Kita memulai seri yang baru, yaitu “Panggilan”. Sebagai introduksi dari seluruh seri ini, saya ingin memberikan sebuah disclaimer, yaitu jika Saudara mengharapkan pembahasan ini bersifat simpel, instan, spesifik, Saudara akan kecewa. Semua karya seni yang teragung, semua pemikiran yang tertinggi, semua musik yang terindah, bahkan semua kuliner yang terbaik, itu perlu waktu, baik dalam membuatnya maupun dalam menikmatinya.
Hal-hal yang terindah dan teragung dalam hidup kita, itu tidak pernah simpel. Hal-hal yang terindah dan teragung dalam hidup kita, selalu punya lapisan demi lapisan. Itu sebabnya hal pertama yang musti saya katakan sejak awal, jangan Saudara datang ke khotbah ini, yang karena temanya “Panggilan”, lalu mengharapkan setelah satu jam Saudara akan tahu, atau lebih tahu, harus ambil jurusan kuliah apa, atau bekerja di bidang apa, atau menikah dengan siapa, dst. Mungkin justru khotbah hari ini berhasil mencapai tujuannya, ketika setelah satu jam Saudara jadi lebih bingung, bukan lebih jelas. Mengapa demikian? Saudara akan melihatnya nanti.
Sebagaimana banyak seri pembahasan saya dalam khotbah maupun PA, dalam khotbah ini saya ingin memakai pendekatan yang slow burn. Kalau dalam KKR, kita memang harus cepat, harus langsung klimaks. Tapi itu KKR, bukan khotbah yang minggu demi minggu; sedangkan di sini kita bisa pakai pendekatan seperti serial TV, yang bisa berlangsung lama, bermusim-musim.
Hari ini kita mau membicarakan ‘panggilan’, mulai dari satu hal yang amat sangat mendasar; dalam arti saya ingin mengingatkan kepada Saudara, signifikansi utama mengenai ‘panggilan’, mengapa kita musti mengerti mengenai panggilan Tuhan dalam hidup kita. Dan sekali lagi, itu bukan karena dengan belajar mengenai ‘panggilan’, maka Saudara akan lebih jelas dalam hal pilih jurusan kuliah apa, kerja di bidang apa, atau menikah dengan siapa. Bukan itu, tapi pada dasarnya yang ini: karena tanpa Saudara dipanggil, Saudara tidak akan bisa mengenal diri Allah. Itulah signifikansi utamanya. Nanti suatu hari, kita tentu bisa bicara juga mengenai panggilan Saudara di bidang pekerjaan, dsb., tapi itu bukan yang terutama.
Hal yang terutama, yang mau kita bicarakan di sini adalah, bahwa tanpa Saudara dipanggil, Saudara tidak akan bisa mengenal diri Allah. Ini satu hal yang kedengarannya simpel. Saudara mungkin akan mengatakan, “Ya, saya sudah tahu, karena memang Tuhan yang mulai segala sesuatu, koq”. Tapi kita akan coba membongkar hal ini. Salah satunya, Saudara dapat melihat signifikansi hal ini dengan jelas kalau membandingkannya dengan dunia modern.
Hari ini dunia modern penuh dengan orang-orang yang melakukan semacam pencarian spiritual. Ketika Saudara melihat orang-orang ini, Saudara akan menyadari bahwa pencarian tersebut adalah inisiatif mereka sendiri, ide mereka sendiri; dan dengan demikian, tidak heran tujuan pencariannya juga kembali ke diri mereka sendiri. Kalau Saudara tanya kepada mereka, mengapa mereka mencari suatu sosok atau sebuah pengalaman keilahian/spiritual, maka jawabannya adalah karena mereka percaya, bahwa lewat pencarian seperti itu, mereka bisa menambal bolong-bolong, atau kebutuhan tertentu, atau kelemahan ini dan itu, yang mereka temukan dalam hidupnya, sehingga setelah itu mereka bisa kembali menjalani hidupnya dengan baik, bisa mencapai terget-terget mereka.
Waktu saya kuliah di Melbourne, salah seorang dosen, yang adalah Kepala Bagian Vokal Jurusan Musik, pernah menghilang beberapa minggu. Setelah kembali, dalam satu sesi rutin bersama para mahasiswa Vokal, dia memberitahu kami, bahwa dia baru selesai menjalani sebuah trayek ziarah di Eropa, berjalan kaki ke situs-situs spiritual di Italia. Dari bahasa yang dipakainya menceritakan itu, kami bisa tahu bahwa dia tampaknya sedang mencari sesuatu. Dia mencari sesuatu yang tidak disediakan oleh dunia modern yang serba teknologis, serba canggih –dan itu sebabnya juga akhir-akhir ini banyak orang yang merasa perlu back to basic, back to nature. Dia merasa perlu mencari sesuatu, karena ada sesuatu yang bolong di sini.
Dalam dunia modern ada nuansa seperti ini, ada kekosongan yang perlu ditambal, yang tidak bisa diisi dengan Facebook, Instagram, dll. –dan ini mengganggu kita. Itu sebabnya orang-orang modern pergi melakukan ziarah dan pencarian-pencarian rohani. Dosen saya tadi kemudian mengatakan, puncak dari ziarahnya adalah ketika suatu malam di atas gunung bersama peziarah-peziarah lainnya mengitari api unggun, dia tiba-tiba menangis tersedu-sedu. Dia bilang, dia sendiri tidak pasti mengapa dirinya menangis seperti itu, tapi seperti ada sesuatu yang keluar, yang lepas. Ada sebuah katarsis secara emosional, ada sesuatu yang terasa spiritual –dan, selesai di situ. Itu sudah puncaknya. Dia tidak merasa perlu ada sesuatu yang lebih daripada itu. Dia kembali ke Melbourne, kembali mengajar. Dia merasa seperti ada kesegaran spiritual yang baru setelah pelampiasan di atas gunung itu; dia bisa kembali ke hidupnya.
Saudara, inilah dunia modern. Adalah idenya dia sendiri, yang mau mencari hal-hal seperti itu; dan akibatnya, tujuannya pun kembali kepada diri dia sendiri. Namun yang ada di dalam Alkitab, sama sekali terbalik. Saudara tidak bisa mengenal Allah, tanpa Saudara dipanggil oleh Dia. Ide mengenai semua urusan ini adalah ide-Nya, dan bukan idemu atau ideku. Hal paling mendasar di dalam panggilan adalah Dia memanggil kita, dan bukan kita memanggil diri kita sendiri. Saudara mungkin merasa sudah tahu, tapi kita perlu membongkar implikasinya.
Yang pertama, jika bukan Dia yang memanggil kita, berarti kita tidak bisa menemukan Dia; boro-boro menemukan, mencari pun tidak. Dengan demikian, ketika Saudara dipanggil oleh Tuhan, itu berarti Saudara akan diberikan suatu agenda dan tujuan, yang bukan agenda Saudara.
Saudara akan diberikan suatu tujuan dan misi yang baru dalam hidupmu. Dengan kata lain –ini makanan pahitnya atau disclaimer-nya—jangan harap waktu mempelajari mengenai panggilan, Saudara akan dapat bantuan dari Tuhan untuk bisa lebih jelas mengenai agenda-agenda-mu, soal mau menikah dengan siapa, harus ambil jurusan apa, kerja di bidang apa, dst. Kalau Saudara menghampiri urusan mengenai panggilan Tuhan, dan Saudara datang dengan pendekatan seperti itu, berarti Saudara sedang menggunakan Allah Alkitab seperti orang-orang modern melakukan pencarian spiritual mereka. Hampir semua orang yang hari ini mengatakan sedang mencari Tuhan, mereka itu mencari Tuhan demi menggunakan Tuhan; menggunakan Tuhan yang bisa membantu menambal bolong-bolong dalam kehidupan “saya”. Bagaimana dengan kita? Ini adalah satu hal yang perlu kita pikirkan sejak awal; apa yang terbersit dalam hati kita ketika kita mendengar khotbah hari ini bertemakan “panggilan”.
Apakah Saudara pernah memikirkan, mengapa ada orang yang jadi lebih serius dengan urusan agama seiring dengan bertambahnya umur mereka? Hampir semua dari kita akan mengalami hal ini. Waktu memasuki umur 20-an, kita merasa bisa sukses, dunia terasa terbuka bagi kita, ada begitu banyak kemungkinan; kalau mau bekerja keras, bertanggung jawab, dan berusaha, maka Saudara akan sukses, atau paling tidak, Saudara sepertinya tidak akan miskin. Tapi setelah melewati umur-umur tersebut dan Saudara lebih matang, Saudara mulai menyadari, itu tidak cukup. Saudara butuh sesuatu yang lebih dari sekedar kerja keras, demi bisa menghadapi dunia ini. Ada orang yang umur 16 tahun sudah menyadari hal ini, ada yang menyadarinya di umur 22, 24, ada juga yang umur 40 baru sadar, bahkan ada juga yang sampai hari ini masih belum sadar juga. Tapi kebanyakan dari kita mengalami hal ini, cepat atau lambat.
Kita akan mengalami satu titik dalam hidup kita, yang di situ kita mengatakan, “Aduh, ‘gak bisa begini, gua butuh sesuatu yang lebih”. Oleh karena itu beberapa dari kita mulai meresponi perasaan itu dengan mencari Tuhan. Pertanyaannya, mengapa kita mencari Tuhan? Seringkali, kita mencari Tuhan demi mendapatkan Tuhan yang bisa menolong mencapai gol-gol, yang kita sepertinya tahu bahwa itu tidak akan kesampaian; dan pada saat tersebut, Saudara sudah dewasa, maka Saudara tahu, diri Saudara tidak akan sanggup. Itu sebabnya, seringkali ketika kita mencari Tuhan, ujungnya adalah kita sedang berusaha untuk menggunakan Tuhan. Ini satu hal yang perlu kita bereskan dari awal.
Bagian Alkitab yang kita baca mengenai bagaimana Musa dipanggil, sama sekali terbalik, karena tidak ada cara untuk mengenal Allah, tanpa dipanggil terlebih dahulu oleh Dia. Bahkan tidak bisa kita mencari Dia, tanpa terlebih dahulu dipanggil; dan yang paling mengkuatirkan, setelah Saudara menemukannya, tidak ada lagi cerita Saudara kembali kepada kehidupanmu yang lama, lalu menjalani kembali tujuan-tujuanmu yang lama serta agenda-agendamu yang lama itu. Saudara lihat Musa, momen ketika dia dipanggil adalah momen dirinya juga diutus. Ini mengerikan. Dia dipanggil; jika tidak, dia tidak akan bisa menemukan Tuhan. Dan, begitu dia menemukan Tuhan, dia langsung diutus keluar dengan tujuan dan agenda yang baru.
Mari kita lihat bagaimana panggilan panggilan Tuhan datang kepada Musa. Kel. 3:2-3, Lalu Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya di dalam nyala api yang keluar dari semak duri. Lalu ia melihat, dan tampaklah: semak duri itu menyala, tetapi tidak dimakan api. Musa berkata: “Baiklah aku menyimpang ke sana untuk memeriksa penglihatan yang hebat itu. Mengapakah tidak terbakar semak duri itu?” Saudara perhatikan, Musa bingung, koq, bisa ada semak belukar yang terbakar, tapi tidak termakan api. Musa merasa ini aneh, ini di luar hal yang biasa, lalu dia mengatakan pada dirinya sendiri –pada momen ini, Musa masih mengira ini adalah idenya sendiri– untuk pergi menyelidiki semak tersebut. Setelah itu, barulah Tuhan memanggil Musa dari semak itu. Ayat 4-5, Ketika dilihat TUHAN, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.” Kemudian Allah memperkenalkan diri-Nya, “Aku adalah Allah Abraham, Ishak, dan Yakub, … “.
Apa yang kita lihat di sini? Pertama-tama, kita perlu bereskan dulu satu kesulitan akan bagian ini. Saudara mungkin mengatakan, “Tunggu sebentar, Pak; dari tadi saya curiga, ini koq, panggilannya berat banget, ya. Ini ayatnya bicara tentang panggilan Musa, Pak. Ini MUSA! Ini bukan Ester dan Mordekhai, tapi Musa, pemimpin super besar! Tidak ada dari kita yang dipanggil kayak Musa-lah, ya, jadi ini bagian yang tidak relevan untuk kita. Yang saya mau, khotbah yang seperti kemarin-kemarin itu, yang tentang Ester, Mordekhai, sektor sekuler, dsb.”
Kalimat Saudara memang ada benarnya, tapi Saudara perhatikan yang Paulus katakan dalam 1 Korintus: “Ingat saja, Saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang –tapi semua dipanggil” (ayat 26). Di sini Paulus sedang menulis kepada jemaat secara umum. Paulus mengasumsikan semua dari mereka itu dipanggil, meskipun menurut ukuran manusia tidak banyak dari antara mereka yang bijak, tidak banyak yang berpengaruh, tidak banyak yang terpandang. Tapi semua dipanggil; mengapa? Karena –sekali lagi– tanpa Saudara dipanggil, Saudara tidak akan mencari Dia. Ini bukan idemu. Jadi ini satu hal yang jelas tetap relevan bagi kita.
Paulus sangat jelas akan hal ini; di bagian lain, misalnya dalam Roma 3:11, kita membaca: “Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah.” Di Roma 8:7 lebih tajam lagi: “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya.” Saudara, Alkitab mengatakan bahwa natur manusia berdosa adalah permusuhan dengan Allah; bahkan mungkin kita bisa mengatakan, gol manusia berdosa adalah kabur dan menghindari Allah –setidaknya, menghindari Allah yang seJati. Itu sebabnya, tidak ada yang bisa mencari Allah, jika bukan karena Allah yang memanggil dia.
Mungkin di sini Saudara mengajukan keberatan yang kedua, “Tidak masuk akal-lah, Pak, karena begitu banyak orang sedang melakukan pencarian rohani, seperti yang tadi Bapak bilang. Mereka mencari Allah, koq. Di dalam dunia modern yang makin sekuler ini, kita melihat semakin banyak orang yang beralih ke spiritualisme. Memang, mereka mungkin melenceng, tapi bagaimana Alkitab bisa mengatakan mereka tidak mencari Allah??” Jawabannya sederhana, Saudara; pertama, tidak ada yang sungguh-sungguh mencari Allah yang sejati; kedua, cara untuk menghindar dari Allah yang sejati adalah dengan mencari allah palsu.
Saudara perlu tahu, ateisme bukanlah ancaman terbesar bagi Kekristenan, karena yang namanya ateisme itu tidak akan pernah jadi mayoritas di dalam dunia ini. Koq, bisa?? Kalau begitu kabar baik dong, bahwa ateisme tidak mungkin jadi mayoritas di dunia ini?? Jawabannya, sama sekali tidak. Itu bukan kabar baik. Alasannya mayoritas dunia tidak mungkin jadi ateis adalah: karena cara kebanyakan orang menghindari Tuhan, bukanlah dengan menjadi ateis. Inilah sebabnya, bagaimanapun juga persentase orang ateis dalam sebuah bangsa atau budaya, selalu minoritas. Mayoritas orang menghindari Allah yang sejati, caranya adalah dengan menciptakan ilah yang palsu, allah yang bisa mereka kontrol, allah yang jinak.
Saudara perhatikan, alasannya manusia berdosa tidak senang dengan Allah yang sejati, bukanlah karena kita tidak bisa menerima keberadaan sosok ilahi. Sebagaimana Saudara lihat, banyak sekali orang yang terbuka koq, dengan hal itu. Orang memprediksi di zaman modern dengan segala kemajuan teknologi, manusia akan tidak lagi butuh Tuhan; tapi yang kita lihat justru orang berbondong-bondong mencari spiritualitas –yang tentu saja kita tahu, itu tidak benar. Manusia bukan tidak terbuka terhadap ide keilahian –mereka bisa terbuka dengan itu—tetapi manusia berdosa tidak akan tahan dengan keilahian yang sejati, tidak akan mau menerima keberadaan sosok Ilahi yang sejati. Mengapa? Karena satu hal yang semua hati manusia inginkan, dan akan menjaganya mati-matian, adalah: kontrol.
Hati manusia benci sekali dengan kehilangan kontrol, kehilangan kedaulatan. Itulah sebabnya memang benar yang dikatakan Alkitab, “tidak ada yang mencari Allah”, dalam arti Allah yang sejati. Mengapa? Karena Allah yang kayak begini, ketika Saudara menemukannya, Dia tidak akan membantu Saudara kembali masuk ke dalam kehidupanmu serta agendamu, tetapi akan memberikan kepadamu tujuan baru dan agenda baru –“hidup baru”. Dan kalau kita jujur, kita tidak mau hal ini.
Itu sebabnya di dalam dunia ada banyak ilah-ilah palsu, tapi sebenarnya kita bisa melihatnya dalam 2 kategori besar. Jenis yang satu adalah allah palsu yang tidak ada standar, jenis allah yang penuh cinta tok, yang menerima Saudara apa adanya, siapa pun tanpa terkecuali, universalisme, yang pada akhirnya semua orang akan diselamatkan. Ini allah yang cuma ingin manusia hidup dan menikmati hidup. Jelas sekali ini adalah allah yang populer bagi banyak orang, karena allah yang seperti ini bisa dikontrol; dalam hal ini, allah yang seperti ini tidak menuntut apa-apa dari kita. Jadi Saudara lihat, orang tidak tertutup koq, dengan konsep allah.
Ada juga satu jenis allah yang lain yang adalah ciptaan manusia, yaitu allah yang berseberangan, tipe allah yang moralistis. Berurusan dengan allah seperti ini, terutama adalah urusan hukum, standar moral, perilaku, dsb. Ini adalah allah palsu; ini bukan konsep dari Alkitab, tapi bikinan manusia. Sekali lagi, manusia menciptakan allah seperti ini supaya manusia tidak kehilangan kontrol. Di sini Saudara mungkin bilang, “Lho, Pak, bagaimana sih? Katanya, allahnya isinya hukum dan peraturan, jadi harusnya menyembah allah seperti ini akan kehilangan kontrol, dong, ‘kan harus mengikut dia yang penuh hukum dan standar, dsb. Bagaimana Bapak bisa mengatakan, orang menciptakan allah seperti ini supaya tidak kehilangan kontrol??” Memang benar, Saudara; allah seperti ini cukup populer, banyak orang menyembah allah palsu seperti ini, karena ini adalah cara untuk manusia justru mempertahankan kontrol, dan caranya sederhana saja: Saudara mempertahankan kontrol, Saudara bisa mengontrol allah seperti ini, dengan cara jadi orang yang bermoral. Jika Saudara menjalani hidup yang taat dan baik, maka allah seperti ini akan berutang kepada Saudara. Dia berutang hidup yang baik kepada Saudara, dia berutang kesuksesan kepada Saudara, dia berutang kesehatan kepada Saudara. Dan, kalau dia berutang kepada Saudara, tentu saja Saudara yang pegang kontrol-lah.
Inilah caranya manusia menghindari Allah yang sejati, yaitu dengan menciptakan allah yang palsu. Lucunya, itu bukan cuma dengan menciptakan allah jenis pertama tadi, yang tidak menuntut apa-apa, tapi bisa juga dengan allah palsu yang tipenya penuh hukum dan standar moral. Yang seperti ini pun adalah allah palsu, karena Saudara bisa mengontrol dia lewat ketaatan Saudara. Orang-orang yang menyembah allah seperti ini, tentunya tidak sadar bahwa mereka sedang melakukan hal itu; mereka pikir, mereka adalah orang yang sangat religius, orang yang mencari Tuhan, tapi sesungguhnya mereka sedang melakukan hal-hal yang justru menghindarkan dirinya dari Allah yang sejati, karena yang mereka sembah adalah allah yang bisa dikontrol.
To certain extent, banyak orang Kristen juga menyembah allah seperti ini; yaitu ketika Saudara rajin ke gereja, menjalankan kewajiban gerejawi, tapi kemudian suatu hari hidup kita terkena sesuatu yang kita tidak senang atau kita menderita, lalu kita merasa berhak bertanya “mengapa”. Padahal, apa sih, hak kita bertanya seperti itu kepada Tuhan. Ada satu kartun yang lucu menggambarkan ini. Seseorang menghadap ke langit lalu bilang, “Why, God??” –dia berteriak “kenapa” kepada Tuhan; lalu Tuhan menjawab balik, “Why not?” Lucu dan menarik, karena memang benar, Tuhan utang apa sih, kepada kita? Kenapa kita kadang-kadang merasa Tuhan berutang kepada kita? Berutang penjelasan, berutang kejelasan, dan seterusnya.
Allah palsu jenis pertama, bisa dikontrol karena kita tidak berutang apa-apa kepada dia; pokoknya dia cinta kita deh. Allah palsu jenis kedua, juga bisa dikontrol karena kita membuat dia berutang kepada kita. Inilah sebabnya Allah Alkitab amat sangat berbeda. Allah Alkitab, di satu sisi Dia kudus, Dia penuh dengan segala tuntutan, Dia penuh dengan standar; tapi pada akhirnya Dia mengatakan “kamu tidak bisa penuhi semua ini”, maka Dia menyediakan Anak-Nya yang tunggal untuk memenuhi bagi Saudara semua tuntutan itu. Jadi, di satu sisi Saudara dituntut untuk membuang dosa, menjauhi dosa, namun juga hanya melalui darah Kristus dan anugerah Tuhan, Saudara bisa dibersihkan dari dosa. Ini sebabnya, kita tidak senang dengan Tuhan yang seperti ini. Kita kesal dengan Tuhan yang kayak begini karena Dia benar-benar Tuhan, karena dengan Tuhan yang seperti ini maka tidak ada poin dalam hidup di mana kita bisa mengatakan “Tuhan, Kamu utang saya, lho”.Tentu saja tidak bisa, karena Dia yang bayar; dan karena Dia sudah bayar bagi kita, maka kita cuma bisa mengatakan “saya utang sama Kamu, Tuhan” –kita lost control!
Kita kehilangan kontrol terhadap Tuhan yang seperti ini, maka bukankah benar yang dikatakan Alkitab tentang siapa yang mencari Tuhan yang seperti ini, jawabannya adalah “tidak ada seorang pun; seorang pun tidak.” Itu sebabnya, kembali ke poin kita yang paling awal, untuk bisa mengenal Allah yang seperti ini, maka Dia yang harus beraksi duluan, Dia yang harus mengambil inisiatif, Dia yang harus turun dan mengganggu Saudara, Dia yang harus memanggilmu. Itulah yang pertama. Alasannya panggilan Tuhan itu krusial, alasannya kita perlu belajar mengenai panggilan Tuhan, bukanlah cuma urusan nanti kerja apa, kuliah jurusan apa, menikah dengan siapa, tapi karena panggilan Tuhan adalah satu hal yang paling sentral dan fundamental sekali dalam kehidupan Kristen; tanpa Saudara dipanggil oleh Tuhan, Saudara tidak akan mencari Dia maupun mengenal Dia. Dengan demikian, kalau Saudara benar-benar serius mau mendalami panggilan Allah bagimu, Saudara juga harus sadar, bahwa bicara urusan panggilan Allah berarti Saudara sedang melepaskan kontrol.
Ini lebih jelas lagi dalam pembahasan yang kedua, mengenai panggilan Musa; panggilan Musa adalah sebuah pola mengenai bagaimana Tuhan memanggil. Pada awalnya Musa tidak sadar bahwa dia sedang dipanggil oleh Tuhan. Dia tidak sadar bahwa semua kejadian itu terjadi karena Tuhan sedang pedekate dengan dia. Dalam perspektifnya, dia semata-mata sedang melihat suatu semak belukar yang terbakar tapi tidak termakan oleh api; dan ini bagi dia sangat aneh. Kalau Saudara mempelajari vegetasi di Timur Tengah, semak belukar yang terbakar, ternyata tidak cuma akan habis dimakan api, bahkan juga akan meledak, karena ada semacam gas di dalamnya. Tapi yang Musa lihat di sini, semak belukar yang terbakar dan terus terbakar namun tidak meledak, dan tidak dimakan api juga. Ini sangat aneh; jadi Musa pergi untuk memeriksanya. Saudara perhatikan, dalam poin ini, dia tidak sadar bahwa ini adalah tangan Tuhan baginya, dia hanya berpikir ini adalah idenya sendiri untuk pergi dan mencari tahu.
Thomas Kuhn, seorang filsuf sains (scientist yang menggumulkan mengenai filosofi bidang sains), menulis buku “The Structure of Scientific Revolutions”. Dalam buku itu, pada dasarnya Kuhn menyelidiki bagaimana sebenarnya sains bisa berkembang. Kuhn menjelaskan, bahwa kita seringkali berpikir yang namanya sains itu sama sekali objektif, cuma bicara fakta dan hanya fakta tok, tidak ada urusan subjektif sama sekali; tapi tidak seperti itu realitasnya, demikian dikatakan Thomas Kuhn –dan dia ini bukan seorang pinggiran, dia seorang yang sangat diterima dalam bidang sains dan juga filsafat. Kuhn menjelaskan, sains itu sebenarnya suatu permainan, suatu interaksi, antara yang objektif dengan yang subjektif. Semua manusia sebenarnya tidak ada yang datang kepada sebuah fakta, secara apa adanya. Waktu kita datang kepada sebuah realitas, kita datang dengan asumsi-asumsi kita, dengan kerangka berpikir (framework) kita, dengan “laci-laci” kita, dengan anggapan-anggapan kita atas realitas tersebut –sadar atau tidak sadar.
Kuhn memberi contoh seperti berikut ini. Dulu, semua orang punya asumsi/anggapan/model berpikir bahwa bumi ini pusat alam semesta, dan segala sesuatu mengitari bumi. Inilah asumsinya. Dengan demikian, waktu orang-orang zaman itu melihat fakta matahari yang bergerak dari sini ke situ, fakta bulan yang bergerak dari sana ke sini, apakah “fakta” yang mereka lihat; yang mereka lihat adalah ‘ini cocok dengan asumsi saya, dengan model saya, dengan framework saya, bahwa bumi ini pusat dan yang lain mengelilinginya’. Jadi, Kuhn mengatakan, yang namanya sains/pengetahuan adalah semua orang membaca fakta –matahari, langit, bulan—lalu yang kita baca/lihat selalu melalui kacamata kita masing-masing, asumsi kita masing-masing, framework kita masing-masing, anggapan-anggapan kita masing-masing, “laci-laci” kita masing-masing. Dan, dalam situasi seperti ini, kita tidak terbuka untuk menerima kemungkinan-kemungkinan baru. Saudara tentu tahu, betapa lama prosesnya sampai orang beralih dari Geosentris kepada Heliosentris.
Pertanyaannya, lalu apa yang bisa membuat sains berkembang dari Geosentris ke Heliosentris? Jawaban adalah, ketika muncul data-data yang tidak cocok dengan framework yang sebelumnya, yang tidak bisa dijelaskan dengan framework yang lama, yang tidak muat di laci-laci yang lama; dan ini membuat kita bergumul, ‘koq ada sesuatu yang baru, yang tidak masuk dalam anggapan saya, sepertinya ada jarak antara naggapan saya dengan realitas yang sesungguhnya’. Anggapan kita mungkin salah atau kurang lengkap, laci-laci kita mungkin terlalu sempit. Lalu dalam momen seperti inilah, ada orang yang mencetuskan, “bagaimana kalau jangan-jangan bukan bumi yang jadi pusat dan dikelilingi matahari, tapi justru matahari yang jadi pusat dan dikelilingi oleh bumi; yuk, kita coba anggapan yang baru ini, framework yang baru ini, kacamata yang baru ini” –ini namanya hipotesa dalam sains.
Selanjutnya, ternyata framework yang baru ini cocok dengan data-datanya, fit dengan lebih banyak data-data, fit dengan data-data secara lebih luas. Dari situ, mulailah lama-kelamaan kita menerima hal ini sebagai fakta yang baru. Tapi di sini Saudara melihat, ternyata –sebagaimana Kuhn memperlihatkannya—ini bukan cuma fakta tok, ini hanya sebuah kacamata yang baru, kacamata yang lebih tajam –namun tetaplah sebuah kacamata. Ini sebuah laci yang baru, yang lebih luas, tapi tetaplah sebuah laci. Kuhn mengatakan, kita tidak pernah beroperasi tanpa kacamata, tanpa laci-laci, tanpa anggapan, tanpa framework; kita menerima hal yang objektif ini selalu melalui kacamata kita yang subjektif. Itulah sebabnya perkembangan atau sejarah sains tidak pernah terjadi perlahan-lahan secara evolusionistis, melainkan selalu berupa revolusi, yang serta-merta pindah. Inilah yang Kuhn sebut dengan istilah sangat terkenal yaitu ‘paradigm shift’, bukan suatu paradigma yang bergerak pelan-pelan melainkan paradigma yang berubah tiba-tiba; dari Geosentris ke Heliosentris, itu artinya berubah, revolusi. Seperti itulah perkembangan sains.
Untuk bisa berkembang, sains butuh data dari luar, yang tidak cocok dengan kacamata yang lama. Untuk bisa berkembang, sains butuh sesuatu yang menggoncang paradigma yang lama. Sains itu berkembang melalui revolusi, dan bukan evolusi. Pertanyaannya, untuk apa kita membicarakan Kuhn panjang lebar seperti ini? Saudara bisa aplikasikan apa yang Kuhn bicarakan tadi di dalam hal pengenalan Saudara akan Tuhan, yaitu bahwa ketika kita berhadapan dengan Tuhan, kita juga datang dengan anggapan-anggapan kita, framework–framework kita, kacamata-kacamata kita, laci-laci kita, sampai kemudian tiba-tiba ada semak belukar yang terbakar tapi tidak termakan api. Inilah data baru yang tegang ketika diperhadapkan dengan data yang lama, yang tidak masuk ke dalam laci-laci yang lama, yang menggoncang kacamata yang lama. Musa melihat hal ini, dan dia menyimpang dari jalannya, untuk menyelidiki data yang baru ini. Ketika melakukan itu, pada dasarnya Musa sedang mengatakan, “ini apa, ya; ini tidak masuk dalam framework yang lama, saya tidak pernah melihat sesuatu seperti ini sebelumnya”. Inilah awal dari panggilan Tuhan.
Panggilan Tuhan bukan sesuatu yang sekedar mengenai inisiatif dari Tuhan, yang pokoknya semua dari Tuhan. Bukan cuma itu implikasinya; dan kita perlu membongkar hal ini. Saudara perhatikan, berurusan dengan panggilan Tuhan, sedikit banyak adalah momen di mana Saudara akan mengalami sesuatu yang tegang (tension) dengan semua framework-mu, dengan kacamata-kacamatamu, dengan anggapan-anggapanmu, dengan laci-lacimu yang terlalu sempit itu. Inilah panggilan.
Contohnya bisa banyak. Bisa saja datang dengan cara yang agak lembut. Katakanlah ada orang selama ini pikir, orang Kristen adalah orang yang hari Minggu nandak-nandak, joget ‘gak jelas, dan bicara bahasa aneh –ini framework lamanya dia. Lalu dia mulai menemukan data yang baru, ternyata ada orang Kristen yang ibadahnya waras –ini data yang baru. Setelah itu, dia jadi berpikir, “apa ini, koq ‘gak masuk framework yang lama, saya musti selidiki”. Panggilan bisa datang dengan cara agak lembut seperti itu.
Contoh yang lain, yang lebih riil, misalnya kesaksian kehidupan Dr. Martyn Lloyd-Jones. Seperti namanya, Dr. Martyn Lloyd-Jones adalah seorang dokter; sebelum jadi pendeta, dia buka praktek dokter. Dia punya seorang senior, seorang dokter besar yang mungkin terbaik di bidangnya dan sangat dihormati semua orang, sangat kaya, sangat berpengaruh, dan juga punya seorang istri yang sangat dia cintai. Singkat cerita, Dr. Martyn Lloyd-Jones mengidolakan dia, dia orang yang begitu sempurna, dia mempunyai segala sesuatu yang diinginkan orang. Tapi kemudian Dr. Martyn Lloyd-Jones melihat sendiri, orang ini tiba-tiba hidupnya pecah berantakan. Di situlah dia baru sadar, bahwa orang ini, yang punya segala hal yang seorang manusia bisa inginkan dan butuhkan, orang seperti ini pun bisa tidak tahan menghadapi hidup. Dan, tahukah Saudara itu momen apa? Itu momen panggilan.
Inilah panggilan. Inilah semak belukar yang menyala-nyala, yang terbakar tapi tidak termakan api. Ini adalah sesuatu yang membuat Saudara memikirkan ulang bukan cuma satu dua detail dalam pikiranmu; sebaliknya, seluruh framework-mu, worldview-mu, laci-lacimu, kacamata-kacamatamu, membuat Saudara meragukan priorotas hidupmu selama ini, membuatmu meragukan tujuan-tujuanmu selama ini, membuatmu meragukan agenda-agendamu selama ini, membuatmu mempertanyakan, ‘hidupku selama ini, maknanya apa?’ Itulah panggilan. Dan sebenarnya, pada momen awal ini, Saudara bahkan tidak tahu atau tidak sadar bahwa ada peran Allah di balik ini, seperti Musa yang juga tidak sadar. Musa hanya melihat sesuatu yang menantang framework-nya, tapi dari situlah panggilan Tuhan datang kepadanya, “Musa, Musa!”, Tuhan memanggil, “lepaskan kasutmu”.
“Lepaskan kasutmu, Aku bukan Allah yang jinak; lepaskan kasutmu, kamu tidak bisa main-main dengan Aku”. Saudara, ini berarti ketika Saudara terpanggil, Saudara akan terganggu, tergoncang. Itulah natur dari panggilan. Sekali lagi, ini lain sekali dengan anggapanmu selama ini mengenai panggilan; ‘saya kira panggilan itu urusan nikah sama siapa, kerja di bidang apa, kuliah jurusan apa’ –itu adalah anggapan, laci, kacamata. Jadi, Saudara mulai mengerti alasannya ketika kita bicara mengenai panggilan, kita mulainya dari sini.
Saudara mau tahu apakah panggilan Tuhan datang kepadamu? Mungkin, meski ini tidak mutlak, panggilan Tuhan datang kepadamu bukan ketika Saudara dapat kejelasan; panggilan Tuhan mungkin datang kepada Saudara justru ketika Saudara dapat kebingungan karena semua framework-mu, anggapan-anggapanmu, bertabrakan dengan sesuatu dalam hidupmu yang tidak muat dalam laci-laci yang lama itu. Itulah panggilan.
Saudara mau tahu, apakah panggilan sudah datang kepadamu? Yaitu ketika Tuhan bukan lagi di pinggiran tapi di tengah, ketika Tuhan bukan lagi air kolam yang cetek tapi ombak besar yang menjulang tinggi di atas Saudara, sesaat sebelum ombak itu menelan Saudara. Ketika Tuhan bukan lagi sesuatu yang Saudara pakai untuk mendapatkan yang lain, tapi Sesuatu yang kepada-Nya Saudara menyerahkan segala sesuatu yang lain.
Kalau Saudara orang yang religius selama ini, mungkin panggilan itu datang ketika Saudara mulai menangkap bahwa ternyata Saudara tidak bisa mengontrol Allah seperti ini dengan menjadi orang yang baik-baik. Mungkin ketika Saudara mendapatkan malapetaka, Saudara baru sadar bahwa 25 tahun menjadi orang Kristen dan setia membayar perpuluhan, itu tidak menjamin Saudara akan dapat kehidupan yang baik, itu tidak berarti Saudara berhak menuntut Tuhan memberikan kepada Saudara kehidupan yang baik. Sebaliknya, jika Saudara seorang yang sekuler, yang membicarakan allah yang cinta tok, Saudara mungkin mulai menyadari atau dipanggil, ketika dalam hidup ini Saudara menemukan bahwa ternyata Allah bukan seorang sinterklas yang pokoknya cuma memberi dan memberi tapi tidak pernah menuntut.
Apapun juga kacamatamu, momen panggilan itu terjadi ketika Saudara mulai menyadari di hadapan Allah, bahwa Saudara tidak in control, bahwa Allah ini tidak jinak, bahwa Allah ini bukan tipe yang bisa digunakan dan disetir, bahwa Allah ini adalah Allah yang lebih besar daripada diri Saudara, bahwa Allah ini adalah Allah yang menuntut penyerahan dirimu.
Khususnya bagi kita yang terlahir di Gereja dalam keluarga Kristen, momen ini sangat penting. Memang ini tidak terjadi dalam satu dua detik; ini bisa terjadi secara gradual, dan Saudara mungkin tidak bisa menandai dengan tepat, kapan persisnya momen tersebut –dan itu tidak penting. Tapi, Kekristenan Saudara itu tanda tanya, kalau Saudara tidak pernah melihat dalam kehidupanmu ada hal seperti ini pernah terjadi. Ketika Saudara mulai melihat Tuhan sebagai yang terpenting di atas segala sesuatu, sebagai Tuhan yang tidak bisa dikontrol, Tuhan yang disturbing, Tuhan yang tidak muat dalam laci-lacimu, itu adalah momen yang sangat penting.
Terakhir, ini adalah Allah yang segera setelah memanggilmu, Dia juga langsung mengutusmu keluar –sebagaimana kita sudah lihat tadi. Untuk hal ini, kita bisa lompat ke Keluaran 4:12-13; Tuhan mengatakan: “Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan.” Tetapi Musa berkata: “Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus.”
Sekarang Saudara jadi mulai mengerti mengapa repons Musa kayak begini, Saudara sekarang bisa lebih bersimpati pada Musa. Saudara lihat, ketika panggilan Tuhan datang, itu berarti pekerjaan juga akan datang; dan pekerjaan tersebut bukan sesuatu yang Saudara mau kerjakan melainkan yang Saudara harus kerjakan. Ini jangan disederhanakan kayak begini: O, kalau selama ini Saudara bekerja di bidang sekuler, lalu Saudara dipanggil, itu artinya sekarang Saudara harus masuk STT, hidup menderita, gaji kecil, dan segala macam lainnya. Sebetulnya, panggilan bekerja di Gereja itu panggilan yang lebih gampang, karena setidaknya dalam pekerjaan ini kami tidak perlu “malu” jadi orang Kristen. Bahkan ada beberapa pendeta dan vikaris yang di dalam karir ini sekalian menonjolkan kerohanian mereka, karena itulah sumber harga diri serta pengakuan atas diri mereka. Sebaliknya, yang lebih mengerikan mungkin justru ketika Saudara diutus masuk ke dalam dunia sekuler dengan identitas “umat Allah”. Inilah yang benar-benar kehilangan kontrol. Begitu teman-teman Saudara tahu bahwa Saudara orang Kristen, Saudara akan merasa ada label yang menempel, yang sangat membatasi ruang gerak Saudara. Saudara tidak bebas lagi mengobrol semua hal yang Saudara ingin obrolkan dengan orang lain; dan orang-orang di kantor pun akan merasa tidak lagi bebas bicara segala hal dengan Saudara. Ini baru soal relasi dengan teman sekantor, belum lagi soal relasi dengan bos, dan seterusnya. Sekali lagi, itulah sebabnya tidak heran Musa berkata, “aduh Tuhan, utuslah kiranya siapa yang lain deh.” Tapi yang perlu kita perhatikan, ini adalah satu-satunya cara untuk bisa hidup. Mengapa saya mengatakan seperti ini?
Saudara tentu pernah mendengar kalimat yang bagus ini: “orang yang tidak rela untuk mati bagi sesuatu, itu tidak patut hidup”. Jika kita tidak punya sesuatu yang lebih besar daripada diri kita dalam hidup ini –yang lebih besar dari diri kita, bisnis kita, karir kita– jika kita tidak punya suatu signifikansi dalam hidup ini yang melampaui kenyamananmu, kesuksesanmu, anak-anakmu, keluargamu, maka inilah ironinya: jika hidup Saudara melampaui hidupmu, maka hidupmu itu tidak ada dampaknya, tidak ada maknanya. Hidup Saudara itu tidak penting, ketika tidak ada yang lebih penting dari hidupmu. Ketika seseorang tidak memiliki sesuatu yang lebih penting daripada hidupnya sendiri, maka dia inilah orang yang hidupnya juga tidak penting.
Menyentil sedikit soal kebaktian fisik di tengah-tengah pandemi, saya sangat berbahagia melihat bahwa meski kita baru membukanya beberapa minggu, sudah banyak sekali yang datang. Saya juga tahu, masih banyak orang-orang yang belum mau datang –dalam hal ini, disclaimer sedikit, saya bukan bonek, istri saya juga dokter, dan orang seperti dia yang kerja di rumah sakit memang tidak direkomendasikan untuk datang—tapi yang saya ingin tanya, apa pertimbangan Saudara yang tertinggi dalam urusan datang atau tidaknya Saudara ke kebaktian. Kalau yang jadi pertimbangan tertinggi adalah urusan hidup mati tok, dan tidak pernah ada yang melampaui itu, maka Saudara coba refleksi, hidup Saudara itu penting atau tidak, Saudara termasuk orang yang sudah dipanggil atau belum. Sekali lagi, ini bukan terutama soal kehadiran fisiknya, melainkan bagaimana Saudara menentukan apakah Saudara mau datang atau tidak; itulah yang jadi pertanyaannya. Ini juga bukan supaya Saudara menjelaskan kepada saya atau orang lain alasannya Saudara tidak datang, tapi Saudara evaluasi sendiri saja di hadapan Tuhan, sesungguhnya apa yang menyebabkan Saudara masih belum hadir secara fisik, apa faktor yang paling besar yang membuat Saudara tidak datang secara fisik.
Seringkali, kita tidak datang fisik bisa jadi –tidak tentu, tapi bisa jadi—karena bagi kita, tidak ada yang melampaui kenyamanan kita, keamanan kita, kesuksesan kita, keluarga kita, hidup mati kita. Dan, orang yang seperti itu, sebenarnya bagaimana? Kalau hal ini diperhadapkan kepada Saudara, Saudara jadi bergidik ngeri, tapi coba bayangkan ketka Saudara mengevaluasi hidupnya orang lain. Waktu Saudara melihat orang-orang lain di dalam hidup ini yang hanya hidup bagi diri mereka sendiri, bagi keamanan mereka, bagi kenyamanan mereka, bagi bank account mereka, bagi reputasi mereka –orang-orang yang dalam kehidupannya tidak ada suatu pun yang mereka rela meresikokan hidup bagi hal itu– maka sebenarnya Saudara akan memandang orang-orang seperti ini layak untuk hidup atau tidak? Inilah orang-orang yang tidak punya hal-hal, yang mereka rela mengorbankan nyawanya untuk itu.
Dalam persiapan bahan katekisasi, ada poin yang saya rasa nyambung dengan khotbah hari ini. Ada pertanyaan di buku katekisasi, “mengapa Yesus harus mati”; dan Saudara pasti tahu jawabannya, yaitu untuk menebus dosa kita, dsb. Namun jawaban dalam buku katekisasi tadi menarik, karena jawabannya bukan cuma yang satu itu tapi juga dikatakan: Kristus mati karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa. Ada yang menarik di dalam jawaban tersebut, yaitu implikasi dari kalimat tadi. Kristus mati bukan cuma karena Dia mau menebus dosa kita atau apapun lainnya, tapi karena ini adalah karena ketaatan-Nya kepada Allah Bapa; dan itu berarti implikasinya adalah bahwa Orang yang disalib ini –yang adalah lambang kutukan—menerima kutuk justru karena taat. Orang yang paling sempurna ketaatannya ini, adalah justru Orang yang paling terkutuk. Ini poin besar; maka kita perlu membahasnya.
Apa implikasi hal ini bagi kita? Banyak. Sebegitu cintanya Dia kepada Bapa-Nya di surga, maka Dia mau taat, meskipun upah ketaatan yang sempurna adalah kutukan yang tertinggi juga. Saudara juga bisa melihat betapa besarnya Dia mengasihi Saudara dan saya, karena demi Saudara dan saya, Dia mau mengambil semua itu. Tapi satu hal yang kita bisa lihat dari semua ini adalah: bagi kita, pengikut-pengikut Kristus, tanda ketaatan kita kepada Tuhan, bukanlah bahwa kita sukses dalam hidup ini; tanda ketaatan kita kepada Tuhan adalah kita menukar hidup kita, supaya orang lain bisa hidup. Itulah kesuksesan Kristen. Kita sukses, ketika kematian kita menjadi hidup bagi orang lain. Itu sebabnya panggilan orang Kristen paling bagus jadi wasit tinju di ring tinju; panggilan Saudara bukan untuk memberikan pukulan, juga bukan untuk kabur dari ring tinju –bukan dua-duanya– panggilan Saudara adalah tetap bertahan di ring tinju dan meresikokan diri kena tinju, demi menyelamatkan orang lain dari terkena tinju. Tidak heran, setelah diutus seperti ini Musa langsung bilang, “Aduh, Tuhan, kirim orang lain deh”. Dan di ayat berikutnya (ayat 14) dikatakan, ‘Maka bangkitlah murka TUHAN terhadap Musa’ –betapa ini hal yang serius.
Tapi selanjutnya Tuhan juga bicara kepada Musa, yang pada dasarnya mengatakan, ‘ya sudah, oke, baik; paling tidak, lu kerjain ini dengan tim, itu ada Harun’. Saudara, bagian ini saya rasa merupakan penghiburan dari Tuhan kalau kita mulai merasa panggilan Tuhan itu berat, yaitu bahwa Tuhan kita memang tidak bisa dikontrol, memang Dia tidak jinak, tapi Dia sesungguhnya juga Tuhan yang panjang sabar. Dia adalah Tuhan yang mau bekerja dengan apa yang ada sekarang, dan bukan asal paksa, langsung tarik telinga orang, dsb. Dia adalah Tuhan yang menegur, Dia adalah Tuhan yang murka, itu memang benar; tapi Dia bukan Tuhan yang murka lalu pergi, berlalu, dan hilang. Dia adalah Tuhan yang murka, tapi Dia tetap bertahan menyertai kita. Saudara lihat ini dengan jelas, Tuhan murka terhadap Musa, tapi ‘ya, sudah, oke Musa, kerja bersama Harun’.
Tuhan kita ini adalah Tuhan yang tidak menghina yang kecil dan rapuh, yang tidak mematahkan buluh yang terkulai, yang tidak memadamkan sumbu yang sudah berasap. Dia bukan allah yang jinak, tapi Dia juga bukan allah yang sadis; Dia adalah Allah yang riil. Saya berharap dan berdoa, Saudara dan saya menjadi orang-orang yang terpanggil oleh Allah yang seperti ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading