Selamat Tahun Baru. Bahasa Indonesia lebih bagus, ‘selamat tahun baru’ daripada ‘happy new year’, karena tidak semua new year itu happy, dan tidak semua orang happy pada saat new year. Dan, it’s fine mengatakan hal ini karena ini adalah Gereja, tempat kita bisa mengakui fakta dan realitas, bukan tempat pasang topeng. Kalau pun kita tidak happy saat new year ini, tetap ada satu hal yang harus ada dalam kehidupan Kristiani, yaitu ucapan syukur. Paulus mengatakan di 1 Tes.5: “Mengucap syukurlah dalam segala sesuatu.” Inilah yang akan kita khotbahkan dalam Minggu pertama tahun 2026, mengenai mengucap syukur dan bagaimana mengucap syukur dalam doa-doa kita.
Kenapa tema mengucap syukur penting? Ini satu hal yang dapat kita temukan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika seorang anak kecil umur 4-5 tahun diberi es krim oleh om-nya, dia lansung membukanya dan begitu lahap makan es krim itu. Mamanya memperhatikan lalu mengatakan, “Ayo, bilang apa sama Om?” Si anak tetap asyik menjilat-jilat es krimnya. Mamanya bilang, “Ayo, bilang terima kasih.” Si anak terus saja makan es krimnya. Akhirnya mamanya bilang, “Kalau kamu tidak mau bilang terima kasih, Mama ambil es krimnya.” Baru si anak sadar musti melakukan sesuatu, dia geser sedikit es krim dari mulutnya, cepat-cepat bilang, “Terima kasih, Om,” lalu cepat-cepat masukkan es krim ke mulutnya lagi dan lari kabur. Itulah anak-anak kita.
Ini membuat kita sadar, bahwa anak-anak tidak secara natural bisa mengucapkan terima kasih, mereka harus diajar untuk mengucapkan terima kasih. Berapa banyak dari antara kalian yang ingat waktu anakmu mulai belajar ngomong lalu yang mereka katakan adalah, “Mama, terima kasih untuk segala hal yang Mama lakukan bagiku” ? Itu sesuatu yang ‘gak mungkin banget. Terima kasih tidak ada dalam kosakata natural anak-anak; yang mereka katakan adalah ‘beri aku lagi, beri aku lagi’. Mereka harus diajar untuk berterima kasih. Orang dewasa juga tidak beda. Tentunya kita, orang dewasa, tahu harus berlaku sopan, kita berterima kasih kepada teman-teman dan kolega-kolega kita untuk hal-hal yang kecil sekali pun, tetapi sering kali kita merasa sulit waktu kita perlu mengungkapkan rasa syukur yang mendalam dan jujur. Satu contoh, dalam acara pernikahan ada momen penghormatan kepada orangtua; dan saya menemukan berkali-kali bahwa bagi banyak pasangan, sangatlah awkward untuk say thank you kepada orangtuanya dalam momen seperti itu. Banyak yang malu melakukannya, tidak tahu mau ngomong apa, akhirnya cuma peluk cium dan urusan selesai. Saudara-saudara yang mau menikah di sini, jangan seperti itu, sebisa mungkin engkau susun kata-katamu sebaik mungkin, pakailah momen ini untuk menyatakan terima kasihmu yang sedalam-dalamnya kepada orang yang memang sudah melahirkanmu, membesarkanmu, mendidikmu. Namun tetap saja membayangkan diri masuk dalam momen seperti itu susah rasanya, tidak gampang, canggung. Inilah manusia. Jadi, kalau kita susah menyatakan rasa syukur kepada manusia-manusia yang kelihatan, yang bisa disentuh, yang begitu nyata kebaikan dan cintanya bagi kita, apalagi kepada Tuhan kita yang tidak kelihatan itu.
Kita di sini mungkin tidak ada yang meragukan bahwa Tuhan kita patut menerima ucapan syukur, namun ternyata aliran ucapan syukur tidak serta-merta datang di bibir kita secara natural. Kalau pun kita ingat untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan, ada problem berikutnya, yaitu kita bingung bagaimana melakukannya. Kita mengatakan, “Terima kasih Tuhan untuk ini; terima kasih Tuhan untuk itu, … , dst.” Lalu mau sampai berapa kali mengatakan terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan, terima kasih Tuhan, sampai bosan?? Jadi, inilah problemnya, maka kita memulai tahun ini tidak dengan ilusi happiness melainkan dengan realitas. Realitas Kristiani adalah bahwa kita perlu, dan bisa, bersyukur dalam segala sesuatu; dan praktika/liturgi dari realitas ini adalah doa ucapan syukur.
Mengucap syukur, itu ada seninya, ada tekniknya, yang tidak datang secara natural, yang perlu dipelajari dan dipraktekkan. Itu sebabnya kita mau mempelajarinya di awal tahun supaya ini menjadi suatu doa sepanjang tahun ini. Kita mau Gereja ini bukan jadi Gereja yang kerjanya ngomel-ngomel, komplain-komplain, bersungut-sungut, melainkan Gereja yang thankful, yang punya rasa syukur, dan tahu bagaimana mengungkapkannya. Ini yang akan kita bahas. Secara umum kita akan berjangkar pada sebuah mazmur, yaitu Mazmur 34. Mazmur ini akan mengajarkan kita bagaimana mengucap syukur dalam doa-doa kita kepada Tuhan. Dalam mazmur ini kita akan melihat tiga fase mengucap syukur, mulai dari hati yang mengucap syukur, lalu bergerak ke bibir orang yang mengucap syukur –yang tahu bagaimana mengungkapkan rasa syukur kepada Tuhan lewat bibirnya– lalu bergerak ke kehidupan orang tersebut. Jadi dari dalam ke luar; hati, bibir, hidup.
Pertama: Hati
Ada apa dalam hati seseorang yang bersyukur kepada Tuhan? Dalam bagian ini kita membaca ayat 1-4, dan saya menyoroti ayat 2: “Aku hendak memuji TUHAN pada segala waktu, puji-pujian kepada-Nya tetap di dalam mulutku.” Di bagian ini terjemahan yang lebih tepat dalam bahasa Inggris: “His praise is always on my lips”, maksudnya puji-pujian itu senantiasa keluar di bibirku. Dengan kata lain, ini orang yang tidak bisa berhenti ngomong memuji Tuhan.
Pernahkah Saudara mengalami momen di mana Saudara tidak bisa berhenti ngomong, momen di mana ada sesuatu yang senantiasa ada di bibirmu? Kami, para pendeta atau vikaris, kalau diundang khotbah di cabang lain, biasanya ada pengurus cabang tersebut yang menemani kami makan siang atau makan malam, sebagaimana kita juga melakukannya di sini. Dalam momen-momen seperti itu, obrolan 10 menit pertama biasanya masih meraba-raba topik apa yang kira-kira cocok jadi pembicaraan. Pak Ruben pernah cerita suatu kali dia diundang khotbah di satu cabang, dan entah bagaaimana pengurus yang ditugaskan menemani dia itu seorang yang introver banget, sehingga sepanjang perjalanan diam saja, waktu makan juga diam saja, awkward banget. Pak Ruben mulai memancing-mancing topik dengan tanya soal gembala sidangnya, lalu tanya soal gembala sidang sebelumnya, dsb., tapi tetap saja si pengurus tidak termakan pancingannya. Akhirnya entah bagaimana keluarlah topik mengenai game dan anime Jepang, dan langsung si pengurus yang tadinya introver itu kayak berubah kepribadian, dia tidak bisa berhenti ngomong soal game ini dan itu, anime ini dan itu, dsb. Inilah Saudara, momen ketika ada sesuatu yang senantiasa di bibirmu, Saudara tidak bisa berhenti ngomong mengenai hal itu. Kalau Saudara rasa awkward bertemu saya yang katanya jutek dan diam, Saudara tinggal tanya mengenai Niko dan Erik, maka saya akan berubah kepribadian jadi orang paling cerewet dengan sejuta cerita.
Saudara, ketika sesuatu senantiasa ada di bibirmu, itu berarti ada sesuatu yang terjadi dalam hidupmu, yang engkau begitu bersyukur, engkau begitu excited, maka engkau tidak bisa berhenti membicarakannya. Ini dialami hampir semua mama dengan bayi-bayi mereka, bahkan mama yang introver pun. Kenapa? Karena ketika kita excited dengan sesuatu, kita on fire, maka kita kepingin orang-orang ikut mengalaminya bersama kita. Kita tidak tahan-tahan di dalam, kita tidak diam-diam, kita tidak bisa berhenti mendeklarasikan hal ini. Bukan cuma para mama, para bapak pun mengalami hal yang sama dengan Liga Inggris atau World Cup atau NBA dan hobi-hobi mereka, atau mobil baru, rumah baru, dsb. Tetapi, herannya dalam urusan kerohanian lain banget.
Orang yang rohani, menurut kita adalah orang yang diam-diam saja, bersahaja, ‘gak ngomong ke mana-mana mengenai Tuhan karena jangan sampai orang pikir kita fanatiklah, ya. Kita sebenarnya mengambil kacamata dunia dan melihat hidup kita sebagaimana dunia melihatnya, yaitu kacamata yang mengatakan bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini bisa dijelaskan lewat penjelasan natural, biasa, alamiah, tanpa Tuhan di dalamnya. Perhatikan saja dalam hidup kita, apa hal-hal yang kita sebut sebagai pekerjaan Tuhan? Bukankah yang kita lihat sebagai pekerjaan Tuhan dalam hidup kita itu mirip seperti klausa dalam asuransi yang dikategorikan sebagai actus Dei, acts of God, force majeure? Dalam kontrak asuransimu Saudara akan menemukan bagian font kecil mengenai disclaimer kalau sampai ada kejadian-kejadian peristiwa pekerjaan Tuhan, force majeure, superior force yangdi luar kendali manusia, seperti gempa bumi, topan badai, dsb., asuransi tidak menanggungnya. Itulah juga yang sering kali kita sebut pekerjaan Tuhan. Kita melihat hidup ini sebagaimana asuransi melihat hidup kita, yaitu yang kita tidak bisa jelaskan dengan penjelasan lain maka itu adalah pekerjaan Tuhan, sedangkan yang bisa kita jelaskan dengan penjelasan lain, itu bukan tangan Tuhan. Baik Saudara orang Reformed atau pun orang Kharismatik, sama saja, kita sering kali mengatributkan kepada Tuhan hanya hal-hal yang kita tidak bisa beri penjelasan lain. Dan, tahukah apa efeknya dalam kerohanianmu? Ini membunuh kerohanian kita!
Kenapa kita sering kali bisa merasa Tuhan sepertinya jauh, Tuhan seperti tidak terlibat dalam hidup kita? Kenapa Kekristenan kita sering kali tidak menarik bagi orang-orang di sekitar kita, bahkan tidak menggairahkan kita sendiri? Jawabannya bukanlah karena Tuhan tidak berkarya dalam hidupmu. Jawabannya adalah karena kita sering kali memakai kacamata dunia dalam melihat hidup ini. Sementara Tuhan sesunguhnya melakukan begitu banyak hal yang ajaib dan baik dalam hidup kita, kita menahan diri dari mengakuinya, karena takut pada apa yang orang lain akan katakan/pikir mengenai kita kalau kita jadi orang yang terus-menerus bersyukur kepada Tuhan, akhirnya kita kehilangan kesempatan demi kesempatan untuk bersukacita di dalam Tuhan atas apa yang Ia lakukan bagi kita.
Kapan terakhir kali engkau memakai waktu 10 menit saja membicarakan apa yang Tuhan lakukan bagimu, kebaikan yang engkau terima dari Tuhan, misalnya melalui Gereja GRII Kelapa Gading? Tidak perlu orang yang sudah bertahun-tahun datang untuk bisa membicarakan ini; satu kali datang Minggu ini saja, Saudara sudah bisa dapat bahan pembicaraan lebih dari 10 menit. Ge-er ah, Pak, khotbahmu ‘gak sebagus itu! Saya memang tidak memaksudkan itu. Tetapi misalnya Saudara datang hari ini, Saudara akan melihat bahwa kebaktian hari ini merupakan bukti bahwa somehow Allah menggerakkan orang-orang yang telah mau pakai waktu mengerjakan hal-hal yang sederhana. Seperti misalnya merangkai bunga, setiap Minggu, segar dan baru. Ada orang-orang yang mau memberikan dari uang mereka, yang mau melihat uang mereka bukan sebagai hasil keringatnya melainkan sebagai hak Tuhan, sehingga hari ini Saudara dan saya bisa beribadah di tempat yang bukan cuma nyaman tapi juga indah sekali. Saudara akan melihat Tuhan telah membuat beberapa orang mau berkumpul paling tidak sebulan sekali, sehabis pulang kantor, macet-macetan, untuk merapatkan hal-hal yang memastikan Gereja ini berjalan dengan baik. Itu baru tiga hal. Daftarnya masih banyak. Kalau Saudara melihat seperti ini, 10 menit bahkan terlalu singkat untuk membicarakan semua itu. Itulah daftar kebaikan Tuhan yang diberikan kepada kita melalui Gereja Tuhan –dan Saudara tidak harus sudah datang lebih dari seminggu untuk bisa melihat semua itu.
Itu sebabnya seorang yang bisa mencelupkan doa-doa mereka dalam rasa syukur, mulainya dari hati yang seperti ini, hati yang melihat karya Allah dan bertekad untuk tidak melewatkan kebaikan-kebaikan ini begitu saja, hati yang merasa setiap kali Allah bekerja dalam hidupku, itu menggairahkanku, dan aku mau menceritakannya dengan bibirku, aku ingin orang lain juga tahu. Dan, kalau ini namanya jadi orang yang fanatik, saya rasa kita boleh belajar lebih fanatik dalam hal ini. Demikian hal yang pertama, hati yang bersyukur.
Kedua: Bibir
Kita mengatakan, “Okelah, Pak, saya sadar kurang bersyukur, karena saya sering kali membutakan diri terhadap karya Tuhan. Tapi, let’s say saya melihat karya Tuhan, lalu bagaimana saya mengungkapkannya dengan tepat? Apa kata-kata yang saya harus pakai ketika saya ingin jadi seorang yang bersyukur?” Inilah pertanyaan berikutnya. Tentu saja kita tidak mau jadi orang yang sedikit-sedikit langsung ngomong, “Puji Tuhan, puji Tuhan, puji Tuhan … .” Itu jadi menyebalkan. Saya sendiri pernah mencoba melakukannya waktu masih kecil; dan tidak sampai dua hari, keluarga saya sudah muak ingin muntah mendengarkan saya seperti itu, akhirnya mereka suruh saya diam dan jangan pernah lagi ngomong kayak begitu (tentunya Saudara tahu keluarga saya bukan orang ateis).
Sama seperti khotbah tahun lalu, mengenai meminta kepada Tuhan itu tidak bisa cuma minta dan minta tok, ada seni dalam meminta. Kita sudah membicarakan bagiamana meminta seperti Musa, dengan building a case before God, dengan putar otak cari argunetasi/dasar untuk meminta. Demikian juga halnya dengan bersyukur. Ungkapan rasa syukur yang meaningful tidak bisa cuma bilang, “Thank you, thank you, thank you, ...,” sampai 12 kali. Realitas para wanita, kalian tentu rindu suami kalian bisa ngomong yang tidak cuma, “Aku sayang kamu lho, aku sayang kamu lho, … ,” sekali-sekali pakai cara lain dong,karena pasti ada cara lain untuk mengungkapkannya. Jadi inilah problemnya, dari hati ke bibir.
Di bagian ini kita membaca ayat 5-8. Kalau Saudara lompat ke bagian awal pasal ini, Saudara lihat mazmur ini diatributkan kepada Daud sewaktu dia pura-pura gila di depan raja Filistin. Itu adalah masa ketika Daud mulai dikejar-kejar Saul. Intinya, ada sesuatu yang terjadi pada Daud yang mengancam dia, Tuhan melindungi dia, meluputkannya, dan Daud mau bersyukur oleh karenanya. Namun perhatikan, dia tidak simply mengatakan, “Thank you Tuhan, thank you Tuhan, thank you Tuhan, ... .” Yang Daud lakukan adalah mengambil waktu untuk menyusun kata-kata yang menceritakan apa yang Tuhan lakukan; Daud menceritakan kepada Tuhan cerita mengenai Tuhan. Inilah ucapan syukur, menceritakan kepada Tuhan cerita mengenai Tuhan.
Kalau Saudara membaca Mazmur, Saudara akan melihat yang seperti ini terus-menerus. Mazmur 34 ini bagian ceritanya tergolong pendek banget dibandingkan mazmur-mazmur yang lain, cerita-cerita thanksgiving dalam Alkitab, yang sering kali jauh lebih panjang. Misalnya Mazmur 18 ada 42 ayat pemazmur menceritakan dengan detail apa yang Tuhan lakukan dalam hidupnya. Kita mengambil di sini Mazmur 34, alasannya karena dalam versi yang pendek pun pemazmur tidak pernah puas dengan hanya ngomong ‘terima kasih’ tok. Dari sini kita belajar hal yang kedua ini, bahwa seni menjadi orang yang bersyukur adalah belajar seni bercerita, menceritakan kepada Tuhan cerita-cerita mengenai Tuhan dan hidupmu.
Saya baru saja ikut event bersepeda jarak jauh, 150 km, yang ujungnya bengkak jadi 186 km karena termasuk pergi-pulangnya. Manariknya, iklan tentang event tersebut, yang setiap tahun selalu ada dan sudah berlangsung bertahun-tahun, tagline-nya adalah “Selalu Ada Cerita”, bahwa ikut event kayak begini selalu ada cerita. Itulah yang membuat kita tergugah, CERITA. Cerita itulah yang membuat ucapan terima kasih jadi bermakna. Yang membuat ucapan terima kasih jadi bermakna bukanlah kata-kata t-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h, melainkan ceritanya apa. Waktu Saudara mau berterima kasih kepada seseorang yang penting dalam hidupmu, Saudara ‘kan tidak merasa cukup dengan bilang ‘terima kasih’ tok, Saudara merasa harus pakai gestur, misalnya yang paling umum dengan menjamu dia makan. Kalau Saudara bisa masak, Saudara mungkin akan siapkan sendiri makanannya. Demikian doa ucapan syukur kepada Allah juga sama. Kita menyajikan, mengolah kata-kata kita menjadi suatu cerita mengenai apa yang Tuhan lakukan dalam hidup kita. Ada bedanya mengucapkan ‘terima kasih’ kepada seseorang versus menceritakan kenapa kita berterima kasih kepada orang tersebut.
Ini juga sebabnya tidak ada ketegangan antara mengucap syukur kepada Allah dengan kemahatahuan Allah. Misalnya Saudara merasa ‘ngapain sih saya musti menceritakan kepada Tuhan karya-karya Tuhan, cerita-cerita mengenai Tuhan, ‘kan Dia Tuhan, Dia mahatahu??’ Tentu saja Saudara, ketika anakmu berterima kasih kepadamu, engkau juga tahu apa yang engkau lakukan bagi mereka. Poinnya bukan itu. Poinnya adalah agar anak-anak ini bisa mengungkapkan isi hati mereka, menaruh di bibir mereka apa yang ada di dalam hatinya. Anak-anak saya belum bisa bercerita, masih umur 3 tahun. Doa-doa mereka pun doa-doa yang kami ajarkan, doa membeo, kami ajarkan kalimatnya dan mereka ikuti persis sama. Misalnya doa makan, “Terima kasih Tuhan untuk makanan hari ini. Dalam nama Tuhan Yesus kami berdoa. Amin. ” Mereka bisa ikuti dan bisa berdoa sendiri kayak begitu, tapi tidak pernah ada variasinya. Namun suatu hari, entah bagaimana caranya tiba-tiba Niko (dia suka pisang) bisa berdoa begini: “Terima kasih Tuhan atas pisang hari ini, … . ” Mendengar itu, kami merasa wow, keren banget, luar biasa. Lalu anak yang kedua, Erik (dia suka alpukat), juga jadi kepingin ikut-ikutan; dia berdoa, “Terima kasih Tuhan untuk makanan hari ini. Dalam nama alpukat hijau kami berdoa. Amin. ” Poinnya, Tuhan bukan tidak tahu mereka suka pisang atau alpukat lalu sekarang jadi tahu; poinnya adalah mereka belajar bersyukur kepada Tuhan. Dan ini terjadi, bukan ketika mereka simply mengatakan mereka bersyukur, tapi ketika mereka mulai bercerita kenapa mereka bersyukur kepada Tuhan. Saudara lihat ini?
Itu cerita yang sangat simpel, cerita dari melihat anak-anak kita. Tetapi, seorang pendeta pernah meperlihatkan seperti apa bentuknya seorang Kristen yang dewasa ketika dia bercerita kepada Tuhan. Pendeta ini suka visit jemaatnya, bukan cuma ketika sakit di rumah sakit tetapi juga setelah pulang dari rumah sakit. Dalam persekutuan singkat di rumah jemaat tersebut, kebiasannya adalah pendeta ini minta jemaat yang baru pulang dari rumah sakit itu untuk menutup doa. Umumnya jemaat berdoa berterima kasih lalu meminta kebutuhan A-Z, kebutuhan pemulihan, kekuatan, bisa kembali bekerja, dst. Itu tidak masalah. Namun suatu kali ada seorang nenek yang baru pulang dari rumah sakit menjalani pengobatan kanker, dan nenek ini berdoa tidak seperti jemaat lain. Dia bercerita dalam doanya. Dia bercerita bagaimana Tuhan memeliharanya sejak momen pertama dia tahu kabar mengenai kankernya. Dia bercerita bagaimana Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan dalam masa-masa dia begitu takut. Dia bercerita tangan Tuhan yang menopangnya dalam rasa sakit yang seringkali rasanya tak tertahankan. Dia melanjutkan dengan cerita kebaikan dokter-dokter yang melayaninya di rumah sakit, kesempatan di rumah sakit untuk menceritakan kisah hidup dan imannya kepada orang lain, juga sukacitanya ketika dia akhirnya pulang ke rumah, pengharapannya akan kemenangan atas penyakit tersebut, dan jika tidak, pengharapannya akan kebangkitan di akhir zaman. Semua itu dia ceritakan kepada Tuhan dalam doanya. Setelah selesai, dia simply berhenti dan mengatakan, “Amin.” Pendeta ini kaget karena nenek ini bukan saja berdoa dengan bercerita, dia berdoa tanpa minta apa pun. Sekali lagi, tidak ada yang salah dengan meminta, tahun lalu kita bahas koq mengenai doa meminta, tetapi doa nenek ini amazing karena murni cerita apa yang Tuhan lakukan dalam hidupnya.
Omong-omong, doa seperti ini salah satu cara penginjilan. Saudara mungkin bingung bagaimana cara penginjilan, apakah harus offensive seperti mengajak supir Grab ngobrol, dsb. Tidak harus, Saudara. Ada banyak cara lain. Salah satunya, Saudara bisa bercerita dalam doa-doamu ketika engkau mengundang orang lain masuk ke rumahmu dalam perayaan ulang tahun, dsb., dan Saudara memimpin doanya. Saudara bisa pakai momen itu untuk mempersaksikan imanmu.
Saudara, pernah tidak bertanya-tanya kenapa dalam doa-doa kita, kita selalu merasa harus meminta? Tidak ada yang salah dengan meminta, tetapi kenapa kita merasa selalu harus meminta? Bahkan doa-doa ucapan syukur kita pun ujungnya berakhir dengan minta ini dan itu. Saudara tahu alasannya? Salah satunya karena kita kehabisan bahan untuk mengucap syukur, kita tidak tahu caranya mengucap syukur, maka ujungnya kita menambal doa ini supaya afdol dengan permintaan A dan B. Namun bayangkan Saudara mendengar doa nenek tadi mengenai kebaikan Tuhan serta sukacita yang Tuhan bawa ke dalam hidupnya, maka setelah selesai, Saudara merasa puas, merasa cukup, Saudara tidak merasa doa ini perlu ditambal. Itulah poinnya mengucap syukur.
Allah pada dasarnya sedang mengundang kita ke hadirat-Nya untuk menceritakan kepada-Nya kisah-kisah kita mengenai Dia. Dan, poinnya bukan untuk menambah pengetahuan Allah –Dia tidak perlu itu– melainkan bahwa Dia seperti seorang ayah yang mengasihi anaknya, Dia suka (delighted) mendengar cerita-cerita rasa syukur anak-Nya. Mungkin problemnya yang jadi alasan kita sulit mengucap syukur adalah ini: kita tidak percaya bahwa Allah peduli dengan cerita-cerita kita. Tetapi, Saudara yang menjadi orangtua tentu tahu ini, ketika mendengar anakmu bercerita, Saudara justru tidak mau dengar ceritanya yang cuma ringkasan. Saudara sangat mengapresiasi ketika anakmu mengambil waktu untuk bercerita dengan detail apa yang terjadi, apa yang membuat dia excited, apa yang membuat dia takut, apa yang membuat dia meledak dengan sukacita.
Bayangkan begini: Saudara merayakan ulang tahun anakmu dengan perayaan yang lumayan wah, misalnya dengan sewa ice rink seperti di mal, bukan karena tajir melainkan karena keluargamu baru saja pindah ke tempat baru dan anak-anak masih canggung di tempat yang baru ini. Ide merayakan pesta ini demi anakmu, supaya anakmu bisa merayakan ulang tahunnya yang pertama kali di tempat baru, bisa mengundang teman-teman barunya, dengan harapan dia bisa lebih cair dengan mereka. Sekarang pesta sudah selesai, anakmu terlihat begitu happy, tetapi dia tidak mengatakan “terima kasih” sepotong pun. Jadi malamnya waktu mau tidur, Saudara mulai pancing-pancing, mengatakan, “Hari ini kamu happy?” dia jawab, “Happy.” Saudara pancing lagi, “Happy yang mana?” Anakmu bilang, “Happy semuanya.” Saudara tidak puas, maka Saudara pancing lagi, “Coba ceritain apa yang bikin kamu happy.” Lalu si anak mulai cerita satu episode demi satu episode, bagaimana ada anak yang jatuh waktu ice skating, ada yang nabrak sana-sini, lalu teman yang di kelas biasanya diam ternyata jago banget ice skating-nya, ada teman yang sepatunya besar sebelah, lalu setelah selesai ice skating ada anak-anak cowok dikejar-kejar ke WC cowok, dan dibalas ngejar anak-anak cewek ke WC cewek, dsb. Dan, kita duduk mendengarkan anak kita bercerita seperti itu. Anak itu tidak sadar, namun kita mendengar ceritanya itu sebagai ucapan terima kasih ‘kan. Ucapan yang jauh lebih meaningful dibandingkan mereka mengatakan t-e-r-i-m-a-k-a-s-i-h. Di situ kita merasa bahagia karena anak kita bahagia, karena kita telah membuat mereka bahagia dan mereka bersyukur oleh karenanya.
Sadarkah Saudara bahwa Tuhan kita, yang memanggil diri-Nya sebagai Bapa kita di surga, merindukan momen-momen seperti ini terjadi dalam hidupmu, dalam relasimu dengan-Nya? Saudara tidak percaya? Lihat sekali lagi ke Alkitab. Dari contoh mazmur-mazmur, Saudara lihat berkali-kali bahwa Tuhan menginginkan lebih dari sekadar satu dua kata ucapan syukur. Dia mau lebih. Ya, memang Dia Raja alam semesta, kita tahu Dia terlalu besar melampaui apa yang kita bisa bayangkan, namun bukankah ini yang bikin tambah amazing, bahwa Allah yang sebegitu melampaui kita dan segala sesuatu, telinga-Nya menempel pada anak-anak-Nya. Jadi, belajarlah mengungkapkan rasa syukurmu kepada-Nya. Biarlah bibirmu senatiasa menceritakan pekerjaan tangan-Nya. Demikian hal yang kedua.
Ketiga: Hidup
Sampai di titik ini, mungkin ada yang mulai berpikir lain, “Tadi Pak Jethro bilang new year tidak selalu happy, tetapi dari tadi sepertinya khotbah ucapan syukur ini cocoknya buat mereka yang happy-happy aja. Bagaimana kalu hidupku miserable, tidak ada apa-apa yang bisa disyukuri??” Saudara, di poin pertama tadi kita sudah menantang hal ini, bahwa mungkin yang terjadi bukan demikian, mungkin engkau merasa hidupmu flat bukan karena Allah melakukannya terhadapmu melainkan karena kacamatamu kacamata dunia.
Oke, mari kita masuk ke poin yang ketiga, kita akan melihat apa efeknya ketika yang ada di dalam hati itu lalu dibawa ke bibir. Efeknya bukan cuma kembali kepada Allah dan menyukakan hati Allah, tapi juga bahwa ketika ucapan syukur yang dari hati kita ungkapkan ke bibir kita, itu sesungguhnya kembali dan membawa kehidupan masuk ke dalam hidup kita. Jadi, kalau Saudara mengatakan doa-doa ucapan syukur ini cocoknya bagi orang yang hidupnya memang sudah happy-happy, saya akan mengatakan tidak. Justru mengambil waktu untuk menceritakan kebaikan Tuhan dalam doa-doa kita, itu bisa jadi sumber penghiburan besar yang kita sangat butuhkan kala hidup ditimpa beban yang berat.
Dalam masa Natal kita sudah menentang habis kacamata “Kristiani” yang lupa dengan kegelapan dunia, kita mau kacamata yang realistis. Dan, inilah realitasnya. Realitasnya adalah kita hari ini mendengar kabar perang demi perang, penindasan dalam skala internasional maupun domestik. Kabar kebakaran, yang sengaja ataupun yang tidak sengaja. Orang-orang ditipu di pasar, menderita kerugian besar. Orang-orang yang melakukan kekerasan dan membunuh. Orang-orang yang tidak sopan, entah di lingkungan tetangga ataupun di jalan. Lalu waktu kita beralih ke Gereja, kita menemukan tindakan-tindakan dan perkataan-perkataan sesama orang Kristen yang juga sangat mengganggu kita. Lebih celaka lagi, ketika kita mengalihkan pandangan dari luar ke dalam diri kita, kita menemukan yang di dalam diri ini tidak lebih baik, bahkan mungkin lebih parah. Kita senantiasa gagal dalam hal yang sama, lagi dan lagi. Kita dibuat bingung dengan kecenderungan hati kita yang koq begitu egois. Kita melihat kehidupan berjalan, berjalan, dan berjalan, dan kita wonder ke mana semua waktu kita itu yang telah lewat terbuang begitu saja! Kalau ini adalah hidup kita, inilah justru salah satu sebabnya kita perlu belajar seni mengucap syukur, karena inilah salah satu obat yang bisa mengangkat kita dari semua itu, yaitu dengan mengungkapkan thanksgiving dalam doa-doa kita.
Kembali ke Mazmur tadi, kita akan melihat efek dari ucapan syukur. Ayat 9-11, Kecaplah dan lihatlah, betapa baiknya TUHAN itu! Berbahagialah orang yang berlindung pada-Nya! Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang kudus, sebab orang yang takut akan Dia tidak akan berkekurangan! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik.
Ini ayat yang sangat terkenal, ‘kecaplah dan lihatlah’. Pasa dasarnya si pemazmur, setelah menceritakan apa yang Tuhan lakukan, dia seakan-akan berpaling kepada orang-orang sekitarnya dan mengatakan, “Kecaplah dan lihatlah.” Ini menarik kalau Saudara tahu konteks mazmur ini. Mungkin Saudara pikir ini cuma kiasan, namun sebenarnya ini jauh lebih literal dibandingkan yang kita sangka. Dalam kebiasaan orang Israel zaman itu, dari lima jenis kurban yang diperintahkan kepada mereka dalam kitab Imamat, tidak semuanya diberikan seluruhnya kepada Tuhan. Memang ada kurban yang murni hanya untuk Tuhan, yaitu kurban bakaran, yang semuanya dibakar jadi asap naik ke langit, tetapi empat jenis kurban yang lain –kambing, domba, buah-buahan, tepung, roti, dsb.– sebagian dimakan oleh para imam, dan sebagian besar mereka sendiri yang makan. Dan, karena konteks pada waktu itu sangat komunal (persembahannya bukan persembahan individualistis melainkan sebagai sebuah keluarga), maka momen mereka mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan itu adalah momennya keluarga ini makan perjamuan besar. Mereka makan sebagian besar persembahan yang mereka bawa kepada Tuhan, dan mereka pada dasarnya sedang melihat dan mengecap betapa baiknya Tuhan bagi mereka. Ini bisa kita bayangkan sebagai semacam mazmur liturgi persembahan; setelah orang yang membawa persembahan itu menceritakan apa yang Tuhan lakukan, dia lalu mengundang sanak saudara serta tetangga-tetangganya untuk duduk dan makan, namun apa yang dia katakan? “Kecaplah dan lihatlah …,” bukan makanannya melainkan, “Kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan.” Jadi konteksnya, waktu si pemazmur membawa persembahan itu, yang dilihat dan dikecap orang-orang sekitarnya adalah makanan, tetapi si pemazmur mengatakan ‘kecaplah dan lihatlah betapa baiknya Tuhan’. Dia mau orang-orang selagi melihat makanan yang begitu mewah, selagi menaruh makanan itu ke mulut mereka, mengigit dan merasakan nikmatnya makanan tersebut, mereka menyadari ini lambang riil kebaikan Tuhan bagi mereka.
Hari ini kita sebenarnya tidak sebegitu jauh bedanya dengan orang-orang Israel kuno. Hari ini Saudara membawa persembahanmu kepada Tuhan dalam bentuk uang. Uang ini ujungnya ke mana? Uang ini ujungnya menjadi hal-hal yang engkau lihat dan engkau kecap. Menjadi gedung dan atap yang melindungi kita dari panas dan hujan ketika kita beribadah. Menjadi sekolah tempat anak-anakmu atau anak-anak orang lain belajar dan dididik. Menjadi concert hall tempat engkau menikmati keindahan musik-musik yang agung. Menjadi makanan yang engkau makan ketika kita melangsungkan perjamuan kasih di tempat ini. Menjadi bantuan bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan, ketika mereka di-PHK, ketika mereka jatuh sakit, ketika mereka rumahnya rusak. Menjadi Alkitab bagi anak-anak di Sumba. Dan seterusnya. Jadi, kita bukan cuma secara teori tahu bahwa Allah itu baik, kita sebenarnya sedang mengalami terus-menerus secara riil kebaikan Allah itu. Kita sedang melihat dan mengecap kebaikan Tuhan.
Saudara lihat, inilah pola dalam Alkitab: apa yang engkau bawa kepada Tuhan sebagai persembahan, itu tidak semuanya naik ke atas, itu juga dikembalikan –membawa kehidupan Kembali– kepada komunitasmu. Itu sebabnya kuasa kehidupan yang sama, masuk juga atas hidup kita, ketika kita mengambil waktu untuk menceritakan kepada Tuhan kisah-kisah thanksgiving dalam hidup kita. Sama persis. Yang terjadi adalah bahwa apa yang kita olah dan sajikan kepada Tuhan, itu menjadi pembawa kehidupan masuk kembali ke hidup kita, sama seperti efek makanan yang kita bisa lihat dan kecap. Itu sebabnya meskipun kita bisa capek melihat hidup ini, meskipun kita bisa terseret turun oleh beban-beban kehidupan, sesungguhnya ketika kita menceritakan/mendoakan kisah-kisah kebaikan Tuhan dalam hidup kita, kita melihat dan mengecap apa yang Dia lakukan dalam hidup kita, maka yang terjadi adalah hati kita yang gelap mulai terangkat dan mendapat kekuatan. Itu efeknya.
Menarik bahwa ketika kehidupan kita hari ini tidak selalu sukacita atau jarang sukacita, itu tidak jadi alasan yang menghalangi kita untuk bisa mengalami hal tersebut. Justru terbalik; in some sense penderitaan kita malah menambah sukacitanya. Ketika si pemazmur tadi menyediakan hidangan, kenapa dia bisa mengajak orang-orang sekitarnya melihat kebaikan Tuhan melalui hidangan ini? Kenapa sebegitu simbolisnya makanan ini? Karena makanan seperti ini pada zaman itu bukanlah makanan yang biasa! Makan daging, bagi mereka pada waktu itu jarang sekali. Ini mirip seperti waktu kita pelayanan di Sumba, kalau kita datang ke suatu daerah ketika ada upacara adat di daerah tersebut, maka sudah pasti semua sekolah yang kita datangi tidak ada yang buka, semua kegiatan rutin desa itu berhenti satu minggu. Kenapa? Karena semua berkumpul untuk upacara adat. Kenapa mereka berkumpul ke upacara adat? Karena bagi mereka ini perbaikan gizi. Ada upacara adat berarti mereka makan daging, yang sangat jarang bagi orang-orang daerah itu.
Saudara lihat, persembahan yang dimakan orang-orang Israel kuno ini jadi tambah bermakna karena ini bukan sesuatu yang selalu ada. Ini jarang. Ini makanan yang menyegarkan, menguatkan secara ekstra, karena biasanya tidak begini, karena justru orang Israel hidup dalam situasi yang tidak selalu di atas, sama seperti engkau dan saya. Mereka bisa melihat Allah melalui makanan seperti ini, exactly karena hidup mereka tidak selalu seperti itu. Jadi kalau engkau hari ini menemukan hidupmu seperti tidak ada sukacita, engkau tidak bisa bersyukur atas berkat Tuhan, cobalah consider satu hal: jangan-jangan ini justru karena hidupmu terlalu penuh dengan kenyamanan, sudah terlalu biasa dengan segala kepenuhan dan kelimpahan, sehingga engkau tidak lagi bisa mengucapkan syukur. Engkau tikus yang mati di lumbung padi. Engkau selalu kenyang; dan ironisnya, itu membuat engkau selalu lapar.
Event sepeda kemarin itu “selalu ada cerita”, dan ini salah satu ceritanya. Bersepeda jarak jauh, Saudara harus memikirkan bukan cuma kekuatan paha, tapi juga strategi refueling. Badanmu perlu di-refuel. Kalau 150 km, Saudara harus makan beberapa kali di atas sepeda. Saya sudah tahu hal ini, event ini bukan kali pertama saya ikut, maka dari pengalaman yang dulu saya sudah ancer-ancer berapa kilometer saya harus berhenti, makan, baru lanjut. Namun ternyata medan kemarin berat banget, bukan saja karena jalanannya agak rusak tapi juga karena angin tiba-tiba berubah arah. BIasanya angin di Jakarta bergerak dari Barat ke Timur, namun entah bagaimana hari itu dari Selatan ke Utara, sementara rute kami dari Selatan ke Utara lalu baik ke Selatan. Dengan demikian ada sekitar 60 km dari Utara ke Selatan, panjang sekali, yang harus hantam angin terus. Saya memble setengah mampus sampai ingin menyerah dan panggil Grab pulang saja. Saya mulai mempertanyakan pilihan-pilihan hidup saya, ‘Ngapain gua di sini, bego banget sih, goblok banget, tolol, stupid, buang waktu, ‘gak bakal lagi deh ikut-ikutan event kayak begini!’ Lalu saya lihat jaraknya masih jauh dari refueling point yang saya rencanakan, namun karena saya rasa tidak bisa begini, akhirnya saya berhenti dan makan sebelum titik itu. Ketika itu saya sudah lemas banget. Saya keluarkan makanan saya, cheese burger. Dan, apa yang terjadi? Begitu cheese burger itu menyentuh bibir saya, saya langsung rasa waaahhhh… . Gigitan pertama itu membuat saya langsung ngiler banjir, dan badan yang tadinya lemas tak berenergi, langsung nafsu makan keluar. Cheese burger dari tas yang sudah bonyok dan dingin itu rasanya puallliiing ueenaakkk yang saya pernah makan. Dan apa yang terjadi setelah selesai makan? Saya mengatakan kepada diri saya, “Event sepeda ini asyik banget, seru, mau lagi ah.. “, bahkan saya sudah daftar untuk event berikutnya yang 200 km.
Saudara lihat, inilah yang terjadi. Perhatikan kalimat si pemazmur di ayat 10-11: Takutlah akan TUHAN, hai orang-orang kudus, sebab orang yang takut akan Dia tidak akan berkekurangan! Singa-singa muda merana kelaparan, tetapi orang-orang yang mencari TUHAN, tidak kekurangan sesuatu pun yang baik. Ini kalimat apa? Di sini sampai diulang dua kali ‘tidak berkekurangan’. Orang-orang yang mengucap syukur kepada Tuhan, yang begitu diberkati Tuhan, mereka lack nothing! Kita tahu ini simbolis, ini kalimat puitis; kalau kita punya mata yang realistis, mungkin kita cari si pemazmur dan tanya dia sehari setelah mengucapkan mazmur ini, “Nah.. ternyata ada yang kurang ‘kan??” dan dia jawab, “Iya sih, kurang ini dan itu, dan ini dan itu … .” Tetapi Saudara mengerti maksudnya puisi ini, bahwa dalam momen ia mengungkapkan karya dan kebaikan Tuhan baginya lalu ia mengecap sendiri kebaikan Tuhan tersebut, dia merasa tidak butuh apa-apa yang lain, I lack nothing!
Saudara, ada atau tidak di antara kita yang menginginkan bisa merasakan perasaan seperti ini, sekali saja dalam hidup kita? Kita tahu koq secara realistis, bahwa kita masih hidup dalam penantian, kita belum dan mungkin tidak akan mengalami kepenuhan janji Tuhan yang sempurna dalam hidup kita –itu nanti dalam langit dan bumi yang baru– namun itu bukan berarti hari ini Saudara tidak bisa sama sekali mengakses icipan, mengecap, perasaan itu sekarang sementara dalam dunia hari ini. Momen di mana kita begitu kenyang akan kebaikan Tuhan, sehingga –setidaknya untuk sekarang– kita merasa tidak ada satu hal pun yang saya butuhkan selain yang Tuhan sudah berikan. Tidak ada satu hal pun yang Gereja ini butuhkan selain dari apa yang Tuhan sudah berikan. Singa-singa boleh kelaparan, tetapi orang yang mencari Tuhan bisa berkata dia tidak berkekurangan. Saudara, tidakkah engkau ingin merasakan hal seperti ini?
“Ah, Pak, tapi itu cuma sementara, besok tidak lagi, tidak kekal.” Kalau begitu saya tanya, ngapain Saudara kenyang lalu besok lapar lagi? Tidak usah kenyang saja sekalian. Mending mana, hidup dalam realitas kelaparan namun sesekali bisa merasa kenyang, atau hidup dalam kekenyangan yang ironisnya selalu merasa lapar? Pilih mana? Ini frenomena modern, bahkan ada istilahnya: doomscrolling. Saudara pernah melakukan? Saya pernah, mungkin sering. Kita doomscrolling IG, kita pakai waktu sebegitu banyak memfokuskan diri main IG. Di situ kita sebenarnya sedang difokuskan melihat hal-hal yang kita tidak punya, hal-hal yang Tuhan tidak berikan kepada kita. Coba, apakah IG kalau bukan itu? Saudara senantiasa diperlihatkan barang-barang, body-body, yang engkau tidak punya. Basically ini liturgi Kejadian 3 berulang dalam hidupmu entah berapa jam. Adam dan Hawa punya entah berapa banyak kebaikan Tuhan dalam hidup mereka di Taman Eden, tetapi ular lalu pasang IG: ini satu hal yang engkau ‘gak punya, hak untuk menentukan apa yang baik dan apa yang jahat. Satu doang di antara lautan hal-hal yang Tuhan berikan, dan mereka berfokus pada yang mereka tidak punya itu. Memang tepat sekali namanya doomscrolling.
Sebenarnya kenyang, selalu kenyang, selalu dalam kelimpahan, and yet selalu lapar. Inilah manusia. Kita punya begitu banyak hal yang telah diberikan kepada kita tetapi kita sangat mudah melupakan itu. Kita cuma fokus pada apa yang negatif; kecuali engkau memalingkan hatimu untuk melayani kehendak Tuhan, melihat pekerjaan Tuhan, menaruh apa yang ada di hatimu ke bibirmu. Tuhan dalam kebaikan-Nya menyediakan bagimu satu habit yang baru, habit alternatif untuk Gereja-Nya lakukan, habit yang jauh lebih menghidupkan daripada doomscrolling, yaitu habit mengucap syukur, menceritakan dengan bibirmu, karena hal ini akan berdampak dalam hidupmu. Ini salah satu kebaikan yang Tuhan bawa dalam hidup ini. Engkau mau tahu bagaimana caranya? Sekarang engkau tahu caranya.
Omong-omong, kalau engkau rasa sulit melakukan sendiri, saya kembali mengundangmu datang ke Persekutuan Doa. Persekutuan Doa bukan tempat orang-orang yang jago berdoa lalu engkau jadi takut masuk ke sana. Persekutuan Doa adalah tempat orang-orang yang berani menghadapi fakta bahwa mereka tidak bisa berdoa, mereka tidak jago berdoa, mereka perlu bantuan sesama umat Allah dalam belajar dan berlatih untuk berdoa, maka mereka datang bersama-sama. Inilah selalu pola Kristiani. Pertobatan itu mengakui ketidakmampuan, yang somehow justru menjadi jalan yang Tuhan pakai mendatangkan kuasa-Nya.
Mari menutup khotbah ini dan memulai tahun yang baru dengan sekali lagi membaca Mazmur 34.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading