Hari ini perayaan ulang tahun GRII Kelapa Gading ke-27, maka kita akan membahas Kitab Pengkhotbah. Pas ‘kan, untuk tema ulang tahun: ‘kesia-siaan’.Segala sesuatu sia-sia, termasuk perayaan-perayaan HUT itu sia-sia. Tidak Saudara. Saya pikir ini pas bagi kita orang Kristen, karena momen HUT bukan momen untuk memberi selamat pada diri sendiri (self congratulation): ‘Kita hebat ya, gedung kita bagus, selama ini kita sudah banyak kerja bagi Tuhan, dst.’
Hari ulang tahun seharusnya adalah hari ketika kita bisa mendapat ruang (space) untuk mengeluarkan pertanyaan-pertanyaan keras/sulit, yang mungkin sudah kita hindari selama setahun terakhir. Misalnya:
- Jadi gua ngapain aja selama setahun terakhir ini?
- Waktu berbulan-bulan itu terbuang ke mana?
- Sebenarnya hidup itu untuk apa?
- Apa yang sebenarnya kita rayakan ketika merayakan ulang tahun?
Pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya sangat wajar dan natural keluar pada waktu ulang tahun. Setiap kali ulang tahun, umur kita bertambah satu, kita langsung bertanya: “Apa maksudnya bertambah satu seperti ini?” Jangan-jangan selama ini manusia suka melakukan pesta dan perayaan di hari ulang tahun, justru untuk menenggelamkan diri, untuk mengalihkan diri dari pertanyaan-pertanyaan ini, karena tidak suka ketika pertanyaan-pertanyaan seperti ini keluar.
Omong-omong, jangan salah tangkap, saya mengajak kita memikirkan ini, bukan karena saya orangnya benci perayaan, benci sukacita, sukanya mojok cemberut dan depresi. Namun karena yang saya benci, dan saya rasa Saudara juga benci, adalah perayaan-perayaan palsu, sukacita-sukacita kosong yang dangkal. “Mari kita be happy karena ini HUT.” Mengapa HUT harus happy? Tidak tahu, bodo amat, jangan tanya pertanyaan-pertanyaan seperti itu, nanti happy-nya kabur. Saya tidak mau happiness yang semacam itu, dan saya rasa Saudara juga sudah muak dengan itu. Itu sebabnya, kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang sulit, justru karena kita ingin perayaan yang sejati, dan sukacita yang sejati. Apakah benar ada yang bisa kita rayakan dalam HUT hari ini, yang benar-benar bisa membawa sukacita yang sejati? Kalau kita mau mendapatkan jawabannya, tidak bisa tidak, kita harus berani mengeluarkan dan menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang serius dan keras itu. Jadi saya tidak anti sukacita, saya hanya benci dan muak dengan sukacita-sukacita palsu. Itu sebabnya, saya mengajak bertanya pertanyaan-pertanyaan keras, justru dalam pengharapan akan sukacita yang benar-benar sejati.
Orang yang selalu menghindar dari refleksi yang mendalam, dari pertanyaan-pertanyaan yang serius, justru adalah orang-orang yang anti sukacita. Mereka sepertinya sudah pasrah, bahwa dalam hidup mereka tidak ada sukacita yang sejati. Jadi mereka memuaskan diri hanya pada perayaan-perayaan palsu yang dangkal. Kita semua tentunya tidak mau menjadi seperti itu. Jadi siapkan hatimu, pikiranmu, staminamu, untuk bertanya pertanyaan-pertanyaan yang serius dan keras ini.
Di dalam Alkitab, hanya sedikit kitab yang bertanya pertanyaan-pertanyaan yang lebih keras dibandingkan Kitab Pengkhotbah, oleh karena itulah kita masuk ke dalamnya. Saya ingin kita melihat 2 hal dalam Kitab Pengkhotbah:
- Apa arti dari istilah הֶבֶל hevel (bahasa Ibrani)?
Oleh LAI diterjemahkan sebagai ‘kesia-siaan’, tapi ini bukan terjemahan yang benar-benar tepat, maka kita pakai saja istilah aslinya: ‘hevel’.
- Apa yang berulang kali dihadirkan sebagai aplikasi praktis dalam kitab ini?
Kalau hidup itu hevel, lalu bagaimana, apa aplikasi praktisnya? Saudara akan senang dengan aplikasi praktisnya, karena (nanti kita akan lihat berulang kali) Pengkhotbah mengatakan aplikasi praktisnya adalah: “Mari kita makan-makan.”
2 Hal dalam Kitab Pengkhotbah
Pertama: Arti Hevel
Kata hevel muncul 38 kali dalam kitab yang hanya terdiri dari 12 pasal. Jadi tidak diragukan ini adalah istilah kunci dalam kitab ini. Saudara mungkin sudah familier dengan arti dalam level pertama.
Arti pertama hevel (secara hurufiah): asap, uap, smoke, vapor.
Sesuatu yang nuansanya fana, tidak bertahan, segera lenyap, maya. Dalam Kitab Pengkhotbah memang ada nuansa seperti ini ketika istilah hevel digunakan. Misalnya di pasal 5 ayat 13-14, Pengkhotbah mengatakan: ‘Aku melihat ada orang kaya, tapi pada waktu matinya kehilangan semua yang dia kumpulkan. Tidak ada yang bisa dia wariskan. Itu hevel, itu sia-sia.’ Jadi kekayaan dan hidupnya cuma asap, uap, ilusi, lewat begitu saja. Sekarang ada, setelah itu hilang (seperti asap). Itu makna hevel yang kita mungkin terbiasa, itu sebabnya LAI menerjemahkan hevel sebagai kesia-siaan, ini cukup masuk akal.
Arti kedua hevel: misteri, enigma, sesuatu yang kita tidak bisa mengerti.
Arti dalam level kedua, mungkin jarang kita dengar dan kurang familier. Tapi boleh dibilang, inilah arti yang lebih banyak muncul dalam kitab Pengkhotbah. Yaitu hevel mewakili sesuatu yang tidak bisa dipegang, tidak bisa ditangkap, seperti asap atau uap. Waktu kita melihat asap, ada bendanya, tapi waktu kita berusaha untuk memegangnya, asap itu hilang. Ada tapi tidak ada. Riil bisa dilihat, tapi momen kita berusaha untuk memegangnya: tidak terpegang, hilang, atau berubah bentuk. Jadi arti kedua hevel adalah misteri, enigma, sesuatu yang kita ‘gak bisa mudheng.Ketika Saudara datang mendengar khotbah-khotbah di Kelapa Gading selama ini, dan waktu pulang Saudara mengatakan, “Gua ‘gak mudheng khotbah tadi.” Nah, itu hevel, Saudara.
Arti kedua inilah yang sebenarnya lebih banyak kita lihat di sepanjang Kitab Pengkhotbah. Misalnya di pasal 8 ayat 14, coba kita ganti kata kesia-siaan, terjemahan LAI, dengan kata hevel: Ada suatu hevel yang terjadi di atas bumi: ada orang benar yang mengalami apa yang layak untuk perbuatan orang fasik, dan ada orang fasik yang mengalami apa yang layak untuk perbuatan orang benar. Aku berkata, “Ini hevel!”
Setelah kita ganti kata sia-sia dengan hevel, kira-kira apa arti hevel di sini? Kita bisa melihat arti kedua hevel yaitu kita ‘gak mudheng: “Kok gitu sih? Orang jahat dapat hal-hal yang baik, orang benar malah kena sial. ‘Gak mudheng aku. Ini hevel.” Hevel adalah ketika kita merasa hidup itu harusnya seperti ini, kelihatannya harusnya seperti itu, tapi hidup ini ternyata tidak bisa dipegang. Begitu kita berusaha untuk memegangnya, dia berubah bentuk, ganti haluan, hilang, hevel. Apa-apaan ini?
Contoh yang lain, kita semua tentunya punya konsep keadilan: ‘orang-orang yang jahat harusnya kena batunya, orang-orang yang benar harusnya menerima kebaikan. Dunia harusnya seperti begitu ‘kan?’ Kelihatannya memang ada prinsip umum seperti itu, yang sedikit banyak kita percaya, dan itu benar-benar terjadi: rajin pangkal kaya, malas akan miskin. Namun apakah selalu seperti itu? Tidak. Ada kasus-kasus di mana kita melihatnya seperti riil, tapi momen kita bergerak dari melihat ke memegang, hilang dia. Begitu kita mau menjalankan, dan berpikir ini adalah prinsip yang bisa terus kita pegang, hilang dia. Hidup itu menolak untuk kita pegang. Hidup itu hevel, enigma, misteri, ‘gak mudheng aku, ‘gak bisa aku memegangnya. Hevel adalah apa yang akan kita ucapkan ketika hidup itu mengecewakan, ketika kita mengalami situasi-situasi hidup yang membongkar seberapa ekspektasi kita itu salah.
Contoh yang lain lagi, tidak perlu jauh-jauh, kita bisa mulai dengan kekristenan kita. Dalam kekristenan hari ini, semua orang Kristen percaya bahwa kita hidup dalam dunia yang jatuh dan berdosa. Bahwa segala sesuatu dalam dunia kita pada hari ini, baru akan beres nanti ketika Kristus datang, bukan sekarang. Itu yang kita akui sebagai iman kita. Namun kita tidak menghidupinya dalam hidup kita dan bahkan kekristenan kita. Kita mengejar kepuasan-kepuasan hidup hari ini seolah-olah kita bisa mendapatkannya. Misalnya: Saudara datang ke gereja mau ngapain? Saudara mengikut Yesus untuk apa? Kita tidak mengakui secara terang-terangan hal ini, tapi ujung-ujungnya kita melakukan semua keagamaan ini supaya ada nilai plus yang kita bisa bawa masuk ke dalam hidup kita, supaya hidup kita bisa nambah sesuatu. Pada dasarnya kita datang ke gereja, seperti kita mengambil kelas yoga atau pilates, karena kita rasa ada sesuatu yang kita bisa dapat. Kekristenan model begini bukan hanya dihidupi oleh orang-orang gereja seberang, tapi termasuk banyak dari orang-orang GRII. Yaitu mindset yang mengatakan bahwa peran Tuhan dalam hidupku adalah untuk membuat hidupku jadi lebih: –lebih …–, lebih mulus, lebih teratur, lebih baik sehingga problem-problemku berkurang dan aku bisa lebih ada sukacita, dsb; supaya aku bisa dapat. Saudara tidak akan mau terang-terangan mengakui hal ini, dan sesungguhnya banyak dari kita tidak sadar bahwa kita datang membawa ekspektasi seperti ini ke gereja, sampai momen ketika ekspektasi tersebut pecah berantakan di depan kita, baru kita sadar kita punya ekspektasi. Misal, Saudara pulang dari gereja, kecewa sama pengkhotbahnya, apa kalimatmu? Apa coba kalimatmu, kalau bukan: “Gua ‘gak dapat apa-apa hari ini.” Saudara baru sadar/mengakui bahwa engkau memang datang untuk dapat, engkau datang dengan ekspektasi. Inilah kehidupan, Saudara. Kita seringkali baru sadar kita punya ekspektasi ketika ekspektasi itu gagal kita dapatkan.
Semua pasangan yang datang mau menikah mengatakan, “Oh, saya ‘gak ada tuntutan apa-apa. Yang penting pasanganku itu bisa happy.” Saya percaya, Saudara, mereka itu jujur. Mereka pikir mereka benar-benar tidak ada ekspektasi. Karena memang seperti itulah: kita bahkan tidak tahu kita punya ekspektasi, sampai ekspektasi kita pecah berantakan, baru kita mulai sadar ternyata aku punya ekspektasi.
Ternyata aku punya ekspektasi: ‘hidup itu harusnya kayak begini, tapi ternyata ‘gak; gereja itu harusnya kayak begini, tapi kok ternyata ‘gak; khotbah itu harusnya kayak begini, tapi kok ternyata ‘gak.’ Ketika ini terjadi, kita mulai mempertanyakan keputusan-keputusan kita: ‘ngapain sebenarnya saya Kristen kalau kekristenan ternyata seperti ini; ngapain saya nikah kalau nikah ternyata seperti ini; gua kira kayak begitu tapi ternyata kayak begini.’ Nah Saudara, inilah situasi-situasi hidup kita ketika kita mengatakan hevel. “Hidup itu kok hevel sih, misteri, aneh, enigma, ‘gak kepegang.”
Kedua: Yang Berulang Kali Dihadirkan sebagai Aplikasi Praktis – Makan-Makan
Saya ingin kita melihat hal yang aneh kedua dalam kitab ini, yang berulang kali muncul, yaitu kalau hidup memang hevel lalu sekarang apa jawabannya? Ini muncul berulang kali, tidak cuma sekali, maka kita akan melakukan survei singkat kitab ini dari depan sampai belakang. Yang saya ingin Saudara lihat, bukan lihat detailnya tapi lihat kontrasnya. Saudara akan melihat kontras antara dua bagian.
1. Pengkhotbah 2:20-25
Bagian 1: hevel (ay. 20-23). Segala usaha yang dilakukan dengan jerih payah di bawah matahari bikin putus asa, hidupnya penuh kesedihan dan pekerjaannya penuh kesusahan hati à hidup yang hevel. Ekspektasinya pecah berantakan, tetapi setelah itu tiba-tiba ganti gigi, ganti haluan, ganti arah (ganti giginya ini kasar banget, sampai mesin mobilnya ngelitik).
Bagian 2: makan dan minum (ay. 24-25). Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya. Aku menyadari bahwa ini pun dari tangan Allah. Karena siapa dapat makan dan merasakan kenikmatan di luar Dia?
‘Gak nyambung ya.
2. Pengkhotbah 3:9-13
Bagian 1: hevel (ay. 9-11). Apakah untung pekerja dari pekerjaannya? Pekerjaan yang melelahkan dirinya. Tapi tidak dapat menangkap kekekalan pekerjaan yang dilakukan Allah à hevel. Tiba-tiba ganti haluan lagi.
Bagian 2: bersuka-suka, makan dan minum (ay. 12-13). “Yuk, makan dan minum.”
3. Pengkhotbah 3:20-22
Bagian 1: hevel (ay. 20-21): Bicara mengenai kematian. Kematian adalah hal yang membuat kita menyadari hidup itu paling hevel. Segala sesuatu hevel, tapi lalu ganti haluan lagi.
Bagian 2: bergembira (ay. 22). Tidak ada yang lebih baik bagi manusia dari pada bergembira dalam pekerjaannya, sebab itu adalah bahagiannya.
4. Pengkhotbah 5:15-20
Bagian 1: hevel (ay. 15-17). Sebagaimana ia keluar dari kandungan ibunya, demikian juga ia akan pergi, … tidak diperolehnya dari jerih payahnya suatu pun yang dapat dibawa dalam tangannya à hevel.
Bagian 2: makan minum, bersenang-senang (ay. 18-20). Setiap orang yang dikaruniai Allah kekayaan dan harta benda dan kuasa untuk menikmatinya, untuk menerima bahagiannya, dan untuk bersukacita dalam jerih payahnya juga itupun karunia Allah.
5. Pengkhotbah 8:14-15
Bagian 1: hevel (ay. 14). Tentang orang benar dan orang fasik à hevel.
Bagian 2: Tetapi tidak ada kebahagiaan lain bagi manusia kecuali makan, minum, dan bersukaria (ayat 15).
6. Pengkhotbah 9:3-9
Bagian 1: hevel (ay. 3-6). Kemudian mereka menuju alam orang mati. Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang yang mati tak tahu apa-apa à hevel semuanya.
Bagian 2: makan minum, pakaian putih, minyak di atas kepala, nikmati hidup dengan istrimu (ay. 7-9). Karena itu yang dikaruniakan Tuhan. Itulah bahagianmu dalam hidup dan dalam usaha yang engkau lakukan dengan jerih payah di bawah matahari.
7. Pengkhotbah 11:7-10
Bagian 1: hevel (ay. 7-8). Jikalau orang panjang umurnya, biarlah ia bersukacita di dalamnya, tetapi hendaklah ia ingat akan hari-hari yang gelap, karena banyak jumlahnya. Segala sesuatu yang datang adalah hevel.
Bagian 2: bersukaria pada masa mudamu (ay. 9-10). Bersukarialah, hai pemuda, …, tetapi Allah akan membawa engkau to account (bukan ke pengadilan, tetapi untuk bertanggung jawab atas perbuatanmu).
So, basically Saudara melihat pola ini muncul berulang kali sepanjang kitabnya, bukan cuma sekali tok, tapi muncul di pasal 2, 3, 5, 8, 9, 11, dari ke-12 pasal Kitab Pengkhotbah. Dalam setiap pola ini Saudara membaca hal yang sama. Penulis di satu sisi putus asa melihat ke-hevelan dari hidup dunia ini: bahwa kita itu ternyata ‘gak benar-benar pegang kendali, hidup itu ‘gak mudheng, misteri -kita pergi ke kiri, dia pergi ke kanan-. Dan semua ujungnya apa? Kematian. Entah kamu berhikmat atau bodoh, sama saja ujungnya kamu mati. Hevel semuanya. Namun setiap kali Saudara membaca juga, penulis tiba-tiba ganti haluan yaitu: ‘Apa yang selalu muncul jadi kesimpulan praktis? Apa yang selalu muncul sebagai jawaban kitab ini terhadap misteri kehidupan yang tidak bisa dipegang itu? Makan-makan, nikmati makan-makan.’ Haleluya, kata orang Kelapa Gading. Namun Saudara akuilah, sebagai orang Kelapa Gading pun kita bingung dengan ini. Apa maksudnya? Hevel ini, hevel itu, itu semua hevel, itu semua cuma asap, uap, kematian, kita semua akan mati, …maka enjoy-lah kehidupan. Makanlah dengan teman-temanmu. Kalau engkau dapat istri, bersukacitalah, nikmatilah itu. Enjoy hari-harimu, karena hari-hari yang gelap akan datang. Engkau nanti akan tua, tidak tahu lagi mau ngapain, tidak bisa lagi ngapa-ngapain, jadi selagi engkau muda nikmatilah hidupmu selagi masih bisa.
Kita membaca ini jadi merasa yang menulis itu mungkin orang gila ya, dia seperti punya dua suara di kepalanya atau something; ada something wrong dengan orang ini. Well, maybe ‘gak, Saudara. Setiap kali kita melihat ada something wrong dengan Alkitab, dan karena ini Alkitab, maka selalu worth asking: ‘Apakah jangan-jangan yang something wrong itu ada di kita? Kenapa bagi kita dua hal ini tidak kompatibel?’ Somehow kita melihat dunia ini cuma ada dua kemungkinan:
- Kemungkinan pertama. Ketika kita, seperti penulis Kitab Pengkhotbah, sampai pada kesimpulan bahwa dunia dan kehidupan itu hevel, hidup itu tidak masuk akal, segala sesuatu aneh, dan tidak bisa dipegang, maka kita akan putus asa, cuma bisa ngomel-ngomel, malas ngapa-ngapain. “Whatever, terserahlah mau ngapain, hidup ini aneh.”
- Kemungkinan kedua. Jikalau saya ambil bagian belakangnya yaitu saya bisa bersukacita dalam hidup ini, jika saya bisa melihat hidup ini sebagai berkat Tuhan, itu karena hidupku tidak hevel dong. Itu berarti hidupku berjalan sesuai dengan keinginanku, hidupku ternyata mudheng, rencana-rencanaku ternyata berhasil, Tuhan menyertai hidupku, itu sebabnya aku bisa bersukacita.
Seharusnya cuma ada dua kemungkinan ini ‘kan. Namun Kitab Pengkhotbah mengatakan ‘tidak’: sesungguhnya hidup yang penuh dengan kegagalan dan kekecewaan, hidup yang kita mengatakan hevel, apa ini maksudnya, aneh banget; hidup yang gagal seperti itu adalah jalan untuk mengalami sukacita. Menyadari bahwa hidup itu memang hevel, aneh, dan ‘gak mudheng justru adalah kunci bagi kemampuan untuk bisa menikmati hidup dengan segala berkatnya. Itu yang Kitab Pengkhotbah mau katakan dari tadi, Saudara. Kita melihat kegagalan sebagai halangan terhadap sukacita. Sang Pengkhotbah melihat kegagalan-kegagalan hidup sebagai kesempatan untuk bersukacita.Kok bisa seperti ini, Saudara?
Basically, jawabannya adalah karena momen-momen hevel, kegagalan, kesulitan, kekecewaan, pecahnya ekspektasi-ekspektasi hidup adalah momen ketika apa yang sejati dan apa yang asli, apa yang riil dan bukan palsu, itu ketahuan dan dibawa keluar. Di bawah ini adalah 3 contohnya.
Contoh pertama. Momen ketika kita kecewa dengan Gereja adalah momen ketika kita jadi tahu sesungguhnya seperti apa Gereja yang sejati itu. Kita juga jadi tahu, sebenarnya kita punya ekspektasi seperti apa terhadap gereja. Ketika kita kecewa dengan Gereja, realitanya jadi keluar.
Contoh kedua. Momen ketika kita kecewa dengan pernikahan, momen ketika kita merasa pernikahan kita gagal -hevel- adalah justru momen ketika kita mulai tahu bahwa kita ’gak sekeren yang kita bayangkan. Kita ternyata ‘gak cuma simply ingin pasangan kita happy tok, tetapi kita ternyata juga punya banyak ekspektasi. Kita juga punya banyak tuntutan dan mungkin banyak dari tuntutan-tuntutan itu sebenarnya tidak masuk akal, tidak realistis, ‘gak bisa kejadian. Ketika engkau merasa hevel dalam pernikahan itu, engkau mulai sadar apa itu realita pernikahan yang muncul lewat situasi-situasi hevel.
Contoh ketiga. Saudara, coba perhatikan kategori video-video yang paling laku di sosmed. Ada satu kategori yang lucu yaitu yang biasanya disebut epic fail(kegagalan besar, kegagalan total). Video dengan kategori epic fail ini banyak sekali, sangat laku, dan sering muncul. Apa premisnya? Yaitu orang ingin melakukan sesuatu tapi ternyata hidup itu hevel, ‘gak kepegang, sehingga mereka gagal, hasilnya ternyata totally lain dengan apa yang mereka bayangkan. Kenapa video-video seperti ini sangat laku, Saudara? Kenapa kita tertawa waktu melihatnya? Karena video-video ini sepertinya bukan cuma lucu, tapi nyambung/resonance dengan suatu pengalaman dalam hidup manusia. Video-video seperti ini menyajikan suatu ironi dalam realita kehidupan, bahwa manusia senantiasa punya ekspektasi, punya harapan, punya terkaan yang sebenarnya tidak realistis; lalu terjadilah hal-hal dalam kehidupan yang tidak bisa dikendalikan, dan semua ekspektasi tersebut buyar. Kalau ini terjadi secara lucu, itu masuk dalam kategori video-video epic fail (yang kita senang nontonnya), tapi tentunya dalam skala lain ini juga bisa tragis, -ini bisa di antara dua ekstrem seperti itu-.
Inilah kehidupan kita, Saudara. Kita punya rencana bagi sekolah kita, bagi karir kita, bagi relasi-relasi kita, dan ternyata hidup itu hevel, maka terjadilah segudang epic fail dalam hidup kita. Karena ternyata hidup itu tidak predictable, ‘gak bisa kepegang, gua pikir kayak begini, ternyata kayak begitu. Itu sebabnya semua ini kita kategorikan sebagai penghalang/perusak bagi kehidupan yang bersukacita. Setiap kali aku gagal, aku tidak bisa bersukacita. Dan Kitab Pengkhotbah masuk di tempat itu dan mengatakan ‘tidak’.Pengkhotbah mengatakan justru momen-momen kegagalan -hidup yang hevel– seperti itu sangat berharga dan adalah kunci bagi hidup yang bersukacita, jalan untuk mengalami sukacita. Mengapa bisa demikian? Ada 2 hal.
Pertama: Menyadari Tidak Pegang Kendali
Momen kegagalan membuat kita bisa mulai sadar akan ilusi kebohongan yang selama ini kita pegang, yaitu kita pikir hidup ini ada dalam kendali kita. Oleh karena itu, kalau saja kita bisa punya rumusannya/master key-nya maka kita bisa kok mengendalikan hidup ini. Ini bohong kan, Saudara? Ini ilusi. Bagi Pengkhotbah, lebih cepat kita bangun dari ilusi, akan lebih baik. Karena semakin kita berusaha untuk memegang hidup ini, berusaha untuk mengendalikan hasil akhir dari hidup yang hevel -yang sebenarnya ‘gak kepegang-, semakin kita berusaha untuk memastikan hal-hal dalam hidup ini ke kiri atau ke kanan, semakinlah kita tidak bisa bersukacita. Semakinlah kita buta terhadap momen-momen keseharian yang sebenarnya Tuhan berikan bagi kita untuk bersukacita. Semakin kita berusaha untuk mengatur segala sesuatu, semakin kita tidak mampu untuk bersukacita. Saya punya 2 contoh.
Contoh pertama: dalam membesarkan anak. Semua orang tua, termasuk saya, apalagi yang baru punya anak yang pertama (kalau anak yang ke-10 katanya sudah lain), ada yang namanya parental anxiety, rasa cemas yang berlebihan. Kita ingin sekali anak kita bertumbuh ke arah tertentu. Kita ingin sekali dia bisa menjadi orang jenis tertentu sesuai dengan harapan kita -ekspektasi kita-. Oleh karena itu, kita cemas kembang kempis terhadap detail-detail mikro yang anak ini lakukan atau tidak lakukan. Baru umur 2 atau 3 tahun, kita melihat anak ini dan bertanya, “Aduh dia kayak begini, dia autis atau bukan ya? Dia ADHD atau bukan?” Kita cek-cek ke buku, dsb. Saudara, jangan salah tangkap, sebagai orang tua tentu saja kita punya tanggung jawab, dan sebagai orang tua bagaimanapun juga kita adalah salah satu pihak yang punya influence paling besar terhadap anak-anak kita. Kita memang perlu memakai influence tersebut dengan tanggung jawab untuk membawa kebaikan ke dalam hidup anak kita. Tentu saja saya tidak menyangkal semua hal itu. Namun Saudara tahu panggilan kita sekadar untuk membimbing, tetapi pada kenyataanya panggilan untuk membimbing ini sangat mudah bergeser jadi kewajiban untuk mengendalikan hidup anak tersebut. Kalau terjadi seperti itu, ketika orang tua berusaha untuk mengendalikan anaknya, maka kedua belah pihak baik orang tua dan anak, akan kehilangan dan melewatkan banyak momen-momen yang harusnya membawa sukacita dalam hidup mereka. Mereka akan melewatkan banyak sukacita yang sebenarnya Tuhan sediakan dalam momen-momen kehidupan mereka karena orang tua yang terobsesi dengan kendali.
Misalnya, saya terlalu terobsesi dengan perilaku anak saya. Lalu suatu hari, untuk pertama kalinya, saya harus handle dua anak kembar saya itu sendirian, dan membawa mereka ke tempat publik. Saya pasti akan penuh dengan anxiety seperti itu kan. Saya harap-harap cemas, mereka ini bisa beradab atau ‘gak ya? Saya kembang kempis setiap kali mereka mulai kelihatan seperti mau liar atau error-erornya mulai muncul. Saudara lihat, menjadi orang tua selalu penuh dengan anxiety seperti ini kan, dan ketika saya terobsesi untuk mengendalikan perilaku mereka seperti itu, maka satu hal yang pasti adalah sepanjang hari itu saya tidak akan bisa menikmati momen-momen yang Tuhan berikan dengan mereka. Saya mungkin akan menghabiskan waktu seharian hanya untuk ngomel-ngomel atau sport jantung atau dua-duanya.
Namun ironisnya adalah 20 tahun dari momen tersebut, 20 tahun yang akan datang, ketika anak-anak itu sudah dewasa dan sudah sibuk masing-masing, berapa banyak orang tua yang merasa, “Aduh, gua rela loh tukar apa pun untuk bisa kembali ke momen-momen mereka masih lucu-lucunya itu.” Tapi sudah ‘gak bisa kan, dan ironisnya adalah momen di mana mereka masih lucu-lucunya itu, kita kerjanya malah ngomel-ngomel tok. Kenapa bisa terjadi seperti itu? Karena kita masih ada dalam ilusi bahwa tanggung jawab kita adalah untuk mengendalikan anak-anak tersebut. Kita mengira bahwa seharusnya kita sanggup mengendalikan mereka. Padahal anak tersebut ‘gak pernah milik kita, Saudara. Mereka itu pribadi tersendiri masing-masing di hadapan Allah. Dan sekali lagi, walaupun kita bertanggung jawab untuk membimbing mereka, kita sangat bodoh kalau berpikir bisa mengendalikan mereka.
Oleh karena itu, semakin cepat engkau dibangunkan dari ilusi ini, semakin baik kan? Semakin ada kapasitas untuk engkau mulai bisa siap bersukacita menikmati momen-momen yang Tuhan berikan dengan anak tersebut. Di dalam dan melalui apa ilusi-ilusi itu dihancurkan dalam hidup kita? Melalui momen-momen kegagalan, melalui momen-momen hevel.
Tadi saya mengatakan waktu anak pertama kita kembang kempis habis-habisan, anak kedua sudah lebih ‘gak terlalu, anak kelima sudah santai, anak kesepuluh sudah dibiarkanke jalanan sendirian, gitu kan ya, kenapa seperti itu, Saudara? Karena begitu kita masuk ke anak kedua, kita mengalami kegagalan demi kegagalan, “Lho, kok jurus yang berlaku buat anak pertama tidak berhasil untuk anak kedua?” Gagal, kan. Saudara mulai menyadari, “Ternyata saya tidak pegang kontrol atas anak ini.”
Saudara, ada enaknya juga ternyata langsung punya anak kembar (meskipun keluar dua sekaligus itu mampus). Enak dalam arti apa? Dalam arti, dari awal saya dan istri jadi sadar seberapa kami tidak punya kendali atas anak-anak tersebut. Karena dua-duanya dikasih makan yang sama, dua-duanya jam tidurnya sama, dua-duanya diperlakukan sama persis, tetapi dua-duanya tidak bisa lebih beda lagi satu dengan yang lain. Yang satu mau ke kiri, yang satu mau ke kanan. Padahal kami memperlakukan mereka benar-benar sama, tapi kok bisa beda kayak begini? Kesimpulannya, lega kan, memang inilah anak-anak, mereka pribadi sendiri. Kamu bertanggung jawab untuk membimbing mereka tapi kamu tidak akan mungkin mengendalikan mereka. Nah kesimpulan itu langsung keluar kalau Saudara punya anak kembar.
Kalau Saudara anaknya keluar satu-satu maka Saudara baru mulai menyadari hal ini di anak kedua, dan lebih menyadari hal ini lagi di anak yang ketiga, “Ternyata jurus yang pertama ‘gak bisa masuk di kedua. Jurus yang masuk di pertama dan kedua ‘gak bisa buat yang ketiga. Ternyata semua anak ini lain-lain. Ternyata mereka tidak benar-benar dalam kendali siapapun.”
Ketika Saudara mulai menyadari hal ini, dan dibangunkan dari ilusi kontrolmu ini, maka mulailah Saudara menjadi orang tua yang lebih santai, yang lebih bisa take it easy, yang lebih bisa menikmati masa-masa yang kau punya dengan anak-anakmu. Lucu, Saudara. Kegagalan dalam hidup adalah kunci bagi sukacita.
Contoh kedua: pertumbuhan Gereja. Contoh ini sangat relevan dengan tema HUT gereja hari ini. Kalau tadi saya bicara lebih universal, sekarang saya mau mengajak Saudara untuk masuk ke dalam dunia saya. Kalau Saudara seperti saya, misalnya Saudara ditugaskan menjadi seorang gembala sidang atau pemimpin gereja, maka Saudara akan mulai menyadari ternyata urusan memimpin gereja itu ada ada industrinya. Ada market yang besar sekali yang memperjual-belikan produk-produk (buku, video, konferensi) yang isinya membicarakan tentang bagaimana memajukan gereja, bagaimana mempertumbuhkan gereja, bagaimana cara memimpin sebagai seorang pelayan (servant leadership), bagaimana punya visi yang jelas bagi gereja. Kita sebagai orang GRII tentunya mesti mengakui, sedikit banyak kita terkena dengan hal ini.
Saya kadang geli sendiri kalau sedang ngobrol dengan pemuda-pemudi, yang bertanya bagaimana pendapat saya tentang pergumulan mereka untuk menjadi hamba Tuhan. Pergumulan itu dikarenakan mereka merasa tertekan dengan pekerjaan sekuler mereka dan merasa: “Kayaknya Pak Jethro tuh kalau memimpin khotbah ada sukacita gitu.” Lihat darimana kita lebih sukacita daripada lu, kayaknya ngaco deh. Waktu saya memimpin retreat pemuda di Singapura, mereka curhat, di Singapura mereka sangat dituntut, segala sesuatu berdasarkan KPI (Key Performance Indicator), begitu mereka gagal mencapainya, leher mereka ditebas dan langsung diinjak-injak, orang lain naik di atas mereka. Mereka curhat in such a way seperti mereka pikir kami para hamba Tuhan tidak mengalami hal seperti itu. Jadi yang kami ceritakan kepada mereka adalah: “Di GRII itu kayak gini ya, setiap kali kamu bertemu petinggi di GRII, pertanyaan pertama adalah selalu jumlah jemaat.” Lalu mereka mengatakan, “Buset, bosku aja masih ada basa-basi.”
Di GRII, orang yang bisa menambah jumlah jemaat diperlakukan seperti putra mahkota, tapi orang yang jumlah jemaatnya segitu-segitu saja, atau amit-amit berkurang, akan diperlakukan lain sekali. Jadi dalam gereja ada hal seperti ini. Apalagi kalau kita adalah tipe orang-orang yang personality-nya get things done, yang produktif, maka ada industri besar yang mengatakan: “Ayo pakai cara kita, ayo ini ada segudang cara supaya jemaatmu bisa bertumbuh.” Ini terjadi di antara para pendeta, para gembala sidang, even dalam hati saya sendiri, kadang-kadang saya juga mendeteksi getaran-getaran yang mengarahkan seperti itu: “Come on, let’s do this. Ayo lakukan ini di gereja kita. Kita akan bikin dampak yang besar bagi dunia. Kita akan memperkembangkan OSG (Organic Small Group), kita bikin target: di akhir tahun sudah ada 80 kelompok OSG.” Saudara tahu apa yang sedang saya katakan di sini: kita punya segala macam target dan harapan kita. Namun kemudian kita sadar ini Gereja. Gereja itu bukan gedungnya (ada lagunya), tapi Gereja itu orang-orangnya. Dan orang-orangnya ini apa, Saudara? Apa mereka target? Apa mereka adalah angka di atas kertas laporan akhir tahun? Saudara menyadari ada semacam cara untuk melihat Gereja dan jemaat menjadi semacam alat dan sarana untuk mencapai mimpi-mimpi dan goal-goal tertentu. “Ini caranya, ini modelnya, kita akan pakai program ini.”
Selanjutnya ketika ini tidak tercapai, karena hidup ini hevel, apa yang terjadi? Saudara melihat para pendeta, para gembala sidang, para pemimpin mulai sakit hati terhadap jemaat mereka (tidak cuma jemaat yang bisa sakit hati terhadap para pemimpin). Pendeta ini mulai benci dengan orang-orang yang mereka dipanggil untuk menggembalakan. “Kok respons mereka terhadap programku itu tidak sesuai harapan.” Sesungguhnya Tuhan menaruh banyak sukacita dalam hubungan antara pendeta dengan jemaatnya (Tuhan memberi orang-orang lain dalam hidup kita untuk bisa mendapatkan sukacita dari mereka), tapi karena starting point kita dimulai dengan kontrol/ kendali, ‘saya ingin mencapai target ini dan ternyata mereka tidak bisa mencapai itu’, maka yang terjadi adalah sukacita kabur, sukacita hilang. “Ya ampun, gua sudah capek-capek siapin khotbah, capek-capek bikin khotbah yang sangat bertanggung jawab secara alkitabiah, sudah memberi ilustrasi-ilustrasi yang cukup, tapi mereka tetap saja ‘gak nangkap, masih bicara yang itu-itu lagi, salah-salah lagi, atau even worse, mereka masih saja berani complain, brengsek mereka ini.” Kira-kira kayak begitu. Itu bukan saya ya, Saudara, itu ceritanya saja begitu.
Saudara bisa pakai lensa yang sama untuk membaca pernikahanmu, atau kehidupan karirmu. Saudara bisa melihat semua ini terjadi karena starting point-nya adalah saya ini in control. “Saya punya tanggung jawab untuk make things happen dan saya akan lakukan itu. Kita akan pakai kesempatan hari ini yang tidak akan terulang lagi. Kita akan mendobrak zaman.” Itu starting point-nya, dan Saudara tahu ini bukan starting point Alkitab, karena hidup itu hevel, dan ujungnya Saudara akan gagal, dan kegagalan ini akan menyiksamu dan mematikanmu.
Starting point Alkitab sangat lain. Starting point Alkitab adalah sesungguhnya Gereja ini, engkau Saudara, engkau bukanlah tanggung jawabku. Saya mampu apa, Saudara? Saya tidak mampu apa-apa, saya tidak sanggup untuk bikin gereja ini ke kiri atau ke kanan satu senti saja, dan saya juga tidak tahu gereja ini mau jadi apa dalam 2 atau 3 tahun dari sekarang. Saya tidak tahu program-program kita akan menghasilkan apa. Saya tidak tahu itu. Yang bisa saya lakukan adalah hanya menyerahkan semua itu kepada Tuhan. Karena memang pada akhirnya, semua urusan gereja ini adalah bebannya Dia dan bukan bebanku. Ini bukan beban untuk aku tanggung. Bego banget kalau saya pikir, “Saya-lah orang yang pas, saya-lah orang yang sanggup untuk menanggung semua hal ini.” Oleh karena itu, apapun yang terjadi saya serahkan kepada Tuhan.
Saudara jangan salah tangkap, kalau kita berpikir seperti ini maka jadinya kita ‘gak ngapa-ngapain. Kalau kita sadar tidak bisa mengendalikan hasil akhirnya, maka kita tidak kerja apa-apa, itu simply sama saja dengan hal yang pertama tadi. Itu memakai rumusan yang sama: “Saya pikir saya bisa mengendalikan, maka saya kerja,” –sama dengan– “Saya sadar saya tidak bisa mengendalikan, maka saya tidak kerjakan apa-apa.”
Tentunya di gereja ini kita ada program, yang dalam beberapa tahun terakhir kita coba lakukan. Kita coba jalankan approach yang lebih liturgical, kita coba jalankan kalender gereja dengan segala keterbatasannya, kita coba mulai gerakkan lagi OSG, kita berusaha bikin KKR Regional yang tidak cuma hit and run tetapi juga ada Baca Gali Alkitab, dst. Namun ada beda yang sangat besar antara orang yang merasa terpanggil untuk membimbing versus orang yang merasa wajib untuk mengendalikan. Dan lucunya adalah momen di mana kita mulai menyadari seberapa kecil kendali yang kita punya, atas gereja Tuhan, atas pasangan hidup kita, atas karir kita, atau atas anak-anak kita, adalah momen di mana Sang Pengkhotbah mulai mengatakan, “Nah, sekarang kamu mulai siap untuk bisa mulai bersukacita, menikmati berkat-berkat Tuhan yang ada dalam semua hal itu.”
Dengan demikian, mungkin doa-doa kita dalam HUT tidak hanya berdoa bersyukur untuk kesuksesan-kesuksesan yang kita alami, Saudara bisa lho mengingat kegagalan-kegagalan yang terjadi sepanjang tahun ini. Hal itu bisa dilakukan kalau kita itu umat yang kembali ke Alkitab. Waktu kita menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang susah tadi, pertanyaan – “Ngapain aja gua setahun terakhir ini?”- (itu pertanyaan yang merampas sukacita), kita tidak berani menjawabnya, karena kita tahu jawabannya adalah kegagalan demi kegagalan. Namun dalam Alkitab, dalam umat Allah, dalam iman yang alkitabiah, pertanyaan seperti ini justru bisa menjadi pertanyaan kunci untuk kita bisa mengakses sukacita-sukacita yang lebih sejati. Waktu kita mengingat setahun ke belakang: khotbah-khotbah yang kita ‘gak mudheng, pelayanan-pelayanan yang kita rasa gagal, pelayanan-pelayanan yang kita lihat orang lain gagal; waktu kita melihat para hamba Tuhan, pengurus, atau sesama orang Kristen di gereja ini yang tidak sesuai dengan ekspektasi, “Kok orang kayak begini jadi hamba Tuhan sih? Kok orang kayak begini jadi pengurus sih? Kok orang Kristen kayak begitu sih?” Semua hal itu Saudara, mungkin kita juga perlu syukuri. Karena even dengan semua itu kita masih seringkali berpikir kita pegang kendali, apalagi kalau tidak ada semua hal itu. Dengan demikian semua hal ini, bisa kita bawa kepada Tuhan dan mengatakan, “Tuhan, saya bersyukur untuk semua kegagalan-kegagalan ini, karena saya jadi sadar, bukan saya yang pegang kendali atas gereja, atas siapa orang yang jadi hamba Tuhan, dan siapa yang tidak jadi hamba Tuhan. Bukan saya yang pegang kendali atas semua itu. Saya tidak punya pegang kendali apa-apa.” Itu sebabnya, begitu kita mulai menyadari hal ini, baru kita mulai bisa bersyukur dalam hidup ini.
Saudara, coba engkau datang ke gereja setiap hari Minggu dengan merasa adalah tanggung jawabmu untuk memastikan engkau dan seisi keluargamu mendapat firman Tuhan yang bergizi. Maka engkau datang ke gereja, tapi engkau tidak bisa beristirahat. Engkau harus bertanya siapa yang akan khotbah besok? Dan kalau yang khotbah itu dia, engkau berpikir apakah harus pindah ke tempat lain. Engkau tidak bisa beristirahat, apalagi bersukacita. Karena engkau pikir engkau in control. Lalu apa yang terjadi? Engkau pergi ke tempat lain karena berpikir di sana lebih bagus, tapi ujungnya engkau tetap kecewa di sana, karena hidup itu hevel. Entah perlu berapa ronde ke-hevel-hevelan seperti ini, sampai akhirnya engkau mengatakan di hadapan Tuhan, “Tuhan terima kasih. Akhirnya saya tahu realitanya. Realitanya adalah saya tidak pegang kendali. Saya punya tanggung jawab di hadapan-Mu, tapi saya tidak punya kendali atas semua hal ini.” Waktu engkau menyerahkan itu kepada Tuhan, baru engkau mulai bisa bersukacita, “Ternyata khotbah hari ini tidak sejelek yang saya pikir. Ternyata orang-orang Kristen di gereja ini tidak sehancur yang saya pikir, ternyata mereka tidak sebrengsek itu.”
Kedua: Perjamuan (Makan dan Minum) – Lambang Sukacita
Poin yang terakhir. Apa yang penulis pakai sebagai lambang sukacita dan berkat-berkat dari Tuhan yang kita diundang untuk menikmatinya? Makan dan minum (feasting). Ini muncul terus-menerus, dan tidak hanya dalam Kitab Pengkhotbah, bahwa makan dan minum dihadirkan sebagai lambang sukacita umat Allah. Dalam seluruh Alkitab, perjamuan makan adalah gambaran yang berkali-kali dipakai untuk mengungkapkan sukacita kenikmatan yang Tuhan ciptakan bagi manusia untuk manusia nikmati.
- Penciptaan: kisah penciptaan diakhiri dengan kelimpahan buah-buahan yang Tuhan ciptakan bagi manusia di Taman Eden.
- Janji Allah bagi Israel untuk menempati Tanah Perjanjian: Allah membahasakan janji tersebut dengan image makanan. Allah bukan mengatakan, “Hei, ini Tanah Perjanjian, luas ya, kamu bisa lari-lari sampai capek.” Namun gambarannya adalah: ‘Ini tanah yang berlimpah-limpah susu dan madunya, -makanan-‘.
- Hari Sabat: actually adalah hari ketika orang Israel bukan hanya disuruh berhenti bekerja, tetapi juga disuruh untuk mulai makan. Kita seringkali tidak sadar hal itu karena kita cuma fokus ke berhentinya saja. Kita tidak sadar apa yang disuruh untuk mulai pada hari itu: disuruh makan.
- Di Perjanjian Baru: perjamuan adalah apa yang Yesus lakukan berulang kali dengan orang-orang yang dianggap salah di mata dunia. Dia melakukan ini karena menurut Dia, perjamuan (makan-makan) adalah lambang hadirnya Kerajaan Surga.
- Di Kitab Wahyu (ending dari Alkitab): ketika langit dan bumi yang baru itu hadir dan akhirnya disatukan, maka apa yang terjadi adalah diselenggarakannya perjamuan dari Sang Anak Domba Allah.
Jadi gambaran perjamuan itu tidak main-main, Saudara, dan apa yang very interesting adalah ini: setiap kali kita makan, kita sedang memproklamirkan suatu misteri bahwa hidup kita hevel, hidup kita tidak dalam kendali tangan kita. Maksudnya apa, Pak? Setiap kali engkau makan, engkau sedang mengakui bahwa kehidupanmu bergantung pada sesuatu yang di luar dirimu, yang bukan engkau, dan yang tidak dalam kendalimu. Itu namanya makan. Engkau perlu makan untuk bisa bertahan hidup. Engkau tidak selalu memasak makanan yang kau makan. Kalau engkau memasak, apa yang kau masak pun seringkali tidak engkau tanam sendiri, dan bahkan jika engkau menanamnya, bukan engkau yang memberikan pertumbuhan, bukan engkau yang menciptakan matahari yang diperlukan untuk berfotosintesa. Nanti setelah khotbah, engkau ambil Shihlin, crispy chicken whatever, itu bukan dari mereka, mereka tidak ternak ayamnya sendiri, tapi mereka ambil ayamnya dari orang lain, dan orang lain itu ambil dari orang lain lagi, dst. Jadi setiap kali kita makan, kita sedang mengakui betapa kita itu rapuh, kecil, bergantung pada banyak hal di luar hidup kita, bergantung pada orang lain, maka tidak heran manusia umumnya kalau makan-makan bersama dengan orang lain. Lewat perjamuan, kita sedang memproklamirkan betapa kita itu membutuhkan pihak-pihak lain dalam hidup ini.
Saudara, apa yang terjadi setelah perjamuan? Engkau menjadi puas kan, engkau menjadi kenyang. Namun kekenyanganmu juga sementara, ‘gak bertahan ya. Exactly itulah mengapa gambaran ini adalah gambaran yang sangat pas untuk menunjukkan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita yang hevel ini. Yaitu dalam momen-momen makan, ketika kita bisa berhenti seketika dari pekerjaan-pekerjaan kita, dari kefrustrasian keringat-keringat kita di bawah matahari, dan kita bisa mencicipi realita yang sesungguhnya itu, seberapa kita kecil dan bergantung pada yang lain, and yet kebergantungan, kerapuhan, dan kekerdilan kita ini berakhir dengan kepuasan untuk sementara waktu, berakhir dengan rasa kenyang. Bukankah itu indah, Saudara? Setiap kali kita makan, kita mengalami itu, bahwa untuk sementara waktu kita bisa mengatakan, “Saya sudah cukup. Saya boleh dipuaskan. Saya tidak berkekurangan apa-apa untuk saat ini.” Amazing, Saudara, bahwa gambaran kepuasan yang paling dasar, yang kita senantiasa alami dalam hidup ini (rasa kenyang) sangat pas dengan pola Kitab Pengkhotbah.
Pola kitab Pengkhotbah yaitu: kita tidak bisa mengendalikan segala sesuatu, tapi justru ketika kita menyadari seberapa kita tidak punya kendali, maka kita mendapatkan ruang untuk bersukacita. Kita mendapatkan kepuasan dari Tuhan. Makanan yang kau nanti akan makan adalah bentuk konkret dari kebenaran yang sekarang kau sedang dengar.
Saudara, engkau bisa sih mencoba untuk ‘gak mau menjadi orang yang bergantung seperti ini. Engkau bisa coba mengatakan, “Gak, aku ‘gak mau kepuasan-kepuasan sementara seperti itu. Aku ‘gak mau lapar lagi. Aku mau ambil kendali atas hidupku. Aku mau kenyang terus-menerus. Aku mau perjamuan setiap hari. Tiap malam aku pergi keluar makan makanan yang mahal. Bahkan tiap dua jam aku makan babi panggang terenak. ‘Gak tunggu lapar dulu baru makan. Aku makan terus. Aku in control.” Saudara coba lakukan hidup yang seperti itu, dan apa yang akan engkau rasakan? Saudara tahu orang seperti ini sangat menyedihkan kan? Dia malah tidak akan pernah merasa kenyang. At least kekenyangan seperti itu tidak akan berbuah sukacita dalam hidupnya. Caramu untuk bisa memulai bersukacita dalam makanan adalah justru dengan mengakui dan menyadari seberapa engkau tidak pegang kendali.
So, Saudara, saya rasa Sang Pengkhotbah ini tidak gila ya, “Hevel, hevel, hevel, mati semua, maka nikmatilah hidup.” Tidak, Saudara, ini tidak gila. Apa yang dia sedang katakan adalah, “Hei, kamu itu tidak pegang kontrol, jadi tidak usah berharap hidup hari ini seperti surga di bumi, karena memang bukan. Ini adalah hidup yang sudah tercemar oleh dosa, kejahatan, dan kebodohan kita sendiri, mana mungkin kita menemukan shalom yang sesungguhnya dalam dunia pada hari ini. Hidup hari ini itu hevel, tapi ternyata dalam karunia Tuhan, it doesn’t mean kita ke laut saja, mati saja, tidak. Ternyata Tuhan dalam kebaikan-Nya tetap memberikan hal-hal yang simpel, sederhana, yang kita bisa nikmati even dalam keterbatasan kita, even melalui kegagalan-kegagalan kita. Berkat-berkat yang hari ini untuk sementara waktu kita bisa merasa cukup. Itu berkat yang sejati, itu sesuatu yang kita sungguh-sungguh bisa rayakan dan bersukacita oleh karenanya, karena apa yang hari ini kita icip itu, apa yang memuaskan kita sekarang ini, yang sementara, adalah tanda bagi apa yang akan datang nantinya secara kekal. Perjamuan-perjamuan kita pada hari ini adalah kepuasan-kepuasan yang sementara, riil tapi sementara. Karena itu adalah tanda bagi suatu hari nanti, ketika Allah datang kembali dan memulihkan seluruh ciptaan ini, dan Ia mengundang kita ke dalam Perjamuan Anaknya Sang Domba Allah. Yaitu Ia yang bukan cuma akan memberi kita perjamuan, tapi yang menjadi Perjamuan bagi kita.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MRN)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading