Mazmur ini adalah satu mazmur yang sangat khusus. Gambaran tentang Tuhan yang adalah terang, sebetulnya ada banyak di dalam Kitab Suci, tetapi kalau kita mencari gambaran Tuhan yang di sini dikatakan “TUHAN adalah terangku” di dalam Perjanjian Lama, kita hanya menemukan ayat ini saja. Itu sebabnya ayat ini sangat khusus. Di dalam Perjanjian Baru, Yesus juga menyatakan diri-Nya sebagai terang dunia, sehingga tentu saja kita bisa juga melihat Mazmur ini dari terang Perjanjian Baru, yaitu dari perspektif Injil Yohanes. Tetapi sebelum sampai ke sana, ada baiknya kita merenungkan metafor “terang” di dalam Perjanjian Lama itu sendiri.
Dalam konteks Mazmur 27, di sini istilah ‘terang’ bisa dikatakan dipakai secara sinonim dengan ‘keselamatan’. Konteksnya adalah pembebasan (deliverance), keadaan terjepit, menghadapi musuh, dsb. Menarik bahwa di Perjanjian Lama, khususnya di Mazmur, seringkali datangnya pagi secara simbolik dimengerti sebagai datangnya pertolongan Tuhan, karena di waktu pagi ada terang. Pemazmur dalam pergumulannya yang berat, di waktu malam dia menantikan pagi, menantikan terang Tuhan itu bersinar dan ada jalan keluar dari Tuhan. Di sini kita melihat orang-orang di Perjanjian Lama sangat mengaitkan antara dunia yang kelihatan ini dengan dunia yang tidak kelihatan. Tentu saja bukan berarti mereka tidak bisa membedakan, tetapi mereka mengaitkannya sedemikian rupa. Inilah yang seringkali hilang di dalam kehidupan kita, orang-orang post modern ini; bagi kita, dunia yang kelihatan adalah dunia yang kelihatan, sedangkan dunia yang tidak kelihatan adalah dunia yang tidak kelihatan, dan keduanya tidak ada hubungan sama sekali.
Mazmur 27 ini, menurut perspektif dari para scholar, banyak yang mengatakan ini seperti 2 mazmur, yaitu Mazmur 1-6 dan Mazmur 7-14. Ayat 1-6 seperti menyatakan kepercayaan yang teguh pada Tuhan; sementara ayat 7-14 meski bukan keragu-raguan tapi seperti masuk lagi ke pergumulan, banyak permintaan dan permohonan. Bukan cuma itu –mungkin mirip seperti juga Mazmur 23– ayat 1-6 pemazmur menyebut Tuhan dengan kata ganti orang ketiga, sementara ayat 7 sampai terakhir dia menyebut Tuhan dengan kata ganti orang kedua, “Engkau”. Tapi apakah benar ini dua mazmur yang dengan ceroboh digabungkan padahal tidak ada kaitannya sama sekali? Kita percaya dengan rendah hati, di dalam pimpinan Roh Kudus ini memang menjadi satu mazmur seperti yang ada di tangan Saudara dan saya sekarang. Lagipula, kalau melihat kehidupan kita, bukankah perubahan suasana hati seperti ini juga merupakan satu hal yang biasa. Kalau Saudara membaca kitab Ayub misalnya, ketika Ayub mengalami malapetaka, di bagian awal dia bisa mengatakan kalimat “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan”, tapi kemudian mulai pasal 3 masuk ke lamentasi, pergumulan yang berat, bahkan ada semacam kepahitan. Apakah itu berarti membicarakan dua Ayub yang berbeda? Tentu saja Tuhan bukan menghendaki kita mengertinya secara demikian; tidak ada gunanya kita mengerti seperti itu lalu menafsir Ayub ini sepertinya skizofrenia misalnya.
Saya percaya, di dalam kehidupan Saudara dan saya, yang seperti ini bukan suatu pengalaman yang asing; ada saat-saat ketika kita mengalami pergumulan dan krisis, kita bisa sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, kita rest assured in God’s hand, dsb., tapi setelah itu bisa timbul lagi keragu-raguan, ketakutan, kekuatiran. Kita bersyukur karena Alkitab –untuk kesekian kalinya—merupakan kitab yang sangat realistis, yang di dalamnya dicatat perubahan hati seperti ini. Ini bukan bicara tentang orang yang tidak ada pendirian, atau bahkan skizofrenia –sama sekali bukan. Kita ini memang adalah manusia yang lemah, dan ini adalah suatu proses dalam pertumbuhan kehidupan kita. Sebaliknya, mungkin gambaran yang kita terus-menerus confidence di atas, yang seolah-olah kita tidak pernah ada momen pertanyaan, tidak pernah ada keragu-raguan, dsb., itu justru sepertinya tidak bisa dihidupi.
Waktu Saudara melihat dua bagian mazmur ini, kita percaya dari masing-masing kita bisa mempelajari keindahannya. Kita percaya waktu pemazmur menyebut Tuhan sebagai terangnya dan keselamatannya, itu bukan suatu kemunafikan, melainkan betul-betul keluar dari kedalaman hatinya. Kalau kita meminjam perspektif dari Injil Yohanes, ‘terang’ seringkali dikaitkan dengan pengenalan akan Allah; orang yang ada di dalam kegelapan, dia tidak mengenal Allah, sedangkan orang yang berada di dalam terang, dia mengenal Allah itu seperti apa. Jadi ada kaitan antara ‘terang’ dan ‘pengenalan/pengertian’. Namun dalam konteks Mazmur 27, kita juga bisa menafsir ‘terang’ ini dalam pengertian pengharapan –pengharapan di saat yang sulit– khususnya ketika Saudara membaca ayat 2: “ketika penjahat-penjahat menyerang aku … semua lawanku dan musuhku” –suatu keadaan bahaya yang dihadapi pemazmur. Kegelapan (darkness) di sini adalah serangan dari penjahat-penjahat, himpitan/desakan dari para lawan dan para musuh, maka di sinilah Tuhan adalah terang, dalam pengertian Dia adalah sumber pengharapan kita.
Di tengah-tengah kehidupan dunia yang terus-menerus berubah ini, yang membuat kita seperti berada dalam kegelapan, alangkah pentingnya Saudara mengenal Tuhan itu sebagai terang. Orang yang dalam kehidupannya tidak mengenal Tuhan sebagai terang, dia mungkin akan kompromi dengan kehidupan dalam kegelapan itu, akhirnya jadi berdamai (reconcile) dengan kegelapan. Tetapi kehidupan yang seperti itu sebetulnya tidak ada pengharapan yang sejati. Ada satu kutipan dari John Stott: “The Lord is my light to guide me; my salvation to deliver me; and the stronghold of my life, in whom I take refuge.”Saudara lihat di sini, metafor-metafor ini menggambarkan kekayaan pengenalan pemazmur akan Allahnya; waktu dia menyebut Tuhan sebagai terang, dia mengharapkan Tuhan itu memimpin dirinya, tanpa Tuhan dia tersesat.
Selain itu, dalam Mazmur 27 kita juga bisa melihat dalam saat seperti ini sebetulnya kerinduan yang terdalam dari pemazmur itu apa? Di ayat 4, itu dikatakan dengan istilah “satu hal telah kuminta kepada TUHAN”, seolah-olah mau mengatakan “satu hal saja, cuma satu, telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini, yaitu diam di rumah TUHAN seumur hidupku” –seperti mirip sekali dengan Mazmur 23. Mazmur 23:6 “Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa”; Mazmur 27:4 “Satu hal telah kuminta kepada TUHAN, itulah yang kuingini: diam di rumah TUHAN seumur hidupku, menyaksikan kemurahan TUHAN dan menikmati bait-Nya”. Ada kemiripan, tapi juga ada perbedaan. Kalau dalam Mazmur 23, dikatakan “sepanjang masa”, tafsirannya lebih ke eskatologi, dalam pengertian selama-lamanya, sepanjang masa; sementara dalam mazmur 27 dikatakan “seumur hidupku”, berarti di sini dan sekarang. Tentunya dua hal ini tidak saling meniadakan, tidak saling berkontradikisi, bisa saling melengkapi, tetapi ada perbedaan penekanan. Mazmur 27 lebih menekankan bukan pada masa yang akan datang (future), melainkan yang di sini dan sekarang.
Saat–saat seperti ini [pandemi covid-19], apa sebetulnya yang Saudara dan saya paling ingini? Vaksin? Pemulihan krisis ekonomi? Bisa traveling normal lagi? Bisa makan-makan enak tanpa ada perasaan kekuatiran? Daud bukan orang yang tidak pernah mengalami kesulitan dalam kehidupannya; bukan cuma Saudara dan saya yang mengalami krisis, lalu kita beranggapan Daud kayaknya ‘gak mengerti deh situasi kita sekarang. Tidak demikian; Daud bukan tidak mengerti. Memang betul sekarang ini kita di dalam saat yang susah, tetapi Saudara dan saya mungkin belum dikejar-kejar musuh seperti Daud; atau kalaupun Saudara dikejar-kejar musuh, Daud pun mengalami itu. Yang mau kita katakan adalah bahwa pergumulan Daud bukan lebih ringan daripada Saudara dan saya. Tetapi perhatikan, di dalam ketersesakannya, apa yang Daud ingini? Yang dia ingini adalah diam di rumah Tuhan. Ini harusnya juga menjadi kerinduan Saudara dan saya, untuk bisa diam di rumah Tuhan.
Ayat ini menarik, karena secara historis kita mengerti bahwa yang membangun rumah Tuhan sebetulnya baru pada zaman Salomo, sehingga pada zaman Daud belum ada Bait Suci yang megah itu. Lalu bagaimana Daud bisa mengatakan keinginan untuk diam di rumah Tuhan, padahal rumah Tuhan belum berbentuk kemegahan arsitekturnya seperti yang dibangun oleh Salomo? Tepat sekali karena memang bukan urusan arsitekturnya, bukan urusan desain interiornya, tetapi yang sedang dikejar Daud adalah kehadiran Tuhan secara khusus di rumah Tuhan. Keindahan dan kemuliaan Tuhan yang dijumpai di dalam bait-Nya, itulah yang sebetulnya dikejar Daud. Tentu saja kita tidak mengatakan di rumah Saudara masing-masing Tuhan tidak hadir –tentu Tuhan juga hadir di sana—tapi kita melihat bahwa kemuliaan dan keindahan Tuhan ketika kita beribadah bersama-sama di rumah Tuhan, itu memang berbeda.
Ayat 4 ini bahkan berbicara tentang menikmati bait-Nya –menikmati rumah Tuhan. Kita orang modern seringkali membedakan bahwa rumah Tuhan bukan Tuhan –memang betul rumah Tuhan bukan Tuhan– namun kita bukan cuma membedakan tapi bahkan akhirnya memisahkan; lalu setelah memisahkan, kita jadi kuatir dengan kalimat seperti ini yang mengatakan ‘menikmati bait Tuhan’, apa ini bukan jadi berhala, bukankah kita harusnya menikmati Tuhan saja dan bukan menikmati rumah Tuhan?? Kita seringkali berpikir secara diskontinuitas, rumah Tuhan bukan Tuhan, Tuhan bukan rumah Tuhan, lalu kita memisahkan. Cara berpikir seperti ini asing sekali untuk Perjanjian Lama. Di dalam kotbah James Montgomery Boice, dia meminjam pemahaman dari C. S. Lewis dan dia mengatakan: “The tangible and the intangible were not separated for them but rather were joined. They actually seemed to experience God in the temple”. Memang bait Tuhan (temple) dibedakan dari Tuhan sendiri, memang temple bukan Tuhan dan Tuhan bukan temple, tetapi mereka tidak memisahkannya, mereka melihat ini sebagai suatu kesatuan. Dengan demikian orang-orang dalam zaman Perjanjian Lama, termasuk Daud, bisa mengatakan ketika dia berada di rumah Tuhan berarti berada di dalam hadirat Tuhan. Ada perasaan kelegaan, ada perasaan istirahat, ketika orang menghampiri Tuhan di dalam rumah-Nya.
Ini sebenarnya bisa kita jelaskan dalam ilustrasi yang sederhana saja; kalau Saudara datang ke rumah seseorang dan orang itu sedang berada di rumahnya, berarti Saudara bersama dengan dia. Justru malah aneh kalau kita datang ke rumah dia lalu mengatakan, “saya cuma datang ke rumahnya saja lho, rumahnya ini bukan dia; ini bukan berarti saya berjuma dengan dia karena saya cuma datang ke rumah dia” –penjelasan yang aneh sekali. Tapi manusia modern seperti Saudara dan saya seringkali berada dalam bahaya seperti ini, yaitu memisahkan antara rumah Tuhan dan Tuhan. Kita bahkan mengembangkan teologi kita sendiri dengan mengatakan “Tuhan toh tidak ada bedanya, Dia di mana-mana juga hadir; saya juga bisa menyaksikan keindahan dan kemuliaan Tuhan di rumah saya sendiri”. Memang hari ini kita belum bisa mengadakan ibadah secara fisik, Saudara masih mengikuti ibadah di rumah masing-masing, tetapi yang kita mau katakan adalah: ini bukan yang normal, kita musti tetap merindukan untuk bisa datang ke rumah Tuhan. Kita tidak bisa bilang, “Ah, rumah Tuhan itu pada dasarnya nothing, yang penting ‘kan Tuhan-nya bukan rumah-nya.” Itu bukan pemikiran Daud, bukan pemikiran pemazmur. Pemazmur mau menikmati kehadiran Tuhan di dalam bait-Nya.
Ada kehadiran yang khusus di dalam rumah Tuhan. Ada kemuliaan dan keindahan Tuhan yang dinyatakan secara khusus waktu kita datang beribadah di dalam rumah Tuhan. Boice mengatakan bahwa pemahaman seperti ini bahkan hampir-hampir sakramental (almost sacramental). Apa maksudnya? Waktu Perjamuan Kudus, di situ kita mengenang Kristus, kita merenungkan penderitaan-Nya, dan kita juga percaya bahwa secara rohani kita makan dan minum tubuh dan darah Kristus; tetapi perhatikan, itu bukan tanpa makan roti dan minum anggur. Jadi artinya sakramental di sini adalah: Saudara masuk ke dalam dunia rohani (spiritual realm) bukan tanpa dunia yang kelihatan, Saudara menikmati tubuh dan darah Kristus bukan tanpa roti dan anggur. Dengan demikian, di sini kita juga mengatakan: Saudara menikmati kehadiran Tuhan bukan tanpa rumah Tuhan. Inilah yang dikatakan oleh Daud “menikmati bait-Nya”; bait Tuhan bukan nothing. Di pemahaman zaman itu, waktu orang dikejar-kejar, maka begitu dia masuk bait Allah, dia bisa klaim sanctuary; dan ini bukan sesuatu yang kita bisa bilang sekedar mitos atau semacam kayakinan yang bodoh (stupid faith), karena ada relasi yang tidak terpisahkan antara rumah Tuhan dengan Tuhan sendiri yang hadir di sana. Kita juga merindukan pemulihan seperti ini, supaya kita bisa kembali menikmati Tuhan di dalam bait-Nya.
Sekarang masuk ke bagian yang kedua; tadi kita sudah mengatakan di sini seperti ada perubahan suasana hati. Namun perbedaan ini bukanlah perbedaan yang substansial; memang nadanya berbeda, bagian kedua ini permohonan/seruan, tetapi kalau kita renungkan, bukankah orang yang bisa berseru seperti ini (ayat 7 dan seterusnya) adalah orang yang beriman/percaya kepada Tuhan? Kita tidak bisa mengatakan di ayat 1-6 pemazmur confidence, kemudian di ayat 7-14 dia kehilangan iman. Sudah pasti bukan begitu. Orang yang berseru kepada nama Tuhan, sudah pasti dia memiliki iman; tidak mungkin dia berseru kepada Tuhan kalau dia tidak beriman, bukan? Namun Saudara bisa melihat di sini apa sebetulnya permohonannya.
Saudara bisa membaca di bagian ini apa yang menjadi kebutuhan pemazmur di saat-saat seperti itu. Yang pertama, kita melihat di ayat 10 dia mengatakan: “Sekalipun ayahku dan ibuku meninggalkan aku, namun TUHAN menyambut aku”. Di ayat 9 dia mengatakan: “Janganlah menyembunyikan wajah-Mu kepadaku, janganlah menolak hamba-Mu ini dengan murka … janganlah membuang aku … janganlah meninggalkan aku.” Di dalam kehidupan ini, yang lebih menakutkan daripada krisis adalah penolakan, dibuang. Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan untuk diterima. Dan, Tuhan adalah Tuhan yang menerima kita, despite keadaan kita yang berdosa. Ini dipercaya oleh pemazmur. Apa gunanya kalau kita berada dalam keadaan sehat, dan mungkin juga ekonomi tidak krisis, tapi kita ditolak di mana-mana? Kehidupan yang seperti itu menyakitkan. Di dalam Alkitab ada seorang yang namanya Zakheus; dia seorang yang kaya, dia tidak ada krisis ekonomi, tapi dia tahu persis bahwa dirinya tidak diterima di mana-mana. Dia bahkan tahu bahwa kekayaannya pun tidak bisa membeli penerimaan itu. Yang indah di dalam kisah Zakheus adalah: Yesus mengundang dia, Yesus menerima dia, Yesus membuka persekutuan dengan dia. Kebutuhan akan penerimaan ini, adalah krisis yang seringkali tidak disadari manusia. Berbahagialah kalau kita bisa melihat kebutuhan ini, bahkan justru di saat-saat seperti sekarang.
Berikutnya, kebutuhan untuk didengarkan, kebutuhan untuk dijawab. Ayat 7: “Dengarlah, TUHAN, seruan yang kusampaikan, kasihanilah aku dan jawablah aku!” Sama seperti tadi, dalam hal ini dunia adalah dunia yang gagal mendengarkan satu dengan yang lain. Dunia ini berlomba-lomba untuk didengarkan tetapi tidak tertarik untuk mendengarkan orang lain. Itu sebabnya dunia juga menyediakan berbagai macam cara supaya orang bisa lebih didengarkan. Orang yang berhasil, banyak pencapaiannya, sukses dalam kehidupannya, mungkin bisa lebih didengarkan. Kalau Jack Ma bicara, semua orang langsung mau mendengarkan; karena dia orang dianggap sukses, berhasil, maka semua orang mau mendengarkan dia. Sedangkan orang lain yang biasa-biasa saja seperti Saudara dan saya, siapa yang mau mendengarkan, kenapa musti mendengarkan orang ini?? Tetapi kita tidak tertarik dengan narasi seperti ini –narasi “mau didengarkan”—justru karena kita memiliki Tuhan yang mau mendengarkan kita.
Kalau Saudara berada dalam suatu keluh-kesah, pergumulan, Saudara terutama berbicara kepada siapa? Kalau di dalam kesedihan kita, kita lebih banyak berbicara kepada manusia daripada kepada Tuhan, ini berarti ada yang salah dalam kerohanian kita. Saudara perhatikan di sini, Daud sangat mengerti keterbatasan orang-orang yang paling dekat dengan dia; bahkan ayah dan ibu pun bisa meninggalkan dia, tetapi Tuhan tetap menyambut dia. Saudara tidak boleh tafsir ayat 10 dalam pengertian ‘Waduh.. ternyata Daud ini orang yang banyak terluka terhadap ayah ibunya, sepertinya dia punya pengalaman masa kanak-kanak yang memang susah, tidak ada hubungan yang baik antara orangtuanya dan Daud’, lalu kita mulai membaca mazmur ini ke arah sana. Saya pikir, kita tidak harus baca seperti itu, tidak harus ke sana pembacaannya. Apa sebetulnya yang dikatakan di sini? Yaitu bahwa orang yang paling dekat, yang harusnya paling mengerti kita, bisa tidak mengerti kita. Orang yang seharusnya paling kita harapkan untuk mendengarkan kita, ternyata tidak mendengarkan juga. Inilah yang dimengerti oleh pemazmur, bahwa Tuhanlah yang mendengarkan dia.
Bukan hanya soal mau didengarkan, di ayat 11 Saudara membaca: “Tunjukkanlah jalan-Mu kepadaku, … tuntunlah aku di jalan yang rata … .” Jadi, memang ada kebutuhan untuk didengarkan, untuk dimengerti, untuk diterima, tapi Saudara perhatikan, pemazmur ini bukan cengeng, bukan terus-menerus mau didengar, dimengerti, diterima, dipeluk –bukan cuma itu– dia juga mencari pimpinan Tuhan, dia mau mengerti kehendak Tuhan, dan dia mau berjalan di dalam jalan Tuhan. Inilah yang membedakan dari orang yang cengeng, yang terus-menerus mau dimengerti, didengar, dipeluk, tapi tidak maju-maju kerohaniannya, karena dia tidak pernah tertarik untuk mengerti kehendak Tuhan.
Saudara dan saya membutuhkan didengarkan? Ya, kita membutuhkan didengarkan –dan Tuhan mendengarkan kita. Saudara dan saya memiliki kebutuhan untuk diterima? Ya, kita memiliki kebutuhan untuk diterima –dan Tuhan memang menerima kita despite keadaan kita yang kurang ini. Tetapi, Saudara dan saya juga membutuhkan bagaimana kita mengerti jalan Tuhan. Itu sebabnya doa permohonan agar Tuhan menunjukkan jalan-Nya ini penting sekali. Inilah yang membuat kita tidak menjadi orang-orang yang self-centered/ ego-centered, karena kita bukan hanya ingin dimengerti tapi juga mau mengerti apa yang menjadi kehendak Tuhan. Tanpa bagian ini, kita berada dalam kehidupan yang tidak bertumbuh. Tuhan peduli kepada kita? Ya, Tuhan sangat peduli kepada kita. Dalam hal ini, kita juga harus peduli dengan kehendak Tuhan.
Kalau Saudara membaca di bagian akhir, di ayat 13-14 kembali lagi statement confidence in God setelah seruan-seruan yang tadi kita bicarakan (itu sebabnya di awal tadi kita sudah mengatakan, dalam kehidupan manusia, hal ini kita tidak harus melihatnya sebagai suatu keadaan yang skizofrenia atau kepribadian terpecah). Ayat 13: “Sesungguhnya, aku percaya akan melihat kebaikan TUHAN di negeri orang-orang yang hidup!” Saudara lihat di sini, kembali ada pernyataan iman. Berjalan bersama Tuhan, bukan berarti waktu kita percaya lalu pada detik itu juga Tuhan langsung memberikan jalan keluar atau jawabannya –mungkin tidak segera/langsung. Tuhan memang mendengar permohonan kita, tapi kita perlu dengan tekun menantikan Tuhan. Itulah yang dikatakan dalam ayat yang terakhir: “Nantikanlah TUHAN! Kuatkanlah dan teguhkanlah hatimu!” (ayat 14).
Kalau boleh mengaitkan ini dengan kedewasaan rohani, orang yang dewasa itu bisa menanti, bisa menunggu; yang kanak-kanak, dia minta apa, harus langsung dikasih. Kita tentu tahu keadaan seperti ini karena kita punya anak, atau kita sendiri dulu juga anak-anak yang seperti ini, waktu minta apa lalu harus langsung dapat saat itu juga –kanak-kanak namanya. Tetapi orang yang dewasa, dia bisa menunggu, bisa menanti. Termasuk juga dalam saat-saat seperti ini, memang ini saat yang tidak menyenangkan. Pemulihan memang belum, tapi kita jangan seperti kanak-kanak yang tidak bisa menanti. Dan terakhir, yang kita nantikan sebenarnya adalah pribadi Tuhan sendiri. Kita menantikan Tuhan, lebih daripada pemulihan kondisi ini; dan kita akan melihat bagaimana Tuhan bekerja, berkarya, juga melalui situasi-situasi seperti ini.
Kiranya melalui saat-saat yang sulit ini jiwa kita dimurnikan, sehingga kita merindukan Tuhan, merindukan Kristus, lebih daripada semua yang lain. Peliharalah relasi cinta ini dengan Tuhanmu dan Tuhanku –Tuhan kita. Tuhan memberkati kita semua.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading