Kitab Wahyu, meskipun penuh dengan gambaran tentang bagaimana Tuhan menghukum dunia, ternyata dibuka dengan peringatan yang diberikan kepada umat Tuhan. Peringatan ini sangat mirip dengan apa yang diberikan oleh nabi-nabi kepada kota-kota atau bangsa-bangsa kuno yang sekarang sudah tidak ada lagi.
Ketika Yesaya memberikan teguran kepada Israel, di tengah-tengah teguran itu ia juga memberikan teguran bagi kota-kota penting pada zaman itu. Waktu Yehezkiel memberikan teguran kepada Israel, Yehezkiel juga memberikan teguran bagi bangsa-bangsa lain. Ketika bangsa-bangsa itu ditegur dan tidak ada perubahan, bangsa-bangsa itu pun tidak ada lagi. Tuhan menegur Babel, dan Babel tidak ada lagi. Tuhan menyatakan teguran kepada Tirus, dan Tirus sudah tidak ada lagi — batu-batunya sudah dibuang ke dalam laut. Tuhan menegur Mesir, dan Mesir tidak ada lagi.
Kalau kita mengerti cara ini: Tuhan menegur bangsa-bangsa itu, dan karena keras hatinya mereka tidak bertobat, akhirnya mereka tidak ada lagi. Demikian pula di dalam Kitab Wahyu ada teguran bagi Gereja Tuhan, dan hal yang sama berlaku. Jika mereka keras dan tegar hati, mereka tidak akan ada lagi.
Tentu Gereja Tuhan tidak mungkin hilang; Tuhan yang akan menjaga dan memelihara. Namun daerah yang tadinya diberkati dengan kehadiran Gereja akhirnya habis dalam hal kekristenannya. Kita tidak melihat lagi ketujuh Gereja di Asia Minor sebagai Gereja yang masih hidup melayani Tuhan dan beribadah kepada Tuhan. Kita melihat apa yang terjadi pada zaman kuno, dan peringatan yang Tuhan berikan dahulu ternyata berakhir tragis. Kota-kota itu tidak lagi diisi oleh kekristenan.
Demikian peringatan ini diwariskan kepada kita. Dengan rendah hati kita mau mendengar: Tuhan, teguran apa yang Engkau mau berikan? Biarlah kita tidak dikecualikan dari pertobatan, dan biarlah Tuhan menolong kita sehingga kita tidak menjadi kelompok yang mengabaikan peringatan dan akhirnya tidak ada lagi.
Sang Amin, Penggenap Janji Allah
Di dalam bagian ini Kristus menyatakan diri kepada Laodikia melalui penilik jemaat, pemimpin jemaat, malaikat jemaat. Ia memperkenalkan diri sebagai Sang Pemberi Firman. Pemberi Firman ini disebut Amin, Saksi yang setia dan benar, permulaan dari ciptaan Allah. Di sini kita melihat Kristus adalah penggenap dari janji yang Tuhan berikan kepada manusia.
Manusia diciptakan Tuhan, dan Tuhan menginginkan manusia berada di dalam kondisi menjadi raja. Di dalam City of God, Agustinus mengingatkan bahwa manusia tidak menjadi raja atas sesamanya, melainkan manusia secara komunal menjadi raja. Inilah yang Tuhan mau berikan kepada manusia ketika Tuhan menciptakannya. Dan apa yang Tuhan mau berikan tidak Tuhan tarik kembali — Tuhan akan menggenapkannya.
Itu sebabnya ayat-ayat yang kita baca ditutup dengan perkataan, “Barangsiapa menang, ia akan Kududukkan bersama-sama dengan Aku di atas takhta-Ku.” Manusia menjadi raja di dalam Kristus, artinya Kristuslah yang menggenapkan janji Tuhan. Itu sebabnya di dalam Kristus kita bisa mengatakan, “Ya, janji Tuhan itu benar, sungguh terjadi. Amin.”
Air yang Memuakkan: Latar Kota Laodikia
Di dalam Kristus kita mendapatkan penggenapan ini, namun ada peringatan dari Sang Penggenap janji kepada manusia itu, yang diberikan kepada Laodikia. Dikatakan di dalam ayat 15, “Aku tahu segala pekerjaanmu: engkau tidak dingin dan tidak panas. Alangkah baiknya jika engkau dingin atau panas!”
Di dalam gaya para nabi, peringatan kepada kota-kota kuno sering disampaikan dengan mengambil ciri geografis ataupun budaya dari bangsa atau kota yang diperingatkan itu. Mereka memberikan peringatan, lalu peringatan itu mengena dengan situasi setempat. Dalam peringatan kepada Tirus misalnya, Tuhan berkata, “Engkau bangga dengan kapal-kapalmu yang besar. Engkau bangga dengan kayu aras yang kauhasilkan. Aku akan membuat hutan kayu yang kaubanggakan menjadi gundul. Aku akan memecahkan kapal-kapalmu di laut. Aku akan melempar batu-batu kotamu ke dalam laut.” Ini cocok untuk Tirus, dan kita mengerti dalam dan tajamnya peringatan Tuhan kalau kita tahu konteksnya.
Demikian juga di bagian ini. Kita sulit mengerti apa yang Tuhan maksudkan dengan orang Laodikia yang suam-suam kuku, tidak panas dan tidak dingin, serta memuakkan — kecuali kita mengerti bahwa hal ini berkaitan dengan sumber air di Laodikia.
Ada dua sumber air di sekitar kota itu. Yang pertama datang dari Hierapolis, berupa air panas. Banyak orang percaya ada khasiat di dalam air ini untuk menyembuhkan penyakit kulit; orang yang berpenyakit kulit berendam di situ dan sembuh karena aliran air panasnya. Karena itu tempat ini menjadi tempat kesembuhan.
Aliran yang berikutnya datang dari Kolose, berupa air yang segar dan dingin, bahkan di beberapa tempat sangat dingin. Sering kali para tentara berendam di sana dengan harapan badan mereka kembali disegarkan untuk berperang. Ketika orang berendam di dalam air bersuhu dingin, mereka merasa kuat kembali dan lebih mampu mempertahankan kestabilan dari stres. Hal ini sangat diperlukan oleh tentara.
Karena kedua aliran air ini mendekat ke Laodikia, timbullah gagasan untuk menggabungkan dua sumber air yang paling besar itu. Laodikia membuat saluran supaya kedua air ini mengalir ke kota mereka. Ambil yang terbaik dari luar, lalu masukkan ke dalam.
Namun ternyata ketika kedua air ini bergabung, yang dihasilkan adalah air yang tidak lagi bisa menjadi sumber panas — sudah dinetralisir oleh sumber dingin dari Kolose. Air ini pun tidak lagi segar untuk diminum, karena sudah dikacaukan oleh mineral yang dibawa dari Hierapolis. Ketika orang minum, mereka merasa muak, mual, ingin muntah meminum airnya. Karena kebanggaan mereka untuk mempersatukan dua sumber air yang terbaik, yang dihasilkan justru sumber air yang tidak berguna.
Yang dilakukan Laodikia adalah dengan bangga menggabungkan dua yang terbaik untuk menjadi milik mereka. Gaya inilah yang Tuhan tegur. Engkau senantiasa memperkaya dirimu dengan bangga; tarik semua sumber, tarik semua keuntungan, supaya menjadi milik kami — kamilah pemiliknya. Namun kedua sumber itu tidak bisa digabung. Mereka akhirnya memperoleh air yang tidak bagus untuk berendam dan memuakkan untuk diminum.
Konteks ini yang Tuhan pakai ketika Ia berkata, “Kamu, hai jemaat Laodikia, Saya melihat pekerjaanmu, dan Saya tahu engkau tidak panas dan tidak dingin. Engkau berusaha ambil yang panas, ambil yang dingin, dan gabungkan. Namun yang dihasilkan adalah air yang memuakkan. Engkau membuat Aku ingin memuntahkan engkau dari mulut-Ku.”
Tuhan yang Ingin Menikmati Umat-Nya
Ini peringatan yang keras sekali. Di dalam bagian ini kita mendapatkan Tuhan yang ingin menikmati jemaat-Nya justru dibuat muak oleh jemaat-Nya.
Rekan saya dalam persekutuan doa pernah membawakan khotbah, dan ia mengatakan bahwa Tuhan ingin menikmati kita sebagai umat-Nya. Tuhan ingin senang karena apa yang kita kerjakan. Namun ketika apa yang kita kerjakan justru membangkitkan rasa mual, Tuhan bukan hanya kecewa melihat kita gagal menyenangkan Dia — Dia bahkan tidak tahan melihat kita.
Gambaran ini sangat keras. Tuhan tidak tahan melihat umat-Nya. Dengan demikian kita mesti membaca bagian ini dengan hati-hati. Ada sekelompok orang Kristen pada abad-abad awal kekristenan yang dilihat oleh Tuhan, lalu Tuhan mengatakan, “Saya tidak tahan lihat engkau. Saya mau memuntahkan engkau dari mulut-Saya.”
Tentu kita harus dengan serius mencari tahu: apa sebenarnya yang membuat Tuhan mual? Apa yang membuat Tuhan tidak bisa menikmati Gereja-Nya, sehingga ketika Ia melihat Gereja-Nya, yang Ia lihat hanyalah hal yang membuat-Nya mau muntah? Inilah sifat koreksi besar yang harus kita miliki, untuk mencari tahu apa yang membuat Tuhan membuang Laodikia.
Merasa Diri Berkecukupan
Di bagian berikutnya dikatakan, “Karena engkau berkata: Aku kaya dan aku telah memperkayakan diriku dan aku tidak kekurangan apa-apa, dan karena engkau tidak tahu, bahwa engkau melarat, dan malang, miskin, buta dan telanjang.” Ternyata ini karena orang-orang Laodikia merasa dirinya berlimpah sehingga mereka tidak merasa perlu datang kepada Tuhan, dan karena itu Tuhan melihat mereka dengan muak.
Inilah peringatan yang sangat penting: merasa diri limpah, merasa diri berkecukupan di dalam hal-hal yang sangat dikagumi oleh dunia ini. Inilah yang dialami oleh orang-orang Laodikia. Mereka ditegur dengan keras oleh Tuhan karena kekayaan yang mereka punya.
Hal ini menimbulkan semacam perdebatan kuno. Memangnya kekristenan anti kekayaan? Mengapa kekristenan sepertinya berlawanan dengan harta? Apakah orang Kristen tidak boleh memiliki harta? Apakah kekristenan yang pro terhadap kepemilikan harta adalah aliran menyimpang yang menekankan injil yang sudah salah? Mengapa ada pertentangan antara kekristenan dan harta? Kita akan melihat dasar dari teguran ini.
Tuhan tidak mengatakan, “Jadilah miskin, engkau tidak boleh kaya!” Namun Tuhan mengatakan, “Karena engkau berkata aku sudah kaya dan tidak memerlukan apa pun, engkau tidak sadar bahwa engkau melarat.”
Yang menjadi pokok persoalan di sini bukanlah berapa banyak kekayaan seseorang, lalu dengan banyaknya kekayaan itu ia diidentikkan dengan orang berdosa. “Hartamu berapa?” “Oh, sepuluh miliar.” “Dosamu besar.” “Hartamu berapa?” “Oh, saya banyak utang.” “Nah, ini orang suci.” Bukan itu.
Yang mau ditekankan di sini adalah: karena ada harta yang saya miliki — atau apa pun yang dikagumi orang yang saya miliki — maka saya tidak melihat kekurangan saya.
Blind Spot dan Pride Spot
Di sini orang gagal melihat blind spot-nya. Ke mana pun kita melihat, kita selalu luput melihat hal yang lain. Ketika kita berkonsentrasi melihat ke depan, bagian belakang tidak bisa kita lihat. Ketika kita menyoroti bagian kiri, kita luput menyoroti bagian kanan. Selalu akan ada blind spot.
Saya pernah mengikuti ujian SIM di kepolisian Kabupaten Bogor, karena dahulu saya tinggal di sana. Waktu itu ada Kapolres yang bagus sekali; ia menata semuanya dengan rapi, termasuk ujian SIM. Ia melarang adanya pembayaran apa pun dan menginginkan ujian yang persis seperti yang disyaratkan, sehingga ujiannya tidak aneh dan masuk akal. Kalau ada di antara Saudara yang pernah mengikuti ujian SIM, Saudara tahu ada banyak hal yang tidak masuk akal di sana. Beberapa waktu sebelumnya pertanyaan yang ditanyakan aneh-aneh, namun waktu terakhir saya ikut, pertanyaannya normal, ujiannya baik, dan saya lulus dalam satu kali percobaan.
Setelah itu saya bertanya kepada polisi di situ, “Ini SIM A, ya. Apa sebenarnya bedanya dengan SIM B? Mengapa harus ada SIM level tinggi untuk truk?” Ia menjawab, “SIM B itu ditentukan untuk kendaraan yang banyak blind spot-nya. Kalau blind spot-nya minimal, SIM A sudah cukup.” Kalau kendaraan Saudara jendela belakangnya ditutup, itu tidak boleh SIM A, karena blind spot-nya terlalu banyak sehingga SIM A tidak cukup. Kalau jendela belakangnya biasa, Saudara bisa memakai kaca spion untuk melihat bagian belakang.
Demikianlah hidup kita: banyak blind spot yang kita miliki. Waktu itu saya masih mahasiswa, dan saya pernah mendengar sharing dari seorang dosen yang mengajar tentang khotbah. Ia mengatakan, “Milikilah orang yang akan menyoroti blind spot-mu dalam hal khotbah.” Kita ini punya kecenderungan menghargai khotbah kita sendiri secara berlebihan, merasa apa yang dikhotbahkan sudah sangat baik. Namun kita perlu orang-orang yang senantiasa mengingatkan, “Kamu ngomong begini; kamu punya kebiasaan ini.” Banyak blind spot yang tidak kita sadari, yang perlu dibongkar oleh rekan-rekan seperti ini.
Saya bersyukur, kalau saya berkhotbah ada istri saya sebagai pembongkar blind spot di rumah saya. Ia selalu memberi tahu, “Ilustrasimu itu-itu lagi setiap khotbah.” Kalau memang demikian, saya sering mengelak dengan berkata, “Temanya kaya tetapi ilustrasinya miskin, atau temanya miskin tetapi ilustrasinya kaya?” Katanya, “Sudahlah, blind spot diberi tahu pun tidak mengaku.”
Blind spot kita banyak, dan kita perlu diberi tahu. Inilah salah satu sebab kita memerlukan komunitas Kristen –untuk memberi tahu blind spot kita. You have blind spots. Kita punya banyak blind spot yang perlu ditunjukkan oleh orang lain.
Namun ada yang menarik. Saya membaca sebuah artikel tentang biblical counseling, dan penulisnya mengatakan bahwa sebenarnya blind spot adalah istilah yang kurang tepat, sebab yang menjadi problem kita bukan blind spot, melainkan pride spot. (Setiap kali ada permainan kata seperti ini, kita gampang ingat. Artikelnya tentang apa saya lupa, tetapi istilah blind spot dan pride spot itu masih saya ingat.) Kita bisa mengatakan, “Kamu tidak punya blind spot, tetapi pride spot.”
Waktu engkau ditegur mengenai hal yang kurang engkau pedulikan, dengan senang hati engkau menerimanya, “Terima kasih untuk masukannya.” Namun begitu hal yang sangat menyentuh hatimu ditegur, mungkin engkau tidak terima. Ada hal tertentu yang sangat dikagumi seseorang dalam dirinya, dan bagian itu tidak rela ia biarkan ditegur. Namun untuk bagian yang kurang ia pedulikan, silakan saja ditegur. “Aku orang yang rendah hati, kok. Silakan beri masukan.” Karena itu memang bukan hal penting baginya. “Oh, saya beri masukan, ya — wajahmu kok kurang tampan?” “Tidak apa-apa.” Karena tampan atau tidak bukan pride spot-nya.
Namun akan ada pride spot, dan kalau itu disinggung, saya akan marah. Ada orang yang tersinggung kalau profesionalitasnya disindir. “Kamu ini melayani kok sembarangan di gereja.” “Oh iya, tidak apa-apa, terima kasih untuk masukannya.” “Kamu penampilannya kurang bagus.” “Terima kasih untuk masukannya.” Namun sentuhlah bagian yang lain, dan reaksinya akan berbeda sama sekali. “Kamu kerja kayak amatir!” “Maksudmu apa?!” Di sini pride spot-nya kena. Pride spot membuat kita tidak sadar bahwa kita miskin. Pride spot tidak mungkin menolong kita menyadari bahwa kita adalah orang yang merana.
Inilah problem dari Laodikia. Orang Laodikia tidak sadar bahwa mereka merana, sengsara, dan miskin. Mengapa tidak sadar? Karena terlalu banyak pride spot. Bahkan untuk saluran air pun mereka dengan bangga berkata, “Tempat kami harus punya saluran air yang menyalurkan sumber air terbaik. Mana yang paling baik? Hierapolis baik, ayo salurkan ke sini. Mana lagi yang baik? Kolose baik, salurkan ke sini.” Dua-duanya digabung, jadi rusak.
Pride yang membuat Laodikia tidak bisa beribadah kepada Tuhan. Dengan bangga mereka berkata, “Kami kaya, kami sudah memperkaya diri. Kami sudah punya banyak hal yang membuat kami layak dianggap sebagai umat Tuhan di dalam keadaan yang sangat baik. Kami tidak miskin dan tidak merana.” Banyak hal yang dianggap sebagai harta berharga akhirnya menjadi pride spot orang-orang di Laodikia.
Harta yang Tidak Mungkin Hilang
Agustinus dalam City of God menghadapi serangan orang-orang yang berkata, “Kami sangat marah karena kota Roma dihancurkan oleh orang-orang barbar. Gara-gara mereka menyerang kota kami, kami kehilangan harta.”
Agustinus bertanya, “Kamu kehilangan harta apa?” “Rumah kami dibakar.” “Kalau begitu hartamu adalah rumah yang bisa terbakar. Itu bukan harta sejati.” Alkitab mengatakan harta sejati tidak mungkin hilang. Kalau apa yang kaumiliki bisa hilang, itu bukan harta sejati.
Kalau yang kamu miliki memang bisa hilang, lalu akhirnya hilang, bukankah itu normal? Hal yang bisa hilang, kalau hilang, ya wajar. Kalau ditanya, “Uang bisa hilang, tidak?” Bisa. Lalu mengapa Saudara mengeluh ketika uang itu hilang, meskipun kita tahu bahwa uang bisa hilang? Uang hanya melakukan apa yang memang bisa terjadi padanya. Harta yang bisa hilang, itu bukan harta sejati.
Ada yang mengatakan, “Kami kehilangan keluarga; orang yang kami kasihi mati. Bukankah ini sesuatu yang sangat berharga? Apakah engkau tidak menganggap keluarga itu berharga?” Agustinus menjawab: kalau relasi yang bisa mati tidak diganti dengan relasi yang kekal, maka kita harus bersiap untuk kehilangan. Kita harus siap kehilangan apa yang memang bisa hilang.
Oleh karena itu ia bertanya lagi, “Harta apakah yang kamu hilangkan? Sebab harta sejati seharusnya tidak hilang. Kalau engkau mempunyai harta di surga, tidak akan ada karat yang bisa merusakkan, tidak akan ada ngengat yang bisa menghancurkan, tidak akan ada perampok yang bisa membongkar. Mengapa orang visigoth bisa membongkar tembok Roma lalu merampas hartamu, dan kamu complain? Bukankah memang sudah dinubuatkan bahwa harta semacam itu bisa hilang?” Orang-orang mengatakan, “Harta kami hilang.” Agustinus menjawab, “Jika sejak awal engkau mengganti hartamu yang bisa hilang dengan harta yang tidak bisa hilang, engkau tidak akan berada dalam masalah ini sejak titik awalnya. Engkau tidak akan kesulitan seperti sekarang, karena hartamu memang sudah terganti.”
Apa itu harta? Mengapa disebut harta? Kristus mengatakan bahwa harta sejati tidak akan bisa hilang. Itu sebabnya Agustinus mengingatkan: jika engkau tidak mungkin kehilangan kasih Allah, tidak mungkin kehilangan persekutuan dengan Anak-Nya, tidak mungkin kehilangan efek dari darah Kristus –maka engkau mempunyai harta yang sejati. Jika hancurnya Kristus di kayu salib mewakili engkau yang hancur hati beribadah kepada Tuhan, engkau tidak mungkin kehilangan harta seperti ini. Salib Kristus tidak mungkin hilang dari kita, dan Gereja senantiasa merayakannya melalui perjamuan kudus. Mengapa kita memecahkan roti? Mengapa kita minum anggur? Karena kita tahu harta yang sejati, yaitu salib Kristus, tidak akan pernah hilang dari Gereja.
Itu sebabnya pengertian akan harta ini sangat tricky. Kita sulit mengerti apa itu harta kecuali kita mengerti nasihat Tuhan Yesus: carilah harta sejati yang tidak mungkin hilang. Namun orang Laodikia penuh dengan harta yang bisa hilang, dan mereka pikir mereka sudah cukup: “Kami sudah berlimpah dengan segala harta ini.” Dalam ayat 17 Tuhan Yesus mengatakan, “Karena engkau berkata: aku kaya, aku telah memperkaya diriku, dan aku tidak kekurangan apa-apa” — inilah yang membuat mereka mempunyai pride spot dan blind spot.
Apa yang membuat orang Laodikia punya blind spot? Karena merasa sudah kaya. Lalu apa yang mereka luput lihat? Mereka gagal melihat melarat, malang, miskin, buta, dan telanjangnya mereka. Mereka kaya secara harta, namun mereka buta, melarat, malang, miskin, dan telanjang secara esensial. Biasanya orang membedakan antara hal duniawi dan rohani, dan yang rohani sering dianggap lebih penting dari yang duniawi. Barangkali pembedaannya bukan duniawi dan rohani, melainkan esensial dan non-esensial: yang kurang esensial mereka miliki sebagai harta, tetapi yang esensial mereka tidak punya. Secara esensial mereka miskin, meskipun secara non-esensial mereka berlimpah.
Miskin dalam hal apa? Miskin dalam hal kondisi hancur hati yang diperlukan untuk datang kepada Tuhan.
Tiga Jenis Ibadah dan Ibadah yang Sejati
Sekali lagi saya mengutip dari City of God. Di situ Agustinus membandingkan konsep ibadah orang Yunani kuno, ibadah menurut pemikiran seorang filsuf bernama Porfirius, dan ibadah Kristen yang sejati. Apa yang membedakan ibadah-ibadah ini?
Orang Yunani kuno membagi dua jenis ibadah. Yang pertama, ibadah yang diberikan kepada dewa-dewa dengan cara mengekang diri, menekan hawa nafsu, dengan cara hidup yang baik dan patut dipuji — ini disebut theorgia. “Saya menyembah dewa-dewa dengan kondisi yang agung.” Ini milik warga kelas atas, karena kelompok ini mampu menahan diri, tidak gampang jatuh dalam hawa nafsu, tidak rakus dalam makan, dan mampu menguasai diri dalam segala hal. Mereka beribadah dengan sangat teratur. Inilah theorgia.
Sedangkan kelompok kedua dari ibadah Yunani kuno beribadah dengan cara yang rusak. Ketika beribadah, yang mereka lakukan adalah mengiris diri, memotong binatang, dan mencurahkan darahnya untuk memberi makan dewa-dewa yang haus darah. Ini cara ibadah yang sangat jelek. Di dalam ibadah seperti ini, orang menunjukkan betapa lemahnya mereka dalam mengendalikan diri. Mereka tidak tahu mengendalikan diri; mereka hanya tahu melampiaskan diri, mengalami trance, mengalami keadaan badan yang tidak terkontrol, lalu beribadah kepada dewa-dewa jahat. Ini jenis ibadah yang rendah, sedangkan theorgia adalah ibadah yang lebih tinggi.
Porfirius mulai mengkritik keduanya. Ia mengatakan bahwa kedua jenis ibadah itu sama rendahnya. “Kamu datang kepada Tuhan lalu berharap Tuhan tergerak oleh keadaanmu. Tuhan tidak mungkin tergerak oleh keadaanmu.” Dewa-dewa mempunyai kehidupan yang tidak terganggu oleh kehidupan kita. Kalau kita berharap bisa menggugah hati para dewa dengan cara kita beribadah, itu harapan yang kosong dan tidak mungkin. Dewa-dewa tidak mungkin tergerak oleh karena manusia.
Sama seperti manusia tidak mungkin tergerak oleh serangga. Siapa di sini yang tergerak kalau kecoak di rumah Saudara hidup dalam damai? Bayangkan kecoak saling bergandengan tangan lalu mengatakan, “Kami hidup damai dan saling menolong. Kalau ada kecoak yang lapar, kami tolong. Tidak ada satu pun yang kelaparan di tengah kami.” Apakah hidup kita menjadi limpah mendengar hal ini? Tentu kita tidak peduli. Kita langsung menyemprotkan obat serangga dan berharap mereka mati saja. Mau mereka baik, saleh, kasar, atau bodoh — kita tidak peduli. Kecoak ber-IQ tinggi dalam level kecoak, atau kecoak ber-IQ rendah, semuanya wajib dapat semprotan. Kecoak itu bingung, “Apa salahku? Aku hanya hidup.” Dan Saudara berkata, “Engkau bahkan tidak boleh mengalami ini. Harus mati.”
Oleh karena itu Porfirius bertanya, “Yakinkah engkau bahwa dewa-dewa akan menghargai ibadah yang dilakukan dengan cara yang agung? Mereka disebut dewa karena mereka so much more than us, jauh lebih tinggi dari kita. Dengan demikian, kehidupanmu yang seperti apa pun tidak akan memengaruhi mereka.” Kalau begitu, bagaimana kita beribadah? Porfirius berkata: ganti saja ibadah itu dengan pikiran, dengan rasio yang berpikir baik. Berpikir dengan cara yang layak disebut tinggi, mirip dewa-dewa — itu baru benar.
Dengan demikian ada tiga model ibadah. Yang pertama, ibadah yang rapi dan teratur — anggaplah ini seperti gereja Injili. Yang kedua, ibadah yang kacau — anggaplah ini seperti gereja yang “di sana”. Yang ketiga, yang mirip Reformed, ibadah yang mengandalkan pikiran; datang ke gereja siapa tahu mendapat tambahan pengertian ekspositori, siapa tahu mendapat ilmu tambahan. Datang ke gereja mendapatkan pengertian dan teori yang baru.
Bagi Agustinus, ketiga cara ini salah. Agustinus mengatakan bahwa ibadah yang sejati hanya mungkin melalui mediator. Mengapa perlu mediator? Karena engkau tidak mampu menghancurkan hatimu untuk datang kepada Tuhan. Perlu mediator yang menghancurkan diri-Nya menjadi simbol hancurnya hati jemaat untuk datang kepada Tuhan.
Mengapa harus hancur hati? Agustinus mengambilnya dari Mazmur 51. Ibadah yang Tuhan kehendaki bukanlah korban yang dipotong untuk makanan Tuhan –Tuhan tidak perlu makan. Kalaupun Ia perlu makan, dan kalaupun Ia memiliki semua binatang di padang, mengapa harus meminta kepada umat-Nya? Tuhan juga tidak perlu darah. Lalu mengapa binatang harus dipotong? Mazmur 51 mengatakan sebab binatang itu adalah lambang dari hati yang hancur. Hati yang hancur itulah korban yang Tuhan perkenan.
Tidak ada orang yang bisa beribadah kepada Tuhan kecuali ia datang dengan hati yang hancur — hati yang berkata, “Tuhan, saya miskin, saya telanjang, saya melarat, saya merana, saya tidak layak, tapi saya mau datang kepada-Mu.” Perasaan tidak layak membuat kita menjadi pengemis yang datang kepada Tuhan dan mengatakan, “Kasihanilah saya. Kasihanilah segala kecemaran saya. Kasihanilah saya yang sudah melakukan segala dosa ini. Ampuni dan kasihanilah saya.” Hati yang hancur inilah yang Tuhan terima. Baru dari situ kita bisa dengan lega memberikan korban kita. Inilah yang dinyatakan sebagai penutup dari Mazmur 51.
Di dalam permohonan pertobatannya, Daud pada dasarnya mengatakan, “Hatiku yang hancur itulah yang membuat aku menjadi true worshipper.” Mengapa engkau beribadah? Karena hatiku hancur.
Kristus, Sang Mediator
Namun bagaimana mungkin manusia datang kepada Tuhan jika mereka tidak sadar akan dosa mereka? Oleh karena itu Tuhan memberikan seorang Mediator.
Mengapa Kristus mati di atas kayu salib? Agustinus memberikan tiga sudut pandang. Kristus mati di kayu salib karena inilah korban sejati, sebagaimana dari Mazmur 51. Korban sejati bukan binatang, melainkan hati yang hancur, dan Kristus menyatakan diri-Nya sebagai simbol hati yang hancur. Ia datang kepada Allah dengan hancur, bukan karena dosa-Nya sendiri, melainkan karena dosa umat-Nya. Dialah wakil kita yang datang kepada Tuhan dan berkata, “Betapa hancur hati kami datang kepada Tuhan, karena kami sudah berdosa.” Karena umat sudah berdosa, Kristus menghancurkan diri-Nya untuk datang kepada Tuhan. Itu sebabnya dikatakan bahwa inilah ibadah yang Tuhan perkenan.
Hal ini dirangkum di dalam surat Ibrani: korban binatang tidak Engkau kehendaki, tetapi Engkau telah menyediakan sebuah tubuh bagi-Ku; lihatlah, Aku datang sesuai dengan yang tertulis di dalam kitab nabi-nabi, untuk menjalankan kehendak-Mu, ya Tuhan.
Kristus mati di kayu salib melambangkan hancurnya hati umat-Nya, yang hanya mungkin disimbolkan oleh diri dan tubuh-Nya, bukan oleh binatang. Bagaimana kita datang kepada Tuhan? Dengan hancur hati. Namun kalau kita diwakilkan oleh Kristus, kita tidak berbagian dalam hancur hati itu. Oleh karena itu di dalam ibadah ada Perjamuan Kudus, tempat hancurnya Kristus menjadi bagian kita juga. Sering kali kita memaknai Perjamuan Kudus hanya sebagai bantuan untuk mengingat secara teori, bukan sebagai bantuan untuk mengingat bahwa kita satu dengan Kristus.
Kalau Kristus datang di dalam ibadah besar ini dengan menghancurkan diri-Nya di kayu salib, dan Ia mengorbankan diri-Nya untuk menunjukkan betapa hancur hati umat datang kepada Tuhan — bukankah kesatuan dengan Kristus membuat kita mengadopsi perasaan yang sama? Dengan kesadaran bahwa Kristus hancur hati karena dosa saya, maka aku pun hancur hati karena dosaku sendiri, karena saya sangat cemar dan penuh dengan ketidaklayakan. Dengan hancur hati aku datang kepada-Mu. Inilah ibadah yang Tuhan perkenan. Tidak mungkin orang dengan blind spot dan pride spot memiliki hancur hati ini. Bagaimana mau datang kepada Tuhan dengan hancur hati kalau kita merasa tidak ada alasan untuk hancur hati?
Kita sering kali bertanya, “Tuhan, aku datang beribadah kepada-Mu, tetapi rasanya tidak ada hancur hati.” “Engkau orang berdosa?” “Ya, aku orang berdosa sama seperti orang lain. Dosaku apa, sih? Kadang-kadang emosi kelewatan– siapa sih yang tidak? Pendeta juga bisa begitu. Aku kadang-kadang serakah — ya, yang lain juga kadang-kadang serakah, sama saja. Aku kadang-kadang licik memotong antrean, apalagi kalau macet– maklumlah, siapa sih yang tidak melakukan itu? Saya melakukan apa yang orang lain lakukan.”
Cara berpikir seperti ini tidak akan pernah membuat kita hancur hati. Itu sebabnya Tuhan muak kepada Laodikia; Ia tidak bisa menerima ibadahnya. Di dalam Alkitab, Tuhan berkata kepada Israel, “Aku muak melihat korbanmu.” Demikian pula dalam Wahyu 3, Tuhan berkata kepada Laodikia, “Aku akan memuntahkan engkau dari mulut-Ku.” Keduanya sama; semuanya berkaitan dengan korban.
“Kami beribadah kepada Tuhan. Kami mempersembahkan kepada Tuhan.” Kita mempersembahkan apa? Diri kami. Diri yang bagaimana? Diri kami yang lumayan hebat; yang secara harta okelah; yang secara kesalehan lumayan; yang secara intelektual cukup memberkati; yang secara kemampuan menjadi berkat dan bukan menjadi beban. Kami orang yang lumayan –kalau dibuat lapisan-lapisan dalam masyarakat, kami pasti lapisan atas, tidak mungkin lapisan bawah. Inilah kami, Tuhan; kami datang beribadah kepada-Mu. Dan Tuhan berkata, “Aku lelah dengan ibadah seperti ini. Aku muak, Aku kekenyangan. Aku mau muntah melihat ibadahmu.”
Peringatan ini bukan hanya untuk Laodikia, melainkan juga untuk kita. Apa yang membuat kita datang kepada Tuhan? Kita datang kepada Tuhan dengan segala kebanggaan, merasa diri orang yang lumayan? Atau kita datang dengan mengatakan, “Tuhan, jika aku boleh datang, aku mau datang dengan hati yang hancur. Aku mau menjadi pengemis yang mengharapkan cinta kasih dan belas kasihan Tuhan. Relakah Tuhan memberikannya kepada kami?” Inilah ibadah yang sejati, ibadah dengan hati yang hancur.
Salib: Kita Hancur, Tuhan pun Hancur
Konsep salib dalam City of God sangat unik, dan kadang terlupakan karena kita menekankan aspek yang lain, yang juga memang ada. Mengapa Yesus mati di kayu salib? Untuk menanggung murka Tuhan — tentu itu ada di dalam Kitab Suci. Namun bagian tentang hancur hati, tentang ibadah yang diterima Allah dan dibawa oleh Imam Besar yang mengorbankan diri di kayu salib, juga tidak boleh dilupakan. Ia menawarkan diri-Nya sebagai korban, oleh sebab hancur hati-Nya dinyatakan di dalam diri-Nya yang mati. Demikianlah kita datang kepada Tuhan dengan hancur hati.
Lalu salib mempunyai makna apa? Salib bermakna bahwa Kristus yang tergantung di salib mewakili Allah juga. Ia Mediator antara manusia dan Allah. Bagaimana Allah diwakilkan di atas kayu salib? Dengan Allah mempraktikkan kasih yang menyatu dengan yang dikasihi. Engkau datang kepada-Ku dengan hati yang hancur, dan Aku mengalami kehancuran yang sama dengan engkau, di dalam persekutuan ini. Kita hancur, Tuhan pun hancur. Hancur karena apa? Karena kerelaan-Nya untuk bersatu dengan kita.
Mengapa Kristus menjadi lambang Allah? Allah tidak mungkin mati — betul. Namun ketika Allah bersatu dengan manusia, Ia dihancurkan juga. Di dalam diri Allah yang dinyatakan dalam diri Kristus ada pengajaran tentang kasih yang adalah pengorbanan. Kasih pasti berkaitan dengan pengorbanan. Pengorbanan apa pun, tidak ada orang yang sungguh-sungguh mengasihi jika ia tidak rela kehilangan hal yang sangat penting dari hidupnya. Kasih berarti pengorbanan: Sang Bapa mengorbankan Kristus, Sang Kristus mengorbankan diri-Nya, nyawa-Nya, hidup-Nya, dan orang Kristen mengulangi terus peristiwa salib.
Ini keunikan dari konsep sejarah di City of God. Apa itu sejarah? Sejarah adalah progres dari apa yang terjadi pada umat Tuhan dan apa yang terjadi pada dunia. Namun sejarah juga adalah pengulangan salib Kristus yang kekal. Salib Kristus memang terjadi satu kali di dalam sejarah, tetapi umat Tuhan senantiasa mengalaminya.
Salib Kristus adalah hal yang kita bawa terus — itu sebabnya kita mengadakan Perjamuan Kudus. Salib Kristus adalah hal yang kita bawa terus — itu sebabnya kita mempraktikkan kasih di dalam kerelaan berkorban.
Itu sebabnya ketika umat Tuhan mau menjalani hidup sesuai dengan kehendak Tuhan, mereka sering menjadi victim. Dan di dalam keadaan menjadi victim itu, mereka rela menjalaninya karena mau menjadi korban. Ketika orang mengatakan, “Kami kehilangan harta,” orang Kristen mengatakan, “Kami justru memperoleh kekayaan dengan kehilangan. Kami memperoleh dengan cara melepas. Kami ditinggikan dengan cara direndahkan. Kami menghidupi hidup dengan cara rela menjalani kematian.” Ini konsep yang sulit, namun inilah yang Kristus jalani, dan inilah yang Kristus inginkan Gereja jalani.
Di dalam kerelaan berkorban, umat Tuhan hidup bagi Tuhan. Berarti dua hal ini satu: datang kepada Tuhan dengan hati yang hancur, dan rela dihancurkan untuk menolong orang lain. Ini satu paket.
Di dalam Kitab Yesaya pasal yang pertama, Tuhan sudah mengatakan, “Kamu mau berkorban menyatakan ibadahmu kepada Tuhan. Ibadah yang sejati adalah melihat orang yang kesulitan di dekat kita — melihat orang-orang di dekat kita yang memerlukan. Kasihani dan tolong. Inilah ibadahmu yang sejati.”
Apakah ibadah sejati hanya bersifat sosial? Tentu tidak, karena keduanya berkait. Aku hancur hati datang kepada Tuhan, dan dengan hati yang hancur aku punya kerelaan untuk hidup bagi yang lain. Karena orang Laodikia merasa cukup, mereka tidak mengerti ibadah dengan hati yang hancur. Dan karena tidak mengerti ibadah dengan hati yang hancur, mereka juga sulit mengerti bagaimana mempraktikkan tindakan kasih di dalam masyarakat. Keduanya adalah satu. “Belilah dari pada-Ku”
Oleh karena itu Tuhan mengatakan, “Saya menasihatkan engkau supaya engkau membeli dari pada-Ku.” Daripada engkau dibuang, daripada engkau dimuntahkan — ayo, datang berbelanja. Belilah emas yang dimurnikan dalam api agar engkau menjadi kaya; belilah pakaian putih supaya engkau tidak kelihatan telanjang; belilah minyak untuk melumas matamu supaya engkau dapat melihat.
Laodikia sangat dikenal dengan obat mata, dan Tuhan mengatakan, “Aku sekarang yang menjualnya.” Orang Laodikia rupanya lumayan kaya dan hobi belanja, sehingga Tuhan pun memakai contoh ini supaya nyambung. “Tuhan, apa yang harus kulakukan? Kami tidak mau dimuntahkan oleh Tuhan.” “Oke, apa yang paling engkau senang lakukan dalam hidupmu?” “Shopping.” “Ya sudah, berbelanjalah kepada-Ku.” Engkau punya uang; tukarkanlah uangmu dengan apa yang Aku bisa berikan kepadamu.
Di sini Tuhan meminta orang Laodikia mendefinisikan ulang apa itu uang. Di dalam uang ada sesuatu yang akan ditukarkan. Seorang ekonom dari Heidelberg bernama Jürgen von Hagen mengatakan bahwa uang itu sudah bukan lagi sekadar alat tukar; uang sudah menjadi struktur sosial, sistem sosial. Uang sudah menjadi pengganti hal-hal yang mendasar di dalam kehidupan bersosial, menjadi struktur sosial yang baru.
Maksudnya apa? Ketika engkau berelasi dengan orang, engkau perlu trust. Namun uang mengganti kebutuhan akan trust. Kita cenderung tidak perlu tahu kredibilitas orang; asalkan dia pakai uang, transaksi sudah bisa berjalan. Kalau kita punya toko, lalu ada orang mau membeli barang, kita tidak perlu bertanya, “Bagaimana moralitasmu?” “Tolong, saya mau membeli minuman kemasan.” Penjualnya tidak bertanya, “Saya mau tahu dahulu, engkau ini orang yang licik atau tidak? Kredibilitasmu bagus atau tidak? Kalau engkau membeli barang saya, lalu ternyata engkau orang yang kacau hidupnya, nanti saya dirugikan atau tidak?” Tidak ada pertanyaan seperti itu. Pokoknya ada uang, saya terima. “Berapa harganya?” “Sepuluh ribu.” “Ini sepuluh ribu, ambil barang saya.” Relasi bisa dilakukan tanpa trust. Tidak perlu trust; yang penting ada uang, beres. Jadi uang mengganti trust dalam relasi sosial.
Uang juga sudah menggantikan pengharapan (hope). Mengapa kita membeli barang? Bukan karena barang itu setara nilainya dengan uangnya, melainkan karena kita ingin apa yang kita pegang mempunyai nilai tambah pada waktu yang akan datang. Itulah hope. Uang sudah mengganti pengharapan. Apa yang kamu harapkan? Saya berharap memperoleh hidup yang lebih baik. Bagaimana caranya? Ya, saya pegang uang dahulu; nanti saya tukar dengan hal yang bisa lebih berharga. Saudara memegang uang dengan langsung berpikir: uang ini harus ditukar dengan apa? Bisa dikonversikan ke mana? Bisa diganti dengan apa? Itulah natur dari kita memegang uang.
Oleh karena itu Tuhan Yesus menyarankan kepada orang Laodikia, “Kamu memegang uang, bukan? Ayo, tukarkan; belilah dari-Ku.” “Beli apa, Tuhan?” “Belilah emas murni yang sudah dimurnikan di dalam api. Beli pakaian putih. Beli obat mata.” Emas murni yang sudah dimurnikan dengan api itu lambang Kristus yang sudah tersalib. Pakaian putih itu lambang Kristus yang sudah tersalib memberikan status suci-Nya kepada umat Tuhan. Jadi apa yang Tuhan katakan? “Belilah status suci ini.”
Kita terus bertanya, “Masa status suci bisa dibeli?” Tentu tidak. There are things that money cannot buy. Ada hal yang uang tidak bisa beli. Bukankah keselamatan di dalam Tuhan tidak bisa dibeli dengan uang? Namun perhatikanlah: kalimat ini kadang-kadang menjadi ucapan yang suci, dan kadang-kadang menjadi ucapan yang fasik.
Mengapa demikian? Memang uang tidak bisa membeli keselamatan. Namun kadang-kadang kita berlindung di balik keengganan untuk menukarkan uang kita demi keselamatan orang lain, dengan mengatakan bahwa uang tidak ada kaitannya dengan keselamatan. “Kerohanianku tidak ada kaitannya dengan uang yang aku belanjakan, kok. Jadi sudah, jangan ukur itu dengan uang. Aku memang kurang memberi, tetapi jangan ukur kerohanianku dari tidak memberinya aku. Aku tidak mengeluarkan uang untuk menggantinya dengan hal lain, tetapi jangan ukur kerohanianku dari situ.” Namun bagian Alkitab ini tidak setuju dengan pernyataan itu. Tuhan mengatakan, “Kamu mau dapat? Beli. Pakai uangmu.” “Pakai uang saya?” “Iya.”
“Belilah emas murni yang sudah dimurnikan dari api. Baru engkau bisa memperolehnya. Belilah dari Aku.” “Oh, saya telanjang.” “Belilah pakaian putih dari Saya. Beli pakai uangmu.” Ini merupakan suatu perintah yang Tuhan mau orang Laodikia jalankan: pakai uangmu untuk mendapatkan berkat dari Tuhan Yesus. Ini susah dimengerti; kita lebih senang mengatakan uang tidak ada artinya. Karena tidak ada artinya, let me keep it — biar saya simpan saja. Ini bisa dimanfaatkan oleh orang yang jahat. Oleh karena itu Tuhan mengatakan, “Belilah.” Mengapa? “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegur dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”
Yang Mengetuk Pintu
Sekarang kita masuk ke bagian berikutnya, dan barulah kita mengerti mengapa Tuhan menyuruh orang Laodikia membeli emas murni, membeli pakaian putih, dan membeli obat mata. Yesus mengatakan, “Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; barangsiapa membukakan pintu dan menerima Aku, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku.” Ini adalah gambaran dari keadaan rumah tangga (household) orang Kristen, di dalam sebuah perintah untuk saling menerima satu sama lain.
Di dalam tradisi filsafat Yunani ada kata xenia, yaitu saling menerima orang asing. Istilah ini populer sekali, dan Saudara mungkin mengenalnya kalau sudah menonton Odyssey. Apa itu xenia? Engkau beramah-tamah kepada para musafir — orang yang sedang berjalan, yang tidak tahu harus beristirahat di mana, dan barangkali kelaparan. Engkau menerima dia di rumahmu dan berbelas kasihan kepadanya, karena mungkin saja dia itu jelmaan dewa. Mungkin dia dewa yang sedang berpura-pura menjadi miskin. Engkau menolong dia, dan akhirnya engkau mendapat berkat dari dewa-dewa. Inilah xenia dari Yunani.
Namun xenia dari Yunani ini kalah tua dari tradisi Abrahamic. Di dalam kehidupan Abraham, satu kali ia melihat tiga orang berdiri di depannya. Ia mengangkat mukanya dan secara instingtif berkata, “Datanglah ke rumahku, Tuan-tuan. Aku akan membasuh kakimu. Aku akan menyediakan makanan bagimu. Silakan menikmati istirahat sejenak, baru Tuan-tuan melanjutkan perjalanan.”
Inilah dasar keramahan di dalam prinsip Alkitab. Surat Ibrani mengatakan, “Senantiasalah menerima orang lain di dalam rumahmu, sebab dengan berbuat demikian ada orang yang tanpa disadarinya telah menjamu malaikat.” Abraham tidak sadar; baru kemudian ia tahu, “Ternyata yang saya undang makan adalah Tuhan sendiri. Ternyata yang saya undang makan adalah malaikat.” Abraham mengundang mereka karena ia terbiasa membuka pintu bagi orang lain. Ia mengerti bagaimana jadinya orang yang tidak punya tempat di tempat asing. Itu sebabnya ia membuka pintunya bagi orang lain.
Lalu siapa yang mengetuk pintu? Orang miskin yang mengetuk pintu dan berkata, “Bolehkah aku menerima sedikit dari makananmu?” Dan dari tradisi Kristen dikatakan, “Mari masuk, silakan makan. Aku berkewajiban untuk menyambut kamu.”
Dalam tulisan dari seorang bernama Margaret Mitchell, seorang ahli sejarah Gereja mula-mula pada abad-abad awal — bukan Margaret Mitchell sang penulis novel — dalam kajiannya mengenai sejarah kekristenan mula-mula dikatakan bahwa ada banyak kesaksian yang mengatakan orang Kristen adalah orang yang tidak pernah lalai menolong orang yang lapar. Waktu itu ada banyak orang yang lapar dan banyak orang yang sulit. Hanya orang Kristen yang punya kecepatan menolong mereka: dengan cepat membuka pintu, dengan cepat mempersilakan orang datang dan menerima makanan yang mereka miliki.
Orang Kristen sendiri bukanlah orang kaya; mereka pun punya roti yang terbatas dan harus dibagi di antara rumah tangga mereka sendiri. Namun di tengah pembagian itu, mereka rela juga memberikan kepada yang lain.
Kata ekonomi pada zaman modern berasal dari dua kata yang mulia, yaitu oikos dan nomos. Kata ini dipakai untuk dua hal yang sangat mulia. Yang pertama adalah pengaturan secara politik: bagaimana orang yang memimpin sebuah kota bisa memastikan rumah-rumah di dalam kota itu mendapatkan makanan yang cukup. Yang kedua, kata ini juga berasal dari pengaturan roti di rumah yang sederhana: “Kami hanya punya roti sebanyak ini. Bagaimana? Tetap dibelah, tetap dipecahkan.” Mengapa dipecah? Karena harus dibagi bukan hanya untuk household kita, melainkan juga untuk orang lain yang mungkin mengetuk pintu kita karena lapar. Kalau ada orang lapar mengetuk pintu rumah kita, kita pecah roti kita.
Di dalam perjamuan, kita hadir bukan hanya untuk menerima tubuh Kristus, melainkan juga untuk bersiap menjadi yang dipecahkan bagi orang lain. Itu sebabnya di dalam tradisi Kristen, kekristenan punya kepekaan: mendengar orang miskin mengetuk pintu rumah, mereka langsung membuka dan berkata, “Laparkah kamu? Aku sudah memecahkan roti. Mari makan bersama. Mari nikmati apa yang terbatas yang kami miliki.”
Banyak orang membaca Wahyu 3:20 dan langsung mengaitkannya secara spiritual: Tuhan Yesus mengetuk pintu hati. Meskipun bagian itu indah dalam satu hal, akhirnya kita kehilangan aspek yang lain. Ini ketukan yang literal — Tuhan Yesus mengetuk pintu rumah kita, bukan hanya pintu hati kita. Pintu rumah. Dan yang dimaksudkan dengan Yesus mengetuk pintu rumah adalah orang lapar di daerahmu. Ada orang lapar mengetuk pintu rumahmu, dan Yesus mengatakan, “Itu Aku.” “Itu bukan Engkau, Tuhan Yesus. Kapan Engkau lapar? Kapan Engkau haus? Kapan Engkau dipenjara?” Tuhan mengatakan kepada orang yang Ia buang, “Waktu Aku lapar, engkau tidak memberi Aku makan. Waktu Aku haus, engkau tidak memberi Aku minum. Waktu Aku telanjang, engkau tidak memberi Aku pakaian. Waktu Aku di dalam penjara, engkau tidak mengunjungi Aku.” Orang-orang itu heran, “Kapan Engkau lapar, Tuhan? Aku tidak pernah menemukan Engkau lapar.” Dan Yesus menjawab, “Apa yang tidak engkau berikan kepada orang yang paling kurang dari tengah-tengahmu, engkau tidak melakukannya untuk Aku.”
Yang mengetuk pintu ini bukan sekadar Yesus yang mengetuk pintu hati; ini orang miskin yang mengetuk pintu rumahmu secara literal, di depan tempat tinggalmu. Dia mengetuk pintu dan meminta belas kasihan. Dan apa yang dikatakan? “Waktu engkau membuka pintu, yang masuk bukan hanya orang miskin itu, melainkan Yesus Kristus makan bersama-sama dengan engkau.”
Yang datang dan menerima engkau adalah Yesus, meskipun engkau yang melakukan tindakan menerima orang lain. Yesus menjadi Tuan Rumah bagi rumahmu dan mengatakan, “Sekarang Aku undang engkau makan, dan makanan-Ku berlimpah.” Dengan keterbatasan, kita berbagi kepada orang lain. Dan Yesus mengatakan, “Saya ubah. Sekarang Aku Tuan Rumah, and I will give you my bread.” Aku akan memberikan kepadamu roti-Ku yang tidak akan pernah habis — roti yang dipecah-pecahkan, yang dimakan lima ribu orang pun tidak menjadi lapar. Mereka kenyang dan tetap ada sisa dua belas bakul. “Mari makan. Aku sekarang menjamu engkau dan Aku memberikan kelimpahan kepadamu, oleh sebab engkau membuka pintu rumahmu bagi mereka yang memerlukan.”
Lalu mengapa orang Laodikia dimuntahkan oleh Tuhan? Karena tidak ada lagi aspek ini dalam kekristenan mereka. Aspek ini hilang. Aspek membuka pintu bagi orang lapar sudah tidak ada pada mereka.
Penutup: Gereja yang Bertelinga
Kita terus beriman kepada Tuhan bahwa Tuhan akan memperbaiki Gereja-Nya. Dan di dalam segala kelimpahan yang Tuhan berikan kepada Gereja kita, harap agar kelimpahan itu tidak menjadi pride spot kita. Kita tidak menolak berkat Tuhan. Tuhan memberkati kita dengan banyak hal dan kita bersyukur. Tuhan memberkati GRII dengan banyak hal dan kita sangat bersyukur. Namun ucapan syukur ini tidak boleh menjadi blind spot, sehingga kita gagal melihat titik lemah, titik buta, dan titik bangga apa yang masih kita simpan dan tidak kita sadari.
Mari kita ingat apa yang Tuhan katakan kepada Laodikia. Jika ada orang mengetuk pintu rumahmu, bukalah dan terimalah dia masuk, sebab engkau tidak tahu bahwa engkau sebenarnya menyambut Aku — dan Aku akan mengundang balik engkau makan bersama-sama dengan Aku. Aku bersama engkau, dan engkau bersama dengan Aku.
“Barangsiapa menang”, yaitu barangsiapa mampu mengerjakan hal-hal ini, ia akan didudukkan menjadi raja. Secara kemanusiaan ia akan mencapai target yang Tuhan mau: menjadi raja, memenuhi bumi dan menaklukkannya — menjadi orang yang menjadi raja bukan atas sesamanya, melainkan atas seluruh ciptaan Tuhan, bersama dengan Kristus.
Kiranya Tuhan menuntun kita dan memberikan kita kesempatan menjadi Gereja di dalam segala kelimpahannya.
Bagian ini ditutup dengan perkataan, “Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat.” Harap kita menjadi Gereja yang bertelinga. Sebab di dalam kitab nabi-nabi ada peringatan bagi bangsa-bangsa, dan bangsa-bangsa yang tidak bertelinga sekarang sudah tidak ada lagi. Gereja Tuhan pun mendengar peringatan; jika Gereja tidak bertelinga, Gereja itu pun tidak akan ada lagi. Di manakah Gereja di Laodikia? Sudah tidak ada. Di manakah Gereja di banyak tempat yang sekarang sudah hilang? Sudah tidak ada. Mengapa tidak ada? Karena tidak bertelinga. Kiranya kita menjadi Gereja yang bertelinga, dan mendengarkan apa yang dikatakan Roh kepada jemaat Tuhan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (EB)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading