Babak Pertama: Ayat 1-9
Ini babak yang pertama; Tertulius, pengacara dari Imam Besar menyatakan dakwaannya terhadap Paulus. Pada bagian ini kita melihat bagaimana Tertulius, seorang Romawi, bukan Yahudi dan bukan Kristen, mewakili perkaranya Ananias dalam hal Bait Suci, yang menganggap Paulus itu musuh dan harus disingkirkan.
Tertulus memulai dengan suatu pembukaan yang menjilat kepada Feliks. Dia mengumbar penjilatan yang pada dasarnya omong kosong, kalau kita memeriksa sumber-sumber dari para sejarawan, seperti Yosefus (sejarawan Yahudi) maupun Tacitus (sejarawan Romawi), yang sama-sama mengungkapkan latar belakang dari Feliks. Feliks ini adalah saudara dari Palas, Menteri Keuangan dari Kaisar Claudius; dan keduanya ini sama-sama budak yang dimerdekakan. Dalam tulisan Tacitus, dia mengatakan Feliks ini seorang yang rendah, dikendalikan hawa nafsu, orang kasar –pantas saja karena memang dulunya budak–tetapi punya kuasa raja. Jadi Feliks ini orang kasar, tetapi punya kuasa raja; dan kita suka takut terhadap orang-orang seperti itu, orang-orang yang tak bisa mengendalikan dirinya, namun diberikan kuasa untuk mengendalikan orang banyak. Orang yang tidak bisa mengendalikan nafsunya, malah dia sendiri yang dikendalikan nafsunya, sekarang dititipi kuasa untuk mengatur masyarakat, maka apa jadinya masyarakat di tangan orang seperti Feliks?? Demikian deskripsi dari Tacitus, yang bukan orang Kristen melainkan orang Romawi. Namun di bagian ini kita melihat Tertulus tidak punya gambaran seperti itu terhadap Feliks, dia memuji-muji Feliks setinggi-tingginya.
Kemudian Tertulus menggambarkan Paulus dengan suatu framing, yang menekan semua tombol yang bikin Feliks sentimen terhadap Paulus: menyebut Paulus sebagai orang yang menghadirkan kekacauan. Feliks ini pejabat Romawi, dia tidak kenal Paulus, saudara juga bukan, dan dia tidak terlalu pedulilah dengan perkara-perkara seperti itu. Seandainya dia tidak perlu bertemu Paulus dan mengadili, dia juga lebih senanglah, bisa main golf mungkin atau nonton drama Yunani atau apapun. Namun sekarang dia harus mengadili perkara ini, jadi tentu dia ingin menyelesaikan secepat-cepatnyalah, sebagaimana juga dilkatakan Tertulus, “Kami tidak mau buang-buang waktu kamu; namun kami perlu engkau mendengar sebentar saja mengenai orang ini.” Lihat, Tertulus bahkan tidak menyebut nama Paulus. Dia juga tidak menyebut bahwa Paulus adalah warga Romawi, mungkin dia harap Feliks tahulah dari suratnya Lisias (surat pengantar yang menyatakan alasannya mengirim Paulus, dan di situ Lisias menyebut Paulus ini warga Romawi). Tertulus hanya mengatakan, “Orang ini penyakit sampar, menimbulkan kekacauan, sementara Romawi dan aparatusnya –seperti juga kamu– sangat anti kekacauan. Romawi menginginkan ketertiban, menginginkan kestabilan, menginginkan tidak ada masalah, tetapi orang ini adalah masalah buat kamu. Kami ingin mengadili orang ini, sebab orang ini adalah orang yang mencemarkan Bait Suci, melanggar kekudusan Bait Allah. Kami ingin mengadilinya menurut Hukum Taurat kami –dan itu boleh, tidak dilarang.” Demikian dikatakan Tertulus mewakili Ananias.
Dia tidak bilang bahwa mereka akan membunuh Paulus, mengeksekusinya. Dia tidak bilang bahwa mereka benci Paulus. Dia cuma mengatakan, “Orang ini melanggar hukum kami, [kami ingin mengadilinya seturut hukum kami, namun rekan kamu itu, Lisias, mencegahnya dengan kekerasan … ].” Saudara perhatikan, yang bagian belakang ini ada tanda kurung kotak ([…]); ini menyatakan bagian tersebut tidak terdapat dalam naskah-naskah yang paling kuno yang kita miliki. Naskah-naskah sumber yang paling kuno yang kita miliki, diantaranya adalah naskah-naskah Sinaiticus dan Vaticanus. Sewaktu orang-orang Inggris menerjemahkan, misalnya King James Version, 1611, naskah-naskah Sinaiticus dan Vaticanus ini belum ditemukan, sehingga bagian yang di dalam kurung itu masih dicantumkan; lalu setelah ditemukan, kita jadi menyadari bahwa bagian tersebut tambahan dari penyalin, Lukas tidak menulisnya, maka diberi tanda kurung kotak. Namun hal ini masuk akal juga (dan kita tidak perlu mempeributkan), menjelaskan sebabnya Paulus hadir di hadapan Feliks, yaitu: “Karena Lisias mencegah kami menghakimi dia seturut Hukum Taurat, pejabat Romawi merampas Paulus dari kami pakai ratusan prajurit mengawal dia, ya, kami bisa apalah, jadi terpaksa kami merampas waktu kamu juga, Feliks yang mulia, waktu yang harusnya bisa dipakai untuk mengurus hal-hal lain yang lebih penting daripada ngurusin beginian, ngurusin penyakit sampar ini. Silakan periksalah sendiri dia, supaya engkau tahu apakah tuduhan kami benar atau tidak.”
Babak Kedua: Ayat 10-21
Selanjutnya mari kita lihat apa yang dilakukan Feliks. Feliks memberikan mikrofon kepada Paulus untuk menyampaikan pembelaan dirinya (apologia).
Perhatikan di sini Paulus tidak berusaha mangambil hati Feliks dengan menjilatnya. Paulus hanya menyoroti perkaranya pada hal-hal yang bisa diverifikasi, fakta-fakta saja. Dia tidak berusaha menggiring opini. Dia tidak berusaha framing kasusnya dengan bahasa-bahasa yang bermuatan emosi. Mengenai Feliks, Paulus mengatakan, “Engkau sudah jadi hakim atas bangsa ini bertahun-tahun.” Ini tentu bisa diverifikasi, Feliks memang sudah menjabat bertahun-tahun, dan itu mengindikasikan dia sudah berpengalaman, juga membuat Paulus tidak ragu-ragu menyatakan perkara ini di hadapan Feliks.
Selanjutnya Paulus mengatakan bahwa dia tidak lebih dari 12 hari berada di Yerusalem. Itu juga bisa diverifikasi. Ada saksinya, ada yang bisa lihat kalau Paulus ternyata ngibul, namun Paulus yakin fakta tersebut tidak bisa dibantah. Untuk bisa menyatakan Paulus lebih dari 12 hari di sana, berarti mereka harus repot-repot menghadirkan konstruk tuduhan palsu yang sulit sekali, karena di Yerusalem bukan hanya ada orang Yahudi, tetapi juga ada orang Romawi, sehingga dapat ketahuanlah berapa lama Paulus di sana. Lagipula 12 hari adalah waktu yang pendek, tidak mungkin Paulus melakukan semua yang dituduhkan orang-orang itu, bikin huru-hara di sini-sana dan segala macam, tidak akan cukup waktunya. Apalagi Paulus sudah lama tidak ke Yerusalem, sudah puluhan tahun, jadi sudah tidak punya jejaring, sudah putus hubungannya. Dalam hal ini, Feliks juga bisa memverifikasi dengan gampang apakah Paulus bikin huru-hara atau tidak. Itu sebabnya Paulus fokus pada hal-hal yang verifiable, fokus pada fakta-fakta saja. Ini berlawanan dengan Tertulus yang coba fear mongering dengan mengatakan orang ini bikin huru-hara. Orang Romawi itu takut akan huru-hara, takut akan chaos, maka Tertulus mengatakan Paulus ini bikin huru-hara.
Tertulus juga mengatakan, “Orang ini anggota sekte Nasrani.” Sekte, itu menandai perpecahan; maka berarti di sini dia mengatakan Paulus ini bikin perpecahan/ pertikaian di antara orang Yahudi, dengan mengatakan Paulus ini pengikut sekte. Dalam hal ini Paulus mengatakan, “Enggak sih, aku menganut Jalan Tuhan. Aku tidak melanggar apa-apa dari hukum nenek moyang. Aku berbakti kepada Allah nenek moyang,“ yang artinya ini bukan sekte baru (kalau sekte baru, barangkali juga harus registrasi pada pemerintahan Romawi bahwa sekte ini tidak akan mengganggu kepentingan umum –yang merupakan kepentingan Romawi). Namun di sini Paulus mengatakan, “Enggak koq, ini masih dalam koridor Perjanjian Lama, masih dalam koridor agama Yahudi, penyembahan Allahnya Abraham, jadi ini bukan barang baru.Cuma kami menyadari, percaya, bahwa apa yang diharapkan nenek moyang kami, yaitu kebangkitan dari antara orang mati, itu sudah dimulai. Yang diharapkan oleh nenek moyang kami ‘kan kebangkitan, penghakiman, akhir zaman, nah, itu semua sudah dimulai dalam Yesus.” Paulus hanya mengatakan itu kepada Feliks. Dia juga mengatakan, “Aku ini hidup seturut hati nurani yang murni di hadapan Allah dan manusia.”Ini sesuatu yang penting bagi orang Romawi.
Kemudian Paulus mengatakan sesuatu yang lebih dekat dengan tuduhannya mengenai apa sebetulnya yang terjadi sampai-sampai dia dibawa ke Feliks ini. Dia mengatakan, “Pada hari itu terjadi sesuatu yang sebenarnya biasa banget, yaitu aku datang dari tempat yang jauh membawa bantuan keuangan, bawa duit, buat sumbangan kepada orang-orang miskin di Yerusalem. Itu aku kumpulkan dari orang-orang Kristen, karena aku anggap mereka utang budi terhadap orang-orang Yahudi, berhubung orang-orang Yahudilah yang memberikan mereka firman Tuhan, janji Tuhan kepada Abraham-Ishak-Yakub. Mereka utang budi firman, maka mereka membantu orang-orang miskin di Yerusalem akibat kelaparan, bencana alam, kekeringan, dst. Mereka mengumpulkan uang, lalu aku datang bawa uang, lho. Yang kedua, aku datang bawa persembahan kurban bagi Allah (karena orang Yahudi datang ke rumah Tuhan dengan bawa sesuatu, mempersembahkan kurban). Dan sebelum itu, aku memenuhi syarat juga, yaitu mentahirkan diri.” Mentahirkan diri ini peristiwa objektif, bisa diverifikasi, bukan kayak aku sudah berdoa minta ampun pada Tuhan di kamarku sendiri, aku sudah mengaku dosaku di hadapan Tuhan saja, yang tidak ada verifikasinya. Mentahirkan diri ini ada verifikasinya, perlu di hadapan imam, ada biayanya, dsb.; dan Lukas mencatat bahwa Paulus sudah memenuhi syarat itu semua, ada record-nya.
Paulus itu tidak mencemarkan Bait Suci. Memang orang bisa mencemarkan Bait Suci, misalnya sebagaimana mereka tuduhkan yaitu membawa orang tidak bersunat ke dalam Bait Suci. Yang seperti itu, jadi masalah. Kalau kamu bawa orang bukan Yahudi, yang tidak disunat, ke dalam Bait Suci, dan ketahuan, kamu bisa digorok; mereka menghalalkan darahmu dalam hal ini. Atau, kamu sendiri cemar, karena misalnya masuk ke rumah orang non-Yahudi, tidak mentahirkan diri dulu dan langsung masuk ke Bait Suci, lalu ketahuan dan bisa dibuktikan, kamu bisa digorok juga. Dalam hal ini Paulus katakan, “Aku tidak melanggar itu, jadi apa yang mereka tuduhkan?? Ini semua ‘kan bisa diverifikasi, lalu salah aku apa?” Selanjutnya Paulus lalu mengatakan, “Maybe aku tahulah apa salah aku (bagi mereka), yaitu aku ini berseru soal pengharapan akan kebangkitan yang sudah digenapi di dalam Yesus, menurut aku; dan itu bukan sesuatu yang bidat, itu sesuatu yang masih ortodoks, dalam koridor ortodoksi pengharapan orang Yahudi, karena ‘kan mereka mengharapkan itu. Jadi, kalau aku mengklaim bahwa sudah terjadi semua yang kalian harapkan, yang nenek moyang kita harapkan, itu ‘kan tidak salah apa-apa?? Kalau aku mengatakan yang kalian harapkan tidak mungkin terjadi, itu berarti aku bidat. Tetapi aku ‘kan tidak mengatakan itu, aku mengatakan bahwa yang kalian harapkan sudah terjadi. Dan, hal itu verifikasinya ‘kan sesuatu yang kita bisa lihat, misalnya apakah Yesus memang bangkit, apakah Tuhan memang mengerjakan pada masa kita apa yang Dia janjikan, itu subject to debate-lah, tidak bisa diputuskan di depan bahwa aku menghasilkan/memproklamasikan satu ajaran yang bidat.” Demikian menurut Paulus. Selanjutnya kita lihat tanggapan Feliks.
Babak Ketiga: Ayat 22-27
Dalam babak yang ketiga ini, Lukas beralih ke modus penceritaan sebagai orang ketiga, dan dia hanya mengutip satu kalimat saja dari Feliks. Jadi ini kayak laporan narator, tidak seperti babak pertama dan babak kedua, yang dengan panjang lebar dijabarkan kalimat langsung (direct quote/verbatim) dari Tertulus dan juga Paulus.
Lukas menggambarkan Feliks sebagai orang yang mengerti betul soal Jalan Tuhan (mengerti betul soal Kekkristenan). Jadi Feliks ini orang yang melakukan do diligence, belajar mengenai kearifan lokal dari orang-orang yang dia kuasai. Dia ini seperti gubernur Batavia yang belajar soal Islam, soal tradisi orang Betawi, dst., jadi dia mengerti betul apa yang ada dalam kepala orang-orang Yahudi yang dia kuasai di Yudea.
Feliks ini punya istri yang juga keturunan Yahudi, yaitu Drusila –demikian menurut catatan Lukas. Dalam hal ini, kadang-kadang ada beberapa keraguan yang mengatakan Drusila ini bukan keturunan Yahudi, dia masih keturunan dari Cleopatra dengan Mark Antony. Ini benar juga, karena Feliks punya istri tiga orang, dan yang dua namanya sama-sama Drusila, yang satu Drusila orang Helenis, yang satu lagi Drusila orang Yahudi; dan yang di bagian ini tampaknya Drusila yang kedua, yang pada saat itu usianya kira-kira 21 tahun, masih muda sekali, tetapi sudah janda waktu Feliks menikahinya. Jadi, Feliks ini memang betul-betul mendalami peran dia selama bertahun-tahun menjadi penguasa lokal di sana. Walaupun dia orang Romawi, dia mengerti betul perkara-perkara orang Yahudi. Bahkan dia juga mengerti sampai ke detail perkembangan terakhir, bahwa muncul satu sempalan yang kontroversial yaitu Kekristenan, sesuatu yang disebut oleh musuh-musuhnya sebagai sekte, dan disebut oleh para pengikutnya sendiri sebagai sebuah jalan.
Kita akan sedikit elaborasi dua istilah ini, sekte dan jalan –dikotomi jalan dan sekte– karena nanti ada hubungannya dengan jembatan yang akan saya pakai untuk mengantar drama liturgi kita, yaitu Perjamuan Suci.
Lukas mengatakan bahwa orang-orang yang memusuhi Kristen di bagian ini, seperti Tertulus dan Ananias, menyebut Kristen sebagai sekte. Dalam seluruh Kisah Para Rasul memang ada enam kali muncul istilah sekte (hairesis dalam bahasa Yunani, heresy dalam bahasa Inggris). Misalnya dalam Kis. 5:17, dikatakan orang-orang Saduki itu sekte; jadi Lukas kelihatannya melihat ke-Saduki-an sebagai sebuah sektarianisme. Dalam Kis. 15:5, Farisi juga disebut sebagai sekte oleh Lukas. Lalu Kis. 24:5 ini, Paulus disebut sebagai pimpinan sekte Nasrani dalam tuduhan Tertulus; juga dalam pasal ini ayat 14, Paulus sendiri mengatakannya mengenai yang mereka sebut sebagai sekte. Kis. 26:5, Paulus mengatakan, “Dulu aku juga sekte (hairesis) Farisi.” Lalu Kis. 28:22, ada pembicaraan soal hairesis Kristen ini, dst. yang agak netral. Jadi ada enam kali muncul istilah sekte (hairesis), yang selalu orang lain yang menyebutnya (yaitu mereka yang tidak setuju), baik orang Kristen menyebut orang Saduki atau Farisi, maupun musuh-musuh Kristen menyebut orang Kristen. Sementara istilah jalan, dalam Kisah Para Rasul muncul kurang lebih enam kali juga (atau tujuh kali, tergantung cara hitungnya), yaitu dalam Kis. 9:2, 19:9, 19:23, 22:4, 24:14, 24:22; dan selalu merupakan self-identification, self-labelling, “Saya/kami adalah pengikut Jalan Tuhan.” Bagaimana kita mengaitkan dua hal ini?
Pertama, sehubungan dengan respons Feliks, dia menunda keputusan –dan bagi dia ini nothing to loose juga. Hal yang at stake bagi Feliks adalah jangan sampai ribut-ribut, jangan bikin gaduhlah, karena kalau itu terjadi, bisa-bisa dia diganti. Jadi di sini Feliks kemudian mengatakan, “Dari tadi kamu bilang ini semua gara-gara Lisias, ya, sudah, nanti saya panggil saja Lisias, tetapi mungkin perlu waktu. Nantilah kalau Lisias datang, baru aku putuskan.” Lalu sekarang bagaimana? Dia menyuruh mereka pulang, “Jadi sementara gitu dulu, ya,” –yang dia tidak sebut entah sampai kapan. Intinya, dia mau menunda-nunda. Kenapa? Kelihatannya karena ini perkara kecil bagi dia; dan yang kedua, karena kalau bisa diduitin, kenapa tidak?? Itu sebabnya dia tetap menahan Paulus, tetapi tidak usah keraslah menahannya, dia tidak menganggap Paulus sebagai musuh yang sebegitu berbahaya, maka dia juga persilakan saja kalau teman-teman Paulus mau berkunjung melayaninya.
Selain itu, Feliks sendiri rupanya juga tertarik dengan perkara-perkara tadi, ada ketertarikan dengan agama orang Ibrani dan juga sempalannya, yaitu Jalan orang Kristen. Penggambaran Lukas yang seperti ini quite usual juga, Lukas pernah mengatakan mengenai Herodes yang juga tertarik dengan Yohanes Pembaptis; dan juga di bagian tersebut ada melibatkan istri Herodes juga. Jadi ini kayak motif ‘orang-orang yang sepertinya politis banget, sekuler banget, namun tertarik loh dengan Kekristenan, dengan datangnya Kerajaan Allah’. Ini motif yang usual dalam tulisan Lukas di Kisah Para Rasul, sebagaimana juga di bagian ini mengenai Feliks, dia mengajak istrinya untuk ikut STRIJ-nya Paulus.
Paulus diberi tugas, “Coba jelaskan dong, sebenarnya apa sih mengenai datangnya Kerajaan Allah itu, mengenai apa itu iman Kristen.” Paulus kemudian menjelaskan dan menjelaskan. Lalu sampai pada bab mengenai dikaiosune, mengenai kebenaran, mengenai penguasaan diri, mengenai penghakiman, itu bikin Feliks jadi ogah, ilfil –aduh, hati saya jadi ‘gak tentram, sejahteranya hilang– jadi hilang minat, dan dia bilang, “Sudahlah, lain kali deh,” lalu ganti channel. Dia masih kadang-kadang mengundang Paulus juga untuk berceramah, ngobrol-ngobrol, mainly hanya untuk mengharapkan Paulus beri dia sogokan, meski Paulus bukan orang kaya tetapi dia itu ‘kan banyak pengikut jadi bisa menggalang dana untuk itu.
Feliks berharap Paulus memberi dia uang, namun itu tidak kunjung tiba sampai lewat dua tahun dan Feliks diganti oleh Porkius Festus. Ketika akan pergi, harusnya Feliks juga bisa membebaskan Paulus, karena Paulus di bawah kekuasaannya. Namun kelihatannya dia tidak mau meresikokan hal itu, karena bisa jadi ada demo dari orang Yahudi, maka dia biarkan saja status quo, pura-pura lupa, pura-pura bego, tidak ambil keputusan, lagipula Lisias juga tidak datang, maka ya, sudahlah, sampai akhirnya Feliks diganti oleh Porkius Festus. Porkius Festus juga mirip, baginya yang penting tidak ada kegaduhan, cuan jalan terus, maka dia juga tidak membebaskan Paulus, membiarkan saja di penjara, untuk mengambil hati orang Yahudi –demikian kata Lukas.
Dari sini, kita bisa kaitkan apa, sehubungan dengan urusan sekte dan Jalan Tuhan? Untuk hal ini, saya coba kaitkan dengan 1 Korintus 11. Di situ Paulus mengatakan kalimat yang kita sering kutip dalam Perjamuan Suci, bahwa kamu makan roti ini dan minum anggur ini, kamu memperingati dan memberitakan soal kedatangan-Nya, dst. Perkataan tersebut ada konteksnya. Apa konteksnya? Konteksnya adalah adanya suatu masalah yang jadi concern Paulus, yaitu dia menemukan ada perpecahan –ada hairesis, sektarianisme– sebagai jemaat, dan di antara jemaat (ayat 18-19), lalu dia kemudian mengelaborasi soal apa hairesis-nya. Rupanya, ini mengenai ada orang yang membawa makanan sendiri dan menghabiskannya sendiri bersama geng-nya sendiri, sementara ada orang-orang lain yang ketinggalan, di-eksklusi, tidak diajak merayakan persaudaraan dalam Yesus, sehingga orang-orang itu tetap lapar dan jadi terhina. Di situ Paulus kemudian mengatakan, “Apa kamu tidak punya rumah?? Rumahmu ‘kan gede-gede, kalau mau pesta, silakan pesta sendiri di rumah. Kamu jangan menghina jemaat Allah. Kamu harus menguji diri, kamu harus merayakan perjamuan Tuhan di hari Tuhan dengan mengakui Tubuh Tuhan. Kamuharus memeriksa hati nuranimu supaya hidup selaras dengan hati nuranimu.”
Memeriksa diri di sini maksudnya apa? Dalam tradisi devosi, ini sering dipahami begini: Itu lho, Pak, kita harus mengaku dosa, menyiapkan hati; dan saya kesal banget kemarin di parkiran ada orang motong antrian, mobil saya yang sudah mau parkir eh diambil dia dengan semena-mena, rasanya sudah kepingin saya ajak berantem, tetapi langsung ingat besok mau Perjamuan Kudus. Jadi waktu di gereja lewat Rotinya, saya ‘gak jadi ambil, karena ingat kemarin sudah mau tonjok orang, dst.
Bukan seperti itu yang dimaksud Paulus ‘memeriksa hati’ dalam konteks 1 Kor. 11; memeriksa hati di sini ada hubungannya dengan sektarianisme, hairesis, perpecahan, yang justru di-highlight oleh Perjamuan Kudus. Dan, kalau orang melakukan itu, dia mendatangkan hukuman dari Tuhan atas dirinya, dan itu tujuannya edukatif, dididik untuk mereka bertobat dari jalan yang salah, dan pada akhirnya berkumpul dengan saling menunggu, bukan berkumpul untuk dihukum tetapi berkumpul untuk menikmati berkat-berkat Tuhan. Berkat apa yang terutama? Tentu bukan makan dan minumnya itu sendiri –itu juga termasuk– melainkan terutama adalah kebersamaan, kesehatian, antitesis dari hairesis, karena dalam Perjamuan Tuhan ini diundang semua orang.
Baik para penganut Two Kingdoms (Dua Kerajaan) maupun One Kingdom, para pendukung orang-orang seperti Cornelius Plantinga maupun Cornelius van Til maupun juga Cornelis van der Kooi, diundang bersama-sama ke dalam meja Perjamuan Tuhan. Orang-orang yang Reformed maupun yang Lutheran, orang-orang yang percaya postmil (postmilenialisme) maupun premil (premilenialisme) maupun amil (amilenialisme). Orang-orang yang percaya bahwa Kerajaan Allah sudah datang dalam Yesus –dan untuk memahami Yesus maka penjelasan yang paling the best adalah Trinitas– dan mengakui Trinitas itu, mereka diundang bersama-sama untuk merayakan ini, merayakan datangnya Kerajaan Allah. Barangsiapa percaya kepada Injil, baik kamu kaya maupun miskin, baik kamu laki-laki maupun perempuan, baik kamu orang yang masih kental sekali chauvinisme ataupun seorang white angry feminist, baik kamu penganut egalitarianisme ataupun penganut komplementarianisme, baik kamu orang yang pro pada politik hijau (green policies) ataupun orang yang kurang peduli dengan lingkungan namun somehow genuinely percaya akan datangnya Kerajaan Allah dalam Yesus, kamu diundang untuk berbagian makan di meja perjamuan ini. Baik kamu orang Kristen yang kanan ataupun kiri atau apapun, kamu diundang untuk berbagian dalam Meja Perjamuan ini.
Meja Perjamuan ini bukan mencerai-beraikan, bukan menjadikan kita merayakan sektarianisme —kita berkumpul di sini karena kita bukan itu, kita reformed-nya murni ‘gak kayak mereka itu reformed kompromis, kita reformed-nya klasik sedangkan yang sana itu neo-Calvinist, atau kita Calvinist sedangkan yang di sana itu reformed-nya kolot dan kurang paham perkembangan terbaru dan kurang progresif—bukan demikian, melainkan kita merayakan bahwa kita semua, yang mendapati hati kita strangely terbujuk akan datangnya Kerajaan Allah dalam Yesus, diundang untuk berbagian dalam Tubuh Kristus yang satu itu. Kita merayakan hari ini, merayakan kebersamaan kita sebagai umat yang dipanggil dari berbagai bangsa di dalam Yesus untuk menjadi saudara.
Orang-orang seperti Feliks, sepertinya merespons ini, merespons dengan rasa ingin tahu, namun hanya sampai satu titik saja. Sampai pada satu titik itu, berhalanya kemudian menghalangi dia karena kenyamanannya terganggu. Inilah orang-orang Kristen yang datang ke gereja, barangkali suka membaca buku apologetik, suka baca buku teologi, mungkin buku-buku Louis Berkhoff dia sudah baca habis, dst., tetapi cuma sampai satu titik saja. Pada titik di mana saya harus merendahkan ego saya, coba menjalin persahabatan atau setidaknya berkomunikasi dengan orang-orang yang berlawanan teologi atau ideologi dengan saya, ya, saya tidak sudi; itu kaum mereka, ini kaum kami. Sekolah teologi kami harus lebih hebat daripada mereka. Lihat saja, mereka sekarang peringkatnya sekian, jadi sekolah teologi kami jangan sampai ketinggalan. Dan seterusnya, dan seterusnya. Ini sektarianisme. Dan, remedi-nya adalah makan bersama-sama, kita merelatifkan segala yang kita anggap penting namun bukan paling penting itu.
Yang kita anggap paling penting barangkali bahwa gereja saya, ideologi saya, golongan saya, yang harus kelihatan sukses, kelihatan kontributif dan setia kepada Kerajaan Allah, jangan sampai pihak sebelah yang lebih kelihatan bersumbangsih atau mentereng. Ini sektarianisme, ini tidak ada tempatnya; dan, mungkin inilah yang kita harus tanggalkan. Sebagaimana juga Feliks harus menanggalkan rasa tidak nyamannya, dia harusnya dia menyangkal dirinya memikul sallibnya, dan mengikut Yesus, kalau dia mau sungguh-sungguh mencari tahu dan sungguh-sungguh berbagian dalam datangnya Kerajaan Allah itu, yang merupakan jalan, bukan sekte/hairesis. Kalau sekte, itu tidak mempertimbangkan suara-suara lain. Dia akan puas diri, puas hidup dalam echo chamber dia, hidup dalam bias konfirmasi dia, tidak mencari tahu jangan-jangan saya/kami salah selama ini, selalu pikir itu ‘kan katanya pihak neo calvinist, itu ‘kan katanya pihak neo perspective, itu ‘kan katanya pihak … dst., itu semua sesat. Tetapi kalau kita tidak sektarianis, kita akan mempertimbangkan apapun yang barangkali bisa membuat kita lebih paham teks yang sudah beribu-ribu tahun diwarisi oleh gereja, kita tidak akan dari awal langsung mengatakan tidak padahal kita belum memeriksa isinya atau pemberitaannya (seperti respons dari orang-orang Farisi atau Saduki yang dipanggil Yesus untuk bertobat dari jalannya, berbalik dari yang selama ini sudah mereka jalani).
Itu sebabnya orang Kristen dipanggil sebagai pengikut jalan itu, sebab mereka dipanggil untuk mengikuti sebuah perjalanan, yang mereka tidak tahu mereka akan jadi apa, what you will become, tidak di-disclose di depan. Kamu ikut perjalanan ini, dan kamu nanti jadi apa, belum tahu, ikut dulu dengan Yesus, ikut dulu dengan datangnya Kerajaan Allah ini. Tidak demikian dengan sekte; sekte itu luring in kita, dan tidak pernah ada jendelanya, di dalam sekte kita tidak boleh mendengar suara-suara alternatif. Saya kira kita perlu meninggalkan sikap seperti itu, sikap sektarianisme. Sekte, itu tujuannya adalah memenangkan opini kamu; sedangkan persekutuan yang sehat, tujuannya adalah membawa kamu dalam perjalanan bersama Yesus, mengikuti Jalan itu, bersama-sama kita berjalan seiring dengan Yesus, dalam era yang baru, era Kerajaan Allah. Dan, kita tidak mengklaim bahwa kita tahu dari A sampai Z, kita tidak mengklaim bahwa kita tahu segala-agalanya —kita tidak mengklaim posisi Tuhan. Namun kita menyadari, dan bersyukur, dan mengakui, bahwa Roh bekerja dalam hati kita sehingga kita bisa melihat Yesus sebagai pemenuhan dari datangnya Kerajaan Allah itu.
Saya kira inilah yang penting untuk kita bisa sadari dari tuduhannya Tertulus, dan pembelaannya Paulus, dan juga respons dari Feliks, yang dibungkus (di-framing) oleh Lukas untuk menyatakan kepada kita bagaimana Kerajaan Allah itu datang, menghadapi banyak tantangan, namun tidak pernah terblokir. Kerajaan Allah terus-menerus datang, terealisasi tanpa pernah bisa dicegah, tanpa pernah bisa dihentikan, unstoppable kingdom. Itulah yang mau digambarkan Lukas dalam pasal 21-28; dan kita sekarang berada di tengah-tengahnya. Lukas menjelaskan bagaimana orang-orang Yahudi ingin picturing Kekristenan sebagai pembuat huru-hara, sebagai yang menghasilkan kekacauan dalam lingkaran Romawai, namun Romawi sendiri, setelah memeriksa perkaranya, tidak mendapati begitu. Romawi sendiri tidak mendapati orang-orang Kristen ini salahnya di mana, hanya saja mereka banyak yang tidak mau ikut Kristen juga –ya, tidak apa-apa juga. Setidaknya itulah case yang ingin di-build up oleh Lukas.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading