Kita sudah sampai pada bagian Yesus memberikan kepada murid-murid-Nya, panggilan relasi righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan para pemuka agama.
Sebagai introduksi secara garis besar, inilah sebabnya Khotbah di Bukit mungkin merupakan bagian paling baik untuk membuat orang Kristen sadar, bahwa di dalam Kekristenan, yang namanya keselamatan itu bentuknya adalah sebuah kerajaan. Kita yang dibesarkan dalam injil versi Hollywood, mengira yang namanya keselamatan adalah urusan pembebasan tok –bebas dari berhala, bebas dari dosa, bebas dari api neraka, dst.– seakan-akan yang paling manusia butuh hanyalah sekadar kebebasan. Namun saya yakin Saudara pernah dengar, bahwa yang namanya bebas itu tidak bisa cuma bebas dari sesuatu (freedom from … ); yang seperti itu, kebebasan yang tidak terlalu ada poinnya. Misalnya, Saudara dibebaskan dari penjara, tetapi Saudara tidak punya rumah untuk pulang, keluarga yang bisa menerimamu kembali, pekerjaan untuk mengisi hari-harimu yang “bebas” itu, maka di luar penjara pun Saudara akan merasa sama terpenjaranya. Lucu, ya. Jadi, kebebasan yang lebih tinggi, lebih fulfilling, bukanlah ketika kita cuma bebas dari sesuatu, melainkan ketika kita bebas untuk sesuatu, bebas demi sesuatu, freedom for something, freedom to do something. Inilah baru kebebasan yang ada poinnya.
Paradoksnya, ketika Saudara mau bebas untuk sesuatu, Saudara sesungguhnya butuh ikatan. Seperti dikatakan tadi, anggaplah Saudara bebas dari penjara, maka kalau sekarang Saudara mau bebas untuk punya kehidupan yang lebih hidup, Saudara perlu aturan main dalam hidupmu. Saudara perlu diikat dalam pembatasan. Saudara perlu pembatasan berupa sebuah rumah (tempat tinggal), misalnya. Tidak bisa seluruh kota dan jalanan dan kolong jembatan jadi rumahmu. Engkau perlu satu tempat yang tempatmu sendiri, yang konsisten di situ terus dan tidak setiap hari berubah-ubah, yang malah menghidupkan. Saudara mau bebas dalam dalam kesehatan, Saudara perlu mengatur makananmu dan olahragamu. Saudara mau bebas berlayar tanpa karam atau hilang di laut, Saudara perlu aturan kompas dan membatasi dirimu dengan peta. Dan, ini juga adalah good news-nya.
Bayangkan Saudara sedang tersesat di mall, kehilangan arah, karena belum pernah ke situ tetapi sedang cari toko yang cuma ada di situ. Saudara putar-putar tak tentu arah, tidak tahu di mana lokasi tokonya, bahkan sekarang tidak tahu lagi di mana lokasimu sekarang. Lalu apa yang bisa jadi good news dalam situasi seperti ini? Yaitu kalau Saudara tiba-tiba ketemu peta (directory) mall tersebut; dan di situ tertulis “you are here”. Itulah good news-nya. Ini berarti engkau dibatasi; kalau dari tempatmu sekarang engkau mau pergi ke toko yang itu, maka jalannya harus lewat sini, dst. –dibatasi. Saudara somehow sukacita banget mendapatkan aturan dan pembatasan seperti ini, karena ini aturan yang membebaskan.
Khotbah di Bukit exactly seperti itu. Inilah aturan main versi Kerajaan Allah, yang ketika kita mematuhinya, kita bukan mematuhi supaya suatu hari hal tersebut bisa membawa kita ke surga. Mimpi Kekristenan tidak sekecil itu. Aturan main Kerajaan Surga ini diberikan kepada kita untuk kita patuhi, sehingga suatu hari surga boleh turun ke bumi –lewat engkau dan saya, lewat terang dan garam dunia. Inilah mimpi yang lebih besar. Kenapa demikian?
Saudara pikir saja, kalau kekristenan ujungnya cuma versi yang tadi, cuma urusan engkau mati masuk surga, itu berarti kekristenanmu all about you, semuanya cuma urusan nasibmu tok. Dan, bayangkan ketika semua orang di dunia cuma memikirkan diri mereka dan nasib mereka sendiri tok, itulah yang bikin dunia ini rasanya kayak neraka. Kalau engkau mau versi kekristenan kayak begitu, yang orang-orang Kristennya semua sedang rusuh cari sekoci untuk menyelamatkan dirinya sendiri masuk ke surga, silakan Saudara ikut sekoci itu; saya di sini saja karena saya tidak bisa membayangkan surga yang isinya semua orang-orang kayak begitu. Sebenarnya tidak perlu dibayangkan sih, itu persis seperti dunia hari ini, dunia yang rusak ini, jadi ngapain pindah ke sana, sama saja ujungnya dipenuhi dengan manusia-manusia yang egois dan cari selamat sendiri doang.
Itu mimpi yang terlalu kecil, Saudara. Itu mimpi dunia, bukan mimpi kekristenan. Itu sebabnya aturan main Kerajaan Surga bukan demi dirimu tok. Aturan main Kerajaan Surga hadir untuk memberimu righteousness, relasi, yang melampaui bahkan orang-orang Farisi dan para pemuka agama. Dan sekali lagi, righteousness di sini bukanlah urusan rapor gue dapat nilai berapa; righteousness dalam Alkitab selalu adalah relasi ke luar.
Kerajaan Surga adalah mengenai bagaimana hidup kita diatur, sehingga hidup tersebut tidak cuma menghidupkan kita tetapi juga menghidupkan orang lain di sekitar kita. Ini akan menuntut banyak pengorbanan. Ini akan menuntut jatuh bangun. Ini akan memberikan kesulitan. Semua itu sudah pasti, namun yang aneh adalah: justru kehidupan dengan aturan main seperti inilah yang akan menghasilkan kehidupan; sementara yang model cari sekoci naik ke surga tadi, yang kita pikir akan menghasilkan kehidupan, justru akan menghasilkan kematian pada ujungnya. Inilah memang problem manusia sejak Kejadian 3, yang Tuhan bilang mematikan, kita rasa menarik; yang Tuhan bilang menghidupkan, kita rasa mematikan.
Saya mengatakan semua ini supaya Saudara sadar satu hal, bahwa menjadi orang Kristen, masuk ke Gereja, itu sesungguhnya mengerikan; paling tidak, mencurigakan. Bukankah begitu? Kalau the whole premise dari kekristenan/Injil adalah mengatakan ‘kamu tidak bisa percaya matamu sendiri, kamu harus berani dan rela dipaksa ikut arahan mata Tuhan’ –dan arahan mata Tuhan itu melalui petinggi-petinggi Gereja ‘kan– tentu mencurigakan sekali. Kita sebagai produk zaman ini sudah terbiasa mengatakan, yang kayak begini cult banget, ujungnya nanti jadi power play, petinggi-petinggi ini akan suruh semua orang menyangkal diri untuk mengikuti kehendak si pemimpin tersebut, dengan mengatakan, “Kamu tidak bisa percaya apa yang kamu lihat; percayalah apa yang aku lihat bagimu.” Begitu ‘kan??
Memang kita melihat pemimpin-pemimpin cult Kristen itu catatan hidupnya memperlihatkan betapa kehendak semua orang dia langgar supaya kehendaknya yang jadi. Seakan-akan waktu berdoa, Dia mengatakan, “Bukan kehendak kalian yang jadi, ya, tetapi kehendak-Ku yang jadi,” –demikian doa yang Dia panjatkan di Taman Getsemani sesaat sebelum Dia membantai semua musuh-Nya dengan 10 legion malaikat, dimulai dari Yudas yang berani-beraninya mengkhianati. Namun itu bukan ceritanya. Ceritanya adalah: Si Pemimpin “cult” ini justru menyangkal diri terlebih dulu, Dia justru memikul salib terlebih dulu, Dia justru menjalani terlebih dulu aturan main Kerajaan Surga yang sangat berfokus ke orang lain itu. That’s why Dia mati; dan anehnya, tanpa disangka-sangka that’s also why Dia bangkit dan naik dan duduk di sebelah kanan Allah Bapa. Omong-omong, Dia di sana ngapain? Dia bersyafaat bagi kita. Semua ini Dia lakukan bagi kita –bagi orang lain.
Coba pikir, Saudara, apa sebabnya Dia turun ke bumi ini? Apa yang tidak ada di surga, yang Dia cuma bisa temukan di bumi? Apakah Dia cari kemuliaan bagi diri-Nya? Hormat, kuasa, keindahan, kepuasan? Itu semua sumbernya di surga! Jadi ngapain Dia turun ke bumi? Apa yang cuma ada di bumi ini, sampai-sampai Dia harus meninggalkan semua itu, turun kemari? Apa? Atau lebih tepatnya, siapa? Engkau dan saya.
Saudara lihat, cerita anugerah dan kasih Kristus bagimu itu, yang engkau sangat tergerak mendengarnya, yang setiap kali dikabarkan selalu punya power untuk mentrenyuhkan hatimu, adalah bahwa kita, yang curigaan ini, yang kalau Tuhan bilang ke kanan malah kita lari ke kiri, kita ini dikejar dan dikasihi sedemikian rupa. Seperti itulah karakter Sang Pemimpin “cult” tadi. Dia itulah yang lebih dulu menggenapkan panggilan relasi righteousness yang melampaui orang-orang Farisi dan para pemuka agama. Ini kebalikan dari pemimpin-pemimpin cult dunia. Orang-orang pemimpin cult dunia siap menyuruhmu mati bagi mereka, tetapi mereka tidak akan pernah sudi mati bagimu. Namun Yang Satu ini lain, Dia rela mati demi engkau dan saya hidup. Dia sekarang memanggil kita untuk mengikuti langkah-Nya, sehingga lewat “kematian-kematian” kita, dunia yang rusak dan mati ini boleh dihidupkan. Inilah Injil Kristen. Injil Kristen arahnya selalu ke luar. Injil Kristen selalu mimpinya besar. Injil ini tidak muat disimpan bagi dirimu sendiri.
Demikianlah dalam bagian yang kita bahas di Injil Matius ini, Dia memberikan enam studi kasus untuk kita telaah, mengenai seperti apa relasi-relasi yang seakan mematikan itu, namun malah menghidupkan. Kita sudah bahas yang pertama, mengenai bagaimana kita memandang nyawa orang lain. Minggu lalu kita bahas yang kedua, bagaimana kita bukan cuma memandang nyawa orang lain, tetapi juga memandang ikatan antar nyawa orang yang satu dengan yang lain, yaitu ikatan yang hari ini kita sebut pernikahan. Di bagian inilah ayat-ayat yang terkenal, familier, ekstrim, misalnya tentang Yesus mengatakan bahwa memandang tok, itu sudah berzina, lalu solusinya potong tangan, cungkil mata.
Minggu lalu kita coba masuk lebih dalam dulu ke perspektif Tuhan Yesus, kenapa sih Tuhan Yesus ekstrim banget dalam urusan perzinaan ini. Selidik punya selidik, ternyata Yesus ekstrim karena Dia tidak mau meniadakan Hukum Taurat –Dia tidak datang untuk itu– dan ternyata Hukum Taurat sendiri sejak awal sudah seserius itu dalam urusan perzinaan. Misalnya, kita melihat dalam Taurat bahwa orang membunuh harus dihukum mati –ini wajar, lumrah– sedangkan kalau orang mencuri, hukumannya bukan hukuman mati, melainkan disuruh bayar ganti rugi, dsb. Namun ternyata hal perzinaan dalam Hukum Taurat, yang berzina juga harus dihukum mati, seakan-akan dia membunuh orang. Lewat beberapa narasi, seperti kisah Yusuf dan Daud, kita kemudian melihat bahwa sepertinya dalam Perjanjian Lama memang ada kesengajaan untuk mendekatkan atau mengidentikkan antara pembunuhan dengan perzinaan. Dosa perzinaan, di dalam Alkitab merupakan hal yang sangat serius, seserius urusan nyawa. Pertanyaan selanjutnya: why?
Kenapa urusan seks dijaga ketat habis-habisan dalam pernikahan? Kita kemudian melihat hal yang bukan jawabannya, yaitu karena seks merupakan sesuatu yang kotor. Itu bukan jawaban Alkitab; buktinya, misalnya Kitab Kidung Agung. Namun jika seks itu tidak kotor, lalu apakah seks itu, dan kenapa seks itu sebegitu pentingnya sampai disandingkan dengan pembunuhan, dengan nyawa seseorang? Hal inilah yang jadi daging pembahasan kita minggu lalu. Kalau kembali ke Kejadian 1 dan 2 (narasi-narasi penciptaan manusia), yang ditekankan berulang kali sebagai esensi manusia, yang menjadikan manusia itu manusia, adalah apanya? Bukan rasionya. Urusan rasio tidak muncul sama sekali dalam halaman-halaman pertama Alkitab; tidak pernah muncul bahwa manusia bisa berpikir sedangkan binatang tidak, itu sebabnya kita manusia, dan mereka binatang. Apa yang muncul? Yang muncul dan ditekankan berkali-kali sebagai esensi manusia adalah relasinya.
Relasi manusia itu unik, yang satu menjadi dua, dan yang dua menjadi satu. Mereka begitu berbeda, and yet bersatu. Karena mereka berbeda, mereka bisa bersatu; dan dari persatuan itu muncullah lebih banyak lagi manusia. Orang-orang ini juka akan meninggalkan ayah dan ibu mereka demi bersatu dengan manusia lain, sehingga keduanya menjadi satu lagi. Inilah relasi manusia. Inilah keunikan manusia yang ditekankan berkali-kali.
“Pak, bukankah kelinci juga kayak begitu?” Tidak. Kelinci mentok di relasi seksnya. Bagi manusia –bagi Alkitab– relasi seks sesungguhnya baru lambangnya. Adanya persatuan –melalui perbedaan– di level organ tubuh manusia yang kita alami dalam seks, itu barulah lambang dari persatuan melalui perbedaan yang jauh lebih dalam, lebih utuh, lebih total, lebih menyeluruh dalam segala area hidup manusia tersebut. Lambangnya adalah relasi seks; dan, persatuan dalam seluruh area ini kita sebut pernikahan –kovenan pernikahan.
Di mata Alkitab, yang jadi esensi manusia bukanlah cuma bahwa dia bernyawa, tetapi juga bahwa nyawa-nyawa ini bisa diikat dalam suatu ikatan (kovenan) antar nyawa, antar kehidupan, sehingga mereka menjadi satu. Ikatan antar nyawa ini, bagi Alkitab sama seriusnya seperti nyawa masing-masing pihak. Melanggar ikatan ini, sama seriusnya seperti melanggar nyawa.
“Pak, berarti dalam Alkitab tidak ada tempat untuk orang single, dong?” Tidak bisa bilang begitu, karena orang single juga hasil dari pernikahan. Itu yang pertama. Yang kedua, kalau dalam kekristenan, orang justru bisa menjadi single di hadapan Tuhan, karena dia menikah dengan Kristus. Relasi pernikahan pun pada akhirnya hanya suatu lambang, suatu simbol, yang Paulus katakan membicarakan misteri hubungan Kristus dengan jemaat. Jadi, kalau Saudara single, atau selibat, atau apapun, don’t worry, Saudara tidak kehilangan apa-apa.
Bagaimanapun, relasi ini adalah esensi dari manusia; dan inilah sebabnya relasi seks dijaga ketat. Bukan karena merupakan sesuatu yang kotor, tetapi justru karena ini hal yang sakral, sangat esensial dalam diri manusia. Ini sesuatu yang boleh dibilang sangat menggambarkan inti/esensi dari Pencipta-nya manusia, yaitu Allah Tritunggal, Allah yang tidak cuma satu, dan tidak cuma banyak. Singular, dan plural. Itu sebabnya relasi seks dijaga. Alkitab menjaga seks bagi manusia, bukan menjaga seks dari manusia. Seks bukanlah sampah, seks adalah api. Api itu powerful, baik, maka dijaga. Demikian review khotbah yang lalu, bahwa seks penting bagi Alkitab, karena seks tidak kurang dari lambang esensi/inti/core dari manusia.
Pertanyaan hari ini: lantas kenapa tempat paling cocok untuk menjaga seks adalah dalam pernikahan –maka dikatakan ‘jangan berzina’? Kenapa tidak boleh ada seks di luar nikah? Kenapa seks ketika dijaga, harus dalam pernikahan? Etika seks itu simpel: jangan berzina, jangan melakukan hubungan seks di luar pernikahan. Atau kalau mau parafrasa lebih positif, begini: bagi Alkitab, hubungan seks adalah hanya untuk pernikahan, hanya di dalam pernikahan. Pertanyaannya, kenapa? Ini yang kita mau jawab.
Hampir semua teolog dan komenmtator yang menulis tentang bagian ini, mengajak kita fokus pada hal berikut: bahwa bagi orang Israel –bagi Alkitab — pernikahan adalah sebuah kovenan (covenant). Apa itu kovenan? Adakah istilah modern-nya? Basically tidak ada. Ini sebuah istilah yang kita harus belajar mengerti karena tidak ada ekuivalennya pada hari ini, apalagi dalam bahasa Indonesia. Kovenan, merupakan kategori relasi yang sama sekali berbeda. Kovenan adalah sebuah janji yang legal, yang membuat ikatan atau menciptakan relasi yang sangat personal.
Kita hari ini memahami adanya relasi legal, relasi kontraktual. Relasi-relasi tersebut ikatannya keras. Sedangkan kovenan, relasinya lebih mengikat dan lebih bertahan lama dibandingkan relasi kontrak, tetapi juga lebih loving, lebih intim, dan lebih personal, dibandingkan sekadar emosi. Dalam hal ini mungkin yang menarik adalah menegnai apa menghasilkan apa. Dalam relasi kontrak, kita merasa bahwa semakin legal, semakin kontraktual, maka semakin tidak personal; sebaliknya kita juga merasa semakin sesuatu itu emnosional dan personal, maka jangan dilegal-legalin. Tetapi, di dalam kovenan justru semakin loving, semakin deep, semakin intim, semakin personal, adalah justru karena semakin legal, semakin terikat.
Paling gampang, kita bandingkan relasi covenantal ini dengan relasi consumeristic. Sebagai consumer, Saudara punya relasi dengan si seller atau vendor. Relasi ini berjalan baik, selama vendor memberimu produk yang sesuai –sesuai harga, sesuai kualitas. Relasi ini berjalan baik, juga ketika engkau memberikan kepada vendor uang yang sesuai. Namun perhatikan, dalam relasi consumer, selagi kita berelasi ini kita selalu cari upgrade. Yang kita katakan kepada si vendor pada dasarnya adalah: kamu harus senantiasa memenuhi keinginanku, kalau tidak, gue cao; keinginanku/kebutuhanku lebih penting daripada relasi ini, jadi kalau aku bisa mendapatkan keinginanku ini dengan harga yang lebih murah atau kualitas yang lebih bagus, gue pindah. Kita mengatakan, “Nothing personal, business is business. Kamu yang harus adjust ke aku. The costumer is always right,” dst. Relasi covenant persis kebalikannya, mengatakan: relasi ini lebih penting daripada keinginan-keinginanku; aku yang akan adjust ke kamu, karena aku telah berjanji di hadapan Tuhan dan manusia, akan mengikat covenant ini denganmu. Itulah legalnya; dan dengan demikian kebutuhan-kebutuhanku itu sekunder dibandingkan jalannya relasi ini.
Jika Saudara rasa ini mengerikan, memang mengerikan. Kalau yang satu seorang covenantal, berelasi dengan seorang consumer, maka dalam menjadi satu terjadilah eksploitasi. Namun kalau seorang covenantal bertemu dengan seorang covenantal yang lain lalu mengikat covenant bersama-sama, bayangkan saja, bukankah itu pernikahan yang sejati.
Dalam relasi yang covenantal, Saudara paling tidak bisa lihat tiga hasil. Yang pertama: Hanya dalam relasi covenantal seperti ini, Saudara bisa mendapatkan save zone, safe space, satu spot dalam hidupmu yang engkau merasa cukup aman sehingga engkau tidak perlu lagi main pencitraan.
Dalam relasi consumeristic tidak bisa demikian, Saudara harus menjalankan marketing terus-menerus, senantiasa menjajakan diri. Saudara harus memenuhi tuntutan yang seberang sana, atau dia akan pergi. Sedangkan jika relasinya merupakan covenantal relationship, Saudara merasa aman. Saudara bisa beristirahat. Saudara bisa bernafas lega. Saudara bisa membuka semua insecurities-mu kepada orang tersebut –Saudara bisa telanjang, dan tidak merasa malu. Saudara akhirnya punya area dalam hidupmu yang engkau bisa meletakkan semua peralatan marketing-mu. Engkau mendapatkan sebuah tempat teduh. Lega rasanya. Itulah relasi covenantal.
Yang kedua: Relasi ini adalah berdasarkan janji yang harus ditepati, apapun yang perasaan katakan; namun anehnya ketika engkau memberikan dirimu kepada relasi ini –sehingga engkau boleh dibilang mati terhadap perasaanmu– justru inilah yang menumbuhkan perasaan-perasaan yang lebih dalam di dalam dirimu.
Ini paling jelas lewat contoh covenantal relationship yang lain, yaitu relasi orangtua dan anak. Saudara tidak harus jadi orangtua dulu untuk tahu bahwa dalam relasi orangtua dengan anak, Saudara sebagai orangtua akan amat sangat lama sekali mengalami fase di mana si anak praktis useless, si anak hanya bisa mengambil, dan tidak pernah bisa benar-benar memberi balik. Tentu suatu hari akan terbalik situasinya, si anak akan mulai take care orangtuanya, tetapi kalau Saudara mau hitung-hitungan, yang dimulai dari awal relasi ini sampai akhirnya, saya rasa kita bisa setuju bahwa si anak tidak akan bisa bikin balance account-nya. Dalam relasi ini, kalau kita sebagai orangtua, kita senantiasa memberi dan memberi, kita harus adjust terus-menerus kepada anak-anak kita.
Omong-omong, mungkin anak-anak remaja di sini akan mengatakan, “Mana ada orangtua adjust ke aku?? Jelas-jelas aku yang terus-menerus disuruh menurut pada mereka.” Begini para remaja, tunggu saja nanti kalau engkau sudah punya anak remaja, coba refleksi lagi, saya rasa nanti konklusimu akan beda. Sekarang engkau cuma melihat dari sisimu doang. Nanti kalau engkau sudah dewasa dan punya anak remaja, engkau akan bisa melihat dari dua sisi; dan itu akan menghasilkan perspektif yang lebih seimbang. Lalu nanti kita bisa bicara lagi apa jawabanmu akan hal ini.
Kembali lagi. Dalam relasi orangtua dan anak, orangtua senantiasa memberi, memberi, dan memberi; punya anak itu tidak bisa jadi relasi consumer. Itulah sebabnya banyak orang tidak mau punya anak, karena secara natural mereka tahu inilah relasi yang senantiasa akan menuntut doang. Namun lucunya, ketika kita melakukan itu terus-menerus, kita invest begitu banyak bagi anak, pada saat mereka bertingkah laku buruk terhadap kita, somehow kita tetap mengasihi mereka; dan perasaan kasih ini perasaan yang riil, yang jauh lebih dalam dan kokoh. Perasaan itu bertumbuh.
Relasi consumeristic awalnya sangat penuh dengan perasaan. Wow, dapat harga bagus banget! Wow, kualitas barangnya keren banget! Dan sebagainya. Begitu penuh dengan perasaan, maka kita mau masuk menjalani relasi ini. Langganan ahh.. dengan toko ini, barang-barangnya bagus-bagus. Tetapi, ujung-ujungnya perasaan ini selalu pudar dan sirna. Bahkan seandainya produknya tetap bagus, harganya tetap bersaing, pada akhirnya Saudara lama-lama akan bosan pada barang tersebut. Saudara perlu ganti. Lain halnya dengan relasi covenantal yang pada awalnya bisa jadi tidak ada feeling sama sekali –misalnya arranged marriage yang purely didasarkan atas janji dan komitmen– tetapi pada akhirnya malah menimbulkan perasaan yang riil, yang dalam, yang bertahan, tidak peduli terkena ombak sebesar apapun, karena perasaan ini seperti lautan yang begitu dalam. Bahkan ketika engkau mulai mengalami perasaan-perasaan ini, engkau menyadari bahwa yang tadinya engkau anggap “perasaan” ternyata cuma kubangan tok.
Yang ketiga: Relasi covenantal yang terikat erat seperti ini, legal dan hampir tidak ada jalan keluar, justru relasi yang menimbulkan kebebasan sejati.
Dalam relasi consumeristic, kalau Saudara mengatakan, “Kamu tidak memenuhi kriteriaku. Aku ‘gak merasa kamu sayang sama aku, aku ‘gak happy dalam relasi seperti ini, jadi aku mau out!” artinya Saudara mau out karena merasa terpenjara dalam relasi tersebut, maka engkau ingin bebas, engkau ingin keluar dari relasi tersebut. Ya, benar, engkau memang terpenjara, tetapi engkau mungkin bukan terpenjara oleh relasinya, engkau sebenarnya sedang terpenjara oleh perasaan-perasaanmu. Engkau seperti boneka marionette, yang kaki, tangan, dan mukanya terikat oleh tali-tali perasaanmu.
Sekarang coba pikir, engkau tadi merasa –merasa—harusnya dia itu kayak begini, harusnya dia kayak begitu, lalu pertanyaannya, perasaan itu datang dari mana? Jawaban yang paling simpel: datang dari situasi hidupmu hari ini. Gue ini pulang sudah capek kerja, tapi lihat, dia malah kayak begitu! Dia harusnya ‘kan begini, harusnya ngerti, dong. Dan sebagainya. Jadi, itu perasaan yang datang dari situasi hidupmu; kalau situasi hidupmu lain, engkau mungkin tidak merasakan seperti itu. Kalau demikian, engkaulah yang terpenjara di situ, orang lain tidak. Kemungkinan kedua, bisa jadi engkau merasakan seperti itu bukan karena situasi hidupmu hari itu, tetapi datang dari masa lalumu –bagasimu. “Pak, kalau dia kayak begitu, saya jadi terbayang bapak saya,” atau terbayang ibu saya, dst. Sekali lagi, orang lain tidak merasa begitu, cuma engkau yang merasa kayak begitu, karena orang lain itu bapak atau ibunya tidak kayak begitu. Jadi, sebenarnya ini problemnya siapa? Problemmu, Saudara.
Engkaulah yang sedang terpenjara oleh perasaan-perasaanmu itu. Baik situasi hidupmu hari ini atau masa lalumu itulah yang menimbulkan perasaan-perasaan tersebut, lalu engkau dengan rela menjadi marionette yang digonjang-ganjing ke sana kemari oleh perasaan-perasaan tersebut. Jadi, benarkah pernikahan tersebut yang memenjarakanmu, atau engkaulah yang simply sedang dipenjara dalam perasaanmu doang?? Engkau merasa mengikuti perasaanmu itu akan memberikan kebebasan, padahal itu penjara, itu ikatan yang paling mematikan! Itu sebabnya, lucunya solusinya adalah: jalan menuju kebebasan yang sejati adalah dengan mengikat dirimu dalam janji, “Saya di sini, bersamamu, apapun yang terjadi, maka saya akan adjust diri saya bagimu, karena relasi ini lebih penting dibandingkan perasaan-perasaanku, dibandingkan kebutuhan-kebutuhanku.” Ketika dua orang tersebut melakukan ini, apa yang Saudara rasakan? Freedom. Kebebasan yang sejati.
Demikianlah tiga hal dalam covenantal relationship. Kenapa kita membahas ini, apa hubungannya dengan relasi seks?
Kita jadi bisa melihat sekarang, bahwa kalau seperti itulah pernikahan, seperti itulah covenantal relationship –tempat engkau bisa merasa lega, aman, mati terhadap perasaanmu namun malah menimbulkan perasaan yang lebih dalam, engkau terikat namun justru lewat keterikatan itu engkau mendapatkan kebebasan yang sejati– maka ketika Alkitab mengatakan “jangan berzina”, Alkitab sedang mengatakan relasi seks itu hanya boleh dalam covenantal relationship ini. Relasi seks merupakan sesuatu yang hanya bisa dipakai dalam relasi covenant. Relasi seks bukanlah consumer goods; relasi seks adalah covenantal goods.
Kita coba bandingkan lagi. Dalam relasi consumeristic, seks itu cuma marketing. Kita butuh seks untuk merasa diri oke. Kita butuh seks untuk merasa worth something karena ada orang yang mau pada kita, maka kita keluar mencari orang yang bisa memenuhi kebutuhan tersebut. Seks menjadi consumer goods, menjadi “komoditas” –komoditas konsumeristis. Alkitab mengatakan tidak demikian, seks tidak diciptakan untuk menjadi itu. Seks adalah tanda yang kelihatan dari realitas yang tidak kelihatan, bahwa dalam relasi kovenan, aku telah memberikan seluruh hidupku secara utuh kepadamu, aku menyerahkan kebebasanku, aku mengikat diriku pada janji ini (bukan mengambil tetapi memberikan, itulah relasi kovenan). Relasi seks adalah tanda yang kelihatan dari realitas yang lebih luas dan lebih dalam ini. Engkau telanjang secara fisik, sebagai tanda dari ketelanjangan yang total dalam seluruh hidupmu. Ini nyambung banget ‘kan, antara tanda dengan realitasnya.
Itu sebabnya ketika seks dilakukan di luar pernikahan, dalam relasi consumeristic, yang engkau lakukan di situ adalah meminta orang melakukan sesuatu dengan tubuhnya, yang dia tidak siap lakukan dengan seluruh hidupnya. Engkau seperti sedang mengatakan, “Yuk, kita telanjang secara fisik, tetapi tidak secara total, tidak secara finansial, tidak secara emosional, tidak sampai maut memisahkan kita.”
C.S.Lewis dalam hal ini mengatakan, seks di luar nikah itu fenomenanya seperti orang makan makanan, lalu pergi ke WC memuntahkannya; hanya mau persatuan dalam level kenikmatan, tetapi tidak mau persatuan dalam level yang lebih total. Kalau Saudara makan, makanan itu ‘kan bersatu dengan tubuhmu, terurai dan benar-benar menjadi dagingmu, kulitmu, tulangmu, matamu. Namun ada juga orang-orang yang makan tetapi tidak mau persatuan yang utuh ini, mereka pilih-pilih, hanya mau persatuan dalam level tertentu saja. Persatuan dalam level kenikmatan, mau; tetapi persatuan total dalam hal lain, tidak mau. Pleasure-nya yang nomer satu. Pleasure-nya yang harus ada, person-nya tidak harus ada. Kalau tidak bisa dapat pleasure-nya, maka person-nya juga tidak harus ada. Itu relasi consumeristic. Itu adalah yang kita sebut dengan penyakit –anoreksia bulimia. Seperti itulah seks di luar nikah.
Pernikahan sama sekali terbalik. Aku memberikan diriku kepadamu, sebagai tanda dari seluruh hidup yang aku berikan bagimu. Itu sebabnya ketika Paulus menegur Jemaat Korintus, dia mengatakan, “Hai, tidak tahukah kamu, siapa yang tidur dengan pelacur, dia … .” Apa lanjutannya? Engkau bisa kena penyakit? Engkau jadi seperti binatang? Tidak. Dia mengatakan, “Siapa yang tidur dengan pelacur, ia menjadi satu dengannya; kalian ‘gak tahu hal ini??” Saudara, ini sebabnya pelacur perlu dibayar. Ada yang mengatakan, orang bayar pelacur, itu bukan untuk tidur dengan dia; orang bayar pelacur, supaya setelah itu pelacurnya pergi dari kehidupannya. Masuk akal ‘kan. Sekali lagi, ini karena hubungan seks itu menyatukan. Itu adalah tanda yang tidak bisa berhenti di persatuan organ tubuh; itu adalah tanda yang menyatakan persatuan di area-area yang lain. Itu sebabnya hanya dalam pernikahanlah seks jadi positif, menghidupkan, karena seks menjadi cara kita membuka diri kita –tubuh kita—sebagaimana seluruh hidup kita juga telah kita buka.
Di dalam pernikahan, seks menjadi caramu memberi; sementara di luar pernikahan, seks adalah cara kita mengambil. Coba perhatikan di film-film yang ada sepasang pria dan wanita melakukan seks di luar nikah; setelah selesai, mereka mengatakan, “Wow, I love the feeling I get when I’m with you.” Saudara lihat, urusannya love the feeling, bukan the person; engkau mengambil, bukan memberi.
Itu sebabnya seks di luar nikah menghancurkan. Setiap kali engkau menggunakan seks dengan realitas yang utuh [pernikahan], itu mengokohkan realitasnya. Sebaliknya, setiap kali engkau menggunakan seks tanpa realitas di belakangnya itu, engkau sedang mengikis pelan-pelan kemampuan seks untuk memberikanmu kehidupan.
Gampangnya seperti cerita anak-anak The Boy Who Cried Wolf. Ceritanya, ada anak teriak, “Serigala!!” Lalu semua orang desa itu datang, padahal tidak ada serigala. Jadi di sini ada yang menggunakan sebuah tanda, tanpa realitas. Kata-kata dari susunan huruf S-E-R-I-G-A-L-A itu tanda bagi realitas serigala, tetapi anak ini menggunakan tanda tersebut tanpa trealitasnya. Apa yang terjadi? Orang-orang desa semua datang, lalu si anak tertawa-tawa, “Ha-ha-ha … bodoh banget kalian, bisa aku tipu.” Kedua kalinya, si anak teriak lagi, “Serigala!!” Orang-orang desa pun kembali datang, tetapi sekarang lebih sedikit, karena kekuatan dari tanda tersebut telah terkikis, berhubung telah digunakan tanpa realitasnya. Omong-omong, yang kedua kalinya ini juga bohongan. Lalu ketiga kalinya, “Serigala!!” Kali ini beneran ada serigalanya, tetapi tidak ada lagi orang desa itu yang datang. Kenapa? Karena tanda-nya telah kehilangan makna. Ini cerita mengenai orang menggunakan tanda, tanpa realitas; dan berarti menipu. Itu sebabnya ini bukan sekadar cerita; setiap kali engkau menggunakan seks di luar nikah, ini mengikis dan menghancurkan kemampuanmu untuk menggunakannya justru dalam pernikahan.
Omong-omong, bahkan orang sekuler pun sudah mulai sadar akan hal ini. Dalam artikel The Downside of Cohabitation (tahun 2012), seorang psikolog (sekuler) dalam risetnya menunjukkan bahwa orang-orang yang cohabitate (kumpul kebo sebelum menikah) malah lebih gampang bercerai di kemudian hari setelah mereka menikah, dibandingkan orang yang menikah tanpa kumpul kebo lebih dulu. Hal ini counter intuitive, karena banyak orang kumpul kebo justru dengan tujuan supaya pernikahannya nanti lebih langgeng. Mereka mengatakan begini: “Sama kayak beli mobil, kita test drive dulu. Dengan test drive, kita dapat lebih banyak data dan info, sehingga suatu hari kalau beneran beli, mobilnya lebih mungkin kompatibel dengan kebutuhan kita. Sama juga kita test drive orang, supaya waktu nanti beneran menikah, kita lebih wise, tahu apa yang perlu dicari dan apa yang perlu dihindari, dst.” Kembali lagi, consumer relationship. Menurut psikolog (sekuler) tersebut, ini sesuatu yang impossible, karena dalam risetnya jelas bahwa pria dan wanita memang berbeda ekspektasinya, namun satu hal yang baik pria maupun wanita sama-sama setuju adalah: ketika engkau tinggal bareng dengan seorang pacar/partner, bagaimanapun itu beda dengan tinggal bersama seorang spouse/pasangan hidup, suami atau istri; standarmu terhadap seorang partner lebih rendah dibadingkan standarmu bagi seorang suami/istri.
Ada seorang wanita yang tinggal bareng dengan seorang cowok, dan dia mengatakan perasaannya itu seperti tidak habis-habisnya mengikuti audisi untuk jadi istri si cowok tersebut. Jadi ini seperti audisi, yang celakanya audisinya seperti tidak habis-habis. Mengapa demikian? Karena ketika kita tinggal bareng, psikologinya adalah kita ingin tahu diri kita kompatibel atau tidak. Ini sebuah relasi consumeristic, maka seperti halnya relasi consumeristic, di situ Saudara selalu berelasi dengan cari upgrade apakah yang ada yang lebih baik di luar sana atau tidak. Kalau Saudara test drive, tujuannya itu ‘kan. Hampir tidak ada orang test drive cuma satu mobil. Ketika engkau test drive, adalah untuk bisa membandingkan satu mobil dengan mobil yang lain; dan itu sebabnya lumrah ketika engkau sedang naik mobil yang satu, pikiranmu sudah berada di mobil yang lain. Oleh karena itu, orang-orang yang katanya tinggal bareng untuk persiapan menikah suatu hari, itu bukan sedang mempersiapkan diri untuk menikah dalam arti memasuki relasi kovenan.
Orang yang tinggal bareng sebelum menikah, mereka sedang mempersiapkan diri, membiasakan diri, untuk masuk ke dalam relasi covenant sebagai consumer. Mereka sedang membiasakan diri membawa mentalitas consumer masuk ke dalam relasi covenant. Keduanya itu sama sekali berbada. Seks di luar nikah tidak pernah bisa menjadi persiapan bagi pernikahan, seks di luar nikah adalah sebuah sabotase pernikahan. That’s why bagi Alkitab relasi seks harus dijaga hanya dalam pernikahan. Kenapa? Karena perlu ada integrasi antara tubuh dengan seluruh kehidupan. Jangan melakukan sesuatu dengan tubuhmu, yang kau tidak maulakukan dengan seluruh hidupmu.
Review kembali. Kita melihat inilah sebabnya di dalam Alkitab, seks itu dijaga, bukan karena seks itu rendah atau kotor, tetapi justru karena sangat tinggi dan esensial. Di mana tempat paling pas untuk menjaga api? Di kompor, bukan di gorden. Jadi, di manakah tempat paling pas untuk menjaga relasi seks? Di dalam pernikahan. Kita tidak senang ketika api menyala-nyala di gorden lalu mengatakan, “Wah, semakin panas, semakin oke.” Itu sebabnya Yesus mengatakan jangan berzina. Baru dalam kacamata seperti inilah kita menyadari, bahwa yang Yesus katakan bukanlah seperti yang kita sangka selama ini. Mendengar perkataan Yesus di bagian ini, kita mengatakan, “Lihat nih agama, memandang wanita dan menginginkannya saja dibilang sudah berzina. Itu super negatif, mana hidup kayak begitu bisa sih?? Tidak realistis,” dst.
Dalam hal ini kita sudah membereskan mistranslation bagian ini. Kita sudah melihat yang Luther katakan dalam commentary-nya, bahwa orang Kristen kadang-kadang bikin simpul tali terlalu kencang, lebih kencang daripada Yesus; Yesus di sini tidak mengatakan ‘siapapun yang melihat seorang wanita dan tertarik padanya –bahkan tertarik secara seksual—otomatis masuk neraka’. Seks, dan dengan demikian juga hasratnya, itu bukan sampah, maka bagian ini lebih bagus diterjemahkan ‘siapapun yang memelototi wanita (stare, bukan cuma glare, atau yang dalam zaman sekarang pakai istilah the male gaze) dengan epithumeō, dengan nafsu untuk tidur dengannya, itulah yang sudah berzina dalam hatinya’. Hal yang problem di sini bukanlah pikiran yang muncul dengan sendirinya, melainkan fantasi yang kemudian kita goreng dan jilat-jilat. Seperti Luther katakan, yang problem bukanlah burung yang hinggap di kepala, melainkan ketika kita membiarkan burung tersebut bikin sarang di rambut kita. Jadi yang problem adalah fantasinya, bukan pikirannya. Demikian yang sudah kita bicarakan.
Hal yang belum kita bicarakan adalah istilah epithumeō (hawa nafsu, lust). Di dalam Alkitab, istilah lust/nafsu tidak identik dengan hasrat seksual tok; kata epithumeō bisa dipakai untuk berbagai macam nafsu. Namun yang menarik, di dalam Alkitab kata ini paling sering dipakai untuk dua hal. Yang pertama, untuk penyembahan berhala (menarik ya, karena kita tidak pikir orang menyembah berhala dengan hawa nafsu). Yang kedua, untuk untuk dosa ketamakan (greed), bukan keserakahan (glutony). Dengan demikian kita bisa menerjemahkan kalimat Yesus seperti ini: ‘barangsiapa memelototi wanita dengan nafsu ketamakan, itulah yang sudah berzina dalam hatinya’. Lebih make sense, ya. Atau bisa juga begini: ‘barangsiapa yang memelototi wanita untuk menyembah berhala, itulah yang berzina dalam hatinya’. Kira-kira begitu. Jadi, Yesus sedang mengatakan adanya suatu sikap hati dalam penyembahan berhala, dalam ketamakan, yang sesunguhnya kita juga mungkin gunakan dalam memandang seks.
Kita coba telaah hal ini dengan bikin paralel. Kita lihat tentang ketamakan dulu. Apa itu ketamakan? Mengenai orang yang tamak, ada tiga hal yang esensial. Saudara tamak ketika Saudara punya uang banyakkah? Tidak. Abraham, Ayub, dan banyak orang kaya di dalam Alkitab, punya uang banyak, pemberian dari Tuhan, jadi tidak ada problem dengan punya banyak harta. Di dalam Alkitab, yang problem selalu adalah ketamakan di balik harta. Saudara mungkin pernah dengar ‘money is the root of all evil’, itu kutipan ngawur, ngaco banget, bukan dari Alkitab. Yang benar adalah ayat dalam 1 Timotius yang mengatakan: “Love of money is the root of all evil”. Urusannya ketamakan, uang itu sendiri bukanlah problemnya, karena orang miskin pun bisa tamak. Saudara tahu bahwa Saudara tamak, bukan ketika engkau punya banyak duit, melainkan dengan cara apa engkau memandangi/memelototi uang.
Yang pertama, engkau memandangi uang dengan egois. Engkau melihat uang itu hanya untuk dirimu. Engkau bukan mengejar uang untuk berbagi dengan orang lain.
Yang kedua, engkau memandangi uang dengan kecanduan. Engkau merasa harus punya uang. Bisa jadi engkau tidak punya uang, tetapi engkau merasa harus punya uang, maka engkau banyak mengambil jalan pintas demi punya uang. Engkau menginjak-injak orang lain demi dapat uang. Engkau lupa waktu, lupa relasi, lupa segalanya, demi cari uang.
Yang ketiga, engkau senantiasa berfantasi tentang apa yang engkau akan/bisa lakukan seandainya engkau punya uang sebanyak itu, punya income sebesar itu. Yang masalah di sini, fantasinya bukan cuma mengenai barangnya tok, tetapi juga kepuasan yang datang bersama barangnya. Inilah inti fantasinya. Engkau berfantasi karena engkau menaruh kepuasan yang tertinggi pada hal yang uang bisa berikan. Di sinilah sebabnya istilah epithumeō bisa dipakai untuk ketamakan dan penyembahan berhala, karena ketika kita berfantasi tentang kepuasan yang uang bisa berikan, kita sedang memandang kepada uang untuk memberikan kepada kita kepuasan, kelegaan, rasa aman, yang hanya Tuhan bisa berikan. Kita menaruh uang di posisi Tuhan. Itu penyembahan berhala.
Sekarang kita aplikasikan tiga hal ini pada seks, dan Saudara akan menemukan hal yang sama. Inilah yang persisnya Tuhan Yesus katakan sebagai berzina.
Yang pertama, engkau memandang seks secara egois. Engkau hanya mau mengambil, bukan memberi. Engkau ingin seks demi kepuasan dirimu sendiri, bukan memberikannya demi kepuasan orang lain. Demikianlah semua seks di luar nikah. Bahkan seks dalam pernikahan pun tidak kebal akan hal ini. Semua jenis seks di luar nikah otomatis seks yang egois. Termasuk juga pornografi dan masturbasi, yang kalau dipikir-pikir adalah bentuk paling ekstrim dari seks yang egois, karena tidak ada pihak sebelah sananya sama sekali, benar-benar cuma Saudara tok, benar-benar Saudara hanya mengambil dan tidak pernah memberi. Sesuai dengan fantasimu, super convenient, tanpa ikatan sama sekali. Persis kebalikan dari gambaran seks dalam relasi covenant.
Yang kedua, engkau kecanduan terhadap seks, dalam arti engkau merasa harus ada seks. Engkau merasa hidupmu kurang kalau tidak ada ini. Dalam budaya Barat ini lebih jelas karena banyak contoh premarital sex untuk jadi studi. Ada buku –sekali lagi dari orang sekuler, bukan orang Kristen–yang meneliti kenapa orang-orang melakukan premarital sex. Jawbannya, kebanyakan ternyata bukan demi kenikmatannya sendiri; mereka melakukannya simply untuk pempertahankan suatu relasi. Sudah kencan beberapa kali, merasa nyambung, and then what? Harus ada something. Mereka tahu orang-orang yang mereka kencani ini sedang test drive, dan selagi test drive tentu cari upgrade, jadi kalau saya tidak memberikan seks kepada dia, dia akan pergi. Sebaliknya, saya pun demikian, kalau sudah jalan beberapa minggu atau beberapa bulan dan dia tidak mau memberikan seks, saya juga akan cari upgrade, pindah ke tempat yang lain. Jadi seks dilakukan demi mempertahankan relasi. Consumeristic, mengambil, bukan memberi. Harus ada seks –kecanduan.
Yang ketiga, engkau akan menemukan dirimu senantiasa berfantasi akan seks, kalau bisa kayak begini begitu, hidupku akan puas. Yang terutama di sini bukanlah fantasinya sendiri, bukan soal seks-nya seperti apa dalam fantasimu; yang terutama adalah kepuasan yang engkau cari melalui seks tersebut. Engkau sedang menaruh seks sebagai hal yang bisa memberikanmu kepuasan, kelegaan, yang hanya Tuhan yang bisa berikan kepadamu. Misalnya waktu kita sedang kebelet, merasa aduh ‘gak bisa begini, gue harus dapet, kalau ‘gak ada ini, mampuslah, gue akan senantiasa kurang, ‘gak bisa fokus ke hal yang lain kalau ini ‘gak beres dulu. Sadarkah Saudara, dalam kacamata Kristen, itu kalimat-kalimat yang biasanya kita utarakan kepada siapa? Jika engkau tidak ada dalam hidupku, maka hidupku akan senantiasa bolong; aku bisa mengisi hidupku dengan banyak hal, namun ujungnya hatiku tetap merasa hampa, sampai Engkau datang dan mengisinya. Ini kalimat-kalimat yang dalam kekristenan biasa kita katakan kepada Tuhan ‘kan. Fantasi-fantasi seks pada dasarnya mengganti tempat Tuhan dengan seks.
Kita percaya kebohongan budaya zaman ini yang mengatakan kita tidak bisa utuh kecuali kita bisa dapet. Dan, omong-omong versi halusnya tidak perlu sampai se-ekstrim itu, yaitu urusan seks, karena yang penting adalah kepuasannya; bentuk halusnya adalah: fantasi-fantasi kita akan pasangan-pasangan yang ideal, keluarga yang ideal, anak-anak yang ideal.
Dalam Bimbingan Pranikah, saya suka tanya begini: “Hai yang cowok, bayangin kalau sudah nikah nanti, dalam gambaranmu istrimu pakai baju apa?” Lalu jawabannya: baju daster putih, mengalir. Tidak ada cowok yang jawab, “Pak, saya bayangkan dia pakai baju wanita karier.” Kemudian kepada yang cewek, “Coba kamu bayangin, cowok ini, yang tampangnya kamu lihat sekarang ini, nanti pakai baju apa?” Jawabannya: kemeja, dasi, dan bawa tas kantor. Tidak pernah ada cewek yang mengatakan, “Saya bayangkan dia pakai baju NBA gombrong-gombrong, celana pendek, Pak.” Saudara lihat, ini fantasi-fantasi yang menunjukkan bahwa pada dasarnya hati kita mengatakan kalau gue bisa dapat kehidupan yang kayak begini, keluarga yang seperti ini, lega rasanya, utuh rasanya, komplit, sempurna. Dan tebak, ini apa?Ini adalah hal-hal yang hanya Tuhan saja bisa berikan kepadamu. Sesungguhnya gambaran-gambaran seperti inilah yang akan membebani pernikahanmu dengan beban yang menghancurkan, karena beban seperti ini cuma Tuhan yang sanggup kuat untuk menanggung.
Ketika kita menelaah seperti ini, Saudara jadi menyadari sebabnya Tuhan Yesus ekstrim banget, Dia menarik urusan perzinaan sampai ke hal yang paling privat, yaitu fantasi. “Ya elah, Tuhan … fantasi-fantasi begitu ‘kan cuma privat, cuma sesuatu yang lakukan di kepala saya, gak merugikan siapa-siapa; saya ‘gak perkosa siapa-siapa, gitu loh.” Tidak demikian, Saudara. Di sini Tuhan Yesus membongkar, bahwa ini bukan sesuatu yang sifatnya privat, ini sesuatu yang sifatnya spiritual; dan sesuatu yang spiritual, akan merambah ke semua area hidupmu, tidak bertahan hanya dalam privatmu saja.
Saudara, inilah sebabnya pornografi harus diatur, karena memang tidak bisa jadi hal yang privat tok. Risetnya –yang dilakukan orang sekuler– sudah melihat bahwa pornografi tidak cuma mempengaruhi si pengguna pornografi tersebut., pornografi mempengaruhi semua relasi, semua orang, meski orang-orang itu tidak pernah menggunakan pornografi. Ada tiga hal, singkat saja.
Pertama, orang yang mempergunakan pornografi, dipengaruhi standar ekspektasinya akan penampilan fisik dan performa seksual, baik mengenai si orang lain maupun dirinya sendiri. Dan, ini ekspektasi yang tidak realistis, ini akan menghancurkan kedua belah pihak.
Kedua, riset menunjukkan bahwa para pria yang menggunakan pornografi –memang tidak cuma para pria, namun sering kali para pria–semakin mereka menggunakannya, semakin mereka tidak tertarik akan relasi yang riil. Kenapa? Karena relasi riil itu tidak mudah, banyak berantakannya, banyak kesulitannya; sementara pornografi tidak ada semua itu. Efeknya, pria-pria ini semakin menggunakan pornografi, semakin berkurang hasratnya untuk menikah, atau bahkan takut mencoba untuk menjalin relasi. Ini karena pornografi tidak bisa menolakmu, paling bisa cuma kuota internet habis atau Wifi ngawur, dsb, sedangkan menjalin relasi dengan wanita, engkau harus banyak langkah, banyak pengorbanan. Engkau bisa ditolak, dipermalukan, dsb. Menakutkan. Lalu efek berikutnya, para wanita mungkin tadinya bisa pilih dari 10 orang, sekarang hanya ada opsi dari 4 orang, karena pria-pria ini tidak mau menikah, sehingga angka pernikahan pun turun. Efek selanjutnya lagi, wanita-wanita jadi tambah bersaing untuk menarik pria-pria yang tersisa, mereka harus pakai jurus-jurus yang sepertinya pakem, sebagaimana kita lihat semakin banyak para wanita mengakomodasi gaya penampilan atau sikap yang basically mengambil model dari artis-artis pornografi –karena harus bersaing. Bukan cuma para wanita yang begini;kita lihat dunia fashion, dunia pop culture, juga terjebak akan hal ini. Sangat tidak terbayangkan lagi artis K-Pop bisa laku kalau mereka tidak —to certain extent— men-seksualisasi pernampilan mereka. Dan, tebak gambaran itu mereka dapat dari mana??
Jadi, benarkah ini urusan privat tok? Tidak. Yesus bukan sedang menaruh di hadapan kita ideal yang tidak realistis dan tidak membumi. Yesus memberikan ideal ini justru karena Dia begitu membumi, begitu realistis, jauh lebih realistis, akan bahaya dari relasi seks ini. Hanya saja baru pada zaman kita ini, orang-orang sekuler mulai catch up kepada Yesus dan sadar kenapa Dia mengatakan semua ini.
Solusinya apa? Solusinya harus ekstrim dan radikal, jika problemnya memang ekstrim dan radikal –ini realistis– yaitu cungkil mata dan potong tangan. Ini bukan literal. Tuhan Yesus baru saja mengatakan ini problem hati, problem spiritual, maka tentu tidak bisa selesai problem spiritual dengan potong tangan dan cungkil mata. Lagipula, Dia mengatakan tangan kanan dan mata kanan; lalu memangnya kalau dicungkil mata kanan, mata kiri tidak bisa melihat?? Jadi jangan kita berasumsi Yesus itu bego; kitalah yang bego kalau berasumsi Yesus bego. Yang jadi poin di sini adalah: kalau kita perlu mengambil tindakan drastis dalam hidup kita, lakukanlah! Jangan main-main dengan api. Apa yang engkau perlu cabut, cabutlah. Engkau perlu temui siapa, temuilah, jangan tunggu dan jangan tunda.
Dalam hal ini saya akan memberikan satu hal terakhir, semoga bisa jadi sesuatu yang lebih practical, yaitu engkau perlu belajar menyerahkan hasrat seksualmu kepada Tuhan. Apa maksudnya? Baik-baik berdoa dan baca Alkitab? Bukan cuma itu; itu sudah standar, tidak usah bicara ke arah sana.
Maksudnya begini: inilah sebabnya dalam kehidupan rohani ada tempat yang sangat serius bagi puasa. Liturgi puasa itu tidak main-main. Kita ini tidak pernah puas, jadi kita tidak tahu bedanya antara orang yang berpuasa dengan orang yang kekeringan. Inilah problem kita. Sesungguhnya ini dua hal yang berbeda banget, antara fasting dan deprivation. Kalau engkau berpuasa, itu lain banget dengan engkau kehilangan, kekurangan, kekeringan. Kalau Saudara sedang berpuasa, pada dasarnya Saudara sedang membuat satu pilihan dan menyerahkan secara sukarela, misalnya makanan. Sakit atau tidak? Bisa sakit. Bisa mempengaruhimu. Tetapi waktu engkau menyerahkan makanan dalam puasamu, ketika engkau lalu lapar pun, engkau tidak sampai sebegitu menderitanya seperti ketika engkau kekurangan makanan, benar-benar tidak punya makanan, sangat perlu makanan tetapi tidak ada makanan karena tidak punya uang atau tidak bisa beli makanan, dsb. Yang belakangan ini, kalau terjadi, engkau benar-benar menderita. Banyak dari kita lalu berada dalam kekeringan seperti ini, karena kita tidak pernah belajar puasa; kita mengatakan, “Aduh, ini perlu banget, kebelet, harus dapet, kalau tidak bakal hancur hidupku, … ,” dst. Itu adalah kekeringan, kekurangan, kehampaan.
Namun attitude seorang Kristen lain, yaitu: saya akan menyerahkan by my own choice hasrat-hasrat ini kepada Tuhan, saya akan mati terhadap ini, karena dalam Tuhan kematian itu jalan kebangkitan; karena dalam Tuhan, apa yang saya berikan untuk dimatikan, itu akan Dia bangkitkan kembali. Orang yang berpuasa kayak begini, itu bisa sakit, namun penderitaannya tidak sebanding dengan orang yang benar-benar kekeringan. Problemnya, kita sering kali tidak tahu mode hidup yang seperti ini, karena kita tidak pernah berpuasa.
Waktu Saudara berpuasa, berarti Saudara mengatakan saya tidak mengambil ini, dan saya berjanji untuk tidak protes, tidak ngomel, karena saya percaya satu hal: segala sesuatu yang perlu, Tuhan telah berikan kepadaku; dan kalau ada hal yang Dia tidak berikan, berarti itu tidak perlu. Itulah yang John Newton katakan, “Segala sesuatu yang Ia telah berikan, itu aku perlukan; dan segala sesuatu yang Ia tidak berikan, berarti aku tidak perlukan, maka aku menyerahkannya.” Sekarang misalnya saya tidak punya pasangan, atau ada hal lain sehingga saya tidak bisa melakukan hubungan seks, saya bisa menyerahkan ini kepada Tuhan dan mengatakan, “Saya menyerahkan ke hadapan Tuhan, dan saya menolak protes, karena segala sesuatu yang Tuhan berikan kepadaku, itu adalah yang saya perlu. Semua yang saya perlukan, Engkau sudah berikan.”
Minta maaf, saya pakai contoh berikut ini. Kalau Saudara tidak punya rambut, berarti Tuhan tidak merasa engkau perlu rambut. Segala sesuatu yang Tuhan berikan, itu yang kauperlukan. Segala sesuatu yang Ia tidak berikan, engkau tidak perlu. Bayangkan kalau engkau botak, dan engkau berjalan di dunia ini dengan mode kekeringan, ‘aku harusnya butuh rambut tetapi tidak ada; gara-gara ini hancurlah aku’. Itu kekeringan, itu menderita banget rasanya. Tetapi, ketika engkau mengatakan, “Aku menyerahkan ini kepada Tuhan; aku mau mati terhadap hal ini, karena apa yang Engkau matikan dalam hidupku, Engkau akan membangkitkan. Apa yang aku perlukan, Engkau sudah berikan; kalau Engkau tidak memberikannya, berarti aku tidak perlukan,” itu namanya puasa.
Saudara, kalau kita tidak pernah latihan puasa dalam hal-hal yang kecil, kita tidak bisa puasa dalam hal-hal yang besar. Demikian sebabnya puasa itu esensial bagi kerohanian kita. Ini realistis. Kalau kita setahun tidak pernah puasa, kita tidak pernah juga puasa bulanan untuk persiapan Perjamuan Kudus, dan dalam hal lain pun kita menolak berpuasa, “Ah, yang penting ‘kan hatiku di hadapan Tuhan,” menganggap itu ‘kan cuma puasa makanan, ngapain sih, orang zaman sekarang sudah tidak mikir kayak begitulah, itu rohani yang masih anak-anak, sedangkan kita belajarnya doktrin, atau apalah alasan orang Reformed hari ini –Saudara tidak setia dalam perkara yang kecil– Saudara tidak akan setia dalam perkara yang besar. Itu sebabnya ini jadi undangan bagi kita semua. Kita perlu menyadari bahwa berkat/karunia Tuhan yang diberikan kepada Gereja, bukanlah cuma Firman Tuhan, tetapi juga semua liturgi, habit, kebiasaan, yang Tuhan bawa dalam ibadah-ibadahnya juga.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)