Kita akan mengkhotbahkan ayat-ayat yang berkaitan dengan kasih/cinta; dan hari ini kita mulai dengan perenungan dari Kidung Agung 1.
Di sini, waktu Bahasa Indonesia menerjemahkan bahasa aslinya menjadi “Kidung agung dari Salomo”, istilah ‘dari’ ini sebetulnya bisa diterjemahkan berbagai macam, sehingga kita tidak harus secara sempit menyimpulkan bahwa penulisnya pasti Salomo. Salah seorang penafsir yang sangat baik mengenai seri ini, Baker Commentary, lebih suka menerjemahkannya menjadi “Song of songs that concerns Solomon”.
Ada keindahan tersendiri dalam hal ini, kalau kita tidak harus melihat bahwa penulisnya Kidung Agung adalah Salomo. Di sini Salomo dijadikan satu tokoh yang diambil dalam penulisannya, karena dia dianggap semacam simbol, waktu kita bicara tentang cinta. Salomo terkenal sekali dengan hidup percintaannya, sehingga ketika gadis-gadis sederhana memimpikan kekasihnya, maka sosok kekasih yang dipakai adalah Sang Raja, yaitu Salomo.
Di dalam dunia modern, kita cenderung melihat kekuatan imajinasi seperti ini tidak realistis, ilusi, delusi, atau bahkan lebih parah lagi sakit jiwa, dst.; tapi Saudara jangan lupa, Kidung Agung ini ditulis dalam bentuk puisi, dan tidak mungkin kita bisa membaca puisi –bahlan lebih lagi, menulis puisi–tanpa imajinasi. Puisi dan imajinasi sudah jadi satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Namun dalam gambaran manusia modern yang cenderung “ilmiah” ini, yang segala sesuatu harus objektif, musti realitas, bukan ilusi, bulan delusi, bukan imajinasi, dsb., akhirnya kita tidak ada dimensi imajinasi. Dimensi imajinasi dianggap suatu kerusakan jiwa, ketidakjujuran; apalagi ditambah dengan perspektif teologi Teosentris yang menganggap kalau itu imajinasi, berarti mimpi yang dibangun dari bawah, bukan penyataan yang dari atas, antroposentris, mimpi-mimpinya manusia, dsb. Jadi argumentasinya, argumentasi psikologis, argumentasi sains, dan sekarang ditambah lagi argumentasi teologis, yang semuanya seperti serentak memberikan penilaian negatif terhadap ‘imajinasi’.
Saya pikir, kita perlu kembali kepada konsep Alkitab, khususnya di dalam Perjanjian Lama, bahwa imajinasi bisa dimengerti secara positif, tidak harus dikaitkan dengan sakit jiwa, tidak harus dikaitkan dengan urusan kurang ilmiah –karena puisi memang tidak ilmiah– lalu kita pakai risalah teologis saja semua dari Kejadian sampai Wahyu supaya lebih “ilmiah”. Tapi kenyataannya tidak demikian. Kanonisasi kita bentuknya bermacam-macam, tidak selalu yang disebut “ilmiah” tadi. Demikian juga dari perspektif teologis, sebetulnya Tuhan juga memberikan kita kekuatan imajinasi, yang bisa dimengerti secara positif.
Misalnya, hari ini kita merayakan Perjamuan Kudus; dan Perjamuan Kudus tidak bisa kita hayati tanpa imajinasi (imajinasi dalam pengertian positif, imajinasi seperti yang diajarkan Alkitab). Di dalam Perjamuan Kudus, kita percaya mystically elevated, lalu kita bersekutu dengan orang-orang yang ada di surga. Di sini, kalau kita tidak boleh memakai kekuatan imajinasi, tentu sulit menghayatinya. Jadi imajinasi tidak harus selalu pengertiannya negatif, sakit jiwa, dsb., meski memang dari perspektif orang yang tidak percaya, mereka bisa mengatakan seperti itu. Mereka mengatakan, orang Kristen percaya kepada Tuhan, yang sebetulnya cuma socially constructed. Di zaman Gereja mula-mula, mereka mengatakan orang Kristen itu kanibal, karena waktu kebaktian, mereka makan dagingnya orang yang disebut Kristus itu. Itulah tuduhan orang-orang pada waktu itu, mereka tidak bisa mengerti apa artinya makan daging Kristus dalam pengertian rohani.
Kembali kepada pembahasan kita; yang mau kita katakan adalah bahwa imajinasi tidak harus melulu dalam pengertian negatif. Kita perlu menebus konsep tentang imajinasi di dalam pengertian Kristen, yang bisa dikaitkan dengan penyataan Tuhan, dengan ayat Firman Tuhan, sebagaimana yang kita baca tadi. Ini adalah imajinasi. Saudara membaca di sini, seorang perempuan yang membayangkan tokoh yang dia kasihi itu seperti Salomo, padahal dalam kenyataannya dia bukan ratu, dia bukan salah satu gundik Salomo, dia hanya seorang perempuan sederhana –dan sepertinya kita bisa mengatakan bahwa kekasihnya pun orang sederhana– tapi dia bawa-bawa nama Salomo di sini. Jadi, ada keindahan tertentu dalam hal ini.
Perkembangan penafsirannya, belakangan jadi lebih harfiah, sejak dunia modern menganggap tafsiran alegori atau mistik ala Bernard de Clairvaux dsb., sebagai tafsiran yang kurang berguna. Memang ada poin yang indah, waktu kita membaca Kidung Agung ini dalam pemahaman tentang merayakan kehidupan cinta manusia, termasuk juga keintiman seksual; tapi waktu kita membaca Alkitab, kita tidak bisa melepaskan hal-hal kenikmatan seperti ini, dari pengenalan akan Allah. Brueggemann bahkan pernah mengomentari secara positif kalimatnya Freud yang sebetulnya mereduksi segala sesuatu jadi urusan seksualitas; dia mengatakan, setidaknya, dari perspektif Yahudi, antara seksualitas dan pengenalan akan Tuhan, memang tidak bisa dipisahkan.
Intimasi seksualitas dan pengenalan akan Tuhan, bukanlah sesuatu yang bisa dipisahkan –dari perspektif pemikiran Yahudi. Hanya kita saja, yang di dalam dunia modern, merasa seksualitas itu agak tabu; atau kalaupun kita mengatakan itu sudah dikuduskan, kita tetap sulit membicarakannya, karena bagaimanapun kita masih menempatkan hal ini sebagai sesuatu yang tidak betul-betul terelasi dengan teologi.
Istilah ‘Tuhan/Allah’, jarang sekali muncul di dalam kitab ini, seperti juga Kitab Rut atau Ester; fakta bahwa penulis Kitab Kidung Agung ini sangat jarang sekali menyinggung tentang Allah, membuktikan bahwa daerah yang dianggap “paling sekuler” ini sebetulnya tetap kudus. Ini adalah suatu pembicaraan yang bukan tabu. Meski tidak menyebut nama Tuhan/Allah, itu tidak apa, karena memang selalu terelasi dengan Allah. Alangkah indahnya pemikiran integratif seperti ini; tidak takut merayakan keintiman seksual (sexual intimacy), bahkan tidak takut merayakan kesenangan seksual (sexual pleasure), karena di dalam pemikiran Yahudi hal ini tidak pernah bisa lepas dari relasi dengan Allah.
Apalagi, kalau ditambah dengan perspektifnya Paulus. Di dalam Surat Efesus, Paulus menulis bahwa kehidupan cinta kasih dan pernikahan suami istri, sebetulnya menunjuk kepada pernikahan Kristus dengan jemaat-Nya, sehingga yang sedang dihayati adalah hubungan cinta Kristus dengan jemaat-Nya. Jadi, kita tidak pernah perlu melepas aspek teologis ini, karena bagaimana mungkin kita bicara aspek antropologi tanpa teologi, bagaimana mungkin kita bisa bicara keindahan kesenangan manusia (human pleasure) tanpa teologi. Itu tidak mungkin.
Kitab ini memang membicarakan kehidupan manusia, tentang mempelai laki-laki dan mempelai perempuan yang menjalin keintiman, tentang hubungan cinta, dsb., tapi semua itu tidak pernah bisa dipisahkan dari ciptaan Tuhan yang indah. Inilah keberanian penulis Kitab Kidung Agung, dia bisa merayakan hal ini karena ini adalah bagian dari ciptaan Tuhan yang baik. Keintiman seksual adalah divine gift yang diberikan, termasuk waktu Saudara membacanya dari perspektifnya Kitab Pengkhotbah, meski tentu saja Pengkhotbah ada keterbatasan perspektif, karena dia sulit untuk melihat apa yang ada setelah kematian dan mengira setelah kematian maka selesai. Di dalam keterbatasannya itu, Pengkhotbah mengatakan ‘jadi apa sih, di dalam hidup ini? ya, kalau ada kesenangan yang diberikan Tuhan, itu God’s gift, jangan tidak menikmatinya’. Kita percaya, salah satu God’s gift yang diberikan adalah sexual pleasure ini, di dalam pengertian tatanan dan ciptaan Tuhan yang indah (God’s beautiful order and creation), yang dikaruniakan Tuhan dalam kehidupan manusia.
Sekali lagi, fakta bahwa penulis Kidung Agung tidak merasa harus menulis ‘Tuhan/Allah’ dalam setiap kalimat atau paragrafnya –bahkan nama Tuhan tidak disebut di bagian yang kita baca tadi—menyatakan bahwa eksplorasi keindahan dari dunia ciptaan ini, bagi penulis Kitab Kidung Agung adalah sah, dan tidak pernah bisa dipisahkan dari ibadah di hadapan Tuhan. Istilah-istilah yang dipakai di sini memang gambaran seksual, tapi penafsirannya bukan penafsiran yang vulgar; meski kita bisa juga menafsirkan secara harfiah, tapi tidak pernah bisa lepas dari sikap ibadah di hadapan Tuhan. Sebetulnya, kalau kita betul-betul mau mengerti kesenangan (pleasure) yang adalah God’s true gift di dalam dunia ini, itu tidak pernah bisa dipisahkan dari ibadah.
Ibadah itu ada kenikmatannya. Tetapi, kenikmatan yang ada di dalam dunia –bahkan kalau kita pakai istilah ‘kesenangan’– itu pun ada nuansa ibadahnya. Yang celaka, waktu dalam hidup kita terjadi dualisme; ketika beribadah tidak ada enjoyment, lalu di dalam kehidupan kita merasa perlu me time, perlu waktu untuk menikmati diri sendiri secara “sekuler” dan tidak ada hubungannya dengan glorifying God, tidak ada hubungannya dengan worshiping God, sehingga kehidupan kita betul-betul terkeping, terpecah. Itu bukan Kekristenan; itu sebetulnya pengaruh dari Enlightenment, yang menciptakan keterpisahan seperti ini. Tetapi kalau kita kembali ke Alkitab, di dalam seks itu ada ibadah, dan di dalam ibadah pun kita bisa bicara tentang kenikmatan (enjoyment), bahkan kita pakai istilah kesenangan (pleasure) pun boleh di dalam hal ini.
Menariknya, di dalam Kitab Kidung Agung ini, termasuk perikop yang kita baca tadi, didominasi justru oleh pembicara perempuan (female speaker), bahkan dialah yang memulai. Seperti kita tahu, budaya Yahudi adalah budaya patriarkhal, tapi di dalam Alkitab ada Kitab Rut, Kitab Ester, dan juga Kitab Kidung Agung. Dalam hal ini, ada pakar yang bahkan memberikan ruang, bahwa bisa saja yang menulis Kidung Agung juga seorang perempuan; ini memang tidak mutlak, dan kita tidak tahu. Seandainya ditulis oleh perempuan, lebih menarik lagi, karena di dalam budaya patriarkhal seperti itu bisa ada seorang perempuan yang tulisannya masuk kanonisasi. Tapi katakanlah yang menulis bukan perempuan melainkan seorang laki-laki, Saudara tetap tidak bisa memungkiri bahwa Kitab Kidung Agung ini didominasi oleh perkataan perempuan.
Di bagian ini, jelas yang memulai adalah seorang perempuan; ayat 2: “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Lalu kalau Saudara baca terus, akan jelas bahwa yang bicara di dalam bagian ini adalah perempuan, bukan mempelai laki-laki. Apa kira-kira pesan yang mau disampaikan, dengan adanya perempuan yang bicara lebih dulu di sini? Bukankah kita di dalam budaya patriarkhal mengatakan bahwa inisiasi harusnya datang dari laki-laki –dan itu juga benar karena Kristus yang mencintai jemaat terlebih dahulu, bukan jemaat yang mencintai Kristus– lalu kenapa pembicaraan dimulai dengan perempuan terlebih dahulu?
Saya pikir kita tidak perlu risau dengan gambaran ini, dan kaum laki-laki juga tidak usah terganggu atau jadi terlalu peka, ‘koq, lu yang ngomong duluan, mustinya saya yang ngomong dulu baru kamu jawab’, dsb. Kalau Saudara baca bagian ini, kita tidak bisa memungkiri bahwa kalimat tadi sebetulnya kalimat responsif. Dikatakan: “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”; tiba-tiba menyebut ‘ia’, maksudnya ‘ia’ ini siapa? Ini berarti mengasumsikan adanya satu sosok yang dia kenal, atau lebih tepatnya yang mengenal dia, dan mencintai dia –yang memang di sini tidak ditulis. Kalimatnya langsung mulai dengan suatu ingatan, “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Saudara perhatikan, “for your love is better than wine”; ini mem-presaposisi-kan atau mengasumsikan sebelumnya, bahwa wanita ini sudah dicintai, maka dia bisa mengatakan “karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Ini adalah suatu kalimat respons, satu kalimat yang secara catatan Kidung Agung memang si perempuan yang bicara lebih dulu, tapi secara pengalaman bukan dia yang mencintai lebih dulu tapi tentunya dia yang dicintai terlebih dahulu, karena kita membaca di sini, dia bukan memberikan cintanya tapi mengatakan tentang cinta dari mempelai laki-laki.
“Kiranya ia mencium aku dengan kecupan”, ini adalah tema kita hari ini. Seorang penafsir mengatakan bahwa key point di sini adalah gambaran ketidakhadiran si laki-laki (absence of the male), adanya jarak yang tersirat di antara keduanya. Cinta itu bisa ada keindahannya ketika ada semacam jarak tertentu, ketika ada pengalaman ketidakhadiran (absence). Dalam hal ini, kalau mau membicarakan secara Kristologis, kita juga bisa mengatakan bahwa Perjamuan Kudus sebetulnya bicara tentang kehadiran (presence) dan ketidakhadiran (absence). Presence, dalam pengertian bahwa kita percaya di dalam Perjamuan Kudus ada kehadiran Kristus yang riil (real presence), dimediasi oleh Roh Kudus, meski kita tidak mengatakan kehadiran secara tubuh (bodily presence). Pada saat yang sama, Perjamuan Kudus juga adalah anstisipasi bahwa kita akan kembali kepada Kristus, yang mencintai kita. Ini mirip sekali dengan gambaran dalam Kidung Agung, ada kerinduan karena Kristus sudah terangkat di surga, sementara Saudara dan saya masih di sini, dan kita rindu untuk berjumpa dengan Kristus, kita rindu untuk melihat muka dengan muka, kita rindu untuk dicium dengan kecupan ini.
Kembali ke pembahasan kita, apa keindahan dari absence ini? Kita tahu, sebagaimana orang sering mengatakan, bahwa dalam kehidupan ini ketika seseorang itu ada di sekitar kita, kita seringkali bisa kurang menghargai, tapi kemudian ada saatnya orang itu ditarik dari kita, dan itu memberi kepada kita kesempatan untuk merindukannya. Ini justru mempertumbuhkan cinta juga. Dalam kehidupan sehari-hari, kalau kita selalu bareng, setiap menit bareng, di situ juga bisa terjadi konflik –karena bareng terus. Tapi dengan adanya absence, itu seringkali membawa kita bisa berpikir lebih jernih; dengan adanya distance, itu mengundang kita bukan cuma untuk mengharapkan dia kembali di saat mendatang, tapi juga membawa kita kepada nostalgia ke belakang yang mempertumbuhkan cinta kasih kita lebih dalam –justru dengan adanya ketidakhadiran, dan bukan kehadiran. Ini hal yang indah.
Meminjam dari Yohanes, Yesus mengatakan, “kalau Aku tidak pergi kepada Bapa, Roh Kudus itu tidak akan diberikan kepadamu”. Yesus digantikan oleh parakletos yang lain, yaitu Roh Kudus, sementara Dia sendiri terangkat ke surga, kembali kepada Bapa. Di sini ada semacam ketidakhadiran, yang kemudian digantikan oleh Roh Kudus, yang menghadirkan Kristus di dalam kehidupan komunitasnya Yohanes.
Kembali ke Kidung Agung, dalam bagian ini ada absence; tapi ketidakhadiran sang kekasih ini justru jadi kesempatan yang mempertumbuhkan kerinduan dan memperdalam cinta kasih perempuan ini, “Kiranya ia mencium aku dengan kecupan! Karena cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Kita asumsikan perempuan ini juga pernah mencicipi anggur, bukan tidak tahu nikmatnya anggur, tapi itu tetap tidak bisa dibandingkan dengan cintanya sang laki-laki.
Saudara lihat di sini, ada saat-saat di dalam kehidupan ini, yang untuk sementara waktu ada absence, termasuk juga dalam kehidupan kita berelasi dengan Tuhan. Bukan dalam arti Tuhan sama sekali tidak hadir, melainkan dalam arti Yesus terangkat ke surga dan kita belum ke sana. Hal itu bisa dipakai oleh Tuhan untuk mempertumbuhkan cinta kita, kalau kita menantikan Dia, kalau kita merindukan Dia. Memang, dalam hal ini kita musti segera menambahkan, bahwa absence juga bisa merusak cinta. Kita tidak mau memutlakkan bahwa absence pasti akan mempertumbuhkan cinta; itu tergantung bagaimana kita merespons. Perempuan ini berespons dengan merindukan, tapi ada orang yang semakin absence, malah semakin pudar cintanya. Saya, dan juga Saudara, mungkin mendengar berita bahwa dalam pandemi COVID selama 1½-2 tahun terakhir ini, banyak hubungan cinta yang bubar karena tidak bisa bertemu, karena absence, karena long distance. Yang terjadi bukan semakin merindukan tapi malah semakin hilang cintanya, ada yang mau menikah lalu akhirnya tidak jadi karena mulai pudar cintanya. Memang, kita jangan memutlakkan absence sebagai suatu metode yang mutlak harus dipakai Tuhan; yang kita katakan adalah bahwa Tuhan bisa memakai absence dalam cara yang indah seperti ini, yaitu absence bisa mempertumbuhkan/memperdalam cinta kasih kita.
Di dalam bagian Kidung Agung ini, Saudara membaca di sini bentuknya memakai kata ganti orang ketiga, “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”. Ini bisa kita tafsir macam-macam. Bisa ditafsir perempuan ini sedang bicara dengan orang lain, seperti sedang menceritakan. Tapi kalau kita membacanya sebagai puisi, tidak harus seperti itu; bisa saja dia sedang berharap, rindu, ngarep ‘kiranya ia mencium aku dengan kecupan’ –jadi tidak harus ada pendengarnya. Demikianlah, kalau Saudara membaca dengan kekuatan imajinasi –yang sangat sah di dalam puisi– akan memungkinkan kita melihatnya seperti itu. Tapi kalau kita membacanya secara “ilmiah”, seperti sebuah risalah teologis, kita akan bilang, “O, ini berarti dia sedang kesaksian”, yang memang bisa saja, tapi tidak harus seperti itu; dalam hal ini biarkanlah imajinasi kita bekerja.
Satu hal yang menarik –yang sekali lagi perlu kekuatan imajinasi– kita membaca di situ “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”, lalu dilanjutkan “karena cinta-mu lebih nikmat dari pada anggur”. Di sini kita mungkin berpikir, jadi bagaimana maksudnya, sebetulnya orang yang disebutnya itu ada atau tidak ada, sih?? –pembacaan model “ilmiah” yang menyebalkan untuk urusan cinta. Kalau Saudara ketemu pacar lalu bilang “hidungmu ini kalau saya ukur-ukur, kayaknya cuma sekian derajat”, itu menyebalkan sekali, membicarakan hidung pacar koq pakai cara ilmiah, pakai busur, dsb. Atau mengatakan “warna kulitmu ini, termasuk kategori ‘brown’ nomor sekian, dengan intensitas pigmen sekian”, jadi tidak lucu sama sekali membicarakan cinta seperti ini. Sama juga, kalau Saudara membaca bagian ini, “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”, lalu mulai pikir secara “ilmiah”, O, ini berarti si laki-laki sedang tidak ada, berarti dia kesaksian, berarti dia mungkin bicara kepada putri-putri yang lain. Lalu kemudian waktu baca “karena cintamu …”, jadi pikir lagi, lho, berarti si laki-laki sedang ada di situ dong, atau dia sedang tidak setia karena tiba-tiba bilang ‘cintamu’, artinya bicara sama laki-laki yang lain, kalau gitu ini apa maksudnya, dsb. Lebih baik sudahlah, tinggalkanlah penyelidikan model “ilmiah” seperti itu, sepertinya kita yang bermasalah kalau menafsir seperti itu.
Kekuatan imajinasi akan menjelaskan bagian ini dengan sederhana sekali; perempuan ini mengatakan “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”, dan dia tidak tahan membayangkan, sampai akhirnya dia bicara seperti dengan orang kedua “karena cinta-mu lebih nikmat dari pada anggur”. Memang si laki-laki tidak ada di sana, tapi perempuan ini bisa menyapa dengan “cintamu”. Lalu kalau kita sibuk pikir ini orang jadinya bicara sama siapa, apa dia ini sakit jiwa, orangnya ‘kan tidak ada di situ lalu ‘mu’-nya itu siapa, dsb., jadi tidak menarik sama sekali pembacaan seperti ini. Aneh sekali membaca tentang cinta dengan pengertian seperti ini. Dia boleh saja ganti-ganti antara orang ketiga lalu orang kedua, dsb.; kalau kita sedang jatuh cinta, kita tahu itu bisa saja terjadi tanpa harus diselidiki secara “ilmiah” tadi. Tidak semua hal bisa didekati dengan analisa ilmiah; Saudara tidak mengerti cinta, kalau seperti itu.
Dalam hidup sehari-hari, ada orang “EQ-nya rendah”; dan salah satu gambaran orang seperti ini, bagi dia segala sesuatu diintepretasikan secara konklusi logis, analisa logis, filosofis, dsb., tidak ada kekuatan imajinasi, sehingga dia akan kesulitan sekali membaca puisi. Dia akan mellihat puisi sebagai tulisan yang penulisnya mirip orang gila karena sebetulnya ‘kan kekasihnya bukan Salomo, lalu kenapa bawa-bawa Salomo, dsb. Orang seperti itu, tidak mengerti puisi, tidak mengerti dimensi lain dalam kehidupan ini yang tidak bisa sepenuhnya ditundukkan dan direduksi atas nama dunia ilmiah atau pakai pendekatan ilmiah.
Perhatikan imajinasi ini: orang ketiga, yang jauh, ada perasaan tidak tahan, lalu dia dekatkan sendiri dengan menggunakan kata ganti orang kedua, “cintamu lebih nikmat dari pada anggur”. Ini membicarakan masa lampau juga, karena kalimat tersebut mengasumsikan sudah ada hubungan cinta sebelumnya, meskipun dalam hal ini kita tidak harus tafsir secara seksual. Dan, meskipun orangnya sedang tidak ada di sana, dia bisa menghubungkan dengan masa lampau, yang dihadirkan di dalam masa sekarangnya. Betapa kreatifnya cinta, dan betapa dalamnya.
Sekarang kita mau sedikit menganalisa –dalam hal ini biblical theology. Kata ‘ciuman’ atau ‘kecupan’, di dalam Perjanjian Lama bisa baca dan bandingkan dengan ayat-ayat yang lain. Misalnya di 1 Samuel 20:41, tentang Daud dan Yonatan, dikatakan: Maka pulanglah budak itu, lalu tampillah Daud dari sebelah bukit batu; ia sujud dengan mukanya ke tanah dan menyembah tiga kali. Mereka bercium-ciuman dan bertangis-tangisan. Akhirnya Daud dapat menahan diri. Kata ‘bercium-ciuman’ di sini, bisa bicara tentang pertemanan yang mendalam (deep friendship), atau tentang hubungan keluarga (karena antar keluarga boleh mencium, bahkan di depan publik).
Kembali ke Kidung Agung, perempuan ini membayangkan sang kekasih laki-laki mencium dirinya. Apa artinya? Kalau kita baca di dalam konteks Perjanjian Lama, budaya Yahudi, yang boleh mencium di depan umum adalah keluarga. Kita yang ada dalam kebudayaan Timur cukup mengerti hal ini. Waktu kita mau mengekspresikan keintiman, kita bukan melakukannya ketika sedang naik MRT atau bus, bukan ketika sedang belanja di pasar lalu cium-ciuman dengan istri, dsb. Sama juga, pada saat itu di Israel pun demikian; ciuman yang bisa diekspresikan di depan publik adalah dengan orang yang adalah saudara. Jadi, perempuan ini ada kerinduan, dan kemudian berimajinasi dirinya dicium di hadapan publik, di hadapan perempuan-perempuan yang lain, dan seperti ada semacam kebanggan akan hal ini; dan ini berarti dia membayangkan sang kekasih laki-laki ini adalah saudaranya sendiri. Ini menarik, karena gambarannya justru terbalik; ini adalah hubungan ‘pacar’ tapi malah berharap jadi ‘saudara’, ataupun teman, karena paradigmanya justru keluarga boleh mencium di depan umum, sedangkan kalau pacaran menciumnya itu privat saja. Perempuan ini tidak tahan, dia ingin dicium kekasih laki-lakinya di depan umum, sehingga seakan-akan dia bilang ‘kita jadi saudara saja, yuk’ –supaya bisa dicium di depan umum.
Selain itu, ada spektrum yang lain yang juga mearik; dan dari sini saya akan masuk ke tafsiran Bernard de Clairvaux. Kita membaca 1 Raja-raja 19:18, “Tetapi Aku akan meninggalkan tujuh ribu orang di Israel, yakni semua orang yang tidak sujud menyembah Baal dan yang mulutnya tidak mencium dia.” Saudara melihat di sini, ciuman dikaitkan dengan ibadah. Ciuman sebetulnya gambaran erotis, tapi perhatikan di bagian ini, ciuman jadi gambaran sesuatu yang sangat sakral. Memang di bagian ini konteksnya berhala (Baal); tapi maksudnya, bagi orang Israel, ada nuansa pemujaan (cultic) di dalam gambaran erotis ‘mencium’. Mungkin kita sulit mengerti, karena bagi kita, yang erotis itu tabu, dosa –dan memang betul ada urusan erotis yang sangat berdosa– dan kita tidak mau membicarakan urusan erotis ini, yang menurut kita tidak ada hubungannya dengan ibadah. Tapi justru karena kita gagal menebus bagian ini, maka ibadah kita tidak ada “gambaran erotis”-nya (maksudnya dalam pengertian positif) dan kemudian dalam kehidupan sehari-hari, urusan cinta erotis kita juga tidak berkaitan dengan ibadah, totally disintegrated —dan inilah namanya kehidupan yang skizofrenis– padahal di dalam Alkitab tidak demikian.
Sekali lagi, ibadah itu menyenangkan, memberikan enjoyment and pleasure. Tapi waktu kita menikmati keindahan dan kesenangan dunia ciptaan, yang adalah pemberian serta kasih karunia Tuhan, kita juga tidak bisa melakukannya tanpa sikap ibadah kepada Tuhan. Kalau melakukannya tanpa sikap ibadah kepada Tuhan, sudah pasti kita akan terjun bebas ke sekularisme. Inilah yang akhirnya membuat sesuatu tidak sakral lagi. Tidak sakral bukan karena gambaran erotis, tapi menjadi tidak sakral karena terpisah total dari ibadah kepada Tuhan. Saudara lihat dalam 1 Raja-raja tadi, di situ pakai gambaran ‘mencium’, yang adalah gambaran erotis, tapi dikaitkan dengan ibadah, dengan penyembahan; mencium-menyembah, menyembah-mencium.
Bernard de Clairvaux, waktu mengomentari bagian Kidung Agung ini, dia mengaitkannya dalam tafsiran alegoris yang sangat terkenal pada zaman Medieval, sebagai hubungan jiwa dengan Allah yang dimediasi melalui Kristus. Betapa indah. Di dalam tafsirannya, dia bilang, kalimat ini bukan mengatakan “let him kiss me with his mouth”, tapi “let him kiss me with the kisses of his mouth”‘. Bagi Bernard de Clairvaux, ini berarti ada mediasi-nya, bukan langsung; hubungan jiwa dengan Allah bukanlah hubungan yang tanpa mediasi. Dan, tentu kita tahu, mediasinya adalah Kristus sendiri. Allah mencium kita di dalam Kristus, melalui Kristus; ini adalah privilege-nya Kristus. Kalau kita mau mengerti kedalaman cinta kasih Allah, kita musti mengertinya melalui mediasi Kristus; tidak akan pernah mungkin bisa mengenal kasih Allah, tanpa Kristus. Tidak ada orang bisa mengenal kasih Allah tanpa mediasi Kristus; ini adalah prinsip yang kita terima bukan cuma dalam Perjanjian Baru, tapi juga Perjanjian Lama, yang selalu ada konsep mediasi. Entah itu mediasinya Bait Suci (Temple), atau Taurat, atau raja yang diurapi, Musa, imam-imam, tapi selalu ada mediasi, tidak pernah tidak ada mediasi. Itu sebabnya di sini Bernard mengatakan kalimat “let him kiss me with the kisses of his mouth”, menunjukkan pengakuan akan privilege Kristus.
Selain itu, waktu Bernard membaca kalimat pertama ini, dia merenungkan dan menyadari betapa orang-orang di dalam Perjanjian Lama yang merindukan kelahiran Sang Mesias itu, begitu dalam kerinduannya, sedangkan ketika kita melihat diri kita sendiri, kita ini kurang antusias –demikian kata Bernard– dan ini sangat memalukan. Kita pikir, ‘O, pengertian Kristologis saya, pengertian Trinitarian saya, pasti jauh lebih komprehensif daripada orang-orang Perjanjian Lama’. Itu memang benar, karena kita adalah orang Post New Testament, sehingga memang seharusnya mengerti lebih baik daripada orang-orang dalam Perjanjian Lama; tapi di sini Bernard sedang menyoroti kerinduan mereka. Kerinduan mempelai perempuan kepada mempelai laki-laki di bagian ini, dia tafsir sebagai kerinduannya umat Allah di dalam Perjanjian Lama, yang merindukan kedatangan Mesias. Lalu dibandingkan dengan kehidupan Gereja sekarang –termasuk pada zaman Bernard ratusan tahun lalu– dia mengatakan, kita ini sekarang hidup pada zaman ketika penantian akan kedatangan Mesias itu sudah jadi realitas –Yesus lahir, Yesus hidup, Yesus mati, Yesus bangkit, Yesus naik ke surga, itu semua sudah terjadi– tapi justru ketika sudah jadi realitas, itu bisa membuat kita kehilangan apa artinya merindukan.
Itu sebabnya di dalam eskatologi Kristen, yang indah adalah karena bukan cuma ada ‘already’ tapi juga ‘not yet’; dan Perjamuan Kudus menampung hal ini dengan sangat indah. Dalam Perjamuan Kudus, Saudara sudah makan tubuh dan minum darah Kristus; tapi kita juga bisa mengatakan, ini belum di dalam kepenuhannya, karena makan dan minum ini masih cicipan. Betul bahwa orang yang mencicipi, dia sudah makan; tapi pada saat yang sama, juga bisa dikatakan belum; jadi sudah dan belum. Sudah mencicipi sebagian, tapi juga ada belum-nya.
Yang indah, aspek ‘belum’ ini membuat cinta kasih kita, kerinduan kita, pengharapan kita, bahkan penderitaan jiwa kita, ada tempatnya. Waktu kita sudah berjumpa dengan orang yang kita kasihi, hal-hal itu kadang bisa pudar. Kita tentu percaya, di surga tidak akan terjadi seperti itu karena ada anugerah Tuhan yang selalu cukup untuk menolong kita tidak menjadi demikian; tetapi di dalam kehidupan yang di sini dan sekarang, waktu kita berjumpa, kita malah kadang-kadang merasa terganggu dengan perjumpaan itu, kadang-kadang kita malah merasa seperti perlu ada semacam “break”, merasa untuk sementara lebih baik tidak ada dia dulu supaya lebih tenang, dsb. Kita bisa merasa seperti itu, sampai ketika saatnya ditinggal mati, di situ kita merasa rindu sekali, kehilangan sekali, dan merasa sangat mencintai dia, cinta kasih kita mendadak berkobar waktu orangnya sama sekali tidak ada –jadi ngangenin. Itu sebabnya Bernard de Clairvaux mengatakan, hati-hati dengan janji yang sudah menjadi realitas, lalu kita tidak bisa lagi menantikan janji Tuhan itu.
Jangan karena sudah digenapi, lalu kita tidak bisa menantikan penggenapan janji yang lebih penuh lagi. Di sinilah keindahan dari eskatologi Kristen, yang tidak menyelesaikan semuanya di sini dan sekarang. Ada keindahan dalam incompleteness di dunia ini, karena menyisakan kepada kita ruang untuk bisa tetap merindukan. Ada ketidakhadiran, ada pengunduran diri, ada semacam jarak yang ditarik, yang sebetulnya membawa Saudara dan saya untuk lebih mencintai Kristus, lebih mencintai yang kita cintai.
Waktu dikatakan “let him kiss me with the kisses of his mouth”, Bernard juga membandingkan, yang paling dirindukan itu, apa lagi kalau bukan Krstus sendiri. Dia bahkan mengatakan, kalau kita membaca cerita-cerita zaman dulu, ada yang bicara tentang angelic visitors, penampakan ini dan itu, tapi “itu semua membosankan saya”, demikian kata Bernard, dan “Jesus Himself, absolutely outshines them all”. Yesus sendiri, secara mutlak mengalahkan mereka semua. Pengalaman-pengalaman yang lain, angelic visitors ataupun pengalaman-pengalaman supranatural yang lain, semuanya pucat dan redup dibandingkan intimacy dengan Yesus Kristus.
Menarik kalau kita membaca di dalam tafsiran Medieval, suatu bagian yang secara spiritualitas Protestan –khususnya sejak Luther– agak hilang, yaitu bahwa dalam Medieval mysticism (dalam hal ini kita tidak bicara kekurangannya tapi kelebihannya), waktu bicara tentang mystic union with God, di situ ada step-stepnya yang makin ke atas. Membicarakan tentang step-step ini adalah hal yang biasa sekali, baik Saudara membaca tulisannya Bernard de Clairvaux, Teresa Avila, atau penulis-penulis mystic yang lain. Step-step tersebut bervariasi jumlahnya, ada yang 12, ada yang 15, dsb., tapi pada dasarnya bisa diringkas jadi 3 step. Yang pertama, purgation of sin (tentang membersihkan diri dari dosa); yang kedua, illumination of The Holy Spirit; terakhir, mystic union with God (persekutuan mistis dengan Allah), mystical ecstasy.
Dalam hal ini, Luther dengan doktrin “sola fide”, seperti menjungkirbalikkan anak tangga tersebut, bahwa orang Kristen biasa-biasa seperti Saudara dan saya, melalui iman (through faith), bisa langsung lompat ke anak tangga terakhir yaitu mystic union with God; kita langsung dipersatukan dengan Tuhan, melalui iman, oleh kebenaran Kristus yang sempurna. Bahwa kita dipersatukan dengan Tuhan, itu realitas di sini dan sekarang; Protestan sangat merayakan hal ini, bukan cuma Luther atau Calvin, tapi juga orang-orang Reformed yang lain. Pasti ada keindahan di dalam doktrin ini, tapi kadang-kadang kita kehilangan apa yang disebut dengan ‘preparation ini. Kita menganggap persekutuan dengan Tuhan ini seperti sesuatu yang rather take it for granted, kita menganggap itu sesuatu yang ‘setiap hari saya pasti selalu intim dengan Tuhan, Tuhan pasti selalu hadir dalam hidup saya, Dia tidak pernah tidak hadir’, dsb.,tapi kita tidak sadar ada aspek-aspek di mana ada semacam “ketidakhadiran Tuhan” (absence of God) di dalam kehidupan ini. Bukan “ketidakhadiran” karena kita dibuang, melainkan dalam pengertian bahwa Tuhan mau menguji kita, agar kita ini minta kepada Tuhan, supaya Dia menarik kita, sebagaimana yang dikatakan dalam Kidung Agung.
Kita membaca ayat 4: “Tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi”. Gambaran “absence of God” seperti ini, jangan ditafsir sebagai pembuangan, karena sudah berdosa, dsb., karena di sini paradigmanya adalah cinta; dan dalam paradigma cinta ini, absence tersebut membuat kita mengejar. Dan dalam hal mengejar ini kita tahu, kita ini “perempuan”, jemaat, bukan Kristus, dengan demikian waktu mengatakan “tariklah aku di belakangmu”, tidak membuat jadi perempuan yang mendominasi. Perkataannya boleh saja mendominasi, tapi dia tetap memosisikan diri dengan benar, “tariklah aku di belakangmu, marilah kita cepat-cepat pergi”. Pendeta Dr. Stephen Tong menulis bagian tentang ini, “tariklah aku, biarlah aku cepat mengikut-Mu”. Bukan kita yang menarik Tuhan, tapi kita minta supaya Tuhan menarik kita; dan ini beres, order antara male and female tidak rusak di sini.
Saudara perhatikan, justru dengan adanya perasaan akan ketidakhadiran, ini membawa kesadaran bahwa kita tidak bisa langsung lompat kepada ciuman itu –menurut bahasanya Bernard. Ini tipikal pembacaan mystic, bahwa mulainya dari bawah; dan yang pertama tersungkur di bawah kaki Yesus. Kalau kita mengerti poin ini –meski ini bukan biblical-theological approach tapi mendekati dari historical-theological perspective— di dalam pemikiran orang-orang Mystic, naik dari kaki sampai ke kepala, dan kepala berarti face to face; inilah mystical ecstasy. Ciuman seperti ini, adalah mystical ecstasy, tapi sebelumnya jangan lupa, kita merangkak dari bawah, tersungkur di bawah kaki Kristus. Apa artinya? Saya mengutip beberapa hal dari perkataan Bernard: ‘Fall down on the ground before Christ, take hold of his feet, implore him with kisses, let your tears wash his feet. Wait until you hear him say, “Your sins are forgiven”’. Sayang sekali, gambaran seperti ini di dalam spiritualitas Injli kadang-kadang agak hilang.
Menariknya, dalam Puritan (Puritan berarti pasca Reformasi), step-step purgation of sins ini oleh orang-orang Puritan seperti dihidupkan lagi. Ini jadi semacam preparation for grace. Tentu ini bukan dimengerti dalam pengertian Pelagian, Semi Pelagian, atau Armenian, yang seakan-akan kita bisa membersihkan dosa dengan kekuatan sendiri lalu setelah itu baru Roh Kudus akan menerangi kita. Bukan itu pengertiannya; kalau itu pengertiannya, pasti kacau soteriologi kita. Tapi yang dimaksud di sini, di dalam pengertian bahwa orang bisa ada pertobatan, ada kejengkelan terhadap dosanya, dia mau meninggalkan dosa, itu juga adalah pekerjaan Roh Kudus. Tidak bisa disangkali, yang sedang bekerja adalah Roh Kudus. Yang menggerakkan orang untuk berbicara supaya dirinya ditarik oleh Kristus, itupun pekerjaan Roh Kudus, itu bukan inisiasinya dia, itu adalah inisiasinya Tuhan. Tapi perhatikan, inisiasi Tuhan, inisiasi Roh Kudus, bukanlah tanpa yang disebut preparation for grace ini. Kadang-kadang kita lupa akan hal ini. Kita langsung masuk ke mystic union with God, kita bilang “by faith”, kita langsung lompat, kita lupa bahwa seharusnya mulai dengan tersungkur di bawah kaki Kristus lebih dulu.
Kita punya kemuakan, kejengkelan, greget terhadap dosa, itu janganlah dilewati, karena kalau bagian ini lewat, di-skip begitu saja, saya kuatir konsep intimacy kita dengan Tuhan jadi konsep yang murahan, jadi cenderung take it for granted. Kita akhirnya melihat cinta kasih Tuhan sebagai sesuatu yang sudah sebagaimana mestinya, yang kita berhak mendapatkannya, ‘sudah pastilah Dia mencium saya, saya memang dicintai, saya tahu koq, saya tidak pernah ragu Tuhan mencintai saya’ –kalimatnya secara teologis kedengarannya memang benar– tapi kita tidak sadar bahwa kita sebetulnya adalah orang-orang yang tidak layak untuk dicium.
Bernard kemudian melanjutkan, bukan cuma purgation of sins, tapi juga –Bernard mengatakan— “my forgiveness must bear fruits”. Hal ini kalau kita baca dari Soteriologi Injili seperti terbalik, ‘lho, bukannya kita dipersatukan dulu dengan Kristus, baru setelah itu kita bisa dikuduskan, baru kemudian kita ada buah’ –seringkali kita berpikir seperti itu. Tapi kalau Saudara membaca Institutes, Saudara bisa terkejut karena Calvin membicarakan tentang ‘kehidupan Kristen’ (Christian life) dalam Buku III, bab 6, 7, 8, 9, 10 –yang pada dasarnya sangat comparable dengan yang disebut ‘pengudusan’ (sanctification) di dalam istilah modern– baru kemudian dalam bab yang belakangan dia bicara tentang ‘pembenaran’ (justification). Meskipun di dalam tulisan Calvin ini kita tidak bisa mengharapkan ordo keselamatan/ordo salutis seperti dalam pengertian Reformed scholastic atau Reformed modern, dan kita cuma bisa bicara ordo salutis di dalam pengertian anakronistik –yang ada keterbatasannya karena kita memproyeksikan pertanyaan modern kepada tulisan yang sebelumnya, yang pada saat itu orang tidak memikirkan– tapi struktur seperti ini menarik. Apakah ini berarti di dalam soteriologi Calvin, kita ini dibenarkan karena hidup Kekristenan kita benar? Tentu tidak. Kita dibenarkan semata-mata karena kesempurnaan korban Kristus. Kebenaran-Nya yang sempurna, itulah yang membenarkan kita, bukan kesalehan Saudara dan saya; di dalam hal ini Calvin setuju sepenuhnya dengan Luther, dan Lutheran Orthodoxy. Tapi saudara perhatikan, ada pembahasan kehidupan Kristen (Christian life), yang berbab-bab ini, ada pembicaraan tentang pertobatan Kristen (Christian repentance), dan bagi Calvin, itu seumur hidup.
Struktur seperti ini, saya pikir boleh Saudara renungkan lagi, mengapa Calvin menulisnya demikian. Ini berarti, secara isi/konten, sangat jelas soteriologinya adalah dibenarkan semata-mata karena kasih karunia melalui iman; tapi secara urutan, dia masih mengambil Medieval mysticism, sehingga cerita tentang Christian life boleh dikatakan semacam cerita purgation of sins, cerita pertobatan. Dan, struktur ini diambil alih oleh kaum Puritan. Kalau Saudara membaca tulisan Puritan, banyak sekali bicara hal seperti ini. Sayangnya, terus terang saja spiritualitas seperti ini seringkali hilang di dalam spiritualitas Injili, karena kita pikir kita sudah disatukan dengan Tuhan, jadi kita mulai setiap harinya dengan mystic union with God, by Christ, through Christ, perfect righteousness, dsb. –yang memang betul, tidak salah– tapi jadi kurang ada pemahaman bahwa kita ini harusnya tidak layak mendapatkan itu, kita ini harusnya merangkak dari bawah, dari kaki Kristus, tapi Tuhan mengangkat kita, Tuhan yang akhirnya memberikan kepada kita kecupan itu, di dalam Kristus. Itulah seharusnya yang menjadi cerita kita.
Apa yang bisa kita pelajari di sini? Meski penafsiran Bernard de Clairvaux ini mungkin tidak masuk ke dalam biblical-theological standard pada zaman Saudara dan saya sekarang, namun tetap ada keindahannya. Ini mengingatkan kita, waktu dikatakan “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”, dalam tafsirannya Bernard, perempuan ini tahu bahwa ini bukanlah sesuatu yang dirinya berhak, yang kemudian dia mulai jadi kurang ajar. Kadang orang mengatakan, boleh saja menikahi gadis yang katakanlah dari desa, tapi giliran sudah nikah, pelan-pelan perempuan itu bisa kurang ajar juga terhadap pasangannya. Memang di dalam pernikahan bisa terjadi seperti itu; orang bisa jadi tidak sadar, asal mulanya dari mana, lalu mulai naik kepala, ‘saya ‘kan istrinya’. Cerita inilah yang sebetulnya ingin disampaikan oleh Bernard, “kiranya ia mencium aku dengan kecupan”; seolah dia mau mengatakan: jangan lupa, merangkak dari bawah, asal usulmu dari bawah, bahkan berada di bawah kaki-Nya pun engkau sebetulnya tidak layak.
Saudara dan saya berada di bawah kaki Krstus pun sebetulnya tidak layak. Kita tidak layak berada di sana, kita harusnya berada jauh dari sana, kita harusnya dibuang. Tapi Tuhan memberi kepada kita kesempatan untuk menghampiri Dia; dan kita mau supaya Tuhan menarik kita lebih dalam lagi. Kita yang sudah ditarik, kita minta kepada Tuhan supaya Dia lebih lagi menarik kita, sehingga Allah itu boleh mencium kita dengan kecupan, di dalam Kristus.
Kiranya Tuhan memberkati kita semua.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading