Kita melanjutkan pembahasan Daniel 5. Minggu lalu kita baru menyentuh suatu pengantar, mengenai urusan kesejarahan Belsyazar dan urusan struktur besar pasal ini, bahwa ini pasal pertama kitab Daniel di mana kita menemukan paralelisme, bagian-bagian Alkitab yang bisa saja berdiri sendiri namun didesain untuk dibaca berpasangan dengan bagian yang lain. Ini ibarat kalau meneropong, kita bisa pakai teropong monokular (dengan satu mata), tapi ada juga yang binokular (dengan dua mata); dengan teropong binokular, Saudara melihat lebih lebar, lebih dalam –melihat secara stereo. Alkitab penuh dengan paralel-paralel, baik dalam skala kecil antara satu kalimat dengan kalimat yang lain, tapi juga dalam skala yang kita lihat di kitab Daniel, antara satu pasal dengan pasal yang lain. Di pasal 5 inilah kita menemukan paralel dengan pasal sebelumnya; pasal 4 bicara mengenai Allah merendahkan Nebukadnezar, ini jelas banget paralel dengan pasal 5, Allah merendahkan Raja Belsyazar. Ini bukan kebetulan, ini intentional, karena –sebagaimana sudah kita bahas– bukan cuma pasal 4 paralel dengan pasal 5, tapi juga pasal 3 paralel dengan pasal 6, pasal 2 paralel dengan pasal 7.
Hari ini kita membahas pasal 5, namun tidak hanya membahas pasal 5-nya, tapi juga coba melihat apa yang terjadi kalau kita melihatnya melalui binokular, melalui paralelisme antara pasal 5 dan pasal 4, Belsyazar dan Nebukadnezar, mengenai bagaimana Allah merendahkan kedua raja ini. Siapkan hati Saudara, karena sementara pasal 4 bicara pertobatan serta pemulihan, pasal 5 berfokus pada penghakiman, penghancuran. Ini bukan tema favorit siapa pun tapi ini bagian dari Alkitab, bagian yang kita perlu dengar, bukan bagian yang kita perlu buang.
Ayat 1-4
Bagian pertama ini sekilas kita baca, sedang mengungkapkan betapa pesta yang Belsyazar buat itu begitu mewah, begitu megah, dengan 1000 undangan yang semuanya orang-orang penting, para pejabat. Tetapi, gambaran yang muncul ketika kita membaca hal ini secara paralel antara pasal 5 dan pasal 4, antara Belsyazar dan Nebukadnezar, justru kita mendapatkan gambaran yang sangat lain, gambaran yang menyatakan kekosongan, kehampaan dalam hidup Belsyazar.
Saudara perhatikan, dalam kitab Daniel satu-satunya cerita mengenai Belsyazar cuma kita temukan di pasal ini. Bandingkan dengan naras-narasi mengenai Nebukadnezar, jumlahnya ada banyak, tidak cuma satu. Pasal 1 bicara mengenai Nebukadnezar yang menghancurkan Yerusalem, yang membawa rampasan-rampasan, yang membuang orang-orang seperti Daniel ke Babilonia. Pasal 2 bicara mengenai mimpi besar Babilonia bagi Nebukadnezar. Pasal 3 bicara mengenai proyek besar Nebukadnezar, monumen besar yang didirikannya. Pasal 4 juga menyebut mengenai Nebukadnezar, yang dikenang bukan sebagai raja yang sekadar mengeruk keuntungan pribadi, tetapi sebagai raja yang membangun, mendirikan infrastruktur; ini raja yang bukan cuma ngomong tok, dia benar-benar berjasa. Itulah Nebukadnezar dalam pasal 1-4. Sekarang Saudara lihat apa yang terjadi ketika kita masuk ke pasal 5? Di hadapan rekam jejak Nebukadnezar, apa kontribusi Belsyazar, apa yang Belsyazar lakukan? Belsyazar cuma bikin pesta tok.
Saudara lihat di sini efek paralelisme, pembacaan yang mundur ke belakang namun malah menghasilkan kemajuan serta kedalaman yang lebih. Saudara melihat Nebukadnezar mendirikan suatu kekaisaran yang besar, sementara Belsyazar cuma bisa jadi event organizer (dalam hal ini, no offend bagi Saudara-saudara yang memang pekerjaannya menjadi EO). Bahkan dalam pesta Belsyazar ini pun –yang adalah satu-satunya pencapaian dia– spotlight utamanya ada di ayat 2, yaitu perkakas/peralatan emas dan perak dari Yerusalem yang dibawa ke Babilonia oleh siapa lagi kalau bukan Nebukadnezar. Lagi-lagi Nebukadnezar, bukan Belsyazar. Ada ‘gak sih, kontribusi orisinal dari Belsyazar di pasal ini?? Ada, yaitu sebagaimana kita katakan minggu lalu, bahwa tidak seperti Nebukadnezar yang masih ada certain respek terhadap barang-barang sakral tersebut dengan cara menyimpannya di kuil, Belsyazar malah mengeluarkannya untuk minum-minum anggur, dan lebih fatal lagi memakainya untuk menyembah/memuji-muji berhala (ayat 4).
Ayat 5-9
Pesta Belsyazar tidak bertahan lama. Ibarat lampu mati di tengah-tengah pesta, atmosfer pestanya langsung buyar, karena sebuah tangan misterius muncul begitu saja dan menulis di dinding istana Belsyazar. Membaca ini, Saudara langsung menyadari paralelnya dengan Nebukadnezar, karena Nebukadnezar sendiri beberapa kali mendapatkan berita penghakiman dari Tuhan melalui mimpi. Tetapi paralel ini hadir untuk membuat kita langsung menyadari kontras antara Nebukadnezar dengan Belsyazar dalam hal reaksi mereka. Nebukadnezar waktu mendapatkan mimpi-mimpi seperti ini (pasal 2 dan pasal 4), dikatakan bahwa dia digelisahkan, dikejutkan oleh mimpi-mimpi tersebut, sedangkan apa reaksi Belsyazar? Dia terkencing-kencing dan ter-eek-eek. Ini kontrasnya. Bahasa Ibraninya di ayat 6 mengatakan ‘simpul-simpul ususnya teruntai’, dia kehilangan kontrol atas kantong kencingnya sendiri.
Belsyazar lalu menyuruh para ahlinya datang untuk membaca tulisan tersebut. Efeknya, tidak membuat tambah bagus melainkan hanya membuat dia tambah pucat pasi, karena ternyata tidak satu pun dari mereka yang boro-boro bisa menafsirkan, membaca saja aku sulit. Pada akhirnya Belsyazar hanya bisa termangu-mangu di atas genangan pipisnya sendiri, tidak tahu harus berbuat apa.
Ayat 10
Di bagian ini masuklah ke ruangan tersebut seorang tokoh penyelamat, yang disebut sebagai permaisuri (queen); namun sesungguhnya lebih tepat diterjemahkan sebagai ibu suri (queen mother). Alasannya para komentator yakin banget tokoh ini bukan istri melainkan ibu, yaitu karena di bagian awal dikatakan bahwa di ruangan tersebut sudah ada para istri dan para gundik, dan dengan demikian berarti siapapun tokoh yang masuk ini, dia bukanlah mereka. Selain itu, tokoh ini menolong Belsyazar dengan mengingatkan tentang suatu peristriwa yang sudah terjadi di masa lalu, dan dengan demikian mengindikasikan tokoh ini sudah cukup berumur. Itu sebabnya beberapa komentator mengusulkan bahwa tokoh ini kemungkinan besar ibu Belsyazar sendiri, dan bisa jadi salah satu anak perempuan Nebukadnezar, which is why dia sangat familier dengan peristiwa yang terjadi pada masa pemerintahan Nebukadnezar.
Satu hal yang menarik untuk kita point out dalam bagian ini, yaitu bahwa dalam seluruh kitab Daniel, ini merupakan satu-satunya momen kita mendengar suara dari seorang tokoh wanita; dan suara wanita ini muncul sebagai suara bijaksana bagi Si Raja yang bodoh. Sekali lagi ini sebuah paralel, yaitu dengan Amsal, di mana personifikasi dari kebijaksanaan muncul sebagai suara wanita. Sedikit intermezzo saja, itu sebabnya para wanita jangan pernah menganggap rendah dirimu, jangan pernah mengatakan kalimat-kalimat seperti: “Aduh, Pak, jangan khotbah susah-susah, saya cuma ibu rumah tangga”. Saudara, sesungguhnya di dalam Alkitab, seorang wanita mewakili bijaksana, bukan kebodohan; seorang wanita mewakili kedalaman, bukan kedangkalan pikiran. Ini sebabnya kaum feminis pun ada beberapa yang merasa bahwa musuh/penghalang terbesar dari kemajuan wanita sering kali adalah wanita itu sendiri. Anyway, di dalam kalimat Ibu Suri ini kembali kita membaca sebuah paralel antara Belsyazar dan Nebukadnezar.
Ayat 11-12
Kalimat Ibu Suri ini terdengar halus dan sangat sopan, namun sebenarnya implikasinya menusuk terhadap Belsyazar. Pada dasarnya Ibu Suri mengatakan kepada Belsyazar, “Kamu harusnya tahu harus ngapain; kamu harusnya tahu kepada siapa harus beralih kalau engkau membutuhkan suatu pencerahan supernatural! Orangnya adalah Daniel! Dan, Daniel ini bukan berada di kerajaan lain, engkau tidak perlu menjemput dia karena orang ini sesungguhnya ada di kerajaanmu sendiri! Engkau harus tahu ini. Engkau beralih kepada para ahli segala macam tetapi melupakan orang yang justru pernah diangkat jadi kepala atas mereka semua; oleh siapa? Siapa lagi kalau bukan Nebukadnezar. Kalau saja engkau lebih mirip Nebukadnezar …”.
Tambahan lagi, Ibu Suri menutup kalimatnya dengan mengatakan, “Daniel itu bisa menerangkan mimpi, dia bisa menyingkapkan hal-hal yang tersembunyi”; dan di ayat 12 Saudara membaca dalam terjemahan LAI versi TB2, “Daniel sanggup menyelesaikan masalah”, sementara dalam versi TB1, “Daniel sanggup menguraikan kekusutan”. Dalam hal ini, kalimat tersebut merupakan salah satu contoh di mana terjemahan TB1 lebih bagus daripada TB2, karena ini sebenarnya suatu permainan kata-kata, bahwa Daniel itu sanggup menguntai simpul-simpul yang kusut. Ini permainan kata yang nyambung, merujuk pada episode memalukan sebelumnya yang terjadi pada Belsyazar, ketika simpul-simpul ususnya teruntai.
Belsyazar pun mengikuti anjuran Ibu Suri, namun kita akan melihat bagaimana sikap Belsyazar menyapa Daniel, dan juga selanjutnya bagaimana sikap Daniel merespons perkataan Belsyazar.
Ayat 13-17
Saudara perhatikan nada perkataan Belsyazar di bagian ini. Belsyazar sepertinya sadar perkataan Ibu Suri tadi sebenarnya nyelekit; dan itu bisa menjelaskan sedikit adanya nada defensif dalam kalimat Belsyazar. Perhatikan, ketika Daniel dibawa ke hadapan dia, Belsyazar menyapa Daniel sebagai apa? Daniel tadi diiklankan sebagai orang yang telah diangkat Nebukadnezar di atas para ahli nujum, ahli-ahli mimpi, dsb., tetapi Belsyazar memilih untuk menyapa Daniel justru sebagai orang yang telah diangkut oleh Nebukadnezar, sebagai buangan. Beberapa penafsir melihat kalimat pertamanya ini merupakan usaha Belsyazar untuk tetap mempertahankan posisi ‘siapa butuh siapa, siapa yang bos di sini, siapa yang pegang kuasa’.
Ini lebih jelas lagi ketika di ayat 16 Belsyazar pada dasarnya sedang mempertanyakan kemampuan Daniel, dengan mengatakan, “Aku dengarnya begini, aku dengarnya begitu”. Ini sesungguhnya sebuah tantangan, ‘Eh, gua dengernya begini, bener ‘gak sih Lu bisa kayak gitu?? Coba buktikan! Soalnya aku dengernya begini tapi ‘gak tentu bener ‘kan’. Kalimat Belsyazar yang ada nada seperti ini, jadinya juga menjelaskan sebabnya respons Daniel pun beda dibandingkan cara dia menghadapi Nebukadnezar. Kita ingat sepanjang pasal 1-4, bagaimana Daniel menghadapi Nebukadnezar, yaitu menghadapi dengan certain respek; bahkan lebih daripada itu, Daniel punya semacam kepedulian yang genuine akan nasib Nebukadnezar di hadapan Tuhan (pasal 4). Tetapi di bagian ini, respons Daniel kepada Belsyazar lain sama sekali nadanya, tidak ada basa-basinya. Ayat 17: “Simpanlah hadiah Tuanku atau berikanlah penghargaan Tuanku kepada orang lain. Namun, aku akan membaca tulisan itu bagi raja dan memberitahukan maknanya kepada Tuanku.”
Ini pernyataan yang sangat tajam, ‘semua tawaran hadiahmu itu, ‘gak usah! silakan beri kepada orang lain’. Saudara bisa membaca hal ini dalam beberapa level. Pertama, kita tentu tahu dalam periode ini Daniel sudah lansia, sudah berumur 70-80-an, maka urusan posisi, kemuliaan, pangkat, kuasa, bagi orang-orang yang sudah berumur demikian memang tidak sebegitu menariknya. Namun dalam level yang lebih dalam, hal ini bisa Saudara baca bahwa Daniel menyatakan dirinya bukanlah seorang penjual jasa tafsir mimpi, ‘selama harganya cocok, saya akan melakukan bagimu’; dia tetap akan menafsirkan tulisan di dinding itu, tapi bukan demi semua hadiah melainkan karena ini merupakan kehendak Allah. Daniel bukan melakukannya karena wewenang Belsyazar; Daniel melakukannya atas wewenang Allah yang sejati. Tetapi mungkin dalam level yang ketiga, yang paling menyakitkan adalah Daniel sesungguhnya sadar, apapun yang Belsyazar bisa tawarkan bagi dia, itu cuma uap, karena Daniel sepertinya sadar Belsyazar tidak akan lama umurnya, dan Kerajaan Babilonia juga akan segera runtuh, jadi apa gunanya kuasa sebagai orang ketiga di kerajaan yang sebentar lagi kadaluwarsa??
Ayat 18-23
Kalau masih belum cukup, maka sebelum Daniel memberikan tafsiran atas tulisan di dinding itu, dia terlebih dulu menyusun panggung, memberikan konteks untuk mengerti tulisan tersebut. Dan, konteks ini lagi-lagi membandingkan antara Belsyazar dengan Nebukadnezar. Saudara bisa langsung membaca ini dari kalimat pertamanya, ayat 18: “Ya Tuanku raja! Allah Yang Maha Tinggi, telah memberikan kekuasaan sebagai raja, kebesaran, kemuliaan dan keluhuran kepada Nebukadnezar, ayah Tuanku.” Implikasinya apa? Implikasinya: ‘Allah tidak memberikan kuasa seperti itu kepada-mu, Belsyazar’ –nyesek ‘kan. Namun yang selanjutnya lebih menusuk lagi, Daniel mengulangi cerita pasal 4, di mana bahkan Nebukadnezar, raja yang begitu berkuasa, raja yang begitu mulia pun, sesungguhnya pernah direndahkan oleh Allah, bisa direndahkan oleh Allah. Ayat 19-22: “Oleh karena kebesaran yang telah diberikan-Nya itu … Namun, ketika ia menjadi tinggi hati dan keras kepala sehingga berlaku terlalu angkuh, ia dijatuhkan dari takhta kerajaannya, dan kemuliaannya diambil dari padanya. Ia dihalau dari antara manusia … sampai ia mengakui bahwa Allah, Yang Mahatinggi, berkuasa atas kerajaan manusia dan mengangkat siapa yang dikehendaki-Nya untuk kedudukan itu. Tetapi, Tuanku Belsyazar, anaknya, tidak merendahkan diri walaupun tuanku mengetahui semuanya ini.”
Poin perkataan Daniel sangat jelas, ‘Nebukadnezar itu masih ada modal kalau mau berbangga diri, meski demikian, dia pun telah direndahkan oleh Allah, sedangkan kamu, Belsyazar, apa pencapaianmu? Apa bobotmu? Engkau jelas-jelas kebanting jauh dibandingkan Nebukadnezar. Engkau harusnya belajar dari pengalaman Nebukadnezar. Engkau harusnya menyadari, kalau Nebukadnezar saja pada akhirnya merendahkan diri di hadapan Allah, apalagi engkau! Tetapi Belsyazar, engkau yang tahu mengenai peristiwa ini, tetap meninggikan dirimu di hadapan Allah, engkau menyalahgunakan perkakas-perkakas Allah tersebut’. Sekali lagi, kalau Saudara pulang ke rumah, dan menemukan istrimu sudah membuang barang-barangmu ke jalanan, itu maksudnya dia juga sudah membuangmu ke jalanan. Belsyazar telah menggunakan perkakas-perkakas Rumah Allah, dan paling parah lagi dia menyembah dewa-dewi yang tidak ada kuasanya selagi dia melupakan Allah yang benar-benar menggenggam nafasnya di dalam tangan-Nya (ayat 23), maka selanjutnya perkataan penghakiman dari Daniel kepada Belsyazar.
Ayat 24-30
Daniel lalu mulai membaca dan menafsirkan tulisan di dinding tersebut. Dalam hal ini kita mungkin agak bingung, koq bisa dari tiga kata keluar berkalimat-kalimat seperti ini; mungkin seperti kalau Saudara berkhotbah, dan Saudara cuma mengatakan dua kata, tiba-tiba penerjemahmu ngomong banyak, maka Saudara bingung ‘Lu dapat dari mana bahannya??’ –kira-kira seperti itu. Kita sebenarnya bisa membahas hal ini, hanya saja kita tidak punya waktu; ada logika tertentu yang sangat menarik untuk diikuti di sini, someday bisa kita bahas dalam PA. Namun pada dasarnya kuncinya adalah: bahwa setiap kata tersebut bisa dibaca dalam tiga bentuk yang berbeda. Mené bisa dibaca menah, bisa dibaca maniah; tekél bisa dibaca telkiltah, bisa dibaca kaletah; peres bisa dibaca perisat, bisa dibaca paras. Ketika Saudara membacanya bersama-sama seperti inilah yang jadinya mengeluarkan begitu banyak kata-kata sebagaimana kita lihat Daniel membacanya.
Apa artinya? Mené, adalah satuan berat, mina; tekél juga satuan berat yang lain, syikal (beda bahasa, yang satu Babilonia, yang satu lagi Ibrani); peres juga satuan berat. Mina adalah jumlah yang tidak sedikit, berat, seperti dalam perumpamaan Sepuluh Mina, sedangkan syikal cuma 1/10 dari mina, enteng, kebanting kalau dibandingkan mina. Peres adalah separuh dari kata yang diikutinya; jadi kalau tekél peres artinya setengah dari tekél. Dengan demikian mené adalah sesuatu yang besar, sesuatu yang diperhitungkan (menah), dan dipercayakan (mina); Babel yang besar ini dipercayakan kepada Belsyazar. Tetapi, Belsyazar itu cuma tekél, cuma sebuah syikal, dan tekél ini telah di-telkitah (ditimbang dalam neraca Allah) dan kaletah (ditemukan terlalu enteng); Belsyazar cuma satu syikal di hadapan kebesaran yang Nebukadnezar capai, cuma 1/60 dari yang sebelumnya, terlalu enteng. Dan, itu sebabnya peres (setengah dari yang sebelumnya, yang ada ini) telah dibagi (perisat), kepada orang Paras (Persia). Demikianlah bisa sampai kepada pengertian seperti itu. Ayat 26-28: “Mené: masa pemerintahan Tuanku dihitung oleh Allah dan telah diakhiri. Tekél: Tuanku ditimbang dengan neraca dan didapati terlalu ringan; Peres: kerajaan Tuanku dipecah dan diberikan kepada orang Media dan Persia.”
Apakah Belsyazar percaya kalimat ini, kita tidak diberitahu. Dia dicatat memberikan Daniel semua yang dia janjikan, namun bisa jadi itu simply terpaksa, karena di hadapan 1000 pejabatnya itu Daniel berhasil menguntai kekusutan tersebut, sehingga dia tidak bisa ingkar janji. Bagaimanapun, itu tidak penting; hadiah tersebut cuma hadiah kosong, karena kita membaca selanjutnya, malam itu juga tentara Media Persia masuk ke Babilonia dan membunuh Belsyazar. Beberapa versi pembagian/penomoran ayat, mengambil ayat pertama pasal 6 sebagai ayat terakhir pasal 5, maka kita suppostely membaca: ‘Pada malam itu juga Belsyazar, raja orang Kasdim itu, dibunuh. Lalu Darius, orang Media, mengambil alih pemerintahan Babilonia ketika ia berumur enam puluh dua tahun.’
Pesta Belsyazar pada akhirnya terungkap sebagai tindakan yang amat sangat dungu, berpesta di ambang kematian; merayakan apa, kalau bukan ujungnya merayakan keruntuhan kerajaannya sendiri. Atau, Saudara bisa membacanya secara paralel, kali ini paralel dengan kisah lain di Perjanjian Lama. Babel di tangan Belsyazar , berakhir dengan penghakiman Allah, di bawah kutuk dari sebuah tulisan/bahasa yang tidak dimengerti, dan berakhirnya dengan cara dibagi-bagi/dipecah oleh tangan Allah. Perhatikan, ada penghakiman, bahasa yang tidak dimengerti, pembagian; ini paralel dengan kisah Menara Babel di Kejadian 11, yang juga bernasib sama.
Itulah ceritanya, dramanya; sekarang apa pelajarannya bagi kita hari ini?
Pelajaran pertama, narasi Belsyazar ini adalah sebuah reminder; kita sedang diingatkan untuk jangan sampai terpesona/kagum dengan apa yang dunia hadirkan, yang dunia lihat sebagai kuasa atau kelimpahan. Ini satu poin yang kita sudah tahulah. Tetapi perhatikan, ini sebuah cerita di mana kuasa duniawi ditimbang/diungkap oleh Allah, seberapa entengnya, dangkalnya, ceteknya; namun yang menarik, kalau kita membandingkan dengan pasal 4, melihatnya secara paralel, pasal-pasal Nebukadnezar juga punya poin yang sama sih, mengingatkan kita untuk tidak terpesona dengan kuasa dan kemuliaan dunia. Bedanya apa? Kuasa Nebukadnezar, kelimpahan kerajaannya Nebukadnezar, itu kuasa yang memang beneran kuasa, yang memang ada substansinya, yang limpahnya memang benar-benar limpah, maka di pasal 4 kita diperingatkan untuk jangan sampai terlalu terpesona oleh kuasa-kuasa yang riil seperti itu; sedangkan di pasal 5, kita diingatkan untuk tidak terpesona oleh pesona jenis yang lain, pesona yang cuma di permukaan tok, tidak ada substansinya, cuma kelihatannya doang keren tetapi ternyata waktu ditimbang ketahuan apa dalamnya.
Saudara lihat bagaimana pasal tentang Nebukadnezar dan pasal tentang Belsyazar ini sedang saling melengkapi. Nebukadnezar itu raja yang benar-benar ada substansinya, ada bobotnya. Dan memang benar, ada godaan untuk kita meninggikan terlalu tinggi orang-orang yang memang bermodal, memang berprestasi, memang berjasa; kita dilarang melakukannya, kita disuruh mengatributkan semuanya hanya sebagai karunia pemberian Tuhan semata-mata. Tetapi sekarang, dalam pasal tentang Belsyazar, kita melihat Belsyazar itu cuma tong kosong yang bunyinya nyaring. Itu sebabnya hal ini sedang bicara mengenai sisi yang sebaliknya, godaan untuk kita meninggikan orang-orang yang cuma kencang bunyinya tok, yang tidak benar-benar punya kontribusi apapun, yang biasa dikatakan ‘famous for being famous’. Dan, kalau kita mau mengaku, bukankah ini yang sering kali jadi fokus kita serta masyarakat hari ini?
Kita hari ini merayakan siapa? Kita merayakan bukan apa yang substantif, kita merayakan simply apa yang viral. Hari ini siapa yang kita rayakan sih, siapa yang mengisi pembicaraanmu? Siapa yang mengisi attention-mu, kalau bukan para selebriti, para influencer, yang of course ada dari antara mereka yang benar-benar ada pencapaiannya, namun kita semua tahu mayoritas dari mereka tidak ada bobotnya sama sekali. Untuk mengungkap ini, kita tinggal tanya budaya kita, tinggal lihat feed sosmed kita, isinya apa? Isinya, kita lebih senang melihat mereka yang cantik, keren, yang hidupnya penuh glitter, kelimpahan. Kita tidak merayakan misalnya petani. Para petani jauh lebih punya bobot, jauh lebih punya kontribusi dalam membangun suatu negara dibandingkan para influencer, namun attention kita lebih untuk siapa hari ini? Tidak berarti kita sekarang dipanggil untuk mengalihkan perhatian kepada para petani dan mulai memberhalakan mereka –gantian jadinya– karena kembali lagi pasal-pasal mengenai Nebukadnezar sudah jelas mengatakan bahkan orang yang berjasa pun, yang ada kontribusi riil pun, tidak pernah menjadi dasar untuk meninggikan diri; dan sekarang kalau Saudara lihat secara paralel, ini berarti: apalagi para selebriti dan influencer itu.
Saudara, kita inilah orang-orang yang sedang dibongkar oleh Alkitab sebagai orang-orang yang senantiasa hidup di hadapan pesta-pesta Belsyazar, setiap hari. Banyak dari kita sudah menginvestasikan banyak uang, waktu, perhatian, simply demi mendapat undangan masuk ke pesta-pesta bodoh tersebut, pesta-pesta di ujung tanduk kuburan. Pembongkaran ini lebih nyesek lagi waktu kita sadar bahwa perasaan mupeng-mupeng kita itu targetnya bukan cuma para influencer dan billioner yang tinggalnya di awang-awang, tapi seringkali mupeng kita targetnya pada hal-hal yang jauh lebih membumi, kita senantiasa mupeng dengan rumput tetangga. Wow, mereka beli mobil baru, mobil listrik, BYD. Kita tertarik dengan body mereka, karier mereka. Kita ngiri dengan anak-anak mereka yang kelihatannya koq lebih nurut, ya, dibandingkan anak-anak kita.
Saudara, kisah Belsyazar ini membongkar satu hal: bukan cuma bahwa Belsyazar itu Belsyazar, tapi bahwa kita semua juga adalah belsyazar-belsyazar KW. Ini ‘kan salah satu janji sosmed yang menarik buat manusia hari ini, bahwa sekarang lewat sosmed, anyone can be famous–kamu tidak harus jadi milyuner untuk bisa jadi terkenal, kamu tidak harus berjasa besar untuk bisa terkenal; kamu bisa terkenal, viral, simply karena kamu kelihatannya saja keren, karena kamu kelihatannya saja cantik, karena kamu kelihatannya saja kuat atau lucu atau bahkan nyebelin; kalau nyebelinmu level dewa, kamu bisa viral juga loh.
Kisah Belsyazar membongkar sesuatu yang banyak dari kita tidak mau akui, bahwa di satu sisi memang benar kesombongan manusia terjadi ketika kita merasa bisa menjadi nebukadnezar-nebukadnezar, yang berjasa besar, yang membuat banyak orang mendapatkan hal-hal yang positif; namun di sisi lain juga membongkar bahwa di hadapan Allah, ternyata kesombongan manusia dengan sangat ironis dan sangat bodoh bisa juga muncul ketika kita cuma adalah belsyazar-belsyazar. Dua jenis kesombongan ini, kalau yang pertama saja tidak ada toleransinya di hadapan Tuhan, apalagi yang kedua. Sementara kisah Nebukadnezar mengungkap kecenderungan manusia untuk terlalu terpukau dengan apa yang mata manusia bisa lihat, kisah Belsyazar mengungkap kecenderungan manusia untuk justru menutup mata terhadap realitas, berpesta meskipun di luar tembok kota tentara musuh sudah mengepung dan siap menerobos masuk.
Dalam Roma pasal 1, Paulus pernah mengatakan, ‘sebenarnya tidak ada orang ateis, sebenarnya semua orang tahu Tuhan itu ada, dan perlu ada pertanggungjawaban terhadap Tuhan tersebut, namun yang manusia lakukan adalah menekan pengetahuan ini, mereka in denial’. Saya tidak tahu Saudara merasa apa membaca ayat seperti itu, tapi saya sendiri pernah bertahun-tahun merasa ‘masa iya sih?? masa manusia sebegitu parahnya sih, tahu ada Tuhan, cuma simply menekan, menolak untuk hadapi realitas?? kayaknya Paulus ini terlalu gampang ambil kesimpulan seperti itu’. Saya ingat pernah merasa seperti itu bertahun-tahun. Tetapi coba baca lagi kisah Belsyazar dan coba bandingkan lagi dengan kehidupan kita; coba lihat kehidupan manusia berdasarkan lensa cerita ini. Kita ini sudah tahu bahwa adalah lebih baik untuk memulai pagi hari bukan dengan cek HP melainkan dengan Firman Tuhan, tapi seperti Belsyazar, kita mengejar apa yang kelihatan baik di mata kita, sembari kita menekan apa yang hati nurani kita katakan. Seperti Belsyazar, Saudara dan saya mengambil hal-hal yang sesungguhnya milik Tuhan, perkakas-perkakas Tuhan, dan menggunakannya untuk memuaskan nafsu serta berhala-berhala kita. Itu sebabnya kisah Belsyazar mengungkap penghakiman apa yang akan turun ke atas kita jika kita terus bertahan dalam jalan ini; dan bahwa penghakiman seperti itu memang penghakiman yang pas, yang patut, bagi orang-orang seperti kita, belsyazar-belsyazar KW. Demikian pelajaran yang pertama.
Pelajaran yang kedua, kisah ini ngungkap satu level lagi, bahwa yang telah ditimbang dan ditemukan terlalu enteng, bukanlah cuma Belsyazar-nya doang tapi juga dewa-dewi yang disembah oleh Belsyazar, ilah-ilah palsunya. Perhatikan, kisah ini dimulai dengan Belsyazar memuja-muji dewa-dewa emas, perak, tembaga, kayu, batu, namun lihat, dewa-dewi ini silent sepanjang kisahnya, bahkan sepanjang kitabnya. Mereka tidak bisa menghalangi tangan dan jari Tuhan muncul serta menghentikan atmosfer pesta. Mereka tidak bisa melindungi Belsyazar dari tentara Media dan Persia. Namun demikian, kita tidak melihatnya seperti itu ‘kan??
Ketika Yehuda runtuh di awal cerita, Bait Allah dibakar, orang-orangnya dibuang ke Babel, perkakas-perkakas Rumah Tuhan dirampas dan diteruh di kuil-kuil dewa itu –ketika gedung gereja hari ini dijual jadi kafe atau gym atau bahkan masjid– orang-orang mengatakan, “Lihat! Allah Alkitab telah kalah”, dan kita mingkem karena dalam hati kita juga merasa demikian. Tetapi, pasal demi pasal kitab Daniel mulai mengungkap suatu realitas yang lain, realitas yang sesungguhnya, bahwa Allah Alkitab ternyata tidak kalah simply karena Yehuda kalah, bahwa Kerajaan Allah Alkitab dalam momen seperti itu malah mengalami ekspansi, bahwa Allah sanggup melindungi nyawa hamba-hamba-Nya, bahwa bahkan perkakas-perkakas Bait Suci sesungguhnya itu bukan sedang dirampas, itu trojan horse. Selagi Allah Alkitab yang kelihatannya impoten itu diungkap kuasa-Nya, pada saat yang sama Saudara menyaksikan dewa-dewi Babilonia yang kelihatan berkuasa, sedang diungkap impotensinya. Allah sanggup melindungi nyawa Sadrakh, Mesakh, Abednego dari dapur api, sedangkan Bel, atau Marduk, atau siapapun, tidak punya kuasa untuk melindungi Belsyazar dari tentara Persia.
Dalam kesaksian Daniel tadi mengenai Nebukadnezar, Daniel mengatakan bahwa kuasa Nebukadnezar besar, dia bisa mengambil nyawa, dia bisa membiarikan hidup, dia bisa meninggikan, dia bisa merendahkan; tapi Daniel mengatakan itu semua diberikan Tuhan bagi Nebukadnezar, bukan pemberian dewa-dewinya Nebukadnezar sendiri. Itu sebabnya Allah berkuasa untuk kemudian mencabut semua itu dari Nebukadnezar, dan juga untuk memulihkan kembali Nebukadnezar ketika dia menyadari dan merendahkan diri di bawah Allah Alkitab.
Satu lagi kontras antara Nebukadnezar dan Belsyazar, yaitu Belsyazar tidak cukup umur untuk bisa sampai ke kesadaran ini. Nebukadnezar direndahkan, untuk dipulihkan; Belsyazar direndahkan, untuk kemudian dihancurkan. Pertanyaannya, apakah kita sudah menyadari pelajaran ini, bahwa berhala-berhala dunia itu kosong dan impoten?
Kalau Saudara masih belum menyadari ini, saya merekomendasikan buku “Counterfeit Gods” dari Timothy Keller; dan ini bukan buku yang cuma perlu dibaca sekali, tapi berkali-kali. Di buku itu dia membahas dan menelanjangi banyak berhala umum masyarakat modern –cinta, sukses, harta, kuasa, dsb. Satu hal yang dia tidak bahas adalah teknologi sayangnya, tapi mungkin teknologi bahkan tidak perlu dibahas karena kita paling peka dengan kepalsuan dan kehampaan dari teknologi. Ada GoFood yang menjanjikan kemudahan dalam membeli makanan, lebih banyak opsi pula, jadi teknologi membantumu dan menolong kehidupanmu, namun Saudara end up dengan lebih lama pilih makanan dibandingkan makannya. Itulah teknologi; dan kita sadar akan hal ini.
Saudara jangan salah tangkap saya, dalam Kekristenan problem berhala bukan urusan pemakaiannya. Sesungguhnya berhala-berhala tersebut merupakan hal-hal yang memang diberikan Tuhan untuk kita pakai koq, hal-hal tersebut pada awalnya adalah berkat-berkat Tuhan. Problem dari berhala adalah: kita bukan memakai mereka, melainkan menyembah mereka, oleh karena itu pada akhirnya kita dipakai oleh mereka. Saudara ingat, solusi Tuhan Yesus atas berhala mamon, bukanlah untuk putus hubungan dengan mamon dan mulai sekarang jangan pakai uang lagi, melainkan untuk menggunakan mamon –karena problemnya bukan ketika kita menggunakan mamon, tapi kita di-gunakan oleh mamon berhubung kita menyembah mamon tersebut. Problem dengan kuasa, bukanlah ketika kita benar-benar berkuasa, melainkan ketika kita dikuasai oleh kuasa. Problem dengan uang, bukanlah ketika kita memiliki uang, melainkan ketika kita di-miliki oleh uang. Problem dengan rasa cinta, sudah pasti bukan mengasihi, melainkan ketika kita jadinya haus dan lapar akan kasih sayang.
Itu sebabnya sama seperti Belsyazar, Daniel mengatakan, “Engkau –kita– memuja-muji dewa-dewi palsu ini selagi kita melupakan Allah yang sesungguhnya menggenggam napas kita di tangan-Nya”. Saudara tahu efeknya apa? Efeknya adalah –sama seperti Belsyazar– hidup kita juga teruntai, kita kehilangan kendali, kita terkencing-kencing dan ter-eek-eek oleh karena … . Coba, Saudara, apa situasi dalam hidupmu yang membuat engkau terkencing-kencing dan ter-eek-eek? Ketika kariermu terancam ‘kan. Ketika kesehatanmu drop. Ketika relasi yang engkau pegang mati-matian itu berakhir. Bahkan kemarahan-kemarahan kita yang paling parah sering kali keluar dalam situas-situasi yang paling remeh, seperti ketika mobil kita mogok. Ini membongkar hati kita, sama seperti pesta Belsyazar membongkar kepada siapa sesungguhnya kita mempercayakan diri kita, dan betapa bodohnya ketika kita melakukan hal itu!
Kita ini semua praktis belsyazar-belsyazar. Dengan mulut kita mengaku Yesus Kristus adalah Allah, tapi emosi-emosi kita yang terbesar, baik poisitif maupun negatif, kita investasikan ke dalam ilah-ilah palsu ini, kesehatan, karier, kenyamanan, status, pencapaian! Hal-hal inilah yang mendapatkan status ‘ilahi’ dalam hidup kita. Lebih parahnya, kita mengambil hal-hal yang Tuhan berikan kepada kita –tubuh, pasangan hidup, anak-anak, posisi– menjadi gelas-gelas di mana kita bersulang akan dewa-dewi palsu ini. Kalau Saudara dan saya hari ini ditimbang di hadapan Tuhan, kita semua akan ditemukan terlalu enteng! Kita inilah tekel-tekel yang patutnya dilenyapkan saja seperti Belsyazar.
Saudara, tetapi inilah justru paradoksnya berita anugerah dalam Injil Alkitab. Berita anugerah dalam Injil Alkitab baru benar-benar kita mengerti dan pahami, bukan ketika berita anugerah menggantikan penghakiman, melainkan justru ketika berita anugerah include penghakiman seperti ini.
Sekali lagi, ini berita penghakiman ‘kan. Pasal 4 dan pasal 5 secara paralel menunjukkan kedaulatan mutlak Tuhan dalam keselamatan. Di satu sisi, Allah adalah Allah yang memberikan belas kasihan, memberikan waktu tujuh masa kepada Nebukadnezar untuk merendahkan dirinya di hadapan Tuhan, lalu dipulihkan; tetapi di pasal 5, Tuhan tidak memberikan seperti itu sama sekali kepada Belsyazar, malam itu juga nyawanya hilang. Nebukadnezar direndahkan Tuhan untuk kemudian dipulihkan, Belsyazar direndahkan Tuhan bukan untuk dibawa kepada pertobatan melainkan hanya untuk dibinasakan. Saudara perhatikan satu hal, apa yang pasti di sini? Yang pasti adalah: Allah akan merendahkan semua yang meninggikan diri. Beberapa Ia rendahkan untuk kemudian diselamatkan, dibuka matanya, disadarkan akan kebergantungan mereka kepada Tuhan, dibuat menekuk lututnya di hadapan Tuhan. Beberapa yang lain direndahkan hanya untuk dimatikan, hanya untuk melihat dalam momen-momen terakhir hidupnya bahwa kebanggan mereka hanyalah kehampaan, bahwa ilah-ilah yang mereka invest begitu mahal selama ini ternyata impoten, dan nasib yang menatap mereka hanyalah kehancuran kekal.
Apa pelajarannya bagi kita di sini bahwa Alkitab punya dua-duanya? Adalah untuk menyadari bahwa Saudara dan saya tidak bisa mengasumsikan belas kasihan Tuhan akan datang kepada kita. Merupakan satu kebenaran yang serius dan sangat alkitabiah ketika belakangan Tuhan mengatakan bahwa Ia berbelaskasihan kepada siapa Ia mau berbelaskasihan, dan Ia mengeraskan hati siapa yang Ia mau keraskan hatinya.
Kita sering kali pikir berita penghakiman yang seperti ini, kuasa Tuhan yang mutlak atas penghakiman manusia, membuat kita jadi susah melihat Allah beranugerah. Saudara salah. Dalam konteks kedaulatan penghakiman seperti inilah, justru baru kita bisa memahami dengan tepat anugerah Tuhan bagi kita. Itu karena selama ini engkau pikir, kalau engkau mengerti anugerah dengan tepat, maka perasaan yang harusnya muncul dalam hatimu adalah perasaan lega, perasaan ‘Oh, Tuhan begitu mengasihiku’; tapi di sini engkau menyadari ternyata lain. Engkau mengerti dan memahami anugerah Tuhan secara tepat, justru ketika engkau menyadari Tuhan masih menunjukkan belas kasihan-Nya kepadamu hari ini dan engkau merasa kaget, tercengang, susah percaya, ‘koq, bisa Dia mengasihiku, ada alasan apa Dia mengasihiku??’ Itulah pemahaman anugerah yang alkitabiah, karena itu adalah pemahaman anugerah yang include penghakiman.
Problem kita selama ini menjadi orang Kristen yang suam-suam kuku, itu bukanlah karena kita tidak pernah dengar kabar anugerah, problemnya mungkin justru karena kita terlalu banyak dengar kabar anugerah dan belum pernah direndahkan di hadapan Tuhan, menekuk lutut kita di hadapan-Nya. Seperti Belsyazar, engkau mungkin sudah mendengar cerita-cerita mengenai kuasa Tuhan tersebut, dari orang-orang yang kaukenal, dari orang-orang yang mendahuluimu; tetapi seperti Belsyazar, engkau hanya mendengar tok, engkau tidak pernah benar-benar mempertaruhkan dirimu di dalamnya. Jikalau demikian, biarlah hari ini jadi hari engkau belajar dari Belsyazar seberapa berbahayanya posisi engkau berdiri itu!
Saudara, waktu mempersiapkan khotbah ini, saya pikir saya tidak akan pernah khotbah kayak begini. Saya tidak suka khotbah-khotbah yang seperti menakut-nakuti kayak begini, rasanya ‘gak sesuai. Tetapi saya salah! Di atas mimbar ini memang saya tidak dipanggil untuk menyampaikan khotbah yang sesuai dengan seleraku, saya dipanggil untuk setia kepada apa yang Alkitab panggil untuk diberitakan; dan hari ini message dari firman Tuhan adalah untuk membuat kita menyadari napas kita ada dalam genggaman tangan Tuhan, malam hari ini juga Tuhan bisa mengambilnya, sama seperti Ia melakukannya kepada Belsyazar! Dan, jika itu terjadi, apa gunanya pesta-pestamu selama ini? Apa gunanya pencapaian-pencapaianmu selama ini? Hari-harimu yang kau isi dengan pesta-pesta itu adalah pesta-pesta yang dilakukan di ujung tanduk kuburan; dan selama hatimu kau keraskan terhadap Kristus, ketahuilah nasibmu sudah tertulis di dinding tembok istanamu.
Itu sebabnya sama seperti Musa katakan kepada bangsa Israel: hari ini dihadapkan di hadapanmu kehidupan dan kematian, pilihlah kehidupan. Lebih baik engkau belajar bukan cuma dari Belsyazar, tapi juga dari Nebukadnezar. Lebih baik engkau merendahkan dirimu sekarang, sebelum terlambat, karena Allah memang merendahkan mereka yang meninggikan diri, namun Allah yang sama itu juga mengangkat mereka yang humble.
Hal terakhir yang mau kita lihat dari bagian ini. Tadi kita katakan bahwa perasaan kita sewaktu melihat anugerah harusnya bukan perasan lega melainkan perasaan kaget, itulah sikap terhadap anugerah yang tepat, anugerah yang datang melalui penghakiman dan bukan menggantikan penghakiman; namun pertanyaannya: “Dari mana, Pak, saya bisa tahu anugerah tersebut memang datang bagiku? Bagaimana saya bisa mengatakan Allah tersebut memang menunjukkan belas kasihan kepada kita?” Jawabannya, hal itu kita lihat lewat satu paralel yang terakhir. Kontras yang kita lihat di bagian ini bukan hanya antara Belsyazar dan Nebukadnezar, kita juga melihat kerajaan Belsyazar dikontraskan dengan satu Kerajaan yang lan, Kerajaan yang akan datang. Kerajaan yang ketika ditimbang, sungguh berbobot, sungguh utuh; bahasa Ibraninya kabot, kemuliaan, punya weight, berbobot. Itu adalah Kerajaan yang Allah dirikan dalam Yesus Kristus –kita semua tahu itu. Tapi perhatikan, apa yang jadi ciri khas Kerajaan yang sungguh berbobot itu? Ciri khasnya begitu unik, bahkan ironis, karena Kerajaan yang ketika ditimbang sungguh utuh, sempurna, dan berbobot ini, kita melihat Rajanya justru tidak punya semua penampakan luar yang dunia kejar.
Yesus tidak punya glitter-glitter yang kepadanya manusia senantiasa tertarik. Kristus dikatakan tidak memilki apa-apa; “Serigala punya liang, burung punya sarang, tapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (perhatikan di sini, istilah ‘Anak Manusia’ datang dari mana, dari kitab Daniel). Kristus mungkin pernah punya ribuan orang banyak yang mengikuti Dia, tapi ini bukanlah followers yang sejati, buktinya begitu Dia mengatakan, “Kamu harus makan tubuh-Ku dan minum darah-Ku”, mereka bubar, sisa 12 orang. Ini seperti seorang pendeta besar mendirikan gereja besar yang ratusan cabang dan ribuan jemaat tetapi di akhir hidupnya dia “salah ngomong”, dan hanya sisa 12 orang mengikut dia. Itulah Yesus Kristus, itulah Kerajaan-Nya.
Yesaya mengatakan, Dia tidak ada semarak di luarnya, atau penampilan, sehingga kita menginginkan Dia. Dia masuk ke dunia ini sebagai tukang kayu yang rendahan, bukan sebagai kaisar yang tinggi bertakhta. Yesus Kristus tidak pernah punya cukup uang untuk bikin pesta, apalagi pesta untuk 1000 orang, karena memang Kerajaan-Nya bukanlah bagian dari dunia in. Meski demikian, Kerajaan yang inilah ketika ditimbang dalam timbangan Allah, hasilnya sempurna, mampu menerima dan menanggung seluruh tuntutan kekudusan dari Allah, seluruh tuntutan ketaatan dan kesucian bukan, hanya bagi diri-Nya tapi bagi semua yang datang kepada Allah melalui-Nya.
Suatu hari nanti Ia akan mengadakan bagi kita Perjamuan yang sejati, suatu pesta yang sejati di akhir zaman. Pada hari itu bukan 1000 petinggi yang akan datang, melainkan ribuan demi ribuan umat-Nya akan hadir. Mereka tidak sekadar diberi jubah-jubahan ala raja-raja dunia, atau kalung-kalung emas, atau status/posisi yang akan segera kadaluwarsa; mereka adalah yang jubahnya telah dibasuh secara permanen dalam darah Anak Domba Allah.
Dalam pesta perjamuan itu tidak ada tempat bagi kesombongan, tidak ada tempat untuk saling bersulang akan pencapaian-pencapaian kita; di tempat itu setiap orang yang hadir hanya akan mengakui –bukan cuma dengan rasa lega tapi dengan rasa kaget, tercengang– bahwa mereka diselamatkan hanya oleh karena kasih karunia Allah, dan undangan itu mereka terima hanya oleh karena belas kasihan-Nya. Perjamuan di mana kita dalam 1000 bahasa yang berbeda, masing-masing berseru seperti Isaac Watts menuliskan: “Tuhan, mengapa aku bisa menjadi tamu-Mu? Mengapa aku dibuat mendengar suara-Mu dan masuk selagi masih ada waktu, sedangkan ribuan orang yang lain lebih mmilih mati kelaparan dibandingkan menghampiri meja-Mu? Hanya karena belas kasihan-Mu. Belas kasihan yang sama yang menyerahkan tubuh-Mu dan darah-Mu sebagai menu perjamuan ini, itulah yang menarik kami; tanpanya, kami masih tetap enggan mencicip, dan binasa dalam dosa-dosa kami”.
Dalam perta tersebut tidak ada lagi lampu mati mendadak, karena memang tidak perlu lagi lampu, bahkan tidak perlu lagi matahari, karena terang kemuliaan Allah ada di tengah-tengah mereka. Kerajaan itu tidak akan pernah dipecah dan dibagi-bagi di antara musuh-musuh-Nya, bahkan Kerajaan itu justru kerajaan yang umat-Nya disatukan dari mereka yang tadinya adalah musuh-musuh-Nya, engkau dan saya.
Inilah opsi kehidupan yang ada di hadapanmu. Apakah engkau mendengar panggilan ini? Itulah buktinya Tuhan masih berbelaskasihan kepadamu. Inilah opsi Kerajaan yang ada di hadapanmu. Di hadapanmu dan di hadapanku hari ini ada kehidupan dan kematian, pilihlah kehidupan. Kalau engkau bingung mulai dari mana, mulailah dari perkara-perkara kecil –barangsiapa setia dalam perkara kecil, dia setia dalam perkara besar. Kehidupan dalam Kerajaan ini ditemukan bukan di smartphone, tapi ditemukan dalam segala perkataan firman Tuhan. Mulailah dari situ. Pilihlah kehidupan.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading