Kita akan rekap sedikit pembahasan kita sejauh ini, yaitu kedatangan Tuhan Yesus ke dunia bukan hanya untuk naik ke kayu salib. Poin dari seluruh Khotbah di Bukit adalah Tuhan Yesus datang untuk meresmikan Kerajaan Surga di bumi ini. Khotbah di Bukit merupakan semacam manifesto kerajaan tersebut. Itulah sebabnya kita mengatakan berkali-kali bahwa khotbah di bukit bukan sekadar ajaran yang baru, melainkan sebuah kerajaan yang baru. Tuhan Yesus datang sebagai Raja untuk mengeklaim kembali bumi ini dari hasil perbuatan kita manusia berdosa. Selama ini manusia telah salah mengelola dunia ini. Sebagai orang Kristen, ketika Saudara membaca berita hari ini mengenai ISHG anjlok, karhutla yang kelewatan, MBG, dolar naik, dan segala macam, respons kita seharusnya memiliki elemen realisme, seperti mengatakan “Ya emang, apa yang kamu harapan?” Hidup memang hevel (הֶבֶל) seperti yang sudah kita bicarakan di hari ulang tahun yang baru saja berlalu. Melalui sikap hidup yang seperti ini, barulah kita dapat bersukacita. Sewaktu ekspektasi kita seharusnya tidak setinggi itu, kita menyadari ternyata Tuhan masih menjaga kita, kita masih bisa survive, masih bisa makan, masih bisa sekolah, masih bisa bekerja, masih bisa bergereja, masih bisa bermain, dan masih banyak lagi yang lain. Ekspektasi kita terhadap dunia yang jatuh dalam dosa adalah ekspektasi yang seharusnya realistis.
Kita sering kali berpikir bahwa orang realistis adalah orang bertipe sinis. Tidak, Saudara. Orang sinis atau orang nyinyir justru disebabkan oleh ekspektasi mereka yang tidak realistis. Ketika melihat kehancuran, mereka nyinyir karena ekspektasi mereka lebih tinggi dari kenyataan. Ketika melihat kebaikan, mereka juga tidak bersyukur karena mereka merasa memang demikianlah yang seharusnya, mereka memberikan respons terhadap kebaikan dengan sikap “Masa gua harus bilang wow”. Sebaliknya, orang yang realistis hidupnya justru banyak sukacita. Ketika melihat kehancuran, dia tidak kecewa. Dia sudah mengantisipasinya dan memberikan respons, “Apa yang kau harapkan? Ini dunia yang sudah jatuh dalam dosa.” Sewaktu dia melihat kebaikan, dia bersyukur karena kebaikan selalu melampaui ekspektasinya. Itulah orang yang realistis, hidupnya bersukacita.
Manusia telah salah mengelola dunia ini. Kabar baik Kerajaan Surga adalah Allah mengeklaim kembali dunia ini lewat Yesus Kristus. Diumpamakan sebuah restoran yang dulu bagus dan masakannya enak. Restoran tersebut kemudian dikelola oleh managemen yang berbeda. Bos yang sekarang mengelolanya mulai hancur, kondisi restorannya kotor dan makanannya tidak enak. Suatu hari Saudara lewat di depan restoran tersebut dan melihat ada pelang renovasi “Under New Management”. Saudara mendengar restoran ini ternyata dibeli kembali oleh pemilik awalnya. Ini good news, bukan? Ketika Allah melihat dunia yang dikelola secara salah, Dia tidak mengatakan “Bakar restoran itu!” Allah bukan sekedar membebaskan, bukan sekedar membeli restoran tersebut lalu ditelantarkan, tetapi Dia juga mengeklaim kembali, dan mengatur kembali. Datangnya aturan baru menjadi good news. Aturan main restoran pada awalnya pernah menghasilkan ruangan yang bersih, staf yang ramah, serta makanan yang enak, sehat, dan menghidupkan. Seperti apakah aturannya? Kita ingin jalankan kembali sekarang, di mana kita dapat menemukan aturannya? Tuhan Yesus memberikannya di dalam Khotbah di Bukit. Restoran yang relasinya, righteousness-nya, melampaui orang-orang Farisi dan pemuka agama.
Khotbah di Bukit ibaratnya miniseri enam episode. Tuhan Yesus menggambarkan seperti apa restoran yang menyehatkan dan menghidupkan. Tanpa membuang-buang waktu, Tuhan Yesus menusuk langsung pada akarnya, yaitu righteousness, mengenai relasi. Tuhan Yesus sedang mengekspos akar permasalahan dari hal-hal yang menyeleweng, yang merusak relasi-relasi kita. Inilah aturan main orisinal restoran Tuhan; yang paling penting bukanlah segarnya bahan makanan, tetapi relasi antar manusia di dalamnya. Righteousness adalah yang utama, yang nomor satu, yang tertinggi; bukan sekedar seberapa oke dirimu di hadapan dirimu sendiri, melainkan seberapa oke dirimu dalam relasimu dengan pihak lain, baik kepada Allah maupun sesama. Apakah Saudara menaruh perhatian di dalam Alkitab, misalnya Sepuluh Hukum Taurat, tidak ada hukum yang melarangmu untuk berdusta? Yang ada dalam Alkitab adalah larangan untuk bersaksi dusta terhadap sesamamu; berkaitan dengan relasi.
Kita sering kali berpikir, “Oh, saya beresin diri saya sendiri dulu, baru relasi saya sama orang lain bisa beres.” Dalam Kerajaan Surga bukan demikian, justru sebaliknya, yang menjadi akar permasalahan adalah relasimu dengan pihak lain, baik dengan Allah maupun dengan sesama manusia. Persoalan relasi harus diperbaiki, maka ini yang akan membereskan dirimu. Contoh sederhana, banyak orang merasa sangat kesulitan untuk berhenti merokok ataupun lepas dari alkohol; bahkan kopi saja bisa membuat kita kecanduan. Walaupun demikian, setiap tahun adalah ratusan ribu bahkan jutaan manusia berhasil melepaskan dirinya dari rokok, alkohol, atau kopi. Mereka adalah para ibu hamil. Apakah mereka adalah orang-orang yang punya tekad kuat atau kehendak diri yang luar biasa kuat? Tidak. Penyebabnya adalah mereka sekarang mempunyai anak, memiliki relasi yang baru. Relasi ini lebih penting dibandingkan rokok atau kopi. Semua perubahan yang genuine sesungguhnya bersifat sosial, relasional. Relasi antar manusia diperbaiki terlebih dahulu, yang lain akan mengikuti.
Saudara jangan pernah berpikir Saudara selesai hanya dengan mendengar khotbah. Itu tidak akan mengubah hidupmu. Saudara tidak hanya butuh khotbah, tetapi Saudara juga butuh gereja untuk bisa berubah. Inilah alasannya Tuhan Yesus membentuk umat yang baru dan memberikan relasi yang baru kepada mereka.
Dalam miniseri enam episode, Tuhan Yesus membahas melalui pola yang kita sudah lihat, “Engkau telah mendengar begini, begini, begini, sekarang begitu, begitu, begitu.” Aturan pemilik lama dan aturan pemilik baru, yang sebenarnya adalah pemilik awalnya. Apa yang Tuhan Yesus katakan tidak bertentangan dengan Taurat yang orisinal, tetapi justru menggenapinya. Tuhan Yesus membahas hal-hal yang paling berbahaya, yang paling merusak dalam relasi manusia. Sejauh ini kita sudah pelajari perihal kemarahan, perzinahan, dan perceraian. Ketika Tuhan Yesus mengambilalih restoran, Dia tidak main-main, Dia langsung menusuk ke akar permasalahannya, yaitu yang menyebabkan restoran kotor dan makanan basi. Saudara menginginkan bos yang seperti ini, yang tahu akar permasalahannya, dan langsung menusuk dengan tepat. Saudara tidak mau bos yang hanya bisa menjadi people pleaser. Tuhan Yesus melakukan ini bagi kita.
Hari ini kita masuk ke dalam isu pembahasan yang keempat, dengan bacaan dari Matius 5:33-37. Salah satu dari enam hal yang paling merusak hidup manusia atau merusak relasi manusia adalah sumpah. Waktu lalu kita membahas kemarahan, perzinahan dan perceraian, kita bisa setuju hal-hal ini yang merusak relasi manusia. Sumpah, apa ini? Kita akan melihat apa problemnya, mengapa kita melakukannya, dan yang terakhir apa solusinya.
Apa Problemnya?
Mengenai sumpah, perintah Tuhan Yesus bukan hanya persoalan yang ada di permukaan. Ada beberapa aliran Kristen yang membacanya demikian, sehingga mereka merasa ayat ini mengatakan orang Kristen tidak boleh membuat sumpah sama sekali. Mereka menjadi orang Kristen yang merepotkan. Ketika mendapatkan jabatan resmi, mereka menolak untuk mengambil sumpah jabatan, dan contoh-contoh lainnya. Bagi Tuhan Yesus, sumpah merupakan urusan yang ada di permukaan saja, bukan target ataupun permasalahan utamanya. Target Tuhan Yesus selalu pada akarnya, apa yang ada di dalam. Dalam Alkitab, banyak orang melakukan sumpah di hadapan Tuhan, bahkan Allah sendiri adalah Allah yang bersumpah. Kejadian 26:3 “… Aku akan menepati sumpah yang telah Kuikrarkan kepada Abraham, ayahmu.” Allah kita adalah Allah yang covenantal, Allah yang mengikat janji sumpah. Dengan demikian, kita tahu problemnya bukan tentang sumpah itu sendiri.
Di ayat 33, Tuhan Yesus mengutip suatu hukum dari Perjanjian Lama, “Kamu telah mendengar pula yang difirmankan kepada nenek moyang kita: Jangan bersumpah palsu, melainkan peganglah sumpahmu kepada Tuhan.” Perkataan itu dikutip dari mana? Ini bukan dikutip dari satu ayat tertentu di Alkitab. Saudara tidak akan menemukannya ketika Saudara mencari kalimat persis seperti itu. Tuhan Yesus menarik bahasa dari berbagai ayat di Alkitab Perjanjian Lama yang berbicara mengenai sumpah. Ada begitu banyak kalimat-kalimat yang melarang orang Israel bersumpah demi nama Tuhan.
Saudara bayangkan senario kehidupan sehari-hari di antara orang-orang Yahudi kuno, misalnya Saudara adalah seorang petani buah kurma. Saudara punya tetangga seorang petani kurma juga, kompetitor – sudah mulai ada ketegangan di sini. Ladangmu dan ladangnya kira-kira sama besar, tetapi entah bagaimana setiap tahun kurma-kurma hasil kebunmu hampir selalu lebih bagus, sehingga tetanggamu – kompetitormu – memiliki hubungan yang kurang enak denganmu. Ketika pagi hari Saudara berpapasan dengannya, dia terlihat jengkel atau bahkan iri terhadapmu. Hal ini berjalan selama bertahun-tahun. Suatu hari keledai tetanggamu hilang. Keledai ini adalah keledai yang paling dia sayangi, yang paling dia andalkan untuk menarik gerobak kurmanya. Dia sedih, marah, dan bingung atas apa yang terjadi. Oleh karena dia tidak suka denganmu, dia yakin sekali engkaulah yang mencuri keledainya. Dia mengadu kepada tua-tua di kotamu, lalu menuduhmu mencuri keledainya. Dia mengaku dia melihat engkau mencuri keledainya. Sebagai jurus pamungkasnya, dia bersumpah di hadapan tua-tua kota itu, ”Aku bersumpah di hadapanmu, hai, Para Tua-Tua. Aku bersumpah atas nama Allah Yahweh yang hidup. Aku bersumpah atas segala yang kudus di Yerusalem bahwa dialah yang mencuri keledaiku!” Mengapa tetanggamu harus bicara seperti itu? Apa yang menjadi tujuannya? Dia tidak bisa sekedar berbicara, “Pak Tua-Tua, kayaknya tetanggaku mencuri keledaiku nih. Boleh enggak tolong diselidiki?” Mengapa dia tidak bisa bicara sesederhana itu? Mengapa dia harus menyeret-nyeret Tuhan ikut masuk dalam urusan ini? Nama Tuhan itu kudus, benar, dan sejati. Ketika dia mengasosiasikan Allah yang demikian ke dalam kalimat-kalimatnya, dia sedang membuat hype terhadap pernyataannya dengan tujuan untuk membuat klaimnya terdengar lebih serius. Para tua-tua kota tersebut mulai menyelidiki perkaranya. Hasil penyelidikan itu menyatakan bahwa Saudara bukan orang yang mengambil keledainya. Saudaranya sendiri yang mengambil keledai itu, tetapi lupa meminta izin ataupun memberitahunya. Akhirnya terbongkarlah semua tuduhan itu hanya disebabkan oleh perasaan insecurity saja. Tentu saja bagi para tua-tua kota, kasus ini tidak bisa selesai sampai di sini saja karena tetanggamu telah bersumpah palsu atas nama Tuhan; melanggar perintah ketiga, yaitu memakai nama Tuhan dengan sembarangan.
Sekarang Saudara menyadari alasan di Israel memiliki hukum yang melarang hal seperti ini, Perintah Ketiga. Selain dari itu, banyak perintah-perintah yang lain seperti Imamat 19:12, “Janganlah kamu bersumpah dusta demi nama-Ku, supaya engkau jangan melanggar kekudusan nama Allahmu; Akulah TUHAN.” Tuhan Yesus menarik bahasan dari peraturan-peraturan seperti itu. Saat perintah-perintah ini keluar, orang-orang Israel berhenti menggunakan nama Yahweh ketika mereka bersumpah. Kita fast forward beberapa ratus tahun setelahnya, kita masuk ke dalam zaman Yesus Kristus. Pada zaman Yesus, mereka sudah mempunyai sistem alternatif dalam bersumpah. Mereka tidak bersumpah atas nama Yahweh, tetapi mereka boleh bersumpah atas hal-hal lain yang memiliki asosiasi dekat dengan Yahweh, misalnya bersumpah demi langit, demi bumi, demi Yerusalem dan seterusnya.
Perihal sumpah ini tidak hanya muncul di Matius 5, tetapi muncul kembali di Matius 23. Dalam Matius 23 kita mendapat contoh lainnya, skenario Tuhan Yesus mengatakan, “Hei, kamu ya, kamu ini ya bersumpah atas Bait Suci, tetapi ketika kamu kedapatan bersumpah palsu, kamu berdalih, ‘Oh, untung aku enggak bersumpah atas emas yang ada dalam bait suci. Nah, aku aman.’ Kamu bersumpah atas altar mesbah Tuhan, tetapi sewaktu kamu terbukti bohong, kamu berdalih dengan mengatakan, ‘Oh, untung aku enggak bersumpah atas persembahan yang ada di atas mesbah tersebut. Jadi aku aman kan ya.’ ” Saudara tentunya tahu ini adalah salah satu momen Tuhan Yesus marah terhadap mereka, “Kamu itu ya, sudah buta, bodoh pula.” Apakah Saudara sudah mulai menangkap apa yang menjadi isu sentral di balik urusan sumpah ini? Akar yang Tuhan Yesus sedang hantam di sini adalah kecenderungan manusia untuk menggunakan kata-kata demi mengubah persepsi orang lain terhadap kita. Ini yang sungguh-sungguh membuat restoran kotor dan makanan basi; yang paling menghancurkan relasi manusia hidup di atas bumi ini. Dengan kata lain, Tuhan Yesus sedang menghardik dosa pencitraan.
Mengapa Kita Melakukannya?
Dalam pembahasan Khotbah di Bukit, Dallas Willard menyimpulkan demikian: Akar permasalahan yang Yesus sedang serang di sini bukan mengenai sumpahnya, melainkan esensi dari alasan orang bersumpah. Kita merujuk kepada sesuatu, misalnya kepada Allah, untuk membuat kata-kata kita terkesan lebih berbobot, lebih serius, lebih real dibandingkan aslinya. Tujuannya adalah untuk memanipulasi orang lain agar engkau mendapatkan apa yang engkau mau. Dallas Willard bahkan menggunakan istilah “cara untuk memproses orang lain, merasuki jiwa orang lain”. Seperti setan, merasuki jiwa orang lain supaya mereka menjalankan tujuanmu, kepentinganmu, agendamu. Dengan kata lain, ini adalah sebuah cara untuk memperalat.
Mendengar semua ini, apakah respons Saudara? Mungkin beberapa di antara kita mengatakan, “Huh, enggak boleh kayak gitu.” Namun saya curiga, pada zaman ini banyak dari kita mengatakan dalam hati, “Pak, zaman sekarang siapa yang enggak kayak gitu?” Siapa yang tidak seperti itu? Tepat, Saudara. Kita hidup di zaman di mana kita bukan hanya menjadi korban pencitraan, tetapi kita juga para pelaku pencitraan secara rutin. Paling mudah Saudara bisa melihat kehidupan online-mu, seberapa banyak engkau memperlihatkan persona online-mu seperti singa yang mengaum-ngaum, padahal dalam kehidupan nyata engkau hanyalah domba kelu yang penakut.
Saya pernah menonton satu video interview Keanu Reeves, seorang aktor terkenal film Matrix. Beberapa tahun yang lalu dia merilis film Matrix yang keempat. Jarak antara film yang keempat dengan tiga prekuel film sebelumnya cukup jauh. Keanu Reeves bercerita suatu ketika dia sedang makan malam dengan temannya, seorang sutradara. Sutradara ini mempunyai tiga anak remaja yang masih berumur belasan. Ini berarti mereka lahir di zaman paska film Matrix, sehingga mereka tidak pernah menonton film matrix. Peristiwa makan malam itu terjadi ketika film Matrix keempat keluar dan sedang dalam masa promosi. Si sutradara itu meminta Keanu Reeves, “Ayo lu ceritain ke anak gua biar mereka tahu itu film bagus. Apa sih ceritanya film matrix itu? Biar mereka tertarik, biar mereka nonton gitu.” Keanu Reeves kemudian bercerita ke anak-anak remaja itu, “Ya, jadi gini ceritanya, dalam film Matrix yang pertama ada seseorang yang hidup di dalam dunia virtual. Lalu dia baru sadar di luar sana ada dunia yang real, maka dia mulai bingung apa yang real dan apa yang virtual. Lalu dia berusaha untuk mencari kembali keluar ke dunia yang real.” Sewaktu Keanu Reeves menceritakan itu, salah satu anak remaja itu bertanya dengan bingung, “Why?” Anak ini usianya belasan, bukan anak kecil umur tiga tahun. Keanu Reeves bingung, “Maksud lu apa? Why? Ya, of course karena dia kepingin masuk ke dalam dunia yang nyata dong. Dia merasa reality itu penting, kan?” Lalu anak ini menjawab, “Ya why? Who cares? Siapa yang peduli kalau itu real? Emang kenapa kalau itu enggak real?” Keanu Reeves kaget mendengar respons anak ini. Dia langsung sadar, “Gila, benar-benar matrix ketinggalan zaman. Emang jaraknya udah jauh banget.” Saudara mungkin juga kaget mendengar anak ini, atau mungkin merasa anak ini parah sekali, dan mengatakan, “Gua sih enggak kayak gitu dan hopefully anak-anak gua juga enggak kayak gitu gitu.” Namun, Saudara lihat realitanya pada hari ini, hidup kita memang sudah berbeda sekarang. Dulu slogannya adalah kita harus mencari dan menemukan jati diri kita. Hari ini tidaklah demikian, Saudara tidak lagi mencari atau menemukan jati diri, tetapi Saudara menciptakan jati dirimu sendiri. Engkau perlu menciptakan identitasmu sendiri, personal brand-mu sendiri.
Kita sekarang sudah punya teknologi cukup canggih untuk itu. Ini adalah zaman metaverse – untungnya metaverse yang diluncurkan kemarin sudah bapuk. Sewaktu pemimpin perusahaan sosmed meluncurkan metaverse, dia mengatakan, “Mengapa kita meluncurkan metaverse? Karena ita percaya orang-orang akan lebih menikmati hidup yang virtual dibanding hidup mereka dalam dunia yang real.” Ini adalah zaman di mana headset virtual reality itu sudah menjadi kenyataan, zaman di mana kita sehari-hari menggunakan artificial intelligence. Lebih enak mengobrol dengan artificial intelligence dibandingkan mengobrol dengan manusia nyata. Ini bukanlah kasus para istri yang gemar AI karena suami mereka ampun-ampun dah. Saya sendiri mencoba berdiskusi Alkitab dan teologi dengan AI. Setelah saya selesai diskusi, saya merasa jarang sekali saya bisa berbincang seperti ini dengan manusia nyata. Yang virtual hari ini terkesan lebih nyata dibandingkan dengan yang nyata sesungguhnya. Contoh yang paling gila mungkin adalah phone cleanse, yaitu membersihkan hidup dari semua urusan handphone, membuang apps, uninstall apps, membuang handphone, semua dibuang, lalu didokumentasikan. Setelah dia mendokumentasikan semua pembuangan teknologi, pembuangan gawai, dia lalu mengunggah ke TikTok. Orang yang membuang sosmed lalu menyiarkan hal itu di sosmed.
Kita ambil contoh yang lebih halus dan lebih realistis. Dulu gaya unggah foto di sosmed adalah super filtered, memasang filter 12 lapis, pokoknya yang bagus. Sekarang sudah tidak demikian; trennya lain. Para influencer justru mencoba mengunggah foto-foto yang candid, foto-foto yang tidak berpose, foto-foto yang tidak pakai make up. Alasannya adalah autenticity itu penting. Padahal sesungguhnya semua foto yang diunggah justru sudah dikalkulasi terlebih dahulu untuk menarik perhatian orang. Ini bukan terjadi kepada para influencer saja, tetapi kepada kita juga. Setiap kali kita akan mengunggah sesuatu, kita sedang membuat kalkulasi ini. Sebenarnya autentisitas di sosmed adalah sesuatu yang impossible, tetapi siapa yang perduli. Yang kita inginkan bukanlah autentisitas yang benar-benar autentik. Yang kita inginkan adalah sekedar terlihat seperti orang yang autentik. Siapa yang perduli nyata atau tidak?
Saudara membaca semua yang Tuhan Yesus sedang gambarkan di sini mengenai orang-orang yang merasa aman, “Untung gua cuma bersumpah atas dasar Bait Suci, tapi bukan atas emas yang ada di dalamnya.” Kita tertawa dan mengeleng-gelengkan kepala, “Geblek banget. Siapa sih yang kayak gini gitu?” Bagi Saudara yang tidak menggunakan sosmed, jangan berpikir Saudara terlepas dari problem ini. Saya menggunakan contoh sosmed hanya untuk membuktikan bahwa orang-orang di zaman Tuhan Yesus dan orang-orang di zaman sekarang tidak ada bedanya. Semua umat manusia, di setiap zaman, setiap tipe memiliki caranya masing-masing untuk memperalat orang lain melalui kata-kata dan pencitraan.
Contoh buat kita yang non-sosmed di zaman ini adalah name dropping. Saudara akan lebih bisa mengenalinya dalam diri orang lain. Namun jangan lupa, hal yang kau selalu kenali dalam diri orang lain, biasanya adalah hal yang orang lain kenali juga dalam dirimu. Ketika engkau sedang mengobrol dengan teman-temanmu, ada teman yang sering menyebut nama-nama orang terkenal, nama-nama orang besar, nama-nama orang kaya, nama-nama orang pinter. Contoh lain, ketika engkau ditanya suatu pertanyaan yang engkau sebenarnya tidak tahu jawabannya, tetapi engkau berbicara panjang lebar dan berusaha untuk menjawab, hanya karena engkau ingin orang melihatmu lain dari realita dirimu yang sebenarnya. Ada contoh-contoh lain yang lebih halus:
“Aduh, aku sebenarnya ingin datang, tapi tidak bisa.” Sebenarnya: saya tidak ingin.
“Khotbah Bapak itu terlalu canggih, cuma orang-orang pintar yang mengerti.” Sebenarnya: khotbahnya jelek.
Contoh klasik dalam pernikahan: “Kamu ya, selalu …”, “Kamu ya, tidak pernah …”. Ini melenceng dari realita karena yang kita maksud sebenarnya bukan “selalu” atau “tidak pernah”. Yang kita maksud sebenarnya adalah “Kamu tidak melakukan sebanyak keinginanku.” Itu yang jujur, tetapi kita tidak bicara begitu, kita mengucapkannya “selalu” dan “tidak pernah”. Tentu saja sewaktu kita ucapkan seperti itu, pasangan kita marah karena merasa yang kita ucapkan sama sekali tidak akurat dan tidak adil, “Kami tidak selalu seperti itu. Kami bukan tidak pernah melakukan hal itu.” Alasan kita mengungkapkan seperti itu adalah ingin gebukin pihak sana, bukan ingin mengungkapkan kebenaran. Hal ini bukanlah problem orang-orang pada zaman Tuhan Yesus saja, kita juga orang-orang yang buta dan bodoh.
Ada ekuivalen religius dalam permainan pencitraan seperti ini, bahkan di dalam kekristenan. Contohnya Saudara mengobrol dengan sesama orang Kristen. Mereka mulai menggunakan kosakata rohani yang tidak pernah mereka pakai di luar gereja. Ketika mereka mengambil suatu keputusan, mereka menggunakan embel-embel rohani dengan mengatakan, “Saya sudah mendoakan ini dengan sungguh-sungguh dan saya merasa Tuhan memanggil saya untuk hal ini.” Yang sering saya dengar, “Tetapi Pak, sewaktu saya mengambil keputusan itu, saya sungguh rasa damai sejahtera.” Apakah Saudara tidak memakai kata-kata seperti ini dalam hidupmu? Mungkin Saudara jarang mengobrol dengan pendeta. Suatu hari nanti, sewaktu engkau datang kepada pendeta, coba rekam perkataanmu sendiri. Engkau akan menggunakan kosakata yang tidak biasanya engkau pakai. Tujuanmu memakai kosakata rohani seperti itu adalah untuk mendirikan tembok. Engkau menggunakannya untuk menghentikan percakapan karena engkau tidak mau mendengar input orang lain, tidak mau mendengar pendapat orang lain terhadap keputusan yang telah engkau ambil. Panggilan Tuhan adalah kartu Joker-nya kekristenan. Bapak Stephen Tong pernah mengatakan, jikalau ada pendeta yang datang kepadanya mengatakan, “Pak Tong, Tuhan panggil saya seperti ini.” Pak Tong angkat tangan. Beliau tidak mau bicara apa-apa lagi karena beliau tidak bisa mengatakan apa-apa lagi. Sewaktu orang mengatakan hal seperti itu, mereka tidak mengharapkan input. Tentu saja ada kemungkinan lain – siapa tahu – alasan itu benar-benar genuine, bukan pencitraan. Namun, sering kali itulah cara manusia untuk membuat agenda diri, kepentingan diri menjadi terasa lebih kudus dan suci.
Saya sedang menyerang profesi saya sendiri di sini. Pimpinan gereja memiliki potensi paling bahaya terhadap hal-hal semacam ini. Kami menggunakan bahasa-bahasa seperti ini yang sebenarnya bertujuan untuk meyakinkan diri sendiri bahwa pikiran kami, rencana kami, atau hasil kerja kami sebegitu pentingnya. Kami memperalat Yesus untuk menjadi cat indah bagi tembok-tembok yang kami dirikan karena kami sesungguhnya tidak mau dengar pendapat-pendapatmu.
Apa Efeknya?
Khotbah hari ini bukanlah khotbah di mana Saudara bisa menghela napas lega. Persoalannya mungkin justru lebih mengakar dan lebih meluas dibandingkan kemarahan, perzinahan, dan perceraian. Ini bukan cuma kolam yang luas, tetapi juga kolam yang dalam dan mematikan. Ketika ini terjadi dalam hidup kita, yang menjadi taruhannya adalah kemanusiaan itu sendiri. Ketika kita menghidupi hidup yang manipulatif seperti ini, yang terjadi adalah rusaknya kemanusiaan; komunitas manusia rusak, identitas manusia rusak, dan martabat manusia juga rusak.
(i) Komunitas manusia rusak oleh karena pencitraan dan ketidakjujuran. Saudara bayangkan, suatu masyarakat di mana tidak ada lagi yang bisa percaya dengan janji orang lain. Masyarakat di mana para pemimpinnya adalah para pembohong. Masyarakat di mana setiap guru atau dosen atau profesor adalah pelaku plagiarisme. Masyarakat di mana semua rohaniwannya punya skandal di balik layar. Masyarakat di mana semua kontrak dilanggar. Maukah Saudara hidup di tempat seperti itu? Bisakah Saudara hidup di tempat seperti itu? Hidup di tempat seperti itu adalah hidup yang brutal. Itu bukan masyarakat namanya, tetapi hutan rimba. Setiap kali kita menyiarkan sesuatu yang kita desain melenceng sedikit dari realita, setiap kali kita mengeklaim sesuatu yang tidak sepenuhnya nyata, maka kita sedang menyeret komunitas kita. Kita sedang berkontribusi untuk menarik masyarakat kita semakin jatuh menuju kehidupan hutan rimba.
(ii) Identitas manusia rusak. Siapakah dirimu? Satu-satunya cara untuk engkau bisa menjawab pertanyaan ini adalah dengan menemukan sesuatu yang sejati pada dirimu. Yang sejati dalam dirimu adalah apa yang tidak berubah. Manusia menghidupi banyak sekali peran yang berbeda-beda dalam hidup ini. Jika kita ingin tahu siapa kita, kita perlu mencari sesuatu yang selalu kita lakukan, yang selalu kita percaya, yang selalu kita setia bertahan tidak perduli apapun yang terjadi, barulah Saudara bisa tahu siapa dirimu. Ketika Saudara membaca kesaksian atau cerita hidup orang-orang yang hidupnya runtuh, hancur akibat ketidakjujuran, kebohongan, berkhianat dalam pernikahan, menipu dalam bisnis, atau kecanduan, tetapi mereka berusaha untuk menutup-nutupi realita ini dari mata orang lain, efeknya bukan sekadar perasaan bersalah atau hidup mereka menjadi rusak; efeknya ada dalam kejiwaan mereka dan mengatakan kalimat, “I don’t know who I am anymore.” Saya tidak tahu saya ini sebenarnya siapa. Tidak ada hal yang sama, tidak pernah ada hal yang sejati. Dalam segala situasi mereka hanya memilih apa yang oportunistik, apa yang menguntungkan. Kalau itu bohong, ya bohong. Kalau jujur, ya jujur. Kalau berzinah, ya berzinah. Kalau mengingkari janji, ya mengingkari janji. Orang yang senantiasa melakukan ini, pada akhirnya tidak ada lagi dirinya. Dia tidak tahu lagi siapa dirinya karena memang tidak ada diri yang tersisa, hanya seonggok manusia yang senantiasa dikendalikan dan diombang-ambing oleh situasi. Identitas manusia pun juga rusak.
(iii) Martabat manusia juga dirusak. Ketika Saudara memperalat orang lain, kita menjadikan mereka sebagai alat. Mereka manusia, tetapi kita reduksi mereka menjadi instrumen bagi kepentingan kita. Inilah efek kebohongan. Kebohongan mereduksi manusia menjadi sesuatu yang sub-manusiawi. Contohnya gosip atau ekuivalennya hari ini adalah postingan rage bait, mereduksi manusia menjadi kebencian, iklan mereduksi manusia jadi alat pencetak uang, manipulasi mengubah manusia menjadi objek untuk digunakan.
Kristus dan Gereja
Dalam Matius 5:33 Tuhan Yesus mengatakan kalimat yang menarik, “… peganglah sumpahmu kepada Tuhan.” Kata pegang di sini menarik karena istilah aslinya apodidōmi (ἀποδίδωμι) secara hurufiah berarti membayar. Dalam konsep orang Yunani, orang yang memegang janji itu membayar janjinya. Ini problemnya, kebenaran itu menuntut bayar harga. Kita main pencitraan, kita main kata-kata karena kita sadar jikalau kita menghadirkan apa yang benar, apa yang sejati, ada harga yang kita harus bayar.
Sebagai contoh, kita membagi manusia menjadi dua golongan saja. Memang terlalu reduktif, tetapi lumayan mendukung untuk poin kali ini. Golongan yang pertama adalah apa yang mungkin bisa disebut sebagai approval people, orang-orang yang hidupnya itu mengejar pengakuan. Golongan kedua itu adalah control people, orang-orang yang dalam hidupnya mengejar kendali, kontrol. Sekali lagi, ini terlalu reduktif tetapi coba Saudara lihat semua pasangan yang menikah termasuk dirimu sendiri, biasanya saudara langsung tahu yang satu itu masuk ke kiri, yang satu masuk ke kanan. You know who you are. Approval people itu image dirinya adalah saya disukai banyak orang. Orang senang dengan saya, kehadiran saya membahagiakan orang lain. Itu yang menbuat saya menjadi orang. Bagi orang seperti ini, kalau kita mengatakan kebenaran, hal itu bisa membuat orang tersebut kesal, sedih, dan marah terhadap kita. Ini harga yang kita tidak mau bayar, sehingga kita mulai membelokkan sedikit realitanya. Kita mulai memperhalus, kita mulai melebih-lebihkan, atau bahkan kita mulai berbohong. Oleh karena kita tidak mau bayar harga. Control people itu lain, mereka tidak terlalu peduli terhadap perasaan orang lain. Mereka hanya butuh kendali. Mereka tidak suka dengan situasi hidup yang mengambang dan mengawang. Mereka adalah tipe yang punya banyak cadangan devisa di bank. Mereka mengejar security dan mereka tidak peduli dengan perasaan orang lain, tetapi mereka merasa perlu mengendalikan persepsi orang lain terhadap diri mereka, kontrol. Mereka merasa jika mereka membuka diri mereka terhadap orang lain, mereka bisa kehilangan kendali, bisa rugi, bisa goyang, bisa insecure.
Orang-orang approval tidak terlalu masalah rugi, selama disayang oleh orang lain. Orang-orang kontrol sebaliknya, mereka tidak ada masalah orang lain tidak suka terhadap mereka selama mereka pegang semua kartunya. Terlalu sederhana membagi manusia jadi dua tipe seperti ini, tetapi sebagai generalisasi poinnya adalah mengatakan kebenaran itu ada harganya dalam setiap personality manusia, apa yang sejati menuntut bayar harga dalam setiap personality manusia. Kita memelintir realita karena kita takut, insecure, dan jikalau sampai orang tahu siapa kita sesungguhnya, tidak akan ada yang mau menjadi teman kita, kita akan kehilangan kendali.
Kita sebenarnya mirip seperti tukang bully. Saudara pernah hidup bersama dengan tukang bully bertahun-tahun. Bertemu dengan mereka pertama mungkin di SD, dan terus bersama mereka, satu sekolah dengan mereka mungkin sampai SMA. Lalu Saudara mulai belajar kisah hidup mereka, dan mulai mengetahui alasan mereka menjadi tukang bully. Saudara baru tahu ayah mereka berengsek, mama mereka selalu gampang naik pitam. Mereka menjadi tukang bully karena mereka compensating, berusaha menambal hidup mereka yang menyedihkan dengan cara mengendalikan orang lain. Hidup mereka sendiri tidak terkendali, maka mereka berusaha untuk mengendalikan orang lain, berusaha memanipulasi orang lain, berusaha untuk menghadirkan suatu versi akan dirinya yang tidak nyata karena realitanya terlalu mahal harganya untuk dihadapi. Siapa dari kita yang tidak seperti ini?
Yang Tuhan Yesus sedang tusuk di sini mengena kepada kita semua. Kita mungkin bukan orang yang bersumpah sana sini, tetapi kita tahu apa yang Tuhan Yesus sedang bongkar terdapat pada diri kita. Kita adalah orang-orang yang mungkin posting sana sini demi untuk menghalangi orang mengenal diri kita yang sesungguhnya; atau kita adalah orang yang sebaliknya, yang tetap diam di sosmed dengan private profile supaya tidak bisa dilihat orang lain, tetapi memiliki alasan yang sama persis.
Kita begitu takut akan realita, kita tahu realita diri kita memang tidak seindah dan sebagus yang dibayangkan. Apakah ada harapan? Bagaimana bisa ada kekuatan untuk memberi orang lain masuk melihat dan mengenal diri kita yang sesungguhnya? Pada bagian terakhir ini, solusinya ada dua hal, lebih tepatnya satu hal dalam dua aspek. Tentu saja solusinya adalah Yesus Kristus, dua aspek tersebut adalah kepala dan tubuh.
(i) Kepala. Dalam Injil Yohanes, kita melihat ada satu motif yang menarik ketika Tuhan Yesus diadili. Pasal 18 sewaktu Tuhan Yesus di hadapan imam besar, Tuhan Yesus sempat ditampar oleh seseorang yang ada di sana, yang sudah pasti orang Yahudi dan kemungkinan besar seorang anggota Mahkamah Agama. Dia menampar Tuhan Yesus dan mengatakan, “Begitukah jawab-Mu kepada imam besar?” Apakah Saudara masih ingat pembahasan Pak Yadi mengenai pengalaman serupa Paulus yang terjadi beberapa puluh tahun kemudian? Orang yang pertama kali menghadapi hal ini adalah Tuhan Yesus. Ketika Tuhan Yesus ditampar oleh orang Yahudi ini, Tuhan Yesus membalas dengan perkataan, “Jikalau kata-Ku itu salah, tunjukkanlah salahnya, tetapi jikalau kata-Ku itu benar, mengapa engkau menampar Aku?” Lalu berikutnya, ketika di hadapan Pilatus ada hal yang sama terjadi, Tuhan Yesus mengatakan di hadapan Pilatus, “… supaya Aku bersaksi tentang kebenaran; setiap orang yang berasal dari kebenaran mendengarkan suara-Ku.” Ini membuat Pilatus berespons, “Apakah kebenaran itu?” Kita tidak membahas ini, tetapi melalui ayat-ayat di atas Saudara bisa melihat dan menyadari motif ini, Tuhan Yesus naik ke atas kayu salib membayar harga akan kebenaran.
Tentu saja Tuhan Yesus bukan hanya membayar harga bagi kebenaran secara umum, tetapi Dia juga membayar harga bagi ketidakbenaran kita, bagi ketidakjujuran kita. Kita tidak mengatakan kebenaran, maka kita patut dihukum. Kita patut rusak secara komunitas, identitas, dan bahkan martabat, tetapi Tuhan Yesus mengambil hukuman tersebut, membayar harganya bagi kita. Apakah yang Dia bayar di atas kayu salib? Dia membayar harga bagi pencitraanmu, bagi pelintiranmu, bagi sumpah palsumu, kau dan saya. Orang-orang Yahudi itu memukul Yesus karena Dia mengatakan kebenaran. Mengapa mereka tidak bisa menerima kebenaran ini? Mengapa mereka tidak bisa membayar harganya sendiri? Mengapa mereka menuntutkan harganya kepada Yesus dengan cara menampar Dia? Mereka takut kebenaran itu menelanjangi mereka, akibatnya Kristus ditelanjangi di atas kayu salib supaya kita bisa diberikan pakaian di dalam-Nya, clothed in Christ.
Apakah arti menjadi Kristen, menjadi pengikut Yesus? Prosesnya tidak langsung, tetapi pelan-pelan. Ini bukan pekerjaan semalam suntuk. Semakin banyak kita mendengar Injil, semakin banyak kita diberikan kabar akan Kristus, kita mulai menyadari, “Oh, ini toh yang Kristus lakukan pada hidupku.” Kita mulai mengambil ini menjadi jati diri kita, menggantikan apa yang selama ini bertakhta di atasnya, baik itu pengakuan orang lain ataupun kontrol. Kita mulai menyadari, “Ya ampun, Allah kita adalah Allah yang telah melihat ke dalam hidup dan hati kita; Dia melihat sejatinya, sebenar-benarnya seperti apa rusak, kotor, dan busuknya hati kita. Dia tidak mengangkat tangan dan membakar restoran itu.” Dia tidak hanya membebaskan, Dia tidak hanya membeli kembali restorannya lalu membiarkan sesuka hati kita. Dia mengeklaim kita kembali, membayar harganya, lalu Dia masuk ke dalam, turun ke dalam hidup kita, dan mulai mengatur kembali hidup kita, sehingga makanan yang enak mulai dihasilkan kembali, lantai yang bersih, dan staf-staf yang harmonis. Dia adalah Owner yang melakukan kedua hal ini, membeli kembali dan mengelola kembali. Bukan salah satu saja, tetapi kedua-duanya.
Kita sering berpikir jika orang mengetahui kebenaran diri kita, mereka tidak mungkin mengasihi kita. Kalau ada orang yang mengasihi diri kita, itu karena mereka tidak tahu kebenarannya. Ketika seorang owner membeli kembali dan melakukan renovasi, maka artinya owner tersebut tahu semua kebusukan yang terjadi di restoran itu selama ini. Betapa kotor restoran itu, seberapa buruk kualitas makanannya, dan betapa tidak harmonisnya staf-stafnya. Owner itu mengetahui staf-stafnya tidak dibayar dengan cukup, diperlakukan dengan kejam, sehingga para staf melampiaskan hal itu kepada para customer yang datang. Sewaktu owner mengetahui semua ini, perasaan hatinya bukan hanya marah, tetapi juga sedih. Dia akhirnya mengeklaim kembali restoran ini karena dia mencintai restoran tersebut. Waktu dia masuk, dia melakukan semua pembenahan, dia membongkar ini dan itu, tembok-tembok diruntuhkan. Sakit rasanya, tetapi semua renovasi dan pengaturan ulang ini bukan untuk membuatmu menderita. Semua aturan-aturan ini adalah bentuk konkret kasih-Nya bagimu. Jangan pernah lupa dua aspek ini. Pertama, Allah sebagai Sang Kepala, menebus kita, memberikan Diri-Nya bagi kita, membayar harga bagi kita, membeli kita. Namun, tidak berhenti sampai di situ. Dia tidak membiarkannya begitu saja setelah membeli kembali restoran yang rusak. Jika ownernya membiarkan begitu saja, maka restoran dengan tembok-tembok yang sudah rusak, dapur yang sudah hancur, fondasi yang tidak ada harapan akibat kebocoran yang tidak ditangani bertahun-tahun, memang tidak ada harapan. Orang Kristen silakan mencari kerja apapun yang kamu mau selama etis dalam standar dunia, silakan mencari pasangan dan menikah dengan cara apapun yang kamu mau selama etis dalam standar dunia. Saudara bisa menebak apa yang akan terjadi berikutnya. Restoran ini akan semakin lapuk bangunannya, tanahnya ditumbuhi alang-alang, dan menjadi tempat orang membuang sampah.
(ii) Fakta bahwa owner-nya mulai menyibukkan diri untuk mengatur kembali restoran tersebut, merenovasinya, tembok-temboknya diruntuhkan walaupun sakit rasanya, menunjukkan bentuk kasihnya. Dia perduli, care, dan percaya kita bisa kembali seperti sediakala, bahkan lebih dari yang sebelumnya, tidak secara langsung, perlahan-lahan. Renovasi membutuhkan waktu, managemen ulang memerlukan waktu, staf-staf perlu dilatih ulang. Tidak secepat itu untuk mengambil kembali kepercayaan yang sudah hilang bertahun-tahun. Prosesnya lama, tetapi ini kabar baik karena kita berubah ke arah yang lebih baik. Sekarang ada harapan. Itulah Injil Kerajaan Surga. Injil Kerajaan Surga tidak pernah sekedar urusan mati di kayu salib. Ada Khotbah di Bukit, ada segudang aturan, ada segudang ajaran kehidupan dalam Kerajaan Surga. Tanpa aturan ini, kekristenan tidak bisa menghidupi Injil yang utuh dan sejati. Solusi kekristenan tidak pernah hanya Sang Kepala, bukan cuma perihal Sang Kepala, tetapi sang tubuh juga. Di manakah Saudara menemukan dirimu mulai direnovasi, mulai dibentuk ulang, mulai kembali menjalani aturan-aturan relasional yang menghidupkan? Apakah di dalam kesendirian saat teduh pribadimu pagi-pagi? Namun ini tidak benar-benar relasional, bukan? Di mana engkau menjalankan semua ini? Di gereja.
Mendengar khotbah saja tidaklah cukup untuk berubah. Engkau selama ini pikir, “Kenapa, Pak, saya tetap ada dosa seks terus-menerus dalam hidup saya? Saya sudah dengar khotbah berjuta-juta kali loh.” Engkau berpikir problemmu itu pengetahuan. Engkau melakukan dosa karena engkau tidak tahu sesuatu. Jika saya bisa tahu hal ini, maka hidup saya akan berubah. Mimpi, Saudara! Engkau butuh gereja! Semua perubahan yang sejati sifatnya sosial dan relasional. Inilah yang kita lakukan. Kita senantiasa memelintir fakta sebagai orang Kristen. Kita percaya kita masih hidup dalam penantian. Kita percaya menjadi orang Kristen memang harus menderita. Kita mengamini bahwa menjadi orang Kristen harus bersekutu. Sering kali Saudara melihat apa yang terjadi sewaktu Saudara mulai ikut persekutuan dengan serius, Saudara mulai ada perasaan tidak nyaman. Persekutuan memang akan membuat tidak nyaman, mulai mengganggu jadwalmu, misalnya ikut persekutuan doa pagi di hari Sabtu. Saudara ingin berolahraga, tetapi ini tidak dapat menjadi alasan untuk tidak mengikuti persekutuan doa pagi. Solusinya, Saudara harus bangun lebih pagi apabila ingin berolahraga.
Ketika ada sesuatu yang tidak nyaman dan mulai mengganggu, seperti mulai OSG, datang ke PA di situasi Jakarta yang macet, pengkhotbahnya memusingkan, dan sebagainya, reaksimu adalah ingin lari. Waktu di persekutuan mulai disuruh sharing, pertanyaan-pertanyaan susah, diskusinya berat, kita langsung lari. Mungkin boleh ganti formatnya? Bagaimana jika makan-makan saja, lebih nyaman. Kita pergi, lari, kabur dari hal-hal ini, bukan bertahan. Inilah hidup kita, Saudara. Kita mengatakan satu hal, kita percaya satu hal, tetapi hidup kita lain sekali di luar itu. Tanpa gereja, tanpa sang tubuh, engkau bahkan tidak bisa sadar akan hal ini. Bagaimana engkau supaya bisa berubah? Bukan hanya itu saja peran gereja, bukan hanya sadar, tetapi juga berubah. Caranya adalah bertahan dalam persekutuan-persekutuan seperti itu. Semua orang mau persekutuan selama persekutuannya hanya di permukaan. Persekutuan-persekutuan yang real, yang menuntut tanggung jawab, yang mengikat – tema persekutuan wilayah yang baru kita launching adalah Kebebasan dalam Keterikatan – kita dibebaskan. Bagaimana caranya supaya saudara berubah? Sangat sederhana, caranya Saudara bertahan di dalam gereja, bertahan dalam persekutuan, itu saja. Ketika saudara bertahan di gereja, saudara akan dibentuk menjadi warga Kerajaan Surga. Perubahan itu sosial dan relasional.
Saya berikan contoh konkret, tetapi maaf ya contohnya mendarat, sehingga menyakitkan. Kita tahun ini sudah mulai menjalankan proses mencari pengurus baru. Tahun depan di bulan Agustus kita harus segera melantik pengurus baru. Pengurus memang harus ada pergantian selama beberapa lama, tidak sehat kalau terus-menerus tanpa ada pergantian masa tugas. Ketika Saudara mendengar mengenai rekrutmen pengurus, apa perasaan Saudara? Semua orang mau mendengar khotbah yang bagus, tetapi berapa banyak yang mau jadi pengurus? Berapa banyak yang mau masuk ke dalam messiness, keberantakan hidup gerejawi, hidup yang saling membangun, bersusah payah, berkeringat satu dengan yang lain? Berapa banyak yang mau? Ini yang saya ingin coba refleksikan, Saudara.
Saudara tahu apa yang terjadi selama saya melayani di sini? Kalau saya ingin merekrut orang untuk pelayanan, orang-orang yang berasal dari GRII Pusat secara umum jauh lebih siap untuk melayani dibandingkan ketika saya mengajak orang-orang GRII Kelapa Gading sendiri. Itu faktanya, Saudara. Apakah Saudara tahu alasannya? Mungkin salah satu alasannya adalah mereka dilatih bergereja seperti itu di GRII Pusat. Ada acara apapun melakukan janji iman, ada acara apapun membayar harga. Orang-orang GRII Pusat itu tidaklah sempurna, kita tahu itu, tetapi mereka jauh lebih siap melayani dibandingkan saudara-saudara di GRII Kelapa Gading.
Saya pernah memimpin pernikahan di GRII Pusat. Sebelum pernikahan ada rehearsal wedding. Di GRII Kelapa Gading, biasanya tata cara gladi bersih pernikahan kita jalankan dari depan sampai belakang satu kali terlebih dahulu, tidak perduli ada kesalahan atau tidak, yang penting dijalankan dulu agar mendapatkan gambaran besarnya. Setelah itu kita ada waktu untuk mengulang bagian-bagian yang kita ingin ulangi dan latih supaya berjalan lancar. Saya yang memimpin semua itu di GRII Kelapa Gading. Saya kaget sekali di GRII Pusat – yang menikah waktu itu adalah jemaat HI, HI belum bisa mengurus pernikahan, sehingga mereka menikah di GRII Pusat – karena jemaat GRII Pusat yang mengurus. Pengurusnya datang menyempatkan diri datang ke acara gladi bersih pernikahan. Setelah saya sudah run through semua dari depan sampai belakang, lalu saya mau ulang, saya mengatakan, “Yuk, kita ulang lagi. Kita latih bagian-bagian yang kita belum yakin.” Pengurusnya itu datang kepada saya dan mengatakan, “Pak Jethro, enggak usah. Pak Jethro pulang aja. Kami yang akan urus latihan pengulangannya sampai beres.” Saya kaget mendengar itu. Lalu orang itu mengatakan, “Kami tahu para hamba Tuhan GRII itu sibuk, jadi biar kami ikut bantu dalam hal ini.” Saya boleh pulang. Saya pulang dan saya tidur, terus terang saja. Saya sibuk tetapi tidak sibuk sebegitunya. Namun luar biasa, di GRII Pusat ada mentalitas yang lain.
Mengapa mereka bisa seperti itu? Mengapa secara umum mereka begitu siap untuk melayani? Latihan, Saudara. Ini realita. Minta maaf bicara seperti ini. Saya mungkin harus membayar harga karena bicara realita. Bagaimanapun juga kita tahu gereja adalah tempat latihan. Kita sudah bicara berkali-kali mengenai konsep gereja sebagai tempat latihan. Satu hal mengenai latihan, latihan memiliki dampak karena latihan itu lebih susah daripada aslinya, lebih susah daripada lombanya.
Waktu dulu saya belajar piano dengan Pak Billy, saya pernah bertanya kepada Pak Billy seperti ini, “Pak Billy, saya ada problem ini. Tangan kiri sama tangan kanan saya tuh enggak bisa separate gitu ya. Mereka tuh otaknya sharing kan. Gimana caranya supaya bisa ada otak masing-masing? Gimana caranya supaya bisa jalan sendiri sih? Tangan kanan dan tangan kiri masing-masing bisa lebih otonom.” Pak Billy mengajarkan latihannya, contohnya tangan kanan main di C, tangan kiri main di Cis (C#). Bisakah Saudara bayangkan ini terdengar seperti apa? Saudara main persis hal yang sama, tetapi tangan kiri dinaikkan setengah semua. Latihannya setengah mati, karena selain langsung transpose, otak dan kuping kita mendengar harmoninya hancur. Namun, ketika Saudara latihan seperti itu, berani dijamin tangan kanan dan kiri Saudara akan belajar lebih independen, tidak terpengaruh satu dengan yang lain. Latihan memang berat, lebih berat daripada aslinya. Saudara main konser tidak bakal kayak begitu.
Tidak hanya musik, contoh yang lain adalah olahraga. Semua olahragawan di sini tahu apa yang disebut dengan interval training. Itu kata yang bikin para olahragawan bergetar dengan ketakutan. Interval training adalah cara latihan yang paling efektif dan paling efisien untuk meningkatkan membangun fitness. Caranya seperti ini: lari santai 30 detik, lari push 20 detik, santai 30 detik, push 20 detik, santai 30 detik, push 20 detik, sampai berulang 8 kali, kemudian 16 kali, terus begitu. Stop start, stop start, berulang-ulang seperti itu. Saudara bisa membayangkan betapa melelahkannya interval training. Bersepeda juga sama. Ada tidak lomba yang seperti itu? Orang lomba mencari ritme konsisten, tidak ada yang stop start berulang-ulang seperti itu. Latihan memang lebih berat daripada aslinya.
Kita bilang kita warga gereja. Kita mengakui hidup kita berantakan dan kita sering minta Tuhan membereskannya. Namun, ketika Dia benar-benar mulai masuk dan merenovasi kita, kita teriak-teriak dan kabur. Kita adalah orang-orang yang memelintir fakta. Yang amazing adalah Tuhan kita, Allah tahu semua ini dan Dia tetap menyelamatkan kita. Dia hidup demi itu dan Dia mati untuk itu, kita diselamatkan oleh karena integritas-Nya. Dia membuat janji naik ke kayu salib. Ketika tiba momennya, tiba jamnya, Dia tidak kabur. Dia menjaga janji-Nya, Dia membayar janji-Nya. Itulah sebabnya Saudara dan saya hari ini bisa mulai hidup bertahan sebagai orang Kristen.
Kalau kita sadar ini yang kita terima dalam Kristus, kita bisa punya integritas bagi Dia. Semua perubahan sosial bagi Dia. Saya bisa membayar harga untuk mengatakan apa yang benar karena Dia. Kalau ada orang yang tidak suka dengan saya, saya bisa handle itu karena Dia. Saya kehilangan kendali dalam hidup saya, saya tetap aman di dalam-Nya. Saya tidak mau mengakui hal yang jelek ini dalam hidup saya mengenai diri saya, tetapi Dia mengetahuinya dan Dia membayar lunas untuk saya. Dia mengeklaim saya sebagai miliknya. Oleh karena semua itu, saya mau bertahan. Saya mungkin tidak bisa bertahan, tetapi saya mau coba bertahan. Keadaan susah, keadaan sulit bukan problemnya. Itu bukti cinta Tuhan kepadaku yang mengenalku sedalam-dalamnya dan tetap mengasihiku lebih dalam lagi. Itulah image diri orang Kristen. Kristus memanggil kita untuk hidup sebagai warga Kerajaan Surga.
Ringkasan khotbah ini belum
diperiksa oleh pengkhotbah (YL)