Kita melanjutkan pembahasan Khotbah di Bukit. Saya harap Saudara sudah bisa melihat bahwa dalam membaca Ucapan Bahagia, problemnya bukanlah kita tidak tahu apa artinya melainkan justru sebaliknya, yaitu kita sudah terlalu familier dengan Ucapan Bahagia, kita pikir kita tahu kira-kira apa artinya. Kita pikir Ucapan Bahagia adalah sebuah instruksi/caranya kalau mau berbahagian dan blessed dalam Kerajaan Surga, yaitu jadilah orang yang miskin di hadapan Tuhan, jadilah orang yang berdukacita, jadilah orang yang teraniaya, dst. Itu salah kaprah level pertama, menganggap Ucapan Bahagia merupakan sebuah instruksi bahwa orang-orang yang berstatus A, akan mendapat janji B, dan kita menganggap ini masuk akal. Itu sebabnya untuk mendukung salah kaprah level pertama tersebut, kita mulai melakukan salah kaprah level kedua, yaitu kita mulai berpikir ‘gak mungkin ‘kan saya jadi orang miskin, jadi orang teraniaya, jadi berarti miskin di sini maksudnya miskin rohani, semacam kerendahan hati tok; yang teraniaya maksudnya orang yang lemah lembut, ‘gak kasarlah. Ini salah kaprah kedua yang kita lakukan demi mendukung salah kaprah yang pertama, tujuannya supaya Ucapan Bahagia ini bisa masuk akal, kita bisa angguk-angguk. Tetapi bagaimana jika Ucapan Bahagia yang diucapkan itu tidak pernah untuk membuat orang angguk-angguk, sebaliknya untuk membuat mereka terhenyak? Bagaimana jika Ucapan Bahagia bukanlah instruksi, melainkan suatu proklamasi seperti apa Kerajaan Surga itu dan seberapa bedanya dengan kerajaan dunia?
Lagipula, bukankah memang itu nuansa pelayanan Yesus sejak awal. Hal pertama yang kita lihat dalam Matius (silsilah), waktu membaca itu mereka akan angguk-angguk atau justru geleng-geleng kepala melihat keberadaan empat wanita asing dalam silsilah itu, yang semuanya punya rekam jejak kontroversial seks? Demikianlah pelayanan Yesus sejak awal –dan kita bisa argue bahkan sejak awal sampai akhir. Waktu Dia memberi diri-Nya kepada Yohanes untuk dibaptis, apakah Yohanes angguk-angguk merasa masuk akal? Tidak; Yohanes Pembaptis terhenyak. Waktu Yesus mengatakan lebih mudah unta masuk lubang jarum daripada orang kaya masuk Kerajaan Surga, apakah murid-murid-Nya angguk-angguk rasa masuk akal? Tidak; mereka bertanya, “Kalau kayak begitu, siapa yang bisa diselamatkan??” Waktu Yesus mengumumkan bahwa kemesiasan-Nya berarti Dia akan ditangkap, disiksa, dibunuh, lalu bangkit, apakah Petrus angguk-angguk rasa masuk akal? Tidak; Petrus menarik Yesus ke samping dan menegur Yesus –yang bikin dia dihardik balik oleh Yesus. Lalu bagaimana waktu Yesus naik ke atas kayu salib, orang angguk-anggukkah? Bagaimana ketika Ia bangkit dari antara orang mati, angguk-anggukkah? Bahkan waktu Dia naik pun, murid-murid bengong, sampai-sampai mereka ditergur oleh malaikat, “Ngapain kalian bengong?” Itulah yang Saudara lihat dari awal sampai akhir.
Kembali ke Khotbah di Bukit, apakah setelah Yesus selesai mengucapkan semua ini, orang banyak yang mendengarkan dia lalu angguk-angguk rasa masuk akal? Tidak. Dikatakan: Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, karena Dia tidak seperti pengajar-pengajar lain. Yang menarik, di ayat 17 Yesus lalu mengatakan, “Jangan kamu sangka Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat,” artinya orang-orang yang mendengar Dia itu banyak yang menyangka Yesus datang untuk menjungkirbalikkan segala sesuatu, bahkan sampai hukum Taurat; dan kenapa orang sampai bisa berpikir demikian, jika omongan Yesus semuanya bisa diterima dan bikin orang angguk-angguk rasa masuk akal?? Yesus justru Mesias yang beda, terlalu beda sampai Ia sendiri harus bikin disclaimer tadi, Aku datang bukan untuk menjungkirbalikkan semuanya, lho, aku datang untuk menggenapi hukum Taurat –karena orang pikir Dia terlalu jungkir balik.
Ucapan Bahagia juga sama. Efek Ucapan Bahagia yang tepat, tercapai bukan ketika mendengar yang Yesus katakan itu, kita lalu angguk-angguk sambil mencatat-catat, melainkan justru ketika kita jadi bengong mendengarkannya, terhenyak, tidak tahu bagaimana dan harus mulai dari mana mencatat semua ini karena koq beda banget dengan yang kita tahu selama ini, yaitu Yesus justru sedang menghubungkan hal-hal yang ‘gak nyambung satu dengan yang lain. Miskin, koq bisa empunya Kerajaan Surga. MBG, koq bisa bersih. Khotbah terbatas, koq jemaat malah bisa bertumbuh. Abraham mandul, koq bisa jadi bapa segala bangsa. Yosua mau serbu tembok Yerikho, koq modal sangkakala tok. Gideon bawa 30.000 pasukan, koq dibilang kebanyakan. Jadi jelas semua ini bukan instruksi lakukan A maka B, mau jadi bapa segala bangsa berarti harus mandul dulu, mau jemaat bertumbuh maka khotbah jangan bagus-bagus, ya.
A dan B ini ‘gak nyambung justru supaya bisa menunjuk kehadiran Figur C di balik semua itu, yang oleh karena kehadiran-Nya maka A dan B yang ‘gak nyambung bisa nyambung. Itu poinnya, Ucapan Bahagia ternyata memang bukan sebuah instruksi melainkan sebuah deklarasi, proklamasi, bahwa oleh karena Kristus orang miskin pun tidak terhalang dari Kerajaan Surga, oleh karena Kristus orang yang berduka akan dihibur, bukan simply move on, dst. Jadi jangan pernah membaca Ucapan Bahagia tanpa Pengucapnya. Yesus di sini bukan sekadar loudspeaker yang kita bisa ganti dengan merek lain. Yesus justru bumbu rahasianya, kuncinya, yang membuat bahkan sushi campur smoothie bisa yummy. Ini dari lagu anak-anak: Do you like sushi? Yes. Do you like smoothie? Yes. Do you like sushi smoothie? Yucky… ; tetapi dalam Kristus, sushi smoothie bisa yummy. Seperti itulah Ucapan Bahagia. Jadi, kecelakaan paling besar dari model pembacaan Ucapan Bahagia ala instruksi tadi adalah kita membaca Ucapan Bahagia tanpa Kristus, Christless Christianity. Dan, yang lebih celaka lagi, Christless Christianity itu tidak vakum, sehingga jika Kekristenan kita tanpa Kristus, maka dengan sendirinya kita akan memasukkan sesuatu yang lain sebagai penggantinya. Itu sebabnya hari ini kita percaya ini: supaya saya bisa punya Kerajaan Surga, supaya saya dihiburkan, supaya saya mewarisi bumi, supaya saya berbahagia dalam Tuhan, saya perlu ini, ini, ini, dan ini. Saya perlu uang lebih banyak daripada yang sekarang saya punya. Saya perlu rumah yang lebih luas. Saya perlu pasangan hidup yang lebih cantik daripada yang sekarang. Saya perlu anak, anak yang lebih baik dan menurut daripada anak yang sekarang. Saya perlu gelar ini dan itu. Dan seterusnya.
Hari ini kita masuk ke kalimat berikutnya, mengenai garam dan terang. Ini pun harusnya membuat efek yang sama, kita terhenyak, karena Yesus mengatakan, “Kamu adalah garam bumi dan terang dunia,” dan yang dimaksud dengan kamu yaitu orang banyak yang sedang mengikut Yesus, yang Dia sebut dalam Ucapan Bahagia-Nya, orang-orang yang unblessable dalam mata dunia, yang dalam kata-kata Matius sendiri dikatakan orang-orang yang buruk keadaannya, yang menderita berbagai penyakit dan sengsara, yang kerasukan, ayan, lumpuh, dst. Ini bikin kaget, karena ternyata panggilan yang Yesus berikan tersebut bukan diberikan kepada para pemimpin agama, bukan diberikan kepada bangunan Bait Allah, atau bahkan Taurat Tuhan, melainkan kamu-kamu ini. Masuk akal dari mana?? Sama seperti kalau Saudara ikut KKR Regional lalu disuruh pegang sekolah yang cukup besar massanya, Saudara biasa mengatakan, “Saya?? Jangan saya … itu pendeta dong, vikaris dong, itulah yang masuk akal.” Tidak, Saudara, panggilan tersebut datang kepada orang-orang yang dunia anggap tidak blessed itu.
Namun ini bukan cuma panggilan yang membuat dunia kaget, ini panggilan yang membuat orang-orang yang unblessable itu juga kaget. Sebagai orang-orang yang selama ini dipinggirkan, ditindas, atau diinjak-injak oleh dunia, respons yang normal adalah lari dari dunia, namun Yesus sekarang memanggil mereka untuk justru mengambil identitas baru sebagai garam bagi dunia, terang bagi dunia. Whattt …?? Sekali lagi, tidak bisa angguk-angguk dan masuk akal ‘kan, ya. Inilah yang akan kita bahas hari ini. Tentunya kita akan membahas apa maksudnya menjadi garam dan menjadi terang, namun saya rasa khotbah hari ini penekanannya atau poin utamanya lebih kepada yang terakhir, mengenai apa sih implikasinya menjadi garam dan terang bagi dunia? Yaitu kita dipanggil untuk menderita.
Yang Pertama: Garam
Tentu Saudara tahu, garam pada zaman Yesus lebih dikenal sebagai pengawet dibandingkan sebagai perasa/bumbu –meski tentunya dipakai sebagai bumbu juga. In fact, ini bukan cuma zaman Yesus, tetapi juga dalam semua zaman sebelum ditemukannya kulkas, bahkan zamannya David Livingstone juga demikian. Saudara mungkin pernah mendengar tentang David Livingstone, misionaris Inggris yang pergi ke Afrika, yang ketika dia meninggal di Afrika, jantungnya dikuburkan di Afrika tetapi jasadnya dibawa ke Inggris. Waktu itu belum ada kulkas, maka cara supaya jasadnya tidak busuk dalam perjalanan kapal laut yang begitu lama, adalah bikin David Livingstone jadi ikan asin, dia digarami, diasinkan, supaya tidak busuk. Jadi, gambaran garam tidaklah pernah merupakan urusan status diri sendiri, gambaran garam selalu membicarakan suatu fungsi bagi something else. Waktu Yesus membicarakan kita sebagai garam –atau sebagai terang– yang penting bukan cuma status kita, ”Oh, kita jadi garam, lho…,” melainkan bicara indentitas fungsi bagi sesuatu yang lain. Garam adalah benda yang mengarah keluar dari dirinya. Menjadi garam berarti menjadi orang yang punya misi, yang misioner. Garam itu dimasukkan ke dalam sesuatu yang biasanya membusuk, lalu garam menahan pembusukan ini, garam mencegah kehancuran ini. Garam tidak terlalu ada gunanya ketika dia mempertahankan diri berada di dalam tempat garam. Garam baru benar-benar menjadi garam ketika dia keluar dan masuk ke dalam sesuatu yang akan busuk. Jadi, kalau hari ini Saudara melihat orang lain yang hidupnya berantakan, banyak problem di sana-sini, luar-dalam-atas-bawah-kiri-kanan, apa responsmu? Dulu di gereja ini ada orang-orang yang suicidal, suka ancam-ancam mau bunuh diri. Melihat kayak begini, apa Sudara mendekati dia? Tidak ‘kan, Saudara menjauh, menghindar. Itulah respons kita. Setidaknya kita menjaga jarak, karena kita tahu kalau kita masuk, kita akan terkuras. Namun Yesus mengatakan, ketika seorang Kristen melihat hidup orang lain yang rusak, mereka justru masuk –karena mereka garam– mereka masuk supaya mereka bisa menahan dan mencegah kebusukan. Itulah tempat mereka.
Sama halnya dalam skala masyarakat. Kalau kita melihat sebuah negara, atau sebuah kota, atau bahkan sebuah kompleks perumahan atau apartemen, kelihatannya makin lama makin rusak, makin tidak aman, makin tidak beres manajemannya, parkir berantakan, air dan listrik suka padam, banyak anak broken home tinggal di situ, maka orang Kristen harusnya tidak lantas melarikan diri. Banyak orang lebih suka kabur dan cari tempat tinggal lain, tetapi murid-murid Kristus di tempat seperti itu merupakan orang-orang yang malah bertahan; atau seandainya mereka berada di luar, mereka malah cari cara untuk masuk ke dalam.
Omong-omong, di sini kita musti klarifikasi sedikit: murid-murid Kristus akan bertahan di dalam atau malah cari cara untuk masuk ke dalam, tetapi bertahan di dalam tidak otomatis berarti dia murid Kristus, demikian pula mencoba masuk ke tempat-tempat seperti ini tidak otomatis menjadikanmu murid Kristus. Ada orang-orang yang bisa tertarik pada kelemahan dan kerusakan karena alasan-alasan yang tidak beres. Misalnya tipe-tipe orang yang butuh dibutuhkan, needed to be needed. Ini satu hal yang mungkin kita rasa aneh, namun ini nyata. Dalam buku-buku penggembalaan, kadang ada cerita pernikahan yang salah satu pihaknya oke, pihak satunya lagi hidupnya hancur. Pihak yang hancur ini misalnya kecanduan, narkoba, mabuk-mabukan, judi, dsb. Lalu pasangan ini digembalakan, dan akhirnya pihak yang hancur tadi berangsur-angsur membaik keadaannya, berhasil dilepaskan dari kecanduan. Tetapi anehnya, tidak lama setelah itu malah pernikahan tersebut retak dan runtuh. Ini realitas. Kenapa bisa kayak begini? Yang terjadi adalah: kadang-kadang pihak yang tidak kecanduan, yang hidupnya lurus, ternyata pihak yang membutuhkan pasangan yang kecanduan. Dia kepingin punya pasangan yang tidak beres, sehingga dia bisa terpenuhi kebutuhannya, yaitu kebutuhan untuk dibutuhkan. Kacau banget ya, namun ini terjadi dalam hdup manusia.
Kalau Saudara merasa itu contoh yang terlalu asing, coba pikir ini: kita hari ini juga bisa ngomel-ngomel ketika punya teman atau anggota keluarga yang ada sifat jelek ini dan itu, needy banget, dan kita yang harus urus mereka; tetapi, meskipun omongannya memang ngomel, sering kali Saudara bisa mendeteksi ada nada kebanggaan di balik omelan tersebut. Lewat mengurus keluarga yang punya kekurangan, kita jadi merasa ada something yang lebih pada diri kita, bisa merasa superior, bisa merasa jadi superhero. Tidak terlalu susahlah Saudara, mengakui hal ini. Inilah salah satu sebabnya di website-website berita hampir selalu ada berita mengenai selebriti-selebriti yang error; dan itu laku banget untuk jadi clickbait, karena kecenderungan hati manusia –masyarakat, kita– yang senang ketika punya orang-orang yang kita bisa hina-hina, dan dengan demikian kita merasa diri lumayanlah.
Saudara, itu bukanlah motivasi yang Yesus sedang bicarakan. Sebabnya murid-murid Kristus tertarik untuk masuk ke dalam situas-situasi yang rusak, sebagai garam untuk mencegah kebusukan, menahan disintegrasi, adalah karena mereka pada dasarnya percaya Kolose 1:17 (mengenai Kol. 1:17 ini terjemahan TB1 dan TB2 berbeda; dalam TB1 dikatakan ‘segala sesuatu di dalam Kristus’, ini tidak tepat, terjemahan TB2 lebih bagus, yaitu ‘segala sesuatu menyatu di dalam Kristus’, all things held together in Christ). Ini ayat yang sering kali orang Kristen bahas sebagai sesuatu yang terjadi dalam skala kosmis, bahwa lewat Kristus, lewat kuasa firman Kristus, segala sesuatu dalam dunia ini held together, mulai dari gravitasi, atom, planet-planet, dsb. Tetapi, kita bisa juga membaca ini sebagi pengakuan dalam skala personal, yaitu orang Kristen percaya hanya dalam Kristuslah segala sesuatu menyatu, held together, karena orang Kristen tahu rasanya, pernah mengalami dan menyadari, bahwa kehidupan mereka itu hancur, membusuk, dan hanya karena kehadiran Kristuslah, yang berantakan dan segera pecah ini somehow bisa menyatu dan dipertahankan. Murid-murid Kristus telah mengalami hal ini dari Kristus, maka ketika mereka sekarang melihat di tempat lain ada hal-hal yang segera rusak/busuk, mereka secara natural datang dan masuk. Mereka ingin orang lain mengalami apa yang mereka telah alami. Mereka ingin menjadi bagi orang lain, sebagaimana Kristus telah menjadi bagi mereka. Jadi bukan karena ingin menjadi superhero, melainkan simply respons normal, sama seperti kalau Saudara pernah susah lalu sekarang melihat orang lain susah, maka hatimu tergerak begitu saja, bukan karena ingin jadi superhero. Inilah logikanya bahwa yang dipanggil menjadi garam dan terang adalah orang-orang yang kayak begitu, bukan orang-orang saleh. Orang-orang saleh tidak bisa jadi kayak begitu, tidak bisa jadi garam dan terang, mereka masuk ingin jadi superhero –karena merasa saleh.
Menjadi garam dan terang bagi bumi, bukanlah identitas yang cuma internal tok, ini adalah identitas yang pergi ke luar, terlibat, melibatkan diri. Jemaat/Gereja menjadi garam ketika orang-orang di sekitar melihat kita dan mengatakan, “Saya sih tidak percaya apa yang mereka percaya, tetapi lihat ya, mereka sangat terlibat dalam kota ini, dalam kompleks apartemen ini.” Itulah garam. Garam itu terlibat, masuk, menembus ke dalam. Kalau orang sampai mengatakan, “’Gak tahu loh, mau jadi apa apartemen ini tanpa kehadiran Gereja itu,” itulah benar-benar garam dunia.
Yang Kedua: Terang
Saudara perhatikan, gambaran garam tadi bukan cuma bicara mengenai diri kita, tetapi juga membuka sesuatu mengenai dunia, karena ini bukan sekadar status kita melainkan panggilan untuk keluar, fungsi bagi sesuatu yang lain; dan kalau kita adalah garam, itu berarti dunia cenderung membusuk. Demikian implikasinya. Bicara mengenai terang, juga sama. Karena terang jelas menggambarkan kebenaran, mengungkap apa yang salah, maka berarti dunia ini dunia yang gelap. Kita jelas tahu ini, namun yang perlu saya tekankan hari ini adalah satu dimensi lagi mengenai terang di dalam Alkitab, bahwa terang bukan cuma melambangkan atau identik dengan kebenaran, tetapi juga melambangkan keindahan, sesuatu yang menghasilkan sukacita.
Misalnya, Mazmur 97:11, “Terang sudah terbit bagi orang benar, dan sukacita bagi orang-orang yang tulus hati.” Ini paralelisme Ibrani, bukan dua hal yang berbeda melainkan dua cara yang berbeda untuk mengungkapkan satu realitas yang sama. Di sini terang diparalelkan dengan sukacita. Terang di dalam Alkitab juga diparalelkan dengan pengharapan, misalnya Yesaya 9:2, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.” Ini bukan kayak misalnya bangsa dalam kegelapan diberi terang yang besar lalu kabur semua ketakutan; bukan seperti itu, ini pengharapan, nuansanya positif. Selama ini mereka diam di dalam negeri yang begitu gelap, tidak ada pengharapan, lalu sekarang ada terang, ada pengharapan, bisa tahu ke mana jalannya, ke mana harus belok, di mana ada lubang, dst. Terang itu memberikan pengharapan. Jadi, kita tidak boleh lupa bahwa panggilan menjadi terang, di dalam Alkitab bukanlah simply menjadi orang-orang yang “benar” tok, tetapi menjadi orang-orang yang karena benar maka menarik, indah, mulia, sedap, membawa sukacita dan pengharapan bagi orang lain.
Ayat 16 mengklarifikasi hal ini dengan lebih jelas, karena di situ Yesus mengatakan terangmu itu harus bercahaya ke semua orang, lewat apa, yaitu lewat perbuatan baik. Namun kata baik di sini bahasa aslinya pakai kata kalos, bukan agathos. Agathos adalah baik dalam arti benar; sedangkan kalos adalah baik dalam arti indah, mulia, agung, sedap, menarik. Jadi ini kalimat Yesus tadi mengatakan agar terangmu bercahaya lewat perbuatan-perbuatan yang indah, yang mulia, yang menarik. Ini koneksi yang penting, untuk menghubungkan antara kebenaran dengan keindahan dan juga pengharapan.
Kita ini hasil didikan Hollywood, dan kita belajar bertahun-tahun lewat film-film Hollywood bahwa yang benar itu boring, sementara yang jahat itu menarik, seru. Saudara mungkin sering dengar bahwa kalau dapat peran penjahat, itu lebih gampang curi adegan, karena tokoh-tokoh penjahat dalam film-film Hollywood menarik, bahkan bisa jadi peran utamanya. Tokoh gembong mafia jadi tokoh utamanya film The Godfather. Misalnya lagi, pendeta dalam film-film Hollywood gambarannya munafik, atau ‘gak nyambung dengan realitas, sedangkan tokoh pelacur hampir selalu berhati emas. Itu sebabnya to certain extent hari ini kita percaya bahwa kalau kita memperjuangkan kebenaran, itu sudah sepaket dengan menjadi orang yang kaku, tidak menarik, bikin orang tercekik dengan kebenaran. Sebaliknya, yang menarik adalah yang bebas, yang terserah lu mau apa; atau bahkan bahwa yang menarik itu cuma pencitraan tok, cuma performa sifatnya, bukan yang benar, karena kalau benar pastinya jeleklah, orang pasti tidak suka, dst. Hari ini kita pikir kalau kita bicara yang benar, orang sudah pasti tidak suka, jadi ya sudahlah, yang penting saya sudah ngomong yang benar ‘kan! Dan, ini berarti kita tidak berusaha memenangkan orang lewat kebenaran kita.
Saudara, realitas dunia sesungguhnya sangat terbalik. Karena orang Kristen menjadi terang dunia, mereka bukan cuma membawa kebenaran, mereka membawa sukacita dan pengharapan oleh karena kebenaran yang mereka bawa itu. Kita musti sadar ini sepaket. Kita perlu juga membiasakan diri membaca/menelaah pendapat-pendapat orang yang tidak setuju dengan kita, mendengar apa yang mereka katakan. Ini penting.
Satu hal yang menarik, kalau kita menganalisa tulisan orang-orang ateis yang jujur, yang mikir, yang intelektual (banyak orang ateis Barat kayak begini). Misalnya, secara umum Saudara mendengar orang ateis mengatakan, “Kita ateis, kita tidak percaya ada Tuhan. Kita tidak percaya ada standar baik/benar dan salah, jadi kita bebas. Enjoy your life!” Kita merasa seandainya tidak ada Tuhan, hidup saya lebih nyaman, lebih enak, bebas mau ngapain. Kalau saya sukanya main game seharian, ya tidak ada masalah, karena engkau bebas menentukan sendiri bagimu apa yang benar dan apa yang salah; enjoy! Namun ada beberapa orang ateis yang sungguh-sungguh berusaha untuk membahas apa sesungguhnya implikasi dari ketidakadaan kebenaran, mereka coba memikirkan hal ini, dan mereka beritahukan hasil pemikirannya itu kepada kita.
Misalnya ini: Memang benar, tidak ada Tuhan berarti tidak ada sesuatu yang melampaui manusia, dan berarti kamu bebas menentukan bagi dirimu sendiri apa yang kaumau, karena tidak ada anything yang beyond pengalamanmu sehari-hari, ini sudah puncaknya. Dan, itu berarti hidup ini tidak bermakna. Dalam pengalamanmu, mungkin engkau menemukan makna hidup di sini sana yang kaubikin sendiri, misalnya hari ini kamu minum kopi yang begini begitu, dan itu sangat bermakna buatmu. That’s fine. Tetapi kalau tidak ada satu pun yang melampaui semua ini, apa artinya pengalamanmu itu? Coba hitung dalam skala kosmis, jangan dalam skala hidup manusia. Engkau ini cuma hasil benturan bongkahan materi-materi di alam semesta yang kebetulan jadi planet, yang menimbulkan kehidupan, untuk sementara waktu saja. Sementara waktu itu berapa lama? Kalau sejarah dunia 10 ribu tahun, apa efeknya dalam waktu secara skala kosmis? Hari ini bintang terjauh yang bisa kita lihat jaraknya 13,8 trilyun tahun cahaya, maka apa artinya 10 ribu tahun dibandingkan semua itu? Cuma sesaat, tidak ada artinya, lagipula itu cuma sejauh yang kita bisa lihat, dan kita tidak tahu batasnya sampai mana. Jadi kalau engkau merasa kopimu hari ini enak, apa artinya itu di dalam skala kosmis waktu yang begitu panjang? Hidupmu itu tidak ada maknanya! Engkau debu dan kembali jadi debu. That’s it. Berani sedikitlah menghidupi kehidupan yang tanpa Tuhan. Demikian mereka katakan.
Misalnya lagi Jean-Paul Sartre; dia mengatakan: Kalau tidak ada Tuhan, berarti kita bebas dari segala standar. Itu benar. Tetapi jika itu benar, kamu jangan coba-coba menyuruh orang lain ikut standarmu. Kamu bebas menentukan hidupmu, tetapi orang lain juga bebas menetukan hidup mereka untuk apa. Jadi, kalau mereka menentukan makna hidup mereka adalah dengan memperkosa hidup orang lain, dan kebetulan kamu jadi korbannya, jangan komplain ya, karena kamu mau komplain berdasarkan apa, ‘kan masing-masing bebas untuk menentukan sendiri.
Itulah beberapa pemikiran dari orang-orang ateis yang jujur. Dengan demikian, tanpa terang kebenaran, dunia ini sesungguhnya dunia yang gelap. Amat sangat gelap; dan manusia sering kali tidak mau mengakuinya. Jadi harusnya ketika kita dimiliki terang, kita memiliki terang, dan membawa terang itu kepada dunia, itu bukan sekadar terang yang benar-salah tok, tetapi terang yang menimbulkan pengharapan dan sukacita sejati dalam dunia yang gelap! Kalau Saudara masuk kamar yang benar-benar gelap, rasanya depresi ‘kan, bingung mau ngapain, tidak bisa lihat sama sekali. Tetapi kalau ada terang sedikit saja dari suatu tempat, dan matamu mulai menyesuaikan, maka dalam kegelapan pun –meski tetap gelap– engkau bisa bergerak, engkau tahu ke mana harus bergerak, engkau bisa mulai mengarungi kegelapan. Kegelapan yang ada itu tidak hilang, namun paling tidak kegelapan itu tidak merenggut jiwamu –karena ada terang. Itulah terang yang dimiliki orang Kristen. Itulah terang yang harusnya kita bawa ke dunia, bukan terang yang mencekik, melainkan terang yang melegakan, memerdekakan. Jangan pernah lupa ini, Saudara. Menjadi orang Kristen, engkau tidak akan pernah bisa pakai alasan aku menyakiti hati orang lain karena aku pejuang kebenaran. Sama sekali tidak bisa, Saudara. Kebenaranmu itu harusnya kebenaran yang menyukakan hati, yang membawa sukacita, kebenaran yang memberikan pengharapan, kebenaran yang indah.
Satu tambahan, di ayat 14-15 Yesus menempelkan urusan terang ini dengan kota di atas bukit. Awalnya Yesus bicara soal terang, lalu bicara kota di atas bukit, lanjut dengan bicara terang lagi, mengenai lampu jangan ditaruh di bawah gantang, dst. Saudara, yang namanya kota, sesungguhnya jarang dibikin di atas bukit, karena susah, mahal sekali. Mendirikan kota, enaknya di kaki bukit. Misalnya kota Bandung itu dikelilingi bukit-bukit, letaknya di dataran yang agak rendah, karena memang lebih enak bikin di situ, tidak terjal, dekat aliran sungai, bahkan mungkin di pinggir laut seperti Jakarta. Orang sebenarnya tidak, atau jarang, bikin kota di atas bukit. Namun dari beberapa contoh yang ada, kita tahu kota-kota di atas bukit itu, waktu malam lampu-lampu dan obornya bisa menerangi beberapa puluh kilometer. Ini berarti ayat tersebut menyatakan bahwa terang kita dipakai sebagai suatu counterculture, karena kita beda dengan dunia. Itu maksudnya menjadi kota di atas bukit.
John Stott, dalam comentary-nya mengenai Khotbah di Bukit, menamai bukunya The Christian Counter Culture. Inilah panggilan menjadi kota di atas bukit, menjadi terang dunia. Ini juga berarti kita menjadi Jakarta alternatif yang ada di Jakarta, in the world but not from the world (ini kita bahas tahun lalu dari kitab Daniel). Kelihatannya seperti apa counterculture-nya? Yaitu seluruh Khotbah di Bukit. Khotbah di Bukit sedang menceritakan seperti apa kota di atas bukit ini. Dalam minggu-minggu mendatang kita akan membahas bagaimana Khotbah di Bukit bicara soal seks dan bagaimana orang dunia melihat seks, yang akan sangat berbeda dengan murid-murid Yesus melihat seks; demikian juga bagaimana melihat uang, relasi, dan apa yang harus kita lakukan ketika kita jadi korban ketidakadilan. Ini semua beda dengan dunia, karena ini counterculture, karena inilah artinya jadi terang dunia. Dan, ini berarti jika dunia melihat Gereja, dan mereka mendeteksi tidak ada perbedaan antara kita dan mereka dalam urusan seks, uang, kuasa, dsb., kita tidak menjadi terang, kita tidak menjadi kota di atas bukit. Ini satu hal yang kita perlu sadar.
Kita dipanggil untuk berbeda. Itu sebabnya tidak ada tempatnya orang masuk Gereja lalu mengatakan, “Kenapa lagu-lagunya tidak dibikin jadi lebih mirip dengan lagu-lagu yang biasanya kita suka, sih?” Kalimat seperti itu harusnya tidak ada, karena itu bukan something yang relevan dalam pemikiran Gereja. Saudara musti sadar hal itu, karena kalau kita tidak berbeda dari dunia ini –dunia tidak bisa mendeteksi perbedaan antara kita dengan mereka– maka ngapain mereka masuk ke sini, apa yang mereka bisa dapat kalau kita tidak beda dari mereka. Dan, kalau memang dunia tidak mendeteksi ada perbedaan antara kita dengan mereka, maka pertanyaan berikutnya adalah: Ngapain engkau di dalam sini sekarang? Main golf saja Minggu pagi, atau gowes keliling Jakarta, ngapain di sini??
Implikasi
Masih banyak lagi yang bisa kita katakan mengenai urusan garam dan terang, tetapi saya tidak bahas terlalu panjang karena hal ini bukan sesuatu yang Saudara tidak bisa pelajari sendiri, ada banyak buku dan tulisan yang membahas mengenai ini, tafsirannya, implikasinya, dst. Yang saya mau bahas adalah implikasi spesifik yang datang setelahnya, yang menurut saya lebih penting, yaitu: Jika kita menjadi garam dan terang bagi dunia ini, dengan kita terlibat, kita punya hati yang misioner, yang masuk ke dalam tempat-tempat yang cenderung membusuk, gelap, dan tidak berpengharapan, maka kita akan menderita. Ini implikasi yang harus kita akui dan amini. Hal ini mungkin obvious di banyak tempat Kekristenan seperti Afrika, dan juga China, bahwa lumrah menjadi orang Kristen –menjadi garam dan terang– itu menderita; namun somehow di tempat kita tidak demikian. Kita struggle dengan fakta ini, kita tidak expect hal ini jadi realitas Kekristenan. Itu sebabnya kita musti membahas hal ini.
Lima hal yang bisa kita bahas mengenai penderitaan menjadi garam dan terang. Yang pertama, ini penderitaan yang pasti akan terjadi, bukan opsional. Ayat 11 mengatakan: “Berbahagialah kamu, jika karena Aku, orang mencela dan menganiaya kamu … .” Ini salah terjemahan, baik TB1 maupun TB2. Di bagian ini, kata hotan dalam bahasa aslinya harusnya diterjemahkan ketika (when), bukan jika (if); atau lebih baik lagi diterjemahkan whenever. Jadi terjemahan yang lebih tepat adalah: “Berbahagialah kamu, setiap kali karena Aku, orang mencela dan menganiaya kamu … .” Ini hal pertama yang saya ingin kita perhatikan.
Kita sudah mengatakan bahwa Ucapan Bahagia bukanlah persyaratan jadi orang Kristen, atau bahwa menjadi orang Kristen pasti harus jadi orang-orang miskin atau berduka, dst., tetapi yang satu ini (ayat 11) adalah memang karakteristik orang Kristen, karena ada dasarnya dari bagian yang lain. Dalam 2 Tim. 3:12 dikatakan: “Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya.” Setiap orang yang mau menyembah Yesus Kristus akan menderita aniaya. Ini yang pertama, ini pasti terjadi. Namun yang kedua, perlu klarifikasi, 1 Petrus 4:14-15 mengklarifikasi hal ini. Mungkin Petrus menghadapi salah mengerti orang, maka dia mengutip bahasa Yesus, bahasa Beatitude, mengatakan: “Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh kemuliaan, yaitu Roh Allah ada padamu,” (ayat 14), ini senada dengan yang Yesus katakan, namun di ayat 15 Petrus melanjutkan dengan klarifikasi: “Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat, atau pengacau.” Istilah pengacau ini lebih kontekstual kalau diterjemahkan sebagai orang kepo. Jadi di sini Petrus mengiyakan bahwa berbahagialah mereka yang menderita aniaya dalam Kristus, oleh karena Kristus; tetapi tidak berbahagia mereka yang dianiaya karena mereka sendiri. Berbahagialah mereka yang menderita aniaya karena Kristus, bukan karena kamu, ya; bukan karena kamu pembunuh, pencuri, penjahat, atau tukang kepo. Ini penting, karena ada kecenderungan orang Kristen begini: “Lihat, kita dianiaya karena kita orang Kristen, karena kita pejuang kebenaran.” Tidak bisa begitu, Saudara, itu tidak otomatis, karena kamu sendiri orangnya kepo atau tidak? Kamu insensitive atau tidak kalau bicara ke orang lain? Kalau iya, Yesus dan Petrus akan langsung mengatakan, “Bukan penderitaan kayak begitu, yang kita maksudkan di sini. Ini aniaya karena KRISTUS, dan bukan karena kamu sendiri.”
Bagaimana kita bisa membedakannya? Lihat bingkainya. Di ayat 11 dikatakan, “Berbahagialah mereka yang dicela, dianiaya, difitnah”; tetapi di ayat 16 dikatakan, “Orang melihat cahayamu, perbuatan baikmu, mereka memuliakan Bapamu di surga.” Di satu sisi, dicela, dianiaya, difitnah; di sisi lain, orang memuliakan Bapa karena melihat perbuatanmu yang indah, mulia, agung. Jadi yang mana? Jawabannya: dua-duanya. Ketika dua-duanya terjadi, berarti engkau ada di sweet spot-nya; bukan cuma salah satu. Inilah keunikan pengikut Kristus sebagai terang dan garam. Seperti Kristus, kita berbicara kebenaran dengan kasih, bukan cuma salah satu.
Ada banyak jemaat atau orang-orang Kristen yang sampai hari ini masih rajin membela diri, mengatakan, “Yang penting ‘kan saya sudah ngomong yang benar,” lalu komplain ketika orang tidak mau mendengarkan, atau mungkin bahkan bangga ketika dianiaya karena dia sudah bicara yang benar. Tetapi, seorang Kristen tidak cuma dianiaya atau dinista, orang juga tertarik pada mereka. Di sisi lain, ada orang-orang Kristen yang diam-diam saja, hanya bicara yang baik-baik saja kepada orang-orang lain, love, love, dan love, tetapi tidak ada truth. Bisa jadi orang tertarik dengan dia, tetapi sesungguhnya seorang Kristen tidak cuma menarik. Kalau Saudara terus-terusan konflik dengan orang lain, tetapi orang tidak pernah datang kepada Kristus melalui engkau, maka engkau dianiaya simply karena karakter jelekmu saja. Di sisi lain, kalau engkau tidak pernah konflik, tidak pernah ada orang mengejar-ngejarmu karena engkau Kristen, bermusuhan denganmu karena engkau Kristen, maka paling banter engkau seorang yang hidupnya tidak konsisten, dan paling jelek engkau seorang pengecut. Ini pun kehidupan yang tidak akan membuat orang masuk ke dalam iman. Musti hati-hati di sini, engkau dianiaya karena engkau kepo, atau engkau tidak dianiaya sama sekali karena engkau pengecut. Ada balance ini.
Yang ketiga, dianiaya karena Kristus itu juga membuat kita sadar seberapa tak terhindarinya kebencian ini. Berhubung Kristus yang jadi alasannya, kita harus menyadari kebencian macam apa yang jatuh kepada Kristus. Kristus adalah satu figur yang mengundang kebencian yang aneh, unik banget.
Anne Rice, seorang novelis yang sangat terkenal karena menulis buku Interview with the Vampire, yang jadi filmnya Tom Cruise. Tahun 1998 dia menjadi Katolik (setelah sebelumnya hidup sebagai orang sekuler) maka dia ingin menulis buku baru dengan karakter Yesus. Dia mulai riset background mengenai Yesus, mengenai kehidupan abad-abad pertama, dsb. Dia membaca segudang tulisan para ahli yang diakui dunia akademis, para pakar Alkitab, sarjana-sarjana Perjanjian Baru, para pakar studi Historical Jesus, dsb. Dia ingin tahu pendapat para pakar mengenai Yesus. Dan, Rice kaget karena dia menemukan/mendeteksi begitu banyak nada kebencian dalam tulisan para pakar tersebut. Ini para sarjana yang menghabiskan hidupnya dan membangun kariernya di atas studi Perjanjian Baru dan studi Alkitab, namun ternyata banyak yang tidak senang dengan Yesusnya. Beberapa bernada “kasihanlah, Yesus ini orang baik tetapi epic fail”, ada juga yang benar-benar bernada hinaan/ejekan, bahkan ada yang benar-benar merasa benci dan jijik pada figur Yesus, Ini sangat aneh, menurut Rice, karena biasanya orang tidak menghabiskan hidupnya untuk meneliti tokoh yang mereka tidak suka, tetapi di sini ada jumlah yang cukup signifikan dari penulis-penulis Perjanjian Baru yang malah jijik terhadap Yesus. Hal ini tidak pernah dia temukan dalam bidang studi yang lain. Dalam hal ini, Saudara bisa bayangkan misalnya studi mengenai Ratu Elizabeth. Para sejarawan yang meneliti dan menulis tentang Ratu Elizabeth, mereka tidak berupaya membuat tesis bahwa Ratu Elizabeth itu bodoh, goblok, dsb.; mereka tidak membangun karier mereka untuk menggebuki tokoh ini. Bahkan kata Rice, banyak sejarawan yang mempelajari tokoh-tokoh yang jelas-jelas jahat, dalam risetnya masih mencoba untuk membela sedikit, mengusulkan semacam ini, “Meskipun dia jahat, ada dampak positifnya lho, dari tokoh ini.” Misalnya tentang Hitler, ada pakar-pakar yang argue bahwa kalau tidak ada Hitler, Eropa hari ini tidak bersatu (ada semacam dampak positif dari Hitler). Sedangkan Yesus Kristus beda, banyak sekali pakar yang membenci Dia, meski secara teknis mereka bisa make a living karena ada figur Yesus. Yesus itu dibenci dengan kebencian yang agak aneh, unik, di dunia ini. Saudara tahu kenapa? Sederhana saja. Kalau Ratu Elizabeth, apapun yang dia klaim, itu ‘gak ngefek dalam kehidupan kita hari ini, misalnya kalimatnya yang terkenal, “Aku mungkin kelihatan punya tubuh seorang wanita yang rapuh, tetapi aku memiliki hati yang kuat seorang raja!” Klaim tersebut, kalau pun benar atau tidak benar, ngaruhnya apa sih buat kita?? Entah Ratu Elizabeth benar-benar pernah mengucapkannya atau tidak, entah itu realitas atau cuma pikiran dia tok, itu ‘gak ada efeknyalah pada kehidupan kita. Sedangkan Yesus, jikalau klaim-Nya benar … .
Yesus mengatakan Dia adalah terang dunia. Kapan Dia mengatakan ini? Kalau Saudara melihat bingkainya di Injil Yohanes, pasal 8 dan pasal 11, Yesus ketika itu berada dalam rangkaian acara Festival of Tabernacles (festival of lights orang Yahudi). Di Yerusalem itu mereka mendirikan obor-obor besar, yang satu obornya bisa menampung 65 liter minyak, untuk dinyalakan semalam-malaman jadi api yang besar, melambangkan Tiang Api yang memipin orang Israel di padang belantara. Semalam-malaman itu mereka menyanyi, menari, merayakan terang Allah yang Allah bawa ke dalam hidup mereka. Sekarang bayangkan, besok paginya, di tengah-tengah obor-obor yang sudah padam itu, Yesus mendeklarasikan, “Akulah terang dunia.” Tidak ada, Saudara, orang yang mengklaim hal sesinting ini! Pemimpin-pemimpin yang lain cuma mengklaim mereka membawa wisdom bagi hidup kita, tetapi Yesus yang satu ini mengkalim diri-Nya sebagai Wisdom! Ini membuat orang darahnya mendidih, karena kalau klaim itu benar, mau tidak mau kita kehilangan kendali atas seluruh hidup kita, tidak ada yang bisa kita lakukan selain melempar seluruh hidup kita di bawah kaki-Nya.
Itu sebabnya kita membaca di Perjanjiian Baru, reaksi orang setelah mendengar Yesus cuma ada 2 ekstrim: mau menyembah Dia, atau mau membunuh Dia. Yesus mengatakan kepada murid-murid-Nya di Yohanes 15, “Dunia membenci Aku, dan mereka juga akan membenci kamu. Mereka menganiaya Aku, mereka juga akan menganiaya kamu, karena seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, koq.” Jadi Saudara, puji Tuhan Dia mendeklarasikan, “Berbahagialah setiap kali orang mencela, menganiaya, memfitnah kamu oleh karena Aku,” karena dalam realitas Kerajaan Surga hal ini pun tidak menghalangi kita untuk mendapatkan blessedness dari-Nya, ini satu hal yang tak terhindari karena kita dibenci gara-gara Dia.
Yang keempat, jika engkau dicela dan dianiaya –bukan karena dirimu sendiri melainkan karena dia– maka jangan pernah engkau berani-beraninya ngomel akan hal ini. Tidak ada ruang untuk self-pity di sini, “Ahh… kami dianiaya karena kami Kristen, ‘gak adil,‘gak adil … .” Tidak bisa begitu. Ini sepaket, karena Yesus mengatakan selanjutnya, “… sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.” Dan, karena setiap orang Kristen punya panggilan kenabian dalam Kristus, maka semua kita musti sadar ini sepaket.
Ada cerita seorang pendeta (di Amerika) sedang jalan di jalan setapak di tengah hutan, lalu dia melihat seekor binatang kecil terperangkap kepalanya ke dalam semacam kaleng makanan. Sepertinya binatang ini menemukan tempat bekas orang camping, ada kaleng sisa makanan, dia menjulurkan kepalanya mau makan, lalu kepalanya tidak bisa keluar, dan binatang itu panik. Melihat ini, hal pertama yang si pendeta pikirkan adalah ini ilustrasi khotbah yang bagus, inilah kehidupan di dunia, kita selalu memikirkan hal-hal yang enak yang memuaskan kita, tetapi ujungnya malah kepala kita nyangkut dalam kaleng-kaleng tersebut. Namun bukan itu poinnya, si pendeta mendekati binatang tersebut mau menolong, dan ketika didekati, dia baru sadar ini seekor skunk (sigung; binatang yang kalau merasa terancam, dia akan menyemrot cairan yang bau setengah mati). Dia jadi dilema, mau menolong tetapi bagaimana kalau skunk-nya malah merasa terancam, karena kalau sampai skunk itu menyemprot, semprotannya bukan cuma bau, kalau sampai kena mata atau hidung/mulut efeknya akan seperti kena pepper spray. Ujungnya si pendeta bilang dua hal, jangan jadi pengecut, tetap menolong, tetapi juga jangan bego, berdirilah membelakangi arah angin supaya kalau sampai skunk itu menyemprot, setidaknya semprotannya terhalang angin.
Ini gambaran yang menarik; inilah panggilan kita. Kalau kita menolong orang (sebagai garam dan terang), misalnya menolong orang kecanduan, sering kali yang kita temukan orang itu tidak ingin ditolong. Mereka bahkan merasa kita sombong, mereka menyangkali dosa-dosanya, karena kepala mereka nyangkut di dalam kaleng. Menolong orang seperti ini, akan mendatangkan problem bagimu. Namun inilah yang Tuhan Yesus sedang katakan di sini, kalau engkau mau mengasihi orang berdosa (sebagai garam dan terang), maka problem itu sudah sepaket. Jadi tidak reasonable setelah engkau kena batunya, engkau komplain-komplain, self-pity, “Yah, sudah gue tolong malah gue difitnah, dia sih ‘gak mau dengar … .” Di sini Yesus praktis mengatakan, “Gue ‘gak mau dengar ya, yang beginian keluar dari mulut lu; ini sudah sepaket.”
Ada kutipan dari Amy Mantravadi (yang saya kutip dari Vikaris Kias) mengatakan: Kita tidak usah kaget ketika orang tidak bisa melihat kebenaran karena memang dosa membutakan, buktinya dia buta, dia tidak bisa lihat kebenaran; dan dosa memang membutakan, buktinya kamu tidak bisa lihat bahwa dia buta. Saudara, inilah sebabnya panggilan menjadi garam dan terang bukan datang kepada orang-orang “saleh”, karena mereka tidak bisa menjadi garam dan terang. Kita baru bisa menjadi garam dan terang kalau kita sendiri sadar diri kita itu buta.
Jadi, dicela dan dianiaya memang akan terjadi. Namun hati-hati, jangan sampai ini terjadi gara-gara kamu, dan bukan karena Kristus. Tetapi kalau kamu sudah berhati-hati pun, hal ini tetap akan terjadi (lihat saja, Yesus sendiri pun kayak apa) maka ketika itu terjadi, jangan ngomel, ya, soalnya sudah sepaket. Itulah hal keempat yang kita lihat.
Terakhir, jadi bagaimana caranya bisa rela jadi garam dan terang yang dicela dan dianiaya dan difitnah oleh karena Kristus seperti ini? Sekali lagi, kalau kita hidup sebagai orang Kristen yang konsisten, hidup sebagai kota di atas bukit, di mana pun kita akan mengalami hal ini. Di daerah non-Kristen, kita akan dimusuhi, itu jelas. Di daerah kantong Kristen –yang biasanya Kristen budaya tok–in some ways kita bahkan bisa lebih dibenci, karena orang di situ merasa sudah Kristen. Dan, ketika nama/reputasi kita rusak, cost-nya benar-benar riil. Paling gampang cost secara uang, itu jelas ada, karena kalau nama/reputasimu jelek, engkau sulit dapat kerjaan yang bagus, sulit naik pangkat, bisa jadi sulit memasukkan anakmu ke sekolah-sekolah yang baik, bahkan bisa jadi engkau tidak bisa membeli barang di toko-toko yang harganya bersaing. Bagaimana mungkin ada kekuatan untuk hidup seperti ini? Satu dua tahun pertama mungkin kuat (dengan kehendak diri), tetapi ujungnya kita akan jadi orang yang entah kepahitan atau menyerah, pilih jalan aman, jadi pengecut yang hidup tidak berbeda dari dunia. Jadi apa kuncinya?
Kuncinya ada pada Kristus, yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya dan mengambil rupa seoarng hamba, dan menjadi sama dengan manusia; dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Yesus Kristus telah melakukan ini terlebih dulu bagi kita. Ia setara dengan Bapa. Ia punya nama dan reputasi yang paling tinggi, namun Ia mengosongkan diri-Nya atas semua itu. Ia menjadi orang yang tertolak, yang dipermalukan. Salib bukanlah sekadar cara untuk bunuh orang, juga bukan sekadar cara bunuh orang dengan maksimum pain, salib adalah cara bunuh orang dengan maksimum shame. Salib dipakai untuk membunuh ketika mau mempermalukan orang sampai pada kematiannya.
Hari ini banyak orang masih menolak hukuman mati, tetapi sebenarnya hukuman mati zaman sekarang semuanya hukuman mati yang terhormat, “humanis”, tidak ada lagi hukuman mati dengan cara yang untuk mempermalukan orang itu. Zaman dulu, ada hukuman mati yang mati terhormat, hukuman mati yang mati tidak terhormat. Dalam film Judge Bao pun begitu, ada penggalan naga, ada penggalan macan, ada penggalan cacing atau apalah yang diperuntukkan buat orang-orang tidak terhormat, mati dengan dipermalukan. Dan, itulah yang Yesus terima bagi kita.
Satu ilustrasi untuk menutup bagian ini, satu film jadul tahun 1938 berjudul Angels with Dirty Faces. Ceritanya mengenai dua anak lelaki yang bersahabat, Rocky dan Jerry. Mereka lahir di daerah kumuh. Secara natural mereka jadi anak-anak begundal, masuk geng, dsb. Suatu hari mereka melakukan pencurian, lalu dikejar-kejar polisi. Jerry tidak tertangkap, sementara Rocky tertangkap karena menolong Jerry. Mulai saat itu mereka menjalani hidup yang terpisah. Jerry menjadi seorang pendeta, keluar dari kehidupan kriminal. Sedangkan Rocky, karena masuk penjara maka dia justru makin terjerat dengan kehidupan kriminal. Keluar penjara, dia jadi anggota geng kelas tinggi, banyak bunuh orang, sampai suatu hari ditangkap dan dijatuhi hukuman mati, kursi listrik. Dalam momen terakhir sebelum eksekusinya, pendeta yang melayani Rocky ternyata Jerry. Jerry mengatakan:
“Aku mau minta tolong satu hal padamu, Rocky: aku ingin kamu mati sebagai pengecut.”
“Maksudnya apa?!”
“Aku ingin di kursi listrik nanti kamu nangis-nagis memohon nyawamu, ketakutan, seperti seorang pengecut.”
“Maksudnya apa?? Kenapa kayak begitu?!”
“Karena di gerejaku banyak sekali anak-anak yang hidupnya akan sama hancurnya dengan hidupmu, mereka suatu hari juga akan mati di kursi listrik sepertimu; dan ini sedikit banyak karena kamu. Kamu telah jadi idola bagi begitu banyak anak-anak begundal, karena kamu dilihat sebagai figur yang anti-otoritas, kamu bisa melawan semua polisi, kamu tidak takut mati, kamu membunuh siapa pun yang melawanmu. Dan anak-anak itu, melihat engkau, mereka kagum denganmu. Mereka ingin jadi seperti engkau! Maka aku minta satu hal ini sebelum engkau mati: matilah sebagai pengecut. Kalau engkau mati sebagai pengecut, anak-anak itu melihat hal ini akan ‘patah iman’ padamu, dan semoga mereka keluar dari kehidupan kriminalnya.”
“Tidak bisa! Aku sebentar lagi mati, dan satu-satunya hal yang tersisa hanyalah pride-ku ini, sebagai figur anti otoritas. Aku tidak akan memohon! Aku tidak akan menangis! Aku akan mati dengan kepala tegak, dan sampai mati aku tidak akan menyesal.”
Mendengar ini, Jerry hanya bisa menangis. Rocky pun dibawa ke kursi listrik; dan dari tempatnya itu dia bisa melihat Jerry yang terus menangis. Lalu, Rocky yang sudah mengeraskan kepalan tangannya, tiba-tiba berteriak, menjerit, menangis seperti anak kecil. Para wartawan yang telah berkumpul di situ, kaget; dan mereka menulis: “Ternyata penjahat geng kelas atas ini ujungnya takut mati”. Rocky pun mati di-eksekusi; dan besoknya surat kabar menuliskan: ROCKY MATI SEBAGAI PENGECUT. Anak-anak dari seluruh kota membacanya, dan mengatakan, “Bah, ternyata ujungnya dia pun takut mati.” Mereka meninggalkan dia, mereka keluar, dan tidak sedikit yang keluar dari kehidupan kriminal. Apa yang terjadi ini? Rocky menyerahkan hal terakhir yang dia punya, karena dia tahu kalau dia tetap membawa kebanggaan dirinya sampai mati, anak-anak itu akan mati dalam kehancuran; tetapi kalau dia mati dalam kehancuran, dalam rasa malu, maka anak-anak itu bisa hidup dalam kebanggaan yang sejati, maka Rocky menukar dirinya dengan anak-anak tersebut.
Saudara, kira-kira itulah yang Yesus telah lakukan bagi engkau dan saya. Ia mengosongkan diri-Nya dari segala sesuatu; dan ini lebih parah daripada Rocky karena Rocky penjahat, sementara Yesus Kristus adalah Anak Allah, Terang Kebenaran, yang bukan cuma benar tetapi juga indah, sumber sukcaita dan pengharapan yang sejati. Namun Dia turun, Dia mengambil kematian seorang kriminal yang paling dipermalukan, paling terkutuk, sehingga engkau dan saya hari ini tidak akan mati dalam kutukan tersebut, sehingga kita punya upah yang besar di surga.
Melihat semua ini, jika engkau hari ini hidup sebagai garam dan terang lalu engkau dicela sedikit, dianiaya sedikit, difitnah sedikit –setidaknya sedikit dibandingkan yang terjadi pada Kristus– bukankah ini membuat kita merasa bisa menanggungnya? Bukan karena kita kuat, tetapi karena Kristus telah menanggung celaan, penderitaan, fitnahan, aniaya, yang jauh lebih besar yang harusnya jatuh kepada kita. Itulah kekuatannya. Itu kuncinya menjadi terang dan garam, yaitu dengan menyadari bahwa yang memanggil kita untuk menjadi terang dan garam, Dia sudah terlebih dulu larut dalam sup, Dia sudah terlebih dulu menjadi terang yang habis terbakar bagi engkau dan saya.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading