Dalam pasal 19:1 ini Paulus sepertinya bertukar tempat pelayanan dengan Apolos. Apolos masih di Korintus dan Paulus sampai di Efesus, sedangkan sebelumnya Apolos sudah sampai di Efesus sementara Paulus pergi ke Korintus. Namun ini bukan seperti pertukaran mimbar yang biasanya hanya beberapa jam, melainkan bertahun-tahun.
Lukas melanjutkan kisahnya. Paulus sampai di Efesus, dan mendapati komunitas yang sempat dilayaninya dulu dan dia diminta untuk tinggal, namun dia menolak, karena rupanya Tuhan sudah mengutus Apolos untuk melayani jemaat di Efesus itu. Selanjutnya kita tahu di pasal 18, Apolos ternyata punya pemahaman teologis yang kurang komplit, lalu dibikin jadi komplit oleh pengajar katekisasi bernama Priskila, seorang perempuan, beserta suaminya, Akwila (selalu disebut dengan urutan Priskila dan Akwila, jadi sepertinya Priskila yang lebih dominan sebagai pengajar katekisasi di situ). Apolos kemudian melengkapi bagian yang belum lengkap dalam pengajaran dan pemberitaan Injilnya. Pada bagian ini Paulus lalu menggantikan posisi Apolos di Efesus, sementara Apolos menggantikan posisi Paulus di Korintus.
Di Efesus, kembali Paulus mendapati sesuatu yang tidak komplit dalam Gereja Efesus. Apakah itu? Yaitu ada beberapa orang murid di sana –ini murid Yesus, bukan sekadar murid Yohanes, jadi ini orang Kristen sungguhan– yang rupanya “belum mengenal/menerima Roh Kudus” (hal ini saya taruh dalam tanda kutip karena kita masih memperdebatkan apa artinya).
Apa artinya belum mengenal atau belum menerima Roh Kudus? Kalau belum mengenal atau belum menerima Roh Kudus, koq bisa mereka jadi orang percaya, koq bisa mereka dilahirbarukan, koq bisa mereka jadi murid Yesus? Apa maksudnya jadi murid Yesus tetapi tidak kenal Roh Kudus? Apalagi dalam bagian selanjutnya mereka mengatakan, “… kami belum pernah mendengar bahwa ada Roh Kudus.” Lho, berarti mereka tidak mengikut Allah Tritunggal tetapi sudah Kristen? Yang mereka ikuti Allah Dwitunggal, Allah Bapa dan Yesus, sementara Roh Kudusnya tidak ada?? Apakah seperti itu maksudnya? Saya kira, tidak. Lukas pasti bukan memaksudkan seperti itu; kenapa? Jawabannya cukup simpel: karena mereka ini orang Yahudi. Orang Yahudi tahulah ada yang namanya Roh Allah (Roh Kudus), karena Roh Kudus bukan baru ada setelah Yesus.
Dalam hal ini kita juga jangan salah sangka, menganggap Allah Bapa yang paling purba, yang menciptakan dunia ini, lalu Dia mungkin merasa kesepian, dan kemudian melahirkan Yesus yang proceed out of the Father. Tentu itu pandangan yang keliru, karena Yesus keluar dari Allah Bapa sejak kekekalan, bukan sebagai ciptaan. Lalu Roh Kudus memang diutus kepada Gereja setelah Yesus naik ke surga; Roh Kudus turun kepada komunitas orang Kristen di Hari Pentakosta yang itu, kira-kira tahun 30 setelah Masehi. Jadi memang urutannya bagi Gereja adalah: Allah Bapa, lalu Yesus yang berinkarnasi, lalu Roh Kudus yang memenuhi mereka. Namun tentu bukan dalam arti Bapa sudah ada duluan, lalu once upon a time tiba-tiba muncul Yesus, lalu tunggu sekian lama lagi baru muncul Roh Kudus. Hal ini bahkan tidak dalam arti epistemik, maksudnya bukan dalam arti pengetahuannya. Orang-orang Yahudi tentu tahu ada Allah Bapa, orang-orang Yahudi tentu tahu bahwa Bapa mengirim Mesias, orang-orang Yahudi juga tentu tahu bahwa ada yang namanya Roh Allah, yang bekerja sejak penciptaan (Kejadian 1). Roh Kudus bekerja dalam dunia ini bukan sejak Pentakosta yang itu, bukan sejak abad pertama, melainkan sejak penciptaan dunia ini, bahkan sebelumnya lagi. Allah Tritrunggal-lah yang merencanakan segala penciptaan, penyelenggaraan, penebusan, dst., sebelum jagat raya ini ada, sebelum ada waktu.
Jadi, waktu di ayat 2 tadi mereka mengatakan belum mendengar bahwa ada Roh Kudus, maksudnya bukan dalam arti mereka mengatakan ‘kami tidak tahu Roh Kudus’, melainkan dalam arti mereka belum menerima pengajaran, bahwa Yesus bukan mau langsung menggenapkan datangnya Kerajaan Allah secara mutlak dan penuh pada masa hidup-Nya, Dia mendatangkan Kerajaan Allah itu dalam dua tahap. Ini eskatologi dua tahap versi Paulus. (Saudara bisa membaca hal ini dijelaskan lebih lanjut oleh orang-orang seperti Geerhardus Vos, seorang biblical theologian, atau penjelasan Anthony Hoekema dalam bukunya The Bible and the Future, demikian juga Herman Bavinck, Berkhof, dan para classical theologian yang lain).
Teologi Paulus, dalam hal ini mengenai hari akhir, berbeda dengan hari akhir versi orang Yahudi. Berbedanya kenapa? Berbedanya karena Yesus. Bukan hanya ada Yesusnya, bukan hanya bahwa Mesiasnya ternyata Yesus –meski ini benar juga –melainkan bahwa hari Tuhan bagi Paulus –setelah dia melihat realitas Yesus –rupanya datang bukan dalam satu tahap.
Orang-orang Yahudi (yang bukan Kristen) percaya bahwa hari Tuhan datang dalam satu tahap, artinya sekaligus datang Mesias, penghakiman bagi musuh-musush Israel, pemurnian Israel, surga ke bumi, penghakiman atas bumi, serta langit dan bumi yang baru. Semua itu sekaligus datangnya. Dan, dari standar tersebut, tentu mereka melihat Yesus itu bukan Mesias, soalnya lho Mesiasnya koq mati, lho Kerajaan Allah katanya sudah datang tetapi orang benar seperti Yohanes Pembaptis yang dipenuhi Roh Allah sejak dari kandungan ibunya koq mati dipenggal oleh raja yang lalim itu, Herodes, yang bahkan bukan dari garis keturunan Daud, bagaimana bisa?? Maka mereka mengatakan Yesus itu Mesias palsulah. Kalau Saudara tertarik mempelajari apa kata orang Yahudi –bahkan sampai hari ini—mengenai Yesus, bisa cari Rabi Yitzchak Breitowitz di YouTube. Dia menjelaskan kenapa orang Yahudi sampai hari ini tidak mau percaya bahwa Yesus itu Mesias dengan sangat singkat dan tepat, yaitu karena orang Yahudi percaya –kalau pakai istilah dari Geerhardus Vos—bahwa zaman akhir datang dalam satu tahap, sementara orang Kristen percaya zaman akhir datang dalam dua tahap.
Kalau standarnya satu tahap, mereka akan bertanya, “Mana?? Israel belum dikumpulkan jadi satu koq, masih tercerai-berai. Mana?? Banyak penguasa lalim masih memerintah, koq. Mana?? Israel sendiri masih belum murni, koq. Mana?? Orang-orang benar masih banyak yang mati dalam ketidakadilan, diinjak-injak, dianiaya, difitnah, masuk penjara dan tidak keluar lagi, orang fasik beria-ria bahkan sampai mati pun masih dipuji-puji jadi pahlawan. Mana Kerajaan Allah datang??” Itu benar kalau dari perspektif satu tahap. Tetapi kalau dari perspektif bahwa datangnya Kerajaan Allah/hari akhir itu dua tahap, sebagaimana eskatologi Paulus, tentu make sense bahwa Tuhan, Kerajaan Allah, sudah datang, sudah already. Dalam hal ini Oscar Cullmann pakai istilah D-Day —D-Day itu sudah datang.
D-Day adalah istilah yan dipakai dalam Perang Dunia II, di mana pasukan Sekutu merencanakan penyerbuan besar-besaran, mengambil titik-titik paling trategis, di antaranya Normandy, Iwo Jima, dst., untuk menghancurkan pasukan aliansi Jerman, Jepang, dan Italia (terutama yang paling kuat yaitu Jerman di Eropa dan Jepang di Pasifik). Dan ini titik balik dari Perang Dunia II, di mana Hitler sendiri mengetahui dia sudah kalah, tidak mungkin menang. Hari itu disebut sebagai D-Day, saat Hitler kecolongan, tidak sangka-sangka bahwa pasukan Sekutu menyimpan rencana penyerbuan yang paling besar, yang dikonsentrasikan di Normandy, dan dia tidak bisa menang. Dia mengetahui hari-hari kekalahannya sudah menjelang, dia sudah kecolongan. Di sinilah Cullman mengatakan waktu Yesus mati dan bangkit, setan kecolongan kayak Hitler, D-Day itu sudah datang, kemenangan definitely sudah di tangan Tuhan, tetapi V-Day (victory day) belum. Kapan V-Day? V-Day adalah waktu Jerman benar-benar menyerah tanpa syarat, dan Jepang menyerah tanpa syarat ketika Nagasaki dan Hisroshima dibom. Jadi ketika Jerman sudah menyerah, Jepang sudah menyerah, artinya mereka sudah kalah, pasukan Sekutu sudah menang, itulah V-Day; dan V-Day beda kira-kira setahun dari D-Day. Waktu D-Day, Hitler sudah tahu tinggal beberapa langkah lagi skakmat, tidak mungkin menang. Tetapi apakah dia menyerah mundur? Tidak. Hitler perang terus sampai mati. Antara D-Day dan V-Day ada beberapa bulan, dan masih begitu banyak yang mati, jutaan orang mati. Perang memang belum selesai, tetapi akhir perang sudah ditentukan. Demikianlah juga Yesus mati, Yesus bangkit, Yesus naik, Roh Kudus turun, Gereja berdiri, kemenangan sudah pasti, tetapi V-Day-nya belum datang. Itulah versi eskatologi Paulus, kata orang-orang seperti Vos, Oscar Cullman, G.E. Ladd, Hoekema, dst.
Orang Yahudi tidak percaya itu. Yohanes Pembaptis mengatakan Mesiasnya Yesus, namun pengertian dia belum sampai penuh (Yohanes ini bisa dibilang not yet Kristen), dia hanya tahu Yesus itu Mesiasnya, tetapi dia belum tahu bahwa Yesus nantinya akan mati, bangkit, naik ke surga, dan Roh Kudus turun memenuhi Gereja. Dia belum paham sampai sekomplit itu. Demikian juga murid-murid Yohanes Pembaptis, seperti Apolos dan beberapa orang yang dijumpai Paulus di Efesus. Mereka belum tahu secara komplit nanti V-Day-nya bagaimana; dan itulah yang mereka kemudian dengar dari ajaran Paulus di bagian ini, dalam pertanyaan, “Dengan baptisan mana kamu dibaptis?” Mereka menjawab, “Dengan baptisan Yohanes.” Paulus tahu, kalau baptisan Yohanes berarti mereka mengerti Israel tidak cukup, Israel perlu dimurnikan, kerajaannya Herodes bukanlah Kerajaan Israel yang sejati, Israel masih menantikan Mesias dan mereka perlu bertobat dari kesalahannya. Itulah namanya baptisan Yohanes. Tetapi, mereka masih perlu mendengar sisanya –seperti Apolos mendengar dari Priskila—maka Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun ke atas mereka.
Sekali lagi, ini bukan berarti mereka tidak tahu ada yang namanya Roh Kudus. Melalui kalimat tadi, Lukas cuma ingin mengatakan mereka itu belum paham bahwa Roh akan dicurahkan, dan sekaranglah saatnya dicurahkan kepada segenap Gereja, sehingga bukan hanya kaum imam tetapi juga kaum awam, bukan hanya orang-orang tua tetapi juga orang-orang muda, bukan hanya orang Yahudi tetapi juga yang Yunani, akan dipenuhi oleh Roh Allah yang sama yang memenuhi Yesus, sepenuh Yesus. Yesus dipenuhi Roh sampai mana, sepenuh itulah Tuhan menginginkan murid-murid-Nya dipenuhi. Ini sesuatu yang murid-murid tersebut belum dengar, maka Paulus menjelaskan. Itu sebabnya dia mengatakan, “Yohanes membaptis dengan baptisan tobat, mengatakan kepada orang banyak bahwa mereka harus percaya kepada Yesus, tetapi sisanya belum”, dan sisanya itulah yang kemudian Paulus layankan. Paulus menumpangkan tangan atas mereka, Roh Kudus turun ke atas mereka, dan mulailah mereka berkata-kata dalam bahasa lidah lalu bernubuat.
Dua istilah ini, berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat, akan saya jelaskan. Berkata-kata dalam bahasa lidah dan bernubuat, sering kali menjadi satu penanda fisik, material, yang kasat mata, yang dipakai oleh komunitas tertentu dalam gereja. Mungkin komunitas gereja-gereja Pentacostal, Kharismatik, dan beberapa gereja Methodist, ada pengajaran mengenai second blessing, yaitu bahwa orang bertobat dalam dua tahap. Kalau tadi kita bicara Kerajaan Allah datang dalam dua tahap –Yesus lahir, Yesus mati, Yesus naik ke surga, Roh Kudus turun, tetapi belum tahap yang kedua yaitu Yesus datang kembali, sehingga sekarang kita hidup dalam masa antara (ad interim)– sekarang mereka mengatakan hal ini terjadi juga secara soteriologis. Jadi skenario eskatologis (doktrin akhir zaman itu) diterapkan dalam soteriologis, khususnya soteriologis pribadi/individual. Mereka mengajarkan bahwa orang dibaptis, bertobat, menerima Yesus, diselamatkan maka kalau mati tidak masuk neraka, lahir baru, itu benar, namun masih perlu berkat yang kedua, yaitu dipenuhi Roh Kudus.
Kalau dipenuhi Roh Kudus, beda deh, ‘gak cuma sekadar selamat. Kalau sekadar selamat, ya barangkali penduduk gereja-gereja main line kayak begitu, tetapi kalau menerima berkat kedua, barulah itu konco-konco kita, yang mengalami sendiri realitas yang lebih tinggi. Bedalah. Kurang lebih seperti itu menurut mereka. Kurang lebih mereka mengidentikkan ini seperti kalau kamu cuma pakai YouTube yang tidak berbayar lalu sekarang pakai YouTube yang berbayar, maka pengalamannya beda, yang satu diinterupsi melulu oleh iklan, sedangkan yang berbayar tidak ada iklan, demikian juga semua aplikasi yang berbayar tentu beda. Kira-kira seperti itu mereka membayangkannya. Tentu ini pengajaran yang saya katakan keliru di dalam satu ekstrim (tetapi, pengajaran yang lain juga keliru dalam ekstrim yang lain). Saya sebut saja yang satu keliru dengan membagi soteriologi dalam dua tahap, ini mengada-ada, tidak ada dasar Alkitab yang kuat; dan dalam hal ini, saya katakan bahwa itu disebabkan karena mereka punya komitmen metafisik (komitmen mengenai metafisika, mengenai realitas ini apa) yang saya labelkan saja sebagai supernaturalisme. Sementara di ekstrim yang lain, komunitas gereja yang menganut posisi naturalisme.
Supernaturalisme dan naturalisme akan menjelaskan Kis. 19 ayat 6-7 ini secara berbeda. Orang-orang supernaturalisme akan mengatakan, “Lihat tuh, kalau dipenuhi Roh maka akan bisa berkata-kata dalam bahasa lidah, bisa bernubuat. “ Bahasa lidah itu apa? Bagi mereka bahasa lidah itu pokoknya ngomong yang bukan seperti bahasa Azerbaijan atau bahasa arab, bahasa Inggris, bahasa Indonesia, dsb., pokoknya bahasa yang tidak ada di Google punya versi bahasa, namun tetap bahasa, bahasa malaikatlah kira-kira, manusia ngomong ke Tuhan langsung. Dan, somehow pengguna bahasa tersebut saling ngerti, sedangkan pengguna bahasa natural tidak mengerti, itu adalah bahasa orang dalam, dan sesama orang sakti yang dipenuhi Roh bisa mengerti –tidak mengerti pun tidak apa-apa yang penting Tuhan mengerti. Kira-kira seperti itu maksudnya. Demikian supernaturalisme.
Sedangkan yang naturalisme akan mengatakan, “Yah, yang begini-beginian memang dipercaya oleh Lukas dan orang-orang sezaman Lukas, tetapi ini ‘kan 2000 tahun yang lalu.” Rudolf Bultmann, seorang ahli Perjanjian Baru yang luar biasa, dia menguasai beberapa belas bahasa kuno, dan mengerti sekali karya-karya Plutarch sampai Plato, sampai karya-karya yang mungkin kamu tidak pernah dengar namanya, naskah-naskah Perjanjian Baru serta Perjanjian Lama dalam berbagai bahasa dan bahasa aslinya ; dia seorang yang sangat luar biasa, tetapi komitmen metafisikannya adalah naturalisme. Dan, yang dia sebut sebagai natur, itu tidak mengandung hal-hal yang tidak bisa diverifikasi secara material, fisika, kimia, matematika, geografi, dan biologi modern. Komitmen dia itu logical positivist –kira-kira begitu kalau kita pakai bahasa analytical philosophy – bahwa yang tidak bisa diverifikasi secara ilmiah sama saja artinya tidak ada. Bayangkan saja kalau tidak punya massa, tidak menempati ruang, diberi geiger counter pun tidak memancarkan radiasi, diberi sensor apa pun tidak terdeteksi, tidak ada efeknya, kalau pun ada bisa saja efeknya berasal dari sumber lain, yang seperti itu ya, apa bedanya dengan tidak ada?? Bilang saja tidak ada ‘kan. Misalnya kayak apa? Pekerjaan Roh atau pekerjaan Tuhan.
Lalu orang mengatakan, “Ya, sebenarnya kalau minum obat sakit kepala bisa juga sih, tetapi bisa juga pekerjaan Tuhan”, “Sebenarnya pakai duit bisa sih, tetapi kita tidak punya duit jadinya kita berdoa dan akhirnya masalah selesai. Jadi ‘kan itu bisa saja pekerjaan Tuhan.” Dan tanggapannya lho, kalau bisa pekerjaan Tuhan tetapi bisa juga pakai yang lain, berarti sama saja pekerjaan Tuhan itu tidak ada. Jadi tidak bisa di-isolir penyebab yang tak tergantikan, selalu saja bisa ada variabel paralel yang sama-sama bisa menjelaskan, dan mereka akan mengatakan itu sama saja dengan tidak ada. Itu sebabnya mereka mengatakan ada yang namanya penjelasan natural, ada yang namanya penjelasan supranatural. Penjelasan supranatural itu penjelasan orang malas, penjelasan orang yang percaya takhayul, yang gampang cari shortcut, atau orang yang simply uneducated/bodoh, sementara kita yang sudah tercerahkan –kata Bultmann. “Kita ini pakai listrik, minum air tinggal putar keran lalu keluar air, dengar radio yang dipancarkan lewat satelit, mengirim manusia ke bulan, lho koq masih percaya setan-setan, dsb.?? Kita ini hidup dalam dunia yang tidak sama dengan dunia orang perjanjian Baru, kita ini orang modern,” demikian kata Bultmann.
Bultmann lalu bikin proyek demitologisasi. Segala laporan yang dia anggap selama ini dijelaskan secara supernatutalistis, dia cut, dia katakan bahwa ini sesuatu yang bisa dijelaskan secara naturalistis. Tetapi, barangkali juga tidak menarik dijelaskan secara naturalistis, karena that’s not the point, you miss the point. Poin yang Lukas mau ceritakan adalah realitas rohani; dan Bultmann waktu bicara soal rohani, intinya sebetulnya psikologis, atau lebih tepatnya realitas eksistensial. Contohnya, murid-murid Tuhan patah arang, patah semangat, kehilangan keberanian, kehilangan alasan untuk hidup, setelah Yesus mati; lalu Yesus bangkit. Ya, elah, manusia sudah mati ya tidak bisa bangkit secara fisiklah. Tetapi kenyataannya Gereja ada, sampai 2000 tahun terus ada, dan Gereja ini awalnya cuma beberapa ratus atau beberapa ribu orang; koq bisa? Murid-murid 12 orang itu, yang kocar-kacir waktu Yesus disalibkan, koq bisa jadi saksi-saksi yang pemberani? Lalu tanggapannya, “O, ada satu realitas rohani yang terjadi dalam hidup mereka” –demikian kira-kira Bultmann. Jadi dia peduli dengan realitas atau dinamika eksistensial (dia kawan baik dari filsuf eksistensialis bernama Martin Heidegger; Bultmann dipengaruhi oleh Heidegger, Heidegger juga dipengaruhi oleh Bultmann).
Itulah cara Bultmann, naturalisme. Dan, di sini saya akan katakan bahwa Lukas ini tidak punya komitmen supernaturalisme dan juga tidak punya komitmen naturalisme. Naturalisme itu masih agak baru, ini deisme Inggris, dipengaruhi oleh Aufklarung, Renaissance, dst., jadi masih agak baru, modern. Lukas jelas tidak dipengaruhi oleh itu. Bagi dia, Allah bekerja dengan cara-cara yang tak dapat kita jelaskan, ya wajar-wajar saja; Allah bekerja dengan cara yang kita dapat jelaskan, ya wajar juga. Bagi Lukas –seperti juga bagi penulis Mazmur 104 –pekerjaan Allah, pekerjaan alam, pekerjaan manusia, itu blending jadi satu.
Dalam Mazmur 104 dikatakan, “Betapa banyak pekerjaan-Mu, ya Tuhan”, namun sebelumnya diceritakan Tuhan memberi minum kambing-kambing hutan, setelah sebelumnya memberi minum gunung-gunung dan lembah-lembah dengan pakai hujan (air). Lho, itu ‘kan siklus air, sesuatu pekerjaan dalam natur saja??Selanjutnya dikatakan hewan-hewan mencari mangsa, mendapatkan mangsa, bisa makan, berkembang biak. Lho, koq itu dibilang pekerjaan Tuhan, itu ‘kan pekerjaan kambing, pekerjaan singa? Lalu dikatakan juga malam selesai, fajar tiba, manusia pergi ke pekerjaannya, dan dilanjutkan dengan betapa besar pekerjaan-Mu, ya Tuhan. Lho, itu ‘kan pekerjaan manusia, koq dibilang pekerjaan Tuhan? Bagi penulis Mazmur 104, pekerjaan Allah, peristiwa alam, pekerjaan manusia dalam sejarah dan budaya, itu blending jadi satu. Seperti juga suatu orkestra merupakan pekerjaannya komposer, pekerjaannya pelatih nyanyi, conductor, orang yang menggesek biola, bahkan juga pekerjaan tukang sapu aulanya, pekerjaan yang merancang peletakan absorber dan diffuser, sound system, lighting, dsb., yang semua itu blending jadi satu, menyediakan pengalaman nonton orkestra.
Demikianlah yang disebut sebagai pekerjaanTuhan bagi orang-orang kuno –seperti penulis Mazmur 104 dan juga Lukas– itu tidak terpisahkan, mereka tidak membagi dua dunia dalam natural dan supernatural. Yang kalau mau menekankan Tuhan itu bekerja, lalu menekankan supernaturalisme. Sementara kalau mau menekankan manusia bekerja, mereka mengatakan, “Kamu jangan mikir takhayul, semua-semua dijelaskan dari Tuhan, semua-semua minta tolong pada Tuhan. Itu kayak anak kecil yang tidak mau belajar, main game terus, besoknya ujian, muncul soal-soal yang dia tidak bisa jawab, lalu soal apa pun dia jawabnya ‘Yesus’ karena Jesus is the answer ‘kan, dan dia berharap dapat nilai 100 –tetapi tenyata salah semua. Tidak seperti itu ‘kan”.
Mengatakan semua itu pekerjaan Tuhan, sering jadi shortcut bahwa segala hal solusinya satu: berdoa saja, baca Alkitab. Kamu depresi? Berdoa, baca Alkitab. Kamu dipukuli suamimu? Berdoa, baca Alkitab. Negeri ini banyak korupsi. Berdoa, baca Alkitab. Jembatan mau roboh kena banjir. Berdoa, baca Alkitab. Semua solusinya satu, berdoa dan baca Alkitab. Ini kayak ‘apa pun sakitnya, minumlah paracetamol’, ya tidak bisalah –walaupun bisa juga paracetamol membantu, namun perlu yang lain. Dalam hal perlu yang lain inilah orang-orang yang suka kesal dengan orang-orang supernaturalistis –yang apa pun jawabannya ‘baca Alkitab dan berdoa’, apa pun konsepsinya shortcut kepada yang misterius (Tuhan)– mereka retaliasinya seperti Bultmann, naturalisme, yaitu insist sudahlah, tidak usah bicara soal Tuhan. Demikian itu menjadi dua ekstrim yang kita tidak perlu pilih, karena Lukas itu neither nor, neither supernaturalistis, nor naturalistis. Lukas bagaimana? Bagi Lukas, Tuhan bekerja, ya, wajar. Tuhan bekerja melalui orang, ya, wajar juga. Itu sesuatu yang merupakan bagian dari realitas besar. Lukas tidak membelah dua jadi supernatural dan natural.
Jadi, ketika kita kemudian membaca mereka berbicara dalam bahasa lidah, ini maksudnya apa? Saya kira, maksudnya mereka itu berbicara mengenai pekerjaan Tuhan dalam hidup mereka, mempersaksikan kemurahan Tuhan, kuasa Tuhan, dengan cara yang bisa dipahami oleh pendengarnya, dengan cara yang sangat ekspresif. Apakah itu melibatkan sesuatu yang luar biasa, apakah itu melibatkan sesuatu yang biasa/ordinary/natural, itu tidak begitu penting, yang pasti adalah mereka digerakkan oleh Roh Allah. Dan, kamu tahulah ada orang-orang yang tidak harus pakai “si laba-laba, si bala-bala” namun doanya kemudian menyentuh hatimu dan mengubah kamu, juga mengubah keadaan,Tuhan sungguh-sungguh kamu alami hadir dalam persoalan hidupmu, dst. Kamu tentu tahu itu, kamu bisa membedakan mana yang asli dan mana yang tidak. Kamu tentu tahu cinta yang asli dan penjilatan. Kamu tahu cinta yang asli dan rayuan. Kita tahu yang asli ketika kita mengalaminya; dan itu tidak harus sesuatu yang extraordinary, itu biasa juga sesuatu yang ordinary. Inilah yang saya kira dimaksud oleh Lukas –meski tentu penjelasan ini tidak komprehensif– dengan mencatat mereka berkata-kata dalam bahasa lidah ketika Roh Kudus turun atas mereka; yang pasti, semua murid-murid di sana mengetahui hal itu.
Selanjutnya, dikatakan mereka bernubuat. Nubuat itu apa sih? Nubuat itu bukan ramalan. Kalau ramalan, secara naturalistis toh juga bisa. Saya bisa meramal bahwa sebuah beam akan hancur ketika diberi gaya sekian, atau massa sekian, dengan medan gravitasi sekian. Kita bisa meramal itu, kita bisa testing, replikasi, dan kita bisa tahu beam itu fail-nya kira-kira kapan. Kita bisa ramal hal itu, ramal tidak harus melibatkan semacam dipenuhi Roh dsb. Artinya apa? Artinya bernubuat bukan sekadar meramal. Kalau meramal, orang ateis juga bisa meramal, memprediksi; dan yang kedua, dukun pun bisa meramal, meski sering salah juga, tetapi bukan berarti tidak pernah benar.
Nubuat bukan ramalan, nubuat adalah ini: perkataan yang mendeskripsikan dengan tepat realitas, baik realitas di masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang –mendeskripsikan realitas dari sudut pandang Tuhan. Kayak apakah itu? Kayak begini: misalnya orang mengatakan, “Oh, ini sesuatu yang perlu demi kemajuan,” lalu orang yang bernubuat dari kacamata Tuhan mengatakan, “No, no, no, itu kekejaman.” Atau, “No, no, no, ini keserakahan.” Atau, “No, no, no, ini adalah kemunafikan, atau penyembahan berhala.” Atau, “No, no, no, ini mempersembahkan anak-anak kita kepada Molokh”. Itulah nubuat. Nubuat itu mengatakan yang sebenarnya dari sudut pandang Tuhan sesuatu yang mungkin kita sangka di satu sisi demi kemajuan, atau ini saya sedang mengasihi anak saya dengan cara yang keras, atau ini saya sedang mengasihi anak saya yang gampang terluka, namun di situ nubuat yang sebenarnya akan mengatakan bahwa kenyataannya kamu bukan melindungi anak kamu dari luka melainkan memanjakan mereka, atau kamu sebenarnya hanya membesarkan ego mereka, atau bukan kamu mendidik anak kamu dengan keras demi masa depan tetapi kamu sekadar egois saja, kamu terluka egonya lalu bereaksi, itu saja. Itulah nubuatan, mengatakan yang benar dari sudut pandang Tuhan mengenai realitas, baik realitasdi masa lampau, masa kini, maupun masa yang akan datang. Di masa yang akan datang contohnya apa? Waktu kita melihat teman yang tiap hari kayak menyia-nyiakan hidup, terus saja berbohong, membual, menjilat, lalu cari excuse, dst., lalu kita bilang, “Kamu sedang menyia-nyiakan hidupmu, tahu ‘gak?? Kamu hidup kayak begini, masa depanmu suram, nanti semua orang tidak mau percaya sama kamu”, itu sebetulnya nubuatan. Nah, yang seperti ini supernaturalistis atau naturalistis? Bukan dua-duanya.
Mereka ini jumlahnya dua belas orang. Dan, dua belas orang yang dipenuhi Roh Allah harusnya jadi potensi yang besar, bisa membesarkan Gereja, dst., namun Lukas tidak mencatat nama mereka dan juga tidak menyebut-nyebut mereka lagi dalam catatannya yang kemudian. Jadi kita tidak tahu kelanjutannya.
Selanjutnya selama tiga bulan Paulus tinggal di situ, mengunjungi signagoge, berbicara dengan berani, berdebat dengan mereka, meyakinkan tentang datangnya Kerajaan Allah. Tidak semua orang menerima, beberapa orang menerima. Mereka yang menerima, terus mengikuti pelajaran Paulus; mereka yang tidak menerima, terus saja mendebat Paulus. Di satu titik kemudian Paulus mengatakan, “Yah, saya tidak mau menghabiskan waktu saya untuk melayani orang yang toh tidak akan mau terima,” maka dia meninggalkan tempat itu dan mengajak murid-muridnya. Dalam hal ini, mungkin satu pelajaran bagi pembaca bahwa kita tidak akan bisa membuat semua orang menerima datangnya Kerajaan Allah, kita tidak pernah bisa meyakinkan semua orang tentang Injil, jadi ada masanya kita berhenti, ada masanya kita fokus kepada mereka yang menerima.
Mereka yang menerima, kemudian dimuridkan oleh Paulus selama dua tahun. Dalam dua tahun itu apakah mereka datang PA satu minggu satu kali? Tidak, lho, mereka datang setiap hari. Bayangkan! Kita pikir untuk mengerti Injil itu kayak mendengar kabar Injil dari membaca Empat Hukum Rohani yang bukunya tipis itu lalu sudah mengerti. Ya, mungkin mengerti sebagian, sedangkan untuk mengerti Injil itu perlu setidaknya seperti di bagian ini, dua tahun setiap hari. Kita di sini katekisasi cuma 16 kali, itu pun banyak nawarnya, banyak excuse, tetapi di bagian ini tiap hari selama dua tahun! Itu pemuridan yang serius.
Paulus melakukan itu, sehingga semua penduduk Asia mendengar firman Tuhan, baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Pekerjaan Paulus bukan cuma ngomong doang tetapi juga disertai dengan tanda-tanda yang lain. Tanda-tanda itu, currency mereka, adalah karena pada masa itu dalam urusan kesehatan mereka tidak ada BPJS, tidak ada jaringan rumah sakit yang bagus, ilmu kedokteran juga belum maju, sehingga sakit bisa sangat mendominasi masa depan hidup mereka dengan sesuatu yang jahat. Jadi memang kebutuhan mereka tidak jauh-jauh dari makanan, keamanan, dan sembuh dari sakit –dan itulah juga pelayanan Yesus, mereka disembuhkan dari sakit. Ini sesuatu yang pada hari ini didelegasikan lebih banyak kepada dokter-dokter –dokter-dokter yang dipenuhi oleh Roh—tetapi pada hari itu belum ada. Namun pada masa itu, di mana dokter-dokter pun masih meraba-raba dalam gelap untuk memahami dan treatment penyakit, Tuhan bekerja juga.
Dicatat oleh Lukas, Tuhan bekerja bahkan melalui saputangan atau kain yang dipakai Paulus –mungkin yang dipakai untuk lap keringat semacam handuk Good Morning hari ini– yang kemudian bisa melenyapkan penyakit dan mengeluarkan roh jahat dari mereka. Nah! Ini kita tinggal niru-niru ‘kan, Pak, jadi tolong handuknya jangan dicuci. Di Bulgaria ada kebiasaan di mimbar ada semacam gulungan yang di dalamnya ada kain yang sudah didoakan pendetanya/imamnya, kemudian kain itu bisa diberikan ke orang sakit, mungkin dikompreskan, lalu orang itu jadi sembuh. Jadi ini bukan cuma dalam komunitas Gereja Pentacostal dan Kharismatik, tetapi juga Gereja Ortodoks. Saya tidak menganjurkan Saudara mempraktikkan itu mulai dari sekarang; kenapa? Karena kita sekarang sudah ada dokter. Kita sekarang diberkati Tuhan dengan orang-orang yang Tuhan penuhi dengan Roh-Nya untuk menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang baik.
Itu alasan yang pertama, alasan yang mungkin Saudara akan tepis dengan mengatakan, “Itu sih karena Lu mainline saja, naturalistis saja, kayak Bultmann.” Di sini saya ada alasan biblical dalam ayat 13-20, yaitu Lukas sendiri mengatakan bahwa karena Paulus sedemikian sohor, bisa menyembuhkan orang hanya dengan saputangannya saja (Petrus lebih hebat lagi, bayang-bayangnya bisa menyembuhkan orang), maka dukun-dukun Yahudi lalu mencoba pakai mantra yang mereka dengar dari Paulus –mantra—kemudian hasilnya ternyata bukan mereka mengusir setan tetapi mereka yang diusir setan. Mereka dipermalukan. Lho, berarti mantranya ‘gak manjur?? Tentu saja bukan, tetapi karena Tuhan tidak berkenan untuk dipakai oleh manusia, memenuhkan keinginan manusia. Tuhan itu bukan obeng, Tuhan bukan instrumen. Jangan pakai Tuhan dengan perilaku seperti tukang pakai obeng. Kosuke Koyama, menulis satu buku, No Handle on the Cross –salib itu tidak ada gagangnya; maksudnya salib itu bukan untuk di-handle, karena Tuhan bukan untuk di-handle. Kita tidak menggunakan Tuhan. Ini menjadi peringatan untuk kita yang monkey see monkey do, coba-coba pakai bekas tisunya pendeta Reformed lalu diadu dengan tisunya pendeta Kharismatik atau Baptis atau apapun yang ortodoks, bisa menyembuhkan atau tidak. Di bagian ini Lukas sendiri langsung memberikan contoh mengenai hal ini, jadi ini bukan untuk ditiru-tiru, karena usaha untuk meniru/mereplikasi itu justru adalah usaha yang tidak berkenan pada Tuhan. Orang-orang Yahudi yang ingin memanfaatkan fenomena tersebut, seolah-olah mereka bisa handling Tuhan, mengatakan, “Aku menyumpahi kamu dalam nama Yesus yang diberitakan oleh Paulus”, mereka merasakan bahwa Tuhan tidak mau pakai cara itu.
Kejadian tersebut justru menimbulkan pertobatan dari pola-pola perilaku demikian, mereka meninggalkan sihir mereka, baik pakai mantra nama Yesus atau nama apa pun. Komitmen mereka dinyatakan dengan mereka membakar kitab-kitab sihir. Seluruh kitab-kitab itu dikumpulkan, dibakar di kota Efesus itu. Semua jumlahnya 50.000 uang perak. Jumlah ini, ada ahli yang memperkirakan kalau uang sekarang artinya sekitar 1-5 juta dolar, jadi sekitar 17 milyar! Jadi, koleksi buku satu kota, kitab-kitab sihir yang 17 milyar lebih ini dibakar pada malam itu, karena mereka meninggalkan cara-cara tadi.
Di sini mungkin kita bilang ini tidak applicable buat kita, karena kita ‘gak pakai sihir, kita ‘gak punya koleksi kitab sihir seperti sekolahnya Harry Potter. Bukan itu maksudnya; kitab sihir kita lain, kitab sihir kita adalah cara-cara kita untuk handling Tuhan, cara-cara kita untuk handling kehidupan ini, cara-cara kita untuk memastikan Tuhan ada di pihak saya. Kitab sihir kita itu mungkin terdiri atas sistematic theology kita sendiri jangan-jangan, karena inilah kebenarannya, ini cara saya memastikan Tuhan di pihak saya, dan saya bisa pakai Tuhan sedemikian Tuhan bisa pakai saya. Kita pakai mindset duniawi untuk menjalankan kehidupan bersama Yesus, seolah-olah Tuhan kita adalah Tuhan yang mau sama kita karena kita ada apanya, bukan apa adanya; dan kita mau sama Tuhan karena kita juga ada maunya dan bukan mau Tuhannya.
Kita musti meninggalkan sikap seperti itu, handling Tuhan. Dan, itulah yang terjadi di Menara Babel. Menara Babel itu zigurat, landasan pacu tempat dewa-dewa turun. Dengan membangun Menara Babel, mereka kayak orang-orang Uni Emirat Arab yang membangun kota-kotanya di padang pasir, seperti Dubai, yang out of nowhere, pasir semua pada tahun 50-an. Supaya apa? Supaya attracting capital, attracting seluruh dunia, sehingga salah satu terminal yang paling ramai bukan hanya Changi tetapi juga Dubai; dan tempat di mana manusia berlalu-lalang di situ juga duit berlalu-lalang, dan di situlah kemakmuran serta masa depan ada. Itulah kitab sihir kita. Tetapi bagi Tuhan itu cara-cara yang harus ditinggalkan; yaitu apa? Yaitu: kalau saya punya sesuatu lalu Tuhan mau sama saya, dan di sisi lain saya harus beri Tuhan sesuatu supaya Tuhan berkenan pada saya juga, lalu Tuhan harus memberikan saya lagi, dst. –siklus itu, siklus wani piro, siklus this for that, tit for tat, siklus saya lakukan ini dan kamu lakukan apa buat saya. Bukankah persekutuan dalam dunia ini adalah persekutuan seperti Menara Babel? Saya punya ini, kamu punya apa; saya lakukan ini buat kamu, kamu lakukan apa buat saya –transaksional. Kita begitu terhadap sesama, dan kita begitu terhadap Tuhan.
Tetapi jemaat Tuhan bukan persekutuan seperti itu, dan ini menjadi nyata dalam peristiwa huru-hara di Efesus. Ini contoh yang diberikan Lukas dalam catatannya mengenai Demetrius, seorang tukang yang bikin suvenir dari perak, bentuknya kuil Artemis. Kita bisa lihat bentuknya kira-kira seperti berikut ini:

Foto tersebut di Turki, tetapi aslinya di Efesus, sekarang sudah hancur. Kira-kira seperti inilah yang mereka bikin dari perak, dan mereka jual. Orang beli, lalu taruh di rumahnya, taruh sebagai gantungan tas mungkin, atau apa pun, sebagai sesuatu yang mewakili kehadiran tuhan mereka. Tuhan mereka adalah dewi Artemis, saudari perempuan dari Apolo, seperti gambar berikut ini:

Mengenai objek yang di bagian depan yang ada banyak itu, ada kontroversi. Ada yang mengatakan itu payudara yang ada banyak, melambangkan memberi makan/minum/kelimpahan kepada siapa saja yang menyembah dia (maka ada replika patung dewi Artemis, di sebuah tebing di Italia, yang buah dadanya mengeluarkan air pancuran, lalu peziarah minum dari pancuran itu), ada juga yang mengatakan itu bukan payudara Artemis melainkan ornamen bajunya yang kemungkinan besar adalah kalungan persembahan-persembahan umatnya berupa testis banteng, lambang kesuburan juga.
Demikianlah yang dirayakan di Efesus, kota penyembahan Artemis. Demetrius, orang yang capitalizing religion, mengambil untung dari agama tersebut, sekarang bisnisnya terganggu, duitnya berkurang, karena Injil masuk dan perdagangan jadi seret, berhubung suvenir kuil Artemis jadi berkurang penjualannya. Dia lalu mengumpulkan pekerja-pekerjanya dan mengatakan, “Kita tahu ya, kita jadi makmur karena usaha ini. Tetapi usaha ini sekarang seret karena Paulus. Paulus ini orang asing, antek-antek asing, bukan hanya di Efesus tetapi juga di seluruh Asia membujuk dan menyesatkan banyak orang dengan mengatakan apa yang dibuat tangan manusia –kerajinan perak kita– itu bukan ilahi. Tentu saja itu menghina dan akan mengancam bukan hanya usaha kita, tetapi juga dewi Artemis sendiri, dewi besar itu akan kehilangan artinya, akan diolok-olok orang. Artemis ‘kan disembah oleh seluruh Asia, seluruh dunia, namun dengan suksesnya kampanye Paulus, Artemis akan kehilangan arti!” Dengan perkataan itu, tukang-tukang dan para pengikut mereka berteriak-teriak, “Besarlah Artemis, dewi orang Efesus!” Padahal hari biasa juga mereka mungkin bikin kuil-kuil perak itu sambil bercanda, namun ketika hal itu terancam dan berhubungan dengan mereka punya penghasilan, mereka mendadak jadi fanatik. Ini fanatisme agama yang UUD, ujung-ujungnya duit.
Akibatnya seluruh kota jadi kacau. Mereka ramai-ramai membanjiri amfiteater, menyeret kambing hitam, siapa saja. Kelihatannya mereka tidak bisa menangkap Paulus (karena Paulus sedang dalam perjalanan), maka mereka menangkap Gayus bersama Aristarkhus, orang Makedonia, teman seperjalanan Paulus, lalu disidang di situ. Tetapi persidangannya tidak jelas apa kesalahan Gayus dan Aristarkhus yang mau dituduhkan. Mereka berteriak-teriak saja dengan fanatik, sampai akhirnya satu orang disuruh memimpin rapat, namanya Aleksander. Namun mereka mengetahui dia ternyata orang Yahudi, maka ditolak, dan mereka teriak-teriak lagi dua jam (bayangkan!), meneriakkan seruan yang cuma itu tadi diulang-ulang, “Besarlah Artemis dewi orang Efesus!” Ini sering kali merupakan perilaku orang-orang yang merasa terancam, insecure, karena dunia tempat dia menggantungkan diri itu dia tahu sudah senja kala, akan lenyap. Itu sebabnya dia berteriak-teriak dan mengulang-ulang slogan-slogan yang sama yang menumpulkan otak itu.
Lalu sekretaris kota, wong dewe itu, semacam walikotalah, menenangkan orang banyak itu. Dia mengatakan apa? Pertama, mengafirmasi apa yang mereka cemaskan jangan-jangan salah, dan menenangkan hati rakyat dengan mengkonfirmasi kebenaran yang selama ini mereka sudah pegang itu. Dan, ini kebutuhan manusia, ketika seseorang kuatir salah, kuatir selama ini dia bodoh, investasinya sudah bodong karena sunk cost fallacy sebagaimana kata Daniel Kahneman yang menulis Thinking, Slow and Fast. Daniel Kahneman mengatakan, kita ada bias kognitif namanya sunk cost fallacy, kita sudah menanamkan modal berupa apa pun dalam hidup kita, reputasi kita, dsb., di atas sesuatu yang kita anggap benar di belakang, lalu kalau hal itu ditantang jangan-jangan salah oleh data terakhir dsb., maka kita akan bela mati-matian.
Sekretaris kota yang tidak disebut namanya ini mengatakan, “Hai orang Efesus!” –ini soal identitas; yang ada di situ tidak semua orang Efesus, ada orang Makedionia juga, tetapi dia mau menenangkan mob itu—“Siapa di dunia ini yang tidak tahu kota Efesuslah yang memelihara baik kuil Artemis yang mahabesar, maupun patungnya yang turun dari langit?” Sebabnya dibilang turun dari langit, karena patung Artemis di kuil Efesus, yang merupakan satu dari tujuh keajaiban dunia kuno, memang dari langit, dari meteorit yang oleh mereka ditatah menjadi patung dewi Artemis, lalu mereka bikin kuil di sekitarnya, dan mereka bumbui cerita-cerita mitologis. Jadi hal itu diafirmasi oleh panitera kota sebagai sesuatu yang tidak perlu dibantah maka, “Tenang, Artemis kalau memang sehebat itu, tidak perlu dibela.” Ini menenangkan hati, seperti kita mendengar salah satu presiden kita yang bijak itu pernah mengatakan Tuhan tidak perlu dibela.
Lalu dia bilang, “On the other hand, kita ini terancam bahaya, karena kita teriak-teriak, bikin huru-hara satu kota. Ini pasti sooner or later sampai di kuping Roma, dan kita bisa disangka mau bikin pemberontakan, karena kasusnya tidak jelas. Mereka tidak akan percaya kasusnya Paulus menghujat dewi Artemis seperti diadukan Demetrius, karena dia tidak pernah menghujat Artemis. Merampok kuilnya? Lho, datang ke kuilnya saja tidak pernah. Ini tuduhan-tuduhan yang seperti berusaha menutupi sesuatu, dianggap mau memberontak terhadap Roma. Kita dalam bahaya. Jadi kalau kamu memang ada keluhan terhadap Paulus, dan sepertinya perdata, ya, adukan lewat channel pengadilan kita, ada sistemnya, adukan di sana, semua itu bisa diselesaikan tanpa harus seperti ini yang sangat riskan.” Akhirnya kumpulan rakyat itu bubar.
Istilah kumpulan rakyat di sini dalam bahasa Yunaninya ekklesia, yang kita bilang sebagai Gereja. Jadi istilah Gereja ini istilah generik, kumpulan orang, gerombolan, crowd. Kalau orang bilang, “Lu mau pergi ke mana?” lalu dijawab, “Mau pergi Gereja”, artinya mau pergi crowd, mau pergi kumpul-kumpul, kurang lebih seperti itu sebenarnya. Tetapi crowd itu, kumpulan itu, ekklesia itu, bisa jadi adalah seperti ekklesia yang dikumpulkan oleh Demetrius, ekklesia yang ujung-ujungnya cuma mementingkan kepentingan diri sendiri, perasaan tidak aman diri sendiri, lalu penuh dengan emosi, fanatisme, dan mencari hal yang tidak jelas, dan secara bodoh meletakkan diri dalam satu situasi yang berbahaya. Demikianlah ekklesia yang dikumpulkan oleh roh dunia ini. Tetapi ekklesia yang dikumpulkan oleh Roh Allah itu berbeda; itu sebabnya Paulus di tempat lain, menjelaskan kepada Gereja Korintus dalam Surat Korintus, bahwa Allah itu menghendaki ketertiban. Di dalam Gereja perlu ada ketertiban, karena kebalikannya adalah ekklesia yang kacau balau versi Demetrius, yang mencerminkan chaos, yang mana Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air yang chaos justru untuk menatanya.
Allah menata Ekklesia yang baru di dalam Yesus agar mereka boleh menjadi orang-orang yang memberi diri, orang-orang yang mengorbankan diri seperti Yesus, untuk memenuhi dunia ini dengan ucapan syukur. Bukan dengan ketakutan, kecemasan, keserakahan, tetapi dengan ucapan syukur, dengan cinta, dengan kebaikan, pengampunan, dan segala hal yang indah. Itulah saya kira panggilan kita sebagai Ekklesia dari Yesus Kristus, bukan seperti Demetrius. Ekklesia dari Demetrius, sebagaimana pun kacaunya, mereka akan menghancurkan dirinya sendiri. Kita melihat di kisah ini akhirnya masalah itu selesai bukan karena Paulus bertindak dengan heroik, bukan juga misalnya Gayus atau Aristarkhus mengetahui mantra apa yang harus dikatakan atau insight filosofi apa yang harus dikatakan untuk menenteramkan hati semua orang, melainkan selesai dari kalangan mereka sendiri berhubung kasus mereka memang tidak kuat, tidak ada alasan yang jelas, sehingga akhirnya masalah itu selesai begitu saja. Di sini kita bisa katakan ini tentu bukan karena mereka baik hati atau bijaksana, melainkan karena Tuhan bekerja di dalam semuanya dan melalui semuanya. Tuhan yang bekerja di dalam semuanya dan melalui semuanya itu ingin bekerja di dalam Gereja, juga di dalam Gereja Efesus, yang dipenuhi dengan Roh Kudus. Roh itu memungkinkan kita, menggerakkan kita, menguatkan kita, untuk melakukan yang Tuhan ingin kita lakukan.
Tuhan itu bukan kepingin apa-apa Dia lakukan sendiri di depan kita lalu kita tinggal jadi penonton. Tuhan bisa melakukan itu, sementara kita tiap hari cuma menonton orang-orang yang jahat jadi baik, yang baik makin baik, segala yang tidak beres di negeri ini jadi beres –kita pokoknya cuma nonton saja. Tuhan pasti bisa lakukan itu. Dan, bukankah orang-orang yang punya komitmen supernaturalisme rata-rata berpikir begitu, semakin sedikit sumbangsih manusia, semakin besar sumbangsih Tuhan?? Mereka bikin narasi seolah-olah semua usaha manusia sudah gagal, tidak ada gunanya, dan baru Tuhan bekerja. Misalnya semua dokter sudah angkat tangan tetapi koq sembuh, berarti itu tindakan Tuhan. Atau semua hal yang baik sudah kita lakukan tetapi tetap gagal, berarti Tuhan menggagalkan. Namunsaya kira bukan drama seperti itu yang kita hidupi. Kenapa? Karena pekerjaan Roh itu justru memungkinkan, menguatkan, menghasilkan, orang-orang Kristen itu jadi bisa. Seperti apa? Seperti contoh ini: kalau anak kecil belajar naik sepeda, awal-awalnya mungkin papanya pegangi sepedanya biar tidak jatuh, aman. Tetapi bayangkan kalau papanya selalu pegangi sepedanya sampai anaknya sudah gede, sudah jenggotan, ya, jumlah pesepeda di dunia ini ‘gak nambah-nambahlah. Akhirnya papanya sudah tua, mati, dan anaknya tetap tidak bisa naik sepeda karena tidak dipegangi. Tuhan tentu tidak seperti itu, tidak seperti orangtua overprotective yang apa-apa ‘sini Papa yang kerjain, sini Mama yang kerjanin, kamu tidak usah kerjain’. Tuhan tidak begitu.
Pekerjaan orangtua yang baik, seperti juga perkerjaan Tuhan di dalam Roh-Nya, itu memampukan. Jadi idenya adalah: orang-orang Kristen ini dipenuhi Roh yang sama yang memenuhi Yesus, sehingga apa yang Yesus lakukan, Gereja lakukan, sebagaimana yang Yesus katakan, “Engkau akan mengerjakan yang lebih besar dari aku. Aku kerjakan segini, tetapi karena kamu jauh lebih banyak jumlahnya daripada Aku yang cuma sendirian, kamu akan kerjakan lebih besar”. Yesus cuma kerjakan sampai Galilea, tetapi kamu sampai ke Roma, bahkan sampai Selandia Baru, Antartika, memperluas Kerajaan Allah. Itulah yang Yesus lakukan, bukan menginginkan kita nonton Tuhan bekerja, tetapi Roh yang sama yang bekerja dalam Yesus itu bekerja dalam kita sehingga kita jadi bisa bekerja.
Inilah poinnya, kita dimampukan. Sebagaimana O Noordmans katakan, di mana-mana Roh Tuhan hadir, Dia mengaktifkan manusia, Dia membuat manusia jadi terlibat, jadi energize, aktif. Jadi jangan lagi kita mengatakan kalau yang ini pekerjaan manusia, kalau yang itu pekerjaan Tuhan, kalau manusia tidak bekerja maka itulah waktunya Tuhan yang bekerja. Jangan demikian, karena ada juga skenario di mana Tuhan ingin manusia bekerja, Tuhan ingin bekerja melalui manusia. Skenario inilah yang saya kira ingin digambarkan Lukas dalam Kisah Para Rasul, yang dia bikin sebagai sekwel dari Injil Lukas. Dalam Injil Lukas, Tuhan bekerja di dalam/melalui Yesus; dalam Kisah Para Rasul Tuhan bekerja di dalam/melalui Gereja, yaitu tubuh Tuhan yang dipanggil dari berbagai bangsa, yaitu Anda dan saya.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading