Hari ini Hari Pentakosta, hari terakhir Musim Paskah dalam Kalender Gereja, hari kita mengingat dan merayakan pencurahan Roh Kudus.
Kenapa Pentakosta dan kebangkitan Yesus berada dalam satu musim yang sama dalam Kalender Gereja? Jawaban singkatnya, karena memang itulah peran Roh Kudus. Peran Roh Kudus bukanlah memberikan Ferrari ketika kita berdoa minta, bukan memberi kesembuhan setiap kali kita minta. Kita sebagai orang Reformed sudah tahu hal ini, namun kita sering kali menyempitkan Roh kudus hanya dalam urusan misalnya kebenaran, bahwa Dia Roh Kebenaran maka Dialah yang menginspirasi para penulis Alkitab. Tetapi tidak cuma itu; di dalam Alkitab kita melihat berkali-kali Roh Kudus tidak pernah tersembunyi perannya. Dia sudah hadir sejak ayat-ayat pertama Alkitab, Roh Allah melayang-layang di atas bumi yang tidak berbentuk dan kosong ditutup oleh samudra raya, yang bagi orang Yahudi melambangkan kekacauan, ketiadaan kehidupan. Saudara bayangkan laut yang dalam dan gelap, dengan ombak-ombaknya yang tinggi menghempas, itu bukanlah tempat yang bisa ada kehidupan ‘kan, tetapi begitu kalimat tadi muncul, maka ayat berikutnya dan berikutnya kita melihat kehidupan demi kehidupan muncul dari tempat yang tadinya tidak mendukung kehidupan. Di pasal berikutnya kita melihat Allah menghembuskan napas-Nya (napas, roh, angin, dalam Ibrani punya satu istilah yang sama, ruah) kepada seonggok tanah liat, lalu tanah liat itu jadi makhluk yang hidup. Dalam Perjanjian Baru, rahim Maria yang belum dibuahi tiba-tiba mengandung kehidupan, oleh naungan Roh Kudus.
Saudara lihat, Roh Allah dalam Alkitab memang bukan urusan memberi Ferrari, tetapi juga bukan cuma urusan sumber kebenaran. Roh Allah dalam Alkitab jelas sekali perannya, yaitu Ia adalah sumber kehidupan itu sendiri, the life giving spirit. Menariknya, Dia bukan simply bekerja dari nol, menciptakan yang tidak hidup jadi hidup, tetapi juga bahwa kehidupan itu datang dalam tempat-tempat yang paling gersang, paling kering, paling kacau, tempat-tempat yang tidak berbentuk dan kosong, tempat-tempat yang mandul, tempat-tempat yang kita tidak expect akan menemukan kehidupan –dan di situlah kita menemukan Roh Allah bekerja. Jadi sangatlah pas kita mengakhiri Musim Paskah, musim yang merayakan kebangkitan Yesus dari antara orang mati, dengan membicarakan mengenai Roh Allah yang membangkitkan umat Allah dari kematiannya. Itulah Pentakosta.
Hari ini kita mau melihat satu istilah yang keluar dari mulut Yesus, yang sangat jelas membicarakan bagaimana Roh Kudus bekerja untuk mendatangkan kehidupan yang baru dari tengah-tengah kematian, kebusukan, dan kekeringan manusia, yaitu istilah lahir baru. Inilah istilah yang dalam pasal yang sama ketika Yesus menyebutnya, Dia mengatakan inilah yang namanya dilahirkan oleh Roh. Ini istilah yang mungkin sangat familier, tetapi justru dalam hal-hal yang familier kita sering kali salah kaprah. Pertama, kita akan membahas apakah lahir baru itu; yang kedua, bagaimana kita dilahirbarukan; yang ketiga, apa dampaknya.
Pertama, Apa Artinya Lahir Baru
Berhubung istilah lahir baru ini istilah yang sudah familier, maka ketika Saudara ditanya apa itu lahir baru, seperti apa orang Kristen yang sudah benar-benar lahir baru, kita bukan terbingung-bingung, kita sudah ada semacam konsep yang eksisting mengenai seperti apa sih orang yang lahir baru. Bagi kita, ini sejenis orang Kristen yang misalnya pernah mengalami suatu pengalaman rohani tertentu, pertobatan yang emosional di hadapan Tuhan, menangis waktu maju ke depan dalam KKR sampai baju basah oleh air mata, dan semacam itu, lalu orang ini hidupnya berubah, sekarang jadi memiliki semacam keteraturan moral tertentu. Dulu hidupnya rusak, bergajulan, sampai akhirnya runtuh di bawah dosanya atau kecanduannya atau penyakitnya, namun akhirnya Tuhan memutarbalikkan hidupnya ini, dan ia sekarang bernyanyi, “Perubahan ajaib terjadi padaku … “, dst.
Contoh yang pas dengan stereotype ini yaitu seseorang bernama Russell Brand. Dia seorang komedian Inggris yang sekitar 1-2 tahun ini baru saja katanya lahir baru, lalu menerbitkan buku yang mengisahkan perjalanannya itu, bagaimana dia hidup hancur-hancuran sampai kemudian lahir baru. Saudara lihat polanya kayak begitu. Judul bukunya adalah How to Become a Christian in Seven Days*: May take 50 years of sin and serious f*ck ups to get started (bagaimana menjadi orang Kristen dalam tujuh hari, namun bisa jadi kamu butuh 50 tahun hidup dalam dosa dan kehancuran untuk actually mulai lahir baru).
Dalam hal ini saya tidak tertarik untuk memberi penilaian apakah pertobatan Russel Brand genuine atau tidak –itu bukan poinnya– poinnya adalah mau memperlihatkan kira-kira seperti inilah konsep lahir baru sebagaimana kita mengertinya, sebagaimana dunia mengertinya, yaitu orang yang hidupnya hancur, lalu mengalami semacam pengalaman emosional di hadapan Tuhan, dan berikutnya hidupnya mulai terpanggil untuk mengikuti suatu struktur moral tertentu, tiba-tiba jadi orang puritan-lah. Ini konsep yang ditantang habis-habisan oleh bagian yang kita baca dalam Injil Yohanes tadi, karena orang yang pertama di dalam Alkitab yang kepadanya Yesus mengatakan, “Engkau perlu lahir baru,” adalah Nikodemus. Dan, siapa itu Nikodemus? Waktu Yohanes memperkenalkan dia, kita bukan pertama-tama diberitahu namanya, melainkan dikatakan bahwa ia seorang Farisi, baru kemudian diberitahu namanya, Nikodemus, dan setelah itu dikatakan dia ini bagian dari Sanhedrin.
Nikodemus ini pemimpin orang Yahudi, bagian dari anggota konsili senat tertinggi agama Yahudi, yang juga memegang kuasa politik tertinggi, yang juga memegang kuasa hukum tertinggi pada waktu itu. Jadi, ini bukan tipe orang yang emosional kayaknya. Dia sudah tua, seorang pria, sukses (dalam arti memegang jabatan yang tinggi); dan pada zaman itu orang kayak begini bukan tipe orang yang meledak-ledak atau joget-joget di depan publik. Mereka tipe orang yang tenang, tidak impulsif, yang kalau ditanya akan berpikir dulu tidak langsung bicara, janggutnya panjang, elegan, berwibawa, tidak banyak gerakan yang percuma, selalu serius, dst. –dan dia seorang Farisi. Berarti, dia ini hidupnya sudah punya struktur moral, salah satu struktur moral yang paling strict sepanjang sejarah manusia dan bahkan mengagumkan banyak orang zaman tersebut. Ini adalah tipe orang yang kalau membayar barang bukanlah cari diskon, sebaliknya memberi ekstra 10% demi memastikan si penjual ada dana untuk bayar perpuluhan. Betapa sampai sebegitunya orang-orang Farisi ini. Dan, sebelum Saudara merasa orang Farisi itu selalu jahat, munafik, dsb., perhatikan bahwa gambaran Nikodemus di sini adalah sebagai orang Farisi yang justru terbuka terhadap Yesus. Nikodemus bukan bigot, dia datang kepada Yesus, meskipun dirinya lebih tua. Yesus, yang basically tidak ada gelar, tidak ada pengakuan akademisi –yang pada dasarnya the new kid on the block— yang belum spend bertahun-tahun membangun karier dari nol seperti Nikodemus, belum punya respek yang hanya bisa datang dari waktu, namun di sini Nikodemus-lah yang datang kepada Yesus dan memanggil dengan sebutan Rabi. Ini bukan istilah yang main-main. Bayangkan Pak Tong datang kepadamu, bukan tunggu engkau datang kepadanya, lalu menjabat tanganmu sambil menundukkan kepala dan mengatakan, “Guru”, itu ‘gak mungkin banget. Tetapi di bagian ini, kira-kira itulah yang terjadi. Lebih sinting lagi, kalau Saudara membaca Yohanes 3 ini in context, Saudara akan sadar di pasal sebelumnya baru saja Yesus mengobrak-abrik Bait Allah, berlaku as if Dia tuan tanah di situ, as if Bait Allah itu rumah bapaknya. Lalu apa respons Nokodemus melihat seorang rabi muda ‘gak jelas yang panasan ini, yang kayaknya belum bijaksana dalam bertindak ini? Dia mendatangi, mengajak-Nya berdialog, memulai percakapan dengan respek. Wow! Dan, apa respons Yesus kepada orang seperti ini? “Engkau harus lahir baru.”
Bagian ini dalam bahas aslinya memakai kata Ánōthen. Istilah Ánōthen ini double meaning, bisa berarti lahir lagi, bisa juga berarti lahir dari atas; dan di sini Yesus menggunakan istilah Ánōthen sepertinya dalam kedua maknanya, lahir lagi, lahir kembali, lahir baru, dan juga lahir dari atas. Maksudnya apa? Engkau, Nikodemus, harus dilahirkan kembali. Orang kayak kamu ini perlu reset dari nol, mulai lagi. Semua yang engkau capai selama ini ‘gak ngaruh, harus reset. Dan, engkau harus lahir dari atas –berarti engkau ini lahir dari bawah– engkau ini orang bawah, orang bumi, bukan orang surgawi. Saudara bayangkan, kalimat seperti itu datang kepada orang seperti Nikodemus.
Hal pertama yang Saudara lihat di sini, bahwa apapun artinya lahir baru, ini bukanlah panggilan untuk go traditional, ayo jadilah orang yang kembali ke kehidupan teratur dari kehidupan yang hancur, kembalilah kepada nilai-nilai moral keagamaan klasik. Bukan itu. Dari penggunaan Yesus di sini, kata lahir baru justru merupakan tantangan terhadap nilai-nilai keagamaan tradisional, tantangan terhadap Yudaisme, karena itulah yang Nikodemus wakili. Tentu saja kalau hidupmu hancur dan rusak, engkau perlu dilahirkan kembali, engkau bisa dilahirkan kembali; tetapi kalau pun hidupmu baik, utuh, sukses, engkau juga harus dilahirkan kembali, engkau butuh kelahiran kembali. Kelahiran kembali adalah untuk semua orang, bukan cuma tipe-tipe tertentu.
Membicarakan tentang siapa yang Yesus undang untuk mengalami kelahiran baru di sini, langsung meruntuhkan konsep/stereotype yang selama ini ada di kepala kita mengenai apa artinya lahir baru. Kita baru sadar, selama ini kita pikir kelahiran baru itu ujung-ujungnya cuma mengenai perubahan perilaku, saya akan berhenti melakukan ini, saya akan mulai melakukan itu. Ini konsep yang salah, tidak alkitabiah; paling tidak, ini konsep yang tidak utuh. Kelahiran baru pasti akan menghasilkan perubahan perilaku (kita akan lihat ini di belakang nanti), tetapi kelahiran baru secara esensi sangat melampaui sekadar perubahan perilaku. Kalau begitu, apa dong kelahiran baru itu? Sesuai namanya, kelahiran baru adalah kelahiran baru, kelahiran baru adalah datangnya/ditanamnya kehidupan yang baru. Kita lihat ini dalam bagian yang berikutnya.
Ayat 5, Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah.” Sebelumnya Yesus mengatakan, “Engkau harus lahir baru, Nikodemus.” Nikodemus membalas, “Bagaimana mungkin orang bisa masuk ke rahim ibunya lagi?” Nikodemus tidak mengerti maksud Yesus, maka Yesus melanjutkan dengan mengatakan ayat 5 tadi. Di sini kita merasa ini dua orang kayaknya ‘gak nyambung; Yesus mengatakan sesuatu, Nikodemus ‘gak ngerti, lalu Yesus mengatakan sesuatu lagi yang malah lebih membingungkan. Namun tidak demikian; dalam kalimat kedua ini Yesus sedang menggunakan metafora yang justru Nikodemus lebih mengerti. Jadi ini sangat nyambung, karena istilah air dan Roh adalah istilah yang semua pengajar Taurat –dan Nikodemus salah satunya– pasti langsung mengerti apa maksudnya.
Air dan Roh, jangan ditangkap sebagai dua hal yang berbeda. Ini sebenarnya dua cara yang berbeda untuk mengungkapkan satu hal yang sama, demikian cara orang Yahudi berkomunikasi, yaitu dengan paralelisme. Untuk mengutarakan satu hal, mereka tidak cari satu istilah yang paling cocok, mereka cari beberapa istilah, karena mereka suka melihat dengan dua mata. Dua mata menghasilkan gambar yang sedikit berbeda karena sudutnya berbeda, namun malah menghasilkan kedalaman. Itulah orang Yahudi. Yesus pun demikian. Jadi ketika Yesus mengatakan air dan Roh, ini bukan dua hal yang berbeda, ini satu hal yang sama yang dilihat dengan dua cara berbeda. Yang seperti ini sering sekali muncul dalam Perjanjian Lama.
Saya kutip beberapa ayat; pertama dari Yes. 44:3, “Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu.” Ini paralelisme, ini bukan bicara dua hal yang berbeda; Yesaya pakai dua kalimat berbeda untuk satu hal yang sama. Roh Allah yang dicurahkan itu, adalah seperti air dan hujan lebat; sementara keturunanmu dan anak cucumu adalah tanah yang haus dan tempat yang kering. Ini paralelisme; lewat dua kalimat, kita langsung lebih mengerti maksudnya. Lalu dari Yeh. 36, “Aku akan mencurahkan kepadamu air jernih, yang akan mentahirkan kamu; dari segala kenajisanmu dan dari semua berhala-berhalamu Aku akan mentahirkan kamu. … Roh-Ku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada peraturan-peraturan-Ku dan melakukannya.” Saudara lihat di sini, air dan Roh.
Jadi, Yesus bukan membalas kebingungan Nikodemus dengan sesuatu yang lebih membingungkan, melainkan yang lebih menjelaskan, karena Nikodemus tahu dan hafal Alkitab. Yesus menggunakan konsep serta kosakata yang Nikodemus tahu/familier, bahwa kelahiran baru tidaklah kurang dari apa yang Perjanjian Lama sejak dulu gambarkan sebagai janji Kerajaan Allah yang akan datang. Yesaya dan Yehezkiel bicara mengenai itu, Nikodemus sudah tahulah. Orang-orang Yahudi dalam pembuangan, itu keadaan yang pada dasarnya mereka mati karena mereka dicabut akarnya, ditaruh di tempat yang tidak hospitable, yang dalam satu dua generasi akan melahapnya secara budaya, ekonomi, politik, dsb. Mereka sedang dying. Itu sebabnya gambaran kematian dalam iklim Timur Tengah yang kering dan panas adalah tanah yang haus, tandus, padang gurun, padang belantara. Dengan demikian, apa gambaran kehidupan? Apa yang bisa menghidupkan tanah kering seperti itu? Air, hujan. Nah, itulah Roh Allah, pemberi kehidupan.
Maju lagi ke Yeh. 37, satu bagian yang paling terkenal dari kitab Yehezkiel, nubuatan mengenai tulang-tulang yang kering habis-habisan di lembah. Singkat cerita, tulang-tulang ini kembali hidup oleh karena angin dari Tuhan datang bertiup. Sekali lagi, angin, napas, roh, semuanya satu istilah dalam bahasa Ibrani, ruah. Ruah, Roh Allah, menghidupkan mereka. Roh Allah seperti air.
Saudara, inilah sebabnya kita membahas kelahiran baru dalam Pentakosta. Ini adalah caranya Roh Allah, Roh Kudus, membangkitkan kita dari kematian kita, yaitu dengan kelahiran yang baru, new life, re-generation. Jadi, apapun kelahiran baru, ini bukan sekadar perubahan perilaku; dan ini sebabnya kelahiran baru juga berlaku pada Nikodemus, tidak cuma pada perempuan Samaria atau Russel Brand atau siapa pun. Kelahiran baru tidak kurang dari hadirnya kehidupan yang baru.
Saudara bayangkan Nikodemus, orang Farisi yang saleh. Seperti banyak orang saleh lainnya, dia pasti sadar dirinya tidak sempurna. Dia akan sangat gampang mengakui, “Oh, saya tidak sempurna”, namun coba bayangkan apa kalimat berikutnya? “Saya tidak sempurna, jadi saya butuh pertolongan Tuhan; saya butuh sesuatu yang Tuhan bawa ke dalam hidupku sehingga hidupku yang tidak sempurna ini boleh disempurnakan.” Bukankah begitu? Salah. Yesus mengatakan, “Tidak kayak begitu, Nikodemus. Engkau bukan butuh tambahan, suplemen, vitamin; engkau butuh a whole new life! Engkau butuh tidak kurang dari kehidupan yang baru, lahir baru. Engkau perlu menjadi seorang yang baru. Bukan sekadar tambah, tetapi diubah.” Bukan simply tambah bijaksana, tambah sabar, tambah ini dan itu –seperti yang kita biasa katakan– tetapi engkau perlu diubah.
Analoginya seperti ini. Misalnya Saudara menanam pohon semangka; dan karena Saudara tidak rajin menyiram, pohonnya tidak berbuah. Suatu hari Saudara kepingin makan jeruk, lalu sejak itu Saudara mulai rajin menyirami pohon semangkamu, memberi pupuk, merapikan dahan-dahannya, memberikan cukup sinar matahari, membasmi hamanya, memberi pagar, dst. In the end, apakah pohon ini menghasilkan jeruk? Ya, tidaklah. Kalau Saudara mau jeruk, engkau butuh akar yang baru, benih yang baru. Engkau butuh a whole new life, engkau harus dilahirkan kembali. Dan, inilah sesungguhnya pekerjaan Roh Kudus dalam hidup orang-orang percaya. Sadarkah Saudara? Kedengarannya impossible? Ya, impossible memang arena sepak terjang Roh Kudus sejak awal, menciptakan kehidupan di tengah-tengah situasi kondisi yang justru mematikan –kehidupan dari kematian. Jadi, why would you expect anything less dari Roh Allah? Itulah kelahiran baru, tidak kurang dari ditanamnya/datangnya bibit yang baru, akar yang baru –datangnya hidup yang baru. Bukan sekadar improvement dari yang lama.
“Jadi kelihatannya kayak apa, Pak?” Dalam hal ini kita hanya ada waktu untuk bahas satu aspek, namun saya rasa ini aspek yang paling mendasar. Kita akan fokus pada satu hal ini, bahwa lahir baru kelihatannya seperti identitas yang baru.
Siapa engkau selama ini? Di atas apa engkau membangun identitasmu selama ini? Dalam hal ini ada kesaksian dari seorang wanita yang menceritakan peristiwa kelahiran barunya, cerita yang sangat menarik. Biasanya orang menceritakan kelahiran barunya sebagai yang dulu versus yang sekarang, pola klasik; dan wanita ini mengikuti pola yang sama. Menariknya, karena bagian yang dulu itu ada beberapa tahap, actually empat tahap.
Tahap pertama dalam hidupnya adalah ketika dia masih seorang anak kecil. Dia lahir dalam keluarga Kristen, maka dia merasa: Di kalangan ini, saya baru jadi orang ketika saya jadi orang baik; saya baru dapat identitas ketika saya bermoral. Guru Sekolah Minggu mengajarkan saya tiap minggu bolak balik, “Nurut orangtua ya, nurut Firman Tuhan ya, nurut orangtua ya, nurut Firman Tuhan ya, … “, maka itulah saya. Saya jadi seseorang di kalangan ini, saya punya identitas, adalah ketika saya bermoral. Tentu saja ini membuatnya jadi seorang gadis yang sangat penurut, namun tentunya juga jadi seorang yang sangat tidak tahan dan gampang marah ketika melihat adik-adiknya yang bandel.
Tahap yang kedua, dia tumbuh jadi seorang pemudi. Dalam momen ini, saya mulai membangun identitas saya di atas sesuatu yang lain. Mulai ada narasi baru yang masuk ke dalam hidupnya, yaitu: Saya baru jadi somebody ketika ada orang lain yang mencintai saya. Ingat lagu jadul tahun 40-an, You’re nobody, ‘til Somebody Loves You. Inilah periode di mana wanita tersebut berpikir: Kalau saja ada yang mengasihiku, kalau aku bisa menemukan pria yang baik, dan tepat, dan sayang kepadaku –dan pintar, dan kaya, dan seterusnya– maka hidupku aman. Dan, ini tentu saja membuat dia akhirnya menyadari betapa gara-gara konsep identitas yang seperti ini, dia sering kali mempertahankan relasi pacaran dengan cowok-cowok yang ‘gak bener, karena takut mengalami kesendirian, karena: Siapa saya kalau tidak ada yang mengasihi saya?? Kalau tidak ada yang mau sama saya, kayaknya ada something wrong pada saya.
Tahap yang ketiga, dia bertumbuh menjadi seorang wanita dewasa. Orang-orang sekitarnya mengatakan, “Lu jangan kayak begitu; jadi wanita jangan bangun identitas ddi atas para pria! Engkau harus bisa mencari dan membangun jati dirimu sendiri, sebagai wanita yang independen!” Dan, sebagaimana biasa, ini berarti dia mulai memfokuskan dirinya pada karier, kesuksesan, naik tangga jabatan, mengumpulkan pencapaian-pencapaian. Itulah jati dirinya sekarang. Dan, tentu saja pada ujungnya ini membuat dia sadar, bahwa dia kayaknya mengulangi pola yang sama dari kehidupan asmaranya yang sebelumnya itu terhadap kehidupan kariernya sekarang. Dia mulai mempertahankan pekerjaan-pekerjaan yang harusnya dia berhenti, yang sebenarnya bikin burnout, yang tidak benar-benar fulfilling, yang tidak cocok dengan talenta dan panggilannya, yang membuat dia tersita waktu begitu banyak dari relasi-relasi penting dalam kehidupannya, hanya karena karier ini menjanjikan kesuksesan via uang dan jabatan. Dia pun menemukan pola yang sama, bahwa ketika datang halangan dalam kariernya, itu menghancurkan jiwanya sama seperti dulu ketika halangan dalam asmara menghancurkan jiwanya.
Tahap yang keempat, dia tumbuh lagi menjadi wanita setengah baya; dan orang-orang mengatakan kepadanya: Yang penting bukan moralitas, yang penting bukan cinta, yang penting bukan karier atau uang atau jabatan, yang penting orang tahu siapa dirimu dari karaktermu. Engkau perlu jadi seorang yang baik, yang helpful, yang menolong orang lain, yang bekerja bagi kebaikan masyarakat dan orang-orang sekitarmu. Jadi mulailah dia melemparkan dirinya pada pekerjaan-pekerjaan volunter. Dia menjadi konselor di gereja, mendengarkan orang-orang yang datang kepadanya –dan ujungnya dia exhausted. Dia mulai merasa benci pada dirinya karena harusnya mengasihi orang-orang tersebut tetapi rasanya tidak mampu, bertemu mereka rasanya menyiksa.
Menarik, ya, kesaksian wanita ini, karena inilah kita. Kita membangun identitas kita dari hal-hal seperti ini sepanjang hidup kita. Bisa saja lain-lain, bisa ganti-ganti, namun itulah diri kita. Wanita ini mulai dengan saya ini somebody ketika saya bermoral, menurut, taat. Atau, saya ini somebody ketika saya cantik dan dikejar-kejar banyak pria. Atau, saya ini somebody ketika saya sukses dan punya uang banyak. Atau, saya ini somebody ketika saya membantu orang lain. Dan, apa akhirnya yang dia sadari setelah melewati empat tahap ini? Dia baru sadar, dia sedang berusaha jadi juruselamat bagi dirinya sendiri, saya adalah saya, saya menjadi somebody, adalah ketika saya … . Dan, ampun, ini ternyata beban yang terlalu berat, yang tidak ada manusia sanggup menanggungnya.
Pada akhirnya barulah dia sadar bahwa yang dia perlu lakukan bukanlah menggapai melainkan menerima; menerima bahwa Jesus loves me; dan ini bukan karena me, melainkan karena Jesus. Dan, ini mengubah segala sesuatu. Agak sulit untuk point out apanya yang berubah, karena sama seperti Paskah mengubah segala sesuatu, kelahiran baru pun mengubah segala sesuatu.
Ini mengubah moralitas, bukan lagi jadi tangga pencapaian diri, tetapi standar untuk berbuat baik kepada orang lain. Ini mengubah cinta, kasih, romansa, bukan lagi menjadi dasar untuk tahu siapa diri saya dan mencari kasih untuk diri sendiri, melainkan untuk saya benar-benar mengenal dan mengasihi orang lain. Ini mengubah karier dan uang, bukan lagi jadi sesuatu yang untuk dikumpulkan dan ditimbun karena harga diriku naik seiring naiknya rekening bank-ku, melainkan jadi sesuatu yang dikumpulkan lalu diberikan kepada orang lain. Ini mengubah momen-momen melayani orang lain, menjadi bukan lagi mengenai dirinya dan seberapa dirinya dilihat di mata Tuhan, melainkan mengenai orang lain dan seberapa orang lain dilihat di mata Tuhan. Inilah kelahiran baru, akar yang baru, menjadi manusia yang baru, hidup yang baru. Tidak kurang dari ini.
Waktu kita mulai menyadari inilah kelahiran baru, saya rasa kita baru sadar bahwa salah satu yang paling menkhawatirkan dalam hidup orang Kristen adalah ketika kita datang ke gereja, menjadi orang Kristen, tetapi kita sering kali meremehkan seberapa radikalnya, seberapa barunya, yang namanya hidup baru jadi orang Kristen. Misalnya, ketika orang mengatakan, “Saya mau jadi orang Kristen, tetapi … ; masih bisa ini ‘gak, masih bisa itu ‘gak?” Adakalanya kita bisa jawab, “Tenang sajalah, masih bisa koq … , pendetamu juga gowes setiap pagi, ‘gak masalah ada hobi seperti itu. No problem.” Namun Saudara tentu tahu problem di balik pertanyaan-pertanyaan seperti ini. Orang-orang ini ‘gak nyadar seberapa baru dan radikal-nya menjadi orang Kristen. Saking baru-nya, kita ‘gak kebayang.
Menjadi orang Kristen itu seperti menikah –dan memang metaforanya menikah dengan Kristrus. Satu hal menarik, ketika saya berhadapan dengan pasangan yang mau menikah, satu hal yang paling sulit dalam mempersiapkan mereka yaitu pada umumnya mereka merasa tidak mampu, bahkan tidak sanggup membayangkan seperti apa hidup pernikahan itu, karena itu adalah suatu hidup yang baru. Ada keberadaan orang yang lain, sekarang jadi dua, bukan cuma satu –ada hidup yang baru– dan mereka tidak kebayang akan kayak apa nantinya. Dan, entah berapa banyak dari pasangan-pasangan itu yang setelah menikah lalu datang kepada saya, mengatakan, “Beneran banget yang Pak Jethro ngomong … dulu kami cuma angguk-angguk, sekarang baru sadar apa yang Bapak ngomong, baru sadar saya bisa kayak begitu terhadap dia, dan dia bisa kayak begitu terhadap saya … sebelum nikah ‘gak kebayang sama sekali.”
Saudara, itulah juga lahir baru. Menjadi orang Kristen adalah kayak begitu, maka satu-satunya yang harus engkau antisipasi sebelum jadi orang Kristen, adalah bahwa engkau tidak bisa mengantisipasi/membayangkan kayak apa menjadi orang Kristen. Itu sebabnya Tuhan Yesus melanjutkan dengan mengatakan, “Angin bertiup ke mana ia mau, dan engkau mendengar bunyinya, tetapi engkau tidak tahu dari mana ia datang atau ke mana ia pergi. Demikianlah halnya dengan tiap-tiap orang yang lahir dari Roh.” It’s totally new, jangan remehkan seberapa barunya, seberapa lainnya kehidupan Kristiani. Engkau tidak bisa menerkanya, sama seperti engkau tidak bisa menerka angin. Sadarkah engkau akan hal ini?
Di sini kita bisa menarik sedikit aplikasi sebelum masuk bagian berikutnya. Jika Saudara menyadari bahwa kehidupan baru Kristiani merupakan kehidupan yang kita tidak mungkin bisa mengantisipasinya, sesuatu yang kita tidak mampu membayangkannya, maka berarti menjadi orang Kristen mau tidak mau harus belajar submit. Engkau harus belajar menundukkan diri. I’m sorry, saya sama tidak sukanya terhadap submission, sama seperti Saudara-saudara, namun inilah implikasi logisnya. Menjadi orang Kristen, karena engkau tidak mampu membayangkan dan menerka apa yang akan datang, maka engkau harus belajar merelatifkan hasratmu, konsepmu, bayanganmu, asumsimu selama ini. Kalau tidak, ‘gak bakal jalan. Bayangkan ilustrasi pernikahan tadi, dua orang yang mau menikah itu terutama harus berani memberikan ruang bahwa bayangan dan mimpi mereka akan pernikahan bisa salah, bahwa mereka tidak mungkin membayangkan kayak apa pernikahan yang riil sampai mengalaminya sendiri. Ada hal-hal yang akan terjadi yang mereka tidak terpikir bisa terjadi. Mereka harus berani memberi ruang untuk hal itu, karena kalau masing-masing tidak siap akan hal ini, maka setelah 1 bulan, 2 bulan, 3 bulan, setahun, 3 tahun, kalimat yang akan keluar adalah: “Koq, begini, sih!! Dulu aku pikir … harusnya ‘kan … .” Saudara lihat, ini ‘gak jalan ‘kan.
Okelah Saudara setuju bahwa pernikahan bisa salah anggapan, salah asumsi, salah bayangan; dan kalau tidak, tidak ada jalan keluar, tidak ada jalan maju. Sekarang kita ambil kasus dalam kehidupan Gereja. Engkau datang ke gereja ini, lalu pengkhotbahnya berkhotbah yang engkau ‘gak ngerti, engkau rasa membosankan dan ngalor-ngidul bikin engkau ingin tidur, lalu apakah ini berarti engkau boleh pindah ke gereja lain sementara saja? “Tidak permanen, koq, Pak, hanya ketika Pengkhotbah yang itu yang berkhotbah saja saya pindah ke cabang lain yang saya bisa terima khotbahnya.” Ini realitas di gereja kita, setiap kali saya tidak berkhotbah, ada sejumlah orang yang jumlahnya cukup untuk bikin satu MRII, hilang entah ke mana. Dan, kenapa ini rasanya sesuatu yang oke untuk dilakukan? “Ya, iyalah, Pak, kita ‘kan datang ke gereja untuk dibangun, untuk dapat firman Tuhan. Apalagi saya punya anak-anak; setiap kali Pengkhotbah itu yang berkhotbah, anak-anak ‘gak ngerti khotbahnya, sayang ‘kan Pak, akhirnya mereka main HP, dsb., akhirnya mereka menghina firman Tuhan, nanti mereka jadi anti-Gereja, bla … bla … bla … ; jadi, mau bagaimana lagi, Pak, setiap kali Pengkhotbah itu yang khotbah, saya pindah ke tempat lain, yang penting ‘kan saya tetap ke gereja.” Ada begitu banyak alasan; sudah begitu, pakai alasan soal anak-anak.
Oke, Saudara, let’s talk about children sekarang. Jadi maksudnya Saudara mau ajarkan apa ke anak-anakmu? Saudara mau ajarkan kepada anak-anakmu bahwa Gereja adalah tempat yang engkau stay kalau engkau bisa dapat sesuatu, dan kalau engkau tidak mendapatkannya dari Gereja itu, maka engkau bebas cari Gereja lain; itukah yang engkau ingin ajarkan kepada anak-anakmu? Kita cari Gereja lain yang pengkhotbahnya lebih oke, maka anak-anakmu akan belajar lewat liturgi ini, minggu demi minggu, bulan demi bulan, tahun demi tahun, bahwa Gereja adalah tempat di mana kita datang untuk mendapat; dan kalau saya tidak merasa dapat, maka saya bebas cari tempat lain, yang penting saya masih ke gereja. Itukah yang engkau ingin ajarkan kepada anak-anakmu, bahwa Gereja bukan keluarga Allah tetapi mal-nya Allah, jadi kalau mal yang ini ‘gak enak, yuk, cari mal yang lain? Keluarga tidak bisa kayak begini ‘kan. Kalau keluargamu tidak ada program pemuda yang bagus, engkau tidak pergi cari keluarga lain, yang penting ‘kan saya berkeluarga, pindah ke tetangga sebentarlah ‘gak apa-apa dong; tidak begitu ‘kan. Yang mana yang engkau mau ajarkan kepada anak-anakmu? Konsep Gereja yang mana?
Saudara, inilah implikasinya kelahiran baru. Kalau engkau mau berada dalam Gereja sebagai orang yang lahir baru, engkau perlu sadar bahwa asumsimu bisa salah. Bahwa apa yang engkau anggap benar, mungkin tidak benar. Bahwa apa yang engkau anggap boring, menyebalkan, tidak masuk akal, dan segala macam, bisa jadi tangan Tuhan untuk membentuk engkau menjadi warga Gereja yang sejati, lebih sejati daripada ketika engkau setiap minggu dengar khotbah yang selalu bagus menurutmu. Pertanyaannya, engkau terbuka akan kemungkinan ini, atau tidak? Terbukakah engkau akan kemungkinan Allah bekerja seperti ini, atau tidak? Bahwa ada cara kerja yang engkau tidak pernah pikir sebelumnya, bahwa di Gereja Roh Allah bisa bekerja mendatangkan kehidupan dari tempat-tempat yang engkau lihat paling mandul. Kalau tidak bisa, engkau sedang meremehkan seberapa barunya kehidupan Kristiani, karena kehidupan Kristiani bukanlah suplemen, bukan tambahan. Engkau tidak datang ke sini untuk ditambah, engkau tidak datang ke sini untuk diubah. Itulah kelahiran baru. Mengerikan, ya.
Kedua, Bagaimana Saya Dilahirkan Baru
Saudara bertanya, “Oke, itu tadi kelahiran baru, jauh lebih dalam dan lebih mendasar daripada apa yang saya pikir selama ini; sekarang bagaimana caranya saya bisa jadi orang yang lahir baru seperti itu?” Pertanyaan seperti ini bukan trick question, Saudara, ini wrong question. Alasannya Tuhan Yesus memakai kelahiran baru, adalah karena ini metafora yang benar-benar tepat, orang tentu tidak bertanya bagaimana caranya saya bisa lahir. Pertanyaan seperti itu aneh, wrong question, karena Saudara tidak melahirkan dirimu sendiri, Saudara dilahirkan.
Saudara tidak pernah memilih untuk dilahirkan, meski bukan berarti Saudara jadi pasif. Karena Saudara dilahirkan, maka Saudara jadi punya segudang tanggung jawab. Kelahiran justru membuatmu jadi aktif, bukan pasif. Dalam Teologi, kita membedakan antara kelahiran baru dan pertobatan. Pertobatan adalah sesuatu yang kita lakukan, porsi kita, dalam anugerah Allah; sedangkan kelahiran baru itu murni merupakan apa yang Allah lakukan, dalam anugerah Allah juga. Dua-duanya anugerah Allah, yang satu kita yang lakukan, dalam anugerah Allah; yang satu lagi Allah yang lakukan, dalam anugerah Allah. Dan, inilah kuncinya: pertobatan datang setelah kelahiran baru. Saudara tidak bertobat dulu, dan kemudian lahir baru. Semua tulisan Teologi Reformed yang membahas kelahiran baru dan pertobatan, semua mengatakan yang sama, bahwa kelahiran baru datang duluan, kelahiran baru yang memungkinkan kita bisa bertobat. Ini logis, karena kalau tidak lahir, tidak bisa ngapa-ngapain. Namun ini bukan berarti kita tidak ada bagiannya. Bagian kita adalah mengenali dan menyadari bahwa ada Seseorang yang telah bersalin bagi kita, yang telah maju menembus penderitaan dan kesakitan sehingga kita bisa terlahir. Jadi, apa respons kita yang tepat terhadap kelahiran baru ini? Inilah yang akan kita coba explore.
“Oke, Pak, jadi jangan tanya bagaimana dilahirbarukan, karena itu pertanyaan konyol; yang saya ingin tahu sebenarnya ini: bagaimana saya bisa tahu bahwa saya sudah benar-benar lahir baru? Ini penting, karena tadi Bapak bilang lahir baru dulu baru pertobatan, jadi kalau saya tidak dilahirbarukan, tidak ada gunanya dong saya melakukan semua itu. Jadi, sebelum bicara respons, yakinkan saya dulu, Pak, bahwa saya sudah lahir baru. Dari mana saya bisa tahu bahwa saya sudah lahir baru?” Kita akan coba jawab.
Bagaimana kita tahu kita sudah dilahirkan kembali, dilahirkan oleh air dan Roh, dilahirkan dari atas? Dalam hal ini, bagaimana Saudara tahu kalau Saudara sudah dilahirkan, bagaimana Saudara tahu bahwa Saudara sudah lahir? Yaitu karena Saudara hidup. Kalau Saudara tanya ‘bagaimana saya bisa lahir’, berarti Saudara sudah lahir, berarti engkau hidup, karena hanya orang hidup yang bisa tanya kenapa dia hidup. Jadi, kalau engkau mau tahu apakah engkau sudah dilahirkan oleh Roh Allah atau tidak, engkau perlu melihat apakah hidupmu ada tanda-tanda kehidupan oleh Roh, atau tidak. Ini bukan urusan perubahan perilaku, juga jangan cari tanda-tanda pengalaman-pengalaman emosional di hadapan Tuhan yang tertentu, karena semua orang lahir dengan cara-cara yang berbeda, ada yang natural, ada yang caesar, ada yang kelamaan, dsb. Dan, salah satu tanda kehidupan yang datang oleh Roh adalah adanya pertobatan.
Bukan karena kita bertobat maka kita lahir baru, melainkan kalau kita lahir baru, kita bertobat. Itulah tanda-tanda kehidupan yang datang dari Roh. Itulah tanda kehidupan yang baru yang datang dari atas. Dengan demikian, apa itu pertobatan? Kembali ke kisah kesaksian wanita tadi. Ini wanita yang bertobat, karena dia bukan cuma sadar akan dosa-dosanya, dia sadar adanya dosa di bawah dosa tersebut. Dia bukan cuma sadar bahwa dia mengejar moralitas makanya gampang marah dengan orang lain yang dia anggap kurang bermoral. Dia bukan cuma sadar bahwa dia haus kasih sayang maka membiarkan diri di-abuse mereka. Dia bukan cuma sadar dirinya workaholic makanya dia mengabaikan relasi demi uang. Dia bukan cuma sadar pelayanannya itu ujungnya melayani diri. Bukan cuma sadar itu semua, tetapi sadar akan dosa di bawah semua dosa tersebut, bahwa semua hal tadi cuma fenomena dan lewat semua hal itu kita telah menjadi juruselamat bagi diri sendiri, kita sedang berusaha menggantikan Allah mengambil kemudi hidup bagi diri kita sendiri. Itulah dosa di bawah dosa. Pernahkan kesadaran seperti ini terjadi dalam hidupmu, bahwa sama seperti wanita tadi, engkau mulai menyadari bukan cuma kesalahan-kesalahanmu selama ini yang kain kotor di hadapan Tuhan, tetapi bahkan juga kebaikan-kebaikanmu?
Hal-hal yang kau lakukan demi mencapai status, harga diri, identitas, itu semua adalah kain-kain kotor di hadapan Tuhan yang kau pakai untuk menggantikan posisi Tuhan dalam hidupmu, yang kau pakai untuk menambal kemaluanmu; dan itulah yang akhirnya merusak dirimu dan orang-orang di sekitarmu. Moralitas tentu hal yang baik, namun ternyata menggapai identitas lewat moralitas membuatmu jadi self-righteous dan over judgemental. Kasih adalah hal yang baik, namun menggapai identitas melalui kasih, membuatmu bukan mengasihi orang tetapi malah haus kasih sayang, akhirnya merelakan dirimu di-abuse, dan in some sense meng-abuse kasih orang kepadamu. Karier, pencapaian, uang, power, itu semua hal yang baik pada dirinya sendiri, namun menggapai identitas melalui semua itu, membuatmu bukan berkuasa untuk menghidupkan orang lain tetapi malah menginjak kehidupan orang lain demi dirimu sendiri, membuatmu mengambil tindakan-tindakan demi profit, keuntungan, status, yang akhirnya merugikan orang lain, masyarakat maupun lingkungan. Pelayanan juga hal yang baik, namun menggapai identitas lewat pelayanan pada akhrinya membuatmu melayani dirimu sendiri. Dan, momen engkau akhirnya menyadari dosa di bawah dosa ini –ya, ampun, ternyata bukan cuma kesalahan-kesalahanku yang aku perlu bertobat, tetapi juga aku perlu bertobat dari kebaikan-kebaikanku selama ini; yang aku anggap kebaikan ternyata cuma kain kotor di hadapan Tuhan karena aku menggunakan/memperalat semua kebaikan ini untuk mengusir Allah dari hidupku—ketika engkau menyadari hal ini, itu rasanya seperti kematian!
Ya, ampun, ternyata dengan mengajak anak-anakku pindah gereja demi dapat khotbah yang bagus, malah menjadikan mereka religious consumers! Hasratku untuk menggapai firman Tuhan lewat caraku sendiri, lewat konsepku mengenai apa yang baik dan apa yang tidak, pada akhirnya malah membuatku makin jauh dari rencana Tuhan bagiku! Momen Saudara sadar hal ini, rasanya kayak mati; and yet yang rasanya kayak kematian ini adalah denyut nadi pertama tanda kehidupan yang datang dari Allah, karena belakangan Yesus mengatakan peran Roh Kebenaran adalah meyakinkan orang akan DOSA mereka, dosa di bawah dosa-dosa yang di permukaan, dosa menggantikan Allah dengan something else. Momen engkau menyadari hal itu, rasanya kayak mati.
Indeed kelahiran bayi adalah metafora yang tepat –betapa Yesus Guru yang luar biasa– karena waktu bayi lahir, I think dalam persepsi mereka yang terbatas, itu rasanya kayak mati. Saya baru punya dua anak, saya tidak tahu mungkin anak yang ke-10 ketika lahir akan senyumkah?? Tetapi kayaknya tidak. Bayi-bayi itu tidak ada yang senyum waktu lahir, tidak ada yang kayak dalam kartu ucapan, foto bayi yang sudah dibungkus, sudah bersih, senyum, tidur dengan pulas. Tidak ada itu semua. Dilahirkan, itu rasanya kayak mati. Dilahirkan, itu traumatis sekali karena dipindahkan dari tempat yang sudah enak-enak dengan suplai oksigen dan makanan yang tidak pernah berhenti, tidak perlu kunyah, tidak perlu tarik napas, tidak perlu gerakkan paru-paru, dsb., lalu tiba-tiba harus keluar ke tempat yang begitu dingin, pertama kalinya merasakan angin menerpa, tidak tahu apa-apa, mata tidak bisa dibuka, dan dipaksa menghirup udara pertama kali, melewati tenggorokan dan mengembangkan paru-paru untuk pertama kalinya, yang tidak pernah mereka gunakan sebelumnya. Kita tidak kebayang perasaan kayak begini, puji Tuhan tidak seorang pun yang ingat hal ini, karena ini momen yang amat sangat traumatis!
Kayaknya inilah sebabnya Tuhan Yesus menggunakan metafora ini bagi kelahiran baru kita, keselamatan kita. Inilah gambaran yang lebih riil/sejati akan keselamatan macam apa yang Tuhan bawa dalam hidup kita. Jauh banget dengan gambaran banyak orang mengenai pengalaman lahir baru. Ini pengalaman yang tarumatis, pengalaman yang rasanya kayak kematian, tetapi juga pengalaman yang tidak kurang dari denyut pertama kehidupan yang baru, kehidupan yang dari atas, kehidupan yang oleh Roh! Pernahkah ada denyut ini dalam hidupmu, Saudara? Mungkin sudah pernah. Mungkin belum pernah. Mungkin sekarang ini Roh Kudus sedang mulai membuatmu menyadarinya. Mungkin nanti malam engkau perlu ambil waktu sendirian merenungkan hal ini. Mungkin engkau perlu tanya istrimu atau suamimu, apa berhalamu selama ini. Karena inilah tanda-tanda kehidupan yang Roh Allah bawa kepada umat Allah.
Namun demikian, ini baru sisi pertama. Denyut jantung selalu dua, bok buk, bok buk, … . Ada denyut yang satu lagi yang perlu dipegang bersamaan. Kita bukan cuma perlu menyadari apa yang selama ini kita lakukan di hadapan Allah, kita perlu melihat apa yang Kristus lakukan bagi kita, di hadapan Allah.
Kelahiran, berarti ada sesuatu yang orang lain kerjakan bagi kita. Di ayat 9 Nikodemus bertanya, “Bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi?” Yesus menjawab dengan mengutip kisah Perjanjian Lama yang lain, mengenai Musa meninggikan ular di padang gurun, yang somehow membawa keselamatan bagi orang Israel yang karena dosanya mereka dipagut ular. Mereka selamat dari gigitan ular kalau mereka melihat kepada satu pahatan ular (yang ceritanya ‘kan ada problemnya sendiri, Alkitab aneh, ya –lahir baru– memang aneh, jadi what do tou expect?) Yesus lalu mengatakan Anak Manusia akan ditinggikan seperti ularnya Musa itu. Peristiwa apa dalam Injil Yohanes di mana Yesus ditinggikan seperti ular tersebut? Salib. Jadi yang Yesus mau katakan adalah: engkau jangan cuma lihat kepada dirimu dan dosa-dosamu, lihatlah kepada-Ku, Akulah yang melahirbarukanmu, Akulah yang menembus sakit dan penderitaan dan menanggungmu; oleh karena itulah engkau boleh mendapat kehidupan. Inilah denyut nadi yang kedua yang perlu datang bersamaan.
“Pak, jadi Yesus itu jadi kayak semacam ibu kita??” Supaya Saudara yakin saya tidak mengada-ada, dalam Yoh. 16 Yesus mengatakan seperti ini: “Tinggal sedikit lagi waktunya –sesaat lagi, akan datang saatnya … “, dan waktu Yesus menggunakan kata saat, maksudnya adalah jam, hora, My Hour will come; dan itu selalu mengacu pada salib Yesus. Dan, selagi Yesus mengatakan ini, Dia bercerita, “Seorang perempuan berdukacita pada saat ia melahirkan, tetapi sesudah ia menlahirkan anaknya, ia tidak ingat lagi akan penderitaannya karena kegembiraan bahwa seorang manusia telah dilahirkan ke dunia.” Kenapa Yesus mengatakan urusan persalinan waktu membicarakan momen salib-Nya itu? Yesus actually mengatakan bahwa Dia seperti seorang wanita yang bersalin, dan jam persalinannya telah tiba; dan meskipun ia akan mengalami kesakitan oleh persalinan itu, karena ia melihat anaknya –kehidupan baru yang dilahirkan lewat kesakitan ini—ia overwhelm dengan semua itu, ia lupa akan penderitaannya, dan ia bisa mengatakan, “It’s worth it.”
Saudara, hari ini urusan melahirkan sudah jauh lebih safe, meski tetap saja caesar dan epidural tidak menghapus perjuangan mati-matian 9 bulan sebelumnya. Tetapi zaman Yesus, orang tidak bisa masuk ke dalam kehidupan, mengendus dunia ini, jika bukan karena ada seseorang yang begitu mengasihimu sehingga rela bukan cuma mengalami kesakitan dan penderitaan luar biasa, namun juga mempertaruhkan nyawanya bagimu. Pada zaman itu jauh lebih banyak anak-anak yang lahir, hidup, hanya karena ibu mereka menyerahkan nyawanya bagi anak-anak ini. Jadi ketika Yesus mengungkapkan jam salibnya dan mengungkapkan metafora persallinan, Dia mengatakan, “Engkau tanya bagaimana engkau bisa dilahirbarukan? Itu adalah karena ada yang rela menderita kesakitan besar demi dirimu.” Seseorang yang tidak cuma meresikokan nyawanya, tetapi memberikan nyawanya bagimu. Dan yang paling gila, Ia yang melahirkanmu ini, melihatmu dan mengatakan dengan napas-napas terakhir-Nya, “It’s worth it.”
It’s worth it melihat engkau –yang memperalat moralitas, kasih, karier, pelayanan, untuk mengusir diri-Nya dari hidupmu—dan ketika engkau lahir somehow Ia tetap mengatakan, “How beautiful, look at him, look at her.” Sebegitunya Ia mengasihimu. Inilah dua denyut, Saudara, tidak cuma satu. Dua-duanya, bersamaan. Bisakah engkau melihat efeknya? Kalau ini terjadi dalam hidupmu, bagaimana mungkin hidupmu tidak diubah oleh karenanya. It may not be instant. Mungkin tidak segera, tidak gampang. Rasanya seperti mati. Tetapi ADA perubahan, dan riil.
Terakhir, Apa Dampaknya
Saudara, apakah Nikodemus akhirnya lahir baru atau tidak? Kita tidak tahu, tidak ada ayat yang eksplisit mengatakan demikian. Namun di akhir Injil Yohanes disebut satu snippet yang sangat menarik setelah Yesus mati. Yoh. 19:38, Sesudah itu Yusuf dari Arimatea meminta kepada Pilatus, supaya ia diperbolehkan menurunkan jenazah Yesus. Ia murid Yesus, tetapi sembunyi-sembunyi karena takut kepada para pemuka Yahudi. Pilatus mengabulkan permintaannya itu. Lalu datanglah ia dan menurunkan mayat itu. Datanglah juga Nikodemus, orang yang dahulu pernah datang kepada Yesus pada malam hari. Ia membawa campuran minyak mur dengan minyak gaharu, kira-kira lima puluh kilogram beratnya. Mereka mengambil mayat Yesus, mengafaninya dengan kain linen, membubuhinya dengan rempah-rempah menurut adat orang Yahudi bila menguburkan mayat.
Saudara lihat, Nikodemus kembali muncul di sini. Dua hal yang saya ingin Saudara perhatikan. Yang pertama, dia berani meresikokan diri mengambil mayat Yesus. Ketika itu Yusuf Arimatea ketakutan, sembunyi-sembunyi, karena takut pada para pemuka Yahudi. Dia tidak menyangka begitu dia mengambil mayat Yesus, eh ada pemuka agama Yahudi di situ, namanya Nikodemus, ya ampun!! Jadi Saudara bisa bayangkan Niukodemus sendiri kayak apa resikonya, mempertaruhkan reputasi untuk bisa melakukan hal tersebut, sebagai seorang pemimpin agama, politik, hukum, mengasosiasikan dirinya dengan kriminal yang mati dalam kutukan Tuhan. Betapa beraninya Nikodemus di sini.
Yang kedua, dia membawa apa? Campuran minyak mur. Dan bersama Yusuf, bukan cuma mereka mengambil mayat Yesus, merekalah yang mengafaninya dengan kain linen dan membubuhinya dengan rempah-rempah sesuai adat orang Yahudi. Ini tidak benar-benar sesuai adat orang Yahudi, Saudara, karena dalam adat orang Yahudi yang biasa melakukan ini cuma dua kategori: wanita atau para budak. Seorang pria tidak melakukan hal-hal seperti ini. Apalagi pria tua dengan jabatan tinggi, amit-amit melakukan ini! Bukan cuma secara budaya ini tabu, tetapi juga secara religius, karena dalam Yudaisme kalau Saudara menyentuh mayat, berarti menajiskan dirimu. Kenapa dia melakukannya?
Di satu sisi Nikodemus jadi orang yang sangat berani, sangat manly, cowok banget, ‘gak peduli orang lain pikir apa, gue akan lakukan ini, ini yang benar! Namun di sisi lain Nikodemus jadi sangat feminin, dia melakukan hal-hal yang biasanya hanya dilakukan wanita. Dengan kata lain, dia menjadi sangat berani, tetapi juga sangat rendah hati, pada saat yang sama. Inilah dampaknya. Nikodemus tidak pernah dituliskan lahir baru, namun saya percaya ini menandakan bahwa akar Nikodemus sudah dicabut, dan di tempatnya Allah telah menaruh bibit yang baru, yang menghasilkan kehidupan. Kehidupan yang datang dari atas.
Inilah kehidupan yang engkau dan saya dipanggil untuk mengalami. Kehidupan yang baru tidak kurang dari ini. C.S. Lewis pernah menulis, prinsip hidup baru seperti ini bukan cuma ada di awal, melainkan akan terus berlanjut sampai kita mati. Inilah prinsip yang mengatakan: hanya ketika engkau menyerahkan hidupmu, baru engkau akan mendapatkannya; hanya ketika engkau rela mati, baru engkau akan bisa mendapat hidup yang kekal; hanya ketika engkau memberikan hartamu, baru engkau sungguh-sungguh memiliki harta tersebut.
Kalau ada hal dalam hidupmu yang engkau tidak rela dimatikan, hal tersebut juga tidak akan mengalami kehidupan. Kalau engkau hanya mencari dirimu dan kehendakmu dan hasratmu dan asumsimu, di ujung engkau hanya akan menemukan kebencian,kesendirian, depresi, kemarahan, kehancuran. Namun lihatlah kepada Kristus, dan engkau akan menemukan segala sesuatu limpah bersama-Nya.
Ringkasan khotbah ini belum diperiksa oleh pengkhotbah(MS)
Gereja Reformed Injili Indonesia Kelapa Gading