Babak Pertama: Favour Dibalas Favour
Kisah Para Rasul 25:1–12
Peristiwa ini terjadi kira-kira dua tahun setelah Feliks menyidang Paulus untuk terakhir kalinya. Feliks, pendahulu Festus, berkuasa di Kaisarea atas orang-orang di Provinsi Yudea di Palestina. Dua tahun sebelumnya kita tahu Feliks tidak menemukan kesalahan apa pun pada pihak Paulus. Namun ia tetap menahan Paulus, sebab ia berharap disogok; ia berharap mendapat uang.
Paulus sendiri tidak punya banyak uang, namun Paulus membawa banyak uang. Ia mengumpulkan persembahan dari orang-orang yang tidak bersunat untuk menolong orang-orang percaya yang bersunat di Yerusalem. Jadi ia membawa banyak duit. Feliks menunggu untuk disogok supaya perkara itu bisa diringankan, dan ia menahan Paulus selama dua tahun — sekaligus untuk menyenangkan orang Yahudi.
Hal ini menandai sesuatu yang penting: penguasa itu, bagaimanapun, tetap membutuhkan orang yang dia kuasai. Kalau bisa, penguasa ingin disukai oleh bawahannya; kalau tidak disukai, setidaknya jangan sampai dibenci. Sulit menguasai orang yang membenci kita. Mereka bisa bersedia mati untuk melepaskan diri, dan itu merepotkan — butuh usaha besar, dan tidak terlalu berguna menguasai orang-orang yang membenci kita. Oleh karena itu orang-orang yang berkuasa seperti Feliks mengerti betul bagaimana harus mengambil hati orang yang dikuasainya. Perilaku Festus pun sama. Ia mewarisi Paulus sebagai tahanan ketika ia menjabat: kalau dilepas, orang Yahudi marah; kalau tetap ditahan, uang sogokan pun tidak datang. Festus repot juga dengan hal ini.
a. Konteks Historis dan Konspirasi Politik (ayat 1–3)
Ternyata Festus beroperasi dengan sistem yang sama dengan Feliks. Tiga hari setelah menjabat, ia sowan ke Yerusalem. Kedudukan orang Romawi ada di Kaisarea, tidak terlalu jauh dari Yerusalem dan masih dalam provinsi yang sama. Kaisarea itu wilayah Romawi: bahasanya Latin, kebudayaannya Romawi sekali, tidak ada tabu-tabuan urusan agama dan segala macam — sekuler sekali. Festus melakukan perjalanan dengan segala pengawal sampai ke Yerusalem, dan berjumpa dengan preman lokal, yaitu imam-imam kepala dan orang-orang Yahudi terkemuka.
Perhatikan apa yang mereka bicarakan. Mereka tidak berkata, “Tolong kurangi dong pajaknya.” Mereka tidak berkata, “Itu prajurit Romawi didisiplinkan dong, suka merampas sapi orang-orang Yahudi.” Tidak. Yang mereka bicarakan adalah “bisul” bernama Paulus — orang yang mengesalkan mereka, yang menurut mereka harus dilenyapkan.
Penguasa sebelumnya, yaitu Feliks, tidak mau melenyapkan Paulus dan tidak mau menyerahkan Paulus kepada mereka, walaupun sudah dibujuk dengan segala cara. Oleh karena itu mereka mungkin beranggapan bahwa Festus kali ini akan menyerahkan Paulus kepada mereka. Begitu datang, mereka langsung berkata, “Kasih kami satu anugerah dong.”
Istilah anugerah di sini — charis — bisa diartikan sebagai political favour. Dalam dunia mafia pun ada istilah seperti ini. Dan favour itu biasanya harus dibalas dengan favour. Misalnya favour apa? “Tolong dong bunuh saingan saya.” Lalu favour tandingannya apa? “Kasih saya uang,” atau “kasih saya konsesi — saya boleh berdagang di wilayah kamu.” Favour dibalas favour.
Orang Yahudi ini terus terang meminta favour dari Festus. Apa favour-nya? “Bawa Paulus ke sini, diadili di Yerusalem. Kesalahannya kan kesalahan agama; tidak ditemukan kesalahan politis atau sipil. Jadi untuk apa ditahan di Kaisarea? Bawa ke sini, kami yang mengadili.” Namun sudah tahu sama tahu: kalau Paulus dibawa ke Yerusalem, dia akan dibunuh secara ekstrayudisial. Kalau diadili dan kesalahannya tidak ditemukan, ya sudah — dalam perjalanan ada yang menyergap. Pada intinya supaya Paulus mati.
b. Tuhan Tidak Tidur, dan Bisa Memakai Hukum Romawi (ayat 4–5)
Festus bukan orang bodoh. Ia tahu niat mereka seperti itu. Festus menjawab dengan alasan efisiensi birokrasi: “Untuk apa menyuruh aku pulang ke Kaisarea, lalu aku bersama pasukanku kembali lagi ke Yerusalem untuk bersidang di sana? Ini kan cuma soal lokasi geografis.” Zaman dahulu tidak ada Zoom, ya. Kalau ada, sudah lewat Zoom saja kita bersidang sama-sama.
Festus berkata, “Sudah, kamu saja yang ikut saya ke Kaisarea; nanti kita sidang rame-rame — di Kaisarea, bukan di Yerusalem.” Akhirnya mereka ikut, dan dengan demikian rencana pengadangan itu tidak laku. Secara tidak langsung, efisiensi birokrasi dan hukum Romawi dipakai Allah untuk melindungi nyawa Paulus dari konspirasi musuh-musuhnya.
c. Persidangan di Kaisarea dan Pembelaan Paulus (ayat 6–8)
Mereka sampai di tempat Festus, dan Paulus diberi waktu untuk menyatakan pembelaannya. Apa pembelaan yang diajukan Paulus? Pembelaannya mencakup tiga ranah.
Pertama, Hukum Taurat. “Aku tidak punya kesalahan apa-apa terhadap Hukum Taurat. Tunjukkan kesalahanku terhadap Hukum Taurat itu di mana.” Melanggar Hukum Taurat itu berarti, misalnya, Paulus melakukan sihir, atau Paulus mencuri, atau ia membunuh.
Kedua, Bait Suci. Melanggar Bait Suci itu misalnya Paulus membawa orang yang tidak bersunat masuk ke dalamnya, sebab di sana tidak boleh ada orang yang tidak bersunat masuk atau ada orang yang pernah ke pergi ke daerah yang tidak bersunat, lalu kembali ke Bait Suci tanpa membersihkan diri dan langsung masuk. Hal itu pun tidak terbukti dilakukan Paulus.
Ketiga, Kaisar — yaitu kejahatan politis, subversi terhadap Romawi. Hal ini pun tidak terbukti dilakukan Paulus. Ia tidak menghasut orang-orang untuk memberontak kepada Roma. “Jadi kesalahanku apa?” kata Paulus. “Tunjukkan kalau ada.” Ini persidangan terbuka; siapa pun bisa mengajukan saksi dan seterusnya.
d. Kompromi Politik Festus (ayat 9)
Di sini kita melihat bahwa Festus pun sebenarnya tidak terlalu mau melindungi supremasi hukum. Ia pun tidak punya urusan apa-apa dengan Paulus; Paulus hidup atau mati tidak terlalu ia pedulikan. Pada intinya, Festus ingin jabatannya selamat dan ingin menyenangkan orang Yahudi supaya urusannya lancar. Untuk mengambil hati orang Yahudi, ia mengajukan tawaran kepada Paulus — barangkali Paulus mau. “Mau tidak kamu disidang di Yerusalem? Saya yang menjadi kepala deh.”
Permintaan orang Yahudi adalah untuk Paulus ditransfer ke Yerusalem tanpa Paulus ditanya. Langsung saja transfer, tidak usah tanya-tanya dia. Yang dilakukan Festus adalah tidak menuruti orang Yahudi secara langsung, namun sekaligus melakukan sesuatu yang pada akhirnya bisa membuat permintaan mereka dikabulkan juga. Dengan cara apa? Ia bertanya kepada Paulus sendiri. Dengan demikian bolanya ada pada Paulus.
e. Hak Kewarganegaraan dan Hak Naik Banding (ayat 10–11)
Paulus menjawab, “Aku sekarang ini berdiri di hadapan pengadilan Kaisar.” Apa maksud kalimat ini? Maksudnya: aku menghormati kamu, Festus, bukan karena aku mengenal kamu. Bukan karena kamu orang terhormat. Aku tidak mengenal kamu. Namun aku menghormati pengadilan ini, sebab ini pengadilan Kaisar.
Itulah prinsipnya ketika hakim masuk ruang sidang dan kita berdiri. Bukan hakimnya yang kita hormati — hakimnya pun kita tidak kenal siapa, orang random saja yang sekolah hukum, karirnya bagus, lalu menjadi hakim. Yang kita hormati bukan hakimnya sebagai pribadi, melainkan pengadilannya. Kita menghormati hukumnya, kita menghormati jabatannya, kita menghormati bajunya, karena itu mewakili keadilan.
Lalu Paulus berkata, “Aku tidak mau pergi ke Yerusalem.” Yerusalem pun ada di bawah Kaisar. Kalau mau mengadili aku, dan di sini masalahnya tidak selesai, biarlah aku diadili di Roma di hadapan Kaisar, di Mahkamah Agung yang sebenarnya. Itulah yang dimaksud Paulus naik banding.
Dengan begitu ia menafikan pengadilan Yerusalem — sudahlah, tidak usah. Ia juga menafikan pengadilan Festus — tidak ada bedanya; Feliks dan Festus sama saja, sama-sama tidak bisa menemukan kesalahanku.
f. Keputusan Hukum yang Ternyata Menggenapi Kehendak Allah (ayat 12)
Akhirnya Festus berunding dengan konsilium — dewan penasihatnya — dan kemudian memutuskan bahwa mau tidak mau tidak ada jalan lain. Paulus memakai haknya sebagai warga Roma untuk diadili di kota Roma; bukan di Yerusalem, bukan di Kaisarea, melainkan di Roma. Oleh karena itu Festus berkata, “Engkau telah naik banding kepada Kaisar. Jadi engkau harus pergi menghadap Kaisar. Engkau harus pergi ke Roma.” Namun ada satu persoalan yang tersisa dalam pembacaan berikutnya.
Babak Kedua: Agripa Berkunjung
Kisah Para Rasul 25:13–27
Raja Agripa datang bersama Bernike, adiknya, ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus sebagai penguasa Romawi yang baru — kira-kira seperti kunjungan kehormatan kepala negara beserta istrinya.
Rupanya inilah permasalahannya: kalau mau mengirim orang ke Roma, harus ada surat pengantar. Nanti panitera di persidangan akan membaca surat itu. Siapa orang ini? Apa perkaranya? Mengapa harus dihadapkan kepada Kaisar? Memangnya Kaisar kurang kerjaan? Kaisar itu sibuk. Untuk apa mengurusi urusan orang ini, orang random ini?
Surat pengantar itu sudah ditulis: nama orangnya Saulus, tempat kelahiran Tarsus, orang Yahudi, mazhab Farisi namun sudah menjadi Kristen. Lalu masalahnya apa? Kosong. Perkaranya adalah: Paulus percaya orang mati bernama Yesus sudah bangkit, sementara orang lain tidak percaya dan berkata mayatnya dicuri. Untuk apa merepotkan Kaisar dengan urusan begitu?Jadi ini sesuatu yang aku tidak bisa tulis, jadi tulis apa dong. Yang ‘justified’ Paulus itu dihadapkan pada persidangan di hadapan Kaisar di Mahkamah Hukum.
Raja Agripa datang bersama Bernike, adiknya, ke Kaisarea untuk mengadakan kunjungan kehormatan kepada Festus sebagai penguasa Romawi yang baru — kira-kira seperti kunjungan kehormatan kepala negara beserta istrinya.
Bungkus Permen Festus
Mari kita perhatikan kerangka yang dipakai Festus — bagaimana ia membungkus perkara ini. Ia berkata, “Di sini ada tahanan yang ditinggalkan Feliks.” Dari kalimat pembuka itu kita sudah tahu bahwa ia mau cuci tangan. Ini perkara warisan; Feliks yang mewariskannya kepadaku; Feliks ini tidak becus, masih ada sisa urusan yang tidak beres.
Lalu Festus meneruskan, “Dan waktu aku sampai ke Yerusalem, imam-imam menuntut supaya dia dihukum.” Rupanya urusan ini memang penting bagi mereka. “Mereka menuntut supaya Paulus diserahkan kepada mereka untuk dihukum — bukan sekadar dicambuk sepuluh kali, melainkan dihukum mati.”
Inilah jawaban Festus kepada Agripa — dan di sini ia mau gagah-gagahan, mau memberi citra bahwa ia penguasa yang taat hukum, penguasa Romawi yang ideal. Ia berkata, “Bukan kebiasaan orang Roma menyerahkan seorang terdakwa sebelum ia diberi kesempatan membela diri, sebelum diperiksa di pengadilan yang layak. Tidak boleh langsung dihukum; tidak boleh main hakim sendiri.” Dengarkan omong kosongnya.
Festus melanjutkan, “Jadi aku bawa mereka ke sini, turut bersama aku, dan kami mengadili Paulus di sini. Dan ketika aku menyaksikan mereka mengadili Paulus — ternyata tuduhannya bukan soal kriminal. Tuduhannya juga bukan soal subversi. Tuduhannya pun gak jelas. Tuduhannya rupanya mengenai seorang bernama Yesus.”
“Seorang Bernama Yesus”
Lukas ingin menunjukkan bahwa Festus melihat perkara ini sebagai urusan yang bukan urusannya, dan urusan yang ia sendiri tidak terlalu paham: “seorang bernama Yesus.”
Kira-kira begini. Kalau kalian di sini mendengar ada orang berkata bahwa di GRII Kelapa Gading ada urusan mengenai “seorang bernama Yadi”, kira-kira kalian tahu bahwa orang itu bukan orang GRII Kelapa Gading, karena ia terdengar kurang mengenal. Benar, bukan? Tidak akan ia merangkainya seperti itu.
Perhatikan juga: Festus tidak menyebut soal kebangkitan. Ia menyebut soal “masih hidup”. Itu lain — bangkit dan masih hidup adalah dua hal yang berbeda. Ini kalimat dari orang luar; ekspresi ini menunjukkan Festus kurang paham masalahnya secara presisi.
Bagi Festus, intinya Paulus menganggap Yesus masih hidup — yang sebetulnya benar juga — dan orang-orang Yahudi menganggap Yesus sudah mati, lalu mereka berseteru soal itu. Paling banter ini urusan agama, urusan dogma, urusan yang tidak relevan dengan kehidupan bersama dan tidak relevan dengan urusan Romawi.
Namun masalahnya, Paulus ini warga Roma dan ia punya hak. Ia dijamin oleh Kaisar. Kekaisaran Romawi bergantung pada bagaimana ia memperlakukan orang-orang seperti Paulus ini — warga negaranya sendiri. Kalau hak warga negaranya sendiri bisa diambil, Kaisar bisa kehilangan dukungan — gengsi Kaisar tergantung disitu. Di sinilah masalahnya: Paulus naik banding. Ia meminta supaya ia tetap tinggal dalam tahanan; ia tidak mau dilepas begitu saja.
Kita tahu Lukas juga pernah mencatat peristiwa serupa. Dalam Kisah Para Rasul 16:37, Paulus pernah ditahan di kota Filipi bersama Silas, lalu hendak dilepaskan diam-diam. Ia tidak mau keluar. “Saya tunggu para pembesar kota datang menjemput saya, membuat video permintaan maaf dengan materai sepuluh ribu, diviralkan di hadapan semua orang, mengakui kesalahan mereka yang sudah menahan saya secara ekstrayudisial — baru kemudian saya mau keluar dari penjara ini.” Paulus memang agak sok jagoan seperti itu.
Di sini pun Paulus bisa dilepaskan begitu saja, namun ia tidak mau. Ia menuntut untuk naik banding kepada Kaisar. “Saya nongkrong di penjara ini sampai saya dikirim kepada Kaisar di Roma.”
Festus pun pusing, sebab surat pengantarnya harus ia tulis. Kalau ia menulis bahwa perkaranya adalah Paulus percaya Yesus masih hidup, nanti Kaisar berkata, “Yesus itu siapa? Apa urusannya dengan saya? Perkara dia hidup atau mati, bukan urusan saya. Kalau perkara pengharapan kebangkitan, ya itu urusan orang Yahudi. Bagi orang Romawi, orang mati ya mati, tidak bangkit lagi. Ini urusan apa, sih?.” Kaisar tidak akan menerima surat pengantar seperti itu.
Kalau Festus terus menahan dan memberi makan Paulus, ia akan dianggap sebagai penguasa yang lemah, orang yang tidak becus — mengurus perkara kok tidak selesai-selesai, seperti pendahulunya, Feliks. Kalau diserahkan kepada orang Yahudi — masakan seorang warga Romawi diserahkan dan dibunuh oleh musuhnya, sedangkan pengadilan sendiri tidak menemukan kesalahannya? Oleh karena itu ia meminta nasihat kepada Agripa. Dan Agripa berkata, “Baik. Serahkan kepada saya. Saya akan mendengar sendiri.”
Babak Ketiga: Paulus Take Charge of the Room
Kisah Para Rasul 26:1–23
Di sini kita melihat bahwa Paulus take charge of the room. Ia bukan seperti terdakwa, melainkan seperti ketua sidang. Ia menjadi seperti dosen yang memberi kuliah; ia menjadi seperti rektor Romawi yang membawakan pidato.
Lukas mengatakan Paulus memberi isyarat dengan tangannya. Praktik mereka seperti apa persisnya tidak terlalu jelas, sebab kita tidak punya videonya; kita hanya bisa menduga dari beberapa naskah dan penceritaan. Namun kurang lebih kita tahu, seperti seorang juru kampanye yang hendak memulai kampanyenya lalu memberi isyarat tertentu untuk menenangkan massa. Artinya, Paulus itu tenang sekali. Ia bukan seperti tertuduh, melainkan seperti bos dalam ruangan itu.
Aku Beruntung Karena Engkau Paham
Ia memulai dengan menyapa Raja Agripa dan berkata, “Aku beruntung karena kamu mengerti perkara ini. Aku bukan berbicara kepada orang yang tidak paham.”
Ini mirip seperti sidang skripsi atau sidang tesis ketika yang menyidang tidak paham apa yang sedang kita pertahankan. Kadang-kadang memang begitu: yang menyidang bergelar tinggi, namun kurang paham materinya, dan urusannya bisa menjadi agak ribet.
Pengharapan Israel
Kemudian Paulus memainkan kartunya dengan bagus. Ia berkata bahwa ini adalah perkara adat istiadat dan persoalan di antara orang Yahudi; ini adalah mengenai pengharapan Israel.
Orang Israel mengharapkan datangnya Mesias. Orang Israel mengharapkan ada konvergensi antara kuasa politik seorang raja, kuasa atau caretaker dari domain agama yaitu imam, dan kebenaran yaitu nabi. Tiga domain ini, kalau di zaman kita, barangkali: raja adalah politisi; imam adalah para pejabat gereja; dan kenabian adalah wartawan, penyair, scientist — itulah suara kenabian.
Ada konvergensi tiga hal ini dalam sosok misterius yang bernama Mesias. Semua orang Yahudi mengharapkan itu: pada akhir zaman akan datang yang diurapi oleh Tuhan sebagai Raja, Imam, dan Nabi. Dan kedatangan Mesias itu somehow ada hubungannya dengan kebangkitan — entah kebangkitan kita bersama, entah kebangkitan Sang Mesias terlebih dahulu; hal itu masih diperdebatkan.
Paulus melanjutkan bahwa sejak mudanya orang-orang pun bisa bersaksi tentang dirinya. Orang-orang yang melihat kehidupannya di Yerusalem dan di Tarsus tahu siapa dia. Paulus memang orang Farisi garis keras, terkenal dengan kefanatikannya. Ia bahkan pernah meminta surat jaminan untuk membunuh — semacam license to kill — dari imam-imam, untuk menangkapi dan menghentikan kiprah orang-orang Kristen. Ia sudah memegang surat itu ketika melakukan perjalanan ke Damsyik untuk menutup gereja di sana.
Menurut Paulus pada masa sebelum ia bertobat, datangnya Mesias akhir zaman itu disertai munculnya bidat dan sekte-sekte yang melawan kebenaran — dan di antara sekte-sekte itu adalah sekte Kristen. Ia ingin menggulung sekte Kristen itu.
Janji mesianik itu adalah sesuatu yang dinantikan oleh kedua belas suku. Perhatikan bahwa Paulus memakai kata ganti “kita”: kedua belas suku kita, artinya kamu dan aku. Kita orang-orang Yahudi menantikan hal itu; nenek moyang kita menantikan hal itu. Mereka merayakannya dalam siklus Sabat: hari Sabat, tahun Sabat, dan pada tahun kelima puluh setelah tujuh kali tujuh tahun. Yang mereka rayakan dalam siklus itu adalah pengharapan Israel — itulah yang siang dan malam mereka harapkan.
Ortodoksi dan Pengharapan
Hal ini sekaligus mengingatkan kita bahwa kekristenan itu bukan sekadar urusan kepercayaan yang benar — percaya pada satu set kebenaran yang benar-benar benar. Bukan hanya itu. Kita bisa saja punya opini yang benar, tidak salah opini kita, namun kita berjalan di jalan yang lain.
Saya tahu bahwa makan terlalu banyak gula dan terlalu banyak karbohidrat itu tidak bagus — namun tiap hari makannya bubur ayam. Saya tahu harus berolahraga — namun olahraganya nanti saja kalau sedang mood. “Mood terakhir kapan?” “Sepuluh tahun lalu.” Saya tahu umur lima puluh mesti latihan beban. “Kapan terakhir menyentuh barbel?” “Waktu muda, umur sembilan belas.” Tahu yang benar saja tidak ada gunanya. Memang lebih tidak bagus kalau yang kita tahu itu salah. Namun mengetahui yang benar tidak sama dengan mengarahkan hidup kepada yang benar.
Hidup kita diarahkan bukan oleh pengetahuan, melainkan oleh pengharapan. Pengetahuan itu sering kali berhenti di situ saja sebagai pengetahuan. Namun pengharapanmu — kamu mengharapkan apa? Kamu expect apa? Itulah yang mengarahkan kita.
Itu sebabnya kalau pengharapan mengecewakan, kecewanya luar biasa. Kalau pengetahuan ternyata salah, ya cuma salah saja. Namun kalau yang kamu harapkan ternyata tidak terjadi, kamu benar-benar kecewa. “Saya berharap menikah dengan kamu akan begini, ternyata begitu. Saya berharap punya anak akan begini, ternyata begitu. Saya berharap setelah saya berjuang, perusahaan saya sudah autopilot dan bekerja sendiri…”
Kita orang-orang Injili ini sangat concern terhadap ortodoksi — doksa atau opini yang orto, yang benar. Itu penting, penting sekali. Namun tidak sepenting pertanyaan: pengharapanmu apa?
Kadang-kadang orang punya system of belief dan ortodoksi yang benar, presisi, sampai ke detail yang paling kecil semuanya benar. Namun mengharapkan apa? Mengharapkan kapan saya kaya, mengharapkan kapan giliran saya berkuasa, mengharapkan kapan dunia ini menurut kepada saya dan mengakui saya. Kalau begitu, pengharapannya sama dengan Festus, sama dengan Feliks, sama dengan Pontius Pilatus. Akhirnya yang kita takuti pun sering kali sama dengan yang ditakuti dunia ini — padahal yang kita percaya berbeda.
Lalu kita berkata, “Tidak apa-apalah, yang penting sudah diselamatkan. Saya percaya Allah itu ada, bukan tidak ada. Yesus itu Allah, bukan hanya manusia. Saya percaya diselamatkan hanya karena anugerah, bukan karena perbuatan baik.” Ya, itu yang kamu percaya. Namun pengharapanmu selaras tidak dengan itu? Jangan-jangan tidak. Jangan-jangan yang kita harapkan, yang kita expect, yang kita tunggu-tunggu, sama dengan dunia ini. Kita bukan menantikan datangnya Kerajaan Allah; kita bukan mensyukuri datangnya Mesias. Namun kita expect kepada sesuatu yang dunia ini juga expect, dan itulah berhala kita. Saya kira kita perlu bertobat dari hal ini.
Paulus mengatakan, “Inilah yang kita expect sebagai umat Tuhan.” Umat Tuhan yang sejati adalah mereka yang sejak bayi sudah mendengar Shema Yisrael, Adonai Eloheinu, Adonai Echad. Dengarlah, hai umat Israel — hai orang yang bergumul dengan Tuhan — Tuhan itu Allahmu, dan Tuhan itu esa, cuma satu; yang lain itu berhala. Kita sudah mendengarnya, kita merayakannya, kita menantikannya.
Dan Paulus berkata, “Sekarang aku dituduh oleh orang-orang ini, yang katanya umat Tuhan, yang katanya orang-orang Israel, karena aku mengharapkan kebangkitan orang mati. Salahnya di mana?”
“Benar, Namun Tidak Usah Diharapkan”
Bagi Festus, ini diskusi omong kosong. Menurutnya, perkara ini jelas: orang mati tidak bangkit, selesai perkara. Namun bagi Agripa tidak seperti itu, sebab Agripa mengerti betul bahwa orang Yahudi memang mengharapkan kebangkitan orang mati.
Ini agak mirip dengan orang Injili yang mengharapkan Yesus datang kembali. Mirip dengan orang Kristen yang mengharapkan Kerajaan Allah datang. Mirip dengan orang Kristen yang mengharapkan kekristenan yang benar. Yaitu: benar hal itu akan terjadi, namun tidak usah diharapkan.
“Ya, Tuhan akan mengadili — nanti. Kita ini seharusnya hidup mengasihi — iya, tapi ya seharusnya. Kita ini seharusnya jujur dalam bekerja — iya, tapi ya seharusnya, idealnya. Kita harus mengampuni; orang harus punya belas kasihan. Yang paling berharga dalam hidup itu dikenal dan mengenal, diampuni dan mengampuni, dikasihi dan mengasihi. Iya, idealnya. Namun dunia ini… Yesus belum datang, Bro.”
“Maka untuk sementara ini, rajanya ya uang. Ada uang, semua beres. Lihat saja kalau anggaran macet, bangunannya mangkrak — dari tahun sembilan delapan juga mangkrak; sudah dibuat pondasi, jadinya kolam pancingan. Namun kalau ada uang, lancar. Mau dibuat setinggi Burj Khalifa, mau tingginya satu kilometer, dua kilometer, cepat saja. Masalah uang saja itu.” Yang mana itu memang benar.
Namun apakah itu yang kita harapkan? Kalau kita mengharapkan itu, kita bisa bertanya: Tuhan kita itu yang mana? Tuhan kita siapa? Kita mungkin punya sistem kepercayaan yang benar, namun kita tidak punya Tuhan yang benar. Ini ironis sekali.
Paulus mengajukan hal itu kepada Agripa: orang-orang Israel memang mengharapkan kebangkitan itu. Dan sampai hari ini mereka masih memegang keyakinan bahwa kebangkitan dari antara orang mati akan menyertai akhir zaman. Seorang ahli Perjanjian Baru yang mengajar di Universitas Bar-Ilan di Israel, seorang Yahudi dan bukan orang Kristen, bernama Pinchas Lapide, mengatakan kurang lebih begini: “Kalau di akhir hari ternyata Mesias yang datang adalah Yesus, saya tidak akan heran. Saya tidak akan mengatakan hal itu bertentangan dengan kepercayaan saya yang mana pun. Saya akan berkata: oh, masuk akal saja.” Namun kalau ditanya apakah ia sekarang percaya kepada Yesus, jawabannya lain lagi.
Mungkin saja Yesus memang bangkit — it’s possible. Sementara orang-orang Yahudi yang lain mungkin dengan fanatik berkata, “Tidak mungkin.” Namun “tidak mungkin” itu justru tidak selaras dengan Yudaisme, sebab orang mati itu mungkin saja bangkit, dan mungkin saja Yesus itu Mesias. Soal apakah Dia benar-benar Mesias atau bukan, itu urusan lain. Namun kemungkinan itu masih masuk dalam kerangka Yudaisme secara umum. Kira-kira itulah yang menjadi pembelaan Paulus. Sebagai orang Farisi, Paulus paham betul hal mana yang berlawanan dengan kefarisian dan keyahudiannya, dan hal mana yang tidak, yaitu bahwa orang mati bisa bangkit, bahwa Yesus bisa bangkit.
Damsyik: Ketaatan yang Bukan Hanya Kepercayaan
Paulus melanjutkan, “Aku dihukum karena itu. Namun aku bisa paham, karena aku dahulu pun seperti mereka. Aku dahulu pun ingin menentang orang ini, menentang Yesus dari Nazaret, menentang pengikut-pengikut-Nya. Aku bukan hanya menjebloskan banyak orang di Yerusalem, melainkan juga mengejar mereka. Aku setuju kalau mereka dihukum mati, bahkan sampai ke kota-kota asing. Aku paksa mereka menghujat tuan mereka, yaitu Yesus. Itu sesuatu yang aku lakukan. Aku bagian dari orang-orang ini — sampai Tuhan menangkap aku.”
Paulus menceritakannya dengan dramatis: “Aku melihat di tengah jalan itu cahaya yang lebih terang daripada matahari. Aku rebah ke tanah. Aku mendengar suara dalam bahasa Aram menyapa aku dengan namaku: Saulus, Saulus.”
Sapaan “Saulus, Saulus” ini tipikal seperti gambaran Samuel yang disapa oleh Tuhan. Orang-orang Yahudi akrab dengan pakem itu. Ia disapa oleh Tuhan, namun ia tidak mengenal Tuhan yang mana. Lalu Tuhan itu memperkenalkan diri: “Aku adalah Yesus yang kauaniaya.” Paulus terkejut — kok bisa? — namun ternyata mungkin saja.
Dan ia berkata kepada Agripa, “Kepada penglihatan itu aku tidak pernah tidak taat.” Ketaatan itu bukan hanya dalam kepercayaanku saja; aku harus menindaklanjutinya dengan tindakanku, dengan ketaatanku, dengan hidupku. Ia memanggil orang untuk bertobat, berbalik, dan melakukan perbuatan yang sesuai dengan pertobatan itu. Itulah yang Paulus lakukan seumur hidupnya.
Babak Keempat: Respons Festus dan Agripa
Kisah Para Rasul 26:24–32
Setelah Paulus mengemukakan semuanya itu, Festus menginterupsi — padahal ia tidak sedang diajak berbicara. Ia berkata bahwa Paulus tidak perlu didengarkan lagi; ia sudah konslet, sudah gila, karena terlalu banyak belajar sampai putus dari realitas.
Namun Paulus menjawab dengan bersikeras, “Periksa saja bukti-buktinya, karena hal-hal ini tidak terjadi di tempat yang tersembunyi.” Yesus mati di hadapan banyak orang. Yesus disidang juga di hadapan banyak orang. Tanyakan kepada Pilatus — Pilatus paham hal ini. Tanyakan kepada para penjaga — mereka masih hidup.
Semua hal ini terjadi di tempat publik. Ini teologi publik. Injil itu sendiri adalah teologi publik, karena terjadinya di tempat umum. Dan berteologi tidak harus dengan kata-kata saja; bisa juga dengan gestur, dengan tindakan, dengan keputusan, dengan peristiwa. Tuhan punya teologi publik, dan namanya adalah peristiwa Injil — peristiwa yang terjadi di seputar kehidupan, kematian, dan kebangkitan Yesus. Khususnya kebangkitan Yesus; itulah pernyataan teologi publik dari Tuhan.
Lalu Paulus menantang Agripa: “Engkau percaya kepada para nabi, bukan? Aku tahu engkau percaya kepada mereka.” Maksudnya, Agripa sebagai orang Israel tentu percaya kepada nubuat para nabi — bahwa Tuhan akan kembali ke Yerusalem, bahwa orang-orang mati akan dibangkitkan, dan dengan demikian Yesus pun bisa saja dibangkitkan Tuhan. Dan itu adalah justifikasi dari Tuhan sendiri bagi Yesus, bahwa Dia memang seperti yang Dia katakan: Yesus memang Mesias.
Jawaban Agripa
Inilah yang ia tantangkan kepada Agripa, dan Agripa menyambutnya dengan satu kalimat yang bisa diterjemahkan dua cara. Terjemahan yang pertama positif: “Hampir-hampir saja engkau meyakinkan aku menjadi orang Kristen.” Agripa kira-kira mau berkata, “Luar biasa, Paulus. Tepuk tangan untukmu. Persuasif sekali.” Seperti kalau kita mendengarkan seorang sales mobil, lalu berkata, “Wah, hampir saja saya gesek kartu kredit. Hampir saja saya bawa pulang mobilnya.” Kira-kira: “Hampir saja saya minta dibaptis.”
Arti yang kedua — dan mungkin ini lebih tepat — kalimat yang sama dalam bahasa Yunani bisa juga diterjemahkan: “Kamu pikir segampang itu, dalam waktu sesingkat itu, kamu bisa meyakinkan dan mempertobatkan aku, Paulus?” Jadi ini bisa ambigu.
Tentu di sini tidak ada adegan Agripa dibaptis; tidak ada itu, dan ia pun tidak meminta dibaptis. Kita tidak tahu apa yang terjadi pada Agripa. Namun intinya, Agripa tidak menolak argumentasi Paulus. Yang Paulus katakan itu masuk akal. Hanya saja, memberi diri dibaptis itu ada banyak ongkosnya. Bagaimana ia menjadi raja Israel kalau ia menjadi Kristen? Barangkali ia tidak mau membayar ongkos itu. Namun yang pasti, ia tidak bisa menolak argumen Paulus.
Paulus menjawab, “Aku berdoa supaya bukan hanya engkau, melainkan semua orang yang ada di sini dan yang mendengarkan perkataanku ini menjadi sama seperti aku — kecuali belenggu-belenggu ini.” Maksudnya: jadilah orang Kristen, namun tidak usah sampai dibelenggu seperti aku.
Dan itulah yang menyudahi perjumpaan mereka. Biasanya sebuah persidangan disudahi oleh pimpinan sidang; seharusnya Festus yang menutupnya. Namun tidak. Menurut catatan Lukas, sidang ini ditutup oleh kata-kata Paulus.
Setelah Paulus mengutarakan itu, Raja bangkit, gubernur bangkit, Bernike bangkit, beserta semua orang bangkit, lalu mereka keluar. Mereka tidak mengatakan “Paulus ini sok tahu, pede banget dia. Apaan sih.” Tapi yang mereka katakan, “Orang itu sebenarnya sudah dapat dibebaskan sekiranya ia tidak naik banding kepada Kaisar.” Hal itu menyetujui posisi Festus juga: sebenarnya kamu bisa saja bebas; kamu tidak bersalah apa-apa.
Sampai di sini Lukas menyimpulkan bahwa baik Feliks, Festus, maupun Agripa — penguasa-penguasa dunia ini — setuju bahwa Paulus tidak bersalah, dan bahwa sebenarnya tidak ada alasan Paulus ditahan.
Yang menjadi biang kerok di sini justru orang-orang yang sangat bisa memahami perkara mengenai Yesus. Domain politik justru tidak menemukan alasan bahwa Paulus, Stefanus, dan orang-orang yang lain patut dihukum mati. Artinya apa? Menjadi Kristen atau tidak, percaya kepada Injil atau tidak, itu bukan urusan kemampuan otak kita untuk memahami. Namun ini urusan hati: apakah kamu mau menerima kehadiran Tuhan dalam hidupmu, yang akan mengubah kehidupanmu?
Penolakan Tidak Menghalangi Kerajaan Allah
Kalau kamu menolak pun, tidak apa-apa. Mengapa? Karena hal itu tidak menghalangi perluasan Kerajaan Allah. Penolakan orang-orang Yahudi itu justru dipakai Tuhan untuk membawa Paulus kepada Kaisar di Roma.
Bayangkan kalau Paulus ujug-ujug datang ke istana Kaisar Roma. “Saya mau audiensi dengan Kaisar Roma.” “Perkaranya apa?” “Saya mau mengatakan bahwa Kerajaan Yesus sudah datang, bahwa Kaisar bukan raja.” Orang gila dari mana ini? Langsung diusir keluar; tidak akan ada audiensi. Namun lewat semua cara ini, Paulus malah boleh masuk — bahkan Festus dan Agripa yang harus mengusahakannya.
Inilah cara Tuhan menunjukkan bahwa penolakan manusia terhadap Tuhan tidak menghalangi datangnya Kerajaan Allah dalam dunia ini. Tentu mereka yang menolak Tuhan itu seperti menendang ke tongkat penggiring yang tajam — dalam terjemahan lama, menendang galah rangsang. Itu tongkat tajam untuk menggiring ternak, dan kadang-kadang sapi menendangnya. Orang-orang Romawi akrab dengan gambaran itu; ada cerita mitologi Romawi yang berbicara mengenai hal ini. Tuhan mengatakan kepada Paulus bahwa itu adalah hal yang sia-sia dilakukan oleh hewan itu. Mereka yang melawan Kerajaan Allah hanya merugikan diri mereka sendiri, dan Kerajaan Allah itu tidak menjadi terhalang karena itu.
Refleksi: Apa yang Membuatmu Keringat Dingin dan Ngiler?
Ada dua titik refleksi. Pertama, coba kita pikirkan: Paulus itu kira-kira keringat dingin tidak di persidangan itu? Ketakutan tidak dia? Kedua, apa kira-kira yang membuat Paulus ngiler? Paulus pernah mupeng tidak?
Sepertinya tidak. Dalam penceritaan Lukas ini tidak ada hal seperti itu. Namun coba kita bandingkan dengan Festus, Feliks, dan imam-imam.
Festus keringat dingin, sebab ia takut diadukan ke Roma dan jabatannya dicopot. Imam-imam kepala pun keringat dingin melihat Yesus — rakyat mengikuti Yesus, dan mereka merasa insecure. Adakah mupeng-nya? Ada. Feliks mupeng melihat uang Paulus. Paulus membawa uang banyak sekali, dan ia pun mupeng.
Adakah hal itu pada Paulus? Tidak ada. Mengapa ia bisa begitu tenang, begitu in charge? Jawabannya: karena ia sudah memiliki semuanya. Ia memiliki karena ia sudah dimiliki oleh Tuhan. Ia memiliki ketenangan, sebab tidak ada yang ia takuti. Sebab Tuhan bisa membinasakan bukan hanya tubuh, melainkan juga jiwa — dan Ia berkenan kepada Paulus.
Dan apa yang bisa ia inginkan dari dunia ini? Dipuji? Audiens yang banyak? Harta yang banyak? Maybe nice to have, namun ia tidak terlalu menginginkannya, sebab ia sudah memiliki yang jauh lebih berharga daripada itu semua.
Bukankah orang menginginkan semua itu karena ada sesuatu yang hilang dalam hidupnya? Benar, bukan? Mengapa orang sebegitu ingin terkenal? Kata seorang sosiolog, setiap kita ada masanya, ada menitnya, ada momennya kita menjadi terkenal — mungkin juga viral secara negatif. Namun pertanyaannya: mengapa kita ingin menjadi terkenal?
Seorang pengarang novel Amerika, F. Scott Fitzgerald, menulis dalam sebuah percakapan dalam The Great Gatsby bahwa salah satu indikasi seorang anak dibesarkan dengan baik oleh orangtuanya adalah anak itu tidak ingin menjadi terkenal. Jadi kalau kamu ingin menjadi terkenal, barangkali orangtuamu kurang memperhatikan kamu.
“Mama, lihat saya bisa naik sepeda tanpa pegangan! Look, no hands!” — dan mamanya sibuk. Lalu kamu ingin menjadi terkenal, ingin dilihat oleh seluruh dunia. Padahal jauh di dalam hati, kamu hanya ingin diperhatikan oleh orangtua yang melahirkan kamu. Atau kamu ingin diakui oleh papamu yang berkata, “Ah, cuma begitu saja bangga. Lihat tuh sepupu kamu.” “Masa mudanya jadi apa; sudah itu pensiun dari tentara, masuk Harvard, jadi dokter; jadi dokter tidak puas, jadi astronaut.” Mungkin ada keinginan untuk membuktikan diri di hadapan ayah, ibu, mantan bos kita, atau di hadapan dunia.
Itu kesia-siaan sekali. Ketika kamu sudah sukses, apakah dia peduli kepadamu? Belum tentu juga. Saya tidak menyalahkan orang sukses atau orang terkenal. Poin saya adalah: keinginan itu sebetulnya untuk apa? Barangkali karena kita merindukan hal-hal sia-sia seperti ini.
Dan Paulus sudah memiliki resolusinya. Apa resolusinya? Tuhan semesta alam yang menghadirkan dia dalam dunia ini mengasihi dia, menerima dia, dan memanggil dia untuk sebuah hidup yang berarti sebagai saksi dari datangnya Kerajaan Allah. Ia tidak butuh pengakuan dari Feliks, Festus, dan Agripa.
Inilah refleksi yang kedua bagi kita: apa yang paling kita takuti? Kehilangan apa? Kehilangan pekerjaan, kehilangan favour, dimarahi bos kita? Atau apa yang paling kita inginkan? Mungkin naik jabatan, mungkin harta, mungkin diakui oleh musuh kita — apa itu?
Dan itu menunjukkan siapa Tuanmu; itu menunjukkan siapa Tuhan dalam hidupmu.
Jadi, siapa Tuhanmu? Siapa Tuanmu?
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (EB)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading