Hari ini kita mulai pembahasan Khotbah di Bukit, bagian dari Matius pasal 5-7. Kita memulai dari bagian pertamanya, yaitu Ucapan Bahagia.
Ucapan Bahagia sudah pernah kita bahas dalam Khotbah Epifania ke-3 di awal tahun ini, bahkan versi Lukas-nya pun sudah sempat kita bahas tahun lalu, karena bagian pengajaran Yesus memang salah satu makanan pokok dalam Musim Epifania. Namun kita tetap perlu mulai dari sini lagi dalam membahas seluruh Khotbah di Bukit, karena setiap kali membahas satu bagian besar Alkitab, kita perlu meperhatikan banget bagian awalnya. Ini tidak pernah sekadar kata-kata pembuka yang bisa di-skip, tetapi selalu merupakan introduksi yang sangat penting, memberikan kepada kita lensa yang tepat untuk membaca keseluruhannya. Dan, saya harap Saudara sadar problem kita dengan Alkitab sering kali bukanlah bahwa Alkitab sulit dimengerti, melainkan bahwa kita sering kali salah mengerti bagaimana membaca Alkitab, kita sering kali datang ke Alkitab dengan lensa-lensa kita sendiri. Itu sebabnya kita perlu kembali ke Ucapan Bahagia, karena inilah bagian yang membukakan kita akan lensa macam apa yang kita perlu pakai untuk membaca keseluruhan Khotbah di Bukit.
Khotbah hari ini basically cuma ada satu poin besar, bahwa Ucapan Bahagia ini sedang memproklamasikan Kerajaan Surga, betapa Kerajaan surga itu beda, bahkan asing, dari ekspektasi manusia, dari ekspektasi kita. Detail Ucapan Bahagia-nya sendiri baru akan kita bahas Minggu mendatang. Hari ini kita mulai dengan bertanya satu pertanyaan dasar: Kenapa perlu ada Khotbah di Bukit; apa yang Khotbah di Bukit mau bawa ke dalam hidup kita?
Bagian Injil Matius yang hari ini disebut Khotbah di Bukit, adalah satu bagian yang paling singkat dan padat mengenai seperti apa realitas hidup dalam Kerajaan Surga –Kerajaan Surga yang sudah mulai terbuka bagi manusia sejak Yesus datang ke dunia. Inilah sesungguhnya message utama Yesus Kristus, message Yesus sejak awal; bahkan Yohanes Pembaptis yang sebelum Dia sama-sama meneriakkan, “Bertobatlah! Sebab Kerajaan Surga sudah dekat” –sudah at hand, sudah datang, sudah di depan mata. Ini berarti mereka bukan mau membawa sekadar reformasi hati, tetapi reformasi cara hidup yang total. Itu sebabnya Yesus bukan sekadar membawa filosofi surga, tetapi kerajaan surga. Yesus memanggil orang-orang untuk pindah ke dalam satu cara hidup dan relasi yang baru, kehidupan konkret yang lebih menghidupkan –bisa dibilang yang lebih tahan banting. Misalnya, salah satu penutup Khotbah di Bukit yaitu pasal 7:24-25, “Jadi, setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia bagaikan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Lalu turunlah hujan dan datanglah banjir, dan angin bertiup melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak roboh sebab didirikan di atas batu.” Inilah hidup yang sedang dijanjikan Yesus lewat Khotbah di Bukit, hidup yang kekal, yang tahan banting.
Lalu apa problemnya? Tentunya ini bukan sesuatu yang aneh ‘kan, orang-orang Yahudi tentu sudah tahu hal ini, kita pun tahu bahwa kehidupan yang kekal, yang tahan banting, ditemukannya dalam Kerajaan Surga, sementara hari ini kita bukan sedang menjalani realitas itu, dan itu sebabnya manusia hari ini senantiasa terombang-ambing serta menuju pada kematian; tentu saja the good life, hidup yang kekal itu, ditemukannya dalam Tuhan dan kerajaan-Nya –semua juga tahu. Jadi, problemnya apa?? Saudara, inilah problemnya: Semua tahu bahwa the good life, hidup yang kekal itu, ditemukan dalam Kerajaan Allah, namun pertanyaannya, hidup yang kayak apakah itu? Di situlah kebingungannya. Di situlah banyak simpang siur pendapat orang mengenai seperti apa hidup kekal itu, baik orang-orang pada zaman Yesus maupun zaman kita, karena kita tahu ada banyak arah yang seperti menuju kehuidupan tetapi ternyata ujungnya kematian. Jadi pertanyaannya, kehidupan seperti apa sih yang benar-benar menghidupkan –inilah yang mau dijawab oleh Khotbah di Bukit.
Namun sebelum Yesus masuk ke hal tersebut, mengenai seperti apa kehidupan Kerajaan Surga, Yesus memberikan lebih dulu Ucapan Bahagia, yang punya fungsi sangat penting, yaitu: Kalau kamu mau belajar seperti apa hidup dalam Kerajaan Surga, kamu musti sadar satu hal, bahwa kamu bisa –atau lebih tepatnya pasti– akan kaget dengan Kerajaan Surga versi Yesus, karena ini kerajaan yang sangat beda/lain/asing dengan ekspektasi manusia –kamu perlu siap-siap untuk itu. Ini seperti kalau Saudara selama ini hobi berenang dan jago berenang di kolam renang, lalu suatu hari diajak berenang di laut lepas; dua-duanya urusan berenang, tetapi akan sangat berbahaya kalau Saudara datang ke laut dengan asumsi yang namanya berenang itu sama saja di mana saja. Demikianlah Ucapan Bahagia merupakan cara Yesus memperingatkan kepada kita, “Hai, ini beda banget lho.”
Omong-omong, bahwa Kerajaan Surga sangat ditekankan bedanya dengan ekspektasi manusia, itu bukan cuma muncul dalam Ucapan Bahagia di pasal 5, Saudara bisa membacanya bahkan sejak kalimat-kalimat pertama Injil Matius. Injil Matius dimulai dengan silsilah; dan ini silsilah yang bikin orang Yahudi akan geleng-geleng kepala. Kenapa? Karena beda dengan ekspektasi mereka. Ini silsilah yang including empat wanita, pada zamannya orang Yahudi tidak peduli dengan wanita, apalagi untuk silsilah biasanya hanya para pria yang penting. Bukan itu saja, keempat wanita ini –Tamar, Rahab, Rut, Batsyeba– semuanya adalah orang luar, bukan cuma rasnya (Tamar orang Adulam, Rahab orang Kanaan, Rut orang Moab, Batsyeba sepertinya orang Israel namun dia menikah dengan orang Het), tetapi juga perilaku seksnya kacau (ada yang memang pelacur, ada yang bukan pelacur namun melacurkan diri, ada yang menawarkan diri seperti mau dilacurkan, ada yang diperkosa); dan Matius dari awal menekankan ‘lihat, Mesias Israel datang dari lini keluarga yang kayak begini’.
Di bagian Alkitab yang lain, Saudara juga akan menemukan penekanan yang sama, bahwa betapa bedanya Kerajaan Surga. Injil Lukas misalnya, di situ diceritakan Yesus memulai pelayanan-Nya dengan masuk ke sinagoge di kampung halaman-Nya sendiri. Dia diberikan Kitab Suci, Dia membaca dari kitab Yesaya satu nas mengenai Mesias, lalu secara terang-terangan Dia mengatakan, “Hari ini, nas mengenai Mesias ini genap di hadapan kalian semua” –kalimat yang lebih menohok dibandingkan mengatakan, “Aku Mesias.” Lalu orang-orang Yahudi mendengar perkataan ini, mereka mau membunuh Dia; kenapa? Saudara tentu bisa menangkap alasannya; Lu jangan sembarangan ngomong, ya, kami kenal siapa Lu, kami tahu Kamu dari mana. Ini menarik, karena dalam konsep orang Yahudi abad pertama ada perdebatan mengenai hal ini. Ada yang mengatakan Mesias itu harus jelas dari mana, karena ada ayat yang menyebutkan dari Betlehem, Efrata, dsb.; ada juga yang merasa kalau Mesias datang, harusnya kita tidak tahu entah dari mana, karena ada ayat misalnya di Maleakhi yang mengatakan, “The Lord shall suddenly come to his temple” (ketika Allah melawat umat-Nya, Allah datang tiba-tiba, mendadak –entah dari mana). Tetapi, Yesus ini tidak kayak begitu, kami kenal Orang ini, kami tahu Dia datang dari toko kayunya Yusuf itu, mana mungkin Dia mesias, tangan-Nya penuh dengan serpihan kayu, kuku-Nya biru-biru karena kebanyakan pakai palu; teralalu biasa, terlalu rendahan.
Ironisnya, ketika Yesus belakangan mulai melakukan tanda-tanda ajaib, dan banyak orang mulai merasa kayaknya beneran ini Mesias, mereka tetap saja tidak menerima Dia, karena mereka merasa kalau Kamu beneran Mesias, harusnya ‘kan Mesias ambil kuasa, bikin tentara, bikin pemberontakan, pakai power untuk menaklukkan dan menang (menang di sini maksudnya menang atas bangsa-bangsa kafir, khususnya Romawi). Kamu harus tunjukkan warna keyahudian-Mu yang superior di atas semua bangsa lain ini; bangsa-bangsa itu mustinya jangan didekati apalagi disentuh. Tetapi, Yesus bukan saja tidak ambil kuasa politik, Dia malah sering banget mengasosiasikan diri dengan bangsa-bangsa kafir itu.
Di sini Saudara bisa lihat bahwa semua orang zaman itu bisa mengakui the good life ada dalam Kerajaan Surga, namun problemnya, Kerajaan Surga versi Yesus tidak mirip sama sekali kelihatannya dengan yang orang-orang sebut sebagai Kerajaan Surga. Omong-omong, lewat inilah justru Yesus menggenapkan salah satu nubuat dalam Perjanjian Lama, misalnya satu ayat menarik dari Nabi Zakharia (Zak. 9:9-10). Ayat 9 mengatakan: “Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda”.Ini seakan-akan, koq Mesias naik Grab, ya, lagipula Grab yang ekonomi itu yang pakai voucher diskon?? Lalu kontrasnya dengan ayat 10, bahwa Dia naik keledai beban yang muda karena “Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim (kereta perang), dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa (orang-orang kafir, bangsa-bangsa anjing itu).”
Yesus sesungguhnya menggenapkan nubuatan ini, Ia adalah Mesias yang beda banget dengan yang orang-orang zaman itu harapkan dari Mesias. Yesus adalah Mesias yang mendeklarasikan Kerajaan, tanpa tentara. Mesias yang mendeklarasikan Kerajaan, yang tidak didukung budget bermilyar-milyar untuk beli ini dan itu. Ini Kerajaan dari siapa? Kerajaan dari orang-orang miskin, orang-orang yang berdukacita, orang-orang yang terluka, itu sebabnya berbahagialah mereka yang miskin, berbahagialah mereka yang berdukacita, berbahagialah mereka yang dianiaya. Saudara lihat, ini Kerajaan yang sangat lain dari yang dunia pernah lihat dan ingin lihat. Kerajaan yang pengkhotbah-pengkhotbahnya mungkin tidak komunikatif dan biacaranya ke sana kemari.
Saudara, inilah sebabnya perlu ada Ucapan Bahagia sebelum kita masuk ke dalam Khotbah di Bukit. Di sini Yesus sedang memproklamasikan seberapa terbaliknya Kerajaan Surga versi-Nya dengan versi dunia. Ini sebabnya waktu kita membahas versi Lukas, kita mengatakan ini bukan sekadar ajaran, ini sebuah proklamasi akan sebuah Kerajaan –kerajaan yang sangat berbeda. Ucapan Bahagia adalah cara Yesus memproklamasikan –bahkan menohokkan– keberbedaan ini, bahwa Kerajaan Surga yang engkau selama ini sudah tahu sebagai tempat kau menemukan kebahagiaan, hidup yang ideal, ternyata kebahagiaannya lain banget dengan yang selama ini engkau sebut sebagai bahagia. Itulah fungsinya Ucapan Bahagia, bahwa ini bukan lagi berenang di kolam, ini berenang di laut lepas.
Dari sini Saudara bisa menyadari problem kita dalam membaca Ucapan Bahagia selama ini, dari generasi ke genarasi, adalah problem yang muncul karena kita tidak siap bahwaUcapan Bahagia sebegitu bedanya dari yang kita sangka. Problem kita dalam membaca bagian-bagian ini adalah: kita sering kali maksa membaca Ucapan Bahagia dengan lensa-lensa yang kita sudah terbiasa selama ini.
Gampangnya begini, kalau Saudara bertemu segudang daftar berbahagialah orang yang begini-begini karena mereka akan begitu-begitu, kita membacanya sebagai apa? Kita pikirnya seperti yang diceritakan Dallas Willard, dia bertemu dengan seorang pemuda yang menolak Kekristenan gara-gara Ucapan Bahagia. Kenapa demikian? Pemuda ini seorang pemuda yang kuat, pintar, dan dia membangun kariernya di dunia militer. Suatu kali dia diberitahu, “Inilah Ucapan Bahagia, ya, ini daftarnya ya, orang-orang miskin, lemah, sedih … . Ini gambaran orang Kristen yang ideal, harusnya tuh kayak begitu”, maka pemuda ini mengatakan, “Ya, saya tidak mungkin jadi orang Kristen, karena saya tidak mungkin bisa jadi orang seperti itu. It’s just not who I am.” Saudara, inikah cara kita membaca Ucapan Bahagia selama ini? Kalau mau jujur, jawabannya iya. Kita membaca daftar ini sebagai perintah untuk jadilah seperti itu, lalu akhirnya entah kita merasa bersalah habis-habisan karena diri kita tidak seperti itu, bahkan tidak mau jadi seperti itu; atau kita merasa sebaliknya, kita sombong karena mengira kita sudah jadi seperti itu.
Error-nya di mana? Karena kita pikir ini bisa fit dalam kacamata dan laci kita selama ini. Itu sebabnya kita perlu belajar melihat Ucapan Bahagia –dan dengan demikian juga seluruh Khotbah di Bukit– dari kacamata Yesus sendiri, sebenarnya apa sih yang Yesus ingin lakukan melalui Ucapan Bahagia ini, kenapa ini Ucapan Bahagia-nya Yesus dan bukan sekadar kalimat-kalimat bijak umum yang kita bebas pakai untuk agenda kita masing-masing.Kunci untuk menjawab pertanyaan ini adalah dengan kita melihat siapa yang kepadanya Yesus memberikan Ucapan Bahagia ini.
Inilah sebabnya waktu Matius menuliskan Ucapan Bahagia, dia tidak cuma menulis isi kata-kata Yesus, Matius membingkai Ucapan Bahagia –bahkan juga Khotbah di Bukit–dengan menyajikan bagi kita tokoh yang sesungguhnya sangat penting, mengenai siapa yang mendengar Ucapan Bahagia ini, yang ada di bagian awal dan bagian akhir. Di bagian awal, perhatikan siapakah orang-orang yang mendengar ini Ucapan Bahagia, yang Yesus kemudian naik ke atas bukit untuk mengajar? Ada di ayat-ayat terakhir pasal 4, inilah orang-orang yang telah terlebih dulu menerima pelayanan Yesus, sentuhan Yesus, yang masuk ke dalam hidup mereka, yaitu orang-orang yang sakit, yang buruk keadaanya, yang sengsara, kerasukan, lumpuh, dsb., yang telah disembuhkan oleh Yesus. Lanjut lagi, di Matius 5 Yesus naik ke atas bukit, mengajar orang-orang ini; dan Yesus bukan guru bego yang waktu mengajar tidak melihat siapa yang sedang diajar (misalnya petani diajar tentang Plato) –Yesus tidak seperti itu– Yesus memperhitungkan siapa pendengar-Nya. Yesus tidak cuma pikir Gue punya informasi yang benar nih, ‘gak peduli siapa yang dengar, yang penting ‘kan benar yang Gue ngomong. Yesus tidak demikian. Yesus mengucapkan Ucapan Bahagia kepada orang-orang yang disebut tadi ini, bukan kepada orang-orang lain; di tengah-tengah orang-orang yang buruk keadaannya inilah Dia mengucapkan Ucapan Bahagia.
Yang menarik, di bagian akhir Khotbah di Bukit, Matius menuliskan mereka kembali, merekalah yang juga berespons terhadap khotbah di bukit tersebut. Dalam Mat. 7:28-29, bagian terakhir Khotbah di Bukit, dikatakan: Setelah Yesus mengakhiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka. Siapa orang banyak itu? Yaitu mereka yang dikatakan buruk keadaannya tadi. Matius tidak lupa dengan keberadaan para pendengar Yesus ini, mereka bukan sekadar jadi latar belakang kayak kayu yang tidak bergerak, mereka krusial untuk kita mengerti apa message Yesus sesungguhnya lewat hal ini.
Siapa mereka? Mereka inilah orang-orang yang berbahagia, blessed, dalam Kerajaan Allah, exactly mereka karena benar-benar mereka baru saja menerima sentuhan tangan dan suara Yesus. Inilah mungkin sebabnya dalam versi Matius maupun Lukas,Ucapan Bahagia ini hanya muncul dari mulut Yesus di tengah-tengah orang banyak yang Dia sudah terlebih dulu sentuh kehidupannya. Ucapan Bahagiaini tidak pernah muncul misalnya dengan Yesus masuk ke sinagoge lalu tiba-tiba memberikan semacam dokumen standar bahwa yang benar kayak begini, dsb.; ini diberitakan kepada orang-orang yang exactly mereka itu. Kepada mereka itulah Yesus mendeklarasikan, “Berbahagialah (diberkatilah) kamu sekalian –kamu, orang-orang yang rohaninya dan dompetnya nol– berbahagialah kamu yang bangkrut secara finansial maupun spiritual, karena Kerajaan Surga telah datang kepadamu.”
Sekarang kita perlu melihat, orang-orang ini siapa? Mereka, yang berdiri di sekitar Yesus selagi Dia mengucapkan Ucapan Bahagia kepada mereka, adalah orang-orang yang tidak ada kualifikasi apa pun, baik spiritual, finansial, kemapuan, dsb. Ini bukanlah orang-orang yang Saudara akan cari dan minta jadi panitia. Tidak ada apa-apa pada diri mereka yang membuat orang bisa berpikir O, Tuhan bekerja melalui orang-orang ini. Tidak ada kharismanya. Tidak ada influence-nya.
Yang menarik, kalau Saudara ngintip ke Injil Yohanes, suatu kali ketika orang-orang Farisi ingin mencekal Yesus, menghasut orang banyak supaya jangan mengikut Yesus, mereka pakai argumen seperti ini: “Adakah kamu juga disesatkan? Coba, ada ‘gak di antara pemimpin-pemimpin yang percaya kepada-Nya itu orang-orang Farisi? ‘Gak ada ‘kan. Orang banyak ini yang mengikut Yesus, mereka tidak mengenal hukum Taurat, terkutuklah mereka!” (Yoh. 7:47-49). Itulah yang orang Farisi katakan mengenai mereka. Jadi, orang banyak ini dalam istilah kita hari ini adalah orang-orang yang ‘gak melek Alkitab. Mereka ini cuma orang “awam”, atau bahkan mungkin lebih rendah dari itu, cuma Kristen KTP. Mereka ini orang-orang yang fungsinya dalam Gereja paling banter cuma buat mengisi ruangan. Soal memberi persembahan pun, adalah orang-orang yang sejak awal sudah kita wanti-wanti, “Kalau ‘gak ngerti caranya beri persembahan, jangan beri persembahan.” Kita juga wanti-wanti jangan minta mereka pimpin doa, apalagi jadi Liturgis, ‘gak akan bisa; kalau mereka maju ke depan ambil mic, orang bisa pingsan, dsb.
Ini bukan cuma penggambaran yang keluar dari orang-orang Farisi atau orang-orang dunia terhadap mereka; orang-orang ini sendiri pun akan setuju dengan semua penggambaran tersebut. Mereka adalah orang-orang yang paling pertama akan mengakui bahwa mereka tidak tahu apa-apa soal agama, boro-boro doktrin atau teologi. Kalau hari ini banyak orang Kristen dibekali gereja untuk mengklaim janji-janji Allah, maka orang-orang yang dihadapan Yesus tadi tidak mungkin merasa dirinya punya dasar apapun untuk mengklaim janji Allah. Khotbah seperti itu tidak akan masuk buat mereka karena mereka merasa siapalah saya, saya tidak ada apa-apanya, hidup saya berantakan, saya adalah the bottom of the bottom.
Ada satu cerita, seorang pelayan Tuhan mencoba melakukan PA di daerah orang miskin di Meksiko. Yang namanya PA tentu harusnya ada interaksi, maka pendeta ini coba melakukan hal tersebut, semacam baca-gali Alkitab bersama orang-orang miskin. Dia buka satu perikop, membacanya, lalu tanya kepada mereka, “Saudara-saudara terpikir apa dari bagian ini?” Tidak ada yang menjawab. Si pendeta pikir mungkin belum lugas atau apalah, maka dia coba baca bagian lain lagi, dan kembali tanya, “Menurutmu bagian ini bicara mengenai apa?” Tidak ada yang jawab. Berkali-kali dia coba dan tetap sama, tidak ada yang jawab. Akhirnya pelayan Tuhan ini sadar satu hal, mereka itu orang-orang miskin, mereka tidak bakal menjawab karena dalam hidup mereka itu tidak pernah satu kali pun orang tanya apa yang mereka pikir. Itulah orang miskin.
Waktu kita membaca kalimat ‘miskin di hadapan Tuhan’ (poor in spirit) tadi, kita tidak melihatnya ini mengenai orang-orang kayak begini ‘kan?? Kita mungkin terpikirnya urusan miskin rohani tok atau miskin dompet tok, namun inilah realitas dunia, orang-orang yang miskin dompet sering kali miskin rohani pula. Kalau Saudara melihat orang minta-minta di lampu merah, Saudara tahulah tidak bakal ada orang tanya kepada dia, “Menurutmu … ?” Tidak bakal. Kita harus mengakui, bahwa secara otomatis kita melihat kegagalan atau kebangkrutan finansial sebagai tanda kegagalan dalam segala hal. Itulah realitas sebagai orang miskin. Dan, inilah orang-orang yang kepadanya Yesus sedang mengucapkan Ucapan Bahagia. Namun tidak berhenti di situ, ada sesuatu yang lain yang krusial yang mendefinisikan siapa orang-orang ini, yaitu meskipun miskin, berdukacita, teraniaya, dsb., Yesus datang ke dalam hidupku dan menyentuh diriku –inilah mereka. Inilah orang-orang yang telah mendapatkan sentuhan Tuhan Yesus, dan lewat sentuhan Yesus itu Kerajaan Surga datang kepada mereka, maka mereka benar-benar berbahagia. Mereka diberkati, mereka disembuhkan, baik itu tubuh mereka, hati ataupun pikiran mereka. Ini kita lihat dengan jelas, dan inilah poinnya.
Poinnya, Ucapan Bahagiabukanlah pada diri merekanya, kemalangan atau keterbelakangan mereka, kemiskinan atau seberapa mereka berdukacita. Poinnya, bahwa dalam Kerajaan Surga orang-orang ini pun ternyata tersentuh oleh Yesus, bahwa Kerajaan Surga ternyata cukup lebar, available, bahkan bagi mereka. Kuasa penentunya ada dalam Kerajaan Surga-nya dan Raja-nya, yaitu Yesus, bukan orang-orang ini serta kondisinya. Itulah Ucapan Bahagia.
Supaya makin jelas, kita bisa membandingkan dengan bagaimana selama ini kita menggunakan Ucapan Bahagia. Sepanjang sejarah Kekristenan, orang berusaha untuk menerjemahkan atau menafsirkan Ucapan Bahagia, dan Saudara bisa lihat trend-nya ke arah mana. Dalam berbagai usaha penerjemahan atau penafsiran, baik bahasa Indonesia atau pun Inggris, kelihatan banget usaha untuk mem-positif-kan kondisi-kondisi hidup dalam Ucapan Bahagia ini, supaya hal-hal seperti kemiskinan, dukacita, dsb. jadi sesuatu yang positif, yang saleh, yang memang Tuhan inginkan, yang bisa jadi dasar masuk akal sebabnya orang-orang kayak begini bisa berbahagia, bisa blessed.
Ambil contoh Ucapan Bahagia yang pertama, miskin di hadapan Tuhan (poor in spirit). Kita selama ini mengerti miskin di hadapan Tuhan itu seperti apa sih? Apakah kita mengertinya seperti tadi, orang yang benar-benar miskin, yang kepadanya orang tidak bakal tanya soal menurutmu dsb.? Tidak ‘kan. Kita melihatnya sebagai miskin rohani, miskin di hadapan Tuhan, poor in spirit. “Ini maksudnya kerendahan hati, Pak, which is sangat positif. Semua orang yang saleh, ada sifat seperti ini; dan maka tidak heran mereka berbahagia, karena inilah salah satu ciri, kualifikasi, persyaratan, menjadi warga Kerajaan Surga.” Tetapi itu sama sekali bukan pengertian yang benar, Saudara.
Kita sering kali pikir frasa poor in spirit itu, diberikan istilah in spirit karena maksudnya bukan beneran miskin, hanya miskin in spirit saja, ini kiasan saja. Tidak demikian, Saudara. Dalam Alkitab, istilah roh, in spirit, ruah, bukanlah mencerminkan sebagian realitas seseorang melainkan keseluruhannya. Bukan sekadar hal yang di dalam tok, yang rohani, melainkan apa yang dari dalam menjalar ke seluruh tubuh sampai ke seluruh kehidupan. Itulah artinya rohani, in spirit.
Misalnya, Ayub dalam pasal 7:11 mengatakan, “Aku kesesakan jiwa” (bahasa Indonesia terjemahan LAI). Ini dalam bahasa Ibraninya, “I am anguish in my spirit”, yang kalau diterjemahkan bahasa Indonesia jadi: saya ini mengalami kesesakan in spirit, kesesakan dalam roh, kesesakan “rohani”. Sekarang saya mau tanya, menurutmu apakah ini kiasan, maksudnya Ayub cuma menderita kesesakan secara kiasan, menderita sesuatu yang di dalam tetapi tidak menjalar ke seluruh tubuhnya? Tidak ‘kan. Maksudnya, Ayub benar-benar seluruh hidupnya sedang terimpit, tersesak –seluruhnya.
Contoh lain, Kejadian 26:25, Esau mengambil dua wanita Kanaan menjadi istrinya, maka dikatakan hal tersebut menimbulkan kepedihan bagi ayah ibunya, Ishak dan Ribka; dalam hal ini istilah Ibraninya pedih in spirit. Jadi apakah ini cuma kiasan tok, cuma di dalam tok? Tidak ‘kan. Itu sebabnya bagus juga LAI menerjemahkannya simply sebagai ‘kepedihan’, karena memang ini tentang hidup yang jadi pedih, luar dalam, bukan cuma di dalam tetapi sampai keluar. Ini sehari-harinya mereka, bertemu antara mertua dan menantu, sesuatu yang riil sekali, bukan sesuatu yang cuma “rohani” tok.
Dalam Amsal 15:4 dikatakan, “Lidah curang melukai hati.” Menarik bahwa istilah Ibraninya adalah: lidah curang membuat seseorang broken in spirit. Lalu apakah ini berarti cuma kiasan, cuma terjadi secara internal? Tidak ‘kan. Ini mencerminkan keutuhan realitasnya. Orang yang dicurangi, rusak. Secara hati dia rusak, secara finansial dia juga rugi, kena tipu luar dalam.
Jadi, waktu kita membaca poor in spirit, tidak bisa kita terjemahkan sebagai miskin rohani tok, miskin di hadapan Tuhan dalam arti yang rohani tok yang tidak kelihatan, yang di dalam doang. Tidak seperti itu. Ini simply orang miskin, orang yang luar dalam miskin, realitas kehidupannya miskin. Miskin rohani karena miskin jasmani. Miskin jasmani maka tidak ada yang pernah mau dekat-dekat dengan dia dalam hal keagamaan juga. Tidak ada apapun yang positif. Dan, ini bukan bicara kerendahan hati, meskipun memang orang-orang yang dalam kondisi seperti ini kecil kemungkinannya mereka sombong, karena apalah yang mau disombongkan. Kalau pun Saudara mau ambil elemen kerendahan hati dalam bagian ini, inilah orang-orang yang rendah hati karena mereka tahu diri. Ditanya mikir apa, mereka tidak jawab, karena tahu diri siapalah saya.
Ucapan Bahagia yang lain baru bisa kita bahas minggu depan, namun sekarang saya mau ambil satu contoh saja di ayat 8, “Berbahagialah orang yang suci hatinya (murni hatinya, kudus hatinya), karena mereka akan melihat Allah.” Bagi kita, ini sesuatu yang sangat positif. Istilah katharos kardia (hati yang murni) ini banyak muncul di banyak tempat dalam Alkitab. Dalam Mazmur ada dikatakan, “Siapa yang boleh naik ke gunung Tuhan? Yaitu mereka yang murni hatinya,” single minded, hatinya tidak divided, basically devoted. Dengan kata lain, ini adalah para purist. Sekarang saya mau tanya, menjadi orang yang purist kayak begini, hidupnya menyenangkan, blessed atau tidak?
Dalam hal ini, coba Saudara consider penafsiran saya mengenai tokoh Natanel. Waktu tokoh Natanel muncul di Injil Yohanes, Tuhan Yesus menggambarkan Natanael dengan istilah yang sangat mirip, “Lihat, inilah seorang Israel tulen, yang dalam hatinya tidak ada kepalsuan,” –murni hatinya, purist, orang yang suci hatinya. Lalu bagaimana tokoh Natanel digambarkan dalam kisah tersebut? Waktu Filipus mengajak dia bertemu Yesus dari Nazaret, Natanael langsung dengan refleks mengatakan, “Huh, Nazaret, apa yang baik yang bisa keluar dari tempat itu.” Inilah seorang purist, perfeksionis, orang yang hatinya murni. Ini orang yang keras terhadap orang lain, dan lebih keras lagi terhadap dirinya sendiri, orang yang baginya nothing is ever good enough. Dekat dengan orang-orang kayak begini, Saudara menderita –dan actually lebih menderita kalau Saudara jadi mereka. Kalau jadi koki, bagi mereka masakannya sendiri tidak pernah sempurna di mata mereka sendiri. Inilah orang purist, orang yang suci hatinya. Namun demikian, Ucapan Bahagia mengatakan bahwa Kerajaan Surga terbuka bagi mereka, bahkan bagi orang-orang seperti ini, karena mereka akan melihat Tuhan –itu janjinya– dan itulah impian mereka selama ini, ada Someone yang begitu perfect, pure, yang bisa memuaskan hati mereka yang purist itu, yang bahkan melampaui bayangan mereka. Dalam Kerajaan Surga, mereka akan terpuaskan. Saudara lihat, bukankah ini masuk akal?
Sekali lagi, lihat kepada siapa Yesus berbicara hal ini; kondisi mereka sendiri sebagai orang yang suci hatinya, single minded, perfeksionis, itu bukan sifat yang positif, bukan kondisi yang positif. Lewat melihat hal ini, kita baru sadar seberapa kita selama ini kepingin banget membaca, menafsirkan, menerjemahkan, kondisi-kondisi dalam Ucapan Bahagia ini jadi sesuatu yang ada positifnya. Kita ingin memasukkan sesuatu yang sebenarnya tidak ada dalam teks aslinya, menjadikan semuanya bisa membuat kita lebih angguk-angguk kepala. Kita kepingin bikin Ucapan Bahagia ini lebih masuk akal. Kita kepingin Mesias yang lebih sesuai dengan bayangan dan ekspektasi kita, bahwa kalau orang seperti ini dan itu berbahagia, berarti ada positifnya dong. Namun ternyata ini justru sangat melenceng dari tujuan aslinya, karena tujuan aslinya adalah membuat kita menyadari ini bukan berenang di kolam renang lagi, ya, ini laut lepas. Tujuan Ucapan Bahagia adalah untuk membuat kita menyadari betapa Kerajaan Surga beda drastis dengan ekspektasi manusia dan dunia.
Omong-omong, salah kaprah ini bahkan tidak cuma berjalan satu arah, tetapi juga ke arah yang sebaliknya. Misalnya, tadi kita sudah mendengar, ya ampun, ternyata kondisi-kondisi dalam Ucapan Bahagia ini begitu negatif, maka lanjutannya kita mulai berpikir: jadi, orang dalam Kerajaan Surga itu diberkati, berbahagia, karena dia miskin, karena dia purist dan perfeksionis. Saudara lihat kesalahkaprahan ini? Kenapa demikian? Karena kita kepingin bikin semuanya jadi masuk akal, karena ini, maka itu; saya musti cari formulanya, kalau saya dapat, baru saya merasa oke, jadi kalau yang tadi salah maka sekarang saya bikin kebalikannya. Ini pun ngaco, Saudara, karena Yesus bukan sedang mengatakan, “Berbahagialah mereka yang miskin karena kamu miskin.” Yesus bukan sedang memikirkan wah, luar biasa orang-orang ini, tidak ada uang, tidak ada apa pun yang lain, maka inilah yang bikin orang-orang ini patut mendapatkan Kerajaan Surga. Tidak demikian. Kalau kita masuk ke kecenderungan ekstrim yang satu lagi ini, membuat kondisi-kondisi yang kita sadari tidak ada yang baik dan posiitif tersebut justru jadi satu hal yang membuat seseorang qualified untuk masuk Kerajaan Surga, artinya kita salah kaprah dalam arah yang lain.
Mereka yang miskin, yang depresi, yang berduka, disebut berbahagia oleh Yesus, bukanlah karena keiskinan mereka atau depresi mereka. Mereka disebut berbahagia oleh Yesus, justru karena meskipun mereka miskin, meskipun keadaan mereka begitu rusak dan hancur, di tengah-tengah keadaan yang penuh luka dan duka itulah Kerajaan Surga telah datang dan masuk ke dalam hidup mereka, melalui sentuhan Yesus.
Satu pemikiran dari Alfred Edersheim, bisa membantu kita. Kita sering membaca Ucapan Bahagia seperti ini: ada kondisinya, maka lalu ada janjinya; kondisinya miskin di hadapan Tuhan, janjinya mempunyai Kerajaan Surga. Jadi kita membacanya bahwa gara-gara kondisinya kayak begini maka mendapatkan janji yang seperti ini; janji yang seperti ini merupakan hasil/upah dari kondisi yang begini. Alfred Edersheim mengatakan: Jangan baca seperti itu, jangan baca cuma dua elemen ini, jangan baca janji-janjinya sebagai upah dari kondisinya, jangan baca kondisinya sebagai sebagai penyebab dari janjinya, karena Ucapan Bahagia bukanlah mengenai keduanya, bukan cuma ada dua elemen ini; kondisi kemalangan dan janji-janji Kerajaan ini tidak ada sambungannya sama sekali, Tuhan Yesus mengucapkan kalimat-kalimat ini justru karena betapa bertabrakannya antara kondisi dan janji –itulah poinnya. Jadi, keduanya ini memang ‘gak nyambung, Saudara. Dan, jika demikian, maka apa yang penting yang mau dikabarkan di sini yang bisa bikin keduanya nyambung? Hanya melalui Yesus. Hanya di dalam Kerajaan Surgalah kedua hal ini bisa nyambung. Itulah yang penting, itulah message-nya, bahwa Dia-lah kunci yang telah membuka janji Kerajaan Surga kepada semua orang, termasuk mereka-mereka yang kondisinya sebagaimana disebutkan di sini. Mereka yang hidupnya malang, miskin, rusak, depresi.
Saya ambil satu contoh lagi –minta maaf ini contoh yang kita pakai tiga minggu berturut-turut. Saya mau tanya: khotbah yang jelek, dan pertumbuhan rohani, ada hubungannya atau tidak? Tidak ada hubungannya, Saudara. Khotbah jelek, ya jelek, tidak ada bagus-bagusnya, tidak akan menghasilkan pertumbuhan rohani, tetapi dalam Kerajaan Surga ada elemen yang ketiga, bahwa somehow lewat sentuhan Kristus, jemaat yang mendengar khotbah yang jelek/terbatas pun, tidak tertutup dari karunia-karunia Kerajaan Surga. Ada kehadiran pihak ketiga yang sangat penting ini.
Kita sebagai manusia cenderung cuma mau lihat dua eleman saja. Kita awalnya mengatakan, “Cuma khotbah yang bagus yang bisa mendatangkan pertumbuhan rohani,” lalu dari khotbah kemarin kita belajar bahwa ternyata orang bisa bertumbuh, bahkan lebih bertumbuh, melalui pendeta-pendeta yang khotbahnya terbatas, maka setelah itu kita mengatakan sebaliknya, “Jadi karena khotbah jelek maka ada pertumbuhan rohani.” Ini sama ngaconya, Saudara. Kalau memang yang benar yang kedua, bahwa karena khotbah jelek maka ada pertumbuhan rohani, ya sudah, mulai sekarang khotbah yang jelek saja, ngapain khotbah bagus-bagus, ngapain khotbah yang bertanggung jawab kepda Tuhan. Tentu tidak demikian ‘kan. Saudara lihat di mana poinnya? Poinnya bukan di pengkhotbahnya, bukan di jemaatnya. Poinnya adalah: Kristus telah mendirikan suatu Kerajaan, yang bahkan khotbah terbatas pun tidak harus jadi penghalang karunia Tuhan. Poinnya adalah: dalam Kerajaan Surga, orang-orang yang mendengar khotbah yang terbatas, yang tidak komunikatif pun, bisa bertumbuh dalam Kristus. Bukan karena khotbah bagus engkau bertumbuh, itu jelas, tetapi juga bukan karena khotbah jelek maka engkau bertumbuh, Tuhanlah yang memberi pertumbuhan. Dalam Kerajaan Surga pertumbuhan tidak datang hanya pada tempat-tempat di mana ada pengkhotbah-pengkhotbah yang hebat; dan dalam Kerajaan Surga juga pertumbuhan tidak datang melalui khotbah-khotbah yang jelek. Dalam Kerajaan Surga pertumbuhan datang di mana Kristus hadir; dan oleh karena Kristus ini, maka keterbatasan pengkhotbah tidak harus jadi halangan lagi. Kristus lewat kuasa-Nya, bisa menemuimu, menyentuhmu, menghadirkan Kerajaan Surga dalam hidupmu, bahkan melalui khotbah-khotbah yang kau rasa jelek dan tidak dapat apa-apa. Itulah poinnya.
Poinnya bukan di miskin-nya, bukan di dukacita-nya, bukan di khotbah jelek-nya; poinnya ada pada Kristus-nya. Sedihnya, kita mebaca Ucapan Bahagia tanpa poin utama ini, tanpa Pengucapnya. Kita membaca Ucapan Bahagia seakan-akan Yesus tidak ada di situ, peran Yesus cuma jadi semacam loudspeaker yang simply membacakan saja kalimat-kalimat yang benar ini, that’s it, sementara lebih dari itu Dia tidak berperan. Tidak demikian, Saudara. Dia itulah yang krusial. Dia itulah yang bisa nyambungin antara kondisi yang begitu malang dengan janji yang begitu mulia. Itu adalah karena Dia. Jika tidak, Saudara mau baca Ucapan Bahagiasebagai apa? O, jadi kita cuma perlu rendah hati, mengenali kemiskinan rohani kita di hadapan Tuhan, itu yang membuat kita bisa masuk Kerajaan Surga, ya, sudah, kita tinggal lakukan itu, wes ewes ewes bablas angine, kita dapat kebahagiaan dan berkat Tuhan.
Sedihnya, banyak orang memikirkannya seperti itu. Itu sebabnya di dalam Gereja tidak sedikit orang-orang yang memakai “kerendahan hati” menjadi semacam tanda jasa. Memakai penderitaan, seberapa diri sudah bekerja bagi Tuhan, seberapa banyak uang yang kita pakai bagi Tuhan, seberapa banyak waktu yang kita pakai bagi pelayanan, menjadi tanda jasa ‘saya ini anak Tuhan’ –saya serak-serak begini masih khotbah, hebat ‘kan gue.
Bergandengan tangan dengan salah kaprah seperti ini, membuat kondisi-kondisi tadi –miskin rohani, dukacita, lemah lembut—bukan cuma jadi syarat mendapatkan Kerajaan Surga, tetapi juga akhirnya membuat kita yakin bahwa kalau kita tidak mengalami kondisi-kondisi seperti itu, kita sudah pasti tidak akan masuk daftar warga Kerajaan Surga, dan hidup kita dirundung perasaan bersalah terus-menerus. Semua ini terjadi karena kita salah mengerti dan salah membaca Ucapan Bahagia, yaitu ketika kita membaca Ucapan Bahagia tanpa Kristus, membaca Ucapan Bahagia dengan mencari-cari cara dan mencocok-cocokkan konsep Yesus dengan apa yang kita sudah tahu dan sudah pegang. Padahal, Ucapan Bahagia justru merupakan manifesto Tuhan Yesus, sebuah cara-Nya mendobrak, mengungkapkan seberapa bedanya Kerajaan yang Dia bawa ini. Ini bukan sekadar ajaran yang kau bisa taruh di antara segudang ajaran-ajaran lain yang kau sudah susun rapi-rapi sepanjang hidupmu, ini sebuah Kerajaan yang baru, yang hanya engkau bisa masuki ketika engkau meninggalkan kerajaan yang lama. Ini bukan suatu formula baru yang kau bisa pakai melengkapi formula-formula lain dalam hidupmu, ini sebuah lensa yang baru, yang engkau hanya bisa pakai ketika engkau menanggalkan lensa lamamu. Yaitu ketika engkau mengakui bahwa problemnya selama ini bukanlah pada apa yang kau lihat, melainkan bagaimana cara engkau melihatnya selama ini.
Inilah yang masuk akal kalau kita melihat dan mempertimbangkan seluruh berita Yesus, karena inilah konteks besar di mana berita Injil Kerajaan Surga Yesus datang dalam Injil Matius. Mulai dari silsilah yang aneh, dan beda, dan error itu, Huh, Mesias ternyata bukan orang Yahudi yang proper ya –Mesias bukan orang Reformed– Mesias ternyata datang dengan cara yang kita sama sekali ‘gak expect! Kalau Saudara nyontek ke Injil Lukas, ada Nyanyian Maria (Magnificat) yang bicara mengenai bagaimana ketika Yesus datang itu orang-orang miskin diangkat dan orang-orang yang berkuasa diturunkan, namun ini terjadi bukan karena miskin atau kuatnya, ini karena karunia dan kuasa Tuhan. Saudara ingat juga, Yesus berkali-kali mengatakan bahwa dalam Kerajaan Surga, yang terdahulu jadi terakhir dan yang terakhir jadi terdahulu, barangsiapa mau jadi terbesar di antara kamu harus menjadi pelayan, yang tidak bisa jadi seperti anak kecil maka tidak bisa masuk Kerajaan Surga, yang berusaha menyelamatkan nyawanya akan kehilangan nyawanya, dan yang kehilangan nyawanya karena Aku … . Sekali lagi, perhatikan, siapa yang make the difference di sini, yaitu bahwa siapa yang kehilangan nyawanya karena Kristus, akan memperolehnya.
Saudara lihat, Ucapan Bahagia dan Khotbah di Bukit simply melanjutkan/menggemakan pola-pola tersebut. Ketika Yesus mengkhotbahkan tentang seperti apa kehidupan dalam Kerajaan Surga, hal pertama yang Yesus lakukan adalah membalik dulu konsep manusia mengenai siapa sesungguhnya yang oke dalam dunia ini. Siapa yang selama ini kita pikir oke dalam dunia ini? Ya, mereka yang sehat, mereka yang tampan, mereka yang cantik. Uang juga sangat membentuk/membantu, jangan lupa, perlu juga rumah yang bagus, terdidik, mengenyam bangku pendidikan yang tinggi. Dan, kalau di atas semua itu ada juga talenta, ada koneksi, pintar, wah, inilah kehidupan yang baik bagi kita. Lalu siapa yang ‘gak oke dalam dunia ini? Sudah pasti orang yang tidak punya semua itu. Orang-orang yang di-PHK, orang-orang yang cari kerja tidak dapat. Orang-orang yang menderita abuse. Orang-orang yang tidak pintar, bahkan bego, orang-orang yang tidak terdidik. Orang-orang yang tidak ada posisi sosial, orang-orang yang ‘gak bisa read the room. Orang-orang yang tidak bisa menikah, orang-orang yang tidak bisa punya anak kalau pun menikah. Kamu semua itu ya, betapa malangnya, unblessable dalam mata dunia. Namun Yesus sedang memandang orang-orang ini. Yesus sedang memandang ke mereka, Yesus lalu mengambil beberapa sampel dari mereka-mereka ini, dan langsung pakai untuk mengajarkan mengenai seperti apa Kerajaan Allah.
Inilah cara Tuhan Yesus mengajar. Tuhan Yesus mengajarnya tidak abstrak. Kalau Saudara perhatikan pengajaran-pengajaran Yesus, semuanya datang dari situasi riil yang ada di depan mata-Nya. Waktu Yesus lewat kebun anggur, Dia mengatakan, “Akulah pokok anggur yang sejati.” Waktu suatu kali orangtua dan saudara-saudara Yesus mencari Dia, Yesus langsung memakai kesempatan ini untuk mengajarkan mengenai siapa yang merupakan anggota keluarga Tuhan sejati dalam rumah Bapa. Itu sebabnya dari orang-orang banyak ini, orang-orang miserable ini, keluarlah Ucapan Bahagia.
“Berbahagialah, diberkatilah, mereka yang miskin.” Dalam hal ini kalau Saudara masih ngotot ini maksudnya miskin rohani dalam arti rendah hati, lihat ke Lukas 6:20: “Berbahagialah kamu yang miskin –miskin tok, titik– karena kamulah yang punya Kerajaan Allah.” Lukas mungkin lebih belakangan dari Matius, dia mungkin mau menerjemahkan ini buat orang-orang yang tidak peka cara orang Yahudi membaca. Matius bicara kepada orang-orang Yahudi, dan mereka tahu cara bacanya, sedangkan Lukas menerjemahkannya bagi orang-orang luar maka dia tahu bahwa dia cukup menulis “miskin”, karena memang itulah maksudnya, berbahagialah, diberkatilah, mereka yang miskin. Saudara kenal orang miskin siapa yang merasa dirinya berbahagia dan diberkati?? Lanjut lagi, “Diberkatilah yang lapar, dbenci banyak orang.” Siapa yang akan mengklaim janji-janji Allah seperti ini?? Ini memang bukan kondisi-kondisi yang berbahagia atau penuh berkat. Poinnya memang bukan pada kondisi-nya. Ini adalah orang-orang yang memang miserable, hopeless, unblessable, untouchable, namun Yesus dan kehadiran-Nya justru mengatakan orang-orang ini bisa di dalam Kerajaan Surga, bisa diberkati dan berbahagia. Bukan karena miskin, tetapi karena Kerajaan Surganya; Kerajaan Surga itu kayak begitu. Kerajaan Surga adalah tempat di mana orang-orang miskin pun bisa berbahagia dan diberkati.
Kerajaan Surga adalah realitas di mana Tuhan, oleh karena kuasa-Nya, bisa memberkatimu di tempat engkau hari ini berada. Engkau tidak perlu pergi ke tempat lain untuk bisa mengakses karunia Tuhan. Dan, inilah yang kita sering kali tidak percaya. Kita pikir, kita perlu ada uang lebih banyak barulah di situ berkat Tuhan ada. Kita perlu rumah yang lebih besar, dan ketika kita pindah ke situ barulah di situ ada hidup yang berbahagia dan berkat Tuhan turun. Harus punya pacar, barulah aku diberkati Tuhan. Harus punya anak –dan seterusnya– barulah Tuhan bisa berkarya dalam hidupku. Semua ini berarti asumsinya: hari ini, tempat aku berada, tidak ada berkat Tuhan, Tuhan tidak mampu menembus sampai ke tempat ini. Atau mungkin kita jatuh ke arah sebaliknya. Tuhan berkarya dalam hidupku karena aku tidak ada anak. Tuhan berkarya dalam hidupku karena aku men-jomblo terus. Karena rumahku sempit, aku jadi lebih dewasa dan merasa cukup dibandingkan orang-orang lain yang lebih kaya. Karena aku berani berkhotbah waktu serak-serak, maka Tuhan berkarya, sedangkan pendeta lain ‘gak kayak begini.
Tidak demikian, Saudara, Ucapan Bahagia sedang mengatakan: apapun kondisi hidupmu saat ini, itu tidak bisa menghalangi kuasa Tuhan menyentuhnya. Kalau hari ini ada berkat Tuhan yang datang kepadamu lewat khotbah yang serak seperti ini, itu berarti berkat Tuhan tidak tergantung kesehatan si pengkhotbah; tetapi itu juga bukan berarti kuasa Tuhan baru berkarya ketika si pengkhotbah lemah ‘kan. Yang penting di sini adalah kuasa Tuhan-nya, bukan pengkhotbahnya sehat atau lemah. Kuasa Tuhan sanggup untuk menemuiku di mana aku berada, entah itu melalui pengkhotbah yang kuat ataupun pengkhotbah yang lemah. Itulah Kerajaan surga. Percayakah Saudara akan hal ini?
Terakhir, satu gambaran yang saya rasa bagus untuk menutup. Kerajaan Surga itu seperti Olimpiade Anak-anak Cacat (Paralympic). Mendengar mengenai Olimpiade ini, saya kadang bingung, mau ngapain sih manusia, aneh-aneh saja. Olimpiade yang normal adalah merayakan kuat kuasa manusia; karena kuat maka dirayakan. Lalu Olimpiade Anak-anak Cacat ini berarti kita sekarang pindah haluan, mau merayakan kecacatan manusia, karena cacat maka dirayakan. Konyol, ya. Dan, dalam hal ini saya bodoh, karena saya cuma melihat dua elemen; saya mau cari syarat, formula, rumusan, mengenai apa sih yang bikin orang dirayakan. Namun itu bukan poinnya Olimpiade Anak-anak Cacat. Kalau Saudara lihat foto-fotonya, Saudara akan lebih mengetahu apa yang sedang mereka rayakan di situ. Ada anak yang dari mukanya saja Saudara sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres dalam gen-nya, namun dalam foto itu anak tersebut tersenyum lebar dari kuping ke kuping, begitu bahagia. Foto itu diambil waktu dia habis ikut lomba lari dengan 20 peserta, dan dia finis dalam urutan ke-18. Tetapi kalau Saudara lihat foto itu, Saudara tahu satu hal: anak ini berbahagia, anak ini blessed, ternyata orang seperti ini pun bisa diberkati. Bukan karena dia kuat, tetapi juga bukan karena dia cacat. Ia diberkati karena ada tempat kayak begini, ada orang-orang yang bisa kepikiran bagaimana caranya merayakan orang-orang ini, orang-orang yang tidak finis di urutan-urutan pertama dunia. Itulah Kerajaan Surga.
Kita akan mengakhiri Ucapan Bahagia ini dalam minggu mendatang, namun poin hari ini, saya harap kita bisa melihat inilah Kerajaan Surga: dalam Kerajaan Surga tidak ada kondisi hidup manusia yang bisa menghalangi berkat Tuhan datang kepada kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading