Kita sedang berada dalam Musim Paskah. Kalender Gereja tidak merayakan Paskah hanya satu hari saja, melainkan 50 hari, dari Paskah sampai Pentakosta. Kenapa demikian? Karena Paskah mengubah segala sesuatu, sehingga untuk menjelaskan dan merenungkan Paskah, memerlukan banyak waktu.
Dalam khotbah Paskah pertama, kita mulai dengan dasarnya dulu, bahwa Kebangkitan itu benar-benar terjadi. Dan, meski catatan Alkitab adalah kesaksian saksi mata, ini sesuatu yang kita bisa percaya, karena dalam kita memutuskan untuk pergi ke sebuah restoran atau tidak, sampai pada urusan memutuskan perkara dalam pengadilan, kita ternyata sangat memandang kesaksian para saksi mata sebagai satu hal yang penting, bahkan boleh dibilang terpenting.
Dalam minggu kedua Paskah, kita membahas kenapa selama ini dalam tradisi gereja kita sering kali mengabaikan/mengesampingkan berita Kebangkitan, yaitu karena kita sering kali bikin kompetisi dalam melihat doktrin A, B, C, mana yang paling penting, padahal seharusnya semua itu complimentery. Juga dalam sejarah Gereja, doktrin Kebangkitan Kristus somehow bukan sesuatu yang sering diserang oleh ajaran sesat –setidaknya dibandingkan doktrin-doktrin lain– itu sebabnya kita juga sering kali tidak memperhatikannya. Selain itu kita membahas kenapa Kebangkitan harusnya sesuatu yang sentral, yaitu bukan karena sering disebut-sebut, tetapi karena seluruh Alkitab boleh dibilang membicarakan maut, kuasanya, dan ketidakberdayaan kita di hadapan maut, dan dengan demikian dalam kitab yang penuh dengan maut dan kematian, ketika tiba-tiba ada berita Kebangkitan dari maut maka efeknya seperti kita tinggal di negara dengan musim salju yang begitu tebal, semua putih tok, semua mati, semua kedinginan dengan baju berlapis empat, lalu suatu pagi kita melongok keluar jendela dan melihat crocus flower berbunga. Masih bisa ada badai salju, masih bisa cuaca buruk, tidak berarti besok semua salju mencair dan beres, namun dalam kedinginan itu somehow hati kita mulai bisa menjadi hangat, kita mulai menyadari ada sesuatu yang sudah mulai masuk ke dalam dunia ini. Mungkin masih di latar belakang, tetapi sudah mulai bekerja mengubah yang tadi semuanya putih tok dan mati ini, menjadi hijau, kuning, merah, biru, dan penuh dengan kehidupan. Itulah efek Kebangkitan. Itulah namanya pengharapan. Dan, pengharapan Kristiani ini center-nya bukan cuma mengenai yang di dalam hati kita, melainkan bahwa pengharapan yang ada di dalam hati kita itu adalah karena ada sesuatu yang di luar diri kita, yaitu kebangkitan Kristus. Itulah salah satu sebabnya Paskah mengubah segala sesuatu.
Hari ini kita akan melanjutkan. Saudara mungkin berkata, “Oke, Kebangkitan itu sentral, that’s fine, tetapi lalu apa efeknya?” Tentu efeknya banyak dan luas dan dalam. Hari ini kita hanya akan membicarakan salah satu aspek saja, yaitu dampak Kebangkitan bagi keselamatan kita.
Kita sering kali pikir keselamatan kita hanya datang dari Salib. Tetapi, sekali lagi, Kebangkitan itu sentral, maka Kebangkitan juga punya peran yang sentral dalam keselamatan. Disclaimer, sama seperti seorang dokter kalau mau menyuntik akan beritahu dulu bakal sakit, maka di sini saya mau mempersiapkan kita dulu, bahwa khotbah hari ini akan lebih sulit dari biasanya. Kenapa? Ada dua alasan. Pertama, karena membicarakan dampak Kebangkitan ini agak tricky. Dalam pembelajaran saya sendiri, membaca dari sini sana mengenai apa dampak dan efek Kebangkitan, hal itu bukan cuma luas dan banyak, tetapi ternyata banyak dari efek tersebut bukan hal-hal yang baru. Karena Paskah mengubah segala sesuatu, berarti efeknya sebenarnya sudah kita lihat dan tahu, dalam kehidupan Kristen, namun problemnya kita sering kali tidak sadar bahwa sesuatu ini merupakan hasil dari Kebangkitan, datang dari Kebangkitan.
Contohnya film Monty Python. Salah satu dari film mereka bercerita mengenai orang-orang Palestina Yahudi abad pertama di bawah Romawi. Kisahnya, ada seseorang yang menghasut orang-orang Yahudi ini, “Ayo! Kita bangkit melawan Romawi! Kita berontak terhadap mereka, ganyang Romawi, penindas, penjajah!” Lalu yang di bawah juga teriak, “Ya, benar! Ayo ganyang Romawi! Memangnya Romawi pernah melakukan apa sih bagi kita??” Kalau Saudara berhenti sampai di sini, pertanyaan itu akan Saudara jawab, “Benar juga sih, memangnya pemerintah Romawi pernah melakukan apa coba bagi orang-orang Yahudi ini, mereka itu penindas, penjajah. Ini masuk akal.” Namun ada orang di sebelahnya yang kemudian mengatakan, “Eh, mereka bikin jalan-jalan sih, jalan-jalan yang bagus. Mereka juga bikin saluran air sehingga penyakit berkurang.” Jadi orang-orang Yahudi ini bukannya tidak tahu efek pemerintahan Romawi atas mereka, mereka sudah tahu dan bahkan menikmatinya. Problemnya adalah: mereka sering kali tidak sadar hal itu datang dari siapa —demikian juga dengan Kebangkitan.
Khotbah hari ini bertujuan bukan untuk mengungkap kepada Saudara hal-hal baru, melainkan hal-hal yang selama ini sudah kita nikmati di hadapan Tuhan, yang kita sering kali tidak sadar itu ternyata merupakan hasil dari Kebangkitan, yang kalau tidak ada Kebangkitan maka tidak ada hal-hal itu. Misalnya saja Gereja. Saudara sadar dong Gereja itu bagian dari kehidupan Kristiani, sentral. Tetapi, sesungguhnya Gereja tidak akan ada jikalau bukan oleh Kebangkitan. Di mana nyambungnya?? Nah, lihat, sering kali kita tidak sadar ‘kan. Jawabannya simpel, Gereja itu perkumpulan orang percaya; dan Paulus mengatakan, “Mana bisa orang percaya kalau tidak mendengar. Mana bisa orang mendengar kalau tidak ada yang mengabarkan Injil. Mana bisa orang mengabarkan Injil kalau tidak diutus. “ Paulus bicara sampai situ, karena dia memang mau menggerakkan Gereja pada zamannya untuk mengutus. Namun kita bisa tanya lebih lanjut, siapa yang membuat orang bisa terutus? Apa yang mengutus para penginjl ke luar? Apa peristiwa yang meletuskan orang-orang untuk pergi terutus seperti ini? Jawabannya ternyata bukan Jumat Agung, bukan Salib. Di hadapan Salib tok, murid-murid Yesus kocar-kacir, bukan terutus. Mereka pergi sembunyi, bukan pergi menginjili. Kita melihat minggu lalu, pengutusan yang pertama terjadi pada Minggu Paskah, ketika Maria Magdalena dan Maria yang lain itu diutus Yesus untuk mengabarkan berita Kebangkitan kepada murid-murid yang lain. Kita melihat belakangan Amanat Agung, Yesus mengutus murid-murid untuk pergi ke seluruh dunia menjadikan segala bangsa murid-Nya dan membaptis mereka. Siapa yang mengutus mereka? Yesus. Koq bisa mengutus, bukankah Dia sudah mati? Ya, bisa, karena Dia bangkit. Tanpa Kebangkitan tidak ada Gereja, hanya saja somehow kita selama ini tidak menyadarinya. Ini probelmnya. Bukan kita tidak tahu apa efek dari Kebangkitan, tetapi kita sering kali tidak sadar bahwa hal-hal ini adalah efek dari Kebangkitan.
Itu sebabnya hari ini agak tricky; saya mau mempersiapkan bahwa Saudara tidak akan mendengar hal-hal yang baru, waktu hari ini kita membicarakan Kebangkitan. Tujuan kita hari ini adalah kesadaran baru, bahwa efek-efek yang selama ini kita lihat dalam kehidupan Kristiani kita, ternyata datang dari Kebangkitan. Itu sebabnya saya ingin membahas bagaimana Kebangkitan berdampak bagi keselamatan kita. Kita jelas bukannya tidak tahu, hanya saja selama ini kita tidak sadar seberapa Kebangkitan itu penting dan sentral bagi keselamatan kita. Minggu berikutnya kita akan membahas bagaimana Kebangkitan bukan hanya berdampak pada keselamatan kita, tetapi juga pada keselamatan seluruh alam ciptaan Tuhan, mengenai bagaimana hal tersebut datang dari kebangkitan Kristus. Inilah alasan pertama bahwa khotbah ini sulit, karena bukan memberikan kepada Saudara hal yang baru melainkan mencoba untuk mengubah cara pandang yang lama.
Alasan kedua, khotbah hari ini sulit karena kita akan pakai pendekatan pembahasan yang bersifat teologis. Saya biasanya membahas narasi, ada cerita yang bisa diikuti dengan gampang, tetapi hari ini saya tidak ambil dari satu perikop tertentu, bukan dari satu cerita tertentu, melainkan lebih secara teologis, agak mirip kelas PA. Ini bisa menjadi kesempatan Saudara untuk menyadari sekali lagi bahwa memang urusan Kebangkitan tidak gampang, tidak ada shortcut-nya, kadang kita bisa mempelajarinya dari urusan narasi, kadang juga mempelajari secara teologis.
Kita ingat dalam khotbah pertama, bahkan para murid Yesus sendiri yang sudah tahunan belajar dari Dia secara langsung, masih tetap bisa ragu dan ketakutan, tidak percaya waktu melihat kebangkitan-Nya. Hal ini efeknya bagi kita ada dua. Pertama, ini berarti kalau kita hari ini sulit memahami Kebangkitan, itu wajar dan lumrah, jangan terlalu khawatir dengan itu, lagipula segala sesuatu yang agung memang susah dan perlu waktu. Yang kedua, mungkin kita juga perlu adjust ekspektasi kita sebagai murid Kristus, bahwa kalau murid-murid yang original saja ada kesulitan, maka kenapa ya, kita sering kali datang ke Firman Tuhan dengan ekspektasi selalu segar, selalu rasa hati dihangatkan, selalu expect bisa mudeng, jelas, kenyang, puas?? Ayo, Saudara, mungkin engkau perlu upgrade di sini. Herannya kalau urusan hobi, kita ini tidak puas dengan keadaan kita hari ini saja, kita punya segudang wish list dalam app-app marketplace untuk upgrade hobi kita, dan kalau kita tidak ada uang untuk itu, kita menanti dengan penuh harap hari di mana akhirnya kita bisa upgrade. Sedangkan kalau urusan Kekristenan, upgrade itu jadi bad news, kita sukanya di sini terus, bertahan di sini saja, saya cuma bisa kayak begini, ‘kan Yesus menerima aku apa adanya. Memang benar Yesus menerima kita apa adanya, tetapi Yesus juga tidak puas membiarkan engkau bertahan terus-menerus apa adanya tok, Yesus ingin engkau bertumbuh, sama seperti semua orangtua ingin anaknya bertumbuh.
Demikian, disclaimer yang cukup panjang mengenai khotbah hari ini karena memang susah. Sekarang kita mulai membahas keselamatan dan Kebangkitan.
Kita sudah membahas bagaimana Kebangkitan –tidak cuma Salib—ternyata sangat sentral bagi Alkitab. Kita akan meneruskan mendalami bagaimana Kebangkitan maka juga sentral dalam keselamatan kita. Ini sering kali kontras dengan apa yang selama ini kita pikir, yaitu ada kecenderungan untuk melihat keselamatan sebagai sesuatu yang terutama, dan mungkin bahkan hanya melalui Salib, bahwa Salib ‘kan yang menyelamatkan kita, Kebangkitan cuma side effect-nya. Jadi kita pikir Kebangkitan itu suplemen, sebuah mukjizat yang memang amazing, namun gunanya cuma untuk membuktikan Yesus sebagai Anak Allah, tidak lebih daripada itu.
Kecenderungan seperti ini dalam tradisi kita, bisa kita lihat ketika Saudara menyadari bahwa urusan Kebangkitan biasanya dibahas di gereja (paling tidak kalangan gereja konservatif) sering kali hanya untuk membela fakta sejarahnya saja. Yesus benar-benar bangkit lho, maka Kebangkitan = Alkitab bisa dipercaya, Alkitab itu benar. Cuma sebatas itu. Ini tentu penting, namun sadarkah Saudara jikalau urusan Kebangkitan hanya urusan faktualnya saja, maka berarti Kebangkitan hanya perlu dibahas dan relevan bagi orang-orang yang belum percaya, yang masih meragukan Alkitab, Kebangkitan jadi cuma buat mereka doang, dan kita akhirnya tidak bisa melihat relevansinya bagi kehidupan kita sehari-hari. Ini menyedihkan. Kita perlu membereskan hal ini, mulai dari dampak dan peran kebangkitan Yesus dalam keselamatan kita –kita yang sudah percaya. Kita akan melihat dari beberapa ayat.
Roma 4:25, “… yaitu Yesus, yang telah diserahkan karena pelanggaran kita dan dibangkitkan karena pembenaran kita.” Cukup jelas di situ, kita dibenarkan di hadapan Allah (justification) lewat Kebangkitan. Jelas sekali Sallib dan Kematian ada perannya, oleh karena Salib dan Kematian pelanggaran-pelanggaran kita dibereskan. Tetapi tidak berhenti di situ ‘kan? Kenapa perlu ada Kebangkitan? Karena lewat Kebangkitanlah kita dibenarkan.
Lewat ayat seperti ini Saudara menyadari apa itu keselamatan Kristiani. Keselamatan bukanlah cuma pelanggaran kita dibereskan, dalam Salib kita diampuni, tetapi juga kita dibenarkan dalam Kristus. Pembenaran beda dengan pengampunan; dan keselamatan kita adalah dua-duanya. Dua-duanya adalah bagian dari keselamatan kita, bukan cuma salah satu.
Apa bedanya? Kenapa perlu dua-duanya? Gampangnya begini, yang namanya pengampunan, itu berarti Saudara tadinya minus, lalu Saudara diampuni, sekarang Saudara netral di hadapan Allah. Skormu jadi nol, di-reset. Itu namanya pengampunan; dan itu berarti Allah tidak memurkaimu lagi. Tetapi, kalau engkau cuma diampuni, kalau cuma masalah pelanggaranmu dihapuskan, memang benar berarti Allah tidak memurkaimu lagi, namun Allah juga tidak berkenan kepadamu. Engkau nilainya nol. Jadi kalau keselamatan itu hanya urusan Salib tok, cuma diampuni tok, maka engkau harus baik-baikin Tuhan. Utangmu diampuni, tetapi utang hilang tidak berarti jadi punya uang. Tidak heran banyak orang Kristen jadi hidup kayak begini, hidup seakan-akan mereka cuma nol di hadapan Tuhan, bahwa keselamatan yang Tuhan bawa bagi hidup mereka hanyalah urusan penghapusan pelanggaran tok; dan kalau demikian, sekarang tanggung jawab siapa untuk bisa punya nilai plus di hadapan Tuhan? Ya, tanggung jawabb saya. Itu sebabnya mereka memperjuangkan sendiri keselamatan mereka. Ketika pergi menginjili, melayani, mereka melakukannya dengan rasa takut, jangan sampai saya terus-terusan nol di hadapan Tuhan, musti plus nih, kalau tidak, tidak masuk surga nih. Dan akhirnya, ini bukan pelayanan yang keluar dari sukacita yang meluap, soalnya karena nol koq.
Saudara lihat, kita tidak cuma butuh pengampunan, kita tidak bisa cuma pelanggaran kita dibereskan, kita butuh yang disebut pembenaran. Pembenaran beda dengan pengampunan. Pembenaran lebih dari sekadar diampuni, pembenaran itu plus. Ketika Saudara dibenarkan, Saudra tidak cuma bebas, tidak cuma boleh pergi, tetapi Saudara boleh masuk, boleh datang. Ada nilai plus sekarang, tidak cuma netral. Ketika engkau dibenarkan, berarti Allah tidak cuma netral terhadapmu, Allah berkenan kepadamu. Bisa lihat bedanya?
Dari ayat tadi, Saudara lihat kenapa pembenaran ini krusial? Karena kebangkitan Yesus. Jadi, Yesus diserahkan karena pelanggaran kita –minus jadi nol—namun kemudian kita dibenarkan karena kebangkitan-Nya –nol jadi plus. Dua-duanya ini perlu.
Petrus mengatakan yang mirip dengan ini dalam 1 Petrus 1:3, 18-19, “… telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati … . kamu telah ditebus … dengan darah yang mahal, yaitu darah Kristus yang sama seperti darah anak domba yang tak bernoda dan tak bercacat. ” Yang pertama, kita lahir kembali oleh karena kebangkitan Yesus Kristus; lalu berikutnya, kita ditebus oleh darah Kristus –Kebangkitan dan Kematian. Kematian fungsinya menebus, dari minus ke nol. Namun tidak berhenti di situ, engkau lahir baru. Lahir baru berarti dari nol jadi plus. Itu datangnya dari mana? Dari kebangkitan Yesus Kristus.
Petrus dan Paulus sama dalam hal ini. Ini satu hal yang sangat mendasar dari Kekristenan, namun begitu banyak dari kita yang sudah lama jadi orang Kristen pun, bisa jadi ini baru dengar sekarang. Saudara sekarang melihat relevansi kebangkitan Yesus bagi kita, orang-orang yang percaya. Ini baru salah satunya saja, karena Paskah sesungguhnya mengubah segala sesuatu. Namun lihatlah, keseluruhan pembicaraan selama ini sebagai orang Kristen mengenai bagaimana kita sekarang menjadi anak-anak-Nya, menjadi Tubuh Kristus, menjadi Bait Allah –yang semuanya itu bicara plus, hal yang normal dalam Kekristenan, manfaat standar orang Kristen, yang selama ini kita sudah tahu dan menjadi bagian sehari-hari menjadi orang Kristen– ternyata itu semua terjadi bukan cuma karena Salib, melainkan melalui Salib dan Kebangkitan.
Itu sebabnya di tempat lain Paulus mengatakan mengenai apa sih yang namanya menjadi orang Kristen, Filipi 3:10, yaitu mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Itu kuncinya menjadi orang Kristen, mengenal Kristus dan kuasa kebangkitan-Nya. Kebangkitan Yesus adalah sumber dari keselamatan kita, hidup kita yang sekarang ini. Hidup kita yang sekarang ini selamat, itu bukan karena kita sekadar nol/netral, tetapi karena nol ini telah ditambahkan menjadi nilai kuasa plus. Kita bukan mengandalkan kuasa kita sendiri dalam hidup bagi Kristus, kita telah diangkat, diberikan nilai plus tersebut.
“Tunggu, tunggu, Pak. Oke, saya jelas sih Alkitab mengatakan itu semua, bahwa ternyata keselamatan kita, pembenaran kita, datang bukan cuma dari Salib tok melainkan dari kebangkitan Yesus. Dan, bahwa ini dua hal yang complementary, saling melengkapi, yang seperti Bapak katakan minggu lalu, jangan dikompetisikan, jangan diadu, dua-duanya bekerja sama mendatangkan keselamatan bagi kita; Salib dengan cara menghapus dosa kita, minus jadi nol; Kebangkitan dengan cara membenarkan kita, dari nol ke plus. Atau seperti pengkhotbah lain katakan, Salib adalah solusi bagi kehidupan kita yang lama; Kebangkitan adalah dasar bagi kehidupan kita yang baru. Calvin sendiri mengatakan yang mirip, bahwa oleh Saliblah, dosa dan maut dihancurkan (minus ke nol), oleh Kebangkitanlah, kehidupan diberikan dan kebenaran dipulihkan (nol ke plus). Jadi saya bisa mengerti Alkitab mengatakan seperti itu, demikian juga Paulus, Petrus, Calvin. Tetapi, bagaimana caranya bisa kayak begitu?? Bahwa Salib membayar dosa saya sehingga skornya nol, itu saya bisa mengerti; tetapi bagaimana Kebangkitan Yesus bisa membuat saya plus di hadapan Tuhan? Yesus yang bangkit, kenapa saya jadi ikut-ikutan plus di hadapan Tuhan?
Saudara, kunci untuk mengerti ini efek kebangkitan Yesus bagi pembenaran kita –Alkitab jelas mengatakan dan menyambungkan itu– kita musti melihat lebih dulu apa efek kebangkitan Yesus bagi pembenaran Yesus sendiri. Jadi, mau melihat efek kebangkitan Yesus bagi saya, harus melihat efek kebangkitan Yesus bagi Yesus sendiri, yaitu Yesus juga dibenarkan lewat kebangkitan-Nya. Maksudnya bagaimana?? Koq, Yesus perlu pembenaran?
Pembenaran itu deklarasi. Deklarasi bahwa sesuatu itu sekarang plus, bahwa kamu boleh masuk, bahwa kamu yang benar. Misalnya Saudara lomba debat lalu Saudara diputuskan sebagai yang benar, itu berarti Saudara dibenarkan. Inilah pembenaran. Lalu dalam hal apa Yesus itu dibenarkan? Saudara lihat dalam kisah Injil, bahwa sepanjang hidup-Nya Yesus mengklaim sesuatu yang orang lain banyak menentang. Dia mengklaim lewat berbagai cara, kadang secara langsung, kadang tidak langsung, bahwa Dia setara dengan Bapa, bahwa Dia Mesias Israel, bahwa Dia Anak Allah, dst. Dan, banyak yang menentang ini, mereka mengatakan, “Tidak, Kamu penipu, palsu, pengacau; Kamu guru sesat. Kamu melakukan mukjizat berdasarkan kuasa Iblis, “ dsb. Dalam hal ini tentunya mereka merasa merekalah yang benar –mereka merasa dibenarkan– ketika apa? Ketika Yesus disalibkan. Nah, benar ‘kan, karena Salib itu momen Yesus kelihatannya bukan Anak Allah. Dan, ini satu hal yang nyata bukan cuma bagi orang-orang yang melawan Dia, tetapi juga di mata murid-murid-Nya. Koq bisa sih Mesiasku ini disalibkan?? Koq, bisa sih Orang yang kusembah sebagai Tuhan ini mati?? Konyol banget, ya. Itu sebabnya mereka kocar-kacir. Ini karena apa? Karena Dia digantung di atas kayu salib.
Digantung di atas kayu salib, dalam kitab suci orang Yahudi adalah kematian yang terkutuk oleh Allah. Kematian tok saja merupakan hasil kutukan dosa sejak awal, maut masuk ke dalam dunia karena dosa, sedangkan kematian digantung di atas kayu salib itu ekstra kutukan. Jadi bagaimana mungkin Orang seperti ini adalah Mesias, boro-boro Anak Allah?? Itu sebabnya Salib adalah momen di mana orang-orang mengolok-olok Dia, “Hai, Anak Allah! Turunkan diri-Mu. Orang lain Kau selamatkan, diri-Mu sendiri tidak kau selamatkan??” Inilah Salib, Saudara. Inilah implikasi Salib kalau berdiri sendiri, implikasi Salib sebelum Kebangkitan. Itu sebabnya Jumat tersebut tidak jadi Jumat Agung sebelum Minggu Paskah.
Kita hari ini tahu Dia mati bukan karena dia dikutuk, Dia mati karena Dia mengambil kutukan kita; tetapi tahu ini dari mana? Kita tahu makna Salib yang sesungguhnya, bahwa Dia mati bukan karena Dia melainkan karena kita, tetapi dari mana kita sadar akan hal ini? Dari mana kebenaran sesungguhnya tentang Salib itu dikuatkan? Bukan dari Salibnya sendiri, tetapi dari Kebangkitan. Jadi, kebangkitan Yesus adalah pembenaranya Yesus. Kebangkitan inilah yang membuktikan nah, Yesus yang benar ‘kan, klaimnya Yesus yang benar, Dia memang benar-benar Anak Allah, Mesias Israel. Kita lihat dalam Roma 1:4, dan menurut Roh kekudusan dinyatakan oleh kebangkitan-Nya dari antara orang mati, bahwa Ia adalah Anak Allah yang berkuasa, Yesus Kristus Tuhan kita. Inilah momen pembenarannya Yesus, di mana Ia dibenarkan, diperlihatkan benar, di-justify, di-vindicate bahwa Dia itu benar.
Kebangkitanlah yang membuat kita menyadari apa yang benar-benar terjadi pada Salib. Minggu Paskahlah yang membuat kita mulai memikirkan ulang Jumat yang lalu itu, dan pada akhirnya mengambil kesimpulan bahwa itu Jumat yang agung, karena ternyata Dia bangkit, dan hanya Allah yang berkuasa membangkitkan orang mati. Karena Allah yang berkuasa membangkitkan orang mati, maka Yesus tidak benar-benar terkutuk, Ia benar-benar adalah Anak Allah, ketahuan bahwa Dia yang benar.
Satu contoh, dari film Hero, filmnya Dustin Hoffman tahun 1992. Dustin Hoffman main sebagai tokoh bernama Bernie. Bernie ini ceritanya seorang gelandangan, kotor, tidak punya rumah, dsb. Suatu hari, di daerah dekat Bernie hangout terjadi plain crash, sebuah pesawat jatuh, pada malam hari dan hujan deras. Bernie pergi menyelamatkan 55 orang dari pesawat itu sendirian. Namun karena terjadinya malam hari, wajahnya kotor tertutup lumpur dsb., orang-orang itu tidak tahu siapa yang menyelamatkan mereka. Mereka lalu mencari-cari orangnya, pasang iklan di koran yang mengatakan ada angel of the flight number sekian dsb. yang menyelamatkan 55 orang. Banyak orang yang mau memberi hadiah sebagai penghargaan untuk orang ini. Namun ironisnya, waktu Bernie coba mengaku, tidak ada yang percaya, karena siapa yang bisa percaya gelandangan seperti itu bisa menjadi hero?? Ironisnya lagi, ada seorang pria bule berbadan kekar, tipikal hero, namanya John, mengaku-ngaku sebagai penyelamat itu. Waktu dia mengaku-ngaku jadi penyelamatnya, semua orang langsung melahap, wah, ini memang benar, memang cocok banget hero di kepalaku dengan hero yang di luar ini, nyambung, jadi ini pasti penyelamatnya; sedangkan orang kayak Bernie itu, siapa yang mau percaya?? Seluruh film ini lalu bercerita mengenai bagaimana identitas kebenaran ini terkuak; dan klimaksnya adalah ketika ada seorang penumpang yang selamat akhirnya sadar Bernie inilah yang menyelamatkan dia. Kenapa bisa begitu? Ceritanya suatu hari dia diselamatkan lagi oleh Bernie dalam adegan yang kira-kira sama. Di awal cerita tadi, dia diselamatkan Bernie ketika pesawat jatuh, dengan cara pegang tangannya Bernie, dan sudah hampir jatuh dari tebing, dst., namun karena muka Bernie itu penuh lumpur, dia tidak mengenalinya. Dalam adegan yang belakangan, cewek ini terpeleset, lalu tangannya dipegang oleh Bernie, diselamatkan dengan cara yang sama. Sekarang cewek itu baru menyadari, benar, inilah orangnya yang menyelamatkan aku. Cewek ini sadar siapa hero yang sebenarnya; dan dia baru sadar seberapa ekspektasi hatinya salah, selama ini dia tidak menyangka orang yang jadi hero bisa sejelek dan sekotor Bernie. Kira-kira seperti itu. Saudara, inilah justification, pembenaran, vindication. Saudara, itulah kebangkitan Yesus bagi Yesus sendiri. Dia dibenarkan. Selama ini Dia sebenarnya plus, namun Salib membuat orang menyangka Dia minus; dan Kebangkitan membuat orang menyadari Dia ini plus sebenarnya. Inilah pembenaran. Ini pembenaran yang datang kepada Yesus dalam kebangkitan-Nya.
Kita melihat dalam kebangkitan Yesus pun, itu bersifat pembenaran, bagi diri-Nya sendiri. Pertanyaannya, apa hubungannya ini dengan pembenaran-ku, kenapa aku juga dibenarkan dalam kebangkitan-Nya? Saudara, ini bisa terjadi karena menjadi Kristen –sebagaimana Paulus katakan beratus-ratis kali dalam surat-suratnya– adalah menjadi orang-orang yang berada di dalam Kristus. Hidup kita adalah hidup yang disembunyikan dalam Kristus. Kolose 3:3, “Sebab kamu telah mati dan hidupmu tersembunyi bersama dengan Kristus di dalam Allah.” Inilah kunci keselamatan Kristiani, yaitu kita disatukan dalam kematian-Nya –itu jelas– dan sekarang kita juga disatukan dalam kebangkitan-Nya. Kematian-Nya itu ‘kan bukan Dia yang dikutuk, Dia mengambil kutukan kita. Jelas ada unsur kesatuan di situ; karena kita di dalam Kristus, maka ketika Dia mengambil kutukan kita, kita disatukan dalam kematian-Nya. Kebangkitan juga sama; karena Yesus dibangkitkan, dan maka dibenarkan, maka kita yang ada di dalam Kristus juga dibangkitkan, juga dibenarkan, di dalam Kristus.
Dikatakan dalam 2 Kor. 5:21, “Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita (ini Salib), supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah (ini Kebangkitan).” Dalam Salib, Dia telah dideklarasikan menjadi dosa oleh karena dosa-dosa kita; dalam Kebangkitan, Dia telah dideklarasikan sebagai Anak Allah, maka kita juga dideklarasikan sebagai anak-anak Allah –karena kita di dalam Kristus. Saudara bisa lihat logikanya.
Sepanjang kitab Injil, kita melihat berkali-kali Yesus dideklarasikan sebagai Anak Allah yang kepada-Nya Bapa berkenan. Demikian dalam cerita Baptisan, dalam cerita Transfigurasi. Namun puncak pengakuan ini, deklarasi ini, ternyata terjadi dalam momen Kebangkitan, tanpa kata-kata, tetapi jauh lebih klimaks dan lebih powerful dibandingkan dua deklarasi sebelumnya, karena lewat kebangkitan-Nya inilah kita menyadari kematian-Nya itu buat kita, kematian-Nya itu membayar dosa-dosa kita. Jadi lewat kebangkitan-Nya, kita yakin akan status kita, siapa identitas kita di hadapan Allah, kita dilihat Bapa sebagaimana Bapa melihat Dia. Itu sebabnya Paulus mengatakan, “Jika Kristus tidak dibangkitkan, imanmu sia-sia,” namun tidak berhenti di sini, lanjutannya adalah: “dan engkau masih ada dalam dosa-dosamu.” Kebangkitan ngaruh sampai sebegitunya.
Tanpa kebangkitan Yesus, tanpa Yesus dibenarkan, tidak ada pembenaran bagi kita. Ini satu hal yang kita boleh refleksi sedikit. Kita musti tahu bahwa keselamatan Saudara dan saya itu bukan urusan karena kita percaya sesuatu yang terjadi ribuan tahun lalu. Kita bukan diselamatkan karena kita percaya, kita bukan diselamatkan karena meyakini hal itu, kita diselamatkan oleh apa yang kita percaya. Apakah itu, Saudara, yang menyelamatkan kita? Disatukan dengan Kristus. Itulah yang bikin kita selamat. Kita diselamatkan karena kita disatukan kepada Kristus dalam kematian-Nya, dan dalam kebangkitan-Nya, sehingga kita yang tadinya minus menjadi nol, dan dari nol menjadi plus; sehingga apa yang tadinya kita punya –dosa dan maut– dilimpahkan kepada-Nya, dan apa yang Ia punya –perkenanan, kemuliaan, hidup kekal, status sebagai Anak Allah– dilimpahkan bagi kita.
Konsep kesatuan ini mungkin agak sulit dipahami zaman ini, koq bisa sih main lempar-lempar status kayak begitu, bersatu itu maksudnya bagaimana, nempel-nempelan, gandeng-gandengan, atau bagaimana sih?? Koq bisa kayak begitu?? Saudara, kita tidak mengerti hal ini karena ini problem modern, problem yang baru terjadi pada zaman kita sekarang. Seluruh umat manusia sepanjang sejarah tidak terlalu ada problem dengan hal ini, hanya kita saja yang kayak begini, karena kita orang-orang modern, orang-orang aneh, lain sendiri. Begini, kita hidup pada zaman di mana identitasku adalah identitasku sendiri –saya baru yakin siapa identitas saya ketika saya menemukan identitas yang bukan orang lain; semakin identitas saya unik, semakin saya merasa kokoh dalam identitas tersebut. (Itu sebabnya hati-hati kalau Saudara merasa engkau orang Reformed karena engkau bukan orang KHarismatik dan bukan orang Liberal; itu identitas yang berbahaya, karena begitu orang Liberal dan Kharismatik tidak lagi ada, siapa dirimu??). Ini gue banget nih, karena tidak seperti orang lain –ini cara melihat identitas yang aneh, identitas yang rapuh sebenarnya. Baru zaman sekarang ini orang melihat identitas seperti itu. Dulu orang melihatnya tidak kayak begini.
Contohnya iklan. Saudara lihat 70 tahun belakangan sudah beda. Misalnya iklan mobil, kalau sekarang mengatakan, “Ini mobil bukan mobil bapak Lu, ini mobil zaman now.” Seperti itu iklan yang works karena ini gue banget, lain dengan orang lain; ini bukan mobil bapak gue, ini mobilnya gue, mobil zaman sekarang, harus beda! Tetapi iklan mobil tahun 1950-an lain sekali, iklannya mungkin mengatakan, “Merek mobil ini jaminan mutu. Kenapa? Karena sudah berjalan sejak 1901.” Kadang-kadang sekarang pun Saudara masih menemukan yang kayak begini, misalnya tulisan “Warteg Ibu Sri, sudah berdiri sejak 1942”, jadi jaminan mutu, sejak sebelum Indonesia merdeka sudah berdiri. Saudara lihat di sini, bisa ada identitas adalah bukan karena lain sendiri, bukan karena modern, tetapi justru karena bagian dari zaman yang dulu. Lain ya, cara melihatnya. Identitas justru kokoh karena bagian dari sesuatu yang besar, bukan karena lepas dari sesuatu yang besar. Zaman dulu orang bikin iklan, ini mobil jaminan mutu, karena bapak Lu pakai mobil yang sama, kakek Lu, pakai mobil yang sama, sudah turun-temurun, terjamin. Orang zaman sekarang terbalik. Kalau sekarang bikin iklan kayak begitu, tidak laku.
Dalam hal ini kita sudah melihat seberapa identitas ‘gue banget’ kayak begitu adalah palsu, hoax, bodoh banget. Lucunya, dalam zaman kita berlomba-lomba cari identitas ‘gue banget’ yang terlepas dari orang lain, kita juga berlomba-lomba cari pengakuan orang lain bagi identitas ini lewat likes, clicks, views, secara jauh lebih intens dibandingkan zaman-zaman yang dulu. Kita me-like satu post, O, ini game gue banget, identitas gue kayak gini; lalu waktu orang tidak ada yang view, tidak ada yang click, tidak ada yang like, hidup rasanya hampa. Tetapi kalau kita like, ini game gue banget, lalu orang-orang juga like, like, like, rasanya identitas kita kokoh. Ini aneh, ‘kan. Kita tadi maunya bilang identitas kita itu gue banget, terlepas dari orang lain, tetapi malah jadinya kita berlomba-lomba cari pengakuan orang lain atas identitas ini. Ya, ini karena memang identitas selalu melibatkan dua pihak, yang internal dan eksternal. Saudara tidak bisa jadi orang dengan sendirian, Saudara jadi orang, itu perlu dirimu dan pengakuan orang lain. Kalau Saudara ngotot dirimu B tetapi semua orang bilang A, dan engkau tetap ngotot B, itu artinya engkau gila, sinting, gejala sakit jiwa. Contoh palling gampang, orang datang ke STT mau jadi hamba Tuhan. Lalu ditanya surat rekomendasi, tidak ada, malah yang ada surat dari gereja dia, yang bilang kalau orang tersebut mau datang jadi hamba Tuhan, tolong ditolak, karena ini orang kacau. Ini berarti Saudara tidak bisa mengambil identitasmu sendirian. Kalau Saudara tetap ngotot mau jadi hamba Tuhan meskipun tidak ada yang mendukung, Saudara gila. Itu bukan identitas. Identitas selalu melibatkan dua pihak. Zaman sekarang bodoh sekali karena kita pikir kita bisa mengambil identitas kita sendiri, padahal secara sembunyi-sembunyi –bukan sembunyi-sembunyi tetapi secara tidak sadar– kita mencari pengakuan orang lain habis-habisan.
Kita perlu coba melihat identitas dengan arah yang lain: siapa diri kita –identitas kita– itu sangat terikat/identik dengan kepada siapa kita mengikatkan diri, kepada siapa kita bersatu dan dipersatukan. Bahkan zaman sekarang juga ada contohnya. Misalkan Saudara seorang warganegara sebuah negara, identitasmu itu identitas turunan, bukan identitas yang gue banget. Saudara identitasnya warganegara Indonesia, bukan karena di dunia ini tidak ada seorang pun yang warganegara Indonesia. Saudara merasa warganegara Indonesia, exactly karena ada banyak orang lain yang Saudara juga menjadi bagian dari sebuah negara, Indonesia. Saudara menjadi bagian dari sebuah kesatuan, sesuatu yang lebih besar dari dirimu sendiri. Itu identitas yang lebih sejati. Lalu anggaplah negaramu diserang negara tetangga. Secara personal mungkin Saudara tidak merasa membenci atau bermusuhan dengan orang-orang negara tersebut, namun perasaanmu ini ‘gak ngaruh sama sekali ‘kan. Kalau negaramu diserang negara tetangga, maka realitasnya adalah: engkau juga berada dalam perang dengan mereka, entah engkau membenci mereka atau tidak. Kalau mereka bawa senapan dan melihat engkau di jalan, mereka akan memperlakukanmu sebagai musuh, tidak ada gunanya engkau mengatakan, “Eh, saya enggak memusuhi kalian, saya mencintai kalian.” Perasaanmu ‘gak ngaruh dalam hal ini, engkau diperlakukan sebagai musuh. Dan, kalau somehow engkau kabur lalu minta asylum di negara lain, dan diterima jadi warganegara pihak ketiga yang tidak ada sangkut paut dengan konflik ini, maka negara yang tadinya bermusuhan itu tidak akan lagi bermusuhan denganmu. Kenapa bisa begini? Karena identitas kita sangat erat dengan kepada siapa kita mengikatkan diri. Engkau tidak diperhitungkan, atau diperhitungkan, sebagai musuh, itu sangat banyak tergantung pada engkau terikat/bersatu dengan siapa.
Demikianlah juga ketika kita disatukan dengan Kristus. Ada hal-hal yang harusnya terjadi pada kita, malah terjadi pada Kristus, karena kita bersatu dalam kematian-Nya. Dan, ada hal-hal yang harusnya terjadi hanya kepada Kristus, itu terjadi kepada kita, karena kita dipersatukan dalam kebangkitan-Nya. Roma 6:4, “Dengan demikian kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya, sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru”. Saudara lihat, kesatuan dalam Kematian, kesatuan dalam Kebangkitan; dan kesatuan dalam Kebangkitan itulah yang membuat engkau mendapat hidup yang baru, dari nol jadi plus. Tanpa Kebangkitan, tidak ada hidup yang baru. Kebangkitan-lah yang membuat engkau jadi ciptaan baru. Kebangkitan-lah yang melahirbarukan engkau. Kebangkitan-lah yang membenarkan engkau, menaikkan engkau dari nol ke plus. Dalam kebangkitan-Nya, dosa dan manusia lama kita sungguh telah berlalu. Surat 2 Kor. 5:17, “Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”
Inilah sebabnya ketika ada orang Kristen yang telah lahir baru tetapi tidak hidup sesuai dengan kehidupan yang baru, itu bukan cuma salah, itu tragis! Tragis seperti seorang pangeran tidur di jalanan kumuh sebelah got karena pangeran ini lupa rumahnya di istana. Ini jelas salah; tetapi bukan cuma salah, ini tragis. Dan, Saudara bisa melihat seperti ini karena adanya faktor kebangkitan-Nya, bukan cuma kematian-Nya, karena Saudara bukan cuma dari minus ke nol, tetapi dari nol ke plus. Kalau Saudara telah dideklarasikan sebagai pangeran, namun hidup di got seperti tikus, itu bukan cuma salah, itu tragis.
Ilustrasi dari D.L. Moody sangat membantu. Dia mengisahkan, misalnya ada sebuah kerajaan yang sistemnya perbudakan. Ada kasta budak, ada kasta bangsawan. Ini sudah berjalan ratusan tahun. Seorang budak di situ bukan cuma dia sendiri yang budak, bapaknya juga budak, kakeknya budak, nenek moyangnya 15 generasi semua budak. Demikian juga yang bangsawan. Suatu hari, raja yang baru naik takhta; dan dia menghapus sistem perbudakan yang lama (bisa dibilang ini salibnya), namun tidak berhenti di situ, dia membuat sistem yang baru, tidak ada lagi kasta-kastaan, tidaka da lagi bangsawan, tidak ada lagi budak, semua sama rata, semua warganegara punya hak dan kewajiban yang sama (bisa dibilang kebangkitan, hidup baru, lahir baru). Jadi dua-duanya ada dalam hal ini. Sekarang bayangkan hari-hari pertama, munggu-minggu pertama, bahkan bulan-bulan pertama di kerajaan yang baru ini. Seorang eks-budak di jalan berpapasan dengan seorang eks-bangsawan; apa yang terjadi? Si eks-budak tetap menunduk sementara si eks-bangsawan mengangkat dagu dengan pongahnya lalu mengatakan, “Stop!” dan si eks-budak langsung setop. Si eks-bangsawan mengatakan, “Ambil barang itu! Bawa, ikut saya!” dan si eks-budak langsung cepat-cepat ambil barangnya, dan dia bawa mengikutinya. Padahal itu tidak perlu ‘kan. Saudara mengerti maksudnya? Ini bukan cuma salah, ini tragis. Kalau sebelum raja tadi naik, memang salah, namun sekarang bukan cuma salah tetapi tragis, karena harusnya sudah tidak perlu seperti itu!
Saudara, lewat diskusi teologis ini saya harap kita bisa melihat lebih jelas seberapa Kebangkitan relevan dan sentral terhadap keselamatan kita, karena Kebangkitan-lah yang membuat kita memiliki hidup baru, dan ini harusnya membentuk ekspektasi kita, cara pandang kita akan hidup kita ini harusnya kayak apa. Bukan cuma Salib yang berperan di sini. Salib “hanya” membuat kita yang tadinya minus jadi nol, sedangkan Kebangkitan-lah yang membuat nol itu jadi plus. Salib itu menghapus, Kebangkitan menuliskan yang baru. Salib membersihkan apa yang kotor dan usang, Kebangkitan mengenakan apa yang bersih dan segar. Salib menutup apa yang di masa lalu, Kebangkitan membuka apa yang di masa depan. Dua-duanya ini penting; saya tidak bikin kompetisi dalam hal ini. Saudara lihat, apa yang terjadi ketika hidup kita cuma peduli Salib dan cuek terhadap Kebangkitan?
Lewat lensa seperti ini, saya harap kita lebih bisa mengerti apa yang terjadi dalam Kebangkitan. Inilah yang saya pelajari setelah entah berapa puluh tahun jadi orang Kristen, namun harusnya ini sesuatu yang diberikan kepada semua orang dari awal iman mereka, yaitu bahwa Kebangkitan itu mukjizat, demonstrasi kuasa Allah yang luar biasa. Namun jangan pernah lupa ini: mukjizat-mukjizat Yesus –Kebangkitan termasuk– tidak pernah merupakan dilanggarnya hukum alam, tidak pernah merupakan momen dilanggarnya kondisi natural manusia. Kita sering kali pikirnya begitu, tetapi mukjizat-mukjizat Yesus, termasuk Kebangkitannya, adalah dipulihkannya alam yang sesungguhnya, dipulihkannya kondisi natural dunia ini sebagaimana Allah mendesainnya sejak awal.
Kita hari ini –sebagai efek samping terlalu fokus pada Salib– menganggap bahwa kita berdosa, kita bersalah, sebagai hal-hal yang natural. Namun itu bukanlah kondisi natural dalam diri manusia, juga bukan kondisi natural dunia. Kita simply sudah terbiasa saja sehingga kita pikir itulah yang natural. Menarik di sini bahwa istilah natural bisa berarti hal yang biasa, dan bisa berarti hal yang aslinya. Kita sering kali tercampur mengenai hal ini, namun sebenarnya apa yang biasa, itu tidak tentu merupakan aslinya. Dunia di mana orang tidak lagi mengalami kematian, dunia di mana orang tidak lagi dirusak dan dikuasai oleh dosa, itulah justru naturalnya, normalnya. Hidup baru kita, itulah normalnya. Ironisnya, kita lupa dengan ini. Kita pikir kondisi normal adalah skor nol. Tetapi tidak seperti itu, Saudara. Kita diciptakan dalam perkenanan. Kita diciptakan sudah diterima dan dipilih dari sejak sebelum dunia dijadikan. Dari awal Adam dan Hawa diciptakan dalam relasi yang plus di hadapan Allah. Kita dari awalnya plus, bukan nol, apalagi minus. Itu sebabnya keselamatan yang Tuhan bawa kepada kita hari ini mengembalikan kita jadi plus, bukan cuma nol. Keselamatan yang Tuhan bawa kepada kita hari ini bukan melanggar apa yang natural, melainkan mengembalikan dan memulihkan apa yang sesungguhnya natural. Saudara perlu sadar hal ini, karena ini akan mengubah cara kita merespons keberdosaan dan kejatuhan kita hari ini, mengubah apa yang kita expect ada dalam kehidupan kita sehari-hari.
Satu contoh, Messi dan Ronaldo. Melihat Messi dan Ronaldo main sepak bola, orang mengatakan, “Hebat mereka, keren… “, lalu apa lanjutannya? “Gila mereka… ,” maksudnya mereka aneh, alien, makhluk planet asing, superman, dsb. Ini cara memuji yang tidak tulus, karena ini cara memuji sambil melindungi diri. Mereka itu yang gila, mereka aneh maka bisa main kayak begitu, saya tidak bisa main kayak begitu, saya tidak aneh, saya manusia normal, merekalah yang aneh, super. Bilang, “Hebat banget, Lu, keren abis!” maksudnya kalau gue cuma kayak begini itu biasa aja, enggak apa-apa.
Saudara, itu bukan cara orang Kristen melihat diri. Orang Kristen melihat diri mereka diselamatkan lewat Salib dan Kebangkitan, karena Kebangkitan bukanlah melanggar natur kita melainkan memulihkan apa yang natural dalam diri kita. Itu sebabnya ketika kita hari ini masih hidup dalam dosa, itu bukan cuma salah, itu tragis. Kita jadi seperti eks-budak yang masih bermental budak, seperti eks-bangsawan yang masih mengira diri tinggi di atas orang lain. Kita jadi seperti pangeran yang masih tinggal di jalanan sebelah got karena lupa telah diterima dan telah boleh datang ke dalam istana raja. Tragis, bukan cuma salah.
Ketika aku berdosa, itu bukanlah ya normallah manusia memang kayak begitu ‘kan, masih berjuang ‘kan, dsb. Bukan seperti itu. Ketika orang yang diselamatkan –dalam Salib dan dalam Kebangkitan –lalu mereka berdosa, mereka menangisi dosa-dosa mereka, karena harusnya sudah tidak perlu lagi. Tidak perlu lagi cari identitas dari sosmed. Tidak perlu lagi cari pencapaian diri sebagai workaholic. Tidak perlu harus dapat pacar untuk bisa jadi someone. Tidak perlu harus dapat suami atau istri untuk bisa merasa hidup bermakna. Demikian juga soal dapat anak, dapat mobil, dapat ini dan itu … . Semua itu harusnya sudah tidak perlu. Engkau sudah mendapatkan perkenanan yang ultimat, yang paling tinggi, yang diberikan Bapa kepada Anak Allah sendiri dan karena engkau di dalam-Nya maka Bapa melihatmu seperti Ia melihat Anak-Nya. Pintu sudah senantiasa dibukakan tetapi engkaulah yang terus-menerus menolak, kabur, keluar, dan lebih suka dengan comberan dunia dibandingkan istana raja. Saudara lihat bedanya?
Ini bukan berarti orang yang telah diselamatkan, bebas dari dosa 100% –bukan itu poinnya. Tentu saja kita masih akan tetap bergumul dalam dosa. Gereja Tuhan pasti masih ada gandum dan ilalang. Namun lihat, betapa bedanya CARA PANDANG –cara pandang yang bukan cuma Salib, tetapi Salib dan Kebangkitan, pengampunan dan pembenaran. Mungkin ini salah satu sebabnya kenapa dosa terus berkuasa dalam hidup kita, yaitu karena ekspektasi kita salah.
Satu hal untuk menutup: kita tahu ada dua macam rasa bersalah. Yang satu, rasa bersalah yang mematikan; satu lagi, rasa bersalah yang menghidupkan. Bedanya apa? Ada rasa bersalah/penyesalan yang bisa membuat orang bertobat, ada rasa bersalah/penyesalan yang membuat orang makin terpuruk dalam dosanya. Saudara tahu bedanya?
Seorang suami yang bertobat hanya karena dirinya sendiri, tidak akan lasting. Istri komplain ke suami, “Kenapa sih begini-begini, ‘gak boleh kayak begini, bla… bla… bla… .” Lalu si suami jawab, “Ah, cuma kayak begitu saja… .” Si istri bilang lagi, “Kalau kamu kayak begini terus, saya tinggalin kamu, cerai saja!” Si suami merasa waduh, celaka –konsekuensi– lalu bilang, “Jangan, jangan, kalau kamu tidak ada, bagaimana aku bisa hidup??” –mulai keluar rayuan pulau kelapa-nya dsb. Si istri melunak. Apakah si suami rasa bersalah waktu istrinya bilang mau cerai? Bisa jadi dia rasa bersalah, benar-benar mengakui dirinya salah, minta maaf, tidak akan ulangi lagi. Tetapi ini rasa bersalah yang tidak akan lasting. Setelah si istri melunak sebentar, ancaman hilang, si suami kembali ngaco lagi. Si istri mulai mengancam cerai lagi. Si suami merasa bersalah lagi, minta ampun lagi, “bertobat” lagi –tetapi tidak benar-benar bertobat. Si istri lalu datang kepada Pendeta, “Pak, saya sebenarnya tidak benar-benar ingin menceraikan dia, tetapi koq, orang ini tidak bertindak seperti suami kecuali saya ancam mau ceraikan dia?” Jawabannya apa? Yaitu karena rasa bersalah tersebut bukan rasa bersalah yang mendatangkan kehidupan; ini rasa bersalah yang egois, rasa bersalah yang ujungnya mengenai aku dan diriku.
Apa rasa bersalah yang bisa membuat orang benar-benar bertobat? Yaitu ketika orang melihat bukan kepada dirinya saja, ketika dia menyadari dan merasakan efek/konsekuensi dosa ini bukan cuma bagi dirinya tetapi bagi orang yang dia kasihi. Waktu dia menyadari dan menyatakan, “Aku sadar sekarang, seberapa tindakanku menghancurkan hatimu, seberapa tindakanku bukan cuma salah tetapi tragis, seberapa tindakanku mendukakan dan merugikan engkau dan anak-anak kita”, inilah duka akan dosa, rasa bersalah, yang arahnya ke luar, dan bukan cuma ke dalam. Duka akan dosa karena aku melanggar kehidupan yang baru ini, yang telah Engkau berikan bagiku ini, itulah duka yang mendatangkan kehidupan, rasa bersalah yang kudus. Ini tidak menjamin sih bahwa si suami tadi tidak akan bersalah lagi kepada istrinya seumur hidup, ini tidak berarti dia tidak struggle lagi dengan segala kesulitan, ini tidak berarti istrinya tidak harus lagi terus bersabar, tetapi mulai ada pengharapan. Inilah yang mungkin selama ini tidak ada, atau sangat kurang, dalam kerohanian kita. Kita pikir urusan dosa hanyalah urusan kita melanggar, diampuni, lalu nol, melanggar lagi, diampuni, lalu nol lagi, dst. Tidak demikian. Ketika engkau berdosa, engkau bukan cuma melanggar lalu jadi minus, kemudian nol, kemudian minus, tetapi engkau melanggar karunia Tuhan yang telah memberikanmu begitu plus, sesuatu yang engkau tidak deserve, sesuatu yang engkau tidak mungkin bisa bayangkan datang kepadamu lewat jalan lain kalau bukan lewat Kristus memberikan diri-Nya bagimu.
Kesadaran akan hal ini, seberapa dosamu mendukakan Dia, dan bukan cuma mendatangkan konskuensi bagimu, inilah salah satu kuasa Kebangkitan dalam hidup kita. Mari kita berdoa memohon kepada Tuhan akan kuasa seperti ini, kuasa untuk kita boleh lepas dari dosa, karena kita boleh mati terhadap dosa, di atas kayu salib di dalam Kristus, di dalam kebangkitan-Nya.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading