Kita so far sedang ada dalam bagian ke-6 studi kasus mengenai righteousness, mengenai relasi-relasi dalam kerajaan surga. Relasi-relasi yang righteousness-nya itu melampaui bahkan orang-orang Farisi kata Tuhan Yesus. Karena ternyata di hadapan Tuhan Yesus, orang-orang Farisi itu bukanlah orang-orang ekstrem, mereka yang justru terlalu moderat. Yesuslah justru titik ekstremnya. Yesuslah titik full chrome-nya, di mana seluruh makna dan kedalaman Taurat itu tergenapi, terpenuhi. Fulfilled. Fill to the full.
Itu sebabnya dalam setiap studi kasus, Yesus mengatakan, “Kamu telah mendengar begini-begini, tapi Aku mengatakan sekarang begitu-begitu.” Dalam setiap kasus, kita melihat Yesus selalu membawa kita lebih jauh, lebih dalam, karena Yesus enggak pernah puas dengan apa yang sifatnya hanya di luar saja. Ternyata dalam kerajaan surga, apa yang personal, apa yang tidak kelihatan, bahkan apa yang privat, itu pun diatur.
Sekali lagi Bapak Ibu sekalian, saya ingin menekankan hal ini adalah — karena kita sebagai orang-orang zaman sekarang yang adalah didikan Hollywood — hal privat ketika privat itu diatur, ini seringkali menjadi skenario mimpi buruk. Ini bukan good news buat kita. Ini skenario banyak film-film distopia. Film-film di mana misalnya pemerintahnya itu sudah terlalu besar kuasanya, rakyatnya tidak diizinkan punya hal-hal yang privat. Mereka tidak diizinkan punya emosi misalnya. Setiap hari semua warganya harus pagi-pagi minum pil anti emosi misalnya, lalu mereka diawasi oleh tentara khusus 24 jam. Mereka yang menolak minum pil itu diciduk hilang, tidak pernah muncul lagi. Nah, seperti itu skenario film-film Hollywood yang langsung kita tahu itu adalah film distopia. Maka tidak heran — kita yang adalah didikan Hollywood – ketika kita membaca bagian-bagian seperti ini dari firman Tuhan, refleks kita adalah mengatakan “Aduh!.” Kita mengatakan, “Yang existing saja udah enggak sanggup, sekarang ditambah. Yang di luar aja kita sudah susah, sekarang ditambah dengan yang lebih dalam dan privat.” Tidak ada yang suka dengan ini, Saudara. Namun saya berpikir, hopefully, dalam pertemuan-pertemuan sebelumnya kita sudah melihat bagaimana dalam kerajaan surga mengapa hal-hal yang dalam ini diatur. Mengapa ada aturan-aturan bagi hal-hal yang lebih dalam, lebih privat dan memberatkan ini, Saudara? Oleh karena ini adalah justru bagian dari good news-nya.
Dalam khotbah kita yang terakhir mengenai perzinahan, saudara melihat Yesus menargetkan perzinahan itu bukan cuma dalam urusan hubungan seksnya sendiri, tapi fantasi privat yang ada dalam hati seseorang, itu pun menjadi target bagi Tuhan Yesus. Mengapa hal seperti ini menjadi good news? Well, karena ketika saudara hidup di dunia nyata, maka saudara sudah melihat seperti apa dunia yang menjadi hasil dari orang-orang yang tidak mau mempertanggungjawabkan fantasi privat mereka. Kita tinggal di dalamnya, Saudara. Kita tinggal dalam dunia di mana orang-orang yang merasa fantasi privat mereka itu cuma privat. Tetapi seperti yang kita sudah bahas kemarin — kita tidak bakal ulang, saudara bisa baca di ringkot — ternyata fantasi-fantasi privat efeknya sama sekali tidak privat.
Oleh karena itu saudara sekali lagi melihat — kita cuma perlu mengulang prinsip dasarnya saja — mengapa aturan main dari Tuhan betapa pun beratnya, betapa pun dalamnya menusuk kita, itu tetap adalah sebuah good news. Sama alasannya dengan mendapatkan manual penggunaan barang itu selalu good news. Seberapa pun tebal tulisannya, seberapa pun kecil tulisannya, saudara bersyukur kalau saudara punya manual. Yang paling celaka kan kalau saudara beli barang baru, seperti printer baru atau mobil baru atau bakmi frozen jenis baru, lalu ketika saudara unboxing, saudara tidak menemukan ada manual. Saudara tidak tahu ini guide-nya gimana dong. Ini bakmi frozen ini perlu direbus berapa lama supaya enak, supaya pas. Ini saya enggak tahu, enggak dapat guide-nya sama sekali. Sewaktu saudara melihat seperti ini, saudara mengatakan, “Nih packing bumbunya ini aman buat di-microwave atau mesti direbus atau mesti bagaimana?” Saudara harus eksperimen. Kalau eksperimen microwave terbakar, bagaimana? Kalau yang terbakar akhirnya bukan cuma microwave, bagaimana? Waktu saudara tidak punya manual seperti ini, saudara mengatakan, “Celakalah aku!” Sama juga dengan hidup manusia, demikian juga halnya dengan pernikahan. Halaman-halaman pertama Alkitab itu mengatakan pernikahan adalah ciptaan Allah. Itu sebabnya kita butuh manual pernikahan dari Allah. Itu juga sebabnya, hampir semua masyarakat dunia, hampir dalam semua periode sejarah mana pun, selalu punya pernikahan. Manusia tidak bisa kabur dari pernikahan.
Dalam sejarah kita tentu tahu, pasti ada tempat-tempatnya, pasti ada periode-periodenya di mana masyarakat ingin membuang pernikahan, tapi pernikahan tidak pernah mati. Pernikahan hanya mencuat lagi dari tempat-tempat yang tidak disangka-sangka. Misalnya, seperti hari ini saudara mungkin mengatakan, “Pak, dunia Barat yang sudah kelewat liberal kan mereka sudah membuang pernikahan.” Iya, Saudara. Namun, siapakah di dunia Barat dalam satu dekade terakhir yang paling kencang menuntut hak untuk menikah? Orang-orang LGBT, bukan? Nah, ini lucu ya, Saudara. Pernahkah saudara bertanya mengapa? Di dalam lensa mata kita, orang-orang LGBT adalah orang-orang yang boleh dibilang paling mendobrak segala macam konvensi dan tradisi mengenai pernikahan. Namun, dalam satu dekade terakhir mereka adalah orang-orang yang justru menjadi suara yang paling kencang menuntut hak “kami ingin pernikahan kami diakui”. Ini lucu, Saudara. Mengapa? Oleh karena pernikahan adalah ciptaan Allah, bukan ciptaan manusia, sehingga manusia tidak bisa lari darinya. Mencoba membuang pernikahan dari hidup kita adalah seperti berusaha untuk mengoperasi jantung kita keluar dari badan kita sendiri. Dengan demikian, jika pernikahan adalah ciptaan Allah, ketika Allah tersebut memberitahukan kepada kita rancangan desainnya bagi pernikahan tersebut — manualnya, how to use, how to not us — kita lebih baik mendengar dan taat. Itu merupakan good news, tidak pernah bad news.
Hal yang paling celaka yang kita bisa lakukan adalah kita sok-sokan (berlagak tahu) merebus bakmi sesuai selera. Bakmi sih enggak terlalu masalah lah ya. Paling bakminya terlalu lembek atau terlalu keras. Namun, bagaimana misalnya dengan senjata api? Kalau saudara ambil sebuah pistol, saudara harus nurut, harus menaklukkan diri kepada desain penciptanya. Penciptanya mendesain laras pistol menjauhi badan kita, bukan ke arah badan kita sendiri. Penciptanya mendesain dengan cara tertentu dan digunakan hanya dengan cara tertentu itu. Kalau engkau tidak menundukkan dirimu kepadanya, maka engkau akan bikin bolong di badanmu sendiri, atau lebih parah engkau bikin bolong badan orang lain, mungkin orang yang kau cintai. Jadi kita bersyukur ketika Tuhan memberikan kita aturan mainnya. Tidak peduli apakah itu susah, berat, atau dalam, itu bukanlah urusannya. Sudah saatnya kita sadar bahwa aturan main yang Tuhan berikan itu good news.
Pertama: Studi kasus tentang Perceraian
Mari kita kembali melanjutkan pembahasan kita. Kita masuk dalam studi kasus yang ketiga; setelah pembunuhan, lalu perzinahan, sekarang perceraian. Kita membaca Matius 5:31-32. Ini adalah studi kasus yang paling pendek. Di dalam kitab Matius ada bagian lain yang berbicara mengenai perceraian, yaitu Matius 19. Kita akan melihat pada bagian ini Tuhan Yesus berbicara lebih panjang mengenai perceraian. Kita buka Matius 19:1-12.
Saudara, kita mulai dengan disclaimer dulu. Dari tadi kita bicara mengenai aturan main atau manual adalah good news. Kita mungkin berpikir, “Ya, saya setuju, Pak. Bagian-bagian seperti perikop hari ini menarik karena kita bisa mendapat aturan main kapan bisa menceraikan istri saya. Kapan saya bisa mendapat garis yang jelas untuk melegalkan perceraian di mata Yesus.” Kalau saudara datang kepada Alkitab dengan mencari hal seperti itu — disclaimer saja dari depan — saudara akan kecewa hari ini. Kerajaan surga memang memberikan kita aturan main dari Allah, tapi sekali lagi, kerajaan surga itu aturan mainnya adalah aturan main yang fokusnya terkait dengan wisdom. Wisdom itu terutama tidak berurusan dengan pertanyaan boleh atau tidak boleh. Saudara tidak akan menemukan itu di sini. Begitu engkau berusaha untuk menyaring perkataan Tuhan Yesus menjadi urusan mengenai apa yang boleh, apa yang tidak boleh, maka saudara akan masuk perangkap kebodohan manusia.
Saya seharusnya tidak perlu menjelaskan hal ini lagi, karena kita di sini sudah cukup banyak yang punya pengalaman menghadapi anak-anak kita. Anak-anak kita bertanya, “Papa, aku boleh makan kue ini atau enggak?” Dan kita semua sudah tahu, jawabannya tidak pernah sesederhana iya atau tidak. Kue bukan racun. Jadi boleh, silakan. Kan enggak bisa, Saudara. Yang namanya wisdom adalah lebih dari sekedar itu. Wisdom tidak pernah cuma bertanya boleh atau tidak boleh. Wisdom bertanya kapan. Wisdom bertanya dalam situasi apa, seberapa sering, sebenarnya ini membangun apa dalam kehidupanmu, habit apa yang dihasilkan oleh hal ini. Ini sesuatu yang akhirnya menghidupkanmu atau mematikanmu. Ini sesuatu yang kau gunakan atau akhirnya justru menggunakanmu, dan seterusnya. Itu sebabnya Paulus juga mengatakan bukan soal apa yang boleh atau tidak boleh. Segala sesuatu diperbolehkan tapi tidak semuanya membangun. Nah, ini pertanyaan wisdom, Saudara. Sewaktu kita datang kepada Tuhan dan datang kepada Alkitab — udahlah Saudara, grow up! — jangan terus-menerus bertanya model pertanyaan yang sama dan expecting model jawaban yang sama juga: boleh atau tidak boleh.
Mengapa bagian ini tidak untuk dipakai menjadi bagian boleh atau tidak boleh? Ada beberapa alasannya. Pertama, Yesus tidak pernah memberikan kepada kita suatu blok pengajaran komprehensif mengenai etika perceraian. Kalau Yesus pernah memberikan itu, saudara mungkin boleh coba cari di situ tentang kriteria standarnya sudah terpenuhi berapa, centang berapa dari berapa. Namun, kita tidak pernah menemukan itu, Saudara. Yesus tidak pernah memberikan itu. Alkitab juga tidak pernah memberikan itu. Saudara bisa melihat itu jelas. Ketika saudara membandingkan perkataan Yesus dengan hukum modern mengenai perceraian, saya ambil dua contoh: (1) Hukum Amerika mengenai mengenai perceraian itu sampai ada 20 divisi, karena urusannya pelik. Ada bagian mengenai pernikahannya itu sendiri, ada yang berurusan dengan perceraiannya, ada urusan hak asuh anaknya, ada urusan kewajiban terhadap mantan pasangannya, dua pihak masing-masing apa kewajibannya, dan seterusnya sampai 20 divisi. Perceraian memang urusan yang pelik sekali, kompleks. (2) Kalau di Indonesia, saudara tahu ada UU 1974 nomor 1 mengenai pernikahan. Di dalamnya membahas 67 artikel mengenai pernikahan dan perceraian. Ada sebanyak itu karena memang urusan pernikahan dan perceraian itu pelik. Banyak sekali hal yang harus diurus.
Jadi kalau saudara melihat, baik Yesus dan dalam seluruh Alkitab, itu sesungguhnya bicara sangat sedikit mengenai perceraian. Faktanya, di bagian ini saudara akan tahu nanti di Matius 19 para orang Farisi mencobai Yesus dengan mengambil dari kitab Ulangan. Kalau saudara kembali ke Taurat itu sendiri, dari 613 total — pembagian orang-orang Yahudi mengenai hukum Tuhan 613 total perintah — menurutmu ada berapa yang bicara mengenai perceraian? Hanya dua tempat, dua dari seluruh 613. Kalau memang maksudnya perintah-perintah ini adalah untuk menjadi kriteria standar mengenai apa yang boleh atau tidak boleh perihal perceraian, harusnya mereka tulis lebih banyak. Kesimpulannya, bagian-bagian perceraian seperti ini ketika muncul sepertinya bukan bermaksud untuk menjadi dasar komprehensif A sampai Z mengenai perceraian bagi orang-orang Kristen; mungkin ada tujuan lain di balik itu.
Hal lain yang menarik untuk kita telusuri lebih lanjut adalah konteksnya. Konteks dari Matius 19 ketika orang-orang Farisi itu datang — perhatikan baik-baik di ayat ketiga — mereka datang untuk berbuat apa? Mereka datang untuk mencobai Yesus. Mereka bukan datang dengan niat untuk belajar. Oleh sebab itu saudara harus belajar mengerti jawaban Yesus juga dalam konteks seperti ini. Waktu orang-orang Farisi datang kepada Yesus, mereka bukan sedang bertanya pertanyaan terbuka agar Yesus mengajar mereka A sampai Z mengenai perceraian. Tidak, Saudara. Saudara lihat konteksnya orang banyak berbondong mengikuti Yesus. Lalu orang-orang Farisi ini nakal, seperti banyak wartawan pada hari ini dalam press conference. Mereka tidak tertarik untuk mempelajari sesuatu. Mereka hanya ingin membuat heboh saja. Mereka melempar pertanyaan-pertanyaan isu kekinian yang mereka tahu akan menghasilkan headline besar. Saudara bisa lihat itulah yang terjadi dalam kejadian ini. Misalnya ada politikus yang punya banyak masa besar, lalu ada wartawan gatal yang perlu headline gede untuk membuat koran besok atau buat website-nya atau buat kontennya di sosmed. Mereka bertanya kepada politikus-politikus yang mungkin sedang naik daun, mereka datang dan langsung bertanya pertanyaan-pertanyaan menjebak, seperti contohnya, “Pak, Bapak posisinya apa, mengenai kasus penyiraman air keras Bapak X?“ Saudara tahu pertanyaan seperti ini bukan untuk benar-benar belajar kebenarannya. Itu pertanyaan dengan nuansa menjebak. Apa pun jawaban yang keluar akan terjadi pengutupan, polarisasi. Saudara akan terlihat membela salah satu pihak, entah saudara membela pihak A, atau saudara membela pihak B. Sudah, basically gitu aja kan ya, karena yang bertanya tidak peduli dengan kebenaran. Mereka simply butuh headline, mereka simply butuh konten. Saudara lihat, inilah kira-kira nuansa yang sedang terjadi ketika orang-orang Farisi datang kepada Yesus. Kita tahu ini karena waktu mereka mereka bertanya seperti itu di ayat 3, “Apakah diperbolehkan orang menceraikan istrinya dengan alasan apa saja?” Ini bukanlah posisinya orang Farisi, melainkan salah satu posisi dalam perdebatan mengenai perceraian yang sudah berlangsung begitu lama di antara orang-orang Yahudi.
Dalam Ulangan 24:1 dikatakan Musa memberikan hukum di mana seorang suami menceraikan istrinya karena ia menemukan sesuatu — LAI menerjemahkan — tidak senonoh pada istrinya. Jadi ketika suami ini menemukan suatu yang tidak senonoh pada istrinya, maka dia boleh menceraikannya, membuat surat cerai. Ini diperdebatkan habis-habisan oleh para rabi sepanjang zaman orang-orang Yahudi. Sebenarnya apa maksudnya tidak senonoh itu? Dalam bahasa aslinya benar-benar ambigu. Erwat dabar (עֶרְוַת דָּבָר) itu bisa berarti apa saja. Erwat berarti ketelanjangan. Dabar itu berarti sesuatu. Jadi kalau suami menemukan sesuatu yang telanjang pada istrinya, kita tidak tahu apakah maksudnya telanjang beneran atau maksudnya sesuatu yang terungkap, terbongkar, menjadi nyata, telanjang gitu kan ya. Orang-orang tidak tahu. Jadi di dalam tradisi orang Yahudi sendiri itu ada beberapa school of thought. Misalnya, Rabbi Shammai mengatakan ketelanjangan itu maksudnya adalah ketika istrinya dipergokin sedang telanjang dengan orang lain, sedang berzinah. Cuma itu alasan yang Musa berikan untuk orang bisa menceraikan istrinya. Itu posisi Rabbi Shammai. Namun, ada Rabbi Hillel yang mengatakan bahwa ini artinya bisa apa saja. Pokoknya ada satu kesalahan yang istrinya lakukan, bisa apa saja, misalnya si istri menggosongkan sarapan si suami, itu pun boleh menjadi alasan. Lebih parah lagi, Rabbi Akiva mengatakan bahkan termasuk kalau si istri tidak berbuat salah pun tetapi si suami itu ketemu orang lebih cantik yang dia lebih sukai, maka ini pun bisa menjadi dasar untuk bercerai. Jadi saudara tahu di antara orang-orang Yahudi pun ternyata sudah ada perdebatan seperti ini terus-menerus. Setiap aliran punya pendukungnya masing-masing. Mereka kerjanya debat terus.
Di tengah-tengah perdebatan seperti inilah orang-orang Farisi itu datang kepada Yesus, “Ayo, Sus, jawab. Menurutmu apa posisimu terhadap penyiraman air keras terhadap Bapak X?” Saudara mengerti, kan ya? Sudah ada existing debatnya, Saudara. Ini hint pertama untuk kita mengerti bagian ini secara lebih tepat. Orang-orang ini tidak sedang bertanya kepada Yesus mengenai pernikahan dan perceraian secara umum. Mereka bukan mau belajar. Mereka sedang mau menarik Yesus tenggelam ke dalam perdebatan yang sudah berlangsung lama mengenai istilah-istilah dalam hukum Taurat. Kalau misalnya inilah agenda mereka, maka saudara mesti sadar ketika Yesus meresponi mereka, berarti juga mungkin bukan sedang memberikan kepada kita pengajaran komprehensif mengenai perceraian. Melalui interaksi ini, saudara bisa sadar suatu hal. Ada pihak yang senantiasa memaksa Yesus. “Ayo Sus, ayo just solve this dong buat kita. Selesaikan urusan ini dong. Yang benar tuh yang mana, Sus? A atau B gitu loh ya. Make it simple, please. Udah banyak orang ngomong A, udah banyak orang ngomong B, ada yang bakal ngomong C. Yang mana yang benar? Tolong dong tarik garis supaya kami ini bisa selesai nih once and for all. Kami bisa move on.” Kalau itu yang terjadi, berarti kita datang kepada Yesus dengan agenda kita. Kita jangan datang dengan sikap seperti ini kepada Yesus. Itu adalah persis seperti orang-orang Farisi yang datang untuk mencobai Yesus. Kalau kita datang kepada Yesus, kita sepantasnya datang untuk benar-benar mendengar apa yang Dia mau katakan, bukan simply pushing Dia untuk menyelesaikan agenda kita. Oleh karena itu, tidak mengherankan ketika Yesus meresponi orang-orang seperti ini, jawaban Yesus tidak pernah sekedar A atau B. Jawaban Yesus mengajak kita untuk go beyond (melampaui) urusan boleh atau tidak boleh. Jawaban Yesus itu terutama untuk mengajak kita masuk ke dalam level wisdom, bukan sekedar apa yang boleh atau tidak boleh, tetapi apa yang wise (bijak) dan apa yang tidak wise. Dengan demikian, Yesus secara tipikal meresponi dengan mengajak orang-orang ini kembali ke Alkitab. Bagaimana Yesus mengajak mereka untuk kembali ke Alkitab? Orang-orang Farisi ini mendasarkan argumen mereka atas perkataan Musa mengenai perceraian, maka Yesus menimpali meraka dengan mengajak mereka langsung melihat perkataan Allah mengenai pernikahan.
Kedua: Desain Allah bagi Pernikahan
Kita kembali ke Alkitab. Kita melihat dulu desain Allah bagi pernikahan. Kita sudah menghabiskan 2 minggu mengenai ini, tapi masih ada yang kita bisa katakan mengenai hal itu. Apa desain awal dan esensi dari pernikahan? Yesus mengutip Kejadian 2 dan kita melihat itu di Matius19:4-6. Apa yang Tuhan Yesus sedang mau lakukan di sini, Saudara? Kita sudah ngomong berkali-kali dalam khotbah-khotbah yang kemarin, bagaimana persatuan dalam pernikahan itu adalah persatuan covenantal. Relasi covenant itu apa? Relasi yang sangat mengikat, lebih terikat daripada sekadar kontrak legal, tapi juga lebih personal, lebih intim dibandingkan sekedar relasi emosional.
Dasar Alkitab yang lain untuk hal ini misalnya adalah ketika saudara membaca Yehezkiel 16 ketika Allah sendiri mengatakan Dia mau menikahi Israel, Dia mau mengambil Israel sebagai istri-Nya, Dia melambangkan tindakan ini dengan apa, Saudara? Dia mengatakan di Yeh 16:8c (TB2), “Dengan sumpah Aku mengadakan perjanjian dengan engkau, demikianlah firman Tuhan ALLAH, dan dengan itu engkau menjadi milik-Ku.” Covenant. Dengan janji Aku mengadakan covenant denganmu. Apa itu esensi pernikahan dalam Alkitab? Ini yang kita belum sentuh dalam dua khotbah kemarin. Esensi pernikahan Alkitab adalah janji, covenant. Janji, bukan cinta. Masih banyak orang Kristen yang ngawur dalam hal ini. Esensi, dasar, apa yang membuat pernikahan jadi pernikahan dalam Alkitab itu adalah janjinya, bukan cintanya, dan sudah pasti bukan urusan punya anak. Kalau soal punya anak, maka kelinci jauh lebih jago daripada kita, tapi kan kelinci tidak menikah. Jadi, berarti itu bukan dasar atau esensi pernikahan. “Yang bikin kita menikah itu cinta, Pak.” Tidak, Saudara. Anjingmu itu bisa cinta mati sama engkau. Cinta mati, literally. Kita sudah dengar berkali-kali banyak cerita anjing-anjing yang sebegitu setianya, mereka mau mati demi tuan mereka. Sebegitu cintanya mereka kepadamu, cinta mati, tapi engkau tidak lanjut serta-merta menikah dengan mereka, kan? Jadi sekali lagi saudara bisa melihat esensi pernikahan bagi Alkitab bukanlah cinta, bukan juga urusan punya anak. Yang menjadi esensi pernikahan adalah janji, covenant.
Ini langsung aplikatif. Dalam pernikahan Kristen saudara tidak ada yang membuat janji sendiri. Kalau di Indonesia tidak terlalu ada sebenarnya. Kita sih ada semacam keinginan untuk membuat pernikahan kita itu gue banget, ekspresi diriku. Jadi ada hal-hal dalam pernikahan yang kita atur sedemikian rupa supaya mencerminkan diriku banget; dari makanannya, musik-musik yang dipakai, dan segala macamnya. Kalau orang-orang bule itu biasanya salah satu yang mereka ubah adalah janjinya. Mereka membuat janji nikah custom. Kalau di Indonesia sepertinya tidak terlalu ada, mungkin karena orang-orang kita tidak terlalu sastrawi, tidak terlalu merasa jago untuk membuat hal semacam itu. Salah satu contoh yang saya benar-benar pernah tahu secara jelas adalah — memalukan sekali — teman sekamar saya waktu di STT dulu, calon hamba Tuhan juga, dan dia ingin membuat janjinya sendiri waktu dia menikah. Orang ini tidak mengerti apa itu pernikahan.
Waktu saudara itu membuat janji custom-mu sendiri. baik itu dalam gereja atau di luar gereja, coba saudara cermati isinya. Menarik. Isinya biasanya mengenai dua hal, perasaan dan mengenai masa sekarang. Jadi isi janji nikah custom ini adalah aku sangat mencintaimu, aku sangat menginginkanmu “dalam kurung sekarang”. Itu perasaanku hari ini, maka dari itu kita menikah. Namun, janji itu tidak pernah urusan perasaan. Itu pertama. Janji adalah sesuatu yang kita tepati. Tidak peduli perasaan ingin berkata apa. Jadi janji bukan urusan perasaan. Kedua, janji itu tidak pernah urusan masa sekarang. Janji itu selalu adalah mengenai masa depan.
Menikah dengan seseorang, ketika itu berdasarkan janji, artinya menikah bukanlah urusan deklarasi cintamu bagi dia hari ini. Tidak. Itu tidak penting. Pernikahan Kristen adalah engkau menjanjikan cinta seperti itu bagi dia di masa depan. Itu pernikahan Kristen. Covenant pernikahan itu bisa saudara lihat dalam janji nikah. Janji nikah orang-orang Kristen — paling tidak dalam janji nikah di gereja ini, kita tidak memberikan ijin orang custom, harus ambil dari kita — tidak ada kalimat mengenai perasaanmu hari ini. Saudara tidak akan ketemukan itu. Tidak ada. Sungguh, tidak ada. Covenant pernikahan itu semua berurusan dengan masa depan. “Aku berjanji akan… akan… senantiasa.. senantiasa..” Tidak peduli kondisimu ataupun kondisiku. Itu covenant, itu esensi pernikahan Kristen.
Inilah yang Yesus sedang ajak kita untuk menyadari. Kita datang kepada definisi Allah sendiri, manual dari Allah, desain asli Allah mengenai pernikahan. Pernikahan itu esensinya janji. Itu sebabnya pernikahan by default, setting-nya permanen, sampai mati. Janji itu enggak worth it, Saudara, ya, kalau bukan mengenai masa depan. Janji itu bukan janji kalau itu cuma masa sekarang.
Ada yang bagus banget yang mengatakan seperti ini, Saudara. Hidup kita kan seringkiali dikuasai oleh masa lalu. Bagaimana agar tidak dikuasai oleh masa lalu? Bagaimana agar kita bisa hidup mengambil alih kendali atas masa lalu kita? Jalannya adalah dengan pengampunan. Saudara harus bisa mengampuni orang lain. Saudara harus bisa mengampuni dirimu sendiri. Menarik ya. Terbaliknya juga sama. Kalau engkau ingin mengambil alih kehidupanmu tidak diombang-ambing oleh masa depan, apa caranya? Janji, promise. Saudara bisa lihat ini, kan ya? Janji itu cara kita untuk membebaskan diri kita dari ombang-ambingan masa depan. Karena whatever happens, whatever I feel, aku di sini, aku di sini, aku akan tetap di sini.
Saudara bisa lihat yang namanya pernikahan jikalau memang by default setting adalah seperti itu, itu mengindikasikan permanensi. Pernikahan itu adalah persatuan yang melampaui waktu, karena esensi pernikahan adalah janji. Sejak awal, natur persatuan pernikahan itu bukan cuma mempersatukan alat kelamin, juga bukan cuma mempersatukan dompet, bukan cuma mempersatukan emosi, bukan cuma mempersatukan perasaan dan seterusnya, tapi persatuan dalam hal waktu. Dua orang disatukan begitu rupa sehingga masa depan mereka pun terikat jadi satu.
Pada awalnya, pernikahan itu tidak bisa ada ruang bagi perceraian. Jangankan perceraian, untuk celah perceraian seperti prenuptial agreement, janji pisah harta dan segala macam, tidak ada! Ketika saudara melakukan itu dari awal, saudara lebih baik tidak usah menikah. Itu sabotase! Oleh karena esensi pernikahan Kristen bukan perasaan. Esensi pernikahan Kristen bukan punya anak. Esensi pernikahan Kristen adalah janji. Janji mengindikasikan masa depan. Itu! Sampai segitunya persatuan dalam sebuah covenant pernikahan! Itu yang Yesus mau ajak kita untuk melihat.
Inilah sebabnya pernikahan itu bisa punya kuasa. Inilah alasannya relasi pernikahan itu diprioritaskan di atas semua relasi yang lain. Saudara perhatikan, manusia pertama yang Tuhan ciptakan dan taruh di Taman Eden bukan orang tua dan anak. Bukan, Saudara. Manusia pertama itu suami dan istri. Ini prioritas. Kalau itu belum jelas, maka Tuhan Yesus juga mengutip “Pria akan meninggalkan ayah dan ibunya dan bersatu dengan istrinya”. Relasi pernikahan itu prioritas di atas relasi orang tua dan anak. Saudara tahu mengapa relasi ini diprioritaskan? Ada banyak alasan. Kita tidak bisa bahas satu-satu. Salah satunya adalah karena kuasanya. Kuasanya itu besar, Saudara. Kuasanya itu paling besar.
Kita ambil satu contoh. Pernikahan itu punya kuasa yang begitu besar, sampai pernikahan itu bisa membentuk ulang self-image dirimu. Self-image-mu selama ini dari mana? Bagaimana engkau memandang dirimu? Bagaimana engkau menganggap dirimu? Siapa dirimu selama ini? Paling gampang mungkin kita bilang dari seberapa saudara selama ini sukses atau gagal. Nah, itu kan sangat mempengaruhi ya, dan mungkin bagian kegagalan itu lebih berpengaruh. Selain itu, salah satu porsi yang besar dalam pembentukan self-image kita adalah dari hasil bertahun-tahun, akumulasi sedikit demi sedikit apa yang orang lain katakan mengenai kita, bagaimana orang lain melihat diri kita. Jadi kalau saudara dari kecil senantiasa dianggap bodoh, waktu saudara sudah besar – tidak peduli saudara sudah punya berapa banyak gelar pun — saudara tetap ada feeling deep inside bahwa engkau itu bodoh. Waktu engkau melakukan kesalahan, kau langsung bereaksi “bodoh banget gua!” karena engkau dari kecil dibilang bodoh. Itu bagian dari self-image yang menjadi bagasi yang susah sekali dibuang. Kalau saudara dari kecil senantiasa dianggap pintar, maka sewaktu saudara besar saudara gampang merasa confident. Meskipun ketika saudara kemudian masuk ke sekolah unggulan, saudara di situ cuma rata-rata saja, langsung confidence-mu runtuh di sana. Mengapa susah untuk membuang ini? Oleh karena bagasi seperti itu sudah seperti semi permanen, Saudara. Hidup kita itu membawa hal-hal seperti ini. Bagasi yang kita bawa hasil akumulasi bertahun-tahun pendapat orang lain mengenai diri kita. Kita mau keluarkan susah sekali. Kita mau berkata tidak terhadap hal ini susah sekali. Ini sesuatu yang bisa menghantui kita sampai mati.
Gilanya, kuasa pernikahan entah bagaimana mampu menantang ini, bahkan menjungkirbalikkan penilaian seluruh umat manusia ini. Pasangan kita — satu orang itu — punya kuasa di tangannya, di mulutnya, untuk memutarbalikkan seluruh vonis masyarakat dunia selama ini kepadamu. Benar tidak? Misalnya, engkau selama ini selalu dianggap jelek oleh orang lain, tapi suami atau istrimu senantiasa mengatakan kepadamu, engkau pria terganteng yang dia pernah lihat, engkau wanita tercantik yang dia pernah lihat, maka engkau tidak peduli dengan perkataan orang lain. Engkau akan merasa cantik dan ganteng. Tentu saja sebaliknya, kalau selama ini engkau dianggap cantik dan ganteng, tapi suami atau istrimu melihat mukamu saja tidak mau, atau bahkan lebih parah menggunakan mulutnya untuk mengatakan seberapa kita itu jelek di hadapannya — tidak peduli orang lain menganggap kita cantik atau ganteng — kita akan merasa diri jelek. Kuasa pernikahan itu begitu besar. Inilah sebabnya kita bisa melihat bahwa pernikahan adalah relasi yang diprioritaskan. Relasi ini punya kuasa di atas relasi-relasi yang lain. Alasan pernikahan bisa punya power seperti ini adalah karena pernikahan merupakan ciptaan Tuhan, bukan ciptaan manusia.
Orang-orang yang menikah, ada kuasa seperti ini dalam hidupnya. Kalau dia itu dalam hidupnya senantiasa dirundung dengan kelemahan, tapi pernikahannya kuat, dia bisa masuk melangkah ke dalam dunia dengan kekuatan. Sebaliknya walaupun dia punya kuasa di mana-mana, tapi pernikahannya lemah, maka orang ini akan masuk ke dunia dalam kelemahan. Itu pernikahan. Mengapa pernikahan bisa punya power seperti ini, Saudara? Oleh kerena ikatan persatuan yang terjadi dalam pernikahan itu sebegitu eratnya. Bukan cuma urusan alat kelamin, bukan cuma urusan tubuh, bukan cuma urusan jiwa, namun urusan waktu, urusan masa depan pun itu diikat dalam pernikahan.
Saudara bisa lihat inilah sebabnya Yesus mengajak kita untuk kembali kepada ideal Eden mengenai pernikahan. Yesus ingin memperlihatkan ini. Ikatan pernikahan pada awalnya merupakan sesuatu yang didesain secara permanen by default. Inilah ikatan yang harusnya bertahan sampai mati, maka efeknya itu persatuan yang begitu terikat erat, prioritas di atas semua relasi yang lain. Dalam lensa yang seperti ini, Saudara, perceraian itu enggak ada ruangnya sama sekali pada awalnya. Yang luar biasa adalah baru Yesus menarik kita untuk melihat gambaran seperti ini, kita langsung dapat kebalikannya. Nah, ini namanya wisdom.
Perhatikan orang-orang Farisi bertanya di ayat ke-7. “Oke, Yesus, so pernikahan pada awalnya sebegitu indahnya, sebegitu terikatnya, punya persatuan yang sepermanen itu. Jadi kenapa lalu Musa bisa memerintahkan — lihat pilihan kata-kata mereka di ayat ke-7 — kita untuk memberikan surat cerai ketika kita menceraikan istri kita.” Ini pertanyaan mereka. Jadi saudara bisa bayangkan seperti ini. Ibaratnya seorang anak bertanya kepada orang tuanya, “Papa, itu di situ ada reaktor nuklir tuh radioaktif banget tuh. Boleh enggak aku main di situ kena radiasi?” Papa mamanya akan mengatakan apa, Saudara? Papa mamanya akan mengatakan, “Ya enggaklah, Nak. Hidupmu enggak ada ruang bagi radiasi. Radiasi itu selalu menghancurkan, toksik bagi hidup kita. Radiasi itu membunuh. Sel-selmu ada untuk hidup, bukan untuk mati. Jangan dekat-dekat reaktor nuklir radioaktif seperti itu.” Namun jika situasinya berubah, ketika anak itu misalnya sekarang mengidap kanker stadium 4. Tentu saja radiasi tidak bakal menjadi obat, dalam arti radiasi tidak tiba-tiba dapat menghidupkan sel-sel yang mati. Radiasi tetap akan menghancurkan. Kehadiran sel-sel kanker dalam badanmu tidak membuat radiasi jadi tiba-tiba menyehatkan, enggak kan ya. Walaupun demikian, ternyata dalam situasi kanker stadium 4 seperti itu, radiasi tertentu dalam dosis tertentu bisa menghindarkan hidupmu dari bahaya, bisa mengurangi bahaya yang lebih parah. Wisdom Yesus di sini sepertinya punya dasar logika yang mirip, Saudara.
Yesus pertama-tama mengajak kita untuk kembali ke niat intensi awal orisinal dari pernikahan. Ketika manusia disatukan dalam covenant pernikahan, ada ikatan yang terlalu satu, terlalu erat dan dalam (deep) persatuannya. Oleh karena itu tidak bisa engkau sebagai manusia memisahkan apa yang Tuhan satukan “dalam kurung tanpa bikin berantakan”. Engkau harus menyadari ini. It’s not gonna be clean. Kalau engkau sebagai manusia yang kuasanya sangat terbatas, berusaha untuk merobek apa yang Tuhan rajut satukan begitu erat, itu akan menghasilkan luka yang sangat parah. Sakitnya akan bertahun-tahun. Demikian kehendak Tuhan bagi pernikahan adalah jangan bercerai. Jaga persatuan ini, lanjutkan, perbaiki dalam kasih. Itu posisi yang pertama, Saudara.
Lalu mengapa Musa bisa memerintahkan suami kasih istrinya surat cerai? Mengapa radiasi, kalau radiasi itu jelek, lantas Allah sekarang memerintahkan kita untuk memaparkan diri kita terhadap radiasi? Nah, saudara perhatikan bagaimana Tuhan Yesus menjawab. Tuhan Yesus menjawab, “Dia tidak pernah memerintahkannya.” Musa tidak pernah memerintahkannya. Tuhan tidak pernah memerintahkannya. Musa mengizinkan perceraian oleh karena kekerasan hatimu, oleh karena kanker. Saudara bisa lihat di sini logikanya. Oleh karena hati basically, kekerasan hati yang begitu keras, yang sudah begitu membatu akibat dosa. Karena Tuhan kita itu sedang meresponi suatu situasi umat manusia yang hidup dalam dunia yang jatuh dalam dosa, maka ternyata ada ruang bagi perceraian. Ini wisdom-nya, dalam kacamata seperti ini Tuhan bukan sedang membuka lebar-lebar untuk mempersilakan orang melakukannya. Alasan mengapa ruang dibuka untuk perceraian justru supaya untuk menutup, meminimalisasi kerusakan yang lebih parah.
Kita bisa melihat dengan jelas kerusakan yang lebih parah itu akan datang kepada para wanita jikalau tidak ada ruang untuk mereka itu diceraikan dan dikasih surat cerai. Para wanita pada zaman Musa, Saudara, pada zaman orang Israel kuno, mereka yang tidak mendapat surat cerai, kemungkinan besar mereka hanya bisa menghidupi diri selanjutnya dengan menjadi pelacur atau bahkan lebih buruk dari itu. Dalam masa-masa itu, Saudara, adalah hampir keharusan untuk seorang wanita punya suami untuk bisa hidup. Tanpa surat cerai ini tidak dimungkinkan.
Saudara bisa lihat kira-kira alasan mengapa Musa mengizinkan — bukan memerintahkan, sekali lagi ya mengizinkan — adanya perceraian, kasus stadium 4 kanker. Inilah wisdom-nya bagian ini, Saudara. Dengan kata lain, bagi Yesus perceraian adalah sebuah amputasi. Tidak kurang dari itu. Mungkin bahkan kita harus katakan lebih. Yesus sedang mengajak kita untuk menyadari ini, secara terutama bukan soal boleh atau tidak boleh, tapi sikap hati kita terhadap perceraian. Ini yang Yesus mau bereskan secara terlebih dahulu.
Sejak awal, polanya berlanjut seperti itu. Perihal pembunuhan, bukan urusan pembunuhannya boleh atau tidak boleh, bukan soal bencinya yang tidak boleh, bukan soal marahnya yang tidak boleh, melainkan soal sikap hatimu terhadap orang lain, itu yang penting. Perihal perzinahan, bukan terutama soal seksualnya, melainkan soal fantasi yang digoreng dalam hatimu itu. Itu pola yang kita sudah lihat berkali-kali. Yang penting yang mau dibereskan oleh Tuhan — itu wisdom Tuhan bagi kita pada hari ini — terutama adalah urusan yang internal ini. Saudara tahu inilah problem utama dari perceraian, yaitu masyarakat dalam dunia yang kita hidupi sudah terlalu permisif terhadap perceraian, bukan soal boleh atau tidak bolehnya. Kita hidup dalam dalam masyarakat yang demikian, yaitu bagi seseorang yang ingin bercerai sebaiknya diberi izin, dan jangan dihalang-halangi. Kalau saudara tidak percaya, tunggu saja sampai engkau ingin cerai, maka engkau akan lebih mengenal sikap hatimu.
Pendeta Heru pernah menangani beberapa kali kasus cerai yang berat. Ada beberapa stasenya, katanya. Saya tidak mau membocorkan buat saudara. Kalau saudara mau cerai datang kepada saya, barulah kita bahas. Salah satu cara standar yang Pendeta Heru lakukan saat menangani orang-orang yang ingin bercerai adalah mengajak mereka untuk berjalan selangkah demi selangkah, mengajak mereka mencoba melihat betapa peliknya perceraian itu, membagikan cerita pengalaman orang bercerai, apa saja permasalahan yang ditimbulkan dari dampak satu mengakibatkan dampak yang lain. Tujuannya agar supaya orang yang ingin bercerai memahami bahwa perceraian itu tidak pernah clean. Itu adalah amputasi. Kalau kita mengerti bahwa pernikahan itu adalah persatuan yang begitu dalam, begitu erat, begitu satu sampai bahkan waktumu dengan waktu pasanganmu itu diikat menjadi satu, maka perceraian itu tidak pernah bisa dilihat sama seperti kita melepaskan baju karena rasa gatal atau gerah, lalu menggantinya dengan mengenakan baju lain yang lebih enak, lebih cocok. Perceraian dalam kacamata Yesus adalah sebuah amputasi, seperti potong tanganmu, potong kakimu, bukan seperti lepas baju, Saudara.
Waktu saudara berhadapan dengan urusan amputasi juga sama, urusannya bukan bertanya soal boleh atau tidak boleh. Justru kenyataannya pada saat saudara menghadapi kasus amputasi, saudara tidak akan bertanya pertanyaan itu. Dokter datang, “Pak, ini harus diamputasi.” Saudara tidak akan tanya boleh tidak diamputasi. Saudara akan akan teriak “Masa harus sampai sebegitunya?” Itu yang menjadi reaksimu, Saudara. Itu sikapmu terhadap amputasi. Yesus sedang mau mengajak kita untuk punya sikap yang sama terhadap perceraian. Perceraian adalah last resort. Dokter yang terus-menerus kepada pasiennya memberikan solusi sedikit-sedikit amputasi, ada apa-apa langsung amputasi, izin praktiknya segera dicabut. Sama juga halnya, Saudara, masyarakat yang apa-apa cerai, sedikit-sedikit cerai, perceraian yang menjadi solusi level 1, level 2, level 3, level 4, masyarakat demikian juga izin praktiknya mesti dicabut, sama seperti dokter yang tadi. Perceraian bisa terjadi. Itu yang jelas kita bisa lihat dalam Alkitab. Perceraian memang terjadi dan perceraian itu bisa survive (bertahan hidup). Namun perceraian itu sama radikalnya seperti engkau membuang satu kaki, satu tangan. Pada dasarnya engkau tidak akan merekomendasikan untuk siapa pun untuk melakukannya. Itu jalan terakhir. Ini adalah satu sisi. Di sisi yang lain kalau kita teruskan analogi ini, jikalau perceraian memang adalah amputasi, maka memang bagaimanapun juga dalam dunia yang jatuh dalam dosa, mau tidak mau kita harus mengakui fakta ini bahwa terkadang hal itu diperlukan oleh karena kekerasan hati manusia.
Yesus mengatakan Tuhan ingin pernikahan itu permanen. Permanensi dari pernikahan itulah yang membuat pernikahan itu indah, spesial. Itu yang membuat kita bisa bertumbuh dalam pernikahan. Pernikahan itu bukan sesuatu yang bisa dicopot sambung seenak jidat. Itulah keunikan pernikahan. Namun karena dosa telah masuk ke dalam dunia, ada kondisi-kondisi realita dunia yang kita tidak bisa pungkiri, yaitu terkadang lebih baik terjadi amputasi dibandingkan seluruh tubuhnya itu mati. Yesus memberikan salah satu hal itu dalam bagian ini. Ini adalah apa yang disebut dengan perzinahan. “Siapa yang menceraikan istrinya kecuali karena perzinahan”. Itu salah satu dasar biblika akan perceraian yang kita dapat dari Alkitab. Namun sekali lagi, persisnya apakah itu terjemahan yang benar, kita masih bisa berdebat. Istilah aslinya porneia itu tidak harus dimengerti hanya sebagai perzinahan. Jadi banyak juga perdebatannya. Saya rasa kita tidak perlu menajamkan lebih jelas karena memang ini last resort. Yang kedua, satu hal yang menarik adalah Yesus di sini pun bukan sedang memberikan seluruh daftar alasan komprehensif apa yang bisa menjadi basis bagi perceraian. Tidak.
Sangat menarik di 1 Korintus 7 Paulus mengembangkan hal ini. Paulus mengembangkan dan memberikan satu lagi dasar Alkitabiah mengenai dasar perceraian, yaitu apa yang Paulus sebut sebagai desertion, atau ketika seorang pasangan itu mencampakkan, meninggalkan, abandon, desert pasangannya, tidak mau kembali lagi, tidak mau ketemu lagi, tidak mau have anything to do lagi. Ketika itu terjadi, Paulus mengatakan orang Kristen bebas untuk menikah kembali. Mengapa bisa seperti itu? Sekali lagi, perdebatannya panjang. Kita tidak punya waktu untuk itu. Salah satu argumen yang orang tulis adalah misalnya Luther dan Calvin mengatakan dalam hukum perjanjian lama orang-orang yang berzinah itu dihukum mati, dan orang-orang yang mencampakkan pasangan seperti ini juga dihukum mati, karena mereka melanggar janji covenantal yang pentingnya sama seperti nyawa — yang kita sudah diskusikan kemarin. Jadi kalau misalnya pernikahan itu hanya sampai mati, dalam Perjanjian Lama orang-orang seperti ini dihukum mati, tapi di dalam Perjanjian Baru orang seperti ini tidak dihukum mati. Lalu bagaimana? Argumentasi Luther dan Calvin adalah bahwa di mata Tuhan mereka mati. Dengan demikian pasangan yang ditinggal atau dizinahkan seperti ini, boleh menikah kembali. Jadi ini adalah sesuatu hal yang menyeimbangi.
Ketiga: Nasihat dan Penghiburan
Dua hal yang terakhir. Kita bukan sedang membicarakan secara komprehensif.Jadi tolong jangan jadikan khotbah ini sebagai dasar untuk engkau menentukan mau bercerai atau tidak bercerai. Mohon jangan. Kalau engkau mau bercerai cari waktu untuk kita ngobrol sama-sama.
(1) Saudara, intinya adalah ini wisdom. Ini posisi untuk kita melihat melaluinya, bukan untuk kita pakai menjadi acuan boleh atau tidak boleh. Ketika inilah cara kita melihat mengenai perceraian dan pernikahan, maka satu hal yang pasti adalah kita sebagai gereja — kita itu perlu menyadari kadang-kadang kita itu ada kecenderungan membuat stigma — memberikan stigma bagi orang-orang yang telah bercerai tidak ada tempatnya di dalam Alkitab. Satu hal yang menarik adalah dalam Alkitab Allah sendiri menempatkan Diri-Nya sebagai pihak yang bercerai. Jadi Allah pernah di Yeremia 3:8 mengatakan, “Aku menceraikan Israel.” Ya, karena Israel waktu itu dosanya sudah terlalu parah kan ya, Israel berzinah. Jadi Allah sendiri memanggil Diri-Nya sebagai orang yang bercerai. Jadi, kita sebagai gereja perlu menyadari walaupun kita itu sangat menjunjung tinggi pernikahan, dan kita melihat perceraian hanya sebagai last resort, tapi ini tidak jadi satu alasan untuk kita menstigmatisasi orang-orang yang bercerai di tengah-tengah kita.
(2) Sebagai penutup hari ini adalah bagaimana jikalau ada di antara kita orang-orang yang pernah bercerai, dan mereka sadar sekarang bahwa perceraian mereka tidak didasarkan atas apa yang Alkitabiah, tapi didasarkan misalnya atas dasar egoisme, didasarkan oleh apa yang sebenarnya salah. Bagaimana dengan saya sekarang? Bagaimana dengan hidupku? Saudara kepadamu saya akan mengatakan ini. Jawaban singkatnya, perceraian yang tidak Alkitabiah itu bukanlah dosa yang tidak bisa diampuni. Dalam Alkitab hanya ada satu dosa yang tidak terampuni dan itu adalah menghujat Roh Kudus. That’s it ya. Yang jadi kunci bukanlah apa yang kau lakukan ini akhirnya menguncimu atau tidak menguncimu. Yang perlu ditanyakan adalah setelah engkau melakukan dosa, ada pertobatan atau tidak? Itu selalu yang ditanyakan oleh Alkitab. Bukan dosanya sebesar apa, tapi setelah itu ada pertobatan atau tidak. Dalam Alkitab, saudara lihat ada contohnya, yaitu pernikahan Daud dan Batsyeba. Itu pernikahan paling kacau. Itu pernikahan yang didasarkan atas perzinahan dan pembunuhan. Apakah ada lagi pernikahan di Alkitab yang dasarnya sehancur itu? Jadi itu benar-benar pernikahan yang hancur. Oleh karena kehancuran dosa seperti itulah Allah lalu mencabut nyawa anak mereka yang pertama. Kita lihat jelas ada konsekuensi nyata di situ. Namun setelah Daud mengaku dosanya, setelah Daud bertobat, setelah Allah memberikan konsekuensinya, lalu Allah menguduskan dan memberkati pernikahan tersebut. Melalui pernikahan itu muncullah kehidupan, yaitu Salomo. Dari Salomo keluarlah lini Mesias, lini Yesus Kristus. Kalau saudara ingat seluruh cerita kita mengenai kitab Matius dan bagaimana silsilah Matius itu dihadirkan di pasal pertamanya, saudara tahu bahwa ini bukan cuma kejadian sekali-sekali, ini bukan cuma perkecualian, tapi Allah kita itu memang menunjukkan berkali-kali. Allah mengambil pernikahan-pernikahan yang paling hancur, pelacuran, incest, dan sebagainya, Ia memakai garis-garis ini untuk justru melahirkan Yesus Kristus yang daripada-Nya semua bangsa akan diberkati.
Apa yang sedang ingin dikatakan di sini, Saudara? Jika engkau melakukan dosa, itu keji. Semua orang juga tahu. Namun Tuhan kita itu adalah Tuhan yang sangat senang, sangat pleased untuk bekerja menguduskan, mengambil kembali apa yang dirusakkan oleh orang. Allah kita itu bukan Allah yang mengatakan, “Oke, lu datang dengan segini ya sudah hancur-hancuran, ya udahlah lu sampai mati cuma segitu aja. Udah, ya okelah lu selamat tapi udah cuma segitu aja.” Tidak, Saudara. Tuhan kita itu suka dan ingin memberkati kasus-kasus yang paling parah. Itu sebabnya Dia mengatakan untuk datang kepada-Nya. Tidak ada yang datang kepadanya lalu tertolak binasa di kaki-Nya. Tidak ada. Ya, karena itulah Tuhan kita. Jadi, ini satu kalimat penghiburan bagi kita jikalau kita mengalami hal seperti itu. Mari kita berdoa.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (YL)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading