Kita sedang dalam pembahasan Khotbah di Bukit; dan kita sudah melihat bahwa Injil tidaklah simplistik, Injil tidak cuma urusan kamu diterima apa adanya. Bahkan dalam aspek tersebut pun ternyata lebih dalam dibandingkan yang kita kira selama ini, yaitu bahwa anugerah datang ke tempat kita berada sekarang, tidak tunggu kita naik level dulu. Ini berarti anugerah Kerajaan Surga sering kali datang di dalam –bahkan kadang-kadang melalui– kemiskinan, dukacita, penolakan, penganiayaan. Ini aspek pertama yang kita mungkin pikir enak namun ternyata tidak sebegitu enaknya, karena kita tidak percaya Injil yang seperti itu, kita kepinginnya anugerah yang datang lewat mengusir kemiskinan, mengusir dukacita, yang jelas bukan di dalam dan melalui mereka. Namun demikian kita sadar sih, benar juga anugerah musti kayak begini, anugerah yang bukan tunggu happy dulu, tunggu ada uang dulu, baru bisa datang. Justru anugerah yang datangnya melalui semua itu, barulah anugerah. Itu sebabnya tidak heran anugerah ini datang, dan sering kali melalui, hal-hal yang kita pikir tidak enak itu.
Belum selesai dengan aspek pertama ini, ada aspek kedua dari Injil, yaitu ketika anugerah ini datang, ini bukan cuma membawa kita masuk ke dalam Kerajaan Tuhan, ini membawa kuasa Kerajaan Allah datang di atas kita. Ini berarti paradoksnya adalah: anugerah Tuhan memang datang dengan tidak tunggu hidupmu berubah dulu, tetapi ketika datang, anugerah ini tidak puas kalau hidupmu sama terus, anugerah ini menuntut hidupmu berubah, engkau harus mengubah hidupmu –dalam anugerah ini– karena engkau pindah kewarganegaraan, pindah kerajaan. Ketika presiden baru naik, hidupmu pasti berubah; dan perubahan tersebut celakanya juga bukan berdasarkan standar hidupmu, melainkan berdasarkan standar si presiden, standar raja kerajaan tersebut.
Kalau di dalam dunia, ketika ada kerajaan baru dan hidup jadi berubah, berubahnya itu sesuai dengan standar dari orang-orang yang menang. Misalnya ada kerajaan baru atau rezim politik yang baru, maka orang-orang yang tadinya tertindas sekarang hidupnya berubah jadi penindas, menindas orang-orang yang dulunya menindas dia. Tetapi dalam Kerajaan Surga, memang benar ada perubahan, orang-orang yang tadinya tertindas di bawah injakan dunia sekarang berubah, namun mereka diubah untuk diutus bagi dunia, menjadi terang dan garam bagi dunia. Jadi, orang-orang yang tadinya korban kejahatan dunia, sekarang diubah jadi orang-orang yang mengorbankan diri mereka bagi dunia. Dari korban, menjadi orang yang mengorbankan diri. Berubah, ya, tetapi bukan berubah sesuai keinginan kita. Lain banget. Bad news banget, ya. Kenapa bisa kayak begini? Karena Rajanya. Rajanya ini bukan menolak Taurat, tetapi juga bukan simply ikut-ikutan Taurat; Rajanya ini akan menggenapkan Taurat –maka lain banget. Itu sebabnya warganya juga lain banget.
Relasi-relasi (rigtheousness) mereka akan begitu lain, dan saking lainnya, orang-orang warga Kerajaan yang baru ini akan bikin orang-orang yang selama ini kita pikir ekstrim jadi kelihatan moderat. Umat Tuhan akan membuat orang-orang yang kelihatannya ekstrimis jadi cuma ekstrim sebagian tok, tidak benar-benar ekstrimis. Contohnya apa? Di sinilah Yesus memberikan kita enam studi kasus mengenai seperti apa kelihataanya righteousness (relasi) yang sekarang benar-benar ekstrim, relasi-relasi Kerajaan Surga ini.
Yang pertama, yang paling dasar dari semua relasi manusia, mengenai bagaimana kita melihat hidup orang lain, bagaimana kita menganggap nyawa orang lain (kita sudah bahas minggu lalu). Kalau dalam dunia, orang dihakimi simply soal apakah dia melukai/ membunuh orang atau tidak, sedangkan dalam Kerajaan Surga etikanya jauh melampaui itu, karena yang penting bukan hasil akhirnya doang (pembunuhannya), melainkan apa bibitnya. Kenapa begini? Sekali lagi, karena anugerah. Karena di dalam Alkitab, dalam Kerajaan Surga, nilai nyawa seseorang bukan lahir karena kemampuannya/ pencapaiannya, dan nilai hidup seseorang juga bukan turun karena kebodohan/ kegagalannya; nilai nyawa seseorang datang dari Tuhan, anugerah. Hanya karena kita ini gambar dan rupa Allah sajalah maka kita berharga, otherwise kita cuma debu tanah, demikian kata Alkitab –anugerah. Oleh karena itu, kalau kita mengambil ini sebagai prinsip dasar hidup kita, berarti sikap hati kita terhadap orang lain apakah menganggap enteng nyawa orang lain simply karena mereka melakukan manuver-manuver traffic yang bikin kita langsung bilang, “Bego, lu!” dsb.?? Atau, kita menjadi orang yang waktu mau teriak seperti itu, kita menyadari, tunggu-tunggu, perbedaan saya dengan mereka itu hanya anugerah, that’s it; kalau privilege-ku selama ini diambil dan diberikan kepada mereka, memang bedanya apa?? Mungkin beda juga, mungkin mereka lebih baik.
Itu sebabnya implikasi dari relasi seperti ini, relasi yang melihat nyawa orang lain atas dasar anugerah semata-mata, adalah: rekonsiliasi menjadi hal nomer satu yang kita paling kejar dalam dunia ini. Bukan harta, melainkan rekonsiliasi, baik dengan saudara seiman maupun musuh di luar, baik ketika kita yang salah atau pun ketika orang lain yang salah. Inilah relasi dasar manusia dalam Kerajaan Surga; dan kita baru sadar, memang benar ini juga bagian dari good news-nya. Good news banget standar seperti ini. Kita baru sadar ini standar yang kita perlukan. Bayangkan dunia yang orang-orangnya saling mengajak rekonsiliasi satu dengan yang lain, betapa itu bukan dunia yang cuma tidak ada pembunuhan lagi, tetapi juga dunia yang sungguh menghidupkan. Benar juga, ya, ini good news-nya, bahwa hal yang kita enak, ternyata tidak enak; sebaliknya hal yang kita pikir tidak enak, ternyata sesuatu yang kita sangat butuhkan. Itu sebabnya kita butuh baju-baju yang kegedean ini. Ini anugerahnya, ini good news-nya. Saudara dipanggil untuk berbagian dalam komunitas yang demikian. Bukan sekadar ikut-ikutan, tetapi menjadi pionir-pionirnya, padahal siapa kita?? Kembali lagi, anugerah. Tuhan yang memberikan bajunya, akan memberikan pertumbuhannya juga. Demikian pembahasan kita sejauh ini.
Hari ini kita melanjutkan studi kasus yang kedua, mengenai perzinaan. Pembahasan ini cukup kompleks, maka saya bagi jadi dua, hari ini dan minggu depan. Hari ini kita perlu membereskan satu per satu dulu lensa untuk melihat apa sih yang dimaksud dengan perzinaan; bagaimana Alkitab melihatnya selama ini, dan baru setelah itu kita bisa melihat apa yang jadi penggenapannya dalam diri Yesus. Jadi hari ini kita cuma mau membahas apa maksudnya ‘jangan berzinah’, dan kenapa ini penting bagi Alkitab, seberapa ini penting dalam Perjanjian Lama; baru setelah itu kita bisa melihat sebabnya Yesus mengatakan hal-hal yang Dia katakan di bagian ini.
Pertama, apa yang dimaksud dengan perzinaan atau na’aph dalam bahasa Ibrani. Bagian Matius ini aslinya tentu bahasa Yunani, namun kita tahu ini merujuk pada perintah ketujuh Hukum Taurat, yang memakai istilah na’aph. Na’aph dalam bahasa Ibrani artinya melanggar janji nikah orang lain, itulah yang disebut berzina.
Berzina berarti menghancurkan janji nikah orang lain, merusak ikatan kovenan nikah orang lain. Yang dimaksud orang lain itu bisa istri/suami kita –yang berarti janji nikahnya kita juga– namun basically kita menghancurkan janji nikahnya orang lain. Ini direction yang sangat penting, karena perintah ini terutama sedang membahas relasimu, righteousness-mu, dengan sesama manusia dalam Kerajaan Surga. Ini bukan perintah yang utamanya bicara mengenai etika seks pribadi tok. Kita sering kali membaca perintah ketujuh berkenaan dengan urusan pernikahan kita atau kesucian kita sendiri; tetapi Saudara perlu melihat bahwa etika seks pribadi menurut Alkitab, itu datangnya dari concern terhadap orang yang di luar, bagi orang lain terlebih dulu, yaitu jangan melanggar ikatan janji/kovenan kesucian nikah orang lain. Kita bisa lihat ini lebih jelas lewat memperhatikan beberapa konteks dalam Perjanjian Lama.
Yang pertama, yang paling immediate, adalah dari Taurat itu sendiri. Dalam Hukum Taurat, perintah jangan berzina sesungguhnya muncul dari tiga perintah yang mirip banget. Perintah keenam: jangan membunuh; perintah ketujuh: jangan berzina; perintah ke delapan: jangan mencuri. Ini tiga perintah yang kalau Saudara perhatikan seluruh Hukum Taurat, ketiganya ini lain sendiri, karena singkat banget sementara perintah-perintah yang lain panjang. Contohnya, Jangan mengucapkan nama Allah dengan sembarangan, karena begini, begini, dan begitu, begitu; Kuduskanlah dan ingatlah Hari Sabat, karena Tuhan menciptakan dunia ini dalam enam hari, dan beritirahat pada hari ketujuh, dst. –panjang lebar. Sedangkan perintah keenam, ketujuh, kedelapan singkat banget: Jangan membunuh; Jangan berzina; Jangan mencuri. Itu sebabnya para ahli Alkitab mengajak kita untuk menyadari, jangan-jangan ada satu makna tertentu yang kita baru dapatkan ketika kita memperhatikan ketiga perintah ini bersama-sama; yaitu apa?
Pertama-tama, Saudara jadi sadar semua perintah ini sedang membahas mengenai relasimu dengan orang lain, bukan dengan diri sendiri; mengenai relasimu dengan sesama manusia. Dari tiga hal ini, ada semacam urutan. Hal pertama yang paling penting dalam relasimu dengan orang lain adalah engkau harus menghargai nyawa mereka. Lalu hal kedua yang paling berharga setelah nyawa seseorang, ternyata bukan harta mereka melainkan relasi ikatan nikah mereka. Setelah itu baru yang keriga, mengenai harta kepemilikan mereka, yang kamu juga harus hargai; dan sebabnya harta juga harus dihargai, karena ada hubungannya dengan kehidupan. Yang pertama tadi, soal nyawa itu sendiri, bagaimana engkau berelasi dengan kehidupan orang lain, bagaimana engkau menjaga kehidupan orang lain, yaitu dengan jaga nyawanya. Yang kedua, jaga ketika ada ikatan antara nyawa orang lain dengan nyawa orang lain (ikatan janji nikah). Yang ketiga, jaga harta mereka, karena harta mereka adalah hal yang mendukung kehidupan mereka, mendukung nyawa mereka ini.
Saudara lihat, pertama ini fokusnya sangat ke luar; dan yang kedua, ada urutannya. Itu sebabnya ini beresonansi bukan cuma dalam Hukum Taurat tetapi juga dalam seluruh Alkitab. Dalam Matius 5, Saudara lihat Yesus membicarakan perzinaan persis setelah urusan pembunuhan, urusan bagaimana kita memandang nyawa orang lain. Kayaknya bukan kebetulan dua hal ini digandengkan bersama-sama, ada hubungan yang erat di dalam Alkitab antara ikatan nikah seseorang dengan nyawa mereka.
Kalau melihat lebih banyak lagi konteks dari Hukum Taurat, Saudara akan lihat ini lebih jelas. Misalnya, hukum jangan berzina ini ‘kan dikembangkan oleh Kitab Imamat; dan dalam Kitab Imamatdiberitahu penaltinya kalau ada orang yang berzina, yaitu hukuman mati –mengandung urusan nyawa. Ini berarti ada something mengenai pelanggaran ikatan nikah antara dua nyawa, yang dekat banget dengan urusan nyawa, sehingga kalau engkau melanggar ini, penaltinya sama seperti seakan-akan engkau mengambil nyawa mereka. Dalam membahas perintah jangan membunuh, kita sudah membicarakan sebabnya kita tidak boleh membunuh adalah karena kita diciptakan dalam gambar dan rupa Allah, nilai nyawa kita tidak terhingga, dan dengan demikian kalau kita mengambil nyawa orang yang tidak terhingga nilainya itu, yang bisa bayar bukan penjara atau uang (harta) melainkan nyawa juga, nyawa kita, tidak bisa ada pengganti yang lain. Misalnya kalau Saudara kehilangan cincin kawin, tidak sengaja ter-flush dalam toilet, lalu apa bisa digantikan dengan sekadar bikin yang baru? Tidak bisa ‘kan, karena nilainya bukan sekadar harga emasnya. Seperti inilah nilai nyawa. Namun, bukan cuma nyawa ganti nyawa, ternyata perzinaan juga gantinya nyawa. Ada hubungan yang sangat erat antara pernikahan dengan nyawa seseorang.
Omong-omong, waktu kita menghargai Firman Tuhan seperti ini, bukan berarti kita jadinya bilang, “Oke, Pak, saya tahu yang harus saya lakukan, saya harus memburu orang-orang gereja yang berzina dan membunuh mereka.” Tidak demikian; Alkitab itu kitab bijaksana, Taurat artinya instruction, pengajaran, bukan Hukum KUHP. Buktinya misalnya kalau Saudara baca Injil Yohanes dalam kasus Yesus dihadapkan dengan perempuan yang berzina. Saudara lihat di situ, dalam satu aspek, orang-orang Israel itu tidak menjalankan hukum dalam Imamat tadi secara hurufiah, buktinya mereka cuma bawa yang wanita, sedangkan dalam Imamat dikatakan yang wanita harus dihukum mati dan yang pria juga harus dihukum mati. Saudara bisa saja argue, “Itu karena mereka orang-orang bejat, Pak, kita tidak ikut standar mereka.” Ya, benar, tetapi apa respons Tuhan Yesus di situ? Yesus tidak serta-merta mengatakan, “Mana cowoknya? Jangan cuma bawa yang cewek, ayo bawa yang cowok juga!” lalu tembak dua-duanya, mati. Bukan itu tindakan Tuhan Yesus; bahkan Tuhan Yesus tidak juga menghukum yang cewek.
Lewat gambaran seperti ini, kita jadi sadar, waktu teks Imamat diberikan, bahwa hukuman atas perzinaan adalah hukuman mati, perhaps ini bukanlah urusan KUHP, maka jangan dibaca seperti itu. Hal yang mau dikomunikasikan di sini bukanlah sekadar urusan mati atau tidak mati, hukumnya iya atau tidak, dsb.; yang sedang mau dibangun dalam bijaksana di sini adalah: lewat menstimulasikan hukuman mati bagi para pezina, Alkitab menyatakan seberapa seriusnya pernikahan di hadapan Tuhan, bahwa keutuhan janji nikah orang lain sama vitalnya bagi kehidupan, sama seperti engkau menjaga nyawa seseorang. Itu sebabnya kalau engkau melanggar janji nikah antara dua nyawa, itu as if engkau telah membunuh mereka; dan dengan demikian mengikuti logika perintah keenam bahwa membunuh orang itu nilainya tidak terhingga, maka yang bisa menggantikan cuma nyawamu juga yang tak terhingga. Ujungnya, tangung jawabnya bukan sekadar pada si pria atau si wanita, si suami wanita itu atau si istri pria itu, melainkan juga pada orangnya sendiri, nyawanya sendiri, sehingga ultimately juga kepada Tuhan. Itulah yang Saudara baca dalam Alkitab Perjanjian Lama.
Tidak selesai sampai di situ, kita melihat koneksi terus-menerus antara dua hal ini, nyawa dan ikatan antar nyawa. Keduanya ini sangat dikaitkan. Ikatan nyawa dalam pernikahan sangat dikaitkan dengan nyawa manusia, antara perzinaan dan pembunuhan. Kita ingat kisah Yusuf digoda oleh istri Potifar lalu dia menolak. Perhatikan bagaimana Yusuf menolak relasi seks dengan istri Potifar, apa yang Yusuf katakan, yaitu dia mengatakan, “Potifar sudah memberi aku, seorang budak, jadi manajer. Tidak satu pun yang dia tahan dariku, kecuali kamu, maka aku tidak mungkin melakukan hal itu terhadap dia, aku tidak mungkin merendahkan dia seperti itu.” Ini etika Yesus Kristus, membunuh itu mulainya dari merendahkan. Yusuf sadar, urusan perzinaan itu dekat dengan urusan nyawa seseorang, “Aku tidak mau merendahkan Potifar, aku tidak mau membawa dishonour terhadap nama Potifar, mana mungkin aku melakukan seperti itu.” Saudara lihat, perzinaan ada hubungannya dengan harkat martabat seseorang; dan harkat martabat seseorang ada hubungannya dengan nyawanya, dengan bagaimana kita memandang nyawa dia. Yang menarik, setelah itu Yusuf mengatakan, “Dan, aku tidak mungkin melakukan kekejian seperti ini terhadap Tuhan.” Saudara lihat koneksinya, dari perzinaan kepada pembunuhan; dan kalau sudah soal pembunuhan, ujungnya adalah urusan gambar dan rupa Allah, ujungnya dosanya adalah kepadaTuhan. Perzinaan dan pembunuhan, perzinaan dengan nyawa seseorang, sangat erat.
Dalam cerita Daud lebih jelas lagi, karena waktu dia berzina dengan Batsyeba, dia benar-benar melanggar dua-duanya. Dia berzinah (dengan Batsyeba), dan dia membunuh (Uria). Belakangan, ketika hal ini dikonfrontasi oleh Nabi Natan, apakah dia mengatakan, “Aku telah berdosa kepada Batsyeba” ? Tidak. “Aku telah berdosa kepada Uria” ? Tidak. Daud mengatakan, “Aku telah berdosa kepada Yahweh.” Dalam hal ini Saudara jangan bacanya either or. Ada beberapa kaum feminis dalam hal ini yang mengatakan, “Lihat, Alkitab itu parah, jelas-jelas bersalah kepada wanitanya malah wanitanya dilupakan, Daud cuma bilang bersalah kepada Tuhan.” Please, Saudara, ini kitab bijaksana, Saudara membaca Alkitab diundang untuk mikir, bukan sekadar nyatet. Oleh karena itu, waktu Saudara baca Daud mengatakan seperti itu, semua orang juga tahu dia berdosa terhadap Batsyeba dan terhadap Uria (terhadap Uria juga ya, hai para kaum feminis, tidak cuma Batsyeba). Namun yang menarik, ketika Daud mengakui kesalahannya, dia basically sedang mengatakan ‘aku telah berdosa kepada Allah, lewat aku berbuat dosa terhadap Batsyeba dan Uria’. Ini bisa dibilang sudah taken for granted, jadi jangan kita asumsikan penulis Alkitab itu bego. Kita bisa lihat ada hubungan yang erat antara pembunuhan dengan tanggung jawab akan Tuhan; dan ternyata juga dikaitkan berikutnya dengan perzinaan. Itu sebabnya kedua perintah ini datangnya selalu berbarengan, dalam cerita-ceritanya sering kali berbarengan.
Satu koneksi lagi, yaitu konteks zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Saudara musti tahu, Alkitab sangat memandang tinggi kesucian pernikahan. Itu bisa kita lihat jelas lewat perbandingan antara culture Alkitab dengan culture sekitarnya. Dalam zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, yang namanya prostitusi (pelacuran) itu dianggap lumrah, normal, bagi pria. Saudara lihat misalnya tokoh besar seperti Yehuda, bapak bangsa Israel. Dia pernah datang ke tempat pengirikan, pesta, minum-minum, lalu setelah itu dia cari pelacur. Ini diceritakan lewat begitu saja, seakan-akan itu sesuatu yang lumrah –dan memang lumrah dalam zaman tersebut. Pada zaman itu anggapannya adalah: seorang pria perlu diberi sebanyak mungkin kesempatan untuk memuaskan nafsu seksnya, sedangkan wanita tidak. Kalau wanita mau dianggap baik-baik pada zaman tersebut, dia harus setia pada pasangannya, satu saja. Inilah dunia tempat cerita Alkitab ada. Dan, di tengah-tengah culture yang seperti itu, perintah untuk tidak berzinah tentu sangatlah surprising, karena ini basically berarti soal seks di luar nikah, satu hal yang dianggap lumrah zaman tersebut.
Omong-omong, ini termasuk juga pada zaman sekarang, lihat saja misalnya fenomena pornografi, dan juga seberapa media massa sudah sangat di-seksualisasi. Adalah lumrah bagi kita sekarang, melihat artis-artis K-Pop dan yang lainnya, menarik orang lewat seksualitas –di luar pernikahan. Justru mungkin bagi kita tidak lumrah jika ada artis K-Pop yang pakai baju tertutup semua, itu aneh, tidak bakal laku yang kayak begitu. Demikian yang lumrah dalam budaya kita, as much as zaman seperti di Alkitab itu. Namun lihat, dalam dunia yang seperti ini –dunia dari dulu sampai sekarang– yang menganggap seks di luar nikah lumrah-lumrah saja, betapa Alkitab menganggap seks di luar nikah sebagai satu hal yang melanggar rajutan dasar alam semesta, bahkan nyawa manusia.
Intermezzo sedikit. Tadi kita mengatakan bagi zaman Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, seorang wanita dituntut untuk setiap pada pasangannya, sedangkan yang laki-laki tidak. Saudara ingat, ya, perintah Tuhan Yesus ini diberikannya terutama kepada para cowok; “Barangsiapa memandang perempuan”, berarti ini bicara kepada para cowok secara terutama. Nanti kita akan argue bahwa tidak selalu cuma itu, para cewek juga ada problem seperti itu, dsb., namun paling tidak secara terutama diberikan kepada para pria. Ini berarti perintah tersebut seradikal apa? Ini berarti perintah tersebut sedang mengatakan, “Hai para pria, engkau harus jadi seperti wanita baik-baik.” Seradikal itu. Banyak orang pikir Alkitab itu patriarchal, tidak mendukung hak-hak wanita, dst.; tetapi baca lagi deh, belajar lebih banyaklah. Perintah tersebut ekuivalennya pada zaman ini seperti mengatakan, “Hai para pria, dalam Kerajaan Surga kamu semua harus seperti ibu-ibu rumah tangga yang cakap mengatur rumah, menurus anak dan mengganti popok.” Seperti itulah kira-kira kedengarannya kalau di zaman kita hari ini, bahkan lebih lagi. Dan, basically inilah yang kita lihat dalam Alkitab.
Satu intermezzo lagi –karena saya ingin menekankan bahwa Alkitab adalah kitab bijaksana– jangan sampai Saudara jatuh ke ekstrim satunya lagi. Kita sudah lihat dunia begitu lumrah terhadap seksualitas di luar nikah, sementara Alkitab ternyata sangat menjunjung tinggi seksualitas, menjaga seksuatitas, tidak boleh di luar nikah. Dalam hal ini, kita bisa jatuh ke ekstrim satunya lagi, menjadi budaya kristen-kristenan yang karena memandang rendah pelacuran lalu memandang rendah pelacur-pelacurnya juga. Alkitab tidak pernah sesimpel itu. Waktu sebuah budaya memandang rendah para pelacur –yang biasanya Wanita–sesungguhnya tidak semua para pelacur itu memilih pelacuran karena kepingin, banyak yang memilih pelacuran sebagai simply jalan terakhir. Kita tahu realitas dunia seperti itu. Banyak dari antara mereka memilih pelacuran gara-gara para pria. Misalnya, dalam zaman Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, ketika seorang wanita diceraikan oleh pria, dalam zaman yang patriarchal seperti itu, hanya tersisa sedikit opsi bagi wanita tersebut untuk mencari nafkah, kecuali dengan melacurkan diri. Itu sebabnya, in some sense di dalam Alkitab ada sikap yang sangat anti terhadap pelacuran, and yet dalam kitab yang sama tokoh-tokoh pelacur diangkat oleh Alkitab. Siapa hero pertama yang ditemui bangsa Israel waktu mereka masuk ke tanah perjanjian di bawah Yosua? Tokoh pelacur, seorang bernama Rahab. Betapa tidak disangka-sangka, bahwa Rahab itulah tokoh hero yang dipakai Tuhan untuk melancarkan serangan orang-orang Israel, melindungi mata-mata Israel dari orang Yerikho. Ini sangat dikontraskan dengan cerita berikutnya, Dosa Akhan. Siapa Akhan ini? Orang Israel, yang malah berdosa, lagipula cowok; sementara cerita pertamanya malah seorang pelacur yang dipakai Tuhan –dan wanita. Saudara lihat, inilah sebabnya jangan menghindari ketegangan dalam Alkitab; justru salah satu keindahan dari Alkitab adalah penuhnya ketegangan-ketegangan, kompleksitas-kompleksitas, seperti ini, karena inilah yang membuat Alkitab itu kitab bijaksana, bukan simply KUHP. Tidak sesimpel itu membaca Alkitab. Kita diundang untuk berpikir, dalam menjelajah Alkitab.
Kita lanjutkan. Kita sudah melihat bahwa pernikahan, relasi seksual dalam pernikahan, di dalam Alkitab dijaga sekali, sangat penting, dijunjung tinggi sampai-sampai disandingkan dengan urusan nyawa; kalau melanggar ini, maka penaltinya adalah nyawa. Sampai sebegitunya. Menjaga keutuhan ikatan nikah dalam sebuah komunitas, itu sama vitalnya dengan melindungi nyawa manusia, maka tanggung jawabnya kepada Tuhan, bukan cuma kepada suami atau istri yang dengannya kamu berzina. Ini berarti bagi Alkitab, urusan relasi seks adalah sesuatu yang sakral. Pertanyaannya, kenapa relasi seks dalam Alkitab adalah sakral?
Pertama kita bahas apa yang bukan jawaban Alkitab. Namun sayangnya inilah sering kali yang merupakan jawaban dari banyak orang Kristen, yaitu seks dijaga seperti engkau menjaga sampah, seks dijaga karena seks itu kotor. Bagaimanapun juga kita perlu berurusan dengan sampah, kalau tidak, kita tidak bisa hidup. Kita tidak boleh cuek dengan sampah, tetapi sampah itu berbahaya dan jelek pada dirinya sendiri. Itu sebabnya kita mengolah sampah, mengatur sampah, tetapi kita mati-matian jangan dekat-dekat sampah. Ini semacam menjaga, namun menjaga yang datang dari alasan yang sangat negatif. Inilah cara banyak orang Kristen memandang seks.
Dalam hal ini, dua contoh argumen yang sering kali diambil orang Kristen. Yang satu, argumen yang diatributkan kepada Thomas Aquinas, entah benar atau tidak. Konon Thomas Aquinas, seorang tokoh Kristen, melarang perzinaan karena para pezina itu melakukan hubungan seks tetapi tidak mau punya bayi, mereka melakukan hubungan seks tanpa tujuan prokreasi/reproduksi; itu yang bikin perzinaan salah. Jadi, kalau kamu mau berhubungan seks, tidak apa-apa, itu memang perlu supaya bisa melangsungkan kehidupan, ada reproduksi, karena jika tidak, umat manusia akan mati; tetapi minimalisasi hubungan seks-nya, cuma untuk reproduksi saja. Kira-kira seperti itu. Sebaliknya, kalau kamu melakukannya bukan untuk reproduksi, biasanya dengan cari pelacur, dsb., itu salah, karena tidak bertujuan untuk reproduksi. Demikian katanya menurut Thomas. Yang kedua, dari Immanuel Kant. Immanuel Kant mengatakan tidak boleh berzina, karena kalau kamu berzina, kamu kehilangan kendali atas dirimu, kamu jadi seperti binatang.
Saudara lihat, kedua argumen ini seperti sangat beda. Yang satu mengatakan jangan berzina, karena berzina adalah seks tanpa reproduksi, tidak boleh seperti itu; seks itu minimalisasi cuma untuk reproduksi saja. Yang satu lagi mengatakan jangan berzina, karena kalau kamu berzina, kamu kehilangan kendali, kamu kehilangan hal yang menjadikan dirimu manusia, kamu jadi kayak binatang. Ini karena bagi Kant, seks itu pada dirinya sendiri adalah sebuah insting kebinatangan tok, rendah dan kotor, maka supaya bisa baik bagi manusia, perlu ditambah sesuatu, perlu ada unsur rasio, perlu ada pengendalian diri. Ini kedengarannya kayak Kristen ‘kan., kedengarannya gerejawi. Banyak orang Kristen berpikir seperti ini. Namun, saya akan mengatakan no way, bukan dua-duanya; dua-duanya bukanlah jawaban Alkitab. Keduanya ini bisa kelihatan berbeda, tetapi ujungnya, dasarnya, adalah sama, yaitu: kita perlu menjaga diri dari seks, karena seks pada dasarnya adalah sesuatu yang kotor, jorok, binatang, maka musti ditambahkan sesuatu, misalnya untuk bisa punya anak, dsb.
Tidak demikian, Saudara. Alkitab melarang perzinaan, Alkitab menjaga relasi seks, bukan karena relasi seks merupakan sesuatu yang kotor, yang perlu ditambah-tambahkan sesuatu dulu baru bisa jadi baik dan acceptable; Alkitab melarang perzinaan justru karena Alkitab menempatkan relasi seks sebagai sesuatu yang sangat tinggi. Dari mana kita dapatkan ini? Paling gampang dari kitab yang selama ini kita tidak pernah baca, yang anehnya malah dipilih orang Yahudi untuk dibacakan setiap tahun satu kali. Orang Yahudi punya lima gulungan kitab yang mereka selalu bacakan tidap tahun. Kalau Saudara pilih 5 kitab dari Perjanjian Lama yang Saudara ingin baca dari awal sampai habis, yang Saudara bacakan untuk orang-orang lain juga, yang Saudara bacakan setiap tahun satu kali, Saudara pilih apa? Pastinya Kitab Kidung Agung tidak bakal termasuk, tetapi orang Yahudi pilih kitab ini salah satunya, mereka baca Kitab Kidung Agung itu tiap tahun.
Kitab Kidung Agung ini kitab yang kita tidak pernah baca. Sebenarnya dalam terjemahan versi bahasa kita, kitab ini sudah sangat-sangat disensor, sudah sangat pakai bahasa yang diperhalus. Namun, bahkan dalam versi terjemahan kita hari ini saja, kita masih geleng-geleng kepala, “Haa…ahh,” sambil tutup mulut, kuping keluar asap, dsb. Kita menghindari habis-habisan kitab ini, karena kita bingung di dalam Alkitab bagaimana bisa ada kitab yang erotis kayak begini –sekali lagi, karena bagi kita seks itu kotor. Tetapi bagi Alkitab ternyata tidak. Lalu ada yang mengatakan, “Kitab Kidung Agung itu bukan mengenai seks, itu mengenai cinta Kristus kepada umat-Nya.” Ya, fair saja sih mengatakan seperti itu, karena Kristus sendiri mengatakan ‘segala sesuatu dalam Perjanjian Lama berbicara mengenai diri-Ku’. Namun jika demikian, kenapa Kristus memilih seks untuk berbicara mengenai diri-Nya, mengenai cinta-Nya bagi umat-Nya? Ini berarti bagi Dia, seks merupakan satu hal yang sangat positif (omong-omong, dalam Kidung Agung tidak ada pembicaraan soal punya anak, cuma bicara kenikmatan seksual, basically).
Kita bisa melihat bahwa di dalam Alkitab, pandangan mengenai relasi seks justru sangat tinggi, makanya dijaga. Seks itu dijaga. Bukan kita menjaga diri dari seks, melainkan relasi seks itulah yang dijaga –seringkali dari nafsu manusia yang tidak beres. Mengenai hal ini, paling jelas kita temukan dalam Kejadian 1. Pembahasannya agak panjang, mengenai kenapa bisa relasi seks begitu tingi, begitu penting, begitu esensial, sampai-sampai disandingkan dengan nyawa manusia.
Dalam Kejadian 1:27 kita melihat Allah menciptakan manusia; dan di situ kita bisa belajar sedikit mengenai natur/esensi manusia: Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia (singular); laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (plural). Ada tiga baris kalimat di sini. Yang pertama kalimat umum: Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya; manusia adalah gambar dan rupa-Nya. Lalu kalimat kedua: dalam gambar Allah diciptakannya dia; ini singular/satu. Kalimat ketiga: laki-laki dan perempuan diciptakannya mereka; ini plural. Tiga kalimat ini mendasarkan kepada kita pengenalan mengenai manusia. Apa itu manusia? Manusia bukan cuma imago Dei, manusia itu imago Dei karena satu dan banyak pada saat yang sama. Inilah esensi menjadi manusia. Yang satu dan banyak pada saat yang sama, ternyata bukan cuma Allah Tritunggal tetapi juga gambar dan rupa-Nya, yang adalah manusia. Manusia itu satu? Ya. Satu umat? Ya. Satu kemanusiaan? Ya. Semuanya adalah manusia? Ya. And yet, setiap manusia beda-beda, ada banyak manusia. Tidak cuma perbedaan antara pria dan wanita, tetapi juga bahwa di antara para pria dan di antara para wanita, manusia itu juga berbeda-beda, namun semuanya bisa dibilang satu kemanusiaan. Jadi ada satu, tetapi ada banyak. Itu hal yang pertama.
Yang kedua, persis setelah itu, ayat 28-nya mengatakan: Allah memberkati mereka dan berfirman kepada mereka (ini perintah yang paling dasar kepada manusia): “Beranakcuculah dan bertambah banyaklah; penuhilah dan taklukkanlah bumi. Berkuasalah atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas segala binatang melata di bumi.” Saya mau soroti mengenai beranak cucu dan bertambah banyak saja. Apa yang harus terjadi sehingga manusia beranak cucu dan bertambah banyak? Yaitu ketika yang dua tadi, pria dan wanita, menjadi satu. Ini gambaran relasi seksual. Dan, dalam gambaran relasi seksual di sini kita menemukan satu tetapi dua, dua tetapi satu. Ini paling jelas dalam alat kelamin manusia. Alat kelamin pria dan wanita beda; ada dua jenis alat kelamin di sini. Namun dalam perbedaannya, ada kesatuan. Mereka jelas beda; namun karena beda, mereka bisa saling melengkapi. Hal yang membuat mereka berbeda, adalah hal yang justru membuat mereka bersatu. Satu tetapi dua, dua tetapi satu.
Lompat ke Kejadian 2, ketika Allah menciptakan wanita. Ayat 18: TUHAN Allah berfirman: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja (satu saja). Aku akan menjadikan baginya penolong yang sepadan dengan dia.” Mengenai penolong yang sepadan, kita perlu bahas sedikit karena ini bagian yang paling banyak disalah mengerti, baik oleh para pria maupun para wanita. Pertama, istilah penolong di sini dalam bahasa aslinya ezer; ezer bukan pembantu, bukan asisten. Kita tahu ini ketika menyelidiki penggunaan istilah ezer di bagian-bagian yang lain. Misalnya dalam Kejadian 18, Musa mengatakan, “Ezer-ku ialah TUHAN, Allah Yahweh”. Sudah pasti ini bukan pembantu, bukan juga asisten. Kenapa bisa Musa mengatakan Allah adalah ezer-nya? Karena Allah ini, “… melindungiku dari tangan Firaun.” Coba bayangkan, peran ezer seperti ini, yang kuat, yang melindungi Musa dari tangan Firaun, itulah yang oleh Allah dikatakan sebagai esensi seorang wanita. Omong-omong, Musa tidak cuma mengatakan ini terhadap dirinya, di Kitab Ulangan juga Musa berkali-kali mengatakan Tuhan sebagai ezer dari Israel. Sekarang Saudara pikir sendiri, dalam hal apa, atau cara apa, Tuhan menjadi penolong bagi Israel? Definitely bukan dengan cara terima perintahnya Israel, bukan dengan sekadar nurut-nurut tok pada Israel, bukan dengan cara menunggu terus Israel yang tidak bergerak itu. Indeed, Tuhan menjadi ezer Israel dengan sering kali mendahului Israel, dengan berinisiatif bagi Israel. Jadi, hai para istri, hai para suami, engkau perlu merenungkan bagian ini baik-baik, karena engkau punya satu konsepsi mengenai seorang penolong yang mungkin bukan dari Alkitab, karena sesungguhnya seperti tadi itulah penolong dalam Alkitab. Itu sebabnya mungkin terjemahan yang lebih bagus atau lebih tepat di bagian ini adalah: “Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan baginya seorang penyelamat (seorang ezer).” Jadi ini justru posisi yang sangat tinggi, ini orang yang beda, orang yang capable dalam banyak hal yang saya sebagai cowok tidak capable, makanya dia bisa menyelamatkan saya dalam banyak hal.
Salah satu hal yang saya paling kagumi dari istri saya, bukanlah bahwa dia itu tunduk dalam arti nungguin saya terus, tidak pernah mulai duluan, cuma merespons apa yang saya katakan; salah satu hal yang paling saya hargai dari istri saya adalah dia itu sangat cakap dalam hal mengurus uang, dibandingkan saya. Saya ini tipe investor goblok. Kalau menurut saya, menjaga uang adalah dengan menguburnya di tanah, seperti hamba yang punya satu talenta itu, biar dimakan inflasi saja, pokoknya saya berasa ada banyak uang. Istri sayalah yang berani beli emas, berani berinvestasi. Dialah yang usul untuk beli properti ini dan itu, yang tidak besar tetapi lumayan, bisa naik harganya dalam beberapa tahun, dsb. Saya sangat lacking dalam hal itu; dan puji Tuhan, Tuhan memberikan kepada saya seorang penyelamat. Tuhan memberikan kepada saya seorang yang beda, yang kemampuannya beda, cara pandangnya beda. Saya sangat bersyukur punya istri yang tidak sama dengan saya, dalam arti tidak sama begonya dengan saya urusan investasi.
Namun yang menarik, dia bukan cuma beda, dia bukan cuma seorang penolong, dia bukan cuma penyelamat; dia adalah penyelamat yang sepadan, yang matching. Itu sebabnya waktu istri saya melakukan investasi tersebut, dia menggunakan perbedaan kapasitas ini, yang dia lebih jago dalam hal tersebut, bukan untuk menumpuk harta buat dirinya lebih banyak dan mengurangi harta saya. Dia menggunakan itu juga bukan untuk mempermalukan saya, lihat tuh, lu cowok, ngomong tok, ‘gak ada apa-apanya. Dia menginvestasikan itu bagi saya, bagi kami; dia mempergunakan perbedaannya justru untuk menyatukan dirinya lebih erat kepada saya. Misalnya, dengan dia memberi saya akses kepada keuangannya, dia diskusi dengan saya sebelum menjalankan investasi tersebut, dia tidak memaksakan apa yang dia rasa sudah pas. Saudara lihat, ini yang namanya relasi manusia. Ada perbedaan, itu jelas, tetapi perbedaan yang menyatukan; karena berbeda, maka bisa satu. Inilah penolong yang sepadan. Ada unsur perbedaan yang sangat jelas, and yet perbedaan inilah yang lalu jadi hal yang menyatukan. Kalau selama ini kita berantem terus di dalam keluarga, mungkin karena kita tidak mau perbedaan yang seperti itu, dan tidak mau persatuan yang seperti itu. Kita maunya persatuan yang datang karena persamaan tok. Ayo, pokoknya lu nurut apa yang gue ngomong, itu baru namanya bersatu. Kalau seperti itu, ya sudah, mau bagaimana?? Pada zaman kita mungkin banyak yang seperti itu.
Ada teolog menceritakan pengalamannya ngobrol dengan temannya yang gay, coba bicara dengan mereka pelan-pelan dan tanya pendapat mereka, tidak simply condemning (kalau kita berhadapan dengan orang LGBT, kita tidak bisa menganggap rendah mereka –itu pembunuhan; kita perlu tanya mereka, ajak bicara, eksplorasi, sebenarnya mereka itu kenapa). Dalam pembicaraan itu temannya yang gay bercerita begini: Saya bukannya tidak pernah coba berelasi dengan lawan jenis, tetapi susah ya dengan lawan jenis, cara pikirnya beda, ekspektasinya beda, semuanya beda; lebih gampang dengan sesama jenis, banyak hal yang nyambung. Bukankah kita juga seperti itu, Saudara? Cowok cari cewek, apa yang dicari? Cewek cari cowok, apa yang dicari? Mau yang nyambung, yang gampang itu; nyambung karena sama, bukan nyambung karena beda. Begitu ada perbedaan, langsung rasa ini ‘gak bisa; tidak mau coba cari tahu dulu kenapa ya, kamu beda dengan saya dalam hal ini, apa yang Tuhan mau berikan supaya justru lewat perbedaan ini kita bisa nyambung. Memang itu susah, tetapi itulah justru persatuan yang adalah esensi diri manusia. Demikian mengenai penolong yang sepadan.
Saudara sudah lihat ada esensi manusia yang dinyatakan di sini, bahwa manusia itu satu tetapi beda, beda tetapi satu. Lalu setelah Allah mendeklarasikan wanita sebagai ezer yang matching itu, beda yang justru pas itu, Adam langsung berkata setuju Tuhan, dengan mengatakan, “Inilah tulang dari tulangku, inilah daging dari dagingku.” Maksudnya apa? Tulang dari tulangku, berarti beda, terpisah, lain; tetapi juga dari tulangku, berarti sama, satu. Demikian juga daging dari dagingku. Lanjutannya: “Ia akan disebut ishah, karena ia diambil dari ish,” (ia akan disebut woman karena ia diambil dari man). Saudara lihat, Adam menyatakan dengan kata-katanya sendiri apa yang Allah desain atas diri manusia. Adam mengerti apa maksud Tuhan. Adam mengerti bahwa karena aku mendapat orang yang beda, dia bukan ish, bedanya itulah yang bikin dia bisa bersatu denganku, maka namanya ishah. Selanjutnya narator Alkitab mengatakan: “Omong-omong, pembaca-pembacaku, inilah sebabnya seorang pria akan meninggalkan ayah ibunya untuk bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.” Lihat, Saudara, ini muncul lagi, ditekankan beberapa kali di sini. Kita dableklah kalau tidak melihatnya, bahwa inilah manusia, bahwa esesnsi manusia adalah mereka itu beda, namun dalam perbedaan inilah mereka bersatu. In some sense, kalau ditanya dalam hal apa kita paling merefleksikan Tuhan sebagai gambar dan rupanya, tentu ada banyak hal, namun inilah yang langsung diberikan di halaman-halaman pertama Alkitab, yaitu lewat kita satu namun banyak namun satu-lah, kita ini paling mirip Allah kita. Itu sebabnya Tuhan menciptakan kita semuanya manusia, namun juga ada pria dan ada wanita.
Dengan demikian semua perbedaan ini –seks, jenis kelamin, personality— bukanlah hal yang negatif, itu adalah esensi manusia. Itulah perbedaan-perbedaan yang harusnya malah menyatukan. Dan, urusan perbedaan yang menyatukan ini, apa barang konkretnya? Relasi seks. Organ-organ seksual itu. Jadi kalau Saudara mau ambil kesimpulan, organ-organ seks bukanlah bagian yang paling kotor dalam hidup/tubuh kita; in some sense, mereka adalah bagian-bagian yang di mata Alkitab paling mencerminkan siapa manusia, dan dengan demikian paling mencerminkan siapa Allah kita. Bagian-bagian tersebut adalah bagian dalam tubuh manusia yang justru paling sakral, makanya dalam Alkitab ada Kitab Kidung Agung, makanya Alkitab bukan Thomistic maupun Kantian.
Saudara, inilah sebabnya hal ini sakral, dijaga. Inilah sebabnya Alkitab sangat anti dengan seks di luar nikah. Ini seperti Saudara menjaga dengan hati-hati sesuatu yang berharga; bukan menjaga sampah melainkan menjaga hal yang berharga. Indeed, salah satu metafora yang digunakan Alkitab dalam mengungkapkan relasi seks adalah api, baik oleh Paulus, Salomo, dll. Metafora api ini sangat pas, karena kalau engkau menjaga api, artinya engkau membatasi api itu hanya dalam situasi yang khusus. Dan, engkau menjaganya sedemikian bukan karena jijik, bukan karena menganggap api kotor, melainkan karena api adalah hal yang sangat baik. Api bisa membuat tubuh yang kedinginan jadi hangat. Api bisa membuat makanan yang tadinya bikin mencret jadi tidak mencret karena dimasak, bisa bikin yang tadinya tidak enak jadi enak. Itulah api, maka engkau menjaga api ini. Bukan karena jijik terhadapnya, melainkan karena api ini begitu berharga, sangat powerful.
Misalnya, engkau akan menjaganya dari feeling-mu. Saya bisa merasa feel good waktu mendapat api, tetapi saya tidak boleh menilai api berdasarkan feeling tok, saya akan menjaga api dari feeling saya –karena api sangat berharga. Waktu engkau duduk di sofa ruang tengahmu, lalu gorden yang jaraknya sekitar tiga meter dari tempatmu itu tiba-tiba terbakar, tentu Saudara tidak mengatakan, “Belum terasa panasnya, tidak apa-apalah.” Saudara tidak bakal meremehkan api seperti itu. Saudara tidak bakal tunggu terasa dulu baru bertindak –karena ini hal yang sakral. Salah satu hal yang paling dini kita ajarkan kepada anak-anak kita adalah jangan main-main dengan api. Kenapa? Karena urusan api bukan cuma urusan kepingin atau tidak kepingin. Engkau menjaga api harus berhati-hati, justru karena api itu begitu baik, antara lain dengan jangan pakai feeling-mu untuk menentukan apa yang oke dan tidak oke dalam urusan api. Sekali lagi, menjaga api seperti ini bukanlah karena api itu kotor, melainkan karena api merupakan satu force yang sangat baik, sangat positif, dan sangat esensial dalam hidup manusia. Lewat hal ini, kita menjawab kenapa di dalam Alkitab seks harus dijaga, tidak boleh berzinah, yaitu karena ini justru sakral di mata Alkitab, bukan karena ini kotor.
Waktu Saudara mendidik anak, sebagai orang Kristen didiklah anakmu seperti ini. Ketika mereka tanya kenapa tidak boleh seks di luar nikah, lalu engkau bilang, “Jangan, Nak, nanti kamu kena STD, nanti kamu kena AIDS, nanti kalau hamil bagaimana,” dan sebagainya, itu bukan jawaban Alkitab. Tentunya Saudara boleh mengatakan itu, bukan tidak boleh sama sekali, namun itu bukan yang terutama. Saudara harus ceritakan apa yang Alkitab beritakan mengenai seks, bahwa seks itu berharga, ini satu hal yang paling esensial dalam hidup manusia; ini satu hal paling sentral dalam hal siapa diri kita, apa diri kita, apa esensi manusia, yaitu kita makhluk yang satu tetapi beda, beda tetapi satu, satu karena perbedaannya, dan berbeda maka bisa bersatu. Setiap kali melihat urusan relasi seks dalam Alkitab, kita harus sadar inilah yang jadi taruhan, bukan urusan penyakit, bahkan bukan terutama urusan reproduksi, melainkan urusan relasi, bahkan urusan esensi, karena esensi manusia adalah relasinya. Dengan berbekal itu, barulah kita bisa mulai melihat apa yang Yesus sesungguhnya mau lakukan di bagian ini. Yesus bukan sedang mau meniadakan Hukum Taurat, tetapi juga bukan mau ikut-ikutan doang; Yesus mau menggenapinya. Lewat lensa tersebut, kita akan coba melihatnya.
Yang pertama, kita bisa melihat lebih jelas perkataan Tuhan Yesus ini kalau melihatnya dari lensa Perjanjian Lama. Misalnya, tadi Saudara baca di Matius, “Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya … ,” yang tentunya terutama bicara kepada para cowok. Namun, apakah ini berarti cuma kepada para cowok? Tidak. Memang terutama kepada mereka, tetapi tidak terutama kepada mereka saja. Pemberian Hukum Taurat di Gunung Sinai, waktu Allah mengatakan kamu harus begini, kamu harus begitu, dsb., memang kamu-nya pakai kata ganti kedua yang bersifat cowok. Ini masuk akal karena kepada para cowoklah secara umum diberikan tanggung jawab sebagai kepala keluarga, maka mereka jadi semacam penerima utamanya. Namun yang menarik, waktu Allah memberikan perintah di gunung Sinai itu, seluruh bangsa Israel diharuskan berdiri dan mendengar, pria dan wanita, bahkan anak-anak. Dari konteks tersebut, Saudara tahu bahwa di dalam Alkitab, ucapan yang seperti ditempatkan di kaki para cowok, sesungguhnya juga berlaku bagi semua orang. Sekali lagi, inilah esensi manusia, satu bagi semua, semua itu satu adanya. Demikian yan pertama, hal ini bukan cuma problem para cowok meskipun ini tertama applied kepada para cowok, dan memang dibingkainya demikian.
Yang kedua, in connection dengan pola sebelumnya, waktu Yesus membahas Hukum Taurat, Dia mau mengajak kita go deeper. Sama seperti hal pembunuhan. Pembunuhan adalah sesuatu yang sangat penting, dalam Perjanjian Lama sudah jelas bahwa pembunuhan sangat dilarang karena urusannya dengan harkat martabat nyawa seseorang di hadapan Tuhan; kamu mau melihat manusia sebagai gambar dan rupa Tuhan atau tidak, itu yang jadi taruhan. Namun Yesus lalu go deeper, Yesus mau mengatakan bukan cuma hasil/tindakan akhirnya yang penting, yaitu pembunuhannya, tetapi juga awal mulanya, benih/bibitnya; kita harus peka dengan bibitnya sama seperti kita peka dengan hasil akhirnya. Dalam hal hal perzinaan juga sama.
Apa bibit perzinaan? LAI sangat tidak helpful dalam hal ini; LAI TB1 mengatakan ‘memandang seorang wanita dan menginginkannya’, TB2 lebih mendingan, mengatakan ‘memandang seorang wanita hingga menginginkannya’. Kalau terjemahannya seperti ini, maka kita jadi berpikir setiap kali kita memandang wanita atau lawan jenis (atau bahkan sesama jenis), lalu kita ada ketertarikan, mampuslah, kita sudah berdosa di hadapan Kristus. Namun bukan itu sebenarnya yang jadi problem. Terjemahan-terjemahan lain lebih membantu. Misalnya ESV: ‘who looks at a woman with lustful intent’; atau terjemahan lain: ‘who looks at a woman in order to sleep with her’. Jadi ada kualifikasi di sini, yaitu melihat/memandang seorang wanita dengan intention/tujuan yang demikian, bukan semua jenis pandangan tanpa kecuali melainkan satu jenis pandangan ini. Kalau engkau cowok, engkau akan tahu, engkau bisa bedakan. Ini bukan sekadar pandangan, ini pandangan/tatapan yang kita lakukan dengan tujuan memupuk perasaan nafsu. Itu yang sedang dilarang. Itu bibitnya. Bukan sekadar ketertarikan seksual pada orang lain.
Sekali lagi, relasi seks dan hasrat seksual, di dalam Alkitab bukan dianggap negatif. Kita perlu tahu, istilah nafsu (lust) di dalam Alkitab bukan cuma urusan seksual; dalam Bahasa Indonesia, nafsu bisa soal nafsu makan, nafsu membunuh, dsb. Bedakan antara hasratnya dengan hasrat yang dikuasai nafsu, bedakan antara pikirannya dengan fantasinya. Martin Luther dalam commentary-nya mengenai bagian ini, sangat helpful; dia mengatakan, “Orang mungkin tidak bisa menghindari burung hinggap di kepalanya, tetapi orang bisa menghalangi burung bersarang di rambutnya.” Mungkin zaman dia memang burung sering datang nemplok di kepala, dan orang tidak bisa menghandari, that’s fine, tetapi orang bisa menghindari burung bikin sarang di kepalamu. Jadi ada bedanya antara hasrat itu sendiri versus fantasinya. In some sense, ini kabar baik yang melegakan, karena bukan segala atraksi otomatis berdosa, sebagaimana pandangan Thomistic atau Kantian tadi yang melihat relasi seksual itu kotor pada dirinya sendiri maka begitu engkau terpikir sedikit saja, yang memang tidak bisa dikontrol, itu sudah berdosa. Kalau asumsi Saudara sesuatu itu kotor pada dirinya sendiri, memang begitu jadinya, tetapi itu bukan Alkitab. Alkitab membedakan kedua hal in.
Ketika saya masih guru di SKC, kami ngobrol-ngobrol dengan sesama guru SMA, dan entah bagaimana kami jadi membicarakan mengenai hubungan seks. Seorang guru yang bukan GRII lalu mengatakan, “Senang banget ada kesempatan ngomongin seperti ini, biasanya di tempat lain kalau ngomongin seks itu kotor rasanya, ‘gak tahu kenapa.” Saya bukan mengatakan SKC satu-satunya tempat yang bisa melakukan itu atau SKC satu-satunya umat Tuhan, tetapi inilah harusnya beda antara komunitas umat percaya dengan komunitas orang non-percaya, yaitu seksualitas bukan diperlakukan sebagai sesuatu yang kotor pada dirinya sendiri, kita bisa membicarakannya, dan bahkan menghargainya dengan sangat tinggi. Dengan demikian ketika kita attracted pada seseorang, ketika hal itu timbul dalam hati kita di luar kendali, itu bukanlah yang Yesus anggap dosa di bagian ini; yang jadi problem adalah ketika pikiran-pikiran dan hasrat-hasrat itu muncul, maka apa yang kita lakukan setelahnya itulah yang penting.
Ketika fantasinya mulai mengambil alih pikirannya, ketika kita mulai merangkul frantasi tersebut dan menjilat-jilatnya di mulut kita, itulah yang merupakan tangung jawab kita. Dan, good news-nya, itu kita bisa setop. Bagaimana caranya? Inilah bagian yang buat kita paling sulit: cungkil mata dan potong tangan. Apa maksudnya? Kita akan lanjutkan minggu depan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading