Pasal 21 ini masih satu rangkaian dengan pasal 22, namun Minggu ini kita hanya akan bahas pasal 21.
Bagian ini masih menyambung dengan bagian sebelumnya. Dalam pasal 20:22-24 Paulus mengadakan perpisahan yang berat, yang penuh kesedihan, dengan para penatua Efesus di kota Miletus. Di catatan Lukas itu Paulus mengatakan: “Sekarang sebagai tawanan Roh aku pergi ke Yerusalem dan aku tidak tahu apa yang akan terjadi atas diriku di situ selain yang dinyatakan Roh Kudus dari kota ke kota kepadaku, bahwa penjara dan sengsara menunggu aku.” Jadi Paulus sudah tahu akan hal ini, tidak perlu menunggu Nabi Agabus menyatakan, tidak perlu tunggu keempat anak perempuan Filipus memberitahunya, tidak perlu tunggu orang-orang dari Tirus memberitahu dia dalam masa 7 hari dia singgah di situ. Paulus sudah tahu, Roh Kudus sudah menyatakan kepadanya. Dan, selama perjalanannya berpuluh-puluh tahun pun Paulus sudah mengalami bahwa dari kota ke kota, penjara dan sengsara menunggunya.
Dia mengatakan, “Sekarang sebagai tawanan Roh … ,” maksudnya sebagai orang yang dipimpin oleh Roh –bukan oleh dirinya sendiri, bukan oleh orang-orang lain, bukan juga dipaksa oleh orang-orang Yahudi atau orang-orang Yunani– sekarang Paulus dipimpin untuk pergi ke Yerusalem. Apa yang akan terjadi di Yerusalem? Paulus tidak tahu, tetapi berdasarkan apa yang sudah dinyatakan Tuhan sebelumnya, Paulus mengatakan yang menunggunya di sana pasti bukan kelegaan, bukan puji-pujian, bukan suatu pengakuan, melainkan tadka jauh dari penjara dan kesengsaraan.
Namun selanjutnya kata Paulus, “Aku tidak peduli itu, bahkan aku tidak menghiraukan nyawaku sedikit pun asalkan aku dapat mencapai garis akhir dan menyelesaikan pelayanan yang kuterima oleh Tuhan, untuk aku bersaksi tentang Injil anugerah Allah.” Lalu dia mengakhiri dengan satu kalimat yang membuat mereka menangis, dia mengatakan, “Aku tahu kamu tidak akan melihat mukaku lagi.” Jadi Paulus seperti sudah punya firasat ini adalah kali yang terakhir dia bertemu dengan murid-murid di sana. Setelah berpisah, Paulus pergi berlayar, naik kapal. Ingat, zaman itu tidak ada WA, tidak ada radio, tidak ada internet, dan dengan demikian murid-murid yang di Tirus tidak tahu kabar apa-apa dari Miletus, mereka tidak tahu kata-kata yang Paulus ucapkan kepada para penatua Efesus di kota Miletus sebagai ucapan perpisahan tadi.
Paulus lalu menyeberang melewati Rodos, Patara, Fenisia, kemudian Siprus, menuju Siria, dan akhirnya transit di Tirus karena kargo harus dibongkar, sehingga mau tidak mau Paulus harus turun dari kapal dan tinggal di rumah murid-murid di situ. Selama tujuh hari kargo dibongkar, maka selama tujuh hari Paulus singgah di tempat itu. Tidak ada rencana sih, hanya karena dia dibawa oleh kapal tersebut.
Murid-murid di situ lalu menasehati Paulus supaya jangan pergi ke Yerusalem. Kenapa? Saya kira, tidak jauh dari apa yang dinyatakan oleh Agabus, dan barang kali secara implisit juga dinyatakan oleh empat anak gadis Filipus ketika mereka bernubuat, yaitu bahwa di sana kamu akan sengsara, kamu akan dibelenggu, dipenjara, diserahkan oleh orang-orang Yahudi ke tangan bangsa-bangsa asing. Dalam hal ini kesimpulan mereka apa? Kesimpulannya, Paulus tidak usah ke sana. Di sini kita belajar bahwa kuasa Roh memang menyatakan kepada murid-murid itu; tetapi, apakah kuasa Roh itu menyuruh mereka untuk mencegah Paulus? Dalam hal ini kita tidak tahu. Yang pasti, kuasa Roh mendorong mereka berbicara sesuatu kepada Paulus.
Lalu apa respons Paulus? Respons Paulus kita lihat bukan dari perkataannya, tetapi dari tindakannya. Dikatakan di ayat 15, setelah beberapa hari tinggal di Kaisarea, mereka berkemas. Ini bukan berkemas satu ransel. Berkemas ini indikasinya adalah menyiapkan logistik yang banyak, yang kelihatannya memang mereka bawa sepanjang perjalanan itu, berbagai bantuan untuk diserahkan kepada orang-orang yang mengalami kesusahan di Yerusalem. Saudara-saudara di Yerusalem ini sepertinya lebih miskin daripada orang-orang Kristen di kota-kota kafir yang Paulus singgahi, yang kemudian mengumpulkan uang dan barang-barang untuk disumbangkan kepada saudara-saudara di Yerusalem.
Saudara-saudara di Yerusalem itu, kalau kita cermati lebih mendalam, mereka punya pandangan terhadap orang-orang Kristen dari kalangan tidak bersunat itu kira-kira seperti apa, tinggi atau rendah? Mereka look up atau look down kepada orang-orang Kristen yang tidak bersunat? Kelihatannya lebih ke look down. Tahu dari mana? Karena lebih ada keberatan dari orang-orang Kristen bersunat terhadap orang-orang Kristen tidak bersunat, ketimbang sebaliknya. Orang-orang Kristen yang tidak bersunat sepertinya tidak ada opini yang kuat mengenai orang-orang Kristen bersunat, misalnya menganggap mereka tidak boleh menyunatkan anaknya, atau menganggap mereka itu ngapain sih masih menaati Taurat, dan semacamnya. Tidak ada indikasi itu dalam tulisan Lukas, tetapi ada indikasi sebaliknya (nanti akan kita lihat lebih dekat). Namun, orang-orang yang di-look down itu justru mengumpulkan bantuan untuk orang-orang yang look-down terhadap mereka, di Yerusalem.
Paulus datang membawa bantuan itu, mau menyampaikannya secara personal. Dia bisa saja menyuruh orang lain berhubung sudah diperingatkan oleh Agabus, juga barangkali secara implisit oleh empat anak gadis Filipus, dan juga oleh teman-teman di Tirus, sehingga bisa saja Paulus berhenti dan menginap saja di Tirus, bukan 7 hari tetapi 70 hari menjalani perjalanan misinya, dan tidak usahlah mampir ke Yerusalem. Namun tidak demikian, karena Paulus yakin betul Tuhan memimpin dia untuk kembali ke Yerusalem. Jadi, dia sudah melakukan perjalanan misinya, putar terus, dan sekarang tiba waktunya kembali ke Yerusalem lagi, melaporkan lagi apa yang sudah Tuhan perbuat di antara bangsa-bangsa kafir yang tidak mengenal Tuhan, kepada rasul-rasul di Yerusalem.
Tuhan memang memimpin ke sana, namun ada banyak orang yang memperingatkan Paulus, “Kamu pergi ke Yerusalem? Itu pusat di mana orang-orang yang memusuhi kamu, yang kebanyakan orang Yahudi itu, akan berkumpul pada hari-hari festival di Yerusalem itu. Mereka akan mengenali kamu, dan mereka akan bikin gara-gara, dan di Yerusalem kamu sepertinya tidak akan bisa kabur seperti waktu di kota-kota lain, kamu akan habis di sana.” Dalam hal ini, sepertinya Tuhan sendiri menyatakan kepada mereka, dan mereka memperingatkan Paulus. Jadi, bisa saja Paulus menyuruh orang lain, ngapain datang sendiri ke Yerusalem, tetapi dia berpikir bahwa Tuhan memang menginginkan dia datang ke Yerusalem, apapun result-nya nanti.
Dalam hal ini menarik untuk kita cermati, bahwa Paulus itu tidak yakin Tuhan akan menghadirkan pengalaman apa di Yerusalem, dia cuma punya tebakan yang tidak jauh dari penjara dan sengsara; sedangkan mengenai apakah dia akan mati di sana, akan habis di sana, dia tidak tahu. Murid-murid lain mengatakan akan sengsara dan kemungkinan akan habis, sehingga mereka menarik sendiri kesimpulannya, yaitu Paulus jangan ke Yerusalem. Paulus juga menarik sendiri kesimpulannya, yaitu aku akan tetap pergi ke sana. Dalam hal ini, dari apa yang cukup jelas namun tidak final, tidak sejelas itu yang dinyatakan Tuhan, Paulus dan murid-murid lain menyimpulkan dua hal yang berbeda. Murid-murid menyimpulkan supaya Paulus wakilkan saja ke orang lain untuk membawa segala bantuan tersebut, sementara Paulus menyimpulkan untuk tetap dia sendiri yang membawanya.
Di sini saya kira kita perlu membedakan mengenai kehendak Allah, apakah kita menyikapinya sebagai Deus vult –seperti tato di tangannya Menteri Pertahanan Amerika, Pete Hegseth, slogan dari perang salib– yang artinya ‘Tuhan menghendakinya, maka tutup mulutmu, tidak usah diskusi, jalankan saja karena Tuhan menghendakinya, ini kehendak Tuhan’, ataudengan istilah yang dipakai Lukas dalam terjemahan Vulgata dari Kis. 21:14 ini, yaitu Domine voluntas fiat, yang artinya ‘kalau Tuhan menghendakinya’ atau ‘kiranya terjadi kehendak Tuhan’. Itu dua hal yang berbeda. Dan, kelihatannya Paulus, juga murid-murid itu, punya mindset mengenai kehendak Tuhan, bahwa Tuhan memang punya kehendak, kehendak Tuhan pada akhirnya akan terjadi, tetapi apa persisnya kehendak Tuhan itu kita baru tahu setelah peristiwanya terjadi. Jadi, kita tidak bisa mengasumsikan yang kita ketahui itu memang kehendak Tuhan yang tidak bisa salah; kita tidak bisa punya mindset seperti itu. Itu sebabnya dalam bagian ini saya kira bukan mindset Deus vult (ini kehendak Tuhan, Tuhan menginginkannya, lakukan saja), melainkan seperti terjemahan Vulgata tadi, Domine voluntas fiat, yang lebih tepat (biarlah kehendak Tuhan yang terjadi, namun saya tidak berasumsi saya tahu kehendak Tuhan itu apa).
Dalam hal ini, mereka tidak mengasumsikan bahwa mereka tahu apakah Paulus akan mati kemudian Gereja-gereja yang masih muda itu akan kocar-kacir setelah Paulus mati, atau Paulus akan selamat, atau segala macam lainnya, namun mereka tahu Tuhan menghendaki sesuatu. Mereka tahu Tuhan membukakan sebagian dari kehendak-Nya tetapi menyembunyikan yang lain, dan Tuhan menghendaki kita taat pada sebagian yang Tuhan sudah bukakan itu. Dan,Paulus yakin sebagian yang Tuhan bukakan itu kelihatannya adalah dia akan mengalami perlawanan yang menimbulkan sengsara, seperti di kota-kota lain yang sudah-sudah dan yang Tuhan sudah bukakan, namun mengenai apakah dirinya akan mati, dia tidak tahu, bisa iya, bisa tidak, biarlah kehendak Tuhan yang terjadi.
Ini persis seperti mindset siapa? Ratu Ester. Ester tidak tahu apakah Raja akan mengulurkan tongkatnya, mengampuni tindakannya yang lancang datang tanpa perjanjian ke hadapan Raja, atau tidak. Ester ketika itu mengatakan, “Ya, jika aku harus mati, biarlah aku mati”; dia tidak mengatakan, “Oh, aku akan mati, maka aku pilih jalan ini.” Kurang lebih seperti itu mindset-nya, jadilah kehendak Tuhan, dalam ayat 14. Jadi, baik mereka yang menghendaki supaya Paulus meminimalkan resiko dengan tidak usah datang ke Yerusalem, maupun Paulus sendiri yang tahu resikonya namun tetap mau datang ke Yerusalem, mereka sama-sama mengatakan, Tuhan punya kehendak, namun Dia hanya menyingkapkan sebagian kepada kita, kita tidak tahu keseluruhan kehendak Tuhan, biarlah masing-masing orang punya sikap sesuai apa yang Tuhan sudah bukakan serta keyakinan pribadi kita, dan kita jalani ketaatan kita.
Menyikapi simpati/perhatian mereka, baik para penatua Efesus di Miletus yang menghancurkan hati Paulus dengan tangisan mereka, dan juga kawan-kawan di Tirus serta Kaisarea yang mencegah dia dengan menangis, Paulus kelihatannya malah jengkel. Dia mengatakan, “Kamu menangis; kenapa kamu membuat hatiku hancur? Padahal aku ini rela bukan saja untuk diikat, tetapi juga untuk mati di Yerusalem demi nama Tuhan.” Paulus tidak bilang, “Aku akan mati, hore! Cepetan deh, aku datang ke Yerusalem, soalnya aku memang kepingin cepat ketemu Tuhan.” Paulus tidak begitu, dia mengatakan aku rela –itu saja– jadi kamu tidak usah menangis. Mereka pada akhirnya merelakan Paulus untuk menjalani jalannya. Mereka menyerahkan Paulus kepada Tuhan, Jadilah kehendak Tuhan, Domine voluntas fiat.
Paulus bersama orang-orangnya dan beberapa murid dari Kaisarea akhirnya berangkat ke Yerusalem. Mereka mampir sebentar di rumah Manason, kelihatannya di tengah-tengah perjalanan antara Kaisarea dan Yerusalem, dan akhirnya tiba di Yerusalem. Mereka disambut dengan baik oleh Yakobus sebagai kepala Gereja Yerusalem, dan para penatua yang sudah berkumpul di situ. Paulus memberi salam kepada mereka, menceritakan dengan terperinci seluruh perjalanan misinya yang hampir 20 tahun, church planting, dan segala macamnya, bahwa dia sudah melihat pekerjaan Roh di kota ini dan kota itu.
Lalu mereka memuliakan Allah, dan mengatakan sesuatu kepada Paulus, contrabalance-nya: “Paulus, kamu sudah melihat banyak orang tidak bersunat, orang-orang dari bangsa di luar Yahudi, yang menjadi Kristen. Kami di sini juga melihat ada ribuan orang Yahudi yang menjadi percaya. Ini ribuan orang yang rajin memelihara Hukum Taurat sebagaimana kamu dulu, dan sebagaimana kamu sekarang mungkin juga masih. Dan, kami perlu jelaskan situasinya kepadamu, bahwa mereka semua ini, yang rajin memelihara Hukum Taurat dan sudah menjadi percaya, mendengar suatu fitnah tentang kamu. Fitnahnya begini: kamu mengajar semua orang Yahudi diaspora yang tinggal di antara bangsa-bangsa asing itu (artinya daerah-daerah misi Paulus), untuk melepaskan Hukum Musa, kamu mengatakan supaya mereka jangan menyunatkan anak-anaknya, dan jangan hidup menurut adat istiadat kita. Tidak usah merayakan hari-hari tertentu, misalnya Paskah, tidak usah bikin ritual penyucian, seperti misalnya kalau habis melahirkan, atau menyentuh mayat, dsb. Itu diabaikan saja karena bagian dari dispensasi yang lama, perjanjian yang lama, tinggalkan saja. Mereka mendengar kamu mengajar itu, dan sekarang kamu datang ke sini, sedangkan di sini nanti mereka akan melihat kamu, mengenali kamu, … .” Sudah pasti Paulus ini tersohor, wajahnya pasti terkenal; lagipula di Yerusalem saat itu, sebagaimana tiap-tiap tahun, berkumpul orang-orang dari berbagai tempat, termasuk dari daerah-daerah diaspora Yahudi. Reputasi Paulus yang tersohor sudah pasti nyampe juga di Yerusalem; dan sekarang Paulus sendiri datang ke Yerusalem. “Reputasi kamu mendahului kamu, dan sekarang kamu datang ke sini, maka sudah pasti banyak orang mengincar, sudah banyak yang nungguin kamu, begitu melihat mukamu maka langsung mereka akan merencanakan kematianmu. Jadi bagaimana sekarang?”
Selanjutnya, ‘bagaimana sekarang’ versinya Yakobus ini bukanlah, “Ya, sudah, kamu baik-baik sembunyikan wajahmu, berharap CCTV ‘gak nangkep kamu ada di mana, cepat-cepat kembalilah ke daerah misimu, tidak usah masuk Yerusalem. Kamu sudah tinggal di sini, kita sudah berkumpul dengan saudara-saudara, sudah melepas kangen, kamu sudah presentasi, sekarang pulanglah ke tempat bangsa-bvangsa tidak bersunat itu, tidak usah masuk Yerusalem. Bahaya sekali.” Yakobus tidak mengatakan begitu. Tidak seperti murid-murid di Tirus, tidak seperti murid-murid di Kaisarea, Yakobus tidak mencegah Paulus masuk ke Yerusalem. Namun Yakobus punya suatu cara, yaitu Paulus harus bikin suatu gestur politik, melakukan tindakan simbolis untuk menyatakan tuduhan mereka salah, bahwa Paulus bukan anti-semitisme, Paulus bukan anti-Yahudi, Paulus tidak menyuruh orang-orang Yahudi untuk berhenti hidup secara Yahudi.
Tuduhan tadi sebetulnya memang masuk akal. Kenapa? Kita tahu bahwa Paulus anti sekali terhadap orang yang legalis. Paulus pernah mengatakan, “Kalau kamu memaksa orang-orang yang tidak bersunat dari bangsa-bangsa lain ketika menjadi Kristen untuk bersunat, ya, kamu sunatkan dirimu sampai habis.” Itu kata-kata Paulus yang sangat kasar. Paulus melawan orang-orang yang ingin me-yahudi-kan dulu orang-orang bukan Yahudi sebelum menjadi Kristen. Paulus sangat anti kepada kaum Judaisers. Jadi sepertinya masuk akal bahwa Paulus menentang jalan hidup orang Yahudi; bahwa Paulus menentang orang Yahudi menyunatkan anaknya, itu sepertinya masih masuk dalam reputasinya Paulus. Tetapi kita tahu, itu tidak benar. Paulus tidak pernah mencegah orang-orang Yahudi hidup secara Yahudi. Hanya, dia mengatakan bahwa yang mereka tunggu, Mesias itu, sudah datang, “Kalau kamu sebagai orang Yahudi yang saleh menunggu datangnya Kerajaan Allah, Kerajaan Allah itu sudah datang di dalam Yesus, yang kamu tunggu sudah digenapi.” Dia tidak mengatakan Hukum Musa itu salah, tidak usah menggenapkan Hukum Musa.
Paulus itu murid Yesus; dan ajaran Yesus adalah bahwa Dia datang bukan untuk menafikan (meng-cancel) Hukum Musa, Dia datang untuk menggenapkan. Jadi tentu Paulus tidak mencegah orang-orang Yahudi hidup secara Yahudi; yang dia cegah adalah pemaksaan orang Yahudi terhadap orang-orang non-Yahudi untuk hidup secara Yahudi. Paulus menentang usaha orang-orang Yahudi Kristen memaksa saudara-saudara lain yang bukan Yahudi, untuk jadi Yahudi dulu lalu baru jadi Kristen. Dia menantang yahudi-isasi Kekristenan.
Kita tahu, agama-agama sering kali berkaitan dengan latar belakang budaya. Agama dan budaya sering kali berkaitan. Ada agama yang berkaitannya dengan kebudayaan India. Ada agama yang berkaitannya dengan kebudayaan Jepang, misalnya Shinto. Ada agama yang berkaitannya dengan kebudayaan Arab. Ada agama yang berkaitannya dengan kebudayaan Yahudi. Agama dan budaya itu ada link-nya. Kekristenan link-nya ke mana? Tentu secara natural link-nya kepada bangsa Israel, karena Yesus orang Yahudi. Tetapi, kalau kita melihat Kekristenan, apakah link-nya ini sesuatu yang mutlak? Jika mutlak, artinya orang-orang Israel jadi warga gereja kelas satu kalau mereka jadi Kristen, orang-orang bukan Israel jadi warga gereja kelas dua kalau mereka jadi Kristen. Tetapi, walaupun beberapa orang Judaisers di antara orang-orang Kristen zaman itu ingin menggolkan ide ini –dan bodohnya beberapa orang Kristen zaman kita pun ikut-ikutan–Paulus menentang sekali. Paulus justru mau mengatakan bahwa dalam Perjanjian Baru, di dalam Yesus, tidak ada lagi diskriminasi antara orang Yahudi dan non-Yahudi, bahkan antara laki-laki dan perempuan, antara budak dan orang merdeka, orang Barbar dan orang Skit, dan seterusnya. Dengan demikian, orang Yahudi Kristen bukan warga kelas satu di gereja, dan juga bukan warga yang didiskriminasikan. Demikian pula dengan orang-orang dari bangsa-bangsa yang diangggap kafir oleh orang Yahudi, yaitu bangsa Romawi/Yunani, juga bukan warga kelas satu di gereja sekarang. Bukan sekarang jadi kebalikannya, ‘dulu kami dijelek-jelekkan di Bait Suci, tidak boleh masuk, di pinggiran saja, kalau masuk nanti dilempari batu sampai mati, maka sekarang kami balas dendam; ini gereja, bukan Bait Suci, jadi ini wilayah bangsa asing, orang Yahudi tidak boleh masuk, kalau masuk harus nyembah kami dulu’ –tidak seperti itu. Artinya apa? Paulus menentang usaha elitisasi bangsa Yahudi yang jadi Kristen, untuk menjadikan Kristen seolah-olah mengistimewakan kebangsaan Yahudi. Itulah yang Paulus cegah.
Paulus juga sama sekali tidak berniat menganaktrikan orang Yahudi, atau tidak memberi ruang kepada orang Yahudi menjadi orang Yahudi. Tidak apa-apa jadi orang Yahudi, sama seperti orang Kaukasia tidak apa-apa jadi orang Kristen Kaukasia, orang China tidak apa-apa jadi orang Kristen China, orang India tidak apa-apa jadi orang Kristen India. Tetapi, kalau sampai memutlakkan yang satu di atas yang lain, itu tidak boleh. Misalnya berdoa Bapa Kami pakai bahasa Ibrani seolah-olah lebih bagus, lebih di dengar Tuhan, itu tidak boleh. Hal-hal seperti itu yang ditentang oleh Paulus.
Namun yang terjadi, mereka mempelesetkan hal tersebut. Seperti biasa, kalau orang mau mendapatkan dukungan, biasanya mereka akan mengkarikaturisasi (istilahnya: strawman argument, argumen orang-orangan sawah; yaitu membuat argumentasi/posisi lawan sedemikian ekstrim sampai absurd, lalu kita labelkan/tuduhkan pada lawan itu), maka demikianlah Paulus ditempeli satu posisi bahwa Paulus mencegah orang Yahudi menyunatkan anaknya. Ini hal yang Paulus tidak pernah lakukan. Mencegah orang Yahudi menghidupi adat-istiadat nenek moyang mereka, itu hal yang Paulus tidak pernah lakukan. Misalnya juga memaksa orang Yahudi makan babi, yang seumur hidup tidak pernah makan babi karena haram bagi mereka, lalu sekarang setelah jadi Kristen dipaksa makan babi, itu tidak pernah Paulus lakukan. Ini tuduhan saja.
Dalam hal ini, Yakobus cukup bijaksana untuk tidak mengatakan, “Ah, abaikan saja, itu ‘kan cuma tuduhan saja, saya tahu Paulus, kamu tidak begitu. Jadi datang saja ke Yerusalem, tidak apa-apa, tidak usah lakukan apa-apa. Kalau mereka menuduh kamu salah, ya, yang salah mereka, bukan kamu. Kamu tidak usah khawatir, cuek saja, kebenaran akan menunjukkan dirinya sendiri.” Yakobus tidak seperti itu; Yakobus bilang, “Kamu ke Yerusalem ‘kan baru sekali dalam beberapa puluh tahun, jadi kamu perlu menunjukkan di depan semua orang –gestur politik– bahwa kamu tidak demikian. Kamu bawa empat orang dari gereja bersama dengan engkau, mereka itu bernazar … .” Nazar adalah adat-istiadat orang Yahudi; dan Gereja di Yerusalem sebagian besar orang Yahudi, adat-istiadat Yahudi masih dilakukan. Jadi empat orang ini sedang bernazar; dan kalau orang mau melepaskan nazarnya, biasanya harus datang ke Rumah Tuhan, bayar bea tertentu, mengikuti ritual tertentu selama tujuh hari, dsb. Di sini Yakobus lalu mengatakan untuk Paulus membawa mereka, dan bayar bea-nya, sehingga semua orang melihat, dan akan tersebar kabar bahwa Paulus tidak anti-Yahudi, tidak anti-Semit.
Memang tuduhan anti-Semit ini sangat kuat di antara orang-orang Kristen. Ini wajar juga. Orang-orang Kristen itu ‘kan dimusuhi oleh orang-orang Yahudi dalam awal-awal formatifnya. Tuhan Yesus itu dibunuh oleh komplotan tua-tua Yahudi, imam kepala, orang Farisi, ahli Taurat –orang Yahudi– sehingga kemudian beredar satu ungkapan bahwa orang-orang Yahudi itu pembunuh Tuhan kita. Lalu ketika orang Kristen jadi makin banyak, terjadi antisemitisme, bahkan sampai zaman Luther. Luther dalam tulisan-tulisannya sempat ingin membujuk orang-orang Yahudi (dia bikin traktat apologetika) supaya menerima Tuhan. Namun ketika tidak mendapat respons yang baik dari mereka, Luther makin keras, dan pada bagian-bagian akhir hidupnya tulisan-tulisan Luther bahkan cukup layak dipakai jadi pamflet anti-Semit orang-orang Nazi (beberapa pamflet propaganada Nazi memang memuat tulisan Luther). Jadi, antisemitisme memang cukup marak di antara Kekristenan Barat. Tangan kita, Gereja, berdarah juga dalam hal ini. Di antara darahnya adalah darah orang-orang Yahudi, yang marjinal dalam masyarakat di Eropa yang sebagian besar orang-orang Kristen. Ini sesuatu yang saya kira tidak bisa kita katakan bahwa Paulus itu anti-Semit, tidak bisa kita katakan bapak moyangnya anti-Semit adalah Paulus. Paulus sendiri orang Yahudi, dan dia sendiri toh tidak melawan usulan Yakobus tadi. Di bagian ini Paulus tidak mengatakan, “Ah, itu omong kosong, aturan buatan manusia, sudah digenapkan oleh Yesus. Sudahlah! Tidak usah ikut-ikutan itu, tidak usah pedulilah dengan apa yang mereka pikir, Tuhan akan menumpas mereka!” Paulus tidak bilang begitu. Dia tetap datang ke Bait Suci membawa empat orang yang bernazar itu.
Yakobus kemudian mengulangi lagi kesepakatan mereka dalam Sidang di Yerusalem yang dulu itu, bahwa orang-orang non-Yahudi tidak usah disunatkan, tidak usah hidup secara Yahudi, tetapi karena Hukum Musa diberitakan tiap-tiap hari di daerah sini, maka bangsa-bangsa lain jangan sampai terlalu offend terhadap Yahudi; maka komprominya mereka harus menjauhkan diri dari empat hal. Pertama, dari makanan yang dipersembahkan kepada berhala; artinya makanan yang sudah dipersembahkan kepada berhala misalnya Zeus, atau Minerva, dsb., jangan dimakan, apalagi kalau sudah tahu. Selanjutnya, dari darah, dari binatang yang mati dicekik, dan dari percabulan. Ini merupakan praktik sosial zaman itu. Orang-orang Romawi/Yunani kalau pesta-pesta, misalnya di akhir minggu, ada kebudayaan seperti itu (kalau zaman sekarang, istilahnya hookup culture –mabuk-mabuk, perginya sendiri lalu pulangnya berdua–semacam itu).
Selanjutnya, Paulus comply terhadap Yakobus, dia membawa orang-orang tersebut, menyucikan diri bersama mereka, masuk ke Bait Allah, membayar bea, dst. Keadaan anteng-anteng saja, sudah tujuh hari, sepertinya akan berakhir baik-baik. Namun kemudian orang-orang Yahudi yang datang dari Asia (daerah-daerah misi Paulus) melihat Paulus di Bait Allah. Mereka lalu menghasut orang banyak. Mereka berteriak-teriak, “Tolong! Ini orang yang di mana-mana mengajar semua orang untuk menentang bangsa kita, menentang hukum Taurat dan tempat ini!” Ini persis seperti tebakan Yakobus bahwa kejadian seperti ini akan dijumpai Paulus di Yerusalem, bahwa orang-orang itu akan mengenali dia dan menghadirkan tuduhan tadi. Tetapi di sini mereka menambahkan satu tuduhan lagi, dan itu yang bikin heboh. Kalau tuduhan yang sudah diantisipasi oleh Yakobus tadi, Paulus sudah ada jawabannya, enggaklah, saya tidak melarang orang begini begitu, buktinya sekarang saya bawa empat orang yang bernazar ini, saya bayar beanya, sudah hampir tujuh hari; saya comply koq pada hukum Tuhan. Namun sekarang ada tuduhan yang terakhir, yang tidak diantisipasi oleh Yakobus, yaitu mereka menuduh Paulus membawa orang Yunani ke dalam Bait Suci.
Orang bukan Yahudi tidak boleh dibawa ke Bait Suci; yang masuk akan dihukum mati, dan yang membawa masuk juga akan dihukum mati. Hal ini sudah diperingatkan di pintu gerbang Bait Suci Yerusalem, bahwa karena ini rumah Tuhan, maka orang yang bukan umat Tuhan tidak boleh masuk. Yang mengaku umat Tuhan tetapi di-diskualifikasi pun tidak boleh masuk. Urusan membawa masuk orang Yunani ke dalam Bait Suci, bagi kita kayaknya koq sensi banget sih, tidak berperikemanusiaan, masa’ hukumannya hukuman mati, keras banget. Kita bisa punya mindset kayak begini karena kita sudah dicuci otak, kena ragi, mekar oleh ragi Kerajaan Allah, karena kita sudah “dicemari” oleh ragi Kerajaan Allah, bahwa semua manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, yang sudah jatuh dalam dosa tetapi sudah ditebus oleh Yesus –dan yang jatuh dalam dosa bukan cuma orang-orang non-Yahudi tetapi juga orang-orang Yahudi. Mereka semua tidak mencari Allah. Jadi jangan bilang bahwa orang Yahudi berdoa tiga kali sehari menghadap Yerusalem dan menjaga diri dari makanan-makanan haram, berarti mereka mencari Allah. Paulus bilang, mereka bukan mencari Allah, jahat dan jijik isi hati mereka, dst. Paulus bilang, baik orang bersunat dan tidak bersunat, sama-sama menjauhi Tuhan, sama-sama sudah jatuh, namun anugerah Tuhan dalam Yesus adalah bahwa mereka sama-sama punya kesempatan untuk hidup baru, untuk hidup sebagai milik Tuhan di dalam Yesus, karena Yesus sudah mengurbankan diri-Nya menjadi penebusan bagi orang-orang percaya. Inilah kira-kira inti Injil dari Paulus. Dalam hal ini, secara Paulus mau mengatakan begini: Di dalam Yesus tidak ada pembedaan Yahudi dengan non-Yahudi; jadi kalau kamu anggap ini Rumah Tuhan lalu orang non-Yahudi tidak boleh masuk karena akan menajiskan tempat kudus ini, Lu kira Lu sendiri kudus? Lu enggak menajiskan tempat ini?? Ya, enggaklah. Lu juga menajiskan tempat ini.
Tetapi, Paulus menghormati agama mereka –agama yang menurut dia juga salah– Paulus juga tidak mengajak orang non-Yahudi masuk ke Bait Suci. Tuduhan tadi tuduhan palsu. Bukan hanya tuduhan bahwa Paulus mencegah orang Yahudi menyunatkan anaknya, tetapi juga bahwa Paulus membawa orang Yunani ke dalam Bait Allah. Kita sekarang menganggap tuduhan itu lebay —ngapain sih dilarang-larang, orang mau masuk ke tempat sembahyang Lu, ya bolehlah Lu keberatan, tetapi kalau sampai dihukum mati, ya jangan sampai begitulah!—adalah karena sensibilitas kita sudah dikatekisasi, sudah dilatih, oleh Kekristenan. Saya kira, Kekristenan ini menjalar ke seluruh dunia bukan cuma lewat katekisasi secara eksplisit, tetapi juga secara osmosis lewat kehadiran kita, orang-orang Kristen. Lewat output kebudayaan kita, kesenian kita, perilaku kita, dst., sudah merembeslah Kekristenan. Injil sudah merembes, sehingga banyak orang yang KTP-nya mungkin bukan Kristen tetapi secara osmosis sensibilitas hatinya dibentuk oleh Kekristenan.
Barangkali ini mirip seperti sejarawan Tom Holland yang menulis Dominion. Tom Holland ini orang ateis. Dia sejak kecil menyukai dinosaurus, menyukai kerajaan-kerajaan seperti Romasi, Yunani, dan pahlawan-pahlawan Sparta, tetapi dia kurang suka pada Kekristenan meskipun sejak kecil dibesarkan dalam keluarga Kristen. Dia akhirnya jadi orang ateis. Namun dia mengatakan, “Semakin saya mempelajari kebudayaan Romawai dan pengaruhnya, saya makin sadar bahwa saya bukan orang yang seperti orang Romawi.” Dia menaruh orang Romawi (kebudayaan Romawi) sebagai superhero-nya, tetapi waktu mempelajari lebih dekat tentang Romawi, dia menyadari ini asing banget, aneh banget, karena walaupun Romawi itu hebat, rasional, jaya, cukup adil juga menurut standar Romawi, kebudayaannya bagus, dsb., tetapi Romawi itu kejam. Romawi tidak menghargai nyawa manusia. Bagi Romawi, kejayaan adalah jauh melampaui nilai kehidupan. Bagi Romawi, menyambung/ memperpanjang umur orang yang tidak ada gunanya, yang tidak mulia hidupnya (misalnya anak cacat, orang sakit, orang yang sudah tua), dengan dipanjang-panjangin umurnya, diberi makan oleh negara, itu membebani negara, tidak ada gunanya. Ini seperti orang-orang Nazi juga, di mana tidak ada tempat untuk kelemahan. Lalu Tom Holland dalam hal ini mengatakan, “Saya ini ateis, saya suka Sparta, Romawi, Yunani. Tetapi kalau saya mendengar dan membaca sendiri Romawi kayak begitu, saya tidak bisa simpati dengan mereka. Dan, saya menyadari, lho, saya ini bukan Romawi, saya bukan ateis, saya ini sesibilitasnya sangat dibentuk oleh Kristen; jadi kayak saya ngaku-ngakunya ateis, tetapi by osmosis bukan ateis (seperti telur di air garam yang lama-lama jadi asin karena osmosis, menyerap).
Demikianlah juga kita, orang-orang dalam dunia modern ini, walapun kita bukan Kristen atau kita ateis, by osmosis kita ada flavor Injil yang masuk ke dalam kita. Itu sebabnya kita sangat tersinggung kalau ada orang didiskriminasi urusan masuk rumah ibadatnya orang lain. Kita merasa, What?? Lu kira manusia yang satu bisa lebih tinggi daripada manusia lain?? Enggaklah … . Namun lanjutannya yang beda, orang mengatakan kita sama-sama debu tanah, materi saja, sementara orang Kristen mengatakan kita sama-sama dari debu tanah, dihembuskan nafas Tuhan, diciptakan seturut gambar dan rupa Allah, tidak ada yang lebih tinggi dan tidak ada yang lebih rendah. Itu sebabnya kita tersinggung kalau ada yang direndah-rendahkan, didiskriminasi dari rumah Tuhan sebagaimana orang Yahudi praktikkan dalam Bait Suci Yerusalem. Tetapi, bagi mereka hal itu make sense banget, maka siapa pun yang bukan Yahudi masuk ke Bait Suci Yerusalem, mereka akan berusaha bunuh –termasuk juga kalau jendral Romawi, hanya saja mereka tidak berani. Mereka bisa saja berusaha bunuh tetapi mereka sendiri akan terbunuh; lagipula dalam hal ini jendral Romawi juga menghormatilah, ini urusan kecil bagi mereka, mereka tidak akan masuk sembarangan ke Ruang Maha Suci misalnya, kecuali dalam situasi ekstrim mau menghancurkan.
Paulus ini dituduh oleh mereka sudah dengan sengaja mencemarkan tempat kudus ini. Hal mencemarkan tempat kudus ini bukan cuma seperti ketika Antonius Epihanes menyruh imam mempersembahkan babi di altar Yahweh kepada Zeus, tetapi juga dengan membawa orang non-Yahudi masuk ke rumah Allah. Di sini mungkin kita pikir koq menghina banget sih, memangnya Lu kira gue babi?? Tentu saja kita bisa pikir begitu karena sudah Kristen, kita menganggap semua orang sama, sedangkan mereka itu tidak Kristen. Mereka menganggap tidak semua orang sama, umat Tuhan lebih tinggi daripada bangsa-bangsa lain. Walaupun mereka mengakui mereka bisa berdosa juga, Tuhan bisa bermurah hati kepada umat-Nya sendiri, Tuhan juga bisa membuang dan menghukum umat-Nya, namun bagi mereka tentu umat Tuhan istimewa dong dibandingkan bukan umat Tuhan, dan yang mereka katakan keturunan Abraham adalah orang-orang Yahudi. Lalu di sini mereka bilang ada orang non-Yahudi masuk, Paulus yang ajak, kurang ajar banget, menista agama. Mereka menuduh Paulus demikian. Tetapi apakah Paulus melanggar atas nama Injil? Tidak. Dia tidak membawa Trofimus yang jelas-jelas orang bukan Yahudi ke dalam Bait Suci, namu mereka menuduhnya demikian, hanya karena Trofimus termasuk rombongan Paulus dan sekarang Paulus ada di Bait Suci, sehingga menganggap pasti diajak juga. Mereka tidak mengecek. Mereka langsung gempar, memukuli Paulus, mau bunuh Paulus.
Bait Suci itu letaknya bersebelahan dengan benteng Antonius; benteng tersebut bisa mengawasi Bait Suci dari atas. Dari benteng itu kepala batalion melihat ada kegemparan di Bait Suci, dia langsung turun membawa banyak prajurit dan mendatangi. Ketika itu orang-orang memukuli Paulus sudah di luar Bait Suci, bukan di dalam (mereka juga tidak akan bunuh orang di dalam Bait Suci karena tidak boleh), mereka sudah menyeret Paulus keluar. Lalu perwira ini datang, dan kemudian menghentikan itu. Tetapi sebagai tipikal orang Romawi, dia mau tahu dulu orang ini salahnya apa. Jawabannya tidak jelas. Orang banyak itu juga tidak tahu salahnya Paulus apa. Akhirnya Paulus dibawa ke markas, bahkan sampai perlu digotong karena orang banyak menghalangi.
Sesampainya di markas, Paulus bicara dalam bahasa Yunani kepada perwira itu. Perwira tersebut pun kaget, sangkanya Paulus adalah orang Mesir itu, yang menghasut orang-orang untuk memberontak terhadap Romawi, tetapi ternyata bukan. Paulus mengatakan, “Aku orang Yahudi –bukan orang Mesir– warga dari kota Kilikia yang terkenal; aku minta, supaya boleh address rakyat ini.” Kemungkinan besar address ini dari benteng Romawi ke orang-orang di Bait Suci yang berada di bawah itu.
Sampai di sini pembacaan kita; apa yang Paulus katakan akan kita bahas dalam bulan berikutnya. Sekarang apa yang bisa kita pelajari dari bagian ini? Ada beberapa hal.
Pertama. Bicara kehendak Tuhan, tidak boleh kita mengasumsikan bahwa kita tahu dengan jelas, kalau memang tidak jelas. Seperti di bagian ini, tidak jelas Paulus akan mati, maka kita tidak boleh bertindak seolah-olah Paulus memang akan mati, sebagaimana murid-murid di sini mati-matian mencegah dia pergi ke Yerusalem karena mengasumsikan dia akan mati di sana. Memang akhirnya Paulus tidak mau dicegah, dia tetap pergi. Lalu resolusinya, dicatat di sini bahwa mereka menyerahkan Paulus kepada kehendak Tuhan. Menyerahkan kepada Tuhan bukan berarti menyerahkan Paulus untuk mati, mereka hanya melepaskan kecemasan mereka berhubung mereka menafsirkan bahwa yang dibukakan oleh Roh adalah Paulus akan mati. Tetapi yang dibukakan oleh Roh adalah Paulus akan pergi ke Yerusalem, dia akan diikat; dan diikat itu rupanya justru menyelamatkan Paulus. Yang Agabus pikir, diikat berarti diikat untuk menuju kematian. Kita ingat Simon Petrus pernah dinubuatkan seperti itu, bahwa pada waktu tua dia akan diikat, dibawa ke tempat yang dia tidak mau; dan kita tahu dalam tradisi, bahwa Petrus di masa tuanya diikat, disalibkan, dan mati. Namun dalam urusan Paulus, dia diikat oleh orang Romawi, dibawa ke markas, dan tidak mati. Sampai akhir dari Kisah Para Rasul, kita tahu Paulus justru bisa memberitakan Injil di kota Roma selama dua tahun penuh di rumah yang disewanya sendiri, menerima semua orang yang datang kepadanya, dengan terus terang tanpa rintangan apa-apa. Dia memberitakan Kerajaan Allah di jantung Kekaisaran Roma, di kota Roma. Itu yang terjadi. Jadi, Paulus memang ditangkap oleh batalion Romawi, diikat tangannya, tetapi artinya bukan kematian, artinya justru Injil tersebar luas di jantung Kekaisaran Roma. Siapa yang tahu hal itu?? Itu sebabnya benar juga pelajaran di awal tadi, “Biarlah jadi kehendak Tuhan, Domine voluntas fiat.” Kita tidak bisa bilang, “Inilah kehendak Tuhan, Deus vult, sudahlah tutup mulutmu, lakukan saja,” itu keliru, karena kita tidak tahu kehendak Tuhan secara persis itu apa. Namun yang kita tahu, ada kehendak Tuhan itu, dan kita berniat menjalaninya.
Yang kedua. Kalau kita melihat pertemuan Paulus dengan orang-orang ekstrimis Yahudi, dan pertemuan Paulus dengan Yakobus di Yerusalem, kita tahu bahwa sebagaimana Paulus juga katakan dalam Surat 1 Korintus, memang fanatisme adat-istiadat manusia bisa keliru. Misalnya, ilah-ilah yang mereka anggap ada, sebetulnya tidak ada, jadi tidak perlu takut, tidak perlu juga berharap kepada ilah-ilah/berhala. Tetapi, apakah Paulus kemudian mengatakan, ya, kita anggap tidak ada saja, kita singgung mereka, dan segala macam seperti itu? Tidak. Paulus mengatakan, “Ya, sebetulnya berhala memang tidak ada, ilah-ilah itu tidak ada, itulah keyakinan saya yang terdalam. Tetapi, beberapa orang bisa tersandung kalau kamu makan daging yang sudah dipersembahkan ke berhala; apalagi Yakobus pernah bikin kesepakatan di Yerusalem –dan aku juga ada di sana, Petrus juga– Gereja memutuskan untuk jangan makan daging yang dipersembahkan kepada berhala, jadi ya sudah, jangan, tetapi sebenarnya kamu makan pun tidak apa-apa.” Kira-kira begitu. Demikian Paulus merespons adat-istiadat bikinan manusia, yang dalam level terdalam sebetulnya nothing; tetapi dia tetap hormati, dia tidak memprovokasi sesuatu yang tidak perlu. Dalam hal ini Paulus comply kepada Yakobus, dia bawa keempat orang itu sebagaimana diusulkan Yakobus, dia jalani ritual tujuh hari. Dia tidak menawar-nawar, “Sudahlah, tiga hari saja kenapa sih; atau gue temenin tiga hari saja lalu pulang, ‘kan gue bisa memberitakan Injil di tempat lain … .” Dia tidak bilang begitu, dia comply saja, walaupun dia tahu yang begini-begini sebenarnya tidak perlu. Dia menghormati itu sebagai bagian dari eksistensi mereka, tradisi mereka, dan mungkin juga providensia Ilahi yang partikular untuk bangsa mereka sejauh ini. Dia tidak menghina itu, dia respek.
Yang ketiga. Hal yang disangka oleh murid-murid Paulus sebagai Tuhan menunjukkan bahwa Paulus akan menghadapi kematian, dengan diikat kaki dan tangannya (dirantai), itu bisa jadi ternyata cara Tuhan untuk menunjukkan kemuliaan-Nya yang lebih besar, bahkan tanpa memasukkan Paulus ke dalam kematian. Artinya apa? Kita perlu bersiap hati, membuka diri, bersikap open minded, bahwa apa yang Tuhan sudah nyatakan, ketika kemudian Tuhan nyatakan dengan lebih jelas, ternyata artinya sungguh-sungguh berbeda. Karena apa? karena presaposisi kita mengenai realitas itu apa, bahkan mengenai baik dan jahat itu apa, mengenai benar dan salah itu apa, bisa jadi keliru di hadapan bukti-bukti yang terbaru. Kita perlu open minded dan perlu kerendahan hati untuk kita bisa mengerti dengan lebih menyeluruh dan dengan lebih tepat, apa yang Tuhah bukakan kemudian. Presaposisi kita bisa sangat menghalangi kita memahami. Dalam kisah ini, ternyata kehendak Tuhan bukanlah berarti Paulus diperingatkan supaya jangan ke Yerusalem —Tuhan tidak menghendaki Paulus ke Yerusalem, kalau ke Yerusalem artinya tinggi hati, cari mati sendiri, seperti gagah secara spiritual tetapi Tuhan tidak menghendaki—bukan itu, Tuhan malah menghendaki Paulus pergi ke Yerusalem. Tetapi juga bukan Tuhan menghendaki Paulus mati —Paulus ini hidupnya keenakan banget, sudah bunuh orang Kristen berapa banyak, Tuhan ‘gak kepingin Paulus senang atau aman hidupnya, Tuhan kepingin Paulus susah dan mengalami penderitaan, jadi dia harus datang ke Yerusalem karena Tuhan menghendaki Paulus ditangkap dan mati di sana– tidak demikian. Jadi, Paulus pada akhirnya datang Ke Yerusalem, memang ditangkap dan dirantai, tetapi dia tidak mati di sana. Namun ini bukan berarti yang paling penting adalah Paulus selamat; bukan itu, karena yang paling penting adalah Injil Tuhan datang kepada mereka tanpa dihalang-halangi. Injil Tuhan tersebar, mulai dari Yudea, sampai seluruh Samaria, sampai seluruh ujung bumi –Roma adalah bagian pusat dari yang disebut ujung bumi, daerah bangsa-bangsa lain– tanpa halangan yang berarti, tanpa halangan apa-apa.
Demikian poin-pon yang saya kira kita perlu sadari dari bagian ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksaoleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading