Ini adalah lanjutan kisah perjalanan Paulus dari Atena ke Korintus.

Sebelumnya, Lukas menceritakan Paulus memberitakan Injil di Atena (Kis. 17). Atena adalah pusat studi, pusat penyembahan, dan pusat kebudayaan orang-orang Yunani. Atena adalah tempat Socrates mengajar, Plato mendirikan Akademi. Juga segala filosofi yang terkenal sampai seluruh dunia munculnya dari Atena. Di Atena itulah Paulus diberikan podium, seperti untuk memberikan kuliah yang sangat penting, yang kalau di zaman sekarang mungkin seperti memberikan Kuliah Gifford (Gifford Lecture) atau Kuliah Templeton, kuliah yang bergengsi; atau seperti mendapatkan kesempatan bicara di PBB . Paulus diberikan mikrofon untuk berbicara di Aeropagus, di sebuah bukit bernama Mars Hill. Di situ para pemikir penting berkumpul untuk mendengarkan ‘ini peleter ingin mengajarkan filosofi apa, ajaran dewa-dewa yang mana’.
Orang-orang Atena sangat lapar dan haus akan hal yang baru. Dan, Paulus menceritakan dengan cukup lengkap apa yang kita sebut sebagai Inijl, apa yang kita sebut jantung dari Kekristenan. Paulus memberitakan untuk pertama kalinya secara cukup utuh kepada orang-orang yang sama sekali tidak mengenal Allahnya Abraham, Ishak, dan Yakub, kecuali melalui murid-murid, melalui umat Yahudi. Ini adalah orang-orang pagan, orang-orang yang kafir sama sekali. Paulus memberitakan Injil kepada mereka. Paulus mencari titik kontak dari para penyair, para filsuf, seperti Aratus, Cleantes, dst.
Setelah apa yang Tuhan kerjakan di Atena –yang basically tidak banyak orang yang menjadi Kristen, hanya beberapa orang penting di antaranya Dionisus dari Aeropagus dan seorang perempuan terkemuka yang kemudian mengikut Paulus –kita tahu tidak ada gereja di Atena. Paulus tidak menulis surat kepada Gereja/jemaat di Atena, jadi sepertinya memang tidak terlalu banyak buah yang terjadi di Atena, namun bagaimanapun itu adalah momen yang sangat penting.
Dari Atena, Paulus menyeberangi laut ke Kengkrea, suatu tempat pelabuhan yang letaknya kira-kira 2 km dari Korintus, lalu ke Korintus. Korintus merupakan kota yang sangat penting, karena letaknya di suatu tempat yang kita sebut tanah genting (tanah genting adalah tanah yang memisahkan dua lautan yang sangat besar), yang memisahkan dua teluk yang sangat penting, yaitu Teluk Saronik di Laut Aegea dan Teluk Korintus.

Dari gambar di atas, kalau Saudara mau pindah dari laut yang sebelah kiri ke laut yang sebelah kanan, jaraknya kira-kira 6-7 km. Cukup jauh juga, namun relatif sangat kecil dibandingkan jarak yang harus ditempuh kalau memutar dari satu laut ke laut lainnya, yaitu lewat selatan, melewati Peloponnese, daerahnya orang-orang Sparta, yang jaraknya bisa sampai 200 km. Demikianlah Korintus menempati posisi yang sangat penting. Di tanah genting itu sejak zaman dulu orang sudah mencoba bikin jalan pintas dari perairan yang satu ke perairan lainnya, dari Laut Saronik untuk pergi ke Kengkrea. Dari penemuan arkeologi, ada yang dinamakan Jalur Diolkos, ditemukan oleh seorang arkeolog Belgia bernama Rapsaet, di mana tampak bekas-bekas jalur mereka menyeret kapal pakai sistem semacam kayu yang ada rodanya lalu kapal-kapal bisa ditarik melalui jalur ini; sebelum kemudian dibikin terusan. Terusan yang kita lihat di kota Korintus modern memang sudah digali (abad 19), dari Diolkos sampai Isthmia lalu sampai ke teluk satunya lagi. Jalur air ini dibuka tahun 1893, dan kapal-kapal bisa lewat di sana.
Ini satu hal yang membuat Korintus kaya raya. Di mana ada uang, di mana ada kekuasan, biasanya juga orang mengembangkan sejenis dosa yang khas orang-orang yang berkelimpahan. Tentu bukan berarti kalau orang hidup berkelimpahan, aman, stabil, maka jadi banyak dosa, sedangkan orang yang hidupnya susah jadi sedikit dosa; saya hanya mau mengatakan bahwa orang yang susah, berdosanya dosa orang yang hidup susah, orang yang hidupnya gampang, berdosanya dosa orang yang hidup gampang. Dan, dosanya orang-orang Korintus kira-kira tidak jauh dari seputar makan minum, yaitu pesta pora, kemabukan, dan pesta-pesta seksual liar yang dikaitkan dengan penyembahan Dewi Aphrodite, dewi pelindung Korintus, yang kuilnya berada di Acrocorinth, suatu bukit yang di sana didirikan kompleks benteng Acrocorinth.
Di Korintus itulah Paulus memberitakan Injil. Di situ dia bertemu dengan Akwila dan Priskila, orang Yahudi. Rupanya orang-orang Yahudi menyebar ke mana-mana, seperti kalau di Indonesia Saudara bisa bertemu orang Jawa di Papua, di Ambon, di Sumba, dan di mana-mana. Atau mungkin seperti orang-orang Chinese yang sampai di Brasil, Argentina, bahkan Alaska. Demikian juga orang-orang Yahudi diaspora ke mana-mana, ke seluruh Kekaisaran Romawi. Mereka selalu minoritas. Mereka selalu eksklusif. Mereka selalu banyak musuh juga, namun mereka seperti jamur/panu yang sporanya menyebar ke mana-mana. Di kota Korintus pun ada kumpulan orang Yahudi walaupun sedikit, dan di situ Paulus bertemu dengan Akwila dan Priskila, tinggal bersama-sama mereka, karena mereka satu profesi, kemungkinan karena Korintus ini kota baru.
Korintus ini merupakan kota yang baru. Kota yang lama dihancurkan sama sekali tahun 146 SM oleh Jendral Lucius Mummius dan dibangun kembali 100 tahun setelahnya, tahun 44 M oleh Julius Caesar. Kota ini dibangun sebagai kota penampungan para pensiunan prajurit yang kembali dari perang. Mereka ini waktu pulang ke Roma, tidak menjumpai kehidupan yang nyaman bagi mereka, karena biasanya rumahnya sudah ditempati orang lain, tanahnya juga, harga tanah pun sudah naik, dsb. Orang-orang ini biasanya dikirim berperang dan tidak diharapkan pulang; kalau mereka bisa menaklukan suatu wilayah, diharapkan mereka akan tinggal di sana, sementara yang tidak mau tinggal di sana, diharapkan tidak tinggal di kota Roma. Jadi Julius Caesar kemudian mendirikan kota Yunani yang sudah dikalahkannya itu, kota Korintus yang sudah hancur dan dibangun kembali itu untuk menampung orang-orang semacam ini. Dan, 100 tahun setelahnya, kira-kira tahun 40-50an masa kisah ini dituliskan, Korintus sudah jadi sebuah kota yang ramai. Bayangkan misalnya kota baru seperti Meikarta yang dulu pernah dicanangkan, atau kalau sekarang PIK 2, PIK 3, mungkin sampai PIK 10, lalu 100 tahun dari sekarang sudah berkembang, sudah bagus –seperti Korintus ini. Kota yang baru, yang dibangun ulang, biasanya lebih bagus, lebih rasional penataannya; demikian juga Korintus. Mungkin di situ juga didirikan perkampungan-perkampungan yang lebih terorganisasi. Saya kira itu sebabnya Paulus serta Akwila dan Priskila bisa tinggal bersama-sama, kerena inilah kampungnya para pembuat tenda.
Membuat tenda (tent making) juga merupakan satu istilah bagi para rohaniwan yang punya profesi sampingan untuk menopang hidupnya. Biasanya rohaniwan dalam tradisi Protestan maupun Katolik punya kehidupan yang ditopang sepenuhnya oleh Gereja. Tetapi dalam tradisi Yahudi tidak ada tradisi seperti itu, rabi-rabi Yahudi tidak ditopang hidupnya oleh sinagogenya, mereka musti cari makan sendiri. Mereka cari makan dengan ketrampilan sekunder. Mereka bukan hanya bisa memaparkan Taurat dengan baik, mereka juga bisa misalnya mengolah emas, berjualan berlian, mendesain sesuatu, menyalin naskah, atau membangun rumah, bertukang, menjahit, atau apapun. Dalam hal ini, Paulus serta Akwila dan Priskila bikin kemah. Bikin kemah merupakan suatu industri yang besar karena prajurit-prajurit Romawi perlu kemah; dan jumlah mereka banyak sekali, puluhan sampai ratusan ribu, bahkan jutaan. Jadi ini industri yang masif sekali. Saudara bisa bayangkan kalau sekarang misalnya tukang bikin sasis truk untuk mengangkut tentara Amerika Serikat, itu bisa kaya raya. Atau misalnya jadi orang yang menyuplai kantong pasir untuk tentara NATO, itu industri yang masif. Orang-orang Yahudi ini terkenal punya ketrampilan-ketrampilan. Mereka biasanya didiskriminasi, maka mereka mengambil pekerjaan sisa-sisa seperti ini, di antaranya –selain jadi bankir atau tukang perhiasan– yaitu menjadi pembuat kerajinan, antara lain untuk mensuplai militer Romawi. Ini satu profesi yang cukup kerap dijumpai di antara orang-orang Yahudi. Paulus memiliki profesi ini juga, seperti juga Akwila dan Priskila. (Menarik di sini, Lukas menyebut kedua orang ini di bagian awal dengan urutan Akwila dan Priskila, sedangkan belakangan nanti dia balik urutannya dan tiga kali disebutkan, yaitu Priskila dan Akwila. Hal ini akan dijelaskan nanti).
Di kota ini, Korintus yang terkenal kaya-raya, makmur, strategis letaknya –mungkin seperti Singapur atau Dubai—Paulus berkarya membuat tenda. Namun misi Paulus bukan untuk jadi kaya raya dengan menjadi tukang tenda paling hebat se-Korintus, melainkan untuk bisa mengobrol dengan orang-orang Yahudi di sana, untuk memberitakan kepada mereka datangnya Kerajaan Tuhan, membuktikan bahwa Yesus Kristus itu Mesias, tidak perlu menunggu lagi, zaman yang baru sudah datang, Tuhan sudah berbuat sesuatu. Tetapi caranya bukan seperti yang dibayangkan orang-orang Zelot dengan memberontak terhadap Romawi dan membunuhi orang Romawi sebanyak mungkin. Bukan juga seperti yang orang Saduki bayangkan, yaitu kita berkompromi saja dengan Romawi, toh Tuhan sudah membuang kita, Tuhan sudah berpaling kepada orang Roma, jadi kita menjilat Roma saja, kongkalikong dengan Roma. Tidak juga dengan berharap kalau kita bisa menjaga diri murni dengan melakukan Taurat, Tuhan akan datang, sebagaimana orang Farisi pikirkan, yaitu dibenarkan oleh karena ketaatan dan kesempurnaan menjalankan Taurat. Tidak seperti itu, kata Paulus, demikian juga kata Petrus, Yohanes, dan rasul-rasul yang lain. Inilah yang Paulus ingin jelaskan, pertama-tama kepada orang Yahudi di sinagoge, khususnya di sinagoge Korintus.
Setiap Sabat Paulus melakukan itu. Artinya mereka juga sangat welcome. Di sinagoge dekat rumah Priskila dan Akwila ini, Paulus setiap Sabat diundang khotbah. Kalau orang diundang khotbah tiap minggu, artinya khotbahnya tidak membosankan, khotbahnya sangat digemari. Demikianlah Paulus menjelaskan hal tadi pada tiap-tiap hari Sabat. Namun rupanya itu tidak cukup. Saudara bisa bayangkan, misalnya kita mau penginjilan di Grab, taksi, kereta api, pesawat terbang, dsb., kita merasa tidak cukup waktunya; Paulus pun demikian, dia ambil waktu sampai berminggi-minggu, dan itu pun tidak cukup. Injil memang tidak bisa semudah itu dijelaskan, jadi tidak perlu discourage juga. Dalam konteks itu, mungkin Tuhan akan pakai orang-orang lain. Kita doakan orang-orang yang telah menerima remah-remah, potongan-potongan dari Injil itu akan di-injili orang-orang lain lagi. Yang pasti, kita tidak bisa berharap Injil dapat dijelaskan dalam waktu yang singkat. Saya sendiri menjumpai orang-orang yang sudah ke gereja, tiap minggu dengar khotbah, kadang-kadang tidak mengerti Injil. Saya sudah interview ratusan orang yang mau masuk GRII, banyak yang sudah ikut katekisasi 16 kali pertemuan, ada yang sudah ikut kebaktian 30 tahun di GRII, ternyata tidak mengerti Injil. Hal itu sangat mungkin. Itu sebabnya Paulus perlu waktu lebih full time lagi; dan itu bisa dia kerjakan setelah Silas dan Timotius datang.
Silas dan Timotius datang, bukan berarti sekarang ada tiga pengkhotbah dan bisa pergi ke tiga sinagoge, atau gantian khotbah di sinagoge, atau sekalian satu kali hari Sabat tiga orang khotbah. Ternyata tidak begitu, tetap Paulus yang melakukan penjelasan, sementara Silas dan Timotius saya kira mengerjakan tent making-nya Paulus, sehingga Paulus bisa full time karena pekerjaan sehari-harinya ditangani oleh Silas dan Timotius. Itu pun sebuah cara untuk melayankan Injil, dengan taking care other people’s means of life. Tentu bukan hanya itu. Kita tahu di kemudian hari Timotius juga menjadi gembala dari sebuah komunitas Gereja, Paulus tidak membiarkan Timotius terus-terusan membantu dia mencari nafkah; demikian juga dengan Silas. Namun pada konteks tadi, ketika Silas dan Timotius datang, Paulus jadi lebih punya waktu luang mengabarkan Injil bukan di hari Sabat tapi di hari-hari lainnya, saya kira karena Silas dan Timotius taking care industri tent making Paulus.
Hasilnya apa? Kita mungkin berharap kalau Injil lebih tekun dinyatakan, orang-orang sudah reseptif, sudah mengundang Paulus terus, maka tentu saja banyak yang akan jadi Kristen, sehingga dalam waktu yang singkat Korintus jadi Kristen. Namun yang terjadi tidak demikian. Yang terjadi sebaliknya, komunitas Yahudi makin jelas dan makin solid menolak Paulus, menolak Kristen. Jadi, semakin cepat Injil diberitakan, polarisasinya juga makin cepat terjadi, pemisahan minyak dan air itu semakn cepat terjadi. Rupanya Injil bukan hanya menyatukan, bukan hanya diterima, tapi juga memisahkan. Dan, justru inilah sifat yang lebih dominan dari Injil, yaitu seperti pedang yang memisahkan. Memilah antara lalang dengan gandum, kambing dan domba, orang yang percaya dan tidak percaya, antara yang mempersepsi Injil sebagai bau kematian dan yang mempersepsi Injil sebagai bau kehidupan. Itulah yang terjadi di Korintus. Ketika Paulus mempercepat atau melakukan intensifikasi pemberitaan Injil kepada orang-orang Yahudi, itulah yang terjadi.
Perselisihan tajam itu membuat Paulus di-ekskomunikasi dari sinagoge, demikian Lukas mencatat di ayat 5-6. Pada titik ini, Paulus kemudian pindah ke rumah Titius Yustus. Ini bukan berarti Paulus jadi bermusuhan dengan Priskila dan Akwila –kita tahu Priskila dan Akwila menyertai perjalanan Paulus di kemudian hari–melainkan co-incidence saja. Mungkin juga untuk memuridkan Titius Yustus (kita tidak tahu dengan jelas karena Lukas tidak menjelaskan). Dari namanya, kita tahu Titius Yustus adalah orang Romawi. Sepertinya Paulus ingin lebih intens menjangkau komunitas bukan Yahudi. Nanti kita akan lihat mulai titik ini Paulus makin diverse dari menjangkau rang-orang Yahudi (Paulus di kemudian hari menyebut diri sebagai rasul dari orang-orang kafir (gentiles)). Hal yang terjadi kemudian adalah pertobatan. Jadi intensifikasi Injil memang memilah, namun hal ini bukan cuma negatif tetapi ada sisi positif, dalam hal ini kepala sinagogenya, Krispus, ikut Paulus (kita tahu ini dari Surat 1 Korintus 1:14, di situ Paulus menyebut nama Krispus, orang yang dia baptis).
Perlawanan yang berlarut-larut dari komunitas Yahudi itu sepertinya membuat Paulus stres. Di sini kemungkinan Paulus bernazar (karena biasanya orang Yahudi bernazar in distress –bukan iseng-iseng bernazar), dia tidak mau mencukur rambutnya. Kita tahu ini karena di kemudian hari, waktu Paulus keluar dari Korintus, dia mencukur rambutnya. Jadi, Paulus tinggal di Korintus, lalu kemungkinan dia mengalami distress, dia minta tolong pada Tuhan, dan dia bernazar. Dan, Tuhan muncul untuk menguatkan Paulus. Dicatat oleh Lukas di ayat 9-10, basically Tuhan bilang, “Teruskan saja, Paulus, jangan tutup mulutmu. Kamu buka mulutmu, terjadi perpecahan, pemilahan antara lalang dan gandum, antara domba dan kambing, tidak apa-apa, teruskan saja. Kamu sudah dalam jalur yang benar.” Oleh sebab itu Paulus meneruskan karyanya di Korintus selama 1 ½ tahun, sampai kemudian waktunya tiba.
Waktunya tiba ini terjadi setelah Galio ditunjuk menjadi penguasa (gubernur) di Akhaya. Siapakah Galio ini? Tercatat dalam sejarah, Galio adalah kakak dari filsuf Seneca, seorang filsuf Stoa. Kita tahu, salah satu aliran filsafat yang paling terkenal di Romawi adalah Stoisisme; dan Seneca salah satu filsuf Stoik yang paling terkenal, paling hebat –setelah Cicero saya kira, yang menulis lebih bagus, lebih fluent, lebih indah (John Calvin sendiri menulis tesis master-nya mengenai Seneca). Galio adalah kakaknya Seneca, dia menjadi Gubernur Akhaya tahun 51-52 setelah Masehi (artinya peristiwa-peristiwa ini terjadi tahun 50-an).
Galio punya sikap yang lebih solid daripada Pontius Pilatus. Dalam hal ini orang-orang Yahudi memprovokasi Pontius Pilatus dengan berbagai cara supaya menyalibkan Yesus, dan akhirnya Pontius Pilatus menyerah lalu menyalibkan Yesus; sedangkan Galio tidak mau diprovokasi. Galio tidak mau mengadili perkara itu, bahkan ketika Paulus mau buka mulut, Galio menyetop, “Stop, stop, proses ini ‘gak bisa jalan, karena tempatnya tidak di sini; keluar semuanya.” Galio menyuruh orang-orang itu keluar supaya dia tidak perlu mengadili. Alasannya apa? Alasannya karena ini di luar yuridiksi Romawi. Kalau mengenai perkara kriminal, di sini Paulus bikin tindakan kriminal apa?? Bunuh orang? Mencuri? Tidak. Paulus tidak melakukan tindakan kriminal apa-apa. “Jadi ini bukan urusan saya, urusannya mengenai agama kamu,” kata Galio; “Kalau mengenai perkataan, silsilah, hukum agama, itu bukan urusan saya, ngapain pakai kuasa Romawi jadi meriam untuk menghancurkan Yahudi??”
Romawi memang negara sekuler. Mereka punya agama juga, mereka menyembah Yupiter atau Mars, dsb., tetapi mereka tidak fanatik. Di dalam Kekaisaran Romawi ada bermacam-macam agama, dan itu tidak apa-apa, mereka malah senang, mereka penuh rasa ingin tahu. Barangkali mereka ini kayak orang new age, seperti orang Barat yang suka ke Bali lalu nikah secara Hindu, ke India lalu berguru dengan guru yoga tertentu, bertapa, dsb. Spiritualitas yang mix-mix saja, cocktail saja, kira-kira kayak Julia Roberts dalam Eat, Pray, and Love. Orang Romawi kurang lebih seperti itu sikapnya, mereka tidak memihak salah satu, mereka tidak mau mengurusi pertikaian sektarian antar agama, bahkan meski Sostenes sampai dipukuli dalam cerita ini (kemungkinan karena Sostenes tidak berhasil menggolkan maksud orang-orang Yahudi itu untuk mengadili Paulus di hadapan Galio).
Melihat Sostenes dipukuli, ketegangan makin meningkat, Paulus tidak lalu sok gagah berani bilang, “Memangnya siapa yang takut?? Saya mati di sini juga tidak apa-apa.” Paulus tidak bersikap kayak begitu. Kenapa? Dia mati bagi Yesus itu urusan gampang, tetapi kalau orang-orang Korintus itu, yang jumlahnya banyak, sudah jadi murid Tuhan, sedang bertumbuh, lalu harus pindah dari kota itu karena huru-hara, Paulus tidak tega. Mungkin Paulus berpikir ‘kalau saya yang pindah, ketegangan akan menurun, karena mereka mengincar saya, jadi saya pindah saja; lagipula masih banyak kota-kota lain belum dikunjungi’. Paulus pun pindah. Dia merasa sudah waktunya.
Paulus lalu pergi ke Siria. Dan, kita tahu dia akhirnya kembali ke home base, ke Antiokhia, karena Gereja yang mengirim Paulus adalah Gereja Antiokhia; namun sebelumnya, dia mampir-mampir dulu. Dia potong rambut dulu ke Kengkrea, salah satu kota penyeberangan dekat Korintus itu. Lalu dia pergi ke Efesus, disertai oleh Priskila dan Akwila.
Perhatikan di bagian ini, tiga kali berturut-turut Lukas mencatat namanya sebagai Priskila dan Akwila, Priskila dan Akwila, Priskila dan Akwila, setelah di bagian sebelumnya dia mencatat Akwila dan Priskila, serta dijelaskan juga bahwa Akwila ini suaminya, Priskila istrinya. Jadi di sini dia balik. Ini menandai apa? Ini menandai seperti juga yang kita tahu di bagian-bagian sebelumnya, Lukas pernah mencatat Barnabas dan Saulus, lalu belakangan diganti jadi Paulus dan Barnabas, karena dominasinya sudah berganti, orang lama-kelamaan jadi lebih kenal Paulus. Demikian juga di sini, orang lebih kenal Priskila. Mungkin ini seperti kalau dalam komunitas GRII kita lebih kenal Ibu Inawaty Teddy, kita tidak begitu kenal suaminya, Pak Anton, karena Ibu Ina yang tampil mengajar di gereja. Jadi, Priskila menempati posisi seperti itu, posisi yang penting sebagai seorang perempuan. Hal tersebut agak tidak tipikal pada zaman itu, dan juga dalam komunitas orang Yahudi, karena biasanya laki-laki yang bisa membaca,mengajar, melayani. Namun dalam komunitas Kristen ada beberapa wanita yang seperti itu, memang tidak mayoritas, namun mereka menonjol –dan diberi tempat. Hal itu sangat indah, seperti juga Priskila dan Akwila.
Priskila dan Akwila selanjutnya menetap di Efesus, sementara Paulus jalan terus. Namun sementara tinggal di Efesus, Paulus mengunjungi juga sinagoge-sinagoge. Dia sudah ditolak di sinagoge Korintus, tetapi bukan lalu sakit hati pada orang Yahudi –dia sendiri orang Yahudi. Dia sendiri mengatakan dalam salah satu suratnya, “Saya bahkan rela berpisah dari Kristus kalau bisa (tapi tentu tidak bisa), demi saudara-saudara saya, orang-orang Yahudi, diselamatkan.” Jadi Paulus tidak anti-Yahudi.
Paulus kemudian masuk ke sinagoge di Efesus, dan diterima baik, bahkan ditahan, disuruh mengajar terus di sana. Namun Paulus menolak. Saya kira dia menolak bukan karena ‘enggak ah, trauma gue, dulu di Korinstus juga begini, pertamanya diminta-minta terus, lama-lama berantem’; bukan seperti itu. Paulus mengatakan, “Kalau Tuhan menghendaki, saya akan kembali.” Dia ingin mengunjungi kota-kota yang lain,dan kalau ada waktu dia akan balik ke Efesus. Dan, ternyata Tuhan menyediakan pengganti Paulus. Jadi, Paulus menebarkan benih Injil di sana –sebagaimana di kemudian hari dia jelaskan kepada orang Korintus dalam Surat kepada Jemaat di Korintus– tetapi ada orang lain lagi yang akan menyirami. Orang lain tersebut dijelaskan di ayat 24-28, yaitu Apolos.
Apolos adalah seorang Yahudi, murid dari Yohanes. Dia berasal dari Aleksandria. Aleksandria adalah kota di Mesir, namun didirikan oleh Aleksander dan para prajuritnya, maka namanya Aleksandria. Kota ini terkenal dengan perpustakaannya yang hebat. Pada zaman kuno, perpustakaan itu seperti Library of Congres di Amerika, buku-buku bukan disimpan di iCloud melainkan disimpan secara fisik. Aleksandria juga terkenal sebagai pusat studi, seperti Atena. Apolos berasal dari sana, dia berpengetahuan luas dan mendalam; dan dia murid dari Yohanes, memahami Injil melalui Yohanes.
Apolos ini menjelaskan Jalan Allah. Dia menjadi seorang apologet yang menantang/berdebat dengan orang-orang Yahudi, membuktikan bahwa Yesus adalah Mesias. Namun sepertinya ada sesuatu yang kurang komplit dalam pengetahuan Apolos, karena dia adalah muridnya Yohanes; dan kita tahu Yohanes pada akhir hidupnya mempertanyakan apakah Yesus itu Mesias atau masih harus menunggu yang lain. Artinya, baptisan Yohanes adalah baptisan pertobatan, baptisan yang menyatakan Mesias sudah ada di tengah-tengah kita, dan kita (orang Yahudi) perlu bertobat, perlu membersihkan diri. Jadi baptisan tersebut merupakan mandi ritual untuk membersihkan diri. Dan, kalau menyatakan orang-orang Yahudi perlu dibaptis, artinya mereka selama ini hidup dalam dosa; dan ini berarti Bait Suci tidak efektif. Kalau mereka perlu dibaptis untuk menyambut datangnya Mesias, berarti mereka menyambut dengan pertobatan; demikian artinya baptisan Yohanes. Jadi Yohanes memahaminya sampai di situ. Yohanes tidak melihat Yesus mati disalib, dia sudah keburu dipenggal oleh Herodes, maka Yohanes tidak sampai ke sana pengertiannya. Itulah yang saya kira dijelaskan oleh Lukas di bagian ini, bahwa Apolos paham secara mendalam sampai pada pengertian seperti Yohanes, bahwa Yesus itu Mesias, tetapi bagaimana Mesias menyelamatkan dunia, Yohanes tidak sampai ke sana pengertiannya. Hal itulah yang nantinya dijelaskan oleh Paulus, oleh Petrus, oleh murid-murid Yesus, yang melihat bahwa penggenapan Yesus sebagai Mesias/Kristus adalah dengan penderitaan Yesus, kematian Yesus, kebangkitan Ysesus, dan naiknya Yesus ke surga. Inilah yang kemudian Apolos mendapatkan penjelasan dari Priskila dan Akwila.
Menarik juga, dalam episode ini penyebutan oleh Lukas adalah Priskila dan Akwila, jadi saya percaya Priskila yang lebih banyak menjelaskan kepada Apolos. Bayangkan saja, Apolos ini seorang apologet, terkenal, mungkin sekarang seperti apaologet di medsos, David Wood, atau R.C Sproul, Peter Kreeft, Cornelius van Til, dsb., tetapi dia diajari oleh seorang awam sepertinya, Priskila dan Akwila. Namun ini orang awam yang benar-benar paham Injil; dan yang menjelaskan ternyata si Ibu Guru. Artinya apa? Artinya ada perimbangan yang indah dalam suatu tradisi yang highly patriarchal, di mana dalam tradisi Yahudi dan juga Romawi perempuan seperti tidak ada artinya, sekunder, warganegara kelas dua, namun menempati posisi yang penting dalam Kerajaan Allah. Injil penuh dengan cerita-cerita seperti itu. Maria, yang air matanya dan parfumnya menyiapkan Yesus untuk dikuburkan. Saksi-sakis pertama kebangkitan, yang adalah para perempuan. Maria, yang sebagai murid Yesus. Juga ada Junias yang Paulus sebut sebagai rekan sekerja, sebagai rasul juga sepertinya walaupun namanya tidak pernah disebutkan secara eksplisit. Lidia, penjual kain ungu. Dan, di bagian ini Priskila. Saya kira ini satu detail kecil yang sering kali terlewatkan.
Mereka kemudian mendapati Apolos-lah yang menggantikan posisi Paulus di Efesus, sebagai apologet, sebagai orang yang mengabarkan datangnya Kerajaan Allah. Menarik bahwa di ayat 26 dikatakan mereka mengajarkan Jalan Allah. Ini menarik, karena Kekristenan dalam catatan Lukas tidak dianggap sebagai suatu agama. Agama merupakan pengertian yang sangat modern, sangat Aufklerung, sangat berbau Pencerahan, berbau Barat Modern. Agama itu seperti mengatakan orang itu pandangan politiknya liberalisme, dia sukunya Chinese, dia statusnya orang kaya/pemilik pabrik, dia dari golongan imigran, lalu dia agamanya apa, Sinto. Semacam itu. Atau agamanya Agama Hindu, atau agamanya tidak beragama. Artinya, agama itu kayak semacam yang orang-orang Aufklerung menyisakan satu ruang yang isinya sejenis kepercayaan tertentu untuk dianut, yang tidak ada konsekuensinya, kecuali untuk hidup yang akan datang, setelah mati. Orang-orang Kristen mula-mula, tidak dikenal sebagai orang yang menganut Agama Kristen, mereka dikenal sebagai orang Kristen. Orang Kristen artinya apa? Kristus-kristus kecil. Artinya seluruh being mereka seperti Yesus, bukan sekadar mereka menganut agama yang sama dengan agamanya Yesus. Istilah agama sendiri merupakan kategori yang sangat modern, abad 18-19 baru ada.
Mereka adalah orang-orang Kristen; dan orang-orang Kristen ini mengikut sebuah jalan, yaitu Jalan Allah, jalan Tuhan. Mereka mengikuti Jalan Yesus. Mungkin ini seperti kalau kita bilang ‘mengikut Jalan Bushido’, jalan samurai, jalannya para ksatria di Jepang, di mana mereka tidak berbohong, mereka menepati janji, mereka tidak menindas orang yang lemah, mereka menjaga kehormatan tuannya, mereka setia, dst. Dalam hal ini kita tidak bilang itu adalah agama, kita tidak bilang ‘kalau ikut Bushido maka menyembahnya hari Minggu, liturginya begini, perginya ke klenteng yang itu’, dsb. Tidak begitu; itu adalah seluruh jalan hidup dia, sampai jantung hatinya mengikuti suatu cara tertentu, sampai seluruh aspek hidupnya, termasuk cara minum tehnya, cara bicaranya, berpakaiannya, bergaulnya dengan siapa, cara jalannya, dan semuanya itu diatur mengikuti Jalan Bushido. Lalu di bagian kisah ini dikatakan ‘mengikuti Jalan Allah’, inilah yang diajarkan dan disebarluaskan orang-orang Kristen mula-mula. Jadi bukan sekadar sistem kepercayaan di otak, melainkan suatu way of life, way of being in the world. Itulah yang diberitakan oleh Paulus. Kenapa? Karena zaman yang baru sudah datang Kerajaan Allah sudah tiba, Allah memerintah dengan cara-cara Yesus. Inilah yang dikabarkan melalui orang-orang seperti Apolos.
Di sini kita melihat Kekristenan adalah sebuah jalan, dengan anak-anak Tuhan dari berbagai kalangan. Ada yang seperti Priskila dan Akwila, orang Yahudi yang mengikut Yesus. Ada yang seperti Kornelius, orang bukan Yahudi, kepala pasukan Italia, orang Romawi yang mengikut Yesus. Ada yang seperti Paulus, seorang Farisi yang mengikut Yesus. Dari berbagai kalangan, berbagai asal-muasal. Dari mana kamu berasal, itu tidak begitu penting; yang penting kamu mengikuti siapa, dan kamu pergi ke mana. Dulunya kamu siapa, itu tidak begitu penting. Ada orang yang secara moral tanda tanya (?), seperti perempuan yang meminyaki kaki Yesus itu yang secara moral dianggap question mark, tetapi dia punya masa depan sebagaimana perkataan: “Semua pendosa punya masa depan, dan semua orang kudus punya masa lampau”. Masa lampaunya mungkin tidak baik, memalukan, itu tidak apa-apa, karena sebagai pendosa mereka punya masa depan.
Saya kira itulah yang menerbitkan ucapan syukur dalam hati kita, sebagai murid-murid Tuhan zaman ini, karena kita adalah sejenis umat yang berjalan bersama Yesus, dalam suatu perjalanan tertentu. Kita bukan sekadar orang-orang yang punya kepercayaan tertentu yang sulit dipercaya, yang kalau kamu percaya itu ada hadiahnya lho masuk surga; bukan itu, melainkan orang yang di dalam hidup ini berjalan bersama Yesus. Dan kita, sampai dalam our deepest core berbeda dari dunia, berhubung kita sejenis manusia yang berbeda karena Roh yang melahirbarukan kita, karena Roh yang memberi kita makan dengan Firman Tuhan, lewat persekutuan, lewat liturgi, lewat pembacaan Firman, lewat ketaatan, dst. Karena kita adalah murid-murid, karena kita anak-anak Tuhan, karena kita adalah pendosa-pendosa yang dipanggil kepada masa depan yang baru di dalam Yesus. Itulah saya kira yang Kisah Para Rasul pasal 18 ini ingatkan kepada kita dalam sepotong perjalanan Paulus setelah dia meninggalkan pusat studi, Atena, dan masuk ke pusat kemakmuran, Korintus –mungkin seperti orang pindah dari Boston, Massachusetts, yang ada Harvard, MIT, lalu pindah ke Las Vegas.
Di mana pun Paulus berada, dia mempersaksikan datangnya Kerajaan Allah dalam Yesus, dan dia menemukan orang-orang yang dibangkitkan Tuhan untuk mengikut Yesus bersama-sama dan menjalani hidup yang baru. Hidup yang bisa dikatakan ‘Paulus menabur saja, Apolos menyiram, tetapi hidup itu dipertumbuhkan oleh Tuhan’. kiranya ini bisa menguatkan kita, anak-anak Tuhan di zaman ini.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah (MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading