Ini Musim Paskah dalam Kalender Gereja. Gereja-mula-mula merayakan Paskah bukan satu hari melainkan satu musim, tujuh minggu, antara Hari Paskah sampai Hari Pentakosta. Ini minggu-minggu yang dipakai Gereja untuk bergumul dengan realitas Paskah, bertanya apakah Paskah sungguh-sungguh terjadi, dan kalau iya, maka apa efeknya.
Itu sebabnya dalam khotbah Musim Paskah, minggu pertama kita membahas kenapa kita bisa percaya kesaksian para saksi mata kebangkitan Kristus –ini dasarnya. Minggu kedua, kita membahas sentralitas Paskah, kenapa Paskah sering kali terpinggirkan, dan kenapa tidak seharusnya demikian, kenapa Paulus justru menempatkan itu sebagai satu hal yang tanpanya iman kita sia-sia; dan jawabannya karena Paskah merupakan crocus flower-nya orang Kristen, dasar dari pengharapan Kristiani. Paskah mengubah segala sesuatu, karena pengharapan mengubah segala sesuatu. Tentara yang sudah terkepung, amunisi habis, terluka sana-sini, bisa tiba-tiba bangkit semangat juangnya ketika mendengar kabar bala bantuan besar segera datang –pengharapan.
Minggu ketiga, kita masuk lebih dalam ke implikasi Paskah, khususnya keselamatan kita. Kita melihat bahwa hal-hal yang selama ini kita sudah alami dan nikmati manfaatnya, ternyata datang bukan cuma dari Salib, bukan cuma dari pencurahan Roh Kudus, tetapi dari Kebangkitan. Keselamatan kita pun bukan datang oleh karena Salib, tetapi Salib dan Paskah –bukan kompetisi melainkan complimentary. Salib Kristus adalah yang membuat kita dari minus di hadapan Allah menjadi netral/nol, karena pengampunan datang melalui Salib; kebangkitan Kristus membawa apa yang netral/nol ini menjadi plus, kita dibenarkan melalui kebangkitan-Nya. Oleh karena itu, Paskah mengubah sama sekali bagaimana kita melihat dosa, bukan sekadar sebagai suatu kesalahan saja melainkan sebagai suatu tragedi.
Kalau mau jujur, salah satu sebab kita hari ini terus saja berdosa, adalah karena kita melihat dosa sebagai kesalahan, bukan tragedi. Kita tahu dosa itu salah, tetapi ya ampun, koq dosa itu nikmat sekali. Tidak heran kita terus-menerus kembali ke dosa tersebut, karena di mata kita berdosa lebih indah dibandingkan tidak berdosa. Dosa itu salah, kita tahu, tetapi dosa bukan sesuatu yang tragis di mata kita. Paskah mengubah hal ini, membuat kita menyadari bahwa ketika saya berdosa, itu bukan saya sedang netral di hadapan Tuhan lalu menyimpang. Benar bahwa dosa itu salah, namun Paskah telah membuatku plus di hadapan Tuhan; dalam Kristus bukan cuma pelanggaranku dihapuskan lalu aku tidak diapa-apain, dalam Kristus aku-nya ini dinaikkan, disatukan dengan Kristus, dibangkitkan bersama-Nya, diperkenan Bapa sama seperti Ia memperkenan Anak-Nya. Di dalam Kristus kita telah diangkat menjadi anak-anak Allah. Di dalam Kristus, Paulus mengatakan, “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan”, ini Salib, pengampunan. Namun tidak berhenti di situ, kita bukan cuma dilepaskan dari kegelapan, tetapi dipindahkan ke dalam Kerajaan Anak-Nya yang terkasih. Itulah Paskah, kerajaan terang. Dalam stautus yang baru ini, dosa bukan lagi sekadar salah, dosa itu tragis, seperti budak miskin yang telah diangkat jadi pangeran namun kembali lagi ke kubangannya, tidur di pinggir got, karena dia lupa statusnya yang baru. Tragis, bukan cuma salah. Dan, mungkin kegagalan Gereja selama ini dalam menekankan Paskah, merupakan salah satu sebabnya kita tidak melihat dosa seperti demikian, kita hanya menyesal akan dosa kita tetapi tidak berduka oleh karena dosa kita.
Hari ini kita akan melanjutkan penyelidikan kita mengenai makna dan dampak Paskah ke dimensi berikutnya, bukan cuma bahwa Paskah mengubah bagaimana kita melihat diri kita di hadapan Allah, tetapi juga dampak Paskah dalam mengubah diri kita memandang dunia. Kita mau coba memikirkan apa dampak Paskah, bukan cuma bagi diri kita tetapi juga bagaimana Paskah mengarahkan kita untuk memandang ke luar, ke dunia ini. Paskah mengubah segala sesuatu, termasuk hal ini.
Khotbah hari ini masih tetap akan pakai pendekatan teologis. Mendengar khotbah-khotbah seperti ini memang kita bisa jadi capek, tetapi saya harap capeknya seperti capek kalau kita nge-gym, capek yang puas, capek yang rasa worth it, karena ada arahnya dan tidak sia-sia.
Hari ini kita akan coba melihat bagaimana Paskah mengubah cara pandang kita akan dunia. Untuk itu, saya mau membahas dulu mengenai Paskah adalah sebuah tanda.
Paskah itu mukjizat. Kita semua tahu, bangkit dari mati adalah mukjizat. Dan, dalam Alkitab mukjizat selalu merupakan tanda; Yesus dikatakan melakukan signs and wonders. Ini bukan berarti ada yang signs dan ada yang bukan signs, dsb.; ini dua kata untuk mengungkapkan satu realitas yang sama, mukjizat-mukjizat Kristus semuanya adalah tanda yang ajaib. Kita sudah pernah menyebut sekelebat, bahwa ketika Yesus bangkit dari kematian, ini bukan tanda bahwa Allah campur tangan sementara –bukan itu pengertian mukjizat dalam Alkitab. Allah melakukan mukjizat, itu bukan berarti Allah sementara waktu melanggar hukum dunia untuk menciptakan sesuatu yang ajaib –sebagaimana orang pikir mengenai mukjizat.
Bagi kita, hukum alam (atau naturalnya) mengatakan bahwa manusia akan mati, dan orang yang mati tetap mati, maka kita mengira kalau ada orang bangkit dari kematian berarti hukum alam ini ditiadakan sementara, dilanggar sementara, Tuhan campur tangan. Tetapi bagi Allah (Alkitab), kematian bukanlah hukum alam yang sejak awalnya, kematian bukanlah sesuatu yang natural dari sononya, kematian adalah sesuatu yang masuk ke dalam dunia karena manusia berpaling dari Allah. Sejak saat itulah baru dunia dinominasi oleh dosa dan maut, kehancuran dan kerusakan, penyakit dan kematian. Jadi ketika Yesus bangkit dari kematian, ini bukanlah pelanggaran hukum alam, ini adalah pemulihan hukum alam sebagaimana Allah pada awalnya menciptakan dunia ini, hukum yang mengatakan bahwa dunia adalah tempat di mana maut tidak berkuasa.
Mukjizat kebangkitan Yesus, Paulus mengatakan bahwa kebangkitan Kristus adalah tanda pertama dari datangnya Kerajaan Allah atas dunia ini, tanda dimulainya zaman akhir (omong-omong, zaman akhir adalah zaman yang sangat positif di dalam Alkitab; zaman akhir sebagai zaman yang negatif cuma di mata Hollywood, bukan Alkitab). Apa itu zaman akhir? Kenapa Paulus bisa mengambil konklusi demikian? Zaman akhir adalah era Kerajaan Allah hadir di dunia ini untuk memulihkan dan membuat utuh segala sesuatu sebagaimana Allah menghendakinya. Ini berarti, Paskah adalah tanda bahwa Kerajaan tersebut telah datang. Paskah bukan cuma membuat kita bisa mengharapkan masa depan yang itu, Paskah membuat pengharapan dari masa depan itu datang kepada kita hari ini. Kebangkitan Yesus membawa hal yang ada di masa depan itu, kepenuhan Kerajaan Allah yang akan memulihkan segala sesuatu itu, mulai masuk ke zaman kita hari ini, belum sepenuhnya hadir namun sejatinya sudah hadir –maka gambarannya crocus flower. Transisi sudah dimulai dari winter ke spring, sudah ada sesuatu yang sejatinya berubah, namun belum sepenuhnya datang, baru mulai transisi.
Saudara, inilah kehidupan Kristiani. Kehidupan Kristiani adalah kehidupan yang di luar masih gelap namun karena kita tahu fajar akan segera menyingsing maka kita hidup seakan-akan di luar sudah terang –meskipun masih gelap. Kita mulai menanggalkan piyama, mulai pakai baju kerja, memanaskan mesin mobil, membangunkan anak-anak, memandikan dan menyiapkan sarapan buat mereka –meskipun di luar masih gelap. Inilah caranya orang Kristen hidup, yaitu hidup seperti dalam masa transisi. Inilah kehidupan kita sekarang. Paskah adalah alarm clock-nya yang me-nanda-kan (tanda) bahwa saatnya telah tiba untuk beralih dari mode tidur/malam ke mode siang, mode bangun, mode bekerja –meskipun di luar masih gelap. Jadi Saudara lihat, Paskah tidak melanggar hukum alam, Paskah adalah tanda pertama dari mulai dipulihkannya hukum alam yang sesungguhnya.
Untuk apa kita membicarakan ini semua? Kita mau melihat natur dari hal yang dibawa oleh Paskah. Dalam Yudaisme abad pertama, praktis semua orangYahudi percaya bahwa era Kerajaan Allah akan datang, namun bagi mereka datangnya itu secara instan. Mereka percaya hanya ada dua era dalam sejarah dunia ini, dan batasnya sangat jelas. Ada zaman yang sekarang, yaitu zaman dosa dan maut, di mana dosa dan maut mendominasi dunia; lalu ada zaman yang akan datang, ketika Mesias datang di tengah-tengahnya, zaman yang sama sekali baru, Kerajaan Allah langsung hadir sepenuhnya, segala yang jelek dihapuskan, domba berbaring bersama serigala, dst. Jadi semua hal itu akan datang dengan segera, begitu beralih ke zaman yang ini, dan urusan selesai.
Yang menarik, waktu Yesus melihat pengharapan seperti itu, Ia lalu mengkalim pengharapan tersebut, mendeklarasikan diri-Nya sebagai Mesias yang telah dinubuatkan nabi-nabi. Dalam momen pertama pelayanan-Nya misalnya, Ia masuk ke signagoge, Ia membaca ayat dari kitab Yesaya mengenai Mesias, lalu Ia mendeklarasikan terang-terangan, “Pada hari ini genaplah nas ini sewaktu kamu mendengarnya” —Mesias telah datang, udah nyampe nih. Di bagian lain, Lukas 17, Dia mengatakan, “Sesungguhnya Kerajaan Allah telah hadir di tengah-tengahmu”. Dan, supaya kita tidak salah tangkap, Ia secara spesifik mengatakan bahwa kehadiran-Nyalah yang membuat zaman dosa dan maut ini berlalu, maka di Yoh. 11:25 Yesus mengatakan, “Akulah kebangkitan dan hidup. Barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.” Inilah era Kerajaan Allah datang, di mana hukum alam yang seharusnya dipulihkan, dominasi kematian dipatahkan. Karena sudah datang, berarti yang sebelumnya berakhir dong, namun anehnya, sejelas Yesus mengatakan bahwa Kerajaan Allah telah hadir melalui kehadiran-Nya, di sisi lain Ia juga jelas mengajarkan bahwa Kerajaan ini masih belum datang dalam kepenuhannya. Itu sebabnya Ia mengajar kita berdoa, “Datanglah Kerajaan-Mu” –jadi berarti belum.
Kisah perumpamaan barisan domba dan barisan kambing misalnya, itu perumpamaan tentang akhir zaman, bahwa pada akhir zaman nanti manusia akan dihakimi, dipisahkan jadi barisan domba dan barisan kambing. Dalam momen seperti itu, barulah ada kalimat, “ … Kerajaan yang telah disediakan sejak dunia dijadikan, sekarang akan jadi bagianmu.” Kapan? Nanti, waktu ada pemisahan kambing dan domba itu, bukan sekarang. In fact, perumpamaan-perumpamaan Tuhan Yesus banyak sekali menekankan bahwa Kerajaan Allah itu seperti tersembunyi, sangat kecil —ada ke-belum-an. Seperti biji sesawi, masih kecil masih belum penuh, mata manusia seringkali gagal melihatnya, namun yang kecil ini sudah ada, akan bertumbuh besar sekali menjadi pohon yang terbesar.
Kalau kita mengambil dua sisi perkataan Tuhan Yesus tersebut bersama-sama, sudah-belum, maka kita melihat sbb.:
Skemanya bukan seperti ini:

Tetapi seperti ini, overlap, dan kita hidup di tengah-tengahnya:

Kristus telah datang dan memulai Kerajaan Allah hadir, namun zaman yang didominasi dosa dan maut ini belum sepenuhnya berlalu. Sudah ada kehadiran Kerajaan Allah, tetapi belum kepenuhannya; kepenuhannya nanti waktu Kedatangan yang kedua. Overlap. Jadi Tuhan Yesus membawa konsep kerajaan yang sangat berbeda dari ekspektasi banyak orang, baik itu orang Yahudi pada zamannya, maupun kita hari ini, yang memikirkannya seperti skema pertama.
Kita, hari ini hidup either salah satu. Kita hidup tanpa pengharapan, tanpa perbaikan sama sekali, karena ya, lihat saja di luar masih gelap, mari kita lanjut tidur. Atau sebaliknya, kita bangun dengan semangat 45 mendengar alarm, buru-buru mandi, pakai baju, lalu kecewa berat ketika menemukan di luar masih gelap, dunia masih diliputi kegelapan. Sering kali kita hidup seperti itu. Tetapi dalam perkataan Tuhan Yesus jelas sekali Kerajaan Allah telah datang, namun belum dalam segala kepenuhannya. Paskah adalah tanda pertama —crocus flower— dari datangnya pemulihan alam sebagaimana Allah menghendaki sejak awal. Kita tidak boleh meremehkan kedua hal ini. Kerajaan Allah sudah hadir, sudah berdiri, namun di sisi lain kita harus menyadari seberapa Kerajaan ini belum penuh, seberapa banyak porsi yang masih akan datang di masa depan.
“Aduh, Pak, inilah nyebelinnya, kompleks bener sih jadi orang Kristen! Salah satunya sajalah, sudah ya sudah, belum ya belum; begitu sajalah.” Saudara, itu sebabnya ketegangan dan kompleksitas jangan diperlakukan jadi musuh. Justru Kekristenan yang ada ketegangan dan kompleksitas seperti ini, yang agung. Semua seni yang tertinggi, itu kompleks dan ada ketegangannya, itulah yang bikin orang terpukau memandangi berjam-jam. Ketegangan dan kompleksitas adalah hal yang membuat sesuatu yang tadinya cuma bagus, bergerak menjadi berseni –karena ada ketegangan dan kompleksitasnya. Lukisan Monalisa itu senyumnya senyum bahagia atau senyum sedih? Tidak bisa dijawab ‘kan. Poinnya memang bukan untuk dijawab ‘kan. Lukisan itu indah, berseni, karena ada ketegangannya, kita tidak bisa mengatakan secara pasti itu senyum sedih atau senyum bahagia. Ada ketegangannya. Kalau artis K-Pop cantik, itu cantik sih, bagus sih, tetapi bagus tok, tidak ada seni-seninya. Sedangkan Monalisa, itu seni, karena kita tidak tahu ini senyum sedih atau senyum bahagia. Lucu, ya.
Kemampuan untuk memegang dua kutub ini bersamaan, belum dan sudah, inilah yang justru jadi keunikan orang Kristen. Inilah yang justru menjadi dasar bijaksana orang Kristen. Inilah yang harusnya sanggup membuat dunia bisa terpukau melihat kita, dan tertarik. Saudara bayangkan, orang Kristen yang tidak ada ketegangan seperti ini, yang cuma salah satu, sudah ya sudah, belum ya belum, itu tidak menarik. Orang yang terlalu menekankan kehadiran Kerajaan Allah, ke-sudah-annya dibandingkan ke-belum-annya, dia akan expect solusi instan, segala sesuatu mau cepat beres, dan akhirnya akan cepat kecewa dengan segala penderitaan serta kesulitan. Orang kayak begini, tidak menarik, biasa saja. Di sisi lain, orang yang terlalu berat menekankan ke-belum-annya di atas ke-sudah-annya, dia akan terlalu pesimis terhadap adanya perubahan, cenderung menarik diri dari keterlibatan dengan dunia ataupun Gereja. Tidak menarik. Yang menarik adalah orang yang bisa memegang keduanya bersamaan. Contohnya, dalam hal khotbah yang sulit seperti ini, istri saya tidak cuma mengatakan, “Ih .., kayak PA,” lalu selesai; atau mengatakan, “Ini perlu!” dan akhirnya marah/kecewa karena orang lain tidak sesemangat dia. Istri saya tidak salah satu begitu, ada dua-duanya; dia mengatakan, “Ya, memang kayak PA, tetapi ini perlu sekali-sekali.” Inilah yang membuat ada kedalaman, ada ketegangan. Inilah yang bijaksana, yang indah, yang mulia. Tidakkah Saudara ingin jadi seperti itu? Ketegangan dan kompleksitas.
Kita perlu belajar merangkul ketegangan dan kompleksitas ini. Dalam hal ini John Stott memberikan beberapa gambaran sebabnya kehidupan Kristiani, yang menghidupi ketegangan seperti ini, justru bukan cuma tidak membingungkan tetapi juga sangat praktis. Dia memberikan banyak gambaran dalam hal pengetahuan akan kebenaran (urusan mengetahui kebenaran), namun di sini saya sampaikan dua saja. Dalam dunia ada dua ekstrim soal kebenaran. Ada esktrim di mana orang hanya melihat belum, tidak lagi percaya akan kebenaran, tidak mungkinlah bisa tahu kebenaran itu apa, masing-masing orang pegang apa yang benar bagi dirimu sendirilah. Ini ektrim yang belum, not yet, tidak bisa tahu. Kira-kira seperti itu. Dan, ini tidak menarik, biasa saja. Di sisi lain, ada ekstrim yang sudah, already, di mana kita melihat orang-orang Kristen, ataupun orang-orang agama lain, yang terlalu yakin mereka benar, tidak punya ruang bagi keragaman, dan akhirnya cenderung menghakimi serta self-righteous. Ini juga tidak menarik. Namun ketika Saudara bisa menemukan ada ketegangan antara belum dan sudah pada saat yang sama, ini menghadirkan Kekristenan yang unik. Kekristenan yang di satu sisi yakin bisa tahu apa yang benar karena Allah telah memberikan kebenaran-Nya; di sisi lain, ada kerendahan hati, bahwa meskipun Allah telah memberikan kebenaran-Nya, kita belum bisa memahami kebenaran tersebut sepenuhnya.
Ingat, gambaran para murid Yesus yang menyaksikan sendiri secara langsung Yesus yang sudah bangkit di tengah-tengah mereka, namun di antara mereka masih ada yang ragu –dan Tuhan Yesus tidak mengusir mereka. Ada ruang bagi orang-orang seperti ini. Itulah realitas Kerajaan Allah, yang belum tetapi sudah, sudah tetapi belum, yang menghasilkan di satu sisi keyakinan akan adanya kebenaran, di sisi lain menghasilkan juga kerendahan hati, bahkan keterbukaan untuk berdialog. Ada toleransi bagi pemikiran yang berbeda, karena kita belum sepenuhnya mengerti, meskipun kebenaran sudah diberikan. Dan, ini apa namanya kalau bukan bijaksana??
Contoh lain, dalam hal pertumbuhan rohani. Di satu sisi, tadi kita mengatakan bahwa kita telah dipindahkan ke Kerajaan Anak-Nya yang terkasih; Petrus bahkan lebih parah lagi, dia mengatakan dalam 2 Ptr. 1:4, “Kita telah mengambil bagian dalam kodrat Ilahi” (We have become partakers of the divine nature) —dan memang tidak salah, karena kita telah disatukan dengan yang Ilahi, Kristus. Dan, ini untuk pertama kalinya dalam sejarah manusia, dosa tidak lagi invincible, semua habit dosa yang memperbudak kita bisa dikalahkan. Di sisi lain, natur manusia yang jatuh itu tetap masih bertahan dan tidak akan sepenuhnya dihilangkan sampai Kerajaan Allah datang dengan segala kepenuhannya. Kapan? Pada akhir zaman. Jadi berarti apa ketika ada ketengangan seperti ini? Di satu sisi, ada perjuangan melawan dosa; di sisi lain, ada kesabaran dan pengertian bagi mereka yang masih sedang bertumbuh. Ada ruang, bahkan ekspektasi bahwa pertumbuhan kita masih akan diwarnai dengan kegagalan dan kejatuhan. Ini ketegangan yang indah, seperti waktu Saudara menghadapi anakmu.
Ketika Saudara menghadapi anakmu, tentu ada semacam ekstra kesabaran yang tidak ada waktu Saudara dealing dengan orang dewasa. Kenapa? Karena Saudara sadar mereka masih transisi, masih dalam masa overlap di antara sifat childish yang masih belum hilang dan pertumbuhan riil yang masih terus bertambah. Ada overlap-nya. Itu sebabnya ada ruang bagi tuntutan, dan juga ada pengertian, serta kesabaran yang besar akan keterbatasan dan kekanak-kanakannya. Orangtua yang bisa mempertahankan ketegangan antara dua hal ini, engkau akan melihatnya sebagai orangtua yang bagaimana? Aduh… susah ya, kompleks ya, ‘gak ngerti; begitukah? Tentu tidak. Engkau melihatnya sebagai orangtua yang bijaksana. Ya, memang sulit menjadi orangtua seperti itu, tetapi sulit dan indah, sulit maka indah, indah karena sulit. Itu sebabnya ini ketegangan yang riil. (Di sini saya tidak suka pakai istilah balance karena kesannya segala sesuatu kayak ada klik dan nyamannya; kecuali Saudara menggunakan kata balance dalam hal meniti tali di atas air terjun Niagara –yang juga tegang, tetapi itu yang keren).
Kompleksitas ini bukan menghasilkan hidup kita jadi terbingung-bingung dalam melangkah; kompleksitas dan ketegangan Kerajaan Allah ini justru satu sikap praktis yang membuat hidup malah bisa dijalani dengan baik, dengan bijaksana, bahkan atraktif bagi dunia yang menyaksikan. Adalah konsep yang sangat salah, mengira Kekristenan itu sesuatu yang bersifat tradisional, O, saya Kristen, jadi saya tradisional. Tidak demikian, Saudara. Kekristenan sebagaimana Saudara lihat di sini, justru sesuatu yang amat sangat radikal –atau kalau pakai istilah hari ini, disruptif. Sesuatu yang harusnya bisa membuat dunia berhenti langkahnya, dan terkesima dengan apa yang mereka lihat karena hal itu tidak ada di mereka.
Contohnya perbedaan antara zaman hari ini dengan zaman sebelumnya. Zaman hari ini kita melihat kebobrokan dalam masyarakat dibongkar semua, bahkan in some sense kita bisa bilang standar moral zaman kita ini naik, bukan berkurang. Kita dulu berpikir sekularisme akan menurunkan standar moral, namun ternyata tidak juga. Pernah ada zamannya di mana sekularisme membuat standar moral menurun, segala sesuatu diperbolehkan, mau nge-drugs atau apapun silakan. Tetapi zaman sekarang aneh, sekularisme malah mendorong orang-orang jadi punya standar moral yang luar bias atinggi. Misalnya kita lihat dalam berita kasus di FH-UI belum lama ini. Yang menarik, the so called “pelecehan seksual” itu terjadinya di dalam grup chat yang isinya cuma para pelaku. Ini aneh, ya. Kalau zaman dulu ada grup chat seperti ini, anak-anak cowok ngomong yang najis-najis dan kotor-kotor seperti itu, orang tidak peduli, orang mengatakan, “Boys will be boys. Wajarlah cowok-cowok ngomong kayak begitu.” Itulah zaman dulu, tidak ada standar, simpel, segala sesuatu dimaklumi. Sedangkan zaman sekarang ada standar, dan standarnya tinggi; tetapi bukan cuma standarnya tinggi, Saudara lihat di kasus tadi, standar tinggi dan tidak ada pengampunan. Orang yang ketahuan melakukan hal seperti itu, dibongkar di sosmed, dicerca habis-habisan oleh masyarakat, mau minta maaf pun sudah terlambat dan tidak ada efeknya. Ini namanya cancel culture; dalam cancel culture tidak ada pengampunan.
Zaman dulu semua dimaklumi, semua diampuni, tidak ada standar; zaman sekarang tidak ada standar, tidak ada pengampunan. Inilah dunia. Itulah sebabnya hanya dalam Kerajaan Allah Saudara menemukan hal yang aneh, yaitu: ada standar yang luar biasa tinggi, tetapi juga somehow ada pengampunan yang mencengangkan. Ini bukan tradisional, ini radikal, ini disruptif seharusnya.
Dan, tentu saja poinnya adalah: ini semua datang karena Paskah. Ini sebabnya Paulus menekankan bahwa kebangkitan Yesus adalah buah sulung; 1 Kor. 15:20, “Tetapi yang benar ialah, bahwa Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati, sebagai yang sulung dari orang-orang yang telah meninggal.” Lalu dalam Kol. 1:18, “Ialah kepala tubuh, yaitu jemaat. Ialah yang sulung, yang pertama bangkit dari antara orang mati, sehingga Ia yang lebih utama dalam segala sesuatu.” Saudara lihat, dikatakan yang sulung, yang pertama. Bukan berarti yang pertama dan terakhir, lalu urusan selesai, melainkan yang pertama, masih ada lagi, sudah mulai tetapi baru mulai, masih ada. Istilah buah sulung ini penting, karena dalam Perjanjian Lama hasil panen pertama (buah sulung) adalah gelombang panen yang dipersembahkan secara khusus untuk Allah, namun ini barulah gelombang yang pertama, masih ada geolombang-gelombang panen yang berikutnya. Lalu kenapa yang pertama ini, yang crocus flower ini, yang dipersembahkan kepada Tuhan? Karena ini tanda, bahkan in some sense jaminan bahwa akan ada panen-panen yang berikutnya, yang akan menyusul; ini tanda, seakan-akan DP, uang muka. Dan, apa artinya DP (uang muka)? Uang muka adalah kehadiran masa depan, yang masuk ke masa sekarang. Kebangkitan Yesus juga sama. Kebangkitan Yesus adalah masuknya masa depan ke dalam masa sekarang. Kuasa Allah yang pada akhirnya akan menghancurkan segala penderitaan, kejahatan, kerusakan, dan tentu saja maut pada akhir zaman, hari ini telah masuk ke zaman sekarang ini, dan telah tersedia, available, sudah mulai secara riil, belum dalam segala kepenuhannya tetapi sudah ada barangnya sekarang. Kuasa Allah yang besar itu, yang berkuasa memperbarui alam semesta ini nanti, sekarang telah mulai accesible bagi kita. karena kita telah disatukan kepda Kristus yang telah bangkit.
Efeknya apa? Implikasinya apa, sih? Saudara, inilah sebabnya efek Paskah tidak bisa berhenti pada diri kita secara individual, efek Paskah itu hadir melalui sebuah komunitas, mengalir kepada dunia. Paskah melambangkan Kerajaan Allah telah hadir secara riil, walaupun belum sepenuhnya. Dan, yang namanya kerajaan, itu selalu bersifat komunal, bukan Saudara sendirian, ada komunitasnya. Itu sebabnya dalam tulisan para rasul bukan cuma kita secara individual yang disebut sebagai Bait Allah, tetapi semua dari kita secara keseluruhan disebut sebagai satu Bait Allah. Surat 1 Ptr. 2:5 mengatakan, “Kamu (maksudnya kamu semua, you all) juga dipergunakan sebagai batu-batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” Jadi, kita semua menjadi satu tubuh, satu Bait Allah; dan apa yang menjadikan komunitas ini unik, yang menjadikan kita Bait Allah? Penulis Ibrani sangat aware dengan pola belum dan sudah tadi, mengatakan dalam Ibr. 6:5, “Kamu adalah yang mengecap firman yang baik dari Allah, dan karunia-karunia dunia yang akan datang … . “Kamu mengecap firman, kamu mengecap karunia-karunia dunia yang akan datang –belum dan sudah. Siapakah kamu ini? Gereja. Dan, Paulus mengatakan di Filipi 3, “Kewargaan kita adalah kewargaan Kerajaan Surga, dan dari sana kita menantikan kedatangan Juruselamat kita.” Jadi, kewargaan kita sudah kewargaan surga, berarti sudah, tetapi lanjutannya adalah bahwa dari sana kita menantikan, artinya belum –sudah dan belum.
Omong-omong, istilah kewargaan lebih bagus diterjemahkan sebagai commonwealth, atau paling bagusnya koloni. Karena Paskah membuat kita menyadari adanya zaman yang sudah tetapi belum ini, kita sadar apa artinya Gereja, yaitu koloni-koloni surga. Yang namanya koloni surga, pasti bukan surga. Kalau Inggris bikin koloni, berarti koloni ini bukan di Inggris, namun yang menjadikan tempat tersebut koloni Inggris adalah karena aturan main Kerajaan Inggris berlaku di situ. Sama halnya dengan Gereja dan orang Kristen. Kita ini punya politik yang bukan ditentukan oleh partai politik tertentu. Politik kita, yaitu cara hidup kita di tengah-tengah masyarakat, adalah politik Kerajaan Surga, bukan kerajaan-kerajaan dunia. Itulah artinya menjadi koloni surga. Mempunyai kewargaan surga, artinya bukanlah suatu hari kita akan naik ke surga, melainkan bahwa aturan main surga turun ke bumi lewat kita, lewat Gereja —jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga. Itu sebabnya gambarannya adalah Bait Allah. Ini bukan kebetulan, karena bait Allah adalah bangunan-bangunan bumi yang tidak ikut aturan mainnya bumi, tidak digunakan untuk urusan-urusan bumi, melainkan digunakan, diatur, dan dibangun pakai aturan main surgawi. Itulah bait Allah –koloni.
Istilah koloni kesannya negatif banget untuk zaman hari ini karena ada unsur pemaksaannya, unsur penjajahannya, tetapi pada zaman Paulus, status sebagai koloni Romawi merupakan sesuatu yang dikejar-kejar. Filipi, tempat Paulus menuliskan ayat tadi, “Kewargaanmu adalah kewargaan Kerajaan Allah”, adalah sebuah koloni Romawi. Ini berarti semua warga Filipi hidup dengan status yang sama dengan orang-orang yang hidup di Roma, mereka adalah warganegara Roma. Artinya bukan cuma Hukum Roma berlaku atas mereka, tetapi juga semua privilege orang Roma berlaku atas mereka, bahkan kita bisa mengatakan privilege mereka adalah bahwa mereka punya hukum-hukum Romawi. karena menjamin misalnya bahwa warganegara Roma tidak dihukum sebelum diadili. Ini privilege, karena tidak semua orang zaman itu punya privilege ini. Privilege inilah yang menyebabkan ketika Paulus dalam Kisah Para Rasul disesah tanpa diadili, lalu belakangan baru terungkap bahwa dia warganegara Roma, para penyesahnya panik ketakutan dan terkencing-kencing, karena warganegara Roma tidak boleh diperlakukan demikian. Ini status yang tinggi.
Saudara, hal inilah yang datang oleh karena Paskah. Paskah-lah yang melahirkan Gereja. Tentunya Gereja tidak lahir tanpa pencurahan Roh Kudus, Gereja tidak lahir tanpa salib Kristus, namun Gereja juga tidak lahir tanpa kebangkitan Kristus, karena Kebangkitan itulah yang merupakan tanda riil datangnya Kerajaan Allah di atas dunia ini.
Lewat Paskah, kita menyadari Gereja bukan cuma kumpulan orang-orang yang dosanya telah diampuni (ini salib); lewat Paskah, kita menyadari Gereja tidaklah kurang dari sebuah masyarakat alternatif. Dikatakan dalam 1 Petrus 2:10, bangsa yang kudus, artinya bangsa yang dipisahkan. Gereja tidaklah kurang dari counter culture. Gereja tidak kurang dari sebuah tempat di mana dunia bisa menyaksikan kayak apa sih masyarakat yang aturan mainnya aturan main surga. Gereja adalah tempat di mana dunia bisa menyaksikan seperti apa keluarga yang alternatif (keluarga yang surgawi), seperti apa praktika-praktika bisnis yang alternatif, seperi apa hubungan antar ras yang alternatif —seperti apa kehidupan yang alternatif, yang bisa terlihat ketika Roh Allah memulai pekerjaan-Nya memulihkan dunia ini dari dosa dan maut. Inilah Gereja. Dan, kita sadar ini Gereja lewat Paskah.
Kalau engkau tidak melihat hubungan antara Paskah dengan Gereja, engkau hanya akan melihat Gereja sebagai tempat engkau datang demi kebutuhanmu tok, lalu setelah pulang engkau akan kembali mengikui gaya hidup dan aturan main duniawi. Harusnya tidak demikian, Saudara. Karena ada Paskah –karena Paskah merupakan tanda Kerajaan Allah, era yang baru itu, telah datang hari ini meskipun belum dalam kepenuhannya– maka Gereja adalah tempat di mana engkau datang untuk mengikut Hukum Tuhan, membawanya ke dalam hidupmu, sehingga dunia bisa menyaksikan seperti apa harusnya manusia yang dipulihkan, yang natural, yang ikut Hukum Allah sebagaimana Allah menghendakinya.Yang paling amazing, kesaksian ini menjadi nyata bagi dunia bukan karena kita sempurna, bukan karena kita sudah utuh.
“Oke, Pak, saya mengerti Gereja adalah tanda dari Kerajaan Allah. Tetapi Bapak ‘kan tadi bilang kerajaannya belum sempurna, belum utuh; jadi makanya Gereja hari ini ‘kan terbatas, ya, kita tidak bisa expect terlalu banyak, dst., dst.” Tidak demikian, Saudara. Di sinilah amazing-nya, bahwa justru dalam aspek ke-belum-annya pun, kesaksian akan Kerajaan Allah sudah hadir secara riil. Kesaksian ini hadir meskipun Kerajaan Allah masih belum utuh, meskipun Kerajaan Allah masih work in progress. In some sense, lewat ke-belum-an inilah kuasa Kerajaan Allah semakin nyata, bukan berkurang.
Paulus mengungkapkan ini lewat sebuah metafor yang sangat terkenal, harta dalam bejana tanah liat. Dia mengatakan dalam 2 Kor. 4:7, “Tetapi harta ini kami punyai dalam bejana tanah liat.” Kenapa taruh harta dalam bejana tanah liat? Kalau ini harta yang sebegitu bagusnya, kenapa tidak ditaruh dalam lemari besi yang lebih representatif? Kenapa menggunakan bejana tanah liat yang rapuh dan terbatas? Kenapa harus ada belum-nya ini? Paulus mengatakan dalam lanjutannya, “… supaya nyata bahwa kekuatan yang melimpah-limpah itu berasal dari Allah, bukan dari diri kami.” Jadi, kenapa pakai bejana tanah liat, kenapa pakai Kerajaan Allah yang masih ada belum-nya? Karena justru lewat cara itulah, lebih nyata bahwa kuasanya lahir dari hartanya, bukan dari bejananya –karena semua orang bisa lihat bejananya bejana tanah liat. Ke-belum-an Kerajaan Allah ini, tidak menghalangi kemuliaan ini muncul, bahkan in some sense malah meningkatkan kemuliaan Kerajaan Allah ini dengan lebih nyata.
Supaya jelas, ada dua contoh yang akan saya berikan. Contoh pertama, dari seorang pastor bernama Jeremy Treat. Dia pernah mengunjungi satu daerah yang sangat miskin di Kenya, Nairobi, bernama Kibera. Kibera ini tempat yang saking miskinnya, kalau orang mau ke sana, tidak ada jalanannya, Saudara harus mengikuti aliran suatu got jelek penuh lumpur yang bau dan hitam. Mulai memasuki Kibera, di pinggir-pinggir aliran got tersebut mulai ada gubuk-gubuk, yang dibikin dari kayu bercampur lumpur. Masuk lebih dalam lagi, terlihat anak-anak yang bermain di lumpur-lumpur dengan begitu bahagia, tidak pakai baju dan segala macam lainnya. Pastor Treat tidak habis pikir ada hidup semiskin ini, yang lumpur pun jadi mainan. Lanjut lagi, dia melihat seoran anak gadis berumur 12-an, yang kata guide-nya dia itu pelacur. Hati Pastor Treat mulai begitu berat, koq bisa orang hidup dalam kegelapan seperti ini?? Hatinya hancur. Dia terus berjalan, dan dia mulai mendengar suara-suara yang datang dari tempat yang dia tuju. Semakin mendekat, dia mulai mengenali ini suara-suara manusia. Dia pun sampai ke tempat itu, sebuah gubuk yang tidak besar. Dia membuka pintu. Ternyata ini sebuah gereja yang sedang melangsungkan kebaktian. Sekitar 70-an orang berdesak-desakan dalam gubuk tersebut menyanyi sekencang-kencangnya, bersorak-sorai memuji Tuhan dalam bahasa Swahili. Dalam kebaktian itu ada tangisan, senyuman, doa, pujian. Pastor Treat bingung, apa yang membuat orang-orang yang hidup dalam daerah yang begitu gelap, bisa punya pengharapan yang sebesar itu, bisa punya sukacita yang membara seperti itu, yang bahkan dia tidak temukan di daerah-daerah yang jauh lebih limpah?? Pastor Treat lalu menulis, “Di dalam pengalaman masuk gereja kumuh itu –bejana tanah liat itu– saya menyadari Kerajaan Allah sungguh telah datang. Already. Not yet, tetapi already. Kerajaan Allah ini tentunya baru akan datang sepenuhnya di masa depan, lihat saja masih begitu banyak kegelapan. Tetapi, bahkan sekarang, di antara penderitaan dan kehancuran yang paling parah yang bisa dilihat manusia, saya bisa mengenali Kerajaan Allah telah datang. Kuasa pemerintahan surgawi somehow telah masuk dan menembus tempat ini, mulai mengubah dan memulihkan hidup orang-orang ini secara riil.” Apa contohnya? Pastor Treat mengatakan, “Orang-orang ini tidak punya apa-apa, and yet somehow mereka tahu bahwa di dalam Kristus mereka memiliki segala-galanya. “ Koq bisa? Saudara lihat zaman kita sekarang, kita dan sekitar kita adalah orang-orang yang memiliki segalanya, tetapi malah senantiasa merasa tidak punya apa-apa.
Kerajaan Allah ini juga bukan datang dan simply memberikan semacam perasaan ketenangan jiwa aku punya segala-galanya dalam Kristus. Kerajaan ini mengalirkan kasih Allah yang begitu besar kepada mereka sehingga berlimpah ke luar, tertuang ke mana-mana, melalui orang-orang Kristen ini. Orang-orang Kristen di tempat tadi, ketika punya uang dan bisa keluar dari sana, mereka tidak rela pergi meninggalkan komunitasnya dalam keadaan yang begitu menyedihkan. Selama Treat di sana, setiap hari dia mendengar kisah demi kisah di mana orang-orang di situ saling mengasihi dan saling melayani satu dengan yang lain. Treat lalu mengatakan, “Apa yang aku lihat di gubuk kecil itu, tidak lain dan tidak kurang adalah kuasa yang sama yang suatu hari akan memulihkan seluruh alam ciptaan.” Belum dan sudah.
Contoh kedua, yang kita mungkin lebih familier. Tahun 1940-an ada sepasang suami istri bernama Francis dan Edith Schaeffer, misionaris Amerika yang diutus, bukan ke Afrika tetapi ke Eropa. Ini karena Eropa pada tahun-tahun itu mengalami sekularisme berat, bukan cuma kehilangan iman Kristen tetapi juga iman terhadap kebenaran, era Postmodernisme mulai merambah. Tahun 1955 Francis dan Edith Schaeffer memulai pelayanan kecil dengan mendirikan L’Abri (l’abri artinya the shelter). L’Abri ini mereka dirikan di Swiss, berupa pondok-pondol kecil di Gunung Alpen, dan mengundang para mahasiswa/pelajar dari seantero Eropa untuk datang dan tinggal bersama mereka (rumah mereka di situ). Tujuan mereka bukan simply mau memberikan doktrin yang benar, tetapi menciptakan suatu komunitas, yang bisa menjadi tanda dari kuasa Kerajaan Allah secara riil, komunitas yang bisa mendemonstrasikan realitas Allah orang Kristen. Jadi, bukan cuma lewat argumentasi, Allah bisa dibuktikan, bukan cuma lewat teologi, tetapi juga lewat kehidupan komunitas. Itu yang mau mereka ciptakan di tempat tersebut. Itu sebabnya mereka mengundang para mahasiswa dari berbagai tempat, tinggal bersama mereka, merasakan hospitality yang mereka hadirkan dengan begitu hangat dan limpah. Metode mereka bukan terutama dengan ngomong, melainkan justru dengan mendengar –mendengar dengan niat. Mereka mendengarkan concern anak-anak muda ini, apa yang jadi isunya, mencoba merespons dan menjawab sebaik mungkin. Mereka tidak pernah memaksakan telogi atau agenda mereka. Tentu saja merka berkali-kali mengatakan dengan yakin, bahwa Alkitab dan Kekristenan menyediakan resource yang paling besar bagi segala aspek hidup manusia, tetapi mereka tidak datang dengan kurikulum, tidak dengan agenda yang orang harus daftar dan ikut. Mereka memberi ruang bagi para mahasiswa ini, membiarkannya menyetir perbincangan lewat apa yang para mahasiswa ini rasa penting dan bingung. Itulah pelayanan L’Abri,
Dua puluh tahun kemudian pelayanan L’Abri telah expand jadi beberapa pondok-pondok, ribuan mahasiswa telah datang dan pergi dari situ. Dan, kelompok usia mahasiswa yang tadinya dilihat paling tidak mungkin jadi Kristen, kini telah banyak yang menerima iman mereka, di L’Abri, lewat pelayanan L’Abri. Ketika orang-orang ini diwawancara mengenai apa faktor utama yang membawa mereka kepada iman, semua mengatakan satu hal yang sama: “Yang membawa saya kepada iman adalah keunikan dari komunitas L’Abri.” Apa keunikannya? Keunikannya adalah: ketegangan. Ada kompleksitas. Ada somehow persatuan antara dua kutub yang tidak pernah mereka lihat bisa bertemu di komunitas mana pun. Kebenaran dan kasih somehow dipegang bersamaan. Truth and love. Ini sesuatu yang tidak pernah ditemukan dalam komunitas mana pun –demikian para mahasiswa mengatakannya.
Saudara, ini bukan balance, ya, ini something yang aneh, tegang, seperti ‘gak mungkin, seperti tabrakan. Di tempat-tempat lain, mahasiswa-mahasiswa ini menemukan misalnya sikap penerimaan inklusif, semua orang diterima karena relativis, tidak ada kebenaran maka semua silakan masuk. Atau tempat-tempat yang menekankan kebenaran, ortodoksi, maka sikapnya eksklusif, jangan sampai kita dimasukin orang-orang yang salah, jangan sampai kita dimasukin buku-buku yang berbahaya, dst. L’Abri bukan dua-duanya. L’Abri mengungkapkan realitas spiritual yang somehow tidak bisa dijelaskan lewat kategori-kategori dunia. L’Abri mengungkapkan suatu realitas yang hanya masuk akal jika berita yang jadi jantung hati Kekristenan itu benar, bahwa Kristus mati, Kristus bangkit, Kristus akan datang kembali –already but not yet. Bahwa kita memang hidup dalam masa transisi. Bahwa di luar masih gelap namun somehow kuasa terang Ilahi telah muncul di tengah-tengah kegelapan.
”Pak, Francis Schaeffer itu kayak John Piper lho, anaknya jadi ateis. Dan, banyak tokoh-tokoh Kristen yang besar hari ini juga katak begitu, anaknya sendiri meninggalkan iman. Bagaimana kalau kayak begini??” Benar, Saudara, anak Francis Schaeffer, bernama Frank Schaeffer, meninggalkan iman ayahnya, dan melabelkan diri sebagai sorang ateis, meski itu label yang terlalu sederhana karena kalau Saudara baca tulisan Frank sendiri, Saudara bisa merasa orang ini lebih Kristen daripada Saudara. Khususnya dalam buku-buku Frank yang terakhir, dia mengatakan, “Saya ini orang ateis yang percaya Tuhan. Saya melihat Yesus bukan di gereja; saya melihat Yesus ketika melihat istriku yang begitu mencintaiku.” Jadi problemnya Frank sebenarnya bukan terhadap Kekristenan, tetapi terhadap Kekristenan versi yang dipolitisasi untuk mendukung agenda politik sayap kanan. Anyway, sampai hari ini Frank Schaeffer masih terus memberi kesaksian yang sangat positif terhadap pekerjaan ayah ibunya. Dia mengatakan meskipun orangtuanya memegang teguh etika seks Alkitab, tetapi ketika ada ibu-ibu muda hamil yang datang ke L’Abri, yang Frank lihat dicurahkan ayah ibunya kepada mereka ini hanyalah kasih; bahwa dosa memang dosa, itu benar, namun karena semua orang adalah pendosa maka tidak ada stigma ekstra yang dilekatkan pada kehamilan di luar nikah tersebut. Inilah keunikan yang atraktif, yang radikal, mencengangkan bagi banyak orang yang mengunjungi L’Abri.
In fact, kemurahan hatipuluhan tahun membuka rumah bagi mahasiswa-mahasiswa ini adalah sesuatu yang sangat mahal harganya, secara finansial maupun emosional. Francis menulis bahwa tiga tahun pertama membuka L’Abri, tidak ada satu pun yang tersisa dari hadiah pernikahannya. Bukan cuma uang, tetapi juga piring, seprai, dan lain-lain. Piring-piring pecah, seprai dan kasur robek, bolong, terkena sundutan rokok. Narkoba diselundupkan ke tempat mereka, orang-orang itu muntah di kamar.
Frank, anaknya itu melihat dan mempersaksikan, “Inilah belas kasihan yang konsisten, yang orangtuaku berikan kepada mereka. Ketika wanita-wanita muda yang hamil itu datang, ibuku menemani mereka ke rumah sakit untuk melahirkan, bahkan ketika ibu mereka sendiri tidak mau menemani karena malu. Belas kasihan yang orangtuaku berikan bukanlah belas kasihan yang dibebankan kepada orang lain untuk menggunakan uang orang lain. Bukan belas kasihan yang menjaga jarak dan pasang kuda-kuda. Belas kasihan yang mereka berikan adalah belas kasihan membuka pintu rumah sendiri bagi orang lain, siapa pun mereka. Yang menjadikan komunitas L’Abri begitu aneh, komunitas yang tidak bisa ditemukan di tempat lain, adalah karena ini komunitas yang mencakup segala macam manusia dengan kemampuan yang jomplang. Pasien rumah sakit jiwa dan mahasiswa Oxford bisa berada di satu meja yang sama. Dan, tentu saja orangtuaku senantiasa memberikan berbagai argumen yang membela keberadaan Tuhan serta kenapa manusia membutuhkan Tuhan, tetapi tidak ada kata-kata dan kalimat yang lebih kuat dibandingkan perbuatan mereka, kesiapan mereka untuk meletakkan harta, privasi, waktu mereka bagi orang lain, sering kali dengan resiko yang tidak kecil, bahkan dengan kesadaran dan pemakluman bahwa kemurahan hati mereka sering kali hanya akan diperalat oleh mahasiswa-mahasiswa ini.”
Saudara, inilah dua contoh yang sangat berbeda, yang satu di pegunungan Swiss yang begitu indah, yang satu lagi di pedalaman kumuh Afrika. Yang satu menyentuh hidup anak-anak muda yang paling cerdas, yang satu lagi menyentuh got dan lumpur dan kemiskinan. Sangat berbedakah kedua tempat ini? Atau kita melihat justru somehow ada yang sama? Yaitu karena keduanya bukan didirikan atas dasar bijaksana duniawi. Kerajaan Allah mendirikan hal yang sama di dua tempat ini, yaitu koloni-koloni surga, tempat komunitas yang radikal itu dibentuk, yang mengubah kehidupan dari dalam ke luar dan bukan simply mempercantik yang di permukaan. Baik gubuk Kibera di Afrika tadi maupun pondok-pondok L’Abri, merupakan komunitas-komunitas Kerajaan Allah, yang diubah oleh kehadiran Kristus, memperlihatkan dan mepersaksikan keindahan dari komunitas manusia yang mungkin terjadi ketika hukum alam dipulihkan, ketika manusia dipusatkan pada kasih dan kemuliaan Allah, bukan pada kemuliaan dan kuasa manusia.
Saudara, di dalam keduanya, dan lewat keduanya, kita menyaksikan icipan serta mengakses kuasa dari zaman yang masih akan datang, yang suatu hari akan memperbarui dan memulihkan segala ciptaan, namun juga sudah datang hari ini secara riil. Sekali lagi, Saudara lihat bahwa aspek ke-belum-an dari Kerajaan ini tidak menghalangi kemuliaan tersebut bisa nyata bagi dunia. Anehnya justru bahwa aspek ke-belum-an itulah aspek bejana tanah liat-nya, yang membuat kemuliaan Allah semakin jelas karena kemuliaan ini sudah pasti bukan datang dari bejananya, tetapi dari harta yang di dalamnya.
Itulah dua contoh yang riil, tetapi juga jauh dari kita. Lalu bagaimana kita juga bisa jadi koloni surgawi seperti ini? Yaitu dengan engkau mulai merangkul ketegangan ini ke dalam hidup Krstianimu. Saya berikan satu contoh spesifik, namun harap bisa jadi satu prinsip, bukan saja buat hal ini tetapi juga untuk hal-hal lain. Salah satu cara Gereja kita mencoba membentuk suatu koloni surgawi, adalah lewat OSG (organic small group), salah satunya OSG Couple. Saya coba menggerakkan para pengurus, para pasangan yang sudah senior, untuk memimpin OSG-OSG Couple yang baru karena pasangan yang menikah bertambah terus. Sudah ada beberapa yang merespons, namun masih banyak yang mengeraskan hati. Kira-kira alasannya apa? Alasannya selalu faktor ke-belum-an tadi, aspek bejana tanah liat. Saya banyak kekurangan, bagaimana bisa memipin orang?? Kalau mereka tanya, nanti saya ‘gak tahu mau jawab apa??
Hari ini kita hidup dalam zaman di mana banyak pasangan muda menikah dan punya anak, namun mereka begitu tersendiri. Zaman dulu, sedikit banyak ada komunitas keluarga besar yang bisa mendukung mereka, jadi back-up, sedangkan hari ini jarang karena berbagai faktor. Jadi, ketika pasangan-pasangan muda zaman sekarang menghadapi di satu sisi tekanan dari anak-anak, di sisi lain tekanan pekerjaan, tekanan mengurus rumah dan kehidupan sosial dan segala macam lainnya, mereka bingung untuk memilih yang mana yang harus aku cabut yang mana yang harus aku fokus, tidak ada guidance, maka apa yang akan mereka lakukan? Mereka tanya AI. Apakah AI bisa memberikan jawaban? Bisa. In some sense jawabannya pasti bagus secara teoritis, bahkan dalam 10 tahun ke depan AI akan tambah bagus jawabannya. Jawaban AI adalah: kamu harus begini,kamu harus begitu. Jadi, orangtua muda yang sudah ada tekanan atas-bawah kiri-kanan, tekanan dari anak, kerja, keluarga, kantor, dsb., sekarang kena tekanan lagi dari AI; AI bilang, “Kamu harus memperhatikan kesehatan, harus olahraga”, tetapi waktunya dari mana??
Bandingkan dengan orangtua-orangtua muda yang berada dalam koloni-koloni surga. Mereka ikut OSG, mereka share pergumulannya. Apa yang mereka dapatkan? Mereka tentu bisa mendapat jawaban, tetapi lebih daripada itu mungkin hal pertama yang mereka dapatkan adalah tepukan di pundak, “Saya mengerti perasaanmu, saya tahu rasanya seperti apa”, solidaritas –AI tidak bisa memberikan ini. Dan, ini saja sudah membawa semacam kelegaan. Kalau Saudara mencurahkan pergumulanmu,”Aduh, koq hidupku kayak begini??” dan ada orang menepuk pundakmu, bilang, “Gue juga alami itu,” lalu orang lain lagi datang, mengatakan, “Gue juga alami”, Saudara akan sadar, ternyata bukan cuma gue yang kayak begini. Ini sangat penting bagi pasangan-pasangan muda ‘kan. Kemudian ada juga pasangan-pasangan senior yang kita lihat anak-anaknya okelah, survive, orangtua-orangtuanya juga survive mendidik anak-anaknya itu dengan segala jatuh bangunnya. Ketika kita melihat ini, kita jadi ada harapan, karena mereka mengalami hal yang sama juga. Lebih lagi ketika pasangan-pasangan senior di OSG menawarkan untuk datang ke rumah si pasangan muda, menjaga anaknya, “Supaya kalian bisa pergi kencan, take your time.” Ini jelas AI tidak bisa lakukan.
Bagi Saudara yang diminta pegang OSG, ketakutanmu apa? Tidak bisa memberi jawaban?? Come on, yang itu AI juga bisa. Engkau bukan dibutuhkan karena itu. Engkau dibutuhkan justru karena yang bisa engkau berikan bukanlah dari kehebatanmu, bukan dari kemampuanmu, melainkan dari pergumulanmu! Engkau bisa memberikan solidaritas, tepukan di pundak karena engkau juga sama-sama bejana tanah liat. Engkau bisa menawarkan waktumu untuk menjaga anak karena engkau sendiri pernah mengalami pergumulan itu. Inilah Saudara, Kerajaan Allah datang di tengah-tengah kita. Sesimpel ini harusnya. Dan, sudah; ini nyata karena ada orang-orang yang mau memberikan hidupnya bagi itu, di sini, hari ini. Namun banyak juga yang menolak pelayanan seperti ini, karena engkau orang yang hanya pegang ke-belum-an, saya tidak bisa, saya hancur, saya rusak. Atau sebaliknya engkau menerima karena engkau pikir engkau sudah hebat, sudah layak, dan akhirnya orang seperti ini bikin rusak OSG. Inilah celakanya Gereja. Engkau pikir engkau hanya bisa melayani karena segala sesuatunya lurus dan simpel. Engkau pikir ketegangan dan kompleksitas adalah musuh? Tidak, Saudara. Ketegangan dan kompleksitas yang ini, adalah tanda dari Kerajaan Allah. Kematian dan kebangkitan, bersama-sama.
Inilah juga yang akan kita lihat dalam Perjamuan Kudus. Kenapa orang Kristen bisa merayakan salib, kematian, dan pencurahan Darah? Mengingat Tubuh yang dipecah-pecahkan, Darah yang dicurahkan? Kenapa kita tidak disuruh mengingat Khotbah di Bukit, atau mukjizat air menjadi anggur? Kenapa pencurahan Darah dan penghancuran Tubuh? Kalau Saudara bikin kebaktian memorial keluarga mengenang orang yang kaukasihi yang telah meninggal, apa yang kau ingat? Pencapaiannya, kasihnya, kehebatannya, bukan desahan desahan terakhirnya di ambang kematian; dan engkau tidak akan pasang foto momen terakhirnya di rumah sakit dengan tubuh yang sudah tulang berbalut kulit. Jadi, apa yang membuat orang Kristen malah merayakan dan mengingat hal itu akan Tuhannya? Yaitu karena Dia bukan cuma mati, Dia bangkit. Saudara lihat pola ini? Belum dan sudah. Bejana tanah liat dan harta di dalamnya. Itulah yang membuat Gereja jadi Gereja. Itulah yang membuat kita unik di dunia ini, Salib dan Paskah, Paskah dan Salib.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading