Kita tinggal dua minggu untuk Epifania sebelum masuk ke musim Lent. Musim Epifania adalah musim setelah kita menantikan dalam Adven dan merayakan dalam Natal, lalu sekarang kita ingin mengenal Anak Allah yang kita nantikan dan rayakan itu, apa kemuliaan-Nya, brand name-Nya, identitas dan keunikan-Nya. Dalam tahun Matius ini kita mulai dengan Baptisan-Nya, bahwa kemuliaan Anak Allah pertama-tema ditemukan bukan dari kuasa-Nya atau seberapa Ia terkenal, melainkan dari ketaatan-Nya –terbalik sekali dengan kemuliaan dunia. Kita melanjutkan dengan kisah Yesus memanggil murid-murid-Nya, satu hal yang malah memalukan menurut ukuran dunia karena ini Seorang Rabi yang harus cari-cari murid, bukan dicari oleh murid. Namun di situlah kemuliaan-Nya sebagai Allah yang berinisiatif, memanggil, mencari, bukan menunggu; dan juga kemuliaan-Nya sebagai Raja, tidak cuma rabi.
Teks Epifania minggu lalu dan minggu ini fokus pada satu bagian terkenal dalam Injil Matius yang biasa kita sebut Khotbah di Bukit (pasal 5-7). Kita akan fokus pada bagian pengajaran ini; kita sekali lagi mau bertanya kemuliaan apa yang kita lihat dari pengajaran tersebut. Omong-omong, setelah masa Pentakosta dan masuk ke Ordinary Time nanti, kita akan kembali ke bagian ini dan sebisa mungkin membahas keseluruhan pasal 5-7. Minggu ini kita membahas setidaknya bagian introduksinya, dan kita hanya akan bahas bagian pertama dari Khotbah di Bukit yang sedikit banyak paling terkenal, yaitu yang disebut Sembilan Ucapan Bahagia dalam Injil Matius.
Outline khotbah hari ini dibagi dua. Pertama, konteks dari Ucapan Bahagia ini yang merupakan bingkai; kedua, konten dari Ucapan Bahagia tersebut yang merupakan isinya. Jadi ada konteks dan konten, bingkai dan isinya.
Saya tidak tahu apa waktu membaca Ucapan Bahagia ini apa impresi Saudara. Biasanya ada dua jenis impresi yang bertolak belakang. Jenis pertama yaitu orang-orang Kristen yang ketika mendengar Ucapan Bahagia ini mengangguk-angguk. Ucapan Bahagia ini kalimat-kalimat yang terkenal, indah, sudah sangat familier, bahkan bisa dibilang sudah terlalu sering digunakan sehingga kehilangan impact-nya, kita sudah tidak merasakan ketajaman kata-katanya lagi. Waktu disuruh menjelaskan pun kita bingung, tetapi tidak terlalu ambil pusing juga, intinya kalimat ini bagus-baguslah karena Yesus yang mengatakan, jadi tidak usah pikir terelalu komplekslah, jalani saja, jadilah orang yang murah hati, suci hati, dsb., tidak aneh-aneh.
Tipe kedua adalah orang-orang yang melanjutkan pertanyaan-pertanyaan tadi dengan bertanya apa maksudnya menjadi lemah lembut? Kenapa Yesus mengatakan ‘berbahagialah orang yang hidupnya diisi air mata (berdukacita)’, bukankah itu sesuatu yang kita semua tidak suka?? Lalu kalimat ‘berbahagialah orang yang digebukin (dianiaya)’, bukankah itu sesuatu yang kita harusnya hindari, jadi apakah Yesus suruh kita cari penganiayaan?? Apa pula artinya ‘berbahagia’ itu sendiri? Dalam bahasa Inggris istilahnya ‘blessed’, sedangkan bahasa Indonaseia ‘berbahagialah’, jadi yang mana, diberkati atau berbahagia, siapa yang berbahagia dan siapa yang memberkati? Kenapa Yesus memulai khotbahnya dengan semua ini? Dan seterusnya. Lalu orang-orang tipe ini mungkin pada akhirnya bukan mengangguk-anggukkan kepala tetapi menggeleng-gelengkan kepala, merasa ini standar yang terlalu sulit, impossible, bahkan sulit sekali dimengerti, akhirnya bagian ini disimpan entah di laci mana sementara membahas hal-hal yang lain saja.
Saya tidak tahu Saudara jenis yang mana, kemungkinan besar kita seumur hidup mengalami kedua posisi ini silih berganti, namun hari ini saya berharap bisa lebih ada kejelasan mengenai Ucapan Bahagia ini. Untuk mendapatkan suatu kejelasan, ada caranya, cara yang standar, hanya saja seperti sangat terlupakan dalam zaman kita hari ini, bahwa kalau Saudara mau mengerti sesuatu dengan jelas, Saudara perlu tanya ‘apa konteks’ dari Ucapan Bahagia ini. Ini hal yang sangat standar. Beberapa tahun lalu mungkin Saudara ingat ada kontroversi Ahok mengenai ucapan dia di video tertentu yang bikin banyak orang ngamuk. Itu kenapa? Karena mereka ini tidak peka konteks. Mereka cuma menonton klip misalnya 12 detik tanpa tahu keseluruhan videonya, mereka tidak tahu kalimat itu sedang bicara kepada siapa, di mana, mengenai apa, dst.
Bukan cuma mereka itu, kita hari ini pun terbiasa melihat segala sesuatu tanpa konteks. Kita ini orang-orang generasi sosmed, generasi clickbait. Kemarin saya baru dikirimi seorang penatua videoklip khotbah seorang pendeta GRII yang dianggap kontroversial, dan videoklip tersebut cuma 30 detik. Saudara tentu tahu kalau videoklip cuma 30 detik, maka isinya biasanya kalimat-kalimat bagusnya tok atau kalimat-kalimat kontroversialnya tok. Video tersebut lalu mengomentari bahwa ini pendeta ngaco, brengsek, mau merampok uang jemaat dengan ngomong perpuluhan yang harus dibayar, dsb. Videoklipnya cuma 30 detik, maka kalau Saudara peka, Saudara tahu bahwa waktu orang mengatakan kalimat konklusi 30 detik, di depannya tentu ada pembahasan argumentasinya, yang mungkin 30 menit –dan kita tidak mendapatkan bagian itu. Seandainya kita mendengar keseluruhan pembahasan 30 menit tadi, ada kemungkinan kita akan mengangguk-angguk setuju, “Wah, ini memang susah sih, tetapi benar.” Tetapi di videoklip tadi bagian itu tidak ada, cuma ada si pendeta marah-marah menuduh jemaatnya berdosa karena tidak bayar perpuluhan, lalu melihat itu, kita jadi kecewa, marah, berasumsi ini pendeta ngaco. Di sinilah kita mungkin bisa lebih mengerti perasaan orang-orang yang salah mengerti Ahok tadi.
Saudara, itulah media yang hari ini kita lahap, hampir setiap hari, bahkan setiap jam, yang memang tujuan utamanya bukan memberikan hal yang benar melainkan hal yang bisa menarik perhatian. Kita hidup dalam zaman yang orang sebut dengan istilah attention economy, bahwa yang bisa mengeruk uang membuat roda ekonomi berputar dalam zaman ini adalah hal-hal yang bisa menarik attention orang; salah satu caranya dengan menyajikan hal-hal tanpa konteks. Sebelum sosmed, Saudara lihat yang demikian dalam berita-berita di surat kabar Pos Kota, yang memberikan kalimat jedor-jedor tanpa konteksnya, misalnya Guru Tempeleng Murid SD Sampai Pingsan. Kalimat itu tidak didesain untuk Saudara mikir waktu membacanya, kalimat itu didesain untuk Saudara lihat dan baca dalam waktu yang sangat singkat, waktu Saudara di mobil nungguin lampu merah. Dalam momen seperti itu, tidak ada waktu untuk berpikir, hanya ada waktu untuk bereaksi secara emosional. Itu sebabnya Saudara langsung cepat-cepat turunkan kaca mobil, beli surat kabarnya. Lalu waktu Saudara baca, ternyata cuma gitu doang, memang muridnya sendiri ngaco, mencuri, dsb., maka ditampar. Itu zaman dulu, sedangkan zaman sekarang kita tidak perlu menurunkan kaca mobil, tidak perlu keluar uang, kita cuma klik, tap, atau swab.
Ini berarti dalam zaman attention economy kayak begini, kita perlu lebih sadar bahwa segala sesuatu ada konteksnya. Konteks itu krusial untuk bisa mengerti dengan tepat; dan konteks itu perlu waktu. Demikian sama halnya dengan Ucapan Bahagia.
Ucapan Bahagia boleh dibilang merupakan bagian yang sering diperlakukan seperti pos kota-nya Injil Matius, diceraikan dari konteksnya, dan dibaca/dihadirkan/disajikan seperti kalau Saudara mendapatkan sebuah pamflet, ringkasan, kisi-kisi, intisari dari etika mengikut Yesus. Dan, kalau Saudara menerimanya demikian, inilah resep untuk salah mengerti. Itu sebabnya kita tidak bisa sekadar bertanya apa implikasinya, kita bahkan tidak bisa langsung bertanya apa isinya, kita perlu bertanya lebih dulu apa konteksnya, karena Ucapan Bahagia ini tidak dangkal, ini sebenarnya membingungkan. Lewat penyelidikan konteks, harapannya kita jadi menyadari bahwa ini kalimat-kalimat yang tidak dangkal, ini kalimat yang dalam, namun tidak berarti tidak bisa dimengerti. Bisa dimengerti, namun kita perlu waktu untuk menyelidiki konteksnya lebih dulu.
Apa Konteks dari Ucapan Bahagia?
Penyelidikan suatu konteks, pertanyaannya ada banyak: siapa, apa, kapan, kenapa, bagaimana, dst. Hari ini kita selidiki dua hal saja. Yang pertama: siapa; kepada siapa sih Yesus mengucapkan 9 Ucapan Bahagia ini.
Saudara membaca hal ini di ayat 1 dan 2: Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk, datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka. Jadi siapa yang Dia ajar dan ajak bicara? Orang banyak itu, yang disebut sebagai murid-murid-Nya. Siapa murid-murid-Nya? Kita berasumsi mereka yang kemarin baru Dia panggil di pasal 4. Tetapi di situ baru empat orang yang Dia panggil (Petrus, Andreas, Yakobus, Yohanes), sementara kedua belas murid-Nya baru disebutkan daftar namanya di pasal 10, sementara Ucapan Bahagia ini pasal 5; jadi siapa yang disebut sebagai murid-murid di sini? Ternyata tidak sebegitu gampangnya kita bisa berasumsi mengenai hal ini.
Kembali kita lihat konteksnya di pasal 4. Yesus memulai pelayanan-Nya, memproklamasikan, “Bertobatlah, berbalik arahlah, Kerajaan Surga sudah dekat”, lalu Dia memanggil beberapa nelayan, dan mereka mengikut Dia. Setelah itu diceritakan Yesus berkeliling di seluruh Galilea. Siapa yang berkumpul mengikuti-Nya? Dikatakan di ayat 24, semua yang buruk keadaannya, yang menderita, yang sengsara, yang kerasukan, yang kejang-kejang (sakit ayan), yang lumpuh, lalu Yesus menyembuhkan mereka, maka orang banyak berbondong-bondong mengikuti Dia. Jadi, apa jenis orang yang mengikut Yesus dalam bagian ini, yang setelah itu langsung masuk ke pasal 5 bahwa Dia berkhotbah kepada orang-orang ini? Mereka adalah orang-orang sakit, orang-orang yang tubuhnya tidak berfungsi beres. Mereka orang-orang yang ditindas hidupnya oleh kuasa gelap, orang-orang yang disebut gila, sinting, oleh orang-orang sezamannya. Mereka orang-orang yang tidak bisa mengontrol badan mereka sendiri, kejang-kejang terus, dsb. Dan perlu Saudara tahu, dalam zaman Romawi itu, orang-orang kayak begini boro-boro dapat BPJS, mereka bahkan tidak diperbolehkan tinggal di antara masyarakat umum, diusir ke pelosok-pelosok kumuh. Mereka inilah orang-orang yang Matius tekankan berbondong-bondong mengikut Yesus. Jadi, para nelayan –orang-orang yang jelas di bawah– orang-orang sakit, orang-orang loosers, orang-orang ‘gak penting, orang-orang marjinal, orang-orang sampah masyarakat, inilah yang datang kepada-Nya.
Kembali ke pertanyaan awal tadi, siapa murid-murid Yesus? Apakah artinya seorang murid? Jelas ini bukan mengacu pada 12 murid. Apa itu seorang murid? Yaitu mereka yang mengikut Yesus. Siapa yang mengikut Dia dalam momen ini? Ya, orang-orang yang disebutkan tadi, orang-orang ‘gak penting, orang sakit, orang lumpuh, orang kerasukan.
Lalu apa yang Yesus katakan kepada kumpulan orang-orang yang tidak signifikan ini, orang-orang yang hidup dengan menyeret kaki-kaki dan tangan-tangan mereka yang tidak berfungsi. Orang-orang yang waktu mendengarkan khotbah mungkin kumat kejang-kejangnya, orang-orang yang sehari-harinya terkadang makan dan terkadang tidak. Yesus mengucapkan bagi mereka 9 Ucapan Bahagia ini. Berbahagialah mereka yang miskin, Berbahagialah mereka yang menderita. Di sini Saudara mulai menangkap signifikansi asli dari 9 Ucapan Bahagia ini? Saudara mulai terbayang efeknya, nendangnya itu kayak apa waktu mereka mulai mendengar Yesus mengucapkan ini?
Tentu ini sangat sulit untuk bisa di-recreate karena kita tidak memiliki pengalaman seperti itu. Namun saya mau mencobanya dengan menampilkan beberapa barang seni yang mungkin bisa punya efek sedikit mirip dengan yang mungkin dialami orang-orang itu waktu mendengar kalimat-kalimat Yesus untuk pertama kalinya. Di Inggris, ada dua seniman kontemporer, Tim Nobel dan Sue Webster. Mereka punya banyak karya seni, yang cukup terkenal yaitu yang disebut The Shadow Sculptures, karya seni yang main dalam urusan persepsi. Salah satunya berikut ini:

Coba bayangkan Saudara masuk ke satu ruangan dan cuma lihat tumpukan barang di depan itu. Ini sampah Tim Nobel dan Sue Webster sendiri yang mereka tidak buang selama 6 bulan, dan mereka bikin jadi seperti ini. Waktu melihat tumpukan sampah tersebut, Saudara mungkin pikir ‘Apa ini? Tumpukan sampah koq jadi pagelaran seni?? Siapa yang mau sampah kayak begini? Meaning-nya apa?? Inilah seni-seni modern yang ‘gak jelas apa maksudnya, ‘gak dijelasin, apa indah-indahnya??’ Lalu tiba-tiba lampu mati, ada cahaya memproyeksikan bayangan tumpukan sampah tadi sebagaimana Saudara lihat di tembok itu. Apa reaksimu? Sekali lagi, ini karya seni yang main dalam urusan persepsi, karya seni yang membuatmu menyadari satu hal, ‘wah keren juga, ya’. Sesuatu yang tadinya kita lihat adalah sampah –dan masih tetap sampah, tidak berubah– dalam pengaturan tertentu, dalam sudut dan pencahayaan tertentu, bisa jadi sarana bagi seni, bagi sesuatu yang bermakna, bahkan yang memberitahukan kepada kita keindahan, sarana yang membawa kepada kita suatu momen yang kita tidak sangka sama sekali pada awalnya. Ini suatu surprise reversal.

Gambar berikutnya ini jelas banget ada sampah bekas kantong MacD; perhatikan efek tumpukannya, seperti ada seorang anak yang sedang berbaring di pangkuan ibunya. Dalam sudut ini sampahnya bukan cuma jadi sarana proyeksi tetapi juga bagian dari proyeksinya, karena jadi terlihat mereka seperti tidur di atas sampah, dan membuat Saudara bisa mengingat orang-orang yang memang hidup seperti itu.

Ini juga keren banget, mereka membuat seperti ini dari tumpukan benda-benda yang tidak berguna ini. Namun yang paling mengesankan buat saya adalah yang terakhir ini:

Kalau Saudara lihat dari dekat, barang-barang di depan itu bolong-bolong kayak habis ditembaki, sehingga Saudara mengira ini sampah yang habis ditembaki, bolong di mana-mana. Tetapi waktu Saudara lihat pencahayaannya, ya ampun ternyata bolong-bolong itu malah jadi sumber cahaya lampu-lampu di gedung-gedung hasil proyeksinya di belakang itu. Menarik, ya, jenius, benar-benar surprise reversal. Saya sendiri belum baca hasil interview dengan mereka, apa niat sebenarnya mereka atas semua ini, namun cukup jelas buat kita ini suatu surprise.
Saudara, inilah kira-kira surprise yang terjadi ketika orang pertama kalinya mendengar Yesus mengucapkan Ucapan Bahagia. Dia bicara kepada siapa? Kepada orang-orang sakit, orang-orang buruh kasar, orang-orang yang hidupnya tidak signifikan, orang-orang ‘gak penting. Tidak ada orang yang datang mencari orang-orang ini dan bertanya misalnya, “Menurutmu apa masa depan Yudea? Galilea?” Seperti itulah orang-orang yang berbondong-bondong datang mengikut Yesus, dan kepada merekalah Yesus memproklamasikan Ucapan Bahagia ini. Orang-orang seperti inilah yang dijanjikan Kerajaan Surga. Merekalah yang kepadanya Yesus mengatakan akan mewarisi bumi. Saudara lihat surprise-nya? Jadi inilah konteksnya.
Konteks itu penting. Dengan konteks ini, Saudara akan menyadari seperti apa impact dari kata-kata aslinya, kalau Saudara menyadari bingkainya seperti apa. Dan, menelusuri bingkai membutuhkan waktu, maka salah satu aplikasi yang mungkin bisa Saudara tarik adalah: jangan percaya dengan media-media yang tidak memberikanmu WAKTU untuk berpikir. Itu sebabnya bacalah buku. Mungkin Saudara tidak mau baca buku karena berpikir buku terlalu memerlukan waktu.
Ini akan lebih nendang lagi ketika kita mempertimbangkan pertanyaan konteks yang kedua: apa. Apa arti dari kata ‘berbahagia’, atau dalam bahasa Inggrisnya ‘blessed’? Di sini mungkin Saudara mulai dengan memikirkan soal terjemahan, LAI pakai kata berbahagia, sementara bahasa Inggris pakai kata blessed, ini ‘kan bukan kata yang sama, jadi mana yang benar, dsb. Bagi saya tidak terlalu penting pakai istilah yang mana, secara gramatika mungkin yang lebih tepat justru bahasa Indonesianya, namun yang lebih penting adalah konteks untuk mengerti kata tersebut. Misalnya kata fire dalam bahasa Inggris, kalau di bioskop yang gelap ada orang teriak, “Fire!” artinya ada kebakaran. Kalau di barak militer ada seorang sersan teriak, “Fire!” artinya bukan ada kebakaran, artinya perintah untuk menembakkan senapan. Kalau di kantor Bos mengatakan, “Fired,” artinya ada yang dipecat.Jadi yang penting bukan terutama apa istilah/kata-nya, melainkan konteks penggunaannya di mana.
Yesus, sesungguhnya bukan orang atau rabi pertama yang mengajar dengan gaya sastra ‘ucapan bahagia’, yang mengajar dengan kalimat-kalimat berkat (ucapan bahagia). Dia mengikuti suatu tradisi Yahudi yang sudah berjalan lama dan berakar pada Alkitab itu sendiri. Ingat kalimat pertama Mazmur 1 di Alkitab, “Berbahagialah orang yang …” –Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasehat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Dari sini Saudara menyadari bahwa ucapan bahagia ini tidak muncul secara netral, melainkan sebuah genre/tipe sastra, sebuah jenis baku yang punya fungsi tertentu dalam komunitas orang zaman itu, yaitu untuk mengajarkan kepada pendengar, seperti apa sih model/teladan di dalam Alkitab. Dalam kasus Mazmur 1, orang yang ideal dalam komunitas orang Yahudi yang membaca Alkitab yaitu orang yang tidak ikut jalan orang fasik, yang menyukai hukum-hukum Tuhan, bukan yang sekedar taat, dst., orang seperti ini berbahagia, blessed. Dalam hal ini Saudara jadi mengerti makna/signifikansi di belakang istilah berbahagia atau blessed itu, bahwa seperti inilah orang yang ideal dalam gambaran Yudaisme, orang yang utuh, yang diperkenan oleh Allah.
Yang menarik, tradisi ucapan bahagia tidak berhenti di Alkitab, para pengajar Yahudi mengembangkan genre ucapan bahagia ini dengan versi-versi mereka sendiri. Misalnya Ucapan Bahagia dari Komunitas Qumran. Komunitas Qumran adalah komunitas di daerah laut Mati, mereka yang membuat The Dead Sea Scroll. Mereka menganggap komunitas Yahudi pada zamannya sudah terlalu menyeleweng, maka mereka memisahkan diri, membuat komunitas sendiri di padang gurun Laut Mati.
Qumran Beautitudes Scroll 4Q525 (50 BC)
*[Blessed is he who speaks truth] with a pure heart
and who does not slander with his tongue.
*Blessed are those who cling to his statutes
and who do not cling to her ways of perversity.
*Blessed are those who rejoice because of her
and who do not spread themselves in the ways of folly.
*Blessed is he who seeks her with pure hands
and who does not go after her with a deceitful heart.
Kalau Saudara baca kalimat-kalimatnya, mungkin Saudara pikir ini ada di Alkitab, karena kelihatan senada. Memang ini genre yang dikembangkan terus-menerus, sehingga ada kemiripannya. Tetapi bukan cuma kemiripannya, Saudara bisa menyadari juga bedanya dengan Ucapan Bahagia-nya Tuhan Yesus. Misalnya, di poin 2 dikatakan “Berbahagialah mereka yang berpaut pada peraturan-peraturan Tuhan, tidak berpaut pada jalan-jalan yang menyeleweng”. Hal ini, kalau Saudara mengerti ucapan ini keluar dari komunitas apa, yaitu orang-orang yang keluar dari komunitas Yahudi, maka dapat Saudara bayangkan bahwa yang mereka maksud orang-orang yang berbahagia adalah mereka sendiri. Kami ini orang-orang yang berpegang pada peraturannya Tuhan, kami tidak terus-menerus berpaut pada jalan-jalan yang menyeleweng, yaitu orang-orang Yahudi itu; mereka itu yang tidak berpaut pada Taurat Tuhan, mereka itu maunya terus dalam jalannya yang sudah menyeleweng. Kami tidak seperti itu, kami sudah keluar dari sana. Saudara lihat, jadi ucapan bahagia bukanlah sebuah pamflet etika, ini suatu cara untuk menyatakan kayak begini lho komunitas kami, aturan mainnya kayak begini, ini nilai-nilai yang kami pegang tinggi dan nilai-nilai yang kami pegang rendah.
Selanjutnya satu contoh lagi ucapan bahagia dari seorang pengajar Yahudi yang lain, namanya Yesus juga, atau Yosua/Yesua Ben-Sira. Dia punya kitab yang disusun dari kumpulan tulisan-tulisan bijaksananya, dinamakan kitab Wisdom of Ben-Sira; dan kitab ini masuk dalam kitab Deuterokanonika orang Katolik (Kitab Putera Sirakh). Mari kita bersama-sama melihat isinya, mirip banget dengan Ucapan Bahagia-nya Tuhan Yesus.
Wisdom of Ben-Sira (25:7-10)
7 I can think of nine whom I would call blessed,
and a tenth whom my tongue proclaims:
blessed is the man who delights in his children,
and the one who lives to see the downfall of his enemies;
8 blessed is the one who lives with a sensible wife
and the one who does not plow with ox and ass together;[d]
blessed is the one who does not sin with the tongue
and the one who does not serve an inferior;
9 blessed is the one who finds a friend
and the one who speaks to an attentive audience.
10 How great is the one who finds wisdom,
but without equal is the one who fears the Lord.
Jadi waktu orang-orang mendengar Yesus mengucapkan ucapan-ucapan bahagia, otak mereka bukan kosong, mereka sudah punya segudang contoh versi-versi yang lain. Saudara lihat ini mirip, namun juga beda dengan yang Yesus katakan. Misalnya ayat 9b: “Blessed is the one who finds a friend and the one who speaks to an attentive audience” –berbahagialah orang yang kalau bicara maka pendengarnya mendengarkan dengan yang seksama. Jadi maksudnya berbahagialah orang yang seperti itu, dia orang yang penting, orang lain mau dengar dia ngomong apa, orang seperti ini diberkati di hadapan Allah —berbahagialah orang yang penting. Lalu ayat 8d: “Blessed is the one who doesnot serve an inferior” –berbahagialah mereka yang tidak sampai harus melayani orang-orang yang inferior, orang-orang yang di bawah mereka. Pendeta Jadi pernah cerita kepada saya, salah satu komplainnya George Lucas dalam hidup adalah ini: “Gue ini harus menghadapi bos-bos yang semuanya lebih tolol daripada gue.” Perasaan kita juga kadang-kadang seperti itu ‘kan, maka ‘berbahagialah mereka yang tidak perlu atau tidak punya bos-bos yang lebih tolol daripada mereka’, kira-kira seperti itu kalau pakai bahasa hari ini. Saudara mulai menangkap inilah yang diagung-agungkan orang zaman itu, tetapi kayaknya beda dengan yang Yesus katakan.
Lihat juga ayat 8 awal: “Blessed is the one who lives with a sensible wife” –berbahagialah orang yang istrinya “waras”, meski memang benar, dan juga sebaliknya berbahagialah yang suaminya waras. Namun yang paling parah di ayat 7d: “Blessed is the one who lives to see the downfall of his enemies” –berbahagialah mereka yang bisa hidup sampai melihat kejatuhan musuh-musuhnya. Perhatikan, orang yang diusung sebagai orang yang diberkati Allah di sini adalah orang yang menang, yang sukses dalam karier mereka atau apa pun, yang tidak ada seorang pun bisa bertahan melawan dia, siapa pun yang nekad melawan dia akan kalah dan dipermalukan –dan berbahagialah orang yang demikian.
Ini diucapkan oleh pengajar Yahudi, ada kemiripan dengan Alkitab, namun di sisi lain Saudara bisa mendeteksi napas pengajarannya sudah sangat berat dengan aturan main kerajaan duniawi, sarat dengan nilai-nilai duniawi, yang dihargai adalah status dan posisi, jangan sampai jatuh di bawah orang yang lebih rendah, kiranya kita bisa selalu menang di atas orang lain, dst. Kalau abad 21 ini ada ucapan bahagia, mungkin orang akan mengatakan, “Berbahagialah mereka yang likes dan follower-nya banyak”, dst.
Kembali ke pembahasan kita. Jadi waktu mereka mendengar Ucapan Bahagia-nya Yesus Kristus, pikiran mereka tidak kosong dan netral, mereka sudah dipenuhi versi-versi yang lain di kepalanya. Dan, waktu Yesus mulai mengucapkan, “Berbahagialah mereka yang …,” mereka mungkin sudah menangkap, O, oke, Dia mengajar kita dengan gaya ini, Dia akan mengajar kita mengenai mereka yang ideal hidupnya, mereka yang sehat, mereka yang bijaksana, mereka yang penting sehingga pendapatnya dicari banyak orang, mereka yang kaya, mereka yang sukses. “Gak apa-apa sih Yesus ajarkan kami itu, karena kami juga mau jadi seperti itu. Mereka mungkin memang ingin seperti itu ‘kan, mereka tentu tidak senang dengan situasi mereka saat itu. Sekarang bayangkan betapa syoknya mereka ketika Yesus ternyata melakukan persis kebalikannya. Yesus bukan berusaha mengangkat orang-orang di bawah ini untuk naik ke posisi atas, Yesus malah sedang memutar balik apa yang selama ini di atas dan di bawah.
Yesus bukan mengangkat mereka, Yesus memutar dunia mereka. Yesus sedang mengkalibrasi ulang standar penilaian dunia. Yesus sedang memproklamasikan, “Kalian ini, orang-orang yang sakit, orang-orang yang lumpuh, yang miskin, yang lemah, yang berdukacita, yang tidak penting, yang sadar dunia ini bengkok namun tidak punya apa pun untuk bsia memperbaikinya, kepada kalianlah Kerajaan Surga pertama-tama hadir. Kalianlah yang berbahagia.” Jadi, apa yang kita kira tumpukan sampah –dan mereka sendiri pikir diri mereka adalah tumpukan sampah– surprise, Yesus memberikan sudut penglihatan tertentu dan pencahayaan tertentu, dan ini langsung mengubah total bagaimana kita melihat diri kita, dan identitas kita, dan nilai kita, dan harga kita, dan posisi kita, dan tempat kita, dalam Kerajaan Surga, dalam keluarga Allah. Inilah Ucapan Bahagia. Demikianlah bingkainya, konteksnya; dan dalam konteks seperti inilah baru kita bisa lebih beres membahas mengenai apa yang jadi konten Ucapan Bahagia-nya.
Apa Konten dari Ucapan Bahagia?
Kita hari ini cuma bisa membahas secara cepat Sembilan Ucapan Bahagia, lalu pertengahan tahun 2026 nanti baru akan membahas lebih detail, dan juga bagian Khotbah di Bukit sisanya. Di sini saya ingin memperlihatkan apa implikasi dari yang telah kita bicarakan panjang lebar tadi, bahwa kalau seperti inilah konteks Ucapan Bahagia, berarti mungkin selama ini kita salah kaprah membacanya. Kita membacanya sebagai pamflet etika, semacam standar ideal yang kita harus berusaha capai, bahwa kita harus belajar jadi orang yang seperti ini, kita harus jadi orang yang miskin di hadapan Tuhan, harus jadi orang yang lemah lembut, harus berbelaskasihan, dst. Kita mengubah ucapan bahagia menjadi sebuah formula, rumusan, kiat-kiat untuk memperoleh berkat Tuhan, untuk bisa bahagia di hadapan Tuhan. Dan sadarkah Saudara, ini persis kebalikan dari apa yang Yesus mau katakan. Ini bukan formula, ini deskripsi. Ini bukan rumusan, ini gambaran seperti apakah orang-orang yang kepadanya Yesus pertama-tama datang membawa turun Kerajaan Surga.
Omong-omong, bahaya kalau Saudara menganggap ini formula/rumusan, karena berarti Yesus menyuruhmu untk jadi miskin?? Yesus menyuruhmu mencari-cari penganiayaan dan air mata?? Aneh ‘kan. Kayaknya tidak begitu. Jadi, yang Dia lakukan di sini bukan mengajar kita bagaimana caranya menjadi warga Kerajaan Surga, karena genre ucapan bahagia tidak pernah mengenai hal itu. Ia sedang memperlihatkan suatu surprise, memproklamasikan keterbalikan yang ada dalam Kerajaan Surga. Di dalam Kerajaan Surga, orang-orang yang tidak mendapat penghargaan di kerajaan dunia, orang-orang yang tidak signifikan, tidak meaningful dalam masyarakat hari ini, merekalah yang justru mendapatkan penghargaan, status, posisi paling depan, dalam Kerajaan Surga. Merekalah orang-orang yang paling awal menerima panggillan ke dalam Kerajaan Surga. Saudara menangkap hal ini?
Jadi Ucapan Bahagia bukanlah suatu jurus untuk menerima Kerajaan Surga –‘jadilah seperti ini kalau engkau mau masuk Kerajaan Surga’– ini suatu cara berbahasa, suatu genre sastra, yang tujuannya memperlihatkan siapakah orang-orang yang ada dalam Kerajaan Surga, betapa terbalik dan berbedanya aturan main Kerajaan ini dibandingkan tempat lain, yang posisinya tinggi di sini beda dengan yang posisinya tinggi di sana, status dan kekayaan dan segala macamnya itu apa maknanya dalam Kerajaan Surga. Dengan demikian, bagaimana kita menggunakan Ucapan Bahagia ini? Bukan sebagai formula, melainkan sebagai lensa, bahwa bagi kita, siapa yang kita anggap berbahagia di hadapan Tuhan, siapa yang kita rasa posisinya di atas dan siapa yang dibawah. Itulah maknanya.
Mengutip Khotbah Epifania tahun lalu waktu kita membahas bagian seperti ini dalam Injil Lukas, yaitu empat ucapan bahagia dan empat ucapan kutuk, kita sampai pada kesimpulan yang sama, bahwa Yesus bukan sekadar membawa suatu ajaran yang baru, Dia memproklamasikan suatu kerajaan yang baru. Kita akan melihat hal ini dalam Sembilan Ucapan Bahagia di kitab Matus ini. Kita tidak bahas satu per satu secara detail, kita akan melihat secara cepat, karena semua ini ujungnya seperti sebuah jendela mosaik dengan 9 bagian warna yang berbeda; dan kita akan mencoba mengerti yang satu di bawah cahaya yang lain. Pertanyaan yang sama perlu Saudara keep in mind, yaitu Siapa yang gambarnya nanti akan kita lihat dalam bentukan 9 warna mosaik ini.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga.” Ini Ucapan Bahagia yang pertama, pintu masuknya. Perhatikan, sebelum kita bicara urusan miskin-miskinan, alasanya orang miskin itu berbahagia di hadapan Allah adalah karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga –penekanan pada Kerajaan Surga. Ini Kerajaan yang totally different, bahwa yang punya/diberikan kunci Kerajaan Surga adalah orang-orang yang miskin. Terbalik, ya. Koq bisa kayak begini?
Pertama-tama kita selalu tanya apa maksudnya miskin di hadapan Tuhan? Ini terjemahan, transliterasi yang susah diterjemahkan (bahasa Inggrisnya ‘poor in spirit’, yang juga terjemahan/transliterasi). Tetapi, kalau kita membacanya sebagai formula, kita akan pikir kita harus jadi kayak begitu, berarti kayaknya kita tidak bisa jadi orang seperti itu kalau kita kaya, itu sebabnya dikatakan ‘miskin di hadapan Tuhan’, miskin rohani, menjadi orang yang rendah hati, dst. Namun ingat, Saudara, Yesus bukan sedang bicara kepada kita di sini.
Yesus bukan sedang bicara kepada orang-orang middle class ke atas yang harus miskin secara rohani. Dia sedang bicara kepada orang-orang yang beneran miskin, maka istilah ‘poor in spirit’ bisa kita mengerti sebagai miskin luar dalam. Secara ekonomi mereka miskin, secara spiritual mereka juga miskin; dan ini benar-benar miskin, bukan rendah hati. Mereka itu bukan pemimpin-pemimpin rohani, tidak ada yang minta mereka untuk mengajar. Mereka itu kalau datang ke acara pernikahan atau makan-makan, tidak diminta untuk pimpin doa. Mereka tidak melihat diri mereka tinggi dalam urusan kerohanian, karena tidak ada juga yang melihat mereka seperti itu. Mereka literally miskin. Dan, miskin rohani dan miskin ekonomi itu sebenarnya dua status yang saling berhubungan; sebabnya mereka jadi orang yang tidak tahu Taurat secara mendalam, mungkin tidak rajin datang ke sinagoge juga, sangatlah mungkin ada sangkut pautnya dengan situasi ekonomi mereka yang memang miskin.
Kepada orang-orang ini Yesus mengatakan, bahwa kondisi rendah dan miskin luar dalam seperti ini adalah posisi paling ideal untuk menjadi warga Kerajaan Surga. Itu sebabnya Kerajaan Surga ditawarkan pertama-tama kepada mereka. Kenapa bisa begini? Saya rasa ini karena Yesus mengerti sesuatu mengenai natur manusia yang sering kali kita tidak sadar, bahwa ketika kita berada dalam situas-situasi yang paling sulit, paling desperate, bukankah kita paling terbuka dan siap menerima pertolongan dari luar. Tentu saja ini tidak selalu benar –ada sih orang-orang yang begitu miskin tetapi tetap ngotot tidak mau ditolong—namun secara umum benar bahwa orang yang nothing to loose atau little to loose, lebih terbuka untuk Yesus.
Saudara tinggal bandingkan dengan orang-orang middle class ke atas, orang-orang yang ada banyak uang, yang kariernya sudah maju dan tinggi, yang identitasnya sudah mapan di masyarakat, yang sudah terbiasa jadi orang yang di atas. Bagi orang seperti ini, menerima Yesus bisa berarti berubah haluan yang cukup drastis. Kalau menerima Yesus, mereka sadar harus memikirkan ulang cara mereka menggunakan uang selama ini yang harus berubah. Mereka jadi bertanya-tanya, jangan-jangan karier yang sudah dibangun bertahun-tahun tidak berkenan kepada Tuhan dan harus berubah. Mereka ibarat kapal besar yang sedang melaju kencang, dan mengubah arah tidaklah gampang. Menerima Yesus, bagi mereka berarti ada resiko yang tidak kecil, mereka punya a lot to loose. Mereka selama ini sudah terbiasa memperlakukan orang lain dengan cara tertentu karena mereka memiliki status tertentu, lalu ketika sekarang mereka menerima Tuhan, bisa jadi relasi itu harus didefinisi ulang. Ini tidak gampang. Itu sebabnya golongan seperti ini ada kemungkinan lebih besar untuk mengatakan, “Wah, enggak deh, saya tidak akan ikut Yesus, terlalu banyak yang dipertaruhkan kayaknya.” Atau mereka hanya akan mengikut Yesus sampai batas tertentu. Yang belakangan ini yang lebih banyak di Gereja; istilah Stanley Hauerwas yaitu orang-orang yang mengagumi Yesus tetapi bukan benar-benar pengikut-Nya.
Saudara lihat, Yesus membuka Ucapan Bahagia dengan hal ini, karena inilah memang kunci untuk memiliki Kerajaan surga. Yesus menghadirkan Injil Kerajaan-Nya pertama-tama kepada orang-orang marjinal tadi, yaitu orang-orang sakit, orang-orang tertindas, orang-orang miskin ekonomi maupun rohani, karena merekalah yang actually Yesus tahu lebih mungkin merespons positif terhadap panggilan-Nya. Panggilan untuk apa? Bertobatlah, berbalikarahlah, putar balik. Putar balik itu susah kalau Saudara punya a lot to loose. Dan Saudara tahu dari sejarah Gereja-mula-mula, itulah memang realitasnya. Umat Tuhan, paling tidak sebelum era Constantine, didominasi oleh masyarakat menengah ke bawah, bukan menengah ke atas, misalnya para wanita dan anak-anak, bukan para pria. Tetapi ingat, ini lensa. Saudara tidak bisa memilih untuk jadi orang seperti ini. Ini simply sebuah cara pandang, value system, yang ada dalam Kerajaan Surga. Ini terbalik. Kerajaan Surga itu lain.
Tiga ucapan bahagia berikutnya kita lihat berbarengan: “Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur. Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi. Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.” Namun kita akan melihat yang ketiga lebih dulu karena bagian itu akan membuka lebih jelas dua yang sebelumnya, yaitu: kebenaran. Kebenaran di sini bukan truth melainkan righteousness. Righteousness bukanlah sesuatu yang orang miliki sendiri, benar sendiri, melainkan sesuatu yang dia berikan kepada orang lain; seseorang itu benar dalam arti relasinya terhadap orang lain. Ini sebabnya Allah pun disebut righteous. Kalau itu cuma berarti Allah benar pada diri-Nya sendiri, jadi tidak masuk akal karena Allah sudah pasti benar. Yang dimaksud Allah itu righteous, berarti Allah berlaku benar terhadap pihak lain; Allah berjanji kepada manusia, Allah menepati janji-Nya. Jadi ini masalah relasional.
Dikatakan di situ ‘lapar dan haus akan righteousness’. Ini bukan lensa kita pada umumnya. Orang yang lapar dan haus, berarti tidak punya dan tidak menemukan. Kita tidak akan memilih jadi orang yang lapar dan haus; waktu berpuasa pun, tujuannya bukan kelaparan, tujuannya lain.Jadi, orang yang lapar dan haus akan righteousness, berarti orang-orang dalam dunia ini yang tidak melihat adanya relasi yang beres dalam hidup ini. Mereka tidak menemukan itu dalam keluarganya. Mereka tidak menemukan itu dalam masyarakatnya. Mereka tidak menemukan itu di mana-mana, sehingga mereka punya hasrat yang kuat, merindukan, kelaparan dan kehausan oleh karena itu. Mereka merasakan sendiri seperti apa dampaknya ketika dunia dipenuhi oleh relasi-relasi yang tidak beres. Mereka melihatnya setiap hari, mulai dari pertemanan, keluarga, komunitas, masyarakat, negara –semuanya relasi yang rusak–dan akibatnya mereka rasakan. Dan tentu Saudara tahu, menjadi orang seperti ini bukanlah gambaran dunia mengenai menjadi orang yang ideal.
Dunia tahu dunia rusak, bukan tidak tahu, maka ignorance is bliss. Kita dalam dunia ini sudah belajar untuk memfilter, menyaring. Kalau kantor kita terlalu toksik, dan kita tidak bisa keluar dari situ, maka kita belajar untuk menyaring. Begitu saja ‘kan. Kalau keluarga kita terlalu disfunctional dan kita tidak bisa ngapa-ngapain, ya sudah, kita saring saja. Tetapi orang dalam Ucapan Bahagia ini, menolak melakukan penyaringan, dia merasakan rasa lapar itu, dan dia malah dikatakan sebagai orang yang berbahagia dalam Kerajaan Surga. Kenapa? Hidup jadi orang kayak begini, bahagia di mana?? Sekali lagi, Saudara lihat ini lensa yang terbalik, orang seperti ini berbahagia, blessed, karena orang ini ada kempiripan dengan Allah, yang sadar dunia ini adalah dunia yang tidak beres, maka Allah melakukan sesuatu melalui Yesus Kristus untuk membereskan, dan suatu hari orang yang lapar seperti ini akan dipuaskan. Mereka yang tidak memilih untuk lapar, yang memilih cuek dan menyaring, mereka tidak akan punya kepuasan itu pada harinya.
Ini membuat kita mengerti yang berikutnya, sebabnya dikatakan ‘berbahagialah orang yang berdukacita’.Saudara mungkin mengatakan, “Pak, saya ini kayak orang yang tadi itu lho, saya bisa melihat dunia ini rusak di mana-mana. Itu sebabnya kita sering kali complaid betapa dunia ini rusak atas bawah kiri kanan. Itu yang kita lakukan setiap hari, Pak. Kita ini orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran.” Oke, fine, meski ngaco. Saudara lihat, di sini yang dipanggil bukanlah sekadar komplain, tetapi merespons dunia yang relasi-relasinya rusak dengan berdukacita; dan ini sering kali yang tidak ada dalam hidup kita. Kita komplain sih komplain tapi lalu menyaring, kita filter, atau kita pencet mute. Kita sering kali menolak untuk berdukacita oleh karena kerusakan dunia ini, karena siapa yang tahan?? Siapa yang mau hidup kayak begitu, itu tidak berbahagialah ya. Di sinilah Ucapan Bahagia menjungkirbalikkan. Kita bisa terjemahkan bagian ini ke dalam budaya kita hari ini, kita bisa mengatakan, “Berbahagialah mereka yang melihat kerusakan relasi-relasi dalam dunia ini, dan tidak kemudian membius diri dengan TV series, dengan drakor, dengan scrolling, dengan distraksi-distraksi lainnya sehigga tidak perlumenghadapi realitas; berbahagialah orang yang seperti ini. Berbahagialah orang yang menolak memalingkan wajahnya dari penderitaan.”
Lanjut lagi, ini membukakan kepada kita lebih jelas apa maksudnya menjadi orang yang lemah lembut (meek). Di sini lemah lembut bukan terjemahan yang tepat, lebih tepatnya lemah. Ini orang-orang yang sadar dunia ini rusak, yang membuka hati mereka untuk berduka karenanya; dan karena mereka lemah, bukan orang yang penting, mereka tidak bisa ngapa-ngapain. Mereka tidak ada kuasa, tidak berdaya di hadapan dunia yang rusak ini. Tetapi berbahagialah orang-orang yang seperti ini. Haahhh?? Berbahagialah orang-orang seperti ini, karena dalam situasi demikianlah orang lebih terbuka untuk menyadari jalan keluarnya bukan dari kuasa manusia, bukan dari yang manusia anggap masuk akal. Mereka lebih siap untuk menerima bahwa harapan akan kehidupan bisa jadi malah datang dari kematian, bahwa kemuliaan bisa datang dari kehinaan, kuasa bisa datang dari kelemahan. Orang-orang yang tidak ada kuasa, baru ada kemungkinan untuk menemukan bahwa dalam kelemahan bisa ada kuasa.
Ini lanjut ke yang berikutnya, “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.” Apakah kemurahan hati? Simply tindakan-tindakan kecil belas kasihan kepada orang yang di depan matamu. Ini menggambarkan orang yang galau melihat kerusakan dunia, membiarkan hal tersebut masuk dan merenggut hatinya, membuat dia berduka, dan dia menolak dari memalingkan muka, and yet dia tidak berkuasa, tidak bisa ngapa-ngapain. Tetapi orang seperti ini, yang peka akan problem yang besar dari dunia yang besar, serta sadar betapa dirinya kecil dan tidak penting, tetap berusaha melakukan tindakan-tindakan belas kasihan yang kecil, yang ada dan bisa dia lakukan di dalam luas tanah yang kecil, yang jadi tanggung jawabnya yang kecil. Ini orang yang visinya global namun tidak buta terhadap kebutuhan orang-orang yang di depan matanya langsung. Sometimes Saudara melihat ini pada orang-orang yang miskin ‘kan.
Orang kaya bingung mau berikan uangnya ke mana, sedangkan orang-orang miskin yang tiap hari hidup susah kadang-kadang lebih siap untuk berbagi kepada tetangga sebelah yang membutuhkan, yang minyaknya habis, yang susunya habis. Lalu dia sendiri dapat dari mana? Tidak tahu, tetapi ya sudah, itu sesuatu yang agak biasa buat mereka. Tidak ada orang cari mereka untuk tanya, “Kira-kira menurut Lu apa solusi kemiskinan kecamatan ini?” Mana mungkin mereka tahulah, mereka tidak terdidik, dsb., tetapi dalam tindakan mereka sehari-hari mungkin mereka melakukan lebih dibandingkan orang-orang kaya yang pusing duduk di atas tumpukan uangnya karena takut diperalat, takut disalahgunakan, dan akhirnya bingung mau berikan ke siapa. Demikianlah ini orang yang berbahagia menurut Yesus, karena Kerajaan Surga seperti biji sesawi, yang mulai dari hal-hal kecil namun berkembang besar, dari perkara-perkara kecil.
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.” Ini lebih tepat diterjemahkan ‘orang yang kudus hatinya’, orang yang murni hatinya, orang yang singular yang arahnya satu untuk melihat Allah, that’s it, tidak ada yang lain. Kenapa orang-orang seperti ini bisa bermurah hati, berbelas kasihan? Karena mereka tidak terlalu memikirkan dampak terhadap reputasi mereka, terhadap diri mereka. Mereka punya hati yang suci, arah hati yang kudus, simply mau melihat Allah. Dan ketika mereka melihat Allah, Allah ini yang jadi contoh bagi mereka, Allah yang hati-Nya juga remuk melihat kerusakan relasi di dunia. Allah yang memberikan belas kasihan, Allah yang memberikan hujan bagi orang benar maupun orang fasik.
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.” Ketika Saudara menjadi orang yang tidak membius diri, yang melihat konflik di sana sini dan tahu dirimu tidak sanggup, engkau tidak mengandalkan dirimu, engkau peka dengan situasi-situasi di depan matamu di mana belas kasihanmu dibutuhkan, maka engkau menemukan dirimu berhadapan dengan satu pihak yang konflik dengan pihak lain, dan karena engkau mengasihi mereka, engkau memasukkan dirimu di tengah-tengah kedua pihak tersebut untuk membawa damai, rekonsiliasi –dan engkau disebut berbahagia. Tetapi ini jelas bukan sesuatu yang nikmat. Masuk ke tengah-tengah orang-orang yang sedang berantem, Saudara bisa kena pukul, bahkan dua orang yang sedang berantem itu bisa jadi malah bersatu memerangimu, karena engkau tidak membela keduanya, tidak bisa jadi backing-an. Pekerjaan jadi pembawa damai itu hidupnya penuh perang, namun orang seperti ini berbahagia dalam Kerajaan Surga karena mereka melihat Allah. Mereka melihat damai macam apa yang Allah bawa bagi diri mereka, sehingga mereka bisa mau memasukkan dirinya di tengah-tengah konflik demi orang lain.
Semua ini tentu Saudara bisa langsung lihat konklusinya dalam dua ucapan bahagia yang terakhir. “Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat.” Tentu tidak heran orang-orang pembawa damai ini kena aniaya, dicela, difitnah, karena waktu mereka mengikut apa yang Yesus lakukan dan berikan, di mata dunia akan dikatakan, “Inilah orang yang niatnya baik, mau bikin rekonsiliasi malah kena hajar. Ck, ck, ck, goblok!” Kalau kita melihatnya dalam lensa dunia seperti itu, kita akan mengatakan, “Kapok deh gua, ‘gak mau lagi.”
Saudara lihat, sekali lagi ini adalah lensa, cara pandang, sistem yang membuat kita sadar bahwa apa yang dunia anggap sampah, itu memang sampah sih, memang menyakitkan, memang menderita –tidak berubah– tetapi somehow apa yang disampahkan dunia ini, dalam sudut tertentu, dalam cahaya Allah tertentu, bisa menghasilkan signifikansi yang lain, itu bisa membawa bahkan keindahan. Itu sebabnya ini bukan rumusan. Yesus bukan memberikan ini untuk jadi jalan, ‘lakukanlah ini maka engkau akan diberkati’. Ini cuma bisa engkau lakukan ketika engkau sudah diberkati, ketika engkau sudah dipanggil, ketika engkau dipindahkan dari kerajaan yang gelap kepada Kerajaan Terang. Ini bukan sesuatu yang kita bisa pakai sebagai formula, ini sesuatu yang orang Kristen pakai sebagi lensa. Dalam Kerajaan Surga, inilah caranya kita melihat kemiskinan, penderitaan, kelemahan, penderitaan, penganiayaan.
Lalu bagaimana caranya bisa melihat seperti itu? Apa yang membuat kita bisa mau memakai lensa seperti ini? Karena –kembali ke pertanyaan tadi yang saya minta Saudara ingat terus– sembilan warna mosaik ini sesungguhnya lensa yang memperlihatkan kita diri siapa? Siapakah itu yang datang dari latar belakang miskin? Siapakah itu yang senantiasa menangis berduka melihat dunia ini dan orang-orang yang Ia temui? Siapakah itu yang adalah Orang terpenting sepanjang sejarah namun tidak menganggap diri-Nya penting, yang setara dengan Bapa namun tidak menganggap kesetaraan itu sebagai sesuatu yang harus dipertahankan? Ia yang lapar dan haus untuk melihat dunia Bapa ini dikembalikan ke dalam relasi yang benar, maka lewat tindakan-tindakan belas kasihan-Nya kepada orang-orang yang menderita, Ia menunjukkan betapa hati-Nya satu arah, murni, untuk taat menjalankan kehendak Bapa-Nya. Dia memasukkan diri-Nya ke tengah-tengah situasi berbahaya, di antara orang-orang yang saling membenci satu dengan yang lain, sehingga mereka semua malah bersatu untuk memusuhi Dia. Itu sebabnya Dia dianiaya, dan pada akhirnya Dia mati dibunuh.
Sekali lagi, Saudara jadi menyadari sebabnya Ucapan Bahagia ini lensa, karena kalau Saudara melihat Orang itu dalam lensa dunia, yang akan Saudara lihat adalah tragedi. Goblok ya, Yesus, caranya ‘gak benar. Kalau Kamu mau berkuasa, Kamu harus main cantik, jangan tusuk-tusuk pemimpin agama, jangan cari ribut sama orang Romawilah. Bagaimana sih?? Goblok Kamu, Yesus. Atau mungkin Saudara kagum kepada Yesus, tetapi tetap ‘kan ujungnya Dia mati, dan Saudara akan mengatakan sayang ya, kenapa ya Mesias Israel malah mati digantung seperti orang yang dikutuk Allah, kenapa Orang yang begitu promising mati muda sebelum Dia bisa ada impact?? Itu sebabnya ini adalah sebuah lensa, yang membuat kita menyadari realitas sesungguhnya di balik itu semua. Sebabnya kita hari ini bisa melihat hidup kita secara lain, adalah karena Yesus terlebih dulu menghadirkan diri-Nya untuk dilihat dalam lensa seperi ini. Cuma ada satu lensa yang membuat kita bisa melihat ‘inilah Orang yang sungguh-sungguh diperkenan Allah meskipun Ia mati, meskipun Ia dianaiaya, meskipun hati-Nya senantiasa hancur melihat segala sesuatu, meskipun Ia datang dalam kelemahan, mati dalam kelemahan, meskipun Ia terhina’. Dan, justru ini yang membuat kita bisa melihat kemuliaan-Nya yang sesungguhnya. Ketika panggilan itu terjadi, barulah kita bisa mulai melihat lensa ini bagi hidup kita masing-masing.
Ini bukan ajaran, ini Kerajaan. Ia bukan cuma seorang rabi, Ia Seorang Raja. Dan inilah yang Ia panggil kepada kita untuk kita mengalami. Jangan setengah-setengah ikut Yesus, jangan setengah-setengah dan jadi orang yang cuma mengagumi Dia, panggilannya jauh lebih dalam daripada itu.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksaoleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading