Kita sudah masuk masa Lent, periode 40 hari sebelum Paskah, Gereja mempersiapkan diri untuk merayakan Paskah. Kerajaan Allah aturan mainnya selalu jungkir balik terhadap dunia, maka kita mempersiapkan diri untuk pesta Paskah bukan dengan memotong daging dan memasak, melainkan justru dengan berpuasa. Lent atau Prapaskah adalah bulan puasanya orang Kristen.
Minggu lalu kita sudah masuk ke teks Lent yang terutama, Yesus dipimpin Roh Kudus ke dalam puasa 40 hari untuk kemudian di-peirazo (diuji) oleh Iblis. Ini bukan momen Yesus digoda untuk berbuat jahat sebagaimana kita sering kali kira, bahwa pencobaan berarti saya sudah baik-baik jalan lurus lalu digoda setan untuk belok menyimpang, kita tadinya sudah benar lalu dibikin salah gara-gara setan. Peirazo sesungguhnya sebaliknya; peirazoadalah kita diuji seperti apakah kebenaran mengenai diri kita sesungguhnya, jangan-jangan kebaikan/kekudusan kita selama ini justru momen kita menyimpang, bukan aslinya kita, cuma topeng yang kita kenakan berhubung situasi hidup kita nyaman tanpa tekanan, sedangkan aslinya tidak kayak begitu, sehingga ketika ujian/tekanan datang kita baru ketahuan kadalnya. Itulah peirazo, ujian, diungkapnya realitas sesungguhnya akan siapa dirimu. Itu sebabnya dalam Kekristenan memang benar Iblis yang mencobai, namun ketika kita jatuh, kita tidak bisa menyalahkan dia, karena yang Iblis lakukan bukanlah membelokkan/menyelewengkan kita, atau membuat kita salah. Istilah HaSatan (the adversary, the accuser) merupakan istilah pengadilan, yaitu seorang jaksa penuntut; dan seorang jaksa penuntut (penuduh) tujuan utamanya bukan bikin si tertuduh melakukan kesalahan baru, melainkan mengungkap kebenaran mengenai diri si tertuduh itu, aslinya kayak apa. Di sini kita jadi mengerti kenapa Roh Kuduslah yang memimpin Yesus untuk di-peirazodi padang belantara –meskipun oleh tangan Iblis— karena inilah momen realitas diri Yesus yang sesungguhnya diungkapkan.
Melalui tiga pencobaan itu kita melihat Dia sesungguhnya Anak Allah. Kita menyadari Dia Anak Allah bukan karena Dia mendemonstrasikan kuasa-kuasa Ilahi. Kita menyadari Dia Anak Allah bukan karena Dia mengubah batu jadi roti (sesuatu yang manusia tidak bisa), melainkan justru karena Dia menolak mengubah batu jadi roti, Dia menjadi persis manusia yang tidak mampu melakukan itu. Kita menyadari Dia Anak Allah bukan karena Dia ditatang malaikat-malaikat yang diutus Bapa-Nya, melainkan justru karena sebagai Anak, Dia menolak untuk balas menguji Bapa-Nya, persis sebagaimana seharusnya manusia di hadapan Allah. Kita menyadari Dia Anak Allah bukan karena Dia mengambil hak-Nya sebagai Allah, merenggutnya secara paksa, melainkan karena sebagai Anak Dia menolak ambil kuasa, dan malah taat kepada kehendak Bapa-Nya, menyerahkan kuasa, menyerahkan kehendak-Nya, menyerahkan nyawa-Nya, dan anehnya dengan inilah Dia malah mendapatkan kuasa. Ini influencer yang gain influence bukan dengan flexing, melainkan dengan submitting. Dan, memang itulah aturan mainnya manusia yang sejati, Tuhan Yesus mengatakan manusia yang mempertahankan nyawanya akan kehilangan nyawanya, tetapi barangsiapa yang kehilangan nyawanya karena Allah, dia akan menerimanya.
Jadi, kisah pencobaan bukanlah kisah Yesus digoda untuk berbuat yang salah, melainkan kisah di mana Yesus ditekan supaya keluar apa yang benar-benar benar mengenai diri-Nya; dan kebenarannya/realitasnya mengagetkan. Mengagetkan orang-orang Farisi, mengagetkan setan, bahkan mengagetkan kita, bahwa Yesus bukan menang atas pencobaan karena ada backingan kuasa Ilahi, Bos Gede di Atas Sana, melainkan karena Dia itulah Sang Ilahi yang membatasi diri jadi manusia. Dan, itu berarti kita kalah dalam pencobaan bukan karena kita manusia terbatas yang tidak bisa mengubah batu jadi roti, kita kalah dalam pencobaan bukan karena kita lemah, kita kalah dalam pencobaan karena kita pikir kita kuat.Pencobaan mengungkap kebenaran ini, bahwa kita lemah, kita tidak sudi menerima pembatasan, kita tidak sudi bergantung kepada Tuhan, submit kepada Tuhan; dan itu sebabnya kita kalah. Yesus, yang adalah Allah, malah rela menerima pembatasan ini, bergantung kepada Bapa-Nya, submit kepada Bapa-Nya –sebagaimana manusia seharusnya—dan itu sebabnya Dia menang.
Itulah sebabnya praktika Gereja-mula-mula (juga sampai hari ini), dalam melihat kisah ini adalah dengan ikut berpuasa, karena puasa mengungkap realitas, mengungkap betapa kita lemah. Ketika puasa, kita merasa lemah; dan sering kali kita pikir ini sebabnya kita gagal. Namun C.S. Lewis mengatakan puasa bukan bikin kita lemah, puasa membongkar bahwa kita lemah. Puasa membuat ilusi itu runtuh dan kebenaran timbul, kita bukan mengantuk gara-gara tidak minum kopi, kita bukan hangry gara-gara tidak makan, kita bukan pucat gara-gara tidak pakai makeup; yang benar adalah untuk bisa tidak mengantuk ternyata kita butuh kopi –selemah itulah kita– untuk bisa mengatur emosi ternyata kita butuh makan –selemah itulah kita– untuk kelihatan normal ternyata kita butuh makeup –selemah itulah kita. Namun good news-nya, dalam poin-poin kelemahan inilah baru kita bisa melihat kekuatan Allah.
Seorang ayah pernah memberi kesaksian di Podcast, pengalamannya membawa dua anak laki-lakinya yang masih kecil jalan-jalan. Ketika itu dia tidak bisa mengendalikan yang besar (umur 7 tahun) yang lari-lari ke sana kemari, karena dia harus menjaga yang masih kecil; dan anak yang besar itu lari-lari terus, akhirnya muntah. Saat itu meledaklah dia, ngamuk. Waktu pulang, dia lalu refleksi diri, dan merasa malu. Refleksinya ini menarik. Dia mengatakan, kalau 10-20 tahun dari sekarang dia mengingat harinya tadi, dia bakal rindu, bukan kesal, karena 10-20 tahun lagi tidak tentu anak-anaknya masih mau diajak pergi, dan kalau pun mau, tidak tentu bisa, sibuk sekolah atau kerja, dsb. Dia mengatakan, 10 tahun dari sekarang, bayar berapa pun dia rela kalau saja bisa mengalami kembali apa yang dialami hari ini, pergi bersama anak-anaknya, just be together, karena ini tidak selamanya. Namun ironisnya, dia tahu bahwa hari ini, hari yang suatu hari nanti dia dambakan kembali, dia malah tidak mampu menikmatinya, cuma marah-marah tok. Memalukan. Apa yang terjadi setelah refleksi ini? Dia jatuh berlutut dalam doa, minta Tuhan menolong dirinya, karena dia sekarang sadar relaitasnya, terbongkar bahwa dia tidak mampu jadi ayah. Menarik, ya. Dalam momen kita mencapai titik nadir seperti ini, itulah poinnya kita mulai mencari Tuhan, mulai mau bergantung kepada Tuhan. Kalau Saudara tidak pernah mencapai titik seperti ini, mana mungkin Saudara mencari Tuhan. Baru ketika si ayah tadi sadar dirinya tidak mampu jadi ayah, dia bisa berlutut dalam doa minta Tuhan menolong. Lima tahun kemudian, ayah ini memberi kesaksian. Apakah dirinya hari ini jadi orang yang lebih hebat, lebih sempurna? Dia katakan, “Tidak. Hari ini, lima tahun setelah kejadian itu, saya menjadi orangtua yang lebih helpless, lebih lemah; dan oleh karena itu saya lebih bergantung kepada Tuhan, saya lebih kuat di dalam Tuhan.” Itulah realitas yang terungkap dalam puasa.
Hari ini kita akan membahas praktika puasa dalam Lent; Lent praktikanya ada banyak, namun kita mulai dari puasa.
Yang Pertama, Kenapa Puasa itu Penting
Saya ini orangnya suka makan; dan saya rasa Saudara juga. Dalam hal ini satu hal penting yang kita perlu bicarakan dari awal, yaitu bahwa di dalam Alkitab puasa itu penting, bukan karena makan merupakan sesuatu yang jahat, yang berdosa. Yesus sendiri menyuruh kita mengingat Dia melalui roti dan anggur –makanan dan minuman. Makanan dan minuman adalah berkat Allah yang baik adanya; kita percaya itu. Bahkan dalam riset bahan khotbah mengenai puasa, saya baru tahu ternyata salib bukanlah lambang Kekristenan sejak awalnya, itu perkembangan yang belakangan; pada awalnya lambang Kekristenan yang lebih sering digunakan adalah meja perjamuan. Menarik, ya. Memang itulah yang sering kali dinyatakan di Alkitab, orang-orang bertemu dan berkumpul untuk dijamu dalam kasih; Perjamuan Kudus mereka tidak beda dengan perjamuan kasih kita hari ini, mereka benar-benar makan-makan.
Dalam Alkitab ada kejelasan mengenai hal ini. Misalnya Mazmur 34 yang kita pernah bahas, dikatakan, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan,” dan ini mazmur yang diutarakan pada perjamuan makan. Jadi waktu pemazmur mengatakan ‘kecaplah dan lihatlah’, mereka bukan sedang merenung abstrak dalam pikiran, melainkan mereka merenungkan kebaikan Allah melalui mengecap dan melihat makanan serta minuman. Waktu mencicipinya di mulut itulah mereka merasakan kebaikan Tuhan. Selain itu, seorang sarjana Alkitab mengatakan kalau Saudara mempelajari Injil, melihat bagaimana Yesus digambarkan dalam kitab Injil misalnya dalam kitab Lukas, 90% Yesus itu sedang menuju ke perjamuan, berada di perjamuan, atau pulang dari perjamuan, maka tidak heran salah satu tuduhan orang-orang Farisi terhadap Yesus adalah Yesus itu pelahap dan peminum. Jadi, kita berpuasa bukan karena makanan merupakan sesuatu yang jahat, yang harus dikurangi, diminimalisasi dalam hidup ini. Makanan di Alkitab adalah berkat Tuhan yang perlu kita terima dengan rasa syukur dan dengan kenikmatan.
Lalu kenapa kita harus berpuasa? Jawabannya simpel: karena Yesus tidak cuma berpesta dalam hidup-Nya, Yesus juga berpuasa. Yesus memulai pelayanan-Nya dengan berpuasa 40 hari di pedang belantara. Ketika Iblis mencobai Yesus dengan makanan, respons Yesus adalah: manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari segala firman yang diucapkan Allah. Namun sayangnya, hari ini sudah sangat lain arti puasa bagi kita, puasa bagi oarang Kristen sudah sangat opsional, bahkan bukan cuma dikesampingkan tetapi dibuang sama sekali. Hari ini mungkin Saudara lebih sering mendengar tentang puasa dari ahli-ahli nutrisi, pakar-pakar kesehatan, atau dari tetangga kita kaum Muslim. Bahkan mungkin kita menghindari puasa karena dianggap ciri khas agama seberang. Lagi pula, masa-masa Lent kali ini bersamaan dengan bulan puasa kaum Muslim sehingga kita bisa pesta, liburan ke mana-mana lebih sepi. Lalu nanti juga ada libur Lebaran, anak-anak libur sekolah, kesempatan kita pergi liburan entah ke luar kota atau luar negeri; dan kalau sedang liburan, konyollah kalau Saudara puasa, liburan ‘kan harusnya makan-makan. Jadi tidak heran, mencoba menghidupi Kalender Gereja –khususnya dalam hal Lent—itu menuntut banyak hal yang harus berubah dalam hidup Saudara dan saya, maka kita menghindari hal ini.
Namun hari ini kita akan coba spend time untuk menelusuri urusan puasa. Kenapa puasa penting?Apa pentingnya? Apa dampaknya? Kita memulainya dari Alkitab. Sudah pasti menelusuri urusan puasa di Alkitab, kita hanya bisa mulai di satu tempat, yaitu di bagian awal. Perhatikan, Alkitab dimulai dengan perintah untuk berpuasa, “Jangan makan buah ini …,” dan diakhiri dengan pesta, ketika Yerusalem baru turun dari surga dan kita diundang ke dalam perjamuan meja Anak Domba. Ada balance kayak begitu, ada fast and feast.
Kita akan memulainya dari Kejadian, waktu kita membicarakan mengenai puasa. Kej. 2:7, ayat yang sangat terkenal: “… ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan napas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.”Manusia Adam dibentuk dari debu tanah. Di sini jelas banget permainan kata-nya, tanah= adamah, lalu manusia itu, Adam, dibentuk dari adamah. Ini berarti kita jelas banget dari tanah –dan memang adalah tanah. Kita bertubuh, kita bermateri, tetapi Allah juga memberikan kita napas hidup. Napas, breath, roh, dalam bahasa Ibraninya ruah, napas, angin, semua pakai kata yang sama. Manusia itu bertubuh, bermateri, tetapi juga roh yang bersifat rohani. Manusia itu ibaratnya bukan mobil bensin, bukan mobil listrik, tetapi mobil hybrid. Tentu kita lebih dari sekadar tubuh, tetapi kita juga adalah tubuh. Tubuh kita terintegrasi pada diri kita. Tanpa tubuh, kita bukan manusia. Memang benar manusia yang cuma urusannya tubuh doang, itu bukan manusia, itu binatang, tetapi manusia yang sejati adalah manusia yang juga bertubuh.
Hal ini saya mention dari awal, karena tanpa ini kita akan salah,dan sangat susah menangkap semua urusan mengenai disiplin rohani, berhubung yang namanya disiplin rohani itu melibatkan tubuh. Ini sering kali tidak masuk akal bagi kita; kita pikir yang rohani, ya rohani, yang tubuh, ya tubuh. Tetapi tidak demikian, Saudara. Kenapa disiplin-disiplin rohani –seperti puasa—melibatkan tubuh?Karena tubuh dalam Alkitab penting bagi kerohanian manusia. Saudara itu hybrid, hidupmu terintegrasi antara tubuh dan jiwamu. Engkau tidak hanya berdoa dengan pikiranmu atau hatimu, engkau berdoa dengan tubuhmu –dan dengan perutmu, yaitu puasa. Menurut sorang teolog bernama Scot McKnight, puasa adalah engkau berdoa dengan tubuhmu, dengan perutmu.
Kita lanjutkan. Dalam Kejadian 3, ada tokoh ular, sebagai bagian dari dunia satwa yang diciptakan Tuhan; jadi ular ini anggota dari kerajaan binatang. Ini penting. Ular ini mengatakan, “Bukankah Allah bilang engkau jangan makan … ?” lalu Hawa mengatakan, “Tidak; kami boleh makan … tetapi jangan makan …, nanti mati.” Lalu ular memperdaya Hawa dengan mengatakan, “Kamu tidak akan mati kalau makan … .”, maka Hawa memakan buah itu, mengambilnya dan memberikannya kepada suaminya, sehingga suaminya pun makan buah itu. Saudara tentu tahu ujung ceritanya ke mana, kita sudah mendengarnya ribuan kali. Saya juga sudah dengar cerita itu ribuan kali, tetapi yang menarik, saya tidak pernah ingat ada seorang pun yang mengajar cerita itu, menceritakan cerita itu, mengkhotbahkan cerita itu, dengan menekankan urusan makanan, meng-highlight bahwa dosa asal, dosa pertama manusia, itu berurusan dengan makanan, berurusan dengan ketidakmampuan kita menahan diri dari makanan yang ada di depan muka.
Yang biasa dibicarakan dalam Kitab Kejadian adalah mengenai bagaimana membacanya, secara literalkah, sebagai sejarah yang semuanya benar-benar terjadi, atau sebagai narasi yang bersifat simbolik, dsb. Tetapi, Saudara mau membaca kitab ini dengan mode yang mana pun, dua-duanya meperlihatkan ini memang ada urusan makanan; dan ini satu hal yang bermakna, dong. Kita tahu bahwa pencobaan terutamanya bukan urusan boleh makan atau tidak boleh makan, pencobaan terutamanya lebih dalam daripada itu, yaitu apakah kita mau ikut definisi Tuhan bagi kita mengenai apa yang baik dan jahat, atau kita bikin sendiri definisinya; apakah kita mau mempercayakan diri pada visinya Allah bagi kebaikan manusia, atau tidak. Kita tahu bahwa dosa adalah ketika kita tidak mau percaya Tuhan menginginkan yang baik bagi kita meskipun yang kita lihat lain. Dan, itulah pencobaannya. Namun perhatikan, pencobaan ini datang melalui makanan; dan ini harusnya ada maknanya ‘kan?
Kita tahu bahwa setelah kejatuhan, ada penjungkirbalikan, bahwa manusia dipanggil untuk jadi penguasa atas binatang tetapi dalam kisah ini manusia malah diperdaya oleh binatang, manusia harusnya jadi raja atas binatang tetapi sekarang manusia malah dikuasai oleh binatang. Ini keterbalikan yang kita sudah sering dengar dan tahu. Yang jarang dibicarakan adalah: manusia juga ditentukan untuk berkuasan atas segala tumbuh-tumbuhan di padang; dan tumbuh-tumbuhan di padang itu signifikansinya sebagai sumber makanan. Manusia ditentukan juga sebagai penguasa atas dunia botani; dan yang terjadi dalam Kej. 3 adalah manusia di sini juga jungkir balik, manusia malah dikuasai oleh sebuah buah. Hal ini jarang dibicarakan, tetapi ada di Alkitab. Itu sebabnya ketika sekarang kita lompat ke Matius, kita menemukan bahwa Yesus, setelah dideklarasikan sebagai Anak Bapa, Dia dibawa ke padang belantara untuk dicobai Iblis, dan pertama-tama Yesus dicobai dengan urusan makanan, ubah batu jadi roti –dan Yesus menang.
Kenapa Yesus menang? Kita sudah membahas hal ini, juga dalam khotbah Lent tahun lalu (Saudara bisa membaca di website kita). Dalam Matius dikatakan Yesus berpuasa 40 hari maka Dia menjadi lapar. Di sini kita lalu bingung, iyalah, Matius, ngapain sih Lu tulis itu, semua orang juga tahu. Saudara, kenapa itu tetap perlu ditulis? Karena kita sering kali berpikirnya begini: Yesus berpuasa 40 hari, menjadi lapar, lalu dicobai; nah, memang kayak gitu cara kerja setan, tunggu kita lemah, tunggu kita tidak ada istri dan sendirian di rumah, maka segala pencobaan itu datang. Tentu itu ada benarnya, tetapi perhatikan bahwa pembacaan Gereja-mula-mula terhadap pasal ini tidak seperti itu. Memang Yesus menjadi lemah, namun dalam kelemahan tersebutlah, dalam kelaparan tersebutlah, dalam puasa tersebutlah, Yesus mencapai puncak kekuatan-Nya, kekuatan Allah di dalam-Nya.
Puasa 40 hari di padang belantara itu bukan membuat Yesus lemah; puasa 40 hari di padang belantara itulah yang membuat Yesus mendapat kekuatan yang cukup untuk bisa menang melawan Iblis. Ini sebabnya pelayanan publik Yesus dimulai dengan puasa 40 hari 40 malam. Ini bukan karena Yesus pikir, mau mulai pelayanan publik nih, jadi bolehlah kurangi lemak sedikit, kalau kleber-kleber begini kayaknya jelek ya, ‘kan Saya bakal banyak muncul di TV, jadi Saya puasa dulu supaya kelihatan lebih bagus sedikit, ‘gak bikin malulah. Bukan itu, Saudara. Jadi kenapa Yesus memulai pelayanan publik-Nya dengan puasa 40 hari 40 malam; dan kenapa Yesus sepanjang hidup-Nya setelah itu berkali-kali ke padang belantara? (Hal ini kita sering kali tidak sadar karena terjemahan bahasa Indonesia mengatakan ‘Yesus pergi ke tempat sepi untuk berdoa’, padahal istilah tempat sepi dalam bahasa aslinya tidak pakai istilah yang berbeda dari padang belantara, yaitu eremos). Yesus bukan cuma satu kali dalam hidup-Nya ke padang belantara, Yesus berkali-kali kembali dan kembali lagi ke tempat Ia dicobai, tempat Ia berpuasa, untuk berdoa di sana, untuk mendapatkan kekuatan baru. Dalam Yoh. 4 ketika murid-murid-Nya menawarkan makanan kepada Yesus setelah pelayanan seharian, Yesus mengatakan, “Aku punya makanan yang kamu tidak tahu”, dan itu berarti Yesus sedang berpuasa. Dalam Markus 9 ketika murid-murid-Nya mau mengusir setan, dan mereka tidak bisa, Yesus datang, mengusir setan itu, dan mengatakan, “Jenis kayak begini hanya bisa diusir dengan doa dan puasa.” Di sini kita sering kali bingung apa maksudnya; maksudnya adalah: Yesus saat itu sedang berpuasa.
Intinya, kalau kita cuek terhadap puasa, bisa jadi kita akhirnya kehilangan salah satu praktika Kristen yang sangat mendasar, yang sesungguhnya diajarkan oleh Yesus sendiri. Matius 6 adalah kumpulan khotbah di bukit, pengajaran Yesus mengenai etika hidup warga Kerajaan Allah; dan bagian di mana Yesus mengajarkan cara hidup sebagai warga Kerajaan Allah, Dia hanya membahas tiga praktika; apakah itu? Kalau kita terdidiknya di GRII, kita akan menjawab yang pertama baca firman Tuhan/menggali Alkitab, yang kedua mungkin perpuluhan, dst., tetapi puasa tidak masuk tiga besar, bahkan tidak masuk 10 besar. Tetapi tahukah Saudara tiga praktika yang dibahas dalam Khotbah di Bukit adalah doa, sedekah, dan puasa.
Kita masuk ke pembahasan spesifik mengenai puasa. Ada dua hal menarik di sini. Yang pertama, Yesus mengatakan ‘apabila kamu berpuasa’, bukan ‘jika kamu berpuasa’; dalam bahasa Inggrisnya lebih jelas, Yesus mengatakan ‘when you fast’, bukan ‘if you fast’. Jadi Yesus mengasumsikan murid-murid-Nya akan berpuasa. Ini gaya bahasa yang sama persis waktu Dia membahas doa. Tuhan Yesus bukan mengatakan ‘jika kamu berdoa’ –karena doa itu tidak opsional—melainkan mengatakan ‘ketika kamu berdoa/ when you pray’. Jadi Tuhan Yesus mengasumsikan murid-murid-Nya akan berdoa. Dalam hal ini kita amin ya amin, doa itu mutlak harus ada meskipun tidak semua orang menjalankan; sedangkan dalam hal puasa, bagi kita somehow ceritanya lain. Ini tidak benar, Saudara. Di bagian ini Yesus mengatakan ‘apabila kamu berpuasa, when you fast’, berarti pertama-tama Yesus mengasumsikan murid-murid-Nya akan berpuasa; yang kedua Yesus mengasumsikan bahwa ketika murid-murid-Nya berpuasa, mereka melakukannya dengan cara yang salah. Itu sebabnya Dia memberi instruksi, “Ketika kamu berpuasa, jangan puasa kayak begini … “, yaitu puasa yang kalau dalam bahasa kita sekarang puasa sebagaimana orang hari ini menggunakan sosmed, sebagai cara untuk memoles image jadi lebih bagus dari aslinya, yang di zaman kita sekarang pakai 12 jenis filter, sedangkan zaman Yesus salah satu filternya adalah ‘puasa’ –puasa untuk show off. Puasa seperti itu, kata Yesus, tidak ada faedahnya; atau lebih tepatnya ada, namun bukan faedah dari tangan Bapa. Orang-orang yang berpuasa seperti ini –puasa untuk show off—ada faedahnya, dan mereka sudah dapatkan langsung, yaitu mereka kelihatan lebih keren, lebih suci, tetapi itu bukan faedah puasa yang dari tangan Bapa. Lalu apa faedah yang asli? Sengaja tidak dijelaskan disini; dan itu bukan poin kita. Poin yang mau kita tarik di sini, yaitu banyak orang Kristen ketika berhadapan dengan puasa, mengatakan, “Kita tidak usah puasalah, karena lihat tuh, puasa gampang disalahgunakan jadi urusan lambang tanda jasa, gue sudah puasa loh, keren loh, dsb.” Memang iya, tetapi apa ada yang tidak bisa disalahgunakan?? Gereja yang mengutamakan doktrin pun bisa disalahgunakan. Apa yang tidak bisa?? yang menarik, Yesus sendiri sudah mengantisipasi bahwa puasa bisa disalahgunakan oleh murid-murid-Nya sendiri. Namun lihat, solusi Yesus bukanlah buang air mandi sekaligus beserta bayinya, melainkan berpuasalah dengan cara yang benar.
Saudara lihat, Alkitab penuh dengan ini. Dalam Perjanjian Lama Saudara melihat tokoh-tokoh seperti Musa, Daud, Samuel, Ester, para nabi; dan mereka semua berpuasa. Dalam Perjanjian Baru, beberapa kali dikatakan dalam Kisah Para Rasul bahwa Rasul Petrus, Yakobus, Paulus, dan kawan-kawannya, berpuasa. Maju lagi ke Gereja-mula-mula, semua Bapa-bapa Gereja mengajarkan puasa, maka Gereja selama 1500 tahun menjalankan puasa. Lalu kenapa kita hari ini tidak menjalankan? Karena dalam era reformasi Protestan abad 16, para reformator membabat habis tradisi Lent. Kenapa? Karena puasa pada zaman para reformator memang sudah sangat disalahgunakan. Ini bukan berita, karena Tuhan Yesus sudah mengantisipasinya lebih dulu ‘kan. Namun sekali lagi Saudara harus ingat, yang jelek adalah penyelewengannya, bukan bendanya sendiri. Perjamuan Kudus juga diselewengkan pada zaman abad 16 itu, juga Baptisan, namun bukan berarti solusinya adalah membuang Perjamuan Kudus dan Baptisan. Solusi dari kompas yang rusak bukan buang kompasnya dan tidak usah pakai kompas, solusinya adalah tetap pakai kompas, tetapi ganti dengan yang benar. Satu hal, para reformator menyerang tradisi Lent habis-habisan, namun mereka tetap menjalankan puasa. Itu solusinya Yesus. Bukan jangan puasa lagi, melainkan, “Apabila kamu berpuasa, puasalah seperti ini, puasa yang mencari faedahnya dari Bapa, bukan dari dunia.”
Kalau kita membaca tulisan para raksaasa iman sepanjang sejarah mengenai puasa, mereka selalu begitu positif, salah satunya yaitu St. Basil the Great, abad 4; Saudara dengarkan ini:
Puasa melahirkan para nabi.
Puasa menguatkan orang-orang yang kuat.
Puasa membuat para pejabat bijaksana.
Puasa menjaga kemurnian hati.
Puasa melindungi tubuh.
Puasa adalah senjata bagi para pemberani dan latihan dari para juara.
Puasa melawan pencobaan.
Puasa mengurapi kita bagi keilahian.
Puasa adalah sahabat dari hati yang peka.
Puasa adalah arsitek dari pikiran yang jernih,
Dalam perang iaberperang dengan berani,
Dalam masa damai iamengajarkan ketenangan.
Demikian bagian yang pertama, puasa itu penting, dan alkitabiah.
Yang Kedua, Kenapa Kita Berpuasa
Secara umum ada beberapa alasan kita berpuasa. Ada beberapa kategori jawaban, seperti: untuk mempersembahkan diri kepada Kristus, untuk bertumbuh dalam kekudusan, untuk menguatkan doa-doa kita, untuk membantu kita mengingat mereka yang miskin. “Remember teh poor,“ itu kalimat Paulus kepada Petrus; ini sangat penting, dan puasa sesungguhnya ada dampak ke arah sana.
Kita tidak ada waktu membahas semuanya, saya cuma ingin bahas hal pertama yang paling dasar mengenai kenapa kita berpuasa. Kita berpuasa karena inilah cara kita mempersembahkan hidup kita kepada Kristus. Ayatnya dari Roma 12:1, ayat yang sangat terkenal: Karena itu Saudara-saudara, demi kemurahan Allah aku menasihatkan kamu, supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati. Ayat yang familier, namun biasanya yang familier inilah yang kita justru paling tidak mengerti.
Perhatikan, apa yang Paulus suruh kita untuk persembahkan kepada Tuhan? Tubuhmu. Paulus menyuruh orang Kristen bukan untuk mempersembahkan hati mereka kepada Tuhan, bukan untuk mempersembahkan pikiran mereka kepada Tuhan, bukan untuk mempersembahkan bahkan uang mereka kepada Tuhan. Paulus menyuruh orang Kristen mempersembahkan tubuh mereka kepada Tuhan. Ini sesuatu yang langsung melawan bagaimana dunia memandang tubuh.
Hari ini kita mungkin terlalu terbiasa memandang tubuh sebagai sesuatu yang rendah, hanya sebagai penjara jiwa, sesuatu yang suatu hari kita akan buang dan hilangkan kalau mau masuk surga. Itu bukan Kekristenan, Saudara. Itu Aristotelianism atau whatever, warisan orang-orang Gerika; dan itu view pertama cara orang dunia melihat tubuh, sebagai sesuatu yang rendah. Yang menarik, dunia hari ini juga punya kecenderungan arus yang lain, kita melihat tubuh sebagai sesuatu yang justru sangat tinggi; orang biasa mengatakannya body positive, atau lebih tepatnya body obsesive. Tubuh dipuja sebagai sesuatu yang paling tinggi yang perlu dikejar, perlu dijaga, perlu diurus.“Your body is your temple”, sebenarnya kalimat dari Alkitab, “Tubuhmu adalah Bait Allah”, namun oleh orang sekuler hari ini dijadikan slogan mereka, slogan religi mereka –religi tubuh—maka orang-orang mengejar either urusan kecantikan, keseksian, atau bahkan fitness. Tentu tidak semua orang –saya juga kejar fitness—namun basically kita melihat kecenderungan seperti ini dalam dunia kita. Paulus bukan dua-duanya. Paulus menyuruh kita untuk mempersembahkan tubuh, berarti Paulus melawan arus pertama yang mengatakan tubuh itu jelek, karena yang kita persembahkan kepada Tuhan adalah sesuatu yang baik, kita tidak mempersembahkan sampah kepada Tuhan.
Selingan sedikit di bagian ini, sesuatu yang jarang kita bicarakan, namun perlu, yaitu yang ada di kitab Imamat. Dalam Imamat ada satu bagian yang kayak aneh, yaitu di hari pendamaian, salah satu cara yang dilakukan di tengah-tengah orang Israel adalah para imam disuruh menumpangkan tangan ke atas seekor kambing (dinamakan scapegoat/kambing hitam), lalu kambing ini, setelah ditumpangkan tangan yang melambangkan seluruh dosa Israel ditumpahkan kepadanya, bukan dibakar melainkan digeret keluar tembok kota. Satu hal yang bikin orang Kristen sepanjang sejarah bingung, kambing ini tidak dipersembahkan kepada Allah melainkan kepada Azazel; jadi siapa itu Azazel, maksudnya apa?? Koq, aneh ya?? Ini bukan aneh, Saudara, karena kambing itu kambing kotor, kambing yang sudah ditumpangkan dosa-dosa orang Israel, dan kambing seperti itu tidak dipersembahkan kepada Allah, kambing itu dibuang. Dibuang ke mana? Dibuang ke Azazel –bukan dipersembahkan bagi Azazel. Azazel jadi semacam tempat sampahnya orang Israel, seakan-akan membuang limbah radioaktif kepada Azazel. Jadi di sini sama sekali tidak ada nuansa mempersembahkan kepada dewa, melainkan buang sampah kepada berhala –berhala cuma mendapat sampah. Ini memang jarang sekali dibicarakan, jadi kali ini kesempatan untuk memberitahu supaya Saudara jangan termakan ajaran yang aneh-aneh dalam hal ini.
Kembali lagi. Intinya, waktu kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, kita tidak mempersembahkan yang jelek. Yang kita persembahkan kepada Tuhan adalah yang baik; dan kalau Paulus menyuruh kita mempersembahkan tubuh kita kepada Tuhan, jelas Paulus memaksudkan bahwa tubuh itu suatu hal yang baik. Namun perhatikan, waktu dia mengatakan tubuh kita itu baik, bukan berarti tubuh adalah untuk dipuja/disembah sebagaimana arus yang kedua dalam hal ini, tubuh adalah untuk dipersembahkan kepada Allah. Bukan untuk dinikmati kita tok, bukan terutama untuk diri sendiri, tetapi untuk dinikmati Allah.Ini yang menjadi dasar kebiasaan puasa orang-orang Kristen dalam Gereja-mula-mula.
Mereka berpuasa dua kali seminggu, mengikuti kebiasaan orang Yahudi yang berpuasa dua kali seminggu, hanya saja harinya diubah. Orang Yahudi berpuasa Senin dan Kamis, orang Kristen Rabu dan Jumat. Alasannya, Rabu adalah harinya Yesus dikhianati, dan Jumat adalah hari Dia disalibkan. Itu sebabnya ritme kehidupan orang-orang Kristen dalam Gereja-mula-mula adalah berpuasa hari Rabu dan Jumat, sebelum kemudian mereka berpesta –ada fast dan ada feast— di hari Minggu dalam Perjamuan Kudus, perjamuan kasih. Dari sini sudah kelihatan bahwa mereka melakukannya karena melihat ini sebagai panggilan mengikut Yesus. Mereka mempersembahkan seluruh ritme tubuh mereka, waktu lapar dan waktu kenyang mereka, untuk mengikuti pola lapar dan kenyangnya Yesus. Jelas banget, ‘kan. Inilah persembahan tubuh sebagai ibadah yang sejati.
Yesus itu jelas menderita, hari Rabu Dia menderita dikhianati, hari Jumat Dia menderita disalib, dan Sabtu Dia dibangkitkan. Jadi, kita pun dipanggil untuk masuk mengikuti ritme ini, jalan ini. Namun Saudara tidak bisa mengikutinya dengan menderita tok, karena Yesus bukan cuma menderita sebagai manusia yang pasti menderita di dalam dunia yang memang sudah penuh penderitaan –itu penderitaan yang bukan kita pilih melainkan memang nasib kita sebagai orang berdosa di dunia yang berdosa—Yesus bukan menderita seperti itu,Yesus menderita penderitaan yang Ia pilih, Ia ambil, yang Dia tidak seharusnya terima dan jalani. Dan, sebabnya Dia memilih serta mengambil penderitaan ini, adalah demi kebaikan orang lain. Pertanyaannya, praktika apa yang mirip dengan pola ini? Paling tidak salah satunya lewat puasa. Jadi Gereja-mula-mula berpuasa bukan sebagai kewajiban, bukan sebagai harga yang harus kita bayar demi mendapatkan sesuatu (ada maunya); Gereja-mula-mula berpuasa sebagai respons atas apa yang sudah Yesus lakukan terlebih dulu bagi kita. Sebagaimana Yesus memilih penderitaan yang bukan keharusan, demi orang lain, demikian juga kami mau mengikuti jejak langkah Yesus, mengambil penderitaan yang bukan seharusnya, yang bukan memang dari sononya, yaitu puasa. Puasa adalah seperti itu. Saudara tidak harus berpuasa, Saudara memilih untuk berpuasa, puasa itu menderita, ada rasa lapar dan segala macam, tetapi Saudara memilih berpuasa karena demi kebaikan orang lain.
Ini sebabnya puasa bisa menjadi cara untuk kita mengingat orang yang miskin (remember the poor). Puasa Kristiani bukanlah urusan stamina dan ketahanan (endurance). Orang-orang dalam Gereja-mula-mula berpuasa apa? Mereka puasa garam, puasa minyak. Kenapa? Karena ini barang-barang yang mahal, sehingga dengan puasa hal-hal ini, uangnya bisa dipakai untuk orang-orang miskin. Mereka bukan orang-orang kelebihan duit, bukan orang berkelimpahan. Mereka hidup dari tangan ke mulut, maka bagaimana caranya untuk bisa memberi kepada orang lain selagi kita saja hampir-hampir tidak cukup? Caranya simpel, dengan berpuasa. Saya berpuasa, maka uang yang biasanya dibelikan makanan, atau garam dan minyak, atau apapun lainnya, bisa disimpan dan diberikan kepada orang miskin. Saudara lihat, ini memilih untuk menderita penderitaan yang tidak seharusnya demi kebaikan orang lain.
Puasa itu persembahan. Sebagaimana Yesus telah memberikan hidup-Nya, tubuh-Nya bagi kita, maka sekarang kita memberikan hidup kita, tubuh kita, bagi-Nya. Alasan Gereja berpuasa bukanlah untuk mendapatkan sesuatu dari Kristus; alasan Gereja berpuasa adalah untuk memberikan sesuatu kepada Kristus. Kenapa?Karena Kristus sudah meberikan terlebih dulu kepada kita. Ini logika dasar puasa Kristiani. Logika dasar puasa Kristiani bukanlah kecurigaan terhadap makanan, bukanlah kecurigaan akan kebaikan tubuh. Dasar puasa Kristiani bukanlah spirit masokisme. Dasar puasa Kristiani adalah simply keinginan untuk bersekutu dengan Yesus, untuk menjalani langkah-Nya, menapaki tapak-Nya, diubah menjadi lebih mirip dengan Dia. Itu sebabnya alasan dasar dari puasa Kristiani selalu adalah ini: rasa lapar dan haus akan Kristus; dan maka praktikanya melalui puasa.
Omong-omong, tradisi puasa Lent hari ini sudah terjadi ekspansi. Banyak orang memakai puasa Lent untuk berpuasa dari hal-hal yang tidak baik, seperti main game kebanyakan, sosmed, dan segala macam seperti itu. Itu bukan hal yang jelek, bukan hal yang tidak boleh kita coba lakukan kalau memang perlu, tetapi itu beda dengan berpuasa. Puasa, pada awalnya tetap urusan makanan; dan kita tidak bisa menghindari itu. Kalau misalnya Saudara datang ke dokter, lalu dokter mengatakan, “Kamu besok operasi, maka malam ini kamu puasa 12 jam”, lalu besoknya Saudara ditanya dokter, “Sudah puasa?” dan Saudara menjawab, “Sudah, saya puasa dari TikTok”, maka dokter akan geleng-geleng kepala. Jadi, kalau urusan Saudara mau mengurangi sosmed, gaming, dan segala macamnya, itu baik, itu ada tempatnya, namun itu bukan yang dimaksud dengan puasa di sini.
Puasa adalah urusan lapar, yang jelas benar-benar urusan makanan. Kenapa ini penting, sesuatu yang esensial, dalam praktika puasa? Karena rasa lapar itu apa sih, yaitu ketika kita mengingini/membutuhkan sesuatu yang kita tidak punya, ‘kan; dan kalau kita jujur, kita tidak sering merasakan rasa lapar seperti ini akan Kristus yang menyebut diri-Nya Roti Hidup. Gereja-mula-mula tahu bahwa ini sesuatu yang perlu dilatih, dibiasakan –apalagi zaman sekarang. Itu sebabnya dalam zaman yang senantiasa menawarkan 24 jam sehari 7 hari seminggu segala barang-barang yang dijanjikan akan mengenyangkan kita, semakin tumpullah rasa lapar kita akan Tuhan. Kita seperti anak-anak yang sudah kenyang dengan Chiki dan Chitato sehingga malas makan nasi. Hari ini kita bangun pagi hatinya hampa, tetapi bukannya kita mengisinya dengan firman Tuhan, juga bukan dengan doa, melainkan dengan buka HP.
Namun kalau Saudara seorang Kristen, kalau Roh Kudus bekerja dalam hatimu, meskipun engkau menyadari dirimu jarang punya rasa lapar akan Kristus, paling tidak engkau ada keinginan untuk merasa lapar akan Kristus. Keinginan ini bukan cuma keinginan dalam hati atau jiwa tok, ini keinginan yang merambat sampai ke tubuh karena Saudara dan saya adalah makhluk hybrid, kita bukan cuma roh, kita punya tubuh. Jangan lupa, tubuh itu positif. Di Alkitab, Paulus menyuruh kita mempersembahkan tubuh. Yesus menjelma menjadi manusia dalam tubuh inkarnasi. Pengakuan Iman Rasuli mengatakan kita akan diberikan tubuh kebangkitan. Paulus mengatakan tubuhmu adalah Bait Allah maka muliakanlah Allah dengan tubuhmu. Jadi, adalah penting cara kita membangunkan keinginan/hasrat rasa lapar akan Yesus ini melalui tubuh kita, dan tidak cuma rohani kita –salah satunya dengan melalui puasa. Itu sebabnya John Piper menyebut puasa sebagai the whole body prayer. Doa yang terintegrasi, doa yang melibatkan keseluruhan tubuh kita. Bukan cuma roh dan jiwa kita tok, melainkan seluruh tubuh kita, secara jasmani juga, maka disiplin rohani itu melibatkan tubuh, maka tubuh itu penting bagi kerohanian manusia.
Bagaimana caranya bisa begini? Waktu Saudara berpuasa, Saudara mulai merasa ada somtehing wrong dalam puasamu, yaitu Saudara berpuasa 1 hari, 2 hari, 3 hari, dan Saudara tidak merasa lebih rohani; “Bapak mengatakan puasa itu mendekatkan diri kita kepada Kristus, membuat kita lapar dan haus akan Kristus, tetapi saya tidak merasa seperti itu. Saya ‘gak merasa lebih rohani, saya cuma lapar tok.” Kita jadi merasa ada something wrong karena kita mengira praktika-praktika Kristen adalah untuk menguatkan. Kita mengira disiplin rohani seperti ini adalah semacam self-help book sepuluh langkah untuk menjadi lebih ini dan lebih itu. Tetapi tidak demikian, Saudara, Kekristenan punya warna yang sangat lain. Tujuan praktika-praktika ini ada, bukanlah untuk menyentuh kekuatan diri, melainkan justru untuk membuat kita mulai bersentuhan dengan kelemahan kita –maka pakai rasa lapar.
Hal merasa lapar, ada dua pandangan paling sedikit. Yang satu, pandangan yang romantis lebay, yang sebagaimana orang Kristen memakai kata lapar, semacam hasrat yang indah akan Tuhan. Itu sebabnya lagunya “S’perti rusa rindu sungai-Mu, jiwaku rindu Engkauuu …”, yang mendayu-dayu lebay. Saya benci lagu itu, karena itu lagu yang salah kaprah banget, pertama karena kata rindu di situ maksudnya bukan rindu melainkan kekeringan; kata aslinya berarti rusa yang terengah-engah saking tidak ada air. Ini bukan sesuatu yang cuma dalam konsep jiwa atau pikiran, kerinduan yang abstrak, melainkan kerinduan yang merambat sampai ke badan; dan kerinduan seperti itu, menderita. Pengertian rasa lapar yang lebay seperti tadi, itu cuma pengertian orang kelas menengah ke atas, sementara sisa penduduk bumi ini melihat rasa lapar apa adanya, rasa lapar itu negatif, rasa lapar itu menandakan tubuh yang tidak terisi, kelemahan, kemiskinan, ketergantungan, kesementaraan. Dan, itulah sebabnya kita berpuasa. Puasa akan menaruh Saudara pada posisi menyadari seberapa engkau membutuhkan Allah. Kita sudah membicarakannya minggu lalu, waktu kita melihat peirazo Yesus, bahwa tujuannya adalah untuk membongkar/mengungkap realitas yang sesungguhnya. Puasa juga sama. Puasa membongkar segala ilusi yang kita percaya mengenai seberapa kita kuat, seberapa kita mandiri.
Dalam persiapan khotbah ini, saya tidak bisa cuma mempersiapkan hati dan pikiran juga, tidak bisa cuma mempersiapkan teksnya, saya juga harus coba berpuasa. Omong-omong, dalam hal ini saya menekankan sekali lagi bahwa saya tidak dituntut lebih daripada kalian, dan kalian tidak dituntut kurang dari saya, karena yang hamba Tuhan bukan cuma saya tetapi juga Saudara, jika tidak, memangnya Saudara hamba setan?? Namun sebagai pendeta, bedanya adalah saya dituntut duluan –maka saya coba berpuasa dalam Lent ini, memulai langkah kecil saja, karena saya tidak ada kebiasaan puasa. Waktu saya turun berat badan, itu bukan karena puasa, saya tidak pakai intermittent fasting atau diet apalah, saya simply mengurangi porsi makan. Jadi, dalam masa Lent kali ini saya pilih 1 hari dalam seminggu untuk berpuasa, mulai dari sunrise sampai sundown; dan saya pilih hari Jumat. Celakanya, saya baru sadar Jumat adalah harinya KKR Siswa dan saya harus berkhotbah, namun ya sudahlah, saya sudah janji kepada Tuhan maka saya jalankan.
Saya sarapan sebelum matahari terbit, bersamaan dengan orang Muslim sahur, lalu setelah itu tidak makan lagi. Apa efeknya? Ini yang saya mau laporkan. Pertama, yang pasti ada rasa sulit mengontrol diri. Kalau kita makannya biasa, makan pagi, lalu makan siang, itu kita makan karena memang sudah waktunya, bukan karena benar-benar rasa lapar, itu sebabnya kadang-kadang sudah dipanggil makan pun masih tunggu sebentar lagi, karena kita tidak merasa lapar-lapar amat. Demikian normalnya. Tetapi, gara-gara hari Jumat itu bingkainya adalah puasa, dari awal saya sadar hari ini puasa, maka ‘makan’ itu terus yang ada di pikiran saya, dan itu sebabnya rasa laparnya pun muncul lebih cepat. Jam 10 sudah agak lapar, tetapi tidak boleh cari snack karena sedang puasa. Dan, gara-gara tidak boleh cari snack, makin terasa laparnya.
Selanjutnya, waktu semua pelayan sudah berkumpul, saya diminta berdoa pembukaan. Biasanya kita lalu doa bersyukur boleh melayani, dsb., tetapi hari itu saya berdoa, “Tuhan, tidak ada di antara kami yang datang hari ini karena kami kepingin, tidak ada di antara kami yang melayani hari ini karena kami hobi, tidak ada di antara kami yang datang hari ini karena kami senang melayani, tidak ada di antara kami yang datang hari ini karena kami rasa ini gampang.” Kenapa doa seperti itu? Karena perut saya sudah kriuk-kriuk.
Lanjut lagi. Di GRII Kelapa Gading ini kita sudah menjalankan KKR Siswa beberapa tahun; dan sudah beberapa kali kita tidak suka kalau gedung ini diisi terlalu penuh, karena dari segi keamanan tidak proper, dari segi suasana ibadah juga tidak mendukung. Hari itu saya sudah mempersiapkan khotbah yang penuh dengan cerita ilustrasi, karena saya tahu anak-anak SMP/SMA paling sulit untuk kita menangkap perhatian mereka. Jadi saya sudah siapkan banyak cerita; satu kalimat poin lalu dilanjutkan dengan cerita, rangkum, lalu poin lagi dan cerita lagi, dst., dari ujung ke ujung adalah cerita. Tetapi, karena hari itu jumlah siswa tidak kira-kira banyaknya, anak-anak penuh dari ujung ke ujung atas bawah kiri kanan, maka tetap saja tidak bisa sempurna menguasai semua dari mereka. Saya lalu pakai suara lebih keras, pakai suara lebih dramatis –dan jadi lebih capek lagi.
Setelah selesai, saya turun, saya merasa khotbah hari ini tidak terlalu sukses, tetapi ya sudahlah, sudah kelar anyway. Tiba-tiba Pak Calvin datang, “Jeth, khotbah lagi di bawah, sesi baru.” Hah?? Siswa yang datang terlalu membludak, jadi harus khotbah lagi sesi baru. Kita bukan tidak antisipasi hal ini, tahun lalu saya juga khotbah dua kali karena ada yang telat, dsb., maka tahun ini kita sudah siapkan pembicara kedua, Pak Jadi, di ruangan bawah, untuk kalau ada yang telat dsb., dan urusan selsai. Jadi waktu Pak Calvin bilang begitu, saya yang sudah hangry dari tadi, langsung respons, “Kenapa bisa kayak begini?? Kita ‘kan sudah bikin supaya tidak kayak begini. Lagi pula ada Pak Jadi, suruh Pak Jadi dong, jangan ke saya lagi!” Namun ternyata Pak Jadi pun sudah dua kali, dan masih 200-300 anak, jadi totalnya harus 4 sesi. Ya sudah, mau bagaimana?? Dalam keadaan itu saya cuma bisa ngedumel, suara juga sudah tidak ada, dan harus bertempur lagi dengan anak-anak ini yang tidak siap beribadah. Dalam keadaan seperti ini, apa yang terjadi? Inilah puasa. Realitas terungkap, saya lemah, tidak makan sedikit saja saya sudah lemas kayak begini. Biasanya saya tidak lapar sampai jam 1, tetapi gara-gara bingkainya puasa, tubuh saya makin cepat lapar. Selemah itulah saya! Khotbah tidak terlalu rasa ada kuasanya; dan saya baru sadar selama ini khotbah diterima baik bukan karena khotbahnya doang melainkan karena jemaatnya juga bagus, jemaatnya lebih siap. Dan sekarang, ketika disuruh khotbah lagi, reaksi pertama adalah ngomel. Ini apa, Saudara, kalau bukan realitas diri saya; and yet, ada something else yang diungkapkan di sini, saya somehow merasa kemarin itu ngomel sih ngomel, namun ngomelnya tidak sepanjang biasanya. Saya tidak tahu kenapa bisa terjadi. Saya tahu seperti apa diri saya, tetapi kemarin itu saya ngomelnya entah bagaimana bisa tidak berlarut-larut –karena dari pagi sudah puasa.
Saudara, dengan dari pagi sudah puasa, tiap kali rasa lapar itu muncul, langsung mau tidak mau kita koneksinya ke Tuhan; karena bingkainya dari pagi sudah tahu bakal lapar, maka setiap kali rasa lapar itu muncul, langsung ingat ini gara-gara puasa, dan karena itu langsung pikir mau menyerahkan rasa lapar ini kepada Tuhan. Tiap kali ada rasa lapar di pagi itu, otomatis saya teringat Tuhan. Tiap kali saya merasa lapar, keluar doa-doa singkat, “Tuhan, tolong saya” –dan biasanya saya tidak seperti itu. Saudara, dalam sehari-hari kita, berapa sering sih kita terpikir akan Tuhan?? Tetapi kemarin hal itu terjadi begitu sering. Setiap kali ada penderitaan/kesulitan yang muncul, somehow juga lebih gampang bagi saya untuk berhenti ngomel. Karena hari itu saya sudah diisi dengan permohonan kepada Tuhan, in some sense saya lebih siap untuk menderita. Aneh, saya bisa kayak begini.
Lalu ketika mulai berkhotbah, saya baru menyadari bagus juga ada sesi tambahan ini karena khotbah yang kedua ini di ruang bawah yang jauh lebih kecil, sehingga anak-anak lebih attentive ke depan. Dari awal sampai ke akhir mereka benar-benar perhatian, tidak banyak gangguan, meski ada pun tidak sebanyak sesi pertama tadi. Saya di situ merasa firman Tuhan lebih kena kepada anak-anak tersebut, saya bisa melihat lebih jelas mereka memperhatikan dibandingkan sesi yang pertama. Dan, saya pikir dibandingkan mereka ditumplekin semua ke atas seperti tadi, untunglah sebagian bisa mendapatkan lebih bagus kayak begini.
Saudara-saudara, ada sesuatu yang terungkap di sini, bahkan efeknya tidak berhenti di hari itu saja. Seperti Saudara tahu, seminggu kemarin hujan terus; dan para pesepeda paling benci hujan kayak begini karena tidak bisa gowes. Saya seminggu ini bukan cuma puasa makan tetapi juga puasa gowes, meskipun ini bukan sukarela. Sabtu kemarin, satu-satunya hari yang tidak hujan, maka itu satu-satunya hari –setelah saya puasa—saya bisa gowes (gowes jam 4 pagi sebelum PD). Dan, biasanya kalau menemui keadaan seperti ini, apa kalimat yang keluar? Kalau kita sudah ada rutinitas yang enak, hobi yang kita nikmat, lalu tiba-tiba tidak bisa, ketika akhirnya muncul situasi yang kita bisa lagi, apa yang kita katakan? Kita tidak bersyukur ‘kan. Kita mengatakan, “Akhirnya… “. Akhirnya! Dari kemarin tidak bisa, akhirnya bisa pergi! Ini berarti apa? Berarti ini hak-ku lho, biasanya gue bisa, kenapa minggu ini ‘gak bisa??Jadi ketika Saudara mendapat kembali yang baik ini pun, Saudara tidak bersyukur –setidaknya saya seperti itu. Namun entah bagaimana, karena satu hari sebelumnya dilewati dengan puasa, ada latihan untuk terus-menerus pikirnya ke Tuhan, maka ketika besoknya saya menemukan kondisi gowes dengan jalanan yang becek tetapi tidak hujan –artinya lembab, dan ini tidak enak untuk gowes karena tidak bisa maju terus, badan basah, susah napas—somehow saya bersyukur bisa gowes; dan ini bukan sesuatu yang normal. Saya di situ langsung mengatakan kepada diri saya, gile, ternyata puasa benar-benar ada efeknya.
Puasa itu benar-benar ada efeknya; karena ini momen kita mencapai ujung kelemahan kita, kita sadar seberapa kita lemah, dan dalam momen seperti ini kita lebih sadar akan kekuatan dan berkat Tuhan yang selama ini Tuhan berikan kepada kita. Ini berarti waktu saya puasa, saya berpuasa bukan karena saya kuat, saya puasa karena saya lemah. Puasa ini alat bantu. Kalau bukan karena puasa, saya tidak bakal sebegitu cepatnya apa-apa mikirin Tuhan. Karena saya berpuasa, maka sedikit-sedikit rasa lapar langsung mikirnya Tuhan, keluar doa yang pendek-pendek kepada Tuhan. Ini datang di dalam kelemahan, datang bukan karena saya kuat. Orang yang berpuasa, itu bukan karena dia kuat/hebat, melainkan karena dia lemah. Jadi pertanyaannya bukan ‘koq sanggup puasa sih kamu?’melainkan ‘koq kamu bisa/sanggup tanpa puasa mengingat Tuhan, bagaimana caranya, koq bisa seperti itu, apa rahasianya??’ Saya ini perlu puasa simply untuk mengingat Tuhan, membingkai penderitaan-penderitaan dalam dunia ini dengan sesuatu yang Tuhan berikan dalam tangan-Nya yang baik; saya butuh itu ternyata, dan saya baru sadar, koq, bisa ya, selama ini saya hidup di dalam dunia, atas kekuatan apa?? Saudara, inilah puasa.
Saudara mungkin pikir Kekristenan (atau GRII) yang kembali ke Alkitab, anti pengalaman. Tidak, Saudara. Kita bukan anti pengalaman, kita anti pengalaman yang error, yang tidak alkitabiah. Pengalaman tadi, pengalaman yang alkitabiah. Saudara bisa mengangguk-angguk mendengar cerita saya, namun akan sangat lain kalau Saudara mengalami sendiri. Pertanyaannya, Saudara cukup mengalami keindahan Kristus bagimu atau tidak, sehingga engkau mau menyerahkan kontrol ini ke tangan Allah? Kita ini bukan puasa karena kita kuat, kita puasa karena kita lemah. Dan, kalau kita tidak puasa, kita mengandalkan kekuatan siapa sebenarnya?
Betapa sedihnya, hari ini kita melihat banyak aliran Kristen seperti sudah melupakan dan membuang hal ini; bahwa menjadi Kristen itu selalu tambah kaya, tambah kuat, tambah ini dan itu. Dan, ini bukan cuma problem gereja seberang. Mungkin gereja seberang mengatakan tandanya ada Roh Kudus dalam hidupmu adalah saya tidak pernah sakit, tidak pernah lapar, tidak pernah lemah, tidak pernah miskin; tetapi bukan berarti kita tidak terjebak dengan ini. Berkali-kali saya mendengar dari Saudara-saudara sendiri yang mempertanyakan adanya Roh Kudus dalam hidupmu atau tidak, ketika engkau merasa lapar, ketika engkau merasa lemah, ketika engkau merasa miskin, ketika engkau merasa sakit, dengan bertanya, “Di mana Allah?” Betapa ini bertabrakan dengan Alkitab, bahkan dengan hidup Yesus sendiri. Dan saya kira inilah penghiburannya.
Yang terakhir, puasa Lent itu ada batasnya, berakhir pada Paskah, karena puasa ini tujuannya untuk mendekatkan diri kepada Kristus, bukan pada puasanya sendiri. Kalau puasa adalah sesuatu yang bagus pada dirinya sendiri, seperti mengurangi gula karena tubuh jadi lebih sehat, silakan Saudara lakukan itu sepanjang tahun, jangan cuma sebulan. Kenapa puasa Lent cuma sebulan? Karena puasa Lent ada tujuannya, yaitu Kristus. Tujuannya puasa adalah pesta. Kalau Saudara diundang ke sebuah jamuan makan, cara paling tepat untuk menghargainya adalah datang dengan rasa lapar. Rasa lapar itu memang melibatkan penderitaan, perut kriuk-kriu, kepala pusing, menahan diri dari snack-snack, dsb., namun pertanyaannya, maukah kita menahan diri sampai makan malam itu? Jawabannya tergantung Saudara percaya atau tidak bahwa teman yang mengundangmu itu bisa memuaskan hasratmu. Kalau Saudara sorenya ambil Indomie, crackers, dsb., berarti Saudara sebenarnya tidak percaya kepada temanmu bahwa dia bisa menyediakan makan malam yang cukup enak, baik, mengenyangkan. Saudara mungkin berasumsi meja mereka isinya cuma makanan-makanan yang boring, sedikit porsinya –dan Saudara berarti sedang menghina sang tuan rumah. Sebalinya kalau engkau datang dengan kelaparan, menunggu-nunggu bisa mulai dinner, lalu makan dan tambah lagi karena enak banget, itu satu konfirmasi bagi orang yang mengundang, bahwa ia dihormati para tamunya, para tamu datang dengan lapar, dan mempercayakan diri mereka untuk dipuaskan oleh si tuan rumah.
Demikianlah kehidupan kita dengan Sang Roti Hidup, Sang Air Hidup, kita ini cukup percaya kepada Dia untuk mengenyangkan hasrat hati kita, bahkan tubuh kita, atau tidak. Kalau engkau sulit percaya ini, engkau tinggal melihat bagaimana Ia telah terlebih dulu mempersembahkan tubuh-Nya bagi kita, Yesus ini bukan cuma Allah yang menyediakan pesta bagi kita, Yesus adalah yang menjadi pesta itu bagi kita. Dialah yang mengenyangkan kita.Tubuh-Nya dan darah-Nya adalah Roti dan Anggur bagi kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading