Kita melanjutkan pembahasan Matius 5. Pertama-tama kita recap sedikit pembahasan sebelumnya sebagai introduksi dan transisi ke bagian selanjutnya ini.
Khotbah di Bukit pada dasarnya adalah Injil Kerajaan Surga; dan yang namanya Injil Kerajaan Surga, selalu ada tension-nya, ada kompleksitasnya. Kita tidak boleh tergoda untuk menyerdehanakan Injil ini, yang tentunya really hard, karena aspek pertamanya saja sudah bikin syok, bahwa anugerah penerimaan Tuhan sebegitu radikalnya, yaitu bahwa orang-orang yang masuk dalam Kerajaan Surga, mengalami the good life, dianggap berbahagia, itu tidak harus kaya dulu baru bisa berbahagia, tidak harus senantiasa happy baru bisa berbahagia, tidak harus agresif dan asertif dan gercep baru bisa berbahagia, tidak harus punya banyak followers dan likes baru bisa berbahagia, tidak perlu khotbah-khotbah yang selalu bagus untuk bisa berbahagia, tidak perlu rumah baru atau mobil baru atau suami/istri yang baru untuk bisa berbahagia, dengan suami/istri yang sekarang pun bisa berbahagia (banyak orang tidak percaya itu), dalam Gereja yang banyak orang nyebelin pun bisa berbahagia, hidup dalam negara super korup dan rasis pun bisa berbahagia –ketika kita ada dalam Kerajaan Surga. Ini sulit dipercaya bagi banyak dari antara kita. Lalu kenapa bisa kayak begini? Karena kunci dari the good life dalam Kerajaan Surga bukanlah kehadiran semua hal-hal tadi, melainkan kehadiran Kristus. Itulah poinnya. Dan, Kristus datang ke dalam hidup kita tanpa tunggu semua itu naik level dulu baru Dia datang, tidak tunggu semua itu diberesi dulu baru Dia akan muat. Inilah namanya anugerah, Kristus menemui kita di tempat kita berada sekarang ini. Bahkan dalam situasi hidup kita sekarang ini, kuasa Kristus bisa masuk dan menaungi kita. Ini good news yang lebih radikal daripada yang kita sangka, karena selama ini good news versi kita cuma berlaku ketika ada rumah baru, atau istri/suami baru, atau papa dan mama yang baru.
Belum selesai kekagetan kita dengan aspek yang pertama ini, hadirlah aspek yang kedua, yaitu Kerajaan Surga adalah kuasa, maka berarti hidupmu diambil arahnya; ketika engkau masuk dalam Kerajaan ini, hidupmu diarahkan ke arah Kerajaan yang baru, ada aturan main yang baru. Jadi, orang-orang yang selama ini merasa tertindas oleh dunia, berbahagialah, kamu pun dalam Kerajaan Surga, namun kamu juga kemudian diutus menjadi garam dan terang bagi dunia. Mereka diberikan peran, identitas, panggilan –baju—yang kegedean. Ini pun bagian dari Injilnya, berita baiknya, good news-nya. Kenapa demikian? Karena kalau kita benar-benar mengenal diri, jujur dengan hidup kita, kita tahu bahwa selama ini hampir semua problem hidup kita datangnya karena kita berusaha mengarahkan hidup kita sendiri –ini Kejadian 3, mengambil buah pohon pengetahuan baik dan jahat, menjadi pihak yang menentukan apa yang baik dan apa yang jahat. Itulah yang bikin problem.
Kita biasanya tidak berpikir kayak begitu. Biasanya kita pikir problem hidup saya adalah ketika saya gagal mengendalikan hidupku sesuai keinginanku. “Itulah yang bikin problem, Pak! Saya inginnya begini, lalu jadinya begitu,” demikian yang kita pikir selama ini. Namun menurut Alkitab, hidup Saudara dan saya problematik justru karena kita selama ini sukses mengambil alih kemudi hidup kita.
Misalnya, kita menentukan bagi diri kita suatu arah, di mana kebahagiaan baru bisa datang ketika ada rumah yang baru, maka kita kerja mati-matian untuk menghasilkan cukup uang supaya bisa membeli rumah baru tersebut. Jadi meski akhirnya kita mengorbankan kesehatan, mengorbankan waktu terlalu banyak, mengorbankan relasi-relasi untuk itu, kita pursue itu, karena kita rasa telah sukses menentukan arah hidup kita. Lalu katakanlah Saudara gagal, tidak pernah mendapatkan rumah tersebut, maka Saudara sedih. Namun lihat, siapa yang bikin problem di sini? Ya, engkau sendiri, ketika engkau sukses menentukan bahwa arah yang baik bagi hidupmu adalah rumah baru. Itulah penyebab problemnya. Atau katakanlah Saudara bukan gagal, Saudara dapat rumahnya, maka Saudara euforia sesaat, Saudara menepuk-nepuk dada sendiri, “Yeeaayy… berhasil! Sekarang gue bakal happy!” untuk kemudian tidak lama setelah itu dalam hatimu tetap ada perasaan hampa, tetap ada perasaan kosong, tidak puas lagi, koq hatiku tetap kosong kayak begini?? Setelah itu, Saudara ada eureka moment, ‘O, saya mengerti, prooblemnya bukanlah butuh rumah baru, bukan selama ini rumah saya terlalu sempit, melainkan istri/suami saya yang nyebelin ini. Kalau saja … ,” dan siklusnya mulai lagi.
Saudara lihat, semua problematika ini bukan hadir karena engkau gagal mengemudikan hidupmu sendiri ‘kan, tetapi karena engkau sudah terlalu sukses menentukan sendiri arah hidupmu. Saya tidak tahu apakah Saudara sudah sampai situ atau sudah terlalu lama di situ, namun bukankah demikian hidup kita selama ini, yaitu kita menjahit bagi diri kita sendiri baju-baju yang kita pikir harusnya pas, tetapi koq tidak pernah benar-benar pas, selalu saja ada bagian-bagian yang sempit, selalu saja ada bagian-bagian yang bikin gatal, selalu saja bikin gerah … . Itu sebabnya, Injil Kerajaan Surga tidak bisa cuma urusan penerimaan, tetapi selalu juga merupakan urusan panggilan dan peran dan arah yang baru, yang mungkin tidak sesuai dengan keinginanmu selama ini. Bersyukurlah Saudara, kalau engkau selama ini lewat Firman Tuhan, lewat Gereja Tuhan, senantiasa diberi baju yang menurutmu kegedean, karena itulah yang engkau butuhkan. Radikal, ya. Sulit lho untuk percaya hal ini, apalagi dalam zaman ini.
Kalau Saudara membaca kesaksian-kesaksian para raksasa iman sepanjang zaman yang telah menjadi penghiburan dan kekuatan entah bagi berapa banyak orang, apa sih isi kesaksiannya? Bukankah sesungguhnya hal ini, yaitu mereka diberikan Tuhan baju yang menurut mereka kegedean, namun in the end lewat pertumbuhan yang Tuhan berikan, bajunya malah pas, sangat pas, jauh lebih pas daripada yang mereka bayangkan. Bahwa ternyata memang benar lho, lebih berbahagia memberi daripada menerima. Bahwa ternyata memang benar mengampuni dan mengasihi musuh, itu jauh lebih fulfilling dibandingkan menggoreng dendam. Bahwa pernikahanku akhirnya mulai beres, bukan ketika aku berhasil mencapai mimpiku untuk berkuasa atas istriku, melainkan justru ketika aku sebagai suami mengorbankan diri baginya, sama seperti Kristus mengorbankan diri-Nya bagi jemaaat. Demikian juga versi istrinya.
Saudara, susah ya, untuk kita percaya hal ini. Itu sebabnya sebelum kita mengalaminya, kita diberikan suatu gambaran untuk mencoba jalan yang aneh ini, karena Anak Allah telah menggenapi pola ini terlebih dulu. Seperti sudah kita katakan dalam khotbah sebelumnya, Anak Allah bukan cuma pengkhotbahnya Khotbah di Bukit, Anak Allah adalah penggenapannya juga, Dia itulah yang diberikan baju yang terlalu sempit. Dia Allah, diberikan baju manusia. Dia pencipta, memakai baju ciptaan. Dia sumber hidup, dipakaikan maut. Sumber hidup dipakaikan lubang di tangan dan kaki dan lambung. Tidak cocok, Saudara! Namun demikian sekarang bagi Saudara dan saya, Yesus bukanlah Yesus tanpa semua itu. Itu adalah identitas-Nya. Itulah yang membuat Saudara dan saya bisa berlutut di hadapan-Nya dan ingin menyerahkan hidup kita kepada-Nya, even if kita tahu masih akan banyak gagal. Lucu, ya. Jadi Injil Kristus adalah suatu anugerah, pemberian, yang datang bukan karena kemampuanmu atau situasi hidupmu atau sudah seberapa levelmu. Namun pemberian ini datang bukan hanya untuk menerimamu, pemberian ini datang untuk kemudian mengubahmu, menumbuhkanmu di dalam kuasa dan aturan main Kerajaan Surga; ini pun good news-nya. Dan, itu sebabnya hidup umat Tuhan dalam Kerajaan Surga pasti berubah.
Disclaimer, perubahan dan pertumbuhan itu bisa lambat, bahkan pasti lambat. Kalau Saudara mengukur tinggi badan anak-anak, itu musti diukur dengan ukuran yang ditaruh di tembok, karena kalau melihat begitu saja tidak akan kelihatan bertambah. Itu pertumbuhan dalam level jasmani, apalagi dalam level spiritual, tentu juga pasti lambat, namun ada dan riil. Tetapi, jika engkau tidak ada pertumbuhan dalam hidupmu, engkau tidak berada dalam Kerajaan Surga. Lalu perubahan seperti apa yang akan kita alami dalam Kerajaan Surga? Gambaran utamanya adalah: perubahan ini akan membuat righteousness-mu (relasi-relasi dalam hidupmu) berubah, yang saking berubahnya maka hidupmu akan jauh melampaui righteousness orang-orang Farisi, para pemimpin agama.
Saya akan coba mengeksplorasi hal ini sedikit. Kalau Yesus mengatakan engkau harus mempunyai righteousness yang melampaui orang-orang Farisi, ini berarti Tuhan Yesus sedang mengatakan mengenai apa problemnya orang-orang Farisi itu, orang-orang beragama itu, yaitu mereka kurang jauh melangkah, kurang radikal, kurang ekstrim. Lucu, ya, karena kita tidak melihatnya kayak begitu ‘kan. Kita hari ini tidak kepingin jadi orang Farisi, kita mungkin jijik dengan orang-orang Farisi, karena kita anggap mereka terlalu ekstrim, kelewatan jauh melangkahnya, terlalu radikal, terlalu fanatik. Image kita terhadap orang-orang ini adalah: mereka orang-orang yang menindas, sombong, sempit. Kita tidak mau jadi kayak mereka, maka menurut kita memang perlu bermoral tetapi jangan terlalu bermoral-lah, jangan sampai kayak mereka –dan ini berarti mereka di ujung yang sana– nanti jadi ekstrimis. Kita mungkin mengenal orang-orang seperti itu, atau punya pasangan yang seperti itu, atau punya orang tua yang kayak begitu. Namun ternyata bagi Tuhan Yesus, problem orang-orang seperti ini bukanlah bahwa mereka perlu lebih moderat, bukanlah bahwa mereka terlalu righteous, melainkan justru bahwa righteousness mereka masih kurang, maka engkau harus melampaui righteousness mereka. Aneh, ya.
Tidak aneh, Saudara, ini logis. Begini, orang-orang Farisi itu fanatik, memang benar; tetapi dalam hal apa mereka fanatik? Mereka fanatik misalnya dalam hal taat kepada Tuhan, tetapi tidak fanatik dalam hal kerendahan hati. Mereka fanatik dalam hal keberanian dan kebenaran (mengatakan apa yang benar), tetapi kurang fanatik dalam hal belas kasihan atau kepekaan misalnya. Logis, ya. Ketika engkau melihat seorang Kristen dan kita mengatakan, “Aduh, ini orang kelewatan, ya, kalau dia hadir, semua orang mundur, keluar,” maka orang tersebut sesungguhnya bukan perlu mengurangi sesuatu, dia justru kekurangan sesuatu, dia kurang fanatik. Dia hanya fanatik dalam sebagian hal saja. Dia perlu belajar righteousness dari Kristus, righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan ahli-ahli Taurat, karena orang seperti itu cuma mirip dengan Yesus dalam beberapa hal saja. Dia tidak mirip dengan Yesus misalnya dalam hal seberapa Yesus fanatik dalam kasih-Nya, fanatik dalam bijaksana-Nya, fanatik dalam kepekaan dan penerimaan-Nya –dan tentunya Tuhan Yesus juga fanatik dalam hal keberanian-Nya, ketaatan-Nya, ketegasan-Nya, dst. Jadi, next time Saudara bertemu orang Kristen yang menurutmu ekstrim, coba saja tes teori ini, coba perhatikan benarkah mereka ekstrim? Atau, mereka hanya ekstrim sebagian tok. Lalu kalau engkau mau memberi dia masukan, jangan suruh mereka mengurangi sesuatu, suruhlah mereka menambah. Bagusnya dari approach seperti ini, yaitu ketika engkau sadar mereka kurang sesuatu dan engkau memberi masukan kepada mereka, engkau sadar bahwa engkau juga tidak berbeda. Engkau tidak lebih suci daripada mereka, engkau juga kurang banyak hal sebagaimana mereka kurang banyak hal, engkau dan mereka sama di hadapan Tuhan.
Hal yang Tuhan Yesus sedang mau kerjakan dalam Khotbah di Bukit ini adalah mengatakan: Jika engkau ada dalam Kerajaan-Ku, yang akan terjadi adalah Allah mulai mempertumbuhkanmu suatu righteousness melalui Roh-Nya, yang tidak cuma sebagian, melainkan mempengaruhi seluruh area hidupmu, tidak cuma di permukaan –sebagaimana banyak orang Farisi– tetapi mendalam dan seimbang. Inilah Khotbah di Bukit. Dan, di sinilah kita lalu mulai masuk ke ayat 21, yang membahas satu per satu seperti apa area-area pertumbuhan tersebut. Itu sebabnya inilah bagian dengan pola ‘kamu telah dengar begini, tetapi Aku sekarang mengatakan begitu’. Ada enam kali pola demikian; hari ini kita akan bahas hal yang pertama, yang adalah menu khotbah hari ini.
Hal yang pertama, LAI memberi judul Kemarahan. Kita mungkin pikir ini mengenai kemarahan dan pembunuhan, tetapi tidak demikian, ini mengenai relasi manusia. Itu sebabnya ini hal yang pertama dari enam hal, yaitu bagaimana Tuhan ingin mengubah relasi-relasi kita dalam Kerajaan Surga.
Pertama, kita bahas dulu mengenai bagaimana menafsirkan bagian ini. Bagaimana bisa dari urusan jangan membunuh lalu kita jadi bicara soal relasi manusia? Kita ingatnya bagian ini bicara soal hukum Taurat mengatakan ‘jangan membunuh’ lalu Yesus mengatakan, “Tetapi Aku berkata kepadamu, marah pun adalah membunuh.” Kita ingatnya kayak begitu –dan tentunya ini bukan pertama kali Saudara mendengar khottbah dari Matius 5 –tetapi not exactly demikian. Perhatikan, Yesus di sini bilang ‘kamu telah mendengar’, bukan mengatakan ‘ada tertulis’; keduanya ini beda. Ketika Tuhan Yesus mengatakan ‘ada tertulis’, maksudnya Dia mengutip Firman Tuhan, sedangkan ketika Dia mengatakan ‘kamu telah mendengar’, berarti yang dikutip bukan Firman itu sendiri (di bagian ini bukan hukum keenam dari Perjanjian Lama) melainkan bagaimana hukum tersebut diajarkan, diperdengarkan, ditafsirkan kepada mereka, oleh para pemimpin agama Yahusi –maka ini adalah yang didengar, bukan yang ditulis.
Kedua, kemarahan di dalam bagian ini barulah satu contoh dari tiga hal. Tiga contoh ini, kita harus melihatnya bersamaan, karena dengan melihatnya bersamaan maka Saudara akan lihat ada hal yang tidak masuk akal; dan setiap kali kita menemukan ada hal yang tidak masuk akal, itu adalah disengaja. Tuhan Yesus itu pengajar yang bijaksana, dan tujuan pengajar bijaksana adalah membuat muridnya berpikir, tidak cuma mencatat, itu sebabnya seringkali ada hal-hal yang tidak masuk akal supaya orang merasa koq begitu, lalu mulai berpikir. Mari kita coba deep dive bagian ini.
Di ayat 22, ada tiga contoh yang dihadirkan bersamaan, tiap kasusnya merupakan sebuah kejahatan, lalu dikuti sebuah konsekuensi. Yang pertama: marah terhadap saudaranya, konsekuensinya harus dihukum (dalam bahasa aslinya harus diserahkan ke pengadilan) –ada kejahatan dan ada konskuensi. Istilah marah di sini bukan sekadar marah (ingat, Allah juga pernah dicatat marah, Yesus juga beberapa kali dicatat marah); Saudara perlu membaca marah di sini sebagaimana orang Yahudi membacanya, yaitu dengan menyadari kemarahan pertama yang dicatat di Alkitab adalah kasus pembunuhan, yaitu Kain, hatinya menjadi sangat marah (LAI menerjemahkan dengan panas, namun kata aslinya adalah marah). Jadi karena sebelumnya baru saja Yesus mengatakan soal jangan membunuh, maka ini koneksi yang justified diarahkan ke sana, ini kemarahan yang bukan sekadar kesal melainkan kemarahan yang membunuh (murderous raid). Ini kejahatan yang pertama, dan konsekuensinya masuk pengadilan. Logis.
Yang kedua: mencaci maki (LAI), yang dalam bahas aslinya raka, artinya empty, kosong, kayak mengatakan, “Lu itu ‘gak ada gunanya, nothing.” Di sini Saudara menyadari, dari contoh pertama tadi, marah, lalu yang kedua mengatakan ‘kamu itu good for nothing’, berarti intensitasnya berkurang, menurun. Yang tadi urusan marah sampai bunuh orang, sekarang sekadar mengatakan ‘kamu itu good for nothing’. Kalau Saudara mengatakan ini, bisa dibilang ini bukan ejekan yang sebegitunya. Saudara mengatakannya bukan dengan teriak-teriak, bahkan bisa jadi dengan tidak mengatakan apa-apa; misalnya Saudara bicara dengan lima orang tetapi Saudara cuma memandang mata empat orang dari mereka, sementara yang satu lagi Saudara tidak anggap eksis karena bagimu dia itu nothing. Jadi ini bisa kita bilang less intense dibandingkan membunuh. Konsekuensinya masuk pengadilan juga, namun ternyata pengadilannya naik tingkat, sekarang malah dihadapkan ke Mahkamah Agama, yaitu Sanhedrin. Kalau yang pertama tadi pengadilan, yang ini Pengadilan Tinggi, supreme court-nya orang Yahudi pada waktu itu. Jadi, kejahatannya berkurang tetapi konsekuensinya malah naik.
Yang ketiga: mengatakan jahil, moros dalam bahasa Yunaninya (istilah moron dari sini), bego, idiot. Ini simply mengatakan, “Bego, ihh..,” kira-kira seperti itu. Saudara lihat, ini berkurang lagi intensitasnya, makin less intense, sesuatu yang mudah dan sering kita lakukan. Kalau membunuh, pastinya banyak dari kita di sini belum pernah melakukannya. Lalu yang kedua tadi mungkin banyak yang melakukan, namun kita agak susah mengakuinya. Sedangkan yang ketiga ini, paling simpel, kita merasa ‘ya, iyalah, siapa sih yang ‘gak kayak begitu’, namun konsekuensinya adalah yang paling parah, yaitu diserahkan ke neraka yang menyala-nyala (gehena), yang basically pengadilan juga tetapi sekarang adalah ruang pengadilan Takhta Penghakiman Allah.
Saudara lihat, ada yang aneh, ya, kejahatannya makin lama makin berkurang intensitasnya, namun konsekuensinya makin lama makin bertambah intensitasnya. Dengan demikian Saudara menyadari, yang dibahas di sini bukan sekadar urusan kemarahan doang; kemarahan cuma satu contoh dari yang tiga ini, dan yang tiga ini juga bukan perlu kita lihat persisnya apa, melainkan mewakili apa sebenarnya. Jadi Saudara mulai menangkap apa intention Tuhan di sini. Dari segi luar makin turun, dari kemarahan turun ke ketidakpedulian (indifference); dan kita baru sadar, dari ketidakpedulian itulah yang bikin orang bisa membunuh orang lain. Dan, ketidakpedulian ini sendiri in some sense memang secara luar less intense, namun sebenarnya ini yang lebih inti sebabnya orang bisa membunuh orang lain. Ada satu film menceritakan teroris mau bunuh satu orang tetapi dia tidak bisa mendapatkan orang ini, maka dia culik keluarganya, dimasukkan ke truk dengan kasar, sampai terhantam kursi, dsb. Lalu seorang anak yang disandera, mengatakan kepada si teroris, “Why do you hate us? Apa yang kami lakukan kepadamu??” Terorisnya dengan santai mengatakan, “We don’t hate you, we just don’t care (kami tidak benci kamu, kami cuma tidak peduli).”
Pembunuhanlah yang kelihatan paling parah, namun yang kedua, yaitu ketidakpedulian atau menganggap orang nothing, in some sense kita baru sadar ini lebih mendalam dan lebih parah, lebih core. Dan, ketidakpedulian ini mulai datang karena apa lagi kalau bukan dari habit-habit kecil sepanjang hari ketika kita merendahkan orang lain, “Bego, ih. Goblok banget.” Dari merendahkan orang lain kayak begini, akhirnya kita jadi orang yang tidak peduli pada orang-orang seperti itu, dan lama-kelamaan kita bisa marah dan membunuh dia. Itu sebabnya Saudara lihat intensitas penghukumannya malah makin naik.
Dengan melihat ketiga contoh ini bersamaan, Saudara sadar betapa Tuhan Yesus ini pengajar bijaksana. Ini bukan sekadar membahas pembunuhan tok atau kemarahan tok; ini sedang mengajak kita melihat dan mendalami apa sesungguhnya akar dan benih dari semua ini. Jadi, apa sebenarnya yang Yesus sebut dengan pembunuhan? Jelas bukan sekadar tindakan mengambil nyawa, bahkan juga bukan sekadar urusan marah-marah, melainkan bahwa ada satu sikap, satu postur yang tidak kelihatan, terhadap hidup orang lain yang mendasari semua perilaku ini. Dan, sikap hati yang kecil ini, yang bisa dibilang bibitnya ini, di mata Takhta pengadilan Allah direspons dengan sangat serius! Pembunuhan hanyalah hilir dari sungainya saja, sementara hulunya sudah mulai jauh di atas dan tersembunyi. Itulah yang Yesus sedang ajak kita untuk lihat. Kenapa? Karena inilah righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan keagamaan. Inilah righteousness yang amazing yang Tuhan Yesus ingin ciptakan dalam hati kita, yaitu: bagi Tuhan Yesus, murder is lovelessness; ketika engkau tidak mengasihi seseorang, engkau sedang membunuh dia.
Saudara lihat, Farisi cuma setop dalam hal yang eksternal, selama engkau tidak mengambil nyawa orang, itu tidak apa-apa. Dan, ini adalah yang kamu dengar, ini bukan yang tertulis. Mengapa demikian? Karena dalam Perjanjian Lama, sejak awal hukum Allah sebenarnya selalu sampai ke inti yang seperti ini, tetapi orang-orang Farisi dan orang-orang beragama — kita — tidak sadar hal itu.
Dalam Perjanjian Lama, hukum Allah yang berbentuk larangan (berbentuk negatif) selalu sesungguhnya sedang digabungkan dengan hal yang sifatnya positif dan kontruktif. Jadi begini: kalau hukum Allah mengatakan jangan mencuri, itu juga berarti harus bermurah hati. Itu sebabnya Saudara lihat di dalam Alkitab, orang-orang yang tidak bermurah hati dilabelkan oleh para nabi (oleh Alkitab) sebagai para perampok. Ketika engkau tidak bermurah hati, engkau adalah perampok. Engkau bukan cuma tidak mencuri ketika engkau simply melakukan urusanmu sendiri dan tidak pernah mengambil duit orang lain; ketika engkau tidak bermurah hati membuka dompetmu bagi orang lain, engkau perampok. Demikian Alkitab Perjanjian Lama, bentuk larangan selalu mengandung implikasi positif konstruktifnya.
Sama halnya dengan pembunuhan, kalimat ‘jangan membunuh’ itu ada bentuk postifnya, bentuk konstruktifnya, yaitu bahwa setiap manusia diciptakan dalam gambar dan rupa Allah. Ini mengafirmasi nilai yang tak terhingga dari hidup manusia, itulah konstruktifnya. Satu contoh, Kejadian 9:5-6, Perjanjian Lama, kisah Nuh ketika air bah sudah beres dst. lalu Tuhan memberikan berkat-Nya kepada Nuh, Tuhan mengatakan begini: “Tetapi mengenai darah kamu, yakni nyawa kamu, Aku akan menuntut balasnya; dari segala binatang Aku akan menuntutnya, dan dari setiap manusia Aku akan menuntut nyawa sesama manusia. Siapa yang menumpahkan darah manusia, darahnya akan tertumpah oleh manusia, sebab Allah membuat manusia itu menurut gambar-Nya sendiri.”
Pada dasarnya di sini Tuhan mengatakan, pokoknya semua manusia yang nyawanya diambil oleh apapun, baik binatang atau manusia lain, Aku akan menuntut balasnya; siapa yang mengambil nyawa orang lain, nyawanya akan ditumpahkan oleh orang lain. Membaca kalimat kayak begini, kita yang dalam konteks zaman ini seakan ada suara-suara yang mengatakan: bicara hukuman mati kayak begini, orang yang membunuh maka harus dibunuh, itu sudah ketinggalan zaman, terlalu sadis, dsb.; ini Allah yang haus darah. Tetapi itu sama sekali terbalik. Perkataan ini diberikan setelah bahaya besar-besaran air bah, disaster yang ‘gak kira-kira besarnya. Ketika engkau survive dari sebuah kecelakaan besar, engkau merasa dirimu kayak apa? Pengalaman orang yang pergi ke Aceh setelah tsunami gila-gilaan waktu itu, lalu melihat perahu teronggok di darat sekian kilometer jauhnya dari laut, kita pasti bengong, kita langsung merasa kecil, merasa siapalah kita manusia, rentan sekali terhadap alam, kita tidak ada apa-apanya dibandingkan semua itu. Seperti itulah perasaan Nuh berjuta-juta kali lipat. Dia baru selesai mengalami air bah, maka dia pasti merasa diri sangat super kecil, vulnerable, rentan. Lalu Tuhan memberikan kalimat ini, “Hai, Kamu tahu tidak, nyawamu itu saking berharganya, Aku akan menuntut balas dari semua yang mengambil nyawa manusia.” Nuh sedang merasa nyawanya sangat tidak berharga, dan perkataan Tuhan ini kalimat afirmasi. Jangan tanya urusan bagaimana Tuhan akan menuntut balas dari binatang yang bunuh manusia, yang Allah sedang katakan kepada Nuh ini justru afirmasi dari nilai hidup manusia yang begitu besar. Kamu rasa dirimu tidak signifikan, kamu rasa dirimu super kecil di hadapan semua kehancuran ini, namun kamu harus tahu: di mata-Ku, kamu berharga tidak terhingga, sehingga ketika ada yang mengambil nyawamu, itu cuma bisa dibayar dengan nyawa orang yang mengambil itu.
Omong-omong, jangan lihat hukuman mati sebagai hal yang terlalu sadis. Tentunya hukuman mati bagi begal atau korupsi itu terlalu sadis atau kelewatan; tetapi hukuman mati misalnya karena pembunuhan berencana, secara tradisional orang Reformed dan Presbiterian mendukung. Kenapa? Bukan karena menganggap rendah nyawa manusia, melainkan justru sebaliknya, karena kalau Saudara murder orang lain (bukan manslaughter) dan Saudara cuma perlu membayar denda, misalnya dengan penjara, maka nyawa orang yang terbunuh itu cuma dihargai sebesar dendanya, sebesar jumlah waktu penjaranya, that’s it. Ini berarti nyawa orang itu tidak dianggap tak terhingga. Ketika kita menjalankan hukuman mati, itu karena kita mengatakan nyawa orang tersebut tidak terhingga, sehingga satu-satunya cara untuk bisa dibayarkan adalah dengan nyawamu –yang tak terhingga itu—dibayarkan untuk itu. Itulah hukuman mati, untuk pembunuhan berencana. Saudara lihat, perintah Tuhan melarang membunuh di Perjanjian Lama, itu ada sisi konstruktifnya, justru untuk menyatakan seberapa nilai manusia dijunjung tinggi. Manusia tidak pernah bisa dijadikan alat, tidak pernah bisa dijadikan/dianggap benda, di-use atau di-abuse, dijadikan sarana untuk mencapai tujuan-tujuan manusia yang lain; itulah tujuannya.
Kembali ke perjanjian Baru, ketika Yesus di sini memberikan larangan untuk marah, memaki, Dia bukan sedang melarang hal-hal itu, Yesus sedang membuat kita berubah total dalam cara kita melihat diri dan cara kita melihat orang lain. Inilah dasar dari relasi manusia. Kita melihatnya jadi lain sekarang. Waktu kita tidak menganggap orang lain, neglect orang lain dengan mengatakan, “Lu itu ‘gak ada apa-apanya,” kita kesal dan mengatakan, “Bego ih, idiot,” ini pun pembunuhan, karena ini benih dari kemarahan, kebencian; dan dalam Kerajaan Surga benih seperti ini dianggap sama seriusnya seperti ujung sungainya. Ini sesungguhnya salah satu kunci dalam mengerti perspektif dosa di Alkitab.
Supaya kita sadar ini bukan cuma muncul di Matius tetapi juga di tempat yang lain, Paulus pernah mengatakan kalimat begini: “Saya ini pendosa paling parah sedunia (I am the chief of sinners).” Di sini mungkin kita pikir, kalau Paulus chief of sinners, lalu gue apa, CEO of sinners?? Ngaco, Paulus, hiperbola-lah, namanya juga pengkhotbah suka dramatis kalau ngomong. Kalau bukan hiperbola lalu apa? Memangnya dia anggap dia lebih parah daripada para penyiksa, pemerkosa, mass murderer?? Soalnya Hitler, Stalin, Polpot, itu di zaman kita sih, dan Paulus belum bertemu orang-orang seperti itu. Tidak demikian, Saudara; di zaman Paulus, hitler-hitler lebih banyak; pemimpin politik membunuh lawan politiknya, membantai satu daerah demi memasukkan bangsa sendiri, genosida, itu biasa pada zaman itu. Paulus jelas-jelas melihat semua kekejian dan kekejaman lebih parah daripada kita hari ini. Lalu kenapa Paulus mengatakan dirinya the chief of sinners? Karena Paulus mengerti apa yang Yesus katakan di Injil Matius. Inilah hal yang esensial dalam kita mengerti doktrin dosa di Alkitab, yaitu hubungan antara pohon dengan benihnya. Sama seperti satu benih bisa jadi satu pohon besar, bahkan hutan besar, dan seluruh kehadiran pohon serta hutan itu sudah ada di dalam benihnya, demikian juga dengan pembunuhan, pembantaian besar-besaran, semua sudah ada dalam benihnya. Dan, apa benihnya? Benihnya adalah ketidakpedulian. Benihnya mulai dari kekesalan yang kecil-kecil, bego ih.. . Apatah pembantaian skala besar itu, kalau bukan benih kebencian, benih ketidakpedulian, yang dipupuk, diairi, diberi sinar matahari, ditaruh dalam lingkungan yang mendukung untuk terus bertumbuh. Jadi, waktu Paulus mengatakan, “I am the chief of sinners,“ dia simply mengatakan: aku tahu satu hal, bahwa hal yang bikin seseorang jadi pembunuh, itu ada dalam hatiku juga; hanya saja dalam kasusku, bedanya adalah aku dapat anugerah sehingga benih ini tidak jatuh ke tanah yang gembur.
Kalau hari ini Saudara melihat seorang pembunuh massal, apa beda engkau dengan dia? Bedanya adalah simply Saudara tidak mendapat kehidupan orang itu; that’s it. Orang Kristen tidak biasa melihat kayak begini. Orang Kristen ada yang mengatakan, “Lihat tuh, Adam dan Hawa, bego banget; kalau gue yang di Kejadian 3, ‘gak bakal manusia jatuh,” (dalam hal ini Pak Billy pernah mengatakan, “Kalau lu yang di situ, lu jatuh lebih cepat”). Paulus lain sekali melihatnya karena dia mengambil perpekstif Yesus di bagian ini, bahwa satu-satunya perbedaan antara saya dengan orang itu adalah perbedaan dalam level kuantitatif, bukan kualtitatif. Saya tidak beda kualitas dengan dia.
Ada cerita mengenai pengadilan orang-orang Nazi (Hitler tidak diadili karena dia sudah bunuh diri), misalnya salah satu petinggi Nazi bernama Adolf Eichmann. Dia diadili di Nurenberg, dan ada orang-orang Yahudi yang menghadiri sidang tersebut. Lalu ada seorang Yahudi yang waktu melihat Adolf Eickmann dibawa masuk ke pengadilan, orang Yahudi ini langsung pingsan. Setelah siuman, dia di-interviu, “Kenapa melihat Adolf Eickmann itu kamu sampai pingsan? Kamu kaget ya, lihat monster?” Orang Yahudi ini menjawab, “Tidak; saya pingsan karena saya kaget, ternyata dia ini cuma manusia, maka berarti sebenarnya saya pun mampu melakukan hal-hal yang dia lakukan. Buktinya, sebelum dia masuk, saya merasa dia monster, dia bukan manusia, dia di bawah derajat manusia, sama seperti para Nazi menganggap orang Yahudi monster, menganggap kami di bawah manusia. Terbukti, apa yang dia lakukan, saya juga bisa lakukan; saya punya inti benih kebencian yang sama. Itu yang bikin saya pingsan.” Menarik, ya. Ini bukan berarti kita tidak tahu bedanya antara kita dengan para pembunuh dan Hitler; kita tahu ada bedanya, namun kita sadar bedanya cuma dalam level fenomena. Semua orang punya bibit murder dalam hati mereka; pertanyaannya, bibit itu jadi pohon atau tidak. Itu saja.
Tidak berhenti di sini. Bukan saja kita sekarang melihat diri lain seperti ini, kita akan mengubah bagaimana melihat orang lain juga, karena orang Kristen menyadari bahwa perbedaan antara penjahat yang paling sadis dengan dirinya adalah perbedaan kuantitatif, bukan kualitatif. Dengan demikian Saudara akan menyadari betapa ini akan menghasilkan suatu sikap hidup dan relasi yang sangat berbeda kepada orang lain. Apa perbedaan antara engkau dengan aku, yaitu hanyalah karunia Tuhan.
Ini sangat berbeda dengan cara dunia menciptakan identitasnya. Cara kita membangun identitas, selalu dengan mencari apa yang beda, yang aku punya dan orang lain tidak punya. O, saya expert dalam hal ini, sedangkan orang lain tidak; itu identitasku, itu gue banget. Dan, ketika orang dunia disuruh pindah, itu susah sekali; sulit sekali untuk mengatakan ‘saya dan dia sama saja, bedanya cuma karunia’. Contoh sederhana: ada orang-orang Kristen jalan agama, namanya Kristen namun sebenarnya hidup atas dasar jalan agama –dan ini banyak dari antara kita—yaitu kita mendasarkan identitas atas dasar diri kita sendiri, apa yang kita punyai yang orang lain tidak punya, dengan demikian orang-orang seperti ini cenderung merasa justified memandang rendah orang-orang tipe tertentu. Orang Kristen memandang rendah orang-orang LGBTQ, karena saya tidak kayak mereka, mereka najis. Orang ateis itu goblok-goblok semuanya; para banci itu, para drag queen dan orang-orang yang suka nonton show-nya para drag queen itu, jijik ya, koq senang sih nonton kayak begituan. Ini berarti ada something yang ada padaku dan tidak ada padamu, itulah dasar identitas kita, dasar kita merasa superior di atas orang lain.
Lucunya, di pihak sebelah sana, orang ateis melihat orang Kristen pun, mereka mengatakan hal yang sama, “Orang beragama koq kayak begitu … .” Dan, sebabnya banyak anak-anak muda ingin jadi orang ateis, karena mereka melihat itu lebih keren. Ini berarti orang ateis pun mengatakan hal yang sama juga, saya beda dengan orang beragama, saya lebih enlighten, saya bisa lebih simpati pada orang-orang yang dipinggirkan oleh Gereja selama ini; namun ujungnya dasar identitasmu sama saja dengan yang tadi, engkau merasa dirimu lebih baik daripada orang-orang beragama. Bukankah ini juga exactly identitas orang-orang beragama yang engkau benci itu?? Jadi ateisme sesungguhnya juga sebuah jalan agama. Sedihnya, ketika engkau jadi orang ateis, engkau sulit banget menerima fakta ini, karena kalau bukan ini identitasmu, jadinya apa dong?? Hah, jadi saya sama saja dengan orang beragama, yang saya benci itu, yang saya hina-hina itu?? Ya, ampun! Jadi siapa saya? Saya jadi orang yang selama ini saya sendiri hina-hina?? –krisis identitas. Sulit untuk menerima ini, maka yang banyak orang lakukan adalah menolaknya, “Tidak, tetap beda.” Bedanya apa? “Tidak tahu, pokoknya beda.”
Orang beragama maupun orang ateis, ujungnya sama saja. Itu sebabnya seorang Kristen yang sejati, yang hidupnya di atas dasar Injil –bukan agama, tetapi Injil—identitasnya didasarkan hanya pada anugerah Kristus yang gratis, bukan pencapaian kita, bukan usaha kita, bukan perbedaan yang kita bisa capai di hadapan orang lain. Dengan demikian, orang-orang Kristen mampu memandang orang-orang yang paling parah pun, dan dalam hati mereka bisa tetap ada belas kasihan. Mereka bisa mengatakan, “Engkau saudaraku, aku saudaramu, karena semua yang kau punya, aku juga punya, semua peralatan yang selama ini engkau pakai, aku juga pakai; namun Tuhan dalam anugerah dan belas kasihan-Nya tidak memberikan kepadaku tanah yang gembur untuk semua benih-benih [negatif] itu. That’s it. Bedanya cuma itu.
Dalam Kerajaan Surga, semua orang menyadari mereka pembunuh. Dalam Kerajaan Surga, semua orang mengakui bahwa mereka pembunuh ketika marah, mereka pembunuh ketika mencaci-maki, mereka pembunuh ketika tidak peduli, mereka pembunuh ketika simply mengatakan, “Bego ihh.” Dan ironinya, ini justru jalan menuju keselamatannya. Tanpa momen kita menyadari bahwa kita semua pembunuh, kita tidak mungkin berhenti membunuh. Sekali lagi, momen kita menyadari bahwa semua dari kita adalah pembunuh, merupakan momen kita bisa mulai berhenti membunuh. Kecuali engkau mengaku aku ini pembunuh, pengambil nyawa orang lain, engkau tidak akan pernah berhenti jadi pembunuh. Ini mukjizat Injil, ketika kita mulai mengatakan bedanya aku dengan para pembunuh atau para banci atau para ateis atau para orang-orang sok suci atau … adalah simply karunia. Kuantitatif, bukan kualitatif. Inilah yang mulai menciptakan di dalam kita suatu kerendahan hati. Inilah yang membuat kita bisa mulai tahan terhadap orang-orang yang tadinya kita tidak bisa tahan sama sekali. Ini membuat kita bisa mulai menahan diri dari mengatakan, “Bego!” dan mulai berpikir gue juga ‘gak beda barangkali, ya.
Sharing sedikit problem saya, yaitu saya suka memandang rendah orangtua-orangtua yang memberi HP ke anaknya. Di sekolah anak saya, saya melihat orangtua-orangtua yang sembarangan berikan HP ke anaknya. Sambil menunggu anaknya masuk sekolah, dia di kafe kerja pakai laptop lalu anaknya main HP sendiri, bahkan anak-anak yang sejak umur nursery (3 tahun). Saya menganggp rendah orang-orang seperti ini. Lalu istri saya memberikan saya etika Kristus, dia mengatakan, “Mereka mungkin tidak bisa afford untuk tidak berikan HP ke anaknya. Misalnya single mother, sendirian, harus urus dua anak sambil kerja. Anak umur terrible two, terrible three, bagaimana caranya supaya diam, mau tidak mau berikan HP. Mungkin dia juga tahu ini ‘gak ideal, sedangkan kamu dan saya, bersyukur kita dibantu banyak orang, ada grandma, grandpa, suster, dsb., maka kita tidak harus berikan anak-anak HP. Tetapi, kalau engkau dan saya dalam situasi yang sama??” Waktu saya direndahkan oleh istri saya sendiri begini –dan ini bukan cuma satu dua kali—momen ketika kita mulai menyadari dan mengakui ada jiwa pembunuh di dalam hati kita, merupakan momen hati kita mulai diubah. Momen kita mulai dilembutkan, momen kita mulai menyadari dan mengakui bahwa kita ini orang yang sangat miskin mengasihi, adalah momen pintu kita terbuka untuk mengasihi orang lain.
Tidak selesai sampai di sini. Selain berubah cara kita melihat diri dan melihat orang lain, maka berubah jugalah hal yang terakhir, yaitu prioritas. Apa yang sekarang jadi prioritas? Di ayat 23-26, Tuhan Yesus mengatakan, “Sebab itu …,” jadi ini bagian aplikasinya. Ada dua kasus rekonsiliasi di situ. Yang pertama, rekonsiliasi dengan seorang saudara. Ayat 23-24, “Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau, … .” Setiap kali kitab Matius menyebut saudara, biasanya maksudnya adalah sesama orang Kristen, brother atau sister di Gereja. Kita perlu mengejar rekonsiliasi dengan sesama orang Kristen. Namun kemudian di ayat 25-26 Tuhan Yesus mengatakan, “Segeralah berdamai dengan lawanmu … .” Ini berarti orang-orang di luar batas Gereja. Jadi aplikasinya, baik dalam kasus dengan orang di dalam Gereja maupun orang di luar Gereja, engkau harus mengusahakan dan mengejar rekonsiliasi.
Omong-omong, mungkin kita mengatakan, “Kapan, Pak, kita harus mengejar hal itu? Ketika kita yang salah ‘kan ya, karena dibilang di ayat 23 ‘ketika engkau teringat bahwa saudaramu sakit hati terhadap engkau’. Ya, ini masuk akal dong, soalnya ini salahnya kita, kita yang berdosa, bikin orang sakit hati, maka kita musti duluanlah.” Sekarang mari kita buka Matius 18:15-17, “Apabila saudara-mu berbuat dosa, tegurlah dia di bawah empat mata. Jika ia mendengarkan engkau, engkau telah mendapatnya kembali. Jika ia tidak mendengarkan engkau, bawalah seorang atau dua orang lagi, supaya atas keterangan dua atau tiga orang saksi, perkara itu tidak disangsikan. Jika ia tidak mau mendengarkan mereka, sampaikanlah soalnya kepada jemaat. Dan jika ia tidak mau juga mendengarkan jemaat, pandanglah dia sebagai seorang yang tidak mengenal Allah atau seorang pemungut cukai.” Jadi di Matius 5 tadi, ketika engkau bikin orang sakit hati, ya, lu kejarlah rekonsiliasi. Fair enough. Namun sekarang di Matius 18, ketika orang lain yang berdosa, siapa yang harus datang duluan? Tetap kita. Tegur dia empat mata. Lalu kalau dia tidak mau dengar, biarkan saja? Tidak. Tetap kita lagi yang maju, dengan ajak orang lain. Kita terus yang harus berjuang. Kalau masih tidak mau dengar, ajak orang lebih banyak, yaitu jemaat. Dan, kalau masih tidak mau juga, terakhir kebaskanlah kakimu? Tidak; perlakukanlah dia sebagai orang yang tidak mengenal Allah dan pemungut cukai. Ini berarti ditendang keluar? Saudara lihat, bagaimana Yesus memperlakukan orang-orang yang tidak mengenal Allah dan para pemungut cukai?? Gila ya, kita ini harus mengusahakan rekonsiliasi sampai sebegitunya. Inilah implikasinya. Ketika lovelessness is murder, maka aplikasinya adalah: dalam hidupmu dan hidupku, rekonsiliasi menjadi satu hal yang dikejar mati-matian; tidak peduli siapa yang salah, kita bergerak duluan.
Seorang pendeta pernah buka satu gereja, dan tentu dia jadi perlu kerja lebih berat, sering pulang malam, dsb., ia merasa Tuhan sangat memberkati pelayanannya itu. Akhirnya dia jadi mengabaikan keluarganya sendiri, namun dia merasa biasa-biasa saja, tidak pikir anything wrong. Suatu hari ketika pulang, dia menemukan note dari istrinya, mengatakan begini: “Trevor, I love you. Aku mengasihimu, dan aku ingin melanjutkan terus pernikahan ini denganmu. Tetapi, sometimes aku wonder apakah suatu hari nanti aku tidak lagi peduli entah kamu pulang atau tidak; aku wonder kapan hari itu akan terjadi. So, I miss you, and I want to reconnect.” Trevor kaget melihat note seperti ini. Namun poinnya adalah: kita sebagai umat Tuhan perlu berpikir baik-baik, dalam hidup kita hari ini, kepada siapa kita perlu menulis note-note seperti ini –rekonsiliasi.
“Pak, kalau kita yang salah, dan kita perlu ngomong, okelah; tetapi kalau orang lain yang salah, susah ya, ‘gak praktis ya. Ini prinsip yang terlalu tinggi, pengkhotbahnya ‘gak tahu kehidupan nyata itu kayak apa.” Sekarang coba Saudara pikrkan mana yang lebih praktis, hidup seperti Yesus atau hidup seperti seberangnya Yesus (setan). Setan itu kira-kira kehidupannya kayak apa, coba Saudara renungkan. Jadi setan kayaknya menarik, ya; kalau di film-film, setan kayaknya keren. Kayaknya lebih happy kalau jadi setan. Setan kayaknya dihormati semua orang, tidak ada yang berani injak kakinya atau buntutnya atau apapun. Setan jelas bukan pengecut. Bahkan bisa dibilang Tuhan Yesus dan para penulis Alkitab ada certain “respek” pada kuasa setan, mereka tidak pernah anggap rendah kuasa setan, “Ahh.. kucing doang, Hello Kitty doang”; mereka mengatakan setan itu singa. Keren, ya. Sebegitulah kira-kira kehidupan yang menurut kita praktis, direspek kayak begitu, orang tidak berani macam-macam dengan kita, dalam hidupnya tidak ada ditampar pipi kiri lalu beri pipi kanan, tidak ada beri air kepada musuh, doakan musuh. Lalu menurut Saudara, setan happy atau tidak, practical atau tidak hidupnya? Tidak. Setan itu kayaknya pihak yang selalu menyalahkan orang lain untuk problem-problemnya sendiri. Setan itu pihak/tokoh yang terlalu termakan dengan self-pity. Ada satu kanker yang menyala-nyala dalam jiwanya setan –kalau dia punya jiwa– yang memakan dia dari dalam. Allah tidak perlu mengrim setan ke neraka karena neraka sudah ada dalam jiwanya sendiri. Demikianlah setiap orang yang terus memendam dendam, yang merasa diri justified untuk marah kepada orang lain, menganggap orang-orang lain tidak berguna, merasa diri justified mengatakan, “Bego sih, mereka.” Saudara pikir orang-orang seperti ini happy? Saudara pikir hidup seperti itu practical?
Sekarang alihkan pandanganmu kepada Kristus, lihatlah Kristus. Kristus adalah orang yang isi hidupnya adalah pengampunan demi pengampunan. Datang untuk mencintai kita. Datang untuk menyelamatkan kita. Datang membuka tangan-Nya, tetapi kita malah membalasnya dengan paku dan tombak; dan kita menertawakan Dia selagi Dia menghembuskan napas-napas terakhirnya. Lalu apa yang Dia katakan setelah semua itu?
Dalam PA, kita baru saja bikin paralel antara cerita Saving Private Ryan dengan pengorbanan Kristus. Cerita Saving Private Ryan ini lucu,satu pasukan tentara disuruh menyelamatkan satu orang, sedangkan biasanya satu orang dikorbankan demi satu pasukan. Dan benar saja, ketika akhirnya si Ryan ini ketemu, lalu mereka mau ajak dia pulang, mereka harus bertempur habis-habisan, sampai satu pasukan ini, dipimpin oleh Kapten Miller (Tom Hanks), mati semua hanya tersisa dua orang. Tom Hanks sendiri mati. Dan, dalam napas-napas terakhirnya dia basically mengutuk Ryan. Apa yang dia katakan? Dalam momen-momen terakhir pasukannya berhasil menang meski akhirnya membayar dengan nyawanya sendiri, Kapten Miller ini, yang sudah terkapar, menarik Ryan dan membisikkan dua kalimat singkat: “Earn this, earn it.”
Pada dasarnya seluruh tema filmnya terkandung dalam dua kalimat ini. Sepanjang perjalanan mencari Ryan, Tom Hanks bergumul dengan misi aneh ini, bagaimana bisa satu pasukan dikorbankan untuk cari satu orang, memangnya dia ini siapa?? Dan, memang tidak ada apa-apanya si Ryan itu, tidak ada hebat-hebatnya, dsb., sementara anggopta pasukan Tom Hanks keren-keren. Ada bagian medis yang luar biasa semangat, ada sniper yang menembaknya selalu jitu dan sebelumnya dia selalu kutip ayat Alkitab, dst., keren-keren, sedangkan si Ryan tidak ada apa-apanya. Waktu perang berlangsung, dia cuma ditarik ke sana kemari kerah bajunya oleh Kapten Miller supaya tidak terbunuh. Dia ini pangkatnya paling rendah, Private Ryan, artinya serdadu, bahlan bukan kopral atau sersan. Tidak ada apa-apanya. Itu juga sebabnya di tengah-tengah film Tom Hanks berkata kepada sersannya, “Gue ‘gak tahu Ryan ini orang kayak apa, tetapi gilanya kita dikotbankan demi dia. Nanti kalau dia sudah benar-benar pulang karena kita bisa selamatkan dia, better dia menemukan obat kanker atau apalah.” Terakhirnya, waktu semua pasukan sudah mati mengorbankan diri demi Ryan, inilah kutukan yang Kapten Miller berikan kepada Ryan, “Earn this, earn it” –engkau harus melunasi pengorbanan kami, pengorbanan entah berapa orang ini demi kamu satu orang; earn it. Dan, Saudara tahu yang terjadi adalah ini kutukan yang bertahan bersama Ryan seumur hidup, karena adegan terakhirnya adalah fast forward ke momen entah berapa puluh tahun kemudian ketika Ryan sudah tua renta dan dia kembali ke hadapan batu nisan Kapten Miller. Di situ dia mengatakan, “Tidak ada satu hari pun lewat tanpa aku memikirkan kata-katamu, apakah aku hari ini sungguh jadi orang yang benar-benar baik, apakah aku telah benar-benar bisa membayar lunas pengorbanan yang engkau berikan buatku??” Dia lalu berpaling kepada istrinya, “Tolong beritahu aku! Validasi aku bahwa aku orang yang baik .. .” Istrinya menepuk-nepuk pipi Ryan dan mengatakan, “Ya, kamu orang yang baik,” tetapi kita tahu jawaban itu tidak akan cukup bagi Ryan. Satu-satunya yang bisa membuat Ryan tahu bahwa dia telah menebus itu semua hanyalah seandainya Kapten Miller bangkit dari kematian dan mengatakan, “It’s okay.” Saudara, ini gambaran yang sangat berbeda dari apa yang Yesus lakukan bagi kita. Tuhan Yesus, waktu Dia mati di atas kayu salib, Dia mengatakan, “Sudah genap, sudah selesai,” Dia bukan mengatakan earn this, earn it.
Kata sudah genap ini maksudnya bukan, “Sudah cukuplah, semua Gue sudah terima sampai sejauh ini, mau apa lagi yang Gue bisa berikan?! Orang-orang gila nih, semua, mati saja kalian semua!” Tidak pernah kayak begitu, buktinya Dia mengatakan juga, “Bapa, ampunilah mereka,” artinya sudah genap, sudah selesai, sampai di sini saja dan tidak ada urusan lain. Tidak ada seperti cerita Doraemon dan Nobita. Nobita berbuat salah berkali-kali pada Doraemon, Doraemon kesal, lalu dia membuat alat untuk bikin Nobita minta maaf, yaitu satu baki isi bawang bombay, dan ada penggerak di punggung Nobita yang menggerakkannya sampai mukanya ke nampan tersebut, bikin Nobita nangis bombay sampai minta maaf, baru Doraemon mau terima. Tidak demikian Tuhan Yesus. Setelah Dia bangkit dari kematian, lalu menemui murid-murid-Nya, apa yang Dia katakan? “Sini-sini, nangis bombay ya, lu semua, ninggalin Gue di kayu salib. Kurang ajar! Tahu ‘gak sih siapa yang mati buat Lu?? Sekarang nangis bombay mohon ampun, mungkin Gue akan mau ampuni kalian”; begitukah? Tidak. Dia mengatakan, “Damai sejahtera bagimu.”
Hidup yang mana yang lebih practical? Hidup jadi setan, atau hidup jadi Yesus? Yang mana? Yang mana kehidupan yang engkau sungguh inginkan? Yang mana kehidupan yang engkau kepingin? Engkau tahu yang mana yang menghidupkan, engkau tahu yang mana yang mematikan. Mari kita minta kepada Tuhan kekuatan untuk mulai menjadi warga Kerajaan Surga yang seperti ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading