Hari ini kita membahas topik mengenai kekudusan, dari Yesaya 6:1-8, teks par excellence dalam pembahasan mengenai kekudusan Allah dan apa dampaknya bagi kita. Ketika kita membahas bagian ini, tidak terhindarkan bahwa setiap kali kita bertemu dengan bagian-bagian besar seperti ini — yang di dalamnya ada pengalaman luar biasa dari orang-orang yang berjumpa langsung dengan Tuhan — kita akan bertanya mengenai tema pengalaman rohani yang sejati. Seperti apa sebenarnya pengalaman rohani yang sejati itu? Dan khususnya, pengalaman seperti ini apa tempatnya dalam kehidupan kita? Apakah hal semacam ini seharusnya menjadi standar dalam perjumpaan kita dengan Allah, atau tidak?
Dua poin pertama kita hari ini membahas pertanyaan itu. Jawaban yang pertama adalah: ya, ada sesuatu yang universal, yang harus dialami setiap orang Kristen sebagaimana Yesaya mengalaminya. Namun ada jawaban kedua, yaitu bahwa ada keragaman yang perlu kita hargai dalam pengalaman rohani kita di hadapan Allah.
Pertama:
Ada Hal yang Universal — Kita Perlu Melihat Allah
Saudara, perhatikan latarnya di sini. Yesaya sedang berada di dalam Bait Allah. Ia bertemu dengan Allah, dan responsnya adalah terkejut dan panik. Ini menunjukkan satu ironi yang besar: Yesaya — dan dengan demikian juga kita, siapa pun yang pergi ke gereja, ke rumah Allah — sebenarnya tidak mengharapkan akan bertemu dengan Allahnya di rumah tersebut.
Mengapa bisa demikian? Barangkali ini hari Sabat, dan Yesaya, seperti semua orang Yahudi pada waktu itu, seperti semua orang Kristen yang rutin ke gereja, sudah melakukan hal ini ratusan bahkan ribuan kali. Karena itu ekspektasi kita ketika datang beribadah menjadi mekanistis. Mungkin itulah sebabnya Yesaya mendeskripsikan bagian ini sebagai momen ketika ia dikatakan melihat Allah. Barangkali maksudnya adalah untuk dikontraskan dengan apa yang selama ini sudah ia alami.
Yesaya bukan tidak pernah merasakan kehadiran Allah sebelumnya. Yesaya mungkin sudah pernah merasa digugah oleh Allah. Yesaya mungkin sudah mengetahui banyak hal mengenai Allah. Namun baru kali ini ia datang dan sungguh-sungguh melihat Allah.
Saya harap ini membuat kita sadar akan poin pertama dari bagian ini, Saudara. Alkitab terus-menerus memanggil kita untuk menyadari apa itu kekristenan. Kekristenan itu bukan terutama urusan peraturan, formula, dan daftar-daftar ceklis yang harus dicentang. Kekristenan terutama adalah mengenai melihat Allah, mengenal diri Allah, mengecap kebaikan Allah. Tentu kekristenan bukan hanya itu tok — kekristenan yang pasti tidak kurang daripada panggilan untuk berjumpa dengan Allah, gak cuma sekadar tahu-tahu tok mengenai Dia.
Ini seperti ketika Yesus di kemudian hari mengobrak-abrik Bait Allah, mengusir para penukar uang dan para penjual binatang keluar dari kompleks Bait Suci. Lalu Ia memberikan alasannya: rumah Allah seharusnya menjadi rumah doa. Artinya, oleh karena keributan dan kebisingan yang terjadi di Bait Allah lewat kegiatan jual beli, orang tidak bisa lagi berdoa di sana. Tentu mereka mengucapkan kata-kata yang tepat. Tentu mereka melipat tangan mereka, atau apa pun ekuivalennya bagi orang Yahudi pada waktu itu. Namun mereka tidak lagi sungguh-sungguh berdoa. Ibadah telah menjadi sekadar kesibukan, ibadah religiositas tok. Datang ke Bait Allah, tetapi tidak melihat Allah.
Satu kisah lagi yang mengilustrasikan hal ini adalah kisah Maria dan Marta, yang pasti sudah Saudara kenal. Marta sibuk ke sana kemari melayani Yesus, tetapi dalam kesibukannya ia melewati ruang depan dan melihat Maria justru duduk bersimpuh di hadapan Tuhan. Yang Marta lakukan adalah berkata, “Tuhan, tolong dong suruh adikku itu ‚melayani-Mu.‘” Dan Yesus pada dasarnya menjawab, “Maria memang sedang melayani-Ku. Marta, Marta, kamu banyak disibukkan oleh banyak hal, tapi Maria telah memilih apa yang terpenting.” Kamu telah membuat kesibukan menjadi hal yang terutama. Membuat keagamaanmu itu sebenarnya bahkan malah mendorong keluar kehadiran-Ku. Engkau melakukan banyak segala sesuatu dalam nama-Ku, tapi engkau sebenarnya tidak benar-benar pernah melihat Aku.
Saudara, kadang-kadang kita lupa sebagai orang Kristen untuk apa sebenarnya Yesus Kristus datang ke dunia, mati di kayu salib, dan bangkit pada hari yang ketiga. Ini bukanlah terutama supaya kita bisa menjalankan program-program gereja, atau datang ke pertemuan-pertemuan rohani, atau supaya kita bisa menjadi orang beragama yang baik-baik. Sebab sederhana saja: orang bisa melakukan semua itu tanpa Yesus harus mati bagi mereka. Banyak orang berpuasa tanpa Yesus. Banyak orang menaati hukum-hukum keagamaan tanpa Yesus. Banyak orang menolong sesama manusia tanpa Yesus. Beratus-ratus dan beribu-ribu tahun manusia sepanjang sejarah melakukan semua itu tanpa Yesus harus mati lebih dahulu bagi mereka.
Dengan demikian, bukan untuk itu sebenarnya Ia mati dan bangkit, karena kita bisa melakukan semua itu tanpa Dia. Namun satu hal yang menjadi tujuan mengapa Yesus mati dan bangkit adalah supaya engkau dan saya boleh mendapatkan akses kepada Allah — untuk sungguh-sungguh melihat Dia tanpa terbakar hangus. Itulah tujuan Ia mati dan bangkit.
Disclaimer, ini bukan berarti saya mengatakan kita tidak perlu melakukan semua hal tadi: berpuasa, mengikuti kebaktian, mengenal doktrin yang benar, dsb. Bukan demikian. Poinnya di sini sederhana: apakah Saudara dan saya pernah melihat Allah? Apakah kita itu pernah bergerak dari orang yang sekadar mengucapkan doa kepada orang yang sungguh-sungguh berdoa?
Itu salah satu pertanyaan diagnostik yang paling mudah. Bagaimana kehidupan doamu selama ini? Apakah tindakan-tindakan “Kristianimu” selama ini merupakan aliran dari cawan yang tumpah karena begitu limpah, atau justru tindakan-tindakan yang keluar dari kehampaan?
Perhatikanlah, kalau kita kembali sedikit ke dalam Khotbah di Bukit, kontras-kontras yang Yesus berikan di sana. Kita belum sampai membahasnya, tetapi Saudara sudah dapat melihat polanya: jangan menjadi seperti ini, jadilah seperti itu; orang kafir begini, kamu harus begitu. Dan dalam hal apa hal itu dibahas? Dalam hal berdoa, dalam hal memberi sedekah, dalam hal mengampuni, dsb.
Perhatikan seperti apa kontrasnya. Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan, “Orang kafir tidak berdoa, kamu harus berdoa. Orang kafir tidak memberi sedekah, kamu harus memberi sedekah.” Tidak pernah perbandingannya seperti itu. Perbandingannya selalu: orang kafir berdoa — berdoanya seperti apa? Kamu jangan berdoa seperti itu; berdoalah seperti ini. Dua-duanya berdoa, Saudara. Orang kafir pun di mata Yesus berdoa. Orang kafir selama ini memberi sedekah; mereka memberinya seperti ini, kamu jangan memberi seperti itu — berilah sedemikian rupa sehingga tangan kirimu tidak tahu apa yang diperbuat tangan kananmu.
Menarik, bukan? Jadi inilah yang kita lihat: tindakan-tindakan dan kehidupan yang dari luar tampak Kristen belum tentu Kristen. Itu bisa jadi sekadar respons terhadap kehampaan, terhadap kosongnya pengenalan akan Tuhan.
Inilah hal pertama yang saya rasa perlu kita ketahui bersama sebagai orang Kristen. Ada hal yang universal, yang dapat kita lihat dari pengalaman hidup Yesaya, yang seharusnya ada dalam diri setiap orang Kristen. Kita perlu melihat Allah, Saudara. Kita tidak bisa hanya tahu mengenai Dia.
Kedua:
Ada Keberagaman dalam Pengalaman Rohani
Poin yang kedua mungkin terdengar seperti kebalikannya, tetapi sebenarnya tidak. Ini adalah ketegangan yang saling melengkapi. Bukan hanya ada hal universal yang perlu ada dalam pengalaman rohani kita dengan Tuhan — yaitu melihat Dia — tetapi kita juga perlu menghargai keberagaman dalam pengalaman semacam ini.
Untuk sungguh-sungguh dapat melihat hal ini, untuk mengerti keberagaman pengalaman yang ada pada Yesaya, kita perlu membandingkannya dengan seorang nabi lain, yaitu Yeremia. Yesaya dan Yeremia adalah dua nabi yang sebenarnya sangat mirip. Keduanya sama-sama memulai kitab mereka dengan kisah pemanggilan mereka di hadapan Tuhan. Keduanya juga nabi yang gemar berbicara dan gemar menulis — kitab mereka adalah kitab-kitab yang paling panjang dalam Alkitab. Kalau Saudara mencari trivia, ‘What is the Longest Book in the Bible?’, Saudara akan menemukan jawabannya entah Yesaya atau Yeremia, tergantung metrik apa yang dipakai. Kalau memakai jumlah kata, Yesaya yang menang; kalau memakai jumlah ayat, Yeremia yang menang.
Keduanya adalah dua kitab yang paling mirip. Bibir mereka sama-sama disentuh. Mereka sama-sama diutus. Namun kalau Saudara perhatikan lebih lanjut, pengalaman kedua nabi ini sebenarnya hampir-hampir berseberangan sama sekali. Mari kita lihat. Yeremia 1: 4-9.
“Sebelum Aku membentuk engkau dalam rahim ibumu, Aku telah mengenal engkau; dan sebelum engkau keluar dari kandungan, Aku telah menguduskan engkau. Aku telah menetapkan engkau menjadi nabi bagi bangsa-bangsa.” …
Dapatkah Saudara melihat betapa berseberangannya pengalaman Yeremia dengan pengalaman Yesaya? Yesaya bertemu dengan Allah dan melihat sesuatu yang visual: Allah sendiri, tinggi dan menjulang, dengan jubah-Nya memenuhi Bait Suci. Yeremia tidak benar-benar memiliki pengalaman visual di sini; yang ada hanyalah firman Tuhan yang datang kepadanya dalam bentuk kata-kata.
Dalam penglihatan Yesaya, Allah sedikit sekali berbicara. Sejak awal yang banyak berbicara adalah para serafim dengan sayap-sayap mereka, dan merekalah yang mendeklarasikan, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN.” Yang berurusan langsung dengan Yesaya pun bukan Allah, melainkan serafim itu yang mengambil bara, menaruhnya pada mulut Yesaya, dan mendeklarasikan bahwa kesalahannya telah diampuni. Bahkan Yesaya yang berbicara lebih dahulu sebelum Tuhan berbicara: Yesayalah yang berseru, “Celakalah aku, betapa najis bibirku.” Dan ketika akhirnya Allah berbicara, Ia tidak berbicara langsung kepada Yesaya, melainkan seperti sebuah pengumuman umum bagi semua orang: “Siapakah yang mau pergi?” Barulah setelah itu Yesaya menjawab, “Ini aku, utuslah aku.”
Yeremia sangat berbeda. Sejak awal latarnya seperti sebuah percakapan yang intim antara Allah dengan Yeremia secara langsung. Allah berbicara banyak. Allah yang memulai percakapan itu, dan kalimat-Nya langsung dimulai dengan nada yang lembut dan afirmatif: Aku sudah mengenal engkau sejak dahulu, sebelum engkau dilahirkan. Aku sudah membentuk engkau. Aku sudah menguduskan engkau. Aku sudah menetapkan engkau sejak dahulu. Aku sudah punya rencana bagimu sejak dahulu.
Mengenai panggilan kedua nabi ini pun berbeda. Yesaya menawarkan diri dengan percaya diri: “Ini aku, utuslah aku.” Yeremia justru harus dibujuk karena takut: “Jangan aku, aku tidak pandai berbicara.” Dan ketika Yeremia menolak, Allah pada dasarnya menjawab dengan ketegasan, tetapi juga dengan kelembutan: jangan takut, kamu pasti aku temenin.
Saudara lihat, Yesaya bertemu dengan Allah dalam aspek kemuliaan, keagungan, transendensi, dan jarak. Yeremia bertemu dengan Allah dalam versi kedekatan, kelembutan, afirmasi, dan keintiman. Mengapa terhadap dua nabi ini Tuhan memakai cara yang begitu berbeda? Mengapa ada keragaman dalam cara Allah mempertemukan diri-Nya dengan mereka? Pada dasarnya, karena Tuhan memberikan sesuai dengan kebutuhan masing-masing orang.
Siapa itu Yesaya? Yesaya diidentifikasi sebagai anak Amos. Menurut tradisi Yahudi, Amos di sini sebenarnya adalah saudara dari seorang raja Yehuda bernama Amazia. Jadi Yesaya adalah anggota keluarga kerajaan. Pada waktu itu ia termasuk golongan masyarakat elit; ia seorang bangsawan. Dan ini status yang sangat jarang, latar belakang yang sangat jarang bagi nabi-nabi dalam Alkitab. Biasanya nabi datang dari latar belakang yang tidak jelas, dari kalangan bawah. Namun Yesaya lain sekali.
Bandingkan dengan nabi lain yang kita ketahui latar belakangnya, misalnya Nabi Amos — Amos yang ini berbeda dengan Amos yang tadi. Dalam kitabnya pasal 7, Amos menceritakan bahwa ia seorang peternak. Namun ia bukan hanya peternak; ia dikatakan pemungut buah ara hutan. Sebenarnya terjemahan yang lebih tepat adalah penggebuk buah ara hutan. Jadi pekerjaannya menggebuki buah ara hutan. Mengapa? Karena buah ara, buah sikamor itu, kalau digebuk akan mengeluarkan gas yang membuat buahnya cepat matang. Dan siapa yang memakan buah ini? Orang-orang miskin — ini makanan orang miskin. Yang menggebuki pun, karena ini pekerjaan kasar, bukan orang kaya; mereka juga orang miskin. Jadi Amos adalah orang miskin yang melayani orang miskin. Begitulah nabi pada umumnya.
Namun Yesaya tidak seperti itu. Kalau di zaman kita, Yesaya adalah orang yang masuk sekolah bergengsi dan datang dari keluarga bonafide. Tipe orang yang dari pakaian dan penampilannya Saudara langsung tahu ia bukan orang sembarangan. Ini orang yang mungkin sudah pernah memikirkan sendiri, “Apakah mungkin saya dipanggil menjadi hamba Tuhan?” — sebab orang seperti ini memang tampak cocok menjadi hamba Tuhan. Dan mungkin ketika ia mengambil formulir di sekolah teologi, orang yang memberikan formulir itu berkata, “Wah, orang seperti ini masuk STT. Sinode kita ada harapan di masa depan.”
Mungkin itulah sebabnya, ketika Allah mempertemukan diri-Nya dengan Yesaya, Allah menunjukkan sifat transenden-Nya; membuat diri-Nya itu mulia, tinggi, besar, bikin Yesaya pas lihat itu langsung pening-pening dan sekalian mimisan mungkin. Tidak ada ucapan manis, “Aku akan menyertaimu, jangan takut, Aku sudah memperhatikan engkau sejak dahulu.” Tidak ada, Saudara. Bahkan sekali lagi, hampir tidak ada kata-kata dari Allah sendiri kepada Yesaya.
Mengapa demikian? Karena Allah sedang memberikan kepada kedua nabi ini apa yang masing-masing mereka butuhkan dalam keunikan mereka. Yesaya perlu melihat Allah begitu tinggi di atas, sehingga ia merasa tidak ada artinya, supaya Allah kemudian dapat mengutusnya dan menunjukkan belas kasihan-Nya kepadanya. Orang dengan latar belakang seperti Yesaya bukanlah orang yang secara alami merasa perlu belas kasihan. Orang seperti ini biasanya memang perlu pengalaman jatuh dan mencium tanah lebih dahulu, baru dapat menyadari seberapa besar ia membutuhkan belas kasihan.
Yeremia sebaliknya. Yeremia besar kemungkinan adalah tipe orang yang justru merasa dirinya berada di luar belas kasihan, di luar kemungkinan untuk menerima belas kasihan. Itu sebabnya Allah datang dan memberinya pengalaman diangkat, dirangkul, didekatkan kepada Allah. Itulah justru pengalaman belas kasihan yang ia butuhkan.
Dengan kata lain, lihatlah persamaan keduanya: mereka sama-sama melihat Allah. Namun cara Allah datang sangat terbalik, karena sangat bergantung pada situasi mereka. Yesaya perlu melihat utangnya terlebih dahulu untuk dapat melihat belas kasihan. Yeremia perlu melihat belas kasihan terlebih dahulu, dan barangkali baru setelah itu menyadari seberapa besar kemalangannya di hadapan Tuhan. Namun keduanya adalah nabi sejati Allah.
Cara Tuhan bekerja atas kita tidak hanya memakai satu cara yang seragam. Ini satu keragaman yang perlu kita sadari bersama, karena sangat berbahaya kalau tidak. Kita sering kali berusaha menghakimi orang lain, dan bahkan diri kita sendiri, berdasarkan satu standar yang kita rasa paling sejati, paling benar, yang semua orang harus miliki. Memang semua orang harus melihat Tuhan dan tidak hanya tahu mengenai Dia — tetapi cara persisnya bisa sangat beragam. Kita mesti menghargai hal ini.
Bukankah ini memang karakteristik orang tua yang baik, yaitu memberikan sesuai dengan kebutuhan anaknya masing-masing? Saudara yang punya anak pasti mengerti. Anak saya yang satu, umurnya sekarang tiga tahun, dan saya dengan istri melihat, “Nah, inilah anak kita. Benar-benar anak kita.” Antisosial seperti kami; kalau melihat kerumunan, ia tidak suka. Di kelas nursery-nya ada satu pojok berisi buku, tertulis ‚book corner‘. Saya dan istri langsung tahu itu Nico’s corner. Dan benar saja: kalau anak-anak lain ke depan mencari dinosaurus atau mainan lain, ia berjalan ke sana kemari mencari buku, karena ia mau membaca. Itulah kesukaannya.
Yang satu lagi, saya sampai bingung ini anak siapa. Eric itu sosial sekali. Ia berbahagia sekali kalau bertemu orang. Bahkan sepertinya ia gak happy sampai ia bertemu orang. Segala sesuatu harus ada hubungannya dengan orang lain; ia tidak bisa senang sendirian kayak Nico. Sangat ekstrovert. Dan tentunya, sebagai orang tua yang baik, ketika kami berhadapan dengan mereka, ada hal-hal yang sama — makanannya tentu harus diberi juga — tetapi cara berhadapan dengan mereka berbeda, sesuai dengan kebutuhan masing-masing anak. Mengapa Tuhan harus melakukan yang kurang dari itu?
Ada satu kisah menarik mengenai perbandingan dua pelayan Tuhan. Yang satu bernama Pendeta Jack Miller, seorang Amerika yang bekerja dan melayani di Amerika. Yang satu lagi adalah Dr. David Martyn Lloyd-Jones, seorang Inggris yang melayani di London bertahun-tahun. Saudara bisa langsung membayangkan betapa jomplangnya karakter kedua orang ini. Orang Inggris lebih proper; orang Amerika lebih santai, mungkin lebih fleksibel.
Suatu hari Jack Miller diundang melayani di London, di gereja tempat Lloyd-Jones biasa melayani. Jack Miller, sebagai orang Amerika, kalau mengajar banyak sekali memakai cerita mengenai dirinya sendiri: ini terjadi pada saya, itu terjadi pada saya, saya begini, saya begitu. Ini tentu mengejutkan bagi jemaat Lloyd-Jones. Mereka tidak terbiasa dengan gaya khotbah seperti itu. Sampai akhirnya ada seorang yang cukup tua dari jemaat Lloyd-Jones yang tidak tahan. Ia berdiri menantang Jack Miller dan berkata, “Saya sudah tiga puluh tahun duduk di bawah pengajaran the good doctor, David Martyn Lloyd-Jones. Dan Saudara tahu, tiga puluh tahun ia berkhotbah, tidak pernah satu kali pun ia berbicara mengenai dirinya sendiri.”
Saudara tahu maksudnya, bukan? Maksudnya, orang-orang ini merasa Jack Miller terlalu sombong, tidak proper, menaruh dirinya terlalu tinggi, terlalu banyak bercerita mengenai dirinya sendiri. Dan bukankah kita juga sama? Sangat mudah bagi kita menilai dan menghakimi orang berdasarkan standar-standar seperti ini: seharusnya begini, seharusnya begitu; pendeta itu seharusnya seperti ini. Bukan hanya terhadap orang lain, tetapi bahkan terhadap diri sendiri: apakah saya ini orang Kristen? Mengapa saya tidak punya pengalaman ini atau pengalaman itu?
Padahal, kalau dibalik pun sama saja. Kalau jemaat Jack Miller mendengarkan Lloyd-Jones, mereka juga pasti akan menghakimi. Mungkin mereka akan berkata, “Aduh, membosankan. Kok tidak ada satu pun ilustrasi pribadinya? Alkitab melulu.” Bukan berarti Alkitab itu salah, tetapi kan perlu juga ada ilustrasi dari kehidupan nyata; cerita-cerita personal sangat menolong kita mengerti. Namun orang ini sama sekali tidak begitu. Kira-kira mengapa Jack Miller dan Lloyd-Jones bisa berbeda seperti ini?
Yang menarik, ketika Saudara membandingkan kedua tokoh ini dengan kitab Yesaya dan Yeremia, Saudara akan menangkap kemiripannya. Di dalam Kitab Yeremia, pesan Tuhan bagi Yehuda tidak dapat dipisahkan dari kehidupan nabinya sendiri. Kalau Saudara membaca Yeremia, Saudara akan menemukan banyak sekali Yeremia bercerita mengenai dirinya, pergumulannya, jatuh bangunnya; referensi kepada dirinya sendiri banyak sekali. Itulah Yeremia. Namun kalau Saudara membuka Yesaya, selain kisah kesaksian panggilan yang tadi kita baca, dapatkah Saudara menemukan lagi referensi Yesaya mengenai dirinya sendiri sepanjang enam puluh enam pasal? Hampir tidak ada. Lalu bagaimana? Apakah berarti Yesaya lebih rendah hati daripada Yeremia? Apakah berarti Yeremia nabi yang sombong?
Nah, Saudara dapat melihat bahwa Lloyd-Jones ternyata benar-benar seorang Yesaya. Sebelum ia menyerahkan dirinya untuk melayani, Lloyd-Jones adalah seorang dokter medis, dan ia benar-benar elit; ia sudah mencapai puncak. Yang mengubah dirinya adalah ketika suatu hari ia menyaksikan seorang dokter lain — dokter yang lebih senior daripadanya, yang lebih di puncak daripadanya, yang memiliki segala sesuatu — datang di hadapannya, duduk, dan diam lebih dari dua jam tanpa berkata apa-apa, termangu. Lloyd-Jones bingung. Mengapa? Karena dokter senior ini baru saja kehilangan istrinya.
Dalam momen itu Lloyd-Jones menyadari satu hal: ternyata orang bisa memiliki segala sesuatu dalam hidup ini, dan semua itu tetap tidak menjamin engkau sanggup menghadapi realitas kehidupan. Ini membuat Lloyd-Jones terguncang; dirinya runtuh. Inilah pengalaman Yesaya bagi orang yang memang seperti Yesaya — diruntuhkan di hadapan Tuhan. Dan dari situ Saudara menyadari mengapa Lloyd-Jones tidak pernah mau berbicara mengenai dirinya sendiri ketika ia berkhotbah.
Namun, sekali lagi, apakah ini satu-satunya cara Tuhan memakai manusia? Tidak. Memang ada beberapa orang seperti ini, yang perlu menyaksikan kemuliaan dan kekudusan Tuhan supaya mereka berhenti ngoceh. Itu tipe-tipe Yesaya. Namun ada beberapa orang lain, tipe Yeremia, yang justru membutuhkan kemurahan dan belas kasihan Allah untuk mulai bersuara. Yang mana yang panggilan sejati? Sekali lagi, tergantung orangnya. Bahkan dalam hidup Saudara dan saya, kita mungkin harus sadar bahwa kadang-kadang kita diberikan keduanya secara silih berganti. Ada waktunya kita perlu direndahkan; ada waktunya kita perlu dikuatkan. Ada waktunya kita perlu dibuat diam; ada waktunya kita didorong untuk berbicara. Dan Tuhan tahu kapan waktu-waktu yang tepat.
Oleh karena itu kita perlu belajar merangkul keluasan, keragaman, dan bahkan ketegangan-ketegangan dalam iman kita, dan bukan senantiasa berusaha mencari siapa yang menang, pengalaman mana yang lebih sejati, mana yang paling sejati. Inilah poin kedua yang kita pelajari lewat kisah ini: pengalaman Kristiani itu perlu — ada yang sejati, ada yang universal, yang kita semua harus miliki, yaitu melihat Allah –tetapi ada juga keragaman dalam cara kita menerimanya di hadapan Tuhan. Kita perlu lebih berhati-hati dalam menilai.
Ketiga:
Apa yang Yesaya Lihat — Kekudusan Allah dan Efeknya
Kita sedang membahas Yesaya di sini. Jadi kita akan lebih berfokus kepada pengalaman tipe Yesaya — sekali lagi bukan satu-satunya pengalaman yang sah, tetapi jelas salah satu yang valid. Dan kita perlu mencari apa yang dapat kita pelajari lebih lanjut dari pengalaman seperti ini. Kita mulai bertanya: jadi apa dampak dari berjumpa dan melihat Allah itu?
Pertama-tama kita perlu bertanya, apa sebenarnya yang Yesaya lihat dalam pengalaman ini? Pada dasarnya yang ia lihat adalah kekudusan Allah — Allah yang kudus. Ini sesuatu yang dinyatakan dengan sangat eksplisit, karena para serafim yang mengelilingi Allah itu mendeklarasikan, “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN semesta alam. Seluruh bumi penuh kemuliaan-Nya.”
Beberapa orang membaca ini dan berusaha melihat ketritunggalan Allah lewat pengulangan tiga kali itu. Yang mana tidak apa-apa; saya tidak mau mengomentari hal itu hari ini. Namun secara sastra Ibrani, pengulangan tiga kali ini memiliki makna lain yang tidak boleh kita lupakan, dan inilah yang menjadi fokusnya.
Begini, Saudara. Cara kerja bahasa Ibrani ketika hendak membuat suatu penekanan adalah sederhana: dengan mengulang kata yang sama. Jadi kalau Saudara membaca istilah “ruang maha kudus” di dalam Alkitab, istilah aslinya bukan itu; tidak ada kata “maha” di situ. Istilah aslinya adalah “ruang kudus-kudus”, diulang untuk menekankan seberapa kudusnya. Demikian pula kata “emas murni”; dalam bahasa aslinya biasanya “emas-emas” — pada dasarnya, emasnya emas.
Kalau Saudara tahu film lawas Fiddler on the Roof, yang bercerita mengenai orang-orang Yahudi di sebuah dusun, ketika salah seorang Yahudi di sana hendak mengungkapkan kekaguman yang luar biasa, ia menyanyi: wonder of wonders, miracle of miracles. Itu cara orang Yahudi sekali dalam menekankan sesuatu — katanya cukup diulang dua kali.
Oleh karena itu, ketika Saudara menemukan pengulangan di bagian ini, tetapi kini sebanyak tiga kali — “Kudus, kudus, kuduslah TUHAN” — dapatkah Saudara menangkap makna dasar sastra Yahudinya? Ini seperti mengatakan: emasnya emas yang tadi itu ternyata masih punya emas lagi. Ruang maha kudus yang tadi, yaitu ruang kudusnya ruang kudus itu, ternyata masih punya satu tempat lagi yang lebih kudus. Ini bahasa superlatif.
Dan perhatikan, yang mendeklarasikan hal ini adalah para malaikat, yang bagi kita saja sudah sangat superlatif. Kalau kita bertemu dengan malaikat, kita akan sangat tergoda untuk menyembahnya. Itu sebabnya malaikat sering kali berkata dalam Alkitab, “Jangan, jangan; aku hanya ciptaan sepertimu.”
Saudara dapat melihat apa yang sedang terjadi. Yesaya sedang berjumpa dengan kehadiran Allah yang mahakudus. Dan apa efek kekudusan Allah bagi kita? Kita merasa terancam. Itulah efeknya; itulah realitas melihat Allah yang kudus.
Saya kira itu sebabnya tema kekudusan Allah jarang sekali dibicarakan. Mengapa orang jarang mengharapkan bertemu Tuhan di dalam Bait-Nya sendiri? Karena ternyata pengalaman berjumpa dan melihat Allah yang sejati, Allah yang kudus, bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Kita merasa terancam bertemu Allah yang seperti ini.
Karena belakangan ini kita banyak berbicara mengenai identitas dari mimbar ini, kita dapat memakai contoh itu lagi. Kita semua mencari jati diri kita masing-masing. Kita punya satu dua hal yang menurut kita sangat mencerminkan siapa diri kita, yang kita katakan, “Inilah“ „Gue banget.” Dan alasan kita mengambil hal-hal tersebut adalah karena kita merasa kita memiliki lebih banyak dalam hal itu dibandingkan orang lain. Kita menjadi local expert dalam hal itu; itu sebabnya kita merasa ini gue banget. Kita paling mengerti sepak bola di kelas kita, atau kita ahli IT, misalnya.
Saya punya saudara ipar yang bekerja di bagian IT di sebuah sekolah. Ketika dulu saya bekerja di sana, saudara saya ini legendaris; ia dikenal seluruh gedung. Mengapa? Bukan hanya karena ia ahli komputer, tetapi entah bagaimana kehadirannya di suatu ruangan akan membuat wifi menjadi beres. Ini benar-benar aneh. Saya sendiri tidak mengerti, tetapi laporannya datang dari berbagai orang dan berbagai situasi. Kalau wifi mulai bermasalah, kita panggil dia. Ia bahkan tidak sampai menyentuh komputer kita; ia masuk ke ruang guru, dan wifi beres. Entah bagaimana. Lalu ia keluar, dan bermasalah lagi.
Bayangkan kalau Saudara seperti itu. Kalau Saudara punya satu hal dalam hidupmu yang benar-benar melekat dengan dirimu, sampai-sampai ada auranya yang bahkan membuat wifi menurut kepadamu. Engkau punya jati diri seperti itu. Dan sekarang bayangkan engkau yang selama ini punya jati diri seperti itu berhadapan dengan seseorang yang seratus kali lipat lebih mahir, jauh lebih mengerti hal yang sama yang selama ini kaubanggakan. Rasanya seperti apa? Engkau merasa terancam, bukan?
Inilah Allah yang kudus, Saudara — Allah yang tidak terbandingkan.
Saya ini gila sepeda. Kalau Saudara mengikuti dunia sepeda, minggu-minggu ini sedang berlangsung lomba sepeda nomor satu di seluruh dunia, yaitu Tour de France. Saudara yang tidak mengikuti sepeda pun pasti pernah mendengar Tour de France. Beberapa tahun terakhir lomba ini didominasi oleh seorang atlet bernama Tadej Pogačar dari Slovenia. Hari ini sebenarnya ia sudah menang, dan menang dengan jeda yang sangat jauh dari peringkat kedua dan ketiga. Ia mendominasi habis-habisan.
Dari tahun-tahun sebelumnya pun sudah demikian, tetapi tahun ini lebih luar biasa lagi. Orang-orang berusaha mengejar dia, dan kita tahu mereka sebenarnya berkembang — sepeda itu ada meterannya, jadi Saudara bisa tahu berapa daya yang keluar dan berapa lama seseorang bisa menahan daya tersebut. Orang-orang yang berusaha menandingi Pogačar jelas mengalami perkembangan. Namun Pogačar berkembang jauh melampaui mereka semua. Dan ia masih muda. Ia sudah lima kali menang Tour de France; itu sudah menyamai rekor dunia. Tidak ada yang pernah menang lebih banyak daripada itu. Dan karena ia masih muda, ia bisa menang enam atau tujuh kali — kita tidak tahu.
Berhadapan dengan orang seperti itu rasanya seperti apa? Tour de France itu ada dua puluh satu etape, dan baru pada etape keenam Pogačar sudah unggul begitu jauh sampai para manajer tim lain berkata, “Sudahlah, kita pulang saja.” Kalau orang ini menyerang, tidak ada yang bisa melawan. Biasanya kalau mereka sedang berjalan bersama lalu ada yang menyerang, yang lain harus meresponsnya. Namun kalau Pogačar yang pergi, orang sudah tidak peduli; tidak ada lagi yang mau mencoba mengikuti. Mereka justru berebut satu sama lain memperebutkan posisi juara dua dan juara tiga. Tidak ada lagi yang peduli pada juara satu. Berhadapan dengan kehadiran orang yang super seperti ini, rasanya seperti apa?
Bahkan kalau selama ini jati diri Saudara adalah, “Saya ini orangnya malas sekali,” Saudara tetap bisa merasa terancam kalau melihat ada orang yang seratus kali lipat lebih malas daripada Saudara. Kalau dengan manusia saja sudah seperti ini, apalagi ketika kita bertemu dengan Allah yang kudus, kudus, kudus.
Dan inilah yang menarik. Inilah sebabnya respons Yesaya adalah, “Celakalah aku, aku najis bibir.” Saudara tahu mengapa ia berkata demikian? Orang mengira karena Yesaya sering berkata kotor. Bukan, Saudara — justru terbalik. Bibir itulah jati dirinya selama ini, itulah kebanggaannya selama ini, itulah hal terbaik yang selama ini ia miliki. Yesaya kalangan elit, sekali lagi. Dan kalau Saudara melihat tulisannya sepanjang kitab Yesaya, Saudara tahu seberapa tinggi kemampuan sastranya. Bibirnya adalah kebanggaannya. Namun di hadapan Tuhan, ketika ia berjumpa dengan Tuhan, runtuh semuanya. Itu hanya kain kotor. Ternyata, “Celakalah aku, najis bibirku” — itulah yang terjadi ketika bertemu dengan Allah yang kudus.
Inilah pelajaran yang dapat kita tarik dalam poin ketiga ini. Kalau Saudara pernah melihat Tuhan, benar-benar melihat Tuhan, Saudara pasti tahu bedanya. Saudara akan sangat bisa membedakan apakah engkau benar-benar pernah melihat Tuhan, atau selama ini engkau hanya tahu mengenai Dia. Karena pengalaman melihat Tuhan akan membuat dirimu runtuh. Istilah “celakalah aku” dalam bahasa aslinya berarti teruntailah diriku — runtuh, tidak ada dasar lagi untuk berdiri.
Ada seorang konselor memberi kesaksian. Konselor ini bekerja sebagai konselor mahasiswa di sebuah universitas elit unggulan. Ketika ditanya kasus-kasus apa yang ia hadapi di sana — narkoba? seks bebas? — ternyata bukan yang seperti itu. Ini sekolah elit unggulan. Jadi apa kasusnya? Anak-anak yang masuk ke sini sudah biasa sejak kecil mendapat nilai A. Dari TK, SD, SMP, SMA, semua nilainya A. Mereka sudah terbiasa sejak kecil dikatakan, “Kamu pintar, kamu pintar, kamu pintar.” Dengan demikian, sedikit banyak mereka membangun diri mereka di atas dasar itu. Siapa aku? Apa jati diriku? Aku pintar. Aku dapat A.
Sekarang mereka masuk sekolah elit, dan untuk pertama kalinya dalam hidup mereka, banyak dari mereka harus mendapat B atau C. Mereka terkejut. Dan Saudara tahu apa yang terjadi? Mereka teruntai, mereka runtuh, mereka tidak tahu lagi siapa diri mereka. Sampai sedemikian rupa. Oleh karena itu tugas konselor ini adalah bersama-sama berusaha membangun ulang identitas anak-anak ini dari nol. Sampai sebegitunya.
Inilah poinnya, Saudara: di hadapan Allah yang kudus, apa efeknya? Efeknya, engkau bukan hanya melihat atau mengakui dosa-dosamu, tetapi engkau bahkan mengakui dan melihat bahwa kebaikan-kebaikanmu selama ini pun akhirnya hanya kain kotor. Perhatikan, Yesaya bukan sedang mengakui apa yang salah dengan dirinya selama ini. Ia justru sedang mengakui apa yang selama ini dianggap baik, apa yang menjadi kebanggaannya — bahwa itu pun, di hadapan Allah yang kudus dan tidak terbandingkan itu, ujungnya hanya kain kotor.
Selama ini Yesaya mungkin sudah menggunakan bibirnya dengan tujuan-tujuan yang baik. Mungkin ia seorang perajin liturgi, atau apa pun. Namun pada akhirnya, di hadapan Allah, ia menyadari bahwa bahkan hal-hal baik yang dilakukan dengan bibirnya itu ujungnya hanya kain kotor di hadapan Tuhan.
Dengan kata lain, trauma berhadapan dengan Allah yang kudus itu bukan sekadar bahwa Allah yang terang membuat semua borok kita menjadi kelihatan jelas — itu yang sering kali kita dengar orang katakan selama ini. Traumanya adalah bahwa ketika terang Allah datang, maka bahkan hal-hal yang kita banggakan dan kita rasa putih bersih selama ini pun terbongkar semuanya. Ternyata hanya kain kotor. Itulah yang membuat trauma.
Saya ini hobi bersepeda, sekali lagi. Dan saya cukup gila dalam menjaga kebersihan sepeda saya. Setiap kali pulang dari ride, sepeda itu dibersihkan, dilap sampai ke bagian yang paling sempit; celah yang terkecil pun saya cari. Kalau ada kotoran sedikit saja, saya lap dengan lap microfibre yang paling mahal, dengan cairan pembersih khusus, dsb. Namun Saudara tahu, kalau Saudara memakai senter dan menyorotnya langsung ke badan sepeda saya, maka tempat-tempat yang sudah saya rasa bersih pun ternyata masih ada debu dan kotorannya.
Seperti itulah pengalaman berhadapan dengan Allah yang kudus, kudus, kudus. Kita bukan hanya akan mengakui dosa-dosa kita; kita akan menyadari bahwa semua kebaikan kita pun hanya kain kotor.
Satu contoh lagi yang mungkin masuk di zaman kita, yang juga sudah beberapa kali kita singgung. Hari ini kita hidup di era apa? Era authenticity. Harus otentik. Semua selebgram dan politikus ingin tampil otentik. Sangat penting hari ini untuk menjadi otentik, karena musuh bersama hari ini adalah orang-orang yang bermain pencitraan; orang yang artifisial itu dianggap orang yang paling buruk. Itu sebabnya harus otentik.
Namun sebenarnya, bukankah orang yang berusaha menjadi otentik adalah orang yang paling artifisial? Coba Saudara pikirkan baik-baik. Kalau ada tulisan atau video berjudul “How to become authentic”, bagaimana menjadi otentik, lalu isinya, “Ayo, lakukan A, B, dan C” — maka kita menjadi lebih otentik dengan melakukan A, B, dan C? Otentik dari mana itu? Itu artifisial sekali.
Kalau usahanya datang dari dirimu sendiri untuk menjadikan dirimu lebih otentik, itu sebenarnya adalah usaha untuk menciptakan citra bagi orang lain — supaya mereka melihat bahwa kita otentik. Itu yang paling artifisial. Ketika kita memanggil orang lain, “Hei, just be yourself, be authentic,” kita sebenarnya sedang mengatakan, “Sepertinya kamu perlu ganti citra.” Jadi orang-orang yang berusaha menjadi otentik justru orang-orang yang paling artifisial, yang paling bermain pencitraan.
Oleh karena itu kepada zaman ini kita boleh menantang: engkau mau menjadi otentik? Tahukah engkau satu-satunya tempat engkau bisa sungguh-sungguh menjadi otentik? Engkau hanya bisa otentik di hadapan Allah yang kudus seperti tadi. Karena baru di hadapan Allah yang seperti itulah engkau menyadari benar-benar siapa dirimu. Engkau tidak punya jalan lain selain sungguh-sungguh mengakui seberapa rusak dirimu — bukan hanya dosa-dosamu selama ini, tetapi semua kebaikanmu selama ini pun hanya kain kotor. Itu otentik. Semuanya kelihatan jelas.
Otentisitas sejati seperti ini, adakah yang mau? Inilah problem OSG couple, bukan? Semua kelompok kecil seharusnya memecah diri dan menerima anggota baru. Namun itu sulit, karena dalam pertemuan-pertemuan selama satu dua tahun bersama orang-orang yang itu-itu juga, kita sudah membuka aib kita sampai yang paling aib. Mana mungkin tiba-tiba ada orang lain masuk, yang kita tidak kenal siapa dia, lalu kita harus menceritakan semua aib itu lagi.
Itulah otentik. Otentisitas sejati. Hal yang paling asli dalam hidupmu adalah sesuatu yang tidak mungkin engkau mau buka untuk dilihat semua orang. Kalau engkau benar-benar mengejar otentisitas di tengah masyarakat, maka silakan buka semua dirty laundry-mu untuk disaksikan semua orang — dan lihat siapa yang mau.
Katanya ada hal-hal dalam diri kita yang kita mau semua orang lihat; itu level pertama. Ada hal-hal yang hanya kita berikan kepada sebagian orang untuk dilihat; itu level kedua. Ada hal-hal yang tidak kita berikan kepada siapa pun untuk dilihat; itu level ketiga. Dan ada level keempat: hal-hal yang kita sendiri pun tidak sudi melihatnya. Kalau engkau mau otentik, benar-benar otentik, silakan taruh hal-hal level terakhir ini di level yang pertama. Itu baru otentik.
Dengan demikian Saudara menyadari bahwa semua bahasa dan diksi otentik yang menjadi kebajikan zaman sekarang itu pun hanya kain kotor. Semuanya pada ujungnya adalah pencitraan tok. Seperti itulah pengalaman bertemu dengan Allah: runtuh semuanya. Adakah yang mau?
Ironisnya — dan inilah ketegangannya — di dalam Alkitab, justru inilah pengharapannya.
Pertama, kalau engkau benar-benar mengalami hal ini, inilah cara engkau tahu bahwa engkau sungguh-sungguh berjumpa dengan Allah yang sejati, dan bukan Allah bikinan kepalamu sendiri. Ini Allah yang otentik; engkau sungguh-sungguh berjumpa dengan Dia. Logis, bukan? Coba pikirkan, menurutmu adakah kemungkinan lain selain ini ketika engkau bertemu dengan Allah yang kudus dan superlatif? Itulah momen ketika Petrus menyadari siapa Yesus sesungguhnya, dan ia hanya bisa berkata, “Pergilah dari padaku, Tuhan, sebab aku ini seorang berdosa.” Itulah momen ketika Ayub akhirnya berjumpa dengan Tuhan dan berkata, “Dahulu aku hanya mendengar tentang Engkau dari kata orang, tetapi sekarang mataku sendiri melihat Engkau.” Lalu apa lanjutannya? Hore, puji Tuhan, haleluya? Bukan, Saudara — melainkan, “Aku mencabut perkataanku dan menyesal dalam debu dan abu.” Jadi Saudara mau tahu dari mana bahwa engkau punya pengalaman sejati di hadapan Tuhan? Dari sini. Itulah pengharapannya.
Kedua, ini pengharapan karena tanpa ini, tanpa pengenalan akan Allah yang demikian, engkau tidak akan pernah bisa berlanjut kepada hidup yang bermisi seperti Yesaya. Mengapa selama ini hidup kita tidak ada “ini aku, utuslah aku”? Karena kita juga tidak pernah melihat Tuhan seperti Yesaya. Engkau perlu melihat Tuhan sampai terguncang seperti ini supaya hidupmu sanggup mulai bermisi di hadapan Tuhan.
Keempat: Bara dari Mezbah dan Hidup yang Bermisi
Dengan demikian kita masuk ke dalam poin yang terakhir, yaitu ayat 6 – 8.
Lalu salah satu serafim itu terbang ke arahku. Di tangannya ada bara yang diambilnya dengan sepit dari atas mezbah. Ia menyentuhkannya pada mulutku serta berkata, “Lihat, bara ini telah menyentuh bibirmu, maka kesalahanmu telah disingkirkan dan dosamu telah dilenyapkan.” Lalu aku mendengar suara Tuhan berkata, “Siapakah yang akan Kuutus dan siapakah yang mau pergi untuk Kita?” Sahutku, “Ini aku, utuslah aku!”
Bara dalam Perjanjian Lama selalu melambangkan penghakiman. Namun bara itu menyentuh bibir yang najis itu dan tidak menghanguskannya — malah memulihkannya, mengampuninya. Dan ia lalu diubah menjadi orang yang siap pergi dan melakukan segala sesuatu bagi Tuhan: “Ini aku, utuslah aku.”
Perhatikan, Saudara. Kalau Saudara membaca ayat lanjutannya, setelah Yesaya berkomitmen seperti ini, barulah Tuhan mengatakan job description-nya.
Kemudian firman-Nya, “Pergilah dan katakanlah kepada bangsa ini: Dengarlah sungguh-sungguh, tetapi kamu tidak akan mengerti; lihatlah sungguh-sungguh, tetapi kamu tidak akan memahami. Buatlah hati bangsa ini keras dan telinganya berat mendengar dan matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalik dan menjadi sembuh.” Kemudian aku bertanya, “Sampai berapa lama, ya Tuhan?” Lalu jawab-Nya, “Sampai kota-kota menjadi puing tanpa penduduk, dan rumah-rumah tanpa penghuni, dan tanah menjadi telantar dan sunyi sepi.”
Ini pada dasarnya berbicara mengenai panggilan Yesaya. Sekarang lihatlah kondisi zaman Yesaya — zaman ketika Yehuda sedang kebingungan karena Uzia mati. Siapa raja berikutnya? Tidak tahu. Kuat atau tidak? Tidak tahu. Ini tahun kematian yang penting, Saudara, karena sesungguhnya inilah tahun ketika segala sesuatu yang menjadi cikal bakal pembuangan itu bermula. Naiknya Asyur, turunnya Asyur, naiknya Babel, dan segala macam — semuanya boleh dikatakan terpicu dalam tahun kematian Raja Uzia. Dan Yesaya dipanggil dalam zaman yang sangat tidak menentu seperti ini: pergi berkhotbah ke tempat-tempat itu seumur hidupnya. Dan pada dasarnya Tuhan berkata, “Tidak akan ada yang mendengarkan kamu.”
Dan apa respons Yesaya? Apakah ia berkata, “Kalau begitu, tidak jadi saja”? Tidak. Ia justru bertanya, “Sampai kapan, Tuhan?” Dan ini bukan seperti anak saya yang berkata, “Kok lama,” padahal baru dua detik. Bukan begitu. Kalimat ini sesungguhnya berarti: siap, Tuhan — sampai kapan? Dan Tuhan menjawab: sampai pembuangan.
Tentu saja pada akhirnya pelayanan Yesaya bukan tidak berbuah, karena firman Tuhan tidak pernah turun dengan sia-sia. Namun semasa hidup Yesaya, tidak ada hasilnya, tidak ada buahnya. Yesaya baru dihargai setelah pembuangan terjadi. Orang-orang baru menyadari bahwa Yesaya yang benar setelah pembuangan terjadi, bukan sebelumnya. “Ini aku, utuslah aku.” Bagaimana bisa? Mengapa bisa seperti ini? Karena Yesaya melihat Tuhan di atas takhta-Nya. Karena Yesaya melihat Allah yang kudus. Itulah kunci hidup yang bermisi.
Saudara, cerita yang paling mudah untuk membuat kita menyadari apa itu kekudusan adalah cerita dalam 2 Samuel 23 — yang pernah kita nyanyikan dalam salah satu himne kita mengenai tiga orang pahlawan. Daud sedang menyingkir ke padang belantara karena Betlehem, kota kampung halamannya, direbut oleh orang Filistin. Ia bahkan tidak bisa pulang. Ia berkemah di padang belantara, hanya dikelilingi oleh para mighty men-nya, para pahlawannya itu. Lalu ia berkata, “Kalau aja ada yang bisa kasih aku minum air dari sumur yang ada di pintu gerbang Betlehem.”
Ini sebuah desahan, Saudara — bukan sebuah perintah. Ini hanya seperti keluhan: apakah Tuhan akan mengembalikan aku ke sana atau tidak? Hanya desahan seperti itu. Hanya saja Daud memang orang yang puitis, jadi ia membuat syair seperti itu.
Lalu ketiga pahlawannya mendengar desahan seperti ini. Mereka langsung mengambil peralatan perang, dan mereka tidak lupa membawa jerigen. Siang-siang mereka menyerbu Betlehem. Betlehem itu ada di atas bukit, jadi sudah pasti mereka berperang melawan medan yang menanjak. Setelah dekat dengan kota, pasti orang-orang Filistin datang menghajar mereka. Tiga orang ini harus bertempur sambil mendaki bukit. Lalu mereka menimba air — yang satu menimba, yang dua memberi perlindungan. Entah berapa lawan berapa; mungkin seribu orang garnisun di sana, dan mereka hanya bertiga. Selesai itu, mereka mundur pelan-pelan menuruni bukit, dan turun itu berbahaya sambil membawa air yang berat sekali. Lalu mereka pulang menempuh padang belantara di tengah siang seperti itu — ada air, tetapi tidak boleh diminum.
Akhirnya mereka sampai kepada Daud dan memberikan air itu: “Inilah air yang Tuan minta itu, ya Rajaku.” Dan Daud berkata, “Ini tidak bisa. Ini devosi dan kesetiaan yang terlalu tinggi, terlalu berbeda, terlalu lain — kudus — sehingga ini tidak bisa untuk aku. Ini hanya bisa untuk Tuhan.” Itu sebabnya Daud mempersembahkan air itu ke hadapan Tuhan.
Apa artinya ini? Tadi kita mengatakan bahwa kekudusan Allah berarti seberapa Ia tidak terbandingkan, seberapa Ia lain, melampaui dan mengatasi segala sesuatu. Nah, inilah ekuivalen manusianya. Daud menguduskan air ini di hadapan Allah. Mengapa? Karena inilah air hasil kesetiaan yang terlalu tinggi, terlalu tidak terbandingkan, terlalu lain, terlalu khusus. Ini tidak bisa untuk dia; ini hanya untuk Allah.
Inilah cerita yang membuat kita menyadari gambaran menjadi orang yang kudus di hadapan Allah. Sekali lagi, ini bukan urusan formula, daftar centang, dan seberapa bermoral kita. Banyak orang, termasuk orang Kristen, bingung mengapa orang dari agama lain bisa lebih bermoral daripada orang Kristen. Mengapa harus bingung? Karena memang kekristenan bukan terutama mengenai hal itu! Kekudusan Kristen adalah seberapa hatimu terfokus, terpisah, dan terkhusus hanya kepada Tuhan.
Perhatikan, yang mengagumkan dari para pahlawan ini bukanlah seberapa banyak skor bunuh yang mereka peroleh dengan pedang mereka. Bukan pula seberapa efisien rute yang mereka ambil dari perkemahan Daud sampai ke Betlehem dan kembali — apakah mereka mencetak fastest known time atau tidak. Ini mengenai seberapa hati mereka begitu terkhususkan bagi Daud, sehingga sekadar desahan dari mulut Daud terdengar bagi mereka sebagai sebuah perintah.
Mereka tidak seperti kita, Saudara. Jauh sekali. Kita, dalam hal perpuluhan, memberi sepuluh persen di hadapan Tuhan sambil bertanya, “Pak, ini sesudah pajak atau sebelum pajak?” Mereka jauh melampaui itu, karena mereka semata-mata mencari apa yang sedikit saja bisa mendatangkan sukacita bagi dia yang kepadanya mereka mengabdi. Ini sama sekali bukan urusan perintah. Ini justru masuk ke ranah tebak-tebakan: mereka menebak-nebak apa kira-kira yang mendatangkan sukacita bagi Daud.
Dan kalau Saudara berpikir ini gila, terlalu berat, tuntutan yang kelewatan — justru sebaliknya. Inilah mode ketaatan yang paling ringan. Karena ketika engkau melakukan ini, engkau melakukannya demi Tuhan; engkau melakukannya karena engkau melihat Tuhan. Karena sukacita yang tertinggi dalam hidupmu adalah ketika engkau melihat Dia bersukacita. Dan cinta seperti ini tidak pernah terasa sebagai ketaatan.
Orang beragama bertanya, “Apa yang harus saya lakukan?” Orang yang berhati kudus bertanya, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Dan Saudara lihat mengapa semua ini bisa muncul? Kekudusan Allah. Kekudusan Allah melahirkan kekudusan dalam diri manusia. Yesaya mendapatkan hati yang kudus, yang siap berfokus hanya kepada Allah dan misi Allah, karena ia melihat Allah yang kudus. “Kuduslah kamu, sebab Aku kudus” itu bukan hanya perintah. Itu kekuatannya. Itu mesinnya.
Penutup:
Ia Telah Menguduskan Diri-Nya bagi Kita
Dari mana kita bisa menjadi seperti itu? Lihatlah kepada Allahmu!
Saya tidak tahu mengapa Yesaya bisa sedemikian berdevosi kepada Tuhan, dan mungkin sampai mati pun saya tidak akan tahu, karena saya tidak melihat persis apa yang ia lihat. Saya tidak tahu apa yang para pahlawan Daud lihat pada diri Daud sehingga mereka bisa sedemikian mengabdi kepadanya. Namun saya tahu apa yang kita bisa lihat pada Kristus — pada Kristus yang membuat kita bisa hidup kudus bagi Dia.
Yaitu bahwa pada malam sebelum Ia disalibkan, Yesus sendiri mendeklarasikan di hadapan Allah Bapa: “Aku menguduskan diri-Ku bagi mereka, supaya mereka pun dikuduskan dalam kebenaran.” Yohanes 17:19.
Oleh karena itu Saudara boleh menyadari bahwa kisah tiga pahlawan tadi ternyata bukan hanya berbicara mengenai bagaimana kita bisa kudus di hadapan Allah; itu kisah yang ada di dalam Alkitab, dan karena itu ia sedang berbicara mengenai penggenapan yang paling tinggi dan paling utuh, yaitu siapa? Yesus Kristus.
Itu kisah yang berbicara mengenai bagaimana Kristus telah menguduskan diri-Nya bagi kita. Siapakah pahlawan yang sesungguhnya, yang bertempur mendaki bukit menembus garis pertahanan musuh bagi kita? Dan bukitnya bukan bukit Betlehem; bukitnya bukit Golgota. Dan Ia bertempur bukan hanya untuk membawakan kepada kita sekadar air yang setelah diminum kita akan haus lagi, melainkan air hidup yang sungguh dicurahkan di hadapan Tuhan, sehingga engkau dan saya boleh hidup kudus di hadapan Tuhan.
Allah yang kudus, yang berbeda, yang lain, yang melampaui segala sesuatu ini, telah menguduskan diri-Nya bagi kita. Inilah yang membuat kita bisa berkata, “Ini aku, utuslah aku.” Kita bisa bertekad hidup kudus karena Ia terlebih dahulu menguduskan diri-Nya bagi kita.
“Kuduslah kamu, sebab Aku kudus.” Kalimat itu terdengar berat. Namun sekarang Saudara mendapat lapisan makna yang baru, suatu keindahan dalam kalimat itu yang tidak akan Saudara temukan di mana pun: bahwa Allah yang kudus telah menguduskan diri-Nya bagi kita.
Saudara, doakanlah supaya pesan firman Tuhan ini boleh diproklamasikan di KKR Sumba yang akan datang ini. Dukunglah dalam doa. Dan Saudara mungkin perlu meminta kepada Tuhan — kalau selama ini engkau belum pernah melihat diri-Nya, mintalah pengalaman ini kepada Tuhan. Dan mungkin engkau pun boleh ikut diutus.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (EB)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading