Kita sudah memasuki Minggu ke-2 Masa Adven; bacaan kita hari ini seturut dengan Kalender Gereja Internasional.
Saudara, kalau seorang penguasa, atau raja, atau hakim –yang bisa menetapkan siapa bersalah dan siapa tidak bersalah, siapa harus menerima hukuman dan siapa harus menerima reparasi untuk bisa merasakan sedikit keadilan dari segala kerugian yang dialami– adalah seorang yang menghakimi bukan menurut penglihatan mata, bukan menurut gosip atau pendengaran telinga, bukan mengadili seturut kepentingan orang-orang tertentu yang bisa menyuap atau orang-orang tertentu yang bisa mengancam, maka berbahagialah negeri ini, berbahagialah dunia ini. Kalau yang menghakimi itu, yang mahakuasa itu, yang memegang hidup dan matinya setiap orang dalam suatu negeri, adalah seorang yang menghakimi orang yang lemah dengan adil, yang bukan hanya peduli keadilan bagi orang-orang kuat melainkan juga bagi orang-orang lemah, dan orang tersebut menjatuhkan keputusan yang jujur terhadap orang yang tertindas –bukan hanya bagi yang menindas dan bisa bayar dan bisa mengancam, tapi juga bagi yang tertindas dan tidak ada yang membela atau mau membela– maka berbahagialah negeri itu. Jika keadilan menjadi ikat pinggang dan simbol dari kekuatan, kesetiaan juga tetap terikat pada pinggang, dengan kata lain jika keadilan dan kesetiaan bukan hanya dihargai di mulut melainkan punya currency/value, jika keadilan, kebenaran, dan kesetiaan ada harganya, maka berbahagialah negeri itu.
Kalau kita melihat negeri kita, dunia kita, masyarakat kita, apakah seperti itu? Kalau kita melihat bencana banjir yang barusan terjadi, kalau kita melihat keluhan orang-orang yang terkena penyakit pernapasan karena polusi yang begitu tinggi di Bumi Serpong –yang sangat damai itu kalau kita melihat nasib mereka yang dirampas tanah adatnya oleh mereka yang bisa bayar, kalau kita mendengar jeritan orang-orang yang baru dihargai jadi pahlawan –itu pun di samping orang lain yang mungkin kurang patut dijadikan pahlawan– setelah dia mati, apakah kita akan mengatakan bahwa kita tinggal di negeri yang diperintah oleh keadilan, di mana keadilan menjadi kekuatan dan kesetiaan menjadi kekuatan? Barangkali tidak.
Namun barangkali kita juga akan mengatakan, di mana negeri seperti itu?? Di mana ada masyarakat yang keadilan dan kesetiaan betul-betul punya currency, betul-betul dihargai, dan bukan sekadar suatu cibiran di bibir saja, ahh… idealislah itu, itu hanya mimpi kosong orang-orang yang baru lulus kuliah, mimpi kosong orang-orang yang dibodohi oleh orang-orang yang sedikit pintar dan banyak culasnya, yang menyebarluaskan narasi-narasi keadilan tertentu dan mengatasnamakan rakyat, mengatasnamakan penindasan, tapi sebetulnya mereka sama saja. Dan, beberapa orang terprovokasi, berkobar-kobar hatinya, lalu ikut-ikutan repost konten, ikut-ikutan mendoakan yang dianggap sebagai korban.
Lalu kita, yang sudah makan garam mungkin lebih banyak dari makan nasi, jadi mulai merasa malu pernah mendoakan agar ketidakadilan suatu hari bisa dikurangi, malu pernah mendoakan agar penguasa suatu hari bisa lebih waras dan lebih punya hati nurani. Saya malu karena saya begitu lugu dan polos dan begitu bodoh. Saya begitu bodoh karena berharap negeri ini suatu hari bisa lebih menghargai kejujuran ketimbang ketegaan, lebih menghargai kesucian ketimbang kekayaan, kesuksesan, dan kehebatan. Saya malu kalau saya berharap anak-anak saya bisa jadi orang yang baik; impian macam apa itu?? Harusnya berharap walaupun anak-anakmu bengal dan bajingan, dia punya banyak follower dan dikagumi banyak orang karena dia itu hebat, inspiring, banyak yang menganggap dia luar biasa, dan dia disegani/ditakuti; harusnya bercita-cita begitu dong mengenai anak-anakmu, masa’ minta anakmu jadi orang baik, orang jujur, orang yang mengampuni?? Lembek itu; jangan-jangan kamu orang Kristen. Jangan-jangan kamu orang-orang yang menyebarluaskan moralitas budak seperti yang Nietzsche katakan itu, moralitas budak yang cuma iri sajalah pada orang-orang yang menang, pada orang-orang yang hebat. Mereka itu ingin dragging down orang-orang yang super, mereka tidak suka lihat orang-orang sukses, dan mereka mengganti kategorinya dari ‘menang/kalah’ jadi ‘benar/salah’, ‘baik/berdosa’, padahal mereka melakukan itu hanya untuk menutupi bahwa mereka itu kalah dan tidak bisa apa-apa, lalu membuat kekalahan dan kelemahan itu jadi suatu kehebatan moral, mereka bilang ‘berbahagialah orang-orang yang miskin’. Kode etika macam apa itu?? Yang miskin, ya, miskin karena mereka ‘gak punya apa-apa untuk ditawarkan dalam dunia ini –maka mereka makan sisa-sisa seperti Lazarus. Ya, pantas mereka ada di situ, lha wong orang lain sedang giat belajar –itu pun dari 100 yang giat belajar, yang sukses dapat nilai 100 cuma 2-3– anak-anak ini malah sibuk main karambol, sibuk main gaplek, sibuk entah ngapain, ‘gak jelas, lalu menyalah-nyalahkan masyarakat. Ya, pantas sajalah mereka itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuan-tuan yang sukses karena kerja kerasnya, kerja jujurnya. Itulah dunia ini, Bung. Kalau kamu bermimpi ada keadilan di dunia ini, saya harap kamu cepat-cepat bangunlah dari mimpimu itu, sebelum kamu mati atau menyebarluaskan candu masyarakat itu kepada lebih banyak orang, yang membikin masayarakat ini jadi lembek. Tapi mungkin juga ‘gak apa-apalah ya, karena kalau masyarakat lembek maka kompetisi berkurang; kalau kamu itu serigala dan macan dan singa, baguslah kalau lebih banyak lembu dan domba dan bayi-bayi –karena kamu ular.
Itulah sebabnya predator dan orang-orang yang licik cukup senang berada di gereja. Jadi kalau kamu di gereja menemukan ‘koq bisa ada orang yang ular banget kayak begini di gereja’, bangun, Mas, jangan bodoh; ya, iyalah, karena gereja itu kumpulan orang-orang baik, orang-orang polos yang menganggap dunia ini tempat yang aman, maka pantaslah serigala dan ular dan singa yang jahat bisa kamu temui di gereja. Orang di gereja itu easy target, membohongi orang juga gampang kalau di gereja. Coba saja kamu lakukan di casino, pasti susahlah. Kalau di Las Vegas atau Silicon Valley, ya susah bohongi orang –mungkin juga tidak sesusah itu, entahlah; intinya, kalau di gereja lebih gampang. Jadi kalau menemukan predator atau pedofil di gereja, atau juga orang-orang yang mencari mangsa bukan untuk kepentingan pribadi melainkan untuk kekuasaan, uang, ketenaran, pengaruh, atau apa pun, ya wajar saja. Orang-orang seperti itu berkumpul dalam religious establishment mulai dari zaman Herodes, mulai dari zaman Eli, mulai dari zaman dulu yang kita tidak ingat lagi, apalagi agamanya Kristen. Itu wajar saja, lha ditampar satu pipi malah diberikan pipi yang lain, koq.
Dalam masyarakat seperti itu, gampang sekali kita mendapatkan keuntungan, maka jangan heran kalau ada banyak serigala, ada banyak orang-orang yang ingin mengambil untung. Tetapi, dalam masyarakat seperti itu yang kita jumpai ternyata domba-domba dan lembu-lembu –dan bayi-bayi ini– juga tidak kalah jahat. Ternyata mereka itu mungkin cuma payah saja, jahat sih tidak, cuma kalah saja, sebagaimana ditelanjangi oleh Friederich Nietzsche.
Kemudian kita menjumpai bahwa jawaban Tuhan bukanlah bahwa orang-orang yang keras, yang cerdas, yang punya siasat, pada dirinya sendiri buruk dan pada dirinya sendiri harus dimusnahkan, lalu dunia ini harus diisi hanya dengan orang-orang penurut, lugu, gampang ditipu, dan bodoh. Ternyata bukan itu kehendak Tuhan. Ternyata Tuhan bukan menghendaki dunia ini diisi hanya dengan kelinci-kelinci, melainkan menghendaki bahwa suatu hari, ketika republik kelinci dan republik lembu dan republik domba itu membuktikan dirinya bahkan mungkin lebih jahat daripada republik singa dan serigala dan macan, Dia membangkitkan dari sisa-sisa, dari reruntuhan, dari puing-puing, dari tunggul pohon yang sudah ditebang itu, suatu tunas yang muncul dari tunggul itu. Dari sesuatu yang kita lebih expect muncul jamur –menandai pembusukan–ternyata Tuhan menjanjikan akan tumbuh tunas; dan Tunas itu yang menjadi awal dari pemerintahan Tuhan. Pemerintahan di mana yang tertindas, airmatanya ditampung dalam kirbat Tuhan, darahnya ketika berteriak ke langit didengar oleh Tuhan seperti darah Habel yang berteriak ke langit dan didengar oleh Tuhan, dan doa mereka yang putus asa tidak diteriakkan ke udara hampa, melainkan jatuh ke telinga Tuhan yang memimpin.
Tuhan akan membangkitkan dari tunggul Isai itu, dari reruntuhan dan puing-puing itu, dari project mangkrak sejak Abraham-Ishak-Yakub, dari project mangkrak Daud itu, suatu permulaan yang baru, natalitas –sebagaimana Hannah Arendt katakan. Pengharapan kita terhadap kemandekan dan kerusakan dalam dunia ini, pada akhirnya bukanlah kita memaknai mortalitas kita, memaknai eksistensi kita yang menuju kepada kematian, sebagaimana Martin Heidegger katakan ‘suatu lagu tentu akan jadi lagu yang buruk kalau berputar terus, sedangkan musik yang bagus menuju suatu telos tertentu dan akan berakhir dan menyisakan gema’. Tuhan memberikan lebih daripada itu karena kematian bukan kata akhir, kelahiran (natalitas) adalah pengharapan kita, sebagaimana samar-samar dicercap oleh Arendt dan dia tuliskan itu dalam The Human Conditions. Natalitas, bayi-bayi yang baru lahir, orang-orang yang baru yang bisa melihat perspektif yang baru, itulah yang kita harapkan. Menggemakan pengharapan Yudaisme, bahwa suatu hari akan ada dari salah satu bayi yang lahir dari seorang ibu, bayi itu kemudian akan diasuh dalam ajaran Tuhan, bayi itu akan menjadi Tunas dari tunggul Isai, Tunas yang akan menyelenggarakan pemerintahan Tuhan di bumi ini. Bayi itu sudah lahir –dan mereka sudah membunuh-Nya.
Bayi itu adalah Yesus dari Nazaret, yang sudah lahir, dan mereka sudah membunuh-Nya. Dia memang menghakimi tidak menurut penglihatan mata. Dia tidak menjatuhkan keputusan menurut gosip atau bisikan dari ring satu, ring dua, ring tiga, atau apa pun. Dia menghakimi orang yang lemah dengan adil. Dia membuat jadi terlihat bukan hanya mereka yang ada di depan kamera –para selebriti atau orang-orang sukses itu– tapi juga mereka yang tidak terlihat, membuat jadi visible mereka yang unvisible, membuat jadi heard mereka yang unheard. Dan, mereka membunuh Dia. Righteousness Yesus membuat Dia mati, disalibkan, diremukkan oleh mesin pemerintah Romawi, mesin politik Romawi yang membungkam orang-orang yang opponent terhadap pemerintahan. Tetapi, Tuhan tidak membiarkan Orang Kudus-Nya binasa atau tetap dalam dunia orang mati, Tuhan membangkitkan Yesus. Itulah cara kita merayakan nubuatan Yesaya.
Nubuatan Yesaya ini, kita orang Kristen pahami dalam kacamata kedatangan Yesus yang pertama, the adventus of Jesus yang pertama, tibanya kerajaan Allah yang sudah nyata dalam Yesus. Namun datangnya Kerajaan Allah itu memang belum penuh, kita masih menantikan datangnya Yesus yang kedua kali. Jadi Adven punya dua sisi, yang pertama adalah ucapan syukur karena Tuhan kerajaan-Nya sudah datang, seperti yang Yesus sendiri katakan dalam Markus 1:15, “Dengarlah Injil ini, Kerajaan Allah sudah datang, maka bertobatlah, berbaliklah dari jalanmu.” Berbaliklah dari jalanmu, hai orang Farisi, dari jalan agamamu, dari jalan self-righteousness-mu, dari jalan fundamentalisme kamu. Berbaliklah dari jalanmu, hai orang Saduki, dari jalan kompromi kamu, dari jalan sekuler kamu. Berbaliklah dari jalanmu, hai kaum Eseni, dari jalan ketidakterlibatan kamu, dari jalan mengasingkan diri terhadap dunia dan berharap seperti Yunus bahwa Tuhan akan menghajar dunia lalu spare orang-orang Eseni. Berbaliklah dari jalanmu, hai kaum Sikari, yang membawa belati ke mana-mana lalu dalam kerumunan menusuk prajurit Romawi terdekat, dan dengan demikian berperang di jalan Tuhan (berjihad) lalu merasa sudah memajukan datangnya pemerintahan Tuhan melalui belati mereka. Bertobatlah dari jalan itu, dan ikutlah Yesus. Itulah panggilan Yesus yang mendeklarasikan datangnya Kerajaan Allah.
Yesus itu adalah Yesus yang dikabarkan oleh Yohanes Pembaptis, yang mengatakan, “Dia akan datang setelah aku; aku hanyalah suara yang berseru-seru di padang gurun, aku tidak pantas membuka tali kasut Dia yang akan datang setelah aku. Dialah yang kitab nabi-nabi bicarakan.” Dan kita, orang-orang yang percaya Kerajaan Allah sudah datang dalam Yesus, Paulus katakan kita seharusnya dengan bersehati, dengan bersatu hati –hati adalah pusat keinginan, pemikiran, emosi, pusat dari segala diri kita, identitas kita– menerima penerimaan Allah itu. Allah sudah menerima kita di dalam Yesus, maka kiranya kita menerima juga penerimaan Allah itu. Demikian definisi iman menurut Paul Tillich, penerimaan atas penerimaan. Penerimaan Allah yang radikal atas kita di dalam Yesus, atas kita yang sebetulnya tidak bisa diterima (unacceptable), Tuhan menerima kita.
Kalau kita menerima penerimaan itu, kita menyambut datangnya Kerajaan Allah; dan ketika kita extend penerimaan itu kepada orang lain, kita extend Kerajaan Allah itu, Kerajaan yang datang di dalam Yesus. Perhatikan, bukan di dalam kita, bukan hanya melulu lewat ketaatan kita, bukan hanya melulu lewat kesuksesan kita mengikut Yesus, melainkan lewat pekerjaan Yesus, lewat Roh itu sendiri, yang sering kali kita lihat dalam Kisah Para Rasul mendahului ketaatan dari para murid, mendahului insight teologis dari para rasul. Roh itu membuka jalan, mendahului Petrus datang ke rumah Kornelius, menyeret Petrus ke rumah Kornelius, dan membuat mereka melihat realitas yang baru. Kita melihat datangnya Kerajaan Allah memang tidak bergantung kepada Gereja atau orang percaya, tetapi bukan tanpa mereka. Kerajaan Allah itu datang dengan mengundang kita untuk kita berpartisipasi. Allah memang berkehendak begitu. Dia tidak memerlukan kita namun Dia menginginkan kita untuk terlibat. Dia menciptakan jagat raya ini tanpa kita, Dia tidak menyelamatkannya tanpa kita –demikian kata Agustinus. Itulah yang kita saksikan di dalam Yesus.
Itu sebabnya kita sebagai umat Tuhan di zaman ini, ketika kita merayakan Adven yang kedua ini, kiranya kita mengarahkan pengharapan kita bukan pada kemenangan yang berikutnya, bukan pada kehebatan yang berikutnya, bukan pada kemungkinan kita securing posisi kita lewat segala taktik dan strategi, lewat segala bully dan koneksi, lewat segala manipulasi dan kelicikan, lewat segala kerajinan kita atau apa pun lainnya, melainkan kiranya dengan secure kita mengetahui bahwa Tuhan yang menjalankan pemerintahan, bahwa Tuhan melalui Mesias-Nya yang mati dan bangkit memang berkuasa atas dunia ini. Dan, kalau Dia berkuasa atas dunia ini, maka kita tidak perlu mengikuti jalan dunia ini, kita tidak perlu merasa berjasa meluaskan Kerajaan Allah lewat cara-cara dunia ini, karena Tuhan sendiri yang mendatangkan Kerajaan-Nya, Tuhan sendiri yang menghadirkan Mesias ketika tidak seorang pun merencanakan/memikirkan bahwa Kerajaan Allah akan datang lewat cara itu. Tidak seorang pun merencanakan bahwa tahun itu Tuhan harus datang dengan lewat seorang perempuan muda yang mengandung dan melahirkan bayi, dst. Tidak ada seorang pun yang memikirkan itu, perempuan itu tidak, suaminya juga tidak, imam-imam di Bait Suci juga tidak, tetapi Tuhan pada hari itu datang, sekonyong-konyong, dari atas, menghadirkan keadilan-Nya dan pengampunan-Nya, di dalam Yesus, yang dihadirkan di tengah-tengah kita.
Bagian kita sebagai Gereja Tuhan adalah menerima dengan ucapan syukur, menaruh percaya kita dan mengorientasikan hati kita, gerak langkah kita, keputusan kita, masa depan kita, di dalam datangnya Kerajaan Allah itu, di dalam datangnya rezim yang baru itu. Rezim dari Allah sendiri yang sudah datang 2000 tahun lalu, dan salah satu saksinya adalah Gereja Tuhan tidak tinggal reruntuhan walaupun sudah 2000 tahun. Kerajaan mana yang bertahan lebih dari 2000 tahun? Peradaban mana yang bertahan lebih dari 2000 tahun? Walaupun angka-angka tidak jadi jaminan, namun salah satu tanda bahwa Gereja dihadiri Tuhan adalah bahwa sampai hari ini kita menyaksikan tidak habis-habisnya Tuhan membangkitkan orang-orang yang percaya kepada Yesus. Tidak habis-habisnya Tuhan meregenerasi Gereja.
Kiranya ini menjadi ingatan kita, khususnya ketika kita hari ini merayakan Perjamuan Suci. Ketika kita melihatnya dengan mata kita, mendengar dengan telinga kita denting dari benda-benda yang dipakai, lewat hidung kita mencium aroma, lewat lidah kita merasakan tekstur serta rasa dari Roti dan anggur, kiranya Roh Kudus memakai semua tanda itu untuk membawa kita bersatu dengan Yesus, menerima datangnya Kerajaan-Nya –kerajaan keadilan, kerajaan kemenangan, kejujuran serta kesucian dan jadi jawaban dari teriakan orang-orang yang tertindas. Kiranya itu menjadi sesuatu yang riil dalam hidup kita, sesuatu yang meneguhkan kita di dalam Yesus.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading