Minggu lalu kita sudah mulai pembahasan Khotbah di Bukit dengan membicarakan Ucapan Bahagia pembahasan bagian pertama, dan hari ini kita lanjutkan dengan bagian kedua.
Minggu lalu kita mengatakan Khotbah di Bukit ini bicara mengenai Kerajaan Surga, mengenai seperti apa hidup dalam Kerajaan Surga. Ini ibarat Saudara bertemu dengan seseorang dari negara berbeda, lalu Saudara tanya, “Kehidupan di sana bagaimana?” Orang tersebut tentu bisa saja langsung cerita kayak apa kehidupan di sana, misalnya, “O, di negara saya kalau orang ditampar pipi kiri maka dia berikan pipi kanan,“ tetapi kalau dia langsung mulai dari situ, mungkin Saudara akan merasa ini negara aneh banget. Itu sebabnya dia mulai dengan lebih dulu wanti-wanti, “Kamu musti sadar, ini negara yang beda banget, ya. Budayanya lain banget. Ini asing di matamu.” Itulah kira-kira yang Yesus lakukan dengan memberikan kita bagian pertama Khotbah di Bukit ini, yaitu Ucapan Bahagia. Jadi kita perlu sadar bahwa fokus Ucapan Bahagia adalah mengungkapkan seberapa bedanya Kerajaan Surga, namanya juga Kerajaan Surga bukan kerajaan dunia. Demikian poin seluruh khotbah minggu lalu –dan ini bukanlah bagaimana kita biasanya membaca Ucapan Bahagia selama ini. Kita biasa membacanya sebagai instruksi, manual, pengajaran, how to, mengenai bagaimana caranya untuk menjadi orang yang berbahagia/blessed. O, saya harus miskin di hadapan Tuhan; tetapi ‘gak mungkin ‘kan saya miskin beneran kalau saya memang kaya. Itu sebabnya poor in spirit itu kita tafsirkan jadi kerendahan hati, karena ini ‘kan persyaratan/rumusan/kiat-kiat menjadi orang yang berbahagia/blessed dalam Kerajaan Surga. Saudara, ini tafsiran yang saya sedang perangi. Pertama, karena jelas ini tafsiran yang tidak biblical (kita sudah menunjukkan hal ini minggu lalu, lewat menyelidiki penggunaan frasa in spirit dalam Alkitab). Yang kedua, ini tafsiran yang berbahaya karena ujungnya tidak akan pernah bisa menjadi berita baik (Injil), ini hanya akan membuatmu dihantui perasaan bersalah dan kegagalan seumur hidupmu, atau membuatmu jadi penuh kesombongan, perasaan superioritas di atas orang-orang lain yang menurutmu gagal.
Ucapan Bahagia bukanlah tentang bagaimana menjadi orang yang diberkati dalam Kerajaan Surga, karena kondisi-kondisi yang dibicarakan di sini –miskin, dukacita, dianiaya– bukanlah kondisi yang membuat engkau otomatis diperkenan oleh Tuhan. Yesus bukan sedang mengatakan, “Hoki banget ya kalau lu miskin, kalau lu berduka, kalau lu dianiaya, karena inilah persyaratan yang membuatmu layak masuk Kerajaan Surga.” Bukan itu, Saudara. Itu bukan Injil, itu legalisme. Itu jalan agama manusia untuk menggapai keselamatan atas dasar usaha-ku. O, agama lain pakai jalan kekuatan, sedangkan Kekristenan beda, Kekristenan pakai jalan kelemahan; aku harus lemah, kelemahankulah yang membuatku berhak atas Kerajaan Surga. Tidak, Saudara. Ada banyak sekali orang-orang yang miskin, berduka, namun tetap saja hidup dalam dosa, tidak mengenal Tuhan, ‘kan. Kita perlu berbelaskasihan kepada mereka, tetapi kemiskinan tidak otomatis membuat orang jadi saleh ‘kan. Ada banyak juga orang yang menderita aniaya atas nama Kristus, tetapi hasilnya malah membuat mereka menolak Kristus, dan mengisi hidup mereka dengan kepahitan, kepada Allah maupun kepada manusia. Dianiaya atas nama Kristus tidak otomatis membuat mereka diberkati/berbahagia. Bahkan Paulus belakangan mengatakan kalimatnya yang terkenal di 1 Kor. 13: “Aku bisa saja membagi-bagikansegala sesuatu yang kupunyai kepada orang miskin, aku bahkan bisa saja memberi tubuhku untuk dibakar, namun ini tidak otomatis memberikan faedah jika aku tidak punya kasih.” Saudara juga pasti pernah mengenal seseorang yang dalam dirinya engkau melihat perkenanan Allah, orang-orang yang sungguh berbahagia dan bersukacita dalam Allah, orang-orang yang mempercayakan diri sepenuhnya kepada Kristus, orang-orang yang melayani sesama manusia dengan sepenuh hati dalam nama Yesus, dan mereka melakukan semua ini meskipun mereka tidak miskin, meskipun mereka tidak terus-menerus hidupnya berduka, meskipun mereka bahkan tidak pernah dianiaya sampai mencucurkan darah. Orang-orang seperti ini ada. Jadi, apapun tujuan dari Ucapan Bahagia, ini bukan suatu pamflet yang sedang menginformasikan kepada kita persyaratan yang menjamin perkenanan Tuhan, berkat Tuhan, keselamatan Tuhan. Jika seperti itu, ini bukan saja tidak biblical tetapi juga tidak logical; namun yang paling fatal, pembacaan seperti itu adalah pembacaan yang tidak Christological, karena ini membaca Ucapan Bahagia tanpa Pengucapnya.
Saudara, kalau kita pikir Ucapan Bahagia adalah instruksi, yang kuncinya ada pada kita, urusan apakah kita melakukan hal-hal tersebut atau tidak, apakah kita termasuk daftar orang-orang tersebut atau tidak, maka itu adalah pembacaan Ucapan Bahagia yang ignoring Kristus. Kunci Ucapan Bahagia bukanlah pada kita, melainkan pada Kristus dan Kerajaan-Nya. Kristus-lah yang menjadi pembeda di sini. Oleh karena Yesus Kristus, maka berkat dan kebahagiaan Kerajaan Surga bisa turun, bahkan bagi orang-orang yang miskin, orang-orang yang berduka, orang-orang yang menderita aniaya. Itulah poinnya.
Misalkan saya mengatakan kepada Saudara begini: “Program MBG sekarang jalannya bagus, lho. Makananya tidak pernah busuk lagi. Pengelolaannya bersih, tidak ada korupsi,” apa responsmu? [MBG=Makan Bergizi Gratis; merupakan program makan siang gratis Indonesia yang berjalan secara bertahap pada masa pemerintahan Prabowo Subianto]. Engkau akan tanya, “Siapa Bos MBG yang baru?” karena dalam bayanganmu dua istilah ini, MBG dan bersih, tidak ada hubungannya, sehingga ketika saya mengatakan MBG bersih, engkau akan langsung tanya siapa yang nyambungin dua hal itu. Seperti itulah perhatian yang tepat. Ucapan Bahagia juga sama; ini adalah sebuah proklamasi akan peran Kristus, bahwa karena Kristus maka orang-orang yang di mata manusia paling hopeless, paling malang, paling jauh dari kemungkian berbahagia atau diberkati, malah kita temukan menikmati sentuhan Allah dan kelimpahan anugerah-Nya. Poinnya dalah: karena Kristus, maka tidak ada lagi situasi hidup manusia yang bisa menghalanginya dari kuasa dan berkat Tuhan.
Ucapan Bahagia bukanlah mengenai apa yang kita perlu lakukan untuk bisa naik ke Tuhan; poinnya justru mengenai apa yang Yesus lakukan sehingga karunia Allah dan berkat-Nya turun menyentuh kita di mana kita berada. Buktinya apa? Buktinya, lihatlah orang-orang yang mengerumuni-Nya. Mereka semua orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, yang sakit ayan dan yang lumpuh. Ini semua kondisi-kondisi gang buntu, kondisi-kondisi yang dokter ataupun dukun sudah angkat tangan. Namun lihatlah, sekarang mereka sungguh berbahagia, sungguh menerima berkat Alllah, karena Yesus telah menyentuh hidup mereka. Ini baru sungguh-sungguh berita baik. Dengan demikian engkau pada hari ini pun sama, engkau tidak perlu punya uang lebih barulah berkat Tuhan bisa datang kepadamu, engkau tidak perlu punya rumah yang lebih luas dulu baru berkat Tuhan bisa datang kepadamu. Berkat Tuhan datang, simply karena Kristus datang. Itulah berita Kerajaan Surga, itulah seberapa bedanya Kerajaan Surga. Kita sudah diberikan lensa ini dalam khotbah minggu lalu.
Hari ini tidak ada poin baru, tetapi kita mau melihat poinnya dengan lebih jelas lewat membahas satu per satu kalimat kalimat Ucapan Bahagia ini. Sebagaimana sudah kita singgung minggu lalu, salah satu penyebab kita salah kaprah membaca bagian ini, adalah dikarenakan penerjemahan dan penafsiran istilah-istilahnya. Jadi, sekarang kita coba lihat apakah kita bisa meluruskan penerjemahan dan penafsiran kata-katanya.
“Berbahagialah orang yang miskin di hadapan Allah, karena merekalah yang punya Kerajaan Surga.”
Kita sudah bicara banyak mengenai hal ini, kita tidak akan ulang terlalu banyak. Intinya, ini bukan simply miskin rohani ataupun miskin jasmani; ini miskin, dua-duanya, luar dalam atas bawah kiri kanan, ini mengungkapkan kehidupan manusia yang hopeless, paling hopeless di dunia ini, tidak ada positif-positifnya. Seandainya ini bicara tentang kerendahan hati, itu justru hopeful. O, dia miskin, tetapi dia rendah hati, lho –berarti ada harapan. Tetapi itu bukan poinnya. Ini adalah orang-orang yang justru kemiskinannya mencerminkan hopelessness keseluruhan situasi mereka.
Beberapa minggu lalu ada berita viral “Pajero Diamuk Massa” di medsos, yang katanya Pajero itu tabrak lari. Namun setelah diperiksa polisi, baru terungkap Pajero tersebut tidak tabrak lati, cuma adu mulut dengan pengendara motor urusan klakson, tidak ada tabrak lari sama sekali. Ketika itu si pengendara motor, karena kesal lantas menghasut massa, dia teriak, “Pajero itu tabrak lari!!” dan hasilnya si pengendara Pajero babak belur diamuk massa. Melihat kejadian ini, apa respons Saudara? Saya biasa lebih tertarik menganalisa bagian comment-nya karena komen-komen netizen itu sering kali menguakkan apa yang jadi refleks hati kita, jadi mari kita coba membacanya dengan refleksi, jangan dengan menghakimi. Di situ netizen mengatakan, “Ya, seperti inilah Negara Konoha”, “Ya, beginilah rakyat kecil, dasar bego, sudah miskin gampang dihasut!”
Saudara, seperti itulah orang miskin dalam Ucapan Bahagia nomor satu ini. Inilah orang-orang yang miskin dan gampang dihasut pula. Sedikit banyak, gampang dihasut karena miskin, karena terinjak-injak. Orang-orang kayak begini itu hopeless! Mau Saudara apakan? Ajak omong? Edukasi? Good luck! Karena dompet mereka miskin, rohani mereka miskin juga. Tidak bisa expect any different ‘kan. Inilah gambarannya. Tetapi dalam Kerajaan Surga, orang-orang seperti ini pun bisa ada pengharapan. Itulah beritanya. Kenapa bisa ada pengharapan? Sudah pasti bukan karena mereka; ini karena Kristus. Di sinilah Saudara mungkin baru ngeh seberapa radikalnya Ucapan Bahagia, seberapa radikalnya Kerajaan surga. Melalui Kristus, bahkan mereka ini, yang tidak punya apa-apa ini –tidak punya masa depan, tidak punya hati, bahkan kadang-kadang tidak punya otak– bisa punya Kerajaan Surga. Isn’t that amazing? Itulah kabar Kerajaan Surga.
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.”
Dalam versi Lukas, ini disebut sebagai orang-orang yang menangis. Kembali lagi, tidak ada positif-positifnya. Inilah para suami yang ditinggal istrinya. Inilah para istri yang tidak dicintai suaminya. (Saya baru baca artikel mengenai sesuatu yang mulai naik angkanya di banyak negara, yaitu fenomena perceraian dadakan. Orang bercerai, dari dulu sudah banyak, namun zaman sekarang seperti ada fenomena orang bercerai yang tidak ada hujan tidak ada angin lalu tiba-tiba suatu hari pasangan mereka pergi begitu saja, tanpa kata-kata, tanpa penjelasan. Kalau mereka cari ke polisi, polisi bukan tidak tahu; polisi mengatakan, “Ya, pasanganmu sudah datang kemari, sudah beritahu kami bahwa dia memang mau pergi, dan berpesan jangan sampai kami memberitahu kamu dia ke mana, dia memang tidak mau dicari.” Lalu beberapa hari kemudian formulir surat perceraian datang begitu saja. Saudara bayangkan trauma orang yang mengalami perceraian kayak begini, bisa lumpuh kehidupannya). Inilah para orangtua yang hatinya hancur karena anak mereka masuk penjara, atau bahkan lebih parah. Inilah orang-orang yang pada usia senja menjelang pensiun tiba-tiba mengalami PHK mendadak dan kehilangan jaminan masa tuanya, baik karena kecurangan orang lain ataupun karena kesalahan pilihan mereka sendiri. Inilah orang-orang yang berduka, Saudara, tidak ada positif-positifnya; tetapi somehow lewat Kristus, ketika mereka masuk Kerajaan Surga oleh karena Kristus, mereka belajar pelan-pelan bagaimana hidup dalam dukacita ini, dan mereka mendapatkan penghiburan di dalamnya –bukan di luarnya.
Saudara perhatikan, janjinya di sini adalah dihiburkan, maka berarti masih dalam duka ‘kan. Kalau sudah di luar duka, tidak perlu dihibur. Janjinya bukan, “Berbahagialah mereka yang berduka, karena mereka akan move on.” Tidak begitu; itu dunia. Yang dikatakan di sini adalah: “Berbahagialah mereka yang berduka, mereka akan dihibur.” Air mata duka akan diubah jadi tangisan sukacita –tetapi masih ada air mata. Mereka inilah orang-orang yang dalam Kerajaan Tuhan bisa mengatakan, “Kasih karunia Tuhan ternyata cukup bagiku.” Dan, kalau ini kedengarannya impossible, ya memang secara manusia dan dunia impossible. Dalam kacamata dunia, bagi orang yang berduka hanya ada dua kemungkinan: tenggelam dalam duka, atau move on, lupakan duka. Tetapi dalam Kerajaan Surga, duka bisa menjadi bahan dasar bagi sukacita, bagi penghiburan. Sekali lagi, tidak mungkin kecuali karena … .
“Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.”
Ini adalah satu istilah yang paling banyak perdebatan dalam menerjemahkannya; istilah bahasa Inggrisnya meek, istilah Yunaninya praus, namun yang pasti istilah Indonesianya harusnya bukan lemah lembut. Apapun artinya, lemah lembut bukanlah arti persisnya. Lemah lembut adalah sifat positif; dan kalau demikian, pada dirinya sendiri tidak ada unik-uniknya Ucapan Bahagia di bagian ini, tidak ada unik-uniknya Kerajaan Surga yang Tuhan Yesus ungkapkan di sini. Kalau Saudara dengar kalimat, “Orang yang lemah lembut hatinya, mereka mewarisi bumi,” Saudara pasti angguk-angguk kepala ‘kan. (omong-omong, kata yang lebih tepat di bagian ini bukan memiliki bumi tetapi mewarisi bumi).
Lemah lembut bukanlah arti kata praus. Praus dalam bahasa Yunani paling gampang kita mengerti sebagai terjemahan dari istilah Ibrani ani. Menarik untuk kita menyelidiki Perjanjian Lama, kata ani mengacu pada orang seperti apa. Mazmur 76:10, mengatakan: “… pada waktu Allah bangkit untuk memberi penghukuman, untuk menyelamatkan semua ani di bumi.” Siapakah para ani di sini? Yaitu orang-orang yang diselamatkan ketika Allah bangkit memberikan penghukuman. Ini lucu ya, Allah menghukum, maka orang-orang ani selamat. Kita biasa pikirnya selamat dari hukuman, tetapi di sini bukan begitu, ini selamat oleh penghukuman; karena Allah menghukum/menghakimi, maka orang-orang ani selamat. Jadi, kira-kira orang-orang ani ini siapa? LAI menerjemahkan sebagai orang-orang yang tertindas. Masuk akal. Inilah orang-orang yang selama ini tertindas, yang menderita ketidakadilan, yang diinjak-injak oleh orang lain, yang vulnerable, rentan, tidak ada power. Inilah orang-orang ani. Jadi tidak heran ketika Allah memberikan penghakiman dan penghukuman, mereka terselamatkan, karena yang dihakimi adalah orang-orang yang menindas mereka. Satu lagi dari kitab Ayub. Ayub 24:4: “… orang miskin didorongnya (didorong orang fasik) dari jalan, darinyalah orang ani (orang sengsara) di dalam negeri terpaksa bersembunyi semuanya.” Inilah orang-orang yang vulnerable, gampang diperalat, gampang ditindas, maka mereka senantiasa harus kabur/menyingkir. Ketika Daud dikejar-kejar oleh Saul, dalam beberapa mazmur Daud mengungkapkan dirinya dengan istilah yang sama, “Aku ini ani.”
Dalam hal ini Dallas Willard mengatakan, praus ini kira-kira ekuivalennya pada zaman kita adalah jenis orang yang kalau berpapasan dengan orang lain di jalan yang sempit, orang ani ini secara insting langsung menyingkir, memberi jalan kepada orang lain tersebut, seakan-akan jalanan selalu merupakan hak orang lain, tidak pernah hak dirinya. Orang ani adalah orang yang kalau ada problem di kantor, dia langsung keringat dingin, merasa bersalah sendiri, walaupun dia bukan penyebabnya. Inilah orang-orang ani; dan Saudara tentu tahu, di dalam dunia, orang-orang seperti ini tidak berbahagia, dunia tidak mengatakan berbahagialah orang-orang yang seperti ini. Di dalam dunia, yang sebaliknyalah yang terjadi. Dunia mengatakan berbahagialah mereka yang pede, yang asertif, yang bisa mengklaim haknya, yang berani. Dulu saya pernah kerja casual di Melbourne, dan suatu kali bos saya membayar saya kurang. Saya langsung menghadap dia dan mengatakan, “Ini bayarnya kurang.” Dia lalu hitung kembali, dan memang benar kurang, maka dia berikan kekurangannya. Kalimat dia setelah itu saya tidak pernah lupa sampai hari ini; dia mengatakan, “See, if you don’t ask, you don’t get.” Itulah dunia. Dalam dunia ini, kalau kamu tidak minta, kalau kamu tidak berani maju, kamu tidak mendapat.
Kita tentu familier dengan istilah early bird, misalnya acara BCN dan NRETC ada pendaftaran early bird. Maksudnya apa? Kalimat lengkapnya adalah: The early bird gets the worm; burung yang datang duluan akan dapat cacingnya, kalau tidak duluan, tidak dapat. Berbahagialah mereka yang duluan. Berbahagialah mereka yang pushy, yang agresif, yang aktif, yang jemput bola, yang gercep. Itulah kata dunia. Tetapi dalam Kerajaan Surga tidak demikian, berbahagialah mereka yang praus, berbahagialah orang-orang yang ani, karena mereka yang mewarisi bumi. Itu sebabnya di bagian ini terjemahan ‘mewarisi’ ini penting, karena warisan merupakan pemberian, bukan pencapaian –itulah Kerajaan Surga.
Saudara lihat, sifat meekness, praus, pada dirinya sendiri bukan sifat yang “baik”. Dalam dunia, kalau Saudara punya sifat ini, Saudara bisa dibilang punya handicap, Saudara rugi kalau punya sifat begini. Ucapan Bahagia bukan memanggilmu untuk mengubah temperamenmu jadi orang-orang yang kayak begini; yang jadi poin di sini adalah bahwa dalam Kerajaan Surga, puji Tuhan orang-orang seperti ini pun dicukupi kebutuhannya oleh Tuhan. Dalam Kerajaan Surga, engkau tidak harus jadi orang agresif, baru kebutuhanmu diisi, baru hakmu diberikan. Dalam Kerajaan Surga, engkau bisa bersandar kepada Kristus. Itu baru Injil, berita baik. Dalam Kerajaan Surga, Bapamu sudah tahu kebutuhanmu sebelum engkau datang kepada-Nya (ini sering kali dipakai orang Kristen jadi alasan tidak berdoa; itu konyol, karena ini justru harusnya membuat kita tambah kepingin menghampiri Bapa yang demikian dalam doa-doa kita).
“Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”
Kita sudah beberapa kali membahas istilah kebenaran (righteousness, dikaiosune, tzedakah), bahwa ini bukan semacam integritas atau moralitas pribadi, ini selalu berarti integritas atau moralitas saya bagi orang lain. Righteousness di dalam Alkitab selalu ada unsur orang lainnya. Righteousness di dalam Alkitab selalu berarti melakukan hal yang benar bagi orang lain, melakukan apa yang tepat/proper/beres dalam relasi kita dengan pihak yang lain. Jadi, orang-orang yang lapar dan haus akan hal ini, adalah orang-orang yang tidak memiliki relasi yang beres seperti ini. Kemungkinan pertama, mereka adalah orang yang relasinya tidak beres karena kesalahan yang ada pada diri mereka sendiri, mereka selalu gagal berlaku tepat bagi orang lain. Mereka senantiasa meringis ketika melihat bagaimana dirinya menjadi papa bagi anak-anaknya, atau menjadi istri bagi suaminya selama ini. Bisa juga mereka adalah orang-orang yang lapar dan haus akan kebenaran karena merekalah yang jadi korban relasi yang tidak beres. Mereka mengalami ketidakadilan. Dan, orang yang mengalami seperti ini, mereka bukan “rindu” keadilan, mereka kelaparan. Kelaparan berarti harusnya ada sesuatu yang dibutuhkan untuk hidup tetapi tidak ada. Kelaparan adalah keadaan yang menuju kematian. Ini seperti orangtua yang mendengar kabar bahwa pembunuh anaknya dihukum sangat sebentar di penjara.
Baru-baru ini di BBC Inggris ada artikel membahas kasus tiga anak laki-laki yang terbukti memerkosa dua anak wanita, sepuluh kali antara tahun 2023 sampai 2024, dan akhirnya vonis Hakim adalah: ketiga anak ini tidak kena penjara sama sekali, hanya kena probation dan semacamnya. Kenapa demikian? Karena Hakim berpendapat bahwa tiga anak ini masih berumur belasan, mereka akan hancur kalau sampai masuk penjara, mereka ada sedikit keterbelakangan mental, dsb. Dan, tentu saja ini sangat mengagetkan. Rakyat Inggris sampai mengajukan perkara ini ke Perdana Menteri, karena okelah Hakim bilang anak-anak laki-laki itu bisa hancur kalau sampai masuk penjara, tetapi bagaimana dengan korbannya yang menunggu keadilan dan keadilan itu tidak datang?? Inilah lapar dan haus akan righteousness, karena lapar berarti tidak dapat makanan!
Butuh keadilan untuk hidup, tetapi tidak ada, yang ada hanya perasaan dan haus; apa yang positif di sini?? Saudara ingin jadi orang seperti ini?? Apakah Yesus di sini sedang memanggil kita, “Hai, ayo jadi orang-orang yang mengalami ketidakadilan karena itu syaratnya kamu selamat di hadapan Tuhan” ?? Jika itulah Kekristenan, saya akan murtad detik ini juga! No way, Saudara. Yesus mengatakan bahwa dalam Kerajaan Surga, orang-orang seperti ini pun bisa berbahagia, mereka akan dipuaskan.
Tidak semua orang yang menderita ketidakadilan otomatis akan dipuaskan. Sama juga, tidak semua orang yang berdukacita otomatis akan dihibur. Ada orang-orang yang berduka yang tidak mau dihibur, yang bahkan lama-lama merasa tertalu attach dengan dukanya, lebih prefer menghidupi hidup yang depresi, merka merasa itu jadi jati dirinya. Sama juga, ada orang-orang yang menderita ketidakadilan, yang harusnya lapar akan keadilan, tetapi mereka tidak sudi dikenyangkan, karena menjadi victim merupakan status spesial pada hari ini, jadi harus dipertahankan se-lama mungkin. Dalam pernikahan, hal ini paling jelas. Masing-masing dari pasangan hanya mengakui dosa pasangannya, “Aku korban dari pasanganku.” Orang-orang seperti ini tidak bakal dipuaskan, karena mereka tidak mau dipuaskan. Namun dalam Kerajaan Surga, anugerah Allah bisa mencapai bahkan orang-orang seperti ini. Dalam Kerajaan Surga, mereka pun bisa diberikan karunia untuk somehow melepas cengkeramannya dari “takhta” status korban. Dalam hal itulah mereka mendapatkan kepuasan. Ini bukan karena mereka ‘kan, status tersebut tidak membuat mereka otomatis ke sana. Ini adalah karena Kristus dan Kerajaan Surga.
“Berbahagialah orang yang murah hatinya (TB2: yang berbelaskasihan), karena mereka akan beroleh kemurahan (TB2: belaskasihan).”
Di sini kita pikir ini jelas positif dong. Namun sekali lagi, tidak demikian, Saudara, karena dalam dunia ini justru hancurlah orang yang berbelaskasihan, karena mereka akan diperalat. Orang yang murah hati, bisnisnya bakal jeblok. Itulah kata dunia. Dunia geleng-geleng kepala melihat orang seperti ini. Kita pun geleng-geleng kepala melihat orang seperti ini, “Aduh, lu sih terlalu baik. Mau memberi, ya silakan, tetapi harus ada batasnya, dong, tidak bisa Lu lempar mutiara ke babi” –kita mengutip Alkitab.
Seorang komentator bagian ini, menceritakan tentang orangtuanya yang hidup pada zaman Great Depression di Amerika (zaman krisis ekonomi). Ketika itu, orangtuanya buka toko baju; dan orang-orang datang ke tokonya karena perlu baju, tetapi mereka tidak bisa bayar. Orangtuanya itu lalu memberi bajunya dan bilang, “Bayarnya nanti saja.” Lalu apa ending-nya? Sudah pasti tokonya bangkrut. Jadi siallah mereka yang murah hatinya, karena mereka akan diperalat orang lain; bodohlah mereka yang berbelas kasihan. Namun dalam Kerajaan Surga malah berbahagialah mereka yang bermurah hati karena orang-orang seperti inilah yang akan menerima kemurahan hati. Koq bisa? Apakah karena engkau bermurah hati? Bukan.
Dalam hal ini mungkin contoh yang paling pas adalah cerita mengenai Corrie Ten Boom, seorang survivor Kamp Konsentrasi Ravensbrück. Corrie Ten Boom beserta keluarganya ketahuan menyembunyikan orang Yahudi, maka Corrie dan kakaknya, Betsie, ditangkap Nazi Jerman, dimasukkan ke kamp konsentrasi; dan Betsie akhirnya meninggal dalam kamp tersebut. Setelah Jerman kalah, dan Corrie bebas, dia lalu sering diundang berkhotbah di beberapa gereja. Suatu kali dia berkhotbah mengenai pengampunan, dan selesai kebaktian, ada seorang pria datang kepadanya. Corrie mengenalinya, ini orang yang dia sudah lama tidak lihat namun dia masih mengenali, inilah perwira SS Nazi di Ravensbrück. Melihat wajah perwira ini, semua memori horor di kamp konsentrasi itu mencuat lagi, membanjiri hatinya, termasuk salah satunya adalah wajah Betsie, saudaranya, yang sudah pucat, sudah jadi mayat. Perwira ini datang menghampiri Corrie, membungkuk di depan dia, dan berani-beraninya mengatakan sangat bersyukur oleh karena khotbahnya; katanya: “Karena engkau mengabarkan pengampunan Kristus bagiku, bahwa aku, perwira Nazi Kamp Konsentrasi, telah dihapus dosanya oleh Kristus.” Pria itu lalu mengulurkan tangannya kepadanya, dan Corrie Ten Boom tidak merespons. Ini momen yang mungkin cuma berjalan beberapa detik, namun kita tahu dalam beberapa detik itu badai berkecamuk dalam hati Corrie Ten Boom. Saudara bisa bayangkan, baru saja dia berkhotbah mengenai pengampunan, bahwa Yesus memang telah mati bagi semua orang –termasuk perwira Nazi ini– namun apakah ternyata aku sebenarnya tidak percaya itu? Apakah bagi diriku itu ternyata tidak cukup?? “Tuhan, ampuni aku,” Corrie berdoa, “Tuhan, tolong aku mengampuninya.” Aku mencoba tersenyum, tetapi aku tidak bisa. Aku berusaha mengangkat tanganku, tetapi aku tidak sanggup. Aku tidak merasakan apa pun, tidak ada sebersit pun kehangatan yang bisa kuberikan kepadanya, tidak ada satu pun perasaan belas kasihan bagi orang ini. Aku lalu memanjatkan satu doa kecil lagi, “Tuhan, aku tidak mampu mengampuni orang ini, tolong ampuni aku.” Dan, entah apa yang terjadi, tanganku menyentuh tangannya. Lalu sesuatu seperti arus listrik membanjiri tanganku, dan ke dalam hatiku tertuang sebuah kasih bagi orang ini yang terlalu kuat, hampir aku tidak bisa menahannya.
Siapa yang berbelaskasihan dalam cerita ini? Siapa yang menerima belas kasihan dalam cerita ini? Dua-duanya. Ada yang jelas menerima belas kasihan, yaitu si perwira Nazi, tetapi Corrie Ten Boom yang memberikan belas kasihan, lewat hal itu dia juga menerima belas kasihan. Logika dari mana ini? Apakah karena engkau memberikan belas kasihan maka otomatis belas kasihan turun kepadamu? Tidak. Ini hanya bisa terjadi dalam Kerajaan Surga, karena ini hanya bisa terjadi melalui Kristus. Itulah poinnya.
“Berbahagialah orang yang suci hatinya, karena mereka akan melihat Allah.”
Kita sudah bahas ini minggu lalu, ini bukan sifat yang positif, setidaknya ini bukan keadaan yang berbahagia dalam mata dunia. Ini orang-orang yang pure in heart, katharos kardia, para purist, para perfeksionis. Ini orang-orang yang bikin hidup orang lain miserable karena hidup mereka lebih miserable lagi. Ini orang yang Saudara takut dekat-dekat mereka, berhubung mereka sanggup menemukan kesalahan-kesalahan paling kecil dalam doktrinmu, dalam praktika hidupmu, bahkan dalam hatimu. Ini orang-orang yang hatinya terlalu lurus, karena mereka sendiri juga demikian, atau bahkan lebih parah lagi terhadap dirinya sendiri. Mereka orang-orang yang tidak pernah puas dengan bajunya, atau rambutnya. Mereka adalah orang-orang yang selalu akan tahu apa yang salah dalam segala sesuatu. Ini orang-orang yang miserable. Dalam pengertian seperti inilah, kondisi ini juga tidak positif, namun demikian Kerajaan Surga terbuka bahkan bagi mereka. Kenapa? Karena dalam Kristus, orang-orang ini miserable sampai mereka menemukan yang memuaskan mereka. Siapa yang memuaskan mereka? Di mana dan pada siapa hal itu ditemukan? Jawabannya: ketika mereka melihat Allah, Raja dari Kerajaan surga.
“Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah.”
Kita pikir, pembawa damai ini positif banget dong. Tidak, Saudara, tidak sebegitunya. Di luar Kerajaan Surga, orang-orang ini tidak mungkin namanya dianggap positif, dan tidak mungkin disebut anak-anak Allah, karena kalau Saudara membawa damai, artinya Saudara harus nyemplung ke dalam konflik, menaruh dirimu di tengah-tengah dua atau lebih pihak yang sedang bertikai. Dan, ketika Saudara melakukan hal seperti ini, dua-duanya tidak akan pro terhadap engkau karena mereka tahu engkau di tengah-tengah, engkau tidak pro mereka. Orang yang konflik, bertikai, mereka meresikokan diri kena pukul satu dengan yang lain, tetapi orang yang melerai juga akan beresiko kena pukul dua belah pihak, kiri kanan. Para pembawa damai, hidupnya tidak mungkin ada kedamaian. Sadarkah Saudara akan hal ini? Jadi kalau hidup kita selama ini damai-damai saja, itu adalah karena kita selama ini menghindari konflik, bukan karena kita selama ini pembawa damai.
Bahkan pengajaran Yesus jelas akan hal ini, misalnya perumpamaan Ilalang dan Gandum. Orang Kristen diajar Yesus untuk tidak melakukan pengusiran terhadap orang-orang yang kita anggap di luar garis batas keselamatan, baik itu garis yang riil maupun imajiner. Gereja Tuhan membiarkan baik gandum maupun ilalang tumbuh bersama-sama sampai masa panen. Dan, apa dampak dari hal ini? Kedamaian. Di Eropa sebelum abad ke-17, Gereja selama berabad-abad punya praktika mencari dan memenjarakan orang-orang sesat, lalu abad ke-17 mulailah ada prinsip dasar kebebasan beragama, yang mengatakan bahwa orang-orang sesat (bidat) pun harus punya hak untuk hidup dengan tenang. Dasarnya dari mana? Dari pengajaran Yesus tersebut. Efeknya, ini membawa damai beneran di Eropa. Tetapi Saudara kebayang ‘gak sih hidup jadi pembawa-pembawa damai seperti ini? Ini berarti para pembawa damai adalah orang-orang yang dalam hidupnya menyisakan ruang bagi musuh-musuh mereka, orang-orang yang mereka anggap fasik. Dan, dalam kerajaan dunia, ini bukanlah orang-orang yang blessed. Ini orang-orang yang memendam bom waktu, orang-orang yang membiarkan musuh mereka bernapas selagi mereka punya kuasa untuk melenyapkan musuh tersebut. Ini cari mati! Namun dalam Kerajaan Surga, mereka adalah anak-anak Allah. Kenapa disebut anak-anak Allah? Karena seorang anak mirip dengan orangtuanya, dan Allah sendiri adalah pembawa damai. Karena Allah sendiri menurunkan hujan bagi orang benar maupun orang fasik. Karena Allah adalah Allah yang punya ruang bagi mereka yang memberontak melawan-Nya.
“Berbahagialah orang yang dianiaya karena kebenaran, karena merekalah yang punya Kerajaan Sorga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku, kamu orang mencela dan menganiaya kamu serta menujukan segala fitnah kepadamu. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”
Tiga ucapan terakhir ini kita sum up jadi satu saja karena pada dasarnya ini satu, orang-orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, dicela dan difitnah oleh karena Kristus. Saya mau tanya, siapa yang mau ngantri jadi orang-orang seperti ini?
Inilah murid-murid Yesus, setidaknya pada zaman Yesus sendiri, karena mengikut Yesus pada waktu itu memang akan jadi orang-orang seperti ini. Minggu lalu kita sudah bicara mengenai bagaimana orang-orang Farisi memandang para pengikut Yesus. Mereka memandangnya inilah orang-orang yang tidak mengenal Hukum Taurat, inilah orang-orang yang ‘gak melek Alkitab, “Terkutuklah mereka! Bisa-bisanya mikir tukang kayu jadi juruselamat dunia, dodolnya!!” Dan, dalam mata kerajaan dunia, inilah posisi yang benar-benar hopeless. Ini posisi yang jauh banget dari berkat Tuhan, karena bagi orang-orang Yahudi pada abad pertama itu, exactly orang-orang inilah yang memberontak terhadap Tuhan. Dalam persepsi orang-orang pada waktu itu –sebagaimana Tuhan Yesus sendiri dengan sangat gamblang kepada murid-murid-Nya, “Kamu akan dikucilkan; akan datang saatnya bahwa setiap orang yang membunuh kamu akan menyangka ia berbuat bakti kepada Allah”—orang-orang yang menyiksa pengikut-pengikut Yesus, mereka pikir merekalah yang diberkati Allah. Mereka menyiksa pengikut-pengikut Yesus, karena mereka pikir inilah orang-orang yang paling jauh dari Allah.
Hanya dalam Kerajaan Surga, keadaan seperti ini bisa dibilang blessed. Pertama, sudah pasti karena upahnya –upah di surga; dan hanya dalam Kerajaan Surga upah seperti itu ada harganya, sedangkan dalam kerajaan dunia apalah artinya upah di surga. Hanya dalam Kerajaan Surga kita mengetahui bahwa harta di dunialah yang justru cepat atau lambat akan dirusak ngengat dan karat, sementara harta di surgalah yang kekal dan bertahan. Namun lebih daripada itu, hanya di dalam Kristuslah semua ini bisa jadi positif, karena waktu Saudara dan saya mengalami hal ini, kita tahu Kristus sudah mengalaminya terlebih dulu bagi kita. Dia itulah figur yang terlebih dulu semua orang lihat sebagai figur yang dikutuk Allah, yang mati digantung di atas pohon –justru karena Ia memilih menjalankan kehendak Bapa, dan bukan kehendak diri.
Sekarang Saudara sudah convinced bahwa Ucapan Bahagia ini bukanlah instruksi? Ini bukan nasihat ‘jadilah seperti ini’. Ini sebuah proklamasi, bukan instruksi. Yesus sedang memproklamasikan berkat Allah yang sekarang datang kepada orang-orang, yang di mata dunia/manusia hopeless. Itulah maksudnya. Oleh karena Kerajaan Surga telah hadir, maka semuanya ditunggangbalikkan. Itulah good news-nya. Good news-nya bukanlah ‘karena kamu dianiaya, karena kamu berduka, karena kamu miskin, maka kamu selamat’; good news-nya adalah: Keselamatan dari Allah sekarang bisa datang bahkan bagi mereka-mereka ini –keselamatan dari Allah bisa datang bahkan bagi MBG. Mereka yang miskin, berduka, yang gampang diperalat, yang ‘gak gercep maupun pede, yang perfeksionis, yang hidup damai dengan musuh-musuhnya, yang teraniaya, jika Kerajaan Surga tidak datang, tidak ada harapan bagi orang-orang seperti ini. Dunia mengatakan, “Ah, orang-orang kayak begini mau diberkati/blessed, berbahagia?? Naik level dululah, keluar dulu dari situas-situasi seperti itu, baru mereka bisa menemukan berkat Allah.” Berita Kerajaan Surga mengatakan lain: “Tidak demikian; karena Yesus Kristrus telah hadir, literally berkat Allah telah turun –bukan suruh kita naik melainkan berkat Allah yang turun—lewat Yesus, masuk ke dalam situasi-situasi manusia yang seperti itu, maka mereka pun bisa diberkati.” Inilah Injil Kerajaan Surga yang terlalu berbeda dengan injil kerajaan dunia. Itu penekanannya. Jadi jangan pernah expect Kerajaan Surga bisa cocok dengan laci-lacimu selama ini. Problem kita selama ini adalah bahwa mungkin kita tidak rela untuk kaget di hadapan Tuhan. Sekali lagi, ini laut lepas, bukan berenang din kolam.
Untuk mendukung hal ini, kita bisa lihat bagian-bagian lain dari pengajaran Yesus, yang akan membuat kita menyadari inilah sesungguhnya salah satu tema yang paling ditekankan dalam Injil, yaitu pembalikan status, pembalikan prioritas. Mari coba lihat dari Injil Lukas, Matius, dan Markus.
Dalam Lukas, tindakan pertama Yesus memulai pelayanannyaadalah dengan datang ke sinagoge, membaca satu nas dari Yesaya mengenai Mesias, mengatakan nas itu digenapi dalam masa itu juga. Ini Lukas 4:18-19, perhatikan gaya bahasanya: ”Roh Tuhan ada pada-Ku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin; dan Ia telah mengutus Aku untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang.” Mirip, ya. Ini ‘kan daftar orang-orang yang manusia coret dan tandai “hopeless”, namun demikian dalam Kerajaan Surga, melalui tangan Yesus, mereka jadi orang-orang yang pertama mengenal karunia Kerajaan Surga.
Dalam Matius, ketika Yohanes Pembaptis masuk penjara dan mulai kecewa terhadap Yesus; ini kenapa? Karena Yohanes Pembaptis pun masih ada kecenderungan yang sama seperti kita, gagal melihat seberapa bedanya Yesus dan Kerajaan-Nya, upset ketika Yesus tidak memenuhi ekspektasi manusia mengenai seperti apa yang harusnya dilakukan oleh seorang raja Israel. Itu sebabnya dia mengutus beberapa muridnya kepada Yesus untuk bertanya hal tersebut, “Engkau atau bukan sih yang kami tunggu-tunggu? Atau kami musti tunggu orang lain lagi?” Dan, perhatikan jawaban Yesus (Matius 11:4-6): ”Pergilah dan katakanlah kepada Yohanes apa yang kamu dengar dan kamu lihat: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang tuli mendengar, orang mati dibangkitkan dan kepada orang miskin diberitakan kabar baik. Dan berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.” Lihat, muncul lagi daftar yang sama. Dan supaya lebih jelas, ayat 6 Tuhan Yesus memakai gaya bahasa Ucapan Bahagia lagi, “Berbahagialah (blessed) orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku.”
Sekarang kita lihat dari Markus. Markus pasal 10 ada kisah Anak Muda yang Kaya. Coba kita baca bagian ini dengan kacamata ‘berbahagialah mereka yang miskin’. Pada zaman itu –dan juga zaman kita– asumsi yang berlaku universal adalah: yang diberkati Tuhan adalah mereka yang makmur. Kalau Saudara merasa tidak percaya itu, menganggap itu cuma orang teologi sukses, jangan tipu dirimu, buktinya kita semua ini berlomba-lomba untuk jadi kaya. Kita semua, dalam hati merasa bahwa hidup yang berbahagia –hidup yang diberkati– adalah hidup yang hartanya lebih banyak dari yang kita punya sekarang. Mulutmu bisa bicara beda, tetapi lihatlah apa yang dilakukan tangan dan kakimu, dan lihatlah apa yang benar-benar ada doalam hatimu. Orang Yahudi abad pertama pada waktu itu, lebih jujur dengan hatinya dibandingkan kita; mereka jelas mengatakan: bagaimana mungkin orang bisa kaya kalau bukan karena perkenanan Tuhan; ini lumrah, karena ‘kan semua harta itu Tuhan yang mengendalikan. Jadi kalau orang bisa kaya, itu karena dia diperkenan oleh Tuhan. Orang yang paling dekat dengan kehidupan yang diberkati, yang paling dekat dengan Kerajaan Surga, adalah mereka yang kaya ini. Ini top of the list!
Namun datanglah si anak muda yang kaya ini, dan terungkap bahwa dia ternyata lebih mengasihi hartanya dibandingkan Tuhan. Di sini Yesus lalu mengakhiri kisah tersebut dengan berkomentar: “Betapa susahnya orang ini masuk ke dalam Kerajaan Surga; lebih gampang unta masuk lubang jarum dibandingkan orang kaya masuk Kerajaan Surga.” Dan perhatikan sekali lagi, bagaimana banyak orang Kristen menafsirkan bagian ini, yaitu dengan mengatakan, “Lubang jarum itu cuma kiasan; ada yang namanya Pintu Lubang Jarum di Yerusalem, dan unta bisa masuk, hanya saja harus menundukkan diri, melepaskan bebannya.” Penafsiran ini tidak ada dasar arkeologisnya sama sekali, tembok Yerusalem tidak ada Pintu Lubang Jarum buat unta lewat seperti itu. Catatan pertama penafsiran seperti ini baru muncul di abad ke-12, bukan dari Gereja-mula-mula. Ini hoax sebelum zaman sosmed. Tetapi kenapa ini hoax yang sangat populer? Karena ini fit dengan banyak laci orang Kristen, persis seperti menafsirkan ‘miskin di hadapan Tuhan’ itu kiasan, maksudnya cuma kerendahan hati, untanya perlu menunduk. Seperti itulah kita melihat bagian ini.
Bagi orang-orang sezaman Yesus, perkataan Yesus ini mengagetkan mereka; dan respons mereka adalah: “Jadi siapa yang bisa diselamatkan kalau kayak begitu?” Dari kalimat ini, sudah pasti mereka tidak tahu menahu urusan Pintu Lubang Jarum unta tadi, karena kalau memang benar ada, mereka tinggal mengangguk-angguk, “O, cuma perlu rendah hati’ masuk akal.” Tetapi bukan itu; mereka kaget, mereka bingung jadinya siapa yang bisa diselamatkan; kalau orang kaya saja tidak bisa selamat, siapa yang bisa?? Ini karena asumsi mereka orang kaya menempati daftar paling ataas perkenanan Tuhan.
Lalu apa respons Yesus? Apakah Yesus lalu mengatakan, “Bego kalian, itu ‘kan gampang saja, rendah hati maka selamat, kuncinya di untanya –di lutut untanya. Kuncinya di manusianya, yang penting hatinya, tinggi atau rendah. Begitu saja ‘gak ngerti” ? Tidak. Yesus mengatakan, “Apa yang mustahil bagi manusia, tidak mustahil bagi Allah.” Saudara lihat, kuncinya bukan di orangnya. Ini bukan berarti Tuhan Yesus mengajarkan bahwa orang kaya tidak bisa selamat; itu bukan ajaran-Nya. Bahkan di bagian ini bisa dibilang Tuhan Yesus sedang mengajarkan bahwa orang kaya bisa selamat. Poinnya: orang kaya tidak bisa selamat tanpa pertolongan Allah, yang merupakan satu-satunya cara untuk bisa selamat bagi orang jenis apapun, entah kaya ataupun miskin. Dalam Kerajaan Surga, hal-hal yang mustahil menjadi possible oleh karena Kristus dan Kerajaan-Nya.
Kembali ke kisah Anak Muda yang Kaya. Perhatikan, setelah semua itu, Petrus lalu angkat bicara mewakili murid-murid yang lain: “Tuhan, kami tidak seperti anak muda kaya itu, kami inilah yang telah meninggalkan segala sesuatu untuk mengikut-Mu.” Maksudnya apa? Maksudnya: jadi kami dapat apa, kami ingin tahu. Yesus lalu menjawab, “Ya, tentu, semua orang yang karena Injil, mengorbankan a, b, c, d, e, akan menerima kembali berkali-kali lipat,” and yet Yesus mengakhiri dengan sebuah pembalikan, “Tetapi, yang terdahulu akan jadi terakhir, yang terakhir akan jadi yang terdahulu.” Maksudnya apa? Engkau menerima berkali-kali lipat, itu pasti, benar; tetapi apa yang persisnya engkau akan terima? Kalau engkau pakai kacamata dunia, maka engkau melihat yang kauterima berkali-kali lipat itu adalah hal-hal yang hopeless, worthless; sedangkan dalam Kerajaan Surga, engkau menerima berkali-kali lipat harta yang kekal. Kembali lagi poin tadi keluar di sini, seberapa berbedanya Kerajaan Surga. Hal yang priorotas, yang nomor satu di kepalamu, itu mungkin sesungguhnya tidak penting dalam Kerajaan Surga; dan hal yang engkau sering kali anggap tidak penting, justru signifikan di mata Allah. Lihat, seberapa bedanya Kerajaan Surga, seberapa asingnya berenang di laut lepas, bukan berenang di kolam. Inilah Kerajaan Surga.
Dalam Persekutuan Doa, Ibu Wenly sempat cerita mengenai penulis himne It is Well with My Soul, Horatio Spafford, dia kehilangan empat anaknya dalam kecelakaan laut selama penyeberangan di Samudra Atlantik. Ibu Wenly menceritakannya dengan detail; dan saya mendengar kayak beginian sudah ‘gak tahan sejak punya anak. Sejak punya anak, banyak kelemahan datang dalam hidupku, saya jadi sering sakit, padahal saya rajin olah raga. Tidak cuma kelemahan tubuh, hati pun jadi lemah. Dulu kalau saya baca berita-berita di internet tentang ditemukan bayi di tong sampah, dsb., saya tidak peduli, berita seperti itu ‘gak ngefek sama sekali, ‘gak rasa apa-apa. Tetapi sejak punya anak, mendengar cerita seperti Horatio Spafford kehilangan empat anaknya, itu bikin saya seperti ada gejala panic attack ringan. Dulu saya pikir panic attack itu bohongan, tetapi sekarang mulai terasa, kalau mendengar cerita seperti tadi maka badan bereaksi di luar kendali, jantung berdebar-debar, paru-paru rasa susah napas. Waktu Pak David dan Bu Mili minta saya mendoakan anak mereka yang mau kuliah ke luar negeri, saya sambil berdoa tiba-tiba menangis sesenggukan, padahal orangtua ini saja tidak begitu. Saya malu sebenarnya waktu itu, kenapa gue jadi kayak begini. Dan, dalam kerajaan dunia, kelemahan kayak begini ‘kan sesuatu yang rendah, yang tidak enak, hidup seperti ini bukan hidup yang blessed. Namun dalam Kerajaan Surga, kelemahan-kelemahan seperti ini adalah jalan Tuhan membawa saya jadi orang yang lebih manusiawi; tanpa kelemahan-kelemahan seperti ini, saya akan sangat sulit simpati pada orang lain. Dalam Kerajaan Surga, semua kelemahan ini bisa –tidak pasti, tidak otomaatis—di dalam Kristus menjadi kekuatan.
Satu cerita untuk jadi poin terakhir kita. Ada sebuah buku yang belum lama terbit dan sudah mulai banyak dibicarakan, judulnya Still Time to Care, penulisnya Greg Johnson. Johnson adalah seorang penatua di Presbyterian Church in America; dan dia seorang homoseksual (gay) Kristen. Membaca buku yang ditulis oleh seorang gay Kristen, biasanya Saudara sudah ada bias tertentu, mau ngomong apa ini orang?? Johnson mulai dengan menyerang habis posisi banyak gereja Injili hari ini yang melihat homoseksualitas sebagai sebuah penyakit, dan oleh sebab itu bisa disembuhkan. Johnson mengatakan, pada awalnya banyak pemikir besar seperti C.S. Lewis, John Stott, yang merespons kaum homoseksual dengan pendekatan care, bukan cure, bukan berusaha menyembuhkan mereka melainkan berusaha care terhadap mereka. Namun kemudian dia melihat entah bagaimana gereja-gereja Injili sekarang mulai bergeser dari care ke cure; homoseksualitas dilihat sebagai sesuatu yang orang harus disembuhkan darinya, dibebaskan darinya. Ini lalu menghasilkan fenomena yang kita lihat di banyak gereja, yang sering kaliu disebut sebagai conversion therapy, orang berusaha dibalikkan dari gay menjadi normal. Johnson menyerang terapi-terapi seperti ini. Dia mengumpulkan data riil bahwa pendekatan cure seperti ini ujungnya malah banyak menghancurkan hidup orang-orang tersebut.
Kalau Saudara membaca sampai sejauh ini, Saudara expect apa yang datang berikutnya? Dia mengatakan pendekatan cure itu salah, lalu apa kelanjutannya menurut Saudara, solusinya apa kalau ini salah? Kita akan pikir, ya sudah dong, kalau bilang homoseksualitas bukan penyakit, bukan untuk disembuhkan, jadi satu-satunya opsi adalah bebaskan, biarkan orang-orang gay Kristen hidup sebagai orang gay dengan lifestyle gay. Namun plot twist-nya, Johnson tidak mengatakan itu. Johnson mengatakan: homoseksualitas bukan untuk di-cure, maka inilah sebabnya saya hari ini hidup sebagai orang gay yang selibat, saya tidak cari pasangan sama sekali, saya tidak menghidupi gay lifestyle.
Membaca ini, semua orang bingung, baik pembaca dari kalangan progresif maupun konservatif. Pembaca dari kalangan progresif yang pro-gay, kaget karena mereka pikir, lah, kenapa lu jadi selibat?? Bukankah homo itu menurutmu bukan penyakit, bukan untuk disembuhkan, lalu kenapa lu jadi selibat, aneh ‘kan?? Pembaca dari kalangan konservatif sama kagetnya, lah, kalau kamu ambil jalan selibat, berarti buatmu lifestyle gay itu salah, tidak sesuai Alkitab ‘kan, tetapi kamu tidak setuju bahwa itu bisa disembuhkan, kamu tidka setuju bahwa itu penyakit.; jadi maksudnya apa??
Di sinilah menariknya buku tersebut, karena lewat kesaksian Johnson ini kita baru sadar bahwa baik orang progresif maupun orang konservatif, cara pikirnya mirip, keduanya merasa bahwa orang baru bisa blessed, berbahagia dalam Kerajaan Surga, ketika mereka bebas. Buat orang progresif, bebasnya berarti bebas menghidupi gay lifestyle; buat orang konservatif, bebasnya berarti bebas dari penyakit homoseksualitas. Mereka beda dalam membicarakan bebas dari apa, tetapi mereka setuju, atau mirip, bahwa mereka percaya kehidupan yang blessed baru bisa ditemukan ketika kita bebas. Johnson bukan dua-duanya. Johnson memilih hidup yang bukan sembuh dari homoseksualitas, dia tetap gay, dia tidak percaya itu bisa di-cure, namun dia memilih hidup jadi gay selibat, hidup bukan bebas menjalani gay lifestyle. Saudara, menjadi gay selibat, itu dobel pembatasan; tidak sembuh dari homoseksualitas, tetapi juga tidak bebas untuk menghidupi gay lifestyle. Namun kesaksian Johnson dalam buku itu adalah betapa dia menemukan sukacita –SUKACITA– di dalam dan melalui keterbatasan ini; bahwa justru sukacita Kristus turun baginya –bukan dia yang naik—di tempat ia berada, dalam keterbatasan.
Dia tidak perlu membebaskan diri dulu baru bisa diberkati; berkat Tuhanlah yang turun sampai ke tempat dia berada, dalam dobel keterbatasan tadi. Sukacita dalam pembatasan. Saudara lihat ini? Inilah Kerajaan Surga. Inilah hadirnya realitas yang terlalu asing, terlalu aneh buat kita, namun juga riil melalui Kristus dan Kerajaan-Nya. Inilah berita baik Injil Kerajaan Surga. Bahwa ternyata lewat Yesus, Kerajaan Surga telah terbuka, bahkan bagi orang-orang seperti ini, orang-orang seperti kita, orang-orang yang hopeless! Kita tidak perlu pindah tempat dulu untuk karunia Tuhan bisa menemui kita. Karunia Tuhanlah yang berkuasa untuk turun menyentuh kita bahkan dalam kelemahan-kelemahan kita, bahkan dalam dukacita kita, dalam kemiskinan kita, dalam semua itu, karena seperti kesaksian Paulus, kuasa Tuhan kita malah menjadi sempurna dalam kelemahan.
Kalau kita menyadari seperti inilah Kerajaan Surga, harusnya ini membuat kita jauh lebih bisa simpati dengan orang-orang sezaman Yesus; mereka menghina Dia terus dengan mengatakan, “Lihat, ini Orang makan bersama para pendosa dan pemungut cukai,” dan buat kita sekarang keberatan ini lebih make sense, karena kita juga sama. Kita rasanya aneh kalau mengatakan Kerajaan Surga itu terbuka bagi para pembunuh dan pemerkosa. Bisakah Saudara mengatakan ‘berbahagialah’ bahkan orang-orang yang melakukan tindakan kriminal, orang-orang yang brutal, orang-orang yang gay, orang-orang yang yang jorok, orang-orang yang yang kelewat tajir?? Karena dalam Kerajaan Surga ternyata mereka pun tidak terputus dari kemungkinan kuasa Allah menyentuh mereka di tempat mereka berada.
“Waduh, ‘gak bisa kayak begini, Pak, ini kelewatan. Kita punya batasan, Pak. Dalam Surat 1 Korintus jelas Paulus mendaftarkan orang-orang yang tidak masuk ke dalam Kerajaan Surga!” Kita baca 1 Kor. 6:9-11, dalam hal ini terjemahan TB2 bagus sekali: (ayat 9-10) Atau tidak tahukah kamu, bahwa orang-orang yang tidak adil tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah? Janganlah sesat! Orang cabul, penyembah berhala, orang berzinah, laki-laki yang ditiduri serta laki-laki yang melakukannya, pencuri, orang tamak, pemabuk, pemfitnah dan penipu tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah. “Lihat, Pak, ada batasannya, Kerajaan Allah tidak terbuka bagi mereka!” Saudara, please baca ayat setelahnya, jangan lupa. Ayat 11: Beberapa orang di antara kamu memang demikian dahulu. Tetapi kamu telah di-permandikan, kamu telah di-kuduskan, kamu telah di-benarkan dalam nama Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita. TB1 dalam hal ini mengatakan ‘engkau telah memberi dirimu disucikan’, tetapi itu tidak ada dalam bahasa aslinya, jadi bagus sudah dikoreksi; yang benar adalah: engkau simply di-permandikan (pasif), di-benarkan, di-sucikan. Saudara lihat, dalam terjemahan yang lama, seperti ada perasaan tidak rela, rasanya kepingin ada sesuatu yang kita bisa pegang, yang kita kerjakan, kitalah yang memberi diri. Namun itu tidak ada dalam bahasa aslinya, TB2-nya bagus sekali.
Beberapa orang di antara kamu memang demikian dahulu, tetapi kamu telah dipermandikan, kamu telah dikuduskan, kamu telah dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Itulah yang menyebabkan kita bisa masuk. Terlalu radikal-kah ini buatmu? Mungkin itu sebabnya kita tidak bsia pergi membawa Injil kepada orang lain, karena kita sendiri sering kali tidak menyadari seberapa radikalnya Injil yang telah datang kepada kita, karunia Tuhan yang telah datang kepada kita, bagi kita, selagi kita masih musuh-musuh-Nya. Jika kita, yang sendirinya pendosa-pendosa yang masih dalam proses pengudusan, menerima kabar baik ini, maka harusnya kita bisa pergi kepada para pembunuh, penyeleweng seks, penyembah iblis, perampok orang-orang yang tua dan lemah, pembohong, penipu, pengisap darah, dan mengatakan kepada mereka, “Blessed … blessed … blessed… , engkau pun bisa berbagian dalam Kerajaan Surga karena di sana ada pengampunan yang tidak mengenal batas,” karena orang-orang seperti inilah yang membentuk kerumunan dalam Kerajaan Surga.
Di tengah-tengah Kerajaan surga, engkau melihat orang-orang seperti Corrie Ten Boom, namun engkau juga melihat siapa yang digandeng di tangan Corrie Ten Boom, yaitu perwira Nazi yang menyiksa dan membunuh keluarganya. Itu bukan pemandangan yang Saudara bisa temukan di dunia, itu pemandangan Kerajaan Surga. Jika demikian, ini harusnya akan membuat Saudara mengubah ekspektasimu terhadap gambaran warga Gereja. Gereja yang sehat secara rohani, akan kelihatannya kira-kira seperti itu. Seperti dikatakan dalam Zakharia 3, Tuhan mengatakan, “Aku telah memilih Yerusalem, seperti puntung yang ditarik dari api.” Kayak apa puntung yang ditarik dari api menurutmu? Kalau Saudara menemukan Gereja yang orang-orangnya semua super nice, instagramable, mungkin itu justru tandanya something is really really wrong, karena di dalam Gerejalah justru tempat orang-orang yang tidak bijak, tidak berpengaruh, tidak terpandang, bodoh bagi dunia, lemah bagi dunia, hina bagi dunia, tidak berarti bagi dunia. Tetapi Allah memilih mereka ini justru untuk mempermalukan dunia dan apa yang dunia anggap berharga.
Yesus bahkan tidak berhenti di situ, maka baru sekaranglah Saudara menangkap seberapa lebih gilanya kalimat selanjutnya, Dia mengatakan, “Kamu-kamu inilah yang adalah garam bagi bumi ini, dan terang bagi dunia ini.”
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading