Kita membahas Khotbah di Bukit sekali lagi, Saudara, sebagai apa? Bukan sekadar ajaran, tetapi sebagai manifesto sebuah kerajaan. Kata manifesto berasal dari kata Latin manifestus yang artinya ‘menjadi jelas’. Sesuatu itu made manifest berarti sesuatu itu menjadi jelas. Manifesto adalah deklarasi publik yang membuat jelas apa yang menjadi jati diri atau cita-cita dari biasanya sebuah kerajaan yang baru didirikan, revolusi yang baru saja ditancapkan, atau bangsa yang baru saja merdeka.
Yesus mengajarkan Khotbah di Bukit ini dari atas bukit, sedangkan Lukas mencatat: waktu turun dari bukit; yang penting bukan koordinat GPS-nya, melainkan ini cara para penulis Injil menarik paralel antara Yesus dengan Musa. Musa naik ke atas gunung –Bukit Sinai– menerima 10 Hukum Allah, lalu turun dari Gunung Sinai dan memberikannya pada Israel, itulah momen ketika Israel baru didirikan sebagai suatu kerajaan. Oleh karena itu, 10 Hukum Allah adalah manifesto. Khotbah di Bukit adalah manifesto, berfungsi sama seperti 10 Hukum Allah; ini bukan sekadar undang-undang, ini merupakan Undang-Undang Dasar.
Saudara ingat, UUD 1945 khususnya bagian preambul dijadikan sebagai apa? Fungsinya tidak sekadar menjadi hukum, in some sense batang hukumnya sendiri sudah banyak sekali direvisi/diamendemen, tetapi kita tetap melihat UUD 1945 itu otoritatif sebagai satu dokumen dasar negara ini, bukan sekadar hukum melainkan visi dasar negara ini, identitas, jati diri, dan cita-cita bangsa Indonesia, nah itulah manifesto. Itu sebabnya Khotbah di Bukit kita bahas dalam masa liturgi ordinary time, karena setelah setengah tahun dari Adven sampai Pentakosta kita membahas mengenai Raja dari Kerajaan Surga, maka setengah tahun ini kita membahas mengenai umat dari Raja itu: apa jati diri umat Kerajaan Surga dan apa cita-cita mereka. Hal itu kita temukan terjawab dalam Khotbah di Bukit –manifestonya.
Siapakah umat Kerajaan Surga dan apa jati dirinya? Jawaban sederhananya kita katakan, “Oh kita ini kaum pilihan Allah.” Namun banyak orang salah mengerti istilah ‘kaum pilihan’ ini. Kita pikir kaum pilihan artinya adalah anak kesayangan: saya disayang, orang lain tidak. Kita kaum pilihan karena Tuhan sayang kita tetapi benci dengan orang lain; karena kita mendapat terang, sementara orang-orang lain tetap dalam kegelapan. Tidak, Saudara. Ketika mempelajari Khotbah di Bukit, Saudara tidak bisa mempertahankan pandangan ngawur ini. Karena kaum pilihan di Khotbah di Bukit adalah mereka yang dipilih, dan dipilih untuk jadi apa? Jadi garamnya bumi, jadi terangnya dunia, jadi kota yang bersinar dari atas bukit. Kita bukan cuma dipilih dari dunia, kita dipilih bagi dunia. Kita dipilih supaya melalui kita Allah bisa memberkati seluruh bangsa di bumi –janji kepada Abraham.
Tuhan Yesus mengatakan dengan jelas: ‘Buat apa pelita ditaruh di bawah gantang? Buat apa engkau dipilih untuk selamat, kalau ujungnya keselamatan itu hanya jadi milikmu semata-mata? Di mana tempat untuk menaruh lampu yang paling pas jikalau bukan di tengah-tengah kegelapan?’. Lalu bagaimana kita menjadi terang, Saudara? Bagaimana melalui kita, berkat Tuhan bisa turun bagi bangsa-bangsa di dunia ini? Yaitu dengan menghidupi suatu kehidupan yang righteousness-nya, yang relasi-relasinya, melampaui orang-orang Farisi dan para pemuka agama. Ini actually adalah inti dari penginjilan Kristen, yaitu relasi-relasinya: relasi antara orang Kristen dengan sesamanya dan dengan dunia. Itulah penginjilan.
Saya ingin mengajak Saudara refleksi sedikit sebelum masuk ke dalam bahan kita. Hari ini kegiatan-kegiatan apa yang kita sebut sebagai penginjilan/PI? KKR Regional, PI pribadi kepada sopir grab dan petugas pom bensin, bagi traktat, organisasi parachurch di kampus, dst. Saudara lihat ada sesuatu yang aneh di sini, yaitu semua kegiatan PI kita sifatnya di luar gereja dan dilakukan secara perorangan. Jadi bagi kita, yang namanya penginjilan itu bukan di gereja. Kita berpikir, gereja bukanlah garis depan penginjilan, gereja paling banter adalah inkubator dari penginjilan. PI tidak dilakukan oleh Gereja atau dekat-dekat dengan gereja. Gereja mengirim para misionaris, tetapi para misionaris bekerja sendirian di luar gereja. Itu pandangan kita. Kita harus mengakuinya.
Saudara kontraskan ini dengan bagaimana umat Israel dipanggil untuk menginjili. Mereka dibentuk menjadi kerajaan imam. Mereka hidup diberikan aturan main yang begitu lain, tidak menjadi sama seperti bangsa-bangsa di dunia –itu artinya menjadi bangsa yang kudus. Oleh karena itu ketika bangsa lain melihat Israel, ketika mereka datang ke restoran-nya Israel, mereka terhenyak, mereka kagum, mereka berbondong-bondong datang ke restoran tersebut, ke Yerusalem, untuk menyembah Allah Israel, Allah Yahweh. Mereka bertanya-tanya, “Ada apa di tengah-tengah bangsa ini sehingga mereka bisa hidup begitu lain? Ada apa di tengah-tengah restoran ini sehingga makanannya begitu enak? Saya kepengen kehidupan yang seperti itu.” Atau lebih tepatnya, “Ada Siapadi tengah-tengah mereka?” Nah, itulah penginjilan, Saudara. Itulah penginjilan di Perjanjian Lama dan itu juga actually model penginjilan di Perjanjian Baru: dilakukan oleh Gereja secara keumatan, bukan cuma perorangan. Dalam model seperti ini, Gereja adalah garis depan dari penginjilan, bukan cuma jadi inkubator di belakang.
Hal ini menjelaskan mengapa waktu kita selama ini mendengar khotbah-khotbah yang bernada misi, yang menyuruh kita untuk berani sedikit ngomong ke sopir Grab/petugas pom bensin, berani sedikit bagi traktat di jalan-jalan, berani sedikit jadi misionaris sendirian di tanah asing, setiap kali kita mendengar khotbah-khotbah seperti ini kita gemetaran dan ketakutan. Karena yang sedang kita dengar dan dituntutkan kepada kita, itu sesungguhnya adalah pekerjaan satu umat dan kita pikir kita harus mengerjakannya sendirian. Tidak heran kita merasa tidak sanggup.
Itu seperti kalau Saudara disuruh mengecat tembok kamarmu, satu kamar saja, Saudara akan mengatakan, “Berikan saya kaleng catnya, saya akan lakukan.” Tetapi begitu Saudara disuruh mengecat satu gereja, seluruh tembok gereja luar dan dalam, engkau akan gemetaran ketakutan. Engkau akan mengatakan, “Mana sanggup? Saya butuh orang lain. Kita harus melakukannya bersama-sama, tidak bisa sendirian.” Dan ketika 500 jemaat di tempat ini mengatakan, “Yuk, kita sama-sama kerjakan,” barulah engkau merasa lega, barulah engkau semangat mengambil cat.
Don’t get me wrong, saya bukan mengatakan KKR Regional, bagi-bagi traktat, ajak ngomong sopir Grab, itu bukan penginjilan, melainkan yang saya katakan adalah: actually yang menjadi kegiatan utama penginjilan umat Tuhan tidak terjadi di luar sana, tapi di dalam sini –di dalam Gereja. Di sinilah garis depan penginjilan Kristen, karena di sinilah engkau dibentuk –jati dirimu, cita-citamu– menjadi lebih mirip manifesto Yesus, seperti apa Kerajaan Surga. Dalam kata-kata Petrus: Oleh karena engkau memiliki cara hidup yang baik di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Tuhan, ketika mereka memfitnahmu pun, mereka dapat menyaksikannya dari perbuatan-perbuatanmu yang baik dan memuliakan Tuhan pada hari Ia melawat mereka. Atau dalam kata-kata Paulus: Sehingga ketika orang-orang melihatmu berkumpul, mereka mengatakan, “Sungguh Allah ada di tengah-tengah mereka.” Saudara lihat, gereja itu frontline-nya (garis depan).
Oleh karena itu, kalau Minggu lalu kita mengatakan kita butuh gereja untuk bisa berubah, maka minggu ini kita perlu sadar kita butuh gereja untuk bersaksi, untuk menginjili. Ini seharusnya bukan hanya membuat engkau merasa lega, “Oh, ternyata saya ‘gak single fighter, puji Tuhan,” tetapi menyadari actually ada sisi tuntutannya, yaitu engkau tidak bisa lagi mengatakan, “Oh, PI itu bagiannya orang lain. Itubagian para super hero yang rela menjadi misionaris di tanah asing. Itu bagian orang-orang yang cakap berbicara saja.” Tidak, Saudara. Itu sebabnya kita melihat dalam Khotbah di Bukit ada enam studi kasus. Studi kasus apa? Apakah cara berkhotbah? “Jangan khotbah dengan cara kayak gini, khotbahlah dengan cara kayak gitu.” Tidak bukan. Lalu apa studi kasusnya, Saudara? Studi kasus relasi. Semua orang berelasi, semua orang bisa dan memang berelasi. Lalu bagaimana kita berelasi satu dengan yang lain dalam Kerajaan Surga? Di sinilah kita diperlihatkan standar-standar yang aneh sekali di mata dunia, exactly karena ini didesain untuk menjadi kesaksian bagi mata dunia.
Studi kasus yang pertama, urusan pembunuhan. Dunia puas selama nyawa orang tidak melayang. Namun warga Kerajaan Surga menyelidiki sampai ke akarnya, yaitu bukan hanya urusan nyawa melayang, melainkan kemarahan dan penghinaan terhadap sesama. Karena itu, hal yang paling pertama dikejar dalam Kerajaan Surga adalah rekonsiliasi. Saudara masih ingat khotbah itu? Sudah tulis note rekonsiliasi ke siapa saja selama ini, setelah mendengar khotbah itu? Ingat saudara, minggu depan Perjamuan Kudus. Barang siapa masih ada kemarahan, masih ada konflik dengan sesama, satu minggu inilah momennya untuk mempersiapkan diri. Tulislah note rekonsiliasi itu sebelum minggu depan engkau menerima Perjamuan Kudus.
Kedua, hal perzinahan. Dunia menganggap hasrat seksual sebagai urusan pribadi masing-masing orang, aman selama tidak tumpah menjadi tindakan. Namun Kerajaan surga menuntut apa yang ada di hati.
Ketiga, hal perceraian. Dunia memperlakukan pernikahan sebagai kontrak yang bisa diputus, selama surat cerainya sah. Kerajaan Surga melihat perceraian sebagai amputasi, kadang perlu, tetapi selalu dihindari sebisa mungkin; oleh karena itu, menolak untuk memakai hukum perceraian yang dijadikan topeng, tameng, dan alasan untuk meninggalkan seseorang begitu saja, khususnya para pihak yang lemah.
Keempat, hal sumpah. Dunia membutuhkan sumpah karena mereka tidak sanggup membayar harga bagi kebenaran. Warga Kerajaan Surga adalah mereka yang sudah melihat Kristus membayar harga bagi kepalsuan mereka, membebaskan mereka, dan bahkan mengklaim mereka kembali, merenovasi mereka kembali. Karena itu, warga Kerajaan Surga siap untuk mulai hidup dalam kejujuran, dalam realitas, meskipun harganya mahal.
Inilah relasi-relasi dalam Kerajaan Surga. Tujuannya bukan simply untuk membuat relasimu jadi bagus, atau membuat hidupmu jadi oke, melainkan untuk memperlihatkan, menyatakan Kerajaan Surga dan Raja dari Kerajaan Surga tersebut. Tujuannya penginjilan. Penginjilan yang tidak hanya kita lakukan sebagai orang-orang yang percaya, tetapi sebagai umat yang percaya.
So, intronya sudah kepanjangan, Saudara, tetapi hopefully dengan intro seperti ini Saudara mendapat gambaran besarnya dan menjadi sadar, sebenarnya mengapa kita belajar semua hal ini. Nah, makanya ayo kita ambil catnya sama-sama.
Studi Kasus Kelima:
Pembalasan (Matius 5: 38-42)
Hari ini kita masuk ke dalam studi kasus yang kelima. Kita makin mengarah ke klimaksnya, karena sekarang Saudara menemukan perintah Tuhan yang sangat terkenal mengenai pembalasan (retaliation), perikop yang sangat klasik mengenai tampar pipi kanan, berikan pipi kiri. Lalu minggu depan kita benar-benar sampai kepada puncak dari enam studi kasus ini, dengan kalimat yang lebih terkenal lagi, “Kasihilah musuhmu.”
Outlinenya, pertama kita akan membahas konteks dari perintah yang Yesus kutip, yaitu konteks Perjanjian Lama dari ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’. Kedua, kita akan membahas kasus-kasus yang Yesus bahas bagi kita: perintah-Nya dan apa maksudnya pipi kanan-kiri, baju-jubah, 1 mil-2 mil. Yang terakhir, ketiga, kita akan coba tarik konklusinya. Konteksnya, kasusnya, konklusinya.
Pertama:
Konteks dari Mata Ganti Mata, Gigi Ganti Gigi
Konteks itu penting dalam belajar Alkitab, dan sometimes belajar konteks sebuah perikop akan memperdalam atau memperjelas apa yang kita sudah tahu. “Wow, gua sudah tahu ini selama ini, tetapi sekarang jadi jauh lebih dalam setelah tahu konteksnya.” Hari ini modenya lain. Waktu kita belajar konteks bagian ini, saya rasa ini bukan memperdalam atau memperjelas, tetapi ini akan menjungkirbalikkan apa yang selama ini kita pikir kita sudah tahu. “Hah, ternyata gitu ya?” Totally different. Itulah kira-kira yang akan terjadi hari ini. Saya personally merasa pembahasan hari ini adalah tipe yang kedua, very surprising untuk melihat apa sebenarnya yang Yesus maksudkan dengan kalimat-kalimat ini.
Kita mulai dulu dengan firman yang Yesus kutip, ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’. Kutipan yang Yesus ambil ini, bukan satu ayat saja, melainkan kompilasi dari tiga tempat dalam Perjanjian Lama: Keluaran 21, Imamat 24, dan Ulangan 19. Inilah bagian-bagian hukum Israel yang mengatur apa yang terjadi ketika seseorang menyakiti orang lain. Jadi ini adalah hukum yang mengatur pembalasan, retaliation, istilah latinnya lex talionis. Mungkin jangan memberi nama anakmu Talia, Saudara, tetapi ini ‘ga ada hubungannya ya, karena nama Thalia yang ada H-nya itu artinya bunga yang mekar (ini jadi tahu waktu persiapan khotbah).
Keluaran 21: 23-25 mengatakan seperti ini: Engkau harus memberikan nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki, lepuh ganti lepuh (luka bakar), luka ganti luka, bengkak ganti bengkak. Imamat 24 menambahkan patah ganti patah (fracture): seperti dibuatnya orang lain bercacat begitulah harus dibuat kepadanya.
Kita bereskan dulu hal pertama dari konteks Perjanjian Lama ini. Ini perintah-perintah yang terdengar brutal di telinga modern kita hari ini: mata ganti mata, gigi ganti gigi –“ngeri banget ya.” Namun tidak, Saudara. Ini bukan hukum yang meng-encourage (menganjurkan) brutalitas, melainkan hukum yang mencegah brutalitas. Kita perlu mengakui sesuatu di sini, yaitu bayangkan engkau benar-benar disakiti orang. Apa yang muncul di hatimu? Apa reaksimu? Engkau ingin balas menyakiti mereka, bukan? Sekarang coba kita jujur sedikit dan melihat ke dalam hati kita. Apakah benar kita ingin balas mereka hanya setimpal satu banding satu, sebesar yang mereka lakukan? Atau sebenarnya kita ingin melakukan lebih? Kalau engkau dijahati, engkau tidak merasa cukup dengan mendapat ganti rugi saja, bukan? Engkau harus teach them a lesson (memberi mereka pelajaran). Engkau harus bikin mereka jera, biar tahu rasa. Bukankah begitu? Ternyata itulah kita, Saudara. Film John Wick laku karena dalam setiap hati kita ada John Wick (’ga ada yang nonton John Wick di sini ya?). Saudara harus melihat bahwa bengkoknya hati manusia tidak pernah mengarah kepada keadilan, tetapi selalu kepada pembalasan dendam, kepada violence (kekerasan). “Lu bikin mata gua buta sebelah, gua balas lu dua-duanya buta. Lu rampok toko gua, gua bakar rumah lu. Lu tabrakin pesawat ke gedung-gedung gua, gua serbu negara lu.” Begitu, bukan? Jadi hukum lex talionis ini bukanlah hukum yang brutal. Ini sebenarnya hukum yang didesain untuk mencegah brutalitas manusia yang selalu menuntut lebih. Hukum ini menetapkan batas dari pembalasan, sehingga pembalasan tidak kebablasan. Misalnya kalau engkau dibikin buta sebelah mata, engkau tidak bisa ngamuk sampai orang itu mati. Ini skenario yang sangat mungkin terjadi. Kalau engkau sedang berantem, tiba-tiba matamu dicolok dan buta sebelah, engkau bisa ngamuk ‘kan? Engkau bisa membunuh orang itu tiba-tiba. Iya toh?
Sedikit background info, actually prinsip lex talionis ini hampir pasti hanya prinsipnya bukan praktikanya. Jadi praktika yang berjalan di antara orang Israel pada waktu itu, bukan benar-benar orang yang matanya dicolok jadi buta lalu balas mencolok mata orang lain, melainkan ini hampir pasti berupa denda finansial. Bukan benar-benar orang yang patahin kaki orang, lalu dia dibalas, kakinya juga dipatahin. Karena katakanlah engkau kakinya patah, dipatahkan orang, lalu apa gunanya engkau mematahkan kaki orang lain? Engkau tidak dapat apa-apa juga, bukan? Jadi biasanya yang dilakukan adalah engkau mendapat ganti rugi dalam bentuk misalnya denda finansial. Prinsip dasar atau acuan untuk menentukan berapa jumlah denda finansialnya adalah dicari jumlah yang setara dengan kejahatannya.
Praktika dari prinsip dasar ini ada di Keluaran 21 yang tadi saya kutip. Persis setelah ayat ‘mata ganti mata, gigi ganti gigi’, ada kasus berikutnya yaitu dikatakan: Seorang pemilik budak memukul budaknya sehingga mata budaknya menjadi buta, gara-gara itu si pemilik budak harus membebaskan budak tersebut … ‘oleh karena matanya itu’, ini kalimat yang menarik, jadi membebaskan budak ini sebagai ganti rugi atas matanya yang buta. Ini menarik, karena yang namanya budak pada waktu itu bukan seperti budak pada zaman sekarang, misalnya budak Afrika, dll, yang tidak ada dasar legalnya sama sekali karena asal diambil atau diculik dijadikan budak. Budak pada zaman Israel hampir pasti adalah orang-orang yang berutang uang besar sekali sehingga tidak bisa membayarnya dalam masa hidupnya, dalam generasi yang berikutnya, bahkan mungkin sampai 12 generasi pun tidak bisa membayar. Oleh karena itu dia menjual dirinya sebagai budak. Itu realita budak pada zaman Israel. Karena itu, kalau seseorang sampai harus membebaskan seorang budak gara-gara dia memukul matanya, berarti orang ini membayar dengan harga yang sangat mahal untuk mata tersebut. Jadi Saudara melihat prinsip ini langsung dari Alkitab.
Jadi, ini jelas ya. Sepertinya dalam praktikanya itu bukan brutalitas. Ini hukum yang bukan melegalkan brutalitas. Ini hukum yang mencegah brutalitas. Pembalasannya harus setimpal, tidak boleh lebih. Praktikanya bukan dilakukan dengan membikin orang lain jadi buta, membikin orang lain kakinya patah, melainkan dengan mencari jumlah denda yang sesuai.
Satu background lagi , perintah ini bukan diberikan kepada pihak korban, tetapi kepada pihak hakim. Ini diberikan sebagai kitab hukum, bukan? Siapa yang membacanya dan yang terutama menggunakan kitab ini? Para hakim-hakim Israel. Jadi ini bukan ditujukan kepada para korban: ‘Hei, kamu harus balas dendam, colok mata orang itu’. Tidak, Saudara. Justru ini diberikan kepada para hakim. Dengan demikian ini mencabut hak dari masing-masing korban untuk main hakim sendiri. Ini justru melarang pembalasan pribadi perorangan. Harus melalui pihak ketiga, para hakim, dan harus setimpal, tidak boleh lebih. Ini adalah hukum yang mencegah eskalasi. Ini adalah hukum yang justru menyadari betapa manusia itu sangat unreliable, sangat bias menilai apa balasan yang tepat. Jadi itu perintah kepada para hakim.
Yang menarik berikutnya, tahukah Saudara apa perintah kepada para korbannya? Di sepanjang Perjanjian Lama, Saudara menemukan perintah kepada para korban kejahatan justru adalah supaya mereka tidak menuntut pembalasan dendam, apalagi membalas sendiri, tetapi untuk menyerahkan pembalasan itu kepada Tuhan. Ayatnya ada di Ulangan 32: 35, “Hak-Kulah dendam dan pembalasan.” ‘Hak-Ku’ maksudnya Tuhan yang berkata di situ. Jadi Tuhan itu The Original Avenger (Avenger Marvel itu baru belakangan jauh sekali).
Saudara juga bisa melihat dari narasi-narasinya. Narasi Daud menolak membunuh Saul meskipun dia punya kesempatan; Daud mengatakan, “Biarlah Tuhan yang membalas engkau.” Menariknya, narasi berikutnya adalah justru Daud ingin membalas dendam kepada Nabal, tetapi dihentikan oleh Abigail. Lalu terakhir, narasi ditutup dengan Daud memuji Allah yang telah membalaskan penghinaan yang dia terima. Menarik bukan? Jadi dalam cerita-cerita kita melihat seperti itu.
Dalam Kitab Mazmur, ada Mazmur 94 yaitu doa kepada Tuhan seperti ini: “Ya Allah pembalas, ya Tuhan, ya Allah pembalas, tampillah… .” Karena Saudara tahu konteksnya, Saudara tahu ini bukan doa haus darah, ini justru doa dariumat yang mengerti fakta mengenai diri mereka, bahwa mereka tidak bisa diandalkan untuk membalas secara tepat, maka mereka menyerahkan itu kepada Tuhan dan memanggil Allah mereka sebagai The Avenger. Kita perlu, Saudara, dalam doa-doa kita mulai memakai nama Tuhan yang seperti ini, jangan hanya Tuhan gembala saja.
Ini konteks Perjanjian Lamanya. Hukum-hukum Perjanjian Lama ini oke. Itu bukan hukum yang melegalkan brutalitas pada zamannya. Itu hukum yang justru mencegah brutalitas, mencegah pembalasan dendam yang tidak setimpal dan main hakim sendiri, dst.
Kedua: Kasus-Kasus pada Zaman Yesus
Kalau hukum Perjanjian Lama ini oke, lantas apa maksudnya Yesus sekarang? Dalam bagian ini Yesus mengatakan berkali-kali “kamu telah mendengar,” bukan “ada tertulis.” Jadi Yesus bukan sedang mengutip Perjanjian Lamanya begitu saja. Yang Yesus sedang serang di sini adalah apa yang orang dengar mengenai hukum-hukum ini, –pengajaran pada zaman tersebut. Apa yang orang anggap benar mengenai hukum-hukum ini, dan bukan hukumnya sendiri. Sehingga pada zaman Yesus ada paling sedikit dua kemungkinan hukum ini diselewengkan.
Penyelewengan yang pertama, hukum ini dipakai bukan untuk mencegah brutalitas, melainkan malah melegalkan brutalitas. “Lu tusuk mata gua, sekarang gua tusuk mata lu. Karena lihat di Alkitab ada ngomong kayak begitu.” Padahal ternyata sama sekali bukan itu yang dimaksud.
Penyelewengan yang kedua, kalau memang pembalasan adalah hak Tuhan, ya sudah saya percaya saja kepada Tuhan, biarkan saja kejahatan merajalela sampai Tuhan bertindak. Saya merasa yang kedua ini lebih menarik untuk kita bahas, karena banyak orang Kristen membaca kalimat Tuhan Yesus “Janganlah melawan orang yang berbuat jahat kepadamu,” lalu mengartikannya: “Oh jadi itu maksudnya kita jangan melawan, kita jadi keset saja.” Bagian ini memang terjemahan klasik, karena semua terjemahan Inggris menerjemahkan seperti itu, tetapi ini terjemahan yang sangat ngawur. Dalam Alkitab King James Version yang sangat terkenal ditulis, “Do not resist an evil doer.” Beberapa orang yang lumayan sinis mengatakan: Alkitab King James menerjemahkan seperti itu karena dipakai oleh bangsa Inggris untuk menindas penduduk-penduduk koloni mereka. “Jangan melawan kami, karena lihat di Alkitab ada berbicara begitu. Pasif saja, jadi keset, biarkan dirimu diinjak-injak karena itu perintah Yesus bagimu.” Ini yang seringkali jadi penyelewengannya.
Ekuivalen modernnya, terjadi dalam banyak gereja-gereja tradisional, misalnya satu contoh kasus saja, para istri yang ditindas suaminya melapor ke gereja, dan gereja menyuruh mereka masuk kembali ke dalam situasi yang abusif tadi dengan alasan ada ayatnya di Alkitab. “Hei para istri, kamu tidak boleh melawan suamimu. Mengapa? Lihat Tuhan Yesus mengajarkan apa? Jangan melawan orang yang berbuat jahat kepadamu.” Jadi ini terjemahan yang sangat ngawur dan misleading (menyesatkan).
Saya tidak bisa masuk dalam pembahasan bahasa Yunaninya karena Saudara akan tidur dan tidak ada waktu juga. Namun Saudara bisa simply consider hal ini. Pertama, Yesus sendiri semasa hidup-Nya actually berkali-kali melawan tindakan-tindakan kejahatan yang Dia temui. Kedua, dalam Yakobus 4: 7, “Tunduklah kepada Allah, lawanlah iblis,” kata melawan yang tadi persis sama dengan kata di sini ‘lawan’. Jadi kok bisa, di satu sisi jangan melawan orang yang berbuat jahat, tetapi lawanlah si jahat? Istilah Yunaninya, anthistemi, juga sama persis. Jadi ini bukan soal tidak boleh melawan si jahat. Actually yang pasti adalah dalam kasus-kasus yang Yesus bahas berikutnya, Yesus tidak pernah menyuruh kita pasif. Yesus menyuruh kita sangat-sangat aktif. Disuruh jalan 1 mil menjadi 2 mil itu sangat aktif, Saudara. Jadi, kalimat yang menerjemahkan kalimat ini sebagai do not resist, itu terjemahan yang salah. Terjemahan yang lebih akurat ternyata adalah do not resist in kind, jangan membalas kejahatan dengan cara yang sama jahatnya. Ini pengertian yang tepat, karena dalam linguistiknya sendiri ada seperti itu, tetapi saya tidak bisa bahas, dan karena bukti yang jelas dari bagaimana para rasul kemudian mengulangi ajaran Yesus ini.
Kita bisa lihat di dua tempat. Paulus mengatakan di 1 Tesalonika 5: 15, ‘Perhatikanlah supaya jangan ada orang yang membalas jahat’. Titik. ‘Gak kan? … ‘Supaya jangan ada orang yang membalas jahat dengan jahat. Tapi usahakanlah senantiasa yang baik terhadap kamu masing-masing dan terhadap semua orang’. Lalu diulangi lagi dalam Roma 12: 17, “Janganlah membalas kejahatan’. Titik. ‘Gak kan? ‘Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan. Lakukanlah apa yang baik bagi semua orang’. Paulus mengubah sedikit kata-kata Yesus karena dia sedang menerjemahkan ajaran Yesus. Dia merasa ini perlu dibuat lebih jelas bagi orang-orang lain. Dan sekarang Saudara jadi lebih mengerti maksudnya, bukan? Jadi yang diperhatikan di sini, Saudara, Yesus sedang mengurusi apa? Urusan caranya. Caranya ini penting saudara. Bukan soal jangan melawan. Tapi melawannya itu bagaimana? Jangan melawan dengan cara yang seperti itu, lawanlah dengan cara yang seperti ini.
Kita seringkali hanya terpikir dua cara untuk meresponi kejahatan. Yang pertama, ketika kita dijahati kita balas menjahati; dibrutalin kita balas dengan brutalitas. Yang kedua adalah dengan jadi keset. Dua cara ini kadang juga bisa jadi satu, yaitu Saudara diam-diam jadi keset selagi Saudara merencanakan balas dendam yang brutal. Maka Yesus di sini basically sedang memerintahkan kita untuk mulai memikirkan jalan alternatifnya. Ada cara yang ketiga. Kalau dalam perintah Perjanjian Lama fokusnya adalah kepada kerugiannya, maka dalam Perjanjian Baru Yesus menarik ini ke dalam penggenapannya. Yesus mengarahkan kita bukan cuma urusan kerugiannya, tetapi kepada relasi di belakang itu. Seperti apa relasimu sekarang dengan orang yang menyakitimu? Bukan tidak melawan, tapi bagaimana melawannya –ini yang penting. Ini akan lebih jelas lagi ketika kita masuk ke dalam kasus-kasus yang Tuhan Yesus berikan.
Kasus pertama. Cipika cipiki, bukan ya, tampika tampiki. Matius 5: 39 “siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.” Bagian pertama ini, Saudara tentunya sudah tahu dan sering dengar. Dalam budaya Yahudi, bisa kita asumsikan semua orang itu dominannya tangan kanan. Jadi kalau orang menamparmu kena ke pipi kananmu, itu berarti mereka menamparmu dengan punggung tangan kanan mereka. Ini adalah tamparan yang pada zaman tersebut tujuannya bukan terutama untuk membuat sakit pipi, melainkan untuk membuat sakit hati. Ini adalah cara untuk menghina orang pada zaman tersebut, karena ini adalah tamparan dari seseorang yang superior kepada pihak yang inferior. Ini adalah tamparan yang misalnya orang tua akan lakukan kepada anaknya, atau tamparan seorang majikan kepada budaknya. Jadi kalau sampai engkau ditampar seperti ini, engkau bukan cuma sedang disakiti, engkau sedang mau dipermalukan, engkau sedang mau diturunkan derajatnya.
Saya tidak terpikir paralelnya yang bagus, Saudara. Mungkin salah satu paralelnya misalnya, hari ini Saudara di kantor dimarahi bosmu, engkau disuruh buka celana lalu dia pukul pantatmu dengan koran atau rotan, seperti memukul anak kecil, seperti menghukum anak kecil di depan semua orang. Kalau Saudara diperlakukan seperti itu, berarti Saudara bukan cuma sedang dipukul, Saudara sedang direndahkan. Martabatmu yang menjadi target utamanya. Di dalam budaya malu Timur Tengah (honor shame culture) ini serius sekali, sampai-sampai ada hukum yang mengatur dan melarang hal seperti ini dilakukan di Palestina kuno.
Saudara, ketika mengalami hal ini, yaitu bukan cuma dipukul tetapi juga dipermalukan, maka Saudara akan meresponsnya dengan beberapa cara:
- Engkau bisa membalas kejahatan dengan kejahatan, dengan cara yang sama –resist in kind. Engkau bisa menampar balik dengan punggung tanganmu. Dalam situasi realistisnya, kalau ini memang dilakukan oleh orang yang lebih senior kepadamu, misal bosmu, memang tidak realistis menyuruh dia buka celana dan engkau pukul pantatnya. Tidak mungkin bukan. Jadi ini kurang masuk akal.
- Cara yang kedua adalah engkau bisa jadi keset. Engkau menerima saja dan engkau mulai merencanakan balas dendam. Suatu hari engkau taruh duren di kursi si bos.
- Yesus mengusulkan cara yang ketiga. Bukan melawan kejahatan dengan kejahatan, tapi juga bukan tidak melawan, —resisting but not in kind. Saudara menawarkan pipi kirimu sekarang. Karena sekarang engkau menawarkan pipi kirimu, kalau dia mau tampar kamu lagi dengan tangan kanannya, maka dia harus menampar dengan telapak tangan, dengan tapak sakti. Dan katanya ini adalah tamparan yang sekarang lain. Ini tamparan kepada orang yang status sosialnya sama. Atau dia mungkin harus menonjokmu. Dan tonjokan juga sama, bukan? Tonjokan itu kepada orang yang status sosialnya sama.
Yesus sebenarnya sedang mengajar kita untuk melakukan apa? Untuk menantang, Saudara. Kita diperintahkan untuk aktif melawan, tetapi bukan dengan cara yang sama. Dengan melakukan ini, kita basically bukan hanya menantang pukulan orang ini, tetapi kita sedang menantang pandangannya terhadap diri kita. Ini yang core (inti). Sekali lagi, Yesus tidak pernah puas di permukaan, Dia mau sampai ke akarnya. Ini akarnya, Saudara. Problemnya bukan pukulannya. Problemnya adalah apa yang di balik pukulan tersebut: “Mengapa kamu menganggap aku lebih rendah dari kamu? Kalau kamu mau pukul aku, silakan pukul. Tetapi sekarang perlakukan aku sebagai orang yang setara.” Jadi ini bukan tindakan pasif. Ini bukan tindakan ketika seseorang sedang menundukkan dirinya untuk diperlakukan semena-mena. Justru ini tindakan seseorang yang sedang menantang, dan dia menantang akar dari perlakuan orang tersebut yaitu pandangan orang itu terhadap siapa dirinya. Dan bahkan lebih dalam daripada itu, Saudara, ini sedang menantang bagaimana orang itu bahkan sedang memandang dirinya sendiri.
Quote (kutipan) yang bagus dari James Baldwin, seorang penulis Afrika Amerika, dan dia menulisnya dalam konteks rasisme orang kulit putih terhadap orang kulit hitam: “If I am not who you think I am, then you are not who you think you are.” Kamu pikir saya seperti ini, dan kamu tahu tidak mengapa kamu pikir saya seperti ini? Karena kamu juga pikir dirimu seperti itu. Maka kalau aku ternyata bukan seperti yang kamu pikir, jangan-jangan kamu juga bukan seperti apa yang kamu pikir. Ini menarik, Saudara. Apa yang sedang terjadi di sini bukan cuma urusan pukulan. Lihat ini akarnya. Ini momen ketika misalnya orang sedang melabel kita sesuatu. Waktu kita dilabel, kita sering marah ‘kan? Kita ingin membalas dan melabelkan dia juga. Karena label itu kena ke kita, menyakiti kita. Orang menggunakan label karena dia pikir label itu akan mengungkap siapa diri kita. Apa yang Yesus sedang perintahkan di sini adalah membalik habis-habisan, Saudara. Yaitu, “Gak, aku ‘gak kena label seperti itu. Label-labelmu ini bukan sedang mengungkap sesuatu mengenai diriku, label-labelmu ini mengungkap sesuatu mengenai dirimu. Mengapa engkau harus pakai label-label? Orang macam apa engkau, yang hidup harus memandang rendah orang lain, dengan melabel-label mereka? Mengapa engkau perlu sekali melabel-label seperti ini? Siapa sesungguhnya orang yang seperti ini? Siapa dirimu? Engkau tahu tidak?”
Saudara lihat, jadi tindakan balasan ini tindakan yang relasional sekali ‘kan? Ini tindakan balasan yang righteous (relasional). Karena ini tindakan yang tidak cuma berhenti dalam urusan memperhitungkan kerugiannya apa, yang setimpal apa. Yesus mengatakan bagaimana dengan orangnya sendiri? Jangan cuma memikirkan kerugiannya, tetapi bagaimana si pembuat kejahatan itu, pikirkan dia, lawan dia, lakukan sesuatu kepadanya, tapi lakukan sesuatu kepadanya bagi dia. Sehingga dia mulai terhenyak dan berpikir, “Ternyata kamu tidak serendah yang aku pikir. Jadi jangan-jangan aku tidak setinggi yang aku sangka.” Momen seperti ini tidak bisa hadir jika engkau membalas kekerasan dengan kekerasan. Lihat, ini bukan passivism. Ini pacifism, yang ejaannya P-A-C-I-F. Pacifism ini kata yang bagus, artinya tindakan untuk membawa damai. Dan membawa damai itu tidak pasif, engkau harus aktif. Kalau engkau melihat dua orang berantem, bagaimana caranya membawa damai? Engkau harus nyemplung ke dalamnya, ini sudah lho. Aktif bukan? Jadi ini bukan passivism, ini bukan tidak melawan. Ini aktif melawan tapi tidak melawan dengan cara yang sama, tidak membalas kejahatan dengan kejahatan. Omong-omong, ini resikonya tinggi lho, Saudara. Karena waktu engkau menawarkan pipi kirimu, dia bisa beneran menonjokmu, bukan? Namun ada kemungkinan tidak. Ada kemungkinan lain ketika dia malah bisa menarik tangannya dan menyadari kesalahannya. Ini lebih baik dibandingkan kalau engkau balas menonjok dia. Kalau engkau balas menonjok dia atau engkau balas dendam pelan-pelan di suatu hari, sudah pasti siklus kekerasannya akan terus berlanjut. Tetapi kalau sekarang dengan cara yang ketiga ini, ada kemungkinan siklus kekerasannya akan berhenti di sini dan bahkan orang ini bisa dimenangkan. Itulah kasus yang pertama.
Kasus kedua. Matius 5: 40 Kepada orang yang hendak mengadukan engkau karena mengingini bajumu, serahkanlah juga jubahmu. Jadi ini settingnya tuntutan di pengadilan (menuntut engkau —suing). Maksudnya apa? Ini juga perlu dijelaskan lewat konteks. Pada zaman itu, orang Ibrani dress code standarnya dua lapis baju. Ada baju tipis di dalam dan jubah yang lebih tebal di luar. Saudara pasti sudah sering lihat di ilustrasi atau gambar-gambar di sekolah minggu. Baju yang tipis dipakai menempel ke kulit, lebih murah, dan lebih sering diganti karena lebih cepat rusak. Jubah yang di luar lebih mahal, lebih tebal dan tahan lama, kemungkinan bisa dipakai seumur hidup. Jubah ini barang yang sangat penting, dipakai untuk menahan dingin. Di daerah Palestina, Saudara jangan pikir cuma panas, kalau malam hari daerah padang gurun ini akan dingin sekali. Jadi jubah ini berfungsi ganda sebagai selimut pada waktu malam. Nah, ini menarik. Itu sebabnya, di dalam Keluaran pasal 22 ada hukum yang sampai mengaturnya seperti ini: Jika engkau sampai mengambil jubah temanmu sebagai gadai (kolateral) karena dia berhutang padamu, maka haruslah engkau mengembalikannya kepadanya sebelum matahari terbenam. Jadi kalau Saudara menuntut orang untuk membayar utangnya, tetapi dia tidak bisa bayar, maka engkau mengambil tanda jaminan. Kalau engkau mengambil jubahnya, maka jubah itu harus dikembalikan setiap malam, besok pagi silakan ambil lagi. Mengapa demikian? Karena jubah itu penyambung hidup. Tentunya ini bahasa hiperbola, Saudara, yang harusnya kita mengerti maksudnya yaitu: kalau engkau menuntut orang membayar utang meskipun dia tidak sanggup membayar, maka ada batas yang engkau tidak boleh lewati, engkau tidak boleh sampai mengancam survival orang itu. Engkau tidak boleh merampok semua hal yang dia butuhkan untuk hidup. Itu hukumnya dan ini penting, karena orang yang dikategorikan kaya bisa mempunyai tiga atau empat set jubah, sedangkan orang ‘normal’ hanya punya satu set jubah, yang kalau ini diambil, malam itu matilah dia kedinginan. Jadi kita lihat disini, tidak boleh ambil jubah.
Sekarang kita lihat apa yang terjadi dalam kasus Yesus. Jika ada seseorang yang mengadukan engkau (menuntut/suing), Yesus bilang kalau dia ingin ambil bajumu, berikan juga jubahmu. Mengapa begini, Saudara? Siapa yang akan meminta baju? Baju itu tipis tidak ada harganya, yang mahal itu jubahnya. Mengapa dia mintanya baju? Maksudnya apa di sini? Berarti orang ini, saking serakahnya, dia menuntutmu bayar hutang habis-habisan. “Alkitab bilang tidak boleh ambil jubah. Oke, saya tidak ambil jubah, karena saya orang yang taat Hukum Taurat, tetapi saya akan tuntut kamu sampai titik darah penghabisanmu yang terakhir, yaitu bajumu. Sini berikan bajumu yang harganya cuma dua sen itu, aku tidak peduli, berikan padaku.” Saudara mendapat gambaran Paman Gober di sini. Orang yang sebegitunya, mau menuntut habis, menghabisi, menelanjangi orang, tetapi mau taat Hukum Taurat juga.
Bagaimana meresponi orang seperti? Apakah Saudara mau menuntut dia balik? “Aku tuntut kamu balik, sebatas yang bisa dituntut dengan Hukum Taurat.” Tidak bisa, Saudara. Maka di sini, Saudara disuruh Tuhan Yesus untuk mengatakan, “Oke, kamu sepertinya butuh baju ya, sampai bajuku ini yang sudah kena keringat bertahun-tahun kamu ingini. Ya sudah, kalau kamu benar-benar butuh baju, jangan cuma ambil bajuku, ini jubahku ambillah sekalian. Kamu sepertinya lebih butuh itu dibandingkan aku.” Saudara notice, ini tindakan melawan yang sangat aktif. Karena ini settingnya pengadilan publik, pada dasarnya engkau akan membuat semacam demonstrasi publik. Pada zaman itu belum ada Calvin Klein (pakaian dalam), jadi kalau engkau memberikan baju dan jubahmu, berarti engkau akan telanjang bulat di depan semua orang, di depan semua hakim dan jaksa, –orang-orang Yahudi yang sangat konservatif itu. Engkau menelanjangi dirimu. Mengapa, Saudara? Karena tujuan lawanmu memang untuk mempermalukanmu dengan menelanjangimu, bukan? Jadi sekalian saja engkau lakukan. Sekarang engkau telanjang bulat di depan semua hakim dan jaksa, sementara lawanmu memegangi semua bajumu. Kelihatannya akan seperti apa, Saudara? Mengerti maksudnya? Sekali lagi, ini culture honor shame (budaya kehormatan-rasa malu), orang ada tahu malu di dalam zaman seperti itu.
Maka dalam kasus kedua ini, Saudara lihat, sama seperti kasus yang pertama tadi. Orang di kasus yang pertama, sedang melabelmu sesuatu, memandangmu dengan cara tertentu, menentukan siapa dirimu; engkau memakai kesempatan ini untuk mengungkap siapa diri mereka. Sama juga dalam kasus yang kedua ini. Orang ini ingin menelanjangimu literally dengan menghabisimu sampai ke baju-bajumu, dan lewat cara ini engkau sedang menelanjangi mereka. Engkau mengekspos sesuatu mengenai mereka yang tidak mereka sadari. Tanpa kekerasan, tanpa melukai, malah sebaliknya, dengan cara menanggung kekerasan, menanggung malu. Namun ini dilakukan bukan demi balas dendam. Ini bukan hanya dilakukan terhadap orangnya, melainkan ini dilakukan bagi orangnya, –relasional. Oleh sebab itu, bukan kebetulan, studi kasus kelima ini disandingkan dengan studi kasus berikutnya yang keenam, yaitu ‘kasihilah musuhmu’, karena basically hanya ini satu-satunya dasar untuk membuat kita bisa melakukan semua hal ini: kasih.
Banyak komentator yang membahas bagian ini. Mereka selalu menarik paralel antara apa yang Yesus ajarkan di sini dengan Civil Rights Movement dari Dr. Martin Luther King Jr. di Amerika, dan Dr. King sendiri memang mendasarkan gerakannya atas dasar Khotbah di Bukit. Saya tidak akan bahas banyak, Saudara kira-kira tahu, ini orang-orang kulit hitam yang ditindas, yang suatu hari menuntut hak-hak mereka. Mereka long march, dan melakukan berbagai tindakan yang nonviolent (mereka menamakan diri mereka nonviolent movement). Kalau Saudara melihat video-videonya, waktu mereka long march dari satu kota ke kota yang lain, mereka disemprot habis-habisan oleh air dari blangwir, anjing-anjing herder polisi menggigit mereka, tetapi mereka tidak membalas. Mereka jatuh bangun, dsb, tetapi mereka tetap meneruskan barisan mereka, pelan-pelan berjalan. Yang menarik adalah, sebelum mengalami acara itu mereka dipersiapkan dan dilatih dahulu. Jadi di komunitas mereka sendiri, di antara orang kulit hitam, mereka mencoba latihan diteraki, dihina harkat martabatnya, sebelum mereka benar-benar mengalaminya di lapangan. Mereka tidak cuma dikasih Alkitab dan bunga-bunga, Saudara. Yang paling menariknya adalah, sebelum mereka pergi demonstrasi, mereka disuruh menandatangani dokumen janji, salah satu poin yang mereka tanda tangani: bahwa nonviolent movement ini bertujuan untuk membawa keadilan bukan kemenangan. Mereka berjanji akan menyerahkan keinginan-keinginan pribadi demi kebebasan (freedom) dari semua manusia. Semua manusia.
Saudara ingat gerakan Black Lives Matter beberapa tahun lalu di Amerika? Saya tidak tertarik menilai itu positif atau negatif, Saudara. Namun satu perbedaan yang jelas sekali antara Black Lives Matter dengan Civil Rights Movement-nya Dr. Martin Luther King Jr. adalah Black Lives Matter dari awal hanya memperjuangkan Black lives. Saudara mengerti maksudnya? Martin Luther King Jr. dari awal memperjuangkan kebebasan bagi semua. Karena mereka tahu satu hal, mereka sebagai orang kulit hitam memang tertindas, tetapi sesungguhnya yang paling tertindas adalah para bully-nya. Mereka yang paling terperangkap, paling tidak bebas. Itu sebabnya dari awal mereka memperjuangkan ini, mereka mau membuang rasisme. Karena yang terpenjara oleh rasisme bukan cuma
korbannya, tetapi para pelakunya. Saudara lihat, fokusnya sekali lagi bukan para korbannya, bukan kerugiannya, fokusnya adalah actually bagi penjahat-penjahatnya. Tidak heran ditarik paralel ini, dan ini memang benar hasil dari Khotbah di Bukit.
Kasus ketiga. Matius 5: 41 Siapa pun yang memaksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil. Ini sekali lagi konteks dari abad pertama Palestina, yaitu pada waktu itu serdadu-serdadu Romawi memang punya hak yang legal untuk memaksa orang Yahudi mana pun membawakan peralatan apa pun. Saudara bisa melihat demonstrasi ini ketika Simon orang Kirene dipaksa serdadu Romawi mengangkat salib Yesus. Menariknya, petinggi-petinggi Romawi tahu hak ini berbahaya. Ini bisa dieksploitasi oleh para serdadunya. Jadi mereka memberikan batas maksimum 1 mil mereka boleh menyuruh orang menjadi keledai beban.
Nah, Saudara bayangkan skenario real life-nya. Saudara seorang ayah. Saudara sedang piknik bersama anak istrimu di pinggir Danau Galilea. Ketika sedang enak-enak piknik, terdengar suara serdadu-serdadu Romawi datang, tiga atau empat orang. Ini seperti Saudara di tempat wisata melihat preman. Bad news. Mungkin mereka berisik-berisik, mabuk-mabukan. “Waduh, kita pindah saja sebelum ada apa-apa.” Namun waktu mulai packing, gara-gara mulai packing, serdadu-serdadu itu malah melihatmu dan memperhatikanmu. Kemudian mereka mulai berjalan ke arahmu. Mereka berteriak, “Hei, kamu orang Yahudi!” Lalu mereka melemparkan segala macam peralatan-peralatan yang berat, “Bawa semua pedang, bekal, dan semuanya ini! Sekarang jalan!” Saudara di depan anak istrimu engkau dipermalukan, engkau dijadikan keledai beban. Dalam skenario seperti ini, Saudara benar-benar tidak bisa melawan, ‘kan? Yang engkau bisa lakukan cuma jadi keset, terima saja. Lalu engkau pulang pundakmu bengkak-bengkak, hatimu panas. Besoknya engkau mulai mencari kelompok orang Yahudi yang namanya para Sicarii. Sicarii dari kata latin sica, artinya belati kecil melengkung. Mereka adalah orang-orang Yahudi yang membawa belati kecil di balik jubah mereka, lalu mereka mencari orang-orang serdadu Romawi di daerah kerumunan yang ramai, mereka tusuk dari belakang atau mereka potong lehernya, kemudian mereka langsung kabur, membaur di antara warga. Jadi ini yang terjadi pada waktu itu, Saudara. Ini skenario yang sangat real pada zaman tersebut. Namun sekarang apa respon dari seorang warga Kerajaan Surga?
Saudara lihat, satu mil yang pertama engkau menjalani ini memang adalah momen mereka sedang menamparmu dengan punggung tangan mereka. Mereka sedang menuntut bajumu. Mereka sedang melabelmu. Mereka sedang mendefinisi dirimu, meredefinisi dirimu sebagai keledai beban. Itulah dirimu dimata mereka ‘kan.
Namun setelah 1 mil ini selesai, Saudara, dalam mil yang kedua, momen di mana engkau menawarkan pipi yang satu lagi, momen di mana engkau menawarkan jubahmu, momen engkau sekarang menawarkan kemurahan hati kepada mereka, ini semua jadi jungkir balik. Engkau mengatakan, “Pak serdadu, saya tahu engkau pasti capek bawa barang seberat ini. Bolehkah saya membawakan barang-barangmu ini satu mil lagi? Bolehkah saya membawakan ini sampai ke rumahmu?” Lalu dalam perjalanan mil yang kedua ini, Saudara, engkau bisa memulai percakapan dengan dia, “Bapak pasti kangen anak istri ya, jauh ya dari Roma. Engkau bertahun-tahun harus di tempat ini, tidak ketemu mereka. Rasanya seperti apa itu saya ‘gak kebayang. Kalau engkau di daerah seperti ini, semua penduduk benci denganmu. Kalau engkau di daerah ramai engkau cemas karena bisa ada para Sicarii dengan belati-belati mereka.” Saudara ngobrol seperti ini dengan dia di mil yang kedua. Jadi engkau memanusiakan mereka.
Mereka memanggilmu keledai beban, engkau bisa memanggil mereka segala macam kebun binatang yang lain, bukan? Engkau didehumanisasi, engkau balas dehumanisasi. Tetapi tidak, Saudara. Engkau didehumanisasi, engkau dianggap keledai beban, tetapi engkau sekarang secara aktif melihat dan menganggap mereka sebagai manusia. Engkau memanusiakan mereka, dan dengan engkau memanusiakan mereka, engkau juga dimanusiakan. Karena apa yang terjadi dalam mil yang kedua adalah si tentara-tentara ini mulai berpikir, “Apa yang kukira cuma keledai beban, kok ternyata seorang manusia.”
Sekali lagi ini beresiko tinggi, Saudara, karena bisa saja mereka memukulmu, berkata, “Diam, berisik!” dan tetap memperlakukanmu sebagai keledai beban. Bisa saja, tetapi mungkin juga tidak. Seorang komentator bahkan mengusulkan, dalam mil yang kedua ini mereka bisa merasa cemas sendiri, “Jangan sampai letnan tahu kalau ini sudah lebih dari 1 mil.” Jadi mereka menyadari bahwa engkau tidak seperti yang mereka pikir. Karena siapa itu orang yang menawarkan secara sukarela untuk membawakan beban yang berat? Siapa dalam hidup kita orang-orang seperti ini? Seorang sahabat, a true friend. Ingatkah Saudara, apa kriteria seorang sahabat yang sejati? Seorang sahabat yang sejati adalah mereka yang rela membantu engkau pindah rumah, membawakan barang. Itu tiga kasus, di mana kita melihat betapa amazing-nya Yesus dengan ajaran-Nya.
Ketiga: Konklusi
Saudara perhatikan, semua skenario ini adalah skenario-skenario yang hopeless, bukan? Inilah situasi-situasi ketika saudara tidak mungkin mengubah situasi. Ketika engkau ditampar senior, dipermalukan bos, engkau tidak bisa menukar posisimu dengan bos, menjadi di atas dia; tidak bisa karena dia bosnya. Ketika engkau dituntut, engkau tidak bisa menghilangkan tuntutan hukumnya begitu saja. Ketika engkau ditindas, dijajah, engkau mimpi kalau berharap Romawi bisa tiba-tiba hilang. Ini situasi hopeless. Bahkan dalam situasi-situasi seperti ini, kita sering memakai alasan, “Kita ‘gak bisa ngapa-ngapainlah, sudahlah, mau apa pun tidak bisa.” Namun Yesus memberikan gambaran-gambaran super kreatif, yang sebagai warga Kerajaan Surga ternyata tetap ada yang bisa kita lakukan dengan kemungkinan dampak yang real dan signifikan.
Di sisi lain, Saudara, apa yang amazing dari ajaran Yesus bukan hanya itu. Di sini saya ingin mengajak kita menyadari bahwa semua kasus-kasus ini cuma sketsa. Respons yang tepat bagimu mendengar semua hal ini bukanlah mengatakan, “Thank you, Pak. Sekarang saya tahu harus ngapain kalau besok saya disuruh orang Romawi bawain barang.” Ya ‘gak bisa, Saudara. Karena sekarang sudah beda zaman, engkau sudah tidak bertemu orang Romawi lagi, bukan? Ini semua simply sketsa, Saudara. Ini membuka imajinasi kita; bukan untuk kita jiplak, ‘monyetin’ begitu saja. Ini bukan perintah untuk mulai sekarang kita dekat-dekat dengan orang-orang yang hobi nampar. Bukan, Saudara.
Bentuk konkret dari mengikuti jalan Yesus ini bagi kehidupan kita akan berbeda-beda, satu dengan yang lainnya. Bagaimana kita mengambil jalan 1 mil ekstra, bagaimana kita menawarkan jubah atau pipi, itu akan berbeda-beda dalam setiap situasi. Karena itu Saudara perhatikan, ini adalah bagian ketika kita sedang diundang bukan untuk ‘monyetin’ hal-hal ini, melainkan ketika kita sedang diundang untuk berpikir. Saya ingin menekankan ini, Saudara.
Jeniusnya Yesus sebagai seorang Guru bukanlah karena dia menghentikan engkau berpikir. “Oh, jadi begitu ya Tuhan Yesus. Oke, sip. Saya ‘gak usah mikir lagi.” Bukan, Saudara. Yesus adalah seorang Guru yang jenius justru karena Dia membuka pikiranmu; Dia membuatmu mulai berpikir. Mau tidak mau, Saudara, ini adalah tanggung jawab kita sebagai orang Kristen. Inilah model seorang warga Kerajaan Surga. Mungkin terdengar klise, namun sebagai orang Kristen, that’s why Saudara harus pakai otak. Engkau tidak bisa jadi orang Kristen, kalau engkau menolak untuk menggunakan dan melatih rasiomu, otakmu. Karena kemampuan rasio itu ciptaan Allah, bukan?
Saudara, inilah sebabnya jemaat yang ideal, bukan ideal, tapi seharusnya jemaat yang normal, adalah mereka yang waktu bersalaman setelah khotbah mengatakan, “Thank you untuk khotbahnya, Pak. Nanti hari Selasa atau hari Rabu saya akan terpikir apa aplikasinya bagi hidupku.”
Kalau engkau merasa dirimu tidak sanggup untuk hal ini, kalau engkau gemetaran mendengar panggilan untuk berpikir seperti ini, maka itulah sebabnya ada Gereja; itu sebabnya ada OSG; itu sebabnya ada persekutuan-persekutuan, tempat di mana engkau diajak berdiskusi sama-sama, bagaimana actually kita bisa hidup sebagaimana warga Kerajaan Surga hidup di atas dunia ini. Ketika engkau bingung dengan sesuatu, engkau bisa membawa kasusmu, dan mengajak saudara-saudara seimanmu untuk bersama-sama bahu-membahu mengecat ruangan yang sama; mendengar dan memikirkan bagaimana respons yang tepat. Respons seperti apa kira-kira yang kreatif, seperti jalan ketiga yang Yesus ajarkan. Respons yang tidak cuma membalas dengan setimpal, tapi membalas in such a way (dengan cara sedemikian rupa) yang membuat seorang lawan bisa menjadi seorang kawan. Respons seperti apa itu? Ayo coba pikirkan sama-sama. Inilah tugas Gereja. Inilah kesaksian Gereja. Inilah pengijilan Gereja. Tampar pipi kanan kok kasih pipi kiri? Mana keadilannya? Memang tidak mengejar keadilan, Saudara. Namun demi kesaksian.
Again, semua perubahan itu relasional. Engkau butuh Gereja untuk bisa berubah. Tidak bisa cuma dengar khotbah saja. Dan engkau butuh gereja untuk bisa bersaksi, untuk bisa menginjili. Inilah garis depan penginjilan. Di mana? Di sini, di Gereja.
Satu hal yang saya sendiri merasa paling diubah lewat mempelajari Khotbah di Bukit adalah saya jadi semakin sadar mengapa kita butuh Gereja. Dan ultimately mengapa kita bisa ada kekuatan untuk even mau mulai memikirkan bersama-sama kehidupan seperti ini adalah pada akhirnya Khotbah di Bukit bukan cuma bicara mengenai engkau atau pun saya. Semua yang Yesus ajarkan di sini, Dia sudah lakukan lebih dahulu. Dia bukan Jenderal yang mengirim kita dari belakang, Saudara. Dia adalah Allah yang lebih dahulu membuka jalan bagi kita, menjalani jalan kehidupan yang baru, sebagai Manusia yang baru.
Ketika mereka menghina, mengejek, mengolok-ngolok Dia, Dia tidak membuka mulut-Nya. Ketika mereka menantangnya, Dia meresponi dengan kalimat-kalimat aneh, yang memaksa mereka berpikir ulang. Ketika mereka memukulnya, Dia menanggung sakitnya. Ketika mereka menaruh di pundak-Nya peralatan Romawi yang paling berat, yang paling sadis, kayu salib di mana Dia akan disalibkan, Dia membawanya. Dia membawanya sampai ke tempat Dia dieksekusi. Dan ketika mereka memaku-Nya ke atas kayu salib, Dia berdoa bagi mereka.
Khotbah di Bukit ini ultimately bukan cuma mengenai kita, Saudara. Kalau ini cuma ajaran untuk kita, maka kita akan mengangguk-angguk, “Oh ya, bagus,” dan kita langsung kembali ke dunia nyata, karena terlalu idealis, ‘kan. Ini sebabnya Saudara mesti melihat Khotbah di Bukit ini adalah mengenai Yesus sendiri. Ini realistis, sudah pernah dilakukan. Ini blueprint bagi hidup Yesus. Inilah jati diri-Nya. Ini visi hidup-Nya. Ini manifesto-Nya. Dia tidak pernah meminta sesuatu pun dari kita yang Dia belum lakukan sendiri; yang Dia belum hadapi sendiri.
Dan jikalau ini yang Dia telah lakukan bagi kita, Saudara: Dia telah menerima tamparan kita, dan dengan demikian menunjukkan sesungguhnya siapa diri-Nya, bukan? Dia telah memberikan jubah-Nya, dibagi-bagi di antara kita supaya kita boleh mengenakan diri-Nya, clothed in Christ. Dia telah memikul dosa kita bukan satu mil, bukan dua mil, tetapi sampai kepada kesudahan, dan jika ini yang terjadi maka kita bisa memikul salib-salib kita bagi-Nya, sehingga kita memantulkan cahaya terang dari Anak Allah kepada dunia, menjadi saluran berkat dari kasih Allah, membawa kasih tersebut kepada dunia yang Saudara tahu, sangat… sangat… sangat membutuhkannya. Come on, Saudara-Saudara. Kita ambil kaleng-kaleng cat kita, yuk.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MRN)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading