Hari ini kita menutup Musim Epifania, minggu depan masuk ke Musim Lent yang dimulai dengan Rabu Abu; dan Epifania selalu berakhir dengan narasi Transfigurasi, Yesus Dimuliakan di Atas Gunung.
Musim Epifania selalu dimulai dengan narasi Baptisan, langit terbuka, Bapa mengatakan, “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Nya Aku berkenan; lalu diakhiri dengan narasi Transfigurasi, sekali lagi terdengar suara dari langit, suara yang sama dan kalimat yang sama dengan tambahan, “Dengarkanlah Dia.” Jadi Epifania dimulai dan diakhiri dengan hal yang mirip, ini bukan kebetulan. Bagian Transfigurasi adalah teks Epifania yang ultimat karena ini narasi Injil yang sejauh ini paling jelas membuka kemuliaan Kristus, identitas-Nya. Siapa Dia sesungguhnya, dibukakan kepada murid-murid-Nya paling jelas dalam momen Transfigurasi ini, momen terakhir sebelum Yesus bergerak ke Yerusalem, ke arah salib.
Berbicara mengenai Transfigurasi merupakan sesuatu yang very tricky, karena sebagai orang-orang Kristen tradisi kita, kecenderungannya sedikit mengesampingkan peristiwa ini. Tentu tidak semua orang Kristen seperti ini, Gereja Ortodoks Timur malah sebaliknya sangat peka bahwa peristiwa ini begitu penting, peristiwa yang seperti front and center dalam iman mereka. Tradisi kita tidak demikian. Di GRII Kelapa Gading kita mengkhotbahkan Transfigurasi tiga tahun berturut-turut simply karena mengikuti Kalender Gereja, sedangkan kalau tidak mengikuti Kalender Gereja, seberapa banyak dari tradisi kita yang bahkan tertarik membahas bagian ini? Atau secara gampangnya, berapa banyak lagu-lagu yang kita tahu yang bicara mengenai Transfigurasi? Agak sulit menjawabnya. Itu sebabnya waktu membaca peristiwa Transfigurasi, mungkin respons kita jadinya persis sama dengan reaksi Petrus dalam cerita ini, dia bingung, tidak tahu harus ngapain, waktu dia bilang mau bikin kemah dsb. itu dia tidak tahu apa yang dikatakannya. Demikian juga Transfigurasi bagi kita hari ini mungkin agak seperti khotbah yang ngawang, ada sih sesuatu yang dibicarakan tetapi ‘gak jelas gua harus ngapain setelah ini.
Dibandingkan mukjizat Yesus yang lain, misalnya Yesus memberi makan orang, menyembuhkan orang, membangkitkan orang mati, mengajar dengan kuasa, semua itu cukup jelas makna dan dampaknya, sedangkan Transfigurasi membingungkan. Kalau Saudara ditanya apa dampaknya jika Yesus tidak dilahirkan, atau tidak naik ke kayu salib, atau tidak bangkit, sedikit banyak kita bisa memberi jawaban; sedangkan kalau kita ditanya apa yang ngaruhnya jika Yesus tidak ditransfigurasi, apakah kisah Injil akan sebegitu berbedanya jika Yesus tidak mengalami transfigurasi, itu sangat membingungkan. Demikian hal yang pertama, kecenderungan kita tidak mengerti atau mengesampingkan Transfigurasi sebagai satu hal yang tidak sentral atau tidak ada maknanya dalam kisah Injil.
Kita akan coba membahas ini, membicarakan Transfigurasi dalam tiga langkah. Pertama, bagaimana mengerti kisah ini, lensa apa yang perlu kita belajar pakai dalam membaca kisah ini. Kedua, apa signifikansinya, apa yang kita lihat melalui lensa tadi. Ketiga, apa dampak kisah ini, apa reaksi yang tepat waktu kita melihat Yesus dimuliakan seperti ini. Jadi mengenai bagaimana mengertinya, apa signifikansinya, apa dampaknya buat kita.
Pertama: Lensa
Kenapa kita tidak menangkap signifikansi kisah Transfigurasi, dan boro-boro implikasinya? Yaitu karena kita tidak tahu harus melihat apa dalam kisah ini. Ini karena kita tidak fasih membaca Alkitab.
Membaca Alkitab itu tekniknya simpel, eksekusinya yang susah, yaitu Saudara perlu membaca dalam konteks. Konteks Perjanjian Baru adalah Perjanjian Lama, maka Saudara perlu membaca yang terjadi di Perjanjian Baru melalui lensa Perjanjian Lama.Itu sebabnya Alkitab kita ada dua-duanya, tidak cuma satu. Matius, in particular menyusun Injilnya dengan berkali-kali mengutip Perjanjian Lama, menggunakan gambaran-gambaran Perjanjian Lama untuk membingkai kisah-kisah mengenai Yesus. Mengapa? Karena inilah yang membuat kita menyadari siapa sesungguhnya Yesus. Penulis Injil yang lain tentu melakukan hal ini juga, namun Matius yang paling kentara melakukan teknik ini. Ketika menceritakan Yesus di Perjanjian Baru, dia bukan cuma menuliskan detail-detail faktual, deskripsi mengenai Yesus, tetapi juga mengunakan satu teknik yang dinamakan shadow stories, yaitu Saudara diajak membaca kisah mengenai Yesus dengan menyadari kemiripannya terhadap kisah-kisah sebelumnya di Perjanjian Lama, yang sudah jadi bayang-bayang (shadow) sejak dulu.
Contoh yang gampang, Matius membingkai peristiwa Yesus kabur dari Herodes ke Mesir dengan kutipan Perjanjian Lama, ‘dari Mesir Kupanggil Anak-Ku’. Di situ kita langsung ingat ada kisah di Perjanjian Lama tentang Mesir, orang Israel juga dipanggil keluar dari Mesir. Dan, ternyata keduanya ini memang shadow stories karena dua-duanya ada tokoh raja bengis yang membunuhi anak-anak orang Yahudi, dua-duanya ada tokoh seorang anak yang baru lahir dan selamat dari pembantaian tersebut, di Perjanjian Lama yaitu Musa yang selamat dengan dimasukkan dalam keranjang di Sungai Nil, sementara di Perjanjian Baru Yesus dengan cara dilarikan ke Mesir. Ini membuat kita menyadari bahwa bagi Matius, Yesus adalah figur Musa yang baru. Sama seperti dulu Musa diselamatkan dari pembantaian Firaun, dipakai jadi instrumen keselamatan Allah bagi Israel, demikian juga Yesus diselamatkan dari pembantaian Herodes untuk jadi instrumen keselamatan Allah bagi Israel yang sejati. Yesus adalah figur yang Allah pakai untuk melakukan suatu eksodus yang baru, membebaskan umat-Nya dari perbudakan, sebagaimana Allah menggunakan Musa untuk tujuan yang sama dalam Perjanjian Lama. Itulah shadow story, yaitu membaca suatu kisah di Perjanjian Baru dengan kacamata/bingkai kisah yang lebih dulu, yang membayang-bayangi kisah yang baru ini.
Sepanjang Injil Matius, jurus ini muncul terus-menerus, demikian juga mengenai peristiwa Transfigurasi. Perhatikan beberapa hal berikut ini yang mirip dengan Perjanjian Lama. Yesus naik bersama tiga murid-Nya ke atas gunung, tidak diberitahu ini gunung apa, mungkin disengaja supaya Saudara jadi ingat shadow stories-nya. Di Perjanjian Lama ada banyak cerita mengenai gunung, gunung merupakan tempat Allah menyatakan diri kepada umat-Nya, tempat langit dan bumi bersentuhan. Jadi waktu Yesus dalam Perjanjian Baru naik ke gunung, Saudara langsung tahu ini bukan cuma detai faktual, ini ada sesuatu nuansa, ada pengungkapan yang terjadi di atas gunung ini, ada pernyataan mengenai siapa diri Allah. Saudara jadi menantikan itu, Saudara diarahkan ke arah yang tepat –bingkai.
Berikutnya, di ayat 1 dikatakan mereka naik gunung setelah enam hari (ini enam hari setelah apa, nanti kita akan bahas). Mengapa enam hari? Karena dari sekian banyak cerita ‘gunung’ dalam Perjanjian Lama, Saudara jadi tahu cerita ‘gunung’ dalam Perjanjian Lama yang mana yang lebih spesifik, yaitu ingat kisah Gunung Sinai dalam zaman Musa. Keluaran 24:16, Kemuliaan TUHAN diam di atas gunung Sinai, dan awan itu menutupinya enam hari lamanya; pada hari ketujuh dipanggil-Nyalah Musa dari tengah-tengah awan itu –untuk naik ke gunung. Jadi ini sama, enam hari menunggu lalu hari ketujuh naik, sama seperti dalam Matius 17 bahwa setelah enam hari Yesus dan murid-murid-Nya naik pada hari yang ketujuh basically. Di sini Saudara melihat ada tarikan Yesus sebagai Musa yang baru. Sekali lagi, ini ternyata bukan cuma data faktual, melainkan ada makna dan signifikansinya.
Dalam catatan tersebut, yang naik ke atas gunung hanya sebagian dari kelompok yang biasanya. Matius 17 mencatat Yesus bukan naik bersama 12 murid-Nya, melainkan hanya dengan tiga orang, yaitu Petrus, Yohanes, dan Yakobus. Matius juga menekankan bahwa mereka hanya sendirian, berempat, di atas gunung itu. Dalam Keluaran 24, Musa naik ke atas gunung juga dengan hanya membawa tiga orang, yaitu Harun, Nadab, Abihu, sementara orang-orang Israel yang lain menyembah dari kejauhan. Makin mirip lagi ‘kan.
Selanjutnya dalam hal penampakan Yesus sendiri, wajah-Nya bercahaya seperti matahari, pakaiannya jadi putuh seperti terang cahaya, Musa serta Elia muncul dan bercakap-cakap dengan Yesus. Ini shadow stories-nya dengan siapa? Ini bukan tentang ketika Musa naik, melainkan ketika Musa belakangan turun dari gunung tersebut setelah menerima hukum dari Tuhan dan bercakap-cakap dengan Tuhan, di situ yang terjadi adalah kulit mukanya bercahaya sehingga dia harus menyelubungi mukanya waktu berbicara dengan orang Israel.
Juga sama seperti Allah Yahweh memanggil Musa dari awan dalam Keluaran, di Matius 17 ini suara Bapa juga keluar dari dalam awan. Yang terakhir, yang juga menarik, adalah reaksi para manusia yang menyaksikan ini, baik di Gunung Sinai maupun di gunung tempat peristiwa Transfigurasi ini, adalah sama: di Keluaran 34 ketika melihat cahaya keluar dari muka Musa, mereka takut, sementara di Matius 17:6 ketika murid-murid-Nya melihat peristiwa ini, mereka juga jadi sangat ketakutan. Di sini kita bisa tambahkan bahwa Musa kemudian memanggil orang-orang Israel kembali dan mereka baru ditenangkan lalu mau mendengarkan Musa, sementara di Matius 17 Yesus harus mengatakan, “Jangan takut, berdirilah”, baru ketiga murid ini bisa menengadah dan kembali berbincang-bincang dengan Yesus.
Ada korelasi yang sangat jelas antara cerita Transfigurasi dengan shadow story-nya di Perjanjian Lama. Ini disengaja banget, bukan kebetulan. Kemiripan seperti ini akan jelas terlihat oleh siapa pun yang belajar Perjanjian Lama, sehingga beberapa sarjana Alkitab yang liberal bahkan jadi mengambil kesimpulan kayaknya Matius ini cuma ngarang, karena terlalu mirip. Tentu kita tidak harus mengambil konklusi seperti itu, karena ini memang simply cara Matius menulis Injil, dia mengungkapkan bukan cuma fakta-fakta mengenai Yesus tetapi juga signifikansinya. Matius tidak pernah puas memberikan sekadar data, dia memberikan data yang dia bingkai dengan shadow stories seperti ini sehingga kita menyadari signifikansi dan makna yang ada di balik fakta-fakta tersebut. Ini sesuatu yang kita perlu pakai waktu sebentar untuk menyadarinya, karena sering kali kita pikir kita cuma butuh fakta doang. Berikan saya faktanya saja, jangan berikan gua pendapat Lu, tafsiran Lu, dan bingkai-bingkai itu; saya cuma ingin tahu benar-benar apa yang terjadi supaya saya yakin itu terjadi. Kalau dibingkai-bingkai kayak begini, kita jadi bingung, ini sebenarnya berapa persen yang realitas, atau mungkin cuma gaya bahasa tok yang sebenarnya tidak ada, atau jangan-jangan karangan fiktif, jadi bingung ‘kan. Itu sebabnya berikan faktanya saja, jangan tafsiranmu. Kadang-kadang seperti itulah kita.
Namun di sini saya ulang sedikit satu hal yang pernah dibahas dalam PA, bahwa kita sering kali lebih ingin Alkitab memberikan kita rekaman kamera CCTV. Tetapi bukan itu yang kita butuhkan untuk bsia percaya. Waktu Matius memberikan bukan cuma fakta tok tetapi juga membingkai fakta ini dengan gaung-gaung shadow stories dari Perjanjian Lama, ini something yang good, bukan something yang bad. Kenapa? Kita pada zaman ini sering kali tertipu, kita pikir kamera lebih reliable dibandingkan mata manusia. Kalau melihat foto kita sendiri waktu jalan-jalan, dsb., kita kadang-kadang baru sadar ternyata ada detail ini dan itu yang kamera menangkap sedangkan kita tidak, lalu kita pikir mata saya kalah dari matanya kamera, kamera melihat lebih banyak daripada mata manusia. In some sense ini tidak salah, namun jangan lupa bahwa sebaliknya juga benar, manusia menangkap lebih banyak daripada yang kamera bisa lihat. Gampangnya begitni, ada seorang pria memandangi seorang wanita; dan di sini Saudara bisa menangkap bahwa pria ini memandangi wanita tersebut dengan perasan sayang, dengan suatu hasrat yang mendalam. Ini kamera tidak bisa menangkap, hanya manusia yang bisa. Lalu ketika datang seorang pria lain mendekati wanita tersebut, Saudara sebagai manusia bisa melihat “asap keluar dari kuping” si pria pertama tadi, sementara kamera tidak bisa menangkap itu karena tidak benar-benar ada asap keluar dari kupingnya.
Kita manusia bisa melihat itu, hal yang kamera tidak bisa lihat. Jadi ini sesuatu yang kita perlu sadari sebagai ciri khas unik dalam bagaimana Alkitab datang kepada kita hari ini. Alkitab tidak puas memberikan kita hanya hal yang kamera bisa lihat, Alkitab justru sering kali terutama mau memberikan kita apa yang kamera tidak bisa lihat, memperlihatkan apa yang tidak kelihatan. Ini sesuatu yang kita perlu syukuri. Ini sebabnya Alkitab adalah Firman Tuhan, karena kalau Saudara datang kepada Alkitab dan Alkitab hanya bisa memberikan apa yang kamera bisa lihat –sebatas itu tok—maka apa gunanya kita datang kepada Alkitab?? Jika seperti itu, Alkitab bukan wahyu Tuhan, Alkitab tidak lebih dari sebuah rekaman kamera tok yang hanya mencatat data-data masa lalu. Kita tidak butuh itu terutama karena orang-orang sezaman Matius, Petrus, Paulus pun banyak yang melihat sendiri Yesus Kristus namun tetap tidak percaya.
Fakta bukanlah segala-galanya. Jangan pikir kalau Saudara dapat fakta yang pasti, maka Saudara pasti akan percaya. Tidak. demikian. Bukan itu yang terutama kita butuhkan. Alkitab memberikan apa yang kita butuhkan, perspektif yang lebih, tidak cuma apa yang kelihatan tetapi juga apa yang tidak kelihatan. Itu sebabnya Alkitab adalah Firman Tuhan. Itulah nilai lebih Alkitab yang kita tidak dapatkan dari tempat lain. Jadi kita tidak usah anti atau curigaan dengan penulisan dengan gaya bingkai-bingkai shadow stories kayak begini, seakan-akan tulisan Matius jadi kurang kredibel, ngarang-ngarang, banyak kebetulannya. Hal ini justru hadir supaya kita bisa melihat bukan cuma faktanya, tetapi juga bisa melihat ada asap keluar dari kuping.
Matius menulis seperti ini bukan untuk menutup-nutupi fakta, tetapi malah untuk membuka hal yang sering kali kita tidak lihat. Ini lensa yang kita coba pakai dalam membaca kisah Transfigurasi dan juga kisah-kisah lain dalam Perjanjian Baru. Demikian mengenai lensanya, dan sekarang kita baru bisa mengerti apa signifikansinya.
Kedua: Signifikansi
Apa signifikansi dari cerita Transfigurasi? Apa tujuan ada kisah ini kalau kisah ini dibingkai sedemikian rupa dengan shadow stories tadi?
Tadi kita melihat cerita Transfigurasi ternyata punya bingkai yang mirip dengan kisah Exodus, maka berarti ini suatu kulminasi penggenapan dari kisah Keluaran sebagai shadow stories-nya, dan dengan demikian ada makna dan signifikansi kisah Exodus yang mau Matius bawa dalam kisah Transfigurasi. Jelas ini ada kontinuitas/kesinambungan antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru; dan itu sebabnya Yesus dinyatakan dengan didampingi dua tokoh Perjanjian Lama yang masing-masing mewakili Taurat dan para nabi, bahwa yang Yesus lakukan adalah menggenapi Taurat dan para nabi, bukan memberontak terhadap Perjanjian Lama.
Apa yang terjadi dalam Perjanjian Lama? Apa message dan tujuan keluarnya bangsa Israel, khususnya diberikannya hukum Tuhan kepada mereka, yang menyebabkan wajah Musa sampai bercahaya seperti itu? Ketika adegan tersebut diberitakan di Perjanjian Lama, maksudnya apa? Saudara, alasannya kita sering kali gagal paham hal ini, saya rasa karena kita punya bahasa yang terlalu spesifik, yaitu istilah trasfigurasi yang kita bedakan dari istilah transformasi. Bagi kita, transfigurasi adalah sesuatu yang hanya terjadi pada Yesus Kristus, transformasi adalah sesuatu yang hanya terjadi pada diri umat-Nya; transformasi yaitu kehidupan orang percaya yang diubahkan dalam Yesus, sedangkan transfigurasi adalah Yesus sendiri yang berubah, dan ini bukan dua hal yang sama. Yang seperti ini, sebenarnya salah. Kalau Saudara selidiki kata asli yang dipakai dalam momen Transfigurasi maupun dalam tulisan-tulisan Paulus atau Petrus yang membahas bahwa umat Tuhan dipanggil untuk berubah dalam pembaruan budi, dsb., dua-duanya pakai istilah bahasa Yunani yang sama: metamorphoó. Tidak ada istilah spesifik yang membedakan keduanya. Dengan demikian ketika Musa dalam Perjanjian Lama berubah rupa wajahnya jadi bercahaya (transfigurasi) waktu bertemu dengan Allah, menerima hukum Allah, inilah sesungguhnya tujuannya bangsa Israel keluar dari Mesir. Mereka tidak dibawa keluar dari Mesir untuk mendapatkan tempat yang baru, melainkan untuk menjadi umat yang baru. Ini jelas, ketika Allah mengatakan kepada Firaun, “Biarkanlah umat-Ku pergi supaya …,” apakah supaya mereka tidak jadi umatnya siapa-siapa? Tidak. Allah mengatakan, “Biarkanlah umat-Ku pergi supaya mereka bisa menyembah-Ku di padang gurun”, dan implikasinya berarti mereka sekarang sedang menyembah sesuatu yang lain. Mereka sedang menyembah kamu, Firaun, buktinya kamu suruh mereka bikin kota dan mereka lakukan; mereka sedang menyembahmu, mengikutmu. Ini karena Firaun menghadirkan dirinya bukan sekadar sebagai seorang raja tetapi juga seorang dewa.
Eksodus adalah cerita orang Israel diperbudak lalu dibebaskan, kita tahu itu, tetapi sekali lagi kebebasan di Alkitab tidak pernah terjadi karena Saudara lepas dari sesuatu tok, melainkan terjadi ketika Saudara lepas dari yang salah lalu masuk ke yang benar. Ketika Saudara lepas dari ikatan yang salah lalu diikat oleh yang benar, kebenaran akan memerdekakanmu. Eksodus adalah cerita kita diselamatkan dari perbudakan raja/dewa yang salah, untuk dimasukkan ke penyembahan kepada Raja/Dewa yang tepat. Eksodus adalah cerita kita yang tadinya punya kompas yang ngaco lalu sekarang diberikan kompas yang benar, bukan tidak pakai kompas lagi melainkan pakai kompas yang benar. Itulah tujuan diberikannya Hukum Tuhan, untuk menaruh Israel di bawah kompas yang tepat, aturan yang tepat, aturan main Pencipta alam semesta sesuai manual pabriknya. Apa artinya ini? Ketika apa, orang Israel –manusia– menjadi lebih sesuai dengan manual pabriknya? Ketika mereka menjadi lebih mirip Allah, menjadi gambar rupa Allah, memantulkan cahaya Allah. Jadi make sense wajah Musa bercahaya seperti cahaya Allah, memantulkan cahaya Allah. Dia menerima hukum Allah, aturan main Allah, dan mukanya jadi bercahaya seperti cahaya Allah. Ini bukan efek samping, ini tujuan utama diberikannya hukum Allah. Dikeluarkannya Israel dari Mesir adalah supaya mereka bisa berbagian dalam transformasi ini, dalam transfigurasi ini, yaitu untuk mereka bisa menjadi seperti Allah. Itu sebabnya Israel dikabarkan sebagai pelita, dan demikian pula umat Allah/Geraja dikabarkan sebagai terang dunia.
Sekarang Saudara jadi menyadari, waktu Yesus menerima transfigurasi di atas gunung, kita diajak untuk melihat makna dan signifikansi yang sama. Dan, kalau mau jujur, kita tidak terbiasa melihat signifikansi ini. Kita terbiasa berbicara signifikansi transfigurasi adalah bagi Yesus sendiri tok, memperlihatkan siapa diri Yesus-nya. Musa cuma memantulkan cahaya, sementara Yesus adalah cahayanya sendiri, karena itulah Matius mengatakan Yesus bercahaya seperti matahari. Tentu maksudnya bukan jumlah kandelanya seperti matahari –mungkin saja sih, kita tidak tahu– melainkan bahwa Yesus itu sumber cahaya sebagaimana matahari adalah sumber cahaya, sedangkan Musa cuma memantulkan, dia transfigurasi ketika menerima hukum Tuhan, Firman Tuhan. Sedangkan ketika Musa dan Elia di gunung dalam momen Transfigurasi, mereka berada di samping Dia yang adalah Sang Firman itu sendiri.
Kita menyadari bahwa tujuan Transfigurasi adalah memperlihatkan kita siapa Yesus, tetapi kalau kita sekarang peka dengan shadow stories-nya dalam Perjanjian Lama, maka ketika kita menyaksikan Yesus metamorphoó di atas gunung, ini sesungguhnya bukan mengenai Yesus tok, ini adalah cikal bakal apa yang Saudara dan saya suatu hari juga akan alami. Inilah tujuan kita jadi orang Kristen, inilah tujuan kita mengikut Dia, yaitu untuk kita juga diubahkan –ditransformasi, ditransfigurasi–untuk menjadi seperti Kristus suatu hari nanti. Gambaran Yesus dimuliakan di atas gunung adalah masa depan kita. Kita bukan cuma mati bersama Kristus, bukan cuma bangkit bersama Dia, kita juga akan diubah sama seperti Ia diubah. Ini sebabnya Paulus mengatakan orang-orang percaya akan jadi seperti bintang-bintang di langit yang bercahaya. Kita akan menjadi terang.
Saudara lihat signifikasni peristiwa Transfigurasi, bahwa Transfigurasi bukan cuma bicara mengenai Yesus yang berubah, Transfigurasi juga bicara mengenai diri kita yang ikut berubah seperti Yesus. Itulah signifikansinya, yang kita lihat akalau kita peka dengan lensa Perjanjian Lama.
Ketiga: Dampaknya
Dampaknya apa, reaksi apa yang tepat dalam kita melihat hal ini? Oke lensanya lensa Perjanjian Lama, dan signifikansinya bukan cuma bicara kemuliaannya Yesus, ini bicara mengenai kemuliaan Gereja-Nya, bahwa Gereja dipanggil untuk mengikut Yesus menjadi seperti Yesus; dan sebagaimana Yesus dimuliakan, suatu hari kita juga akan dimuliakan. Kita ikut Yesus demi ini. Sekarang apa dampak dan reaksi kita?
Di sini kita tinggal fokus pada apa reaksi manusia dalam momen tirai ini disibakkan. Apa reaksi manusia dalam peristiwa Gunung Sinai ketika melihat muka Musa bercahaya karena muka orang ini lebih mirip dengan Allah? Apa reaksi para murid di gunung dalam peristiwa Transfigurasi ketika melihat Yesus Kristus yang ditransformasi, menyatakan diri sebagai Allah itu sendiri? Reaksinya adalah timbul perasan takut. Inilah implikasinya, dampaknya.
Perasaan takut merupakan perasaan yang sangat biblical sebenarnya, namun kita tidak sadari hal ini. Perasaan takut dalam menghadapi Allah, itu sesuatu yang berkali-kali muncul dalam Alkitab. Namun ironisnya, ini perasaan yang sangat jarang muncul dalam Gereja hari ini; dan mungkin itulah sebabnya kita sangat butuh membahas dan mengerti peristiwa Transfigurasi.
Saudara, waktu engkau datang ke gereja hari ini, perasaan apa yang Saudara expect dapatkan? Omong-omong, coba kritis sedikit dengan jawabanmu, karena pengalaman saya kalau orang Indo bicara dengan orang Indo, sedikit banyak kita sangat jaim, kita cenderung cari jawaban yang sesuai, yang correct, bukan jawaban yang jujur. Kembali lagi, apa perasaan yang kita expect dapatkan waktu datang ke gereja hari ini?
Hal ini Saudara bisa lihat dari gereja-gereja yang menamakan dirinya dengan nama-nama tertentu, dan dari situ kita melihat ekspektansinya. Misalnya ada yang namanya Persekutuan Sukacita, which is ini sesuatu yang menarik karena ada suatu perkembangan baru yang terjadi pada zaman sekarang bahwa gereja atau persekutuan bisa pakai nama-nama dari emosi atau perasaan tertentu. Kalau Saudara masih ingat gereja-gereja seputar daerahmu (gereja Protestan, bukan Katolik) yang masih pakai nama santo-santo tertentu, berarti Saudara usianya sudah tua banget, karena yang seperti itu zaman dulu banget. Hari ini tradisi penamaan gereja sudah sangat lain. Saya waktu jemput anak sekolah, rutenya melewati satu gereja Injili dari salah satu sinode terbesar di Indonesia. Karena sering lewat, mau tidak mau saya memperhatikan acara-acara mereka yang terpampang di spanduknya. Ada “Sepanjang Jalan Anugerah”. Ada “Melayani Roh yang Menghidupkan” (rather than misalnya Roh yang menguduskan atau bahkan Roh yang menakutkan). Ada “Pekan Raya Pelayanan” (ministry fair), pelayanan menjadi pekan raya. Omong-omong, saya mengatakan ini bukan sebagai tipikal orang Reformed yang menghina-hina emosi karena meninggikan rasio. Tentu saja di dalam Tuhan ada banyak sukacita, itu jelas, tetapi yang jadi pertanyaan adalah: kalau kita mau ambil satu emosi/perasaan untuk mengungkapkan yang terjadi dalam hati manusia ketika bertemu/bersentuhan dengan Kristus, emosi yang paling tepat, yang paling sering muncul, yang mana?
Dalam Minggu Transfigurasi ini, kita menyadari emosi yang muncul bukanlah perasaan sukacita, melainkan perasaan takut. Dan, ini bukan cuma muncul dalam peristiwa Transfigurasi. Kalau Saudara mensurvei seluruh Perjanjian Baru, perasaan yang mendominasi dalam seluruh Perjanjian Baru bukanlah sukacita, bukan juga excitement; perasaan yang paling sering muncul dalam kisah-kisah Injil adalah perasan takut. Lebih menarik lagi, orang-orang yang dicatat merasa takut menghadapi Yesus itu bukan orang-orang luar, bukan orang-orang dalam kerumunan yang mengikuti Yesu, melainkan murid-murid-Nya sendiri.
Waktu Yesus dicatat menolong murid-murid-Nya setelah mereka semalaman tidak dapat ikan, lalu secara mukjizat mendapatkannya karena Yesus memberikan tangkapan ikan yang luar biasa banyaknya, respons mereka adalah ketakutan. Waktu Yesus menenangkan ombak dan angin, dan menyelamatkan murid-murid-Nya di perahu, mereka ketakutan. Waktu para wanita datang ke kuburan Yesus pada hari Paskah pagi-pagi, dan menemukan kubur Yesus kosong, yang Injil katakan adalah mereka merasa takut. Berkali-kali kita membaca –termasuk di bagian ini– Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya, “Jangan takut.” Ini berarti mereka sedang ketakutan. Tidak perlu mengatakan jangan takut kalau mereka tidak sedang ketakutan. Ada sesuatu mengenai diri Yesus yang membuat orang-orang yang terdekat dengan Dia senantiasa merasakan perasaan takut terhadap-Nya. Demikian Injil, Perjanjian Baru; belum lagi kalau Saudara lihat Perjanjian Lama, apa perasaan utama yang umat Allah rasakan dan alami ketika mereka berhadapan dengan Tuhan?
Di GRII Kelapa Gading ini kita pernah membahas satu seri khotbah mengenai orang-orang yang mendekat kepada Allah di Perjanjian Lama, juga di Perjanjian Baru, dan menjadi kayak apa mereka ketika berhadapan dengan Allah. Yakub bertemu Tuhan, dia ngapain? Bergulat, lalu kalah dan pincang seumur hidup. Yosua bertemu Malaikat Bala Tentara Allah, dan dia ngeri, ini kawan atau lawan. Ayub bertemu Allah dalam awan badai. Dagon berhadapan dengan Tabut Perjanjian, lalu runtuh dan pecah berkeping-keping. Dan seterusnya. Yang menarik, ternyata Yesus di Perjanjian Baru pun bukanlah Figur yang mengundang reaksi yang lain, reaksinya sama.
Saudara, perasaan takut ini mungkin good news, karena kita jadi pikir, begitu ya, iman Alkitabiah itu ada perasaan takut, bagus juga sih, berarti kita lebih dekat dengan iman yang biblical karena kita hari ini hidup dalam zaman yang bukan sukacita, tetapi zaman yang penuh rasa takut, cemas, zaman yang segala sesuatu berubah begitu cepat. Dan, ini membantu kita untuk mengerti kenapa bisa muncul rasa takut. Rasa takut kita sering kali muncul karena ada sesuatu yang asing, unexpected, tidak disangka-sangka, dan tentu tidak diinginkan juga, yang tiba-tiba masuk menginvasi hidup kita, sesuatu yang istilah modernnya “disruptif”, yang menggeser/membelokkan aliran kehidupan yang selama ini sudah berjalan. Reaksi kita menghadapinya adalah rasa takut.
Saya ingat banget waktu peristiwa 9/11, saya sedang di sekolah mendengar peritiwa itu, dan semua orang di sekolah heboh, semua orang menjadi takut. Kenapa? Karena tidak ada yang menyangka US bisa diserang di kampung halamannya sendiri, ada sesuatu yang lain dari biasanya, kalau US saja bisa diserang di kampung halamannya sendiri, what next?? Kita juga ingat waktu pandemi, kita takut dan cemas bukan cuma karena kematian-kematiannya tetapi juga karena berkali-kali dikatakan bahwa setelah ini sepertinya tidak bisa balik ke normalitas yang dulu, kita harus belajar hidup dalam new normal, hal ini akan jadi permanen, gereja ke depannya mungkin tidak ada lagi megachurch tetapi lebih banyak gereja-gereja rumahan karena interaksi musti dibatasi, dsb. Memang ini ternyata tidak kejadian, hari ini kita kembali ke old normal termasuk macet-macetnya, namun poinnya bukan itu. Poinnya, inilah yang membuat kita ketakutan. Atau yang lebih personal misalnya ketika Saudara habis check-up rutin; bertahun-tahun check-up rutin dan tidak ada apa-apa, tetapi hari itu dokter mengatakan ia menemukan something maka perlu CT Scan, MRI, dsb., lalu nyebelinnya, si dokter ngomong, “’Gak usah kuatir dulu, ini belum ketahuan apa-apa koq”, padahal justru yang belum ketahuan itulah yang bikin tenggorokan tambah sempit.
Saudara, inilah kehidupan kita. Omong-omong, yang menarik bahwa anak kecil tidak lahir dengan rasa takut, mereka perlu diajar untuk merasa takut. Takut terhadap jalanan, mobil yang lalu lalang, dsb. Kita harus mengajarkan mereka bahwa mobil berbahaya, jangan menyeberang tanpa tanya papa dulu, itu pun harus dituntun. Mereka harus diajarkan itu. Semakin dewasa, kita mungkin sudah tidak sebegitu takutnya dengan jalanan, tetapi kita takut dengan segala jenis penyeberangan, segala jenis perubahan, segala jenis perpindahan. Memang dunia tempat kita hidup adalah dunia yang menakutkan; dan mungkin ada good news-nya karena iman Kristen jadi lebih mirip nyambung dengan kehidupan yang selama ini Saudara dan saya rasakan. Tetapi, di sisi lain, rasa takut yang dihasilkan ketika bertemu dengan Yesus not exactly the same, ada sesuatu yang beda. Ada miripnya, ada bedanya. Rasa takut yang alkitabiah, rasa takut dalam Perjanjian Baru khususnya, adalah rasa takut yang bukan simply timbul karena kita menyadari diri rapuh/fana, bukan simply timbul karena kita berada dalam masa-masa yang senantiasa berubah dan tanpa pijakan; rasa takut dalam Perjanjian Baru adalah rasa takut yang ada dan disebabkan oleh karena Pribadi Kristus, dan apa artinya berada di hadirat-Nya.
Untuk menjelaskan hal ini, kita coba mengitar agak jauh. Ironis bahwa hari ini banyak orang ingin melihat Tuhan, mendengar Tuhan secara langsung. Mereka merasa kalau saja bisa mendapat bukti –khususnya visual–mengenai realitas dan keberadaan Tuhan, mereka bisa terpuaskan. Yang menarik, dalam peristiwa Transfigurasi semua itu terjadi. Murid-murid melihat langsung, mendengar langsung, bukan sedang bermimpi. Mereka diselubungi awan kemuliaan Ilahi. Mereka menyaksikan langsung Yesus bersinar-sinar terang. Wajah Musa yang cuma pantulan saja sudah bikin orang-orang ketakutan, sementara di sini Sumber cahayanya sendiri. Mereka mendengar deklarasi dari surga mengenai diri Yesus. Dan, semua detail ini menimbulkan apa? Ketakutan.
Apakah itu Transfigurasi? Transfigurasi adalah momen yang menakutkan, karena inilah momen ketiga mursd Yesus itu melihat Yesus apa adanya. Melihat siapa Dia sesungguhnya, menyaksikan sendiri kemuliaan-Nya, melihat Dia disokong kiri kanan oleh dua tokohterbesar Perjanjian Lama dan itu berarti Dia lebih besar daripada kedua tokoh tersebut. Dan, apa perasaan yang muncul, yang mendominasi momen penyibakan ini? Rasa takut! Itu sebabnya hati-hati, Saudara, mengejar mountain top experience, karena para murid mendapatkan pengalaman mountain top itu, dan mereka merasa ketakutan.
Kenapa kayak begini? Apa yang terjadi? Kenapa diri Yesus menghasilkan rasa takut yang seperti ini? Untuk menjawabnya, kita harus mempertimbangkan konteks. Di awal tadi dikatakan: ‘Enam hari kemudian … dan bersama-sama dengan mereka Ia naik ke sebuah gunung yang tinggi’; ini enam hari setelah apa, kita perlu bertanya. Matius di sini jelas banget ingin mengaitkan peristiwa Transfigurasi ini dengan sesuatu yang terjadi sebelumnya, ini konteksnya. Apa konteksnya?
Saudara lihat beberapa pasal mundur dari pasal 17 ini. Pasal 14, Yesus memberi makan 5000 orang Yahudi, lalu berikutnya memberi makan 4000 orang non Yahudi, dan kejadian ini begitu mirip dengan Musa; Allah memberi Israel makan manna padang gurun melalui Musa. Itu sebabnya rombongan orang banyak itu berkata, “Yesus adalah Mesias!” Dan, siapa mesias bagi mereka? Bagi mereka mesias adalah orang yang memberi makan.
Melihat hal ini, orang-orang Farisi dan para pemimpin agama marah. Mereka semakin intens melawan Yesus, mereka mencari-cari kesalahan Yesus, mereka minta tanda, dsb., karena dalam bayangan mereka mesias tidak seperti itu. Mesias itu bukan kerjanya memberi makan orangorang kafir, mesias akan membebaskan Israel dari orang-orang kafir, menguduskan/memisahkan orang Israel dari orang-orang kafir. Jadi mereka pun punya pengertian mesias mereka sendiri.
Merespons ini, Yesus mundur dari melayani orang banyak lalu fokus untuk mengajar murid-murid-Nya. Dan, inilah yang kita temukan dalam pasal 16, satu pasal persis sebelum pasal 17, Dia bertanya kepada murid-murid-Nya, “Menurutmu, siapakah Aku ini?” Petrus mewakili kedua belas murid itu menjawab, “Engkaulah Mesias.” Yesus mengatakan, “Benar.” Mesias harus ngapain? Mesias harus menderita dan mati. Inilah kejadian yang persis terjadi sebelum mereka naik ke atas gunung, Yesus mengabarkan tentang penderitaan dan kematian-Nya, maka Petrus pun menarik Dia ke samping, “Tidak bisa kayak begitu; masa’ sih mesias kayak begitu??” Sekali lagi Saudara lihat, ternyata bukan cuma orang banyak yang salah mengerti mengenai mesias, ternyata bukan cuma orang Farisi yang salah mengerti mengenai mesias, para murid pun punya bayangan mesias yang lain. Dalam bayangan Petrus, mesias itu harus menang, mesias yang seperti versi wisdom-nya Ben-Sirach, mesias yang musuhnya remuk di bawah kakinya, mesias yang tidak perlu melayani orang-orang yang inferior, mesias yang melihat semua musuh-musuhnya jatuh. Sudah pasti bukan mesias yang menderita dan mati.
Orang banyak salah mengerti mengenai Yesus, orang Farisi salah mengerti mengenai Yesus, dan bahkan murid-murid-Nya salah mengerti mengenai Yesus. Inilah yang muncul dalam tiga pasal sebelum Transfigurasi. Namun yang menarik adalah yang terjadi berikutnya; dalam merespons kesalahmengertian ini, apa yang Yesus katakan? Yesus bukan menjelaskan mengenai diri-Nya, Dia mengatakan, ”Bukan cuma Mesias yang harus menderita dan mati, siapa pun yang mau mengikut Aku juga harus memikul salib dan mengikuti langkahku, dia juga harus menderita dan mati.” Dari sini kita sadar satu hal, bahwa problem orang banyak, problem orang Farisi, dan problem para murid sebenarnya apa? Mereka bukan cuma salah mengerti tentang mesias, protes Petrus bukan cuma karena mesias dalam bayangan Yesus tidak sama dengan mesias di kepalanya, tetapi karena mereka juga punya bayangan tentang pengikut Mesias yang berbeda dengan pengikut mesias dalam bayangan Yesus. Bagi Petrus, yang harusnya tidak perlu menderita dan mati bukan cuma Mesiasnya, tapi juga kalau Mesiasnya menang maka pengikut-Nya ikut menang, tidak perlu memikul salib, tidak perlu menyangkal diri. Itu yang Petrus protes. Yang dikatakan Yesus itu bukan jalan yang mereka mau.
Mengikut Yesus yang seperti ini, berarti kita juga harus mengikut langkah yang seperti ini; no way! Ini bukan langkah yang kita mau, ini tidak mirip seperti bayangan kita! Demikianlah rasa takut yang muncul di antara para murid. Ini rasa takut yang muncul bukan simply karena kita hidup pada zaman yang menakutkan, ini rasa takut yang muncul karena melihat Yesus sendiri, karena ketika kita berhadapan muka dengan muka dengan Allah, kita merasakan apa tuntutan-Nya bagi kita! Kita mulai melihat dengan lebih jelas gang sempit macam apa yang Ia panggil kita untuk masuk dan mengikuti-Nya. Kita ngeri dan takut, bukan cuma karena melihat Dia menakutkan, tapi juga karena menyadari apa maknanya mengikut Allah yang menakutkan seperti itu.
Ibrani 10:31 mengatakan satu kalimat yang hampir kita tidak pernah khotbahkan juga: “Ngeri benar kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup.” Membaca kalimat ini, kita sering kali lewat begitu saja, karena kita berasumsi ini kalimat bagi orang-orang binasa, orang-orang bukan pilihan, orang-orang yang di luar sana. Tetapi kalau Saudara baca ayat sebelumnya, ayat 30 bicara mengenai Allah yang menghakimi umat-Nya sendiri –umat-Nya, Saudara dan saya. Menjadi umat Allah yang jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup, itu ngeri benar. In some sense inilah pembeda antara Allah sejati dengan berhala-berhala palsu.
Berhala tidak menimbulkan rasa takut, karena kalau yang kita sembah adalah hasil bayangan kita sendiri, Hasil keegoisan dan nafsu dan agenda-agenda kita sendiri, ya, rasa takut apa yang bisa keluar dari situ?? Tidak ada. Sedangkan Allah kita, Allah yang hidup, yang datang kepada kita dalam Yesus Kristus, adalah Allah yang punya maunya sendiri; dan momen kita menyadari Dia punya maunya sendiri adalah momen kita juga menyadari bahwa kita dihadapkan dengan tuntutan ini. Kita menyadari wajah Yesus bukan cuma bercahaya dengan kasih, tetapi juga dengan tuntutan, agenda, kehendak-Nya. Sekali lagi, dengan konteks Perjanjian Lama ketika kita melihat Yesus ditransfigurasi di atas gunung, ini bukan cuma bicara mengenai siapa Yesus tetapi juga siapa umat-Nya, untuk apa umat ini dilepaskan dari perbudakan, yaitu untuk menjadi seperti Dia. Dan, kita tahu menjadi seperti Dia itu artinya apa, itulah yang membuat kita takut. Ketika kita menyadari perjalanan macam apa ketika mengikuti Dia, itu momen yang pasti mendatangkan rasa takut, karena Allah yang mengungkapkan diri-Nya di atas gunung itu bukan cuma Allah yang menyatakan siapa diri-Nya tetapi juga menuntut kita mengikut Dia, menjalani jalan-Nya. Tidak heran, bertemu/bersentuhan dengan Allah yang hidup, Allah yang sejati, tidak cuma bisa menggerakkan orang, tetapi juga menakutkan, mengerikan. Namun pertemuan dengan Allah yang seperti ini baru bisa mengubah hidup seseorang.
Kita bisa memikirkannya seperti ini: apa alasan umum orang tidak datang atau menghindari ke gereja? Alasan yang biasa kita dengar adalah karena orang zaman sekarang tidak bisa lagi menikmati jenis musik yang kita pakai di sini, sudah tidak familier, tidak tahu hymn, dsb. Atau bahwa orang zaman sekarang sudah tidak lagi mau cari pengertian, tidak lagi menikmati warisan pemikiran Gereja dari zaman ke zaman. Atau kita mendengar orang bilang, “Gerejamu kurang hangat sih, kurang friendly.” Kita juga mendengar orang mengatakan karena zaman ini mentalitas mie instan, orang tidak mengerti lagi pentingnya bertahan rutin beribadah setiap Minggu, tidak mengerti bahwa pemuridan bukanlah datang satu dua kali waktu Paskah dan Natal melainkan pembentukan seumur hidup. Perhatikan, semua hal tersebut, yang kita pikir adalah alasannya orang luar tidak masuk ke gereja, adalah karena mereka ‘gak ngerti, salah paham, salah kaprah terhadap Gereja dan iman Kristen. Hari ini saya mau katakan, bahwa ada kemungkinan justru sebaliknya, bahwa alasan kebanyakan orang memilih untuk tidak bergereja, menghindari Gereja, bukanlah karena mereka salah mengerti Gereja, salah mengerti apa artinya menjadi orang Kristen, melainkan justru karena mereka sangat mengerti! Mereka sangat mengerti bahwa Gereja bukanlah mengenai diri tetapi mengenai Alah, Gereja adalah mengenai kemungkinan hidup yang akan terganggu oleh sebab persentuhan dengan Kristus yang bangkit, Gereja adalah urusan menyadari tuntutan Allah dalam hidup umat-Nya, Gereja adalah minggu demi minggu demi minggu ditantang lagi untuk mengatakan mau tidak mengikuti hal ini, mau tidak berkorban mengikuti hidup yang demikian. Dan, ini menakutkan bagi banyak orang.
Saudara, proklamasi Firman hari ini menekankan jarak dari Allah yang hidup, rasa takut yang memang harus muncul ketika kita sungguh bersentuhan dengan Dia. Saudara pasti setuju dengan saya, bahwa problem hari ini bukanlah Allah terkesan terlalu jauh dari manusia; problem hari ini sebaliknya, Allah sering kali justru terkesan terlalu dekat, terlalu mirip, terlalu sesuai dengan keinginan hati manusia, sehingga Allah-Allah kayak begini terlalu sedikit dari diri-Nya yang bisa tabrakan dengan kehendak manusia.
Good news-nya, hari ini kita jadi menyadari alasannya kita datang ke gereja, hari Minggu demi hari Minggu demi hari Minggu, adalah untuk sengaja meresikokan diri mendengar apa yang kita tidak mau dengar, meresikokan diri untuk terekspos kepada Allah yang bukan bayangan kita dan lain sama sekali cara pikirnya dan susah dimengerti, meresikokan diri berhadapan dengan Allah yang kadang –bahkan sering kali– melawan dan menghadang kita. Inilah Gereja. Inilah alasannya kita datang. Ini bukan efek samping, ini tujuan utama. Ini harusnya terjadi dalam semua aspek Gereja. Paling gampangnya, kalau Saudara masuk choir, Saudara tahu itu bukan tempat ekspresi diri, Saudara tidak bisa datang ke choir dengan mengharapkan akan menyanyi lagu-lagu yang engkau suka. Waktu masuk ke choir, Saudara meresikokan dirimu dipaksa menyanyi lagu-lagu yang engkau tidak suka. Itulah choir Gereja.
Ini good news, karena bagaimana mungkin Saudara dan saya bisa dikoreksi jikalau bukan lewat kehadiran suara yang lain dalam hidup kita, yang kadang-kadang melawan kita, yang senantiasa menantang kita? Coba pikirkan, seberapa sih kemungkinannya Saudara mendengar message yang mengatakan ‘ngeri benar kalau jatuh ke dalam tangan Allah yang hidup’? Seberapa mungkin engkau mendengar message seperti itu kalau bukan karena engkau hari ini bangun dan datang ke gereja? Kita datang ke gereja untuk jadi bagian dari persekutuan seperti ini, persekutuan orang-orang nekad, yang nekad menghadapi realitas Tuhan yang hidup, yang bukan kayu atau pun batu. Itu sebabnya bertemu/bersentuhan dengan Tuhan seperti ini akan menghasilkan hidup yang terusik, terganggu. Allah yang hidup adalah Allah yang disruptif; dan itulah sebabnya reaksi yang tipikal dalam momen-momen Allah menyatakan diri-Nya di Alkitab, adalah rasa takut. Kalau kita sungguh bertemu/bersentuhan dengan Allah yang melampaui kita, yang bukan produk imajinasi manusia, yang memerintah dan menuntut kita, kita akan merasa takut. Dalam hal ini, Gereja yang sejati adalah fellowship of fear, bukan cuma fellowship of joy. Sadarkah kita akan hal ini? Kita di sini adalah fellowship of fear.
Apa penghiburannya? Tadi kita melihat cerita Transfigurasi ini ada shadow stories dengan Perjanjian Lama, dengan sesuatu yang di belakang. Namun yang menarik, cerita Transfigurasi ini ternyata juga sendirinya adalah suatu bayang-bayang dari realitas yang kita temukan di depan. Ada paralel dan juga kontras yang aneh, yang kita temukan antara cerita Transfigurasi dengan cerita crucifixi, cerita penyaliban. Waktu merenungkan yang satu, Saudara harusnya mau tidak mau akan merenungkan yang satu lagi. Dua-duanya terjadi di atas bukit/gunung. Di atas gunung, transfigurasi Yesus dinyatakan dalam kemuliaan-Nya; di atas bukit Golgota Yesus dinyatakan kemuliaan-Nya melalui kehinaan-Nya. Di bukit yang ini jubah-Nya bercahaya terang; di bukit yang itu baju-Nya direnggut, dirampas, diundi, dan dibagikan di antara serdadu-serdadu. Di bukit yang ini Dia dikelilingi oleh Musa dan Elia, dua pahlawan besar dalam sejarah Israel; di bukit yang itu, di samping kiri kanan-Nya ada para penyamun. Di bukit yang ini ada awan terang menaungi seluruh adegan; di bukit yang itu kegelapanlah yang menyelubungi tanah itu. Dengan demikian Saudara menyadari bukan cuma fakta, tetapi juga signifikansi, bahwa Allah yang disruptif ini telah terlebih dulu memberi diri-Nya ter-disruptif demi engkau dan saya.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading