Kita mulai memasuki minggu-minggu Epifania. Epifania adalah Musim Ke-3 dalam Kalender Gereja, yang dimulai dari Adven, lalu Natal, dan sekarang Epifania. Adven bicara mengenai Gereja yang masih menanti, Gereja yang berada dalam kegelapan, Gereja yang membutuhkan Tuhan hadir, masuk, menembus kegelapan dunia. Natal memproklamirkan bahwa Tuhan tersebut beneran hadir, sudah menembus, melalui kelahiran Yesus Orang Nazaret, dan akan kembali menembus dalam kedatangan-Nya yang kedua. Epifania adalah bertanya seperti apa sih Tuhan yang lama dinantikan itu dan akhirnya hadir; seperti apa kemuliaan-Nya. Dengan kata lain, waktu kita menanyakan apakah kemuliaan Yesus, itu berarti kita sedang menanyakan apakah brand identity Tuhan ini, bagaimana Dia berbeda dari brand-brand yang lain. Lalu bagaimana cara kemuliaan ini dibukakan kepada kita, itulah pertanyaan-pertanyaan Epifania. Jadi dalam 6-7 minggu setiap tahunnya, Gereja diajak bukan cuma untuk menantikan Yesus, merayakan kedatangan-Nya, tetapi juga untuk mengenal Dia yang sudah datang itu. Itulah Epifania.
Saudara sudah melihat ketimpangan yang terjadi ketika kita merayakan Natal tanpa Adven –kita sudah bicara ini berkali-kali– yaitu jadinya Natal yang cuma sentimentalisme, baperisme, nostalgia tanpa realitas. Dan, sekarang Saudara juga harusnya bisa menyadari ketimpangan apa yang terjadi ketika orang hanya merayakan Natal tanpa Epifania. Itu seperti orang yang senang sekali tamu datang ke rumahnya tetapi dia tidak tertarik untuk mengenal siapa orang tersebut. Inilah pentingnya Epifania. Ini sebabnya narasi-narasi yang dibahas dalam minggu-minggu Epifania adalah Yesus yang menyembuhkan orang sakit, Yesus yang memanggil murid-murid-Nya, Yesus yang mengajar dengan kuasa, Yesus yang meredakan badai, Yesus yang bernubuat tanpa kompromi. Tujuannya apa? Memproklamasikan kepada kita siapa Dia itu. Dan, ini kemudian berakhir dalam momen di mana kemuliaan-Nya paling nyata dinyatakan, yaitu dalam peristiwa Transfigurasi.
Menariknya, Epifania mengikuti pola kitab Injil. Kitab Injil pertama-tama membawa kita bertemu Yesus dalam baptisan-Nya, sebelum semua yang lainnya muncul. Ini adalah narasi pertama Minggu Epifania, yaitu dimulai dengan baptisan Yesus di Sungai Yordan. Kenapa demikian? Karena sebelum kita bertemu dengan Yesus Sang Pembuat Mukjizat, Yesus Sang Pengajar, Yesus Sang Nabi, Yesus Sang Guru, kita diajak untuk mulai berkenalan dan bertemu dengan Yesus yang dibaptis. Aneh, ya. Apa yang terjadi dalam cerita ini sehingga ini jadi kisah yang pertama? Saya langsung berikan spoiler saja di awal, signifikansi baptisan Yesus tentunya banyak, namun satu hal adalah bahwa inilah keunikan kemuliaan-Nya yang begitu lain daripada ilah-ilah yang lain, yaitu dalam baptisan-Nya kita mengenal Yesus sebagai Allah yang taat.
Hahh?? Allah yang taat dalam baptisan-Nya?? Biasanya tidak connect ke situ. Itu sebabnya kita perlu bicarakan hal ini, dan kita akan langsung melihat bagaimana ini berdampak kepada kita; kita akan jadi umat yang seperti apa, kalau Allah kita keunikan pertama-Nya sebelum Dia diperkenalkan sebagai Allah yang berkuasa, sebelum Dia diperkenalkan sebagai Allah yang berfirman, Dia diperkenalkan sebagai Allah yang taat. Sekali lagi, ini tahun Matius dalam Kalender Gereja, maka sepanjang tahun ini kita akan melihat tema-temanya dari Injil Matius, meskipun sekali-sekali bisa masuk ke bagian-bagian yang lain.
Sebagaimana kita katakan tadi, kisah Baptisan Yesus punya signifikansi yang banyak. Ini momen yang dicatat semua Injil Sinoptik, sementara Injil Yohanes sempat menyebut kesaksian Yohanes yang melihat merpati turun ke atas Yesus, yang sudah pasti itu dalam peristiwa baptisan-Nya. Dalam keempat Injil, peristiwa ini signifikan; kenapa? Banyak alasannya. Misalnya bahwa ini grand opening pelayanan publik Yesus. Sebelum momen ini, 30 tahun Dia hidup dan tidak ada yang tahu Dia siapa kecuali keluarga-keluarga dekatnya, namun sejak dari baptisan-Nya, Dia mulai launching pelayanan publik-Nya. Ini momen status-Nya sebagai Anak Allah dinyatakan untuk pertama kalinya. Ini momen kuasa Roh Kudus jelas banget menaungi-Nya; bukan berarti baru dapat –karena jelas Dia dikandung melalui kuasa Roh Kudus—namun inilah momennya hal itu dinyatakan ke semua orang. Ini juga momen ketritunggalan Allah dinyatakan lebih jelas untuk pertama kalinya; ada Anak dibaptis, Roh Kudus muncul, Bapa berfirman. Hal ini signifikan banget karena momen pelayanan publik pertama Yesus adalah Baptisan dan Tritunggal, lalu momen terakhir pelayanan publik Yesus dalam kitab Matius adalah Amanat Agung, jadikanlah segala bangsa murid-Ku, baptiskanlah mereka dalam nama Allah Tritunggal. Ini bukan kebetulan.
Penekanan-penekanan seperti ini banyak dan bukan kebetulan, signifikansinya bermacam-macam, namun mungkin satu hal dari Baptisan Yesus yang jarang kita bicarakan, jarang kita sadari, yaitu bahwa peristiwa ini membukakan kita mengenai ketaatan Yesus Kristus. Apa nyambungnya? Sebenarnya sudah cukup jelas kalau kita menyadari kisah apa yang datang setiap kali setelah cerita Baptisan tersebut? Yaitu kisah pencobaan. Semua mencatatnya ke arah sana. Dan, ketika Injil Sinoptik menceritakan Yesus dicobai di padang gurun, mereka menekankan bahwa Roh Kuduslah yang membawa Dia ke situ. Jadi, menjadi anak yang diperkenan Bapa, menjadi orang yang dinaungi kuasa Roh Kudus, itu banyak artinya, dan salah satunya adalah: Saudara menemukan dirimu diarahkan untuk taat kepada Roh Kudus yang membawamu ke tempat-tempat yang gersang, berbahaya, dalam ketaatan kepada Allah. Hal itu cukup jelas.
Dalam kitab Matius ini lebih jelas lagi karena ada bagian yang unik, hanya Matius yang mencatat keberatan Yohanes ketika Yesus datang kepadanya untuk dibaptis. “Aku yang harus Kau baptis, kenapa Engkau mau dibaptis oleh aku??” Matius memasukkan hal ini perhaps untuk menjawab pertanyaan Gereja-mula-mula, bahkan sampai Gereja hari ini, yaitu kenapa Yesus harus dibaptis??
Kita tahu Yohanes mengajarkan baptisan yang melambangkan pertobatan. Dalam zaman Yohanes Pembaptis, baptisan bukan orisinal cetusan Yohanes, baptisan sudah dikenal orang Yahudi sebagai ritual pembasuhan yang melambangkan pertobatan. Namun pada masa itu baptisan dilakukan bagi orang-orang non-Yahudi yang mau masuk ke dalam Yudaisme. Jadi, bahwa Yohanes Pembaptis memanggil orang-orang Yahudi juga untuk menjalani ritual ini, berarti dia sedang mendeklarasikan satu hal, inti message-nya, yaitu bahwa semua orang, Yahudi maupun non-Yahudi, semua adalah orang berdosa, semua perlu bertobat, semua perlu berbalik arah kepada Tuhan, tidak terkecuali.
Saudara bisa lihat beberapa orang Farisi dan orang Saduki juga datang. Orang Saduki (Saduki atau zadokit, artinya keturunan imam Zadok) adalah keturunan imam, mereka pegang power, mereka pemimpin politik. Orang Farisi sebaliknya, mereka golongan akar rumput, tidak pegang kuasa politik tetapi dapat pengakuan dari masyarakat karena cara hidupnya. Ini dua kategori golongan pemimpin masyarakat Yahudi pada waktu itu. Mereka datang, tetapi Yohanes Pembaptis mengatakan kepada mereka, “Engkau keturunan ular berbisa! Engkau mengatakan engkau keturunan Abraham; jangan pikir karena engkau ada darah Abraham maka engkau tidak perlu bertobat. Semua perlu bertobat. Semua!” Lalu, kucuk-kucuk muncul Yesus, yang kita insist tanpa dosa, yang Ibrani 4 katakan ‘Yesus telah dicobai sama seperti kita semua tetapi Ia tidak berdosa’, dan Yesus minta dibaptis juga. Tidak heran Yohanes menolak. Kenapa ini bisa terjadi?
Kuncinya pada jawaban Yesus. LAI berusaha keras menerjemahkan bagian ini, kita menghargainya, namun kita perlu unpack terjemahan ini. Yesus menjawab, “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.” Apa maksudnya? Satu hal yang pasti, LAI tahu baptisan ini melambangkan apa. Sekarang perhatikan ‘demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah’, nuansa apa yang Saudara tangkap di sini? Ketaatan –ketaatan kepada kehendak Allah. Sekarang lanjut klarifikasi, kehendak Allah di bagian ini bukan benar-benar asli istilah Ibraninya; aslinya pakai istilah righteousness, sadekah –yang memang sulit diterjemahkan. Kita pernah mengatakan, sadekah itu bukan orang benar dalam arti dia benar dalam dirinya sendiri, bermoral, orang baik, melainkan dalam arti dia tidak bisa righteous tanpa orang lain, righteousness yang tidak bisa datang tanpa keberadaan orang lain. Righteousness atau sadekah dalam Alkitab, bukanlah urusan seberapa kita bijaksana, seberapa kita benar, seberapa kita sejati, seberapa kita berintegritas; righteousness bicara mengenai seberapa kita bijaksana menghadapi orang lain, seberapa kita berlaku benar kepada orang lain, seberapa kita setia/berintegritas kepada orang lain. Jadi, righteous di hadapan Allah berarti berlaku benar di hadapan Allah. Sekarang Saudara bisa mengerti kenapa LAI menerjemahkan bagian ini dengan ‘memenuhi kehendak Allah’, karena bagaimana sih seorang anak berlaku tepat kepada bapaknya, bagaimana seorang anak memenuhi kehendak bapaknya, yaitu sebagaimana Saudara lihat reaksi Bapa setelah baptisan ini yang langsung mendeklarasikan, “Ini Anak-Ku, Aku berkenan kepada-Nya.” Ini kalimat yang keluar dari Bapa yang melihat Anak-Nya ngapain? Dalam hidupmu sehari-hari kalau engkau seorang bapak, engkau mengatakan ini ketika apa? Ketika anak-anakmu berlaku tepat kepadamu ‘kan, ketika mereka berlaku righteous terhadapmu. Apakah itu kelakuan tepat seorang anak yang mengundang ayahnya mendeklarasikan ‘ini anakku’ ? Ketika anak tersebut taat kepada bapaknya. Inilah signifikansi Baptisan Yesus.
Yesus dibaptis bukan karena Dia perlu bertobat. Yesus dibaptis bukan karena dalam baptisan ini Dia dapat kuasa Roh Kudus (dari awal kita sudah katakan Dia dikandung dari Roh Kudus). Dia dibaptis karena ini merupakan tindakan ketaatan-Nya kepada Bapa. Itulah signifikansi dan makna Baptisan Yesus.
Pertanyaannya, kenapa Baptisan ini merupakan tindakan ketaatan Yesus, kenapa digambarkan seperti itu? Kita tahu sih Yesus taat kepada Bapa-Nya, tetapi itu ‘kan seperti yang Filipi 2 katakan terjadi ketika Yesus merendahkan diri-Nya, Dia turun ke dunia, Dia mengambil rupa seorang hamba, Dia taat sampai mati di kayu salib. Itu jelas dan lumrah merupakan ketaatan. Tetapi di Filipi 2 tidak ada bicara apa-apa mengenai baptisan, lalu kenapa Baptisan Yesus ini digambarkan Matius sebagai tindakan ketaatan Yesus? Saudara, justru itulah jawabannya. Baptisan ternyata punya pola yang sama. Yesus taat kepada Bapa dengan cara turun ke dunia, mati di kayu salib. Apa yang terjadi ketika Yesus turun ke dunia? Dia menyertai kita –kita sudah bahas ini—Imanuel. Apa yang terjadi ketika Yesus mati di kayu salib? Dia mengganti kita. Dalam Natal maupun Jumat Agung, polanya sama: Ia menaruh diri-Nya di tempat kita. Itulah namanya ketaatan. Jadi, Yesus taat kepada Bapa ketika Dia yang adalah Terang itu sendiri, yang pada-Nya tidak ada kegelapan, malah masuk ke dunia yang gelap tempat kita berada. Yesus taat kepada Bapa ketika Dia yang tidak berdosa malah dijadikan dosa oleh kita, menanggung dosa-dosa kita. Baptisan juga sama.
Yesus tidak perlu dibaptis, Yesus tidak perlu bertobat, umat-Nya yang perlu dibaptis sebagai tanda pertobatan mereka. Ironisnya, umat-Nya malah mengira diri mereka tidak perlu dibaptis, itu bagiannya orang-orang di luar Abraham, tetapi Yohanes Pembaptis mengatakan, “Yahudi atau bukan Yahudi sami mawon, semua perlu dibaptis, semua harus bertobat, semua ada dalam kategori yang sama! Dan, kamu harus tahu satu hal: yang nanti datang setelah aku, Dia lebih besar lagi daripada aku; aku baptis kamu dengan air, Dia baptis kamu dengan api dan Roh. Membuka tali kasut-Nya pun aku enggak layak! Itulah yang akan datang setelah aku. Mati, kalian! Kapak sudah siap sampai ke akar pohonnya, hati-hati kalian! Hasilkan buah yang sesuai pertobatanmu! Semua perlu bertobat!” Lalu kucuk-kucuk datanglah Yesus –yang lebih besar daripada Yohanes, yang akan membaptis dengan api dan Roh Kudus– dan mengatakan, “Yohanes Pembaptis, kamu mengatakan semua orang perlu bertobat, berarti itu termasuk Aku.” Yohanes Pembaptis mengatakan, ”Mana bisa?? Kamu satu-satunya yang tidak perlu dibaptis.” Yesus membalas, “Ya iyalah, semua juga tahu, tapi kehendak Bapa adalah Aku menaruh diri-Ku di tempat manusia. Aku turun ke dunia ke tempat manusia. Nanti Aku naik ke atas kayu salib, tempat dosa manusia. Jadi sama juga sekarang, kehendak Bapa semua manusia perlu dibaptis, maka Aku memberi diri-Ku dibaptis.”
Orang Saduki dan Farisi, yang adalah manusia, menganggap diri mereka beda. Tetapi Yesus yang memang beda, malah menaruh diri-Nya sama dengan manusia. Yesaya sudah menubuatkan bahwa ketika Mesias datang, Ia akan dihitung bersama-sama dengan para pemberontak, maka ketika Yesus di sini hadir dan ikut dibaptis bersama-sama dengan manusia, ini tidak kurang dari satu lagi tindakan Imanuel. Sebegitunya Yesus taat kepada kehendak Bapa-Nya untuk menjalankan panggilan menaruh diri-Nya di tempat manusia, Ia ikut memberi diri-Nya dibaptis seperti manusia berdosa. Saudara mulai menangkap polanya? Jadi Baptisan Yesus ternyata senada dengan inkarnasi-Nya, senada juga dengan kematian-Nya. Baptisan Yesus adalah juga momen Yesus sedang merendahkan diri-Nya untuk dihitung bersama dengan kita, untuk menyertai kita dalam keterpurukan kita; dan oleh karena itu Baptisan Yesus merupakan momen ketaatan-Nya kepada Bapa. Cukup jelas, ya.
Namun inilah jeniusnya, bahwa sebelum Saudara bertemu dengan Yesus Sang Pembuat Mukjizat, sebelum Saudara bertemu dengan Yesus Sang Pengajar Agung, sebelum Saudara bertemu dengan Yesus Sang Raja atas alam di mana ombak dan angin taat kepada-Nya, sebelum Saudara bertemu dengan Yesus yang transfigurasi di atas gunung dan mengobrol dengan Musa dan Elia, Saudara pertama-tama bertemu dengan Yesus Sang Anak yang taat. Itulah momen pertama Saudara melihat kemuliaan-Nya.
Kemuliaan Yesus bukan dinyatakan hanya ketika Ia berkarya, ketika Ia berkata-kata, ketika Ia berkuasa. Bukan cuma itu! Kemuliaan Yesus dalam kitab Injil justru pertama-tama dinyatakan, dibukakan, ketika Ia taat kepada Bapa-Nya. Saudara lihat betapa bijaksananya para penulis Injil menyusun narasi Injil. Inilah yang ditangkap para Bapa Gereja ketika mereka menyusun Kalender Gereja. Itu sebabnya Musim Epifania dimulai di sini.
Dari sini Saudara langsung terbayang apa aplikasi teks ini untuk kehidupan kita. Ini salah satu teks yang sangat praktis, tetapi banyak orang yang datang ke gereja minta khotbah yang praktis dan sekarang baru sadar mereka menyesal minta itu, karena praktika-praktika Kristiani tidak semua sama menariknya. Bagi orang modern misalnya, kalau Saudara disuruh melakukan praktika belajar dari Yesus untuk bikin mukjizat, itu rasanya keren. Atau kalau tradisi seperti itu tidak menarik bagimu (karena kita tradisi seberangnya), maka bagi kita yang keren adalah tradisi yang menghargai ikut Yesus dalam hal merenungkan Firman Tuhan, perkataan Yesus, yang memberi kehidupan. Apapun itu, Saudara perhatikan dalam kedua tradisi yang seperti berseberangan itu, dua-duanya tidak terlalu punya tempat untuk praktika ketaatan. Praktika ketaatan bukan sesuatu yang menarik bagi kedua kubu ini. Saudara minta khotbah praktis, “Beritahu sja, Pak, saya harus ngapain.” “Engkau harus taat! Seperti Yesus taat.” Lalu langsung menyesal, aduhhh, saya bukan minta itu ternyata.
Ketaatan itu tidak bikin nafsu; bahkan untuk telinga modern kita, ketaatan mungkin bikin enek. Ketaatan dalam Gereja langsung membuat banyak dari kita merinding mengingat banyaknya kisah-kisah penyalahgunaan yang terjadi karena ada jemaat yang disuruh taat. Anyway, bukankah sebagai motivasi pun ketaatan kayaknya motivasi yang inferior ‘kan. Kita ikut Tuhan harusnya spontan gitu loh, penuh hasrat dan perasaan dan kesungguhan. Kita kepingin ikut Tuhan itu keluar secara natural dari hati kita yang terdalam, itu ‘kan idealnya?? “Saya kepingin doanya doa yang langsung keluar dari dalam hati, mengalir begitu saja; itu ‘kan ideal.”
Tetapi, kalau ikut Tuhan dalam ketaatan, itu berarti waktu kita melakukan sesuatu, mungkin kita melakukannya dengan segudang pertanyaan, kita melakukannya dengan segudang keragu-raguan, karena bukankah itu yang namanya taat ‘kan. Apakah namanya ‘taat’ kalau ‘O, saya setuju banget dengan hal ini’ ? Misalnya orangtua berkata, “Nak, jangan pulang lebih dari jam 10 ya.” Lalu si anak tanya, “Kenapa, Papa?” Jawab papanya, “Karena begini, begini, begini”, lalu si anak bilang, “O, iya, masuk akal.” Yang seperti itu bukan taat namanya. Taat adalah: kamu tidak perlu tahu alasannya, kamu mungkin belum bisa mengerti alasannya, tetapi ini yang terbaik buatmu, maka taat meskipun engkau tidak yakin. Itu namanya ketaatan. Mau tidak mau kita harus menyadari hal ini. Waktu kita melakukan sesuatu oleh karena ketaatan, itu biasanya bukan karena kita mau. Ini merupakan momen di mana waktu melakukannya sesungguhnya hati kita terbelah, tegang. Tetapi, sadarkah Saudara bahwa ini sesungguhnya salah satu sifat yang paling dasar yang dinyatakan sebagai kemuliaan Anak Allah? Saudara pikir Yesus waktu dibawa Roh Kudus ke padang belantara untuk dicobai Iblis, Dia pergi dengan melompat-lompat bahagia? Saudara pikir Yesus waktu mengatakan, “Serigala punya liang, burung punya sarang, tetapi Anak Manusia tidak punya tempat untuk meletakkan kepala-Nya”, Dia mengatakannya dengan setengah bangga karena melakukan banyak pengorbanan seperti itu?? Dia sesungguhnya sedang curcol, Saudara. Dia sedang curcol keadaan hidup seseorang yang menjalani kehidupan yang taat kepada Bapa.
John Wesley pernah menerima surat dari seorang jemaat; orang ini menulis demikian: “Saya sudah tidak lagi merasakan api dari Tuhan membakar saya seperti waktu dulu saya baru menerima Yesus Kristus. Hari ini imanku tidak lagi aku pegang sekuat dan seyakin dulu waktu aku dipenuhi semangat yang membara bagi Kristus. Bagaimana, ya, Pak Wesley?” Saudara tahu Wesley menjawab apa? Wesley menjawab dengan jawaban yang kalau kita hari ini dengar, kita akan pindah gereja, kita tidak mau punya gembala seperti itu, karena jawaban Wesley tidak ada simpatinya sedikit pun. Dia menjawab, “Oke, kamu sekarang merasa lesu, imanmu seperti tidak lagi membakar. Jadi begini, kalau selama ini kamu bangun jam 6 untuk mempelajari Alkitab, mulai sekarang kamu harus bangun jam 5 pagi. Kalau selama ini kamu pergi mengunjungi orang miskin, orang di penjara, mengabarkan Injil kepada mereka seminggu sekali, mulai sekarang kamu harus mengerjakannya 3x seminggu.” Itu jawaban Wesley. Tidak ada tepuk-tepuk pundak. Tidak ada encouragement untuk kembali mengobarkan perasaan/afeksi dari dalam hati, hanya ‘ini aturannya, taati, lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan iman akan datang kepadamu’. Inilah John Wesley. Bagi Wesley, hidup baru adalah hidup yang berubah melalui ketaatan, bukan berubah karena ketaatan. Bagi John Wesley, menyanyi Jesus Loves Me itu tidak cukup, karena love tanpa obedience (ketaatan), itu jauh banget dari Kekristenan.
“Pak Jethro, John Wesley ‘kan Armenian, sedangkan kita ‘kan Reformed, kita percaya orang diselamatkan bukan karena taat ‘kan.” Ya, tentu saja, Saudara, tetapi dalam Fil. 2:12 Paulus mengatakan, “Kerjakan keselamatanmu (work out your salvation).” Paulus tidak mengatakan ‘bekerjalah bagi keselamatanmu’, dia mengatakan ‘kerjakan keselamatanmu’. Dalam Alkitab, keselamatan bukan sesuatu yang diberikan sebagai anugerah lalu kita memegangnya tanpa lepas, urusan selesai. Tidak. Keselamatan adalah juga sesuatu yang kita harus berusaha bekerja untuk menjalankannya dalam segala aspek hidup kita; di sinilah ketaatan berfungsi. Bukan sebagai penyebab keselamatan, bukan sebagai penyebab hidup baru, tetapi sebagai sarana hidup baru itu masuk ke dalam keseluruhan hidup kita.
Tahun lalu dalam Pemahaman Alkitab (PA) saya pernah membahas kenapa Paulus pakai istilah buah Roh. Saudara pernah pikir kenapa Paulus pakai istilah buah Roh untuk mengungkapkan manfaat-manfaat yang Roh Kudus berikan kepada orang yang hidupnya dipenuhi kuasa Roh? Kenapa pakai istilah buah, yang merupakan istilah pertanian? Ini tidak sembarangan. Kalau Saudara bikin taman kecil-kecilan di halaman rumahmu, dan engkau ingin menumbuhkan buah, engkau harus kerja keras. Pertama-tama harus beli rumah yang ada taman belakangnya, dan itu pakai uang banyak. Harus pangkas rumput-rumput liarnya. Harus gemburkan tanahnya. Harus merencanakan plotting tanaman apa tanam di mana yang terbaik. Harus belajar bagaimana menanam dengan baik, tanaman yang mana perlu apa, yang mana perlu disiram banyak air, yang mana tidak perlu disiram, dsb. Harus mengusir hamanya, dsb. Peranmu sangat banyak. Tetapi, ketika suatu hari buah dari tanaman itu keluar, bisakah Saudara mengatakan buah itu hasil ciptaanmu, hasil jasamu? Tidak bisa. Yang mengatakan bisa, berarti belum pernah bekerja di taman. Semakin seseorang bekerja dengan tanaman, semakin dia sadar seberapa kecil perannya dibandingkan peran matahari yang dia tidak ciptakan, dibandingkan peran proses fotosintesa yang dia juga tidak ciptakan, dibandingkan peran segala bakteri dan reaksi kimiawi yang ada dalam tanah, dibandingkan peran hujan dan kering, dibandingkan peran cuaca dan musim serta siklus siang dan malam.
Sama juga para seniman yang agung, ketika mereka menghasilkan magnum opus mereka yang oleh karenanya mereka diingat, tidak jarang Saudara menemukan mereka mengatakan, “Apa yang keluar dari tanganku ini melampaui diriku, ini bukan hasil karyaku.” Lucu, ya. Momen di mana karya paling agung itu keluar dari tangan mereka, menjadi momen mereka mengatakan ‘ini bukan hasil karyaku; benar keluar dari tanganku, tapi bukan hasil karyaku’. Ini tidak menyalahi anugerah Tuhan sama sekali. Anugerah tidak pernah mengingkari ketaatan dan kerja keras. Dan, yang amazing, Allah kita bahkan menyertai kita dalam hal ini juga, Ia turun ke dunia, Ia mulia dalam hidup-Nya di dunia ini karena Ia taat. Sadarkan akan hal itu, Saudara?
Omong-omong, salah satu penyebab kita hari ini enek dengan ketaatan adalah karena kita naif. Kita pikir ketaatan kepada Tuhan adalah sesuatu yang sulit, yang menguras kita, yang membuat kita harus bayar lebih mahal daripada harga normalnya. Itu karena kita naif. Mazmur 119:37 mengatakan, “Lalukanlah mataku dari melihat hal-hal yang hampa” (hal yang hampa adalah kode Alkitab mengenai berhala). Yang menarik, pemazmur bukan mengatakan, “Tuhan, mataku tertutup; biarlah aku dibukakan matanya, melihat Engkau”, melainkan bahwa mataku sedang melihat hal-hal yang hampa, maka lalukanlah mataku dari mereka. Asumsi si pemazmur (yang bikin Mazmur 119, mazmur yang paling panjang itu), dia sedang memandang kepada para berhala, dan dia minta Tuhan mengalihkannya. Ini menggemakan perintah pertama ‘kan. Perintah pertama bukan ‘hanya ada satu Allah, tidak ada allah lain selain Allah Yahweh’, melainkan ‘jangan ada allah lain di hadapanmu’. Kenapa seperti itu? Karena asumsi Alkitab adalah: engkau bukan sedang dalam gigi netral lalu harus menggeser hidupmu ke arah Allah yang benar, melainkan bahwa engkau sedang memandang pada hal-hal yang hampa itu, engkau sedang menyembah yang bukan Allah itu, maka engkau perlu dilalukan matanya dari hal-hal tersebut. Tidak ada posisi netral di sini. Jadi satu hal, kalau engkau tidak sedang berada dalam ketaatan kepada Allah, engkau sedang berada dalam ketaatan kepada sesuatu yang bukan Allah. Sadarkah Saudara?
Euripides, penulis Yunani kuno, pun tahu akan hal ini; dia mengatakan tidak ada orang yang benar-benar bebas. Pada zaman Euripides ada orang budak dan ada orang bebas, namun dia mengatakan, “Tidak ada orang yang benar-benar bebas. Kalau engkau hidup demi harta, hai orang-orang bebas, engkau budaknya harta. Kalau engkau hidup bagi moralitas, engkau budaknya moralitas. Kalau engkau people pleaser, engkau adalah hamba bagi orang-orang tersebut. Jangan naif! Semua orang hidup bagi sesuatu. Semua orang punya something yang adalah hal utama dalam hidup mereka, yang memberikan mereka sukacita, yang memberikan mereka makna, yang memberikan mereka identitas. Apa pun itu, engkau adalah budak bagi hal tersebut.”
“Tidak, Pak, saya tidak seperti itu. Saya rasa hidup saya kosong, maka saya mau bunuh diri.” Bohong, Saudara! Justru engkau mungkin punya standar yang terlalu tinggi yang engkau tidak bisa capai, makanya engkau rasa hidupmu tidak ada makna, makanya engkau ingin bunuh diri. Standarmu salah. Engkau tetap punya sesuatu yang engkau ingin jadikan makna hidupmu. Itu yang mendorongmu bergerak. Kalau hal itu terancam, engkau langsung kaku dengan ketakutan. Engkau budak bagi hal tersebut.
Kalau ketaatan kepada Kristus kita lihat sebagai hal yang kita tidak nafsu melihatnya, itu mungkin karena kita pikir hari ini kita tidak sedang taat kepada siapa-siapa. Tetapi itu palsu, itu bohong. Saya pernah mendengar cerita tentang seorang istri yang memilih tetap stay dengan suaminya yang memukuli dia terus. Kita bingung kenapa masih mau terus sama suami kayak begitu, meskipun dipukuli terus?? Jawabannya begitu mengerikan. Wanita ini mengatakan, “Karena kalau habis memukuli saya, besoknya dia akan jadi suami yang begitu manis. Dia bawakan saya bunga. Dia peluk saya erat-erat sambil menangis minta maaf, dan dia mengatakan betapa ia membutuhkan saya.” Lalu ini kalimat kuncinya, wanita itu mengatakan begini: “Kamu semua bisa menghakimiku, tetapi kalau kalian pernah merasakan rasanya kesepian, maka ketika ada orang datang membutuhkanmu, engkau tidak akan pernah melepaskannya.” Wanita ini bukan tidak bisa menolak, dia bukan tidak sadar relasi ini relasi yang abusif, tetapi dia tidak sanggup menolak. Mendengar kisah ini kita merasa ancur banget nih, relasi abusif yang kacau banget, ternyata bukan cuma si suami yang tukang pukul itu yang kacau tetapi si istri yang dipukuli juga kacau sekali. Ya, Saudara. Kenapa ini kacau? Karena wanita ini punya seseorang yang begitu violent yang jadi center hidupnya. Apa center hidupmu?
Apa center hidupmu, Saudara –karena semua orang punya hal ini. Apakah center hidupmu adalah kariermu? Ya, tentu kalau center hidupmu adalah kariermu, ini akan menghasilkan hidup yang kelihatannya jelas lebih baik dibandingkan hidup wanita tadi. Namun engkau harus sadar, engkau sama taatnya terhadap kariermu sama seperti wanita tadi taat kepada suaminya. Kariermu juga tidak akan pernah puas dengan apa yang engkau bisa berikan kepadanya. Kariermu kerjanya juga hanya akan mengambil, dan mengambil, dan mengambil. Kariermu juga yang akan memerintah engkau pergi ke sana kemari. Suatu hari ketika engkau harus berbohong, suatu hari ketika engkau harus menipu sedikit-sedikit, suatu hari ketika engkau melakukan sesuatu dalam kariermu yang engkau tahu merugikan orang lain, engkau akan mengatakan, “Bukan aku tidak tahu itu salah, tetapi kalau kamu pernah merasakan rasanya di-PHK, hidup tanpa karier, tanpa status, tanpa posisi, maka begitu karier apa pun datang, engkau tidak akan melepaskannya.” Itu yang akan engkau katakan. Engkau bukan tidak sadar, engkau tidak sanggup.
Jika tuan atas hidupmu bukanlah Tuan yang bisa mengampuni, engkau sedang berada di bawah kuasa tuan yang tanpa ampun. Pertanyaannya, sadarkah engkau akan hal ini? Namun tentu saja bukan cuma ini alasan untuk taat kepada Tuhan. Bukan cuma karena tidak ada satu pun dari kita yang sebenarnya bebas, kita taat kepada sesuatu/seseorang, dan tuan-tuan ini bukan tuan yang baik. Ini memang alasan yang pertama, namun bukan satu-satunya alasan.
Alasan yang kedua, alasan yang lebih positif kenapa kita perlu taat kepda Tuhan, adalah karena sesungguhnya dalam ketatan kepada Tuhanlah kita sungguh bebas. Tuhan Yesus mengatakan hal ini: “Firman-Ku itu kebenaran; kebenaran akan memerdekakanmu.” Kebenaran akan memerdekakanmu. Kebenaran berarti ada yang benar dan ada yang salah; ada batasan. Saudara terikat pada kebenaran, tidak bisa sembarangan. Tetapi keterikatan Saudara pada kebenaran, itu malah membebaskan. Jadi, kalau Saudara tidak taat kepada Tuhan, Saudara bukan bebas (itu hal pertama tadi); tetapi waktu Saudara taat kepada Tuhan, Saudara justru bebas. Koq bisa? Bagaimana ketaatan kepada Tuhan bisa membebaskan?
Kita lanjutkan yang tadi; kita sadar bahwa kita baru benar-benar bebas ketika kita menjadi pelayan Tuhan, kita bebas karena kita taat kepada Tuhan. Dulu saya budak rasa takut, karena saya merasa ada hal-hal yang saya harus punya, sehingga kalau ada sesuatu/seseorang yang menghalangi saya memiliki hal tersebut, saya tidak bisa membendung kemarahan dan kecemasan saya. Dulu saya budak perasaan bersalah, karena saya naik setinggi apapun, ujungnya tidak pernah cukup. Semakin dapat pengakuan, semakin takut pengakuan hilang. Semakin cantik, semakin sensitif lihat bintil yang kecil, kerutan yang halus. Tetapi, begitu Tuhan jadi Tuan atas hidupku, hal-hal ini tidak lagi jadi bos hidupku. Begitu aku melayani perintah Tuhan, maka hal-hal tadi tidak lagi bisa memerintah kita. Hal-hal yang tadinya aku merasa harus punya, sekarang aku bisa merasa oke kalau ada, kalau tidak ada juga tidak apa-apa. Saudara lihat, justru sekarang ada pilihan, ada alternatif, ada kebebasan. Dulu tidak ada. Dulu begitu karier terancam, aku mau tidak mau harus melakukan ini dan itu, tidak bisa tidak. Masuk akal ‘kan, bahwa ketika kita taat kepada Tuhan, justru kita bebas.
Ini bahkan bukan sesuatu yang cuma berlaku dalam dunia rohani, ini sesuatu yang juga berlaku dalam dunia, hanya saja kita sering kali lupa. Saudara mau bebas berlayar, maka Saudara perlu aturan, kompas, dan peta; tanpa ikut kebenaran peta dan kompas, Saudara akan karam di batu karang atau tersesat. Burung rajawali terbang, pesawat terbang, itu kita lihat sebagai gambaran kebebasan. Kita mimpi bisa terbang, karena buat kita itu bebas, tetapi cuma terbang dalam mimpi yang bebas sedangkan terbang di dunia nyata bukan berarti lepas dari aturan. Terbang di dunia nyata terjadi ketika si elang atau si pesawat ikut aturan main Hukum Aerodinamika.
Seorang anak datang kepada mamanya, “Mama, temanku punya anak anjing. Mereka bisa main-main bebas di atas karpet. Aku kepingin dong. Teman yang lain punya anak kucing, mereka juga bisa main-main begitu bebas di karpet, play fight, lucu banget. Mama, aku boleh ‘gak dapat binatang peliharaan buat mainan seperti itu?” Mamanya tahu anak ini alergi bulu anjing dan bulu kucing, jadi dia belikan ikan di akuarium. Anaknya mau. Tetapi hari berikutnya, anak ini datang ke mamanya dengan menangis, membawa ikan yang sudah mati di tangannya. “Mama, mereka mati… .” “Kenapa bisa mati, apa yang terjadi?” tanya mamanya. “Tadi mereka main begitu bebas di atas karpet, tetapi setelah itu mereka menggelepar-gelepar kejang dan akhirnya seperti ini.”
Saudara pikir, waktu di dalam akuarium ikan-ikan itu ngapain? “Hai Anak! Itu karpet menarik, ya. Bebaskan aku dong dari akuarium ini. Air ini mencekikku, Nak. Tolong!” seperti itu? Tentu tidak ‘kan. Saudara tahu aturan main airlah yang membuat ikan-ikan ini bisa bebas berenang, karena naturnya memang itu. Keberadaan pembatasan/aturan, itu tidak tentu mengekang, tidak tentu mengurung. Ada pembatasan yang mengurung dan mematikan, misalnya penyakit kanker. Relasi yang abusif juga pembatasan yang mengurung dan membunuh. Tetapi tidak semua pembatasan demikian, secara umum malah sebaliknya. Saudara perlu pembatasan-pembatasan dan aturan-aturan yang tepat untuk bisa bebas, untuk bisa punya pilihan/opsi.
Karena Tuhan adalah desainer tubuh dan jiwa kita, seluruh keberadaan kita, Dialah yang paling tahu pembatasan apa yang paling tepat untuk justru membuat kita beas, yaitu ketaatan kepada kehendak-Nya, hukum-hukum-Nya, aturan main-Nya. Misalnya salah satu hukum Tuhan, aturan main Tuhan, righteousness yang Tuhan desain bagi relasi umat manusia adalah: relasi kasih. Relasi kasih di satu sisi seperti mengikat, membuat batasan. Dulu waktu masih sendiri, bebas kemana-mana, bebas pakai uang. Semakin dalam menjalani relasi kasih dengan orang lain, Saudara semakin terikat, kalau pulang malam akan dicariin, beli barang akan dikomentari, “Lu mau nambah sepeda lagi??” Itu sebabnya ada beberapa orang yang setelah putus merasa lega banget, karena merasa bebas. Namun lucunya, coba kapan dalam hidupmu engkau menemukan momen yang engkau rasa paling bebas, dalam arti engkau benar-benar merasa menjadi dirimu apa adanya, menemukan tempatmu sejatinya, merasa dirimu sedang mengangkasa? Kapan? Lucunya, ini bukan momen ketika engkau benar-benar mengangkasa, melainkan momen engkau sedang berada dalam dekapan seseorang yang engkau kasihi dan mengasihimu, ketika engkau dipeluk dan memeluk. Kalau tidak percaya, tanyalah orang-orang yang menjomblo, mereka tahu kebebasan mereka bukanlah kebebasan tapi kehampaan. (Disclaimer: jomblo berbeda dengan single; kalau Saudara single dalam arti diberi karunia oleh Tuhan untuk selibat, itu tidak akan terasa hampa). Inilah relasi kasih. Dalam skema kasih, kita baru merasa bebas justru ketika kita melayani seseorang, karena itulah sesungguhnya kasih.
Sama seperti Wesley tadi katakan, kasih selalu datang bersama-sama dengan ketaatan. Kalau Saudara pernah mengalami relasi kasih yang dalam, Saudara tahu koq apa yang saya bicarakan ini. Kalau Saudara belum pernah, minta maaf saya tidak cukup cakap untuk membukakannya bagimu. Intinya begini: ketika engkau mengasihi seseorang, engkau akan menemukan dirimu melakukan hal-hal yang tadinya engkau tidak akan pernah lakukan, yang mungkin engkau tidak suka lakukan, yang mungkin tidak membawa rasa nikmat apa pun buatmu, tetapi sekarang engkau melakukannya simply karena inilah hal-hal yang mencerminkan pribadi orang yang kaukasihi dan mengasihimu. Misalnya apa? Ada orang-orang yang –dalam relasi kasih– rela menonton pertandingan bola, meskipun mereka tidak bisa bedain mana yang gol dan mana yang gol bunuh diri. Ada orang-orang yang –dalam relasi kasih– rela menonton film romantic comedy meskipun bosan setengah mati, baru dua menit sudah ingin tidur. Ini apa, kalau bukan suatu bentuk ketaatan dalam kasih??
Saudara mau tanya, apa bentuk ketaatan kita kepada Tuhan? Tidak perlu jauh-jauh pergi KKR ke Sumba untuk itu (meskipun itu sesuatu yang Saudara perlu pikirkan baik-baik), kita ambil saja yang lebih ordinary, panggilan ketaatan kita kepada Tuhan secara umum adalah untuk bertahan dalam situasi ordinary yang tidak ideal, yang Tuhan memang tetapkan hari ini bagi kita. Jangan salah tangkap saya, sometimes memang ada waktunya untuk orang Kristen mendobrak, berubah haluan, melakukan hal-hal yang baru, tetapi kalau kita mau jujur, momen-momen seperti itu sebenarnya jarang. Ketaatan itu identik dengan ketekunan; dan ketekunan lebih umum terjadi dalam bertahan di tengah-tengah sesuatu yang kita rasa tidak ideal.
Contohnya seorang ibu rumah tangga, tugasnya sehari-hari adalah antar anak les, jemput anak les, ajar anak berdoa secara mendasar, bawa mereka ke gereja, bawa mereka ke sekolah, memberi mereka makan, menidurkan mereka, melerai mereka waktu berantem. Lalu ibu seperti ini mengatakan, “Saya tahu ini seperti tidak banyak dibandingkan orang-orang lain yang bisa kerja setinggi langit, bawa pulang uang segudang, tetapi sepertinya inilah yang Tuhan mau saya kerjakan. Saya bertahan di situ.” Why not, Saudara?
Contoh lain, seorang muda yang bekerja di dunia yang dipenuhi tusuk-menusuk dari depan belakang kiri kanan, dunia di mana kebohongan dan tipu-tipu berkeliaran, susah untuk bisa hidup berintegritas dalam dunia seperti itu, dunia di mana kejujuran tidak memajukan karier. Namun si pemuda ini mengatakan, “Itu sebabnya saya datang ke gereja tiap Minggu, karena di gereja saya butuh diingatkan bahwa kehidupan yang sejati datang bukan dengan dusta. Jadi meskipun di kantor kejujuran tidak membuat saya maju dalam karier, saya bertahan, bertekun dalam hal itu.” Itulah ketaatan, Saudara.
Yang terakhir, apa kekuatan untuk taat seperti ini? Ibr. 12:1-2 mengatakan: Karena kita mempunyai banyak saksi, bagaikan awan yang mengelilingi kita, marilah kita menanggalkan semua beban dan dosa yang begitu merintangi kita, dan berlomba dengan tekun (taat) dalam perlombaan yang diwajibkan (taat) bagi kita. Marilah kita melakukannya dengan mata yang tertuju kepada Yesus (ini kuncinya), yang memimpin kita dalam iman (1), dan yang membawa iman kita itu kepada kesempurnaan (2), yang dengan mengabaikan kehinaan tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah.
Penulis Ibrani melukiskan perjuangan Kristen (ketaatan Kristen) seperti sebuah lomba. Anggaplah lomba lari maraton. Kekuatan kita untuk melakukan ini –kata penulis Ibrani—untuk bertekun dalam lomba/perjuangan yang susah itu, adalah dengan menujukan mata kita kepada Yesus, yang pertama-tama memimpin kita dalam lomba ini. Dialah yang terlebih dulu menjalankan perjuangan ini. Dia tidak ongkang-ongkang kaki di atas lalu suruh kita yang mampus-mampusan. Dia datang ke dunia, menghidupi hidup yang taat penuh. Dia sudah duluan, dan sekarang Dia beralih kepada kita, mengatakan, “Ikut Aku.”
Namun ini bukan kuncinya. Kalau Saudara mau ikut Tuhan simply karena Ia memanggilmu, memimpinmu dalam lomba ini, maka cepat atau lambat engkau akan tahu engkau tidak sanggup mengikuti pace/speed-nya Tuhan. Hal ini benar juga dalam hal lari atau gowes. Salah satu hal yang bikin kita discourage waktu kita lari maraton atau gowes bareng orang lain, adalah ketika kita menemukan diri kita sudah setengah mati lari/gowes tapi oh kenapa orang di depan itu makin lama makin jauh?? Saya sudah drop pace beberapa kali tapi dia kayak tidak perlu istirahat, jalan terus, mungkin dia memang hebat. Setelah itu ada orang lain yang pace-nya kayak sama, lumayan sama, eh tahu-tahu dia makin lama makin jauh di depan. Satu orang kayak begini, dua orang, tiga, empat, lima orang, sepuluh orang, rasanya gua ini goblok banget ya, tidak ada talentalah. Discouraging. Gowes bareng pun sama, bahkan lebih lagi, karena kalau Saudara gowes di belakang orang, sudah pasti lebih ringan karena anginnya sudah dihajar oleh orang yang di depan. Tetapi kalau sudah di belakang orang dan tetap saja makin lama makin jauh, lalu bye-bye ketinggalan, itu namanya drop. Itu salah satu hal paling menakutkan yang terjadi ketika kita gowes atau lari bareng orang.
Saudara, kalau engkau ikut perjuangan Kristiani ini hanya karena Tuhan Yesus memimpinmu dalam perlombaan ini, itu tidak akan jadi hal yang encouraging, itu hanya akan membuat Saudara menyadari seberapa kita tidak sanggup ikut pace-nya Tuhan Yesus. Inilah sebabnya dikatakan, Tuhan Yesus bukan cuma memimpin kita dalam iman, tetapi Dialah juga yang membawa iman tersebut ke dalam kesempurnaan. Yesus bukan cuma memulai iman ini. Yesuslah yang menjadi kekuatan bagi kita, untuk kita menyelesaikan lomba ini. Yesus bukan cuma menjadi contoh bagimu yang lari supaya engkau bisa lari bersama-Nya, Ia juga lari bagimu, Ia taat untukmu. Dari mana kita melihat ini?
Ketika Yohanes tadi protes, “Koq, Engkau yang perlu dibaptis?? Aku yang perlu dibaptis oleh-Mu’” Yesus menjawab, “Untuk memenuhi seluruh tuntutan kehendak Allah” –untuk menaati righteousness yang Allah tuntutkan. Jadi tindakan Yesus masuk ke Sungai Yordan untuk dibaptis, adalah tindakan yang memenuhi righteousness ini. Dan, dalam kitab Matius Yesus sendiri mengatakan kepada murid-murid-Nya, bahwa orang-orang dalam Kerajaan Allah, righteousness-nya melampaui righteousness orang-orang Farisi dan Saduki. Lalu seperti apa contoh righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan Saduki ini?
Di dalam cerita Injil, kita jarang menyoroti Yusuf, ayah angkat Yesus. Tetapi di dalam pasal-pasal pertama Matius, kita melihat Yusuf dihadirkan sebagai contoh pertama ideal murid Yesus yang menjalankan righteousness seperti Yesus. Tahukah kenapa? Yusuf diceritakan berniat menceraikan Maria waktu dia tahu Maria mengandung. Dalam hukum orang Yahudi pada waktu itu, adalah right untuk menceraikan Maria, itu hak dia. Bahkan mungkin orang-orang Farisi dan Saduki akan mengatakan bahwa dia harus menceraikan wanita seperti ini. Itu tindakan yang righteous supaya orang tahu apa yang benar. Tetapi ketika malaikat datang kepada Yusuf, Yusuf tidak jadi melakukannya, Yusuf taat. Sama seperti Yohanes Pembaptis juga taat. Namun paralelnya lebih daripada itu, karena bagi Yusuf adalah righteous untuk menceraikan Maria namun dia melampaui righteousness ini; dia bukan saja tidak menceraikan Maria, dia merangkul Maria, dia mengambil Maria masuk ke dalam perlindungannya sebagai seorang istri. Itulah contoh pertama yang diperlihatkan dalam kitab Matius sebagai contoh ideal righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan Saduki. Righteousness yang bukan cuma soal benar menurut hukum, tetapi berlaku benar bagi orang ini.
Kita melihat Yesus juga sama. Kenapa Yesus harus dibaptis? Jelas bukan karena Dia berdosa, melainkan sebagai bentuk identifikasi-Nya dengan umat yang berdosa. Kalau orang-orang Farisi dan Sadukiditanya, apa yang Allah righteous lakukan bagi Israel? Harusnya adalah Yesus righteous untuk menceraikan Israel, karena Israel kerjanya tegar tengkuk, memberontak terus, sudah dibuang pun tidak beres. Tetapi Dia tidak melakukan itu. Yesus malah merangkul Israel dalam Baptisan ini, menyatukan diri-Nya dengan Israel, menaruh diri-Nya di tempat Israel, mengambil Israel masuk ke dalam perlindungan-Nya, union with Christ. Itu tindakan yang konkretnya adalah dengan Yesus masuk ke Sungai Yordan untuk dibaptis oleh Yohanes. Saudara lihat hal ini?
Yesus bukan cuma memimpinmu dalam ketaatan, Yesus telah taat bagimu. Ketaatan-Nya itu dilakukan untukmu. Ini kekuatannya untuk kita bisa taat kepada Dia, karena hanya satu Tuan ini, satu-satunya Tuan yang pernah taat. Di mana engkau pernah menemukan Tuan seperti ini selain dari Yesus Kristus? Itulah yang kepada kita diberitakan Minggu demi Minggu. Itulah yang kita ingat dan rayakan dalam Perjamuan Kudus.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading