Kita melanjutkan eksposisi kitab Hakim-hakim; hari ini khotbah yang ke-2 dan kita mulai masuk ke pasal 1:1 – 2:5. Ini bagian yang cukup panjang, dan juga membingungkan, aneh, tapi kita akan membahasnya bersama-sama.
Membaca bagian seperti ini, saya rasa reaksi yang cukup normal adalah: ‘ini apaan, sih??’ Di sini ada sekumpulan catatan perang suku Yehuda, ada sekumpulan catatan perang suku-suku lain, lalu di tengah-tengahnya ada catatan sepak terjang Kaleb, ada cerita perempuan yang minta mata air/sumur, dan berakhir dengan Malaikat TUHAN yang marah-marah. Apa-apaan ini?? Membingungkan sekali.
Saudara, kita bisa bingung begini karena sering kali kita tidak sadar bahwa Alkitab ada sekuel-sekuelnya. Misalnya, dalam pembahasan yang pertama, kita membicarakan ayat terakhir kitab ini yaitu Hakim-hakim 21:25, ‘Pada zaman itu tidak ada raja di antara orang Israel; setiap orang berbuat apa yang benar menurut pandangannya sendiri’; dan kita tahu ayat ini mengantisipasi episode berikutnya yaitu dimulai dengan kitab Rut lalu kitab Samuel, mengenai cikal bakal kerajaan Israel. Dengan demikian, ayat terakhir kitab Hakim-hakim ini menerawang ke masa yang akan datang; oleh karena itu ketika kita pindah ke ayat pertama dari kitab Hakim-hakim ini, sebenarnya ini ayat yang melihat ke belakang. Ini adalah kitab-kitab yang saling berhubungan, dan kalau kita tidak mengerti bagian ini bicara apa, kita bisa melihat dari apa yang dikatakan di ayat 1: ‘Sesudah Yosua mati …’. Ini adalah satu petunjuk dari penulisnya, bahwa kalau Saudara mau mengerti kitab ini, Saudara harus mengerti kitab sebelumnya; Saudara harus membacanya secara struktur besarnya, dan tidak bisa bisa hanya fokus pada isi dari bagian ini. Saudara perlu mempertimbangkan keseluruhan struktur/susunan yang sudah diberikan dalam firman Tuhan ini.
Ayat 1 mengatakan: ‘Sesudah Yosua mati …’; ini menarik kita untuk langsung bertanya, apa yang terjadi dalam kitab Yosua, bagaimana kitab Yosua menyusun ‘panggung’ bagi hal-hal yang akan terjadi dalam kitab Hakim-hakim. Omong-omong, kalau Saudara membuka kitab Yosua dan melihat ayat pertama kitab Yosua, Saudara menemukan ayat yang mirip sekali juga; dikatakan: ‘Sesudah Musa hamba TUHAN itu mati … ‘ —ini berarti kitab Yosua pun melihat ke belakang. Jadi, untuk Saudara dapat mengerti kitab-kitab ini, Saudara bisa mengertinya dengan melihat ke belakang, Saudara juga bisa mengertinya dengan menerawang ke depan. Ini semua kitab-kitab yang berhubungan.
Apa yang terjadi dalam kitab Yosua, yang kita bisa pakai untuk menyusun panggung bagi apa yang akan terjadi dalam pasal pertama kitab Hakim-hakim ini? Kita mungkin selalu mengingat kitab Yosua sebagai kitab perang, dan kita selalu ingat Yerikho setiap kali mengingat Yosua. Tetapi kalau Saudara perhatikan baik-baik kitab Yosua, sebenarnya cerita perang dalam kitab ini cuma separuh bagian awal saja, sedangkan separuh yang kedua adalah bagian yang isinya “sangat menarik” yaitu daftar-daftar. Ini daftar tentang pembagian tanah; tanah si ini diberikan kepada si itu, tanah si itu diberikan kepada si ini, Kaleb dapat Hebron, orang yang ini dapat itu, dsb. –dan inilah sebabnya kita sering kali melewati bagian-bagian tersebut. Tetapi sebenarnya separuh bagian kedua ini lebih penting daripada separuh bagian yang pertama. Ini penting bagi para pembaca pertama, dan juga penting bagi penulisnya –dan ini sebabnya dia mendevosikan setengah bagian kitab untuk daftar-daftar ini– karena daftar-daftar tersebut adalah cara penulis menyatakan inti berita kitab Yosua, yaitu bahwa Tuhan setia menepati janji-Nya. Dalam hal ini, setia menepati janji-Nya memberikan tanah tersebut bagi Israel –itu sebabnya isi kitab ini mengenai pembagian tanah. Hal ini bukan cuma muncul dalam paruh kedua kitab Yosua, tapi bahkan merupakan tema utama kitab Yosua, karena yang membingkai kitab Yosua baik di depan maupun di belakang adalah tema yang sama ini.
Kita melihat Yosua 1:3, Tuhan berkata kepada Yosua: “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa” –ada penekanan mengenai janji. Lalu dalam Yosua 21 (mendekati pasal terakhir kitab ini), yang bisa dibilang kesimpulan dari kitab Yosua, ayat 43-45 dikatakan: ‘Jadi seluruh negeri itu diberikan TUHAN kepada orang Israel, yakni negeri yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah untuk diberikan kepada nenek moyang mereka. Mereka menduduki negeri itu dan menetap di sana. Dan TUHAN mengaruniakan kepada mereka keamanan ke segala penjuru, tepat seperti yang dijanjikan-Nya dengan bersumpah kepada nenek moyang mereka. Tidak ada seorang pun dari semua musuhnya yang tahan berdiri menghadapi mereka; semua musuhnya diserahkan TUHAN kepada mereka. Dari segala yang baik yang dijanjikan TUHAN kepada kaum Israel, tidak ada yang tidak dipenuhi; semuanya terpenuhi.’ Saudara perhatikan, ada triple penekanan di sini, mengenai pemenuhan janji Tuhan untuk memberikan tanah itu kepada bangsa Israel, sehingga tidak heran, setengah isi kitab ini adalah daftar pembagian tanah.
Namun, yang muncul di depan dan di belakang, dan membingkai kitab Yosua, bukan cuma urusan janji dari pihak Allah saja, tapi juga ada penekanan mengenai tanggung jawab dari sisi Israel. Ada perkataan bahwa Allah akan memberikan mereka tanah, Allah akan memberikan mereka kemenangan, tapi juga ada perkataan bahwa kemenangan-kemenangan militer ini harus dilakukan berbarengan dengan satu sikap rohani yang rendah hati serta bergantung kepada Tuhan, dari sisi bangsa Israel. Hal ini ada di bagian depan dan juga di belakang. Misalnya, di bagian depan Tuhan mengatakan kepada Yosua, “Hanya, kuatkan dan teguhkanlah hatimu dengan sungguh-sungguh, bertindaklah hati-hati sesuai dengan seluruh hukum yang telah diperintahkan kepadamu oleh hamba-Ku Musa; janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri, supaya engkau beruntung, ke mana pun engkau pergi. Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati” (Yosua 1:7). Di bagian belakang, Yosua mengatakan kepada orang Israel: “Kuatkanlah benar-benar hatimu dalam memelihara dan melakukan segala yang tertulis dalam kitab hukum Musa, supaya kamu jangan menyimpang ke kanan atau ke kiri” (Yosua 23:6). Jadi sama; di bagian depan Tuhan mengatakannya, dan di bagian akhir Yosua mengulangi perkataan itu kepada orang Israel. Dengan demikian sejak awal jelas bahwa kemenangan dan juga peristirahatan orang Israel di negeri tersebut, harus datang melalui kebergantungan mereka kepada Tuhan, bukan karena mereka berjuang atas dasar kekuatan mereka sendiri, atas dasar penglihatan mereka, atas dasar persepsi mereka.
Hal yang menarik, apa tandanya bagi orang Israel bahwa mereka melakukan perang ini dengan kebergantungan kepada Tuhan? Apa syaratnya, apa kondisi yang eksplisit dalam hal ini? Kalau Saudara membaca di Yosua 23, hal ini diulang sampai dua kali, yaitu jangan bergaul dengan bangsa-bangsa yang masih tinggal di antara mereka itu, serta mengakui nama allah mereka dan bersumpah demi nama itu, dan beribadah atau sujud menyembah kepada mereka; dan juga jangan berbalik dan berpaut kepada sisa bangsa-bangsa ini (jangan tinggal bersama-sama mereka) jangan kawin-mengawin dengan mereka (jangan kawin campur dengan mereka), jangan bergaul dengan mereka, jangan membuat perjanjian (deal) dengan mereka. Kalau mereka melakukan itu, maka di kitab Yosua sudah dikatakan, “TUHAN, Allahmu, tidak akan menghalau lagi bangsa-bangsa itu dari depanmu. Tetapi mereka akan menjadi perangkap dan jerat bagimu, … “, dan seterusnya. Jadi ini semua sudah jelas sejak awal.
Pertanyaannya, mengapa hal inilah —tidak bikin deal dengan bangssa-bangsa lain itu, tidak tinggal bersama-sama dengan mereka— yang menjadi ekspresi kebergantungan mereka kepada Tuhan? Jawabannya sederhana: karena ini bukanlah jalan yang rasional menurut pikiran manusia. Saudara coba perhatikan, kalau orang Israel lebih lemah dibandingkan bangsa-bangsa Kanaan, maka jelas Israel tidak akan maju perang melawan mereka; kalau kita tahu bahwa kita lebih lemah dibandingkan orang-orang Kanaan, tentu kita tidak bakal menyerang mereka. Saya cukup yakin, policy militer yang normal adalah tidak cari ribut dengan negara yang militernya lebih kuat; Rusia tidak bakal menyerang Ukraina kalau Rusia merasa militer Ukraina lebih kuat. Jadi, kalau militer Saudara kurang kuat, maka satu cara yang rasional kalau mau menduduki tempat itu adalah bikin deal dengan mereka; “Gua mau nyerang lu, ya, mungkin gua ‘gak bisa menang, tapi lu pasti bakal rugi, jadi kita bikin deal sajalah”. Tapi kalau mereka tidak bikin deal, itu berarti mereka taat bergantung kepada Tuhan, bukan karena mereka lemah atau kuat. Di sisi lain, kemungkinan bikin deal yang satu lagi adalah kalau mereka lebih kuat dibandingkan bangsa Kanaan. Kalau militer Saudara lebih kuat, dan Saudara menyerang suatu negara, sebenarnya Saudara juga tidak perlu menghalau semua orang di situ, karena kalau Saudara lebih kuat maka orang-orang ini tidak akan mejadi ancaman bagi Saudara. Dan kalau mereka tidak jadi ancaman, Saudara bisa menindas mereka, bisa mengeksploitasi mereka secara ekonomi, sehingga ngapain harus mengusir mereka, lebih baik diperalat saja –maka bikinlah deal; “Kamu mau tetap hidup? Silakan, tapi kamu aku jadiin budak”. Jadi, ‘bikin deal’ dengan orang-orang tersebut adalah satu cara yang normal pada waktu itu, cara yang masuk akal dan logis kalau Saudara mau menyerang baik negara yang lebih kuat ataupun yang lebih lemah. Itu sebabnya, perintah bagi bangsa Israel untuk jangan sampai mengikat perjanjian dengan bangsa-bangsa itu, jangan tinggal bersama-sama mereka, jangan kawin campur dengan mereka, jelas adalah ekspresi kebergantungan kepada Tuhan; kalau tidak melakukan seperti ini, artinya tidak bergantung kepada Tuhan.
Inilah yang terjadi dalam kitab Yosua, satu latar belakang yang terus-menerus dikatakan dalam kitab Yosua. Sekarang, ketika kita masuk ke kitab Hakim-hakim pasal pertama, kita jadi mengerti fungsi semua daftar sepak terjang di pasal 1 tadi –daftar sepak terjang militer, cerita perempuan minta sumur dsb.– yaitu untuk dibaca berdasarkan penggaris yang telah diberikan di kitab Yosua dari depan sampai belakang. Seberapa besar orang Israel dalam kitab Hakim-hakim berhasil memenuhi standar kitab Yosua setelah Yosua mati, itulah yang dimaksud kitab Hakim-hakim pasal pertama. Itu sebabnya bagian ini ditutup dengan pasal 2:1-5. Di sini bukan cuma ada nilai rapor yang muncul satu-persatu, tapi bahkan Malaikat TUHAN memproklamirkan nilai rapornya menurut Dia. Ini membuat kita mengerti, bahwa memang pasal 1 sedang merunut nilai rapor orang Israel, apa yang mereka lakukan, mereka setia di mana, mereka gagal di mana. Dan kalau Saudara lihat baik-baik, catatannya bercampur, ada catatan yang fokus pada kesuksesan bangsa Israel tapi juga ada fokus pada kegagalan bangsa Israel, ada fokus pada suku Yehuda sebagai yang pertama-tama maju untuk melakukan penaklukan, ada juga fokus pada suku-suku yang lain. Jadi pasal 1 ini seperti hasil akhir ujian semester.
Seberapakah orang Israel berhasil memenuhi standar kitab Yosua setelah Yosua mati? Pasal 1 ini merunut kesuksesan suku Yehuda sebagai yang pertama. Mereka disuruh maju menyerang dan menduduki sisa tanah yang belum ditaklukan dalam kitab Yosua, karena sebelum Yosua mati, dia mengatakan bahwa penaklukan masih belum selesai, masih ada daerah-daerah yang belum diduduki (mungkin sudah kalah secara militer tapi belum diduduki juga), maka Yosua mengatakan kepada orang Israel untuk melanjutkan pendudukan ini setelah dia mati. Mereka lalu bertanya kepada Tuhan: “Siapakah dari pada kami yang harus lebih dahulu maju menghadapi orang Kanaan untuk berperang melawan mereka?” dan Tuhan menjawab, “Suku Yehudalah yang harus maju; sesungguhnya telah Kuserahkan negeri itu ke dalam tangannya” (Hak. 1:1-2). Perintahnya jelas, Yehuda harus maju. Dan, langsung di ayat berikutnya (ayat 3) ada satu sinyal yang sangat halus, bahwa sejak awal bisa dibilang Yehuda langsung gagal untuk taat sepenuh hati kepada Tuhan, karena di ayat 3 kita melihat Yehuda berkata kepada Simeon, saudaranya, “Majulah bersama-sama dengan aku ke bagian yang telah diundikan kepadaku dan baiklah kita berperang melawan orang Kanaan, maka (nanti) aku pun akan maju bersama-sama dengan engkau ke bagian yang telah diundikan kepadamu” —Yehuda bikin deal; tapi bikin deal-nya masih dengan sesama orang Israel. Lalu Simeon maju bersama-sama dengan dia. Saudara lihat di sini ada perbedaan antara perintah Tuhan kepada Yehuda dengan yang Yehuda jalankan. Bedanya apa? Yehuda yang disuruh maju sendiri, tapi Yehuda lalu bikin deal dengan suku Simeon untuk maju bersama-sama (Yehuda dan Simeon di sini tentu bukan Yehuda dan Simeon anak-anaknya Yakub, mereka sudah lama meninggal; ini hanya satu gaya bicara yang menyatakan suku-suku keturunan mereka). Bagian ini merupakan master piece dari penulisnya, karena bagian ini membuat kita ingin tahu di mana masalahnya, bukankah ini aliansi yang natural karena Yehuda dan Simeon memang se-darah dan se-daerah?
Kalau Saudara melihat peta Alkitab, dalam pembagian tanah kepada 12 suku Israel, daerahnya Simeon berada di tengah-tengah/di dalam daerah Yehuda. Suku Yehuda adalah suku yang terbesar, sementara Simeon salah satu suku yang paling kecil, dan daerahnya dilingkupi daerah suku Yehuda. Itu sebabnya kita pikir aliansi seperti ini masuk akal; mereka memang sedarah dan juga sedaerah, sehingga masuk akal kalau mereka menaklukan daerah itu bersama-sama. Tapi di sini Saudara mulai menangkap ada suatu tanda tanya; suku Yehuda adalah suku yang jumlahnya terbesar, sementara Simeon salah satu suku yang paling kecil, maka sebenarnya Yehuda perlu Simeon ‘gak sih untuk menaklukan daerahnya Yehuda?? Adalah kehendak Allah agar masing-masing suku percaya kepada arahan Allah dan menaklukkan bagian mereka masing-masing; jadi, dengan membuat deal seperti yang dilakukan Yehuda dan Simeon ini, terlihat sudah mulai ada tanda-tanda kedua suku ini bergerak sendiri. Tandanya sangat tipis, tapi mulai ada sesuatu di sini. Dengan demikian, sejak awal narasi Hakim-hakim kita melihat ada tanda-tanda Israel bukan bergerak atas dasar murni taat kepada Tuhan, sebaliknya mulai bergantung pada apa yang oke di mata manusia; “Sudahlah, sama-sama sajalah, gampangnya memang kayak begini… “. Sekali lagi, sinyalnya masih sangat halus di sini tapi sudah dimulai sejak awal, mengenai apa yang membayang-bayangi keseluruhan kitab Hakim-hakim.
Selanjutnya, Yehuda dan Simeon berperang, dan mereka mendapat kemenangan. Di ayat 4 dikatakan bahwa mereka maju, mereka memukul orang Kanaan, orang Feris, dan memukul kalah sepuluh ribu orang dekat Bezek. Di dekat Bezek itu mereka menjumpai Adoni-Bezek dan berperang melawan dia (Adoni-Bezek ini bukan nama melainkan titel/gelar; adoni=tuan, sehingga artinya ‘Tuan dari Bezek’ atau ‘Lord of Bezek’). Adoni-Bezek melarikan diri, lalu mereka mengejarnya, menangkapnya, dan memotong ibu jari tangan dan kakinya. Menariknya, di ayat 7 Adoni-Bezek sendiri mengatakan demikian: “Ada tujuh puluh raja dengan terpotong ibu jari tangan dan kakinya memungut sisa-sisa makanan di bawah mejaku; sesuai dengan yang kulakukan itu, demikianlah dibalaskan Allah kepadaku.” (Kemudian ia dibawa ke Yerusalem dan mati di sana). Adoni-Bezek ini orang yang kalah perang, ibu jari tangan dan kakinya dipotong, dan dia menerima hal ini; kenapa? Karena dia juga telah melakukan yang sama terhadap orang lain. Lucu, ya, raja Kanaan bisa kayak begini. Kalau kita baca asal lewat saja, kita mulai bingung kenapa ada bagian seperti ini. Yang pasti, ada banyak orang modern komplain/protes atas peperangan terhadap Kanaan, mengatakan bahwa orang Israel itu kejam sekali, membunuhi orang Kanaan, dsb.; tapi lucunya, di bagian ini kita melihat orang Kanaan yang kalah itu sendiri tidak komplain/protes, melainkan menerimanya sebagai penghakiman dari tangan Tuhan yang adil. Bukankah ini lucu?? Tapi ini bukan saja suatu ironi terhadap zaman kita, ada ironi lain yang muncul di sini, yang lebih dalam; dan di sini Saudara mulai menangkap maksud dari penulis: di satu sisi, Yehuda dan Simeon memang taat kepada Tuhan tapi tidak sepenuhnya, mereka tidak 100% melakukan apa yang Allah suruh, mereka bikin deal meskipun tidak terlalu perlu; di sisi yang lain, ada raja Kanaan yang dikalahkan, namun dia bisa 100% menerima mutilasi terhadap dirinya sebagai keadilan dari tangan Tuhan. Jadi mulai ada tanda tanya, siapa sebenarnya yang umat beriman di sini?? Saudara lihat, sangat halus sinyalnya, tapi di sini mulai tercium sedikit bau busuk yang makin ke belakang akan makin santer baunya.
Selanjutnya di pasal 1 kita membaca terus sepak terjang Yehuda. Ayat 8-11 kemenangan-kemenangan perang Yehuda, demikian juga ayat 17-18. Tetapi di tengah-tengahnya, di antara ayat 11-17, ada satu kisah ‘gak jelas yang muncul, yaitu mengenai Kaleb, anak perempuan Kaleb yang bernama Akhsa, dan menantunya yang bernama Otniel (Otniel ini tokoh penting, nantinya kita akan bertemu dia lagi sebagai salah satu hakim yang pertama). Di bagian ini kita membaca urusan perempuan yang minta mata air; dan ini perempuan pertama, yaitu Akhsa anak Kaleb, yang namanya munccul dalam kitab Hakim-hakim, sehingga berarti bukan sembarangan. Mereka ini sebenarnya bukan orang Israel asli, mereka disebut ‘anak-anak Kenas’, suku Keni, orang-orang Keni yang sudah bergabung dengan Israel sejak zaman Musa. Mereka juga sudah dijanjikan akan ikut memiliki tanah pusaka di tengah-tengah orang Israel karena Kaleb telah berjasa, dia salah satu dari hanya dua orang (bersama dengan Yosua), yang bertahan setia waktu Musa mengirim 12 pengintai dulu. Jadi di sini Saudara melihat satu penceritaan yang sangat positif, bahwa orang-orang ini, yang bukan orang Israel asli, mendapatkan tanah dari Tuhan; sekali lagi, ‘tanah’ dalam konteks kitab Yosua dan Hakim-hakim bukanlah sekadar aset, melainkan pemberian Tuhan, pemenuhan janji Tuhan kepada mereka, sebagaimana Saudara baca di ayat 20: ‘Kepada Kaleb telah diberikan Hebron, seperti yang dikatakan Musa dahulu’. Ada suatu nuansa spiritual dibalik urusan tanah ini.
Kaleb dan Otniel dikisahkan sukses merebut milik pusaka mereka. Ketika itu Kaleb tanya, “Siapa yang mau maju perang lawan kota ini?” Otniel lalu maju sendiri, merebut kota itu. Di sini kita merasakan satu ironi lagi; tadi di awal Yehuda disuruh maju dan dia ajak-ajak Simeon, sedangkan Otniel yang bukan orang Israel asli begitu disuruh maju, dia langsung maju, tidak perlu ajak-ajak orang lain. Bahkan Akhsa, anak Kaleb, seorang wanita tapi dia menunjukkan inisiatif untuk sungguh-sungguh menempati tanah yang diberikan Tuhan, dengan minta mata air. Ini bukan satu permintaan yang selfish; dia meminta mata air, berarti dia seorang wanita yang peka, dia bisa menerawang ke masa depan. Dia tahu bahwa tanah yang diberikan itu adalah tanah yang gersang, daerah Negeb, daerah di sekitar padang gurun; itu sebabnya dia minta bagian yang ada mata air juga, supaya mereka bisa mengusahakan tanah yang diberikan itu. Ada satu intensi untuk benar-benar menetap dan merayakan milik pusaka yang diberikan Tuhan kepada mereka. Ini satu hal yang bahkan tidak terpikir, baik oleh Kaleb sendiri maupun Otniel, suaminya. Ada komentator yang membandingkan Akhsa dengan Delila (satu perbandingan yang masuk akal karena Akhsa menikah dengan Otniel, yang adalah hakim pertama, sementara Delila adalah pacar Simson, hakim yang terakhir): pertama, Akhsa menikah dengan Otniel, sesama orang Keni, tidak kawin campur dengan orang Kanaan, dan ini kontras dengan Simson yang mengejar Delila, wanita asing (urusan kawin campur selalu jadi problem dalam kitab Hakim-hakim); kedua, baik Akhsa maupun Delila sama-sama menunjukkan inisiatif, tapi sementara Akhsa menunjukkan inisiatif untuk mengusahakan tanah bagi tempat tinggal keluarganya, Delila menunjukkan inisiatif untuk menipu pacarnya, Simson, demi mendapatkan uang kotor dsb.
Berikutnya di ayat 16, Saudara menemukan catatan mengenai orang-orang sebangsa Kaleb dan Otniel yang lain, orang-orang Keni juga, bahwa mereka masuk dan mendapatkan milik pusaka di tengah-tengah suku Yehuda. Di sini Saudara kembali menemukan ironi lagi, yang terus berlanjut, dan semakin menumpuk. Ironi pertama tadi, ada raja Kanaan yang lebih menerima kehendak Tuhan dibandingkan suku Yehuda. Selanjutnya ada catatan-catatan yang sangat positif tentang orang Keni, bahkan dari seorang wanita, yaitu Akhsa. Ini adalah kategori orang-orang yang boleh dibilang marjinal, bukan orang Israel asli, outsider, orang yang tidak dianggap –karena wanita pada zaman itu sering kali tidak dianggap– namun mereka digambarkan juga berbagian ataas karunia Tuhan melalui tanah pusaka, dan mereka sepertinya lebih bersemangat dibandingkan orang Israel sendiri. Tambahan lagi, catatan mengenai suku Yehuda di pasal pertama ini –meski dicatat memperoleh kemenangan demi kemenangan– tidaklah berakhir dengan sepenuhnya positif, karena di ayat 19 Saudara membaca, ‘Dan TUHAN menyertai suku Yehuda, sehingga mereka menduduki pegunungan itu; tetapi mereka tidak dapat menghalau penduduk yang di lembah, sebab orang-orang ini mempunyai kereta-kereta besi.’ Kembali di sini kita menangkap adanya satu nuansa negatif yang makin lama makin besar.
Bagian berikutnya, cerita mengenai suku-suku yang lain. Dari ketidaktaatan yang dimulai sedikit-sedikit, sinyal halus ini mulai menyebar, suku-suku yang lain pun mulai terpapar virus ‘ketaatan setengah hati’ ini. Pergeseran yang makin jauh kita lihat dalam sepak terjang suku-suku berikutnya. Tetap ada catatan kemenangan, tapi hanya sedikit; yang kita lihat lebih banyak justru catatan kegagalan. Ayat 21, suku Benyamin gagal menghalau orang Yebus, sehingga orang Yebus masih tinggal bersama-sama dengan mereka. Ayat 22-26, ada cerita yang sangat lucu mengenai suku Yusuf membuat perjanjian dengan seorang mata-mata Kanaan. Suku Yusuf ini mau menyerang kota Betel; kota Betel ini dulu namanya Lus. Lalu mereka mencari mata-mata orang Kanaan dari daerah tersebut untuk minta petunjuk cara masuk ke kota itu, kemudian mereka memukul kota tersebut. Ini berarti mereka menang –ada positifnya– tapi orang ini, karena sudah berjasa, mereka biarkan pergi beserta keluarganya. Lucunya, dikatakan bahwa orang ini pergi ke tempat orang Het dan di sana dia mendirikan sebuah kota lain yang namanya Lus juga. Ini konyol; Yusuf maju menyerang Lus, menghancurkan dan menduduki tempat itu, mengganti namanya jadi Betel, tapi lalu ada sisa orang yang dibiarkan pergi mendirikan kota lain yang bernama Lus lagi. Jadi di sini ada ironi lagi, jadi seperti pekerjaan yang sia-sia, seperti sudah bunuh satu nyamuk tapi ternyata nyamuk ini ada anaknya yang banyak lagi.
Selanjutnya ayat 27-28, dikatakan bahwa suku Manasye bukan cuma gagal menghalau orang Kanaan, tapi juga malah mulai bikin deal, mereka memperbudak orang Kanaan itu sebagai pekerja rodi, karena mereka sudah jadi lebih kuat. Sekali lagi Saudara lihat: ‘kalau lebih kuat, tidak ada ancaman, ya, eksploitasi saja, jangan dihalau, tidak perlu’. Ayat 29-33, suku Efraim, Zebulon, Asyer, Naftali tidak menghalau –bukan gagal menghalau–dan beberapa dari mereka juga mengikuti teladan Manasye, menggunakan orang-orang Kanaan sebagai budak. Dan catatan terakhir adalah yang paling memalukan, yaitu mengenai suku Dan di ayat 34. Mereka bukan cuma gagal menghalau, atau tidak menghalau, tapi pada dasarnya justru merekalah yang dihalau. Dikatakan di ayat 34 ini, ‘Orang Amori mendesak bani Dan ke sebelah pegunungan dan tidak membiarkan mereka turun ke lembah’.
Lalu ironis sekali, bagian ini ditutup dengan kalimat di ayat 36: ‘Daerah orang Amori itu mulai dari pendakian Akrabim, dari Sela, terus ke atas.’ Ini ironis sekali; dan Saudara tidak bakal menangkap ironi ini kalau tidak membacanya secara struktur besar. Sekali lagi ingat, kitab Yosua itu bicara mengenai daerah milik pusaka Israel, batas-batasnya dari mana sampai ke mana; karena ini negeri untuk orang Israel, maka yang dibicarakan adalah batas-batas daerahnya orang Israel. Tetapi kitab Hakim-hakim di pasal pertamanya, malah ditutup dengan pembicaraan mengenai daerahnya orang Amori, batas daerah mereka sampai ke mana. Ironis sekali, jadi sebenarnya tanahnya siapa ini??
Berikutnya, di ayat 35 kita melihat alasannya orang Amori bisa bertahan di sana, dikatakan bahwa mereka berkeras, mereka berjuang; ini masalah ‘will power’. Di ayat 19 dikatakan bahwa suku Yehuda tidak berhasil menghalau orang-orang yang di lembah karena mereka mempunyai kereta besi; jadi ada alasan logisnya, alasan militernya, boleh dibilang karena Yehuda kurang senjata. Tetapi di ayat 34 dst. ini, suku Dan justru sampai dihalau oleh orang Amori, dan alasannya tidak dikatakan soal militer, soal kereta kuda, ataupun soal-soal lainnya; alasannya cuma satu: karena orang Amori berkeras, orang Amori punya will power yang lebih besar daripada suku Dan. Jadi sekali lagi di sini Saudara melihat ironi demi ironi yang semakin menumpuk.
Di bagian awal tadi ada raja Kanaan yang sepertinya lebih menerima dengan bulat hati apa yang jadi kehendak Allah dibandingkan umat Allah sendiri; dan sekarang di bagian akhir ini ada umat Allah yang kalah will power-nya dibandingkan orang-orang yang tidak mengenal Tuhan. Pergeseran ini semakin nyata kalau kita bandingkan jumlah ayat-ayatnya. Di bagian pertama tadi mengenai suku Yehuda, ayat-ayat kemenangan penaklukan suku Yehuda ada 15 ayat, lalu kegagalannya ada 1 ayat; jadi 15:1. Tapi di bagian yang kedua terbalik, kesuksesan perang hanya 4 ayat, kegagalan penghalauan ada 10 ayat. Di sini Saudara melihat betapa pasal 1 ini narrative masterpiece, karena penulisnya memperlihatkan suatu bibit kecil yang sedikit demi sedikit makin lama makin besar, sampai kita bisa melihat bahwa narasi mengenai conquest telah bergeser menjadi narasi coexistence;Israel gagal menaklukan semua bangsa-bangsa ini maka akhirnya mereka tinggal bersama-sama dengan bangsa-bangsa ini. Israel gagal taat sepenuhnya, maka ketaatan yang setengah-setengah seperti ini akhirnya jadi ketaatan yang membawa pada kehancuran. Sekarang “panggung” sudah tersusun, dan kita akan melihat apakah yang menjadikan kefasikan demi kefasikan yang akan terjadi di pasal-pasal berikutnya. Itulah cerita pasal 1 kitab Hakim-hakim.
Apa pelajaran dari pasal 1 ini? Saudara mungkin sudah terbayang, bahwa dari perikop ini kita bisa belajar mengenai kesungguhan hati, ketaatan yang penuh, pemuridan yang sepenuh hati dan bukan setengah-setengah, dsb. Tapi pembicaraan-pembicaraan tersebut, meskipun penting, bisa kita tunda untuk pertemuan-pertemuan berikutnya; lagipula bagian ini belum kita bahas sampai klimaksnya. Ini baru pasal 1, dan bagian berikutnya barulah klimaksnya, yaitu kita bukan cuma diberitahu “nilai-nilai”-nya, ada vonis dari Malaikat TUHAN, ‘Nih,nilai rapormu begini!’ Tapi kita belum akan membahas bagian itu; hari ini saya ingin membicarakan satu implikasi rohani yang lain, yang menurut saya lebih fundamental dan esensial.
Saudara, di awal tadi kita bingung dengan pasal 1 ini, ‘ini isinya apa sih, ada catatan perang, ada perempuan minta sumur, ada cerita soal potong jari raja, dan segala macam; apa sih itu semua?’ Kita tidak mengerti. Tapi setelah pembahasan tadi, kita mulai mengerti, ‘O, maksudnya begitu, ternyata bagian ini adalah catatan rapor, karena kita membacanya dengan kacamata kitab yang sebelumnya; oke, jadi ngerti’. Sekarang saya mau tanya: Kenapa kita jadi bisa mengerti? Kenapa kita jadi bisa melihat poin-nya sekarang? Bagaimana caranya makna/arti/poin-poin Alkitab itu muncul? Jawabannya: bukan cuma melalui isi-nya, tapi melalui struktur-nya, formatnya, cara disusunnya. Kalau kita tadi cuma membahas pasal 1 isinya doang, kita tetap bingung; tapi setelah kita membahas sedikit mengenai struktur besarnya –‘O, ini ada kaitan dengan kitab Yosua sebagai background-nya; O, ini perbandingan antara suku Yehuda dengan raja Kanaan, Adoni-Bezek; O, ini ada perbandingan jumlah ayat tentang conquest dengan coexistence; O, ini ada perbandingan antara Otniel dengan Yehuda, dsb.; O, ini ada pergeseran mulai dari bikin deal dengan sesama suku Israel, lalu gagal menghalau, lalu tidak menghalau, dan akhirnya dihalau’–maka mulai ada sesuatu di sini, maknanya mulai muncul. Dari mana munculnya? Munculnya bukan dari isinya doang, tapi melalui struktur-nya.
Saya ingin mengajak Saudara menyadari satu implikasi dari pelajaran ini, yaitu pentingnya menjadi orang-orang yang lebih peka dalam membaca struktur Alkitab, bukan cuma isi. Ini pun bagian dari wahyu Allah. Ini pun satu hal yang perlu kita belajar dalam membaca. Hal ini paling gampang dijelaskan dengan analogi musik. Waktu kita mendengar musik, kita mendapatkan suatu makna (meaning). Makna tersebut dari mana kita dapatkan? Saudara mungkin bilang, dari kata-katanya. Itu benar; tapi tidak semua musik ada kata-katanya, dan tetap bisa ada maknanya. Kalau Saudara dengar satu melodi yang tidak ada kata-katanya, Saudara tetap bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan atau yang sedih. Dari mana makna ini datang? Inilah yang saya maksud, bahwa makna datang bukan cuma dari isinya doang, tapi lewat strukturnya, dari formatnya, dari medianya; bahkan kenikmatannya pun datang lewat hal ini. Demikian juga Alkitab. Dalam membaca Alkitab, kita perlu peka untuk bisa mengenali strukturnya, bagaimana disusunnya, kalau kita mau mengerti maknanya.
Sekali lagi saya mau pakai contoh dari musiknya Handel. Handel pernah menulis satu musik yang kata-katanya begini: “How beautiful are the feet of them, that preach the gospel of peace” –‘betapa indahnya kaki-kaki mereka yang mengabarkan Injil damai sejahtera Tuhan’, dari tulisan Paulus. Kalau Saudara disuruh membuat musik dengan teks seperti ini, Saudara akan buat dengan tangga nada mayor atau minor? Kata-katanya ‘betapa indahnya kaki-kaki mereka yang mengabarkan Injil’, tentang sesuatu yang indah, lagipula tentang mengabarkan Injil, jadi kita bikin pakai tangga nada mayor-lah, yang terdengar riang. Tapi ternyata Handel menggubah musiknya bukan dengan tangga nada mayor, melainkan minor, yang terdengar ada kesan sedih, lirih. Koq sedih begitu, sih? Handel ngawur nih, apa lagi mabuk? Kata-katanya ‘kan ‘how beautiful’?? Tidak, Saudara; Handel tidak salah, karena makna yang disampaikan bukan cuma datang lewat teks tapi juga lewat struktur. Kita tidak tahu pikiran Handel, tapi kalau saya tebak, itu adalah karena Handel tahu keindahan macam apa yang ada pada kaki-kaki pengabar Injil; dan keindahannya bukan keindahan kaki supermodel, bukan keindahannya kaki Naomi Campbell atau Gisele Bündchen, bukan keindahan seperti itu. Kaki-kaki pengabar Injil itu indah, bukan karena mulus, tapi mungkin karena bolong-bolong, karena jari-jarinya ada satu dua yang putus, karena kulitnya terkelupas, legam, hitam, dan kasar karena sudah berjalan begitu jauh. Mungkin itulah sebabnya Handel menuliskan musiknya dalam tangga nada minor. Tetap ada keindahannya, tapi bukan keindahan yang duniawi itu. Lucu, ya, teksnya tidak berubah –isinya tidak berubah– tapi maknanya berubah. Kenapa maknanya berubah? Karena strukturnya, bukan karena isinya. Sama seperti itu, demikian juga waktu kita membaca Alkitab. Jangan naif, Alkitab memang diberikan dalam bentuk teks, tapi teks itu diberikan dalam cara tertentu, dalam struktur tertentu. Inti dari analogi musik tadi adalah: kita perlu peka akan bagaimana teks-teks itu disusun, bukan cuma teks-teks itu bicara apa.
Satu contoh lain lagi, lagu “Balonku Ada Lima”. Saudara tentu tahu lagu itu, riang banget. Tapi tahukah Saudara lagu itu juga bisa dinyanyikan pakai melodi “Syukur” –kata-katanya pakai kata-kata “Balonku Ada Lima”, melodinya melodi “Syukur”– dan ternyata masuk juga; bahkan bisa dibilang cocok juga karena balonnya ‘kan meletus, jadi bukan senang-senang tapi lagu sedih/ratapan. Saudara lihat, teksnya tidak berubah, yang kita ubah adalah strukturnya; tapi begitu strukturnya berubah, maknanya berubah.
Hal ini khususnya sangat penting dalam membaca Alkitab. Asal tahu saja, struktur visual teks manuskrip Alkitab tidak ada yang seperti Alkitab kita hari ini, tidak ada pembagian-pembagian bab 1, bab 2, lalu subbab, dsb. Teks manuskrip Alkitab yang asli, tidak ada tanda bacanya, tidak ada huruf besar dan huruf kecil, bahkan tidak ada spasi di antara kata per kata. Mungkin karena kertas mahal, maka mereka tidak mengembangkan cara menulis yang seperti itu. Baik bahasa Ibrani maupun Yunani, mereka menuliskan terus saja huruf-huruf itu semua. Inilah sebabnya mempelajari struktur dalam Alkitab sangat penting, karena waktu mereka menuliskannya, mereka bukan menulis secara asal, acakadut, tetap ada pembagiannya, tapi pembagiannya bukan secara visual seperti tulisan pada hari ini, yang ada paragraf, ada subbab, dsb. Mereka menulisnya bukan amburadul, mereka pakai struktur, tapi strukturnya lain; strukturnya adalah dengan membuat pengulangan, kontras, perbandingan, antisipasi, atau semacam crescendo. Yang kita lihat dalam pasal 1 tadi juga semacam crescendo, seperti lagu yang makin lama makin keras –dimulai dengan gagal menghalau, tidak menghalau, dihalau. Ini adalah suatu struktur –dan kita sering kali tidak peka akan hal ini. Metode-metode ini perlu kita pelajari kalau kita mau kembali ke Alkitab.
Sampai di sini mungkin ada yang mulai membangun argumen, “Pak Jethro, kita ini ada kerjaan, Pak, tidak bisa spend waktu buat gituan; itu ‘kan bagian Bapak. Bapak saja pelajari lalu cerita kepada kita.” Dalam hal ini saya tidak menyangkali bahwa tidak semua orang bisa jadi bible scholars; itu sebabnya Saudara perlu KTB. KTB adalah tempat kita bisa mengalami kelimpahan keragaman karunia, karena setiap orang ada berkat karunianya masing-masing. Kalau Saudara studi Alkitab sendirian setiap pagi, Saudara tidak akan mendapatkan terlalu limpah; sedangkan kalau Saudara mempelajarinya bersama-sama orang lain di KTB, di situ ada orang-orang dengan tipe berlainan. Ada tipe yang analitis; kalau bersama dia, dia selalu beritahu, “O, itu gua pernah baca, maksudnya begini, begini, begini”. Ada tipe lain yang lebih ke arah praktis, “Oke lu ngomong, begitu, tapi sekarang aplikasinya apa buat hidup kita, menurut guak kayak begini, begini” –dia memberi usulan, sementara orang lain mungkin tidak melihatnya. Lalu misalnya orang yang analitis dan yang praktikal ini ada ketegangan, yang satu mau lihat yang benarnya dulu, yang satu lagi mau bicara yang konkret saja; dan kemudian ada tipe orang lain yang karunia rohaninya ‘tipe diplomat’, “Sudah-sudah, yang lu ngomong ada poinnya, tapi yang dia ngomong juga ada poinnya”, dst. Ada lagi yang tipe provokator, yang setiap kali orang bicara, lalu dia bilang, “Tapi … “ –sehingga diskusi maju terus. Inilah yang namanya keragaman tipe-tipe karunia rohani; dan dalam KTB kita dipanggil untuk mengalami keragaman ini. Kalau Saudara mempelajari firman Tuhan dalam satu tubuh Kristus seperti ini, maka akan lebih kaya dibandingkan Saudara mempelajarinya sendirian. Tentu bukan berarti tidak ada kesulitan –pasti ada– tapi setidaknya Saudara akan lebih kaya dibandingkan kalau cuma sendirian, karena kita memang tidak diciptakan sendirian, tidak diselamatkan sendirian. Inilah alasannya kita perlu KTB –atau apapun namanya– dan kita tidak bisa menjalankan Gereja kalau tidak ada kelompok-kelompok kecil seperti ini. Sayangnya, waktu KTB kita sering kali inginnya orang-orang yang sama, sama talenta, sama karunia rohani –memang enak sekali kalau seperti itu– tapi KTB justru ada untuk kita bisa menghargai keragaman karunia-karunia rohani.
Saya setuju bahwa dalam gereja tidak semua orang harus jadi bible scholar, ada orang yang harus belajar dari orang lain, tapi tetap saja kepekaannya –dalam batas tertentu– tidak membutuhkan gelar S3 baru Saudara bisa menangkap. Sama seperti Saudara menangkap musik, tidak harus S3 baru Saudara bisa menghargai karya Mozart, orang awam pun mendengar Mozart bisa merasakan itu bagus meski tidak tahu kenapa bagusnya. Setiap dari kita perlu ada kepekaan seperti ini.
Saudara tahu orang-orang movie nerds, orang-orang yang fans berat pada film-film tertentu seperti Star Wars, Marvels, dsb., dan di YouTube banyak sekali orang-orang seperti ini mengeluarkan video analisanya. Mereka ini orang biasa, bukan kaum elit S3 sinematografi dsb., mereka hanya mengulang-ulang dan mengulang-ulang suatu film sampai akhirnya bisa melihat hal-hal yang orang lain tidak lihat. Mereka bisa melihat adegan di film yang ini ternyata mirip banget dengan adegan di film yang itu, dan ternyata memang ada koneksi yang disengaja, ada ironinya, dst., dst. Mereka ini orang-orang awam yang simply mencintai materi tersebut. Seperti inilah mungkin kuncinya menikmati Alkitab.
Alasannya selama ini kita kurang menikmati Alkitab, yaitu karena kita cuma peka terhadap aspek isi dari Alkitab, dan kita tidak peka terhadap aspek sastrawi dari Alkitab, kita tidak peka terhadap aspek estetik Alkitab, kita tidak peka terhadap aspek struktur, format, nada-nada, crescendo, frasa, dsb. dari Alkitab. Jadi, ini mungkin satu hal yang kita perlu tambal sedikit demi sedikit. Inilah alasannya saya ingin men-sharing-kan hal ini. Paling tidak, kita mulai memperhatikan hal ini; dan ini mungkin kuncinya untuk kita bisa melihat dan mengerti banyak bagian Alkitab yang kalau dibaca membuat kita merasa ‘ini apaan sih’, seperti halnya di awal waktu kita membaca pasal 1 Hakim-hakim. Namun ternyata setelah kita lihat strukturnya, jadi lebih mudah untuk mengerti, lebih bisa menghargainya; dan yang pasti pada akhirnya kita bukan cuma menghargai isinya, karena ketika Saudara menangkap formatnya, Saudara akan lebih bisa menangkap maknanya, isinya.
Ada satu hal lagi yang menarik di balik ini. Saya percaya, Alkitab itu firman Allah. Saya juga percaya bahwa Saudara percaya Alkitab itu firman Allah. Dan, yang bersifat wahyu Ilahi itu bukan cuma isi teksnya, atau aplikasinya bagi hidup kita, meski seringkali hal ini yang didewakan banyak orang Kristen zaman sekarang. Orang Kristen zaman sekarang kalau dapat aplikasi, ‘dapat rhema, nyambung, kena, mudeng, nendang’, baru rasa itu firman Tuhan; tapi firman Tuhan bukan cuma waktu ‘nendang’. Firman Tuhan, strukturnya pun adalah aspek dari wahyu Ilahi; oleh karena itu saya tertarik mempelajarinya karena hal ini datang dari Allah yang mencintai saya. Bukankah demikian? Ini seperti kalau Saudara menerima surat cinta –sayangnya ini tradisi yang sudah hilang di zaman kita sekarang, karena anak muda sekarang semua pakai HP– yang Saudara appreciate bukan cuma isi teksnya, yang Saudara appreciate adalah lekukan tulisan si doi, bahkan bau khas kertasnya si doi. Itu sebabnya zaman sekarang koran mati setelah internet muncul, yaitu karena Saudara datang kepada koran hanya demi isi; tapi kalau orang hari ini ada yang masih mau membaca koran, itu bukan karena mau isinya, dia mau pengalaman ‘pagi-pagi duduk di beranda dengan secangkir teh lalu membuka koran’ –perasaan yang tidak bisa digantikan oleh internet.
Waktu Saudara mempelajari dan menghargai sisi struktural/format seperti ini, Saudara jadinya memperluas sentuhan pribadi Tuhan kepada Saudara, Saudara jadi bukan cuma peka akan isi tulisannya tapi juga peka akan orang/pribadi di balik tulisannya. Ini memberitahu Saudara mengenai orangnya, karakternya, dan bukan cuma isi omongannya. Dan ini wahyu Ilahi, karena wahyu Ilahi adalah pengenalan akan Tuhan. Ini seperti waktu saya menceritakan tentang lagu Handel tadi, bahwa ternyata strukturnya begini begitu, Saudara jadi mendapat informasi mengenai orang di belakang karya tersebut, dan Saudara jadi bukan cuma kagum dengan isi karyanya tapi kagum pada orangnya, orang yang di belakang karya tersebut. Sama juga halnya dalam pembacaan Alkitab, kalau selama ini kita hanya fokus pada isi teksnya, tidak heran kita sedikit banyak jadi orang Kristen yang waktu baca Alkitab bukan mencari Tuhan, tapi mencari ‘apa yang Tuhan bisa lakukan bagi saya’. Dalam membaca koran, itu tidak bisa jadi relasi inter-personal, relasinya relasi bisnis atau barter; Saudara ingin mendapat informasi atau opini dari penulisnya, dan Saudara tidak terlalu peduli dengan si penulis. Kalau kita memperlakukan Alkitab sama seperti itu, maka akhirnya kita tidak beda dari orang-orang yang datang kepada Tuhan bukan demi Tuhan tapi demi Ferrari, demi mujizat, demi kesembuhan. Sama saja.
Salah satu cara kita membereskan penyakit ini —penyakit memberhalakan berkat Tuhan di atas diri Tuhan— adalah dengan membereskan cara kita membaca Alkitab. Panggilan kita bukanlah cuma urusan menyelidiki isinya, tapi juga membaca dengan peka, menghargai, dan merayakan strukturnya. Sekali lagi, Saudara tidak bisa mengerti isi, tanpa mempelajari struktur. Ini sudah jelas. Tapi ada hal yang kedua; bahwa dengan melihat dan mengerti strukturnya, dengan merayakan dan menghargai strukturnya, itu membuat Saudara lebih mengenal Pribadi di balik konten tersebut. Inilah panggilan kita.
Sekali lagi, dalam bagian ini kita bisa membicarakan banyak aplikasi rohani, seperti misalnya pemuridan (discipleship), dan segala macam lainnya, tapi itu kita simpan dulu untuk pertemuan berikutnya. Yang hari ini saya ingin coba mengajak Saudara adalah melihat bagaimana lewat mempelajari pasal ini yang awalnya kita tidak mengerti sama sekali, lalu kemudian dengan kita mulai menghargai bagaimana sang penulis menyusun materinya –dia taruh yang ini di sebelah yang itu, taruh yang itu di sebelah yang ini, ada hal-hal yang kayaknya ‘ga nyambung tapi ternyata nyambung, ada perbandingan, ada crescendo, ada antisipasi –kita jadi mengerti maksudnya. Dan di sini Saudara bisa melihat seperti apa Roh Kudus yang berada di balik semua itu, seberapa Roh Kudus itu mencintai Saudara, seberapa Roh Kudus itu ingin memberikan poin-poinnya dengan begitu indah, seberapa Alkitab ini sungguh-sungguh adalah surat cinta dan bukan cuma textbook.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading