Kita sebagai orang Kristen,merayakan penggenapan janji Tuhan kepada Israel. Ini penting untuk terus diingat, sebab kita sering kali lupa bahwa Yesus itu orang Israel.
Kalau kita ditanya,”Yesus itu agamanya apa?” Saudara tahu jawabannya? Yesus itu agamanya Kristenkah? Bukan, soalnya Kristen artinya pengikut Yesus, jadi kalau Yesus agamanya Kristen,berarti Dia ikut diri-Nya sendiri, ‘kan lucu, ya. Yesus bukan beragama Kristen, bahkan saya bisa bilang Yesus tidak punya agama. Lho,berarti Yesus ateis?? Bukan. Yesus tidak punya agama, bukan berarti Dia ateis (walaupun orang Kristen awalnya disebut orang ateis juga). Yesus itu tidak beragama, karena istilah agama baru muncul setelah Yesus, istilah agama baru muncul sebagai produk modern.
Yesus adalah orang Israel yang berusaha menghidupi dengan setia perjanjian Allah kepada Israel. Yesus menyembah Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub. Dan, belakangan melalui penyertaan Tuhan dalam hidupnya, orang-orang Kristen meyakini bahwa Yesus itu ternyata adalah Allah sendiri, Yahweh sendiri, yang berkunjung ke tengah-tengah mereka, hadir di tengah mereka dengan cara-cara yang bahkan lebih dekat dan lebih intim daripada ketika mereka di padang belantara 40 tahun itu. Ini sebabnya penting bagi kita untuk mengakarkan praktik-praktik dan pengharapan Kristiani kita, di dalam agama Yahudi, khususnya sebagaimana yang dirayakan/dipraktikkan sesuai dengan yang tertulis dalam Perjanjian Lama. Maksudnya, terlepas dari bagaimana mereka mempraktikkannya pada zaman Yesus (yang Yesus sendiri juga banyak mengkritiknya), ataupun bagaimana mereka merayakannya sepanjang 2000 tahun ini (zaman kita), melainkan berfokus pada bagaimana visi perjanjian Allah dengan umat-Nya di Perjanjian Lama, khususnya kitab Taurat, yang dihidupi oleh Yesus. Jadi, Yesus adalah orang Yahudi,yang menghidupi Taurat dengan setia, bahkan menggenapinya.
Perayaan Gereja pun sama, harus kita pahami dalam kerangka ini. Kita tahu Gereja merayakan Paskah. Kita tahu juga, Paskah bukanlah penemuan orang Kristen. Paskah juga bukan penemuan dari Yesus. Yesus itu bangkit pada hari puncak perayaan Paskah; bukan Yesus bangkit lantas hari itu disebut sebagai Hari Paskah. Demikian sama halnya dengan Pentakosta. Roh Kudus diutus turun, memenuhi umat percaya dalam era yang baru ini, pada suatu Hari Pentakosta; bukan Roh Kudus turun lantas hari itu disebut sebagai Hari Pentakosta. Artinya, Hari Pentakosta sudah ada lebih dulu, demikian juga perayaan-perayaan Paskah sudah ada lebih dulu, dan demikian juga Hari Raya Pondok Daun sudah ada lebih dulu (ketika Yesus masuk Yersalem, mereka mengayun-ayunkan daun palem karena mereka sedang dalam rangka merayakan Hari Raya Pondok Daun). Jadi, itu adalah perayaan-perayaan yang sudah ada, sudah mereka rayakan sebelumnya, berakar pada janji Tuhan kepada umat-Nya dalam Perjanjian Lama. Demikianlah kenyataan yang harus kita pahami kalau ingin mengerti praktik-praktik yang dilakukan Gereja, iman yang diharapkan oleh Gereja, sepanjang 2000 tahun.
Hari ini adalah minggu ke-7 kita merayakan Paskah. Di sini saya ingin menarik perhatian kita mengenai kenapa orang Kristen merayakan ibadah mingguannya pada hari Minggu, bukan hari Sabtu, sedangkan orang-orang Yahudi meratakannya pada hari Sabtu (hari Sabat). Hal ini, arguably mereka merayakannya pada hari Sabat sebagaimana Taurat tuliskan, karena itu adalah hari ke-7, hari yang terakhir. Ketika Tuhan menciptakan dunia ini, hari pertama Dia menciptakan terang, dan seterusnya, lalu hari ke-7 Tuhan beristirahat. Ini bukan artinya Tuhan mengaso karena capek, melainkan dalam arti Dia mulai memerintah di hari yang ke-7 itu. Lantas, Yesus itu lahir pada hari ke-8 (kira-kira begitu). Namun tentu tidak ada istilah hari ke-8, seperti juga not tidak ada not ke-8, adanya do, re, mi, fa, sol, la, si, do, setelah 7 bukan 8 tetapi balik lagi 1, maka demikianlah “hari ke-8” itu, hari Minggu, hari yang pertama, hari ke-1, namun ini hari ke-1 dalam tahapan yang lebih tinggi, seperti do tinggi-nya.
Artinya apa? Artinya, orang Kristen bukan merayakan hidup sebagai the eleventh hour, sebagaimana satu judul film, “The Eleventh Hour”, (2007), yang naratornya Leo DiCaprio. Sebuah film yang menggambarkan krisis dunia ini, CO2 sudah semakin banyak, Metana semakin banyak, manusia semakin rakus, ekonomi harus expand, expand, dan expand terus, tetapi, planet kita ini tidak expand. Itu sebabnya Elon Musk punya visi, “Kita kolonialisasi Planet Mars, yuk, “ dst., karena dunia ini perlu expand terus, perlu tanah yang lebih luas, seperti juga visinya bangsa Jerman sehingga mereka menjajah Polandia, dst. Ekonomi harus expand terus, sementara kalau Anda mau punya gaya hidup seperti rata-rata orang Amerika (bukan orang Amerika yang hebat-hebat atau konsumtif banget, seperti levelnya Elon Musk atau P. Diddy), kita butuh bumi sebanyak tiga bulatan, menurut survey dari National Geographic, baru bisa memenuhi kebutuhan kita itu. Dan, tentu saja ekonomi yang ekspansi dan ekspansi terus, harus terus lebih besar dan rate-nya harus terus lebih tinggi, orang bodoh pun tahulah itu sudah pasti tidak sustainable pada planet yang terbatas. Itu sebabnya orang-orang doomsayers seperti yang bikin “The Eleventh Hour” mengatakan, “Kita ini hidup dalam the eleventh hour, sudah jam 11, sebentar lagi tengah malam, nih”, walaupun pada akhir ceritanya memang agak hopeful, waktunya masih ada, dan seterusnya mulai kayak promosi. Intinya, ‘kita masih ada harapan asal kita mau kompak, menyadari bahwa kita hidup dalam jam yang ke-11, yuk, kita sama-sama selamatkan bumi ini, make it a better place’. Ini seperti lagunya Michael Jackson, Heal the World, yang sebetulnya berasal dari spiritualitas orang Yahudi, bahwa dunia ini sakit dan menanti pemulihannya, dari Tuhan. Sementara orang humanis tentu mengatakan, “Tapi ‘kan Tuhan titipkan kepada kita, maka kitalah yang musti mengerjakannnya.” Dalam hal ini, saya kira dua-dua ada benarnya.
Dari semua ini, jadi alasannya kita merayakan ibadah kita pada tiap hari ke-8 (atau tiap hari pertama sebetulnya), pertama-tama tentu karena kita merayakan Yesus yang bangkit pada hari pertama minggu itu, sehingga orang-orang Kristen memakai alasan tersebut untuk merayakan kebaktian mingguan mereka pada tiap-tiap hari pertama minggu itu (setidaknya ada satu Gereja yang dicatat oleh Lukas, merayakan pada hari pertama minggu itu).
Lalu apa hubungannya dengan kita pada hari pertama minggu ini merayakan The Seventh Sunday of Easter? Tentu saja karena Paskah (Easter) di mana Yesus bangkit itu menandai permulaan yang baru,bahwakita bukan hidup dalam the eleventh hour melainkan maybe dalam the first hour. Kita ini hidup lewat tengah malam, kalau gambarannya saya ganti dari consciousness jam versi orang Yahudi yang melihat pergantian hari pada jam 6 malam bukan jam 12 malam jadi gambaran hari ini (karena jam 12 malam tidak ada peristiwa astronomis apa-apa, sedangkan jam 6 malam matahari tenggelam dan dunia jadi gelap, dramatis banget, maka versi orang Yahudi jam 6 malam itu adalah pergantian hari). Lewat tengah malam itu lampu-lampu kota mulai padam, hari makin gelap dan makin gelap, sampai akhirnya semua sudah gelap dan sepi sekali, namun itulah saatnya ayam-ayam berkokok, fajar mulai menyingsing. Jadi merupakan gambaran yang sangat indah bahwa kita ini memang hidup pada jam pertama lepas tengah malam. Dan, in a way seperti tidak ada perbedaan, yang jahat tetap jahat. Dalam hal ini Mazmur 73 beresonansi sekali; orang-orang yang sepertinya punya niat baik, pulang ke Indonesia untuk membantu, membangun negara, mendapati hidup tidak selalu seperti angan-angan mereka, kenyataan itu keras, dunia itu kejam, ada orang-orang jahat berkomplot dan maybe mengalahkan mereka.
Intinya, kita tahulah ada hal-hal tidak adil yang terjadi dalam dunia, bahkan bisa dikatakan banyak. Ada orang-orang yang punya niat baik, yang berkorban, yang lalu kita mungkin bilang, “Lu goblok, bodoh sekali. Kenapa melakukan hal seperti itu?? Dalam dunia ini kita tidak bisa berharap setinggi itu, Bro, apalagi ini negeri …, jangan kayak anak SMA-lah, kita ini sudah banyak makan asam garam, memang di beberapa tempat tidak bisa tumbuh bunga, kubur mimpimu itu. Nantilah kalau Tuhan Yesus datang kembali, baru ada perubahan riil.” Kata-kata yang seolah-olah rohani, namun saya kira pandangan seperti itu tidak Kristen, karena Kristen menghidupi kesadaran bahwa kita ini hidup in the first hour, bukan in the eleven hour; dan pertolongan kita bukan datang dari persatuan, kerukunan, kekompakan kita, bukan datang dari kegigihan perjuangan kita untuk citius, altius, fortius, melainkan dari tangan Tuhan yang menciptakan langit dan bumi.
Kita sudah melihat tanda-tanda zaman itu –kalau istilahnya Pak Jethro, kita sudah melihat the first crocus flower-nya– yaitu dari antara orang mati ada rumor mengenai kebangkitan –kebangkitan Yesus. Rumor yang tidak seperti rumor lain yang mereda seiring waktu berlalu, ini rumor yang orang-orang tersebut sungguh-sungguh percaya serta menghidupi realitas yang mereka percaya itu. Mereka hidup seolah-olah beneran bahwa yang bangkit itu sudah ada. Mereka hidup seolah-olah beneran janji Tuhan bisa terlaksana dalam dunia ini. Mereka hidup seolah-olah beneran Kerajaan Allah sudah datang. Dan, orang-orang seperti itu, yang dianggap, ‘lah, paling cuma sebentar saja’, ternyata tidak habis-habis, propagasi terus, reproduksi terus, terus-terusan menjamur seperti jamur di atas roti, persis seperti Guru yang mereka sebut Mesias itu katakan, “Ragi (spora) Kerajaan Allah itu menyebar ke seluruh adonan sampai adonannya jadi khamir.”
Kita, orang-orang Kristen, menghidupi pengharapan ini. Kita menghidupi pengharapan bahwa walapun orang-orang fasik sepertinya beria-ria, tidak pernah sakit, sehat dan gemuk tubuh mereka, namun penghakiman atas mereka sudah disimpan oleh Tuhan. Pengharapan bahwa walaupun orang-orang yang idealis itu sepertinya kalah dan terinjak-injak –dan kita bilang, “Lu aja yang goblok, dalam dunia ini koq masih percaya hal-hal yang bagus, itu ‘gak mungkinlah; goblok banget.”– tetapi air mata mereka ditampung oleh Tuhan, darah mereka dilihat dan dibalaskan oleh Yahweh, seperti darah Habel, seperti air mata Hana, yang diingat oleh Tuhan, dan Tuhan menyimpan pembalasan itu pada harinya. Kita tahu, setidaknya Tuhan sudah membangkitkan Satu Orang yang terinjak-injak seperti itu, Yesus dari Nazaret, dari antara orang mati. Itulah yang Gereja percaya, yang Gereja rayakan tiap-tiap tahun.
Gereja merayakan absurditas dari pengharapan tolol semacam ini, bahwa Allah berpihak kepada mereka yang kalah, yang bodoh, yang terpinggirkan, yang miskin. Kita dengan keras kepala mau percaya bahwa ada kabar baik bagi mereka yang lapar dan haus, di dalam dunia di mana kabar baik adalah bagi mereka yang punya kepintaran, yang kuat, yang tidak kenal menyerah, yang tega mengorbankan orang lain. Ini orang-orang seperti Yudas barangkali. Don Richardson dalam perjumpaannya dengan orang-orang suku Sawi, mencatat bahwa orang-orang tersebut waktu mendengar cerita Injil, mereka kagumnya pada Yudas, karena Yudas merupakan patron saint archetype yang mereka senangi, orang yang lihai. Namun kita, orang-orang Kristen adalah orang-orang tolol yang percaya bahwa pahlawan kita adalah Yesus. Yesus yang diremukkan oleh zaman, Yesus yang terinjak-injak, tetapi dibangkitkan oleh Allah, sebagai tanda zaman baru sudah datang, jam-nya sudah tepat pada midnight, pagi akan semakin dekat.
Tetapi, kalau kita melihat secara empiris tanpa iman, memang tidak ada tanda apa-apa, seperti halnya ketika midnight itu tidak ada tanda apa-apa bagi mata kita, tidak seperti jam 6 sore. Namun tetap ada beda bagi orang percaya; dan itulah yang diceritakan oleh Lukas. Dalam Kisah Para Rasul, ketika Lukas membuka kisahnya dengan Yesus terangkat ke surga, kita tidak usah membayangkan Yesus jet blast ke surga meninggalkan debu-debu, seperti SpaceX terbang dan sisanya debu-debu. Jangan dibayangkan sepetrti itu, karena mereka pada waktu itu juga tidak punya world picture sebagaimana kita sekarang, yang sudah dikepung dengan foto-foto luar angkasa dari prob-prob luar angkasa atau pesawat/astronot yang membawa Nikon atau Hasselblad untuk foto selfie bumi dari atas sana. Kita tahu Lukas tidak punya foto-foto semacam itu, jadi dia tidak punya gambaran bumi mengapung-apung di ruang angkasa gelap dan hitam, maka tentu dia juga tidak punya gambaran atau pertanyaan, bahwa Yesus itu kalau terbang, terbangnya ke mana, ke Planet Mars atau Galaksi Andromeda, dsb. Dengan demikian, komentar dari kosmonot Soviet yang pergi ke luar angkasa lalu waktu balik ke bumi bilang, “Tuhan itu kayaknya ‘gak ada. Gua sudah sampe di surga (langit), ‘gak ada Tuhan di sana”, itu tentu komentar yang keliru, terlepas dari komentar tersebut hanya anekdot atau benar-benar ada.
Itu komentar yang salah, karena Tuhan tidak sedang bicara soal Yesus terbang ke planet lain, melainkan bahwa Yesus diangkat, dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat, dalam cara yang seperti akan kita alami juga pada waktunya kelak. Mengalami transformasi dalam arti kemenangan, dalam arti menghidupi hidup yang tidak dapat mati lagi; mengalami memerintah bersama dengan Tuhan sebagai manusia, karena Yesus adalah manusia sejati, bukan hanya Allah sejati. Kalau kita bilang Yesus itu Allah sejati doang, kita bidat. Yesus adalah Allah sejati dan manusia sejati; dan Dia naik ke surga, duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Sebagai manusia, Dia memerintah bersama Allah, seperti worldview yang dinyatakan Kejadian 1 dan 2 Allah memerintah jagat raya ini bersama manusia. Tetapi manusia ternyata membangkang melawan Tuhan, maka kemudian Tuhan memilih Israel. Namun Israel juga membangkang melawan Tuhan, maka Tuhan menyatakan pemerintahan-Nya dengan sukses pada zaman Yesus, ketika Yesus naik ke surga, memerintah dari surga atas kita semua, atas segala ciptaan, persis seperti yang dikehendaki Tuhan.
Itulah yang kita rayakan pada Kenaikan Tuhan Yesus beberapa hari lalu; dan kita sekarang berada dalam satu minggu sebelum merayakan Pentakosta. Apa yang kita rayakan? Kita merayakan pengutusan kita tentunya, walaupun hal ini menunggu sampai pada Pentakosta. Kita merayakan bahwa Tuhan terhalang dari pandangan kita. Dikatakan oleh Lukas di sini, Dia diangkat ke surga, dan pandangan para murid terhalang oleh sesuatu, oleh awan. Mereka masih dengan ternganga melihat ke atas, padahal awan sudah menutup Yesus dari pandangan mereka. Mereka sepertinya belum paham jawaban Yesus atas pertanyaan mereka.
Pertanyaan mereka adalah, “Maukah Engkau pada masa ini memulihkan kerajaan bagi Isrtael?” Yesus tidak menjawab persis seperti yang mereka mau. Kalau Yesus menjawab seperti yang mereka mau, harusnya jawabannya adalah ‘mau’, atau ‘tidak mau’, atau ‘Aku menolak menjawab’, atau ‘mau tetapi bukan buat Israel’, atau ‘mau, tetapi bukan masa ini’, dsb., semacam itu. Tetapi Yesus tidak menjawab begitu. Yesus menjawab, “Kamu tidak perlu mengetahui masa dan waktu.” Ok, fair enough; lalu lanjutnya apa? Lanjutnya Dia mengatakan, “Tetapi kamu akan menerima kuasa … .”
Respons Yesus rupanya adalah Dia tidak menjawab pertanyaan mereka mengenai masa dan waktu, tetapi Dia menjawab kerinduan mereka yang mendorong mereka bertanya mengenai masa dan waktu. Saya kira, mereka bertanya mengenai masa dan waktu, soalnya Yesus sepertinya sudah sampai pada akhir, sehingga harusnya terjawab alasan mengapa mereka ikut Yesus, yaitu: “Kami berharap Engkau akan memulihkan keadaan dunia ini, memulihkan Kerajaan Israel, minimal itu syarat dari pemulihan dunia ini ‘kan, bahwa lewat Israel segala bangsa akan diberkati, maka sekarang lantas bagaimana?” Jadi sebenarnya cukup logis pertanyaan mereka. Lalu apa respons Yesus? Dia mengatakan, “Kamu akan menerima kuasa, saat Roh turun ke atas kamu. Kamu akan jadi saksi-saksi-Ku (martir-martir-Ku), di Yerusalem, Yudea, Samaria, sampai ke ujung bumi.” Lalu Dia pergi. Dia tidak meneruskan tanya jawab itu. Artinya apa? Artinya, jawaban dari kerinduan mereka soal dunia ini kenapa begitu-begitu saja, kenapa begitu banyak yang salah, adalah: engkau akan berpartisipasi dalam solusinya, engkau adalah bagian dari jawabannya; dan Allah tidak akan membiarkan engkau berjuang sendirian, Allah akan memperlengkapi engkau untuk bisa menghadirkan, menjadi model, mempersaksikan datangnya zaman yang baru itu secara nyata di tengah kamu.
Yesus tidak memberitahu mereka soal tanggal sekian bulan sekian tahu sekian kerinduan hatimu akan diberikan semuanya, kejahatan akan tidak ada lagi di bumi, semua pertanyaan akan dijawab, semua kekesalan akan dihilangkan, semua alasan tidak bersyukur atas hidup ini akan dilenyapkan. Yesus tidak memberitahu itu, tetapi Yesus memberitahu bahwa kalian akan melihat jawaban-Ku, kalian akan menjadi bagian dari jawaban-Ku, tetapi tunggu.
Tunggunya itu rupanya bukan seperti yang kita bilang, tunggu nanti kalau Yesus datang kembali; tidak demikian. Tunggunya itu rupanya tunggu sekian hari setelah mereka menyaksikan Yesus terangkat di suatu perkebunan zaitun, 800 meter sampai 1 km dari Yerusalem (seperjalanan Sabat), yaitu ketika mereka berdoa bersama, menanti pekerjaan Tuhan digenapi. Secara tradisional, kalau kita melihat 40 hari Yesus menampakkan diri, maka ini kira-kira 10 hari (meski ini bukan satu-satunya cara melihat kronologisnya), bukan menunggu sampai 100 hari, apalagi 100 tahun atau 1000 tahun. Mereka menunggu dalam lifetime mereka pastinya, dan mereka dilibatkan. Project itu di-launch oleh Yesus; dan itulah yang kita rayakan sebagai perayaan Pentakosta, sebagai tahun Yobel yang sudah dimulai.
Kita tahu bahwa perayaan Pentakosta (hari yang ke-50) adalah perayaan mini dari tahun yang ke-50. Orang Israel sudah dilatih sejak kecil, bergenerasi-generasi, untuk merayakan terus kehidupan mereka seturut dengan liturgi kehidupan Hari Sabat tiap hari ke-7, lalu tiap tahun ke-7 merayakan Tahun Sabat, dan setiap tahun Sabat ke-7 maka tahun berikutnya merayakan Jubilee atau Yobel. Dengan demikian, tahun ke-49 yakni Tahun Sabat ke-7, dan tahun Jubilee yakni tahun ke-50, back to back (berturut-turut) adalah Sabat. Tahun ke 49 adalah Tahun Sabat, tahun ke-50 juga Tahun Sabat. Inilah dua tahun Sabat yang panjang, yang berturut-turut; dan yang ke-50 adalah Super-Sabbath.
Demikianlah kita merayakan Pentakosta sebagai super-super Sabat. Inilah yang dirayakan oleh Gereja, karena kita menghidupi waktu di mana teruna-teruna, orang-orang tua –semua, demokratis, bukan suatu kaum elit– akan dipenuhi Roh Allah. Jadi, bisa saja kita mendoakan adanya Billy Graham yang baru, John Stott yang baru, Tim Mackie yang baru, N.T.Wright yang baru, namun kita juga mendoakan dan mensyukuri ada Pak Slamet, ada Pak Martogi, ada Kak Grandee di sini, ada Anda dan saya. Seperti juga misalnya ada Tikhikus, yang mungkin Anda lebih kenal John Piper daripada dia, tetapi Tikhikus ini namanya ada di Alkitab, dan rupanya banyak juga pelayanannya, namun dia tidak tersohor seperti Paulus.
Pentakosta adalah era di mana Tuhan memakai segala makhluk-Nya, semua orang percaya, orang-orang kudus-Nya, yang bukan semuanya orang-orang super, yang ada juga orang-orang tidak terkenal, talentanya tidak menonjol, tetapi mereka semua dipenuhi Roh Allah. Tuhan itu merayakan kehidupan lewat segala ciptaan-Nya, yang besar dan kecil, not only great but also small, not only the extraordinary but also the ordinary. Dan, Tuhan kelihatannya –menurut seorang pemikir yang saya lupa namanya– lebih suka dengan yang biasa-biasa saja. Apa buktinya? Buktinya Dia bikin yang luar biasa lebih sedikit –of course by definition. Misalnya, orang yang tingginya luar biasa seperti Yao Ming cuma beberapa saja Tuhan bikin, namun tinggi seperti saya ini pun sebenarnya luar biasa ya, bagi semut. Poin saya, konyol sekali kalau kita membanding-bandingkan orang lalu kita memuja-muja orang-orang yang hebat. Misalnya, sekarang ini kita memuja-muja orang yang IQ-nya tinggi, kayak Terence Tao yang pintar banget, atau John von Neumann yang luar biasa pencapaian-pencapaiannya, orang-orang yang belong to less than 1%. Benar juga sih mereka luar biasa, extraordinary, belong to less than 1% maybe, dan Tuhan menciptakan mereka. Tetapi Tuhan juga menciptakan lebih banyak orang-orang yang biasa-biasa saja –dan Tuhan menghendaki itu.
Tuhan tidak memerlukan siapa pun, Tuhan menginginkan kehadiran segala makhluknya, besar dan kecil; dan itu yang kita rayakan dalam Pentakosta. Tuhan memuliakan diri-Nya lewat segala macam orang, all creatures great and small. Yang IQ-nya 224, tetapi juga yang IQ-nya 40. Yang nyanyinya bagus, memuji Tuhan –dan kita senang– tetapi juga yang nyanyinya jelek kalau dia tulus memuji Tuhan (tentu jangan disuruh pimpin nyanyi atau diberi mic waktu nyanyi, dan dia perlu belajar menyanyi lebih baik). Poin saya, Tuhan itu menciptakan segala jenis manusia, dan Dia menyenangi. Itu adalah kesukaan Dia, dan Dia ingin memuliakan diri-Nya lewat semua itu, lewat orang-orang seperti Billy Graham maupun lewat orang-orang seperti Anda dan saya. Tuhanlah yang menciptakannya. Dia menciptakan dinosaurus yang gigantic dan kolosal, tetapi Dia juga menciptakan semut yang ringkih; dan Dia have a delight waktu menciptakan itu semua. Dia melihatnya dengan cinta.
Sebagaimana Anda melihat karya-karya Anda dengan cinta, Dia berkarya dan Dia mencintai karya-Nya, Dia tidak meninggalkan buatan tangan-Nya, walaupun beberapa hal tentu memedihkan hati-Nya, khususnya mengenai manusia. Apa yang kita kerjakan dalam dunia ini, apa yang kita kerjakan dalam hutan-hutan dan laut-laut kita, apa yang kita lakukan dengan kemampuan yang Allah berikan untuk berpikir dan berteknologi, tentu memedihkan hati Allah. Namun Allah tidak menyerah dengan kita, Allah menebus kita. Allah menebus kita dengan darah-Nya, dengan pengorbanan-Nya sendiri. Dan, Yesus yang mati itu tidak ditinggalkan dalam dunia orang mati; kalau seperti itu, jadi cerita yang biasa saja, lalu orang-orang yang terlalu vokal tinggal dikirimi preman atau disiram saja dengan air keras maka pasti akan bungkam.
Konon Stalin di depan kabinetnya, melepaskan seekor ayam, hidup-hidup dicabuti bulunya sampai gundul, pasti sakit, tetapi setelah itu dia keluarkan dari kantongnya biji-bijian gandum, dan ayamnya datang ke dia, patokin gandumnya. Di situ Stalin bilang, rakyat itu seperti si ayam ini, kejam terhadap mereka tidak apa-apa, tetapi begitu kamu beri mereka makan, mereka menurut pada kamu. Itulah dunia, kejam, maka orang bilang, jadilah Stalin, jangan jadi si ayam. Itulah jalan dunia ini. Tetapi, kita ini construct dunia macam apa? Dunia yang men-justify kekejaman kayak Stalin?? Merayakan dan mengagumi itu?? Itu dunia Romawi. Romawi itu ‘gak malu-maluin, Romawi itu hebat dan bagus, kita tidak do better than Romawi sekarang ini. Tetapi itu bukan visi Tuhan waktu Dia ciptakan manusia. Manusia tidak Dia ciptakan untuk hidup seperti orang-orang Romawi. Bahkan orang ateis seperti Tom Holland (bukan yang memerankan Spider-Man), dia kagum sekali dengan Romawi, dia suka sekali dengan dinosaurus, namun ketika dia mengerjakan tulisannya, Dominion, meneliti lebih dalam mengenai Romawi, dia mengatakan, “Gue yang ateis ini, menyadari ternyata gue punya etos Kristen, bukan ateis. Gue kagum dengan Romawi tetapi gue rasa mereka aneh banget, karena mereka tidak menghargai nyawa, tidak menghargai kehidupan; mereka menghargai kemuliaan, kekuatan, kehormatan. Buat mereka, belas kasihan kadang-kadang merupakan sesuatu yang tidak adil, menjijikkan. Orang yang sudah cacat lalu diberi makan, dipanjang-panjangkan hidupnya, buat mereka doesn’t make any sense. Buat orang-orang Stoa, bunuh diri itu tidak apa-apa, karena hidup manusia adalah seperti yang dikatakan Seneca kepada Marcelus, kawannya yang sudah sakit, bahwa hidup itu tidak istimewa-istimewa banget, budak juga hidup, binatang juga hidup, jadi kalau merasa hidup ini sudah tidak ada artinya, bunuh diri tidak apa-apa. Orang Romawi kayak begitu.
Saya kira, Tuhan juga tidak berkenan pada cara pandang kehidupan yang seperti itu. Kita, di dalam Yesus melihat kemanusiaan yang sejati. Kita, di dalam Yesus melihat visi bagaimana seharusnya menjadi manusia yang sejati, tentu visi yang ada perayaan, ada ucapan syukur, ada ruang untuk belas kasihan, cinta kasih, pengampunan, keadilan, keindahan, kebenaran, kesucian, yang lebih dari kekuatan, ketegaan, keunggulan. Dalam hal ini, kita sebetulnya lebih mencintai yang mana? Ini menjadi pertanyaan reflektif buat kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading