Hari ini kita akan membaca Kisah Para Rasul 23, secara bertahap.
Adegan pertama, ayat 1-11
Pada adegan yang pertama ini, kita melihat Paulus yang dihadapkan kembali oleh Klaudius Lisias kepada orang-orang Yahudi. Sebelumnya, Klaudius melihat ternyata Paulus warganegara Roma, dan Klaudius telah bikin kesalahan dengan menyuruh mengikat Paulus, dan itu bisa berakibat buruk bagi dirinya. Di sini Klaudius tahu dirinya telah melanggar hukum karena mengikat seorang warganegara Roma, satu hal yang tidak boleh dilakukan tanpa pengadilan, apalagi dia juga mau mencambuk Paulus untuk mendapatkan keterangan yang lebih jujur –padahal Paulus ternyata warganegara Roma. Jadi Klaudius sekarang ingin cuci tangan, supaya sedapat mungkin kesalahannya tadi tidak diketahui orang banyak, melemparkan tanggung jawab kepada orang-orang lain, salah satu caranya dengan menghadapkan Paulus kepada orang-orang Yahudi. Klaudius pun mengembalikan Paulus kepada orang-orang Yahudi, meski tentu dijaga jangan sampai Paulus mati, karena jika itu terjadi, akan menimbulkan pertanyaan, koq bisa seorang yang dibawah tanggung jawab Klaudius Lisias, kepala batalion, mati. Kalau tahanan sampai mati, tentu jadi urusan, walaupun matinya bukan di tangan dia tetapi di tangan kerumunan, maka Klaudius menghadapkan Paulus kepada Mahkamah Agama Yahudi untuk di-interogasi (semacam lempar tanggung jawab).
Di situ Paulus lalu address mereka, membuka pledoinya dengan kata-kata, “Saudara-saudara … “. Paulus menyapa orang-orang dengan sebutan ‘Saudara-saudara’, bukan ‘Tuan-tuan’, atau ‘Yang Mulia’, atau lainnya, jadi dia menganggapnya sebagai suatu mahkamah yang egalitarian. Dia mengatakan, “Saudara-saudara sampai hari ini aku hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah.” Ini menandai bahwa Paulus mau mengatakan dirinya hidup benar di hadapan Tuhan, punya niat yang baik, ingin berjalan di dalam jalan Tuhan. Dan karena hal tersebut, Imam Besar yang hadir di situ memerintahkan orang yang berdiri dekat Paulus untuk menampar Paulus.
Di bagian ini kalau kita pikirkan sebentar, rasanya aneh, ya, koq Paulus ditampar gara-gara mengatakan sampai hari ini aku hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah. Untuk apa orang ditampar gara-gara perkataan itu? Kalau misalnya dia langsung mengatakan, “Allah akan menghukum engkau, hai tembok yang dilabur putih!” rasanya pantas ditampar. Tetapi di sini Paulus ‘kan mengatakan sesuatu mengenai dirinya sendiri, dan yang dia katakan itu sesuatu yang normatif saja, boleh dibilang basa-basilah, mengatakan aku ini hidup dengan hati nurani yang murni sampai hari ini di hadapan Allah, lalu koq ditampar ya?? Aneh sekali. Dalam hal ini para penafsir mengatakan, itu kemungkinan karena Paulus belum apa-apa sudah bicara dulu, padahal occasion-nya adalah dia di-interogasi, jadi harusnya dia bukan langsung menyampaikan pembelaan diri, kalau tidak ditanya jangan ngomong –kira-kira begitu. Jadi rupanya Imam Besar menyuruh menampar Paulus karena dia ingin Paulus hanya berbunyi seperti yang dia diktekan; Paulus adalah terdakwa yang sudah bersalah, dan Imam Besar ingin Paulus sendiri meneguhkan hukuman yang akan dijatuhkan kepadanya.
Namun Paulus kemudian membalas dengan berani tindakan Imam Besar itu, Paulus mengataan, “Allah akan menampar engkau –engkau menyuruh orang menampar aku, Allah akan menampar engkau– Engkau duduk di sini untuk menghakimi aku menurut hukum Taurat, namun engkau melanggar Taurat dengan perintahmu menyuruh orang untuk menampar aku.” Kira-kira perintah yang mana di dalam Taurat? Perintah yang melarang orang menyuruh orang lain ditampar, ada atau tidak dalam Taurat? Secara langsung memang tidak ada, namun kelihatannya Paulus mengacu pada penghormatan orang Yahudi kepada proses pengadilan, proses yang memberikan ruang untuk orang menyatakan pendapatnya di hadapan Allah, di hadapan Taurat. Orang Yahudi sangat menghargai proses ini, proses mengenai orang itu punya pandangan apa terhadap kitab suci mereka; dan orang tersebut harus diberikan ruang untuk mengatakan pertanggungjawabannya. Bukan berarti dia pasti benar, ini tidak sama dengan mengatakan bahwa tafsiran setiap orang terhadap kitab suci pasti benar, harus didengarkan, dst., melainkan bahwa orang tersebut menafsir apa, dia harus diberikan ruang untuk menjelaskan, dia punya hak untuk didengarkan. Penjelasannya bisa saja kemudian ditolak, namun dia punya ruang untuk itu. Hal inilah yang di-defense Paulus.
Kemudian orang tadi membalas dengan mengatakan, “Apakah engkau mengejek Imam Besar Allah?” Mengejeknya ini lewat kata-kata yang mana? Apakah kata-kata ‘saudara-saudara sampai hari ini aku hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah’, atau perkataan yang kedua, ‘Allah akan menampar engkau, hai tembok yang dikapur putih’ ? Kelihatannya perkataan yang kedua.
Paulus membalas lagi dengan mengatakan, “Aku tidak tahu, lho, bahwa dia itu Imam Besar … , “ (di sini kemungkinan Paulus tidak mengenalinya, entah kenapa, tidak dijelaskan oleh Lukas; Imam Besar biasanya pakai baju yang berbeda, tetapi mungkin karena Imam Besarnya sudah ganti, atau karena Paulus tidak peduli, atau karena Paulus ingin melepaskan diri juga dari tuduhan telah bicara kurang ajar kepada Imam Besar), lalu lanjutnya, “Memang ada alasannya keberatan kamu, yang mengatakan aku sudah melakukan kesalahan dengan mengatakan Allah akan menampar dia, karena memang ada tertulis jangan engkau berkata jahat tentang seorang pemimpin bangsamu.” Jadi kelihatannya Paulus menerima hal itu, tetapi dia juga tidak menyatakan bahwa dia melakukan sesuatu yang salah.
Paulus kemudian menyambung lagi dengan poin yang lain, yaitu mengenai identitasnya. Dia mengatakan, “Aku ini seorang Farisi.” Jadi Paulus restrat lagi. Di awal tadi dia restrat dengan mengatakan, “Saudara-saudara sampai hari ini aku hidup dengan hati nurani yang murni di hadapan Allah,” kali ini dia restart dengan mengatakan, “Saudara-saudara, aku adalah seorang Farisi, aku keturunan orang Farisi. Aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharapkan kebangkitan orang mati.” Perkataan ini, menurut Lukas dikatakan Paulus secara taktis, strategis, karena Paulus tahu bahwa mereka di situ sebagian orang Farisi dan sebagian orang Saduki, dan mereka itu tidak pernah akur.
Orang Saduki itu siapa? Kita tidak terlalu tahu, karena kita tidak punya tulisan-tulisan orang Saduki. Orang Saduki pastinya menulis beberapa tulisan, tetapi tulisan-tulisan mereka itu kita tidak punya. Kita mengetahui tentang orang Saduki dari orang Farisi. Bayangkan, kalau suatu hari misalnya warga GRII Kelapa Gading punah semua, entah karena kebanjiran lalu tenggelam atau apalah, lalu 1000 tahun dari sekarang yang bercerita mengenai warga GRII Kelapa Gading adalah orang-orang yang tidak suka dengan warga GRII Kelapa Gading –mudah-mudahan ini tidak ada, sih— katakanlah ada gereja atau aliran yang benci banget dengan GRII Kelapa Gading, lalu kelompok inilah yang menulis satu dua baris, mungkin juga satu dua buku, mengenai warga GRII Kelapa Gading, mereka ini begini dan begitu, dst.. Lalu seluruh dunia –yang 1000 tahun dari sekarang itu—tahu mengenai kita di sini dari tulisan-tulisan tersebut. Dalam hal ini, kira-kira kelompok itu menulis yang baik-baik atau yang buruk-buruk atau yang seimbang mengenai kita? Berhubung mereka tidak suka banget dengan kita, biasanya tulisnya yang buruk-buruk. Jadi seperti itulah halnya dengan orang-orang Saduki. Kita ini tidak tahu apa-apa mengenai siapa orang Saduki dan apa ajaran mereka, kecuali dari orang-orang yang tidak setuju dengan orang-orang Saduki, di antaranya orang-orang Farisi. Saya menyampaikan ini, untuk mengatakan bahwa apapun yang kamu anggap kamu tahu mengenai orang Saduki, take it with a grain of salt, mungkin mereka tidak sejelek itu, karena kita mengetahuinya dari orang-orang yang tidak suka dengan mereka, di antaranya orang-orang Farisi.
Namun satu hal yang kita tahu pasti benar, bahwa orang-orang Saduki kebanyakan menempati posisi strategis, posisi yang powerful. Imam kepala hampir selalu orang Saduki. Imam kepala yang pada saat itu mengepalai Mahkamah Agama, Imam Besar Ananias itu, adalah orang Saduki. Dia penjilat Romawi. Orang-orang Saduki itu biasanya dekat dengan kekuasaan. Walapun kekuasaan tersebut sekuler, menghina agama mereka, mereka tidak peduli. Orang-orang Saduki bisa dikatakan orang-orang yang modern dalam gerakan agama. Mereka mengikuti trend yang paling progresif. Mereka follow the power. Hal lainnya, orang-orang Saduki ini beranggapan bahwa Allah sudah memihak kepada bangsa-bangsa asing; Allah mungkin memihak Romawi, buktinya Romawi menang perang, dan orang Yahudi tidak pernah berhasil menggulingkan Romawi. Kita tahu, di kemudian hari Imam Besar Ananias ini mati terbunuh sebelum Bait Suci Yerusalem jatuh pada tahun 70, dibunuh oleh sesama orang Yahudi, dari sekte Sikari. Sekte Sikari adalah kelompok yang ke mana-mana membawa belati, dan mereka sering kali menusuk prajurit-prajurit Romawi atau orang-orang yang dianggap antek-antek Romawi; bisa dikatakan mereka itu teroris, penyusup, yang menebar teror supaya orang tidak macam-macam terhadap agama Yahudi. Ananias ini mati dibunuh oleh orang Sikari. Jadi kita bisa bayangkan seperti apa situasi orang Saduki.
Orang Saduki ini berlawanan dengan salah satunya orang-orang Farisi, sebagaimana dicatat dalam Perjanjian Baru. Siapakah orang-orang Farisi? Orang Farisi adalah orang-orang yang ingin sungguh-sungguh menjalankan Taurat, karena mereka percaya kalau 613 aturan yang diberikan Taurat dijalankan dengan setia oleh umat Allah, maka Allah akan memulihkan keadaan umat-Nya. Allah akan kembali ke Sion, Allah akan mengumpulkan segenap Israel kembali ke tanah negeri mereka. Dan, mereka akan dipulihkan kerajaannya, seperti pada zaman Salomo, zaman Daud, bahkan lebih lagi, mereka akan punya raja yang baru, Mesias, tetapi syaratnya perbaiki dulu kelakuanmu, kamu harus hidup sesuai dengan Taurat. Inilah orang-orang Farisi.
Orang-orang Saduki dan orang-orang Farisi ini bersitegang terus. Paulus tahu hal itu. Dan,Paulus kelihatannya memakai itu untuk kepentingannya, maka dia kemudian langsung membuka dengan, “Aku ini orang Farisi.” Dia melanjutkan dengan, “Aku dihadapkan ke Mahkamah ini, karena aku mengharap kebangkitan orang mati.” Waktu mengatakan ini, dia menyentuh satu titik terngkar yang paling panas antara orang Saduki dan orang Farisi. Ini titik tengkar yang diangkat berkali-kali dalam Perjanjian Baru. Pada masa Tuhan Yesus, sebelum Dia mati di kayu salib sudah ada pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Orang Saduki tidak percaya akan kebangkitan; dan itu yang membedakan mereka dengan orang Farisi. Jadi ini titik tengkar yang sangat terkanal –dan Paulus mengangkat hal ini. Paulus mengangkat itu dengan pengetahuan bahwa ini akan memecah belah mereka –dan itulah yang terjadi.
Terjadi keributan besar. Beberapa ahli Taurat dari aliran Farisi langsung memihak Paulus, kemudian mengatakan, “Kami tidak menemukan sama sekali apapun yang salah pada orang ini!” Alasan yang diberikan adalah: “Karena barangkali ada roh atau malaikat yang telah berbicara kepadanya.” Dan, itu satu hal yang pasti Kayafas, Ananias, orang-orang penguasa itu, akan mencibir, “Ihhh… malaikat, roh berbicara … .” Hal seperti itu bagi mereka suatu takhayul.
Demikianlah terjadi pertengkaran besar, kerusuhan, di tempat itu. Mahkamah itu tidak lagi jadi mahkamah yang rasional. Kepala Pasukan lalu mengekstraksi Paulus dari sana karena khawatir Paulus terbunuh, dia memerintahkan pasukannya untuk turun mengambil Paulus dari tengah-tengah mereka, membawanya ke markas.
Malam itu Tuhan datang menghibur Paulus. Satu hal yang kita perlu perhatikan di sini, Lukas tidak mencatat bahwa Tuhan datang mengutus malaikat untuk membuka pintu penjara, lalu Paulus keluar, lalu orang-orang Saduki yang ingin membunuh Paulus itu matanya jadi buta atau kakinya jadi lumpuh, sehingga tidak bisa membunuh Paulus. Lukas tidak mencatat begitu; Lukas mencatat Paulus tetap di penjara. Jadi ini tidak seperti dalam peristiwa Petrus dibebaskan dari penjara, juga tidak terjadi gempa bumi seperti pada peristiwa Paulus dalam kesempatan sebelumnya, yang sempat dipenjara juga namun kemudian terjadi gempa bumi dan dia dilepaskan. Di sini tidak terjadi seperti itu. Pintu-pintu tetap terkunci. Orang-orang tetap membenci Paulus. Tetap seperti tidak ada jalan keluar dari situasi tersebut. Tetapi, ada Tuhan di situ. Tuhan datang berdiri di sisi Paulus, dan berkata, “Teguhkan hatimu, sebab sebagaimana engkau dengan berani telah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, demikian jugalah hendaknya engkau pergi bersaksi di Roma.”
Kita perlu ingat, bersaksi di Yerusalem ini sebenarnya Paulus tidak perlu. Paulus datang ke Yetrusalem, itu cari susah. Apa kepentingan Paulus datang ke Yerusalem? Dia sudah punya pelayanan yang efektif selama 30 tahunan di luar Yerusalem, dan memang panggilan dia adalah memberitakan Injil kepada orang-orang yang belum mengenal Allah, orang-orang di luar Yahudi (gentiles), lalu ngapain dia kembali ke Yerusalem?? Dia sudah tahu bakal dibunuh di Yerusalem, bakal ada orang yang cari masalah, tetapi kenapa dia datang ke Yerusalem? Paulus datang ke Yerusalem untuk membawa bantuan. Dia mengumpulkan bantuan dari kota-kota –yang kafir– untuk menolong saudara-saudara yang miskin di Yerusalem. Dia datang untuk bawa duit. Kita mungkin sekarang pikirnya transfer saja uangnya, tetapi zaman dulu tidak ada transfer. Atau, kita pikir mustinya pakai kurir saja, suruh Timotius atau siapalah yang lain. Dia bisa saja suruh orang, legitimate juga, duit tetap duit siapa pun yang membawanya, namun Paulus memilih datang sendiri ke Yerusalem karena dia semacam mau menebus dosa, semacam menghadapi masa lampaunya yang gelap. Paulus tahu itu bahaya, dia tahu dirinya akan menderita, namun dia tahu juga dia perlu melakukan itu. Dia tahu, di Yerusalem itu Stefanus mati di hadapan matanya sendiri. Dia tahu, di Yerusalem dia telah menebar tangisan dan darah. Dan, dia ingin menghadapi itu. Dia ingin napak tilas itu, bukan sebagai pembunuh melainkan sebagai yang akan dibunuh. Dia menginginkan itu sepertinya, maka dia melakukan hal yang tidak perlu itu, yang dia bisa hindari –dan itu tidak salah– namun dia memilihnya. Dia datang ke Yetusalem, dia ingin menderita bersama Yesus, dia ingin menderita bersama umat Allah –atas pilihan sendiri– yang kalau dia tidak lakukan pun sebenarnya tidak salah juga.
Paulus memilih itu; dan Tuhan pada malam itu mengafirmasi, mengatakan engkau sudah bersaksi tentang Aku di Yerusalem, bukan engkau sudah bersaksi tentang Aku di Efesus. Padahal Paulus memang bersaksi tentang Tuhan juga di Efesus, Galatia, Pontus, Kapadokia, dan lain-lainnya, tetapi khususnya Tuhan mengatakan, “Engkau sudah bersaksi tentang Aku di Yerusalem,“ berarti Dia mengafirmasi dan berkenan akan hal itu. Lanjut-Nya, “Tetapi engkau juga akan bersaksi tentang Aku di Roma.” Bagian yang terakhir ini yang belum, Paulus belum bersaksi tentang Tuhan di kota Roma.
Lalu bagaimana bersaksi tentang datangnya Kerajaan Tuhan di kota Roma? Bisa saja Paulus datang ke sana, church planting baik-baik, tetapi dengan cara seperti itu dia tidak akan bersaksi di tengah-tengah pusat kekuasaan, di antara orang-orang yang pegang kuasa. Ada caranya supaya dia bisa bersaksi di tengah orang-orang yang pegang kuasa di Roma, di jantung kekuasaan Romawi yang jahat itu, yaitu dengan dia datang sebagai tawanan. Itulah yang Tuhan katakan kepadanya di dalam penjara. Itu sebabnya Tuhan tidak membukakan pintu penjara, tidak bikin gempa bumi, tidak kirim malaikat, tetapi Dia sendiri datang meneguhkan Paulus. “Engkau sudah bersaksi tentang Akudi Yerusalem, bagus, tetapi engkau juga akan bersaksi tentang Aku di kota yang lain, di Roma.”
Adegan kedua, ayat 12-22
Pada adegan ini kita melihat orang-orang Yahudi memakai trik untuk membunuh Paulus. Mereka tidak bisa menyusup masuk ke dalam penjara, menusuk leher Paulus di dalam penjara atau meracuni makanannya, karena Paulus dijaga ketat oleh prajurit-prajurit Romawi. Paulus ada di benteng Romawi, maka tidak mungkin mereka melakukan itu. Mereka lalu pakai trik mau bikin sidang kedua: “Minta maaf, ya, sidang pertamanya kacau, kami mau mengadakan sidang lagi. Tolong dong tahanan itu dihadapkan keada kami. Kali ini kami janji tidak ada kerusuhan lagi, kami akan baik-baik supaya persidangan berjalan lancar.” Tetapi, ada 40 orang di antara mereka sudah bersumpah untuk membunuh Paulus, mereka berpuasa 40 hari, mengutuk diri, bernazar bahwa Paulus yang mati atau kami yang mati. Bayangkan, kalau ada 40 orang bersumpah mengutuk diri bahwa sebelum kamu mati, mereka tidak akan makan, pasti kamu tidak akan bisa tidur tenang.
Itulah yang orang-orang ini lakukan, dan mereka minta kepada kepala pasukan untuk mereka menerima Paulus dst. Ada intrik yang licik untuk membunuh Paulus; tetapi coba kita lihat apa respons Tuhan menurut Lukas. Rupanya, menurut Lukas yang jadi respons Tuhan adalah ini: terjadi satu peristiwa tidak terduga, yang out of the blue, yang tidak direncanakan, yaitu Paulus rupanya punya keponakan, anak saudara perempuannya, di Yerusalem; dan anak ini mendengar plot mereka. Ini mirip seperti Mordekhai dalam kitab Ester tiba-tiba mendengar plot untuk membunuh raja, out of the blue. Dan, ini menandai bahwa manusia berencana sesuatu, tetapi Tuhan juga bisa berencana sesuatu. Di sini Tuhan berencana sesuatu lewat anak kecil yang namanya tidak disebut, bahkan nama saudara perempuan Paulus pun kita tidak tahu. Ini orang ‘gak penting, namun orang ini mendengar rencana tadi dan membocorkannya kepada Paulus, pamannya.
Paulus dengan tenang lalu memanggil si perwira, menyampaikan permintaan supaya anak ini dibawa menghadap kepada Klaudius Lisias, dan dengan demikian Klaudius Lisias mendengar dari anak ini mengenai persekongkolan tersebut. Jika persekongkolan itu benar terjadi, jika Klaudius Lisias menyerahkan Paulus kepada orang Yahudi sehingga mati terbunuh, maka karier Klaudius Lisias juga mungkin akan berakhir, jadi tukang sapu saja di Roma, karena berarti dia tidak becus jaga tahanan. Tetapi itu tidak terjadi, karena mendengar plot tersebut Klaudius Lisias mengambil tindakan. Dia mengatakan kepada anak muda itu, “Jangan bilang siapa-siapa.” Ini supaya 40 orang yang sudah bersumpah itu tidak mendengarnya, tetapi juga supaya orang tidak tahu bahwa dirinya tidak kompeten. Kira-kira begitu. Selanjutnya anak itu dikirim pulang kembali, lalu Klaudius Lisias mengambil tindakan.
Adegan ketiga, ayat 23-35
Di sini Klaudius Lisias menulis surat kepada atasannya, Feliks. Feliks ini bukan orang yang baik, dia orang yang kejam. Dia adalah saudara dari Palas, anak kesayangan Kaisar Klaudius. Jadi Klaudius Lisias ini menjilat Feliks, bajingan yang satu tulis surat kepada bajingan yang lain.
Kalau kita melihat isi suratnya, apa benar yang dikatakannya itu yang terjadi? Misalnya, dia menulis: Orang ini ditangkap oleh orang-orang Yahudi dan ketika mereka hendak membunuhnya, aku datang dengan pasukan untuk melepaskannya, karena aku dengar, bahwa ia adalah warganegara Roma. Apa benar begitu? Ya, benar juga, tetapi ada sesuatu yang hilang. Yaitu: aku datang mendengar keributan, aku bawa dia ke markas, aku ingin menyesah dia karena aku pikir dia pemberontak dari Mesir itu, eh, ‘gak tahunya dia warga negara Roma. Bagian ini tidak dia katakan. Dia tidak mengatakan bahwa dia sudah berlaku ceroboh dalam prosedur intergogasi, hampir-hampir dia melanggar hukum Romawi yang bisa bikin dia dicopot jabatannya. Yang dia katakan, seolah-olah dia itu pahlawan, pahlawan yang menyelamatkan Paulus, karena jika tidak, Paulus ini sudah mati. Dan, dia mengatakan seolah-olah dia ini taat hukum banget, mengirim Paulus ke Roma sebab: “Setelah aku menghadapkan dia kepada Mahkamah Agama, aku mendapati ternyata perkara itu tidak patut dihukum mati; ini soal-soal hukum mereka, tidak ada alasan untuk dipenjarakan juga. Dan, aku datang untuk menyelamatkan dia dari persekongkolan yang ingin membunuh dia untuk kedua kalinya.” Jadi setelah orang-orang Yahudi ingin menghukum mati Paulus pakai instrumen Romawi, tidak berhasil, lalu ingin membunuh Paulus mati ekstra-yudisial, “Aku pun menyelamatkan Paulus dari situ,” demikian katanya.
Klaudius Lisias (atau Claudius Lisius dalam bahasa Latin) menaruh dirinya sebagai pahlawan, untung ada gue, gue pahlawan penegak hukum, dia mengatakan itu kepada Feliks, yang tidak lebih baik juga; dan inilah yang dipakai Tuhan, untuk bukan menyelamatkan Paulus dari kematian (kita tahu akhirnya Paulus memang mati juga) melainkan untuk menggenapkan kehendak-Nya. Tuhan ingin Paulus bersaksi di Roma. Kalau Paulus mati di Yerusalem ‘kan Paulus tidak bersaksi di Roma –sedangkan Tuhan ingin Paulus bersaksi di Roma– maka Paulus ini harus tetap hidup sampai dia ada di Roma dan memungkinkan bersaksi di sana. Jadi, kita melihat bahwa Tuhan memakai persekongkolan orang-orang Yahudi itu, Tuhan memakai KLaudius Lisias yang licik itu, Tuhan memakai Feliks yang jahat itu, untuk kemudian menggenapkan kehendak-Nya, yaitu Paulus bersaksi di Roma dalam keadaan hidup.
Kita melihat adegan yang dramatis di sini, bahwa Paulus yang diancam oleh 40 orang fanatik yang ingin membunuh dia, dikawal oleh 470 pasukan tentara Romawi (kayaknya lebay banget, ya), 200 serdadu berjalan kaki, 200 lagi tambahan pelempar lembing (zaman kita sekarang mungkin ini para penembak jitu), dan 70 orang berkuda –mengawal SATU Paulus. Gile, ya. Kayaknya Klaudius Lisias saja kalau berkunjung ke Feliks, pengawalnya tidak sebanyak itu, tetapi di sini ada sebanyak itu hanya untuk mengawal seorang Paulus karena dia ditarget untuk dibunuh oleh 40 orang saja. Tentu saja 40 orang itu tidak akan berusaha membunuh Paulus, tidak bisa menanglah lawan 470 tentara Roma bersenjata lengkap. Jadi, Tuhan memakai cara itu.
Klaudius Lisias tidak kemudian jadi orang yang tulus, dia tetap politisi. Orang-orang Yahudi tidak kemudian jadi orang-orang yang sekarang melihat aduh, Paulus ternyata tidak salah apa-apa, ya, kita yang memang harus bertobat, kita yang memang kuburan dilabur putih itu, kita yang harus lebih tulus menjalankan Taurat; dan kita dapati memang kita tidak bisa menjalani Taurat, maka mungkin benar kata Paulus bahwa Tuhan membangkitkan Yesus –yang kita bunuh itu—memang sebagai tanda Dia itu Mesias, jadi kita yang harus bertobat dari penganiayaan kita terhadap orang-orang Kristen, mungkin kita harus mengikuti jalan Paulus, yang bertobat juga dari menjadi penganiaya Kristen jadi pemberita Injil. Mereka tidak melakukan itu. Orang-orang Yahudi tetap sama, tetap ingin menekan agama Kristen, tetap ingin membunuh Paulus.
Sidang Sanhedrin yang harusnya menghadirkan keadilan bagi orang Yahudi mengenai perkara-perkara Hukum Taurat, maupun orang-orang konspirator yang ingin membunuh Paulus, tetap sama, mereka tidak menjadi kurang bencinya terhadap Paulus. Klaudius Lisias pun tetap sama, dasar Romawi, dasar politikus, dia penuh dengan intrik. Tetap sama. Tuhan tidak mengubah itu semua. Tetapi, walaupun mereka semua tetap sama, mereka justru dipakai Tuhan, untuk menghadirkan satu adegan drama, di mana di tengah segala resistensi terhadap meluasnya Injil, meluasnya Kerajaan Allah, Kerajaan itu meluas tanpa bisa dihalangi.
Sekarang coba kita pikirkan alternatifnya seandainya dramanya adalah Kerajaan itu meluas tanpa resistensi. Kita mungkin pernah mendengar cerita-cerita semacam itu, meski sangat langka sih namun kadang-kadang terjadi, yaitu cerita misi yang tidak ada resistensinya. Konon ini terjadi di Irlandia, sewaktu St. Patrick mempertobatkan orang-orang Irlandia, hampir-hampir tidak ada resistensi. Mereka menerima dengan senang hati, seakan sudah lama ditunggu-tunggu, lalu rajanya bertobat, dan semua bertobat jadi Kristen sampai hari ini. Kelihatan happy-happy saja. Ini agak jarang, namun kalau terjadi ya, puji Tuhan.
Dalam kasus Paulus ini tidak terjadi. Sekarang coba kita bandingkan, kalau cerita Paulus dan meluasnya Kerajaan Tuhan pada mulanya mulus-mulus saja, dibandingkan dengan cerita Kerajaan Tuhan pada mulanya penuh dengan resistensi namun toh Tuhan menyertai dan Injil tersebar di daerah itu tanpa bisa dihalangi, kira-kira apa bedanya? Apa bedanya kalau cerita Kerajaan Allah mulus-mulus saja, dengan cerita Kerajaan Allah penuh dengan drama dan tension, and yet Tuhan tetap menang? Bedanya saya kira ini: kalau mulus-mulus saja dan Kerajaan Allah kemudian tersebar, maka ketika kita yang membaca kisah-kisah ini menghadapi tension, segala kesulitan, kita jadi tidak punya kisah-kisah untuk meneguhkan kita. Kita akan bilang, “Ya, zaman dulu memang enak, semua serba lancar, sedangkan zaman kita susah, kita musti pikir sendiri. Impossible sih.” Ini bukan berarti jalannya harus susah, sama sekali tidak demikian. Saudara juga jangan salah tangkap, “Koq hidup gue sebagai orang Kristen kayaknya ‘gak menderita, ya; wah, gue harus cari-cari nih supaya menderita, harus jadi orang yang nyolot dikit, harus jadi orang yang bikin orang lain ‘gak suka sama gue”, jangan bodoh kayak begitu.
Di dalam Perjanjian Baru, ketika Kerajaan Allah pertama kali muncul, menerobos masuk ke dalam dunia ini, dan penuh resistensi, kenapa dicatat hidup Gereja-mula-mula itu penuh penderitaan dan kesulitan? Tentu kita tidak mengatakan pada hari ini tidak ada penderitaan dan kesulitan, tetapi dalam hal ini kita mengatakan: karena kalau hidup mereka mudah, ceritanya akan beda, kita tidak akan punya cerita mengenai Allah yang tidak meninggalkan umat-Nya dalam kesulitan, kita tidak akan menemukan inspirasi untuk menopang kita ketika kita berhadapan dengan musuh di dalam dan diluar –bahkan diri kita sendiri– sebagai penghalang datangnya Kerajaan Allah, kita tidak akan punya penghiburan dan kekuatan untuk menghadapi kesulitan itu. Itu sebabnya dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru dicatat kisah-kisah yang penuh kesulitan mengenai datangnya Kerajaan Allah.
Tentu bukan berarti pada zaman sekarang semuanya harus lancar-lancar seperti kisah misi di Irlandia –dan dalam kenyataannya memang sering kali juga tidak begitu– namun di sini yang saya mau katakan adalah: alasannya bukanlah karena Tuhan menyukai kesulitan, bukan juga supaya ceritanya lebih menarik, melainkan karena kita memerlukannya, maka Tuhan menghadirkannya seperti itu, pada masa itu. Ini juga selaras dengan seluruh tema besar dari Kisah Para Rasul, yaitu: walaupun datangnya Kerajaan Allah dilawan dari segala sisi dengan kuat, dari luar dan dari dalam, dari antara orang Yahudi dan dari orang-orang yang tidak mengenal Allah orang Yahudi, tetapi Kerajaan Allah itu tetap datang.
Kita melihat Bait Suci tetap begitu-begitu saja sampai akhirnya benar-benar luluh lantak, tidak ada satu batu di atas batu lain –dan Bait Suci masih tetap begitu. Orang-orang Kristen mendoakan Bait Suci, mereka tidak meninggalkan Bait Suci. Petrus tetap berdoa di Bait Suci, tidak mentang-mentang sudah Kristen lalu berdoanya tidak di Bait Suci padahal berada di Yerusalem; tidak demikian, dia tetap datang ke Bait Suci. Petrus masih menghargai Bait Suci Yerusalem. Tetapi, Bait Suci yang mereka sudah doakan itu agar bertobat, apakah bertobat? Tidak. Sampai kemudian tahun 70 Romawi datang, dan benar-benar habis seluruhnya, Bait Suci sudah tidak ada lagi, penghakiman Tuhan betul-betul memusnahkan mereka. Dan, sampai titik itu pun tidak bertobat. Tetapi, apakah berarti doa-doa mereka percuma?
Seperti kita hari ini mendoakan pemerintah kita, mendoakan negeri kita, yang sudah kita doakan 80 tahun, hasilnya berubah atau tidak sih? Pemerintahan yang satu datang, pemerintahan yang lain pergi. Rezim yang satu datang, rezim yang lain pergi. Presiden yang satu naik takhta, presiden yang lain turun takhta. Kita berharap, kita kecewa, kita berharap lagi, kita kecewa lagi. Tetapi kita tetap berdoa, namun pemerintahan kita tetap sama –tidak sama sih, ada yang berubah, hanya tetap saja ada yang kita komplain, tetap saja tidak baik-baik saja, tetap ada yang bikin kita frustrasi dan mengeluh rasa sakit bersalin –jadi percuma atau tidak berdoa? Atau kita sudah doakan sekolah, kita doakan Gereja, kita doakan anak kita, kita doakan orangtua kita, kita doakan teman gereja yang nyolot, orang-orang sulit dalam hidup kita, orang-orang sulit dalam komunitas, orang-orang toksik –kita doakan berbulan-bulan dan bertahun-tahun– berubah atau tidak sih?? Mungkin tidak berubah! Kalau tidak berubah, lalu ngapain berdoa?
Sama juga, Paulus, Petrus, Yohanes, sudah mendoakan Bait Suci, lalu berubah atau tidak? Kagak. Sampai akhirnya mereka benar-benar sudah mampus, Bait Suci tetap tidak berubah. Jadi percuma atau tidak? Percuma kalau kamu berdoa mengharap mereka berubah, tetapi tidak percuma kalau kamu berdoa mengharapkan, menantikan, Tuhan menggenapi kehendak-Nya di bumi seperti di surga. Itu tidak percuma, karena itu pasti terjadi, Tuhan memang menghendaki itu.
Tuhan menghendaki apa? Menghendaki bahwa beberapa –atau mungkin sebagian besar– dari umat Tuhan, atau umat yang menganggap diri umat Tuhan mewakili suara Tuhan, seperti para politiksi agama atau para agamis politis, kaum agamis/religius seperti anggota Sanhedrin yang memakai agama untuk kepentingan politik maupun kamu politisi yang menunggangi agama seperti Klaudius Lisias dan Pontius Pilatus, beberapa tidak berubah, tetap begitu-begitu saja, dan orang-orang fanatikus yang ingin membunuh Paulus tetap ingin membunuh dia, tetap menganiaya Kekristenan. Jadi percumakah berdoa? Tidak percuma. Ya, mereka tidak berubah, namun Tuhan memakai air mata umat-Nya, darah umat-Nya, untuk menggenapkan kehendak-Nya di bumi sebagaimana kehendak Tuhan dijalankan di surga. Itu yang kita baca juga di dalam Kisah Para Rasul 23 yang hari ini kita baca.
Kiranya ini menguatkan kita di jalan Tuhan, ketika kita berdoa, menangis, bahkan mungkin mencucurkan air mata dan darah di jalan Tuhan tetapi keadaan tidak berubah, karena keadaan tidak perlu berubah untuk Tuhan bekerja melaluinya, di dalamnya, menggenapkan kehendak-Nya.
Jadi apakah Saudara akan mengatakan Tuhan tidak digenapi kehendak-Nya melalui hal-hal ini dalam Kisah Para Rasul? Tentu tidak ‘kan. Saudara akan mengatakan, “Ya, Tuhan digenapi kehendak-Nya, juga melalui hal-hal ini.”
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading