Apa yang jadi warna unik dalam gaya bahasa pasal ini? Adanya banyak pengulangan. Pengulangan pertama yaitu daftar sbb.: para wakil raja, para penguasa, para bupati, para penasihat negara, para bendahara, para hakim, para ahli hukum dan semua kepala daerah. Ini muncul di ayat 2, lalu di ayat 3 sudah diulang lagi, dan nantinya akan diulang lagi. Ada kesan apa waktu Saudara mendengar seperti ini? Tidak cukup satu daftar, ada daftar yang kedua yaitu daftar alat musik di ayat 5, 7, 10, 15, sbb: bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian. Ini gaya bahasa yang unik, yang baru kita lihat di pasal 3; dan pembahasan kita bisa mulai dari sini.
Apa kira-kira tujuan penulis memakai pengulangan-pengulangan ini? Ini satu hal yang aneh, lain dari biasanya, karena kita tahu gaya bahasa Alkitab biasanya singkat dan padat, sedangkan di sini kita menemukan pengulangan-pengulangan yang sepertinya sia-sia. Di mana biasanya kita menemukan daftar pengulangan yang bertele-tele, sia-sia, ngabisin waktu tok? Kita hari ini punya istilah untuk hal yang bertele-tele, sia-sia, dan ngabisin waktu, yaitu birokrasi. Ini pas juga, karena panggung pasal 3 ini panggung birokrasi istana. Menariknya, kenapa birokrasi sering kita temukan dalam konteks istana, pemerintahan, kerajaan? Apa yang mau dicapai lewat birokrasi seperti ini? Birokrasi atau seremoni itu penting dalam setting pemerintahan, ini tidak kurang dari sebuah exercise power, karena kalau orang sampai mengikuti birokrasimu, berarti engkau berhasil menunjukkan kuasamu atas orang tersebut.
Dulu saya pernah cari tempat bikin paspor, Satgas Imigrasi, di Jakarta, pakai Google Maps. Seperti Saudara tahu, kalau kita tap tempat tersebut, maka berbagai informasi keluar, termasuk review-nya. Saya iseng baca review-nya, ada orang memberikan 1 bintang dan mengatakan: “Pegawai-pegawainya nyebelin, sialan, mereka bertindak seakan-akan hidup kita tergantunng pada mereka, acting as if our lives depend on them”. Itulah birokrasi. Nyebelin. Kita butuh mereka membuatkan paspor untuk kita, lalu mereka memberikan segudang langkah-langkah birokrasi yang harus kita ikuti sampai huruf terkecil; kalau kita missed satu saja, harus balik lagi besok, antri lagi dari awal, dipersulit. Dan, kita tahu urusan birokrasi seperti itu sebenarnya ‘gak perlu, sia-sia, bertele-tele, cuma mempersulit hidup orang lain. Kenapa demikian? Karena beginilah caranya kuasa di-ekspresikan.
Seremoni, birokrasi, itulah warna yang sedang mengisi pasal 3 ini. Oleh karena ini warna utamanya, Saudara bisa mulai menangkap apa yang sedang terjadi di belakang proyek patung emas ini.
Waktu membaca cerita yang sangat terkenal ini, salah satu pertanyaan yang langsung keluar biasanya adalah: ini patung sebenarnya mewakili apa, ini patungnya siapa, apakah ini patung menggambarkan dewa tertentu dari jajaran dewa-dewi Babilonia? Kayaknya tidak; karena meski tidak diberitahu secara eksplisit, di ayat 14 Nebukadnezar mengatakan: “Hai, apakah benar Sadrakh, Mesakh, Abednego, bahwa kamu tidak memuja dewa-dewaku dan patung emas yang kudirikan itu?” Jadi sepertinya Nebukadnezar sendiri memberi jarak antara dewa-dewanya dengan patung emasnya. Ada perbedaan. Dengan demikian patung ini sepertinya bukan mengacu pada dewa-dewi Babilonia. Lalu apa? Apakah mewakili Nebukadnezar sendiri yang menghadirkan dirinya sebagai dewa? Di pasal sebelumnya ‘kan kita membaca dia mimpi patung, lalu Daniel mengatakan Nebukadnezar adalah kepala emas patung tersebut sementara sisanya adalah kerajaan-kerajaan lain; dan sekarang dia bikin patung yang seluruhnya terbuat dari emas (tentu bukan emas seluruhnya, hanya dilabur emas dari atas sampai bawah), jadi apakah maksudnya dia sedang menghadirkan dirinya sebagai dewa untuk disembah, merevisi gambaran di mimpi tadi yang dia cuma kepala lalu digantikan kerajaan-kerajaan lain, maka sekarang dia bikin patung yang semuanya emas, artinya dia akan jadi raja yang kekal, dsb.? Apakah demikian?
Pasal ini tidak memberitahu kita secara eksplisit. Mengenai apakah patung ini mewakili Nebukadnezar sendiri, kayaknya unlikely. Kenapa? Karena dalam catatan arkeologi, raja-raja Babilonia tidak ada tradisi dihadirkan sebagai sosok yang ilahi. Ini beda dengan misalnya Roma. Kita tahu kaisar Roma dihadirkan sebagai dewa; tapi raja-raja Babilonia tidak pernah seperti itu –meski bisa saja Nebukadnezar melanggar tradisi tersebut– jadi kayaknya unlikely patung itu menyatakan dirinya.
Argumentasi yang lain, kalau dia mau orang-orang menyembah dirinya, ngapain bikin patung, suruh saja orang-orang menyembah dirinya secara langsung, memang bedanya apa?? Lagipula dalam acara penahbisan patung tersebut, ada dia juga, jadi agak aneh ‘kan kalau melakukan seperti itu. Dalam konsep orang-orang yang menyembah patung, mereka tahu patung bukanlah dewa-nya, patung adalah cara yang kelihatan untuk mengungkap dewa yang tidak kelihatan. Misalnya menyembah kuasa kesuburan, menyembah kuasa cuaca, itu tidak kelihatan, maka mereka memperlihatkannya lewat patung. Ada patung yang kelihatan, karena dewanya tidak kelihatan; kalau dewanya sendiri sudah kelihatan, tidak perlu patung. Jadi, kalau Nebukadnezar mau orang-orang menyembah dia, ngapain dia bikin patung. Dengan demikian kayaknya patung ini bukan mengacu pada Nebukadnezar; lalu mengacu pada apa/siapa?
Para komentator kebanyakan berpendapat patung ini bukan secara spesifik mengacu pada dewa tertentu, atau pada Nebukadnezar sebagai rajanya; ini adalah patung yang sepertinya mewakili Babilonia itu sendiri, kuasa dan spirit Empire Babilonia. Patung ini, dengan kata lain mewakili identitas nasional Babilonia. Itulah yang Nebukadnezar inginkan orang-orang menyembah.
Mendengar seperti ini mungkin awalnya kita bingung, kayaknya koq dalam zaman kita hari ini tidak ada konsep yang ekuivalen. Kita merasa zaman dulu saja ada orang yang menyembah identitas nasional kayak begitu, sedangkan kita sekarang sudah tidak, mungkin karena mereka itu orang-orang kuno, jadi mereka percaya kayak begitu. Tapi tidak, Saudara; saya mau tanya, ada benda apa di tengah-tengah kota Jakarta yang menjulang tinggi itu dan kepalanya dilabur emas? Monas. Dulu sebelum ada pesawat terbang, kalau berlayar dari Eropa ke Amerika, hal pertama yang akan Saudara lihat adalah adanya sebuah benda di New York Harbor, yaitu Statue of Liberty. Tentu saja kita tidak ada upacara sujud menyembah Monas, orang Amerika juga kayaknya tidak ada upacara sujud menyembah kepada Patung Liberty, namun Saudara tahu monumen-monumen ini bukanlah tanpa makna. Waktu saya membuka wikipedia-nya Monas, dikatakan bahwa desain awal dari Soekarno ternyata mirip, bahwa Monas dibangun untuk mewakili spirit perjuangan bangsa Indonesia –identitas nasional. Itu sebabnya ukuran-ukuran Monas memaka angka-angka seperti 17, 8, 45. Ini menarik, karena Saudara baca di ayat pertama tadi, patung emas Nebukadnezar panjangnya 60 hasta dan lebarnya 6 hasta, dan ini bukan kebetulan karena sistem angkan negara Babilonia memang pakai sistem heksadesimal yang berbasis 60 dan 6. Saya memberikan contoh ini bukan untuk memberikan opini boleh atau tidak boleh, jelak atau bagus; saya simply memberikannya untuk kita bisa menyadari bahwa yang terjadi di pasal 3 kitab Daniel bukanlah suatu praktika kuno yang tidak terjadi lagi pada zaman sekarang. Itu saja.
Kembali lagi, jadi apa yang sedang dilakukan lewat patung emas ini? Apa yang sedang mau dilakukan lewat segala birokrasi, seremoni, nuansa identitas nasional yang menyertai patung ini? Alasan adanya patung ini adalah alasan yang kira-kira sama dengan sebabnya ada Monas, ada Patung Liberty, mengenai kenapa dalam sebuah negara perlu dibuat identitas nasional lalu dilekatkan kepada warga-warganya. Apa alasannya? Alasannya sangat positif –saya mengajak Saudara untuk bersimpati di sini– yaitu karena ini simply usaha untuk menciptakan kedamaian, kerukunan sosial, di negara tersebut. Dalam contoh Babilonia pada waktu itu, mereka memproyeksikan kuasa dari suatu kerajaan yang paling kuat, memproyeksikan kekuatan dari kerajaannya, raja-rajanya, ekonominya, militernya, budayanya, cara hidupnya. Nebukadnezar minta semua orang membungkuk sujud terhadap identitas nasional ini, mengenali bahwa inilah apa yang benar di Babilonia, inilah yang mendefinisikan realitas di Babilonia, inilah yang mendefinisikan apa artinya sukses dan apa artinya gagal.
Ini mirip seperti kalau Saudara melihat Patung Liberty, patung itu mendefiniskan ideal dari masrayakat Amerika, bahwa yang nomor satu adalah freedom, kebebasan. Inilah definisi realitas di tanah Amerika. Kalau Saudara memperjuangkan kebebasan di tanah Amerika, Saudara benar; kalau Saudara memperjuangkan penindasan di tanah Amerika, Saudara salah. Kalau Saudara menyajikan demokrasi di Amerika, itu benar; kalau Saudara memperjuangkan feodalisme atau monarki atau komunisme atau fasisme di Amerika, Saudara salah. Ini tidak sebegitu anehnya ‘kan? Bukan cuma tidak aneh, ini satu hal yang diperlukan oleh negara manapun, yang rakyatnya multi-kultural, multi-etnis, multi-religius, seperti Amerika, seperti Indonesia, seperti Babilonia. Babilonia bukan negara yang homogen, ini kerajaan kelanjutan proyek Menara Babel yang tujuannya mengumpulkan dari berbagai tempat di seluruh dunia, segala bangsa, suku bangsa dan bahasa. Saudara notice di ayat 7, mengenai yang disuruh menyembah patung ini dikatakan: ‘… maka sujudlah orang-orang dari segala bangsa, suku bangsa dan bahasa, dan menyembah patung emas yang telah didirikan raja Nebukadnezar itu’. Ini komunitas multi-kultural. Itu sebabnya saya ingin mengajak kita bersimpati pada Nebukadnezar di sini, mengajak Saudara untuk melihat bahwa Nebukadnezar mendirikan patung tadi bukan simply karena dia raja kafir goblok yang melawan Tuhan, sebagaimana sering kali diceritakan di kelas-kelas Sekolah Minggu kita.
Begini, kalau Saudara yang in-charge atas suatu kekaisaran besar yang melingkupi seluruh dunia, yang isinya orang-orang dari berbagai agama-budaya-suku, apa yang akan Saudara lakukan untuk mempertahankan kedamaian dalam kerajaan tersebut, kalau bukan hal ini: Saudara berusaha mengangkat suatu ideal yang baru, ideal yang nasionalis, ideal yang bisa mempersatukan semua orang itu lalu minta semua orang basically membungkukkan diri terhadap ideal ini, bukan dengan berhenti menyembah dewa mereka masing-masing. Babilonia negara politeistis maka Nebukadnezar tahu semua orang punya dewanya masing-masing. Yang Nebukadnezar minta, bukan mereka hanya menyembah patung emas ini, melainkan menyembah patung emas ini –ideal Kerajaan Babilonia ini– sebagai tambahan, di samping dewa-dewi mereka masing-masing. Kenapa ini diperlukan dalam suatu negara besar yang multi-kultural? Karena bahaya sekali kalau ada sekelompok orang yang berpikir merekalah yang punya satu-satunya dewa, satu-satunya kebenaran, satu-satunya iman.
Kalau ada kelompok seperti itu, kelompok tersebut akan mudah sekali melihat diri mereka lebih tinggi daripada kelompok-kelompok lain, lalu mereka mulai main paksa, mulai merasa kekerasan sebagai hal yang sah digunakan terhadap kelompok-kelompok lain; dan bukan cuma satu kelompok yang berpikir seperti itu, kelompok-kelompok yang lain juga punya ide yang sama, maka cepat atau lambat kerajaan ini akan pecah dalam perang saudara. Bahaya sekali ini. Itu sebabnya perlu pluralisme religius dalam negara besar multi-kultural seperti ini. Saudara lihat, kitab Daniel sangat relevan bagi zaman sekarang, Nebukadnezar update banget –atau lebih tepatnya, kita yang tidak update, kita sebegitu-sebegitu saja sejak dulu, maka Salomo mengatakan ‘tidak ada yang baru di atas dunia ini’. Poin saya mengatakan semua ini, adalah untuk mengajak kita dalam fase awal ini lebih simpati dulu terhadap proyek pluralisme seperti ini, benar-benar merasakan ketegangan yang sejati antara Babilonia dan umat Allah.
Saudara, ketika dunia menyajikan pluralisme seperti ini, sering kali ini bukanlah karena mereka itu benci Yesus; mereka mungkin bahkan tidak kenal Yesus itu siapa. Kita jadi orang Kristen, jangan suka ge-er-lah; sering kali orang Kristen kayak begitu. Waktu muncul ikon-ikon LGBT di WA, kita langsung mengatakan, “O, dunia sudah berpaling dari Kristus!” Itu ge-er; kenal saja tidak, berpaling dari mana?? Kadang-kadang orang beragama, termasuk orang Kristen, suka menderita penyakit yang namanya sindrom persecution complex. Kita seperti orang parno, yang melihat orang lain sedang bicara di telepon dan kebetulan mukanya mengarah ke kita lalu dia tertawa-tawa, dan kita langsung ge-er sendiri merasa kita yang sedang diomongin dan sedang ditertawakan. Kadang-kadang orang Kristen seperti ini, terus-terang saja. Itu bukan cuma parno, basically itu sakit jiwa.
Itu sebabnya dalam bagian ini saya ingin kita merasakan bahwa bukan cuma kita sebagai umat Allah bisa merasa cemas, takut, dan terancam, hidup ditengah-tengah masyarakat yang pluralistik, tapi juga merasakan dari sisi mereka, bahwa masyarakat pluralistik itu juga bisa merasa terancam oleh kita. Saya ingin kita merasakan perasaan terancam yang mereka rasakan, ketika mereka mendengar kalimat-kalimat yang muncul di tengah orang Kristen, bahwa kita ini hanya percaya satu Allah saja, bahwa semua agama lain basically salah, bahwa Yesus itu satu-satunya jalan dan kebenaran dan hidup dan tidak ada orang yang bisa datang kepada Allah kecuali melalui Dia. Saya ingin kita merasakan ketidaknyamanan ini. Saya ingin kita merasakan bahwa ini satu hal yang berbahaya. Dan, inilah sebabnya Nebukadnezar mendirikan patung tersebut.
Karl Popper, seorang pemikir sosial, menulis buku “Open Society and Its Enemies”. Dia mengatakan: setiap orang yang mengatakan bahwa Allah mereka satu-satunya Allah, satu-satunya yang benar, satu-satunya iman, hampir pasti mengarah pada tindakan-tindakan totalitarian, memaksa, menindas, totaliter. Sampai di sini Saudara mungkin mengatkan, “O, tapi Propper tadi mengatakan hampir semua yang beriman eksklusif jadi orang yang totaliter, jadi ada kemungkinan tidak, ‘kan? Nah, itu orang Kristen, dong?” Tidak, Saudara. Propper menjelaskannya seperti ini: Kalau ada orang yang imannya eksklusif, dan dia tidak totaliter, itu karena mereka tidak konsisten dengan iman mereka. Kamu percaya Allahmu doang yang benar, dan kamu tidak menindas orang lain yang berbeda darimu, itu artinya kamu tidak konsisten dengan imanmu –demikian kata Popper– kamu belum benar-benar memikirkan secara dalam imanmu itu. Itu sebabnya Popper mengatakan, bahwa musuh dari masyarakat terbuka dan bebas adalah iman yang eksklusif.
Saudara, saya ingin kita merasakan ini, melihat keseriusan dari masalah Kekristenan. Waktu kita mendengar semua yang dikatakan Popper, kita sebagai orang Kristen bisa merasa ‘aduh, makanya bahaya tinggal di masyarakat terbuka dan pluralis seperti ini bagi iman kita’. That’s fine, itu mungkin benar. Tapi yang saya ingin Saudara rasakan pagi ini, juga perasaan yang sebaliknya, bahwa Saudara juga perlu merasakan perasaan mereka, perasaan masyarakat pluralistis melihat orang Kristen, yang juga merasa terancam terhadap kita, kita berbahaya bagi mereka. Apakah perasaan ini masuk akal buatmu, atau tidak? Dan, kenapa saya mengajak Saudara merasakan ini? Karena –sebagaimana kita sudah bicarakan sejak pasal 1– panggilan kita sebagai umat Allah hidup di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengenal Allah, bukanlah simply mendirikan menara gading bagi kita tok, merasakan perasaan-perasaan kita tok, tapi untuk belajar merasakan perasaan orang lain yang bukan kelompok kita, berdoa bagi mereka, mengusahakan kesejahteraan mereka, karena kesejahteraan mereka adalah kesejahteraamu! Itulah yang Yeremia katakan. Itulah etos orang-orang buangan di tempat pembuangan, yang adalah umat Allah. Tidak autis, Saudara!
Saudara lihat, inilah mungkin yang sedang diajak oleh penulis kitab Daniel kepada kita hari ini. Saya bukan mengada-ada. Ini bukan pembacaan twist postmodern terhadap teks yang kuno, yang memperkosa intensi penulisnya; saya tidak percaya itu, karena sebagaimana Saudara lihat dalam pasal 3 ini yang jadi tokoh utama, sudut pandang utama, bukan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego –mereka itu baru muncul di tengah-tengah– seluruh pasal ini actually bermula dan berakhir pada Nebukadnezar. Alurnya mengiukuti naik-turunnya perasaan Nebukadnezar.
Omong-omong, di pasal 3 ini Nebukadnezar masih diceritakan dengan gaya bahasa orang ketiga, ‘si Nebukadnezar’, ‘si raja’, namun maju ke pasal 4 Saudara akan menemukan narasinya langsung diceritakan dari sudut pandang Nebukadnezar sebagai orang pertama, Nebukadnezar-lah yang mengatakan ‘aku begini’, ‘aku begitu’. Menarik ya. Kitab Daniel ini sedang mengajak kita pelan-pelan masuk ke sepatunya Nebukadnezar. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego di sini kayak tokoh sampingan, mereka hadir dan membuat suatu efek terhadap Nebukadnezar, yang sepertinya adalah tokoh utamanya. Ini mungkin petunjuk untuk kita menempatkan diri pada pasal ini bukan cuma di sudut pandang the good guys; bahkan penulisnya sengaja menarik kita masuk ke dalam sudut pandangnya Nebukadnezar. Dan ini harusnya bukan suatu hal yang aneh; kenapa? Karena –ingat pembahasan pasal 1 dan pasal 2—keseluruhan kitab ini, sepanjang yang kita sudah bahas, berbicara bahwa Kekristenan baru benar-benar berfungsi sebagai Kerajaan Allah, sebagai saluran berkat, ketika apa? Ketika kita berhasil mendirikan kerajaan kita sendiri-sendiri, dan bercokol terisolir di dalamnya? Atau justru ketika kerajaan-kerajaan tersebut runtuh, dan umat Allah dibuang, diserak masuk ke tengah-tengah serigala seperti domba, dan baru di situlah kita berfungsi sebagai umat Allah? Yang mana?? Dan jika demikian, berarti mungkin ini salah satu exercise-nya, yaitu agar kita di dalam masyarakat ini tidak cuma pikirin perasaan kita tok tapi berusaha bersimpati terhadap sebelah sana, mengerti perasaan dan ketakutan dan kecemasan sebagaimana orang lain juga melihat kita. Ini jalan salib, Saudara. Bukankah ini yang dari awal kita baca?? Ini tidak bertentangan sama sekali harusnya.
Selanjutnya, bagaimana kita merespons hal ini, bagaimana kita akan melihat hal ini? Ketika kita melihat inilah problem masayarakat pluralis terhadap orang Kristen, kita perlu merespons dengan pola yang sama juga. Kita perlu merespons bukan cuma dengan membicarakan “Bagaimana kita perlu menjawab mereka!”, tapi perlu memikirkan respons apa dari kita, yang tepat dan baik dan membawa berkat bagi mereka juga; apa respons yang mengusahakan kesejahteraan mereka, dan tidak cuma kesejahteraan kita. Itu yang perlu kita pikirkan. Dalam hal ini saya rasa ada 2 respons. Yang pertama, kalimat yang mengkritik dengan selembut-lembutnya –ini tetap ada– namun yang kedua, kalimat yang menenangkan. Jadi reponsnya: mengkritik dan menenangkan.
Yang pertama, respons mengkritik. Ini singkat saja, saya rasa sudah banyak yang tahu juga. Masyarakat pluralis merasa kelompok yang mengatakan merekalah satu-satunya yang punya kebenaran, itu arogan, sombong, dan bisa mengancam kedamaian masyarakat yang multi-kultur, multi-etnis, multi-religius; dan bukankah iman yang eksklusif pasti mengarah kepada intoleransi. Lalu respons kita: oke, jadi yang kamu maksudkan orang Kristen cepat atau lambat pasti akan berusaha memaksakan keyakinannya kepada orang lain; dan itu yang kamu takutkan. Sekarang coba kita pikirkan lebih dalam. Nebukadnezar tadi basically mengatakan ‘kamu semua bebas menyembah dewa-dewimu masing-masing’; ini toleran ‘kan kelihatannya, namun lanjutannya: ‘selama kamu membungkuk sujud kepada spirit Babilonia ini” —kamu bebas menyembah dewamu, selama kamu tidak memaksakan dewamu itu kepada orang lain. Jadi kenapa tujuannya menyembah Babilonia? Karena kalau kamu sujud menyembah kepada spirit Babilonia, kamu tidak mungkin memaksakan dewamu, karena dewamu bukan satu-satunya dewa, ada Dewa Babilonia, ada Babilonia sebagai dewa, ada Babilonia yang mendefinisikan apa artinya sukses dan gagal, ada Babilonia yang mendefinisikan apa artinya good dan wrong.
Jadi maksudnya/caranya tadi adalah: dewamu bukan satu-satunya; kalau kamu sujud menyembah kepada spirit Babilonia, kamu tidak akan memaksakan dewamu kepada orang lain. Di sini kita bisa mengajak orang pluralis menyadari satu hal, bahwa ini pun suatu keyakinan yang eksklusif, ini tidak lebih toleran, karena Nebukadnezar pada dasarnya mengatakan, “Oke, kamu bebas menyembah apapun yang kamu mau, selama kamu pakai caraku –kamu tidak boleh mengklaim punya jalan yang lebih baik dibandingkan orang lain, bahaya itu, jadi silakan pakai jalanku ini, karena jalanku lebih baik dibandingkan jalanmu”. Lah? Pak Nebukadnezar, Anda sedang melakukan terhadap orang lain apa yang engkau larang orang lain lakukan, itu namanya munafik, Pak. Dengan kata lain –ini kritikannya– bahwa dibalik hal yang terlihat seperti sangat toleran, justru ada satu spirit yang malah sangat intoleran.
Saya yakin banyak dari antara Saudara yang sudah tahulah self-contradiction di balik pluralisme dunia ini, bahwa dibalik yang kelihatannya seperti inklusif, justru ada sikap yang eksklusif yang sangat keras. Masalahnya, banyak orang Kristen yang berhenti di sini. Kita tidak bisa berhenti di sini. Kalau kita berhenti di sini, artinya kita cuma memikirkan diri sendiri, ‘ya sudah, pokoknya lihat tuh, bukan cuma kami yang eksklusif, kamu sebenarnya eksklusif juga; dan kamu lebih parah, karena kalau kami sih mengaku kami eksklusif sedangkan kalian ‘gak ngaku kalian eksklusif, kalian menipu diri’. Kalau kita hanya berhenti di sini, tidak selesai masalahnya ‘kan, bahaya yang mengancam kedamaian itu tetap ada, dan bahkan lebih parah, karena bukan cuma orang Kristen yang eksklusif, tapi orang sekuler pun eksklusif. Jadi bagaimana?? Ya, sudah mari kita perang sekalian, bunuh-bunuhan; begitu? Tidak selesai masalahnya ‘kan. Ini problemnya; orang Kristen tahu hal ini, tapi berhenti di sini. Itu sebabnya perlu ada respons yang kedua, respons yang menenangkan.
Kembali kita melihat keberatan dari Karl Popper; dia mengatakan: ‘seseorang yang punya iman yang eksklusif –satu Allah tok, satu kebenaran tok, satu jalan tok– orang ini akan jadi orang yang intoleran; kalau dia sampai toleran, itu cuma karena dia tidak konsisten dengan imannya’. Sekarang Saudara lihat apa yang terjadi di akhir kisah pasal 3 ini.
Setelah Sadrakh, Mesakh dan Abednego selamat dari dapur api, Nebukadnezar begitu impressed, kagum, dia langsung mengenali kuasa yang lebih besar dari kuasanya. Lalu apa yang dia katakan? Ayat 29, “Sebab itu aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allahnya Sadrakh, Mesakh dan Abednego, akan dipenggal-penggal dan rumahnya akan dirobohkan menjadi timbunan puing, karena tidak ada ilah lain yang dapat melepaskan seperti itu.” Waktu Saudara mendengar ending seperti ini, reaksimu apa? Saya harap reaksimu bukan bersorak-sorai, “Yeayyy! Sadrakh, Mesakh dan Abednego menang!!” No way, Saudara, karena kalimat Nebukadnezar ini pemaksaan, totalitarianisme. Nebukadnezar mengenali ada satu kuasa yang lebih tinggi dari kuasa apapun yang dia pernah lihat, lalu yang dia langsung lakukan adalah main paksa, main kekerasan. Dan, kalau Saudara bersorak-sorai akan hal ini, Popper akan mengatakan, “Tuh ‘kan bener, terungkap; Nebukadnezar baru mulai mengenal Allah Alkitab, dan dia langsung jadi orang yang totaliter, langsung jadi orang yang tukang paksa, ‘kalau ‘gak setuju dengan Allah Alkitab, bunuh saja’”. Sekarang Saudara perhatikan baik-baik. Nebukadnezar memang dihadirkan oleh kitab Daniel di bagian ini sebagai orang yang mulai bersentuhan dengan Allah Alkitab, dia mulai percaya akan realitas ini, tapi perhatikan, di bagian ini dia sesungguhnya tidak pernah memanggil Allah ini sebagai Allahnya. Perhatikan kalimatnya: “… aku mengeluarkan perintah, bahwa setiap orang dari bangsa, suku bangsa atau bahasa mana pun, yang mengucapkan penghinaan terhadap Allah-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego … “. Dia mengatakan Allah-nya Sadrakh, Mesakh dan Abednego; bukan Allah-ku. Jadi berarti dalam bagian ini Nebukadnezar belum benar-benar mengerti dan mengenal Allah ini. Dia belum menyembah Allah ini. Dia belum sungguh-sungguh bertemu dengan Allah ini. Dan, ini contoh yang pas banget untuk mengungkapkan tentang mereka yang baru tahu Kekristenan tapi belum benar-benar masuk ke dalam.
Waktu saya melayani di MRII Harapan Indah pada tahun-tahun pertama, orang-orang di sana begitu bersyukur dengan pelayanan kami. Kami membawakan teologi Reformed, dan mereka merasa banyak hal dibukakan. Lalu ada satu orang datang kepada saya, mengatakan: “Pak, saya mau tanya satu hal: apa benar kalau orang semakin banyak belajar, jadi semakin sombong? Karena saya menemukan itu, bukan pada diri orang lain melainkan diri saya sendiri. Dulu saya bisa berkawan dengan siapapun, tapi setelah 3-4 tahun mengikuti Bapak di GRII, dan saya kembali ke komunitas lama saya, teman-teman gereja saya yang lama, saya jadi sumbu pendek menghadapi mereka. Saya cepat sekali mengatakan ‘bego lu semua, pada ‘gak belajar’, ‘ini ‘gak bener, itu ‘gak bener’, dsb. Saya merasa diri saya jadi seperti itu; dan saya tidak suka dengan sifat seperti itu. Kenapa saya jadi seperti ini?? Kalau belajar banyak kebenaran lalu jadi kayak begini, mendingan saya tidak usah belajar, mendingan saya tetap di gereja lama saya saja, lebih rendah hati, lebih bisa berteman dengan banyak orang. Apakah benar, Pak, belajar banyak jadi sombong?” Saya mengatakan kepada dia: “Kalau kamu belajar lalu jadi tambah sombong, itu bukan karena kamu belajar; itu karena kamu baru belajar. Itu bukan karena kamu punya pengetahuan yang banyak; itu justru karena pengetahuanmu masih sangat dangkal –makanya kamu sombong.” Saya beri contoh film kungfu; pendekar yang turun gunung dengan ilmu setengah jadi itu yang sombong, maka dia digebuki di bawah lalu naik lagi ke gunung dengan malu-malu dan minta maaf pada suhunya. Setelah itu dia belajar dan belajar, bertahun-tahun sampai tumbuh jenggot, dsb. Akhirnya waktu ilmunya penuh, dia turun. Dan, dia turun tidak gebuki orang, tidak cari ribut. Dia turun dengan tangan disembunyikan di belakang, badannya seperti terbuka. Itulah kungfu master.
Saudara lihat, satu hal yang paling clever di bagian kitab Daniel ini, yaitu menunjukkan, bahwa siapapun yang mengatakan percaya kepada Allah Alkitab lalu bertindak menindas, memaksa, totaliter, mereka adalah orang-orang yang justru belum mengenal Allah Alkitab. Popper tadi mengatakan, orang yang punya iman yang eksklusif pasti intoleran, kalau toleran berarti tidak konsisten dengan imannya. Kitab Daniel mengatakan, orang yang punya iman yang eksklusif kepada Allah Alkitab, lalu jadi intoleran, inilah orang yang tidak konsisten dengan iman Alkitab. Inilah orang yang belum benar-benar percaya, orang yang masih tidak dewasa dalam iman; inilah orang yang praktis belum benar-benar menyembah Allah Alkitab.
Saudara, tidak semua orang yang memegang kebenaran eksklusif akan jadi orang yang menindas, yang totaliter, yang main paksa. Tidak tentu. Tergantung kebenaran apa yang kaupegang. Sama juga seperti orang pluralis: dari permukaan kelihatan seperti toleran, tapi ketika kita masuk ke dalam, kita baru sadar bahwa di bawah permukaan ada satu intoleransi keras. Sebaliknya pun sama; Kekristenan dari permukaan kelihatan seperti intoleran –Yesus satu-satunya jalan, bla, bla, bla, …– tapi kalau Saudara masuk lebih dalam, Saudara menemukan justru toleransi yang luar biasa tinggi, karena apa kebenaran yang orang Kristen rasa semua orang butuh? Apa kebenarannya? Yaitu Yesus Kristus yang di atas kayu salib digantung, mencurahkan darah, bagi orang-orang yang melawan Dia. Yesus di atas kayu salib melayani, mengasihi, dan mati bagi orang-orang yang menyalibkan Dia. Inilah kebenaran yang orang Kristen rasa semua orang harus tahu tanpa terkecuali. Kalau ini kebenarannya, yang engkau ambil masuk ke dalam hidupmu, menjadi pusat/inti yang menggerakkan jiwamu, bagaimana mungkin engkau bisa jadi orang yang totaliter?? Bagaimana mungkin itu menghasilkan diri yang menindas orang yang berbeda dan berseberangan denganmu?? Tidak mungkin ‘kan. Jadi, kalau engkau orang Kristen tapi engkau main paksa, engkau orang Kristen tapi engkau menindas, engkau sesungguhnya tidak mengenal Allah Alkitab. Engkau bisa saja mengatakan dengan mulutmu bahwa engkau percaya pada Yesus Kristus, tapi engkau sesungguhnya tidak mengenal Dia, dia bukan Allahmu!
Saudara bisa melihat hal ini lebih jelas dalam Sadrakh, Mesakh, dan Abednego. Satu hal, apa yang kita harus lakukan sebagai umat Allah di tengah-tengah bangsa yang tidak mengenal Allah, yang menyuruh menyembah ilah palsu –itu ‘kan pertanyaan kitab Daniel toh?? Jawaban secara singkat: panggilannya adalah untuk kita melawan, kita tidak boleh ikut. Tapi Saudara lihat cara melawannya. Kalau Saudara teliti maka akan menangkap bahwa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego digambarkan kontras terhadap Nebukadnezar. Di ayat 16 Sadrakh, Mesakh, dan Abednego mengucapkan kalimat langsung, mereka tidak pakai argumentasi, mereka tidak debat teologi waktu menjawab Nebukadnezar.
Ayat 16: Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab raja Nebukadnezar: “Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini. Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Saudara bandingkan dengan Nebukadnezar sebelumnya, dia bicara panjang lebar sekali di ayat14-15: “Apakah benar, hai Sadrakh, Mesakh dan Abednego, bahwa kamu tidak memuja ilahku dan tidak menyembah patung emas yang kudirikan itu? Sekarang, jika kamu bersedia, pada saat kamu mendengar bunyi sangkakala, seruling, kecapi, rebab, gambus, serdam dan berbagai-bagai jenis bunyi-bunyian –muncul lagi daftar birokrasi itu– sujudlah menyembah patung yang kubuat itu! Tetapi jika kamu tidak menyembah, kamu akan dicampakkan seketika itu juga ke dalam perapian yang menyala-nyala. Dewa manakah yang dapat melepaskan kamu dari dalam tanganku?”
Jawaban Sadrakh, Mesakh, dan Abednego sangat precise, singkat, padat, tidak pakai birokrasi-birokrasi, tidak bertele-tele: ‘kalau Allah kami mau melepaskan kami, maka kami akan lepas; kalau Dia tidak mau melepaskan kami, tidak masalah, kami tetap tidak akan menyembah’. Argumentasinya Nebukadnezar: ‘Ayo pikir, kenapa kamu mau sembuh dewamu tok, kamu pikir Dia yang paling berkuasa?? Sekarang kalau Dia berkuasa, kenapa bisa membunuhmu begitu mudah?? Jadi Dewamu itu berkuasa atau tidak; siapa yang sesungguhnya pegang kuasa di sini??’ Itu argumennya. Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak pakai argumen. Mereka menjawab dengan presisi, begitu singkat; kesannya dari permukaan seperti sok, tapi mereka bukan sok. Mereka tidak mengeluarkan argumen bagi keyakinannya, karena mereka menghidupi keyakinan tersebut. Saudara, 95% cara terbaik untuk menginjili orang lain, untuk mempertahankan keyakinan kita, itu bukan dengan kata-kata ‘kan –kita tahu ini– yaitu dengan cara menghidupi keyakinan tersebut.
Kontras yang lain: Nebukadnezar marah besar. Ini ironis, karena dikatakan ‘air mukanya berubah’, dan di sini pakai istilah selem; selem adalah image, gambar rupa. Di mana Saudara membaca istilah image yang lain dalam kisah ini? Yaitu ketika dikatakan Nebukadnezar mendirikan sebuah image emas (patung emas). Perhatikan, orang yang mendirikan patung emas ini, dengan tujuan untuk mengontrol seluruh negaranya, tidak bisa mengontrol image mukanya sendiri. Ini ironinya. Nebukadnezar begitu marah –bisa bayangkan ludahnya berbuih di mulut–sedangkan Sadrakh, Mesakh, dan Abednego bicara dengan begitu tenang dan respectful, “Tuanku, ya Raja”. Kalau disuruh menyembah seperti ini, kita sebagai orang Kristen mungkin mengatakan, “Hai! Orang kafir … “ Tapi kita tidak melihat yang seperti itu; kita melihat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego memberikan kepada Nebukadnezar persis kebalikan dari yang Nebukadnezar berikan kepada mereka.
Mereka jelas melawan, namun perhatikan caranya. Waktu mereka datang ke Dura itu, mereka sudah tahu bakal disuruh ngapain, namun mereka tidak datang dengan bawa spanduk-spanduk protes “HANYA ADA SATU ALLAH!”, mereka tidak pakai rompi bunuh diri dan bawa bom bunuh diri lalu berdiri di sebelah patung untuk hancurkan semuanya. Mereka simply melawan dengan begitu diam-diam, sampai-sampai Nebukadnezar awalnya tidak notice bahwa mereka tidak ikut sujud menyembah, dan hanya karena ada sekelompok orang yang melapor –yang kemungkinan besar cemburu politik–Nebukadnezar akhirnya baru tahu. Kalau melihat orang Kristen melawan seperti Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, sembunyi-sembunyi, tidak terang-terangan, kita mungkin merasa ini orang-orang Kristen pengecut. Tapi tidak sama sekali; dari kata-kata yang belakangan mereka ucapkan, Saudara tahu mereka sama sekali tidak ada kepengecutannya.
Kenapa mereka melawannya dengan cara seperti ini? Hampir-hampir kita bisa mengatakan ‘mereka itu melawan dengan cara toleransi’, mereka ada toleransi dengan orang-orang yang berbeda. Mereka tidak teriak-teriak mempengaruhi massa. Mereka tidak membongkar ilusi kuasa Nebukadnezar. Mereka tidak bikin pemberontakan. Mereka actually memberi ruang untuk orang lain melakukan apa yang orang lain itu percaya dan yakini. Mereka simply tidak ikutan. Saudara perhatikan, ini bukan sekadar toleransi, ini lebih dari sekadar toleransi. Lihat bagaimana mereka berhadapan dengan Nebukadnezar, ada kasih di situ, ada kasih yang dalam bagi Nebukadnezar. Ada kasih yang sabar. Ada kasih yang melampaui bahkan ancaman kematian. Mereka menghidupi iman mereka, keyakinan mereka. Itu cara mereka menghadapi Nebukadnezar.
Saudara ingat, Pak Billy sering mengutip Leonard Ravenhill: “Senantiasa perjuangkan imanmu, proklamasikan Injil kapanpun dan di manapun, dan kalau perlu pakai kata-kata”. Kenapa demikian? Karena hidup yang berkorban, hidup yang toleran, bahkan lebih dari sekadar toleransi dengan mengasihi orang-orang yang berbeda, berdoa bagi mereka, mengusahakan kesehahteraan mereka, itulah caranya kita mempertahankan iman kita, itulah caranya kita membawa Injil kepada dunia ini. Itulah caranya kita hidup di tengah-tengah dunia sebagai umat Allah.
Satu contoh, mengenai KKR Regional. Salah satu kritik terhadap KKR Regional, orang mengatakan KKR Regional bukan penginjilan. Saya tidak setuju sih, karena kita memang membawakan Injil, jadi yang mengatakan itu yang perlu mengubah definisinya. Okelah Saudara mengatakan bukan penginjilan dalam arti bukan membawakan Injil kepada orang-orang yang benar-benar belum tahu Injil –dan itu benar. Tapi dari judulnya saja, ‘Kebaktian Kebangunan Rohani’, berarti ada sesuatu yang sudah ada sebelumnya, yang mungkin sedang tidur atau layu, yang lalu dibangunkan secara rohani. Kita bukan menyebar benih, kita simply sedang dipakai Tuhan mungkin untuk menyiram tanaman yang sudah layu. Bagi saya ini baik, tidak ada masalah, namun ada orang-orang yang mengkritik: “Tapi itu bukan penginjilan ‘kan; ngapain kita kerjakan itu?? Gereja tidak bisa cuma mengerjakan itu.” Benar, Saudara. Tapi siapa yang cuma mengerjakan itu dalam setahun ini??
KKR itu cuma lima hari dari 365 hari. Kalau Gereja cuma mengerjakan itu, benar kita perlu khawatir; tapi KKR itu cuma 5%-nya, yang kita pakai kata-kata, sementara sisa hidup kita yang 95% dipanggil untuk memperjuangkan iman kita dengan menghidupinya! Dengan cara menempatkan diri di posisi orang lain, dengan cara bersimpati kepada perasaan dan kecemasan yang mungkin orang lain rasakan terhadap kita, yang tidak menempatkan diri di menara gading kita sendiri, yang mengusahakan kesejahteraan orang lain, yang berdoa bagi mereka. Itu cara kita menginjili! Kalau KKR Regional dilihat sebagai satu-satunya cara, mungkin karena hidup Saudara cuma itu penginjilannya. Saudara, inilah sebabnya panggilan penginjilan adalah bagi semua orang.
Terakhir, bagaimana bisa punya kekuatan untuk hidup seperti itu? Pluralisme religius di permukaan terlihat seperti toleran, tapi di dalamnya ternyata intoleran. Injil Kristen kelihatannya intoleran dari luar, sombong, arogan, tapi kalau Saudara sungguh-sungguh mengertinya, sungguh-sungguh masuk ke dalamnya, sungguh-sungguh menjadikan Allahnya Allah-mu dan tidak cuma Allah orangtuamu, maka di dalamnya Saudara menemukan bukan cuma toleransi tapi bahkan kasih yang melampaui toleransi. Jadi pertanyaan terakhirnya, bagaimana bisa hidup seperti itu, apa yang mendasari sebagai kekuatan untuk orang Kristen bisa hidup seperti itu? Tadi kita mengatakan orang Kristen suka ge-er, tidak dipersekusi tapi merasa dipersekusi. Namun di sisi lain, kita tahu ada persecution yang riil. Misalnya, beberapa minggu lalu ada berita tempat retret Kristen di Bogor diserang. Itu baru satu kasus terakhir saja. Jadi memang benar ada orang Kristen yang ge-er, tapi benar juga bahwa tidak semuanya, ada kasus-kasus kita benar-benar dipersekusi, menderita. Pertanyaannya, bagaimana saya bisa bahkan mau menghidupi hidup yang berkorban, yang menggasihi orang-orang yang berbeda ini, ketika hidup saya sedang diancam oleh mereka?
Saatnya kita masuk ke bagian yang terakhir, Nebukadnezar kaget ketika Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilempar ke dapur api. Perhatikan fokus kekagetannya, ayat 29 dia mengatakan: “…karena tidak ada ilah lain yang dapat melepaskan –menyelamatkan– dengan cara seperti ini.” Nebukadnezar bukan kaget karena ternyata ada Allah; dia tahu dan percaya banyak allah. Dia juga bukan kaget bahwa Allah itu bisa menyelamatkan; dia sudah mengalaminya berkali-kali, misalnya ketika bertempur dan menang, dia percaya allahnya menyelamatkan dia, entah itu Nebu, atau Bel, atau Marduk, dengan cara memberikan kuasa militer kapadanya. Yang dia kaget, bahwa Allah ini menyelamatkan dengan cara seperti ini; inilah keunikannya. Apa caranya?
Lihat kembali kalimat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego yang terkenal itu: “Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.” Sadrakh, Mesakh, dan Abednego percaya Allah mereka bisa melepaskan mereka dari dapur api; sekarang saya mau tanya, benar atau tidak Sadrakh, Mesakh, dan Abednego dilepaskan dari dapur api? Jawabannya iya sih, dilepaskan, tapi di sisi lain tidak juga. Jadi inilah caranya: Allah ini menyelamatkan bukan dengan melepaskan dari dapur api, tapi menyelamatkan melalui dapur api. Ini yang bikin Nebukadnezar kaget.
Coba bandingkan dengan lebih spesifik, kenapa Tuhan tidak menyelamatkan dengan cara misalnya seperti ini: begitu tangan serdadu-serdadu memegang tangan Sadrakh, langsung tangannya copot, juga semua tangan-tangan yang lain, lalu orang-orang ketakutan. Atau, mereka semua tiba-tiba buta, tidak bisa melihat Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, dst. Kenapa tidak pakai cara seperti itu, bukankah bisa?? Kenapa Sadrakh, Mesakh, dan Abednego tidak diselamatkan dengan cara misalnya waktu mereka masuk ke dapur api, tiba-tiba pelan-pelan mereka terbang ke atas, keluar dari dapur api dengan tangan ke samping lalu melesat pergi seperti Superman, dsb.? Yang seperti itu, pasti semua langsung melongo, keren banget, dsb. Kenapa tidak pakai cara seperti itu??
Lebih amazing lagi, cara menyelamatkannya begitu mengagetkan, Nebukadnezar sampai bertanya: “Bukankah tadi kita masukkan cuma tiga orang?” Para menterinya langsung jawab, “Iya”. “Tapi sekarang ada empat, dan yang keempat itu seperti anak dewa,” demikian Nebukadnezar mengatakan. Terakhir dia menyebut bahwa Allah ini mengutus malaikat-Nya. Dalam hal ini, kita tidak usah pikirkan terlalu detail ini persisnya siapa, tidak usah bilang ini pasti Yesus Sang Pribadi kedua Allah Tritunggal, karena laporan ini kita dapatnya dari mulut Nebukadnezar, dan jelas bukan orang yang benar-benar mengerti teologi Alkitab. Namun memang ada warna tertentu yang menyebabkan orang Kristen sepanjang sejarah menafsir bagian ini dan melihat bayang-bayang Imanuel, karena Allah ini menyelamatkan bukan dengan mengeluarkan kita dari perapian, Dia menyelamatkan dengan cara masuk ke dalam perapian bersama dengan kita. Tidak ada Allah yang menyelamatkan seperti ini.
Saudara, ketika kita dalam penderitaan, persekusi, boro-boro mengasihi orang lain, kita malah bertanya, “Kalau Tuhan ada dan mengasihiku, kenapa aku menderita seperti ini?” Jawaban yang terbaik dari seorang bernama Nicholas Wolterstorff, seorang filsuf Kristen. Dia membahas problem penderitaan, namun membahasnya tidak cuma ngawang-ngawang teoritis karena dia punya anak yang waktu umur 25 tahun meninggal kecelakaan saat mendaki gunung, namanya Eric. Dalam bukunya yang mengekspresikan hal ini, berjudul “Lament for a Son”, dia mengatakan Allah itu kasih, maka Dia menderita, maka ada penderitaan. Kenapa Allah setelah Kejadian 3 tidak menghentikan saja sejarah dunia?? Dia telah disakiti, dikhianati oleh ciptaan-ciptaan-Nya sendiri, Dia menderita, jadi kenapa Dia tidak menyetop saja sejarah dunia sehingga setop juga penderitaannya?? Jadi, Wolterstorff mengatakan, fakta bahwa dunia ini tidak berhenti, memberitahu sesuatu kepada kita: dunia terus berjalan dengan segala penderitaan duniawi, tapi ini bukan cuma kita yang menderita, Allah pun menderita dengan terus berjalannya dunia ini. Dan, kenapa Dia memilih untuk terus menjalankan dunia ini? Itu berarti Dia memilih untuk masuk ke dalam pendritaan kita –karena seandainya Dia memilih untuk setop menderita, kita pun the end. Bahwa sejarah dunia berlanjut terus, itu bukti Allah memilih untuk menderita, itu bukti Tuhan mengasihi kita. Orang bertanya, “Mana mungkin ada Tuhan yang mengasihi, kalau dunia ada penderitaan??” Wolterstorff mengatakan sebaliknya: “Justru karena ada penderitaan, justru karena Tuhan menderita, maka kita tahu Dia mengasihi kita.
The tears of God are the meaning of history, karena dalam dunia ini tidak ada jalan untuk mengasihi orang lain tanpa menderita. Anakmu tanya, “Papa ‘gak sayang saya, apa buktinya engkau mengasihi saya?” dan kita tidak bisa jawab. Bukan karena kita tidak punya jawabannya, tapi karena at that poin kita sedang menderita, merasakan penderitaannya –dan itu buktinya kita mengasihi dia. Punya anak, pasti menderita; apalagi yang wanita, dari awal sudah tahu penderitaannya jelas banget di dalam near future. Kenapa kemudian mau punya anak? Karena kasih. Karena di dunia yang hari ini tidak mungkin kasih hadir tanpa penderitaan. Kalau dalam kasihmu engkau tidak menderita, engkau tidak mengasihi. Itu sebabnya kalau engkau tidak melihat Allah menderita, engkau tidak melihat kasih-Nya. Kalau engkau melihat Dia menderita bersama dengan kita, itulah buktinya Dia mengasihi kita, itulah buktinya Dia ada. Sekarang engkau lihat kenapa orang Kristen bisa punya kekuatan untuk menyeberang, memikirkan perasaan orang lain dan tidak cuma memikirkan perasaan sendiri, untuk mengusahakan kesejahteraan orang lain dan tidak cuma kesejahteraan kelompok sendiri, untuk memberikan respons yang bukan cuma tepat bagi diri sendiri tapi juga tepat dan mengusahakan kesejahteraan bagi orang lain yang berbeda itu? Bisa dapat kekuatan seperti ini karena Allahmu, karena kebenaran yang engkau pegang mutlak eksklusif itu bicara mengenai Allah yang terlebih dahulu melakukan itu, dilempar, atau bahkan melempar diri-Nya ke dalam perapian yang menyala-nyala bersama dengan kita.
Kalau engkau mendengar semua ini dan mengatakan, “Oke, amazing memang, tapi saya tidak melihat diri saya benar-benar punya iman seperti itu, boro-boro menghidupinya; selama ini saya baru sadar mungkin saya cuma tahu Allah yang seperti itu tapi tidak benar-benar menyembah dia.” Kalau Saudara merasa seperti itu, good news-nya adalah lihat Nebukadnezar. Kalau Saudara bandingkan Nebukadnezar di pasal 1, 2, 3, 4, apa yang terjadi? Di pasal 3 ini dia hancur banget, contoh yang jelek banget untuk mewakili iman Kristen, cuma tahu di permukaan tapi tidak benar-benar mnegetahui maka bertindak totaliter, dsb. Tapi coba lihat cerita besarnya. Di pasal 1 dia tidak tahu apa-apa mengenai Allah Alkitab. Di pasal 2 dia mulai bertemu dengan Daniel; dia punya mimpi, Daniel menafsirkan mimpi ini baginya, dan di akhir cerita dia memberikan persembahan ukupan bagi Daniel, ngaco ‘kan, dia tidak mengenali di belakang Daniel ada Allah. Namun Saudara lihat ada progress, di pasal 3 ini dia mulai bersentuhan langsung dengan kuasa Allah ini, meski tetap masih ngaco namun ada kemajuan. Di pasal 4, Saudara akan lihat apa yang akan terjadi, pengakuan seperti apa yang keluar dari mulutnya. Jadi ini salah satu good news-nya; kalau Saudara merasa tidak mampu, ya memang, karena kita tidak ada yang mampu, itu penilaian yang sangat benar. Namun sama seperti Nebukadnezar pelan-pelan bisa diubah oleh Tuhan, kita juga bisa. Kasih karunia Tuhan cukup bagi kita, cukup bagi Nebukadnezar.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading