Kita sudah memasuki periode Ordinary Time. Setengah tahun pertama kita telah membahas the story of the Son of God; kita menantikan Anak Allah datang, merayakan kelahiran-Nya, mengenal kemuliaan dan identitas-Nya, masuk ke padang belantara bersama-Nya, menyaksikan kematian-Nya, merayakan dan mendalami kebangkitan-Nya, melihat kenaikan-Nya, lalu kita menerima Roh Kudus-Nya yang melahirbarukan kita. Sekarang, setengah tahun kedua dari Kalender Gereja, adalah giliran the story of the people of God. Kalau Kristus sudah datang, menebus kita, dan membenarkan kita lewat kebangkitan-Nya, melahirbarukan kita oleh air dan Roh, maka siapa sih kita yang ditebus ini, yang dibenarkan ini, dan apa peran kita, inilah yang akan kita bahas dalam setengah tahun kedua ini.
Kita akan menjawab pertanyaan ini dengan membahas Khotbah di Bukit yang dicatat oleh Matius, karena itulah tempat paling sentral untuk menjawab pertanyaan mengenai siapa dan seperti apa umat Allah di dalam Kristus. Namun kita baru akan memulainya Minggu depan, sementara hari ini semi melanjutkan khotbah Pentakosta yang lalu, untuk kemudian menyambungkannya dengan Khotbah di Bukit.
Dalam khotbah Pentakosta kita sudah bicara mengenai lahir baru, identitas baru. Identitas baru seperti apa sih yang kita punya di dalam Kristus, inilah yang kita akan coba pertanyakan hari ini, dan berharap ini menjembatani antara Pentakosta dengan Khotbah di Bukit, karena identitas baru inilah yang jadi dasar sebabnya kita harus hidup dengan aturan main yang baru juga, yang kita temukan dalam Khotbah di Bukit. Jadi hari ini semacam khotbah transisi; dan ini pas juga karena hari ini di gereja kita ada Baptisan, Sidi, Atestasi, waktunya kita diajak untuk merenungkan kembali tema ini.
Kita akan membahas pertanyaan tersebut dari bagian yang kita baca hari ini, karena background dari bagian ini adalah adanya orang-orang Yahudi dari pusat Yudaisme di Yerusalem yang datang mencari Yohanes Pembaptis, berhubung mereka sepertinya khawatir mengenai dia. Yohanes Pembaptis itu tokoh yang populer, dicari banyak orang, maka otoritas Yudaisme mau memastikan dia ini beres atau sesat. Itu sebabnya di bagian ini dikatakan Yohanes Pembaptis memberi kesaksian akan dirinya sendiri; dan inilah sebabnya dari sini kita mau menggali identitas umat Allah dalam Kristus.
Dari bagian ini, yang kita langsung temukan adalah Yohanes Pembaptis identitasnya berakar dalam dua hal utama. Yang pertama, mengenai bagaimana ia memandang dirinya; dia mengatakan (ayat 26), “Aku tidak layak”; lalu yang kedua, mengenai bagaimana dia lalu memandang kepada Kristus (ayat 29), “Lihatlah Anak Domba Allah.” Bisa dibilang yang pertama tadi dia mengatakan dengan setengah berbisik, “Aku tidak layak”, dan yang kedua dia mengatakan dengan berseru, deklaratif, “Lihatlah Anak Domba Allah!” Untuk yang satu tadi dia harus dipanggil, di-interogasi beberapa kalimat, baru keluar perkataannya, sedangkan yang satunya lagi dia sendiri yang memanggil orang lain untuk mendengar perkataannya, “Lihatlah Anak Domba Allah!”
Saudara perhatikan perbedaan antara dua akar ini. Yang satu, Yohanes Pembaptis tidak pernah memanggil orang lain untuk melihat kepada dirinya, “Hai! Lihatlah betapa hina diriku! Lihatlah betapa aku tidak berguna, “ dsb. Yohanes Pembaptis tidak ada yang seperti itu. Dia mengakui dirinya tidak layak, tetapi dia tidak meneriakkan itu di jalan-jalan, dia simply tahu hal itu sebagai fakta; dan ketika orang minta diberitahu, dia beritahu. Namun di sisi lain, orang lain dia panggil untuk sesuatu yang lain, untuk memandang kepada Anak Domba Allah. Saudara lihat, orang yang punya identitas di dalam Allah bukanlah orang yang tidak memandang kepada diri sendiri, namun bisa dikatakan setiap detik yang dia pakai untuk memandang diri, diikuti dengan dia pakai waktu sejam untuk memandang kepada Allahnya. Dia tahu dirinya tidak layak, namun dia tidak berlama-lama di situ, dia tidak rasa perlu mendeklarasikannya kepada semua orang, ada hal lain yang dia rasa lebih penting untuk orang lain tahu, yaitu Yesus sebagai Anak Domba Allah.
Hari ini banyak orang mengatakan harus lebih mengakui vulnerability kita dalam segala sesuatu, jangan selalu mau jadi superhero, perlu berani memperlihatkan bahwa kita ini orang yang vulnerable (rentan), dst. Tetapi, tentu ada bedanya antara vulnerability yang sejati dan vulnerability yang palsu. Vulnerability yang sejati biasanya bukan sesuatu yang Saudara deklarasikan, vulnerability yang sejati biasanya Saudara bahkan tidak menyangka. Vulnerability yang sejati adalah ketika orang datang kepadamu, misalnya sahabatmu atau istri/suamimu, orang yang mengenal engkau luar dalam, lalu mengatakan, “Lu ada sifat jelek ini; dan Lu musti berubah.” Di situ kita mungkin tidak sadar, tidak menyangka, merasa kayak disambar geledek di siang bolong, rasanya benar-benar vulnerable, rentan sekali. Namun yang hari ini biasanya orang katakan sebagai vulnerability, itu lain. Contohnya, mereka posting di sosmed, “Saya baru di-diagnosa ADHD, autis, umur segini baru tahu”, dst. Ini bukan vulnerability yang dimaksudkan, bukan benar-benar vulnerability. Ini adalah orang yang deklarasi sendiri mengenai dirinya, dia yang pilih juga waktunya, caranya, dsb. Itu bukan vulnerability yang kita lihat di bagian ini.
Dalam bagian ini, Yohanes bukan tidak sadar siapa dirinya, dia tahu siapa dirinya, namun dia tidak berlama-lama di situ, dia tidak merasa ini sesuatu yang harus dideklarasikan ke semua orang; kenapa? Karena memang tidak layak, tidak penting ‘kan, ada yang lebih penting yaitu, “Inilah Anak Domba Allah.” Inilah sebabnya figur Yohanes Pembaptis menarik bagi banyak orang. Dia di satu sisi ada kerendahan hati yang asli, bukan cuma dia rendah hati tetapi juga dia tidak peduli orang lain tahu dirinya rendah hati atau tidak, dia perlu ditanya baru memberitahu. Di sisi lain dia ada keberanian, ada nyali, tidak penakut, dia mendeklarasikan siapa Yesus, dan belakangan dia mencekal orang-orang Farisi, bahkan juga berani sekali mendatangi dan menegur Herodes akan dosanya meskipun tahu konsekwensinya yaitu penjara, dan belakangan kepala yang dipenggal.
Saudara lihat dua sifat ini dalam Yohanes Pembaptis, rendah hati, namun berani. Ini gambaran yang mirip banget dengan Nikodemus dalam khotbah sebelumnya; dan ini juga nantinya kita lihat dalam diri Paulus. Jadi, kalau sudah berulangkali muncul di Alkitab, sepertinya inilah gambaran identitas yang baru yang umat Allah dapatkan di dalam Kristus. Kita akan coba melihat bagaimana menjadi orang yang rendah hati, tetapi pada saat yang sama juga berani. Kita akan melihatnya lewat seperti apa kita melihat diri, seperti apa kita melihat Anak domba Allah, lalu apa efeknya.
Yang pertama, mengenai melihat diri. Perhatikan, waktu Yohanes Pembaptis mengatakan dirinya tidak layak, dia tidak cuma mengatakan itu, kalimat lengkapnya adalah: “Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak.” Dia menyebut tali kasut, karena pada waktu itu aturannya adalah tidak seorang pun boleh disuruh membukakan tali kasut kecuali para budak. Misalnya Saudara murid dari seorang rabi besar, lalu rabi ini mengatakan kepadamu, “Hai! Buka tali kasutku”, Saudara bisa laporkan ke Komisi Perlindungan Para Murid –kira-kira seperti itu—karena ada hukumnya bahwa tidak boleh menyuruh orang membukakan tali kasutmu kecuali dia itu budak., saking itu posisi yang amat sangat rendah. Jadi di sini Yohanes Pembapstis seakan mengatakan, “Di hadapan Yesus Kristus, aku bahkan bukan budak, aku lebih parah, lebih rendah lagi.”
Melihat seperti ini, apa pendapat kita? Kita mungkin menganggap ini bukan rendah hati, ini lebih dekat ke rendah diri, low self-esteem, dan kita bertanya-tanya sehat ‘gak sih punya pandangan seperti ini?? Zaman sekarang ini problem psikologis kejiwaan bolak-balik selalu disorotnya ke urusan low self-esteem, hampir semua jenis problem kejiwaan dijelaskan dari problem tersebut. Kenapa orang pakai narkoba? Karena low self-esteem, insecure, inferiority complex. Kenapa orang pukul istri? Karena dia low self-esteem. Kenapa anak-anak mem-bully di sekolah? Karena tukang bully itu sebenarnya juga low self-esteem. Ini lain sekali dengan zaman dulu; kalau zaman dulu, alasannya ini semua terjadi menurut Aristotle karena sombong, tinggi hati, sementara zaman sekarang dikatakan karena rendah diri. Dunia hari ini melihat banyak problem datang dari low self-esteem, insecurity, inferiority complex, itu sebabnya kita melihat kalimat Yohanes Pembaptis tadi seperti ada bau-bau yang mirip.
Apa sebenarnya insecurity dan inferiority complex? Ini adalah orang yang dari luar kelihatan seperti rendah hati, tetapi sebenarnya sangat terfokus kepada diri. Tidak ada yang suka padaku, aku sampah masyarakat. Aku tidak bisa apa-apa. Siapalah aku ini?? Kelihatannya seperti benci diri, namun ini sebenarnya fenomena cinta diri, bukan benci diri. Orang yang inferiority complex, hal tersebut muncul dalam kejiwaannya karena dia senantiasa membandingkan dirinya dengan orang lain. Inilah yang bikin orang jadi rendah diri. Dia menemukan bahwa selalu orang lain yang lebih pintar, lebih jago, lebih kaya, sementara dirinya selalu lebih jelek, lebih bodoh, lebih miskin. Saudara bisa argue bahwa orang seperti ini perhatian utamanya justru pada dirinya. Kepada siapa, atau ada di mana, attention-mu yang terutama, di situlah sesungguhnya hasrat dan cintamu yang tertinggi. Itu sebabnya sosmed cari attention, karena sosmed tahu bahwa begitu dia bisa mengambil attention-mu, semua hasratmu dan yang lain-lain, termasuk uangmu, akan mengikuti.
Orang yang insecure, inferiority complex, itu terjadi karena dia senantiasa membandingkan dirinya dengan orang lain. Orang lain kaya, aku miskin. Orang lain cantik, aku jelek. Orang lain begini, aku begitu. Aku, aku, aku, itu sebenarnya bukan orang yang benci diri melainkan kelewat cinta diri. Orang yang terlalu fokus kepada diri. Orang yang terobsesi dengan kebutuhan diri, problem diri, apa yang orang lain pikir mengenai dirinya. Fenomena paling ekstrimnya adalah orang yang ingin bunuh diri, karena orang-orang yang ingin bunuh diri itu ada kemungkinan merasa diri begitu hancur, justru –ironisnya—karena dia menaruh standar bagi dirinya terlalu tinggi. Aku harusnya ‘gak kayak begini, aku harusnya kayak begitu. Ini ‘kan berarti dia sebenarnya sombong, standar dia tidak sesuai dengan realitas, menaruh diri terlalu tinggi, terlalu perfeksionis –maka ingin bunuh diri. Inilah ironinya masyarakat manusia.
Saudara, dalam hal ini kita perlu coba melihat Paulus. Paulus di permukaan kelihatannya ada sesuatu yang berbeda dari Yohanes Pembaptis, namun sebenarnya datang dari sumber yang sama. Kita baca dari 1 Kor. 4:3-4; ayat 3: “Bagiku sedikit sekali artinya entahkah aku dihakimi oleh kamu atau oleh suatu pengadilan manusia.” Di sini pada dasarnya Paulus mengatakan, “Hai! Dengar ya, gue ‘gak peduli Lu mau ngomong apa.” Ini kesannya kayak beda banget dengan Yohanes Pembaptis. Perkataan Yohanes Pembaptis kayak ada bau-bau insecurity dan inferiority complex, sedangkan Paulus lain, Paulus sudah beres dalam hal ini, tidak ada inferiority complex sama sekali, aku ‘gak peduli kamu mau ngomong apa, aku ‘gak peduli pengadilan manusia mau ngomong apa. Namun yang menarik lanjutannya, dia mengatakan, “Aku pun tidak mendengarkan penghakiman diriku sendiri” –aku tidak peduli orang mau ngomong apa, tetapi aku juga tidak peduli apa yang aku sendiri katakan bagi diriku.
Di sini Saudara perlu sadar seberapa radikal perkataan ini. Dunia hari ini melihat segala problem kejiwaan ujungnya adalah low self-esteem, maka urusan inilah yang jadi solusinya bagi dunia. Kenapa kamu low self-esteem? Itu karena kamu terlalu banyak mendengarkan orang lain, terlalu banyak membandingkan dirimu dengan orang lain, standar orang lain kamu pakai bagi dirimu. Dengan demikian solusi yang natural bagi dunia adalah: Memang benar, jangan mendengarkan orang lain, yang penting KAMU. Yang penting kamu maunya apa, yang penting apa yang baik bagimu, kamu perlu cari standar bagi dirimu sendiri. Inilah solusi dunia zaman sekarang. Saudara lihat jelas sekali misalnya dalam hal edukasi anak.
Para “ahli” edukasi anak-anak zaman ini melihat ada problem anak-anak dalam generasi yang lampau, yaitu banyak yang low self-esteem, dan itu karena edukasinya top-down. “Dengar Papa, ya; dengar Mama, ya,” atau “Dengar Bu Guru, ya.” Yang paling penting di sini adalah kemauannya orang lain, yang penting kamu menurut, kamu perhatikan maunya orang lain. Lalu hasilnya apa? Anak-anak yang low self-esteem, karena yang paling penting pendapat orang lain. Akhirnya waktu besar pun mereka pikir kayak begitu, bahwa yang penting adalah yang orang lain katakan –dan hasilnya low self-esteem. Itu sebabnya yang diusulkan edukasi zaman sekarang adalah kebalikannya, yang penting kita tanyakan kepada anak-anak kita, “Kamu maunya apa, Nak?” Selalu tanya yang kayak begitu, kamu maunya apa, kamu inginnya apa. Ini terbalik dengan yang tadi, yang dipentingkan sekarang bukan pendapat dan kemauan orang lain, melainkan pendapatmu dan kemauanmu, dengan harapan menghasilkan anak-anak yang self-esteem-nya sehat. Namun apa hasilnya? Kita tidak perlu kaget ketika ini menghasilkan generasi zaman sekarang yang: pertama, sangat egois, sense of entitlement sangat tinggi, segala sesuatu merasa berhak, harusnya begini, harusnya begitu; yang kedua, sangat rapuh, tidak mampu menghadapi kesulitan, mudah sekali depresi dan kecewa berat ketika menghadapi realitas yang tidak sesuai maunya mereka.
Omong-omong, bagi pasangan muda yang punya anak, bijaksana dalam mendidik anak bukan datang ketika Saudara ambil salah satu dari filosofi tadi, bijaksana lahir lewat multiple perspective. Itu sebabnya dalam keluarga ada suami dan istri, istri dan suami. Bijaksana terjadi bukan ketika yang satu mendominasi yang lain, melainkan ketika masing-masing bisa saling mendengar dan melengkapi, karena perspektifnya beda. Justru perlu yang beda ini, supaya bisa bijaksana. Sama halnya dengan mendidik anak. Bijaksana dalam mendidik anak bukan terjadi ketika ikut sepenuhnya cara generasi lama –“Orangtuaku mendidiknya kayak begini dan hasilnya oke, maka kita ikuti”—dan juga bukan terjadi ketika kita serta-merta membuang perspektif generasi lama dengan mengatakan mereka sudah tidak update. Bijaksana terjadi ketika kita bisa go forward together.
Kembali ke isu kita. Dunia hari ini menjawab problem low self-esteem dengan cara apa? Kamu kebanyakan dengerin orang lain; sekarang kamu sendiri maunya apa, itu yang penting. Kita lihat yang seperti ini diajarkan ratusan kali lewat berbagai macam sumber. Film Superman yang baru –tetapi agak lama juga– ceritanya adalah Superman datang ke bumi dengan suatu message dari orangtuanya, namun message tersebut terpotong di tengah-tengah. Jadi kalau Saudara cuma menonton separuh video tentang orangtuanya memberi pesan, kesannya si orangtua menyuruh Superman jadi pelindung bumi, jadi orang baik-baik. Lalu belakangan baru message dari orangtuanya itu berhasil ditonton secara utuh sampai belakang, dan barulah ketahuan bahwa orangtuanya yang asli ini, yang mengirim dia dari planet Krypton yang meledak itu, mengirim Superman ke bumi untuk jadi penindas, penjajah, menaklukkan orang-orang bumi, ambil istri yang banyak, bikin harem, dsb. Superman dan orang-orang seluruh dunia pun kaget. Lalu apa yang terjadi? Superman mengalami krisis identitas. Kalau begini, siapa aku?? Ternyata cerita diriku sebagai pelindung bumi, yang selama 30 tahun ini aku percaya, itu bohong, hoax –karena nonton video tidak sampai belakang. Dalam momen seperti inilah message utama filmnya keluar, di situlah Papa Kent (orangtua angkat Superman) angkat bicara. Dia mengatakan, “Tidak, Clark, yang penting bukan itu. Yang penting bukan apa yang orang lain katakan, bahkan seandainya itu orangtua biologismu sendiri, yang penting adalah pilihanmu. Apa tindakanmu sekarang, itulah yang mendefinisikan identitasmu. Jangan terjebak dengan masa lalu, jangan terjebak dengan pengharapan dan mimpi orangtuamu. Be youself!”
Be yourself! Jadilah dirimu sendiri. Inilah message yang kita sudah jutaan kali dengar, dikhotbahkan lewat berbagai macam film sampai kita enek dengarnya. Tindakanmu yang penting, pilihanmu yang penting –inilah dunia. Kalau engkau dengerin orang lain, jadi low self-esteem, krisis identitas, dsb. Jadi apa solusinya? Be yourself –apa yang engkau mau! Sekarang Saudara lihat, betapa radikalnya ketika Paulus di satu sisi menolak inferiority complex, mengatakan, “Aku tidak peduli manusia mau mengatakan apa”, namun tidak kemudian beralih ke psikologi ala Hollywood. Kalimat Paulus berikutnya adalah: “Aku pun tidak menghakimi diriku sendiri” –aku tidak dengerin apa yang orang lain ngomong, aku juga tidak dengerin kata hatiku sendiri mengenai diriku. Ini penting.
Saudara lihat, apa yang akan terjadi kalau mengikuti nasehat Papa Kent ‘jadilah dirimu sendiri’? Dalam kasus Superman di film tersebut memang oke, karena Superman saat itu memang memilih yang baik. Namun bagaimana jika Superman tidak sebaik itu? Di sini Saudara tinggal mengintip serial TV yang lain, yang lebih postmo, yaitu The Boys. Di film ini, tokoh penjahatnya yang bernama Homelander sengaja banget dibikin persis Superman power-nya, namun tidak punya moralnya. Homelander ini penjahatnya, justru karena dia memilih apa yang baik di matanya sendiri. Celakanya, dia orang yang busuk, maka hancurlah semua gara-gara dia. Inilah tokoh superman yang jahat, karena punya kuasa besar tetapi hatinya rusak, dan dia melakukan yang jadi nasehatnya Papa Kent, pilihlah apa yang menjadi keinginan hatimu sendiri. Kalau pun kita balik ke Superman yang asli, yang baik hati itu, kita tahulah bahwa orang bisa berubah. Standar hidup manusia berubah-ubah. Ingat khotbah Pentakosta kemarin, kesaksian wanita yang paling sedikit ada empat standar yang dia kejar sepanjang hidupnya, yang lain-lain semua.
Secara realistis kita tahu bahwa solusi dunia, yang cuma mengganti inferiority complex menjadi superiority complex, itu tidak lebih baik. Dulu yang penting maunya orang lain, sekarang yang penting mauku, dan ini apa kalau bukan superiority complex?? Ini juga akan menghancurkanmu sebenarnya. Ini akan membuat engkau jadi orang yang begitu arogan; dan akhirnya juga akan menghancurkan orang-orang di sekitarmu. Jadi kita sekarang mulai melihat seberapa radikalnya ketika Paulus mengatakan aku tidak peduli apa yang manusia katakan, namun lanjutannya aku juga tidak peduli apa yang aku katakan. Bagian tersebut di ayat 4 terjemahan Bahasa Indonesia Alkitab TB1 tidak terlalu bagus: “Sebab memang aku tidak sadar akan sesuatu, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan”; terjemahan TB2: “Sebab memang aku tidak sadar akan apa pun tentang diriku, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan” –agak lebih baik. Pada dasarnya di sini Paulus sedang memberi alasan kenapa dia bahkan tidak menghakimi diri sendiri, dalam bahasa aslinya dia mengatakan seperti ini: “Hati nuraniku pun tidak selalu benar, namun puji Tuhan bukan karena itu aku dibenarkan.”
Paulus sampai mengatakan seperti ini, “Kalau pun aku punya hati nurani yang bersih, tidak tentu aku benar”, kenapa?Saudara tahu cerita hidupnya, dialah orang yang paling sadar akan hal ini. Ada kalanya dia mengatakan sesuatu yang salah namun hati nuraninya tidak protes, karena dia pikir dia sedang melakukan apa yang benar; dan kasusnya adalah dia menganiaya jemaat Allah. Waktu melakukan itu, Paulus tidak ada hati nurani yang terganggu, dia pikir sedang melakukan pekerjaan Allah. Paulus sadar akan hal ini, bahwa menghakimi diri sendiri tidak bisa jadi standar. Paulus sadar bertapa hati nuraninya tidak reliable, betapa dia sering salah –dan betapa standar manusia itu berubah-ubah. Itu sebabnya Paulus beralih kepada standar yang cuma orang Kristen bisa miliki. Dia mengatakan di ayat 4: “… aku tidak sadar akan apa pun tentang diriku, tetapi bukan karena itulah aku dibenarkan, melainkan Tuhanlah yang menghakimi aku.” Jadi bukan orang lain, bukan diri, Paulus cuma peduli apa yang Tuhan nilai dan hakimi.
Apa yang Tuhan hakimi mengenai kita? Kalimat Yohanes Pembaptis tadi: “Lihatlah Anak Domba Allah, yang datang menghapus dosa dunia.” Lihatlah apa yang Allah lakukan kepadaku, aku dijadikan anak-Nya, aku diterima dalam keluarga Allah. Kenapa? Karena aku layak?? Tidak; aku tidak layak. Aku bisa diterima dalam keluarga Allah karena apa yang Kristus telah lakukan bagiku –karena Anak Domba Allah.
Saudara lihat, ada jalan ketiga di sini. Pertama, engkau bisa menaruh identitasmu di atas apa yang orang lain katakan; dan itu akan menjadikanmu inferiority complex. Kedua,engkau bisa menaruh identitasmu di atas apa yang dirimu katakan; dan itu akan membuatmu jadi orang yang superiority complex. Atau yang ketiga, engkau bisa menaruh dirimu di atas apa yang Tuhan katakan terhadapmu, melalui apa yang Kristus lakukan bagimu. Yang ketiga ini cuma orang Kristen yang bisa. Dan inilah sebabnya Yohanes Pembaptis bisa mengatakan, “Aku tidak layak; membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak,” and yet bisa tiba-tiba berdiri dengan begitu berani terhadap orang-orang Farisi terhadap Herodes. Ini karena Yohanes Pembaptis bukan inferiority complex, Yohanes Pembaptis juga bukan superiority complex. Yohanes Pembaptis bukan rendah diri,Yohanes Pembaptis bebas dari dirinya, karena ia menyerahkan pendapat mengenai dirinya kepada Tuhan. Penilaian Tuhan adalah satu-satunya yang matters, maka aku bisa beristirahat dari beban senantiasa memperjuangkan diri, baik dari pengakuan orang lain atau pun pengakuan diri sendiri. Semua itu sekarang aku letakkan.
Perhatikan, ketika Yohanes Pembaptis mengatakan, “Aku tidak layak,” pada dasarnya yang dia sedang katakan adalah: aku tidak layak bahkan untuk jadi pusat perhatian diriku sendiri. Aku tidak layak untuk itu, aku sudah terlalu lama berusaha untuk jadi juruselamat bagi diriku sendiri, lewat pencapaian, lewat perbandingan; sekarang aku meletakkanya, aku membiarkan orang lain melakukannya bagiku, sehingga sekarang aku bisa memfokuskan diriku pada hal-hal lain yang lebih penting. Itulah Yohanes Pembaptis. Apakah yang lebih penting itu? Yaitu: lihatlah Orang lain ini, lihatlah Anak Domba Allah.
Saudara lihat rahasia confidence dan keberanian Yohanes Pembaptis, sekaligus juga kerendahan hati pada saat yang sama. Ini bukan percaya diri, bukan self-confidence. (Bahasa Inggris bagus ya, confidence tok sebenarnya urusannya dengan Tuhan, kalau ditambah self, jadi self-confidence barulah artinya iman kepada diri, percaya diri yang ngaco). Confidence bisa datang dari jalan yang ketiga ini, ‘lihatlah Anak domba Allah’. Inilah rahasianya Yohanes Pembaptis bisa memiliki hidup yang rendah hati namun begitu berani, karena hidupnya adalah hidup yang senantiasa memandang kepada Yesus. Jadi, marilah kita melihat kepada Dia.
Di bagian ini, kita melihat Yohanes Pembaptis mengajak kita untuk memandang kepada Yesus sebagai Anak Domba Allah. Kenapa Yesus digambarkan sebagai Anak Domba? Ini simbol apa? Dari cerita perjanjian Lama, kita melihat gambaran demi gambaran yang lama-kelamaan membuat kita semakin jelas apa artinya dan kenapa Yesus digambarkan demikian.
Narasi domba yang pertama di Alkitab muncul dalam kisah Abraham. Ishak naik ke gunung bersama dengan Abraham, lalu tanya, “Papa, di sini sudah ada kayu dan segala macamnya, tetapi dombanya mana? Abraham lalu dengan berat hati mengatakan, “Tuhan akan menyediakan.” Maksudnya apa? Maksudnya, kalau Tuhan menyediakan, maka kamu tidak perlu mati. Jadi, ketika anak domba pertama kali muncul dalam Alkitab, tujuannya untuk menjadi kurban pengganti.
Hal ini kita lihat juga dalam cerita berikutnya, cerita Israel di Mesir. Tuhan mau mengambil nyawa anak-anak sulung Mesir sebagai tulah yang terakhir, namun orang Israel dalam hal ini juga akan terkena jika dibiarkan, tidak cuma orang-orang Mesir yang anak sulungnya akan mati tetapi juga orang Israel anaka sulungnya akan mati. Omong-omong, kenapa sih Tuhan sadis banget mau bunuh anak-anak sulung Mesir? Dalam hal ini Saudara lihat, dalam cerita Keluaran sesungguhnya Firaun-lah yang lebih dulu menyuruh orang-orang Mesir mengambil anak-anak Israel dan melemparkannya ke Sungai Nil. Jadi, bisa dibilang ini bukan kesadisan melainkan keadilan, dalam sense mata ganti mata. Lagipula, tulah anak sulung mati ini tulah yang kesepuluh, berarti sudah ada sembilan tulah sebelumnya untuk memperingatkan orang Mesir, namun mereka/Firaun mengeraskan hati, tidak menghiraukan, sehingga pada akhirnya, pada tulah yang kesepuluh barulah terjadi hal ini, artinya sudah banyak kesempatannya. Kita musti ingat hal ini, karena orang-orang modern sering kali protes bahwa Tuhan sadis dsb., mereka lupa apa yang Firaun lakukan.
Kembali ke isu tadi. Kenapa anak sulung yang diminta, apakah karena anak sulung punya dosa lebih banyak dibandingkan orang lain? Bukan. Ini karena anak sulung pada waktu itu merupakan perwakilan dari seluruh keluarga. Seluruh pengharapan keluarga pada waktu itu terpusat pada si anak sulung. Pada zaman itu kalau punya 10 anak, hartanya tidak dibagi sama rata, karena kalau seperti itu, dibagi 10, lalu nantinya dibagi 10 lagi, dst., keluarga menjadi sangat rapuh, gampang sekali diambil alih oleh musuh. Itu sebabnya dalam keluarga dipilih satu ahli waris –yaitu anak sulung—yang diberikan mayoritas harta keluarga tersebut. Dia menjadi tulang punggung keluarga tersebut. Anak sulung mewakili pengharapan dan masa depan bagi seluruh keluarga.Jadi, ketika Tuhan mengatakan mau menuntut nyawa anak sulung, itu jelas maksudnya bahwa Tuhan sedang menuntut dosa seluruh umat manusia. Di sini Saudara dapat menyadari, jikalau dosa seluruh umat manusia yang dituntut, orang Israel pun sama berdosanya, anak sulungnya juga pasti akan mati. Lalu apa yang harus dilakukan? Ada kurban pengganti, yaitu anak domba yang darahnya ditorehkan di depan pintu sehingga Allah akan pass over pintu (rumah) tersebut (makna aslinya, yang pass over di sini bukan malaikat penghancurnya sebagaimana banyak orang pikir, melainkan Allah; Allah pass over the door sehingga Allah menghalangi malaikat penghancur masuk). Jadi jelas di sini ada kurban pengganti.
Namun tidak berhenti di situ, karena kalau cuma urusan kurban pengganti, kambing juga bisa, kerbau juga bisa, tetapi kenapa domba yang jadi gambarannya? Apa yang unik dengan domba? Kita maju ke Yesaya 53. Ayat 7: Dia dianiaya, tetapi dia membiarkan diri ditindas dan tidak membuka mulutnya seperti anak domba yang dibawa ke pembantaian; seperti induk domba yang kelu di depan orang-orang yang menggunting bulunya, ia tidak membuka mulutnya. Inilah keunikan domba, bukan cuma gambaran pengganti tetapi juga pengganti yang sukarela. Domba, waktu engkau mau bunuh dia, dia tidak menggigitmu, tidak mencakarmu, tidak lari; dia simply kelu, berada di situ, tidak membuka mulutnya. Dan, ini gambaran yang kita lihat jelas banget dalam gambaran Taman Getsemani.
Tuhan Yesus bukanlah orang yang kecele tiba-tiba harus naik ke atas kayu salib, Dia adalah Allah yang sudah tahu ujungnya akan ke sana. Dia tahu siapa yang akan mengkhianati. Pada malam sebelum Dia diserahkan, Dia mengatakan, “Jam-Ku sesaat lagi akan tiba; Aku sesaat lagi akan bersalin.” Dia tahu, namun Dia tidak kabur. Di Taman Getsemani Dia mengajak murid-murid-Nya, “Ayo berjaga-jaga dengan-Ku sebentar ini saja. Ini adalah waktunya Aku paling membutuhkan kalian,” tetapi mereka semua ketiduran. Dalam momen seperti itu, Tuhan Yesus bisa saja berpikir untuk apa semua ini, ngapain Aku harus menyerahkan semua kemuliaan, sukcaita, relasi dengan Bapa dari kekal sampai kekal demi murid-murid kayak begini, yang diminta berjaga-jaga sebentar saja tidak bisa; buat apa?? Dan, bukan cuma mereka, bahkan 2000 tahun setelahnya, ada begitu banyak orang yang masih terus menghujat, masih terus tidak bersyukur. Dalam Persekutuan Doa kita, paling susah mengajar orang bersyukur dalam doa –dan inilah orang-orang yang kepadanya Yesus Kristus disuruh mengurbankan diri-Nya. Harusnya Yesus bisa saja kabur ‘kan, namun yang terjadi adalah Yesus pada dasarnya mengatakan, “Kehendak-Mu yang jadi, Bapa, bukan kehendak-Ku; Aku mau jadi domba.”
In some sense kita bisa melihatnya seperti ini: Adam disuruh taat, kalau taat maka akan hidup; tetapi bagi Yesus, basically Bapa mengatakan, “Taat, Yesus, maka Engkau akan mati” –dan Yesus taat, Yesus menjadi Domba Allah. Jadi ketika Yohanes Pembaptis melihat Yesus, semua gambaran tadi seperti klik pada saat yang sama, bagi dia. Memang kita tidak tahu seberapa utuhnya gambaran ini dalam Yohanes Pembaptis, berhubung semua itu belum terjadi waktu dia mengatakan kalimatnya, namun sepertinya Yohanes Pembaptis bisa mengantisipasi sesuatu, mengenai apa yang Yesus akan alami ke depannya. Dia mulai menyadari, ya ampun, rupanya inilah Anak Domba Allah. Dia baru menyadari sebabnya anak-anak sulung orang Israel tidak harus mati dan apa sesungguhnya yang menukar mereka, yaitu bukan domba-domba berbulu yang lucu itu, melainkan karena Bapa telah memberikan Anak Tunggal-Nya mati bagi kita –maka, “Lihatlah Anak Domba Allah.”
Yohanes Pembaptis melihat hal ini, mengerti hal ini, dan itu sebabnya ini membuat segala sesuatu jadi berubah, dia bisa mengatakan pada dirinya, “Aku tidak layak,” –memang aku tidak layak, namun ini tidak penting, ini tidak bisa menghalangi Allah terhadap diriku, oleh karena apa yang Anak Domba Allah telah lakukan bagiku; dan bukan cuma Dia menggantikanku, Dia menggantikanku dengan sukarela. Minggu lalu kita mengatakan, Dia seperti perempuan yang bersalin, yang bersukacita ketika Dia melihat anak-anak-Nya lahir –ketika Dia melihat aku yang tidak layak ini, yang membuka tali kasut-Nya pun tidak layak, yang lebih rendah daripada budak di hadapan-Nya. Dan, karena Dia melakukan hal ini, semua urusan inferiority complex, superiority complex, hilang lenyap, hanyut oleh air kasih Tuhan. Egoku mingkem ketika aku melihat kepada Kristus. Saudara lihat, itu sebabnya Yohanes Pembaptis bisa menjadi orang yang begitu rendah hati, dan pada saat yang sama menjadi orang yang begitu berani.
Kenapa kita tidak bisa seperti dia? Sebagian alasannya karena kita tidak memandang kepada Yesus sebagai Anak Domba Allah kita. Ini kita alami terus dalam hidup kita. Contoh kecilnya, satu isu kecil yang universal sehubungan dengan restfulness. Salah satu hal yang kita akan alami kalau kita memandang Dia sebagai Anak Domba Allah, adalah restfulness. Sedihnya, bukan cuma restfulness ini tidak ada dalam kehidupan kita dari Senin sampai Sabtu, tetapi sering kali juga tidak ada dalam kehidupan kita pada hari Minggu. Senin sampai Sabtu kita tidak restful karena kita terus-menerus berusaha –berusaha untuk membangun identitas kita sendiri –lewat pengakuan orang lain atau pun diri sendiri. Kita mengatakan pada diri, yang oke adalah kalau punya uang segini, yang oke adalah kalau bisa punya pencapaian seperti ini, kalau kayak begitu baru gue happy, dst., dan kita berusaha setengah mati, tidak ada rest-nya. Senin sampai Sabtu kita melakukan seperti itu. Ironisnya dalam hidup orang Kristen, model yang sama juga kita pakai pada hari Minggu. Harusnya dalam seluruh hidup, kita bisa restful di hadapan Tuhan, karena Allahlah yang telah mati bagiku, nilai diriku ditentukan oleh Dia, seberapa dia berkurban bagiku. Ini harusnya universal dari Senin sampai Senin, tetapi hari Minggu pun hal ini sering kali tidak tersentuh. Contohnya apa? Inilah isunya: ada orang-orang di antara kita –atau juga kebanyakan dari kita—tidak restful pada hari Minggu karena kita bertanya-tanya hari Minggu tersebut siapa yang khotbah. Kita panik, kita tidak restful. Hari ini yang khotbah siapa ya?? Oke ‘gak khotbahnya, ya?? Gue bisa dapat apa ya, dari khotbah hari ini?? Bagus ‘gak ya, dia khotbahnya?? Waduh yang khotbah dia, aduhhh… . Lalu bagaimana? Musti cari tempat lain, musti cari pengkhotbah yang lain, dst. Tidak restful, bukan? Saudara datang ke gereja pun tidak restful, tidak ada istirahatnya, karena Saudara berusaha mati-matian untuk membangun identitasmu. Aku ini juruselamat bagi diriku sendiri; kalau aku mau dengar khotbah yang baik, aku harus berjuang, tidak bisa simply menerima dan datang.
Zaman dulu tidak kayak begini. Memang sedikit banyak manusia sudah berdosa sejak zaman dulu, namun Saudara bisa bayangkan pada zaman dulu di satu desa, atau bahkan satu kota, cuma ada satu gereja, tidak ada yang lain, dan satu gereja pun cuma ada satu pendeta. Kita tidak bisa pilih-pilih, kita hanya datang. Kita mungkin tahu, atau lebih tahu, bahwa pendeta ini banyak keterbatasan, mungkin dalam satu minggu dia harus pimpin tiga kali kebaktian kedukaan, mungkin juga dia sudah tua, dia tidak bisa khotbah yang bagus, dsb., tetapi kita tidak ada pilihan. Jemaat pada zaman itu simply datang hari Minggu (atau hari Sabtu) dan berdoa, “Tuhan, tolong urapi hamba-Mu ini dengan firman yang berkuasa dari-Mu, karena yang penting bukanlah pendapat kami atau pendapat dia; yang jadi sumber dari semua ini adalah Anak Domba-Mu yang telah mati bagi kami, maka kami menyerahkan hal ini kepada-Mu. Kami tahu dia capek. Kami tahu dia terbatas, bahkan kami tahu dia tidak terlalu bisa berkhotbah. Namun kami minta kepada-Mu, Engkau yang berkuasa. Amin.” Demikian mereka berdoa, mereka menyerahkan kepada Tuhan. Hari Minggu mereka datang, mereka beristirahat dalam Tuhan. Apapun yang keluar dari mulut pengkhotbah, mereka terima sebagai sesuatu yang keluar dari tangan Bapa yang baik.
Hari ini kita tidak kayak begitu, kita banyak pilihan. Lalu akhirnya kita merasa musti berusaha. Kita tidak bisa rest. Kalau mau dengar khotbah yang baik, kita musti cari dan usahakan, dan pergi bahkan mungkin ke tempat yang jauh supaya bisa dapat khotbah yang baik. Bahkan di tempat ini pun kalau hari ini pengkhotbahnya yang kita suka, itu tidak tentu bagus juga ‘kan, karena setiap pengkhotbah dari ke hari ke hari bisa berubah, bisa jadi hari itu dia capek, dia sakit, dia tidak terlalu baik persiapannya, bahannya tidak terlalu dia kuasai, dsb., lalu waktu kita dengar, kita panik. Tadinya kita pikir, wah, hari ini pengkhotbah yang enak, tetapi waktu kita dengar, ternyata tidak seperti yang kita bayangkan –dan kita tidak restful lagi. Akhirnya terus saja cari tempat lain. Kalau tempat lain tidak ada juga, akhirnya cari di podcast, cari di segala macam, pokoknya harus dapat. Inilah jemaat zaman sekarang. Seorang teolog mengatakan, “Jemaat zaman sekarang tidak lagi pray, karena tinggal pencet play.” Inilah kita, tidak ada restfulness. Bahkan hari Minggu pun tidak ada restfulness, tidak bisa datang dengan sukacita, tidak bisa datang dengan penyerahan. Tidak bisa datang dengan mengatakan, “Aku tidak layak, Tuhan, aku tidak layak .. aku datang kemari hanya oleh karena Engkau, maka apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku terima, karena Engkaulah yang bertanggung jawab untuk semua ini, bukan aku.” Ada sifat restfulness kalau kayak begini. Inikah kehidupan kita?
Inilah panggilan kita sebagai umat Tuhan. Inilah identitas kita sebagai umat Tuhan. Tim Keller mengatakan kalimatnya yang terkenal (dia bilang ini dari C.S. Lewis, tetapi 10 tahun dia cari buku yang mana, dia juga tidak temukan): “Kerendahan hati bukanlah mikirin diri lebih sedikit/lebih rendah; kerendahan hati sudah pasti juga bukan mikirin diri kebanyakan. Kerendahan hati itu mikirin diri lebih jarang.” Itulah humility. Itulah yang bisa membuat orang bisa ada keberanian, seperti Yohanes Pembaptis, seperti Paulus, seperti Nikodemus. Kenapa? Karena mereka bukan mikirin diri –bukan mikirin diri tinggi, bukan juga mikirin diri rendah—mereka jarang mikirin diri. Mereka mikirin yang lebih penting. Mereka senantiasa melihat kepada Anak Domba Allah. Dan, itulah yang jadi panggilan serta identitas orang Kristen.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading