Sebuah jajak pendapat dari Litbang KOMPAS menemukan adanya tingkat kesepian yang tinggi di antara orang-orang yang tinggal di propinsi/kota Yogyakarta. Mereka menempati posisi tertinggi sebagai propinsi/kota yang orang-orangnya mengaku mengalami kesepian. Peringkat keduanya diraih Jakarta Pusat; sedangkan secara propinsi, bukan DKI Jakarta melainkan Kalimantan Timur. Masyarakat modern membentuk dirinya sedemikian rupa sehingga kesepian menjadi epidemi di tengah kita. Kita memilih untuk itu, kita menganggapnya sebagai harga yang wajar untuk dibayar demi mencapai tujuan-tujuan kita; yang kita barangkali lupa pertimbangkan adalah apakah tujuan-tujuan itu cukup berharga untuk dibayarkan dengan harga setinggi itu. Ribuan tahun sebelum jajak pendapat tahun 2025 ini, Pengkhotbah telah melihat hal yang sama melalui pengamatannya, bahwa di dalam masyarakat ada yang namanya kesepian, loneliness, lawan dari fellowship.
Loneliness berbeda dari solitude. Loneliness adalah the pain of being alone, sementara solitude adalah the glory of being alone. Orang-orang yang lonely, mereka tidak memilih untuk being alone; orang-orang yang menjalani solitude, memilih untuk being alone. Orang-orang di dalam loneliness mengalami kelemahan dalam relasi-relasi sosial mereka. Mereka mengalami tidak dilihat, tidak dimengerti. Mereka adalah orang-orang yang cuma mampir dalam kehidupan ini, numpang lahir, lalu menua dan mati tanpa ada yang peduli. Sedangkan mereka yang menyepi, merayakan solitude, mereka memiliki relasi-relasi yang kuat. Mereka memiliki kehidupan yang kaya, yang melimpah, bukan dengan harta, melainkan dengan social capital. Mereka bisa mempercayai, dan mereka dipercayai. Mereka melihat, dan mereka dilihat. Mereka mendengar, dan mereka didengarkan. Mereka adalah orang-orang yang hidupnya ada dalam hidup orang lain, dan membuka ruang hatinya untuk orang-orang lain juga. Mereka adalah somebody, untuk somebody else. Mereka adalah orang-orang yang ketika lahir dirayakan, ketika mati ditangisi. Sedangkan orang-orang yang lonely, ketika lahir mungkin dikutuki, koq ada anak ke-11, koq ada anak ke 13, unwanted children; dan ketika mati, diam-diam disyukuri, mampus juga akhirnya orang itu.
Orang-orang lonely adalah orang-orang yang tidak tentu sendirian. Tidak tentu ini orang-orang yang tidak dikenal; kadang-kadang orang-orang lonely adalah orang yang terkenal. Tidak tentu mereka adalah orang-orang yang tersingkir, kadang-kadang mereka ada di tengah-tengah dalam kehidupan, mereka ada di puncak karier mereka –sebagaimana nanti kita lihat dalam analisis Pengkhotbah (Kohelet).
Kohelet mengatakan kesepian punya empat penyebab (ayat 1-17). Penyebab pertama (ayat 1-3) adalah realitas penindasan, adanya opresi, represi, penyalahgunaan kekuasaan. Dia mengatakan: Aku melihat lagi segala penindasan yang dilakukan di bawah matahari. Lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka. Di pihak para penindas ada kekuasaan, tetapi tak ada yang menghibur mereka.
Kita mengetahui orang-orang yang mengenakan rompi oranye, atau sekarang rompi pink, mendapati bahwa teman-teman mereka menjadi sedikit. Atau mungkin teman-teman mereka tidak pernah ada, selama ini ada teman-teman yang banyak, namun itu bukan sungguh-sungguh teman, mereka hanya penggembira. Teman-temanmu yang sebetulnya, mengunjungi kamu ketika kamu tidak ada gunanya, ketika kamu bahkan membahayakan posisi teman-temanmu kalau ketahuan berteman dengan mereka. Itulah teman yang sesungguhnya. Dan kita tahu, dalam hidup ini teman yang sesungguhnya tidaklah terlalu banyak. Teman yang sesungguhnya adalah teman yang mengunjungi dan ada bersama dengan kamu ketika kamu tidak ada gunanya, bahkan menjadi ongkos dalam kehidupan mereka.
Kita tahu dalam sejarah kita di Indonesia, ada beberapa momen yang bisa menandai hal seperti itu. Misalnya tahun 60-an, ketika terjadi konflik sipil di Indonesia. Ketika itu ada tiga ideologi/aliran yang jadi tiang masyarakat Indonesia, yaitu ideologi Nasionalis, ideologi Agama, dan ideologi Sosialisme/Komunisme; dan ketika terjadi konflik pada tahun 60-an itu, salah satu sentrumnya melibatkan kubu Sosialis. Mereka kemudian disingkirkan, dan banyak yang dibunuh. Dan, segera kita lalu melihat orang-orang sosialis di Indonesia mengalami marginalisasi. Mereka mengalami siapa yang sungguh-sungguh kawan, dan siapa yang sebetulnya hanya penggembira saja. Ketika mereka ada di balik jeruji, ketika rumah mereka dibakar, ketika mereka atau anak-anak mereka tidak bisa bersekolah karena orangtuanya terlibat masalah politik, mereka tahu siapa yang sungguh-sungguh kawan –dan biasanya itu tidak banyak, karena orang-orang di sekeliling mereka segera menyingkir karena takut.
Demikian juga kita lihat dalam momen-momen lain dalam sejarah Indonesia, baik secara makro maupun secara mikro. Secara mikro, kalau orang tersangkut masalah hukum, misalnya korupsi, langsung kita bisa melihat hal itu. Dulu ketika mereka berjaya, temannya banyak, banyak yang mau minta waktu untuk bertemu, tetapi ketika mereka sudah mengenakan rompi oranye itu, atau rompi pink itu, mereka kemudian mendapati “teman-teman” mereka menghilang.
Realitas penindasan bisa menerbitkan kesepian, bisa mengisolir orang, karena human nature kita tidak suka dilibatkan dalam masalah. Kita tidak suka dirugikan –dan kita bisa mencium kerugian dari jarak 10.000 km. Realitas penindasan adalah realitas dalam hidup kita. Orang-orang yang tertindas mendapati mereka tak punya teman, sementara orang-orang yang menindas memiliki kekuasaan, sebab kekuasaan bisa mengekalkan dirinya sendiri. Orang-orang yang berkuasa bisa membuat narasi yang membuat dirinya tidak bersalah, bahkan mulia, bahkan berjasa, bagi masyarakat, bagi negara, bagi organisasi, bagi gereja, bagi kebaikan, dst. Realitas penindasan membuat orang-orang yang ditindas kesepian dan terisolir. Pengkhotbah begitu putus asa akan hal ini, sampai dia mengatakan seperti Ayub, di ayat 2-3: yang lebih baik daripada keduanya, orang yang mati atau orang yang sudah lebih lama lagi mati, adalah orang yang tidak pernah lahir. Yang paling baik adalah orang yang tak pernah lahir, demikian begitu gelap pandangan Pengkhotbah.
Pengkhotbah ini kemungkinan orang Israel yang tinggal di pembuangan, atau tinggal dalam masyarakat Israel setelah pembuangan. Ada banyak indikasi akan hal ini, di antaranya istilah masa atau zeman (yang kita bisa terjemahkan jadi masa dan zaman), yang tidak pernah muncul dalam Perjanjian Lama yang ditulis sebelum masa pembuangan, ini istilah yang merupakan serapan dari kebudayaan lain. Jadi kitab Pengkhotbah merupakan kitab yang ditulis pada era setelah mereka dibuang; dan mereka hidup dalam lingkungan di mana mereka sudah lama meninggalkan impian teokrasi, impian bahwa kalau kita adalah Israel, umat pilihan Tuhan, kita pasti bisa mewujudkan visi hidup kita di dunia ini, dst. Mereka sudah lama meninggalkan itu, karena mereka mendapati bahwa project Kerajaan Allah, project umat Tuhan ini, adalah project yang sulit diwujudkan. Yang menghalang-halangi, pertama-tama adalah umat Tuhan itu sendiri, ketidaktaatan Israel itu sendiri. Mereka sudah lama menyadari hal itu. Orang atau sekelompok orang yang menulis kitab ini adalah mereka yang sudah lama tinggal di pembuangan, sudah lama melihat bahwa kerajaan Israel yang dipimpin oleh puluhan raja-raja pada akhirnya sama saja dengan kerajaan-kerajaan lain, pada akhirnya menyimpulkan sebagaimana pepatah Inggris “power corrupts, and absolute power corrupts absolutely”, kekuasaan yang absolut secara absolut akan menghancurkan. Mereka melihat hal itu dari riwayat hidup raja-raja mereka, riwayat hidup era-era atau dinasti raja-raja mereka. Mereka menyadari bahwa menjadi Israel tidak membuat mereka jadi lebih baik, bahwa tidak mentang-mentang mereka masih punya darahnya Abraham maka kalau mereka punya kekuasaan, mereka akan melayankannya dengan lebih baik. Sebagai hasilnya, mereka dibuang oleh Tuhan, diserakkan di antara bangsa-bangsa.
Orang-orang seperti Pengkhotbah ini sudah kenyang asam garam kehidupan, saya kira, sehingga dia bisa mengatakan bahwa selama di pihak para penindas ada kekuasaan, di pihak orang yang ditindas tidak ada penghiburan, yang ada malah orang-orang di sekeliling mereka meninggalkan mereka. Sudah jatuh, tertimpa tangga. Jatuhnya karena tanahnya diingini oleh penguasa, lalu ditawar dengan harga murah, dan ketika dia menolak untuk direlokasi, penguasa mengirimkan preman, teroris, untuk mengusir dia dari tanah itu, seperti yang dialami Nabot yang kebun anggurnya disabot oleh Ahab karena dia menolak menjualnya, dan ia kemudian dibunuh atas nama agama, atas nama tuduhan yang salah, atas nama kekuasaan.
Jadi, selama di pihak penindas ada kekuasaan, pihak yang tertindas tidak ada penghiburan; dan orang-orang yang tertindas mengalami lonelines, keterpisahan dari lingkungannya, karena banyak orang tentunya tidak mau berseberangan dengan penguasa. Ini adalah sesuatu yang wajar, saya kira. Bukan hanya pada zaman Pengkhotbah terjadi, pada zaman sekarang pun terjadi. Ini pengamatan yang saya kira cukup universal. Demikian hal yang pertama.
Hal yang kedua, kesepian/loneliness, pain of being alone, terjadi karena kompetisi. Ayat 4-5: Aku melihat bahwa segala jerih payah dan segala keterampilan dalam pekerjaan berasal dari rasa iri seseorang terhadap yang lain. Ini pun kesia-siaan dan usaha menjaring angin. Orang yang bodoh berpangku tangan dan memakan dagingnya sendiri.
Pengkhotbah tentu melihat dalam konteks Babilonia –yang penuh pencapaian, yang mulia, yang beneran negara, negara superpower, sementara Israel/Yehuda hanya negara main-mainlah, amatiran, kecil, tidak terlalu penting dalam geopolitik –di Babilonia itu lebih banyak orang-orang yang pintar, lebih banyak orang-orang yang kaya, powerful, juga istana yang lebih besar, proyek-proyek mercusuar yang lebih besar daripada yang pernah diceritakan nenek moyang mereka, dan itu semua terjadi karena kerajinan bekerja, karena jerih payah, karena keterampilan. Namun Pengkhotbah melihat sisi gelapnya, bahwa jerih payah, keterampilan, itu rupanya didiorong oleh iri hati. Mengapa datang lebih pagi dari semua orang yang datang ke kantor, misalnya lebih pagi dari jam 8, atau lebih pagi dari jam 7, atau lebih pagi dari jam 6, dan pulang lebih malam daripada semua orang yang lain? Mengapa sebegitu berjerih payah? Mengapa sebegitu terampil? Ada orang-orang tertentu mendedikasikan diri untuk keterampilan –tentu ada bakat juga– sampai mencapai tingkat profesionalitas yang begitu tinggi; mengapa? Dalam banyak hal Pengkhotbah betul juga, yaitu karena didiorong oleh iri hati.
Kalau kamu meng-adu seorang dengan orang yang lain, selalu seperti yang kita suka lihat di film-film silat, bahwa di atas langit selalu ada langit. Jagoan pedang nomor 1 di Propinsi Xiangdong selalu akan menemukan jagoan pedang yang lebih hebat lagi di propinsi lain, dst. –di atas langit selalu ada langit. Jadi kalu kamu mau meng-adu orang, selalu bisa. Tahu tidak bagaimana caranya menjegal orang supaya merasa insecure? Tidak perlu bandingkan orang itu dengan dirimu sendiri, tinggal bandingkan saja orang itu dengan orang lain –dan trik itu selalu bisa. Misalnya orang membangga-banggakan diri, “Perusahan gue boleh juga lho, paling cepat pertumbuhannya se-Kelapa Gading”, itu selalu bisa kita bandingkan dengan orang yang lain. “Yah, kayak begitu doang bangga; gue kenal satu orang di negara A, baru umur 6 tahun sudah punya 10 perusahaan, masuk Forbes 500”, dsb. Selalu kita bisa membandingkan orang yang satu dengan orang yang lain, dan kita menemukan titik lemah orang tersebut –tinggal dibanding-bandingkan.
Manusia memang rentan untuk terpancing, rentan untuk bisa disetir, dengan cara digocoh titik lemahnya itu, insecurity-nya itu, karena manusia makhluk sosial. Ini sesuatu yang kita sering kali justify dengan: ‘kan ini bikin orang itu kerja keras; dan lewat kerja keras ‘kan yang baik bisa muncul. Kalau orang dibikin insecure, dibanding-bandingkan terus, misalnya bilang, “Apa ini, Matematika dapat 9 doang; Papamu ini dulu tidak pernah di bawah 9,8”, dsb., itu akan bikin anakmu belajar lebih keras, akan bikin anak buahmu kerja lebih keras. Tetapi, apa ongkosnya? Apa yang didapatkan dari sana? Pengkhotbah mengakui, yang di dapatkan dari sana ya, kerja keras, daya kompetisi, keterampilan. Tetapi apa ongkosnya? Ongkosnya adalah ini: loneliness, kesepian. Kompetisi mengisolir.
Saya masih ingat waktu dulu kuliah di Teologi, ada satu observasi yang kita lihat dalam perilaku anak-anak Teologi. Sekolah Teologi saya itu adalah sekolah teologi kedua yang didirikan oleh pendiri yang sama, sementara sekolah teologi yang pertama sudah berdiri lebih dulu mungkin 10 tahunan, sudah establish. Lalu sebagai sister organization, kami saling berkunjung, misalnya minggu ini ada kuliah di venue yang satu, dan mahasiswa dari venue yang lain join, lalu minggu depannya dengan kelas yang sama dan dosen yang sama, giliran kami yang pindah ke venue lainnya itu. Demikian setiap minggu saling bertukar. Kami lalu mulai saling mengamati, saling membanding-bandingkan. Dan kami mengamati satu hal, bahwa anak Teologi di kampus saingan itu punya perilaku begini: misalnya mereka sedang mengetik sesuatu di komputer, lalu waktu temannya datang, buru-buru ditutup, disembunyikan. Salah seorang dari kami lalu menebak-nebak –entah benar atau tidak–begini: kayaknya mereka itu saling kompetisi, mereka tidak mau temannya tahu mereka sedang menulis apa, takut dicuri idenya, takut kalah, karena mereka saing-saingan. Waktu itu kami lalu membangga-banggakan diri begini: “Kalau kita sih, persetanlah dengan paper kita dapat nilai apa, wong nilainya ‘gak pernah keluar” (waktu itu kampusnya masih salah urus, nilai tidak pernah keluar, orang yang tidak ambil mata kuliah bisa keluar nilainya, dsb.). Jadi kami happy-happy sana bikin paper, just bikin saja, buat seru-seruan saja, ‘kan studi juga asyik, baca buku juga asyik, dst. Kami membanggakan diri seperti itu.
Saya kira ini observasi yang tidak terlalu meleset juga. Ketika orang diberikan insentif dan punishment, reward dan punishment, dan kemudian dibanding-bandingkan, orang itu mulai merasa insecure, dan mulai mengalami bergeser alasan untuk belajarnya dari alasan yang benar, dari ‘saya mau lebih paham’ menjadi ‘saya mau mendapat insentifnya’. Dalam hal ini, insentifnya mulai dari nilai yang lebih tinggi, sampai mungkin capital, seperti dapat beasiswa, dapat pujian, dapat bonus, dst. Inilah yang Michael Sandel, penulis What Money Can’t Buy, katakan: dalam masyarakat pasar (market society) ada sesuatu yang mungkin terjadi, yaitu bahwa uang –yang dengan sangat baik bisa menjadi sistem reward and punishment, yang mendistribusikan kerja dan hasil-hasil kerja dengan efisien dan baik sekali– kalau kita biarkan segala sesuatu dijual di pasar, kalau kita membuat masyarakat kita menjadi masyarakat pasar di mana segala sesuatu ada nilai uangnya, yang terjadi adalah nilai uang itu menggantikan nilai intrinsik, nilai uang itu jadi mendominasi segala sesuatu, orang jadi bergeser.
Saya kira, inilah yang terjadi dalam kawan-kawan yang tadinya belajar demi belajar, the joy of learning untuk bisa lebih paham dan mengerti arti hidup ini, menjadi belajar demi nilai lebih tinggi, belajar demi mendapat kesempatan belajar di luar negeri mungkin, atau belajar demi mendapat pujian bos, atau setidaknya belajar demi tidak dihina temannya, atau belajar demi sesuatu yang lain. Dan, Pengkhotbah bukan mengatakan itu tidak efektif; itu efektif lho, membuat orang lebih belajar, membuat orang lebih bekerja, membuat orang lebih terampil –betul juga– tetapi ada harganya. Harganya apa? Harganya adalah isolasi. Harganya adalah koperasi. Harganya adalah kita dengan bodohnya menukar manusia dengan yang lebih rendah dari manusia, dalam hal ini pengakuan, uang, nilai, sesuatu yang hari ini kita capai dan 10 tahun lagi kita lupa.
Bagi anak-anak sekolah, mungkin nilai bukan yang paling tinggi. Kalau orang-orang yang sudah kerja, mungkin duit yang paling tinggi, atau status, atau pengakuan –khususnya pengakuan dari lawan. Kalau orang-orang gereja mungkin mainannya ranking jadi penatua, jadi pendeta, jadi diaken, atau jemaatnya berapa, persembahannya berapa, statusnya di komunitas bagaimana. Itu mainannya, matriksnya. Dan, matriks itu bisa menggeser fokus kita, bisa menggeser perhatian kita. Bukan tidak bisa membuat kita lebih bekerja keras –itu bisa. Bukan tidak bisa membuat kita lebih terampil –itu bisa. Dan, kerja keras serta keterampilan bukan tidak ada baiknya –itu ada baiknya. Tetapi, seperti Michael Sandel katakan, itu semua bisa menggeser kita juga. Dari apa? Dari tujuan yang semula, tujuan yang sebenarnya dari aktifitas kita itu. Itu sebabnya yang perlu kita lakukan di sini, adalah kita perlu merenungkan lagi, sebuah aktifitas itu tujuan utamanya apa. Qualifying aspect atau qualifying function dari suatu aktifitas, dari suatu institusi, itu apa sebetulnya, apakah untuk menambah jumlah uangnya, menambah jumlah likes, meningkatkan angka di rapor, pengakuan dari dosen, pengakuan dari bos, pengakuan dari jemaat/penatua, dsb., atau apa?? Apa nilainya? Dan saya kira, kalau kita bertanya pertanyaan ini, kita akan setuju bahwa kompetisi di satu sisi memang bisa meningkatkan usaha, lewat iri hati, lewat insekuritas, tetapi ada ongkosnya; dan ongkosnya adalah loneliness, karena kita tidak bisa memercayai orang lain.
Seperti teori kawan saya tadi –yang mudah-mudahan salah, tapi mungkin juga benar –bahwa sister school kami tadi, banyak mahasiswanya saling bersaingan, mereka tidak mau kalah saingan, dan dengan demikian mereka juga tidak mau membantu kawannya, atau tidak mau terlihat bodoh, atau tidak mau menjadi manfaat lewat memberikan insight kepada kawannya. Dengan kata lain, mereka sulit untuk berbagi the joy of discovery, the joy of learning together. Dan, saya kira ini terjadi dalam berbagai level –level universitas, level STT, level SD, level SMP, level SMA, level pertemanan, dst. –ketika orang itu mengawali kariernya sebagai new bie, yang memang bego, tidak tahu apa-apa, tapi fascinated dengan bidang yang mereka pelajari, entah itu fotografi, puisi, sastra, sains, matematika, teologi, keuangan, dst. Mereka mengawali perjalanan karier mereka dengan ketakjuban, dengan joy, namun dalam perjalanannya, dengan segera persaingan merampok sukacita itu. Persaingan membuat itu jadi tidak prioritas lagi. Pertanyaan riset yang sungguh-sungguh, dear to your heart, tidak lagi prioritas; prioritasnya jadi yang mana yang lebih cepat bikin kamu dapat publikasi yang bergengsi, prestige. Contoh saya ini dari tadi dunia akademis –mungkin dunia saya agak sempit– tapi kurang lebih begitulah yang saya jumpai.
Kalau risetnya itu diterbitkan di penerbitan yang pretisious, diberi kesempatan memberikan Gifford Lecture, lecture yang dulu Lord Gifford pernah memberi podium kepada Arthur Eddington, astronom Inggris itu, juga Alfred North Whitehead, betapa lecture yang sangat bergengsi itu! Lho, lho, sebentar, gengsi memang bagus sih, tapi kalau kemudian pikiran untuk bisa menjadi bergengsi begitu dominan, maka itu bisa menyingkirkan sukacita sesimpel gue belajar untuk ingin tahu, gue riset ini ingin tahu, gue riset ini karena ‘gak ada jawabannya, gue kepingin tahu saja, that’s it; dalam seumur hidup gue yang pendek ini di bawah matahari, yang tidak tahu kapan berakhir, gue just kepingin tahu, kepingin paham, that’s it. Tetapi itu dengan segera didominasi –karena cuma kepingin tahu itu ‘kan ‘gak prioritas banget– oleh hal-hal yang diperlukan, hal-hal yang mau ‘gak mau, yaitu kemenangan atas grup penelitian kompetitor, pendanaan, peringkat universitasnya. Peringkat universitas Lu berapa? 13.255. Haiyaa… . Di Asia berapa? Di Asia masih 1821. Haiyaa… . Tujuan kita tahun depan musti naik, naik, dan naik. Lalu ke mana? Ya, tidak ke mana-mana.
Sesuatu yang saya kira perlu dengarkan, insight dari Michael Sandel, bahwa barangkali ada suatu nilai yang crowding out nilai yang lain, padahal nilai yang lain itu adalah nilai intrinsiknya –kamu jadi mahasiswa untuk itu, kamu jadi dosen untuk itu, kamu jadi ibu rumah tangga untuk itu, kamu jadi seorang yang bergerak di bidang finance untuk itu, kamu jadi seorang polisi untuk itu, kamu jadi seorang tentara untuk itu, kamu jadi seorang hakim untuk itu, kamu jadi seorang insinyur yang bangun jembatan untuk itu, kamu jadi seorang arsitek untuk itu. Dan itu semua agak kecil hubungannya dengan tepuk tangan, agak kecil hubungannya dengan peringkat, agak kecil hubungannya dengan prestige, tetapi sebetulnya adalah segala-galanya, sebetulnya sangat besar hubungannya dengan ilmu yang kamu pelajari, pelayanan kamu, perjumpaan manusia dengan manusia, dan segala sesuatu. Jadi, memang benar persaingan bisa bikin kita kerja lebih keras, persaingan bisa bikin kita lebih terampil, tetapi ongkosnya saya kira sangat mahal, sehingga saya kira kita perlu melakukan de-romantisasi dari persaingan/kompetisi. Bisa baik, tetapi kita perlu berhitung ongkosnya –setidaknya Pengkhotbah mengatakan itu.
Jerih payah dan keterampilan yang berasal dari rasa iri seseorang terhdap yang lain adalah suatu havel. Havel tidak tentu artinya kehampaan makna; tentu havel di sini tidak diartikan secara eksistensialis, bukan nihilisme yang disimpulkan Pengkhotbah. Havel di sini maksudnya lawan dari kemuliaan, atau kavod dalam bahasa Ibrani, mirip dengan bobot dalam bahasa Indonesia, atau abot dalam bahasa Jawa. Kavod artinya weightiness, atau substance, substansi, kepadatan, dalam arti ini sesuatu yang long lasting, sesuatu yang tidak berlalu begitu saja, lawan kata dari fana. Kavod adalah tidak fana. Seperti apa? Seperti Tuhan, seperti menjadi manusia. Namun dalam dunia berdosa, kita sudah membuat kehidupan ini menjadi havel, tidak kavod, sebagaimana Paulus katakan, kita ini kekurangan kemuliaan Allah, kekurangan kavod, artinya hidup kita diwarnai dengan havel. Dalam hal ini, kompetisi mengisolir kita, kompetisi membuat solitude kita merosot menjadi loneliness, painful loneliness, karena meng-adu orang yang satu dengan yang lain. Betapa bodohnya kalau ini kita pakai menjadi jalan menuju excelence.
Yang ketiga, yang mengisolir kita adalah jerih payah itu sendiri (ayat 7-8). Ayat 8: Ada seorang hidup sendiri, tidak mempunyai anak laki-laki atau saudara laki-laki. Tiada hentinya ia berjerih payah dan matanya pun tidak puas dengan kekayaan. Jerih payah yang didorong/dipikat oleh ingin kaya.
Sebuah penelitian yang dilakukan 10 tahun belakangan ini di Amerika, mengatakan begini: kalau Anda bertanya kepada mahasiswa di Amerika tahun 1950-an, “Kamu kuliah buat apa, apa tujuanmu kuliah?” maka 90% jawaban mereka adalah: “Saya mau mengerti hidup ini, saya mau punya filosofi hidup yang membuat saya bisa melihat hidup ini ada maknanya”; sedangkan sekarang (tahun 2018, waktu survey tersebut dilakukan), orang yang menjawab seperti itu cuma tersisa 14% (kalau saya tidak salah ingat), dan kebanyakan orang menjawabnya ‘saya ingin kaya’, atau ‘saya ingin hidup saya happy seperti kawan saya, terpandang, punya status’, atau ‘saya ingin sukses’ –semacam itu, kurang idealis jawabannya, lebih dangkal, atau di sisi lain orang bilang lebih membumi. Namun yang pasti, ada ongkos yang kita bayar untuk itu. Apa ongkosnya? Sekali lagi, isolasi, karena kerja, kerja, dan kerja menghasilkan kehidupan seekor sapi. Siapa sih yang hidupnya kerja, kerja, dan kerja? Ya, sapi-lah; lalu setelah kerja, kerja, dan kerja, akhirnya dipotong, jadi dendeng, sudah begitu yang makan pun nyumpah-nyumpah, “Dendengnya alot banget”, ya, karena sapinya kerja, kerja, dan kerja, maka berotot. Coba saja kalau sapinya dipijat-pijat sambil dengar musik jazz, jadi sapi Okinawa, atau Kobe, semacam itu, yang lebih empuk. Jadi kerja, kerja, dan kerja hanya demi being excellence, excellence, dan excellence, ada ongkosnya. Ongkosnya adalah dirimu sendiri, ongkosnya adalah hidupmu.
Tetapi apa alternatifnya? “Kita harus hidup jangan kayak sapi, Pak, harus kayak babi. Babi itu melipat tangan dan memakan dagingnya sendiri” –tidak juga, babi tidak makan dagingnya sendiri tapi dimakan orang. Poin saya, hidup yang kerja, kerja, dan kerja, atau hidup yang malas-malasan, dan malas-malasan, dan malas-malasan? Pengkhotbah mengatakan bukan dua-duanya. Dua-duanya itu bukan hidup yang berhikmat. Jadi hidup yang berhikmat itu hidup yang seperti apa?
Hidup yang berhikmat adalah seperti Pengkhotbah katakan di ayat 9: Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Menarik, ya. Dia tidak membenturkan upah, yang mewakili kehidupan yang berbuah, kehidupan yang punya kemuliaan, kehidupan yang punya poin. Istilah ‘upah’ di sini artinya hidupmu ada poinnya. Kalau hidupmu kerja, kerja, dan kerja, lalu seperti yang dikatakan dalam ungkapan Pengkhotbah di sini, “Aku tidak tahu harus mewariskan kepada siapa”, just kerja, kerja, dan kerja, lalu akhirnya no point, itu tidak bagus; tetapi tidak kerja, tidak kerja, dan tidak kerja lalu pada akhirnya memakan dagingnya sendiri, dalam arti hidupnya tidak berkembang, itu juga tidak bagus. Jalan tengahnya adalah: tidak exclude kerja, tidak exclude jerih payah, tetapi juga tidak exclude persekutuan —include dua-duanya. Dia mengatakan: berdua, sebagai lawan dari hidup seorang diri, tidak punya anak laki-laki, tidak punya saudara perempuan.
Mungkin ini seperti desainer Italia yang baru saja meninggal, hartanya sekian ratus triliun, tapi dia tidak berkeluarga; dan akhirnya orang bertanya-tanya juga, what’s the point?? Mungkin juga poin dia adalah berkarya, memang dia hidup untuk itu. Bagus juga, sih. Tetapi poinnya di sini, yang Pengkhotbah katakan adalah bahwa banyak orang mengorbankan persaudaraan, mengorbankan keluarga, mengorbankan persekutuan, mengorbankan kemanusiaan, demi matriks, demi angka. Terlalu sibuk untuk berteman, terlalu sibuk untuk mengobrol heart to heart, terlalu sibuk untuk orang lain siapapun itu, karena mau being excellent –dan being excellent ‘kan bisa memuliakan Tuhan. Dan kita punya kebiasaan tidak bertanya orang itu karyanya apa, yang penting karyanya bergengsi, dipuji orang, sepertinya hebat, dan juga sulit, tidak banyak orang bisa mencapai itu –dan dia orang Kristen– lalu kita bilang ‘memuliakan Tuhan’. Harusnya kita jangan cepat-cepat bilang begtiu, tunggu dulu, mengerti atau tidak dia itu menghasilkan apa dan apa dampaknya dalam dunia ini. Jadi, bukan cuma pengakuan, lalu langsung kita katakan itu sesuatu yang memuiliakan Tuhan. Intinya, dalam suasana hyper-competitive seperti itu, pada akhirnya orang berpikir pendek, pokoknya gue tidak kalah, pokoknya gue ada sesuatu yang bisa dibanggakan; dan hal-hal yang lebih sulit, yaitu saling mengenal, sering kali akhirnya kita tinggalkan, karena memang lebih gampang berprestasi di tempat kerja.
Tetapi Pengkhotbah mengatakan tidak perlu meninggalkan keduanya, kita bisa integrate keduanya. “Berdua lebih baik daripada seorang dirikarena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka” Tidak exclude jerih payah. Pengkhotbah mengatakan ini berkali-kali. Misalnya dalam pasal 2:18, dia mengatakan: “Aku membenci segala usaha yang kulakukan dengan jerih payah di bawah matahari, sebab aku harus meninggalkannya kepada orang yang datang sesudah aku”, tetapi setelah dia ranting segala negatif-negatif itu, dia lalu mengatakan sebagai kesimpulannya di ayat 24: “Tak ada yang lebih baik bagi manusia daripada makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya.” Di sini kita sering kali memotong bagian terakhirnya, kita bilang, “Pengkhotbah itu jenis manusia yang mau manusia just makan, minum, dan bersenang-senang”, padahal tidak demikian, dia mengatakan ‘makan dan minum dan bersenang-senang dalam jerih payahnya’. Dan Pengkhotbah adalah orang yang mengatakan kesanangan itu berasal dari Tuhan; dan jerih payah tidak harus dibenturkan dengan kesenangan, tidak harus dibenturkan dengan istirahat, dalam hal ini tidak harus dibenturkan dengan kehidupan sosial kita yang mendalam, pertemanan yang merupakan obat bagi kesepian dan segala macam perasaan tidak dilihat, tidak didengar, enmity, perasaan malu, dst. Persahabatan adalah sesuatu yang tidak berbenturan dengan jerih payah, hanya kita perlu meninggalkan mitos yang bodoh itu, bahwa kompetisi adalah satu-satunya cara untuk being excellence. Itu mitos bodoh yang ongkosnya kelewat mahal. Jadi, kerja, kerja, dan kerja, tidak harus berbenturan dengan kehidupan sosial; kehidupan sosial tidak harus mengurangi jerih lelah, karena kita bisa mendapatkan poin dari jerih lelah kita justru di dalam persekutuan dengan orang lain. Tetapi syaratnya satu: kita harus meninggalkan idolatry atau penyembahan berhala kesuksesan. Sukses itu baik, tapi penyembahan berhala kesuksesan minta ongkos; ongkosnya adalah hidup Anda dan saya, persahabatan Anda dan saya. Ongkosnya adalah kita semua jadi kompetitor; dan itu tidak worthed.
Yang keempat, kekuasaan (ayat 13-17). Ini balik ke tema penindasan, mengenai kekuasaan. Pengkhotbah menganalisa lebih lanjut mengenai kekuasaan, dia mengatakan: ada seorang muda yang miskin –atau seorang muda yang tertindas, tidak berkuasa– tetapi berhikmat, dan ada seorang raja yang tua tetapi bodoh, tidak mau diperingatkan. Secara implisit dia lalu implying bahwa orang muda tersebut dipenjarakan oleh si raja tua yang bodoh, ditindas. Lalu lanjutnya: “Tetapi, ketika orang muda itu keluar dari penjara … “; ini cukup wajar, sebagai tahanan politik sering kali penjara merupakan sekolah untuk jadi pemimpin, seperti misalnya Soekarno pernah dipenjara, Xanana Gusmao pernah dipenjara, Jose Mujica pernah dipenjara, Adolf Hitler pernah dipenjara juga, Nelson Mandela pernah dipenjara, dst. Rezim yang satu menindas dan memenjarakan rezim yang lain, tetapi ketika rezim itu tumbang, maka yang di dalam penjara sekarang keluar dan berkuasa. Namun kemudian Pengkhotbah mengatakan, yang kedua ini jadi lebih besar dari yang pertama, dan –dia katakan secara berlebih-lebihan– semua orang yang hidup di bawah matahari berjalan bersama orang muda itu, yang akan jadi pengganti raja itu. Tetapi, walaupun tiada habis-habisnya rakyat yang dipimpinya, orang yang datang kemudian, tidak menyukai dia. Inilah dialektika via negativa dari Hegel dalam sejarah; “Sejarah adalah dialektika negasi”, kata Hegel, yang datang kemudian, menegasi yang sebelumnya. Pengkhotbah lalu menyimpulkan dengan kalimat mantranya: Ini pun havel, ini pun sesuatu yang berlalu, ini pun anti dari kavod, anti dari kemuliaan yang ada poinnya, yang sungguh-sungguh substansial, tidak kopong.
Kesepian dihasilkan dari kekuasaan. Orang yang berkuasa, orang yang jadi raja, orang yang setelah keluar dari penjara lalu menjadi raja, orang yang jadi raja sebagai ganti dari orang kedua ini, kursinya itu mengisolir dia. Saya kira ini pengamatan yang realistis kalau kita lihat dalam ungkapan kaisar-kaisar Cina, yang mengatakan, “Saya ini adalah anak yatim paling kesepian dalam dunia ini.” Kenapa? Karena kursi dia mengisolir dirinya. Banyak orang mau audisi dengan Kaisar, dan pasti ada maunya, bahwa case-nya akan jadi favor di mata Kaisar; dan Kaisar ‘kan berkuasa, maka Lu bisa sukses atau masuk penjara dan kalah, itu tergantung kedekatan Lu dengan Kaisar. Kira-kira begitu, banyak orang mencari Kaisar untuk menjilat Kaisar. Kaisar Cina menyadari hal ini, sehingga dia mengatakan, “Saya ini anak yatim yang paling kesepian di dalma dunia”, karena semua orang ya, hanya pura-puralah, ada maunya, termasuk mungkin Permaisuri, barangkali Ibu Suri juga, semua ada maunya; itulah politik. Sikap seperti ini, saya kira mengindikasikan bahwa memang kekuasaan bisa mngisolir orang –tidak harus, tapi bisa– khususnya kalau kekuasaan itu kekuasaan brutal, kekuasaan yang berkuasa atas dasar dominasi, peminggiran, mengalahkan, kekuasaan yang sifatnya predatoris. Mereka yang menang dengan pedang, akan mati oleh pedang. Kaisar Cina tahu hal itu, Pengkhotbah juga tahu hal itu.
Apa solusi dia? Solusi Pengkhotbah dengan mengingatkan (ayat 17), bahwa ada Raja di atas raja, ada Kaisar di atas kaisar, yaitu Allah. Dan, ketika kita berjalan mendekat ke Rumah Allah, sebaiknya kita ingat, diri kita ini siapa. Dalam pasal selanjutnya dia membahas lebih panjang lagi, bahwa Allah itu di surga, dan kita di bumi; bahwa kekuasan kita selalu relatif, kekuasaan Allah selalu absolut, “Maka mendekat untuk mendengar lebih baik daripada mempersembahkan kurban”. Raja-raja selalu mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Raja Saul juga mempersembahkan kurban kepada Tuhan; dan kurban-kurban itu sering kali dipakai untuk menyetir Tuhan, untuk engineer Tuhan, untuk mencondongkan hati Tuhan supaya berkenan kepada raja. Itu adalah sesuatu yang salah. Mendekat untuk mendengar lebih baik daripada mendekat untuk mempersembahkan kurban.
Mendekat untuk mempersembahkan kurban, dilakukan oleh orang-orang bodoh, dengan harapan Tuhan akan menuruti mereka. Mereka tidak tahu bahwa mereka berbuat jahat. Kalau engkau berjalan ke rumah Allah, mendekatlah untuk mendengar. Itu adalah jalan yang Pengkhotbah usulkan untuk penguasa, untuk seorang raja, supaya kekuasannya tidak terisolir, supaya ada ruang untuk fellowship. Di dalam kekuasaan dan juga di dalam suasana persaingan, juga dalam suasana yang hopeless di mana ada penindasan dan ketidakadilan dalam pihak orang-orang yang berkuasa, supaya tetap ada tanah untuk bertumbuhnya friendship dan fellowship –demikian Pengkhotbah mengingatkan kita keempat hal ini.
Sebagai orang Kristen, apa pengharapan kita dari situasi yang begitu gelap yang digambarkan Pengkhotbah; apa kabar baiknya? Saya kira kabar baiknya adalah kalau kita mengingat Yesus sebagai Raja di atas segala Raja, yang Pengkhotbah katakan kalau kamu mendekat ke Rumah-Nya maka mendekatlah untuk mendengar, bukan mendekat untuk buru-buru mempersembahkan kurban supaya raja berkenan kepada kamu, jangan menjilat Tuhan, jangan menyogok Tuhan, tetapi mendekatlah untuk mendengar Tuhan.
Dalam khotbah ini saya mengingatkan apa? Mengingatkan bahwa kita sebagai orang Kristen harusnya tahu, bahwa Raja itu datang kepada kita sebagai kawan, Raja itu datang kepada kita sebagai bayi yang tidak berdaya, Raja itu datang kepada kita tidak dengan pasukan satu legion melainkan tanpa senjata, sebagai bayi yang bisa dibunuh, sebagai bayi yang vulnerable. Dia mengenakan kemanusiaan kita yang lemah. Yesus, Raja yang lemah itu, datang di tengah kita; dan, kita meremukkan Dia. Seperti Schweitzer katakan: Yesus melemparkan diri ke roda sejarah yang berputar; dan roda itu terus berputar untuk meremukkan Yesus. Di sana Ia tergantung dengan tubuh-Nya yang remuk, menjadi ingatan akan permulaan yang baru, arah yang baru, dari sejarah yang tidak pernah sama lagi setelah menggilas Anak Allah, setelah mematikan anak Allah. Sejarah berubah. Kematian Yesus, dan juga kebangkitan Yesus mengubahnya.Saya kira ini yang bisa kita harapkan sebagai orang Kristen, bahwa Tuhan sendiri masuk ke dalam sejarah, ke dalam struktur kekuasaan, membiarkan diri-Nya ditindas, bahkan sampai mati. Dia addressing persaingan murid-murid-Nya, soal ’siapa yang paling besar di antara kami’. Tuhan juga mengingatkan mereka bahwa raja-raja dalam dunia ini memang begitu perilakunya, saling menindas, saling mendominasi, tetapi dalam Kerajaan Allah tidak seperti itu, Tuhan Yesus tahu betul. Dia masuk ke dalam sejarah, roda sejarah menggilas dan menghancurkan Dia, tetapi akibatnya sejarah tidak sama lagi, karena Tuhan menyerap kejahatan kita, dan kejahatan kita tidak cukup kuat menahan Dia di alam orang mati. Tuhan dibangkitkan.
Yesus adalah Allah Manusia yang dicintai oleh Allah Bapa; dan cinta Allah Bapa itu, kesetiaan Allah Bapa itu, yang membuat Yesus kemudian dibangkitkan dari kematian –bukan bangkit sendiri dengan kekuatan-Nya, walaupun tentu Dia bisa. Poinnya, Dia adalah Allah Manusia, wakil kita, yang dikasihi oleh Tuhan, karena Tuhan adalah Tuhan yang mengasihi mereka yang tertindas, mereka yang diremukkan, dicerai-beraikan, diisolasi, oleh penindasan dosa. Dan, Tuhan adalah Tuhan yang cukup kuat untuk menarik kita dari kegelapan itu, dari kematian itu, membawa kita kepada kehidupan. Saya kira itulah yang bisa kita harapkan dalam datangnya Kerajaan Allah yang kita lihat dalam Yesus, mengenai masalah ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading