Gereja sedunia sudah memasuki Masa Lent sejak Rabu Abu minggu lalu. Apa itu Masa Lent atau Masa Prapaskah? Masa 40 hari menjelang Paskah, di mana Gereja mempersiapkan diri untuk merayakan kebangkitan Yesus, sama seperti Adven adalah musim Gereja mempersiapkan diri untuk merayakan kedatangan Yesus. Namun masa Lent ada warna tersendiri, yaitu masa ini ditandai dengan puasa. Jadi hari-hari belakangan ini bukan cuma bulan puasa bagi orang Muslim, tetapi juga bagi orang Kristen. Di awal saya ingin address dulu hal ini, karena kita mungkin bingung dengan Rabu Abu, Prapaskah, lalu merasa seperti masuk ke Gereja Katolik, atau mungkin lebih celakanya lagi merasa seperti masuk mesjid.
Hal pertama yang Saudara perlu tahu, masa Lent dan kebiasaan puasa dalam masa tersebut bukanlah warisan Gereja Katolik Roma. Ini bukan tradisi yang dihasilkan dari keputusan paus tertentu dalam abad pertengahan, ini tradisi yang sudah ada sejak Gereja-mula-mula, abad pertama.Gereja-mula-mula dalam abad 1-4 sedikit banyak jalan sendiri-sendiri secara lokal, tidak leluasa berkomunikasi satu dengan yang lain, beribadah saja sulit, karena penganiayaan. Namun yang menarik, dalam empat abad tersebut meskipun mereka jalan sendiri-sendiri dan puasanya lain-lain (ada yang puasa sebelum dibaptis, ada yang sesudah dibaptis, ada yang puasa dua kali seminggu mengikuti orang Yahudi, ada yang puasa sebulan), ketika mereka bertemu dalam Konsili Pertama tahun 325 (Konsili Nicea), mereka sadar ternyata semua dari mereka berpuasa. Ini mirip seperti sekolah-sekolah di Jakarta hari ini yang tanggal masuk dan liburnya bisa beda-beda, fasilitasnya beda-beda, bahasa pengantarnya beda-beda, tetapi semuanya belajar Matematika –jadi puasa seperti Matematika bagi Gereja-mula-mula. Kenapa bisa seperti itu? Sederhana saja, Saudara membaca Injil ada panggilan untuk mengikut Yesus; dan salah satu yang Yesus lakukan adalah berpuasa 40 hari di padang belantara. Jadi kita harusnya sadar bahwa yang aneh bukanlah orang Kristen yang berpuasa, melainkan kita yang somehow merasa “matematika” bukan kurikulum standar bagi umat Tuhan.
Omong-omong, tahun ini bulan Puasa umat Islam dan Lent bersamaan waktunya, dan ini terjadi 33 tahun sekali doang. Yang pasti, Ramadhan baru lahir pada abad 7 di Timur Tengah seiring berkembangnya Islam, sementara puasa Kristiani sudah ada sejak awal, dan diresmikan sekitar abad ke-4 dalam Konsili Nicea. Jadi kita hari ini bukan ikut-ikutan mereka, kita sedang menemukan kembali tradisi yang ada dalam Gereja sejak mula.
Masa Lent dimulai dengan kisah sentral, kisah Pencobaan Yesus di Padang Gurun.Dalam masa-masa Lent yang lalu kita sudah menelusuri kisah ini dalam Injil Markus dan Lukas, tahun ini kita membuka versi Matius. Kita akan mempelajari pencobaan Yesus, puasa Yesus, dan menarik pelajaran bagi hidup kita. Sebagaimana biasa, kita akan membahas kisah ini dengan membahas mengenai lensa apa yang tepat dan lensa apa yang kabur, lalu coba melihat makna kisahnya, kemudian implikasinya buat kita.
Sebelum memakai lensa yang tepat, kita perlu copot dulu lensa yang salah, yaitu waktu membaca kisah-kisah pencobaan ini, kita pikir perhatian kita sah kalau fokus pada sosok Iblisnya. Ini sebenarnya tidak penting; dan untuk itu saya ingin mengajak kita menyadarinya lewat melihat penggambaran-penggambaran adegan pencobaan ini dan bagaimana Iblis digambarkan dalam sejarah lukisan.

St Mark’s Basilica, Venice, early 12th c.
Ini lukisan yang paling early, abad 12, setan digambarkan kecil, kerdil, hitam –bisa jadi ini rasis, tetapi bisa juga simply karena kuasa gelap –jelek banget, kulitnya bersisik seperti kadal.

“The Temptation of Christ” (Sandro Boticelli, c.1480-2)
Berikutnya ini lukisan tahun 1480. Penggambaran Iblisnya sekarang lain, bukan lagi hitam-jelek-kerdil, melainkan seperti seorang biarawan. Ini pergeseran yang menarik, dan memang ada trend dalam zaman-zaman tersebut untuk menggambarkan setan dengan figur biarawan.

“Temptation of Christ in the Wilderness” (Juan de Flandes, c.1500/4)
Kita bisa lihat hal tersebut juga dalam gambar ini; kita bisa tahu ini memang Iblis karena ada tanduknya (sementara dalam gambar sebelumnya, ada sayap kelelawar di belakang figur biarawan tersebut, dan kakinya pun kaki kadal).

“The Temptation of Christ” (Ary Scheffer, 1854)
Yang keempat ini lebih maju lagi, tahun 1854. Iblis digambarkan tidak ada tanduknya lagi, tidak ada lagi sisik-sisik atau kaki kayak kadal, dsb., bahkan penggambarannya sekarang sangat mirip dengan gambaran yang ada di benak kita mengenai seorang malaikat. Sayapnya bukan lagi sayap kelelawar tetapi sayap malaikat. Dia tetap digambarkan gelap –karena mewakili kuasa gelap– namun kulitnya sudah mulus, tidak ada gambaran seperti kadal lagi.

“Christ in the Wilderness” (Ivan Kramskoy, 1872)
Yang terakhir ini lukisan dari Kramskoy yang terkenal, tahun 1870, di sini bahkan tidak ada figur Iblis sama sekali.
Jadi satu hal yang menarik bahwa ada perbedaan dari zaman ke zaman dalam hal orang menggambarkan pencobaan Kristus, khususnya bagaimana mereka menggambarkan sosok Iblis. Apa yang kita bisa tarik dari hal ini, melihat Iblis digambarkan dari zaman ke zaman seperti ini? Pertama-tama kita jadi sadar bahwa gambaran iblis-iblis ini cuma imajinasi orang tok. Ini bukan gambaran Iblis yang asli, itu sebabnya lain-lain. Konsep Iblis dari zaman A lain dengan konsep Iblis zaman B, maka gambarnya beda. Dan, itu berarti juga gambaran Iblis yang ada di kepala-mu mungkin juga cuma imajinasi-mu saja.
Hal kedua yang menarik, yaitu bahwa tujuan dari gambaran-gambaran visual seperti ini –digambarkan seperti biarawan, malaikat –poinnya bukan untuk mengatakan seperti inilah setan, melainkan bahwa Iblis sering kali menyamar (tokoh biarawan dan malaikat bukan tokoh yang kita identikkan sebagai yang jahat). Lukisan Kramskoy yang terakhir tadi, bahkan tidak ada lagi gambaran visual Iblisnya. Ini berarti sepertinya Kramskoy mengajak kita untuk bertanya, kalau Iblis memang menyamar, masih perlu ‘gak sih kita bikin gambaran visual tentang Iblis?Dengan kita selama ini menggambarkan Iblis dalam wujud fisik, pada akhirnya sering kali membuat kita tidak sadar bahwa samaran Iblis yang paling ultimat bukanlah wujud biarawan atau bahkan malaikat terang, tetapi misalnya menyamar menjadi suara hati kita. Jadi Kramskoy sengaja menceraikan Iblis dari bentuk visual, membuat Iblisnya tidak lagi kelihatan, harapannya supaya kita justru lebih bisa melihat kehadiran kuasa gelap ini dalam hidup kita –namun melihatnya ini paradoks, melihat lebih jelas justru ketika Saudara mulai memejamkan mata.
Kalau Saudara perhatikan Perjanjian Baru, penggambaran kuasa gelap lain-lain. Ada penggambaran kisah-kisah setan merasuki individu-individu tertentu (ini penggambaran yang kita terbiasa), namun jangan lupa, di Perjanjian Baru kuasa gelap juga digambarkan dalam level yang lebih terorganisasi, lebih komunal, lebih sistemik. Misalnya yang Paulus sebut dalam kitab Efesus sebagai kerajaan angkasa, roh-roh yang bekerja di antara orang-orang durhaka, the powers and principalities yang diterjemahkan LAI menjadi pemerintah-pemerintah, penguasa-penguasa, penghuku-penghulu dunia yang gelap, roh-roh jahat di udara. Ini bentuk yang lebih komunal, lebih tidak kelihatan, lebih terselubung masyarakat besar. Jadi dalam Perjanjian Baru penggambaran kuasa gelap bukan satu bentuk atau satu jenis, melainkan banyak. Alkitab tidak ingin kita terfokus dengan wujud setannya, Alkitab tidak memberi kita ruang untuk bisa menunjuk, “Nah itu yang setan!” dan dengan demikian yang lain bukan. Ini lebih jelas lagi kalau Saudara memperhitungkan bagaimana cerita-cerita mengenai setan itu ada ambiguitas/misteri yang menyertai, yang sengaja dipertahankan. Bukan cuma bentuknya tidak ketahuan, tetapi dalam hal asal-muasal setan pun Alkitab sangat silent. Siapa yang disebut dalam bahasa Yunani HaSatan ini, tidak pernah dijelaskan. Nama HaSatan simply berarti si pencoba, “the adversary” atau“the accuser”(si jaksa penuntut), asal-muasalnya dari mana tidak pernah jelas.
Memang ada beberapa yang kita tahu mengenai Iblis dari Alkitab, misalnya bahwa Iblis tidak pernah digambarkan sebagai figur yang kuasanya sama dengan Allah seperti yin dan yang. Iblis adalah suatu makhluk yang takluk pada kedaulatan Allah, itu kita lihat jelas dari kitab Ayub. Tetapi dari mana asal-muasalnya, tidak pernah jelas; dan ini membuat orang Kristen sepanjang sejarah jadi gatel, mulai mencari-cari cerita-cerita di Alkitab yang bisa menjelaskan asal-muasal ini, lalu mulai menarik-narik dari kitab Yesaya dan Yehezkiel, bikin cerita-cerita bahwa Iblis itu asalnya Lucifer yang jatuh dari surga sebelum dunia diciptakan,dsb. Namun seperti lukisan-lukisan tadi, cerita-cerita seperti ini adalah hasil imajinasi manusia, plus pengaruh dari Dante, Milton, Paradise Lost, dsb., bukan dari Alkitab. Ada banyak tafsiran yang lebih bertanggung jawab tentang bagian-bagian kitab Yesaya dan Yehezkiel yang sepertinya lebih masuk akal, bawah ayat-ayat tersebut menggambarkan raja-raja manusia yang jahat pada zaman para nabi, bukan figur HaSatan. Alkitab cukup silent mengenai asal-muasal setan, sama seperti Alkitab cukup silent mengenai asal-muasal dosa dan kejahatan. Dari mana dosa? Kenapa di dalam dunia yang Tuhan ciptakan amat sangat baik bisa ada kemungkinan dosa yang akhirnya mereusak segala sesuatu? Dalam hal ini respons Teologi Reformed adalah: Alkitab tidak memberitahu. Dan, kita perlu berani berhenti di situ, karena tujuan Alkitab ada bukanlah untuk memuaskan segala keingintahuan kognitifmu. Kembali ke Alkitab, bukan cuma berarti menggali apa yang sesungguhnya Alkitab ajarkan, tetapi juga berhenti melangkah dalam hal yang Alkitab memang tutup (Ul. 29:29).
Poin dari kisah pencobaan bukanlah supaya kita jadi bisa menunjuk-nunjuk hal-hal dalam hidup kita lalu menyetan-nyetankan benda itu, melainkan untuk menyadarkan kita bahwa yang kita pikir sebagai setan sering kali perlu dibongkar, kita sering kali tidak sadar terhadap kehadiran setan karena kita termakan imajinasi-imajinasi kita sendiri.Jadi, untuk mencerna kisah ini yang diperlukan bukanlah semakin banyak imajinasi, melainkan justru keberanian menyerahkan imajinasi tersebut, berani meletakkan usaha-usaha kita untuk berimajinasi/mengantisipasi kayak apa setan-setan dalam hidup kita, berani mencopot lensa yang kita pakai selama ini, berani untuk setop bertanya-tanya mengenai Iblisnya, karena dia sesuangguhnya tidak penting, dia cuma lewat sambil lalu, maka Alkitab tidak tertarik menjelaskan mengenainya. Dalam kisah ini, dia paling banyak cuma peran pembantu, ada somewone else yang perhatian kita lebih perlu ditarik kepada-Nya.
Itulah mengenai mencopot lensa yang salah. Lalu lensa apa yang lebih baik untuk kita pakai dalam mengerti kisah ini? Kita bisa mulai dengan mengupas pertama-tama mengenai apa sesungguhnya yang dimaksud Alkitab dalam istilah pencobaan? Pemahaman kita selama ini mengenai dicobai atau digoda mungkin terlalu sempit untuk istilah peirazo yang dipakai Alkitab.Kita pikir pencobaan/godaan datang selalu untuk melakukan dosa/kejahatan; Saudara tentu tidak akan menggoda orang untuk melakukan kebaikan ‘kan??Tetapi, peirazo tidak bisa diungkapkan cuma sebagai urusan pencobaan seperti itu. Kata peirazo tidak cuma muncul dalam episode mengenai Iblis di bagian ini, tetapi juga ketika belakangan para pemuka Yahudii datang untuk mencobai (peirazo) Yesus, dengan menanyakan kepada-Nya segala pertanyaan mengenai Hukum Taurat. Dalam hal ini, apakah menurut Saudara para pemuka agama Yahudi sedang menggoda Yesus untuk berdosa dengan segudang pertanyaan klarifikasi mengenai Hukum Taurat itu? Tentu tidaklah. Jadi, istilah mencobai di sini kayaknya bukan istilah yang tepat bagi peirazo.Apa kata yang lebih tepat? Menguji.
Ujian adalah sesuatu yang terjadi ketika para guru selesai memberikan materi tertentu kepada anak-anak didiknya lalu ingin mencari tahu kebenaran, membawa realitas ke permukaan, yaitu seberapa anak-anak didiknya mengerti materi yang diberikan, apakah mereka benar-benar menyerap, atau mereka selama ini tidur di kelas. Jadi ketika mau tahu kebenaran dari sesuatu, Saudara menguji. Apakah ujian menyenangkan? Ujian itu sulit, membawa tekanan, karena naturnya memang untuk mengungkap realitas apakah kamu selama ini mengerjakan PR atau begadang cuma untuk main game tok, untuk itu perlu tekanan supaya bisa ketahuan aslinya. Ujian (peirazo) adalah seperti itu.
Ujian adalah situasi-situasi dalam hidup kita, umat Allah, yang menekan, sulit, tetapi ujungnya mengungkap kebenaran/realitas mengenai diri kita. Itu sebabnya dalam Perjanjian Lama bisa dikatakan Allah menguji Abraham. Allah jelas bukan sedang menggoda atau mencobai Abraham untuk melakukan dosa ‘kan. Abraham justru diuji in some sense karena Allah yakin karakter dia seperti apa, dan ingin ujian tersebut mengungkap karakter ini. Orang Farisi pun sama, mereka ingin membongkar realitas mengenai Yesus maka mereka menguji Dia, mencoba memperangkap Dia dengan tujuan supaya nyata di hadapan orang banyak siapa sesungguhnya Orang ini. Tentunya mereka salah pikir, mereka pikir realitasnya Yesus ini penipu, guru sesat. Itu yang mereka ingin bongkar, namun akhirnya mereka terkejut karena realitas yang terbongkar ternyata lain. Jadi ujian tidak ada urusan dengan motivasi, ujian yang dimaksud yaitu bahwa ini akan mengungkap kayak apa realitas dari seseorang sesungguhnya. Ini lensa yang lebih beres, lebih Alkitabiah, lebih beneficial juga, dalam kita membaca kisah pencobaan.
Yesus di sini bukan dicobai supaya Dia berbuat jahat. Kisah ini bukan mengenai itu. Kita sering bingung soal catatan bahwa Roh Kuduslah yang memimpin Yesus. Yesus baru saja dibaptis, baru saja Roh Kudus turun sebagai burung merpati menjadi pengantara deklarasi Bapa akan Yesus sebagai Anak Allah, sebagai yang dikasihi dan diperkenan Allah, tetapi Roh Kudus yang sama langsung memimpin Dia ke padang belantara untuk di- peirazo oleh Iblis; kenapa ya??Kenapa Roh Kudus koq seperti jahat?? Lalu nanti kita juga akan alami itu seperti murid-murid Yesus; koq Roh Kudus usil banget, jail banget?? Saudara, itu bukan lensa yang tepat. Ini bukan kisahmengenai Yesus sengaja digoda supaya Dia jatuh; ini adalah kisah mengenai Mesias, Juruselamat dunia, yang sedang menunjukkan kepada dunia realitas diri-Nya yang sesungguhnya, dengan cara Dia menjalani ujian, even if itu dari tangan Iblis.
Bisa dibilang Iblis sama kagetnya sebagaimana orang-orang Farisi kaget. Mereka menguji karena mengira tahu siapa Yesus sesungguhnya, dan hal itu ingin mereka bikin terbongkar keluar lewat ujian ini, tetapi Yesus lewat ujian tersebut malah menunjukkan seperti apa realitas yang sesungguhnya –dan mereka kaget. Dalam cerita Ayub juga sama. Setan datang kepada Allah dan mengatakan, “Kamu tidak tahu Ayub sebenarnya kayak apa. Aku mau bongkar nih bahwa dia itu menyembah-Mu cuma karena dia mendapatkan hal yang baik. Sekarang ambil semua yang baik, Tuhan, maka dia akan mengkhianati dan mengutuki-Mu.” Itulah kata setan, maka Tuhan membiarkan setan menguji Ayub –dan Saudara lihat seperti apa realitas yang terbongkar. Jadi, masuk akal kenapa Roh Kudus melakukan hal ini, membawa Yesus ke padang belantara untuk di-peirazo.
Pengertian peirazo yang lebih lagi akan kita dapatkan kalau consider cerita ini dari shadow stories-nya di Perjanjian Lama. Ini cerita mengenai Anak Allah yang dibawa keluar dari Mesir, dibaptis melalui air, setelah dibaptis segera masuk ke padang selama 40 hari. Di mana di Perjanjian Lama ada cerita mengenai anak Allah, yang keluar dari Mesir, melalui laut, langsung masuk ke padang belantara selama 40 something tahun dalam pimpinan Allah dalam bentuk tiang awan dan tiang api? Saudara tentu ingat itu, yang adalah shadow stories-nya, dan untuk apa mereka mengalami hal tersebut. Ul. 8:2-3, Ingatlah kepada seluruh perjalanan yang kaulakukan atas kehendak TUHAN, Allahmu,di padang gurun (ini mirip seperti Yesus dibawa ke padang belantara dengan dipimpin oleh Roh Allah) selama empat puluh tahun ini dengan maksud merendahkan hatimu dan mencobai engkau (ini peirazo kalau dalam Septuaginta)untuk mengetahui apa yang ada dalam hatimu(menguji supaya keluar realitasnya), yakni, apakah engkau berpegang pada perintah-Nya atau tidak. Jadi Ia merendahkan hatimu, membiarkan engkau lapar dan memberi engkau makan manna, yang tidak kaukenal dan yang juga tidak dikenal oleh nenek moyangmu, untuk membuat engkau mengerti, bahwa manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi manusia hidup dari segala yang diucapkan TUHAN(ini yang dikutip oleh Tuhan Yesus tadi). Jadi, Matius sengaja banget memberikan kisah ini untuk menunjukkan koneksinya dengan Perjanjian Lama, bahwa Yesus seperti sedang menjalani ulang kisah Israel, semacam me-restrart kisah Israel, dulu Israel menjalani ini gagal, sekarang ‘take two’ Yesus akan melakukannya lagi, dan lihatlah Yesus akan berhasil atau tidak.
Yesus melakukan ini bukan hanya sebagai Mesias Israel, karena shadow stories-nya ada satu lagi yang lebih tua. Di Alkitab ada cerita mengenai seorang perwakilan manusia yang diberikan perintah oleh Allah, lalu datang si penguji/pencoba, yang mengutip perkataan Allah namun memelintirnya sedikit supaya manusia meragukan perkataan tersebut. Di manakah itu? Kejadian 3, cerita Adam dan Hawa. Jadi Matius sengaja banget melakukan ini, menunjukkan bahwa Yesus bukan cuma datang untuk menjadi Israel yang baru, yang sejati, yang lulus dalam ujian-ujian yang Israel gagal, tetapi Dia juga bahkan datang untuk menjadi Manusia yang baru, Manusia yang sejati, Manusia pertama yang bisa lulus ujian Tuhan mengenai kayak apa harusnya manusia, gambar dan rupa Allah yang sejati. Itulah lensanya.
Kisah pengujian ini –kisah peirazo Yesus—adalah kisah di mana realitas mengenai Yesus sedang diungkap; namun kisah realitas diri Yesus yang sesungguhnya itu, mengungkap mengenai seperti apa Israel yang sesungguhnya, dan seperti apa manusia yang sesungguhnya. Dia, Allah yang menjadi manusia bukan simply ikut-ikutan jadi manusia tok. Dia menjadi manusia karena kita gagal menjadi manusia; dan karena Allah menjadi manusia, maka para manusia yang gagal akhirnya bisa menjadi manusia yang sejati. Intinya, kisah pencobaan bukanlah mengenai realitas Iblis melainkan mengenai realitas Kristus yang sesungguhnya; dan pengungkapan mengenai seperti apa Kristus yang sesungguhnya adalah pengungkapan mengenai seperti apa realitas manusia yang sesungguhnya. Kisah pencobaan bukanlah mengenai godaan, melainkan mengenai ujian. Kisah pencobaan adalah mengenai Kristus telah menjadi manusia, supaya engkau dan saya yang selama ini gagal jadi manusia, boleh dimanusiakan kembali. Itu lensanya; mengenai Kristus dan mengenai manusia –dan kita akan melihat ini.
Sekarang kita melihat ceritanya. Seperti biasa, membahas cerita pencobaan pastinya membahas satu per satu, namun saya tidak mau hanya memperlihatkan soal apa yang dicobai kepada Yesus, saya ingin kita fokus dalam hal bagaimana cara Yesus dicobai, apa metode ujiannya.
Ayat 3-4 Pencobaan yang Pertama
Perhatikan teknik pencobaannya setan. Setan memulai dengan mengatakan, “Jika engkau Anak Allah, lakukan ini dan itu … “. Ini tidak kebetulan, karena persis sebelumnya ada peristiwa Baptisan. Baptisan adalah saatnya identitas Yesus sebagai Anak Allah dideklarasikan, dan sekarang episode berikutnya identitas tersebut dipertanyakan. Jadi ini nyambung.
Pencoba datang, dia berusaha membuat Yesus meragukan identitas ini. Caranya dengan menunjukkan sesuatu yang seperti ‘gak nyambung: “Yesus, Engkau di sini kelaparan, kehausan hampir mati, lah koq bisa?? Jika Engkau Anak Allah –berarti Bapa memperkenan Engkau—koq bisa hidup-Mu diisi dengan kelaparan?? Koq bisa hidup-Mu nyangkut di padang belantara?? Kenapa hidup-Mu begitu sulit?? Kayaknya Bapa-Mu bukan Bapa yang baik deh, Dia tidak menginginkan yang terbaik bagi-Mu. Lihat saja hidup-Mu, itu buktinya!” Ini serangan yang pertama, ke atas. Serangan keduanya: “By the way kalau Engkau benar-benar Anak Allah, Engkau bisa do something, Engkau tidak harus menunggu Bapa-Mu yang tidak peduli itu. Solusinya ada di depan mata, kalau engkau Anak Allah, Kau pasti mampu melakukan kayak beginian, ubah batu jadi roti.” Pintar ya, setan, hit two birds with one stone, kena ke Bapa dan kena ke Yesus. Ini adalah sebuah ujian, apakah Yesus sungguh-sungguh mempercayakan diri-Nya kepada Bapa.
Selanjutnya, Yesus merespons, mengutip Ulangan 8 tadi, bagian kilas balik mengenai Israel yang gagal dalam ujian mereka. Bagian apa yang Yesus kutip, yang jadi poin pembelajaran materi kurikulum yang Israel gagal mengerti? Yaitu: manusia tidak hidup dari roti saja, tetapi dari segala firman yang diucapkan Allah. Ini mengungkap kepada kita realitas mengenai manusia. Ini sesuatu yang dalam zaman modern sangat nyata. Contohnya, dalam film Zombie jelas bahwa yang namanya hidup bukanlah semata-mata survival.Dalam film itu ada manusia jenis pertama, yang demi survival dia makan manusia lain, mengorbankan manusia lain; dan ujungnya tidak beda dengan zombie, meskipun bertahan hidup. Sedangkan manusia jenis kedua yang mengorbankan dirinya demi manusia yang lain, meskipun tidak semua akhirnya bisa survive –karena mereka memang mengorbankan diri—mereka lebih manusiawi dibandingkan manusia jenis pertama tadi. Manusia hidupnya bukan semata-mata survival, itu namanya manusia, itu realitas mengenai manusia. Orang ateis pun hari ini menyadari bahwa manusia tidak cuma butuh makanan untuk bisa hidup, manusia butuh makna untuk bisa hidup (makan dan makna –bagus ya, bahasa Indonesia).
Manusia butuh makna untuk punya hidup yang menghidupkan, maka manusia modern senatiasa berusaha menciptakan makna bagi hidup mereka –karena mereka tidak percaya Tuhan. Namun ironisnya, pada zaman ini, di mana manusia semakin intens berusaha membuat makna hidup bagi dirinya sendiri dari dalam, adalah zaman di mana manusia semakin haus akan makna yang diucapkan dari luar. Kita akan lihat ini sama-sama.
Masyarakat modern memfasilitasi untuk kita menciptakan identitas kita sendiri, makna hidup kita sendiri. Misalnya lewat postinganmu, Saudara memilih untuk mengungkapkan siapa dirimu, ‘gue sukanya yang ini, yang ini gue benget, lho’, dsb., Saudara sedang memilih identitas, memilih apa yang membuat hidupmu jadi bermakna. Kalau mem-posting foto anak melulu, berarti itulah makna hidupmu; dan Saudara sedang mengungkapkan itu. Atau kayak saya, postingannya foto sepeda melulu, berarti itulah makna hidupku. Ini bukan cuma urusan sosmed, tetapi juga dalam produk-produk yang kita beli. Perhatikan produk-produk zaman sekarang, iklannya bukan cuma memperlihatkan produknya tetapi juga orang seperti apa yang pakai produk tersebut. Kenapa ini penting? Karena waktu Saudara memilih suatu produk, itu bukan cuma gara-gara spek-nya lagi, tapi juga berdasarkan ini produk gue banget atau tidak; dan waktu Saudara menjatuhkan pilihan, Saudara sedang mengatakan, “Inilah saya”, Saudara sedang membangun identitasmu.
Zaman hari ini sangat memfasilitasi untuk kita menentukan siapa dirimu, ada banyak pilihan, tiap orang ada produknya masing-masing, cobain saja salah satu, kalau tidak cocok pun masih banyak yang lain. Hal ini berlanjut pada urusan entah Saudara mau cheesegender, non-gender, transgender, atau gender apapun terserah, silakan ciptakan masing-masing, makna hidupmu masing-masing. Zaman ini adalah zaman di mana manusia terobsesi untuk menciptakan identitasnya sendiri, makna hidupnya sendiri; namun ironisnya, zaman seperti ini, zaman yang ‘pokoknya gue banget’, adalah zaman di mana kita justru semakin haus menanti dan mengharapkan ucapan dari orang lain mengenai diri kita. Itu sebabnya Saudara difasilitasi bukan cuma dengan bisa posting, tetapi juga untuk menerima likes, clicks, views, bagi postinganmu itu. Zaman dulu pun orang mencarinya lewat perkataan orangtua terhadap mereka, perkataan guru terhadap mereka, perkataan Tuhan bagi mereka, tetapi yang keren dari zaman sekarang adalah bahwa ucapan-ucapan ini bisa di-track, dihitung, berapa banyak dan berapa sering. Kalau Saudara posting di sosmed, semua itu bisa dihitung. Dan, inilah tujuan kita posting-posting kayak begitu ‘kan?? Kita pikir kita mau mengekspresikan diri? Tidak itu doang, kita ingin mendapatkan ucapan dari orang. Bayangkan saja kalau Saudara posting di sosmed dan tidak ada yang lihat, rasanya hampa, ya; lebih celaka lagi kalau banyak yang lihat tetapi tidak ada yang like, rasanya lebih hampa lagi. Kenapa? Karena manusia butuh ucapan dari luar, manusia butuh komunitas, butuh relasi-relasi di mana kita mengenal dan dikenal, dikasihi dan mengasihi, untuk benar-benar bisa hidup sebagai manusia.
Manusia butuh ucapan dari luar; dan manusia yang miskin akan hal ini, tidak bisa hidup, layu dan kering! Jadi Saudara lihat perkataan Yesus tadi, tentu saja manusia hidup dari roti, semua juga tahu, tetapi tidak dari roti saja; manusia hidup membutuhkan ucapan dari luar, dan ucapan ini ultimately bukan cuma dari teman, bukan cuma dari kolega, bukan cuma dari keluarga, tetapi dari Sang Pencipta.Kita butuh itu. Itu yang membuat manusia hidup, kata Tuhan Yesus. Itu yang membuat manusia punya makna. Dan, Yesus mengatakan, hidup-Ku, maknanya bukanlah urusan ada roti atau tidak ada roti.Makna hidup-Ku, identitas-Ku adalah urusan ada perkenanan Bapa atau tidak. Hidup-Ku itu hidup, bukan karena roti-Ku cukup atau tidak cukup, melainkan karena ucapan Bapa bagi-Ku itu cukup. Dan, Aku memilih untuk menaruh definisi hidup-Ku pada ucapan Bapa. Aku lebih mempercayakan diri-Ku kepada apa yang Bapa katakan, dibandingkan kepada situasi yang Aku lihat. Di sini Saudara menyaksikan seperti apa realitas Yesus Kristus sesungguhnya yang diungkap, dibawa keluar melalui ujian –itu sebabnya ujian bukanlah negatif– namun waktu hal ini diungkap, ini bukan cuma mengungkap mengenai Yesus, ini mengungkap realitas seperti apa sesungguhnya manusia yang sejati. Manusia yang sejati adalah manusia yang baginya apa yang Allah lihat itu lebih riil dibandingkan apa yang matanya sendiri lihat, apa yang perutnya sendiri rasakan, apa yang kerongkongannya alami. Itu yang pertama.
Ayat 5-7 Ujian yang Kedua
Perhatikan cara Yesus dicobai, sekarang setan mengutip Alkitab, sebelumnya tidak. Itu sebabnya waktu mendengarkan khotbah, kita sangat butuh membahas lensa, tidak cuma isinya, karena setan pun tahu isi Alkitab; dan isi Alkitab bisa dipakai untuk segala macam. Mengetahui lensa yang tepat, itulah yang bikin beda. Jangan baca Alkitab dengan selalu kepinginnya dapat langsung, itu tidak bisa, itu membaca secara satanic. Setan di sini mencobai Yesus dengan mengatakan malaikat akan menatang, dsb., ini diambil dari mana? Dari Mazmur 91; dan Mazmur 91 ini sesungguhnya bagian yang sangat positif, ini mazmur/doa yang menyatakan seperti apa hidup yang dipercayakan kepada Tuhan.
Pencobaan pertama tadi, Yesus mengatakan: ‘Aku mempercayakan hidup-Ku kepada Tuhan; apa yang Tuhan lihat, itulah yang mau aku ambil sebagai kebenaran, bukan apa yang aku lihat’. Jadi kali ini setan mengatakan: ‘oke, Lu mau percayakan hidup Lu kepada Tuhan, lihat nih Mazmur 91, seperti apa hidup orang yang mempercayakan hidupnya kepada Tuhan: barangsiapa yang duduk dalam lindungan Tuhan,yang bermalam dalam naungan Yang Mahakuasa,yang berkata kepada TUHAN: “Tempat perlindunganku dan kubu pertahananku, Allahku, yang kupercayai“, hidup orang seperti ini kata Mazmur 91: engkau tak usah takut terhadap kedahsyatan malam, terhadap panah yang terbang di waktu siang, terhadap penyakit sampar, terhadap penyakit menular, walau seribu orang rebah di sisimu, sepuluh ribu di sebelah kananmu, itu tidak akan menimpamu! Engkau hanya akan menonton dengan matamu sendiri dan melihat pembalasan terhadap orang-orang fasik. Sebab TUHAN ialah tempat perlindunganmu, Yang Mahatinggi telah kaubuat tempat perteduhanmu, malapetaka tidak akan menimpa kamu, tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu! Malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu! Mereka akanmenatang engkaudi atas tangannya, supaya kakimu jangan terantuk kepada batu.’
Itulah yang dikutip setan, maka dia mengatakan, “Jadi, Yesus, Engkau bilang Engkau mempercayakan diri-Mu mutlak kepada Bapa, buktikan dong!”Dan, buktikannya kembali lagi dua arah: buktikan, jangan cuma puasa, lempar aja badan Lu sekalian, karena Bapa-Mu yang Kau jadikan perlindungan-Mu itu, yang kau jadikan makna hidup-Mu lebih daripada ada makanan atau tidak ada makanan, mari kita buktikan Dia benar-benar patut dipercaya atau tidak?? Dan, ini arahnya bukan cuma ke atas, tapi juga Lu berani ‘gak??Kalau cuma ngomong doang tapi ‘gak berani lempar diri-Mu, Kamu tidak benar-benar percaya kepada Bapa. Jadi, ayo buktikan Bapa dan buktikan diri-Mu. Sekali lagi, ini two birds with one stone, pintar banget, ya.
Bukankah yang si pencoba lakukan di sini, tipikal dengan yang banyak Gereja lakukan hari ini? Yaitu mengambil ayat-ayat Alkitab, memelintir dari tujuan aslinya, mengubahnya jadi semacam formula/rumusan yang ujungnya mengenai kelimpahan serta kesuksesan yang dijanjikan bagi mereka yang percaya. Omong-omong ini bukan cuma mengenai gereja seberang, Saudara-saudara kalau sedang kesusahan/kesulitan lalu cari-cari ayat di Alkitab, apa yang Saudara cari? Ya, ayat-ayat kayak begitu ‘kan, ayat-ayat kunci di mana kita lalu mengatakan, “O, segala sesuatu dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku”, tanpa melihat konteksnya, tanpa peduli lensa apa yang benar, tanpa peduli bahwa Paulus sesungguhnya mengatakan itu dalam keadaan miskin banget, dan langsung mengatakan pokoknya ini janji Tuhan, aku bisa memegang ini. Itu agama jin botol, Saudara; “Bapa memperkenankan ‘kan?? Ayo, gosok lampunya, biar Dia keluar dan Dia menyelesaikan segala masalah hidupmu.”
Respons Yesus dalam bagian ini adalah kembali mengutip Alkitab –kutipan dibalas kutipan—yaitu Ulangan 6, “Jangan mencobai Tuhan, Allahmu.” Ini kembali mengingatkan kepada yang dilakukan Israel di padang gurun, mereka gagal dalam ujian mereka, salah satunya karena dalam ujian mereka itu, mereka balas menguji Allah mereka. Mereka diselamatkan dari Mesir oleh Allah, mereka diberikan domba Paskah, mereka diminta untuk mempercayakan diri mereka kepada-Nya; dan apa yang mereka lakukan? Mereka mengonggong balik, “Bawa kami pulang ke Mesir, kenapa Engkau taruh kami di sini, di padang belantara ini, untuk mati?? Buktikan Engkau sungguh berkomitmen kepada kami. Buktikan!” –seakan-akan sepuluh tulah serta domba Paskah dan lain-lainnya itu belum cukup. Dan, dalam pencobaan ini Yesus mengatakan: ‘kalau Saya melakukan hal ini, menguji Allah, Saya sedang menaruh Allah jadi jin botol, jadi pembantu, itu bukan relasi seorang anak kepada bapanya. Kamu bilang jika Aku Anak Allah, Aku memang Anak Allah, makanya Anak tidak melakukan ini, Anak tidak menguji Bapa-Nya, bagian Anak adalah percaya kepada Bapa-Nya dan bukan menuntut Bapa-Nya perform trik-trik sirkus’.
Ayat 8-10, Pencobaan yang Ketiga
Iblis mengubah taktik lagi. Dua kali yang tadi dia mengatakan ‘jika Engkau Anak Allah’, dan tidak berhasil, maka sekarang dia ubah taktik. ‘Okelah, fine, Kamu benar-benar Anak Allah; aku mengasumsikan identitas itu bahwa Kamu benar-benar Anak Allah. Sekarang saya mau tanya, Anak Allah itu ke depannya menjadi raja ‘kan, menjadi penguasa segala ciptaan ‘kan, lalu pertanyaannya bagaimana Kamu akan mencapai kuasa itu, benar-benar naik takhta menjadi raja, seperti apa kerajaan-Mu?’
Dalam hal ini, sebagaimana tadi kita katakan salah satu motif dari Perjanjian Baru adalah: kuasa gelap muncul melalui kuasa-kuasa dunia, baik itu para pemerintah, para penguasa, juga para influencer. Contoh yang sederhana, apa yang menguasai dunia hari ini? Pengejaran efisiensi, misalnya, bahwa apapun yang lebih efisien, itu yang dikedepankan (gereja-gereja pun sering kali kayak begini). Dalam perusahan-perusahan hari ini, mereka mengatakan, “Karyawan yang dipaksa terus-terusan bekerja, itu tidak efisien, tidak produktif; karyawan kalau happy, menurut data adalah empat kali lebih produtif dibandingkan yang tidak happy. Jadi mari kita bikin karyawan-karyawan kita lebih happy.” Lalu mereka mengatakan kepada karyawannya bahwa mereka peduli dengan karyawan, maka mereka memberikan waktu break lebih banyak, bikin meja fussbal di kantor supaya bisa main, memberikan cuti libur yang tetap dibayar, cuti hamil bagi para wanita maupun para bapak, dsb. –karena empat kali lebih produktif tadi. Ujungnya, ini bukan mereka sayang pada karyawan-karyawan, bukan perusahaan lebih peduli terhadap human being, melainkan simply karena lebih peduli dengan efisiensi!
“Ah, Pak, memangnya kenapa sih??Bagus ‘kan kalau kita dikasih break. Sirik banget sih Gereja, kayak begini saja musti dikomplain. Lagi pula kita sebagai karyawan juga senangnya yang kayak begitu, karena waktu kita ambil cuti berbayar, kita jadi tidak merasa guilty feeling berhubung ujungnya ‘kan memang menguntungkan perusahaan. Kita juga mersasa lebih oke kerja di perusahaan seperti ini.Sama-sama senanglah, sama-sama efisien, gitu loh.”Namun apa yang akan terjadi jika ada data yang menunjukkan lebih efisien kalau menyiksa karyawan? Apa yang akan terjadi ketika misalnya lebih efisien kalau buang limbah sembarangan? Atau yang paling riil begini: worker yang tidak happy maka tidak produktif, happy worker lebih produktif/efisien, lalu next step-nya ganti worker dengan AI, bagaimana??
Saudara lihat, ini bukan urusan peduli pada manusia; kelihatannya seperti itu, tetapi yang menguasai dunia ini adalah kuasa gelap. Dan, di sini setan mengatakan, “Yesus, gue ini ada koneksi, lho, dengan kuasa-kuasa gelap, kuasa dalam dunia ini.“ Ini riil, bukan? Itu sebabnya keberadaan kuasa gelap dalam Perjanjian Baru bukan cuma pada individu-individu tertentu, tetapi juga secara sistemik. Mengerikan. Tetapi kita perlu sadar akan hal ini. “Aku ada koneksi lho dengan kuasa-kuasa ini, maka aku bisa memberikan kepada-Mu semua kuasa ini, Kamu simply harus pakai caraku saja, yaitu sembah aku.”
Di bagian ini kita juga melihat ada sesuatu yang beda dalam cara Yesus merespons. Yesus menyatakan reaksi yang kita tidak lihat sebelumnya, Dia mengeluarkan satu kalimat yang seperti reaksi emosi yang membara: “Enyahlah Iblis!” Yesus seperti sensiakan sesuatu, lewat kalimat ini. Kayak ada sesuatu dalam jantung hati-Nya yang tertusuk, maka Dia merespons dengan begitu keras. Jadi pencobaan ini sepertinya benar-benar menyerang inti dari siapa diri Yesus dan untuk apa Dia datang.
Saudara akan lebih jelas lagi kalau ingat kapan kalimat ini muncul lagi dalam Injil Matius. Ketika itu, sebelum Yesus ditransfigurasi, Yesus kecewa dengan orang banyak yang salah mengerti Dia sebagai Mesias, kecewa dengan orang-orang Farisi yang salah mengerti Dia sebagai Mesias, lalu dia tanya ke murid-muridnya, “Menurut kalian, siapa Aku?” Murid-murid-Nya mengatakan, “Engkau Mesias!” “Oke, tapi Mesias yang kayak apa, itu yang penting” –siapa diri-Ku sesungguhnya, apa realitas mengenai Aku yang sesungguhnya—lalu Yesus membukakannya, “Aku akan menderita dan mati.” Petrus lalu menarik Yesus ke samping dan menegur Dia, “Tuhan, kiranya Allah menjauhkan hal itu. Hal itu sekali-kali tidak akan menimpa Engkau!” dan Yesus pun berkata kepada Petrus reaksi emosional dan membara seperti dalam pencobaan tadi, “Enyahlah Iblis!Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku, sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Allah melainkan apa yang dipikirkan manusia.”
Saudara lihat, apa yang jadi poin sensinya Yesus, yang sampai tertusuk ke dalam itu dan membuat Yesus bereaksi begitu keras? Kamu Mesias, Kamu ‘gak bakal mati dong. Mesias bukan mati, Mesias mematikan orang lain, itulah Mesias, baca saja Alkitab-Mu, baca Mazmur 2 katakan bahwa kepala-kepala remuk. Kalau Mesias mati, itu Mesias gagal. Dan di situ respons Yesus: “Enyahlah Iblis!”Jadi kau pikir tujuan-Ku datang di sini untuk apa, sih? Untuk mengulangi lagi kegagalan manusia, seperti selama ini? Kaupikir tujuan-Ku seperti itu? Kaupikir tujuan-Ku mengulangi cara yang selama ini gang buntu? Tujuan-Ku adalah jadi manusia yang totally lain, yang baru, yang beda, yang sejati, yang asli, yaitu manusia yang totally mempercayakan dirinya kepada kehendak Bapa, dan itu adalah manusia yang mengorbankan diri-Nya dalam kasih. Itulah bagaimana Aku menjadi Raja, itulah ciri khas Kerajaan-Ku. Saudara, apakah Yesus mendapatkan pengaruh? Ya. Tetapi caranya bagaimana? Dengan menyerahkan kuasa, dengan menyerahkan kehidupan. Inilah Influencer yang mendapat influence bukan dengan flexing, melainkan dengan submitting.
Dalam ketiga hal ini realitas mengenai Yesus dibongkar, tetapi juga mengenai siapa diri manusia –manusia yang sejati. Manusia yang sejati, influence-nya juga bukan dengan flexing; manusia yang sejati, influence-nya juga dengan submitting, dengan sacrifice. Sadarkah kita akan hal ini? Gambaran manusia apa yang ada dalam kepala kita selama ini?
Terakhir, Apa Konklusinya, Apa Implikasinya, Apa Pelajarannya?
Kisah-kisah dalam Injil pada dasarnya merupakan catatan saksi mata. Hampir semua kisah dalam Injil adalah Yesus berinteraksi dengan orang, atau orang melihat Dia ngapain, dsb., lalu ini dikumpulkan menjadi catatan saksi mata. Adalah normal bahwa orang zaman itu mengikuti rabi ke mana-mana, menyaksikan yang dia lakukan, mendengar yang dia ajarkan, dan semua itu diingat baik-baik, ditulis,lalu diwariskan kepada generasi setelahnya. Namun dalam kasus kisah Pencobaan, Yesus itu sendirian, Dia tidak sedang bersama siapa pun, dan dengan demikian sumber cerita ini dari mana? Sumbernya bukan karena ada orang yang rajin mencatat, melainkan karena Yesus sendirilah yang menceritakan kepada murid-murid-Nya. Jadi berarti ini adalah kisah yang Yesus rasa murid-murid-Nya perlu tahu, karena ini bukan cuma membongkar realitas mengenai diri-Nya, ini membongkar realitas mengenai seperti apa menjadi manusia yang sejati, seperti apa menjadi umat Tuhan. Ini juga berarti Yesus menceritakan hal ini karena Dia mengasumsikan murid-murid-nya akan mengalami pengalaman yang sama. Ini berarti pelajaran pertama yang perlu kita tarik adalah: ketika engkau mau menjadi murid Yesus, tolong jangan expect kehidupan yang menjadi lebih mudah.
Menjadi murid Yesus, pasti ada hal-hal yang akan diselesaikan Tuhan dalam hidupmu, namun juga akan ada banyak ketegangan baru yang masuk ke dalam hidupmu, yang tadinya tidak ada. Itulah realitas menjadi murid Yesus. Saudara harus sadar akan hal ini. Banyak dari kita seperti tidak sadar-sadar akan hal ini. Di sisi lain, bahwa hidupmu ada ketegangan-ketegangan seperti itu, bukanlah momen untuk jadi alasan engkau mempertanyakan dan meragukan status ke-anak-anmu dalam Bapa. Kalau menjadi murid Yesus adalah seperti ini, kalau menjadi manusia yang sejati adalah seperti ini, bahkan Kristus pun realitasnya seperti ini, maka ketika engkau mengalami ketegangan-ketegangan seperti ini dalam hidupmu, mungkin ini adalah momen-momen di mana kita lebih yakin dong akan status kita sebagai anak, karena Bapa tidak menguji anak orang lain.
Inilah sebabnya menghidupi firman bagian ini, Gereja sepanjang zaman bukan cuma tidak menolak ujian tetapi juga justru menguji dirinya di hadapan Tuhan. Dan, itu sebabnya praktika Lent adalah puasa. Kita akan melihat hal ini, sementara minggu-minggu ke depan kita akan melihat aspek yang lain.
Apatujuanpuasa? Tujuannya bukan untuk berhasil puasa.Misalnya begini, ada yang bilang puasa itu tidak makan tiga hari, lalu kita coba seperti itu –dan kita tidak pernah puasa sebelumnya—dan apakah setelah tiga hari Saudara merasa lebih rohani? Saudara simply merasa lebih lapar, ‘gak ada rohani-rohaninya. Atau misalnya ada yang puasa kopi; dan setiap kali puasa kopi, dia merasa koq jadi ngantuk dan susah fokus. Yang puasa makan, jadi hangry, hungry and angry. Dan yang menarik, saya membaca ada anak gadis usia 20-an yang puasa make-up; dan dia mengalami setiap kali bertemu orang, mereka mengatakan, “Kenapa kamu kelihatan pucat sekali hari ini? Kamu kurang tidur, kecapekan, ya?” Ketika Saudara membayangkan berpuasa model-model seperti ini, akan mudah sekali Saudara mengatakan, “Tuh, ‘kan, buat apa sih puasa?? Gara-gara puasa kopi, gue cuma ngantuk tok.Gara-gara puasa makan, gue jadi hangry tok.Gara-gara puasa make-up, gue jadi pucat!” Saudara, ini kalimat yang benar atau tidak, situasi yang benar atau tidak, realitas atau tidak, bahwa gara-gara puasa kopi saya jadi ngantuk, gara-gara puasa makan saya jadi hangry, gara-gara puasa make-up saya jadi pucat? Itu salah!
C.S. Lewis mengatakan kalimat yang sangat bagus: puasa bukan menyebabkan kelemahan, puasa itu mengungkap kelemahan. Saudara bukan ngantuk dan susah fokus karena tidak ada kopi, Saudara justru selama ini hanya bisa fokus karena ada kopi, Saudara butuh kopi untuk bisa fokus. Itu realitasnya. Lihatkah Saudara realitas hidupmu, seberapa lemahnya engkau? Saudara bukan lemah karena tidak makan, justru selama ini Saudara bisa kuat karena makan; itu berarti Saudara butuh makan, hanya untuk bergerak; tidak makan sedikit saja, tubuhmu mulai shut down. Betapa lemah dirimu, betapa bergantungnya engkau akan berkat Tuhan, melalui makanan. Inilah realitasnya, yang terbongkar. Dan yang pasti, Saudara bukan pucat karena tidak ada make-up, Saudara bukan jadi tidak menawan karena tidak pakai make-up; realitasnya adalah engkau butuh make-up hanya untuk kelihatan normal, engkau butuh make-up hanya untuk menutupi keletihan yang selama ini sudah kronis dalam jiwamu. Itulah realitasnya, seberapa lemah dirimu. Inilah tujuannya puasa.Tujuan puasa bukan untuk berhasil; tujuan puasa adalah untuk mengenal siapa dirimu. Inilah ujian, untuk terbongkar realitasnya, terungkap ilusi-ilusi yang selama ini kita pikir realistis mengenai diri kita, yang semua itu hilang ketika Saudara berpuasa. Waktu berpuasa, Saudara tidak mungkin bisa terus menghidupi kebohongan-kebohongan yang selama ini engkau percaya mengenai seberapa engkau kuat, seberapa engkau mandiri, seberapa engkau tidak perlu Tuhan.
Itu sebabnya puasa Lent hanya setahun sekali, bukan setiap hari, karena tujuannya bukan soal berhasilnya. Ini bukan suatu disiplin yang bagus pada dirinya sendiri. Jangan pikir puasa Lent adalah seperti ini: O, ya, sudah lama saya ingin puasa, puasa gula kayaknya bagus deh. Yang seperti itu, puasa setiap hari pun silakan. Tetapi kenapa puasa Lent cuma setahun sekali? Karena ada tujuannya, ini bukan bagus pada dirinya sendiri melainkan ada sesuatu yang mau diungkap lewat hal ini. Saudara bisa bayangkan, Gereja yang setahun sekali ada ritme ini dalam hidup mereka, ada masa yang khusus untuk kita mengingatkan dan diingatkan akan realitas sesungguhnya diri kita.
Objektif puasa bukan baru tercapai ketika Saudara bisa 80-90% tidak batal puasanya, justru sesungguhnya puasa yang paling oke adalah ketika Saudara menentukan sendiri puasamu seperti apa dan berapa lama. Lebih baik lagi kalau Saudara membicarakan dengan orang lain, dalam KTB-mu misalnya, “Gua mau puasa A,” lalu temanmu mengatakan, “Gue selama kenal Lu, kayaknya Lu lebih butuh puasa B.” Yang seperti itu, penting. Namun intinya adalah tidak ada standarnya, karena poinnya bukan soal berhasil atau gagal, poinnya adalah kebenaran/ realitas mengenai dirimu terungkap; terungkap terutama bagi dirimu sendiri, karena bahaya terbesar sering kali bukanlah ketika kita dibohongi orang lain, melainkan ketika kita membohongi diri sendiri. Puasa adalah momen di mana kita tidak bisa mengingkari fakta ini, kita tidak bisa lagi hidup dalam fantasi atau bertamengkan fiksi-fiksi bahwa kita ini oke dan kuat. Dan ironisnya, justru di situlah pengharapan Kristiani baru muncul.
Momen kekuatan kita diakhiri, adalah momen kita bersentuhan dengan Allah. Momen ketika kita menyentuh akhir dari kapasitas kita untuk berbuat baik, untuk bersabar, untuk bersukacita, untuk berbijaksana, untuk mengasihi –momen di mana kita menyadari sudah tidak ada kapasitas lagi untuk itu–adalah momen di mana kita mulai bersentuhan dengan kuasa Allah. Itulah Kekristenan. Apa langkah pertama iman Kristen? Pertobatan. Dan, apakah pertobatan kalau bukan menyadari dan mengakui kelemahan serta ketergantunan kita di hadapan Allah. Namun lucunya Kekristenan, momen kelemahan itulah momen kasih karunia Allah menjadi sempurna.
Betapa sedihnya hari ini kita melihat banyak aliran Kristen seperti melupakan dan membuang hal ini, lalu menjadi Kristen berarti tambah kaya, tambah kuat, tambah ini dan itu –termasuk tambah pengenalan akan firman Tuhan. Apa buktinya ada kuasa Roh Kudus dalam hidupmu? Buktinya adalah: saya tidak pernah sakit, tidak pernah lapar, tidak pernah lemah, tidak pernah miskin; atau versi orang Reformed: saya tidak pernah bingung, saya tahu segala sesuatu, secara PASTI saya mengetahuinya. Bukankah ini bertabrakan dengan Alkitab, bahkan dengan hidup Yesus sendiri? Ini bukan cuma problem gereja seberang, kita hari ini juga terbongkar bahwa semakin kita berpuasa, semakin kita kepingin Kekristenan dan Mesias yang tanpa penderitaan dan kematian.
Kenapa bisa seperti itu? Mungkin ini efek sampingnya Kekristenan yang sudah membuang dan mengesampingkan praktika puasa, lupa bahwa tidak ada Paskah tanpa Jumat Agung, lupa bahwa tidak ada kebangkitan tanpa sebelumnya ada kematian. Saya kepinginnya juga ada jalan lain selain ini, jalan lain selain jalan kelemahan, namun faktanya: tidakada. Inilah jalan yang Yesus sendiri jalani, maka inilah jalan yang kita harus jalani juga. Dan, itu ujungnya penghiburan kita, bahwa Yesus pada akhirnya menang dari pencobaan bukan karena Dia mengakses kekuatan Ilahi –yang kita tidak punya—tetapi dengan malah sungguh menjadi manusia, dengan mengambil kelemahan manusia, mengambil sifat manusia sejati yang bergantung penuh kepada Bapa. Yesus tidak menang atas pencobaan karena Dia Anak Allah yang berkuasa lebih daripada kita, Yesus menang melawan pencobaan justru karena Dia rela menaruh diri-Nya di posisi kita yang lemah ini, yang menolak membuat batu jadi roti, yang menolak mencobai Bapa-Nya, yang menolak ambil jalan kuasa, dan malah memberikan kuasa. Itulah yang mengungkap kebenaran mengenai diri-Nya, bahwa Dia sungguh Anak Allah, karena Dia sungguh manusia. Saudara lihat paradoksnya?
Saya mengutip khotbah Lent tahun lalu: kita kalah dalam pencobaan bukan karena kita lemah, tetapi karena kita pikir kita kuat, karena kita memperhitungkan diri kita lebih dari manusia. Kita tidak lebih dari manusia, Saudara. Kita lemah. Lent membongkar hal ini. Lent mengajak kita menghadapi kelemahan diri kita. Namun anehnya, inilah jalan Kerajaan Tuhan. Ketika kita mengakui kemanusiaan kita, kelemahan kita, ketergantungan kita akan firman Tuhan, ini momennya kita menjadi anak-anak Allah. Dan, inilah yang kita rayakan. Karunia Allah sungguh telah datang dalam diri Yesus Kristus, Allah yang berpuasa, Allah yang menahan dari diri-Nya hal-hal yang memang hak-Nya, Allah yang mengadopsi dan mengambil kondisi hidup orang-orang yang dikasihi-Nya, menjelama jadi manusia, mengambil rupa seorang hamba. Allah yang sebelum menyuruhmu mengikut Dia mengadopsi cara hidup-Nya, lebih dulu mengadopsi kehidupanmu, mengadopsi caramu lahir, mengadopsi caramu bertumbuh, mengadopsi kehidupan manusia, penderitaan-penderitaan kita, rasa lapar kita, bahkan kematian kita. Allah yang berpuasa, sehingga tubuh-Nya boleh menjadi roti bagi kita, darah-Nya menjadi minuman kita. Allah yang lewat puasa-Nya telah memberikan pesta bagi manusia.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading