Kita sedang membahas Khotbah di Bukit; dan sudah membahas Ucapan Bahagia serta hal menjadi garam dan terang. Kita tahu Ucapan Bahagia merupakan bagian dari pengajaran Yesus yang sangat terkenal, sangat penting, namun ternyata juga salah satu yang paling disalah mengerti selama ini. Itu sebabnya kita mau recap lagi, karena perlu untuk menyambung ke topik pembahasan hari ini; dan di sini saya akan menyampaikan beberapa hal yang belum ada dalam khotbah-khotbah sebelumnya.
Dalam pembahasan kita, saya sudah suggest suatu lensa yang berbeda dengan lensa yang mungkin selama ini cenderung kita pakai dalam melihat Ucapan Bahagia. Kita terbiasa melihat Ucapan Bahagia sebagai daftar virtue, daftar sifat-sifat baik yang seorang Kristen perlu miliki dan pupuk, jika mau berbahagia/blessable dalam Kerajaan Surga. Tetapi itu bukanlah pengertian atau nuansa istilah makarios, yang LAI dengan sangat baik menerjemahkan sebagai berbahagia. Makarios dalam bahasa aslinya bukan dipakai untuk kalimat instruksi seperti ini: “Begini ya, diberkatilah orang yang begini begitu … .” Makarios sebenarnya dipakai untuk kalimat proklamasi: “Makarios!” –kira-kira seperti itu. Nuansa yang paling cocok dari istilah makarios untuk bahasa kita hari ini adalah congratulation, “Selamat!” Ini istilah yang kita pakai kalau menyalami pasangan yang baru menikah, “Makarios!” Atau misalnya menyalami keluarga yang mengadakan house warming menempati rumah baru, “Makarios!” Atau juga untuk kelahiran seorang bayi, atau kelulusan seorang mahasiswa, “Makarios!” Jadi waktu kita mengatakan makarios, kita bukan sedang mengatakan seperti ini: “Kalau kamu mau sukses dalam kuliah, kamu perlu begini dan begitu, ya.” Bukan seperti itu; itu bukan makarios. Makarios kita ucapkan ketika kita melihat orang yang sudah sukses dalam kuliah, sudah mendapatkan pasangan, sudah pindah ke rumah baru, sudah lahir dalam keadaan sehat. Makarios adalah proklamasi, bukan instruksi. Bahkan makarios juga kita pakai waktu kita ngiri, “Lihat tuh, makarios orang itu,” yang berarti aku ‘gak kayak begitu, aku kepinginnya kayak begitu, berbahagialah orang yang hidupnya kayak begitu. Itulah makarios.
Hal ini langsung membawa kita selangkah lebih maju untuk menyadari tujuan asli Yesus dalam Ucapan Bahagia, yaitu bukan untuk bikin kita mengangguk-angguk, melainkan bengong, wondering apa gak’ salah dengar Yesus ngomong kayak begitu, karena Yesus mendeklarasikan, “Malkarios!” bukan kepada mereka yang punya power, melainkan kepada mereka yang miskin. Sekali lagi, miskin di sini jangan di-twist jadi “miskin”, sebagaimana lensa yang dipakai oleh entah berapa banyak orang Kristen karena ingin membaca Ucapan Bahagia sebagai daftar virtue, lalu mengatakan, “Miskin di sini maksudnya orang-orang yang bergantung kepada Allah, yang sadar seberapa mereka membutuhkan Allah. Waktu dikatakan yang berduka, juga sama, maksudnya berduka akan dosa-dosa mereka atau berduka akan dosa-dosa dunia. Lalu tentang mereka yang lemah lembut, maksudnya orang yang gentleman, jadi berarti tangannya kuat tetapi terkontrol kekuatannya, seperti itulah lemah lembut … .” Lihat, Saudara, itu jadinya daftar virtue ‘kan. Tetapi sesungguhnya tidak demikian.
Istilah miskin dalam bahasa Yunani ada dua istilah. Yang pertama adalah penés, ini miskin tetapi miskin yang masih bisa kerja, memang gaji sehari habis dalam sehari namun tetap masih ada gaji, masih bisa makan. Dan, itu bukanlah istilah yang Yesus pakai di bagian ini, Yesus memakai istilah ptōchos, yang berarti miskin ancur, miskin yang sebentar lagi mati karena kelaparan. Ini virtue-kah, Saudara? Makarios-kah?? Kalau Saudara pergi liburan ke Afrika Selatan lalu balik ke Indonesia, maka pendapatmu terhadap negara tersebut akan sangat tergantung ke mana engkau pergi waktu di situ. Afrika Selatan adalah negara yang dalam indeks World Bank hampir selalu paling tinggi urutannya dalam hal gap antara orang kaya dan orang miskin. World Bank punya yang namanya Koefisien Gini, untuk mengukur gap antara yang kaya dan yang miskin; dan secara rata-rata angkanya di dunia ini adalah 0,30. Afsel angkanya 0,67, berarti lebih dari dua kali lipat angka rata-rata, ini angka yang ekstrim (Indonesia surprisingly 0,37 “doang”). Jadi kalau Saudara pergi ke Afsel, datang ke tempat-tempat orang yang kaya, Saudara bisa merasa, “Wah, keren banget; taman Eden yang ada dalam bayangan kepala saya, kalah dibandingkan tempat ini.” Atau kalau saya yang pergi ke sana, mungkin saya akan mengatakan, “Tuhan, tolong panggil aku mendirikan cabang GRII di sini dong, ini tempat yang makarios!” Namun Saudara hanya perlu jalan tidak sampai 5 km dari tempat tersebut dan Saudara akan menemukan tempat-tempat yang sangat kontras. Tempat yang indah tadi isinya hampir semua orang kulit putih, tempat yang sekarang ini hampir semua isinya orang kulit coklat atau hitam. Tempat yang tadi rasanya kayak surga, tempat yang ini adalah tempat di mana 2 juta manusia dikumpulkan dalam satu kecamatan, tidak ada listrik, tidak ada air, bahkan tidak ada saluran air kotor. Dan, bayangkan Tuhan Yesus mendeklarasikan makarios kepada orang-orang seperti ini. Tidak heran kita berusaha mati-matian untuk putar kata-kata Tuhan Yesus itu, “O, maksudnya miskin rohani saja kali, rendah hati,” karena ini terlalu mencengangkan, terlalu radikal buat kita.
Kembali lagi, Ucapan Bahagia bukanlah daftar virtue, Ucapan Bahagia bukan daftar perintah jadilah kayak begini, Ucapan Bahagia juga bukan daftar timeless truth. Kita sudah mengatakan misalnya mengenai orang yang lemah lembut itu maksudnya bukan lembut tetapi tertindas, ani, praus (istilah asli dari lemah lembut), bahwa mereka akan mewarisi bumi; lalu apakah orang-orang tertindas akan selalu mewarisi bumi?? Kadang-kadang iya, puji Tuhan, tetapi jarang ‘kan. Hari ini siapa yang mengatur bumi? Surat kabar New York Times mengatakan, “It’s the brilliant jerks.” Mereka itulah, the brilliant jerks, orang-orang yang kaya yang super arogan yang akan mengatur dunia.” Jadi apakah orang yang berbelaskasihan akan selalu mendapat belas kasihan? Ya, tidaklah. Jadi, kalau kita membaca Ucapan Bahagia sebagai daftar virtue, atau daftar perintah, atau daftar timeless truth, Saudara akan mentok tembok. Kalau begitu, apa dong jadinya Ucapan Bahagia ini? Ucapan Bahagia ini adalah Injil, Injil Yesus Kristus.
Apa itu Injil? Di sinilah salah satu kebingungan dan perdebatan dalam Kekristenan hari ini, mengenai apa sih sebenarnya Injil. Saudara-saudara yang sedang persiapan pergi KKR ke Sumba, bergumul sekali dengan pertanyaan ini: waktu kami pergi membawa Injil kepada anak-anak di Sumba, itu persisnya harus ngomong apa sih, apakah pokoknya mengebut tentang salib, kubur kosong, lalu selesai, atau apa lagi yang lain?? Dalam hal ini, maka sebagian orang Kristen (baca: tradisi kita, tradisi Injili) berusaha untuk mendefinisikan Injil sebagai dibenarkan melalui anugerah, diselamatkan melalui anugerah semata-mata. Tentu ini tidak salah, tetapi kalau Saudara lihat balik ke kitab-kitab Injil, apa yang Saudara temukan di situ yang disebut sebagai Injil? Gereja-mula-mula melabelkan apa sebagai Injil? Dikatakan: “Inilah Injil menurut Matius”, “Inilah Injil menurut Markus”, “Inilah Injil menurut Lukas”, “Inilah Injil menurut Yohanes”, lalu apakah itu yang dilabelkan oleh mereka sebagai Injil? Ya, keseluruhannya, keseluruhan kisah Yesus sejak kelahiran-Nya (bahkan sebelum itu), lalu baptisan-Nya, pengajaran-Nya, tindakan-tindakan-Nya, pelayanan-pelayanan-Nya, sampai pada kematian-Nya, kebangkitan-Nya, kenaikan-Nya, dan janji-Nya untuk datang kembali. Injil bukan sekadar diselamatkan oleh anugerah semata-mata, meski hal ini jelas termasuk di dalamnya –tetapi Injil bukan cuma itu. “Jadi apa dong, Pak?? Beri saya paket kecil yang gampang dimengerti gitu loh, bite-sized clickbait.” Yesus sesungguhnya memberikan hal ini, Yesus berkhotbah ke sana kemari mendeklarasikan, “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah di depan mata.”
Injil, sebagaimana kita katakan dari kemarin-kemarin, adalah sebuah deklarasi, proklamasi, bahwa Kerajaan Allah telah datang melalui kehadiran Rajanya. Inilah Injil. Inilah berita baiknya. Namun Saudara geleng-geleng kepala, “Saya ‘gak ngerti; dan saya merasa terancam, khawatir, kalau kehilangan unsur diselamatkan melalui anugerah semata-mata tadi, di mana itu, koq, tidak ada??” Jangan merasa terancam seperti itu, Saudara, karena hal itulah yang akan Saudara dapatkan dengan lebih kencang kalau Saudara melihat Injil sebagai proklamasi Kerajaan Surga. Lihat, di Ucapan Bahagia hal ini muncul, bahwa Kerajaan Surga datang; dan kenapa ini adalah injilnya, berita baiknya, karena lihatlah kepada siapa Kerajaan Surga ini datang, yaitu kepada mereka yang kelihatannya paling jauh dari Kerajaan Surga, yang paling tidak masuk daftar kandidat, mereka yang miskin (miskin ptōchos), mereka yang berduka (bukan hanya yang berduka karena dosa-dosanya, tetapi yang berduka, titik), mereka yang depresi, mereka yang meratap. Kerajaan Surga datang bukan kepada para brilliant jerks yang tadi, melainkan kepada mereka yang selama ini tertindas di bawah brilliant jerks itu, orang-orang yang tidak ada kuasa, orang-orang yang tidak punya suara –dan Kerajaan Surga datang kepada mereka. Orang-orang seperti ini ada di dalam Kerajaan Surga, bukan karena siapa diri mereka, bukan karena apa yang mereka lakukan atau bisa lakukan; mereka ada dalam Kerajaan Surga karena Siapa yang datang kepada mereka, karena apa yang Kristus lakukan bagi mereka. Itulah Injil.
Kalau Saudara insist membaca Ucapan Bahagia sebagai daftar virtue, instruksi/perintah, timeless truth, Saudara justru kehilangan Injil. Saudara justru sedang melawan Injil, memutar balik Injil, karena bagimu ada caranya loh untuk menggapai Kerajaan Surga, tidak perlu anugerah, bisa pakai lewat usaha moral manusia, bisa lewat kemiskinan, atau sedih-sedihan, atau kelemahan, atau kerendahan hati , atau apalah. Itu bukan Injil Kerajaan Surga, Saudara. Injil Kerajaan Surga adalah: Hai! Hidupmu tidak berjalan sesuai dengan keinginanmu, tidak sesuai dengan mimpimu, tidak sesuai dengan yang dunia katakan sebagai kriteria berbahagia, hartamu tidak sebanyak kebutuhanmu, rumahmu tidak seluas yang sesuai jumlah anak-anakmu, engkau sering merasa diri tidak mencapai potensimu, engkau dipecat, engkau tidak punya fashion sense, follower sosmed-mu cuma 3 orang, keluargamu broken home, angka di timbanganmu terlalu tinggi; makarios! orang sepertimu di-welcome dalam Kerajaan Surga, masuklah, engkau diundang ke dalamnya!Orang sepertimu tidak di luar jangkauan Kerajaan Surga bukan karena apa yang engkau lakukan –itu jelas, karena siapalah kamu– tetapi karena Siapa yang telah melakukan sesuatu bagimu, yaitu Anak Allah sendiri. Ini baru Injil. Dan, kita baru sadar ternyata kita tidak percaya Injil seperti ini!
Kita percayanya injil dunia, yang mengatakan: berbahagialah mereka yang pekerjaannya selalu stabil, yang gajinya gede, yang ganteng dan cantik, yang selalu bisa saja pilih baju yang pas warnanya untuk occasion-nya, yang selalu bisa checkout wishlist Tokped mereka, yang ini dan yang itu … silakan Saudara isi sendiri. Itu sebabnya Dallas Willard mengatakan Injil Yesus Kristus ini baru benar-benar injil, karena Injil ini menemuimu di tempat engkau berada; engkau tidak perlu upgrade dulu, tidak perlu naik level dulu, baru bisa menemui Kristus, karena Kristuslah yang datang kepadamu, Kerajaan Surga di depan mata. Di sini beberapa dari kita lalu mulai merasa wow, benar juga, inilah Injil Kerajaan Surga, inilah diselamatkan melalui anugerah semata-mata, “Benar, Pak, ternyata tidak terancam, justru diproklamasikan dengan jauh lebih kuat dan kencang. Yess!” Tetapi –selalu ada tetapi –beberapa dari Saudara mulai bertanya, “Jadi, apakah berarti kita jadi orang Kristen itu pasif-pasif saja? Tadi ‘kan katanya kita tidak perlu upgrade, tidak perlu naik level, Tuhan yang datang kepada kita; di manakah bagian kita sekarang, bukankah kita juga ada usahanya?” Itu sebabnya Saudara, diselamatkan oleh anugerah semata-mata adalah bagian dari Injil, tetapi Injil Kerajaan Surga bukan cuma itu; Injil Kerajaan Surga adalah Matius 1:1 sampai Yohanes 21:25.
Dan, kita tidak perlu menunggu lama untuk melihat bagian berikutnya dari Injil, karena persis setelah Yesus mendeklarasikan bahwa yang bisa masuk Kerajaan Surga bukan cuma orang-orang tertentu melainkan semua orang, bahkan orang-orang yang unblessable dalam mata dunia, semua yang tertindas oleh dunia, semua yang berduka oleh karena dunia, semua yang tidak masuk hitungan sebagai yang bisa masuk Kerajaan Surga, berikutnya Yesus langsung mendeklarasikan bahwa orang-orang ini diutus ke dalam dunia, menjadi garam bagi bumi ini, terang bagi dunia ini. Dan, Saudara perhatikan, ketika membahas bagian ini, saya pakai 50% waktu untuk membahas implikasi dari menjadi garam dan terang, yaitu dipanggil untuk menderita. Jadi, bagaimana mungkin Saudara bisa punya kesimpulan bahwa menjadi warga Kerajaan Surga berarti menjadi pasif??
Pasif dalam kelahiran barumu, itu jelas benar (kita sudah membahas hal ini panjang lebar dalam khotbah Pentakosta, bisa lihat ringkot-nya di website kita), tidak ada yang memilih untuk dilahirkan, tidak ada orang yang berkontribusi apa-apa bagi kelahirannya, ia dilahirkan semata-mata oleh karena anugerah. Tetapi ketika seseorang dilahirkan, ia lalu –dalam anugerah– diberikan segudang tanggung jawab dan peran, yang engkau tidak pernah pilih, engkau tidak pernah teken kontrak, karena ini semua datang atas dasar anugerah. Inilah bagian dari Injil Kerajaan Surga.
Anugerah itu bukan cuma membawa perasaan lega dan disayang; dalam Alkitab, anugerah itu membawa tanggung jawab. Ada salah kaprah lain yang banyak orang miliki terhadap Kekristenan, yaitu begini: jalan agama mengatakan ‘tanggung jawab dulu, baru diberi anugerah Tuhan; upgrade dulu, naik level dulu’; Injil Kerajaan Surga mengatakan ‘tidak, yang namanya anugerah, ya anugerah, bukan datang karena kita bertanggung jawab, datang meski kita tidak bertanggung jawab, itu baru anugerah’. Tetapi, Injil Kerajaan Surga tidak berhenti di situ, Saudara. Injil Kerajaan Surga mengatakan: karena anugerah datang, karena kelahiran datang, maka tanggung jawab yang sejati juga datang. Saudara bandingkan dengan Teologi Sukses. Teologi Sukses mengatakan: Berilah kepada Tuhan, Tuhan akan balas kembalikan; berikan 1, Tuhan balikin 10. Tetapi Alkitab bertanya: engkau dapat 1 untuk berikan kepada Tuhan, itu dapat dari mana, modal dari mana? Terbalik, ya. Bukan karena kamu berikan 1 maka Tuhan beri 10, kamu itu ‘gak punya apa-apa, dari mana yang 1 itu?? Kamu bahkan minus di hadapan Tuhan, tetapi Tuhan tetap memberikan 10 bagimu. Itulah anugerah. Lalu apakah selesai sampai di situ? Tidak. Berikutnya, dari 10 yang Tuhan berikan, kembalikan 1 ke Tuhan. Itulah Injil Kerajaan Surga. Ada anugerah, maka ada peran dan taggung jawab.
Itu sebabnya Saudara lihat sisa dari seluruh Khotbah di Bukit adalah bagian ini, yaitu peran dan tanggung jawab. Bicara mengenai panggilan menjadi garam dan terang itu seperti apa, itulah yang akan dibahas. Menjadi kota di atas bukit, menjadi pelita yang tidak disembunyikan di bawah gantang, itu sebenarnya kayak apa, itulah yang akan mendominasi sisa dari Khotbah di Bukit ini. Lalu Saudara mengatakan, “Akhirnya font kecilnya keluar.” Ini tidak font kecil, Saudara, arguably font-nya lebih gede, karena Ucapan Bahagia “cuma” 12 ayat di pasal 5 sedangkan Khotbah di Bukit itu sampai ke pasal 7, jadi lebih banyak.
Saudara, inilah yang saya ingin bahas pada hari ini. Harap maklumi recap yang panjang ini, karena ini perlu untuk membuat Saudara menyadari ketegangan dalam Injil Kerajaan Surga ini. Injil Kerajaan Surga bukan cuma berita baik bahwa Yesus menemuimu di tempatmu saat ini, tetapi juga berita baik bahwa Ia sekarang memanggilmu untuk melakukan sesuatu. Dan, saya ingin memperlihatkan poin tersebut pada hari ini, bahwa kedua-duanya adalah berita baik, kedua-duanya adalah Injil Kerajaan Surga, bukan yang satu berkat dan yang satu kutuk. Adalah penting untuk kita mulai belajar memeluk/merangkul ketegangan tersebut, karena kita sering kali berpikirnya tidak demikian. Contoh gampangnya, saya perhatikan doa-doamu selama 11 tahun saya di sini sering kali seperti ini: “Kami bersyukur untuk kebaikan Tuhan, kasih Tuhan bagi kami,” tetapi saya jarang banget dengar orang berdoa, “Kami bersyukur untuk panggilan dan peran yang Tuhan tuntutkan bagi kami.” Itu karena hal tersebut bukan good news bagimu ‘kan. Itu sebabnya saya mau argue bahwa bagian yang kedua ini pun adalah Injil, kabar baik yang kita bisa bersyukur di hadapan Tuhan.
Kita mulai dengan khotbahnya, kita coba runut teksnya satu per satu. Kita mulai dari kalimat pertama, orang-orang sezaman Yesus sepertinya punya keberatan yang agak mirip dengan banyak dari antara kita tadi, yang mungkin sudah lama jadi orang Kristen: “Lah, Yesus, kalau Ucapan Bahagia sebegitu radikalnya dalam anugerah, maka apakah kita jadinya pasif? Lalu apa gunanya semua hukum Taurat dan perintah-perintah Tuhan selama ini??” Ini sebabnya Yesus di sini mengatakan, “Jangan pikir Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat dan kitab para nabi.” (Istilah Taurat dan kitab para nabi adalah istilah umum zaman itu yang mengacu pada seluruh kitab suci orang Yahudi, yang hari ini kita sebut sebagai Perjanjian Lama). Di sinilah ekuivalennya pendengar zaman Yesus dengan zaman kita hari ini. Mereka mendengar sebegitu radikalnya pengajaran Yesus (radikal, dari kata radix, akar –sampai ke akar), maka mereka pikir Dia datang untuk mencabut semua akar keyahudian, meruntuhkan seluruh sistem Taurat dan kitab suci Yahudi yang selama ini sudah berdiri. Demikianlah waktu di sini pakai kata ‘meniadakan’, artinya adalah seperti meruntuhkan bangunan. Dan, dalam tulisan-tulisan tradisi rabbinic Yahudi, ini memang pilihan kata yang dipakai ketika mengungkapkan mengenai orang yang mau melanggar hukum Taurat, yang tidak mau taat/takluk pada hukum Taurat, mau meruntuhkan hukum Taurat. Namun Yesus di sini mengatakan, “Bukan; Aku datang bukan untuk meruntuhkannya.”
Dia lalu menambahkan, “Selama ada alam semesta, Taurat akan tetap ada, tidak berubah. Setitik kecil pun tidak berubah.” Istilah titik ini dalam aksara Yahudi bukan huruf, cuma semacam goresan kecil. Ini seperti bedanya font sans serif dengan font serif, misalnya huruf E (sans serif) dengan huruf
(serif). Kira-kira seperti itu juga, dalam bahasa Ibrani ada huruf D (ד)dan huruf R (ר), dan yang membedakan keduanya cuma setitik goresan, sehingga misalnya kata Adam dibuang goresan setitik tersebut, akan menjadi Aram. Jadi, bahkan yang cuma setitik itu, Yesus mengatakan tidak ada satu titik kayak begitu pun yang akan berubah, sepanjang sejarah sampai seluruh alam semesta utuh dan genap di hadapan Tuhan. Di sini kita akan pikir semua pemimpin agama Yahudi yang konservatif akan menarik napas lega, aman deh, karena Yesus mengatakan tidak bakal meruntuhkan hukum Taurat dan kitab suci orang Yahudi. Tetapi lalu apa, inilah yang penting.
Tadi kita sudah bicara bahwa kalau meruntuhkan itu berarti melanggar, tidak mau takluk/taat, maka kita pikir lanjutannya –untuk membuat orang-orang sezaman Yesus itu menarik napas lega– adalah: “Aku datang untuk menaatinya, Aku datang untuk menaklukan diri-Ku di bawahnya.” Tetapi bukan itu istilah yang Tuhan Yesus pilih di sini, Dia memilih istilah yang lain; Dia mengatakan: “Aku datang untuk menggenapinya (plēroō).”Kalau Saudara ingat pembahasan kitab Matius di awal tahun, inilah istilah yang berkali-kali muncul di kitab Matius, bahkan muncul 7x sebelum Khotbah di Bukit. Jadi ini bukan kebetulan. Matius, ketika menceritakan ulang berbagai kejadian dalam hidup Yesus, dia memasukkan kalimat ini, dia menuliskan: ‘Oleh karena peristiwa inilah, maka tergenapi Kitab Suci’. Bukan cuma Matius, Yesus sendiri juga menggunakan kalimat ini. Misalnya di pasal 26 ketika Yesus ditangkap, Dia mengatakan, “Semua ini terjadi supaya genaplah yang tertulis dalam kitab nabi-nabi.”
Kembali ke pembahasan kita, Yesus di sini sedang mendeklarasikan sesuatu yang tidak sama dengan ekspektasi orang –dan itulah Kerajaan Surga ‘kan, kerajaan yang beda. Saudara bayangkan, Yesus ini sedang bicara kepada orang-orang Yahudi, mungkin di hadapan-Nya itu ada dua kubu, yang satu kubu Yahudi konservatif yang maunya Yesus mengatakan bahwa Dia tunduk di bawah hukum Taurat, dan kubu satu lagi mungkin orang-orang Yahudi yang progresif yang maunya Dia sekalian buang saja seluruh hukum Taurat –dan Yesus ternyata bukan dua-duanya. Dia mengatakan, “Aku tidak datang untuk meruntuhkan hukum Taurat, jangan salah mengerti, ya” –dan di sini orang-orang liberal akan mengatakan, “Weee… ternyata…. .” Namun Dia lalu mengatakan, “Aku juga tidak datang untuk sekadar menaati hukum Taurat secara dogmatis atau kaku; Aku datang untuk menggenapinya” –dan di sini orang-orang Farisi, orang-orang konservatif akan mengatakan, “Maksud Lu apa?? Ada bau-bau sesat nih … .”
Apa artinya menggenapi? Kita sering pikir penggenapan seperti ini: ada prediksi di zaman yang lalu, kemudian hal itu terjadi di zaman sekarang secara tepat, 1:1. Penggenapan dalam Alkitab sesungguhnya lebih dalam dari sekadar urusan ramalan yang kemudian terjadi. Istilah menggenapkan, arti hurufiahnya adalah mengisi sampai penuh, fulfill, fill to the full.
Setelah bagian yang kita baca ini, dalam bagian berikutnya Yesus memberikan enam kasus di mana Yesus menggunakan satu formula yang sama. Dia mengatakan berkali-kali, “Kamu telah mendengar … tetapi Aku sekarang berkata kepadamu … .” Ada enam kali seperti itu; dan dalam semua formula tersebut Yesus pada dasarnya sedang membahas perintah-perintah Perjanjian Lama (hukum Taurat), mengenai membunuh, perzinahan, memberi persembahan, dst. Jadi, waktu Yesus mengatakan engkau telah mendengar seperti ini dan itu, tetapi Aku mengajarkan begini begitu, Dia di sini sedang mengajarkan ulang Perjanjian Lama. Dia tidak menolak/meruntuhkan hukum Taurat, tetapi Dia mengajarkan ulang Perjanjian Lama tersebut tidak seperti yang selama ini orang dengar, Dia mengklaim bahwa dalam pengajaran-Nya inilah hukum Taurat mencapai kepenuhannya, keutuhannya.
Kita perlu ambil waktu sebentar di sini, untuk menyadari seberapa gilanya klaim Yesus ini. Mengaku-aku bahwa hidupmu selaras dengan seluruh Alktab, itu sudah cukup gila; kalau kita mendengar orang mengaku seperti itu, itu cukup sinting. Tetapi, yang Yesus lakukan adalah mengaku-aku bahwa seluruh Alkitab itu bukan saja selaras dengan hidup-Nya, tetapi bahkan seluruh Alkitab selama ini sedang menunggu kehadiran-Nya. Itulah maksudnya menggenapi. Yaitu menunggu kehadiran-Nya, karena kehadiran-Nya itulah yang membawa makna seluruh Alkitab mencapai keutuhannya. Makna seluruh Alkitab yang ditulis oleh Musa, Yesaya, Yeremia, dsb., beribu-ribu tahun itu, baru dapat dimengerti secara tepat, secara utuh, ketika orang membacanya dengan melihat diri Yesus di tengah-tengahnya. Selama ini orang bukan salah mengerti Taurat, namun mereka mengertinya kurang penuh, something is still missing sampai Dia datang. Itulah klaim Yesus.
Sebelum kita bisa merespons, Yesus lalu melanjutkan dengan perkataan-Nya di ayat 19. Dalam bagian ini saya perlu soroti sedikit terjemahan LAI, karena di sini sebenarnya ada bagian yang agak ambigu namun LAI bikin jadi terlalu pasti. Kalau Saudara baca ayat 19, terjemahan LAI menulis bahwa Yesus mengatakan siapa yang meniadakan salah satu perintah hukum Taurat, dia akan dianggap rendah di dalam Kerajaan Surga, tetapi siapa yang melakukan dan mengajarkan segala perintah-perintah hukum Taurat, ia akan dianggap tinggi di dalam Kerajaan Surga. Namun sebenarnya adalam bahasa aslinya tidak ada istilah ‘Taurat’ di bagian ini (di sini LAI being too helpful); dalam bahasa aslinya Yesus hanya mengatakan, “Barangsiapa melakukan perintah-perintah ini … dan barangsiapa tidak melakukan perintah-perintah ini … .” Maksudnya perintah apa? Kita mungkin pikir, ‘kan Dia baru saja bicara mengenai hukum Taurat dan kitab para nabi (Perjanjian Lama), jadi mungkin itu maksudnya –dan itu juga tafsiran LAI, sehingga ditulis ‘perintah hukun Taurat’. Tetapi, setelah ini Yesus lalu mengajarkan perintah-perintah yang lain, yang beda, maka mungkinkah Yesus justru mengacu ke yang ini?? Memang kita tidak tahu, karena teksnya ambigu. Saya rasa, ambiguitas ini disengaja, karena inilah poinnya: ketika engkau menuruti perintah-perintah Yesus yang beda dengan yang orang ajarkan selama ini, itulah saatnya engkau mencapai kepenuhan dari seluruh hukum Taurat yang selama ini sudah ada, Dialah penggenapan dari seluruh hukum Taurat itu.
Perintah Yesus adalah utuhnya perintah-perintah Perjanjian Lama, karena Dialah sosok yang ditunggu-tunggu oleh Taurat. Engkau hanya bisa menemukan kepenuhan/keutuhan makna Alkitab, kelimpahan perintah-perintah Tuhan dalam Alkitab, di dalam diri Yesus. Itu sebabnya kalau engkau menuruti perintah Yesus, engkau akan menuruti Taurat, dan engkau akan naik tinggi dalam Kerajaan Surga. Sebaliknya, kalau engkau tidak menuruti perintah Yesus, engkau tidak mungkin menuruti perintah-perintah Taurat, dan engkau tidak akan tinggi dalam Kerajaan Surga. Kalau ini masih belum cukup jelas, di ayat 20 Yesus membuatnya lebih jelas lagi, dengan mengatakan mengenai kira-kira ekpektasi hasilnya seperti apa, yaitu jika engkau bukan membuang Taurat melainkan menaatinya sebagaimana mestinya –sebagaimana Yesus mengajarkan dalam segala kepenuhannya–maka hidupmu (righteousness-mu), bagaimana engkau deal dengan Tuhan, dengan orang lain, dengan ciptaan, akan –dan harus– melampaui orang-orang Farisi dan para ahli Taurat. Ini masuk akal; kenapa? Karena orang-orang Farisi dan para ahli Taurat hanya “tunduk” di bawah Taurat, sedangkan Yesus inilah sosok yang dinanti-nanti oleh Taurat itu sendiri. Menaati Yesus, pasti akan membawamu memiliki suatu kehidupan yang melampaui pengajar-pengajar inferior ini, karena Yesuslah penggenapannya.
Omong-omong, kalau Saudara sudah lama jadi orang Kristen, sering kali Saudara punya gambaran orang Farisi sebagai tokoh yang jahat, maka kita merasa kayaknya ‘gak sebegitu susahnyalah hal ini, karena mereka itu munafik sementara kita ini luar dalam sama, dst. Namun pemikiran itu reduktif sekali, karena orang-orang Farisi justru orang-orang yang sangat dihormati dalam masyarakat zaman itu. Mereka beda dari golongan Saduki. Golongan Saduki basically golongan pemimpin-pemimpin Yahudi yang ada power, bagian dari pemerintahan yang sedikit banyak berkolaborasi dengan orang-orang Romawi; sedangkan orang-orang Farisi adalah para pemimpin grassroot, golongan akar rumput, para pemimpin lokal masyarakat. Bisa dibilang mereka ini hidup di “dunia nyata” dengan hidup integritas moral yang tinggi. Mereka dihormati banyak orang, karena mereka bukan tipikal orang beragama yang hidup di menara gading, mereka adalah pemimpin-pemimpin agama yang turun ke jalan. Ada beberapa pakar yang mengusulkan bahwa Tuhan Yesus sendiri bisa jadi adalah seorang Farisi; dan jika demikian, semua kritikan-Nya terhadap orang Farisi merupakan kritikan yang reformasional, kritikan ke dalam (insider critic). Namun kalau Saudara tidak mau menerima ini, yang memang tidak secara konklusif telah dibuktikan, paling tidak Saudara bisa consider bahwa Yesus itu pada zamannya akan paling identik dengan golongan Farisi. Itu sebabnya Dia paling banyak bergesekan dengan orang Farisi (biasanya paling banyak orang bergesekan dengan orang-orang yang mirip denganmu, misalnya orang Reformed berantemnya dengan orang Reformed).
Kembali lagi, jika demikian maka dalam menerjemahkan ayat tadi, mungkin lebih baik seperti ini: jika hidupmu tidak melampaui orang-orang yang dihormati masyarakat –mungkin seperti Mother Teresa, Billy Graham, John Stott, atau mungkin Gandhi– engkau tidak akan masuk Kerajaan Surga. Ekspektasinya sampai sebegitu; kenapa? Karena Yesus inilah sosok yang dinantikan hukum Taurat, dan mendengarkan pengajaran-Nya akan membuatmu melampaui semua yang tadi itu. Sekarang saya mau tanya: kalau begini, pasif dari mana??
Mendengar Khotbah di Bukit seperti ini, Saudara sekarang shock-nya dobel ‘kan. Pertama, Saudara shock karena ternyata anugerah Kerajaan Surga lebih lebar, lebih jauh menjangkau, daripada yang selama ini kita pikir, sampai-sampai kita mengira kalau begitu apakah jadinya kita ini pasif saja, menunggu tok saja?? Dan sekarang, Saudara melihat lebih lengkap dan lebih utuh gambaran Injil –bukan cuma diselamatkan oleh anugerah semata-mata—dan Saudara jadi mulai menyesal tanya pertanyaan tadi, karena realitasnya adalah anugerah yang tadi itu, yang sangat radikal dalam hal luasnya itu, ternyata juga membawa tanggung jawab dan panggilan yang juga sangat radikal tuntutannya. Tutuntannya adalah menjadi garam dan terang, menderita, menjalankan seluruh hukum Taurat –dan Tauratnya adalah yang versinya Yesus karena Dia ini otoritas tertinggi Taurat– dan oleh karena itu efeknya adalah mempunyai hidup yang bahkan melampaui orang-orang Farisi, melampaui bahkan Gandhi!
Dalam hal ini sebenarnya ada pembahasan mengenai natur Alkitab yang suatu hari nanti saya ingin bahas, tetapi hari ini saya ingin menekankan bagian ini untuk membuat Saudara sadar akan poin khotbah hari ini, yaitu menyadari akan ketegangan Injil Kerajaan Surga. Tujuan saya bukan untuk menyelesaikannya –karena ini bukan problem untuk diselesaikan– tujuan saya justru untuk membawa Saudara menyadari bahwa ketegangan inilah salah satu jantung hati Injil Kerajaan Surga.
Saudara, yang Yesus sedang tuntutkan di sini, ujungnya adalah mengenai otoritas. Sebabnya Dia mulai dari sini, karena memang inilah isu yang fundamental. Jangankan dalam Gereja, dalam kehidupan masyarakat kita pun ada banyak perdebatan dan kontroversi, misalnya mengenai seksualitas, mengenai gender, mengenai social justice, mengenai perang, dst. Tetapi di balik semua perdebatan itu, sebenarnya isu sentralnya adalah ini: siapa sebenarnya yang pegang otoritas, di atas tampuk siapakah isu-isu ini harus diputuskan.
Charles Taylor, seorang sosiolog, membahas dalam konteks Barat (namun might as well kita melihat ini konteks dunia, karena dunia hari ini sudah sangat kebarat-baratan) bahwa 500 tahun yang lalu peradaban dunia pada akarnya mempunyai otoritas yang jelas, otoritas institusional; ada pemerintah, ada agama, yang memberitahu kepada masyarakat apa yang benar dan tidak benar, apa yang boleh dan tidak boleh –dan kita menurut, kita tidak ada opsi untuk melawan mereka. Lihat saja zaman-zaman feodalisme, zaman-zaman agama bercokol dalam masyarakat, maka apa yang boleh dan tidak boleh, itu ditentukan oleh orang-orang yang pakai mahkota atau yang mengenakan baju-baju putih imam; dan kita tidak ada opsi lain, kita tidak bisa melawan. Setelah itu, otoritas masayarakat Barat beralih, bukan lagi kepada agama, melainkan kepada sains. Figur imam berbaju putih telah digantikan dengan figur seorang scientist dengan jas lab putih; apa yang benar dan apa yang tidak benar, ditentukan oleh otoritas seorang ilmuwan. Tetapi sekarang, peradaban manusia beralih lagi ke dalam fase baru otoritas, tidak lagi otoritas yang di luar (seperti agama, atau pemerintah, atau sains, atau lainnya), melainkan di dalam. Brad Edwards mengatakan, hari ini otoritas tidak lagi institusional, hari ini otoritas bersifat intuisional —intuisiku yang paling penting. Itu sebabnya hari ini sejak lahir engkau dibombardir dengan nilai budaya ini: JADILAH DIRIMU SENDIRI –yang penting itu apa yang engkau pilih, jangan ikut-ikutan orang lain, be true to yourself, trust your feelings.
Era hari ini bukan era imam, bukan era sains, ini era authenticity. Yang penting kamu itu otentik, yang penting kamu maunya apa, yang penting yang di dalam kamu, apa yang kamu pilih. Ini sebabnya dalam NRETC yang lalu seorang anak remaja bisa bertanya begini: “Kenapa saya harus mengasihi orangtuaku? Bukankah saya tidak pernah memilih untuk dilahirkan??” Saudara lihat, di balik ini asumsinya adalah: saya baru boleh dituntut, ketika saya memilih; jadi yang penting adalah pilihanku itu, hanya aku yang berhak menentukan –otoritas intuisional. Omong-omong, kalau tunggu Saudara yang memilih untuk dilahirkan, Saudara ‘gak bakal lahir, karena kamu tidak sanggup memilih untuk dilahirkan. “Bagus, Pak, saya memang ‘gak mau lahir!” demikian kata anak-anak remaja sinis. Oke, tetapi bagaimana dengan orang-orang lain yang mungkin kepingin lahir; dan kalau tunggu mereka bisa memilih untuk lahir, ‘gak bakal ada yang lahir juga, jadi sebegitu pentingkah pilihanmu?? Kalau sebegitu pentingnya pilihanmu, tidak ada yang hidup!
Saudara mungkin tertawa melihat hal tersebut, namun ini bukan cuma problem anak remaja. Hari ini kita hidup dalam zaman di mana kita tidak lagi berintegritas, kita hidup dalam masyarakat yang fragmented. Maksudnya hidup yang tidak berintegritas di sini bukanlah urusan seperti misalnya kita suka berbohong dsb., melainkan bahwa hidup kita terpecah-pecah, ‘gak nyambung satu dengan yang lain. Ini juga sebabnya integritas sering kali dihubungkan dengan kemunafikan, karena orang yang munafik adalah orang yang misalnya antara omongannya dan dirinya/hidupnya itu terpecah, dia bisa ngomong-nya begini tetapi yang di dalam hati ternyata tidak seperti itu, ada yang disembunyikan yang orang lain tidak bisa lihat. Kalau saya bilang, “Kalian semua di tempat ini adalah orang-orang yang munafik, tidak berintegritas hidupnya,” mungkin Saudara tidak akan terima begitu saja, memang orang Farisi yang munafik, saya sih tidak. Tetapi Saudara, kita ini semua tidak berintegritas, karena kita hidup dalam zaman di mana segala sesuatu terpecah-pecah.
Paling gampangnya, lihat dunia sosmed. Hari ini otoritas sosmed ada pada siapa? Kita. Kita yang menentukan apa yang orang lain lihat mengenai diri kita. Otoritasnya di saya, intuisi saya; saya cuma mau perlihatkan kepada orang, foto-foto yang sudah difilter, yang instagramable, yang banyak likes-nya –karena otoritasnya di saya, untuk menentukan apa yang orang lain lihat. Jadi dengan sendirinya selalu ada jarak/perbedaan antara wajah yang kau perlihatkan di sosmed versus wajahmu yang sesungguhnya. Ada sesuatu dalam dirimu yang engkau simpan, dan orang lain tidak boleh lihat ataupun tahu. Yang orang lain boleh lihat atau tahu, itu purely engkau yang pilihkan. Siapa dari antara kita yang hidupnya tidak kayak begini? Kalau di zaman ini engkau berani mengaku tidak munafik, engkau dobel munafiknya. Tahukah kenapa ini terjadi? Karena otoritas sekarang ada di diri saya, otoritas untuk menciptakan identitas dan jati diri ada di saya. Dan, dunia sudah tahu bahwa melakukan hidup yang terpecah-pecah seperti ini, ujungnya mematikan.
Taylor mengatakan inilah problem zaman sekarang, namun bagi Alkitab ini sudah sejak awal kejatuhan manusia. Waktu engkau mempelajari kitab Kejadian –dan kitab Kejadian bukan cuma bicara mengenai penciptaan, bahkan kisah penciptaan cuma ada dua pasal–ada banyak fokus di dalamnya, salah satunya yaitu nama. Perhatikan, di dalam kitab Kejadian, urusan nama sangat penting. Nama dalam kitab Kejadian (dan juga seluruh Alkitab), itu meaningful dan mencerminkan jati diri orangnya. Nama seseorang, itu corresponds dengan realitas hidupnya. Misalnya Adam artinya manusia, dan ini nama yang tepat karena berasal dari istilah adamah (tanah); jadi ada sesuatu dalam nama Adam (manusia) yang menceritakan jati dirinya yang diambil dari tanah, inilah identitasnya. Adam menikah dengan Hawa, yang artinya life, kehidupan. Jadi: manusia menikah dengan kehidupan, menghasilkan umat manusia. Make sense, ya.
Cerita berikut-berikutnya, misalnya Babel. Orang-orang Babel mendirikan Menara Babel; dan nama Babel, Bab-ilu, dalam bahasa mereka berarti gate of God. Jadi kira-kira seperti ini: Kami ini pintu kepada para dewa; kalau kalian mau naik kepada dewa, musti lewat kami. Dan dalam ceritanya, dikatakan mereka itu mencari nama sendiri bagi hidup mereka. Tetapi nama Bab-ilu ini kalau ditranslasikan ke bahasa Ibrani maka menjadi Babel, dan babel artinya bingung. Jadi, orang-orang yang mencari nama sendiri ini, ujungnya nasib mereka adalah sebagaimana nama mereka, yaitu terbingung-bingung. Saudara lihat, nama tidak sembarangan.
Lanjut lagi, cerita berikutnya mengenai seorang Abraham. Abraham ini Tuhan panggil, dan janji Tuhan kepada Abraham pertama-tama bukan mengenai keturunan, melainkan: “Aku akan membuat nama-mu mashyur.” Saudara lihat, ini tidak sembarangan. Abraham kontras dengan Babel; Babel cari nama sendiri, Abraham diberikan nama oleh Tuhan. Diceritakan Abraham dan Sarai ini ragu terhadap janji Tuhan tersebut, karena kalau ada nama maka biasanya ada keturunan, tetapi koq keturunannya tidak datang-datang. Mereka pun mulai mencari sendiri nama bagi diri mereka, lewat menghamili Hagar, budak Mesir mereka. Jadi mereka mengulangi kesalahan Babel, bahkan kesalahan Adam dan Hawa, karena di situ dikatakan Sara mengambil Hagar, seperti Hawa mengambil buah itu dan memberikannya kepada suaminya, dan suaminya memakannya. Ada echo seperti ini di dalam Alkitab. Merespons ini, anehnya Tuhan bukan cuma menghukum mereka dalam arti ada konsekwensi (ini kita bahas kapan-kapan), melainkan Allah lalu memberikan nama baru kepada dua pasangan yang ragu ini, Abram (bapa) diubah menjadi Abraham (bapa segala bangsa), Sarai (a princess) diubah menjadi Sara (the princess). Dan, tugas mereka adalah menamakan anak yang akan mereka dapatkan itu, yaitu Ishak, artinya laughter, tertawa.
Lanjut lagi, ada penekanan nama dalam kisah berikutnya tentang Yakub. Yakub artinya si penipu. Ini tidak tepat, lebih tepatnya adalah: orang yang memperdaya. Sesuai dengan realitas namanya, dia pertama-tama memperdaya kakaknya, Esau (Esau artinya si berbulu, karena memang benar badannya berbulu), dia merampok hak kesulungan (bekorah) Esau. Abraham dijanjikan nama oleh Tuhan, Yakub memperdaya untuk mendapatkan nama; pola ini berlanjut terus, dan mengakibatkan banyak hal. Gara-gara berusaha mengambil nama bagi dirinya sendiri, Yakub malah kehilangan nama, dia diusir dari keluarganya sendiri. Dia menipu Laban, akhirnya malah kena tipu juga, dst. Sampai kemudian suatu hari Tuhan bergulat dengan dia; dan ketika Yakub mulai sadar siapa sesungguhnya yang bergulat dengannya itu, dia tidak mau melepaskan sampai Tuhan memberkatinya. Dia baru sadar, selama ini dia mengejar bekorah, namun yang dia perlukan sebenarnya berakah (berkat Tuhan). Dan, apakah berakah yang akhirnya Tuhan berikan kepadanya di tempat tersebut? Apalagi kalau bukan sebuah nama, Israel, artinya engkau telah bergumul dengan Allah dan engkau menang (karena anugerah). Ini reminder bahwa apa yang dia kejar, itu cuma bisa datang dari Allah. Allah menamainya, sebagaimana Allah menamai Abraham.
Lanjut lagi, kisah ini kemudian turun kepada orang-orang Israel di Mesir, yang diperbudak 400 tahun. Kira-kira menurutmu apa efeknya punya cerita-cerita seperti tadi itu bagi sebuah umat yang sedang diperbudak 400 tahun? Kalau Saudara diperbudak, pertama-tama Saudara akan bertanya kenapa kita ditindas, lalu kenapa mereka menindas kita, lalu siapa mereka, dan siapa kita –pertanyaan identitas, pertanyaan mengenai nama. Siapa mereka, Saudara? Nama apa yang melekat pada mereka? Nama yang diberikan kepada Yakub itu sekarang melekat kepada mereka, Israel. Ini membuat mereka sadar, O, saya tahu saya siapa, meskipun keadaanku hari ini jadi bangsa budak, aku juga adalah ahli waris janji Allah dalam lini Abraham, dalam lini Ishak, dan Yakub; bukan karena aku bisa mencapai sesuatu dengan tanganku maka aku adalah ahli waris Allah, tetapi karena apa yang aku akan terima dari Allah. Saudara lihat, dalam kasus perbudakan ini mereka punya harapan, karena Allah mereka bukan Allah yang menghadiahi orang-orang yang berjuang menggapai nama sendiri. Yang seperti itu justru the worst thing you can do di dalam Alkitab. Main hakim sendiri, taking matters into your own hands, mengambil sendiri nama dan identitasmu, itu berarti Saudara sedang mengulangi kesalahan Adam dan Hawa, Babel, Abram, Yakub. Yang perlu engkau lakukan adalah menerima identitas dari Allah, menerima nama dari Allah; dan itu berarti engkau menghidupi janji Allah, menunggu dan mempercayakan masa depanmu kepada Allah, engkau tidak angkat senjata sendiri.
Dari kisah-kisah tadi –yang cuma dari satu kitab pertama Alkitab ini– tidak ada yang bisa menghalangi Allah pada akhirnya menggenapi janji-Nya. Ketika engkau berusaha menggapai sendiri, akhirnya selalu kematian, kerusakan, dan kehancuran datang, terjadi pembunuhan, dll. The best thing you can do adalah menunggu, menunggu, dan menunggu, seperti Abraham menunggu. Dan, ketika Allah bertindak menggenapi janji-Nya, tidak ada halangan yang bisa menghalangi Dia, baik itu dari luar maupun dari kekerasan hati orang Israel sendiri. Mereka mungkin harus menunggu waktu yang lama, tetapi it will happen. Itu sebabnya mereka bisa bertahan 400 tahun jadi bangsa budak. Inilah identitas/jati diri/nama yang diberikan, rather than dicapai. Good news atau bad news? Bad news-nya, nama/identitas seperti ini tidak sesuai schedule kamu, engkau harus menunggu waktu yang lama, melawan intuisimu yang engkau pikir baik, dsb. Good news-nya, ketika hal itu datang, betapa luar biasa, unshakable, kokoh.
Bandingkan dengan identitas kita hari ini. Kita ini diajari habis-habisan bahwa identitas itu harus digapai, jangan tunggu diberikan, bahkan jangan terima pemberian dari orang lain, gapai dan bikin sendiri identitasmu! Kita kebalikan dari orang Israel. Orang Israel kondisi hidupnya hancur, diperbudak, namun mereka punya pengharapan, mereka berseru kepada Tuhan. Empat ratus tahun mereka diperbudak, dan actually sampai hari ini bangsa Yahudi itu bangsa yang identitasnya sangat kuat, meskipun mereka tidak punya tanah (mereka punya tanah di Palestina, namun lebih banyak yang tinggal di luar). Identitas Yahudi itu sangat kuat, tanpa mereka harus punya tanah/negara, dan itu bertahan ribuan tahun. Sedangkan kita, yang tidak diperbudak, tidak ditindas, hidupnya sangat enak, identitas kita sangat rapuh. Kenapa? Karena jati diri kita, identitas/nama kita, adalah hasil pencapaian kita sendiri. Kalau namamu adalah hasil pencapaianmu, maka begitu engkau gagal mencapai, namamu juga langsung jatuh harganya. Followers-mu 1000, rasa lumayan; kalau followers-mu cuma 3, ke laut aja.
Saudara lihat, di satu sisi, bikin nama sendiri terasa membebaskan; namun sudah ketebak ujungnya hampa. Itulah pencarian identitas manusia. Intinya, dalam hal ini saja, suatu keterbatasan itu bisa oke dan good. Ada kebebasan yang pada akhirnya memenjarakan, ada keterbatasan yang pada akhirnya membebaskan. Sekarang ini zaman di mana kita mulai sadar hal ini ‘kan, bahwa kebebasan kita mulai mentok, tidak bisa lebih bebas lagi. Sudah terlalu banyak opsi; dan kita sadar lebih banyak opsi itu tidak tentu lebih baik. Datang kondangan yang makan prasmanan, kadang-kadang jadi bingung mulai dari mana. Lalu kita ambillah satu demi satu, yang ini mau, yang itu mau, bebas ambil apa saja, akhirnya kekenyangan setengah mati, tidak bisa makan. Beda kalau kita ke restoran yang menyediakan ten course menu. Saudara tidak memilih, Saudara diberi, dan harus menerima. Datang makanannya pun sedikit-sedikit, karena memang banyak, jadi sabar saja. Lagipula kalau cuma diberikan satu potong, Saudara makannya juga fokus, dibandingkan kalau 500. Waktu makan ini, Saudara rasa enak, lagipula urutan berikutnya juga cocok, bukan dari A ke E tetapi dari A ke B. Saudara mempercayakan dirimu kepada sang chef; dan hasilnya kenikmatan yang jauh lebih tinggi dibandingkan kalau makan kekenyangan di Hachi Grill.
Omong-omong, identitas yang terus saja kita main tempel, cabut, tempel cabut, saya mau jadi ini, saya mau jadi itu, saya mau jadi ini, saya mau jadi itu, akhirnya apa yang terjadi? Kita ini terbatas, Saudara. Ilusi modern mengatakan pilihan tidak terbatas, tetapi jangan pernah lupa, kitanya terbatas. Batman dan Bruce Wayne, identitas yang copot, sambung, copot, sambung, … begitu terus menerus, dan lama-lama bingung siapa yang asli dan siapa yang topeng. Inilah ilusi modern. Ini dibenci sekali oleh manusia sejak Kejadian 3, dan even more so zaman sekarang.
Kenapa khotbah ini saya bawa sampai ke sini? Tadi kita sudah mengatakan bahwa Injil Kerajaan Surga bukan cuma sisi pertamanya, bahwa engkau diselamatkan karena anugerah semata-mata, engkau tidak perlu upgrade dulu baru bisa masuk, kabar baiknya Kerajaan Surga sudah di depan matamu, Dialah yang datang kepadamu. Tetapi kabar baiknya tidak berhenti di situ, kabar baiknya itu membawa sepaket dengan segudang tanggung jawab, peran, identitas, jati diri, yang kita tidak pernah pilih ataupun suka. Tanggung jawab untuk diutus hidup bagi dunia sebagai garam dan terang. Tanggung jawab untuk melakukan dan menjalankan hukumTauirat; dan ini berarti bukan sekadar menjalankan secara dogmatis, tetapi mempelajari versinya Yesus mengenai hukum Taurat. Itu berapa lama? Sepuluh tahun kira-kira untuk fundamentalnya. Let’s go! Dan setelah itu, menghasilkan suatu kehidupan yang bisa terukur bedanya, menjadi orang-orang yang hidupnya melampaui kehidupan Ibu Teresa, Gandhi! Buset!! Mulaikah Saudara bisa mellihat hal ini sebagai kabar baik? Consider jika engkau tidak menerima nama, identitas, peran, panggilan ini, dari Allah, maka engkau harus menciptakan sendiri; dan lihat seberapa rapuhnya identitas bikinan sendiri itu! Engkau mau identitas yang kokoh? Engkau harus menerimanya, tidak bisa mengambilnya. Itu sebabnya ini rasanya seperti mati; paling tidak, mati terhadap intuisimu.
Waktu saya disuruh jadi gembala sidang GRII Kelapa Gading, saya menolak. Itu ‘gak gue banget, goblok banget yang suruh saya jadi gembala sidang, orang ansos kayak begini, yang ‘gak mau menyapa orang dan harus disapa duluan, dst.; ini bukan peran yang cocok buat saya. Memang benar, karena ini bukan pilihanmu! Engkaulah yang harus bertumbuh sampai peran itu cocok bagimu. Menjadi gembala sidang, itu saya merasa seperti diberi baju kegedean, mana bisa saya pakai?? Sekarang sudah 3 ½ tahun, saya tidak tahu Saudara merasa apa, tetapi saya mulai menyadari inilah diriku, inilah who I am. Saya mulai sedikit demi sedikit dipertumbuhkan ke arah baju yang kegedean itu, dan ternyata bajunya cocok. Lebih cocok daripada yang saya ingin akui. Dan, ini berarti ada seseorang yang lebih kenal diriku daripada intuisiku sendiri. Dia bukan cuma kenal, Dia menyayangiku, lebih daripada aku sayang pada diriku sendiri, karena Dia cukup sayang untuk memaksaku masuk ke dalam baju yang kegedean ini. Kalau Saudara bisa punya sense seperti ini, bahwa engkau dikenal dan disayang, ini kokoh luar biasa, karena ini indentitas yang diberikan. Ini identitas yang kokoh, tidak peduli orang lain mau omong apa, tidak peduli hatiku sendiri omong apa. Ini sangat kokoh. Engkau mau mencari dan menemukan sendiri identitasmu, good luck bisa menemukan identitas sekokoh ini.
Omong-omong, ini bukan cuma untuk saya, seorang pendeta. Ketika Gereja, Tubuh Kristus, memanggilmu untuk bertumbuh dalam panggilan tertentu, panggilan tertentu, yang engkau rasa tidak cocok dengan intuisimu, seperti menjadi penatua, pengurus, pengkhotbah KKR Regional, atau bahkan yang lebih general dengan menjadi seorang suami yang berkorban bagi istrinya sebagaimana Kristus memberikan nyawa-Nya bagi jemaat, menjadi seorang istri yang tunduk kepada suaminya sebagaimana Kristus tunduk kepada Bapa, siapa yang mau peran-peran seperti itu?? Siapa yang rasa diri cocok dengan semua itu?? Menjadi anak-anak yang menaati dan mengasihi orangtuanya?? Menjadi anak remaja yang masih harus menurut pada orangtuamu, melawan intuisimu; disuruh datang bersekutu tiap Sabtu yang membosankan itu? Hai anak-anak, Kau pikir cuma engkau yang bergumul dalam hal ini? Orangtuamu juga bergumul. Hai orangtua, Kau pikir cuma anakmu yang masih perlu bergumul dalam hal itu? Mungkin anakmu itu lebih sulit bergumul, salah satunya karena dia tidak melihat engkau sendiri bergumul dalam ketaatan. Menjadi anggota tubuh Kristus, menjadi orang-orang yang berbuah buah Roh, menjadi orang yang rendah hati, menjadi orang yang bersyukur dalam segala sesuatu, semua itu adalah panggilan, peran, jati diri, yang kita rasa tidak cocok. Siapalah yang kepingin peran-peran seperti itu, tetapi bisakah Saudara mulai melihat sebagai good news identitas pemberian seperti ini? Karena identitas bikinan sendiri itu gang buntu, Saudara!
Dunia zaman sekarang sudah mulai menyadari ini, dengan setiap teknologi yang kita bikin untuk makin lama makin bebas namun juga makin terpenjara, makin punya koneksi namun juga makin disconnect. Sekarang AI bikin kita lebih intelligent, namun juga sesungguhnya bikin kita kehilangan intelligence, karena AI berpikir buatmu dan engkau jadi tidak perlu berpikir lagi ‘kan, lalu cepat atau lambat Saudara berlanjut dari tidak perlu mikir jadi ‘gak bisa mikir. Dan, karena ngobrol dengan AI itu enak maka Saudara rasa tidak perlu mengobrol dengan orang beneran lagi, lalu lama-lama –tidak terlalu lama juga– Saudara bukan saja tidak usah mengobrol dengan orang, tetapi juga Saudara tidak mampu mengobrol dengan orang. Dunia sudah mulai sadar akan hal ini, lalu kapan kita mau mulai ikutan?
“Pokoknya saya mau pilih sendiri!!” Ya, sudah, Gereja tidak akan mamaksamu, karena di Alkitab juga Tuhan tidak main paksa. Silakan engkau coba menjalani sendiri hidup yang kaupilih itu. In some sense, memang semua dari kita cerita hidupnya seperti ini, tidak ada yang beralih kepada Kristus sampai kita kapok. Ingat, Saudara, bahkan dunia pun mulai sadar akan hal ini, akan betapa rapuh dan sia-sianya identitas/nama yang kita gapai sendiri. Gerejalah harusnya yang memanggil dan menantang dunia akan hal ini, namun yang terjadi malah Gereja sering kali ketinggalan.
Saudara, menerima identitas dan panggilan itu berat. Ini sama sekali tidaklah pasif. Menunggu waktu Tuhan, menunggu pertumbuhan yang Tuhan berikan sampai bisa terasa bajunya mulai pas, itu tidak mengikuti time line-mu, schedule-mu, caramu. Itu tidak datang dari kekayaanmu, bahkan mungkin datang dalam kemiskinanmu. Itu tidak datang dalam kebahagiaanmu, tetapi mungkin melalui duka-duka dalam hidupmu. Dan, Saudara tentu sadar ini tidaklah pasif, ini menuntut effort yang jauh lebih aktif, aktif menunggu, aktif menanti, aktif untuk melihat apa yang tidak kelihatan! Aktif untuk berusaha melihat sebagai berkat hal yang kelihatannya seperti kutukan.
Di sini Saudara baru sadar, mencari nama sendiri itulah cara gampangnya, sementara yang tadi lebih susah, lebih aktif. Dan, itulah sebabnya Yesus Kristus sungguh adalah penggenapan dari semua perintah-perintah ini, karena di dalam Dialah engkau menemukan Allah, yang sendirinya terlebih dulu telah menerima peran dan panggilan yang tidak cocok! Dia diberi baju yang kegedean. Tidak juga sih, Dia diberi baju yang kekecilan, masa’ Allah jadi manusia, masa’ Dia yang kekal, mati di kayu salib?? Baju-Nya kekecilan! Maka Ia mengosongkan diri-Nya, supaya bisa cocok dengan baju itu, sehingga engkau dan saya hari ini bisa diberikan baju yang kegedean. Memang harus kegedean, puji Tuhan, karena memang baju ini anugerah. Size baju ini tidak ditentukan oleh modal keluasan dadamu selama ini. Baju ini melampauinya, lalu Allah memberikan pertumbuhan kepadamu sampai engkau bisa merasa makin hari baju ini ternyata makin cocok. Itulah sebabnya peran dan panggilan yang berat ini adalah juga kabar baiknya.
Pemberian yang terbaik, yang bermakna, itu tidak tentu pemberian yang mahal, tetapi pemberian yang mengenal. Pemberian yang ketika engkau menerimanya, engkau terkejut, engkau tidak sangka koq kamu bisa tahu aku suka ini, koq kamu bisa tahu aku butuh ini. Itulah pemberian yang berkesan banget. Kenapa? Karena pemberian ini menyatakan seberapa engkau dikenal dan disayang. Itulah sebabnya Injil Kerajaan Surga bukan cuma urusan engkau diterima apa adanya, tetapi juga engkau diberikan peran, dan panggilan, dan pertumbuhan, untuk itu. Dua-duanya ini kabar baik. Mari kita bersyukur akan pemberian-pemberian itu.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading