Babak Pertama: Nasihat yang Tidak Diindahkan (27:1–13)
Pada babak yang pertama ini kita melihat kelanjutan cerita Lukas mengenai apa yang terjadi sesudah Festus mengadili Paulus untuk kedua kali. Festus mengajak Agripa untuk beraudiensi dengan Paulus, dan menghasilkan kesimpulan yang sama dengan kesimpulan Feliks, pendahulunya: Paulus tidak bersalah apa-apa. Tetapi karena Paulus sudah kadung minta menghadap Kaisar, maka dia terus ditahan oleh Festus pada kali yang kedua. Feliks menahan Paulus karena mengharapkan Paulus menyogoknya. Setelah ditahan dua tahun, Paulus tidak juga menyogok — mungkin karena Paulus ini tipe orang yang tidak mau menyogok hanya sekadar untuk keluar penjara. Feliks kadang-kadang meminta Paulus menjelaskan persoalan teologi kepadanya, namun rupanya itu hanya sekadar rasa ingin tahu. Ketika Paulus memberitakan soal penghakiman, soal dosa dan seterusnya, Feliks tidak tertarik lagi; ia menjadi takut dan mengembalikan Paulus ke dalam penjara.
Setelah lewat dua tahun, Feliks kemudian dimutasi, namun ia juga tidak melepaskan Paulus dari penjara itu. Feliks juga tidak ingin rakyat memberinya review yang jelek. Nanti dikasih bintang satu, gara-gara melepaskan musuh orang Yahudi. Itu wilayah orang Yahudi; jadi ia tidak mau mendapat bintang satu, dan ia tetap memenjarakan Paulus — “biar penerus saya yang mengambil keputusan.” Dan Festus, yang mendapat warisan tahanan ini dan tidak tahu mau diapakan, kemudian menyidang Paulus. Kesimpulan persidangannya: Paulus seharusnya bisa dilepaskan saja. Daripada ditahan terus — menghabiskan makanan, menghabiskan tempat — untuk apa? Lepaskan saja. Ga ada salahnya juga. Paling orang Yahudi yang ga puas, tetapi mereka juga selalu ga puas biarin aja.
Namun Paulus tidak cukup dengan permintaan maaf. Tidak cukup dengan materai sepuluh ribu, tidak cukup dengan video yang diviralkan di Instagram. Ia mau betul-betul namanya dibersihkan. Ia mau naik banding, ia mau bertemu Kaisar sendiri. Ini kan pengadilan Kaisar, tetapi hanya perwakilan — representasi, kantor cabang pembantu. “Saya mau menghadap direktur utama. Saya mau menghadap CEO-nya, sang Kaisar sendiri.” Ia menghadap Mahkamah Agung. Oleh karena itu Festus memutuskan: kalau begini, harus dikirim kepada Kaisar; tidak ada jalan lain. Itu sebabnya kemudian mereka berlayar ke Italia dan terjadi serah terima Paulus.
Paulus diserahkan kepada Yulius, seorang dari batalion Kaisar. Dan Yulius memperlakukan Paulus dengan baik — Paulus diberi izin bertemu teman-temannya untuk dibekali keperluannya. Paulus juga disertai seorang yang namanya sering muncul dalam surat-surat Paulus dan dalam tulisan Lukas, yaitu Aristarkus. Dari namanya yang berakhiran -us, kelihatannya ia bukan orang Yahudi; ia orang Makedonia. Namanya muncul juga dalam Kisah Para Rasul 19:29 dan 20:4, Kolose 4:10, serta Filemon 1:24. Jadi ia orang dalamnya Paulus, rekan seperjalanannya — dan ia menyertai Paulus juga dalam perjalanan kali ini.
Perhatikan ayat 10. Paulus mengambil inisiatif untuk menjadi konsultan dari perjalanan itu — padahal seharusnya ia pasif saja. Ia hanya tawanan; tidak ada yang mengharapkan dia bersuara. Eh, ternyata bersuara, malah sok menasihati pula. Tanpa diminta, Paulus mengatakan bahwa kelihatannya perjalanan ini akan susah, dan mereka akan mengalami kerugian. Kalau terjadi badai, kapalnya hancur; mereka rugi secara finansial. Segala titipan — JNE, kargo-kargo, dan lain-lainnya — kalau dibuang, kamu harus ikut ganti rugi. Jadi ini bakal ada cuaca buruk.
Sebabnya apa? Rupanya waktunya sudah mendekati bulan-bulan ber-ber — September, Oktober, November, Desember — ketika banyak hujan dan gelombang tinggi. Dalam catatan Lukas dikatakan hari puasa sudah berlalu, dan sudah berbahaya untuk melanjutkan pelayaran. Semua orang tahu ada waktu-waktu ketika kapal tidak lewat laut karena berbahaya. Namun tidak ada yang betul-betul bisa meramalkan dengan tepat kapan cut-off-nya; mereka hanya mengandalkan pengalaman dan insting, karena belum ada teknologi atau model-model matematis yang canggih untuk memprediksi cuaca. Dan Paulus mengatakan, “Kalau dilihat dari tanggalnya, dari gejala-gejala ini, sepertinya anginnya sudah kencang sekali. Mau maju itu susah sekali; kecepatannya hanya sekian. Ini bukan pertanda bagus — kita tinggal di sini saja.” Paulus ingin supaya mereka berlabuh dan menunggu waktu yang lebih baik.
Namun menurut mereka, tempat itu bukan tempat yang bagus untuk tinggal lama, dan mereka tidak mau tinggal di situ selama musim dingin. Mungkin karena kotanya kecil, penginapannya sedikit, mungkin mereka harus tinggal di hotel bintang satu, makan sederhana, tidak ada hiburan — barangkali mereka kurang suka. Jadi mereka berpikir, “Ah, ini kan masih begini saja. Cemen lah. Ada turbulensi sedikit, tidak besar-besar amat. Nanti kita pasti bisa lewat. Kita baru di awal musim yang buruk; ini belum dahsyat-dahsyatnya.” Mereka optimis, dan mereka tidak mengindahkan perkataan Paulus.
Perwira itu lebih percaya kepada juru mudi dan nahkoda. Ya, wajar saja, sih — masa mengikuti penumpang? Ikuti pilotnya, dong; dia lebih ahli. Apalagi ada konfirmasi: angin sepoi-sepoi bertiup dari selatan. Maksudnya, seperti pertanda bahwa cuaca sudah membaik — badai yang mendadak muncul itu akan hilang lagi dengan cepat. Seperti kadang-kadang hujan jatuh di bulan Agustus; belum ber-ber sudah hujan. Oh, mungkin datang lebih awal; nanti juga hilang. Mereka pun berlayar menyusur pantai Kreta dari dekat sekali — artinya mereka tidak jauh-jauh ke laut lepas, ke tempat yang lebih dalam. Jadi mereka masih berada di tempat yang gelombangnya tidak terlalu tinggi. Mereka sudah mengambil jalan yang aman; risikonya sebetulnya tidak terlalu besar.
Babak Kedua: Badai dan Penghiburan (27:14–26)
Pada bagian ini kita melihat bahwa prediksi mereka salah. Mereka pikir yang terburuk sudah di belakang, nanti cuaca akan cerah kembali, dan lagipula mereka hanya menyusur pantai. Ternyata keadaan segera berubah dahsyat: terjadi badai. Angin Timur Laut ini sepertinya code name untuk satu badai yang dahsyat pada masa itu. Kapal itu hampir saja terbalik, hampir saja hancur, dan dengan penuh kesulitan mereka mempertahankannya dengan segala teknik yang mereka punya. Lukas ingin mengafirmasi bahwa apa yang dikatakan Paulus sebelumnya itu sungguh terjadi. Paulus mengatakan, “Kamu akan rugi. Muatanmu akan terbuang. Nyawamu akan terancam. Mendingan tidak usah dilanjutkan.” Itu terjadi.
Mereka harus membuang muatan kapal. Bahkan mereka membuang alat-alat kapal — dan ini berbeda dengan sekadar membuang kargo titipan orang. Kalau membuang kargo, itu kerugian finansial. Kalau membuang alat-alat kapal, itu boleh dikatakan memperkecil kemungkinan survive juga — namun terpaksa dilakukan. Mungkin jangkar, mungkin obeng, mungkin kunci pas — ya, obeng dan kunci pas zaman itu. Yang mereka anggap memberati, mereka buang. Padahal itu diperlukan untuk survive juga; hanya saja kalau dipertahankan, mungkin lebih tidak survive. Mereka juga menurunkan layar, sehingga membiarkan kapal itu terapung-apung tidak bergerak — karena kalau ada layar, berarti ada force dari angin yang ditangkap layar, dan kapalnya bisa celaka. “Kita survive saja dulu sampai angin besar ini lewat, baru kita lanjutkan perjalanan.” Barangkali itu juga mode banyak penduduk republik ini akhir-akhir ini — kita survive saja dulu.
Mereka bahkan membuang alat-alat kapal ke laut, namun keadaan tidak menjadi lebih baik. Setelah beberapa hari berlalu, bahkan bintang-bintang dan matahari tidak kelihatan. Kalau bintang dan matahari tidak kelihatan, maksudnya apa? Pertama, badainya terus-terusan. Kedua, mereka kehilangan arah. Bagi orang yang berlayar — dan saya kira juga bagi orang yang mengemudi — arah itu penting sekali. Makanya kalau memasang spanduk di tepi jalan tol itu harus ada izin. Mengapa? Karena kalau spanduk itu lepas, kain yang besar itu bisa membunuh orang. Lho, kain kok bisa membunuh orang? Iyalah — bayangkan saja melaju dua ratus kilometer per jam lalu tertutup spanduk. Matilah, karena tidak bisa melihat arah. Demikian juga naik pesawat terbang, lalu tiba-tiba radar pesawat mati, kena bug, atau komponennya rusak, dan komunikasi radio putus — selesailah sudah. Sudah tidak tahu mana selatan, utara, timur, barat — habislah.
Orang zaman itu belum ada GPS, belum ada telepon genggam, belum ada alat navigasi canggih; mereka mengandalkan bintang. Ada seorang kawan saya yang papanya ikut perang dunia, masih memakai pesawat yang tidak ada radarnya — mengandalkan apa? Bintang. Menyetir pesawat mengandalkan bintang. Entah bagaimana caranya, tetapi zaman itu semua begitu.
Dikatakan juga bahwa akhirnya putus segala harapan mereka untuk dapat menyelamatkan diri, karena mereka beberapa lamanya tidak makan. Mengapa tidak makan? Kemungkinan bukan karena depresi, melainkan karena menghemat ransum. Rupanya yang mereka buang itu kargo lebih dahulu, lalu alat-alat kapal — namun gandum itu tidak mereka buang. Karena mereka merasa: kalau angin besarnya sudah lewat, selama kapalnya tidak pecah, masih ada kemungkinan survive. Namun kalau tidak ada makanan, kita mati semua. Jadi gandum dipertahankan; mereka mungkin makan, tetapi tiga hari sekali atau dua hari sekali — sangat jarang.
Lalu Paulus mengatakan sesuatu. Pertama, kalimat yang bagi kita pasti menjengkelkan — mungkin bagi mereka di zaman itu tidak sebegitu menjengkelkan — kalimat yang patronizing sekali: “Saya bilang juga apa.” Orang paling jengkel kalau mendengar kalimat itu. “Saya bilang juga apa? Sudah berapa kali saya nasihati kamu, jangan beli investasi bodong seperti itu.” Namun Paulus memberi jalan keluar juga, dan ia memberi semangat. Semangatnya ini menarik, karena Paulus mengatakan, “Semalam aku mengalami ada utusan dari Tuhan, malaikat dari Allah.” Dari Allah yang mana? Ia jelaskan.
Dengan demikian ia menghibur mereka dengan kesaksian akan datangnya Kerajaan Allah, dan ia melakukannya bukan dari universal standpoint — karena istilah standpoint juga sebenarnya tidak ada yang universal — melainkan dari particular standpoint: sebagai orang percaya, sebagai orang Kristen. Orang-orang Romawi ini menyembah Zeus, menyembah Neptunus, menyembah Poseidon. Sementara Paulus menyembah Yahweh, Allahnya orang Ibrani — yang dianggap Allah yang kalah perang, kalah dengan Mars. Untuk apa takut kepada Yahweh? Namun Paulus tidak malu-malu. Ia berkata, “Allah yang aku sembah” — ya, Yahweh; kamu pasti tahu, aku kan jenggot-jenggotnya jenggot Ibrani ini — “mengutus malaikat-Nya.”
Dan malaikat itu mengatakan apa? “Jangan takut, Paulus.” Allah kalau bertemu manusia, biasanya manusianya takut; lalu Allahnya mesti memberi tahu, “Jangan takut.” Ini kebalikan dari manusia. Manusia justru menakut-nakuti sesama manusia dengan berbagai cara — dengan suara yang berat, dengan kata-kata yang menusuk, dengan gedung yang besar-besar, dengan uang yang banyak — baru kemudian kita bisa merasa sedikit lebih aman. Leading by fear. Namun Allah kita tidak begitu. Allah kita tahu Dia menakutkan, tetapi Dia menghibur kita. Setiap kali manusia ditemui oleh Tuhan — entah lewat malaikat, entah Tuhan sendiri — selalu dikatakan: jangan takut. Seperti Dia berkata “jangan takut” kepada Abraham, “jangan takut” kepada Maria. Dan Dia meneguhkan Paulus: “Engkau harus menghadap Kaisar.” Jadi, kamu tidak mungkin mati di sini — kalau kamu mati di sini, kamu tidak menghadap Kaisar.
Berikutnya Tuhan mengatakan — dan ini Paulus menyampaikannya kepada orang kafir, kepada orang yang tidak menyembah Allahnya dia — bahwa sesungguhnya karena rahmat Allah kepadanya, bukan rahmat Allah kepada orang Romawi, melainkan rahmat Allah kepada Paulus, semua orang yang berada bersama dia di kapal itu akan selamat. Tiap kali muncul istilah selamat, kita mesti ingat bahwa dalam Kisah Para Rasul istilah ini sering muncul: Yesus itu Juruselamat; Allah menyelamatkan dunia melalui pekerjaan Roh Kudus.
Selamat itu dialami oleh orang Kristen, tetapi juga dialami oleh orang non-Kristen. Dan orang-orang non-Kristen itu mengalami keselamatan dalam konteks ini bukan seperti mereka memberi diri dibaptis. Tidak ada catatan bahwa seisi kapal, anak buah kapal, dan para prajurit dibaptis oleh Paulus. Namun mereka tetap selamat — memakai istilah yang sama: selamat dari kematian, selamat dari marabahaya, walaupun tidak secara radikal mereka bertobat. Selamatnya orang-orang tidak percaya ini tidak secara langsung itu karena Allah merahmati orang percaya. Allah memberikan rahmat-Nya kepada orang-orang yang takut akan Dia, orang-orang yang percaya kepada Yesus dan kepada datangnya Kerajaan Allah — dan mereka menerima rahmat itu. Ini sejalan dengan janji Tuhan kepada Abraham: “Yang memberkati engkau akan Aku berkati; yang mengutuk engkau akan Aku kutuk. Dan melalui engkau segala bangsa mendapatkan berkat.”
Karena itu Paulus berkata kepada mereka, “Tetaplah bersemangat, karena aku percaya kepada Allah bahwa semuanya pasti terjadi.” Aku percaya — kamu belum tentu percaya — tetapi aku percaya semuanya akan terjadi seperti yang dikatakan, karena aku harus menghadap Kaisar. Dan menariknya, ia menyapa mereka: saudara-saudara. Jadi Paulus percaya kepada the brotherhood of man. Bukan dimulai dari lagu Imagine oleh John Lennon; barangkali budaya populer justru mendapatkan inspirasinya dari Kisah Para Rasul dan dari Injil — kecipratan dari sisa-sisa kapital yang mereka pinjam dari kekristenan. Di situ Paulus menyapa orang-orang yang tidak percaya ini sebagai saudara-saudara: “Saudara-saudara, tetaplah bersemangat. Jangan putus asa, jangan putus harapan.”Karena apa? “Karena aku harus menghadap Kaisar.” Wah, menarik ini — Paulus itu sebegitu obsesif, seolah-olah di mata mereka, untuk menghadap Kaisar. Dari dua tahun yang lalu bilangnya ingin menghadap Kaisar. Sebelum berangkat bilangnya ingin menghadap Kaisar. Sekarang pun ingin menghadap Kaisar.
Babak Ketiga: Kesaksian yang Dilihat Orang Tidak Percaya (27:27–44)
Perhatikan di sini. Setelah Paulus mengatakan “semangat”, besoknya tidak langsung selamat. Tidak langsung terlihat daratan; masih lama lagi. Namun akhirnya, setelah terombang-ambing di Laut Adria, pada tengah malam para awak kapal merasa bahwa mereka mendekati daratan. Menarik — bukan pada siang hari, melainkan pada tengah malam. Artinya mereka bukan melihat ada pulau, melainkan bisa merasakannya. Mengapa bisa? Karena pelaut ini sudah lama melaut; ia tahu tanda-tandanya. Mungkin dari baunya, mungkin dari gelombangnya. Mirip seperti kita kalau sudah dekat laut, kita tahu juga — mungkin tercium baunya.
Lalu mereka mengulurkan batu duga — pemberat yang diikat tali, dengan simpul setiap meter. Kalau sudah menyentuh dasar, mereka tarik dan menghitung simpulnya, sehingga tahu kedalamannya berapa. Empat puluh meter. Mereka maju lagi, ukur lagi: tiga puluh meter. Berarti ke depan lagi mungkin dua puluh, lalu sepuluh. Sepertinya badainya sudah hampir lewat, sudah mengecil, sehingga mereka bisa maju. Yang ditakutkan oleh kapal adalah karang, karena kapal secara ukuran dan inersianya besar, dan tidak bisa langsung di rem atau stop. Biasanya di dekat daratan ada karang-karang yang bisa merusak kapal — zaman itu kapalnya dari kayu, dan kapal dari besi pun kalau menabrak karang ya rusak juga. Jadi mereka mengerem, karena tidak kelihatan apa-apa di tengah malam, dan akhirnya mereka membuang sauh.
Di sini muncul masalah baru: awak kapal sudah tidak tertarik bekerja di kapal itu. Mereka ingin kabur. Masalahnya, kalau seluruh awak kapal kabur, sementara di kapal ada lebih dari dua ratus orang, mereka tidak bisa survive. Mereka butuh tenaga kerja ahli untuk menyetir kapal dan mengerjakan ini-itu. Kalau semua anak buah kapal kabur, mereka bisa mati. Oleh karena itu Paulus memperingatkan lagi — ini nasihatnya yang ketiga (ay. 31–32) — dan ini tindakan yang ada konsekuensinya.
Memang kalau sekoci itu dibiarkan di sana, anak buah kapal bisa naik lalu bye-bye — ke daratan, lalu tidak kembali lagi. Namun kalau tali sekoci itu dipotong dan dibiarkan hanyut, ada bahaya yang lain. Karena kapal besar tidak mungkin mendarat sampai ke daratan; bagian bawahnya dalam, jadi akan kena karang. Untuk mendarat biasanya mereka memakai sekoci kecil. Kalau sekocinya dipotong, bagaimana caranya mendarat? Mungkin masih satu kilometer lagi, mungkin beberapa ratus meter. Hanya berapa orang yang pandai berenang yang bisa survive; sisanya bisa hanyut, apalagi gelombangnya masih tinggi — bisa mati. Jadi dilema. Mereka butuh sekoci, tetapi kalau sekocinya tetap di situ, mereka ditinggal oleh anak buah kapal. Nasihat Paulus kali ini dituruti: mereka memotong sekoci itu.
Menjelang fajar, Paulus mengajak semua orang untuk makan — “sudah empat belas hari kamu menanti-nanti saja, menahan lapar, tidak makan apa-apa” (ay. 33–34). Nah, ini menarik — kita masuk pada satu bagian yang relevan dengan apa yang akan kita lakukan hari ini. Perhatikan kalimatnya. Ini di hadapan orang-orang tidak percaya, di hadapan orang Romawi yang menyembah Zeus dan Poseidon dan segala macam:
Sesudah berkata demikian, ia mengambil roti, mengucap syukur kepada Allah di hadapan semua mereka, memecah-mecahkannya, lalu mulai makan.
Setelah itu Lukas menceritakan bagaimana kapal itu akhirnya terkandas di sebuah teluk dan buritannya hancur dipukul gelombang.
Segala peristiwa ini, bagi orang-orang yang tidak percaya, sekadar business as usual. Bagi awak kapal, bagi pemilik kapal, bagi nahkoda — business as usual: “Mengantar orang, mengantar kargo. Cuaca akan buruk, kelihatannya sudah mulai buruk hari-hari ini. Namun kita masih bisa bekerja; sebentar lagi juga sudah tidak bisa. Jadi ini hari-hari terakhir.” Bagi tentara Romawi juga business as usual: “Kita menjalankan fungsi kita sebagai tentara, kita mendapat bayaran. Kita orang Romawi, bangsa yang ditakuti, yang menang — tetapi ya, hanya budak korporasi saja.” Namun bagi Paulus, ini adalah missio Dei. Ini misi Allah. Ia akan menghadap Kaisar.
Kalau ia tiba-tiba datang kepada Kaisar — “siape lu?” — ya ditolak; tidak akan terjadi. Kalaupun ia memaksa masuk, Kaisar hanya akan berkata kepada tentaranya, “Tangkap itu, siapa tuh yang bikin huru-hara?” Namun Tuhan mengatur sampai Paulus bisa beraudiensi dengan Kaisar. Ada satu misi yang Paulus harus lakukan, dan ada banyak penghalang — baik orang Yahudi, orang Romawi, maupun cuaca dan iklim yang buruk itu — tetapi semuanya tidak bisa menghalangi Paulus. Paulus disertai Tuhan, dan Tuhan memang menghendaki Paulus sampai di Italia, sampai di kota Roma, sampai beraudiensi dengan Kaisar. Tidak ada yang bisa menghalangi Paulus, karena tidak ada yang bisa menghalangi datangnya Kerajaan Allah.
Dalam cerita ini kita membaca bahwa orang-orang yang tidak percaya itu melihat cara hidup dan cara bereaksi orang percaya secara terbuka. Kita tidak mendengar di sini Paulus bersaksi dengan cara mendekati perwira Romawi lalu bertanya, “Kalau malam ini kamu mati, apakah kamu masuk surga?” Kita tidak mendengar percakapan seperti itu. Namun bukan berarti kita tidak mendengar kesaksian Paulus di tengah orang-orang tidak percaya. Kita melihat kesaksian Paulus melalui perkataannya bahwa Tuhan menjumpai dia dan bekerja dalam hidupnya. Saudara, kalau hidup di tengah dunia ini sebagai kaum minoritas, kita hidup hampir pasti di dalam lingkungan orang tidak percaya. Lalu Saudara kira-kira berbicara apa? Saudara menghidupi hidup Saudara dengan kesadaran seperti apa? Beberapa orang menghidupi hidupnya dengan kesadaran bahwa begitu bertemu orang baru, harus mengucapkan satu kalimat tertentu; kalau sudah mengucapkannya, seperti sudah menyelesaikan kewajiban. Paulus saya kira tidak punya mindset seperti itu.
Paulus punya kesadaran bahwa orang-orang yang tidak percaya ini memang bukan pengikut Yesus — ia sadar itu. Namun mereka bukan tidak punya kesamaan dengan kita — mereka punya kesamaan dengan kita. Yaitu apa? Pertama, mereka sama-sama bisa mengalami bahaya seperti kita. Bahaya badai dialami bersama-sama. Bahaya kelaparan. Bahaya mati di dalam kapal yang karam — dialami bersama-sama.
Di sini perlu diselipkan satu hal: mengapa para prajurit berniat membunuh tawanan? Mereka pun terancam bahaya, sehingga mereka harus tahu bahwa ada satu opsi — protokolnya, standard operating procedure-nya — yaitu membunuh tawanan. Karena kalau kapalnya karam, atau penjara kebakaran, atau situasinya kacau, tawanan itu lebih baik dibunuh daripada kabur. Sebab kalau tawanan kabur, yang dibunuh adalah penjaganya. Oleh karena itu, daripada penjaganya yang dibunuh, lebih baik tawanannya yang dibunuh — tidak apa-apa, itu cuma tahanan.
Namun despite perbedaan-perbedaan itu, Paulus juga bisa melihat bahwa mereka punya kebutuhan yang sama, keinginan yang sama, aspirasi yang sama: setiap orang ingin selamat. Benar tidak? Prajurit itu ingin selamat — selamat dari hukuman mati kalau ketahuan tahanan-tahanan lepas, selamat karena tahanan tidak lepas, dan juga selamat dalam arti bisa menemukan daratan, kapalnya tidak terkatung-katung sampai setahun. Prajurit itu manusia yang sama dengan Paulus. Hanya saja ia punya kepercayaan yang berbeda. Mungkin ia menyembah dan berharap kepada Poseidon, sementara Paulus berharap kepada Yahweh. Bedanya itu. Namun mereka bukan tidak punya kesamaan — mereka punya kesamaan. Ada brotherhood — brotherhood of man. Mereka sama-sama mortal, sama-sama makan gandum, sama-sama kalau di laut terus bisa mati.
Tuhan yang sama yang berbicara kepada Paulus — walaupun bukan Tuhan mereka — bisa juga menolong mereka, bisa juga menyelamatkan mereka, walaupun levelnya bisa beda-beda. Kalau mereka percaya kepada Tuhan, maka Tuhan akan menyelamatkan mereka — so to say — tubuh dan jiwa, jadi keseluruhan hidup mereka. Karena istilah jiwa dalam bahasa Yunani itu bukan mengacu hanya kepada sebagian dari diri manusia, bagian yang tidak kelihatan. Soul, spirit, pneuma itu adalah the whole human being. Jadi ketika Yesus mengatakan, misalnya, “takutlah kepada Allah yang bisa membunuh bukan hanya tubuhmu, melainkan juga jiwamu” — maksudnya takutlah kepada Allah yang berkuasa atas your whole life, yang bukan hanya bisa membunuh sebagian dari dirimu yaitu tubuhmu saja, tapi keseluruhan dari tubuhmu yaitu jiwa.
Para prajurit itu adalah orang yang juga menginginkan supaya jiwa mereka diselamatkan dalam arti keseluruhannya — namun tentu bukan untuk semua orang. Para penjaga penjara di Filipi yang sampai membaptiskan dirinya dan seisi rumahnya, dia diselamatkan tubuh dan jiwa — keseluruhan hidupnya — karena memberikan diri kepada Yesus dan kepada datangnya Kerajaan Allah. Namun prajurit-prajurit dalam kapal ini tidak ada indikasi demikian. Apakah mereka tidak diselamatkan oleh Tuhan? Diselamatkan — setidaknya dalam adegan ini, tubuhnya. Dan itu juga tidak bisa dibilang bukan keselamatan. Itu juga keselamatan, walaupun tidak dalam arti teologis. Tuhan menyelamatkan mereka yang tidak percaya itu melalui rahmat-Nya kepada orang percaya di tengah mereka, yaitu Paulus. Apakah Tuhan juga ingin memakai kalian — orang-orang percaya di tengah orang-orang tidak percaya di kantor kalian, di lingkungan kalian, di jalanan dan segala macam — untuk menyelamatkan mereka? Mungkin secara keseluruhan, tubuh dan jiwa; mungkin juga sebagian.
Dan pada bagian ini Lukas menggambarkan bahwa salah seorang dari orang tidak percaya itu, yaitu perwira itu, membalas kebaikan Paulus — yang tentu menjadi kebaikan karena ada rahmat Tuhan dalam diri Paulus. Ia membalasnya dengan cara menyelamatkan nyawa Paulus; ia mencegah para prajurit di bawahnya untuk membunuh Paulus (ay. 42–43). Muncul lagi kata ini — soter, menyelamatkan. Dan ini menarik, karena dengan begitu si perwira itu menginterupsi langkah yang masuk akal dalam cara pandang mereka, yaitu bahwa nyawa itu tidak ada harganya.
Dalam cara pandang orang Romawi, nyawa — apalagi nyawa tahanan — memang tidak ada harganya. Nyawa manusia in general tidak ada harganya. Baru setelah kehadiran orang Kristen ada ratifikasi dari PBB dan segala macam — tidak boleh membunuh orang sembarangan, ekstrayudisial dikutuk, genosida dikutuk. Namun orang Romawi tidak tahu itu, tidak percaya itu. Julius Caesar melakukan genosida terhadap orang-orang Galia — orang-orang Galia itu, Asterix dan Obelix; hanya di komik Uderzo saja mereka pahlawan. Dari segi rasional, keuangan, dan persenjataan, siapa yang bisa mengalahkan Romawi pada masa itu? Julius Caesar menggulung orang-orang Galia dan membunuh mereka kira-kira satu juta — lalu ia menyombongkannya ke mana-mana supaya posisi politisnya kuat. “Saya bunuhi orang Galia satu juta.” Orang Romawi memang tidak menghargai nyawa manusia.
Namun perwira ini ingin menyelamatkan Paulus. Dan lewat tindakannya, ia juga menyelamatkan tahanan-tahanan lain. “Lho, untuk apa membunuh tahanannya? Ini saja, prajurit yang pandai berenang — ayo, turun duluan.” Jadi yang pandai berenang, yang pasti banyak juga di antara prajurit, naik lebih dahulu ke daratan. Dengan demikian nyawa Paulus diselamatkan. Dengan demikian Paulus bisa menghadap Kaisar di Roma — lewat apa? Lewat kebaikan hati seorang perwira Romawi yang tidak percaya, yang tidak mengenal Tuhan, yang tidak ada indikasi ia dibaptis — yang nyawanya diselamatkan Paulus, yang semangatnya dibangkitkan lagi oleh Paulus, karena firman Tuhan yang Paulus dengar pada malam itu.
Penutup: Diambil, Diberkati, Dipecahkan, Dibagikan
Dan kemudian ia menguatkan mereka — ini yang menarik. Apa yang menguatkan mereka? Cara Lukas menceritakannya sangat akrab di kuping para pembacanya. Kita ingat bahwa Kisah Para Rasul ini audiensnya bukan orang-orang tahun 30 M. Kitab ini tidak dituliskan ketika Tuhan Yesus disalibkan; kitab ini dituliskan, diterbitkan, dan diedarkan bertahun-tahun sesudahnya, kira-kira satu generasi kemudian. Jadi generasi keduanyalah yang membaca Kisah Para Rasul ini. Artinya apa? Artinya sudah lebih dari tiga puluh tahun mereka merayakan berulang-ulang apa yang Tuhan Yesus perintahkan: “Lakukanlah ini untuk menjadi peringatan akan Aku — ya, rayakanlah ini.” Itu sesuatu yang dirayakan orang Yahudi tiap tahun, namun dirayakan orang Kristen tiap minggu — tiap kali bertemu, tiap hari Minggu. Itu sudah terpatri di benak mereka, karena mungkin sejak kecil, sejak bayi, mereka dibawa mamanya melihat orang di gereja merayakan Perjamuan Kudus. Mereka selalu mendengar perkataan dari pendetanya, dari imamnya itu.
Ini sesuatu yang diselidiki oleh Dom Gregory Dix, yang ia tuliskan dalam bukunya, The Shape of the Liturgy. Katolik, Ortodoks, dan seterusnya — teologinya bisa berbeda-beda, pemaknaannya bisa berbeda-beda, tetapi bentuk liturginya sama. Bentuk liturgi itu apa? Ini diambil dari Alkitab: diambil, diberkati, dipecah-pecahkan, dan dibagi-bagikan. Itu diambil dari peristiwa Tuhan Yesus mengambil lima roti dan dua ikan, lalu memberkatinya — Ia mengucap syukur atasnya — lalu memecah-mecahkannya, lalu membagi-bagikannya supaya mereka makan. Saudara bisa menyelidikinya dalam Perjanjian Baru; bentuknya selalu begitu.
Dan dalam Kisah Para Rasul, dalam satu peristiwa makan ransum — jauh sekali dari format dan ekspektasi Perjamuan Kudus. Ini at best seperti orang dibagikan makanan di pesawat terbang. Kamu terpikir tidak, dibagikan makanan di pesawat terbang lalu terpikir ini seperti merayakan Perjamuan Kudus? Tidak terpikir begitu, karena itu sangat fungsional saja. Dan ini mungkin lebih dari itu — lebih ordinary, lebih banal daripada dibagikan makanan di pesawat terbang. Ini seperti membuka bungkus mi instan pada saat banjir, menyeduhnya di atas sandal jepit yang dibakar. Banal sekali.
Namun Lukas menstrukturkannya dengan kalimat dan ekspresi yang akrab sekali di kuping pendengarnya. Tidak mungkin salah — sudah pasti Lukas memaksudkannya begitu. Paulus menerima roti itu. Ia mengucapkan berkat. Lalu ia memecah-mecahkannya. Lalu gandum itu dibagi-bagikan untuk semua orang. Ini seolah-olah Paulus sedang merayakan Perjamuan Kudus di hadapan dan bersama orang-orang tidak percaya. Dan roti yang mereka makan itu menguatkan mereka, sehingga mereka bersemangat lagi. Semangat mereka tadi sudah hampir mati; sekarang bersemangat lagi, rohnya bangkit — itu karena makan. Dan mereka pun menjadi tidak jadi membunuh para tahanan.
Respons-respons yang dilakukan orang mati itu adalah respons-respons yang didorong oleh ketakutan. Dan kita sering kali mati selagi masih hidup — mati selagi jantung kita masih berdetak. Mungkin kita sudah lama mati. Kapan kita mati? Kita mati kalau kita di-drive oleh rasa takut, di-drive oleh rasa kekurangan, di-drive oleh paranoia dan segala macam. Itu kita mati. Namun dihidupkan oleh apa? Oleh makan — makanan yang mereka terima dan mereka berkati lebih dahulu.
Ini menjadi satu bentuk bukan hanya liturgi waktu merayakan Perjamuan Kudus, melainkan juga liturgi waktu merayakan hidup. Karena ketika orang Kristen menghidupi hidup mereka yang baru — Paulus berkata apa dalam Roma 12? Ia mengatakan, “Di hadapan kemurahan Allah”. Dan kemurahan Allah itu apa? Yesus yang memberi diri bagi kita. Di hadapan kemurahan Allah itu, “aku menasihatkan kamu, aku mendesak kamu dengan sangat, untuk memberikan tubuhmu.”
Memberi. Mengapa memberi? Mendedikasikan. Tuhan bukan ingin merampas. Tidak dipakai kata itu — merampas, menodong, memaksa. Bukan. Tuhan itu menerima. Mengambil dalam arti menerima. Dia receive. Dia membuka pintu. Apa pun yang kita persembahkan — “Oh, cuma saya, kok. Saya ini IQ-nya pas-pasan, mukanya pas-pasan, buta nada pula, bau pula, gendut pula. Tapi saya persembahkan buat Tuhan. Saya berikan diri saya buat Tuhan.” — maka Tuhan akan mengambil, Dia akan menerima. Dan setelah Dia menerima, Dia tidak melihat-lihat, “Aduh, kok jelek, ya. Sudah, taruh di gudang saja.” Tidak begitu. Yang Dia terima itu adalah keseluruhan diri kita, dan Dia cherish itu. Dia berkati.
Namun setelah Dia berkati — tidak hanya bagus-bagusnya, manis-manisnya — kemudian Dia pecahkan. Ketika Dia memecahkannya, biasanya itu pengalaman yang tidak terlalu enak. Dia memecahkannya, dan memecahkan berarti Dia ingin kita tidak hidup bagi diri sendiri saja. Dia ingin kita keluar dari incurvatus in se, keluar dari membengkok ke dalam diri sendiri. Karena kebanyakan organisme itu melayani dirinya sendiri saja. Lalu Tuhan memecahkannya, seperti Dia memecahkan roti itu, dan kemudian Dia membagi-bagikannya.
Dan liturginya apa? Take my life, and let it be consecrated, Lord, to Thee. Kita memberi diri kita bagi Tuhan; Tuhan memberkatinya; dan Tuhan akan memecah-mecahkan hidup kita untuk dibagi-bagikan, sehingga menjadi berkat dan berbuah bagi segala bangsa. Dan itulah yang kita lihat dirayakan Paulus, dan juga dirayakan kita hari ini.
Karena seperti Schleiermacher katakan — bahwa firman yang kita dengar hari ini menyapa kita seperti pada hari yang pertama — apa yang kita baca dari Alkitab ini, yang kita dengar dengan kuping kita, adalah sesuatu yang sudah dituliskan kira-kira dua ribu tahun yang lalu, dibacakan dua ribu tahun yang lalu, dibicarakan dua ribu tahun yang lalu. Namun tidak ada bedanya ketika kita mendengarnya, membacanya, merayakannya, dan mengecapnya hari ini. Karena Yesus dan Kerajaan-Nya tidak tertinggal di masa lampau. Demikian pula Yesus dan Kerajaan-Nya bukan hanya kita tunggu karena masih ada di masa depan. Tidak. Dia sudah menjadi realitas hari ini, ketika kamu mendengarnya dan melihatnya.
Inilah Yesus yang hadir, Yesus yang present dalam hidup kita — yang mendorong kita untuk mencintai kehidupan, biofil, dan bukan nekrofil, mencintai kematian. Yang hari ini akan kita kecap, hari ini akan kita lihat, dan hari ini sudah kita dengar — kiranya menjadi kehidupan bagi kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (EB)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading