Dalam Khotbah Lent yang pertama, kita sudah membahas teks sentral masa Lent, peirazo Kristus di padang belantara, bahwa ini bukan kisah penggodaan, ini kisah pengujian, kisah di mana Yesus diungkap aslinya seperti apa, bahwa Dia adalah Anak Allah. Namun yang amazing, bukan cuma Dia adalah Anak Allah, tetapi juga Anak Allah yang seperti apa, yaitu Anak Allah yang ternyata rela membatasi diri dalam hal yang justru manusiawi, Dia menolak mengubah batu jadi roti.
Selanjutnya dalam Khotbah Lent kedua kita mulai membahas bukan cuma teologi sentralnya tetapi juga praktika sentral dari masa Lent, yaitu puasa. Puasa juga bukanlah urusan kita tahan diri dari pencobaan, melainkan momen kita diungkap aslinya seperti apa, bahwa kita ini manusia, yaitu manusia berdosa yang justru senantiasa kepingin jadi Allah. Kita manusia yang senantiasa punya mimpi bisa mengubah batu jadi roti, bisa mengubah sampah jadi emas. Kita manusia yang senantiasa berusaha mengubah manusia jadi dewa, maka kita pakai sosmed misalnya, untuk mengubah image diri menjadi kelihatan lebih barik daripada aslinya. Kita pakai AI untuk mengubah otak yang malas mikir dan malas kerja demi menghasilkan paper akademik yang berkualitas. Kita pakai pelayanan untuk mengelus-elus dada sendiri dan mengatakan, “Oh, saya masih dipakai Tuhan loh.” Dan seterusnya. Kita tidak rela jadi manusia.
Herannya, Anak Allah yang asli malah rela jadi manusia dengan segala keterbatasannya. Itu sebabnya poin dari puasa Kristiani bukanlah untuk melampaui kapasitas manusia, ‘keren loh, gua bisa ‘gak makan berapa hari’, melainkantujuannya malah untuk menarik kita turun dan menyadari betapa kita sangat butuh makan, betapa kita memang tidak mampu mengubah batu jadi roti, maka betapa kita bergantung kepada Tuhan. Kita berpuasa bukan karena kita mampu, kita berpuasa justru karena kita tidak mampu –tidak mampu untuk menyadari realitas, tanpa puasa. Paling gampang misalnya waktu Saudara membaca tulisan Paulus, “Inilah orang-orang yang tuhan mereka adalah perut mereka”, maka sebelum berpuasa Saudara akan pikir itu orang lain, namun begitu kita berpuasa, baru sadar bahwa kitalah itu –realitas terungkap. Inilah Gereja.
Dunia meneriakkan kemandirian palsu, “You, be you!” jadilah dirimu sendiri, lakukanlah apa pun, yang penting apa yang kamu like, follow, dan subscribe. Gereja membongkar realitas sesungguhnya, seberapa kita ini bergantung, lemah, membutuhkan Kristus, oleh sebab itu diri kita tidak sepenting itu, apalagi selera kita, karena ujungnya apa yang kita like ternyata tidak sepenting itu ‘kan, ujungnya yang kita like, yang kita rasa baik, ternyata sebenarnya jahat bagi orang/kelompok lain. Bahkan bukan hanya itu, apa yang kita like sering kali tidak baik bagi diri kita.
Jadi, di dalam dunia yang kita senantiasa mempraktikan –melatih—liturgi self centeredness ini, apa praktika alternatifnya? Macam-macam, tidak cuma puasa. Mulai dari dibiasakan mendengar apa yang kita tidak mau dengar, melakukan apa yang kita tidak mau lakukan, menyanyikan lagu-lagu yang kita tidak tentu suka. Itulah kehidupan Gereja. Dan herannya, semua penyangkalan diri seperti inilah yang membuat Gereja baru bisa berfungsi menjadi Gereja, karena memang karunia Allah baru sempurna dalam kelemahan manusia –sama saja dengan pengampunan dosa tidak bisa tanpa pengakuan dosa. Demikianlah Puasa Lent adalah masa satu tahun sekali Gereja dibangunkan kembali akan realitas ini. In some sense, momen Lent ini saya baru sadar merupakan momen semacam masa kebangunan rohani bagi Gereja. Hanya saja bukan kebangunan rohani sebagaimana selama ini kita imagine, yaitu momen ketika manusia-manusia maju ke depan menerima Tuhan; kebangunan rohani Lent adalah justru ketika manusia-manusia menyadari Tuhanlah yang mundur ke belakang untuk menerima kita.
Hari ini kita melanjutkan pembicaraan praktika Lent yang satu lagi, yaitu praktika kemurahan hati (generousity). Lent bukan cuma momen orang-orang Kristen berpuasa, melainkan juga momen mereka bermurah hati, membuka diri terhadap kebutuhan orang-orang lain. Dua praktika ini berhubungan, puasa dan amal, karena lewat berpuasalah Gereja-mula-mula menyisihkan uang untuk bisa diamalkan kepada orang miskin. Jadi jelas keduanya connected. Namun yang terjadi sering kali puasa yang mendapat attention dalam Lent, sementara generousity paling dicuekin. Ini tidak seharusnya, karena puasa Kristiani bukanlah sesuatu yang cuma urusan ke dalam, melainkan sesuatu yang harusnya juga melimpah ke luar, kepada orang lain.
Kita akan melihat bagaimana kedua hal ini berhubungan, puasa dan amal. Ada dua poin besar, yang pertama, kita akan melihat logikanya, kenapa puasa dan amal logis –teologis; yang kedua, kita akan melihat praktikanya, kenapa puasa dan amal juga praktis disatukan, kenapa dalam praktikanya sangat berhubungan satu dengan yang lain.
Yesaya 58: 6-8 ini salah satu teks yang cukup terkenal, satu peringatan terhadap praktika puasa dalam Alkitab, bahwa puasa yang alkitabiah harus ada pergerakan, dari manfaat yang sifatnya internal bergeser ke manfaat yang sifatnya eksternal. Puasa yang alkitabiah tidak bisa cuma bagi pembentukan rohani kita doang, melainkan harusnya juga berefek ke luar, kepada pembentukan dan transformasi Gereja, bahkan komunitas di sekitar kita. Inilah aspek puasa yang mungkin kita tidak sadar, bahwa puasa sesungguhnya suatu cara Alkitab untuk membawa turun justice, mishpat, keadilan sosial.
Kembali ke teks Yesaya tadi, apa konteksnya? Yesaya adalah seorang nabi; dan para nabi Israel itu muncul dalam konteks apa?
Kisah besar Perjanjian Lama adalah kisah Israel dipanggil Tuhan menjadi kerajaan imam, berarti menjadi penghubung antara Pencipta dengan ciptaan, dalam bahasa Perjanjian Baru yaitu untuk membuat kehendak Allah terjadi di bumi seperti di surga. Menjadi terang dunia, menjadi kota di atas bukit, pada dasarnya menjadi portal untuk surga bisa kembali bersatu dengan bumi dalam Kerajaan Allah. Dan, salah satu cara Israel bisa melakukan panggilan ini adalah lewat Allah menetapkan Israel menjadi sebuah model. Ini seperti kalau Saudara mau beli rumah, Saudara datang ke marketing-nya, di sana Saudara akan melihat prototipe model-model rumah yang menurut developer tersebut bagus itu kayak apa. Kira-kira seperti itulah Israel. Itu sebabnya kitab-kitab Taurat, lima kitab pertamanya ada banyak hukum yang selama ini kita pikir merupakan sesuatu yang mengekang, namun kalau Saudara pelajari lebih baik ini bukan hukum yang mengekang melainkan hukum yang membebaskan. Ini hukum yang begitu indah; dalam hukum-hukum sosial Israel, mereka dituntut untuk membuat model masyarakat yang adil.
Misalnya, ada hukum-hukum gleaning, di mana para pemilik tanah waktu memanen di tanahnya, mereka tidak boleh memanen semuanya, harus menyisakan sebagian di bagian luar untuk dipanen orang lain, yaitu orang-orang miskin, pendatang, dsb. Kalau kita terjemahkan dalam zaman hari ini, itulah hukum yang melarang maksimalisasi profit. Menarik ya, profit itu tidak boleh maksimal dalam Israel. Hal yang lain, misalnya hukum mengenai tahun-tahun Yobel, tahunnya para budak dibebaskan, tanah bahkan dikembalikan ke pemilik asalnya setiap 50 tahun sekali. Jadi ini sudah jauh mendahului pembicaraan dunia mengenai hak asasi manusia; dan banyak dari antara hukum-hukum ini bahkan bisa dibilang melampaui hak asasi manusia modern. Itulah yang ada dalam kitab Taurat. Israel diberikan hal seperti ini supaya mereka menjadi terang dunia, supaya lewat mereka bangsa-bangsa lain bisa melihat seperti apa sih gambaran keadilan sosial yang Tuhan inginkan terjadi dalam masyarakat dunia.
Namun tentu saja ceritanya berlanjut. Kita masuk ke kitab-kitab berikutnya, kitab Hakim-hakim, kitab Samuel, kitab Raja-raja, dan kita menemukan orang Israel akhirnya gagal dalam melakukan panggilan ini. Mereka bukan cuma gagal, kegagalan mereka itu dibingkai dalam satu kalimat yang diulang terus-menerus, bahwa pada akhirnya mereka menjadi sama seperti bangsa-bangsa lain. Mereka bukan cuma gagal 60% atau 70%, mereka gagal karena mereka malah menjadi sama dengan bangsa-bangsa lain, mereka menjadi prototipe rumah yang sama hancurnya dengan rumah-rumah gubuk di tempat-tempat lain. Di tengah-tengah konteks seperti itulah muncul para nabi.
Kembali ke Yesaya 58, Nabi Yesaya disuruh: “Serukanlah kuat-kuat, janganlah tahan-tahan! Nyaringkanlah suaramu bagaikan sangkakala, beritahukanlah kepada umat-Ku pelanggaran mereka … “ –blak-blakan-lah aja, beri tahu realitasnya. Apa realitasnya? Ayat 2: “… setiap hari mereka mencari Aku dan suka untuk mengenal segala jalan-Ku, seakan-akan mereka ini bangsa yang melakukan yang benar… “ –kayak lu beres aja. Lalu apa pertanyaan mereka? Ayat 3: “Mengapa kami berpuasa dan Engkau tidak memperhatikannya? Mengapa kami merendahkan diri dan Engkau tidak menghiraukannya?” Ya, karena pada hari puasamu engkau masih sibuk dengan urusanmu, dan kamu menindas semua buruhmu. Sesungguhnya kamu berpuasa sambil berbantah dan berkelahi serta meninju dengan tidak sewenang-wenang. Dengan caramu berpuasa seperti ini suaramu tidak akan didengar di tempat tinggi. Saudara lihat, problemnya apa? Keadilan sosial –lebih tepatnya ketidakadilan sosial.
Selanjutnya: Beginikah puasa yang Kukehendaki? Hari orang merendahkan diri dengan menundukkan kepala seperti gelagah, membentangkan kain karung dan abu sebagai alas tidur? Itukah yang kausebut puasa? Itukah hari yang disukai TUHAN? Lalu bagian yang tadi kita baca: Bukan! Berpuasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu-belenggu kelaliman, dan melepaskan tali-tali kuk, supaya engkau memerdekakan orang yang teraniaya dan mematahkan setiap kuk, supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!
Dan, kalau mereka melakukan puasa yang seperti ini, apa hasilnya? Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar –dari gelap ke terang– dan lukamu akan pulih dengan segera –sakit menjadi sembuh; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu –ada gambaran keamanan. Pada waktu itulah engkau akan berseru dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah, apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar makananmu sendiri. Gambaran apakah ini, Saudara? Puasa. Tetap ada puasanya, tetapi puasa yang tidak berhenti pada sekadar tidak makan, puasa yang kemudian memberikan makanan yang tidak dimakan itu kepada orang lain.
Selanjutnya: Maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari. TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan memenuhi kebutuhanmu di tanah yang gersang –tempat kering pun bisa jadi tempat di mana kebutuhan akan dipenuhi– engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan. Saudara perhatikan janji yang terakhir, ‘engkau akan seperti kebun yang diairi dengan baik’, dan ingat bahwa orang-orang yang diajak bicara ini adalah orang-orang yang hidup dalam iklim Timur Tengah padang belantara, yaitu engkau akan seperti a well watered garden, kebun yang irigasinya beres. Kebun yang irigasinya beres, itu jadi seperti apa? Akan berbuah. Dan, berbuah berarti buahnya bisa dinikmati dan menghidupkan orang lain. Gereja yang diairi oleh Tuhan, akan menghasilkan buah yang bermanfaat bagi orang-orang di sekitar mereka. Itulah puasa yang sejati. Inilah dimensi puasa yang kita perlu gandeng bersama-sama dimensi yang sebelumnya. Inilah dimensi puasa yang urusannya bukan terutama tentang kita, melainkan apa yang datang melalui kita bagi orang-orang lain, khususnya mereka yang berkebutuhan, mereka yang miskin.
Itu sebabnya sepanjang sejarah Gereja, Bapa-bapa Gereja melihat bagian ini, mengomentari hal yang seiring dengan ini. Misalnya Agustinus mengatakan: jangan pikir berpuasa tok itu cukup pada dirinya sendiri; puasa memang membangunkanmu (mengungkap realitas), namun tidak menyegarkan orang lain jika engkau hanya berpuasa tok, tidak melakukan apa-apa bagi orang-orang di sekitarmu. Lanjutnya: doa orang Kristen itu punya dua sayap –burung bisa terbang perlu dua sayap, tidak cuma satu. Lalu apa dua sayap yang bisa membuat doamu naik ke hadirat Tuhan? Agustinus mengatakan: yang satu adalah puasa, dan yang satu lagi adalah almsgiving, pemberian sedekah, amal, kemurahan hati, generosity. Seperti yang sudah sempat kita bicarakan dalam Khotbah di Bukit, tiga hal inilah saja yang Yesus bahas sebagai praktika Kristiani, yaitu doa, puasa, dan memberi sedekah. Agustinus menyatukan ketiganya dalam gambaran burung yang terbang.
Saudara, ini such an important reminder, karena dalam momen-momen saya berinteraksi dengan Saudara-saudara –tentu tidak semuanya– dalam minggu-minggu kita membicarakan puasa, di mana saya memperkenalkan tradisi puasa, hampir semua dari kita memikirkan puasa terlepas dari doa. Ya, okelah puasa ini, puasa itu, tetapi kita tidak terlalu memikirkan soal doa. Namun dalam Alkitab, puasa tidak cuma terikat dengan doa, puasa juga terikat dengan kemurahan hati. Bagi para penulis Alkitab atau pun Gereja-mula-mula, mereka akan merasa puasa yang tidak dibarengi dengan memberi, itu puasa yang aneh, puasa macam apa itu??
Kita bisa bayangkan kenapa dua hal ini terikat sedemikian rupa dalam Gereja-mula-mula, yaitu sederhana saja: dalam zaman itu –dan actually dalam mayoritas sepanjang sejarah manusia– yang namanya pelayanan sosial masyarakat (pelayanan kemasyarakatan), tidak dijalankan secara sentral sebagaimana hari ini. Urusan buang sampah, pemeliharaan anak-anak yatim piatu, rumah sakit, bahkan urusan penginapan bagi para pendatang, itu dijalankan oleh komunitas setempat, bukan oleh negara sebagaimana zaman kita. Dalam zaman Gereja apalagi, semua pelayanan sosial biasanya dijalankan oleh Gereja, termasuk edukasi (maka ada Sekolah Minggu, yang tadinya beneran sekolah). Saya mengatakan ini, bukan maksudnya kita sekarang harus menjalankan ini semua lagi. Ada alasan yang logis kenapa peran ini sekarang diambil alih oleh pemerintah, salah satunya karena pemerintah zaman sekarang modelnya sangat dipengaruhi Kekristenan, itu sebabnya mereka mengambil alih tugas pelayanan kemasayarakatan ini. Tetapi bayangkan seandainya pada hari ini semua pelayanan masyarakat oleh pemerintah itu lenyap, lalu karena kita membaca Alkitab maka kita merasa perlu mengambil tanggung jawab pelayanan sosial daerah sekitar gereja kita, anggaplah radius 3 km, maka kita harus galang dana berapa milyar, kita perlu gedung berapa luas, kita perlu staf beraapa banyak?? Tidak kira-kira banyaknya.
Itu sebabnya dalam zaman Gereja-mula-mula, zaman yang pelayanan sosial masyarakat masih sebagian besar dikerjakan oleh Gereja serta komunitas setempat, puasa merupakan salah satu cara paling praktis untuk mengisi kebutuhan tersebut. Saudara bayangkan kalau bisa mengajak seluruh jemaat berpuasa setiap hari Rabu dan Jumat, setiap minggu, setiap tahun 40 hari dalam masa Lent, lalu jemaat mengumpulkan budget makanan mereka pada hari-hari tersebut dan memberikannya kepada orang miskin, betapa ini cara yang sangat praktis untuk menggalang dana bagi pekerjaan Tuhan melalui gereja tersebut di sebuah kota/tempat. Inilah sebabnya bagi Gereja-mula-mula berpuasa dan beramal merupakan dua sisi koin yang sama, adalah aneh melakukan yang satu tanpa yang lain.
Dalam zaman early Christian ada satu kitab namanya The Shepherd of Hermas, semacam manual penggembalaan bagi Gereja-mula-mula yang ditulis sekitar awal abad ke-2, tidak terlalu jauh setelah dituliskannya Kitab Wahyu. Kitab ini tidak masuk dalam kanon Alkitab, sempat pernah di-consider untuk masuk tetapi tidak jadi. Dalam tulisan ini, Saudara menemukan suatu praktika di mana dikatakan untuk hitung berapa kira-kira harga makanan yang kamu akan makan kalau kamu tidak puasa, lalu jumlah tersebut –yang kamu hemat karena kamu puasa– diberikan kepada janda atau anak yatim piatu atau siapa pun yang membutuhkan. Yang menarik, kitab tersebut lalu mengatakan: “Supaya mereka yang menerimanya bisa diisi jiwanya (bukan cuma perutnya), lalu mereka akan berdoa bagimu di hadapan Tuhan.” Ini jangan dibaca sebagai urusan transaksional, ‘saya memberi amal bagi orang lain supaya dia mendoakan saya’; ini perlu dibaca dengan pengertian bahwa tindakan memberi dalam Gereja-mula-mula, orang miskin tidak diposisikan di bawah sebagai sasaran belas kasihan kita, kasihan ya, kita ‘kan di atas mereka, kita mampu dan mereka tidak mampu, jadi berilah kepada mereka. Orang-orang miskin ini diposisikan sebagai seseorang yang darinya kita membutuhkan doa-doa mereka, almost implikasinya adalah bahwa doa-doa mereka lebih didengar Tuhan dibandingkan doa kita. Dalam hal ini, soal setuju atau tidak setuju itu belakangan, intinya adalah dalam tuliasan se-early abad ke-2 pun kita sudah menemukan praktika ini, amal dan puasa bersama-sama.
Maju sedikit ke abad ke-4, Saudara menemukan tulisan dari seorang Bapa Gereja, Gregory of Nyssa, yang mengatakan demikian: apa yang engkau tahan dari perutmu (berarti konteksnya puasa), berikan bagi mereka yang lapar –kembali lagi ada dua hubungan antara puasa dan amal. Maju lagi, abad ke-6 di Perancis ada seorang bernama Caesarius of Arles, mengatakan: marilah kita berpuasa dengan cara ini, yaitu dengan membawa makan siang kita bagi mereka yang miskin, sehingga apa yang tadinya hendak kita makan, tidak kita tabung dalam dompet kita sendiri, melainkan kita tabung di perut-perut orang yang lapar. Kembali lagi dua dimensi tadi nyambung.
Itu semua hanya sebagian kecil dari tulisan tokoh-tokoh Gereja sejak awal, yang tidak pernah mau memisahkan antara berpuasa dengan kemurahan hati. Dan, ini sesuatu yang sangat masuk akal ketika Saudara menyadari Yesus sendiri mengatakan bahwa relasi dengan Tuhan tidak bisa dipisahkan dengan relasi antar sesama manusia. “Kasihilah Tuhan Allahmu”, tetapi juga “Kasihilah sesamamu”. Ingat juga perumpamaan barisan kambing dan barisan domba, dua-duanya bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, kapan kami pernah melihat Engkau miskin, lapar, terpenjara … ?” Dan jawabannya, “Ketika engkau memberi kepada mereka ini –mereka yang paling terpinggirkan, mereka yang paling tidak signifikan– engkau sedang memberikannya kepada-Ku.” Jadi, puasa simply adalah praktika ini, praktika di mana kita bukan cuma mengasihi Tuhan, kita pada saat yang sama juga mengasihi sesama kita. Demikian logika dasarnya.
Sekarang mengenai koneksi dalam praktikanya. Urusan logisnya, teologisnya, dasar Alkitabnya, sudah cukup jelas, sekarang kita akan membahas bagaimana hal ini bukan cuma masuk akal secara logika tetapi juga masuk akal dalam praktikanya, kenapa dua hal ini sangat masuk akal untuk disandingkan bersama-sama. Kita akan bahas tiga hal.
Yang pertama, karena puasa dan amal adalah cara untuk kita bisa berdiri bersama-sama dengan mereka yang miskin, dengan mereka yang lapar. Ini adalah cara untk membangun solidaritas dengan mereka yang miskin, yang lapar. Puasa itu Saudara memilih, bukan kewajiban. Puasa adalah engkau memilih untuk tidak makan, engkau memilih untuk merasa lapar. Ini simply cara untuk Saudara bisa mengingat dan menyambungkan dirimu dengan jutaan bahkan miliaran orang di dunia yang tidak makan dan lapar karena tidak ada pilihan. Mereka tidak memilih untuk itu, maka ketika kita memilih untuk lapar dan tidak makan, kita bisa nyambung dengan mereka.
Zaman ini memperoleh data sangat gampang. Ada sekitar 10% dari penduduk dunia –artinya 1 dari 10 orang yang Saudara temui– yaitu sekitar 700-800 juta orang, berada dalam level yang disebut extreme poverty. Ini bukan cuma miskin tapi melarat, pendapatan sehari di bawah 2 dolar, kira-kira 33.000 Rupiah (kalau yang miskin lebih banyak, sekitar 2 miliar orang, 1/5 atau 1/6 dari seluruh penduduk dunia). Ironisnya, pada saat yang sama di negara-negara berkembang atau negara-negara seperti kita, yang daerah urbannya seperti Jakarta, 40% makanan dibuang –dalam momen di mana 10% penduduk dunia sering kali tidak punya makanan. Kita sudah tahulah bahwa zaman kita ini zaman yang paling ironis, karena jutaan orang hidup tanpa makanan dan atap, sementara jutaan orang lainnya punya kelebihan makanan yang mereka tidak tahu harus diapakan maka mereka buang.
Pertanyaannya, apakah ada praktika dalam Kekristenan yang bisa membuat kita melakukan sesuatu di sini? Ada. Yaitu ketika kita memilih untuk tidak makan. Ketika kita memilih untuk menyangkal perut kita, hal ini punya efek terhadap hati kita. Ini sesuatu yang kita, sebagai orang modern, sangat susah memahami, bahwa tidak semua perubahan hidup datang melalui pemahaman –makanya kita tidak paham-paham karena bagi kita pemahaman itu nomor satu.
Saudara, sebabnya puasa begitu sentral bagi Gereja, zaman ke zaman, namun somehow mulai tergerus dan terpinggirkan 200 tahun belakangan, itu tidak lepas dari fakta bahwa 200 tahun terakhir ini kebudayaan dunia secara global memang sudah sangat terfokus pada urusan otak, gara-gara pengaruh Barat. Kita somehow hari ini tidak bisa lagi membayangkan bahwa perubahan hidup bisa terjadi dengan tidak melalui otak, tidak melalui khotbah, tidak melalui buku, tidak melalui podcast, tetapi melalui perut –perubahan yang terjadi melalui tubuh, teologi yang diserap melalui tubuh dan tidak cuma dipahami di otak.
Dalam relasi keluarga pun kita sebenarnya sudah memahami hal ini. Para istri sering diberitahu ‘jalan ke hati suamimu adalah melalui perutnya’. Dan, kita kadang tidak sadar bahwa itu bukan kalimat joke, itu beneran, dan itu berlaku bukan hanya bagi para suami, itu adalah jalan yang sesungguhnya Tuhan pakai bagi hati Gereja-Nya. Ini perlu kita sadari; dan ini sesungguhnya yang kita sebenarnya banyak dambakan dan minta. Kita mengatakan kepada para pengkhotbah: “Coba, tolong beri saya sesuatu yang saya bisa lakukan, dan tidak cuma pikirkan.” Sedihnya, ketika hal tersebut tiba, banyak dari kita yang minta-minta hal praktis pun ternyata masih terlalu terpengaruh pada fokus ke otak. Kita merasa kayaknya susah melakukan praktika-praktika ini karena merasa mana mungkin sih … kenapa sebegitu pentingnya ya, praktika-praktika seperti ini… kayaknya enggak kayak begitu deh. Namun realitasnya adalah demikian, bahwa menyangkal perut itu membawa sesuatu kepada hati kita. Selagi kita merasakan rasa lapar dalam tubuh kita, kita mulai merasakan sesuatu yang lain dalam hati kita. Kita mulai merasakan rasa sakit yang ada dalam hati Tuhan –dan bukan dalam perut kita doang. Kita mulai merasakan belas kasihan Tuhan kepada mereka yang lapar. Kita mulai melihat orang-orang miskin di tengah-tengah kita bukan lagi sebagai orang-orang stranger yang tidak dikenal, bukan lagi hanya sebagai sasaran perasaan kasihan tok, tetapi bahkan mungkin sebagai orang-orang yang senasib sepenanggungan, mungkin sebagai sasaran tanggung jawab –bukan cuma perasaan kasihan.
Waktu saya puasa dalam momen KKR Siswa beberapa waktu lalu, ketika pulang saya ditawari makanan oleh Pak Calvin. Saya bilang bahwa saya lagi puasa. Lalu dia bilang, “’Gak apa-apa, bawa pulang aja, Jeth, ini enak banget loh.” Saya yang lagi puasa ditawari kayak begitu; sudah kelaparan dan ini dan itu, dia masih ngomong kayak begitu. Di situ rasanya saya ingin marah kepada Pak Calvin, namun di sisi lain saya juga jadi bisa lebih bersimpati/bersolidaritas dengan orang-orang muslim. Saya tadinya selalu pikir orang-orang muslim yang berpuasa dan minta restoran-restoran pasang tirai sebagai toleransi, seperti ini: emangnya kenapa, Lu yang puasa, kenapa musti susahin orang lain?? Tetapi waktu saya sendiri berpuasa, dan ditawari makanan, dengan gayanya itu, saya jadi sadar memang ada masuk akalnya untuk tidak menawari makanan kepada orang yang memang sedang puasa. Saya jadi ada simpati. Kenapa bisa? Karena dari perut naik ke hati.
Contoh yang lain. Banyak dari kita salah satu kekhwatirannya adalah mengenai pendidikan anak. Salah satu alasan orang menunda pernikahan, atau sudah menikah tetapi menunda punya anak, yaitu karena khawatir tidak punya cukup uang untuk anak-anaknya. Popoknya mahal. Susunya mahal. Dan, yang paling horor adalah uang pangkal sekolahnya ‘gak kira-kira. Ini kekhawatiran level yang pertama. Omong-omong bagi para pasangan yang bergumul soal ini, saya ingin sampaikan satu hal, yang kalian harus tahu adalah pergumulan seperti itu kind of pointless karena uangmu pasti habis anyway untuk anak-anakmu. Engkau punya 20 juta, pasti habis buat anak-anakmu. Engkau punya 100 juta, pasti habis buat anak-anakmu. Jadi kalian tidak usah terlalu memikirkan ‘tidak punya cukup uang’ karena ujungnya kalian tidak akan pernah punya cukup uang, karena tidak mungkin kalian tidak beli yang terbaik untuk anak-anakmu. Kalau pun uangmu banyak sekali, bayar sekolah termahal pun masih ada sisa, sisanya itu pun kalian akan invest untuk suatu hari anakmu –lagi-lagi– bisa ada jaminan masa depan.
Ketika kalian sudah spend begitu banyak uang bagi anak-anak, maka muncullah kekhawatiran level yang kedua. Misalnya kita sudah mengusahakan anak-anak dapat sekolah yang bagus, dan sekolahnya memang benar-benar bagus. Lalu ketika masuk ke situ dan melihat-lihat, kita mulai merasa, ‘aduh, koq di sini Chinese semua ya’, dan kita mulai khawatir apakah anak-anak bagus atau tidak dididik di lingkungan kayak begini, apalagi di situ semuanya Chinese kaya. Hal lain lagi, misalnya kita mengusahakan anak-anak tinggal di rumah yang bagus, di dalam cluster, yang AC selalu menyala, tidak pernah mati lampu, air selalu hangat, lingkungan selalu bersih, selalu aman, tidak pernah terlihat orang miskin, bahkan tidak pernah tercium bau busuk. Lalu kita mulai khawatir lagi akan anak-anak kita yang hidup dalam kelimpahan seperti ini, kita khawatir mereka akan take it for granted, kita khawatir mereka merasa inilah yang normal. Lalu kita mengatakan kepada mereka, “Anak-anak, ini ‘gak normal loh. Kalian ini dapat anigerah yang luar biasa, orang lain hidupnya tidak kayak begini.” Menurutmu, apakah meraka bakal dengar perkataan kayak begini? Tidak bisa! Dan, ini bukan karena mereka dodol, tetapi karena bagaimana pun juga mereka tidak melihat itu.
Tim Keller mengatakan, hal yang bersifat video selalu mengalahkan yang audio. Bayangkan Saudara sedang nonton video YouTube di HP, lalu orang lain bicara (audio), yang mana yang akan masuk dalam perhatianmu? Tentu video. Entah Saudara ngomong berapa juta kali sampai mulutmu berbusa, “Anak-anak, hidupmu ini luar biasa loh, ‘gak normalnya loh”, mereka tidak akan bisa dengar. Bukan salah mereka juga, karena yang normalnya mereka lihat setiap hari memang adalah kelimpahan. Itulah dilema menjadi orangtua, kalau kita tidak memberikan mereka yang terbaik, aneh rasanya, jadi orangtua jahat rasanya; lagipula kelimpahan yang Tuhan berikan adalah berkat Tuhan, bukan sesuatu yang jahat, itu sesuatu yang memang harus dinikmati. Tetapi bagaimana caranya supaya mereka tidak melihat kelimpahan sebagai hak (ini problem generasi muda dalam setiap zaman ‘kan, sense of entitlement)? Bagaimana bisa menikmati berkat Tuhan dalam kelimpahan, namun tanpa kena efek jeleknya, tanpa terjerat penipuannya yang mengatakan ‘ini bukan berkat, ini hak’? Kita sering kali merasa powerless dalam hal ini. Kenapa? Sekali lagi, karena kita selalu fokus di otak. Ada cara yang lain, Saudara, ada praktikanya; apa itu? Salah satunya dengan puasa.
Saudara, ada keluarga-keluarga yang menerapkan tradisi yang mereka namakan ‘rice and beans dinner’, setiap Jumat mereka hanya makan nasi dan kacang. Mereka melakukan yang disebut restricted diet, karena anak-anak yang masih kecil tidak mungkin puasa total. Mereka melakukan ini secara sengaja. Demikianlah setiap hari Jumat mereka cuma makan nasi dan kacang, sembari sang orangtua mengajari anak-anaknya, inilah realitas bagi banyak orang di berbagai belahan dunia. Tentunya tidak cuma itu, terkadang engkau bisa mengajak anakmu ikut mission trip, baksos, dsb. Tetapi itu cuma sekali-sekali, sementara puasa bisa dilakukan rutin sebagai bagian reguler dari kehidupan kita. Dan kita tahu, bukan cuma anak kecil yang butuh ini, orang dewasa pun butuh. Intinya, pembentukan memang bisa datang melalui perut, urusan perut memang mengarah ke hati. Manusia itu mesin hybrid, kerohanian kita intertwine dengan ketubuhan kita; tubuh kita penting sekali bagi kerohanian kita.
Ini yang pertama, sebabnya puasa dan amal masuk akal, yaitu karena puasa dan amal akan membuat engkau lebih bisa bersolidaritas dengan orang-orang miskin.
Salah satu cara lain, ada sebuah keluarga yang bukan cuma berpuasa doang, tetapi juga selama masa Lent mereka taruh kantong di pinggir kulkas yang mereka namakan ‘the neighbour fund’, dan penghematan uang hasil puasa mereka masukkan ke kantong itu. Waktu memasukkan uang itu, mereka tidak langsung tahu ujungnya uang ini buat apa, namun mereka melakukannya. Dan, ketika engkau melakukan itu, engkau berpuasa dan mulai merasakan lapar, engkau mulai merasakan hatimu lebih terbuka kepada orang-orang lain, dengan sendirinya engkau bisa lebih melihat kebutuhan yang ada di sekitar hidupmu. Begitulah selama 40 hari itu, dan dalam minggu-minggu terakhir biasanya keluarga ini akan tahu uang tersebut mau mereka pakai buat apa. Inilah suatu video, dan bukan cuma audio, yang bisa mempengaruhi bagaimana sebuah keluarga menjadi pelaku firman dan bukan cuma pendengar firman. Urusan perut, itu mengarah ke hati.
Demikian hal yang kedua, bukan cuma sebagai solidaritas, berdiri bersama dengan orang-orang miskin, tetapi juga berbagi dengan mereka. Ini kita sudah melihatnya secara prinsip sejak tadi, kita sudah mengatakan berkali-kali bahwa puasa makanan bisa diubah menjadi momen untuk memberi bagi mereka yang miskin.
Yesaya tadi mengatakan mengenai kita menjadi kebun yang diairi dengan baik (well watered garden), tetapi kita toh tidak melihat diri kita seperti itu, kita seringkali merasa sangat terbatas secara kapasitas untuk bisa memberikan kepada orang lain, entah itu uang, energi, atau waktu. Kita masih harus bayar KPR, kita harus menabung untuk kuliah anak. Kita ada kelelahan karena constant burnout kerja pada zaman hari ini. Itu sebabnya cara untuk bisa memberi di dalam konteks keterbatasan, memang dengan berpuasa. Dan, berpuasa bukan cuma puasa dari hal-hal yang baik, seperti makanan, makan siang, makan malam, dsb., tetapi juga bisa dengan berpuasa dari hal-hal yang kita sesungguhnya tidak terlalu membutuhkan, tetapi sudah jadi habit. Dalam hal ini, dua yang paling atas tentu rokok dan miras, namun mungkin tidak banyak dari kita yang terjangkit urusan begituan. Daftarberikutnya misalnya kopi, teh, permen, soda, soft drink, dan segala makanan yang kita beli terutama demi lidah, bukan demi perut. Kalau Saudara dalam 40 hari tidak beli semua ini, kita mungkin akan kaget dengan seberapa banyak jumlah uangnya; dan seberapa banyak dari kita dalam keterbatasan kita mengatakan kita tidak punya, kita mepet, kita tidak bisa memberi kepada orang lain, namun ternyata yang selama ini kita spend hanya demi lidah kita tok. Puasa mengungkap realitas.
Dalam tradisi Katolik, kebiasaan memberi sudah lebih jauh dibandingkan kita –kita perlu belajar dari saudara-saudara kita ini– yaitu mereka bukan hanya berpuasa pada hari Jumat dalam masa Lent, tetapi juga pada hari puasa itu mereka memberi waktunya untuk melayani orang lain. Ini sesuatu yang tidak semua dari kita gampang melakukannya, kita musti cari dan bergumul akan hal ini. Yang mereka lakukan hari Jumat itu misalnya mengadakan dapur umum, di mana orang-orang bisa melakukan penyediaan makanan, memasak, cuci piring, atau apa pun, bahkan simply ajak ngobrol orang-orang yang datang untuk makan, juga baksos, dsb. Mereka memberi waktu, dan tidak cuma uang; dan kenapa mereka bisa memberi waktu? Karena puasa. Kalau Saudara tidak makan, itu bukan cuma menghemat uang tetapi juga menghemat waktu. Belanja makanan, memasak makanan, menghidangkan makanan, cuci piring setelah makan, bahkan juga istirahat siang karena kekenyangan habis makan, semuanya pakai waktu, yang bisa dihemat ketika kita berpuasa, lalu waktu-waktu ini bisa kita pakai untuk memperhatikan orang lain. Ini sesuatu yang kita perlu belajar. Kemurahan hati/amal Kristiani dalam Lent itu tidak dimulai dan berakhir dengan transfer dana. Ini sesuatu yang kita perlu ingat. Bahkan kalau kita cuma transfer dana, bisa jadi itu malah cara kita melarikan diri dari kemurahan hati.
Saya pernah dengar cerita dari seorang pendeta bernama Tyler Staton. Waktu kuliah dia belum punya pemasukan yang cukup, sehingga kalau mau pindah rumah, dia harus mengandalkan sahabatnya. Si sahabat namanya Mike, dan dia mengatakan, “Inilah caranya engkau tahu who is your true friend; your true friend is the one who help you move.” Pertamanya Mike membantu dia pindah dari satu tempat ke apartemen. Ketika itu Tyler baru menikah, pindah ke apaertemen yang sempit, dan dia bawa sofa. Sofanya ini gede setengah mati, dan apartemennya ternyata tidak ada lift, tetapi memang cuma naik satu lantai. Tangga apartemen itu persis 1 cm lebih lebar dari sofanya, maka mereka berdua setengah mati mengangkat sofa itu sampai ke atas. Sofa itu sampai sudah kayak orang tua bijaksana yang banyak guratan-guratan di dahi, karena sofanya sudah jadi baret-baret di sini-sana. Suatu hari karena pindah tempat kerja, dia pindah lagi ke apartemen lain. Mike pun datang lagi, membawa sofa itu lagi, turun dari apartemen lama lalu naik ke tempat yang baru. Saudara bisa bayangkan seperti apa. Pindahan yang keempat kali, Tyler sudah punya income yang bagus, jadi dia tidak perlu minta tolong Mike lagi, tinggal telepon perusahaan spesialis pindahan, bayar, berikan kunci, lalu pergi sarapan, dan waktu balik sudah beres, dia hanya perlu unpack semua boks-boks yang sudah tertumpuk rapi. “Inilah, kenapa kita suka dengan uang,“ kata Tyler, “Karena uang membebaskan kita dari segala keterikatan dengan manusia lain. Kita tidak perlu lagi begging–begging pada Mike, tidak perlu lagi atur jadwal ‘kapan jadwal Lu yang cocok dengan jadwal gue’, tidak perlu lagi ‘gak enakan karena minta tolong terus, merepotkan. Kita juga tidak perlu lagi teriak-teriak karena jari kita terjepit waktu bawa sofa itu ke atas, kaki kita tertiban, dsb. Semua itu ‘gak perlu lagi! Kita simply tinggal bayar dan terima jadi! Enak, ya.” Saudara, itulah sebabnya uang menarik. Kehidupan kayak begitu memang kehidupan yang tidak ada tetek-bengek, tetapi juga tidak ada relasinya. Hari ini, dalam kehidupan kita yang relatif berkecukupan, kita juga musti bertanya, ada ‘gak persahabatan dalam hidup kita yang begitu erat, yang kita bisa merasa they got your back and you got their back?
Namun bukan itu poinnya; poinnya adalah: kemurahan hati tidak dimulai dan berakhir dengan urusan transfer dana. Bukan itu. Karena urusan uang sering kali menipu kita, berpikir kita sudah memberi dengan kita memberi uang ke orang lain, namun mungkin itu sebenarnya hanyalah cara kita melepas tanggung jawab kehadiran kita dalam hidup orang tersebut. Kemurahan hati dalam nama Yesus, itu dimulai dengan kehadiran; kehadiran kita dalam hidup orang lain, dan kehadiran orang lain dalam hidup kita. Ini bukan sesuatu yang cuma bermasalah buat Saudara, ini sangat bermasalah buat saya. Waktu kita berpuasa, kita mulai melihat orang-orang yang selama ini tidak kelihatan dalam hidup kita, seperti tadi saya mulai bisa melihat orang-orang muslim yang berpuasa.
Disiplin kemurahan hati dalam Lent dimulai dengan ini: menghadirkan diri di antara orang-orang yang sering kali dengan mudah kita cuek; dan ini datang dari mana kalau bukan dari perut. Ketika engkau merasa lapar waktu puasa, coba pakai waktu itu untuk keliling kompleksmu –dengan rasa lapar itu– minta Roh Kudus membawamu melihat apa yang selama ini tidak kelihatan oleh matamu. Saya berani jamin rasa lapar itu akan mengarahkanmu ke tempat-tempat yang selama ini terlewat dari matamu. Ini jelas tidak nyaman. Kehadiran diri, jelas lebih bayar harga dibandingkan memberi uang. Tetapi uang tanpa kehadiran, itu bukan cuma ‘gak ngefek, itu bahkan berefek jelek. Uang tanpa kehadiran, itu hanya mengokohkan rasa malu dari si penerima, rasa tidak berguna dari si penerima, dan juga mengokohkan sindrom juruselamat dari si pemberi.
Di mana pun kita berada dalam strata ekonomi masyarakat, kita bisa melakukan ini. Panggilan untuk bermurah hati bukan cuma panggilan bagi mereka yang super tajir atau super nganggur. Puasa, itu membebaskan dana, dan juga membebaskan waktu.
Saya sempat mengobrol dengan seorang jemaat, dia bilang mau coba puasa IG dan Netflix. Yang menarik, dia mengatakan alasannya dia puasa hal-hal itu karena waktu yang biasa dia pakai buat hal-hal tersebut, dia bisa pakai untuk memperhatikan orang lain. Itulah kunci, saudara, kehadiran. Kehadiran itu kunci. Saudara bisa pakai masa Lent untuk minta Tuhan membuka matamu kepada orang-orang yang selama ini di depan matamu namun engkau tidak lihat. Saudara bisa memberi kepada Bala Keselamatan. Saudara bisa memberi kepada orang-orang dalam komunitasmu. Engkau bisa membelanjakan kebutuhan sehari-hari bagi orang-orang yang kau kenal. Engkau bisa drop paket bagi orang-orang, tanpa nama. Engkau bisa mengunjungi orang-orang yang tua yang membutuhkan kehadiran. Engkau bisa bayar biaya obat atau biaya rumah sakit seseorang. Jadi ada banyak macam. Tetapi ujungnya yang penting bukan transfer dananya, yang penting adalah kehadirannya.
Ini membawa kita kepada hal yang ketiga/terakhir. Puasa dan amal sangat logis, sangat praktis, untuk dibarengkan, bukanlah cuma karena ini membawa kita bersolidaritas dengan orang lain, bukan cuma ini membawa kita jadi memberi kepada orang lain, baik dana atau pun waktu, tetapi juga hal yang ketiga, yaitu puasa dan amal menjadi tindakan protes kita, sebuah aksi demonstrasi, terhadap dunia yang rusak dan jahat. Inilah aksi demo-nya orang Kristen.
Saudara tentu tahu istilah hari ini yang namanya slacktivism; slack (malas)dan activism –aktivisme yang malas. Jadi dalam era digital ini banyak sekali orang bicara mengenai keadilan sosial, tetapi bicaranya cuma di sosmed tok, ngomel-ngomel tok; dan ujungnya sering kali bukan karena peduli, melainkan simply yang disebut dengan istilah baru dalam era digital ini, yaitu virtue signaling. Saya dapatkan definisi virtue signaling ini dari internet, yaitu tujuan utamanya mendapatkan pengakuan sosial sebagai individu yang baik dan berbudi luhur, daripada karena keyakinan tulus; ini sering dianggap munafik atau dangkal karena jarang disertai tindakan nyata. Itulah virtue signaling, complaint slacktivism.
Beberapa disclaimer. Waktu kami sebagai pendeta mengkritik slacktivism seperti ini, mengkritik orang-orang yang ngomong tok, sangat mudah orang mendengar kami lalu jadi berbalik menuduh pendeta-pendeta sebagai tipe orang yang melakukan hal yang sama, “Lu kerjanya juga cuma ngomong tok”, dan lebih parahnya, “Lu ambil uang jemaat untuk ngomong tok.” Dalam hal ini saya cuma ingin merespons sedikit saja; Pendeta Ivan Kristiono merespons dengan mengatakan begini: Pendeta ngomong tok? Pendeta ngomong dengan pasangan yang hampoir cerai lalu mereka tidak jadi cerai; itu ngomong tok? Omong-omong ini juga ada hubungannya dengan panggilan kenabian dalam Perjanjian Lama, yang basically meneriakkan kebenaran tetapi tidak melakukan apa-apa selain itu. Tetapi bagi nabi-nabi tersebut, meneriakkan kebenaran di pelataran istana atau di Bait Allah, itu taruhannya nyawa. Ini just klarifikasi saja bagi kita yang mungkin kepikiran bahwa Gereja itulah pusatnya slacktivism. Tentu pasti ada, bukan tidak ada, namun Saudara tidak perlu melihatnya identik seperti itu.
Anyway saya bukan kepingin mengkritik slacktivism sekadar mengkritik tanpa bersimpati, saya ingin menjelaskan sedikit latar belakang dunia hari ini bisa ada slacktivism. Hal ini terjadi bukan cuma karena ada individu-individu yang virtue signaling, tetapi juga karena situasi zaman kita mengkondisikan seperti itu. Seorang pengkritik teknologi bernama Neil Postman menulis buku beberapa puluh tahun lalu, tetapi yang dia tulis itu mirip banget dengan zaman sekarang. Dia mencoba menelusuri sebenarnya apa sih teknologi pertama yang bikin efek jelak terhadap hidup manusia, yang bikin hidup kita hari ini senantiasa cemas (anxious). Dia mengatakan, itu bukanlah televisi atau telefon, melainkan telegram, karena telegram membuat pertama kalinya manusia bisa tahu kabar yang terjadi di belahan bumi yang lain secara instan. Sebelum zaman telegram, kalau USA serang Iran atau apa pun, kita tidak ada yang tahu, boro-boro peduli. Tentu berita akan menyebar, namun itu perlu waktu berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun, dan saat kita tahu mungkin perangnya sudah selesai, dsb. Inilah yang terjadi pada zaman sebelum telegram. Lalu apa efeknya setelah ada telegram? Yaitu Saudara mulai mengalami kondisi hidup modern hari ini, yaitu senantiasa mendengar bad news dari mana-mana, tidak terfilter, semuanya datang, dari belahan bumi mana pun bad news itu masuk ke kita habis-habisan.
Saya belum lama ini follow akun Warga Jakarta Barat karena ingin tahu berita soal banjir kemarin-kemarin itu, dan hasilnya hidup saya jadi miserable, karena saya jadi melihat segala macam tabrakan, mikrolet, motor gila, juga berantem-beranteman yang di-posting di situ. Tadinya saya tidak tahu, boro-boro peduli, tetapi gara-gara ini saya jadi melihat ya ampun, ternyata Jakarta Barat kayak begini… . Saudara, tidak ada yang berubah di Jakarta Barat ‘kan, yang berubah cuma kecepatan dan jumlah berita yang masuk ke mata saya. Itu saja. Apa efeknya? Bukan cuma Saudara dapat lebih banyak berita buruk daripada yang selama ini Saudara dapat, tetapi juga bahwa pada zaman sebelum telegram, berita buruk yang Saudara dapatkan hanya bersifat lokal, dan oleh karena itu ada sesuatu yang kita bisa lakukan, ada peran kita untuk membereskan problem berita buruk ini.
Sebelum telegram, berita buruk yang kita dengar bukan cuma lebih sedikit tetapi lebih lokal, misalnya rumah tetangga si A kebakaran. Misalnya berita itu muncul waktu kita lagi tidur. Tong.. tong.. tong.. Bangun! Bangun! Kebakaran! Mendengar itu kita langsung bangun, kita ambil ember, kita ikut antri menyiram rumah yang kebakaran itu. Bukan cuma kita, banyak orang lain yang juga datang. Keesokan harinya setelah api sudah padam, ada yang bawa makanan, ada yang bawa papan kayu supaya rumahnya kembali bisa dibangun, ada yang bantu memaku, dsb., dengan demikian terhadap berita buruk ini ada sesuatu yang kita bisa lakukan. Hari ini tidak demikian. Hari ini kita dengar berita buruk begitu banyak, dan hampir semuanya –bahkan boleh dibilang praktis semuanya– adalah berita-berita yang kita tidak bisa melakukan apapun. Efeknya apa? Kita menjadi manusia yang apatis. Atau mungkin kita tidak apatis; karena kita tidak tahan melihat berita buruk, kita merasa ada tanggung jawab untuk bertindak –tetapi kita tidak bisa ngapa-ngapain–maka kita akhirnya jadi manusia yang hidupnya diisi bukan dengan keinginan membereskan problem –karena memang tidak bisa– melainkan diisi dengan urusan komentar tok. Slacktivism. Adakah cara altenatif hidup di tengah-tengah masyarakat yang seperti ini? Ya. Dengan puasa dan amal. Itulah sesuatu yang kita bisa lakukan. Sadarkah Saudara akan hal ini?
Ada seorang pendeta Huguenot Perancis pada zaman Perang Dunia II bernama André Trocmé (dia tidak terkenal seperti Corrie Ten Boom). Kita tahu pada zaman Nazi, Jerman menginvasi negara-negara seperti Perancis dan belanda, dan ada orang-orang yang berani, yang menyembunyikan orang-orang Yahudi, karena para Gestapo Nazi mencari-cari orang Yahudi. André Trocmé waktu itu seorang pendeta di dusun kecil di Perancis. Ketika Nazi Jerman masuk ke Perancis, mengirimkan para Gestapo mencari orang Yahudi di berbagai tempat, salah satunya ke tempat Trocmé. Trocmé bukan menyembunyikan orang-orang Yahudi dengan cara disembunyikan di gudang atau atap, dia somehow berhasil menggerakkan seluruh jemaatnya –yang adalah seluruh penduduk dusun itu– untuk tidak memberitahukan siapa yang orang Yahudi dan siapa yang bukan. Orang-orang Yahudi di situ tidak disembunyikan, mereka simply ikut masuk dalam kehidupan sehari-hari di dusun tersebut. Para Gestapo tentu tidak goblok, mereka tahu ada ada orang-orang Yahudi di situ, tetapi setiap kali mereka tanya siapa yang orang Yahudi, semua orang desa itu tidak mau jawab. Lalu bagaimana? Mereka pakai ancaman, kalau tidak mau beritahu akan dibunuh, namun semua orang di situ tetap tidak mau memberitahu, lalu apakah mereka harus membantai semua orang di dusun itu? Tidak bisa juga. Ada beberapa orang yang akhirnya dibunuh, termasuk adik Trocmé, namun sisa dusun itu selamat, dan lewat pelayanan mereka ini 5000 orang Yahudi diselamatkan. Cerita yang jarang kita dengar ya, karena tidak terlalu spektakuler cara menyelamatkannya, yang simply dengan ‘gak ngomong, hiding in plain sight.
Poinnya di sini, Trocmé mengatakan: kamu harus cari cara-cara/langkah-langkah kecil untuk melawan kehancuran dan kerusakan. Dalam hal ini dia bilang, “Look very hard!” berusahalah keras, tetapi berusaha keras mencari apa? Cara-cara kecil, little ways –untuk mengalahkan kerusakan dan kehancuran. Selama ini kalau kita melihat berita buruk dunia yang hancur, kita terjebak dengan menginginkan untuk cari cara-cara besar yang bisa bikin perubahan. Kalau cara-cara kecil, kita katakan, “Yah, apalah gunanya satu orang saja?? ‘Gak bisa ngapa-ngapain… .”
Saudara, kita bisa ngapa-ngapain. Kita tidak mungkin membereskan problem kemiskinan atau kelaparan seluruh dunia, itu jelas, tetapi ada yang bisa kita lakukan. Kita bisa berpuasa, dan lewat puasa kita itu kita bisa memberi kepada orang lain. Ini cara yang kecil. Tentu kalau di antara kita ada orang yang punya pengaruh besar, yang bisa mencari cara-cara besar, silakan lakukan. Namun yang seperti itu paling hanya 1-2 orang dalam sebuah gereja ‘kan, sementara kita sisanya, ordinary people, kita bisa mulai bahkan hal-hal yang simpel seperti membereskan ranjang pagi-pagi (ingat khotbah Ordinary Time dua tahun lalu), menjadi langkah pertama pagi itu daripada kita main HP, dengan melakukan panggilan yang Tuhan panggil untuk kita lakukan, mengikuti hidup-Nya, menjadi pembawa keteraturan dalam kekacauan, mengubah chaos to order. Itu sesuatu yang simpel. Lalu apa yang terjadi? Waktu saya melakukan itu, yang terjadi adalah sisi ranjang sebelah sana langsung ikutan, istri saya ikutan membereskan bagian dia; dan ketika saya berhenti melakukan kebiasaan ini, dia juga berhenti.
Saudara lihat, kita ini punya pengaruh dalam hidup ini, kita ini punya tempat dan porsi kita masing-masing. Tetapi kita sering kali kita tidak melihat itu. Dan, inilah caranya kita bisa melakukan tindakan protes, aksi demonstrasi, tidak cuma ngomong tok: puasa dan amal. Bukan cuma bicara mengenai keadilan, tetapi melakukan keadilan. Bukan cuma mendengar firman, tetapi menjadi pelaku firman. Sekali lagi, caranya banyak. Saudara bisa memberikan kepada Salvation Army, Saudara bisa donasi langsung kepada orang. Saya tidak mengatakan dari mimbar ini ke mana yang persis yang akan kita sediakan –paling tidak, tidak tahun ini– karena saya tidak ingin kembali lagi jadi urusan dana yang penting. Bukan itu yang paling penting, Saudara. Saudara silakan buka mata lebar-lebar. Dengan mengalami puasa ini, dengan merasa lapar, hatimu akan melihat orang-orang yang selama ini engkau tidak lihat, untuk kebutuhan yang selama ini engkau tidak sadari. Dan, di situ engkau mungkin akan lebih mau untuk membantu. Jika engkau menjaga jarak, engkau mungkin tidak tergerak, tetapi ketika engkau membuka kehadiranmu bagi orang lain, engkau akan melihat dan tergerak untuk memberi.
Hari ini marilah kita coba minta kepada Tuhan akan hal ini. Waktu kita melakukan pemberian tersebut, kita bahkan bisa melakukannya sambil berdoa kepada Tuhan, “Tuhan, tolong berikan hati-Mu kepadaku, karena aku tidak punya hati-Mu. Aku tetap melihat orang-orang ini sebagai orang-orang yang bukan aku, aku tidak/belum melihat mereka sebagai keluarga-Mu atau keluargaku.” Kita berdoa demikian selagi kita melakukannya. Saya harap ini sesuatu yang membuat kita menyadari betapa kita adalah orang-orang yang sering kali mendukakan Roh Kudus, kita sering kali mendiamkan gerakan dari Tuhan dalam hati kita. Biarlah hari ini berbeda, karena saya tahu di antara kita ada orang-orang yang digerakkan oleh Roh Kudus, yang ingin taat kepada Tuhan, yang ingin melakukan apa yang jadi kehendak Tuhan. Marilah hari ini kita coba bicara kepada Tuhan, bicara kepada suami/isteri kita, anak-anak kita, apa yang kira-kira bisa kita lakukan, apa yang bisa menjadi puasa yang berkenan kepada Tuhan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading