karenaYesus naik ke atas kayu salib –ini lumrah– tetapi hampir tidak ada dari kita yang mengatakan kita diselamatkan karena Yesus bangkit dari kematian –setidaknya dalam tradisi seperti kita. Tetapi, Saudara baca dalam tulisan Paulus di Roma 10:9, Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu, bahwa Yesus adalah Tuhan, dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati, maka kamu akan diselamatkan. Inilah definisi Paulus mengenai seorang Kristen, yaitu dia yang percaya Yesus telah dibangkitkan, bukan cuma disalibkan.
Orang Kristen adalah orang yang hidup di bawah terang kebangkitan tersebut. Ini mungkin beda banget dengan definisi Kekristenan di kepala kita selama ini. Paskah itu mengubah segala sesuatu. Paskah mengubah orang yang mati secara rohani menjadi hidup bagi Allah. Paskah mengubah vonis maut menjadi deklarasi hidup yang kekal. Paskah mengubah kecemasan menjadi pengharapan yang melampui kuburan. Paskah mematikan dosa dalam kehidupan orang Kristen sehingga mereka boleh hidup melayani Yesus. Dan, mungkin sebabnya hidup kita sebagai orang Kristen tidak ada hal-hal tersebut, adalah karena kita cuek terhadap Paskah selama ini, kita mereduksinya hanya sebagai perayaan satu hari doang dalam setahun, yang kita juga tidak benar-benar tahu apa maknanya. Seorang penulis mengatakan, Gereja yang fokusnya hanya pada kematian Yesus di atas kayu salib tok, adalah Gereja yang juga akan hanya mati. Masuk akal, ya. Karena kita cuek terhadap kebenaran Paskah, maka ekspektasi kita hari ini juga sangat rendah terhadap kuasa kebangkitan dalam hidup kita. Jujur saja, kita sudah terbiasa menerima realitas bahwa kita ini mati dalam dosa-dosa kita, tetapi tidak menerima dan mengharapkan kuasa kemenangan atas dosa dan maut dalam hidup kita.
Inilah sebabnya kita bersyukur Tuhan menggunakan Para Bapa Gereja untuk mengkhususkan satu musim –bukan cuma satu hari—untuk kita bersama-sama merayakan serta bergumul dengan kebangkitan Yesus. Jadi, kenapa perlu satu musim? Karena Paskah mengubah segala sesuatu. Paskah bukanlah sesuatu yang bisa kita bicarakan dan kita mengerti dalam satu kali pertemuan. Bahkan sebagaimana kita bahas minggu lalu, para murid pun tidak sebegitu cepatnya bisa memproses kebangkitan Yesus, karena hal ini memang terlalu besar.
Namun satu hal terakhir dalam introduksi ini, yaitu bahwa hal ini bukan bad news. Bahwa Paskah itu besar, melampaui yang kita pikir, tidak bisa dikunci dan tidak cepat dimengerti, itu bukanlah bad news, karena segala sesuatu yang agung, signifikan, berbobot, selalu perlu waktu. Semakin agung, semakin signifikan, semakin lama waktu yang dibutuhkan untuk memproses hal tersebut. Dalam hidup ini ada dua jenis hadiah, ada hadiah-hadiah yang ketika mendapatkannya Saudara langsung bersyukur, langsung enjoy, langsung menikmati –dan biasanya tidak bertahan lama juga kenikmatannya. Ada juga hadiah-hadiah yang waktu mendapatkannya kita cuma bisa mengatakan, “Hmmm… thank you”, baru belakangan kita mulai tahu cara pakainya, ternyata bisa begini dan begitu, dan kita pelan-pelan menyadari betapa ini berguna banget, dan hadiah tersebut jadi pemberian yang sangat berdampak, bermakna, pemberian yang mungkin meletuskan hobi baru, membuat kita selanjutnya mencari-cari barang yang mirip lagi, membuka suatu dunia kenikmatan yang kita tidak pernah tahu atau bayangkan sebelumnya. Lalu suatu hari ketika si pemberi hadiah itu datang, dia kaget, “Gile! Lu sekarang sudah jadi kolektor, ya,” dan kita mengatakan, “ini gara-gara Lu.” Paskah adalah seperti hadiah yang kedua itu, hadiah yang perlu waktu. Namun, sekali lagi ini bukan bad news, ini good news, maka kita akan melanjutkan pendalaman mengenai Paskah.
Minggu lalu kita sudah memperlihatkan bahwa Paskah itu terjadi, kebangkitan Yesus bisa kita percaya. Hari ini kita akan coba bertanya dua hal. Pertama, kenapa Paskah sering kali dikesampingkan dalam iman tradisi kita. Kedua, kita akan coba menjawab –secara permukaan dulu– sebabnya Paskah harusnya justru sentral.
I. Kenapa Paskah (Kebangkitan) Sering Kali Terpinggirkan
Dalam tradisi kita, atau ketika kita sendiri memproklamasikan Injil, sering kali kita melakukannya bahkan tanpa menyebutkan bahwa Yesus hidup, Yesus telah dibangkitkan. Kita sangat sering mendengar Injil yang memproklamasikan bahwa Yesus mati, tetapi bukan bahwa Dia bangkit. Ini kenapa?
Pertama-tama kita perlu menyadari ini jelas sesuatu yang sangat aneh karena kematian Yesus membutuhkan kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus bukanlah sampingan terhadap kematian-Nya, kebangkitan Yesus adalah hal yang mengubah dan mengisi kematian-Nya menjadi sesuatu yang punya makna. Contoh yang simpel, kita semua tahu kematian selalu merupakan hukuman/ganjaran akibat dosa; dan dengan demikian hanya karena kebangkitan Yesuslah kita bisa bertanya, “Jadi, kalau Yesus dibangkitkan, kenapa Dia harus mati?” Hal ini bisa kita tanyakan karena Yesus dibangkitkan. Kebangkitanlah yang membuat kita menyadari makna kematian-Nya berubah, bahwa Yesus mati demi kita, Dia bukan mati gara-gara dosa/kesalahan-nya sendiri. Kebangkitanlah yang membuat Jumat itu menjadi agung, kebangkitanlah yang membuat Friday itu jadi good; sebelum terjadi Paskah, tidak seorang pun murid-murid Yesus merayakan Jumat Agung itu sebagai hari raya.
Kalau kita melihat dari sejarah Gereja, tokoh Charles Spurgeon, yang disebut sebagai the Prince of Preachers, pernah bergumul dengan hal ini pada masa-masa awal kariernya sebagai pengkhotbah. Spurgeon bergumul dengan kondisi Gereja pada zamannya yang dia rasa sangat menyedihkan, maka dia mulai bertanya kenapa sih zamanku ini Gereja hancur banget, apa sih yang beda pada zamanku, apakah mungkin ada sesuatu yang tidak dikhotbahkan pada zamanku yang sebenarnya sangat sering dikhotbahkan pada zaman para rasul. Dia coba melihatnya dari angle seperti itu karena dia seorang pengkhotbah. Spurgeon lalu menyelidiki khotbah-khotbah para rasul dalam Kisah Para Rasul. Ternyata yang dia temukan sebagai konklusinya adalah: ketika para rasul berkhotbah, mereka selalu mempersaksikan kebangkitan Yesus dari antara orang mati. Ini memang benar, Saudara, maka dalam minggu-minggu mendatang kita mungkin akan membahas tiga khotbah yang tercatat dalam Kisah Para Rasul, yang semuanya berfokus pada kebangkitan Yesus.
Menyadari hal ini, Spurgeon mulai mengubah approach-nya dalam berkhotbah. Itu sebabnya kalau Saudara melihat archive khotbah-khotbah yang ditulis Spurgeon, yang sebanyak 3.563 khotbah (ini jumlah yang bertahan sampai sekarang, tentunya ada lebih banyak lagi), dan Saudara search berapa kali dia menyebut tema kebangkitan Yesus, Saudara akan menmukan 7.620 kali. Ada 3.563 khotbah, dan menyebut kebangkitan Yesus 7.620 kali, jadi rata-rata dia menyebutkan itu lebih dari dua kali per khotbah. Mungkinkah Saudara, ini salah satu hal yang membuat Spurgeon begitu dipakai Tuhan?
Satu contoh lagi, Billy Graham, pengkhotbah yang jadi panutan khotbah model KKR –yang jangan-jangan selama ini kita pikir identik dengan khotbah yang fokusnya hanya pada kematian dan salib Kristus. Biasanya dalam KKR kita mendengarnya khotbah yang ujung-ujungnya bolak-balik ke kematian Kristus, tetapi kalau Saudara menganalisa khotbah-khotbah Billy Graham, misalnya di Billy Graham Center kampus Wheaton College, di situ mereka menyajikan inti dari khotbah-khotbah Billy Graham sbb.: Yesus mati bagimu, tetapi tidak cuma itu, Ia telah bangkit, Ia adalah Yesus yang hidup, dan Ia hadir hari ini di tengah-tengah kita. Itulah hasil kompilasi dari khotbah-khotbah KKR-nya Billy Graham. Dan, mungkinkah penekanan akan kebangkitan itulah yang bisa menjelaskan sebabnya Billy Graham dipakai Tuhan begitu besar pada zamannya?
Jadi, kenapa hari ini kita melihat kontras dalam banyak berita Injil yang kita dengar dan proklamasikan –dan saya termasuk guilty dalam hal ini– bahwa penekanan yang kuat akan kebangkitan Yesus telah hilang, sementara kematian-Nya tetap ditekankan? Kita akan coba melihat dua alasan dalam hal ini, dan apa yang bisa kita pelajari.
Alasan yang pertama, dalam tradisi kita berita kebangkitan Yesus sering kali tertelan oleh berita kematian-Nya. Ini satu hal yang kita bisa mengerti, karena kematian Yesus adalah dasar dari pengampunan kita. Hukuman yang harusnya ditimpakan kepada kita, ditimpakan ke Yesus di atas kayu salib, maka di sanalah dosa kita ditebus oleh Kristus. Salib itu crucial (satu hal yang menarik, kalau Saudara pikir sedikit akar kata crucial, itu adalah crucis, crux, salib). Ini something yang menarik, jadi memang salib itu crucial sehingga lumrah untuk kita cenderung pakai kacamata kuda pada salib. Disclaimer, solusinya bukanlah untuk kita sekarang beralih haluan pakai kacamata kuda pada kebangkitan, solusinya adalah: waktu kita bersimpuh di bawah salib Yesus, kita perlu membacanya dalam lensa kebangkitan. Kita perlu menyadari bahwa salib itu kosong, sama seperti kubur Kristus juga kosong; sama seperti salib adalah tempat dosa-dosa kita dipakukan dan dimatikan, kubur kosong adalah tempat kita menerima kuasa untuk hidup bagi Kristus.
Di dalam Alkitab, salib dan kubur kosong, penderitaan-kematian dan kebangkitan Yesus, itu jauh lebih dekat dan identik daripada yang kita pikir. Dalam hal ini kita akan melihatnya dengan mengambil dua penulis Perjanjian Baru saja, Paulus dan Petrus, mereka melihat dua peristiwa ini dalam kacamata yang singular. Misalnya 1 Kor. 1:23 Paulus mengatakan: “Kami memberitakan Kristus yang disalibkan … “, tetapi dalam Kis. 17:18 Lukas menceritakannya sbb.: “Ia (maksudnya Paulus) memberitakan Injil tentang Yesus dan tentang kebangkitan-Nya”. Jadi, Paulus mengatakan memberitakan Kristus yang disalib, Lukas mengatakan Paulus memberitakan Kristus yang bangkit; yang benar yang mana?
Contoh kedua, dalam 1 Petrus 1:3 Petrus mengatakan: “Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan.” Lanjut beberapa ayat berikutnya, ayat 18-19, dia mengatakan: “Sebab kamu tahu, bahwa kamu telah ditebus dari cara hidupmu yang sia-sia yang kamu warisi dari nenek moyangmu itu bukan dengan barang fana, bukan pula dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat.” Jadi di awal Petrus mengatakan kita dilahirkembalikan karena kebangkitan Yesus Kristus, lalu berikutnya dia mengatakan penebusan kita terjadi oleh karena darah Kristus, yang adalah kematian-Nya. Yang benar yang mana, kematian Kristuslah yang menyelamatkan kita, atau kebangkitan-Nya? Petrus mengabarkan kebangkitan Yesus, atau kematian-Nya?
Bingung, ya. Ini kontradiksi Alkitabkah? Tidak. Satu-satunya cara kita bisa memahami hal yang sepertinya kontradiksi ini adalah dengan menyadari bahwa ketika Petrus atau Paulus menyebut salib, mereka juga sedang membicarakan kebangkitan Yesus; dan ketika mereka membicarakan kebangkitan Yesus, mereka juga sedang mengasumsikan kematian-Nya. Dua peristiwa ini sangat erat kaitannya dalam pikiran Paulus dan Petrus, sehingga ketika mereka menyebut yang satu, mereka sedang memaksudkan juga yang satu lagi.
Saudara mungkin merasa baru tahu hal ini, namun ini bukan ide baru. Kita justru perlu hati-hati dengan semua ide baru, karena 2000 tahun umat Tuhan dengan setia jungkir balik mempelajari Alkitab, lalu kalau kita zaman sekarang somehow bisa mengeluarkan ide baru, itu sesuatu yang sebenarnya tanda tanya (dan kita perlu lebih rendah hati). Bahwa salib dan kebangkitan identik satu dengan yang lain dalam Alkitab, itu bukan ide baru, John Calvin pun sudah mengenali hal ini dari setengah milenium yang lampau. Calvin mengatakan begini: “Mari kita mengingat baik-baik hal ini, yaitu ketika di Alkitab kematian Yesus disebutkan, segala sesuatu yang berkenaan dengan kebangkitan-Nya pada saat yang sama juga diikutsertakan. Dan, ketika Alkitab menyebut mengenai kebangkitan Yesus, segala sesuatu yang berkenaan dengan kematian-Nya juga pada saat yang sama diikutsertakan.” Calvin lalu menyebut kematian dan kebangkitan Yesus sebagai sebuah sinekdoke. (Sinekdoke adalah majas, yang ketika kita menyebut sebagian, maksudnya untuk mengungkapkan keseluruhan, atau sebaliknya; contohnya waktu Saudara mengatakan, “Aduh, lapar, perlu makan nasi,” maksudnya bukan cuma nasinya doang tetapi nasi berikut lauk-pauk dan minumannya juga). Demikianlah Calvin mengatakan kebangkitan dan kematian Kristus di dalam Alkitab, bahwa ketika Saudara mengatakan yang satu, Saudara sedang mengatakan yang satunya lagi juga.
Hal ini bukan cuma benar secara bahasa, dalam implikasinya pun kita lihat memang demikian, bahwa tanpa kebangkitan, kematian Yesus hanyalah satu lagi kematian keji di bawah penindasan Romawi yang tidak ada maknanya; dan tanpa kematian, bagaimana perlu ada kebangkitan??Jadi, jelaslah sebabnya dua istilah ini di dalam Alkitab sebenarnya satu, identik. Namun ini bukan berarti mulai sekarang kita tidak boleh membahas secara khusus salah satunya, tetapi menunjukkan salah satu alasan mendasar mengenai kenapa tradisi kita selama ini gagal mengapresiasi kebangkitan, yaitu karena kita ‘gak ngeh bagaimana membaca Alkitab, bahwa dua peristiwa ini bukanlah dua peristiwa yang berbeda. Dalam kacamata para penulis Alkitab, kita menyadari bahwa arah Yesus sejak naik ke kayu salib lalu bangkit dari antara orang mati lalu terangkat ke surga, itu semua satu arah. Demikian alasan yang pertama, yaitu kita kurang peka dengan cara membaca Alkitab.
Alasan yang kedua merupakan alasan yang agak ironis, yaitu bahwa dalam sejarah Gereja ternyata kebangkitan Yesus bukanlah sesuatu yang kontroversial, dengan demikian tidak membangkitkan banyak bidat besar –dan itu sebabnya tema ini terpinggirkan.
Urusan mengenai salib dan kematian Kristus mengundang banyak debat, kontroversi saling-silang, maka perhatian besar dicurahkan untuk topik tersebut. Banyak sekali buku mengenai salib yang ditujukan sebagai respons terhadap begitu banyaknya ketidaksetujuan serta perdebatan simpang siur mengenai apa persisnya yang terjadi di kayu salib. Dalam 20-30 tahun ini, salah satu perdebatan paling besar dalam dunia Teologi yaitu: banyak orang mulai menentang hal yang disebut dengan teori Penal Substitution, mengenai apa yang sebenarnya terjadi di atas salib. Kita sering kali mengatakan bahwa di atas salib Allah mengganti/menukar posisi kita dengan posisi Kristus, substitusi, kita harusnya dihukum namun hukuman ini diberikan kepada Yesus, Yesus harusnya hidup kekal namun hidup kekal ini diberikan kepada kita, dst. Dalam hal ini ada buku-buku pada zaman ini yang menyerang dengan mengatakan yang disebut sebagai cosmic child abuse, bahwa bagaimana bisa, ya, Allah Bapa demi kebaikan kita menghukum Anak-Nya sendiri, ini ‘kan divine child abuse?? Atau, kalau melihatnya sebagai Tritunggal, berarti Allah menyiksa diri-Nya sendiri, apa maksudnya??
Di sini Saudara bisa bayangkan, ketika orang Injili mendengar serangan-serangan seperti ini, maka yang kita lakukan adalah merespons dengan semangat. Kita menulis banyak respons bahwa itu serangan yang tidak bertanggung jawab, kita membicarakannya di gereja-gereja, dst. (disertasi Pendeta Ivan Raharjo, salah satunya berkenaan dengan kontroversi ini). Serangan-serangan seperti ini banyak terjadi sepanjang sajarah Gereja; dan itu ternyata punya “efek baik”, yaitu ketika ada kontroversi besar maka yang terjadi adalah konsolidasi Gereja. Beberapa denominasi yang tadinya saling-silang, bisa sementara mengesampingkan perbedaan, bersatu melawan bidat dalam hal tersebut, lalu hasil dari pemikirannya bisa menguatkan jemaat. Jadi, kontroversi cenderung meningkatkan kepekaan kita akan doktrin-doktrin tertentu, sementara bagian-bagian yang tidak kontroversial jadi cenderung terpinggirkan.
Kebenaran-kebenaran Alkitab, paling tidak dalam jangka panjang, sesungguhnya ada benefitnya ketika diserang, karena kebenaran jadi lebih jelas kelihatan ketika diperlihatkan di atas latar belakang kesalahan. Surat-surat para rasul dalam Alkitab pun semacam hasil dari pola ini. Hampir semua surat Paulus ditulis sebagai respons/jawaban/sanggahan terhadap kontroversi tertentu dalam jemaat tertentu. Misalnya di Korintus ada kontroversi A, lalu Paulus menulis itu tidak benar, dst. Inilah caranya pengenalan kita akan Tuhan (teologi kita) berkembang dalam Gereja. Warisan Teologi Sistematika kita pun bisa dikatakan merupakan hasil dari serangan bidat; karena ada bidat yang menyerang Gereja, maka umat Tuhan berkumpul dan berusaha memformulasikan yang benarnya seperti apa. Hasil dari konsili-konsili, pengakuan-pengakuan iman yang kita miliki hari ini, sedikit banyak dicetuskan karena Gereja diserang oleh ajaran sesat.
Namun dalam sejarah Gereja kita melihat satu keanehan, yaitu tidak ada debat besar, kontroversi besar, bidat besar, yang menyerang doktrin kebangkitan Yesus Kristus. Lihat saja denominasi-denominasi Kristen yang berbeda-beda hari ini, banyak perbedaan dan perdebatan mengenai bagaimana kita diselamatkan, kedaulatan Allah, kaum pilihan, dsb., namun mengenai kebangkitan, mereka semua percaya kebangkitan dan percaya kebangkitan itu sentral. Ironisnya, inilah yang mungkin membuat kita jadi terlena. Dalam hal ini, bahkan seorang penulis mengusulkan bahwa bisa jadi ini adalah bagian dari strategi setan. Dalam Efesus 6:12 Paulus memperingatkan bahwa pergumulan/pertempuran kita bukanlah melawan daging dan darah. Maksudnya apa? Salah satu maknanya adalah: ketika engkau melawan kuasa gelap, engkau tidak bisa expect dia pakai strategi-strategi manusia, kita perlu expect kuasa gelap akan pakai strategi-strategi yang kita tidak sangka –karena bukan daging dan darah.
Setan punya dua strategi yang berbeda, yang satu dengan menyerang secara direct, misalnya menyelewengkan suatu kebenaran tertentu, membuat kita meragukan kebenaran tertentu, dsb. Approach kayak begini bisa backfire terhadap setan sendiri, karena sebagaimana tadi kita lihat, ketika suatu kebenaran dalam Gereja diserang, ini kadang-kadang malah menghasilkan benefit. Tokoh-tokoh besar dalam Gereja, seperti Agustinus, Atasnasius, Luther, Calvin, Spurgeon, dikenal sebagai raksasa-raksasa iman dalam sejarah karena merekalah yang bereaksi terhadap kesesatan besar dalam zaman mereka masing-masing. Ini sesuatu yang lucu, bahwa strategi setan yang menyerang secara langsung sering kali malah mambawa hal yang baik bagi Gereja. Itu sebabnya ada satu strategi lain, yang sebaliknya, yaitu setan tidak menghiraukan suatu kebenaran, dan dengan demikian malah membuat kita sebagai orang Kristen juga tidak menghiraukan kebenaran tersebut –karena tidak diserang. Bukan karena kita menolaknya, melainkan karena kita berasumsi bahwa kita sudah tahu dan percaya. D.A. Carson mengatakan, momen di mana kita mengasumsikan kekristenan, adalah momen dimana satu generasi kemudian orang sudah tidak jadi Kristen lagi –karena iman sudah diasumsikan. Inilah bahaya familiarity.
Sesuatu yang familiar, itu berbahaya karena kita pikir semua sudah menerimanya, padahal mungkin hanya sedikit yang benar-benar mengerti dan peka. Kita ini jatuh kesandung di jalan-jalan yang kita familiar, sedangkan di jalan-jalan yang benar-benar baru, mata kita jelalatan, kita perhatikan benar-benar di mana ada lubang, di mana beloknya, dst. Dalam hal ini kita bahkan bisa spekulasi sedikit, bahwa sebabnya setan sudah tahu jurus pertama yang menyerang langsung itu tidak efektif bahkan membuat dampak positif bagi Gereja, namun dia tetap menjalankan strategi tersebut, adalah karena strategi ini membuat strategi yang kedua jadi sangat efektif. Dengan setan memfokuskan serangannya ke beberapa doktrin tertentu, yang lalu ada efek baiknya secara umum bagi Gereja, kita jadinya mencurahkan perhatian habis-habisan pada hal yang ini, dan di sini setan mungkin mengatakan, “Tidak apa-apa kamu belajar banyak. Kamu jadi lebih kuat dalam hal ini, karena dengan demikian kamu terlena dalam hal yang lain.” Jadi, meski strategi pertama itu backfiring, setan tetap melakukannya karena ini kombinasi dengan strategi yang kedua, membuat strategi kedua jadi sangat efektif. Ada distraksi maka jadi terlena, dan akhirnya pengetahuan kita timpang. Dan, yang berbahaya dalam urusan pengetahuan bukanlah orang yang tidak tahu; small knowledge is great danger, bahaya yang besar adalah orang yang tahu sedikti, tahunya timpang, tahunya sebagian, separuh. Kalau Saudara tidak tahu apa-apa, tidak terlalu bahaya, Saudara juga mungkin akan lebih gampang belajar, tetapi kalau Saudara merasa tahu padahal tahunya cuma separuh, itu yang bahaya. Itu sebabnya setan rela memberikan kita menang beberapa pertempuran, sehingga kita kalah peperangan.
Melihat alasannya kebangkitan sering kali terpinggirkan, kita bisa tarik paling sedikit dua pelajaran. Yang pertama, kita perlu belajar bahwa yang namanya kesulitan dalam Gereja Tuhan, itu tidak selalu berarti jelek. Kesulitan dalam Gereja Tuhan bisa berarti sesuatu yang justru banyak benefitnya. Ketika Tuhan membiarkan setan menyerang Gereja-Nya, sering kali kita tidak sadar ini sesuatu yang ujungnya malah bisa menguatkan Gereja. Kita harus belajar menyadari, mengakui, dan menghidupi kebenaran ini.
Yang kedua, kita perlu belajar untuk tidak mengutamakan perhatian hanya pada hal-hal yang kontroversial, yang seru, yang kita rasa relevan; kita perlu belajar bahwa dalam hidup Kristiani perlu ada ruang bagi hal-hal yang kita sudah tahu, karena mungkin itu cuma perasaan tahu doang. Seorang Kristen sadar ada perlunya mengulang, bukan cuma mengkonsumsi yang baru. Seorang Kristen sadar dan melakukan pembelajaran akan hal-hal yang tidak exciting, yang mungkin tidak dirasa relevan, karena seorang Kristen sadar akan strategi kuasa gelap, yang membuat kita bukan cuma diserang tetapi juga terlena akan hal-hal yang tidak kontroversial.
Demikian poin besar pertama, mengenai sebabnya kebangkitan seringkali terpinggirkan dalam tradisi kita. Hopefully kita bisa belajar dari hal ini.
II. Kenapa Kebangkitan Harusnya Sentral
Salah satu sebab kita tidak menyadari kebangkitan itu sentral, adalah karena kita pikir pentingnya suatu tema tergantung seberapa sering tema tersebut keluar. Kita merasa kebangkitan bukan suatu hal yang sentral karena dalam Alkitab kebangkitan bukanlah tema yang sering keluar. Kalau dibikin peringkat tema yang paling sering muncul dalam Alkitab, jangan-jangan kebangkitan tidak masuk dalam top 3 atau bahkan top 5. Namun di sinilah kita perlu berhati-hati, bahwa sesuatu yang tidak sering muncul tidak berarti tidak penting. Kita perlu belajar mengalihkan perhatian kepada hal-hal yang justru orang rasa tidak penting, karena jangan-jangan itu justru hal yang penting. Ini benar, karena kalau Saudara mempelajari Alkitab lalu menganggap hal yang sering muncul itu lebih penting, Saudara akan mendapati beberapa kesimpulan yang aneh, misalnya neraka lebih penting daripada surga (karena Alkitab lebih banyak menyebut neraka dibandingkan surga), uang lebih penting daripada pengampunan (karena dalam pengajaran Tuhan Yesus banyak sekali bicara tentang uang, harta, properti, yang jumlahnya sampai 25%, artinya kalau dikhotbahkan setiap Minggu maka satu kali sebulan kita bicara mengenai duit). Pengampunan tidak sebegitu banyaknya dibahas, namun apakah itu berarti pengampunan kalah penting dibandingkan uang? Sudah pasti tidak. Jadi, logika yang salah kalau melihatnya seperti itu. Kita aware bahwa orang yang tidak sering muncul bukan berarti dia tidak penting, dan orang yang muncul terus-terusan tidak tentu dia orang penting –tetapi terhadap Alkitab kita kadang-kadang tidak pakai logika yang sama.
Dalam Alkitab, kebangkitan itu sentral meski tidak terlalu sering disebut. Alkitab menggunakan cara lain untuk mengungkapkan pentingnya dan bobotnya kebangkitan. Dalam hal ini saya berikan analogi yang pertama, tentang orang bijak. Salah satu ciri khas orang bijak adalah kata-katanya biasanya sedikit. Amsal misalnya, kita melihatnya sebagai kitab bijaksana, maka kata-katanya sangat compact namun membuat kita berpikir panjang. Dalam suatu pembicaraan, seorang bijak mungkin lebih banyak diam, tidak bicara dulu, mendengarkan orang lain sampai selesai, tetapi begitu dia buka suara, satu dua kalimatnya bikin semua orang terhenyak, dan satu dua kalimat itu yang paling mereka ingat dibandingkan semua pembicaraan sebelumnya. Kita bisa melihat hal yang mirip dalam Alkitab.
Sebabnya kebangkitan itu sentral dalam Alkitab, bukanlah karena karena tema ini muncul terus-menerus, tetapi kita bisa menyadarinya dari cara Alkitab menyusun ceritanya. Kalau Saudara membaca Alkitab dari depan sampai belakang, tema apa yang paling banyak muncul? Kematian. Alkitab itu a book of death. Dari halaman pertama kita membaca kisah Adam dan Hawa, menceritakan bagaimana dosa masuk ke dalam dunia maka maut masuk ke dalam dunia. Berikutnya dua saudara, saling bunuh. Berikutnya lagi Lamekh, tambah banyak bunuh orang. Berikutnya lagi air bah, entah seberapa banyak orang yang mati. Belum lagi pasal demi pasal di mana kematian/maut itu muncul, dan munculnya pun tidak kira-kira. Kalau Saudara membacanya Alkitab versi anak-anak, memang semua disensor, cerita Air Bah tidak menyebutkan apa-apa mengenai kematian akibat disapu air bah, yang ada adalah berbagai macam binatang, ada jerapah, kuda nil, gajah, dsb. Saya bukan bermaksud mengatakan untuk kita buka semuanya kepada anak-anak, saya hanya mau mengatakan Alkitab itu sesungguhnya buku yang terus-menerus membahas kematian. Dan, inilah sebabnya tema kebangkitan ketika muncul, meskipun jarang namun efeknya sungguh dramatis. Seperti ada secercah cahaya yang menembus pekatnya kegelapan.
Beberapa analogi, misalnya dalam dunia seni, lukisan. Fokus atau subjek dari sebuah lukisan tidak harus digambarkan paling besar, namun kadang-kadang itulah caranya membuat efek dramatis. Bayangkan lukisan sebesar ini yang semuanya hitam pekat, lalu ada satu lilin kecil menyala di tengah-tengah kegelapan. Memang kecil lilinnya, namun Saudara langsung terfokus ke situ, Saudara tahu inilah subjek utamanya, dan bukan kegelapannya. Yang seperti ini jauh lebih berdampak dibandingkan kalau lilin yang sama digambarkan menyala di tengah ruangan yang terang-benderang. Inilah salah satu jurus seni.
Contoh yang lain, ketika dokter memberitahu engkau ada penyakit, misalnya kanker. Dokter bicara panjang lebar penyakitmu begini begitu, penyebabnya begini begitu, efeknya begini begitu, lalu di akhir dia bilang, “Tetapi, tidak usah khawatir, cuma perlu satu kali operasi, dan setelah itu selesai, kamu akan baik-baik saja.” Mendengar kayak begini, kita rasanya protes, kenapa tidak dari tadi Lu ngomong, gua sampai udah keringat dingin, dsb. Saudara lihat efeknya, kalau Saudara tidak diberitahu sepanjang itu soal penyakitnya, Saudara tidak akan benar-benar mengapresiasi pengobatannya, Saudara mungkin akan anggap remeh, bahkan Saudara mungkin akan menunda operasinya. Justru pengobatan/solusinya jadi meaningful, betapa bobotnya penting, adalah karena Saudara diceritakan lebih dulu soal penyakitnya.
Contoh terakhir, cerita-cerita yang kita lihat dalam buku-buku atau film-film, cerita-cerita yang kita suka karena seru. Kenapa demikian? Karena biasanya kisahnya berangkat dengan pelan-pelan, slow burn, tetapi makin lama makin pelik, akhirnya masuk dalam situasi kritis yang seperti tidak ada jalan keluar, segala sesuatu sudah di ujung tanduk, tiba-tiba ada solusi, dan solusi ini yang mengubah segala sesuatu, menyebabkan bisa happy ending.
Saudara, Alkitab juga mungkin seperti ini, Alkitab memang tidak bicara banyak mengenai kebangkitan, tetapi mungkin itu justru tujuannya. Alkitab pertama-tama menunjukkan dulu kengerian dosa, ketidakberdayaan manusia, yang berkali-kali diceritakan dalam berbagai cara dan gaya, lalu klimaksnya bahwa dalam hidup Yesus pun kematian ini ternyata berkuasa –sepertinya– dan Yesus mati. Namun kemudian ada turning point, kebangkitan-Nya. Dengan demikian kebangkitan adalah tema sentral dalam Alkitab, bukan karena seberapa seringnya muncul, melainkan karena keseluruhan jalan ceritanya mempersiapkan kita untuk melihat hal ini. Hanya karena kebangkitanlah Paulus bisa mengatakan, “Hai maut! Di manakah kemenanganmu? Hai kubur! Di manakah sengatmu?” –karena memang struggle-nya dari awal adalah terhadap maut.
Kayak apa sih pentingnya/sentralnya kebangkitan dalam Alkitab? Untuk membuat kita menyadarinya, saya perlu cerita pengalaman orang yang hidup di negara empat musim. Kalau Saudara pernah hidup di negara empat musim, khususnya yang winter-nya parah, tiap kali winter salju turun tidak kira-kira, menutupi jalan, engkau tidak bisa keluar, mobilmu tertutup habis oleh salju, semuanya putih, dan salju bukan jadi satu hal yang indah (tidak seperti di Melbourne yang winter-nya cuma dingin tok, dan kalau ada salju maka berita ini diterima dengan begitu berbahagia). Winter dalam dunia seperti tadi itu, rasanya mati. Saudara tidak bisa keluar ke mana-mana, tiap hari cuma menggigil di rumah dengan tiga lapis jaket, dsb. Pohon-pohon semua mati, burung-burung berhenti berkicau, benar-benar kehidupan seperti mati rasanya. Namun yang menarik, ada bunga-bunga jenis tertentu yang disebut early bloomer, bunga-bunga yang mulai bisa berkembang meskipun keadaan masih banyak salju, salah satunya crocus flower. Jadi bisa bayangkan, berbulan-bulan Saudara melihat segala sesuatunya putih lalu tiba-tiba suatu pagi dalam kedinginan ketika Saudara melihat keluar, ada satu warna lain muncul dari tanah for the first time dalam beberapa bulan itu, itulah crocus flower. Bunganya kecil. Karena ini early bloomer, maka setelah crocus flower muncul, tidak berarti musim saljunya selesai, mungkin masih ada badai salju, mungkin besoknya salju masih turun banyak, bahkan mungkin crocus flower-nya sendiri tertutup salju lagi, tetapi sekarang seluruh kota mood-nya langsung lain. Melihat satu bunga ini, mereka merasa the worst has passed, kita sudah melewati turning point, ada pengharapan besok akan lebih baik. Meskipun mungkin masih turun salju, meskipun mungkin masih bisa ada badai, tetapi ini mulai berakhir. Ada pengharapan yang baru, yang muncul dalam hati orang-orang kota tersebut. Saudara, kira-kira seperti inilah efek dan peran kebangkitan.
Saya baru saja menonton Avatar: Fire and Ash. Film ini dibuka dengan setting kedukaan, tokoh utamanya, sepasang suami istri Jake dan Neytiri baru saja kehilangan anak sulungnya karena diserang oleh musuh. Di awal ini mereka masing-masing berduka dengan caranya sendiri. Neytiri berduka derngan cara keagamaan, dia menjalankan ritual-ritual keagamaan, menyanyikan lagu-lagu ratapan dalam agamanya; sementara Jake berduka dengan cara yang sangat cowok, cari kesibukan. Dia pergi ke tempat bekas pertempuran sebelumnya, mengumpulkan senjata-senjata yang masih bisa dipakai, karena ancaman musuh belum hilang. Lalu ada momen mereka bertemu, dan mereka mulai saling bertikai. Jake mengatakan, “Saya ini tentara, saya tidak bisa berduka dengan cuma nangis-nangis tok, cuma doa! Kamu doa pada dewamu, mana dewamu ketika kita diserang kemarin?? Mana dewamu ketika anak kita mati??” Neytiri lalu menghardik Jake, “Stop!! Aku sudah kehilangan segala sesuatu. Aku kehilangan rumahku, kehilangan keluargaku, yang tersisa padaku cuma satu hal, iman kepada dewaku bahwa segala sesuatu yang terjadi ini somehow ada dalam rencananya!”
Saya kaget mendengar kalimat itu karena mirip banget dengan Kekristenan, cara menghibur diri dengan trying untuk percaya segala sesuatu ada dalam kedaulatan Allah. Kekagetan yang kedua adalah bahwa lewat adegan film tersebut saya baru sadar, kalimat yang sering kali muncul dalam iman Kristen kita ini bukanlah kalimat yang positif. Itu bukan kalimat iman. Itu kalimat yang cuma hope, berusaha survive, bertahan memegang sesuatu dalam situasi di mana sesungguhnya tidak ada lagi yang bisa kita pegang. Kita menamakan itu iman –film itu menamakannya iman– tetapi sesungguhnya perasan yang menyertai iman tersebut adalah keputusasaan. Ini bukan hal yang positif. Saya lalu bertanya-tanya, apakah sebegitu sajakah iman Kristen kita? Ketika kita mengalami segala sesuatu yang jelek dalam dunia ini, ketika kita melihat fakta dosa dan maut, apakah kita hanya bisa mengatakan ‘inilah yang tersisa, saya beriman bahwa semua ini somehow ada dalam kehendak Tuhan’ ? Cuma itu tok?
Kembali ke khotbah minggu lalu, Saudara bayangkan perasaan para wanita, Maria Magdalena dan Maria yang lain, yang melihat Yesus. Mereka melihat Yesus menderita nasib yang sama sekali tidak unik. Mereka menyaksikan Yesus mati melalui cara matinya para budak, para teroris dan kriminal –paling tidak menurut pandangan orang Romawi. Ini bukan satu hal yang baru, inilah realitas dunia mereka, bahwa yang pegang kuasa dalam dunia mereka –dan dunia kita– bisa menentukan sendiri seenaknya apa yang baik dan yang jahat. Mereka tidak peduli apakah perang bakal bikin harga naik, bakal mencekik orang lain, mereka simply melakukan apa yang benar di mata mereka. Orang-orang seperti kita simply terlindas oleh mesin-mesin kuasa ini –dan ternyata Yesus sama saja, inilah realitas dunia. Saudara bayangkan perasaan mereka.
Mereka mengikut Dia sejak lama, menyaksikan Dia menyembuhkan orang, membangkitkan Lazarus, mengajar dengan kuasa, bijaksana. Mereka sendiri adalah orang-orang yang tersentuh oleh kuasa-Nya; Maria Magdalena, darinya diusir tujuh setan. Mereka merasa diri mereka diubah oleh kuasa Yesus dan anugerah-Nya dan belas kasihan-Nya. Untuk pertama kalinya mungkin dalam hidup mereka, mereka merasa ada kuasa alternatif di atas dunia ini selain kuasa penindasan orang-orang Romawi, selain kuasa kejahatan dan kerusakan. Untuk pertama kalinya mereka melihat secara nyata apa dampaknya ketika kuasa dipakai untuk menghidupkan, bukan mematikan. Mereka melihat apa yang terjadi ketika Kerajaan Allah mengundang bukan cuma goloingan elit tetapi juga orang buangan dan sampah masyarakat seperti pemungut cukai dan para pelacur. Mereka merayakan bersama dengan orang banyak kuasa pemulihan dan kasih Bapa, yang Tuhan ajarkan sebagai Bapa yang peduli terhadap burung-burung di udara apalagi kamu yang lebih berharga. Mereka mendengar pengajaran-Nya bahwa dunia bisa menjadi tempat yang begitu damai, karena relasi kita dengan musuh bukan lagi kebencian atau pembalasan dendam, melainkan kasih dan mendoakan. Mereka hidup bukan cuma mendengar, mereka melihat, mereka berjalan bersama-sama dengan Sumber dari semua ini. Selama beberapa tahun mereka hidup dengan Dia, melihat sendiri betapa Yesus begitu indah, amazing, dan meyakinkan. Lalu terjadilah salib. Coba pikirkan apa kira-kira perasaan mereka.
Semua gambaran indah itu hancur lebur di bawah roda mesin kuasa-kuasa dunia. Dan, mereka baru ingat ini bukan hal yang baru. Ribuan demi ribuan orang Yahudi sudah mati dengan cara ini sebelum Dia, dan ribuan lagi akan mati dengan cara yang sama, setelah Dia. Apa yang muncul di pikiran mereka? Harapan mereka sudah naik, mungkinkah dunia ini bisa menjadi seperti yang Yesus bicarakan, tetapi semua ini tiba-tiba pecah berantakan. Dia menyelamatkan orang lain, diri-Nya sendiri tidak bisa Dia selamatkan. Mendengar ejekan seperti ini, mereka hanya bisa menunduk, inilah realitas Jumat Agung.
Jumat Agung itu penting, namun Saudara harus sadar Jumat Agung tidak berdiri sendiri. Jumat Agung pada dasarnya adalah ksiah kematian Yesus, kisah di mana para murid-Nya menyaksikan Dia mati, menguburkan Dia sebagaimana mereka menguburkan keluarga-keluarga mereka sebelumnya. Bahkan setelah itu pun orang-orang yang pegang kuasa melakukan segala usaha untuk memastikan kelompok ini habis sama sekali selama-lamanya. Melihat semua ini, kita hanya akan bisa menghela napas dan mengatakan inilah realitas, inilah dunia nyata. Mimpi memang enak, dan untuk sementara hidup dengan Yesus bisa membuatmu bermimpi indah, tetapi sekarang engkau harus berhadapan dengan realitas! Engkau harus hidup dalam dunia di mana yang kuat makan yang lemah, dunia di mana semua orang menentukan sendiri apa yang baik dan jahat bagi mereka dan bagi golongan mereka saja, dunia di mana bahkan simpanse pun tidak saling menyiksa seperti kita! Simpanse itu kelakuannya cukup parah tetapi mereka tidak menyalibkan satu dengan yang lain,mereka tidak cari cara untuk memaksimalkan penderitaan sebelum bunuh orang itu. Hanya manusia yang melakukan itu; dan kita hidup dalam dunia seperti itu.
Saudara, kira-kira itu ‘kan yang ada dalam hati para murid setelah Yesus disalibkan. Itulah yang ada dalam hati kita juga ketika kita melihat segala kehancuran dunia, kita kehilangan harapan bagi dunia dan bagi diri kita sendiri. Itu sebabnya banyak dari kita beralih kepada skeptisisme, sinisme, sarkasme, karena rasanya lebih aman berlindung di balik semua itu.
Saya tidak menyangkal bahwa Jumat Agung penting. Yang kisah kematian Jumat Agung bawakan kepada kita adalah bahwa Injil Kristen bukanlah mimpi indah tok, bukan berita ngawang-ngawang, baperisme sentimental, di mana Yesus selalu tersedia untuk menemani engkau minum kopi atau menyembuhkan semua penyakitmu. Injil Kristiani itu menatap langsung tanpa kedip terhadap tragedi dan kejahatan umat manusia yang paling pelik, bahkan Injil Kristen ada di tengah-tengahnya. Yesus mati dalam sebuah kematian para kriminal, para budak, orang-orang yang dihantam dan digilas oleh mesin kuasa dunia. Namun sekali lagi, Jumat Agung tidak berdiri sendiri. Jikalau kita hanya punya Jumat Agung saja, jikalau kisah ini berhenti dalam salib Kristus, apa yang akan jadi respons kita? Seperti para wanita itu, kita akan pulang dan terduduk di depan kuburan, dan berusaha untuk bertahan, survive, mengatakan satu-satunya yang ada padaku hanyalah iman bahwa somehow semua ini ada dalam rencana Tuhan. Apakah itukehidupan Kristen? Apakah cuma itu saja?? Saudara tahu jawabannya; jawabannya adalah: tidak. Tidak cuma itu saja.
Menjadi orang Kristen tentu tidak kurang dari itu. Menjadi orang Kristen memang adlaah untuk percaya bahwa somehow dunia ini ada dalam kedaulatan Tuhan dan dalam rencana Tuhan. Namun menjadi Kristen itu lebih dari ini, menjadi Kristen adalah untuk melakukan sesuatu yang gila, yaitu melihat semua ini dan somehow mengambil kesimpulan ini semua bukanlah gambaran realitas yang paling riil. Gambaran realitas dunia yang menggilas dan meremukkan itu jelas riil, tidak disangkal, karena memang nyata terjadi, tetapi orang Kristen percaya ini bukan ending-nya. Semua ini tidak akan bertahan. Ada sesuatu yang telah terjadi di luar sana, yang menyebabkan aku bisa percaya di dalam hati sini. Iman jelas ada, tetapi iman bukanlah iman yang cuma pokoknya percaya. Ada sesuatu yang konkret yang telah terjadi yang menyebabkan Kekristenan bisa percaya hal ini. Ada sesuatu yang terjadi, yang bukan cuma di dalam hati sini tetapi juga di luar sana, yang menyebabkan kita bisa percaya. Apakah itu?
Kenapa kita bisa percaya di luar sana ada dunia yang hijau, merah muda, kuning cerah, di balik tumpukan salju putih yang dingin itu? Bagaimana mungkin dalam momen kita menggigil pakai jaket berlapis tiga, kita bisa somehow percaya dan membayangkan akan ada harinya kita bisa keluar rumah dengan baju tipis dan celana pendek, bahkan mungkin perlu kacamata hitam dan krim sunblock? Apa yang menyebabkan orang Kristen bisa percaya itu? Bukan cuma karena apa yang ada di dalam hati sini, tetapi karena di luar sana ada sesuatu, yaitu ketika para murid Yesus melihat crocus flower itu mulai tumbuh. Masih bisa ada badai salju, masih bisa ada cuaca buruk, tetapi turning point-nya sudah berlalu. Itulah kebangkitan Yesus bagi iman kita. Itulah sebabnya kebangkitan adalah sentral. Itulah sebabnya jika Yesus tidak dibangkitkan maka iman kita sia-sia.
Minggu-minggu mendatang kita akan lebih mendalami hal ini, tetapi setidaknya hari ini kita belajar kenapa tema ini sering kali dipinggirkan, dan satu gambaran permukaan dulu kenapa tema ini sentral.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading