Untuk pembahasan hari ini, supaya Saudara mendapatkan gambaran keseluruhan, saya perlu jelaskan dulu bagian awal sampai akhir dari pembacaan kita. Ini merupakan satu struktur yang Saudara bisa bayangkan sebagai struktur kiastik atau inklusio, yaitu struktur yang seperti ini: A-B-C-D-C’-B’-A’ (atau A1-B1-C1-D1-C2-B2-A2). Artinya, bagian A akan bertemu dengan A’, B dengan B’, C dengan C’, lalu D adalah tengahnya, yang merupakan bagian paling penting. Kita dapat melihatnya sbb.:

Respon Romawi: Kisah Para Rasul 21: 37-40
Kita mulai dengan babak pertama, encounter antara Paulus dengan orang-orang tidak bersunat, orang-orang Romawi (dalam struktur inklusio-nya ini nanti berpadanan dengan bagian yang terakhir, pasal 22:24-29).
Di bagian ini Paulus dibawa masuk ke markas, lalu Paulus langsung switch bahasanya, dia bicara kepada Kepala Batalion Romawi (Tribun; yang paling bertanggung jawab atas benteng tersebut), pakai bahasa Yunani. Saudara bisa bayangkan ini misalnya pada zaman operasi militer di Aceh terjadi ketegangan, lalu ada orang berewokan berbadan kekar dan rambut gondrong,
ditangkap dan dibawa masuk ke markas tentara, dan tiba-tiba dia bicara pakai bahasa Betawi atau bahasa Jawa, langsung switch bahasanya. Di sini Saudara langsung rasa korslet sedikit di otak Saudara. Gambaran yang lain, misalnya orang yang wajahnya Arab, dianggap ini orang Afghanistan, ditangkap oleh tentara Amerika, lalu tiba-tiba dia bicara bahasa Inggris yang halus, bagus, perfect, seperti bahasanya Pangeran Charles. Di situ pasti tentara Amerika itu otaknya korslet sedikit, lho, kenapa begini?? Di bagian ini pun demikian, ketika mendengar Paulus pakai bahasa Yunani (arguably bahasa Yunani yang terdidik, karena Paulus orang yang educated secara Yunani), langsung otak si Tribun korslet sedikit, “Engkau tahu bahasa Yunani?” Itulah yang di-highlight di bagian ini, bukan isi perkataannya melainkan bahasanya.
Lanjutnya, “Jadi engkau bukan orang Mesir itu?” Rupanya mereka berpikir Paulus adalah orang Mesir yang suka bikin provokasi untuk membangkang terhadap Romawi, tetapi ternyata koq bisa berbahasa Yunani yang begini bagus. Mereka jadi membuka telinganya, dan Paulus pun menjawab orang Romawi ini dalam encounter-nya yang pertama. Paulus mengatakan, “Saya dari Tarsus. Saya orang Yahudi sih, tetapi saya dari Tarsus. Saya adalah warga sebuah kota di Kilikia” (di bagian ini, kalau si Tribun otaknya lebih jalan sedikit, dia pasti
tahu ini berarti Paulus warganegara Roma, karena berasal dari kota tersebut).
Paulus lalu minta untuk bisa address orang banyak yang masih berteriak-teriak di bawah itu, dan diperbolehkan. Paulus lalu berdiri di tangga (benteng tempat Paulus dibawa letaknya persis sebelahan dengan tembok Bait Suci, karena didirikan untuk mengawasi Bait Suci), tentunya tempat yang aman dari orang-orang di bawah, mereka tidak bisa serang dia di situ. Saudara bisa bayangkan situasinya kayak misalnya demo mahasiswa beberapa bulan lalu di depan Gedung DPR, lalu mereka menuntut Sahroni (kalau tidak salah) keluar, dan Sahroni pun keluar, address mereka dari atas mobil yang tinggi. Kurang lebih seperti itu.
Respons Awal Yahudi: Kisah Para Rasul 22:1-5
Ini adalah pembukaan dari pledoi Paulus, yang dia katakan dengan bahasa Aram (padanan kiastik-nya nanti dalam respons orang Yahudi di ayat 22-23). Dalam terjemahan TB1-1974, dikatakan bahasa Ibrani, namun sebenarnya bukan bahasa Ibrani melainkan bahasa Aram; ini dua bahasa yang berbeda meskipun banyak samanya. Bahasa Aram adalah bahasa orang Yahudi yang sudah mengalami perubahan karena mereka dibuang, mereka menyerap bahasa bangsa di sekelilingnya sehingga bahasanya juga sudah terpengaruh bahasa orang-orang Aram; dan ini juga bahasa yang dipakai oleh Yesus.
Ini adalah kali yang kedua dikatakan oleh Lukas bahwa Paulus pakai bahasa Aram (Aramaic), berarti ini penting; yang pertama tadi di pasal 21:40, lalu di bagian ini dikatakan lagi di ayat 2: Ketika mereka mendengar ia berbicara dalam bahasa Aram, makin tenanglah mereka. Jadi bahwa Paulus bicara pakai bahasa Aram ini penting; kenapa? Karena berarti bicaranya pakai bahasa yang menyentuh hati. Ini mungkin mirip seperti misalnya Saudara sedang berada di Vladivostok lalu dengar orang bicara pakai bahasa Jawa di kereta bawah tanah, rasanya wow, Saudara tersentuh, ingin tahu. Inilah yang terjadi pada mereka, Paulus bicara pakai bahasa Aram kepada mereka, maka mereka pun tenang sekali, berhenti teriak-teriak, dan mendengarkan Paulus.
Paulus membuka dengan perkenalan diri yang sama dengan yang dia bukakan kepada Kepala Batalion. Dia mengatakan, “Aku orang Yahudi, lahir di Tarsus di tanah Kilikia.”
Kemudian dia tambahkan sesuatu yang dia tidak katakan kepada si Tribun: “Aku dibesarkan di kota ini.” Jadi di sini Paulus building rapport kepada mereka, kayak mendekati mereka dengan mengatakan aku ini akamsi, lho, anak kampung sini (memang Paulus juga punya kakak yang tinggal di Yerusalem). Ini ibaratnya kita tinggal di Kelapa Gading, lalu ada orang berwajah Arab ditangkap, lalu dia bicara bahasa Betawi, “Eh, gue dulu SMA di SMAK 5 Penabur, gue suka beli bakso di Bakso Ragil,” sehingga rasanya ada semacam kedekatan dengan kita, memang wajahnya asing banget tetapi rupanya dia anak kampung sini. Atau juga misalnya Barack Obama, yang ternyata anak Menteng, sekolah di SDN 03 Menteng. Semacam itulah Paulus di bagian ini.
Lanjutnya, “Aku dididik dengan teliti di bawah pimpinan Gamaliel … .” Gamaliel ini orang terkenal, ini ibaratnya kita mengatakan dulu dosen gue Rhenald Kasali, atau orang terkenal lainnya. “Dan aku juga seperti kamu, aku orang yang giat bekerja (zealous) bagi Tuhan.” Yang disebut giat bekerja bagi Tuhan, bagi orang Yahudi bukan kayak rajin KKR Regional atau semacamnya; giat bekerja bagi Tuhan versi orang Yahudi adalah giat untuk memberantas orang-orang yang bidat, seperti yang dilakukan Saulus menyeret orang-orang Kristen keluar dari rumahnya, untuk kemudian dilempari batu, dimasukkan ke penjara, dicambuk, dsb. Orang-orang Zelot melakukan itu dengan menusuk prajurit Romawi yang sedang lengah, lalu kabur ke tengah kerumunan orang, dst. Seperti itulah artinya giat bekerja bagi Tuhan; dan Paulus mengatakan itu untuk membangun kedekatan dengan audience yang ingin membunuh dia, aku tahu benar koq yang kamu lakukan, kira-kira aku bisa merasakan kenapa kamu ingin membunuh aku; aku juga seperti kamu. Ini karena waktu memang sudah berlalu sekian lama, mungkin 25-30 tahun sejak Paulus bertobat, jadi keadaan memang sudah berubah di Yerusalem itu, maka Paulus perlu memperkenalkan diri lagi, sekian puluh tahun yang lalu aku dalam posisi kamu, kalau ada orang seperti aku, aku juga akan berusaha menangkap dan membunuh.
Lagipula, kita ingat di sini Paulus ditangkap karena kesalahan yang mereka tuduhkan adalah dia membawa orang bukan Yahudi masuk ke Bait Suci. Di sini mungkin kita bilang, “Ya, elah, cuma gitu doang?? Fanatik banget sih sama agama.” Misalnya saja ada orang agama Hindu masuk ke gereja kita, kira-kira kamu mau bunuh dia atau tidak? Misalkan ada orang penyembah setan masuk ke sini, berdiri di area mimbar sini, boleh atau tidak? Kita mungkin bilang, ya, tidak apa-apalah, itu ‘kan turis; kalau kepercayaan dia, itu urusan lain, sementara ini cuma tempat saja, tempat kita beribadah. Bagi kita, orang beragama lain datang ke sini, ya, tidak apa-apalah, kita mungkin malah senang karena mungkin bisa kita beritakan Injil, dsb. Tetapi, buat orang Yahudi tidak bisa begitu, harus ada batas; dan salah satu batasnya adalah secara geografis. Bait Suci itu rumahnya Tuhan. Kalau sinagoge, itu adalah tempat kamu membaca dan mempelajari Firman Tuhan, tetapi bukan rumahnya Tuhan. Rumah Tuhan cuma satu, yaitu di Yerusalem, di Bait Suci. Tidak boleh ada orang asing masuk ke situ, karena itu melanggar batas sakral.
Kalau zaman kita, melanggar batas sakral mungkin bukan seperti itu, tetapi ibaratnya seperti kalau kamu tiba-tiba dapat informasi yang beredar antara Presiden dan Wapres, informasi ring satu. Kita ada kepekaan seperti itu, maka kita sering dengar istilah bocoran. “Gue dapat bocoran dari ring satu, bocor halus nih … “; yang seperti ini menjual banget di media, karena buat kita ini sesuatu informasi yang berharga banget. Itu sebabnya informasi bisnis, informasi mengenai kapan Selat Hormuz dibuka dan kapan ditutup, itu penting banget, karena mempengaruhi harga, mempengaruhi soal kita mau jual atau beli, mempengaruhi kita mau beli yang mana. Jadi, kalau ada orang yang tidak semestinya tahu tetapi jadi tahu, tidak semestinya ada di situ tetapi ada di situ, misalnya di tengah pembicaraan rapat yang begitu penting banget tiba-tiba baru sadar ada bellboy berdiri di ruangan itu, mungkin dia harus dibunuh atau apapun itu. Jadi buat kita, yang sangat-sangat penting adalah informasi; dan informasi mengenai uang, mengenai politik, mengenai sosial, tidak boleh sampai bocor. Namun bagi orang Yahudi pada waktu itu, yang sangat-sangat penting adalah kehadiran –kehadiran fisik, dan di mananya. Ada kehadiran fisik orang tidak bersunat di Bait Suci, wah, itu seperti informasi yang sangat rahasia dari Pentagon yang salah kirim emailnya ke Majalah Kita. Itu menjadi sesuatu yang sangat tidak pada tempatnya, mengerikan, dan unthinkable bagi mereka.
Merupakan sesuatu yang unthinkable adanya orang tidak bersunat hadir di Bait Suci, apalagi dibawa oleh Paulus. Itu bikin mereka marah banget. Ibaratnya kalau di zaman kita, agama tertentu yang tidak boleh makan babi lalu di tempat ibadahnya ditaruh kepala babi, itu bikin marah banget, sangat menyinggung, bisa sampai ingin bunuh orangnya. Demikianlah Paulus dalam hal ini sangat menyinggung, karena dia membawa orang yang tidak bersunat masuk ke Bait Suci. Itu dosanya Paulus menurut mereka. Paulus pun mengatakan, “Iya, aku mengerti banget, koq, aku seperti kamu juga waktu itu, bahkan aku membawa orang-orang pengikut Jalan Tuhan (orang Kristen) untuk ditangkap, dipenjara, dan aku sendiri setuju mencambuk mereka, dsb. Tetapi, terjadi sesuatu kepadaku ketika aku sedang melakukan aktifitas itu … ” –something happened on the way to heaven, kira-kira begitu—kemudian Paulus narasikan peristiwanya di babak yang ketiga.
Visi Paulus I: Kisah Para Rasul 22:6-11
Dalam Kisah Para Rasul, Lukas menyatakan tiga kali cerita pertobatan Paulus, yaitu di pasal 9, pasal 22 (bagian ini), dan nantinya di pasal 26. Dalam pasal 9 cerita pertobatan tersebut diceritakan oleh Lukas. Dalam pasal 22 ini Paulus menceritakannya sendiri kepada orang-orang yang mau membunuhnya, dengan pakai bahasa Aram. Nanti dalam pasal 26, Paulus menceritakannya lagi, namun setting-nya persidangan yang dihadiri oleh pembesar, yaitu Herodes Agripa (jadi ini lingkungan yang terbatas).
Di pasal 22 ini, waktu Paulus menjelaskan pertobatannya, dia mengatakan bahwa dalam perjalanannya ke Damsyik untuk bergiat bagi Tuhan, menganiaya jemaat Tuhan, menganiaya orang-orang Kristen, pada tengah hari tiba-tiba dia mengalami sesuatu (penanda waktu ‘pada tengah hari’ ini penting, karena berarti Paulus bukan sedang mengigau, bukan sedang mimpi, bukan sedang kurang oksigen atau glukosa lalu otaknya korslet, tetapi dia benar-benar sedang melek, woke banget, bukan sedang tidur, bukan terbius oleh ideologi atau apapun, benar-benar terjaga banget otaknya). Dia mengalami sesuatu yang dia tidak cari, bahkan dia mungkin tidak mau kalau bisa memilih –tetapi itu terjadi, as a matter of fact, menabrak dirinya di tengah hari bolong. Apa yang terjadi?
Di tengah hari bolong itu dia dibutakan, bukan oleh kegelapan, tetapi oleh terang. Orang bisa buta, bukan hanya oleh gelap, tetapi juga oleh terang. Ini gambaran yang kalau kita sedikit singgung alam pikir orang-orang Yunani pada masa itu dan juga orang-orang Yahudi yang terpapar budaya Yunani, kita tahu ini adalah cerita Plato, yaitu: manusia yang dibelenggu dalam gua selalu melihat dalam temaram, melihat bayang-bayang, ketidaknyataan, namun kemudian pada satu titik salah seorang dari mereka melihat terang, dan terang itu tidak nyaman di mata, bikin mereka sakit, namun itulah kenyataannya. Kurang lebih seperti itu yang mau diceritakan oleh Lukas, yaitu Paulus itu dalam terang, kemudian dibutakan oleh terang itu, tetapi terang itulah kenyataannya. Kemudian dia rebah ke tanah, menandai bahwa dia menyerah, tidak berdaya. Dia lalu mendengar; dia bukan hanya melihat, tetapi juga mendengar –ini penting. Orang-orang di sekeliling Paulus tidak mendengar, tetapi Paulus mendengar. Artinya, ini satu fenomena yang verified oleh orang-orang lain, namun mereka tidak mengalami seperti Paulus –ada samanya, ada bedanya. Apa yang dia dengar?
Paulus mendengar suara yang menyapa dirinya. Orang Ibrani, kalau mendengar suara yang menyapa nama, apalagi dua kali, mereka sudah punya standard operating procedure untuk menjawabnya. Ini seperti misalnya orang Anglikan mendengar perkataan, “Tuhan besertamu,” maka sambil tidur pun mengingaunya akan langsung menyambut dengan, “Dan besertamu juga.” Paulus, sebagai orang Ibrani, mendengar suara menyapa, “Saulus, Saulus,” itu mirip seperti waktu Samuel kecil mendengar, “Samuel, Samuel.” Namun ketika itu Samuel masih kecil, belum terlalu becus, otomatisnya belum keluar, jadi dia tidak tahu cara menjawabnya, maka dia pergi kepada Eli yang sudah tua itu. Eli bilang, “Aku tidak panggil kamu, Samuel, kembalilah tidur.” Tetapi Tuhan menjumpai Samuel terus dan memanggil, “Samuel, Samuel.” Eli pun kemudian mengajari dia, “Itu kayaknya suara Tuhan, lain kali kalau dengar, kamu bilang ‘ini aku, ya Tuhan, berbicaralah’.” Dalam hal ini, Saulus sebagai anak Ibrani tahu, kalau dipanggil namanya, “Saulus, Saulus,” ini pasti dari Tuhan, tetapi dia tidak tahu apa isinya, Tuhan macam apa, Tuhan mau ngomong apa. Kemudian dia bertanya, “Siapa Engkau, Tuhan?” Ini menyatakan bahwa somehow di satu sisi Saulus tahu, ini sosok yang tidak jahat, sosok yang lebih tinggi dari dirinya, somehow dari Tuhan, tetapi somehow dia juga tidak kenal, maka dia menjawab dengan bertanya, “Siapa Engkau, Tuhan?” Ini melanggar pakem; harusnya kalau dipanggil, “Saulus, Saulus,” pakemnya adalah menjawab, “Ya, Tuhan, ini aku, berbicaralah sebab aku mendengar.”
Selanjutnya, Pihak itu –Yesus sendiri—mengatakan, “Aku Yesus, orang Nazaret yang kauaniaya.” Menarik bahwa di sini Tuhan tidak mengatakan, “Aku Yesus, Tuhan yang menciptakan engkau dari debu; Aku Yesus, Alfa yang memulai semua ini; Aku Yesus, Omega yang mengakhiri semua ini, Aku Yesus, Tuhan, bukan manusia,” Dia mengatakan, “Aku Yesus, orang Nazaret.” Seperti engkau, Saulus orang Tarsus, Aku Yesus orang Nazaret. Tetapi ini adalah Aku Yesus, orang Nazaret yang sudah dibangkitkan; Aku Yesus orang Nazaret yang adalah Allah Anak yang menciptakan jagat raya, Aku Yesus orang Nazaret yang juga adalah logos yang menjadi daging.
“Aku Yesus orang Nazaret, yang engkau aniaya; mengapa engkau menganiaya Aku? Itu pertanyaan-Ku.” Menarik, ya, Tuhan menuntut akuntabilitas dari Saulus. Dia bukan menjatuhkan hukuman kepada Saulus, “Saulus! Aku Yesus yang kauanaiaya, mampus kamu hari ini, siap-siap bertemu penghakiman Tuhan!” Tidak demikian. “Saulus, Aku Yesus yang engkau aniaya. Mengapa?” –pertanyaan yang menghantui. Coba saja kalau kamu jahati orang, bikin trik begini begitu supaya teman-teman melihat orang itu begini begitu (padahal tidak), lalu mereka akan tidak suka dengan dia sehingga dia bisa disepak, atau Bos akan tidak suka dengan dia, dst., lalu kita berhasil melakukan itu, bahkan sampai orang itu gantung diri atau bunuh diri; dan orang itu lalu menjumpai kita dalam mimpi, panggil nama kita, “Thompson, Thompson, kamu bikin apa sama saya; mengapa?” Atau kayak politisi yang pakai kekuasaan, menekan-nekan tenaga kerja kesehatan, sampai tenaga kerja kesehatan itu mati, entah karena bunuh diri atau tekanan jiwa/depresi, lalu si orang yang mati ini menjumpai sang anggota DPRD dalam mimpi, panggil namanya, misalnya, “Boris, Boris, mengapa engkau melakukan itu?” Tiap hari dimimpiin seperti itu, bisa gila, ya.
Kurang lebih seperti itulah Paulus mendapat penglihatan dari Yesus yang bangkit, yang dia setuju Yesus itu orang sesat yang mengaku-aku Mesias, yang akan menyesatkan rakyat, dan adalah aktivitas yang berkenan pada Tuhan, aktivitas yang mencintai Tuhan, kalau dia ingin pengikut Yesus musnah saja, kembali dari kesesatannya atau mati. Jadi, Saulus itu ingin memberantas Kekristenan. Kalau Yesus masih hidup, ya, Saulus salah seorang yang akan berteriak-teriak, “Salibkan Dia!” Namun kemudian Yesus yang bangkit itu berkata-kata kepada dirinya –dan somehow Saulus tahu ini undisputably adalah utusan Tuhan. Yesus itu bukan menjatuhkan hukuman, “Saulus, waktumu sudah selesai, kamu dihukum masuk neraka 30 juta tahun.” Bukan itu, melainkan Dia bertanya begini: “Saulus, why? Mengapa engkau melakukan itu?” Coba bayangkan kalau kamu bikin jahat pada orang lalu orang itu ternyata tidak mati, ternyata orang itu menang, dibenarkan oleh Tuhan, dan ternyata orang itu adalah Tuhan sendiri, lalu orang itu berkata kepadamu bukan hukuman melainkan pertanyaan, menuntut akuntabilitas, “Mengapa?” –dan itu harus dijawab oleh Saulus.
Di bagian ini, kalau Saulus mau tulus menjawab, kira-kira dia jawab apa? Dia tidak menjawab. Apapun jawabannya, pasti salah, pasti kebodohan, karena jawabannya, “Karena aku mencintai Tuhan.” Aku menganiaya Engkau, Yesus, karena aku mencintai Tuhan, karena aku menganggap Engkau dan murid-murid-Mu sesat dan menyesatkan bangsa kami, jadi aku ingin untuk membantu Tuhan mengembalikan umat Tuhan dari kesesatan, aku bergiat bagi Tuhan. Tetapi Tuhan sendiri kemudian mengatakan, mengapa engkau melakukan itu.
Pertanyaan Tuhan adalah ‘mengapa engkau melakukan itu’, Saulus tidak jawab, tetapi kemudian Saulus balik bertanya kepada Tuhan, “Tuhan, apa yang harus aku perbuat?” Tuhan mengatakan kepadanya, “Pergilah ke Damsyik, nanti kamu akan tahu.” Jadi Saulus tidak diberitahu, misalnya, kamu akan jadi rasul-Ku sampai ke ujung bumi, kamu akan kembali ke Yerusalem dan mereka akan berusaha membunuhmu, dsb., tetapi dia diberitahu seperti ini: kamu mau ke Damsyik ‘kan, teruskan saja, tetapi bukan untuk menganiaya orang Kristen, nanti kamu akan tahu, deh. Itulah yang kemudian dilakukan oleh Saulus. Namun dia sebegitu tidak berdaya sampai-sampai jalan pun tidak bisa, harus dituntun oleh rekan seperjalanannya sampai ke Damsyik. Di Damsyik inilah kemudian terjadi center dari kiasmusnya, bagian tengahnya, bagian yang paling penting, yang akan kita baca berikut ini.
Titik Balik (Pertemuan dengan Ananias): Kisah Para Rasul 22:12-16
Bagian yang paling penting di sini, Lukas menceritakan lewat mulut Saulus sendiri, bahwa dia kemudian bertemu dengan seseorang yang bernama Ananias, yang bukan orang terkenal. Saulus tidak bertemu dengan Petrus di Damsyik, tidak juga Yakobus atau Yohanes –dia bukan bertemu dengan raksasa rohani. Jadi kalau kita tanya siapa yang membaptiskan Paulus, atau siapa pembimbing rohani Paulus, kita mungkin bayangkan itu Petrus, atau mungkin Yakobus saudara Tuhan Yesus. Tetapi bukan itu, melainkan Ananias. Siapa Ananias ini? Ananias cuma terkenal sebagai yang mendoakan Saulus sehingga dia bisa melihat lagi, itu saja. Practically Ananias ini nobody, bukan orang hebat, bukan orang terkenal, bukan pesohor rohani, hanya seorang Ananias saja. Dikatakan di sini, dia seorang yang saleh menurut hukum Taurat, terkenal baik di antara semua orang Yahudi; bahkan reputasinya itu tidak terlalu distinctive Kristen yang disebutkan oleh Lukas.
Ananias datang di situ, mengatakan apa yang Tuhan titipkan padanya untuk Saulus. Dia menyapa Saulus sebagai saudara, “Saulus, saudaraku.” Dia bukan bilang, “Saulus yang mulia, muridnya Gamaliel, yang paling berbakat,” atau, “Saulus, yang pegang surat komando dari Yerusalem,” melainkan memanggilnya, “Saulus, saudaraku —Saulus sesamaku—hendaklah engkau melihat kembali.” Saulus pun pertama kali melihat bukan Tuhan, bukan kitab suci atau salib; dia pertama kali melihat wajahnya Ananias, wajahnya seorang Kristen, seorang yang adalah bagian dari yang dianiaya, bagian dari musuhnya. Di sini Saulus posisinya terbalik. Dalam perjalanan menuju Damsyik, dia posisinya powerful; setelah sampai Damsyik, posisinya powerless, dia seorang yang tidak berdaya, di bawah belas kasihan dari teman-teman yang menuntunnya, dan sekarang di bawah belas kasihan dari Ananias –Ananias yang bahkan dipakai Tuhan untuk dirinya bisa melihat, juga wajah yang pertama yang dia lihat setelah matanya pulih.
Ananias mengatakan apa? “Allah nenek moyang kita … ,” jadi rujukannya adalah Allahnya Abraham, Ishak, Yakub. Rujukannya bukan Yesus, melainkan yang lebih ekumenis yaitu Allah nenek moyang kita, sehingga ada integrasi antara hidup Paulus yang lama dengan hidupnya yang baru. “Allah yang senantiasa engkau layani sejak engkau muda, Saulus, yang dulu engkau layani dengan salah, menetapkan engkau untuk mengetahui kehendak-Nya, melihat Yang Benar dan mendengar suara yang keluar dari mulut-Nya.” Dan, apa isi suara itu, kebenaran itu? “Engkau harus menjadi saksi-Nya terhadap semua orang tentang apa yang kaulihat dan yang kaudengar.” Yaitu apa? Yesus yang tersalib itu ternyata adalah Tuhan sendiri, Yesus yang tersalib itu dibangkitkan oleh Tuhan, Yesus yang tersalib itu adalah Mesias, Dia adalah permulaan dari langit dan bumi yang baru, yang sudah datang ke bumi, maka, “Bangunlah, beri dirimu dibaptis … ,” ini menandai bahwa jalan hidupnya yang lama harus dia tinggalkan, sama seperti orang-orang Yahudi di hadapan Yohanes Pembaptis, harus meninggalkan jalan hidup yang lama sebab Kerajaan Allah sudah datang. Dan, Saulus yang orang Farisi, yang mengklaim diri tidak bercela dalam berjalan mengikuti instruksi Tuhan (halakah), bahwa dirinya terkemuka di antara orang Yahudi, sekarang harus mengakui bahwa sama seperti semua orang yang lain, dia pun harus dibaptiskan, dia pun harus meninggalkan hidup yang lama.
Kemudian dia kembali ke Yerusalem. Ini tidak dijelaskan berapa lama waktunya, kemungkinan besar agak panjang.
Visi Paulus II: Kisah Para Rasul 22:17-21
Bagian berikutnya ini adalah penglihatan/visi Paulus yang kedua yang dinyatakan kepada Paulus (ini padanannya dengan ayat 6-11). Visi yang pertama tadi adalah penglihatan Paulus ketika Yesus yang bangkit menjumpai dia; dan di situ Paulus melihat throne room dari Yesus, yang dari takta-Nya berdiri dan berbicara kepada Paulus. Dalam visi yang kedua, Saulus juga melihat Tuhan di takhta-Nya dan mengatakan suatu perintah juga kepadanya.
Kalau kita bandingkan, visi yang pertama adalah: “Datanglah ke Damsyik, nanti kamu menerima instruksi selanjutnya”; sementara di Yerusalem dalam visi yang kedua ini perintahnyaa adalah: “Pergilah kepada bangsa-bangsa” –pergilah, bukan ke Yerusalem melainkan ke ujung dunia. Inilah visi yang kedua, visi yang di kemudian hari Saulus ulangi kepada orang-orang di Korintus, ketika mereka meragukan kerasulannya. Kepada orang-orang lain juga Saulus mengatakan hal yang sama ketika mereka meragukan kerasulannya.
Mungkin Saudara masih ingat, di dalam surat-surat Paulus ada rujukan yang dia tulis dengan bahasa orang ketiga, “Aku mengenal diriku; aku tidak tahu, tetapi ada seseorang yang kukenal, dan dia diangkat ke langit ketiga … , dst.” Kita tahu di situ Saulus sedang bicara mengenai dirinya sendiri. Dia itu diangkat ke surga, mendengar kata-kata dari throne room Tuhan, dst., yang kemudian dia katakan, “Aku tidak mau berbangga mengenai diriku, tetapi mengenai orang itu,” –yang ternyata dirinya sendiri juga sih. Poinnya apa? Poinnya, genre soal mempersaksikan bahwa pernah dipanggil oleh Tuhan ke throne room Tuhan, dst., merupakan genre yang cukup familier di telinga orang-orang Ibrani.
Rabi-rabi kalau mau meneguhkan kerabiannya, kadang-kadang evoking hal seperti itu. Atau juga misalnya orang lain mau meneguhkan Rabi Akiva itu memang rabi, lho, memang berotoritas, kamu harus mendengarkan dia, maka dia akan evoking bahwa Rabi Akiva pernah pergi ke throne room Tuhan, pernah melihat penglihatan Merkava (takhtanya Tuhan). Jadi hal tersebut merupakan genre tertentu dalam telinganya orang Ibrani, sedangkan kita orang modern –orang Reformed– alergi banget dengan yang seperti itu, wah, orang ini mau apa ya, menganggap orang ini sebentar lagi mau minta duit, atau orang ini sebentar lagi mau berkuasa atas kita dengan mengatakan saya ini diutus Tuhan, saya pernah melihat takhta Tuhan, dsb.
Memang dalam konteks kita, perlu juga untuk mencurigai orang-orang yang sedikit-sedikit mengatakan, “Lu tau ‘gak, gue pernah pergi ke surga untuk yang ke-51 kali,” karena Paulus juga jarang-jarang mengatakan seperti itu, tidak setiap kali; dan ketika mengatakannya pun dia lakukan dengan sangat enggan. Rata-rata mistikus kalau mau bicara pengalaman mistik mereka, biasanya justru orang lain yang mengatakannya, mereka jarang sekali, bahkan kadang-kadang cuma sekali dalam seumur hidupnya. Sedangkan yang kita lihat sekarang, para televangelist sering kali melakukan itu kayak jadi jualannya. Saya kira itu tidak sama dengan Paulus; dan rightly so kita alergi. Tetapi, kita perlu menerima juga bahwa ada genre ini di dalam alam pikir orang Ibrani abad pertama. Jadi kalau orang Ibrani abad pertama mendengar kesaksiannya Paulus soal dia diangkat ke surga, dsb., juga apa yang dia katakan dalam bagian ini bahwa dia mendengar suara Yesus berbicara dari surga, demikian juga di Yerusalem dia mendengar suara Tuhan lagi, kita harus mafhum, paham, bahwa itu cara mereka menyampaikan sesuatu. Jadi kita tidak perlu alergi dalam hal ini.
Memang Saulus memakai cara itu untuk meyakinkan orang-orang Ibrani, para pendengarnya –dan rabi-rabi mereka pun begitu. Saulus mengatakan, “Aku ini mengalami pengalaman Merkava, melihat ruang takhta Tuhan. Jadi aku ini menerima pesan dari takhta Tuhan: Lekas tinggalkan Yerusalem dan pergilah kepada bangsa-bangsa asing.” Hal terakhir inilah yang bikin mereka kemudian murka. Di sini mungkin kita bilang, “Aduh, koq sumbunya pendek banget, ya. Aneh banget, sensitifnya urusan bangsa asing. Tadi ada Trofimus yang mereka curigai dibawa Paulus ke Bait Suci, lalu mereka ngamuk, ingin bunuh orang. Sekarang, orang ini (Paulus) bilang bahwa Tuhan memerintahkan dia meninggalkan Yerusalem, pergi kepada bangsa-bangsa asing, koq ngamuk lagi?? Apa ini, ngamuk-ngamuk urusan yang ‘gak penting sama sekali.” Memang buat kita tidak penting, tetapi buat mereka itu penting; dan di sini kita harus simpati/empati dengan penting-nya itu, kita perlu ingin tahu, karena memang itulah yang mau diutarakan oleh Lukas. Jadi, orang banyak ketika mendengar perkataan Paulus itu, langsung mereka bereaksi; dan kita akan lihat bagaimana reaksinya.
Respons Final Yahudi: Kisah Para Rasul 22:22-23
Bagian ini padanan dari ayat 2. Respons orang Yahudi di ayat 2 adalah: mereka diam, mereka mendengarkan, attentive. Respons orang Yahudi berikutnya, di akhir pledoi Paulus ini, mereka ingin membunuh Paulus. Mereka furious, mereka mengatakan, “Orang ini tidak layak hidup!” Gara-gara apa? Gara-gara Paulus mengakatan bahwa keselamatan sudah sampai kepada bangsa-bangsa lain, dan, “Aku diutus Tuhan untuk pergi kepada bangsa-bangsa lain, meninggalkan Yerusalem.”
Di sini yang bikin mereka peka, ada 2 hal. Pertama, bangsa-bangsa lain koq dijangkau oleh Yahwe; kedua, koq disuruh meninggalkan Yerusalem. Bagi mereka, Yerusalem adalah pusatnya; kalau mau, ya, seluruh dunia yang ngumpul di Yerusalem, seluruh dunia dibaptis di Yerusalem seluruh dunia menghadap Yahweh di Yerusalem. Sedangkan yang dikatakan Paulus ini arahnya ‘kan terbalik, koq Yahweh mengutus Saulus untuk pergi kepada bangsa-bangsa?? Ini terbalik, ini seperti jual diri, seperti murahan sekali, koq Tuhan mengutus utusannya kepada bangsa-bangsa kafir, bangsa-bangsa anjing?? Jadi bagi mereka ini penistaan agama, orang macam itu tidak layak hidup, harus dienyahkan dari muka bumi. Demikian kata mereka.
Lalu Kepala Batalion –yang interest-nya sama sekali bukan urusan agama tetapi urusan kestabilan politik dan kariernya di benteng itu– memberi perintah untuk membawa Paulus ke markas, karena sudah kacau lagi. Paulus kemudian dibawa ke markas.
Respons Romawi: Kisah Para Rasul 22:24-30
Ini bagian penutupnya. Di bagian awal tadi mereka takjub, koq orang ini bisa berbunyi pakai bahasa Yunani, sekarang mereka takjub ternyata orang ini orang Romawi, warganegara Romawi yang harus dilindungi, yang punya hak, yang tidak boleh diperlakukan semena-mena walaupun wajahnya wajah Yahudi.
Ini mungkin seperti Amerika, kita tidak bisa katakan orang Amerika harus kulitnya putih, bisa apa saja, karena anybody can be American, entah kulit putih, kuning, merah, atau biru sekalipun. Demikian juga siapa saja bisa jadi warganegara Roma, meski agak susah, bahkan si Tribun (ini posisi tinggi, semacam kepala wilayah militer) harus beli kewarganegaraan Romawinya, namun beberapa warga kota tempat Paulus lahir, mendapatkannya (ini ada hubungan dengan sebabnya Paulus cari nafkah dengan bikin tenda, yang adalah tendanya militer, seakan-akan seperti Paulus punya kontrak dengan Pentagon untuk bikin kontainer mereka atau apalah lainnya; dalam hal ini tidak semua orang dapat jatah untuk memiliki kontrak-kontrak seperti itu, dan kelihatannya keluarganya Paulus memilikinya). Jadi Paulus sejak lahir sudah warganegara Romawi, kemungkinan karena kota itu pernah berjasa bagi Romawi, pernah jadi base militer atau semacamnya.
Di sini Kepala Batalion itu jadi takut karena dia sudah bikin kesalahan, “Aduh, kalau Paulus sampai lapor ke Roma, mampuslah, bisa diturunkan jabatan jadi tukang sapu.” Lukas mau menggambarkan apa di bagian ini? Lukas mau menggambarkan bahwa orang Romawi ini takut pada Paulus, takut pada utusan Tuhan, padahal Romawi itu paling menakutkan –dan hobi menakut-nakuti. Orang Romawi memang sering kai menakut-nakuti dan mengintimidasi warga Yudea yang tidak berdaya itu dengan memajang mayat-mayat pemberontak yang mereka salibkan, dalam keadaan setengah mati berbelas-belas hari menggeliat-geliat dan berteriak-teriak, ribuan orang sepanjang jalan, supaya warga tidak berani apa-apa terhadap Romawi. Begitulah Romawi mengintimidasi dengan ketakutan. Tetapi di sini, koq malah Romawi yang ketakutan pada Paulus.
Ini menggemakan satu hal yang sampai pasal terakhir nanti Lukas mau katakan, bahwa Paulus –alias Saulus—di jantung kekuasan Romawi, di kota Roma sendiri, dain bisa memberitakan Injil tanpa halangan. Jadi, Injil Tuhan tidak bisa dihalangi bahkan oleh kerajaan yang super power seperti Roma yang menakutkan itu. Bukan hanya Saulus tidak takut dengan mereka, tetapi bahkan mereka takut pada Paulus. Takut karena apa? Karena prinsip mereka sendiri, karena Roma sangat membanggakan bahwa di hadapan hukum semua orang harus tunduk, Roma itu rule by law. Jadi di bagian ini Saulus mengangkat hal tersebut, “Memangnya legal ya, mencambuk warganegara Roma, bahkan tanpa pengadilan?” Ini hal yang bersalah sekali, maka Kepala Batalion itu ketakutan. Demikian yang mau digambarkan Lukas sebagai bagian akhir.
Inti dari berita hari ini, bukan bahwa Roma ketakutan, tetapi pada jantung dari struktur kiastik-nya. Saulus yang tadinya datang ke Damsyik untuk menganiaya orang Kristen, ketika sampai di Damsyik dia jadi orang yang tidak berdaya. Dan,orang yang tidak berdaya ini bukan ditindas di Damsyik, bukan Ananias mengatakan, “Nah, buta ‘kan,” sambil menampar dia dan mengatakan, “Yesus pernah dipermainkan ‘kan, wajah-Nya ditutupi lalu ditampar, sekarang saya balaskan, tabok kamu!” Ananisa tidak begitu, Ananias mendoakan Saulus. Saulus yang tidak berdaya, diperlakukan dengan kasih. Dia mengalami diampuni, dikasihi, bukan hanya oleh Tuhan tetapi juga oleh jemaat-Nya, oleh Gereja. Demikianlah Kerajaan Allah melaju, di kota Damsyik, dan sampai ke ujung-ujung bumi.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading